Anda di halaman 1dari 16

Hubungan Konsumsi Makanan Manis dengan Karies Gigi Siswa-Siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur

(The Relationship Between Sweets Consumption and Dental Caries in Elementary Students of Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur) Abstrak Latar Belakang: Kecamatan Malili merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Timur dan selama 5 tahun terakhir belum pernah dilakukan penelitian mengenai karies. Karies merupakan penyakit multifaktorial dan salah satu faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies yaitu substrat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan konsumsi makanan manis dengan karies gigi pada siswa-siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Malili. Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan national pathfinder survey yang dilaksanakan pada 10-12 November 2011. Jenis penelitian yaitu observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional yang berpedoman sesuai pada metode survei standar yang direkomendasikan oleh WHO. Sampel diambil dari 15 desa di Kecamatan Malili. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan gigi dan pengisian kuesioner. Hasil: Jumlah sampel secara keseluruhan yaitu 870 responden. Nilai df-t rata-rata mengalami penurunan dari usia 6 tahun ke 9 tahun, namun nilai DMF-T rata-rata mengalami peningkatan dari usia 9 tahun ke 12 tahun. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan manis dengan karies pada gigi sulung di kelompok usia 6 dan 9 tahun dengan nilai p<0,001. Begitu pula pada hubungan konsumsi makanan manis dengan karies gigi permanen pada anak usia 12 tahun dengan nilai p<0,001. Jenis makanan yang paling banyak dikonsumsi setiap hari adalah biskuit dan coklat/permen. Kesimpulan: Karies gigi sulung pada siswa-siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Malili tergolong sangat tinggi. Terdapat korelasi yang cukup baik antara konsumsi makanan manis dengan karies gigi pada siswa-siswi Sekolah dasar di Kecamatan Malili. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam hal peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur. Kata Kunci: Karies, Konsumsi Makanan Manis, Anak-Anak Sekolah Dasar, Malili, Luwu Timur. Abstract Background: Kecamatan Malili is one of the districts in Kabupaten Luwu Timur and during last 5 years, there never was the research about caries. Caries is a multifactorial disease and one of them was substrate. The aim of this study is to determine the relationship of sweets consumption with dental caries in elementary students of Kecamatan Malili. Materials and Methods: This study is a national pathfinder survey conducted on 10-12 November 2011. This is an observational analytic study with cross-sectional design that guided according to the standard survey methods recommended by WHO. Samples taken from 15 villages in Kecamatan Malili. Data was collected through dental examinations and questionnaire. Results: The samples were 870 respondents. The mean value of df-t decreased from the age of 6- to 9-yearsold, but the mean value of DMF-T, increased from age group 9- to 12-years-old. There is significant association between sweets consumption and caries in primary dentition at age group 6- and 9-years-old with p <0.001. Similarly, sweets consumption and caries in permanent dentition has a significant relationship in age group 12-years-old with p <0.001. The foods that mostly consumed every day were biscuit and chocolate/candy. Conclusion: Caries of primary dentition in elementary students of Kecamatan Malili was very high. Theres a fair correlation between sweets consumption and caries in elementary students of Kecamatan Malili. The research is expected to be a reference in terms of increasing the degree of oral health in Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur. Keywords: Caries, Sweets Consumption, Elementary Students, Malili, Luwu Timur

Latar Belakang Karies merupakan gangguan kesehatan gigi yang paling umum dan tersebar luas di sebagian penduduk dunia. Menurut hasil penelitian di negara-negara Eropa, Amerika dan Asia, termasuk Indonesia, ternyata bahwa 90-100% anak di bawah 18 tahun terserang karies gigi. Indeks target WHO untuk skor DMFT pada tahun 2010 adalah 1,0. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2004, prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05% dan ini

bakteri yang dapat mengubah glukosa menjadi asam sehingga pH rongga mulut menurun sampai dengan 4,5. Pada keadaan demikian maka struktur email gigi akan terlarut. Pengulangan konsumsi karbohidrat yang terlalu sering menyebabkan produksi asam oleh bakteri menjadi lebih sering lagi sehingga keasaman rongga mulut menjadi lebih asam dan semakin banyak email yang terlarut. Sesuai dengan yang dikemukakan pada British Nutrition Foundation tahun 2004, masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia, cenderung mengkonsumsi gigi dapat makanan lunak. Berbeda dengan negara maju, misalnya Amerika dan Jepang yang masyarakatnya banyak mengkonsumsi makanan berserat, sehingga angka kejadian karies lebih rendah dibandingkan negara berkembang. Pengaturan konsumsi gula perlu diperhatikan karena dapat memproduksi asam oleh bakteri2. Kebiasaan makan anak di sekolah yang sering dijumpai pada umumnya yaitu mengkonsumsi makanan yang manis atau mengandung gula murni seperti permen, cokelat dan donat. Menurut Moestopo dalam Buku Penuntun Diet Anak, yang dikutip oleh Damanik, pada jaman modern

tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya1. Tingginya angka karies

dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satunya yaitu faktor substrat atau diet. Faktor ini dapat plak dan mempengaruhi membantu kolonisasi pembentukan karena

perkembangbiakan

mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta bahan lain yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies1. Hubungan antara konsumsi karbohidrat dengan terjadinya karies gigi ada kaitannya dengan pembentukan plak pada permukaan gigi. Plak akan ditumbuhi

ini, banyak kita jumpai jenis-jenis makanan yang bersifat manis, lunak dan mudah melekat misalnya permen, coklat, biskuit dan lain-lain. Biasanya makanan ini sangat disukai oleh anak-anak karena sifatnya yang lunak maka tidak perlu pengunyahan sehingga gampang melekat pada gigi dan bila tidak segera dibersihkan maka akan berlanjut pada karies gigi. Selain itu, kebiasaan kumur-kumur setelah mengkonsumsi makanan manis juga jarang dilakukan oleh anak-anak di sekolah3. Kecamatan Malili merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Timur yang juga merupakan ibukota Kabupaten Luwu Timur. Luas wilayahnya yaitu 921,2 km2 dan berjarak 565 km dari Kota Makassar. Kecamatan Malili terdiri dari 15 desa yaitu Desa Lakawali, Desa Lakawali Pantai, Desa Tarabbi, Desa Manurung, Desa Atue, Desa Ussu, Desa Puncak Indah, Desa Baruga, Desa Balantang, Desa Malili, Desa Wewangriu, Desa Harapan, dan Desa PassiPassi. Pada tahun 2008, jumlah penduduk di Kecamatan Malili sebanyak 31.323 orang. Fasilitas kesehatan yang terdapat di Kecamatan Malili berupa 2 puskesmas yang terletak di Desa Puncak Indah dan Desa Harapan serta 12 buah puskesmas pembantu. Jumlah tenaga dokter gigi yaitu

sebanyak 3 orang4. Adapun jarak antara desa satu dengan desa lainnya agak berjauhan. Selama 5 tahun terakhir, tidak ada penelitian mengenai kesehatan gigi dan mulut khususnya mengenai karies pada anak-anak di Kecamatan Malili. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi makanan manis dengan karies pada siswa-siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Malili. Informasi yang dikumpulkan dari penelitian ini nantinya dapat menjadi acuan bagi Dinas Kesehatan dalam upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut di Kecamatan Malili serta diharapkan dukungan dan kerjasama dari pemerintah daerah, pelaksana kesehatan, orangtua dan pihak sekolah dalam hal promosi kesehatan gigi dan mulut untuk anak-anak sekolah. Bahan dan Metode Penelitian ini merupakan sebuah national pathfinder survey yang dilakukan di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur selama 3 hari, yaitu 10-12 November 2011. Jenis penelitian yaitu observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini berpedoman sesuai pada metode survei oleh standar WHO yang dengan direkomendasikan

mengambil 3 indeks kelompok usia anak,

yaitu kelompok usia 6, 9 dan 12 tahun. Usia 6 tahun merupakan usia masuk sekolah dan merupakan periode gigi sulung. Usia 9 tahun merupakan usia ketika gigi sulung hampir sepenuhnya tergantikan dengan gigi permanen merupakan periode gigi bercampur dan usia 12 tahun merupakan usia anak-anak akan meninggalkan sekolah dasar dan akan mewakili untuk periode gigi permanen. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa-siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Malili. Sampel diambil dari 15 desa yang berada di Kecamatan Malili. Di setiap desa, dipilih satu sekolah secara acak sebagai perwakilan untuk desa tersebut. Seluruh siswa dengan usia 6, 9 dan 12 tahun yang terdapat di sekolah tersebut dan bersedia mengikuti penelitian kemudian dijadikan melalui Kuesioner responden frekuensi sebagai pengisian berisi dan konsumsi sampel kuesioner oleh tentang pertanyaan makanan penelitian. dengan peneliti. identitas mengenai manis, Pertama-tama, dilakukan pengumpulan data

sulit

untuk

membedakan

penyebab

hilangnya gigi sulung karena karies atau eksfoliasi. Adapun pada usia 9 tahun digunakan df-t dan DMF-T dengan alasan periode gigi bercampur. Kemudian anak usia 12 tahun kariesnya karena diukur hampir menggunakan DMF-T

seluruh gigi permanen telah erupsi. Gigi dianggap karies (komponen d atau D yaitu decayed) jika terdapat kavitas yang jelas atau karies yang masih dapat ditambal atau karies sekunder. Gigi dianggap hilang (komponen M atau missing) jika terdapat gigi yang hilang karena karies atau gigi yang tidak dapat dirawat lagi atau indikasi pencabutan. Kemudian gigi dianggap direstorasi (komponen f atau F yaitu filled) jika terdapat tambalan permanen atau sementara.
Konsumsi Makanan Manis

wawancara

terpimpin

Makanan manis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah makanan yang mudah menimbulkan karies yang bersifat manis, lengket dan mudah hancur di dalam mulut. Untuk mengetahui konsumsi makanan manis, diukur menggunakan kuesioner yang terdiri atas pertanyaan sehubungan dengan frekuensi konsumsi makanan manis, cara mengkonsumsi makanan manis, jenis

kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan klinis untuk mengetahui karies pada anak.
Pemeriksaan Gigi

Untuk mengukur karies, pada anak usia 6 tahun digunakan indeks df-t karena agak

makanan manis serta seberapa sering makanan manis tersebut dikonsumsi.


Analisis Data

didapatkan di Desa Laskap yaitu sebanyak 28 orang dan paling sedikit di Desa PassiPassi yaitu sebanyak 11 orang. Adapun sampel dengan usia 9 tahun memiliki

Data

yang

dikumpulkan

kemudian dengan

jumlah terbanyak di Desa Manurung yaitu 11,3% atau 35 orang dan di Desa PassiPassi hanya sebanyak 5 orang. Sementara untuk sampel usia 12 tahun paling banyak didapatkan di Desa Harapan sebanyak 53 orang dan tidak didapatkan sampel usia 12 tahun di Desa Passi-Passi. Dari total jumlah sampel yang diambil dari setiap desa, Desa Passi-Passi merupakan desa dengan jumlah sampel yang sangat sedikit, yaitu sebanyak 16 orang saja. Adapun desa dengan jumlah total sampel untuk semua kelompok usia merupakan yang terbanyak yaitu di Desa Harapan sebanyak 110 orang

dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 16. Kedua variabel dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman untuk melihat hubungan korelasi antar variabel. Hasil Pada penelitian yang dilakukan, dari 15 desa di Kecamatan Malili, didapatkan sampel sebanyak 870 anak yang diperiksa dan mengisi kuesioner dengan masingmasing jumlah sampel dari setiap kelompok umur yaitu 294, 311 dan 265 sampel seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 1. Sampel dengan usia 6 tahun paling banyak

Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan kelompok usia dan nama desa


Nama Desa Harapan Passi-Passi Baruga Balantang Manurung Attue Laskap Pongkeru Ussu Puncak Indah Lakawali Lakawali Pantai Tarabbi Wewangriu Malili Usia 6 tahun (%) 25 (8,5) 11 (3,7) 20 (6,8) 20(6,8) 24 (8,2) 25 (8,5) 28 (9,5) 14 (4,8) 19 (6,5) 22 (7,5) 22 (7,5) 20 (6,8) 12 (4,1) 15 (5,1) 17 (5,8) 9 tahun (%) 32 (10,3) 5 (1,6) 20 (6,4) 22 (7,1) 35 (11,3) 16 (5,1) 26 (8,4) 26 (8,4) 14 (4,5) 34 (10,9) 16 (5,1) 14 (4,5) 14 (4,5) 6 (1,9) 31 (10,0) 12 tahun (%) 53 (20,0) 0 (0) 20 (7,5) 24 (9,1) 28 (10,6) 24 (9,1) 25 (9,4) 18 (6,8) 3 (1,1) 8 (3,0) 11 (4,2) 11 (4,2) 9 (3,4) 17 (6,4) 14 (5,3) Total 110 16 60 66 87 65 79 58 36 64 49 45 35 38 62

Total

294 (100)

311 (100)

265 (100)

870

Tabel 2 menunjukkan hubungan korelasi antara frekuensi konsumsi makanan manis dengan nilai df-t rata-rata pada kelompok usia 6 tahun. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa seiring dengan meningkatnya frekuensi konsumsi makanan manis, maka skor df-t pun ikut meningkat. Jumlah responden terbanyak berada pada frekuensi konsumsi makanan manis sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari. Mean df-t pada kelompok usia 6 tahun dapat dikatakan

sangat tinggi yaitu 6,90. Pada kelompok usia 6 tahun, terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan manis dengan nilai df-t (p<0,001). Hubungan korelasi antara frekuensi konsumsi makanan manis dengan nilai df-t pada anak usia 6 tahun didapatkan nilai r = 0,379 yang berarti setiap meningkatnya frekuensi konsumsi makanan manis, maka akan diikuti oleh kenaikan nilai df-t sebesar 38%.

Tabel 2. Hubungan korelasi antara frekuensi konsumsi makanan manis dengan skor df-t rata-rata pada kelompok usia 6 tahun Frekuensi Konsumsi Makanan Manis Jarang atau tidak pernah diantara waktu makan Kadang-kadang tapi tidak setiap hari 1 kali dalam sehari 2 kali dalam sehari 3 kali atau lebih dalam sehari Total *Spearmans Correlation Test: r = 0,379; p<0,001 N (%) 6 (2%) 65 (22,1%) 74 (25,2%) 68 (23,1%) 81 (27,6%) 294 (100%) Mean 1,17 5,35 5,58 7,57 9,20 6,90 Skor df-t Standar Deviasi 1,94 4,38 3,46 3,80 5,03 4,54

Hubungan

korelasi

antara

frekuensi

usia 9 tahun dengan jumlah responden sebanyak 311 yaitu 3,16 yang berarti dapat dikategorikan sedang. Jumlah responden terbanyak yaitu responden yang menjawab frekuensi konsumsi makanan manis satu kali dalam sehari yakni sebanyak 81 orang atau 26%. Pada pemeriksaan gigi sulung di kelompok usia 9 tahun, terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan manis dengan nilai df-t (p<0,001).
7

konsumsi makanan manis dengan skor df-t dan skor DMF-T pada kelompok usia 9 tahun dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4. Mean dari skor df-t terus meningkat hingga frekuensi konsumsi makanan manis 2 kali dalam sehari, namun mengalami sedikit penurunan pada frekuensi konsumsi makanan manis tiga kali atau lebih dalam sehari. Adapun mean df-t untuk kelompok

Hubungan

korelasi

antara

frekuensi

frekuensi konsumsi makanan manis jarang atau tidak pernah diantara waktu makan. Mean DMF-T secara keseluruhan yaitu 1,94 dan termasuk dalam kategori rendah. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan manis dengan nilai DMF-T (p = 0,141).

konsumsi makanan manis dengan nilai df-t pada anak usia 9 tahun didapatkan nilai r = 0,287 yang berarti setiap meningkatnya frekuensi konsumsi makanan manis, maka akan diikuti oleh kenaikan nilai df-t sebesar 28%. Pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa nilai DMF-T rata-rata tertinggi yaitu pada

Tabel 3. Hubungan korelasi antara frekuensi konsumsi makanan manis dengan skor df-t rata-rata pada kelompok usia 9 tahun Frekuensi Konsumsi Makanan Manis Jarang atau tidak pernah diantara waktu makan Kadang-kadang tapi tidak setiap hari 1 kali dalam sehari 2 kali dalam sehari 3 kali atau lebih dalam sehari Total *Spearmans Correlation Test: r = 0,287; p<0,001 N (%) 29 (9,3%) 79 (25,4%) 81 (26%) 54 (17,4%) 68 (21,9%) 311 (100%) Mean 1,72 2,08 3,73 3,93 3,76 3,16 Skor df-t Standar Deviasi 2,52 2,36 2,55 2,90 3,06 2,81

Tabel 4. Hubungan korelasi antara frekuensi konsumsi makanan manis dengan skor DMF-T rata-rata pada kelompok usia 9 tahun Frekuensi Konsumsi Makanan Manis Jarang atau tidak pernah diantara waktu makan Kadang-kadang tapi tidak setiap hari 1 kali dalam sehari 2 kali dalam sehari 3 kali atau lebih dalam sehari N (%) 29 (9,3%) 79 (25,4%) 81 (26%) 54 (17,4%) 68 (21,9%) Mean 2.45 1.86 2.01 2.19 1.51 1.94 Skor DMF-T Standar Deviasi 2,58 1,62 1,92 2,58 1,76 2,02

Total 311 (100%) *Spearmans Correlation Test: r = -0,084 ; p = 0,141

Tabel 5. Hubungan korelasi antara frekuensi konsumsi makanan manis dengan skor DMF-T rata-rata pada kelompok usia 12 tahun

Frekuensi Konsumsi Makanan Manis Jarang atau tidak pernah diantara waktu makan Kadang-kadang tapi tidak setiap hari 1 kali dalam sehari 2 kali dalam sehari 3 kali atau lebih dalam sehari Total *Spearmans Correlation Test r = 0,269; p < 0,001

N (%) 15 (5,7%) 119 (44,9%) 38 (14,3%) 22 (8,3%) 71 (26,8%) 265 (100%)

Skor DMF-T Mean 1.40 2.84 3.45 4.68 4.06 3.32 Standar Deviasi 2.87 2.01 1.79 1.88 3.27 2.53

Pada Tabel 5, dapat diketahui bahwa skor DMF-T rata-rata terus meningkat hingga frekuensi konsumsi makanan manis 2 kali dalam sehari, namun mengalami penurunan pada frekuensi konsumsi makanan manis tiga kali atau lebih dalam sehari. Nilai DMF-T rata-rata secara keseluruhan dari 265 responden pada kelompok usia 12 tahun yaitu 3,32 dengan kategori sedang. Jumlah seluruh responden dari semua kelompok usia yaitu 870 responden yang terdiri dari 437 Pada laki-laki dan 433 cara perempuan. pertanyaan

makanan manis tersebut dalam waktu singkat. jumlah Tabel 6 menunjukkan distribusi responden berdasarkan jenis

makanan dan frekuensi konsumsi. Pada jenis makanan biskuit atau kue, frekuensi konsumsi setiap hari sebanyak 302 responden. Jumlah responden paling sedikit dengan jenis makanan donat yaitu sebanyak 95 orang. Selai atau madu merupakan jenis makanan yang sangat jarang atau tidak pernah dikonsumsi oleh 468 responden. Jumlah responden yang paling sedikit pada jenis makanan permen karet yaitu sebanyak 75 orang dengan frekuensi beberapa kali dalam satu bulan. Coklat atau permen dikonsumsi setiap hari oleh 259 orang. Jumlah responden yang paling sedikit pada jenis makanan es krim yaitu sebanyak 238 orang dengan frekuensi sangat jarang.

mengkonsumsi makanan manis, sebanyak 676 responden menjawab bahwa mereka mengkonsumsi makanan manis sedikitsedikit dalam jumlah kecil sedangkan sebanyak menjawab 194 responden atau 22,3% langsung mengkonsumsi

Tabel 6. Distribusi jumlah responden berdasarkan jenis makanan dan frekuensi konsumsi

Jenis Makanan Frekuensi Konsumsi Sangat jarang/tidak pernah Beberapa kali dalam 1 bulan Sekali seminggu Beberapa hari dalam seminggu Setiap hari Sangat sering Total Biskuit/Kue N (%) 92 (10,6%) 86 (9,9%) 104 (12%) 170 (19,5%) 302 (34,7%) 116 (13,3%) 870 (100%) Donat N (%) 230 (26,4%) 116 (13,3%) 168 (19,3%) 138 (15,9%) 123 (14,1%) 95 (10,9%) 870 (100%) Selai/Madu N (%) 468 (53,8%) 124 (14,3%) 95 (10,9%) 81 (9,3%) 48 (5,5%) 53 (6,1%) 870 (100%) Permen Karet N (%) 281 (32,3%) 75 (8,7%) 130 (14,9%) 127 (14,6%) 150 (17,2%) 107 (12,3%) 870 (100%) Coklat/Perme n N (%) 172 (19,8%) 70 (8%) 104 (12%) 123 (14,1%) 259 (29,8%) 142 (16,3%) 870 (100%) Es Krim N (%) 238 (27,4%) 98 (11,3%) 161 (18,5%) 139 (16%) 124 (14,3%) 110 (12,6%) 870 (100%)

Pembahasan Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa nilai df-t rata-rata dari usia 6 tahun ke 9 tahun mengalami penurunan sebesar 3,74 dan nilai DMF-T rata-rata dari usia 9 tahun ke 12 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,38. Hal ini sejalan dengan penelitian Yabao dkk di Filipina dengan kelompok usia yang sama, bahwa seiring dengan bertambahnya usia, nilai df-t semakin berkurang namun nilai DMF-T menjadi semakin meningkat. Pengetahuan orangtua terhadap kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam periode pergantian gigi sulung menuju gigi permanen, namun terkadang orangtua tidak memperdulikan kondisi dari gigi sulung karena menganggap gigi sulung tersebut akan digantikan oleh gigi permanen5. Nilai df-t rata-rata pada usia 6 tahun untuk mewakili karies pada gigi sulung yaitu 6,90 dan

tergolong sangat tinggi berdasarkan kriteria WHO. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Toscano dkk pada anak sekolah di Portugal yang menunjukkan hasil rata-rata nilai def-t anak usia 6 tahun yaitu 2,1 dan tergolong rendah6. Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meyer-Lueckel di Iran pada anak usia 6 dan 9 tahun, prevalensi karies tergolong cukup rendah7. Nilai DMF-T rata-rata untuk kelompok usia 12 tahun pada penelitian ini yaitu 3,32 dengan kategori sedang, hasil yang didapatkan sejalan dengan penelitian yang dilakukan Gayal dkk di Candigarh, India, yaitu didapatkan skor DMF-T untuk kelompok usia 12 tahun 3,03 dengan kategori sedang8, namun penelitian yang dilakukan oleh Adekoya pada anak-anak sekolah di Nigeria menunjukkan hasil yang

10

berbeda dimana didapatkan nilai DMF-T rata-rata yaitu 0,14 dengan kategori sangat rendah9. Begitu pula halnya penelitian yang dilakukan oleh Nazik Mostafa di Khartoum, Sudan, skor DMF-T dengan kelompok usia yang sama yaitu 0,42 dengan kategori sangat rendah10 dan Nibras dkk juga mendapatkan hasil penelitian pada usia 12 tahun di Baghdad dengan kategori rendah11. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyak hal, seperti yang kita ketahui bahwa banyak faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya karies baik itu faktor intrinsik maupun faktor ekstrinsik. Variasi dalam metode yang digunakan dan prosedur pengambilan sampel serta populasi yang berbeda-beda dari setiap penelitian tentunya juga akan menyebabkan hasil yang berbeda. Mengenai hubungan konsumsi makanan manis dengan karies, dari hasil penelitian di dapatkan bahwa satu-satunya hasil yang tidak signifikan yaitu hubungan konsumsi makanan manis dengan karies pada gigi permanen di kelompok usia 9 tahun (p = 0,141). Hal ini mungkin disebabkan karena anak usia 9 tahun berada pada periode gigi bercampur dimana gigi permanen baru saja erupsi dan masih memiliki lapisan email yang tebal sehingga pertahanan dari gigi tersebut masih cukup kuat terhadap kondisi

asam

yang

dihasilkan

dari

konsumsi

makanan-makanan manis. Terlihat pada hubungan konsumsi makanan manis dengan skor df-t pada anak usia 9 tahun, didapatkan hubungan yang signifikan (p < 0,001), hal ini mungkin dari disebabkan gigi sulung gigi dengan kekuatan berbeda permanen pertahanan dibandingkan

sehingga nilai df-t pada umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan nilai DMF-T pada anak usia 9 tahun. Hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan manis dengan karies pada kelompok usia 6, 9 dan 12 tahun sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yabao dkk di Benguet, Filipina. Penelitian oleh Lina Naomi di Jepang juga sejalan dengan hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa anak yang mengkonsumsi makanan manis lebih dari sekali dalam sehari memiliki karies yang lebih banyak dibandingkan yang mengkonsumsi satu kali sehari12, serta penelitian yang dilakukan oleh Made Asri dkk yang menunjukkan bahwa semakin sering makan manis, ada kecenderungan semakin banyak memiliki karies dengan skor DMF-T lebih dari 213. Sebuah studi observasional dilakukan secara sistematik dan ditemukan hubungan yang lemah antara konsumsi makanan manis dengan karies, apalagi jika telah dilakukan fluoridasi,

11

faktor konsumsi makanan manis bukan lagi menjadi hal yang penting14. Pada kelompok usia 6 tahun, jumlah responden paling banyak pada tingkat frekuensi tiga kali atau lebih dalam sehari, lain halnya dengan anak usia 9 dan 12 tahun yang masing-masing terbanyak pada tingkat frekuensi satu kali sehari dan frekuensi kadang-kadang tapi tidak setiap hari. Ini mungkin juga ada hubungannya dengan usia, dimana anak usia 6 tahun masih belum bisa membedakan mana makanan yang tidak baik untuk kesehatan gigi, ditambah lagi dengan kebiasaan kumur-kumur yang sering tidak dilakukan setelah mengkonsumsi makanan manis. Selain itu, biasanya kantin di sekolahsekolah memiliki makanan frekuensi berperan menyediakan pilihan yang lain makanan dalam lebih yang kariogenik sehingga anak biasanya tidak memilih sehat. bahwa lebih karies

Institutes dan Pai

of

Health bahwa bahwa

Consensus dari hanya 69 2

Development Conference on Caries, Burt melaporkan penelitian mengenai hubungan diet dengan karies, menunjukkan penelitian yang memiliki hubungan yang kuat, 16 penelitian menunjukkan hubungan yang sedang dan 18 penelitian menunjukkan hubungan yang lemah16. Pada penelitian ini, jenis makanan coklat dan biskuit merupakan jenis makanan dikonsumsi Baghdad, yang paling hari, Hal ini banyak sejalan dapat setiap Iraq11.

dengan penelitian oleh Nibras di disebabkan karena jenis makanan seperti coklat dan biskuit paling mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan banyak disukai oleh anak-anak. Menurut penelitian Noverini di Kecamatan Panei, Medan, coklat dan donat merupakan jenis makanan yang umumnya dikonsumsi 4-5x seminggu dan es krim umumnya dikonsumsi 1-3x seminggu3. Yang paling menjadi masalah dalam hal ini adalah seberapa lama makanan tersebut apalagi berada dalam mulut, yang
12

Data literatur menunjukkan mengkonsumsi gula dalam


12

hal

terjadinya

dibandingkan dengan kuantitas makanan yang dikonsumsi . Hasil yang didapatkan juga mungkin dipengaruhi oleh hal-hal lain seperti bagaimana cara mengkonsumsi, konsistensi makanan
15

dan

praktek

kebersihan rongga mulut . Pada National

makanan

mengandung sukrosa tinggi dan kebetulan tertinggal cukup lama pada gigi. Jadi bila seluruh gula sukrosa yang dikonsumsi langsung tertelan masuk ke dalam perut tanpa ada yang tertinggal pada gigi, hasil jenis karies maka hal itu tidak gigi. akan Dari menyebabkan karies

DMF-T rata-rata meningkat. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi

makanan manis dengan karies gigi sulung pada kelompok usia 6 dan 9 tahun. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan manis dengan karies gigi permanen pada kelompok usia 9 tahun. Untuk

berbagai gula gigi dan

penelitian, hubungannya terjadinya dinilai telah

mengungkapkan bahwa berbagai sebagai penyebab

kelompok usia 12 tahun, terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan manis dengan karies ketiga gigi hasil permanen. penelitian yang Adapun dengan

berdasarkan urutan kegawatannya terhadap terjadinya karies yaitu sukrosa, diikuti oleh glukosa, maltosa, laktosa, fruktosa, sorbitol dan xylitol17. Pada hasil penelitian ini, dari 870 responden, sebanyak 676 responden manis mengkonsumsi dalam jumlah untuk makanan

hubungan

signifikan,

memiliki kekuatan hubungan yang cukup baik yaitu dengan nilai r = 0,25 - 0,50. Saran Perlunya pencegahan informasi karies tentang anakpada

yang sedikit-sedikit sehingga tidak memberikan kesempatan terjadinya remineralisasi pada gigi. Kesimpulan Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini yaitu nilai df-t ratarata menurun seiring dengan bertambahnya usia namun nilai

anak di Kecamatan Malili. Hal ini sangat penting agar mereka tetap bisa mengkonsumsi makanan manis yang biasanya tersedia di kantin sekolah namun juga tetap bisa menjaga kebersihan gigi dan mulutnya melalui kumur-kumur

13

atau menyikat gigi secara teratur. Peran orangtua serta pihak sekolah juga sangat dibutuhkan dalam hal mengurangi terjadinya karies pada anak-anak. Sebagai tambahan, Gigi sebaiknya dan diadakan melibatkan program UKGS (Usaha Kesehatan Sekolah) seluruh pihak demi tercapainya kesehatan gigi dan mulut sejak dini. Daftar Pustaka
1. Pintauli S, Hamada T. Menuju gigi

2010.

p.25-26,43-44.

Internet:

repository.usu.ac.id/bitstream/12345 6789/14650/1/10E00010.pdf 4. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur. Kecamtan Malili dalam angka. 2008. p.1-5.
5. Yabao RN, Duante CA, Velandria

FV, Lucas M, Kassu A, Nakamori M, Yamamoto S. Prevalence of dental caries and sugar consumption among 6-12-y-old schoolchildren in La Trinidad Benguet, Philippines. European 1429-1438. v59/n12/pdf/1602258a.pdf
6. Almeida CM, Petersen PE, Andre

Journal

of

Clinical Internet:

Nutrition [serial online] 2005;59: http://www.nature.com/ejcn/journal/

dan mulut sehat: pencegahan dan pemeliharaan. Medan: USU Press. 2008. p.4-8. Internet: http://usupress.usu.ac.id/files/Menuj u%20Gigi%20dan%20Mulut %20Sehat%20_Pencegahan%20dan %20Pemeliharaan__Normal_awal.p df (Accessed 11 November 2011)
2. British Nutrition Foundation. Dental

SJ, Toscano A. Changing oral health status of 6and in 12-year-old Portugal. schoolchildren

Community Dental Health [serial online] 2003;20: 211216. Internet: http://www.who.int/oral_health/med ia/en/orh_portugal.pdf
7. Meyer-Lueckel

Health.

2004.

p.2-3.

Internet:

http://britishnutrition.org.uk/upload/ Dental%20Health.pdf
3. Damanik NE. Gambaran konsumsi

H,

Paris

S, W,

Shirkhani in 6-

B,

Hopfenmuller 9-year-old Dent

makanan dan status gizi pada anak penderita karies gigi di SDN 091285 Panei Tongah Kecamatan Panei Tahun 2009. Medan: USU Press.

Kielbassa AM. Caries and fluorosis and children Oral residing in three communities in Iran. Community

14

Epidemiol Internet:

2006;34:

6370.

11. Nibras AM, Anne NA, Skaug N,

Petersen

PE.

Dental

caries

http://washingtonsafewater.com/wpcontent/uploads/Meyer-Luekelcaries-in-children-in-iran.pdf
8. Goyal A, Gauba K, Chawla HS,

prevalence and risk factors among 12-year old schoolchildren from Baghdad, Iraq: a post-war survey. International 2007;57: Dental 36-44. Journal Internet:

Kaur M, Kapur A. Epidemiology of dental caries in Chandigarh school children and trends over the last 25 years. J Indian Soc Pedod Prevent Dent 2007: 115118. Internet: http://www.jisppd.com/temp/JIndia nSocPedodPrevDent2531152350232_063142.pdf
9. Adekoya Sofowora CA, WO

http://www.who.int/oral_health/publ ications/IDJ_Feb%2007.pdf
12. Hashizume

LN,

Shinada

K,

Kawaguchi Y.

Factors associated

with prevalence of dental caries in Brazilian school children residing in Japan. Journal of Oral Science 2011;53(3) 307-312. Internet: http://www.jstage.jst.go.jp/article/jo snusd/53/3/307/_pdf
13. Budisuari MA, Oktarina, Mikrajab

Nasir, AO Oginni, M Taiwo. Dental caries in 12-year-old suburban Nigerian school children. African Health Sciences 2006:6 (3) 145 150. Internet: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/ar ticles/PMC1831881/pdf/AFHS0603 -0145.pdf
10. Nurelhuda NM, Trovik TA, Ali

MA. Hubungan pola makan dan kebiasaan menyikat gigi dengan kesehatan gigi dan mulut karies di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 2010;13(1) 83 91. Internet: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurna l/131108391.pdf
14. Scottish Intercollegiate Guidelines

RW, Ahmed FM. Oral health status of 12-year-old school children in Khartoum state,the Sudan; a schoolbased survey. BMC Oral Health 2009;9(15) 19. Internet: http://www.biomedcentral.com/cont ent/pdf/1472-6831-9-15.pdf

Network.

Prevention

and

management of dental decay in the pre-school child: a national clinical guideline. Predicting caries risk.

15

2005.

Internet:

www.sign.ac.uk/pdf/sign83.pdf.
15. Touger-Decker R, Loveren VC.

Sugars and dental caries. Am J Clin Nutr 2003;78: 881S92S. Internet: http://www.ajcn.org/content/78/4/88 1S.full.pdf.
16. Burt BA, Pai S. Sugar consumption

and caries risk: a systematic review. Journal of Dental Education 2001;65(10) 1017-1023. Internet: http://www.jdentaled.org/content/65 /10/1017.full.pdf
17. Koswara S. Makanan bergula dan

kerusakan

gigi.

2002.

Internet:

http://ebookpangan.com/ARTIKEL/ MAKANAN%20BERGULA %20TINGGI%20DAN %20KESEHATAN%20GIGI.pdf

16