Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam melakukan suatu kegiatan dalam pendidikan tidak akan lepas dari
manajemen yang tentunya manajemen tersebut merupakan usaha untuk mensukseskan
tujuan pendidikan. Diperlukan adanya penataan, pengaturan, pengelolaan, dan kegiatan
yang sejenis yang berkaitan dengan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk
mengembangkan sumber daya manusia yang mengacu pada upaya agar dapat
didayagunakan seoptimal mungkin.
Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar
pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas
interaksi belajar mangajar. Dalam kegiatan tersebut diperlukan adanya perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi yang merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.

B. Manfaat
1. Dapat di ketahui pengertian ruang lingkup manajemen kurikulum.
2. Mengetahui perencanaan dan pengembangan kurikulum.
3. Mengetahui Implementasi Dari Manajemen Kurikulum.
4. Mengetahui Iungsi dan manIaat evaluasi kurikulum.













BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum
Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan
pandangan yang beragam.
Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana
pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah,
itulah kurikulum. George A. Beauchamp (1986). Dalam pandangan modern, pengertian
kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam
proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935).
Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Hamid Hasan (1988)
mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:
1. kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian,
khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
2. kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai
suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan
waktu.
3. kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai
suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran.
4. kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai
suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya
perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.
Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian :
1. kurikulum sebagai ide
2. kurikulum Iormal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan
dalam melaksanakan kurikulum.
3. kurikulum menurut persepsi pengajar.
4. kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas.
5. kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik.
6. kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.
Dalam perspektiI kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dapat dilihat dalam
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa:
'Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan

pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar
pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas
interaksi belajar mangajar. Sedangkan kurikulum sendiri mempunyai arti yang sempit dan
arti yang luas. Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran atau semua
pelajaran baik teori maupun praktek yang diberikan kepada siswa selama mengikuti suatu
proses pendidikan tertentu.
Sedangkan dalam arti luas kurikulum diartikan sebagai berikut.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi
tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,
satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan
pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan
potensi yang ada di daerah.
Dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
pada pasal 1 butir 9 disebutkan bahwa
Kurikulum adalah:
1. Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi.
2. bahan pelajaran.
3. cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar.
Butir (1) yang berbunyi 'seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, pada
Kurikulum 1994 diwujudkan dalam Buku Landasan, Program, dan Pengembangan
Kurikulum. Butir (2) yang berbunyi 'bahan pelajaran, pada Kurikulum 1994 diwujudkan
dalam Buku Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Sedangkan butir (3) yang
berbunyi 'cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar
mengajar, pada Kurikulum 1994 diwujudkan dalam Buku-buku Pedoman Pelaksanaan
Kurikulum.
Kemudian dipertegas lagi pada pasal 37 bahwa kurikulum disusun untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan
kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing masing
satuan pendidikan.

C. ORGANISASI KURIKULUM
Istilah kurikulum mempunyai berbagai macam arti jika kita telusuri maka akan kita
kenal berbagai macam kurikulum ditinjau dari berbagai aspek:
Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah kurikulum sebagai
berikut:
1. Kurikulum ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-
citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum.
2. Kurikulum aktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan
pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan.
Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal.
Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan.
Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan
dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum
tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar..
3. Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu yang terjadi pada
saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum Iaktual. Segala sesuatu itu bisa
berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta
didik itu sendiri. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai
contoh, akan menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada
pembentukan kepribadian peserta didik.
Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita dapat membedakan:
1. Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum), kurikulum yang mata pelajarannya
dirancang untuk diberikan secara terpisah-pisah. Misalnya, mata pelajaran sejarah
diberikan terpisah dengan mata pelajaran geograIi, dan seterusnya.
2. Kurikulum terpadu (integrated curriculum), kurikulum yang bahan ajarnya diberikan
secara terpadu. Misalnya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan Iusi dari beberapa mata
pelajaran sejarah, geograIi, ekonomi, sosiologi, dan sebagainya. Dalam proses
pembelajaran dikenal dengan pembelajaran tematik yang diberikan di kelas rendah
Sekolah Dasar. Mata pelajaran matematika, sains, bahasa Indonesia, dan beberapa mata
pelajaran lain diberikan dalam satu tema tertentu.

3. Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum), kurikulum yang bahan ajarnya dirancang


dan disajikan secara terkorelasi dengan bahan ajar yang lain.
Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat dibedakan menjadi:
1. Kurikulum nasional (national curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh tim
pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional.
2. Kurikulum negara bagian (state curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh
masing-masing negara bagian, misalnya di masing-masing negara bagian di Amerika
Serikat.
3. Kurikulum sekolah (school curriculum), yakni kurikulum yang disusun oleh satuan
pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan
kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan
diIerensiasi dalam kurikulum.

D. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensiI, didalamnya mencakup:
1. perencanaan,
2. penerapan dan
3. evaluasi.
Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja
kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan
yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha
mentransIer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional.
Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk
menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program
yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung
dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti :
politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur unsur masyarakat lainnya yang
merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya
merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam
pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam
kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru.

Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat
mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan
di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang
digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok :
1. Prinsip - prinsip umum : relevansi, Ileksibilitas, kontinuitas, praktis, dan eIektivitas;
2. prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan
dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar
mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip
berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam
pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara
komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi).
Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi
dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan
dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan
perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip Ileksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang
dihasilkan memiliki siIat luwes, lentur dan Ileksibel dalam pelaksanaannya,
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi
tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta
didik.
3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara
vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan
kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas,
antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4. Prinsip eIisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat
mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal,
cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5. Prinsip eIektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum
mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah


prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan
lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatiI, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan
kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta
didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama,
suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum
meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan
pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan
yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum
dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum
mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanIaatkan secara tepat
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan
melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi
pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan
kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan
keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan
akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan
dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan,
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan Iormal,

nonIormal dan inIormal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang
selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum
dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah
untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan
nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan
dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya
sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya
kurikulum
Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terIokus hanya pada
pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting
adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung
dalam pengembangan kurikulum.

E. Perencanaan Kurikulum
Perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan serangkaian keputusan untuk
mengambil tindakan dimasa yang akan datang yang diarahkan kepada tercapainya tujuan-
tujuan dengan sarana yang optimal. Pedoman-pedoman perencanaan yang merupakan tujuan
pendidikan dan sususan bahan pelajaran, pemerintah pusat mengeluarkan pedoman umum
yang harus diikuti oleh sekolah untuk menyusun perencanaan yang bersiIat operasional
disekolah, pedoman tersebut antara lain :
1. Struktur Program
Struktur program adalah susunan bidang perajaran yang harus dijadikan pedoman
pelaksanaan kurikulum di suatu jenis dan jenjang sekolah. Struktur program
merupakan landasan untuk membuat jadwal pelajaran.
2. Penyusunan Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran adalah urut-urutan mata pelajaran sebagai pedoman yang harus
di ikuti dalam pelaksanaanpemberian pelajaran. Jadwal pelajran sangat
bermanIaat dalam pembelajaran yang dilakukan oleh setiap institusi pendidikan.
3. Penyusunan Kalender Pendidikan

Tujuan penyusunan kalender pendidikan adalah agar pengunaan waktu selama


satu tahun terbagi secara merata dan sebaik-baiknya dari peningkatan mutu
pendidikan. Hal yang diatur dalam kalender pendidikan adalah pemerimaan siswa
baru, prosedur pengisian hari pertama sekolah, kegiatan belajar mengajar, kegiatan
dalam Liburan sekolah, upacara-upacara sekolah, kegiatan ekstrakurikuler.
4. Pembagian Tugas Guru
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian tugas kepada guru :
a. Sesuai bidang keahlian guru.
b. Sistem guru kelas dan system guru bidang studi
c. Formasi, yaitu susunan jatah petugas sesuai dengan banyaknya dan jenis tugas
d. Terdapat kemungkinan adanya perangkapan tugas mengajar jika jumlah guru
kurang.
e. Masa kerja dan pengalaman mengajar dalam bidang studi yang dimampu.
5. Pengaturan atau Penempatan Siswa
Dalam pengaturan kelas siswa biasanya diatur setelah siswa melakukan daItar
ulang.
6. Penyusunan Rencana Mengajar
Penyusunan rencana pembelajaran dilakukan memelui dua tahap yaitu :
a. Tahap penyusunan rencana terurai, adalah pembuatan program garis besar tetapi
terperinci mengenai penyajian bahan pelajaran selama satu tahun.
b. Tahap penyusunan satuan pelajaran.
7. Perencanaan kurikulum di bedakan menjadi dua yakni tingkat pusat dan dan yang
diaksanakan oleh sekolah.
a. Perencanaan tingkat pusat, meliputi tujuan pendidikan, bahan pelajaran. Dalam
tujuan pendidikan terdapat TIU dan TIK.
b. Bahan pembelajaran,dari pusat kemudian di serahkan kepada sekolah dalam
bentuk Garis-Garis Besar Program Pengajaran ( GBPP).
c. Perencanaan yang harus dilakukan disekolah.

8. Pelaksanaan Kurikulum
Pelaksanaan kurikulum merupakan interaksi belajar mengajar yang setidaknya
melalui tiga tahap yaitu :
a. Tahap persiapan pembelajaran, adalah kegiatan yang dialakukan guru sebelum
melakukan proses pembelajaran.

b. Tahap pelaksanaan pembelajaran, adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan


oleg guru dan murid mengenai pokok bahasan yang harus di sampaikan. Dalam
tahap ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu pendahuluan, pelajaran inti, dan
evaluasi.
c. Tahap penutupan, adalah kegiatan yang dilakukan setelah penyampaian materi.

F. Implementasi Kurikulum dan Penjadwalan
High Standar yang antara lain mencakup kerja keras, dan disiplin harus dijadikan
pedoman dalam implementasi kurilulum dan pembelajaran untuk mencapai 7 prestasi dan
kualitas pembelajaran yang tinggi, sehingga peserta didik dapat mencapai hasil nilai ujian
akhir (UAN) minimal bahkan melampauinya. Itulah kira-kira harapan Dirjen Dikdasmen
ketika wawancara di SCTV dalam berita pagi (Senin, 10 Mei 2004). Wawancara tersebut
diprogramkan SCTV, ketika masyarakat khususnya guru, dan peserta didik resah atas nilai
UAN yang ditetapkan Depdiknas, dengan standar minimal 4,01 (Empat koma nol satu ),
padahal standar dunia 6,0 (enam koma nol).
Itulah salah satu gambaran atau potret buram pendidikan kita, yang harus
dipertimbangkan dalam perubahan kurikulum, termasuk implementasi Kurikulum 2004.
Sedikitnya terdapat tujuh hal yang perlu diperhatikan dalam menyukseskan implementasi
Kurikulum.
1. Mensosialisasikan perubahan kurikulum di sekolah.
2. Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusiI.
3. Mengembangkan Iasilitas dan sumber belajar.
4. Mendisiplinkan peserta didik.
5. Mengembangkan kemandirian kepala sekolah.
6. Mengubah paradigma (pola pikir guru).
7. Memberdayakan tenaga kependidikan di sekolah.
1. Mensosialisasikan Perubahan Kurikulum
Sosialisasi perlu dilakukan secara matang kepada berbagai pihak agar kurikulum
baru yang ditawarkan dapat dipahami dan diterapkan secara optimal, karena sosialisasi
merupakan langkah penting yang akan menunjang dan menentukan keberhasilan
perubahan kurikulum.Setelah sosialisasi, kemudian mengadakan musyawarah antara kepala
sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan komite sekolah untuk mendapatkan persetujuan
dan pengesahan dari berbagai pihak dalam rangka menyukseskan kurikulum.

2. Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Kondusif


Lingkungan sekolah yang aman, yaman dan tertib, optimisme dan harapan yang
tertinggi dari seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang
terpusat pada peserta didik merupakan iklim yang dapat membangkitkan gairah dan semangat
belajar. Iklim belajar yang kondusiI merupakan tulang punggung dan pendiring yang
dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses belajar, sbaliknya iklim belajar
yangkurang menyenangkan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.
3. Mengembangkan Fasilitas dan Sumber Belajar
Dalam pengembangan Iasilitas dan sumber belajar, guru disamping harus ammpu
membuat sendiri alat pembelajaran dan alat peraga, juga harus berinisiatiI
mendayagunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang lebih konkrit.
Pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar, misalnya memanIaatkan batu-batuan,
tanah, tumbuh-tumbuhan, pasar, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya kehidupan yang
berkembang dalam masyarakat. Secara umum dapat dikemukakan dua cara memanIaatkan
Iasilitas dan sumber belajar kedalam kurikulum . Pertama; membawa sumber belajar kedalam
kelas. Dari aneka ragam macam dan bentuk sumber belajar dapat digunakan dalam proses
pembelajaran didalam kelas, terutama dalam pembentukan kompetensi dasar peserta didik.
Kedua; membawa kelas kelapangan dimana sumber belajar berada.
4. Mendisiplinkan Peserta Didik
Dalam rangka menyukseska implementasi kurikulum , guru harus mampu
mendisiplinkan peserta didk, terutama disiplin diri. Guru harus mampu membantu peserta
didik mengembangkan pola prilakunya; meningkatkan standar prilakunya; dan melaksanakan
aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin. Untuk mendisisplinkan peserta didik perlu
dimulai dengan prinsip yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yakni sikap
demokratis; sehingga peraturan disiplin perlu berpedoman pada hal tersebut, yakni dari, dan
untuk peserta didik, sedangkan guru tut wuri handayani.
5. Mengembangkan Kemandirian Kepala Sekolah
Dalam menyukseskan implementasi kurikulum , perlu dipersiapkan kepala sekolah
yang demokratis, proIesional melalaui pengangkatan yang proIesional pula; misalnya dipilih
dalam kurun waktu tertentu (3-5 tahun), dan setelah itu dilakukan lagi pemilihan yang
baru. Hal ini akan menumbuhkan iklim demokratis disekolah, yang akan mendorong
terciptanya kualitas pembelajaran yang optimal untuk mengembangkan seluruh potensi
peserta didik.

Kepala sekolah yang mandiri, demokratis, dan proIesional harus berusaha


menanamkan, memajukan dan meningkatkan sedikitnya empat macam nilai, yakni
pembinaan mental, moral, Iisik, dan artistik.
6. Mengubah Paradigma (pola pikir guru)
Untuk mensuksekan kurikulum perlu mengubah paradigma garu, sesuai dengan
kebutuhan dan perkembangan jaman. Tugas guru tidak hanya menyampaikan inIormasi
kepada peserta didk, tetapi harus dilatih menjadi Iasilitator yang bertugas memberikan
kemudahan belajar kepada seluruh peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam
suasana menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani
mengemukakan pendapat secara terbuka. Rasa gembira, penuh semangat, tidak cemas,
dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka merupaka modal dasar bagi peserta didk
untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi berbagai
kemungkinan dan memasuki era globalisasi yang penuh berbagai tantangan.
Agar kurikulum dapat implementsikan secara eIektiI, serta dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran, guru perlu memiliki hal-hal sebagai berikut:
a. Menguasai dan memahami kompetensi dasar dan hubungannya dengan kompetensi
lain dengan baik.
b. Menyukai apa yang diajarkan dan menyukai mengajar sebagai suatu proIesi.
c. Memahami peserta didik, pengalaman, kemampuan, dan prestasinya.
d. Mengguankan metode yang berIariasi dala mengajar dan membentuk kompetensi
peserta didik.
e. Mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam kaitannya
dengan pembentukan kompentensi.
7. Memberdayakan Tenaga kependidikan di sekolah.
Manajemen tenaga kependidikan di sekolah harus ditunjukkan untuk
memberdayakan tenaga-tenaga kependidikan secara eIektiI dan eIisien untuk mencapai
hasil optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan. Sehubungan dengan itu,
Iungsi manajemen tenaga kependidikan di sekolah harus dilaksanakan kepala sekolah
secara menarik, mengembangkan, menggaji, dan memotivasi tenaga kependidikan guna
mencapai tujuan pendidikan secara optimal, membantu tenaga kependidikan mencapai
posisi dan standar prilaku, memaksimalkan perkembangan karier, serta menyelaraskan
tujuan individu, kelompok dan lembaga.
Pemberdayaan tenaga kepeendidikan dalam menyukseskan Implementasi
Kurikulum dapat dilakukan melalui strategi umum dan strategi khusus.

a. Strategi umum
Pertama, pemberdayaan tenaga pendidikan harus dilakukan berdasarkan rencana
kebutuhan yang jelas.
Kedua, dalam setiap kegiatan pendidikan perlu senantiasa dikembangkan sikap dan
kemampuan proIesional.
Ketiga, kerjasama sekolah dengan perusahaan dan dunia industri perlu terus-
menerus di kembangkan, terutamadalam memanIaatkan perusahaan dan dunia
industri untuk laboratorium praktek dan objek studi.
b. Strategi khusus
Pertama, dalam kaitannya dengan kesejahteraan tenaga kependidikan, perlu
diupayakan hal-hal sebagai berikut:
1. Gaji tenaga kependidikan perlu senantiasa disesuaikan agar mencapai standar
yang wajar bagi kehidupan tenaga kependidikan dan keluarganya;.
2. peningkatan kesejahteraan tenaga kependidikan yang dilakukan oleh
pemerintah pusat harus diikuti oleh pemerintah daerah, masyarakat, dunia
usaha, dan orang tua, sejalan otonomi daerah yang sedang bergulir.
Kedua, pendidikan prajabatan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. memperbaiki sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan
pembangunan.
2. Perlu dilakukan reorentasi program pendidikan tenaga kependidikan perlu
didasarkan atas kebutuhan wilayah dengan cakupan kabupaten dan kota.

G. Evaluasi Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagi pedoman penyelanggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Badan Standar Nasional
Pendidikan, 2006 : 4).
Dengan memandang pendidikan sebagai sebuah system, maka kurikulum
merupakan salah satu instrumental input yang diperlukan untuk menggerakkan proses
pendidikan. Dengan demikian , apabila esensi suatu kurikulum sebagai instrumental input
mengandung unsur kualitas maka kurikulum tersebut akan berkontribusi terhadap
pencapaian kualitas output proses pendidikan.

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi,


pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan,
organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi.
Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut
dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.
Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai
dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Oleh karena
itu penulis mencoba menjabarkan deIinisi dari evaluasi dan deIinisi dari kurikulum secara
per kata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum.
1. Pengertian evaluasi menurut joint committee, (1981) ialah penelitian yang
sistematik atau yang teratur tentang manIaat atau guna beberapa obyek.
2. Purwanto dan Atwi Suparman, (1999) mendeIinisikan evaluasi adalah proses
penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk
membuat keputusan tentang suatu program.
3. Rutman and Mowbray (1983) mendeIinisikan evaluasi adalah penggunaan metode
ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna
untuk proses membuat keputusan.
4. Chelimsky (1989) mendeIinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang
sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan eIektiIitas suatu program. Dari
deIinisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan
prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan
eIektiIitas suatu program.
5. Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan
keluaran (out-comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan
tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan
pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di
dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan
tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
6. Harsono (2005), Kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan
dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat
ini deIinisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum
tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program
pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Dari pengertian evaluasi dan kurikulum di atas maka :

Evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manIaat, kesesuaian


eIektiIitas dan eIisiensi dari kurikulum yang diterapkan.
Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk
mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang kurikulum
yang sedang berjalan atau telah dijalankan. Evaluasi kurikulum ini dapat mencakup
keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau
metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.
Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena
evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah
dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya.
Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan
penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau diganti. Sedangkan
penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu menggumpulkan, menganalisis
dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru.
Jadi Evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk
mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang kurikulum
yang sedang berjalan atau telah dijalankan. Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat
disamakan dengan penelitian, karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang
sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian.
Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar. Ada banyak
masalah dalam penerapan evaluasi kurikulum seperti
O Dasar teori yang digunakan dalam evaluasi kurikulum yang lemah.
O Kesulitan dalam melakukan randomisasi.
O Kesulitan dalam menstandarkan intervensi yang dilakukan.
O Masalah etika penelitian.
O Kesulitan mencari alat ukur dan penggunaan perspektiI kurikulum yang berbeda
sebagai pembanding.
Oleh karena itu dengan memahami pengertian evaluasi kurikulum dan persamaan serta
perbedaannya dengan penelitian diharapkan evaluasi kurikulum yang akan dibuat dapat
menjadi valid, reliabel dan sangat berguna sebagai bahan pertimbangan dalam membuat
keputusan tentang kurikulum tersebut.

Dalam evaluasi kurikulum dilakukan melalui evaluasi IormatiI dan evaluasi sumatiI.
Kedua evaluasi tersebut dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam
penguasaan materi.
O Evaluasi IormatiI adalah penilikan yang dilakukan oleh guru setelah satu pokok
bahasan selesai dipelajari oleh siswa.
O Evaluasi sumatiI adalah penilikan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu,
biasanya semester atau caturwulan.
Berbagai cara untuk melakukan evaluasi kurikulum, terutama berkaitan dengan
aspek yang dievaluasi, alat pengumpul data, dan prosedur yang digunakan, kriteria yang
dipertimbangkan, serta penggunaan pemahaman untuk melakukan keputusan.

H. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Di Indonesia
Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947, yang diberi nama Rentjana Pembelajaran
1947. Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda
karena pada saat itu masih dalam psoses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri
utama kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang
berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.
Setelah rentjana pembelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum Indonesia mengalami
penyempurnaan. Dengan berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Yang
menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran
yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem
kurikulum pendidikan di Indonesia. Kali ini diberi nama dengan Rentjana pendidikan 1964.
yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana
yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani.
Kurikulum 1968 merupakan pemabaharuan dari kurikulum 1964. Yaitu perubahan
struktur pendiddikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan
dasar, dan kecakapan khusus. Pemabelajaran diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan Iisik yang sehat.
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menekankan pada tujuan, agar
pendidikan lebih eIisien dan eIektiI. Metode materi dirinci pada Prosedur Pengembangan
Sistem Instruksi (PPSI). Menurut Mudjito (dalam Dwitagama: 2008) Zaman ini dikenal
dengan istilah satuan pelajaran yaitu pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan dirinci lagi:

petunjuk umum, tujuan intruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan
belajar-mengajar, dan evaluasi.
Kurikulum 1984 mengusung proses skill approach. Meski mengutamakan pendekatan
proses, tapi Iaktor tujuan itu penting. Kurikulum ini juga sering disebut dengan kurikulum
1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebgai subyek belajar. Dari mengamati
sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan,hingga melaporkan. Model ini disebut dengan
model Cara Belajar Siswa AktiI (CBSA).
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum
sebelumnya. 'Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984,
antara pendekatan proses, kata Mudjito menjelaskan (dalam Dwitagama: 2008).
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan
sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini
berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem
semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu
tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat
menerima materi pelajaran cukup banyak.
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai
berikut:
Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan.
Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi
kepada materi pelajaran/isi). Kurikulum 1994 bersiIat populis, yaitu yang memberlakukan satu
sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersiIat kurikulum
inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan
dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang
melibatkan siswa aktiI dalam belajar, baik secara mental, Iisik, dan sosial. Dalam
mengaktiIkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban
konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan
konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat
keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang
menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

Pengajaran dari hal yang konkrit ke ha yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang
sulit dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks. Pengulangan-pengulangan materi
yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama
sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di
antaranya sebagai berikut:
Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/
substansi setiap mata pelajaran. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan
dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang
terkaitdengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
Permasalahan di atas saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini
mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu
upaya penyempurnaan itu diberlakukannya suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan
tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:
Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan
yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana
pendukungnya.
Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan
bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.
Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk
invovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah
melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 disempurnakan lagi sebagai respon
terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi disentralistik
sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tentang otonomi daerah.

Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan
hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan
sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002).
Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi)
tugas-tugas dengan standar perIormasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta
didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk

mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik,
agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan
penuh tanggungjawab.
Adapun karakteristik KBK menurut Depdiknas (2002) adalah sebagai berikut:
Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupu klasikal.
Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
edukatiI.
Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi. Kurikulum ini dikatakan sebagai perbaikan dari KBK yang
diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan bentuk
implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan
ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang
standar nasional pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya
disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu:
1. standar isi
2. standar proses
3. standar kompetensi lulusan
4. standar pendidik dan tenaga kependidikan
5. standar sarana dan prasarana
6. standar pengelolaan, standar pembiayaan
7. standar penilaian pendidikan.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk
mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu
kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.
Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan
tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya
paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:
Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Penyampaian


dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. Sumber belajar
bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatiI.






























BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar
pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas
interaksi belajar mangajar. Sedangkan Kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Terdapat tiga jenis organisasi kurikulum yaitu, Kurikulum Terpisah ( Sparated
Subject Curriculum), kurikulum berhubungan, dan kurikulum terpadu. Perencanaan adalah
suatu proses memeprsiapkan serangkaian keputusan untuk mengambil tindakan dimasa
yang akan datang yang diarahkan kepada tercapainya tujuan-tujuan dengan sarana yang
optimal.
Evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manIaat, kesesuaian
eIektiIitas dan eIisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah
proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk
membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.














DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa, 2004. Implementasi Kurikulum 2004 (Panduan Pembelajaran KBK).
Bandung: PT. RosdaKarya.
Hartati Sukirman. Administrasi dan Suvervisi Pendidikan. Yogyakarta. UNY-
Press.
Suharsimi Arikunto, dkk. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta. FIP-UNY.
Http://zulharman79.wordpress.com/2007/08/04/evaluasi-kurikulum-pengertian
kepentingan-dan-masalah-yang-dihadapi/di akses pada tanggal 10 April
2008.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/pengertian-kurikulum/
http://dian-manajemenpendidikan.blogspot.com/2009/05/manajemen-kurikulum16.html

Sumber :http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan
-kurikulum/
Sumber :http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/landasan-kurikulum/