Anda di halaman 1dari 24

ADAPTASI ORGANISME & SIKLUS DAN JARINGAN MAKAN PLANKTON DI ESTUARIA

Tugas Ekologi Perairan

Oleh: Muthia Rizkita (108095000014) Sonelpon (1080950000 ) Wahyu Setiawan (1080950000 )

PRODI BIOLOGI JURUSAN MIPA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM SYARIF HDAYATULLAH JAKARTA 2011

BAB I ESTUARIA
1.1 Definisi dan tipe estuaria Estuaria adalah bagian dari lingkungan perairan yang merupakan daerah percampuran antara air laut dan air tawar yang berasal dari sungai, sumber air tawar lainnya (saluran air tawar dan genangan air tawar). Lingkungan estuaria merupakan peralihan antara darat dan laut yang sangat di pengaruhi oleh pasang surut, tetapi terlindung dari pengaruh gelombang laut (Kasim, 2005). Menurut Bengen, 2002 dan Pritchard, 1976 dalam Tiwow (2003), estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Pencampuran air laut dan air tawar mempunyai pola pencampuran yang khusus. Berdasarkan pola percampuran air laut, secara umum terdapat 3 model estuaria yang sangat dipengaruhi oleh sirkulasi air, topografi , kedalaman dan pola pasang surut karena dorongan dan volume air akan sangat berbeda khususnya yang bersumber dari air sungai (Kasim, 2005). Berikut ini pola pencampuran air laut dan air tawar (Kasim, 2005): a. Pola dengan dominasi air laut (Salt wedge estuary) yang ditandai dengan desakan dari air laut pada lapisan bawah permukaan air saat terjadi pertemuan antara air sungai dan air laut. Salinitas air dari estuaria ini sangat berbeda antara lapisan atas air dengan salinitas yang lebih rendah di banding lapisan bawah yang lebih tinggi. b. Pola percampuran merata antara air laut dan air sungai (well mixed estuary). Pola ini ditandai dengan pencampuran yang merata antara air laut dan air tawar sehingga tidak terbentuk stratifikasi secara vertikal, tetapi stratifikasinya dapat secara horizontal yang derajat salinitasnya akan meningkat pada daerah dekat laut. c. Pola dominasi air laut dan pola percampuran merata atau pola percampuran tidak merata (/artially mixed estuary). Pola ini akan sangat labil atau sangat tergantung pada desakan air sungai dan air laut. Pada pola ini terjadi percampuran air laut yang tidak merata sehingga hampir tidak terbentuk stratifikasi salinitas baik itu secara horizontal maupun secara vertikal.

Pada beberapa daerah estuaria yang mempunyai topografi unik, kadang terjadi pola tersendiri yang lebih unik. Pola ini cenderung ada jika pada daerah muara sungai tersebut mempunyai topografi dengan bentukan yang menonjol membetuk semacam lekukan pada dasar estuaria. Tonjolan permukaan yang mencuat ini dapat menstagnankan lapisan air pada dasar perairan sehingga, terjadi stratifikasi salinitas secara vertikal. Pola ini menghambat turbulensi dasar yang hingga salinitas dasar perairan cenderung tetap dengan salinitas yang lebih tinggi. Pencampuran air laut dan air tawar membuat estuaria sebagai lingkungan yang mempunyai unik daripada lingkungan lainnya. Keunikan tersebut, yaitu (Tiwow, 2003): a. Tempat bertemunya arus air dengan arus pasang-suru yang berlawanan menyebabkan pengaruh kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya. b. Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut. c. Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas di dalamnya melakukan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya. Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasangsurut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah estuaria tersebut. Berdasarkan geomorfologi estuaria, sejah geologi daerah, dan keadaan iklim yang berbeda, maka terdapat beberapa tipe estuaria. Tipe-tipe estuaria tersebut, yaitu (Nybakken, 1988): a. Estuaria daratan pesisir (coastal plain estuary). Pembentukannya terjadi akibat penaikan permukaan air laut yang menggenangi sungai di bagian pantai yang landai (Tiwow, 2003). Contoh estuaria daratan pesisir, yaitu di Teluk Chesapeake, Maryland dan Charleston, Carolina Selatan (ONR, tanpa tahun). b. Estuaria tektonik. Terbentuk akibat aktivitas tektonik (gempa bumi atau letusan gunung berapi) yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah yang kemudian digenangi oleh air laut pada saat pasang (Tiwow, 2003). Contohnya Teluk San Fransisco di California (ONR, tanpa tahun). c. Gobah atau teluk semi tertutup. Terbentuk oleh adanya beting pasir yang terletak sejajar dengan garis pantai sehingga menghalangi interaksi

langsung dan terbuka dengan perairan laut (Tiwow, 2003). Contohnya di sepanjang pantai Texas dan pantai Teluk Florida. d. Fjord merupakan estuaria yang dalam, terbentuk oleh aktivitas glesier yang mengakibatkan tergenangnya lembah es oleh air laut (Tiwow, 2003). Contohnya di Alaska, Kanada, Norwegia. Menurut Nybakken (1988), estuaria juga dapat dikelompokkan berdasarkan kondisi salinitasnya yaitu estuaria positif dan estuaria negatif. Estuaria positif atau estuaria baji garam membentuk suatu kesinambungan mulai dari estuaria dengan sedikit pencampuran dan baji garam yang sangat menonjol, tidak mencolok atau menonjol, sampai homogen atau sempurna karena menghasilkan salinitas yang sama secara vertikal dari permukaan sampai ke dasar pada setiap titik. Estuaria negatif dibentuk dari air laut yang datang, masuk ke permukaan, dan sedikit mengalami pengenceran karena pencampuran denga air tawar yang jumlahnya sedikit. Kecepatan penguapan pada estuaria ini tinggi sehingga air permukaan menjadi hipersalin. 1.2 Sifat Fisik Estuaria 1.2.1 Salinitas Salinitas di estuaria dipengaruhi oleh musim, topografi estuaria, pasang surut, dan jumlah air tawar. Pada saat pasang-naik, air laut menjauhi hulu estuaria dan menggeser isohaline ke hulu. Pada saat pasang-turun, menggeser isohaline ke hilir. Kondisi tersebut menyebabkan adanya daerah yang salinitasnya berubah sesuai dengan pasang surut dan memiliki fluktuasi salinitas yang maksimum (Nybakken, 1988). Rotasi bumi juga mempengaruhi salinitas estuaria yang disebut dengan kekuatan Coriolis. Rotasi bumi membelokkan aliran air di belahan bumi. Di belahan bumi utara, kekuatan coriolis membelokkan air tawar yang mengalir ke luar sebelah kanan jika melihat estuaria ke arah laut dan air asin mengalir ke estuaria digeser ke kanan jika melihar estuaria dari arah laut. Pembelokkan aliran air di belahan bumi selatan adalah kebalikan dari belahan bumi utara (Nybakken, 1988). Salinitas juga dipengaruhi oleh perubahan penguapan musiman. Di daerah yang debit air tawar selama setengah tahun, maka salinitasnya menjadi tinggi pada daerah hulu. Jika aliran air tawar naik, maka gradient salinitas digeser ke hilir ke arah mulut estuaria (Nybakken, 1988). Pada estuaria dikenal dengan air interstitial yang berasal dari air berada di atas substrat estuaria. Air interstitial, lumput dan pasir bersifat buffer

terhadap air yang terdapat di atasnya. Daerah intertidal bagian atas (ke arah hulu) mempunyai salinitas tinggi daripada daerah intertidal bagian bawah (ke arah hilir). 1.2.2 Substrat Dominasi substart pada estuaria adalah lumpur yang berasal dari sediment yang dibawa ke estuaria oleh air laut maupun air tawar. Sungai membawa partikel lumpur dalam bentuk suspensi. Ion-ion yang berasal dari air laut menyebabkan partikel lumput menjadi menggumpal dan membentuk partikel yang lebih besar, lebih berat, dan mengendap membentuk dasar lumur yang khas. Partikel yang lebih besar mengendap lebih cepat daripada partikel kecil. Arus kuat mempertahankan partikel dalam suspensi lebih lama daripada arus lemah sehingga substrat pada tempat yang arusnya kuat menjadi kasar (pasir atau kerikil) dan tempat yang arusnya lemah mempunyai substrat dengan partikel kecil berupa lumpur halus. Partikel yang mengendap di estuaria bersifat organik sehingga substart menjadi kaya akan bahan organik (Nybakken, 1988). 1.2.3. Suhu Suhu air di estuaria lebih bervariasi daripada suhu air di sekitarnya karena volume air estuaria lebih kecil daripada luas permuakaan yang lebih besar. Hal tersebut menyebabkan air estuaria menjadi lebih cepat panas dan cepat dingin. Suhu air tawar yang dipengaruhi oleh perubahan suhu musiman juga menyebabkan suhu air estuaria lebih bervariasi. Suhu esturia lebih rendah saat musim dingin dan lebih tinggi saat musim panas daripada daerah perairan sekitarnya. Suhu air estuaria juga bervariasi secara vertikal. Pada estuaria positif memperlihatkan bahwa pada perairan permukaan didominasi oleh air tawar, sedangkan untuk perairan dalam didominasi oleh air laut (Nybakken, 1988). 1.2.4. Aksi ombak dan arus Perairan estuaria yang dangkal menyebabkan tidak terbentuknya ombak yang besar. Arus di estuaria disebabkan oleh pasang surut dan aliran sungi. Arus biasanya terdapat pada kanal. Jika arus berubah posisi, kanal baru menjadi cepat terbentuk dan kanal lama menjadi tertutup (Nybakken, 1988). 1.2.5. Kekeruhan

Besarnya jumlah partikel tersuspensi dalam perairan estuaria pada waktu tertentu dalam setahun menyebabkan air menjadi sangat keruh. Kekeruhan tertinggi saat aliran sungai maksimum dan kekeruhan minimum di dekat mulut estuaria (Nybakken, 1988). 1.2.6. Oksigen Kelarutab oksigen dalam air berkurang dengan naiknya suhu dan salinitas, maka jumlah oksigen dalam air akan bervariasi. Oksigen sangat berkurang di dalam substrat. Ukuran partikel sediment yang halus membatasi pertukaran antara air interstitial dengan kolom air di atasnya, sehingga oksigen menjadi sangat cepat berkurang (Nybakken, 1988).

1.3 Plankton Estuaria Estuaria mempunyai jumlah spesies plankton yang sedikit. Fitoplankton yang dominant di estuaria adalah diatom dan dinoflagellata. Genera diatom yang biasanya ditemui, yaitu Skeletonema, Asterionella, Chaetoceros, Nitzchia, Thalassionema, dan Melosira. Genera dinoflagellata yang sering dijumpai, yaitu Gymnnodnium, Gonyaulax, Peridinium, dan Ceratium. Kekeruhan yang tinggi dan cepatnya pergantian air menyebabkan jumlah fitoplankton dan produktivitas menjadi terbatas. Jumlah plankton dan produktivitas relatif tinggi terjadi pada estuaria yang tingkat kekeruhannya rendah dan pergantian airnya lama. Keberadaan zooplankton di estuaria dipengaruhi oleh jumlah fitoplankton. Gradien salinitas ke arah hulu estuaria juga mempengaruhi komposisi spesies zooplankton. Zooplankton estuaria terdapat pada estuaria yang lebih besar dan lebih stabil dengan gradient salinitas yang tidak terlalu bervariasi. Estuaria yang dangkal dengan cepat mengalami pergantian air didominasi oleh zooplankton laut yang terbawa oleh pasang surut. Zooplankton estuaria terdiri dari genera kopepoda Eurytemora, Acartia, Pseudodiaptomus, dan Centropages; misid tertentu misalnya genera Neomysis, Praunus, dan Mesopodopsis; dan amfipoda tertentu misalnya Gammarus (Nybakken, 1988).

1.4 Fauna Estuaria Fauna estuaria terdiri dari fauna laut, air tawar, dan estuaria. Spesies estuaria sangat sedikit karena fluktuasi kondisi lingkungan seperti salinitas dan suhu air yang sangat besar. Hal tersebut menyebabkan hanya beberapa spesies saja yang mempunyai fisiologi khusus yang dapat bertahan hidup di estuaria. Fauna estuaria biasanya berasal dari laut. Fauna air tawar tidak dapat mentolerir kondisi lingkungan terutama kenaikan salinitas, sedangkan fauna air laut dapat mentolerir penurunan salinitas. Oleh karena itu mayoritas fauna yang terdapat di estuaria adalah binatang laut. Contoh fauna estuaria yang sebenarnya, yaitu Nereis diversicolor, Crassostrea, Ostrea, Scrobicularia plana, Macoma balthica, Rangia flexuosa, Hydrobia, dan Palaemonetes. Hewan-hewan tersebut dapat hidup pada salinitas antara 5 0/00 dan 30 0 /00 . Selain itu, juga terdapat fauna peralihan karena beberapa aktivitas hidup dilakukan di estuaria, seperti mencari makan. Contoh hewan yang migrasi melewati estuaria ke daerah pemijahan, yaitu ikan salem (Salmo, Onchorhynchus) dan belut laut (Anguilla). Sedangkan contoh hewan yang sebagian daur hidupnya di estuaria, biasanya fase juvenil di estuaria dan fase dewasa di laut, yaitu udang famili Penaeidae (Penaeus setiferus, P. aztecus, P. duorarum) (Nybakken, 1988).

1.5 Vegetasi Estuaria Flora yang terdapat di estuaria juga sedikit karena substart berupa lumpur dan terendam sehingga makroalga tidak dapat melekat. Tingkat kekeruhan yang cukup tinggi juga menyebabkan cahaya hanya menembus sampai lapisan yang dangkal. Daerah hilir estuaria dan di bawah tingkat pasang surut rata-rata dapat ditemui padang rumput-rumputan laut seperti Zostera, Thalassia, dan Cymodocea. Dataran lumpur intertidal ditumbuhi alga hijau yang bersifata musiman, yaitu genera Ulva, Enteromorpha, Chaeromorpha, dan Cladophora. Untuk daerah estuaria yang sangat keruh didominasi oleh tumbuhan mencuat yang merupakan tumbuhan berbunga berumur panjang dengan akar menancap di daerah intertidal bagian atas. Contohnya adalah Spartina dan Salicornia(Nybakken, 1988).

1.6 Tipe Komunitas Estuari 1.6.1 Open water Pada daerah ini berbatasan langsung dengan daerah pantai. 1.6.2 Mudflats Mudflats dicirikan oleh ukuran butiran sedimen sangat halus dan memiliki tingkat bahan organik yang tinggi, daerah ini dipengaruhi oleh pasang surut yang mengaduk sedimen secara periodik. Interaksi organisme dengan sedimen dan pengaruh evaporasi perairan yang sangat tinggi di lingkungannya (Nurul, 2009). Dataran lumpur estuaria sering kali banyak mengandung flora diatom bentik dari pada plantonik (Anoni, 2010) 1.6.3 Salt marshes Vegetasi dominan pada daerah salt marshes adalah tumbuhan bunga berumur panjang yang menancapkan akarnya di daerah intertidal bagian atas dan memagari estuari diseluruh daerah beriklim sedang di dunia. Jenis yang dominan yaitu Spartina dan Salicornia. Di daerah tropik, rawa asin diganti oleh hutan bakau (Anonim, 2010). 4. Mangrove forest Pada daerah ini didominasi oleh pohon-pohon dan semak-semak yang tumbuh dibawah muka air pasang tertinggi. Sistem perakarannya terendam secara teratur oleh air laut, bahkan yang tercampur dengan air tawar. Vegetasi mangrove memiliki bentuk dan ukuran yang beragam dari bentuk pohon yang menjulang tinggi sampai bentuk epifit yang menjalar. Mangrove umumnya berkembang sepanjang wilayah pantai terlindung dengan dasar Lumpur sampai pasir. Tetapi dalam beberapa kasus mereka ditemukan pada pantai berbatu yang tersapu gelombang (Sunarto, 2008)

1.7 Adaptasi Morfologi Fisiologi, Tingkah Laku Organisme Estuaria Perubahan morfologis pada organisme estuaria, yaitu ukuran badan yang lebih kecil daripada kerabatnya, jumlah ruas tulang penggung ikan juga berkurang, hewan yang hidup di daerah berlumpur mempunyai rumbai-rumbai halus untuk menjaga jalan masuk ke ruangan pernapasan agar tidak tersumbat partikel lumpur. Hewan estuaria

yang berasal dari laut mempunyai kecepatan perkembangbiakan yang lebih rendah dan penurunan kesuburan. Sedangkan untuk hewan yang berasal dari air tawar biasanya steril. Binatang estuaria pada umumnya termasuk organisme osmoregulator karena mampu hidup pada keadaan dengan konsentrasi garam internal yang berfluktuasi. Di daerah tropis yang suhu airnya lebih tinggi dengan perbedaan suhu air tawar dan air laut tidak terlalu berbeda, banyak ditemukan spesies estuaria yang banyak. Binatang estuaria selain melakukan adaptasi morfologi dan fisiologi, juga melakukan adaptasi tingkah laku. Binatang estuaria berada di dalam lumpur untuk mengurangi perubahan salinitas dan suhu, serta untuk melindungi diri dari predator yang hidup di permukaan substrat atau di air. Adaptasi tingkah laku yang biasanya juga dilakukan oleh organisme estuaria adalah bergerak ke hulu atau ke hilir estuaria agar organisme tetap berada pada daerah yang mengalami perubhan salinitas rendah. Salah satu contoh adaptasi tingkah laku adalah kepiting estuaria yang migrasi ke laut saat melakukan pemijahan (Nybakken, 1988).

1.8 Produktivitas dan Bahan Organik di Estuaria Bahan organik atau nutrisi di estuaria berasal dari tumbuhan atau sediment-sedimen. Nutrisi dipengaruhi oleh masuknya nutrisi dari darat, biomassa tumbuhan, dan pasang surut. Estuaria merupakan daerah penting untuk perputaran nutrisi pada lingkungan pesisir. Bahan organik di estuaria secara terus menerus dibawa oleh air tawar. Keseimbangan nutrisi di estuaria tergantung pada masukkan dari darat, seberapa banyak yang mampu di bawa oleh tanamana, perputaran dalam sediment, dan seberapa banyak nutrisi yang masuk dan keluar dari laut (NIWA science, 2007). Bahan organik di estuaria biasanya digunakan oleh tumbuhan seperti alga, rumputrumputan laut, dan mangrove. Beberapa bahan oragnik sangat penting untuk membantu produktivitas estuaria. Jika terlalu banyak bahan organik dapat menyebabkan alga bloom oleh fitoplankton atau rumput-rumput laut (NIWA science, 2007). Estuaria merupakan ekosistem yang paling produktif. Gambar di bawah ini menunjukkan bahwa produktivitas primer di estuaria lebih tinggi daripada di daerah rumput, hutan, maupun di daerah agrikultur (Hinterland Whos Who, 1993).

1.9 Jaringan Makanan di Estuaria Dasar dari jaring makanan di estuaria adalah konversi energi matahari menjadi energi dalam bentuk makanan yang dilakukan oleh tumbuhan rawa. Saat tumbuhan mati, protozoa dan mikroorganisme lain mengkonsumsi material tumbuhan yang mati tersebut. Invertebrata kecil merupakan makanan bagi detritus. Detritus kemudian di makan oleh ikan, burung, serta predator lainnya (Hinterland Whos Who, 1993). Melimpahnya sumber makanan di estuaria dan sedikitnya predator menjadikan estuaria sebagai tempat hidup anak berbagai binatang yang fase dewasanya tidak berada di estuaria. Estuaria juga merupakan tempat mencari makan bagi binatang dewasa seperti ikan dan burung yang bermigrasi (Nybakken, 1988).

BAB II ADAPTASI ORGANISME ESTUARIA


Adaptasi adalah penyesuaian diri terhadap lingkungannya atau cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk: memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan); mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas; mempertahankan hidup dari musuh alaminya; bereproduksi; merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya. Organisme yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi kepunahan atau kelangkaan jenis. Adaptasi terbagi atas tiga jenis yaitu: a. Adaptasi Morfologi adalah adaptasi yang meliputi bentuk tubuh. Adaptasi Morfologi dapat dilihat dengan jelas. Sebagai contoh: paruh dan kaki burung berbeda sesuai makanannya. b. Adaptasi Fisiologi adalah adaptasi yang meliputi fungsi alat-alat tubuh. Adaptasi ini bisa berupa enzim yang dihasilkan suatu organisme. Contoh: dihasilkannya enzim selulase oleh hewan memamah biak . c. Adaptasi Tingkah Laku adalah adaptasi berupa perubahan tingkah laku. Misalnya: ikan paus yang sesekali menyembul ke permukaan untuk mengambil udara. Contoh adaptasi organisme di Laut : Misalnya organisme yang hidup di daerah estuaria. Contoh organismenya adalah Anodontostoma chacunda Estuari merupakan tempat terjadinya pertemuan dan percampuran antara air tawar dengan air laut. Ekosistem estuari dipengaruhi oleh adanya pasang surut dari laut. Selama siklus pasang surut kondisi fisik, kimia maupun biologi mengalami perubahan. Oleh karena itu organisme yang hidup di estuari harus mampu melakukan adaptasi dalam menghadapi perubahan tersebut. Adaptasi morfologi organisme estuaria yaitu ukuran badan yang lebih kecil daripada kerabatnya, jumlah ruas tulang penggung ikan juga berkurang, hewan yang hidup di daerah berlumpur mempunyai rumbai-rumbai halus untuk menjaga jalan masuk ke ruangan pernapasan agar tidak tersumbat partikel lumpur. Organisme estuaria adaptasi fisiologi yang berada di dalam lumpur untuk mengurangi perubahan salinitas dan suhu, serta untuk melindungi diri dari predator yang hidup di permukaan substrat atau di air. Adaptasi tingkah laku

yang biasanya juga dilakukan oleh organisme estuaria adalah bergerak ke hulu atau ke hilir estuaria agar organisme tetap berada pada daerah yang mengalami perubahan salinitas rendah. Berikut merupakan faktor-faktor yang menentukan adaptasi hewan air : a. Salinitas/kadar garam perairan Masing-masing perairan memiliki salinitas yang berbeda,seperti di air tawar salinitasnya adalah 0,06% sedangkan air laut salinitasnya 3,5 %. Salinitas akan mempengaruhi perbedaan tebal-tipisnya lapisan kulit, tingkah laku, susunan atau fungsi organ tubuh organisme perairan. b. Kedalaman air Semakin dalam suatu perairan makasemakin besar/tinggi pula tekanan yang terjadi. Mempengaruhi intensitas cahaya yang diperoleh individu.Semakin dalam maka semakin sedikit cahaya yang diperoleh. Ex : Ikan Pari dengan tubuh pipih dan lebar. Ikan Cucut dengan tubuh langsing. Gurat sisi/linea lateralis pada tubuh ikan. Gelembung udara pada tubuh ikan untuk dapat turun dan naik pada perairan. c. Intensitas cahaya Semakin keruh dan dalam suatu perairan maka intensitas cahaya yang masuk semakin sedikit/rendah. Mempengaruhi suhu air dan derajat fotosintesis. Dibagi menjadi 3 daerah yaitu daerah fotik, daerah perbatasan (remangremang), daerah afotik. Semakin kearah daerah afotik makam intensitas cahaya yang masuk perairan akan semakin berkurang. Hal ini akan mempengaruhi organisme yang hidup di dalamnya. d. Kadar Oksigen Daerah permukaan kadar oksigen lebih banyak dibandingkan dengan daerah di bawahnya. Semakin keruh suatu perairan maka kadar oksigen semakin berkurang/rendah.

BAB III SIKLUS PLANKTON DAN JARINGAN MAKANAN


Pada beberapa daerah perairan, muara (estuaria) merupakan perairan yang memiliki keunikan kerena merupakan pertemuan antara air tawar dan air laut. Daerah ini berperan sebagai daerah peralihan dari ekosistem akuatik. Kondisi lingkungan perairan estuaria mempunyai variasi yang besar dalam banyak parameter. Hal ini terlihat dari berfluktuasinya salinitas, variasi suhu, adanya pengaruh pasang-surut dan masukan dari air tawar. Keadaan ini menciptakan suatu lingkungan yang khas bagi organisme di estuaria. Kebanyakan daerah ini didominasi oleh substrat yang berasal dari sedimen baik yang dibawa oleh air laut maupun air tawar yang terkadang membawa kandungan nutrien yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan organisme plankton. Plankton dikelompokkan menjadi 2, yaitu phytoplankton dan zooplankton Fitoplankton merupakan tumbuhan mikroskopis yang hidup melayang-layang dalam perairan dan pergerakannya mengikuti pergerakan arus sedangkan zooplankton adalah hewan-hewan laut yang bersifat planktonik. Pertumbuhan, perkembangan, penyebaran jenis-jenis dan komposisi serta kelimpahan plankton sangat dipengaruhi oleh keadaaan oseanografi baik bersifat fisika maupun kimia seperti : suhu perairan, salinitas, kandungan fosfat, nitrat, silikat, arah dan kecepatan arus serta penetrasi cahaya. Plankton merupakan komponen biologis penting karena sebagai salah satu bagian dari mata rantai pada siklus makanan di lingkungan akuatik. Plankton merupakan salah satu mata rantai terpenting dan paling kritis di dalam rantai kehidupan di estuari. Hal ini karena plankton terutama phytoplankton merupakan sumber energi utama di estuari. Phytoplankton merupakan makanan utama zooplankton dan ikan kecil, yang kemudian dimakan oleh organisme yang besar lainnya. Dasar jaringan makanan di estuari berasal dari bahan organik yang terbawa oleh air sungai masuk ke estuari, dan pada saat pasang surut, serta organik material yang merupakan hasil produksi organisme di estuaria. Jaring-jaring makanan yang terbentuk dimulai dari organisme renik. Organisme plankton (terutama fitoplankton) dapat langsung memanfaatkan unsur hara yang ada di perairan, dengan melalui proses fotosintesis yang menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh organisme yang

menduduki tingkat pemangsa berikutnya seperti zooplankton, udang, ikan dan lainlain. Komunitas plankton yang bersifat nabati merupakan penyumbang fotosintesis terbesar di laut. Tanpa adanya tumbuhan dan planktonik yang berukuran renik dan mampu mengikat energi matahari, tidak ada kehidupan di dalam laut.

3.1 Fitoplankon Fitoplankton adalah tumbuhan renik yang hidupnya melayang di dalam air dan pergerakannya sangat bergantung pada arus serta mampu berfotosintesis. Fitoplankton dapat dijumpai di laut, danau, maupun sungai. Fitoplankton merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan di semua perairan dan umunya berukuran mikroskopis seperti Flagellata, Diatomae dan Cocolithopore. Jenis fitoplankton yang sering dijumpai di periran dalam jumlah besar adalah fitoplankton dari kelas Diatom dan Dinoflagellata. Diatom merupakan fitoplankton yang paling banyak dan paling sering ditemukan di seluruh perairan baik laut, air payau maupun perairan tawar. Selain itu diatom merupakan salah satu penyumbang produktivits primer dan sumber makanan bagi hewan-hewan pemakan plankton. Siklus musim akan mempengaruhi kondisi lingkungan perairan termasuk produktivitas primernya. Eksistensi diatom dapat pula digunakan sebagai indikator kualitas air dimana mereka hidup.

Gambar 1.Beberapa contoh jenis fitoplankton. (A-C diatom tipe centik),(D-E) tipe pennate, (F) dinoflagellata tak berbungkus ,(G) dinoflagelata berbungkus, (H) coccolithifor, (I-K) yangLainnya.Secara taksonomi ada beberapa kelas dari fitoplankton (Tabel 2). Empatkelas diantara 13 kelas yang ada tersebut (Tabel 2) merupkan kelompok penting dalam ekosistem laut yaituBacillariophyceae, Dinophyceae,Haptophyceae dan Chlorophyceae Fitoplankton sebagai produktivitas primer memegang peranan penting dalam daur energi di laut. Fitoplankton dapat dijumpai di seluruh permukaan laut sampai kedalaman yang dapat ditembus oleh sinar matahari dalam jumlah yang sangat banyak.

Tabel 1. Klasifikasiki fitoplankton pada ekosistem laut Kelas 1. CYANOPHICEAE 2. RHODOPHYCEAE 3. BACILLARIOPHYCEAE Nama umum Cyanobacteria/Algabiru -hijau Alga merah Diatom Lokasi(predominan) Tropis Sangat jarang,pantai Semua perairan,terutama pantaikosmopolitan,panta 4. CRYPTOPHYCEAE 5. DINOPHYCEAE 6. CHRYSOPHYCEAE 7. HAPTOPHYCEAE(PRYMNESIOPHYCEAE ) 8. RAPHIDIOPHYCEAE 9. XANTHOPHYCEAE 10. EUSTIGMATHOPHYCEAE Coccolitiphor danPrimnesiomonads Chloromonads Alga hijauKuning/heterochlocid11. EUGLENOPHYCEAE 12. PRASINOPHYCEAE 13. CHLOROPHYCEAE 3.2 Zooplankton Zooplankton merupakan plankton hewani yang terhanyut secara pasifkarena terbatasnya kempuan bergerak. Beberapa contoh jenis zooplanktondapat dilihat pada Gambar 2. Berbeda dengan fitoplankton , zooplankton hampirmeliputi seluruh filum hewan mulai dari protozoa (hewan bersel tunggal) sampaifilum Chordata (hewan bertulang belakang). Para ahli kelautan jugamengklasifikasikan zooplankton sesuai ukuran dan lamanya hidup sebagaiplankton. Euglenoid Prasinomonads Alga Hijau, Volvocales Pantai Semua perairan Sangat jarang,pantai Jaring tapi kadangmelimpah Sangat jarang Sangat jarang Cryptomonads Dinoplagellata Chrisomonads Sillicoplagellata i Semua perairan,terutama tropis Jarang, pantaikadangkadangmelimpah Oseanik Pantai

Gambar 2. Beberapa jenis zooplankton, disusun berdasarkan ukurandan kemampuan pergerakan Ada tiga kategori ukuran zooplankton yang dikenal denganmikrozooplankton, mesozooplankton, dan makrozooplankton. Mikrozooplankton meliputi zooplankton yang dapat melewati plankton net dengan mata 202 m, mesozooplankton adalah yang tersangkut sedangkan makrozooplanktondapat ditangkap dengan planktonnet dengan lebar mata 505m. Berdasarkan sikulus hidupnya zooplankton ada yang selamanya sebagai plankton (holoplankton ) dan ada yang sebagian hidupnya (pada awal hidupnya)saja sebagai plankton (meroplankton ). Organisme meroplankton terutama terdiri dari larva planktonik dan bentik invertebrata, bentik chordata dan nekton(ichtyoplankton ). Kelompok holoplankton yang dominan antara lain copepoda, cladosera dan rotifera. Beberapa genera dari copepoda menempati perairanpantai seperti Acartia, Eurytemora, Pseudodiaptomus dan Tortanus . Spesies copepoda umumnya mendominasi fauna holoplanktonik. Copepoda calanoid melebihi jumlah cyclopoid

dan harpacticoid pada ekosistem estuaria. Cyclopoidumumnya litoral dan bentik tetapi beberapa merupakan spesies planktonik. 3.3 Reproduksi dan Siklus Hidup Plankton Menurut Kennish (1990) dan Nybakken (1988) sebagian besar diatom melakukan reproduksi melalui pembelahan sel vegetatif. Hasil pembelahan sel menjadi dua bagian yaitu bagian atas (epiteka) dan bagian bawah (hipoteka). Selanjutnya masing-masing belahan akan membentuk pasangannya yang baru berupa pasangan penutupnya. Bagian epiteka akan membuat hipoteka dan bagian hipoteka akan membuat epiteka. Pembuatan bagian-bagian tersebutdisekresi atau diperoleh dari sel masing-masing sehingga semakin lama semakin kecil ukuran selnya. Dengan demikian ukuran individu-individu dari spesies yang sama tetapi dari generasi yang berlainan akan berbeda. Reproduksi aseksual seperti ini menghasilkan sejumlah ukuran yang bervariasi dari suatu populasi diatom pada suatu spesies. Ukuran terkecil dapat mencapai30 kali lebih kecil dari ukuran terbesarnya (Kennish, 1990). Tetapi proses pengurangan ukuran ini terbatas sampai suatu generasi tertentu. Apabila generasi itu telah tercapai diatom akan meninggalkan kedua katupnya dan terbentuklah apa yang disebut auxospore (Gambar 3).

Gambar 3. Proses pengecilan ukuran diatom dan pembentukan Auxospore sumber : Nybakken, 1988).

Proses seperti diatas digambarkan pula oleh Parsons dkk (1984) menyatakan bahwa reproduksi seksual dan pembentukan spora mungkin juga terjadi pada diatom(Gambar 4).

Gambar 4. Siklus hidup diatom laut, Chaetoceros didy mum Dari gambar tersebut terlihat pengurangan ukuran sel selama pembelahan aseksual (1 s.d 2), reproduksi seksual dengan susunan gamet-gamet berflagel (2 s.d. 3), pembentukan auxospore (4).. Pembentukan spora non aktif (resting spore ) mungkin juga terjadi (5) secara langsung dari sel vegetatif. Reproduksi diantara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan jantan maupun betina, meskipun terjadi partenogenesisdiantara Cladocera dan Ostracoda. Menurut Parsons (1984) siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli dan 6 fasecopepodit (Gambar 5). Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertamaterjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam fase kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkinterjadidalam tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral). Laju penggandaan sel diatom berlangsung sekitar 0.5 sampai 6 sel/hari.

Gambar 5. Garis besar siklus hidup copepoda (Sumber : Nybakken, 1988) 3.4 Jaringan makanan Pada tiap tingkat tropik ada produksi. Pada tingkat tropik t erbawah dimana terjadi proses fotosintesis oleh organisme autotrop dihasilkan produksi primer. Sedangkan seluruh produksi pada tingkat konsumer merupakan produksi sekunder (Odum, 1983).Odum (1983), mendefinisikan produktivitas primer suatu sistem ekologisebagai laju penyimpanan energi radiasi melalui aktivitas fotosintesis dari produser atau organisme (terutama tumbuhan hijau) dalam bentuk bahan organik yang dapat digunakan sebagai bahan pakan. Untuk menghasilkan produksi primer, produser melakukan fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari yang ditangkap oleh pigmen-pigmen fotosintesis.

Fotosintesis adalah proses fisiologis dasar yang penting bagi nutrisitanaman. Persamaan umum proses fotosintesis yang terjadi pada tumbuhanhijau adalah sbb: 6CO2+ 6 H2O C6H12O6+ 6 O2 Persamaan ini menunjukkan bahwa proses tersebut adalah sebuah reaksi reduksi-oksidasi. CO2 direduksi dan H2O dioksidasi (Forti, 1969; Valiela ,1984).Apabila produksi sekunder adalah produksi yang dihasilkan pada tingkat konsumer, maka produktivitas sekunder sebenarnya meliputi banyak organisme pada tingkat konsumer seperti herbivora dan karnivora. Akan tetapi biasanya produktivitas sekunder dihitung berdasarkan produksi konsumer primer dalamhal ini zooplankton. Produksi dari populasi hewan mengacu pada pembentukan biomassa baru dalam periode waktu tertentu. Ada dua pendekatan yang telah diterapkan dalam studi produksi yaitu metode dinamika populasi dan metode pengaturan energi (energy budget). Pendekatan dinamika populasi terkonsentrasi pada pertumbuhan biomassa sedangkan pendekatan energy budget mengukur komponen-komponen konsumsi, respirasi dan ekresi. Ada permasalahan dalam menentukan produktivitas sekunder antara lain,perbedaan ukuran pada tiap individu menyebabkan jumlah individu/satuan volume berbeda

antara satu jenis dengan jenis yang lain atau dalam jenis yangsama pada t ahap siklus hidup yang berbeda. Sebagai contoh pada jenis calanus yang siklus hidupnya melewati 6 fase nauplii dan 6 fase kopepodite dengan masing-masing berbeda ukuran maka jumlah individu per satuanvolume dari tiap fase akan berbeda. Oleh karena itu diperlukan ada perbedaan dalam penghitungan untuk masing masing jenis zooplankton (Lewis,Jr. 1985). Pada ekosistem laut setidaknya ada tiga komponen organisme yang hidup di dalamnya bila diklasifikasikan berdasarkan kemampuan pergerakannya yaitu organisme planktonik, organisme nektonik dan organisme bentik. Organisme planktonik meliputi organisme yang memiliki pergerakan lemah dan tidakmampu mempertahankan posisinya dari pergerakan arus air.Termasuk di dalamnya adalah plankton baik yang bersifat nabati (fitoplankton) maupun hewani (zooplankton).Organisme nektonik adalah organisme yang memiliki pergerakan yang kuat dan mampu mempertahankan posisinya dari pengaruh arus. Kemampuan pergerakan ini merupakan ciri khas organisme jenis ini sehingga organisme ini dapat memperoleh makanannya dengan memangsa, menghindari pemangsaan, serta menghindari kondisi lingkungan yang tidak cocok bagi kehidupannya. Organisme nektonik sebagian besar terdiri dari ikan, reptil, dan invertebrate cepalopoda. Sedangkan organisme bentik adalah organisme dengan pergerakan yang sangat terbatas dan oleh karena itu organisme ini banyak terdapat pada daerah bentik (dasar perairan). Organisme bentik umumnya dari jenis organisme yang hidup menancap, membuat lubang (burrowing) atau merayap didasar perairan. Beberapa contoh organisme menancap misalnya lamun, karang, teritip, tiram dan remis. Contoh organisme pembuat lubang antara lain cacing, kima, kerang, dan keong. Beberapa jenis crustacean seperti udang dan kepiting merupakan organisme yang hidup merayap. Pada ekosistem perairan organisme utama yang mampu memanfaatkan energi cahaya adalah tumbuhan hijau terutama fitoplankton. Fitoplanktonmerupakan organisme autotrop yaitu organisme yang mampu menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya. Sebagai organissme autotrop fitoplankton berperan sebagai produser primer yang mampu mentransfer energi cahaya menjadi energi kimia berupa bahan organik pada selnya yang dapat dimanfaatkan oleh organisme lain padatingkat tropis diatasnya. Fitoplankton merupakan produser terbesar pada ekosistem laut. Pada ekosistem akuatik sebagian besar produktivitas primer dilakukan oleh fitoplankton (Parsons dkk, 1984). Steeman-Nielsen (1975) menyatakan bahwa kurang lebih 95% produksi primer di laut berasal dari fitoplankton.

Karnivora

Konsumen II

Zooplankton

Konsumen I

Fitoplankton

Produser primer

Gambar 6. Piramida makanan yang menunjukkan tingkat tropis produser dan konsumer Sebagai produser primer, fitoplankton menduduki tingkatan terbawah pada piramida makanan (Gambar 6), artinya fitoplanktonlah yang mendukung seluruh kehidupan di laut. Dengan kata lain fitoplankton menduduki tropik level paling rendah dan berperan mentranfer energi matahari dan mendistribusikan energi tersebut pada organisme laut melaui rantai makanan. Apabila dilihat bentuk piramida makanan maka bisa diartikan bahwa semakin ke atas ukuran individu bertambah sedangkan jumlah individu menurun. Sebaliknya jumlah fitoplankton jauh lebih besar dibanding zooplankton dan ikan tetapi ukurannya jauh lebih kecil. Bahan organic hasil proses fotosintesis dapat dimanfaatkan oleh zooplankton yang menduduki tropic level kedua pada piramida makanan. Pada tingkat tropik ini zooplankton berperan sebagai organisme herbivora atau konsumer primer. Sebagian besar zooplankton memakan fitoplankton atau detritus dan memiliki peran penting dalam dalam rantai makanan pada ekosistem perairan. Beberapa spesies memperoleh makanan melalui uptake langsungdari bahan organik yang terlarut. Zooplankton pada dasarnya mengumpulkan makanan melalui mekanisme feelter feeding atau raptorial feedeng.Zooplankton filter feeder menyaring seluruh makanan yang melewati mulutnyasedangkan pada raptorial feeder sebagian makanannya dikeluarkan kembali. Proses saling memangsa antar satu dengan yang lainnya disebut rantai makanan (food chain) sedangkan rangkaian rantai makanan disebut jarring makanan (food web). Pada rantai makanan maupun pada jaring makanan fitoplankton menempati tempat yang terendah sebagai produser primer. Rantai makanan grazing di laut dimulai dari fitoplankton sebagai produser dan zooplankton sebagai konsumer (grazer). Apabila terjadi kematian baik fitoplankton maupun zooplankton maka akan menjadi mata rantai pertama dalam rantai makan detritus (detritus food chain). Kedua rantai makanan tersebut menjadi siklus dasar dalam produksi di laut .

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Empat Alasan Bagus untuk Menjelajahi Laut-Dalam Indonesia. / Http://oceanexplorer.noaa.gov/okeanos/explorations/10index/welcome.html (akses 2 Mei 2011 17:44) Balai Taman Nasional Baluran. 2005. Identifikasi Keanekaragaman Molusca di Pantai Bama. Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan. Baluran, Jawa Timur Ikawati, Y. 2007. Plankton Reduksi Emisi Gas Karbon. Http://www.pelangi.or.id/othernews.php?nid-3358. Diakses 2 Mei 2011 15:43. Sunarto. 2008. Karakteristik Biologi dan Peranan Plankton Bagi Ekosistem Laut. Karya Ilmiah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjajaran. Bandung Syafarina,R. 2002. Struktur Komunitas dan Distribusi Horizontal Fitoplankton di Perairan Muara Sungai Bengawan Solo, Ujung Pangkah, Jawa Timur. Skripsi Jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan. IPB. Bogor