Anda di halaman 1dari 18

BENTUK DAN SIFAT NEMATODA

KELOMPOK 1 Ahmad Nailur Rahman/1210702001, Ayu Agustini Juhari/1210702007, Deni Raharja/ 1210702015, Elya Agustina/1210702021, Ervina Rizky Agia/1210702022, Idariyah Ulfah Nurulhusna/1210702031.

Jurusan Biologi Sains Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

ABSTRAK
Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik, tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik, panjang cacing ini mulai dari 2 mm sampai 1 m. Habitat Nematoda bervariasi di laut, tanah lembab, ada yang hidup bebas, sebagian bersifat parasit pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Nematoda yang ditemukan pada manusia terdapat dalam organ usus, jaringan dan sistem peredaran darah, keberadaan cacing ini menimbulkan manifestasi klinik yang berbeda-beda tergantung pada spesiesnya dan organ yang dihinggapi. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari struktur dan siklus hidup nematoda. Preparat yang digunakan diantaranya , cacing perut (Ascaris lumbricoides), cacing keremi (Oxyuris vermicularis), cacing tambang (Ancylostoma duodenale), Wucheria branchofti. Sediaan preparat Ascaris, Oxyuris, Ancylostoma, dan Wucheria diamati di bawah mikroskop kemudian hasil pengamatan digambar. Cacing-cacing tersebut memiliki rongga semu (psedoselomatik) terlihat ketika pembelahan melintang. Dari hasil pengamatan semua sediaan preparat merupakan nematoda mikroskopis bersifat parasit yang menyebabkan penyakit pada manusia.

Kata kunci : Nematoda,

Ascaris lumbricoides, Oxyuris vermicularis,

Ancylostoma duodenale, Wucheria branchofti.

PENDAHULUAN Kata Nematoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu Nematos yang berarti benang atau tambang. Cacing ini berukuran kecil (mm) sampai satu meter atau lebih, telur mikroskopis. Nematoda yang telah diketahui terdapat sekitar 90.000 spesies, tetapi diperkirakan terdapat 500.000 spesies, sekitar 15.000 jenis yang bersifat parasit. Habitat Nematoda bervariasi di laut, tanah lembab, ada yang hidup bebas, sebagian bersifat parasit pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Beberapa Nematoda berperan penting dalam siklus nutrient (Saadah, 2011). Bentuk tubuh nematoda panjang, langsing, silindris, dan pada beberapa jenis menjadi pipih ke arah posterior, dilihat dari arah arah anterior, tampak bahwa daerah mulut dan sekitarnya simetri radial atau biradial. Diduga hal ini merupakan bukti bukti bahwa nenek moyang nematoda adalah hewan sessile. Mulut terletak di ujung anterior, dan di sekitarnya terdapat 3 atau 6 buah bibir, papila dan setae. Tubuh tertutup kutikula yang kompleks. Di bawah kutikula terdapat lapisan epidermis, biasanya selular, namun beberapa spesies sinsitial. Sitoplasma epidermis pada nematoda melebar dan mendesak pseudocoelom sepanjang garis middorsal, midventral, dan kedua midlateral. Semua nuklei epidermis terdapat dalam keempat jalur tersebut dan secara khusus tersusun dalam barisan. Pada dinding tubuh nematoda hanya ada otot longitudinal. Pseudocoelom pada nematoda luas dan berisi cairan yang antara lain berfungsi sebagai rangka hidrostatik, dan menunjang gerak cacing yang meliuk-liuk seperti ular. Organ untuk pernafasan dan peredaran darah tidak ada (Suwignyo, 2005). Kebanyakan nematoda yang hidup bebas adalah karnivora dan memakan metazoa kecil, termasuk jenis nematoda lain. Spesies lain baik air laut maupun air tawar adalah fitofagus, memakan diatom, ganggang dan jamur. Spesies tetestrial merupakan hama tanaman komersial. Adapula spesies laut, air tawar dan terestial yang merupakan deposit feeder , memakan lumpur dan memanfaatkan bakteri dan bahan organik yang terkandung dalam lumpur. Beberapa spesies memakan sampah organik seperti kotoran hewan, bangkai, dan tanaman busuk (Suwignyo, 2005). Reproduksi nematoda selalu seksual. Umumnya diocious, dan jantan ditandai dengan ekor berbentuk lebih kecil dari betina. Pembuahan di dalam

uterus, telur yang telah dibuahi mendapat cangkang yang tebal dan keras. Permukaan cangkang dihiasi ukiran yang spesifik untuk maing-masing spesies, hingga bentuk telur dipakai untuk identifikasi infeksi parasit dan pengamatan tinja penderita. Telur menetas menjadi larva yang sudah mirip bentuk induknya. Larva mengalami 4 kali ganti kulit atau moulting, yang pertama dan kedua adakalanya terjadi di dalam cangkang sebelum menetas. Cacing dewasa telah berganti kulit namun tetap tumbuh menjadi dewasa (Suwignyo, 2005). Nematodosis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Nematoda atau cacing gilig. Di dalam saluran pencernaan (gastro intestinalis), cacing ini menghisap sari makanan yang dibutuhkan oleh induk semang, menghisap darah/cairan tubuh atau bahkan memakan jaringan tubuh. Sejumlah besar cacing Nematoda dalam usus bisa menyebabkan sumbatan (obstruksi) usus serta menimbulkan berbagai macam reaksi tubuh sebagai akibat toksin yang dihasilkan (Sadjimin, 2000). Nematoda yang ditemukan pada manusia terdapat dalam organ usus, jaringan dan sistem peredaran darah, keberadaan cacing ini menimbulkan manifestasi klinik yang berbeda-beda tergantung pada spesiesnya dan organ yang dihinggapi (Sudomo, 2008). Manusia merupakan hospes defensif beberapa nematode usus (cacing perut) yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing perut terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminthes). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah caing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma deuodonale dan Necator americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Jenis-jenis tersebut banyak ditemukan di daerah tropis di Indonesia (Depkes RI, 2006). Cara penularan (transmisi) Nematoda dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Mekanisme penularan berkaitan erat dengan hygiene dan sanitasi lingkungan yang buruk. Penularan dapat terjadi dengan: menelan telur infektif (telur berisi embrio), larva (filariorm) menembus kulit, memakan larva dalam kista, dan perantaraan hewan vektor. Dewasa ini cara penularan Nematoda yang paling banyak adalah melalui aspek Soil Trasmitted Helminth yaitu penularan melalui media tanah (Onggowaluyo, 2001).

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari struktur dan siklus hidup nematoda.

METODE Praktikum ini dilakukan pada hari Kamis, 10 November 2011. Bertempat di Laboratorium Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan yaitu, cacing perut (Ascaris lumbricoides), cacing keremi (Oxyuris vermicularis), cacing tambang (Ancylostoma duodenale), Wucheria branchofti. Alat yang digunakan yaitu, mikroskop, kamera, alat tulis, buku penuntun praktikum, objek glass, cover glass. Tahapan praktikum Adapun tahapan praktikum sebagai berikut: Digambar sediaan utuh Ascaris suum, tunjukkan dalam gambar tersebut bagian anterior dan bagian posterior, kemudian diamati jenis kelamin dari cacing tersebut. Preparat Ascaris, Oxyuris, Ancylostoma, Wucheria dengan menggunakan mikroskop dan hasil pengamatan digambar. Preparat awetan penampang melintang diamati dan kemudian tuliskan bagian-bagiannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN Ascaris Lumbricoides Cacing gelang ini termasuk dalam kelas nematode usus yang banyak diperoleh di daerah tropis dan subtropis yang keadaan daerahnya menunjukkan kebersihan dan lingkungan yang kurang baik. Harold W. Brown (1979), menyatakan bahwa hamper 900 juta manusia dimuka bumi ini terserang ascaris dan frekuensi di banyak negara mencapai 80 persen. Demikian juga Nobel (1996), menyatakan bahwa biasanya bila seseorang dinyatakan berpenyakit cacingan,

maka biasanya orang tersebut dihinggapi cacing ascaris. Di beberapa tempat di dunia ini peristiwanya dapat mencapai 100% (Irianto, 2009). Morfologi Ascaris lumbricoides merupakan salah satu jenis dari soil transmitted helminthes, yaitu cacing yang memerlukan perkembangan di dalam tanah untuk menjadi infektif. Ascaris lumbricoides merupakan nematode parasit yang paling banyak menyerang manusia dan cacing ini disebut juga cacing bulat atau cacing gelang. Cacing dewasa berwarna agak kemerahan atau putih kekuningan, bentuknya silindris memanjang, ujung anterior tumpul, memipih dan ujung posteriornya agak meruncing. Terdapat garis lateral yang biasanya mudah dilihat, ada sepasang, warnanya memutih sepanjang tubuhnya (Irianto, 2009). Bagian kepala dilengkapi dengan tiga buah bibir yaitu satu dibagian mediodorsal dan dua lagi berpasangan bagian latero ventral. Terdapat sepasang papilla, di bagian pusat diantara ketiga bibir lubang mulut (bukan kaivi) yang berbentuk segitiga dan kecil. Pada bagian posterior terdapat anusnya yang melintang (Irianto, 2009). Cacing dewasa yang jantan berukuran panjang 15 cm - 31 cm dengan diameter 2 mm 4 mm. Adapun cacing betina panjangnya berukuran 20 cm 35 cm, kadang-kadang mencapai 49 cm, dengan diameter 3mm - 6mm. Untuk membedakan cacing betina dengan cacing jantan dapat dilihat pada bagian ekornya (ujung posterior), dimana cacing jantan ujung ekornya melengkung ke arah ventral. Cacing jantan mempunyai sepasang spikula yang bentuknya sederhana dan silindris, sebagai alat kopulasi, dengan ukuran panjang 2 mm - 3,5 mm dan ujungnya meruncing (Irianto, 2009). Cacing betina memiliki vulva yang letaknya dibagian ventral sepertiga dan panjang tubuh dari kepala. Vagina bercabang membentuk pasangan saluran genital. Saluran genital terdiri dari seminal reseptakulum, oviduk, ovarium, dan saluran-salurannya berkelok-kelok menuju bagian posterior tubuhnya yang dapat terisi 27 juta telur. Seekor cacing ascaris betina setiap harinya dapat

menghasilkan 200.000 telur. Telurnya berbentuk ovoid (bulat telur), dengan kulit yang tebal dan transparan, terdiri dari membrane lipoid vitelin yang relative nonpermeable (tidak ada pada telur yang infertile). Lapisan tengah tebal transparan dibentuk dari glikogen dan lapisan luar terdapat tonjolan kasar yaitu lapisan

albumin berwarna cokelat. Membrane vitelin yang inpermiable berguna untuk melindungi embrio (Irianto, 2009). Askariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh A. lumbricoides (cacing gelang) yang hidup di usus halus manusia dan penularannya melalui tanah. Cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar di seluruh dunia, frekuensi terbesar berada di negara tropis yang lembab, dengan angka prevalensi kadangkala mencapai di atas 50% (Depkes RI, 2004). Cairan tubuh cacing dewasa dapat menimbulkan reaksi toksik sehingga terjadi gejala mirip demam tifoid yang disertai alergi seperti urtikaria, udema di wajah, konjungtivitas, dan iritasi pada alat pernafasan bagian atas. Apabila jumlahnya banyak cacing dewasa dalam usus dapat menimbulkan gangguan gizi, kadang-kadang cacing dewasa jugabermigrasi karena adanya rangsangan, efek dari migrasi ini dapat menimbulkan obstruksi usus, kemudian masuk ke dalam saluran empedu, saluran pankreas dan organ-organ lainnya. Migrasi sering juga menyebabkan cacing dewasa keluar spontan melalui anus, mulut dan hidung (Onggowaluyo, 2001). Daur hidup Cacing Ascaris dewasa hidup didalam usus kecil, cacing tersebut hidup dari makanan yang telah dicernakan oleh tubuh tuan runah, menyerap mukosa usus dengan bibirnya, mengisap darah dan cairan jaringan usus. Telur-telur ascaris keluar bersama kotoran tuan rumahnya dalam stadium satu sel. Telur ini masih belum bersegmeb dan tidak menular. Di alam telur berada di tempat yang lembab, temperatur yang cocok dan cukup sirkulasi udara. Telur tumbuh dengan baik sampai menjadi infektif setelah kira-kira 20- 24 hari. Telur ascaris tidak akan tumbuh dalam keadaan kering, karena dinding telur harus dalam keadaan lembab unuk memungkinkan pertukaran gas (Irianto, 2009). Pertumbuhan telur Ascaris tidak tergantung dari pH dan juga telur sangat resisten, maka kekurangan oksigen tidak menjadi sumber utama penghambat pertumbuhan telur. Kecepatan pertumbuhan telur ascaris yang fertile diluar tubuh tuan rumah sampai menjadi stadium berembrio yang infektif, tergantung pada beberapa faktor lingkungan antara lain : 1) temperatur, 2) aerasi, dan 3) beberapa larutan desinfektan serta deterjen. Pertumbuhan telur ascaris dapat terjadi pada suhu 8 37 (Irianto, 2009).

Proses pembentukan embrio terjadi pada habitat yang mempunyai kelembaban yang relatif 50% dengan suhu diantara 22 23 tubuh manusia. Dengan temperatur, kelembaban, dan , dibawah suhu

cukup sirkulasi udara

pertumbuhan embrio akan lebih cepat dalam waktu 10-14 hari. Jika telur yang sudah infeksi tertelan, maka 4-8 jam. Kemudian saluran pencernaan menetas menjadi larva. Larva ini aktif menembus dinding usus halus, sekum, kolon atau rectum. Penetrasi yang paling banyak terjadi melalui dinding sekum dan kolon. Dengan melalui pembuluh vena sampai ke hati, kemudian ke paru-paru, selanjutnya larva sampai di trakea, laring, paring, kemudian tertelan masuk ke dalam saluran pencernaan melalui esopagus dan ventrikulus sampailah ke depan usus tempt mereka menetap menjadi dewasa dan mengadakan kopulasi. Dalam masa peredaran ini, larva bertukar kulit beberapa kali, tetapi di dalam larva tidak mengalami pertukaran kulit, sedangkan didalam paru-paru mengalami pertukaran kulit 2 kali, yaitu pada hari ke-5 dan ke-10 setelah telur yang infektif tertelan (Irianto, 2009).

Gambar 1. Ascaris lumbricoides. (Sumber: http://www.graphicshunt.com)

Gambar 2. Siklus hidup Ascaris lumbricoides. (Sumber : http://doctorology.net) Klasifikasi Ascaris lumbricoides sebagai berikut: Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia. : Nematoda. : Secernentea. : Ascaridida. : Ascarididae. : Ascaris. : Ascaris lumbricoides menurut Linneaeus (1758) adalah

Oxyuris vermicularis Oxyuris vermicularis atau sering disebut cacing kremi adalah salah satu hewan dari kelas nematoda. Oxyuris vermicularis disebut cacing kremi karena ukurannya sangat kecil. Cacing kremi hidup di usus besar manusia. Ukurannya yang sangat kecil sekitar 10 -15 mm. Cacing kremi hidup di dalam usus besar manusia. Pada bagian Mulutnya dikelilingi 3 bibir dan tidak ada kapsul buccal.

Individu jantan panjangnya sampai 5 mm. Ekornya melengkung kearah ventral danalae caudal lateral mengelilingi ujung. Individu betina panjangnya sampai 13 mm. Individu betina yang matang bentuknya seperti kumparan dan mempunyai ekor yang langsing memanjang dan runcing. Cacing kremi tidak menyebabkan penyakit yang berbahaya namun cukup mengganggu. Infeksi cacing kremi tidak memerlukan perantara. Telur cacing dapat tertelan bila kita memakan makanan yang terkontaminasi telur cacing ini. Pengulangan daur infeksi cacing kremi secara autoinfeksi, yaitu dilakukan oleh penderita sendiri. Cacing ini bertelur pada anus penderita dan menyebabkan rasa gatal. Jika penderita sering menggaruk pada bagian anus dan tidak menjaga kebersihan tangan, maka infeksi cacing kremi akan terjadi kembali (Saadah, 2011).. Cacing kremi tidak menimbulkan penyakit yang berbahaya, namun cacing kremi ini cukup mengganggu. Cacing kremi ini dapat menimbulkan rasa gatal yang teramat sangat di bagian anus. Infeksi cacing kremi tidak membutuhkan perantara. Cacing kremi dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang telah terkontaminasi telur cacing. Pengulangan daur infeksi cacing kremi pada umumnya secara autoinfeksi, artinya dilakukan oleh penderita sendiri. Pada saat tertentu, cacing betina keluar dari anus untuk bertelur. Saat inilah timbul rasa gatal. Jika penderita menggaruk dan tidak menjaga kebersihan tangannya, maka infeksi cacing kremi ini akan terjadi kembali (Pandhu, 2010). Cacing keremi hidup di dalam usus besar manusia. Cacing ini bersifat kosmopolitan, banyak menginfeksi manusia terutama pada anak-anak. Dewasa pada apendiks, ketika bertelur akan menuju anus (malam hari) dan menyebabkan rasa gatal (Saadah 2011). Ukuran cacing betina 8-13 mm, cacing jantan 2-5 mm. Cacing betina mengandung 11.000 butir telur, setelah bertelur mati. Penyebaran secara oral

melalui makanan dapat bertahan di lingkungan sampai berminggu-minggu. Cacing ini tidak berbahaya tetapi cukup mengganggu penderitanya. Selain menyebabkan gatal di anus, keremi juga dapat menyebabkan vaginitis dan uretritis. Cacing keremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing

keremi berwarna putih dan setipis rambut, mereka aktif bergerak. Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara menempelkan selotip di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian selotip tersebut diempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop (Saadah, 2011).

Gambar 3. Oxyuris vermicularis (Sumber: http://www.pasozyty.com.pl)

Gambar 4. Siklus Hidup Oxyuris vermicularis (Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx)

Klasifikasi Oxyuris vermicularis menurut Linnaeus (1758) adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Species : Animalia : Nematoda : Secernentea : Strongylida : Oxyuridae : Oxyuris : Oxyuris vermicularis

Ancylostoma duodenale Ancylostoma duodenale merupakan cacing parasit, hidup pada usus manusia. Cacing ini menghisap darah dan cairan jaringan dan mengeluarkan zat antikoagulasi untuk mencegah darah membeku saat diisap. Cacing jantan berukuran 8 - 10 mm, cacing betina berukuran 10 13 mm. Cacing betina mengeluarkan telur sebanyak (Saadah, 2011). Cacing tambang dapat hidup sebagai parasit dengan menyerap darah dan cairan tubuh pada usus halus manusia. Cacing ini memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari cacing perut. Cacing tambang Ancylostoma memiliki ujung anterior melengkung membentuk kapsul mulut dengan 1 -4 pasang kait kitin atau gigi pada sisi ventralnya.Kait kitin berfungsi untuk menempel pada usus inangnnya.Pada ujung posterior cacing tambang jantan terdapat bursa kopulasi. Alat ini digunakan untuk menangkap dan memegang cacing betina saat kawin. Cacing betina memiliki vulva (organkelamin luar) yang terdapat didekat bagian tengah tubuhnya. Cacing ini telah di kenal sejak zaman mesir kuno. Daerah penyebarannya terletak antara 30 lintang selatan dan 40 lintang utara. Cacing ini menyebar lebih ke daerah lokal yang mempunyai iklim yang hampir bersamaan, yaitu di daerah pertambangan, karena itu di kenal nama cacing tambang (Irianto, 2009). Morfologi cacing tambang, cacing dewasa berukuran kecil, silindris, berbentuk gelondong dan berwarna putih kelabu. Bila sudah menghisap darah, 10.000 30.000 butir setiap harinya

cacing segar berwarna kemerahan. Cacing betina berukuran 9-13 x 0,35-60 mm, lebih besar dari yang jantan yang berukuran 5-11 x 0,3-0,45 mm. Bagian ujung belakang jantan mempunyai bursa kopulatrix seperti jari yang berguna sebagai alat pemegang pada waktu kopulasi. Badan cacing betina diakhiri dengan ujung yang runcing. Telur mempunyai selapis kulit yang tipis transparan. Telur segar yang baru keluar mengandung 2-8 sel. Telur Ancylostoma berukuran 56-60 x 3640 micron. Seekor betina ancylostoma duodenale maksimum dapat bertelur 20.000 butir (Irianto, 2009). Cacing dewasa dapat hidup sampai 15 tahun, cacing tambang menyebabkan anemia, diare berdarah, malnutrisi (protein). Disebabkan oleh kulit yang kontak dengan tanah yang terkontaminasi larva cacing (Saadah, 2011). Daur hidup cacing tambang, larva keluar bersama feces. Di alam luar telur ini cepat matang dan menghasilkan larva rhabditiform, selama 1-2 hari di bawah kondisi yang mengizinkan dengan suhu optimal 23-33 . Larva yang baru menetas (berukuran 275-16 mikron) aktif memakan sisa-sisa pembusukkan organic dan cepat bertambah besar (500-700 mikron dalam 5 hari). Kemudian, ia berganti kulit untuk kedua kalinya dan berbentuk langsing menjadi larva filariform yang infeksius (Irianto, 2009). Larva filariform aktif menembus kulit luar tuan rumah melalui folikelfolikel rambut, pori-pori atau kulit yang rusak. Umumnya daerah infeksi ialah pada dorsum kaki atau di sela jari kaki.larva masuk mengembara ke saluran vena menuju ke jantung kanan, dari sana masuk ke saluran paru-paru , menuju jaringan paru-paru sampai ke alveoli. Dari situ mereka naik ke bronki dan trakea, tertelan dan masuk ke usus. Peredaran larva dalam sirkulasi darah dan migrasi paru-paru berlangsung selama minggu. Selama periode ini mereka bertukar kulit untuk ketiga kalinya. Setelah berganti empat kali dalam jangka waktu 13 hari, mereka menjadi dewasa. Yang betina bertelur 5-6 minggu setelah infeksi . infeksi per oral jarang terjadi, tetapi larva dapat masuk ke dalam badan melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi (Irianto, 2009).

Gambar 5. Ancylostoma duodenale (Sumber : http:// plpnemweb.ucdavis.edu)

Gambar 6. Siklus Hidup Ancylostoma duodenale (Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx)

Klasifikasi ilmiah Ancylostoma duodenale menurut Linnaeus (1771) adalah sebagai berikut: Kerajaan Filum Kelas Ordo : Animalia. : Nematoda. : Secernentea. : Strongiloidae.

Famili Genus Spesies

: Ancylostomatidae. : Ancylostoma. : Ancylostoma duodenale

Wuchereria Branchofti Wucheria branchofti atau disebut juga cacing filaria adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum

Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka di sebut filaria. Wuchereria branchofti hidup di saluran limfe inang. Ukuran cacing jantan 40 mm, cacing betina 82 mm (Saadah 2011). Menurut Sudomo (2008) panjang cacing dewasa W.bancrofti antara 72105 mm (betina) dan 28 42 mm (jantan) sedangkan Brugia malayi antara 50 -62 mm (betina) dan antara 20 -28 mm (jantan). Tempat hidupnya di dalam pembuluh limfa. Cacing ini menyebabkan penyakit kaki gajah (elefantiasis), yaitu pembengkakan tubuh. Pembengkakan terjadi karena akumulasi cairan dalam pembuluh limfa yang tersumbat oleh cacing filaria dalam jumlah banyak. Cacing filaria masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Culex yang banyak terdapat di daerah tropis (Sudomo, 2008). Filariasis ialah penyakit menular yang disebabkan karena infeksi cacing filaria, yang hidup di saluran dan kelenjar getah bening serta menyebabkan gejala klinis dan akan berkembang menjadi kronis. Gejala klinis seperti demam, limfadenitis, limfangitis desendens, abses funikulitis, epididimitis dan orkitis. Gejala akut berupa demam yang biasanya muncul jika penderita bekerja berat dan kelelahan. Gejala kronis seperti sikatrik, hidrokel testis dan elefantiasis yang sifatnya menetap. Filariasis ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk sebagai vektor perantara. Walaupun penyakit ini tidak mengakibatkan kematian, namun pada stadium lanjut dapat menyebabkan cacat fisik permanen dan mempunyai dampak social ekonomi besar, khususnya penduduk dengan sosial ekonomi rendah yang tinggal di negara-negara berkembang di daerah tropis maupun subtropis (Soeyoko, 2002). Elephantiasis dikeluarkan melalui gigitan nyamuk culex, anopheles, aedes. Penyakit ini menginfeksi 120 juta orang di seluruh dunia. Kaki gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila

tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan (Saadah 2011). Pada saat dalam bentuk larva dan mikrofilaria (cacing kecil), cacing ini berada dalam darah, namun ketika beranjak dewasa mereka akan berimigrasi ke pembuluh limfe dan seringkali berdiam diri di limfanoid (kelenjar getah bening). Kegiatan cacing dalam pembuluh limfe ini menyebabkan reaksi inflamasi dan sumbatan pembuluh limfe, sumbatan inilah yang menyebabkan akumulasi cairan di tubuh bagian bawah dan scrotum (kantung pelir) sehingga daerah-daerah tersebut seringkali membengkak (Saadah, 2011). Pada musim penghujan biasanya nyamuk dapat berkembang biak dengan sangat cepat. Banyak sekali penyakit yang dapat ditularkan oleh hewan kecil yang satu ini. Salah satunya adalah penyakit kaki gajah (filariasis). Penyakit ini disebabkan oleh cacing filaria (Wuchereria bancrofti). Cacing ini dapat ditularkan melalui berbagai gigitan nyamuk kecuali nyamuk mansoni. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembengkakan kaki, lengan dan alat kelamin baik pada pria maupun wanita. Akibatnya penderita penyakit kaki gajah tidak dapat bekerja secara optimal, bahkan hidupnya harus selalu tergantung pada orang lain (Indah, 2009). Di Indonesia, penyakit ini tersebar luas hampir diseluruh propinsi. Berdasarkan hasil survei pada tahun 2000 tercatat sebanyak 1553 desa yang tersebar di 231 kabupaten dan 26 propinsi, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Untuk menanggulangi penyebaran penyakit kaki gajah agar tidak semakin meluas, maka melalui organisasi WHO menetapkan kesepakatan global yaitu memberantas penyakit kaki gajah sampai tuntas. Di Indonesia sendiri pada tahun 2002 sudah dimulai pelaksanaan pemberantasan penyakit kaki gajah secara bertahap di 5 kabupaten percontohan. Program pemberantasan dilaksanakan melalui pengobatan massal dengan DEC dan Albendasol untuk setahun sekali selama 5 tahun (Indah, 2009).

Gambar 7. Wuchereria branchofti (Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx)

Gambar 7. Siklus Hihup Wuchereria branchofti Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx

Klasifikasi Wucheria branchofti menurut Partono (1777) sebagai berikut : Kerajaan Filum Kelas Ordo Subordo : Animalia. : Nematoda. : Secernentea. : Spirurida. : Spirurina.

Famili Genus Spesies

: Onchocercidae. : Wuchereria. : Wucheria branchofti

KESIMPULAN

Daftar Pustaka
Depkes RI, 2004. Pedoman Umum Program Nasional Pemberantasan Cacingan Di Daerah Desentralisasi. Jakarta.

http://doctorology.net/?p=78 (19 November 2011) http://www.graphicshunt.com/ (19 November 2011) http://www.pasozyty.com.pl/ (19 November 2011) http:// plpnemweb.ucdavis.edu/ (20 November 2011) http://www.dpd.cdc.gov/dpdx (20 November 2011) Indah, Novika. 2009. Penyakit kaki gajah (Filariasis) penyebab dan penyebaran penyakit kaki gajah. Artikel Ilmiah. Universitas Negeri Bangka Belitung. Fakultas Perikanan, Pertanian dan Biologi. Irianto, kus. 2009. Parasitologi. Bandung: Yrama Widya. Nugraha, 2004. Nematoda parasit ancaman serius yang sering diabaikan petani. Artikel Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan. Onggowaluyo, J. 2001. Parasitologi Medik I (Helmintologi). Program Studi Biomedik Kekhususan Parasitologi Universitas Indonesia. Jakarta. Pandhu, Aditya. 2010 Oxyuris vermicularis Cacing Kremi pandhu.blogspot.com) (20 november 2011) Saadah, Sumiyati. 2011. Zoologi Invertebrata. UIN SGD. Bandung. (http://aditya-

Sadjimin. 2000. Gambaran epidemiologi kejadian kecacingan pada siswa SD di Kecamatan Ampana Kota Kabupaten Poso Sulawesi Tenggara. Jurnal Epidemiologi Indonesia. Yogyakarta. Vol (4): 1.

Soeyoko. 2002. Penyakit kaki gajah (Filariasis Limfatik) : Permasalahan dan alternatif penanggulangannya. Pidato pengukuhan jabatan Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Sudomo, Mohamad. 2008. Penyakit parasitic yang kurang diperhatikan di Indonesia.

Orasi Pengukuhan Profesor Riset. Bidang Entomologi dan Moluska. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. Suwignyo, Sugiarti dkk. 2005. Avertebrata air jilid I. Penebar Swadaya. Bogor.