P. 1
Laporan Fisika 2 Gabungan

Laporan Fisika 2 Gabungan

|Views: 9,110|Likes:
Dipublikasikan oleh Vie Fadhillah

More info:

Published by: Vie Fadhillah on Nov 29, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I PENDAHULUAN
  • 1.1.TUJUAN
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA
  • 2.1.ELEKTROKIMIA
  • 2.2.ELEKTROLISIS
  • 2.3.HUKUM FARADAY
  • m = e . i . t / F m = z . i . t z = e / F
  • q = i . t m = z . q
  • m1 : m2 = e1 : e2
  • BAB III PROSEDUR PERCOBAAN
  • BAB IV HASIL DAN ANALISA
  • 4.1.DATA DAN PENGAMATAN
  • 4.2.PERHITUNGAN 4.2.1. Arus 1,5 Ampere
  • 4.1.1. Arus 2 Ampere
  • 4.1.1. Tara kimia listrik Cu Teoritis
  • 4.1.2. Simpangan
  • BAB V KESIMPULAN
  • DAFTAR PUSTAKA
  • TUGAS PENDAHULUAN
  • Jawaban :
  • TUGAS AKHIR
  • PENDAHULUAN
  • 1. 1 Tujuan
  • 1. 2 Alat – alat
  • BAB II
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • 2.1 Induktansi
  • 2.2 Rangkaian AC dan Impedansi
  • 2.3 Resonansi Pada Rangkaian AC
  • BAB IV
  • HASIL DAN ANALISA
  • IV. 2 Perhitungan
  • IV.3 Pembahasan
  • BAB V
  • KESIMPULAN
  • 1.2.ALAT DAN BAHAN
  • 2.1.TEORI DASAR
  • N o.Warna λ (Å)
  • 2.1.PEMBIASAN PADA PRISMA
  • 2.2.SUDUT DISPERSI
  • BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISA DATA
  • 4.2.1. Indeks Bias Prisma
  • 4.2.2. Kurva Dispersi •Prisma dengan β = 600
  • 4.1.1. Daya Dispersi masing-masing warna 1.Prisma β = 600
  • 4.1.1. Dispersi Fraunhofer 1.Prisma β = 600
  • 1.1TUJUAN PERCOBAAN
  • 1.2ALAT – ALAT PERCOBAAN
  • 1.1 Lensa
  • Tiga sinar istimewa pada lensa cembung
  • Pembentukkan Bayangan Oleh Cermin Sferis
  • Pembiasan dan Pemantulan Pada Permukaan Bola
  • Fokus Permukaan Bola
  • 3.2.4 Pemantulan dan Pembiasan
  • 2.2.5 Indeks Bias Lensa
  • 2.3 Prinsip Fermat
  • BAB III
  • PROSEDUR PERCOBAAN
  • No. p1 (cm) p2 (cm)
  • TUGAS PENDAHULUAN DAN TUGAS AKHIR
  • A.Jawaban Tugas Pendahuluan
  • A.Jawaban Tugas Akhir
  • BAB VII
  • RESISTANSI KULIT
  • I. DASAR TEORI
  • Gambar Hal Mempengaruhi Resistansi
  • Besar arus Pengaruhnya pada tubuh manusia
  • Tegangan sentuh
  • II. PERALATAN
  • III.PROSEDUR PERCOBAAN
  • IV.HASIL PERCOBAAN
  • VI. TUGAS AWAL
  • V.TUGAS AKHIR
  • VI. KESIMPULAN
  • I.1.Tujuan Percobaan :
  • I.2.Alat Percobaan :
  • II.1.Teori Penunjang :
  • II. 2.Teori Tambahan :
  • DATA PERCOBAAN
  • LAMPIRAN
  • PEMBAHASAN

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

1






MODUL 1
VOLTAMETER TEMBAGA

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. TUJUAN
Tujuan dari praktikum fisika dasar II “Voltameter Tembaga” ini adalah:
1. Mengamati perubahan salah satu bentuk perubahan energi , yaitu energi
listrik menjadi energi kimia
2. Memahami prinsip elektrolisis serta pemurnian logam dan peyepuhan
(electroplating)
3. Menentukan tara kimia listrik dari tembaga

1.2. ALAT DAN BAHAN
1. Voltameter tembaga yang terdiri dari:
a. Bejana
b. Keping tembaga Anoda
c. Keping tembaga Katoda
2. Larutan CuSO4
Sebagai elektrolit untuk penghantar listrik pada katoda
3. Sumber arus DC
Sebagai sumber tenaga atau sumber arus listrik
4. Amperemeter DC
Untuk mengukur besarnya arus listrik yang mengalir
5. Stopwatch
Untuk mengukur waktu yang ditentukan pada saat percobaan
6. Tahanan geser pengatur Arus
Untuk menstabilkan arus listrik yang mengalir
7. Penghubung arus
8. Kabel-kabel penghubung
9. Neraca digital
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


3
Untuk mengukur berat plat katoda agar diketahui jumlah massa sebelum
dan sesudah diendapkan pada sel elektrolit larutan CuSO4.
10. Amplas
Untuk membersihkan plat katoda


Gambar 1.1. Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan
(larutan tembaga sulfat, lempeng tembaga, power supply, ampermeter, neraca
digital, stopwatch)

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ELEKTROKIMIA
Hukum kekekalan energi menyatakan baha energi tidak dapat diciptakan
atau dimusnahkan, melainkan dapat diubah dari bentuk yang satu ke bentuk
yang lain. Energi listrik dapat berubah bentuk menjadi energi gerak, energi
cahaya, energi panas, dan energi bunyi. Energi listrik merupakan hasil perubahan
energi yang lain, seperti dari energi matahari, energi gerak, energi potensial air,
energi kimia gas alam, dan energi uap. Salah satu bentuk perubahan energi yang
dibahas kali ini adalah perubahan energi kimia ke energi listrik, seperti pada
baterai yang disebut sel galvani/sel volta. Maupun sebaliknya, perubahan energi
listrik menjadi energi kimia seperti pada proses pemurnian logam yang disebut
sel elektrolisis. Baik sel galvani maupun sel elektrolisis kedanya merupakan
bagian dari elektrokimia. Elektrokimia itu sendiri adalah kajian mengenai proses
perubahan antara energi listrik dan energi kimia.
Sesuai dengan namanya, metode elektrokimia adalah metode yang
didasarkan pada reaksi redoks, yakni gabungan dari reaksi reduksi dan oksidasi,
yang berlangsung pada elektroda yang sama/berbeda dalam suatu sistim
elektrokimia. Sistem elektrokimia meliputi sel elektrokimia dan reaksi
elektrokimia. Sel elektrokimia yang menghasilkan listrik karena terjadinya reaksi
spontan di dalamnya di sebut sel galvani. Sedangkan sel elektrokimia di mana
reaksi tak-spontan terjadi di dalamnya di sebut sel elektrolisis. Peralatan dasar
dari sel elektrokimia adalah dua elektroda -umumnya konduktor logam- yang
dicelupkan ke dalam elektrolit konduktor ion (yang dapat berupa larutan
maupun cairan) dan sumber arus. Karena didasarkan pada reaksi redoks,
pereaksi utama yang berperan dalam metode ini adalah elektron yang di pasok
dari suatu sumber listrik. Sesuai dengan reaksi yang berlangsung, elektroda
dalam suatu sistem elektrokimia dapat dibedakan menjadi katoda, yakni
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


5
elektroda di mana reaksi reduksi (reaksi katodik) berlangsung dan anoda di mana
reaksi oksidasi (reaksi anodik) berlangsung.
Aplikasi metode elektrokimia untuk lingkungan dan laboratorium pada
umumnya didasarkan pada proses elektrolisis, yakni terjadinya reaksi kimia
dalam suatu sistem elektrokimia akibat pemberian arus listrik dari suatu sumber
luar. Proses ini merupakan kebalikan dari proses Galvani, di mana reaksi kimia
yang berlangsung dalam suatu sistem elektrokimia dimanfaatkan untuk
menghasilkan arus listrik, misalnya dalam sel bahan bakar (fuel-cell). Aplikasi
lainnya dari metode elektrokimia selain pemurnian logam dan elektroplating
adalah elektroanalitik, elektrokoagulasi, elektrokatalis, elektrodialisis
elektrorefining dan elektrolisis.

2.2. ELEKTROLISIS
Elektrolisis ialah proses penguraian elektrolit kepada unsur-unsurnya apabila
arus listrik searah mengalir melaluinya. Istilah elektrolisis diperkenalkan oleh
Michael Faraday [1791 - 1867]. 'Lisis' bermaksud memecah dalam bahasa Yunani.
Jadi, elektrolisis bermaksud pemecahan oleh arus elektrik. Proses Elektrolisis
adalah keadaan di mana apabila elektrolit mengkonduksikan listrik, perubahan
kimia berlaku dan elektrolit terurai kepada unsurnya di elektroda. Arus listrik
dapat dialirkan melalui elektrolit dengan menggunakan dua elektroda. Elektroda
yang disambungakan ke terminal positif yang dinamakan anoda, sedangkan
elektroda yang disambungkan ke terminal negatif dinamakan katoda.Semasa
elektrolisis berlaku, ion negatif akan bergerak ke anoda.Oleh itu ion ini dikenali
sebagai kation.Ion positif pula akan bergerak ke katoda yang mana ion ini
dikenali sebagai kation.
Ada dua tipe elektrolisis, yaitu elektrolisis lelehan (leburan) dan elektrolisis
larutan. Pada proses elektrolisis lelehan, kation pasti tereduksi di katoda dan
anion pasti teroksidasi di anoda. Sebagai contoh, berikut ini adalah reaksi
elektrolisis lelehan garam NaCl (yang dikenal dengan istilah sel Downs) :
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


6
Katoda (-) : 2 Na
+
(l)
+ 2 e
-
——> 2 Na
(s)
……………….. (1)
Anoda (+) : 2 Cl
-
(l)
Cl
2(g)
+ 2 e
-
……………….. (2)
Reaksi sel : 2 Na
+
(l)
+ 2 Cl
-
(l)
——> 2 Na
(s)
+ Cl
2(g)
……………….. *(1) + (2)+
Reaksi elektrolisis lelehan garam NaCl menghasilkan endapan logam natrium
di katoda dan gelembung gas Cl
2
di anoda. Pada katoda, terjadi persaingan
antara air dengan ion Na
+
. Dengan demikian, reaksi yang terjadi pada elektrolisis
larutan garam NaCl adalah sebagai berikut :
Katoda (-) : 2 H
2
O
(l)
+ 2 e
-
——> H
2(g)
+ 2 OH
-
(aq)
……………….. (1)
Anoda (+) : 2 Cl
-
(aq)
——> Cl
2(g)
+ 2 e
-
……………….. (2)
Reaksi sel : 2 H
2
O
(l)
+ 2 Cl
-
(aq)
——> H
2(g)
+ Cl
2(g)
+ 2 OH
-
(aq)
……. *(1) +
(2)]
Reaksi elektrolisis larutan garam NaCl menghasilkan gelembung gas H
2
dan
ion OH
-
(basa) di katoda serta gelembung gas Cl
2
di anoda. Dengan demikian,
terlihat bahwa produk elektrolisis lelehan umumnya berbeda dengan produk
elektrolisis larutan.
2.3. HUKUM FARADAY
Michael Faraday (1791-1867) pada tahun 1833 mengemukakan hubungan
kuantitatif antara jumlah zat yang bereaksi di katoda adan anoda dengan muatan
listrik total yang melewati sel, yang dikenal dengan hukum Faraday.bunyi hukum
Faraday tersebut adalah:
- Hukum Faraday I : “jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding
dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut”
m = e . i . t / F m = z . i . t z = e / F
q = i . t m = z . q
m = Massa zat yang dihasilkan (gram)
e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi
i = Kuat arus listrik (amper)
t = Waktu (detik)
F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


7
z = Tara kimia listrik, yaitu massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1
coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb
q = Jumlah muatan listrik yang melalui larutan
- Hukum Faraday II : “jumlah zat-zat yang dihasilkan oleh arus yang sama
didalam beberapa sel yang berbeda sebanding dengan berat ekuivalen
zat-zat tersebut”.
m1 : m2 = e1 : e2
m = massa zat (garam)
e = berat ekivalen = Ar/Valensi = Mr/Valensi

Faraday didefinisikan sebagai muatan (dalam Coulomb) mol elektron. Satu
Faraday equivalen dengan satu mol elektron. Demikian halnya, setengah Faraday
equivalen dengan setengah mol elektron. Sebagaimana yang telah kita ketahui,
setiap satu mol partikel mengandung 6,02 x 10
23

partikel. Sementara setiap
elektron mengemban muatan sebesar 1,6 x 10
-19
C. Dengan demikian :
1 Faraday = 1 mol elektron = 6,02 x 10
23
partikel elektron x 1,6 x 10
-19
C/partikel elektron 1 Faraday = 96320 C (sering dibulatkan menjadi 96500 C
untuk mempermudah perhitungan)
Salah satu aplikasi sel elektrolisis adalah pada proses yang disebut
penyepuhan. Dalam proses penyepuhan, logam yang lebih mahal dilapiskan
(diendapkan sebagai lapisan tipis) pada permukaan logam yang lebih murah
dengan cara elektrolisis. Baterai umumnya digunakan sebagai sumber listrik
selama proses penyepuhan berlangsung. Logam yang ingin disepuh berfungsi
sebagai katoda dan lempeng perak (logam pelapis) yang merupakan logam
penyepuh berfungsi sebagai anoda. Larutan elektrolit yang digunakan harus
mengandung ion logam yang sama dengan logam penyepuh (dalam hal ini, ion
perak)seperti perak nitrat (AgNO
3
). Pada proses elektrolisis, lempeng perak di
anoda akan teroksidasi dan larut menjadi ion perak. Ion perak tersebut kemudian
akan diendapkan sebagai lapisan tipis pada permukaan katoda. Metode ini relatif
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


8
mudah dan tanpa biaya yang mahal, sehingga banyak digunakan pada industri
perabot rumah tangga dan peralatan dapur.
Pemanfaatan lain dari elektrolisis adalah pada proses pemurnian logam.
Pemurnian logam pada prinsipnya menggunakan reaksi elektrolisis larutan
menggunakan elektroda yang tidak bereaksi. Seperti pemurnian logam tembaga,
logam kotor yang akan dilapisi bertindak sebagai anoda sedangkan logam murni
bertindak sebagai katoda. Kedua elektroda dicelupkan ke dalam larutan elektrolit
yang mengandung ion tembaga (CuSO
4
)yang mengandung asam. Sewaktu
tembaga dioksidasi dari anoda tak murni, tembaga ini memasuki larutan dan
bergerak ke katoda dan membentuk lapisan dalam bentuk yang lebih murni.
Pada percobaan Voltameter Tembaga ini, akan mencari ketetapan Faraday
dengan konsep elektrolisis. Hal ini erat kaitannya dengan ilmu kimia, dimana
akan banyak berhubungan dengan elektrokimia dan reaksi – reaksinya.
Voltmeter adalah alat untuk mengukur besar tegangan listrik dalam suatu
rangkaian listrik. Rangkaian yang digunakan adalah suatu sistem elektrolisis
dengan cairan CuSO
4
. Dimana yang menjadi katoda dan anoda adalah adalah
tembaga. Reaksi yang terjadi adalah :

Gambar 1.2. Sel elektrolisis
CuSO
4
(aq)  Cu
2+(
aq) + SO
4
2-
(aq)
Katoda [elektroda - : reduksi] : Cu
2+
(aq) + 2e
-
 Cu(s)
Anoda [elektroda + : oksidasi]: Cu(s)  Cu
2+
(aq) + 2e
-


Laporan Praktikum Fisika Dasar II


9
Pada larutan elektrolit yang ada kecenderungan sebagai konduksi listrik, jika
kedua elektrode dihubungkan dengan arus listrik searah (DC), maka ion-ion pada
larutan akan bergerak berlawanan arah. Artinya, ion-ion positif akan bergerak ke
elektrode negatif, sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak kearah elektrode
positif. Pergerakan-pergerakan muatan ion dalam larutan akan membawa energi
listrik. Kondisi demikian ini disebut elektrolitik. Apabila ion-ion dalam larutan
terkontak dengan elektrode maka reaksi kimia akan terjadi. Pada katoda akan
mengalami reduksi dan pada anoda akan mengalami oksidasi.

Gambar 1.3. Rangkaian alat elektrolisis

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

1. Menggosok katoda dengan kertas amplas hingga bersih.
2. Mencuci katoda dengan air, membilas dengan alkohol, kemudian
mendiamkannya hingga kering.
3. Menimbang katoda dengan teliti menggunakan neraca teknis digital.
4. Membungkus katoda dengan kertas tissue bersih untuk menghidari kotoran.
5. Merangkai alat percobaan dengan menngunakan katoda sementara.
6. Menuangkan larutan CuSO4 ke dalam bejana.
7. Menjalankan arus dan mengatur R (hambatan geser) sehingga amperemeter
menunjukkan kuat arus sebesar 1,5 Ampere.
8. Memutuskan hubungan sumber arus dengan tidak merubah rangkaian alat.
9. Mengganti katoda sementara dengan katoda yang sebenarnya (yang telah
dibersihkan).
10. Mengatur luas permukaan katoda yang tercelup ke dalam larutan agar sama
dengan luas permukaan katoda sementara yang tercelup dalam larutan.
11. Menjalankan arus listrik selama 20 menit. Menjaga kuat arus yang mengalir
agar stabil
12. Memutuskan hubungan arus listrik setelah 20 menit.
13. Mengeringkan katoda, kemudian menimbangnya dengan teliti.
14. Mengulangi percobaan (langkah 1-13) untuk kuat arus sebesar 2 Ampere.
15. Mengembalikan larutan ke dalam botol semula dan membereskan alat.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
BAB IV
HASIL DAN ANALISA

4.1. DATA DAN PENGAMATAN
No.
Kuat Arus
I (Ampere)
Waktu
t (menit)
Berat awal
Wa (gram)
Berat akhir
Wb (gram)
Endapan
WCu = Wb-Wa (gram)
1. 1.5 15 91.4 91.6 0,5
2. 2 15 107,0 107,6 0,6
Tabel 1.1. Data percobaan Voltameter Tembaga

4.2. PERHITUNGAN
4.2.1. Arus 1,5 Ampere
Diketahui:
W
Cu
= Berat Endapan Cu = 0,5 g
Ar
Cu
= 63,55
e = Berat ekivalen = Ar/Valensi = 63,55/2 = 31,755
1 mol F = 96.500 coulumb
I = Kuat arus = 1,5 Ampere
t = Waktu = 15 menit = 900 second
Ditanyakan: Tara kimia listrik Cu & Berat ideal endapan Cu
Jawab:
a. Tara kimia listrik Cu
Rumus : W
Cu
= z . I . t z = Tara kimia listrik
z = W
Cu
/ I . t

z = 0,5 g / 1,5 A x 900 s
z = 3,703.10
-4
g/coulomb

b. Berat ideal endapan Cu
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
Rumus : W
Cu
= e . I . t / F
W
Cu
= 31,755 x 1,5 A x 900 s / 96.500 coulomb
W
Cu
= 0,44 g

4.2.2. Arus 2 Ampere
Diketahui:
W
Cu
= Berat Endapan Cu = 0.6 g
Ar
Cu
= 63,55
e = Berat ekivalen = Ar/Valensi = 63,55/2 = 31,755
1 mol F = 96.500 coulumb
I = Kuat arus = 2 Ampere
t = Waktu = 15 menit = 900 second
Ditanyakan: Tara kimia listrik Cu & Berat ideal endapan Cu
Jawab:
a. Tara kimia listrik Cu
Rumus : W
Cu
= z . I . t z = Tara kimia listrik
z = W
Cu
/ I . t

z = 0,6 g / 2 A x 900 s
z = 3,333.10
-4
g/coulomb
b. Berat ideal endapan Cu
Rumus : W
Cu
= e . I . t / F
W
Cu
= 31,755 x 2 A x 900 s / 96.500 coulomb
W
Cu
= 0,59 g
4.2.3. Tara kimia listrik Cu Teoritis
Rumus : W
Cu
= z . I . t z = Tara kimia listrik
z = e

/ F

z = 31,755 g/ 96.500 coulomb
z = 3,291.10
-4
g/coulomb
4.2.4. Simpangan
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13

% SD =


x 100%

a. Tara kimia listrik
- Arus 1,5 A
%SD = [(3,291.10
-
4 - 3,703.10
-4
)/ 3,703.10
-4
] x 100%
= - 11,13 %
- Arus 2 A
%SD = [(3,291.10
-4
–3,333.10
-4
)/ 3,333.10
-4
] x 100%
= - 1,26 %

b. Berat endapan Cu
- Arus 1,5 A
%SD = [(0,44) – (0,50)/ 0,50] x 100%
= - 12 %
- Arus 2 A
%SD = [(0,59– 0,60)/ 0,60] x 100%
= - 1,67 %

4.3. PEMBAHASAN
1. Hasil yang didapatkan dari percobaan belum sempurna. Melihat adanya
perbedaan antara nilai yang diperoleh dari percobaan dengan nilai
teoritis. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:
1.1 Kurang teliti dalam menimbang katoda. Pada saat penimbangan
katoda, neraca yang digunakan adalah neraca digital dengan
ketelitian 0,1 g. Sehingga berat yang diperoleh kurang teliti.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
1.2 Pada saat penimbangan, kondisi katoda belum benar-benar kering,
sehingga berat katoda lebih besar dari yang sebenarnya.
1.3 Kesalahan alat amperemeter pada saat mengukur arus yang mengalir
pada sistem elektrolisis. Sehingga kuat arus yang mengalir tidak
sesuai dengan yang seharusnya atau yang ditunjukkan oleh
amperemeter.
2. Elektrolisis dapat berlangsung dengan arus listrik searah (DC). Karena arus
DC mempunyai polaritas yang selalu sama (tetap) yaitu positif (+) dan
negatif (-) dimana arus mengalir dari tegangan positif ke negatif. Sehingga
pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tetap. Artinya, ion-ion
positif akan bergerak ke negatif, sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak
ke arah positif. Berbeda dengan arus AC atau biasa disebut tegangan
bolak-balik mempunyai dua polaritas yang selalu berubah dari 14egative
ke positif dan sebaliknya, dimana perubahan tersebut terjadi 50 kali
dalam satu detik. Hal ini menyebabkan pergerakan-pergerakan muatan
ion dalam sistem tidak stabil. Katoda dapat bersifat negatif, namun
sewaktu-waktu dapat bersifat positif, begitu juga dengan anoda.
Akibatnya tidak akan terbentuk endapan Cu pada katoda, karena reaksi
yang terjadi berubah-ubah antara reduksi dan oksidasi.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
BAB V
KESIMPULAN

1. Hasil yang didapat dari percobaan adalah sebagai berikut:

Tabel 1.2. Hasil percobaan

2. Tara kimia listrik adalah massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1 coulomb
selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb atau g/coulomb
3. Kuat arus pada proses elektrolisis sebanding dengan massa zat yang
terendapkan. Semakin besar kuat arus yang mengalir, maka zat yang
terendapkan akan semakin banyak.
4. Elektrolisis adalah salah satu bentuk pemanfaatan perubahan energi. Pada
elektrolisis terjadi perubahan bentuk energi dari energi listrik menjadi energi
kimia.
5. Elektrolisis sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaanya
sangat luas terutama di dunia industri. Pemanfaatan elektrolisis diantaranya
untuk proses charging pada accu, pemurnian logam, penyepuhan logam
(electroplating), pembuatan bahan-bahan kimia dan juga untuk elektrosintesis
(sistesis zat-zat organik)




No.
Kuat Arus
(Ampere)
Tara kimia listrik Cu
(g/coulomb)
Berat endapan Cu
(g)
Teoritis Praktikum %SD Teoritis Praktikum %SD
1. 1,5
3,291.10
-4

3,703.10
-4

- 11,13 %
0,44 0,5 - 12 %
2. 2 3,333.10
-4
- 1,26 % 0,59 0,6 - 1,67 %
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


16
DAFTAR PUSTAKA

1. Halliday, Resnick. 1985. Fisika, Edisi III jilid II, Terjemahan Silaban dan
Sucipto. Jakarta: Erlangga
2. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/
oksidasi_dan_reduksi1/elektrolisis
3. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_fisika/
elektrosintesis_metode_elektrokimia_untuk_memproduksi_senyawa_ki
mia
4. http://andykimia03.wordpress.com
5. http://ravimalekinth.files.wordpress.com
6. http://www.susilochem04.co.cc
7. http://www.fredi-36-a1.blogspot.com/2009/12/voltameter-tembaga

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


17
TUGAS PENDAHULUAN

1. Tuliskan reaksi yang terjadi, baik pada anoda meupun katoda selama
elektrolisis !
2. Hukum apakah yang berlaku pada peristiwa pengendapan di
elektrolisis? Jelaskan!
3. Tuliskan definisi tara kimia listrik !
4. Dapatkah elektrolisis berlangsung memakai arus bolak-balik ?
5. Jika kuat arus yang melalui voltameter diketahui dan berat tembaga
dapat ditimbang, maka berat atom dan/atau valensi endapan dapat
dihitung. Terangkan hal tersebut?
Jawaban :
1. CuSO
4
(aq)  Cu
2+(
aq) + SO
4
2-
(aq)
Katoda [elektroda - : reduksi] : Cu
2+
(aq) + 2e
-
 Cu(s)
Anoda [elektroda + : oksidasi]: Cu(s)  Cu
2+
(aq) + 2e
-
2. Hukum yang berlaku pada saat elektrolisis ialah hukum Faraday. Michael
Faraday (1791-1867) pada tahun 1833 mengemukakan hubungan
kuantitatif antara jumlah zat yang bereaksi di katoda adan anoda dengan
muatan listrik total yang melewati sel, yang dikenal dengan hukum
Faraday.bunyi hukum Faraday tersebut adalah:
• Hukum Faraday I : “jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda
sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut”
m = e . i . t / F m = z . i . t z = e / F
q = i . t m = z . q
m = Massa zat yang dihasilkan (gram)
e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi
i = Kuat arus listrik (amper)
t = Waktu (detik)
F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


18
z = Tara kimia listrik, yaitu massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1
coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb
q = Jumlah muatan listrik yang melalui larutan
• Hukum Faraday II : “jumlah zat-zat yang dihasilkan oleh arus yang
sama didalam beberapa sel yang berbeda sebanding dengan berat
ekuivalen zat-zat tersebut”.
m1 : m2 = e1 : e2
m = massa zat (garam)
e = berat ekivalen = Ar/Valensi = Mr/Valensi
3. Tara kimia listrik yaitu massa zat yang dipisahkan/diendapkan oleh
muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb.
4. Elektrolisis dapat berlangsung dengan arus listrik searah (DC). Karena
arus DC mempunyai polaritas yang selalu sama (tetap) yaitu positif (+)
dan negatif (-) dimana arus mengalir dari tegangan positif ke negatif.
Sehingga pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tetap.
Artinya, ion-ion positif akan bergerak ke negatif, sebaliknya ion-ion
negatif akan bergerak ke arah positif. Berbeda dengan arus AC atau biasa
disebut tegangan bolak-balik mempunyai dua polaritas yang selalu
berubah dari egative ke positif dan sebaliknya, dimana perubahan
tersebut terjadi 50 kali dalam satu detik. Hal ini menyebabkan
pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tidak stabil. Katoda
dapat bersifat negatif, namun sewaktu-waktu dapat bersifat positif,
begitu juga dengan anoda. Akibatnya tidak akan terbentuk endapan Cu
pada katoda, karena reaksi yang terjadi berubah-ubah antara reduksi
dan oksidasi.
5. Dengan Hukum Faraday I : “jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda
sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut”, kita
dapat menghitung berat ekivalen suatu zat dengan menurunkan rumus
nya
m = e . i . t / F ……… menjadi e = m . F / i . t
m = Massa zat yang dihasilkan (gram)
e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi
i = Kuat arus listrik (amper)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


19
t = Waktu (detik)
F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


20
TUGAS AKHIR

1. Jelaskan pengaruh kuat arus pada proses elektrolisis yang anda lakukan!
- Kuat arus pada proses elektrolisis sebanding dengan massa zat yang
terendapkan. Semakin besar kuat arus yang mengalir, maka zat yang
terendapkan akan semakin banyak. Sesuai dengan hukum Faraday I :
“jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus
yang dialirkan pada zat tersebut”




















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


21







MODUL 2
RESONANSI LISTRIK






Laporan Praktikum Fisika Dasar II


22
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Tujuan
- Mengamati adanya gejala resonansi dalam rangkaian arus bolak-balik.
- Menentukan besar tahanan dan induksi dir dari indicator (kumparan
pemadaman)
1. 2 Alat – alat
- Indikator (kumparan pemadam) Dan hambatan (R)
- Sumber tegangan (Transfomator /AC)
- Multimeter
- Bangku kapasitor
- Miliampermeter AC.
- Kabel-kabel penghubung.









Laporan Praktikum Fisika Dasar II


23
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Induktansi
a. Induktanasi Bersama
Jika dua buah kumparan berdekatan dengan yang lain terjadi perubahan
arus padasalah satu kumparan yang akan mereduksi ggl pada kumparan
yang lain. Menurut hukumFaraday, ggl ε
2
yang diinduksi ke kumparan 2
sebanding dengan laju perubahan fluks yangmelewatinya. Karena fluks
sebanding dengan arus yang melewati kumparan 1, ε
2
harus sebanding
dengan laju perubahan arus pada kumparan
I
t
A | |
|
A
\ .
, sehingga:
1
2
I
M
t
c
A
= ÷
A


dengan konstanta pembanding M yang disebut induktansi bersama.
Tanda minus dari hokum Lentz.


Perubahan arus pada salah satu kumparan akan menginduksi aruspada
kumparan yang lain



Laporan Praktikum Fisika Dasar II


24
Perubahan arus pada salah satu kumparan akan menginduksi arus pada
kumparan yang lain Jika melihat situasi kebalikannya, yaitu perubahan
arus di kumparan 2 menginduksi ggl pada kumparan 2, konstanta
pembandingnya, M, akan meiliki nilai yang sama, sehingga:
1
2
I
M
t
c
A
= ÷
A


Satuan M adalah : *V.s/A+ = *Ω s+ atau *henry = H+ contoh induktansi
bersama adalah transformator , dimana hubungan kedua kumparan
dimaksimalkan sehingga hampir seluruh garis fluks melewati kedua
kumparan.
b. Induktansi diri
Konsep induktansi juga berlaku pada kumparan tunggal yang terisolasi.
Jika arus berubah melewati suatu kumparan atau solenoida terjadi
perubahan flux magnetic di dalam kuparan, dan ini akan menginduksi ggl
pada arah yang berlawanan. Jika arus pada kumparan berkurang,
pengurangan flux akan menginduksi ggl dengan arah arus yang sama,
sehingga cenderung mempertakankan nilai kuat arus semula. Rumus ggl
induksi adalah sebagai berikut:


Dimana konstanta pembanding L disebut Induktansi diri, atau cukup
disebut Induktansi kumparan dengan satuan henry. Besarnya induktansi
bergantung geometri dan ada tidaknya inti besi.
Suatu rangkaian AC selalu mengandung Induktansi tetapi biasanya kecil
kecuali jika rangkaian tersebut menggunakan kumparan dengan jumlah
lilitan yang banyak. Sebuahkumparan yang mempunyai induktansi diri
disebut inductor atau kumparan penahan.Induktansi sangat bermanfaat
1
2
I
M
t
c
A
= ÷
A
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


25
pada rangkain tertentu namun kadang-kadang dilakukanpencegahan
timbulnya induktansi. Induktansi dapat dikurangi dengan malilitkan
kawatberisolasi pada arah berlawanan sehingga arus yang mengalir pada
dua arah itu akan salingmengilangkan dan menghasilkan sedikit flux
magnet yang dinamakan kumparan noninduktif
2.2 Rangkaian AC dan Impedansi
a. Resistor
Jika sebuah sumber AC dihubungkan dengan resistor, arus akan menguat
dan melemah mengikuti ggl bolak balik sesuai hokum ohm. Katakana arus
dan tegangan sefase karena
Jika l = l
o
cos 2 πf1 maka cos 2 1
o
v v f t ÷ =


b. Induktor
Jika inductor dihubungkan dengan sumber AC dapat mengabaikan
hambatan yang mungkin ada. Tegangan yang diberikan pada inductor
sama dengan ggl balik yang dibangkitkan dalam indicator oleh perubahan
arus, melalui rumus :
I
L
t
c
A
= ÷
A

Hal ini disebakan jumlah ggl di dalam rangkaian tertutup harus bernilai
nol sesuai dengan hokum Kirchoff
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


26

Jadi : 0
I
V L
t
A
÷ =
A
atau
'
I
V L
t
A
=
A

Sehingga pada inductor arus yang tertinggal 90
o
dari tegangan yang
setara dengan seperempatputaran). Karena arus dan tegangan berbeda
fase 90 maka secara rata-rata tidak ada energy yang ditranformasi di
dalam inductor dan tidak ada energi yang terbuang sebagai
panas.Ditemukan bahwa kuat arus di dalam inductor sebanding dengan
tegangan Acyang diberikanpada frekuensi tertentu, sehingga :
L
V IX =
X
L
dinamakan reaktansi induktif atau impedansi dari suatu inductor.
Biasanya istilah yang digunakan ialah “reaktansi” hanya untuk sesuatu
yang bersifat induktif dan “impedansi”untuk menghitung jumlah
rintangan suatu kumparan. Dari kenyataan semakin besar nilai L semakin
kecil perubahan arus ΔI dalam selang Δt tertentu. Karena itu I setiap saat
akan menjadi lebih kecil dari frekuensi yang digunakan.Reaktansi juga
bergantung frekuensi. Semakin besar frekuensi semakin cepat perubahan
fluxmagnet yang terjadi pada inductor dan semakin besar frekuensi
semakin besar reaktansi,sehingga:
2
L
X fL t =
c. Kapasitor
Jika sebuah kapasitor dihubungkan dengan sebuah baterai plat-plat
kapsitor segera mendapatkan muatan-muatan dalam jumlah yang sama
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


27
namun berlawanan dan tidak ada aliran arus konstan pada rangkaian.
Kapasitor mencegah terjadinya aliran arus DC. Tetapijika sebuah
kapasitor dihubungkan dengan tegangan AC arus bolak-balik akan
mengalir secara continue. Karena ketika tegangan AC dihidupkan muatan
mulai mengalir sehinggapada salah satu plat terkumpul muatan negatif
dan plat lain terkumpul muatan positif. Ketikategangan berbalik muatan
mengalir dengan arah berlawanan. Jadi jika digunakan teganganbolak-
balik timbul arus AC pada rangkaian secara continue
Pada kapasitor arus mendahului tegangan sebesar 90
o
. Karena
arus dan teganganberbeda fase daya rata-rata yang terbuang adalah 0
seperti dalam inductor. Energi dalamsumber diberikan kepada kapasitor
dan energi disimpan dalam bentuk medan listrika antar plat. Ketika
medan berkurang energi kembali ke sumbernya jadi pada rangkaian AC
hanyaresistor yang menghamburkan energi. Hubungan antara tegangan
dan arus dalam kapasitor sebagai berikut :
1
2
c
X
fC t
=
Dengan X
c
adalah reaktansi kapasitif atau impedansi kapasitor.
Persamaan iniberlaku untuk nilai rms atau nilai puncak dari tegangan,
tidak berlaku untuk waktu sesaatkarena I dan F berbeda fase. X
c

bergantung pada kapasitas C dan frekuensi. Semakin besar kapasitas
semakin banyak muatan yang bisa ditampung sehingga semakin kecil
perlambatanyang terjadi dalam arus bolak balik. Jika frekuensi membesar
semakin sedikit waktu yangdiperlukan untuk mengisi muatan plat pada
setiap siklus dan menambah aliran arus



Laporan Praktikum Fisika Dasar II


28
2.3 Resonansi Pada Rangkaian AC
Resonansi pada rangkaian AC merupakan keadaan dimana reaktansi induktif
dan reaktansi kapasitif memiliki nilai yang sama satu sama lain (XL = XC ).
Ketika rangkaian AC dalam keadaan resonansi maka reaktansi akan sama
dengan ‘0’ (Nol), (X = XL - XC = 0). Frekuensi resonansi (Fr) merupakan
frekuensi dimana keadaan resonansi tercapai, dimana phasa tegangan AC
dan arus AC berbeda 90° satu sama lain. Arus rms di dalam rangkaian seri
RLC dapat dihitung sebagai:
max max
max 2
2
1
2
2
V V
I
Z
R fL
fC
t
t
= =
| |
+ ÷
|
\ .

Karena impedansi inductor dan kapasitor tergantung pada frekuensi
sumber, maka arus padarangkaian RLC juga bergantung frekuensi.
Arus akan maksimum jika
1 1 1
2 0
2 2
fL f
fL LC
t
t t
÷ = ÷ = (frekuensi
resonansi)
Pada frekuensi resonansi tersebut, X
c
= X
L
, sehingga impedansinya adalah
resistif murni,dan 1cos = φ . Jika R sangat kecil rangkaian LC. Energi di
dalam rangkaian LC berosilasi pada frekuensiresonansi, dan sebagian kecil
energi akan terbuang di R.Resonansi listrik digunakan pada banyak
peralatan elektronika. Radio dan TV, misalnyamenggunakan rangkaian
resonansi untuk mencari stasiun. Banyak frekuensi yang masuk melalui
antenna, tetapi kuat arus yang signifikan hanya terjadi untuk gelombang
yangfrekuensinya sama atau mendekati frekuensi resonansi. L atau C
dibuat variabel, sehinggadapat dilakukan pencarian stasiun yang berbeda
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


29


- Resonansi Seri

Gambar diatas menunjukan sebuah rangkaian listeik dengan arus bolak
balik dengan susunan seri yang terdiri dari T sebuah tegangan arus bolak-
balik, bangku kapasitor ( C ), Indikator (L), dan hambatan (R) dan juga
sebuah miliampermeter (mA). Jika E adalah besarnya tegangan efektif
dan Ѡ besarnya frekuensi sudut dari sumber tegangan arus bolak balik,
maka besarnya arus efektif ( I ) yang mengalir melalui rangkaian tersebut
adalah :
2 2
( )
L C
E
I
R X X
=
+ ÷
(1)
Dimana : R = besarnya tahanan (ohm)
L = besarnya induktansi diri dari indicator (henry)
C = besarnya kapasitas dari kapasitor (farad)
I = kuat arus (ampere)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


30
E = Tegangan (volt)
Ѡ = frekuensi sudut radian per detik)
Jika nilai C diubah-ubah besarnya, maka akan terdapat harga I yang
mencapai harga maksiumu. Harga aruss maksimum itu mencapai pada
saat harga :
2
1
C
L e
= (2)
Dan besar kuat arus :
m
I
ax
E
R
= (3)
Rangkaian listrik dimana I mencapai maksimum dan harga
2
1
C
L e
=
disebut : dalam keadaan resonansi seri. resonansi seri merupakan
kombinasi rangkaian induktor dan kapasitor yang disusun secara seri.

Impedansi Total :
1
tot
Z R j L
C
e
e
| |
= + ÷
|
\ .

Saat Resonansi
1 1
0 L L
C C
e e
e =
÷ = ÷ =
2
1
LC
e =
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


31
1 1
2
o
f
LC t
=
Pada saat resonansi impedansi Z minimum, sehingga arusnya
maksimum
- Resonansi Paralel

gambar rangkaian listrik dengan hubungan paralael
gambar diatas menunjukan sebuah rangkaian arus bolak balik dengan
susunan parallel dengan indicator (termasuk hambatannya) dengan
kapasitor kemudian disusun seri dengan miliampermeter ke sumber
tegangan arus bolak balik. Jika E tegangan maka kuat arus efektifnya
adalah :
2 2
2 2 2
1 2 2
I
E C LC
R L
e e
e
+ ÷
=
+
(4)
jika C diubah-ubah besarnya, maka akan terdapat harga I yang mencapai
harga minimum. Harga arus yang minimum itu tercapai pada saat harga :
2
2
1
C
R
L
L
e
=
| |
+
|
\ .
(5)


Laporan Praktikum Fisika Dasar II


32
dan besar kuat arus :
m 2 2 2
I
in
ER
R L e
=
+

seperti halnya pada rangkaian seri, maka pada saat arus mencapai harga
minimum,maka rangkaian disebut : dalam keadaan resonansi parallel.
Resonansi paralel terjadi saat Y minimum sehingga I maksimum
Pengamatan sifat resonansi pada arus, tidak dapat dilakukan langsung
dengan osiloskop, gunakan resistor




















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


33
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

1. Mengukur dengan multimeter hambatan dari indicator.
2. Menyusun rangkaian seperti hubungan seri yang sebelumnya telah
dilaporakn kepada asisten dengan jala – jala PLN.
3. Mengamati dan mencatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari
nol sampai C terbesar.
4. Mengamati suatu harga I tertentu, amatilah tegangan bolak – balik tiap
komponen dan tegangan output (keluaran) transformator.
5. Menyusun gambar rangkaian seperti hubungan parallel. Mengulangi
dengan cara jalannya percobaan No. 1 s/d 4.
6. Mengamati dan mencatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari
nol sampai C terbesar












Laporan Praktikum Fisika Dasar II


34
BAB IV
HASIL DAN ANALISA

Sumber Tegangan : 6 Volt
Hambatan :2 ohm
Induktif : 2 Ohm
1. Hubungan Seri
No. Kapasitor (C)
ʯf
Kuat Arus (I) mA
1 1 0
2 3,2 5
3 6,5 10
4 11,2 20
5 21,2 60
6 43,2 130
7 76,2 230

2. Hubungan Paralel
No. Kapasitor (C)
ʯf
Kuat Arus (I) mA
1 1 185
2 3,2 180
3 6,5 180
4 11,2 175
5 21,2 160
6 43,2 145
7 76,2 175




Laporan Praktikum Fisika Dasar II


35
IV. 2 Perhitungan.
- Induktansi (L) dari Induktor Seri
( )
2 2
1 1
2
L
w C
f C t
= =

( )
2
6
1
2 3,14 50 .76, 2 10 x x x
÷
= = 0,1331

- Induktansi (L) dari Induktor Paralel
( )
2 2
1 1
2
L
w C
f C t
= =
=
( )
2
6
1
2 3,14 50 .43, 2 10 x x x
÷
= 0,2348

IV.3 Pembahasan
- Arus yang digunakan dalam praktikum resonansi listrik ini
menggunakan arus AC (Alternating Current) karena daya yang
disalurkan lebih besar dan konstan.
- Jika dilihat pada rangkaian seri, didapatkan data apabila harga-harga C
(kapasitor) semakin besar maka I (kuat arus) juga semakin besar. Jadi
kapasitor dalam rangkaian seri berbanding lurus dengan kuat arus.
Sedangkan pada rangkaian paralel, apabila harga – harga C (kapasitor)
semakin besar, I (kuat arus) semakin kecil hal ini menandakan bahwa
dalam rangkaian parallel kapasitor berbanding terbalik dengan kuat
arus.
- Frekuensi sudut (Ѡ) pada rangkaian seri maupun paralel berbanding
terbalik dengan kapasitor maka frekuensi sudut (Ѡ) semakin kecil.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


36
BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil praktikum Resonansi Listrik kemaren dapat diambil kesimpulan
bahwa hubungan antara hambatan (R) dengan induktor (L) berbanding lurus
dengan kapasitor ©, dan berbanding terbalik dengan tegangan (E).Sedangkan
kuat arus (I) berbanding lurus dengan tegangan (E),hal ini dapat di terangkan
bahwa semakin besar kapasitor, inductor, maupun hambatan maka tegangan
akan semakin kecil.

















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


37
DAFTAR PUSTAKA

Tim Fisika Dasar. 2010. Penuntun Praktikum Fisika Dasar II. Cimahi, Bandung :UNJANI.
http://lfd.comlabs.itb.ac.id/artikel/modul_interaktif/modul_2_g/tugas_lab.html
www.anakunhas.com/topik/materi+resonansi+listrik.html
teknikelectronika.blogspot.com/…/gambar-rangkaian-seri-dan-paralel

























Laporan Praktikum Fisika Dasar II


38
TUGAS PENDAHULUAN

1. Turunkan rumus (1) dengan pertolongan diagram vector beda tegangan
pada L, C dan R yang dihubungkN secara seri
2. Turunkan rumus 2 dan 3 dari persamaan 1
3. Jika pada hubungan seri, harga C besar sekali, bagaimanakah harga kuat
arus I? bagaimana pula untuk rangkaia parallel
4. Jika harga C = 0, bagaimana harga I pada rangkaian seri dan bagaimana
pula pada rangkaian parallel?
5. Turunkan rumus 4 dengan pertolongan diagram vector kaut arus untuk
rangkaian parale dan beda potensialnya untuk rangkaian seri R,C,L
6. Turunkan rumus (5) dan (6) dari rumus (4)

Jawaban
1. Rumus (1)
( )
2
2
l C
E
I
R X X
=
+ ÷

( )
2
2
2
l C
E
I
R X X
=
+ ÷

( )
2
2
2
2 l C
E
R X X
I
+ ÷ =
( )
2
2
2
2 l C
E
X X R
I
÷ = ÷
2
2
2 l C
E
X X R
I
÷ = ÷
2
2
2 l c
E
X R X
I
= ÷ +
2. Turunkan rumus (2) dan (3) dari persamaan (1)
( )
2
2
l c
E
I
R X X
=
+ ÷

( )
2
2
2
l c
E
I
R X X
= ÷
+ ÷
dianggap X
l
= X
c
misal X
l
= 1, X
c
= 1
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


39
( )
2
2
2
2
1 1
E
I
R
=
+ ÷

2
2
2
E
I
R
=
E
I
R
= ÷rumus (3)

3. Hubungan seri
2
I
C
W L
=
Harga C berbanding lurus dengan harga I, maka jika harga C semakin
besar, harga I pun menjadi besar.

- Hubungan parallel
2
2
I
C
R
W L
L
=
(
+
(
¸ ¸

Harga c berbanding lurus dengan harga I, maka jika harga C semakin
besar, harga I pun menjadi besar.
4. Hubungan seri
2
I
C
W L
= ÷harga C = 0
2
( ). I W L C =
2
( ).0 I W L =
0 I =
- Hubungan Paralel
2
2
I
C
R
W L
L
= ÷
(
+
(
¸ ¸
dengan harga C=0
2
2
.
R
I W L C
L
| | (
= +
|
(
¸ ¸ \ .

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


40
( )
2
2
. .
R
I W L C C
L
| | (
= +
|
(
¸ ¸ \ .

( )
2
2
.0 .0
R
I W L
L
| | (
= +
|
(
¸ ¸ \ .

0 0 I = +
0 I =
5. Rumus 4
2 2 2
2 2 2
1 2 E W C W LC
I
R W L
+ ÷
=
+

( )
2 2 2
2
4 4 4
1 2 E W C W LC
I
R W L
+ ÷
=
+

( ) ( )
2 2 2 2 2 4 4 4
1 2 E W C W LC I R W L + ÷ = + +
( ) ( )
2 2 2 2 2 2 2 4 2 4 4
2 E W C E E W LC I R I W L + ÷ = +
( )
2 2 2 2 4 2 4 4 2 2 2
2 E W C I R I W L E E W LC = + ÷ ÷
( )
2 4 2 4 4 2 2 2
2
2 2
2 I R I W L E E W LC
E
W C
+ ÷ ÷
=











Laporan Praktikum Fisika Dasar II


41
TUGAS AKHIR

1. Hitunglah besar hambatan searah dari inductor?
2. Pada tiap2 pengukuran selalu terjadi penurunan tegangan. Terangkan
bagaimana ini bisa terjadi?
3. Buatlah grafik antara kuat arus I terhadap kapasitor C untuk Rangkaian
Seri
4. Buatlah grafik antara kuat arus I terhadap kapasitor C untuk rangkaian
parallel
5. Berdasarkan grafik-grafik diatas, tentukanlah harga-harga C resonansi dan
I resonansi
Jawaban
1. Seri
2 . .
l
X f L t =
2.3,14.50.01331
l
X =
41, 7934
l
X =
- Paralel
2 . .
l
X f L t =
2.3,14.50.2348
l
X =
73, 7272
l
X =
2. Penurunan tegangan disebabkan oleh induksi dan tegangan pada
kapasitor. Semakin besar kapasitor maka tegangan semakin kecil atau
menurun.
3. Grafik terlampirkan
4. Grafik terlampirkan
5 Berdasarkan grafik diatasSeri
Seri
Harga C = 175.2 F
Harga I = 230 A

Paralel
Harga C = 53.2 F
Harga I =145 A

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


42








MODUL 3
SPEKTROMETER SEDERHANA
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


43
BAB I
PENDAHULUAN
1.2. TUJUAN
Tujuan dari praktikum fisika dasar II “Spektrometer Sederhana” ini adalah:
4. Mempelajari garis-garis spektra atom dengan cara spektroskopi.
5. Memahami prinsip kerja spektrometer sederhana.
6. Menentukan indeks bias dari spektrum - spektrum gas/Lampu Hg.

1.3. ALAT DAN BAHAN
1. Spektrometer lengkap, terdiri dari:
d. Kolimator.
e. Meja kecil.
f. Teropong.
g. Jarum penunjuk/skala.
2. Prisma sama sisi dan sama kaki.
3. Sumber cahaya (lampu Hg).
4. Sistem tegangan tinggi untuk lampu.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


44
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. TEORI DASAR
Pada umunya cahaya terdiri dari beberapa komponen warna dengan
panjang gelombang masing-masing. Jika cahaya datang pada salah satu sisi
prisma, maka akan terjadi penguraian warna dalam bentuk spektrum-spektrum.
Gejala ini disebut dispersi cahaya. Jadi Dispersi adalah peristiwa penguraian
cahaya polikromatik (putih) menjadi cahaya-cahaya monokromatik (me, ji, ku, hi,
bi, ni, u) pada prisma lewat pembiasan atau pembelokan. Peristiwa dispersi ini
terjadi karena perbedaan indeks bias tiap warna cahaya. Salah satu fenomena
alam dispersi adalah munculnya pelangi. Pelangi adalah spektrum sinar matahari
yang diuraikan oleh butir-butir air hujan.
Cahaya berwarna merah mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu
mengalami deviasi terbesar. Sesuai dengan hukum Snellius. karena indeks bias
yang lebih besar untuk panjang gelombang yang lebih pendek, maka cahaya
ungu akan dibelokkan paling jauh dan merah akan dibelokkan paling dekat.
Hal ini membuktikan bahwa cahaya putih terdiri dari harmonisasi berbagai
cahaya warna dengan berbeda-beda panjang gelombang. Hal ini dapat diamati
melalui Spektrometer.
Spektrometer adalah alat yang dipakai untuk mengukur panjang
gelombang cahaya dengan akurat yaitu dengan menggunakan kisi difraksi. atau
prisma untuk memisahkan panjang gelombang cahaya yang berbeda. Sebuah
prisma atau kisi kisi mempunyai kemampuan untuk menguraikan cahaya menjadi
warna warna spektralnya. Indeks cahaya suatu bahan menentukan panjang
gelombang cahaya mana yang dapat diuraikan menjadi komponen
komponennya. Untuk cahaya ultraviolet adalah prisma dari kristal, untuk cahaya
putih adalah prisma dari kaca, untuk cahaya infrared adalah prisma dari garam
batu.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


45

Gambar 3.1. Dispersi cahaya pada prisma
Prinsip kerja dari Spektrometer adalah, cahaya di datangkan lewat celah
sempit yang disebut kolimator. Kolimator ini merupakan fokus lensa, sehingga
cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar. Cahaya yang sejajar, kemudian
diteruskan ke kisi untuk kemudian ditangkap oleh teleskope yang posisinya dapat
digerakkan. Pada posisi teleskope tertentu yaitu pada sudut θ, merupakan posisi
yang sesuai dengan terjadinya pola terang (pola maksimum), maka hubungan
panjang gelombang cahaya memenuhi persamaan :
λ = Sin θ . d/m
Dimana m adalah bilangan bulat yang merepresentasikan orde, dan d jarak
antara garis-gartis pada kisi. Dengan mengukur nilai θ, maka nilai panjang
gelombang (λ) dari cahaya dapat diukur.


Gambar 3.2. Spektrometer Prisma
Alat ini juga dapat dipakai untuk menentukan ada tidaknya jenis-jenis
molekul tertentu pada spesimen laboratorium dimana analisa kimia tidak dapat
dipakai.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


46
Sinar cahaya yang digunakan berupa lampu gas yang diberikan tegangan
tinggi, sehingga lampu akan memancarkan sinar-sinar dengan panjang
gelombang yang spesifik (tergantung jenis gas yang digunakan.
Dengan meletakkan lampu gas (Hg) di depan Kolimator, maka sinar yang
menuju ke arah salah satu sisi prisma akan membentuk spektrum pada sisi lain.
Spektrum ini dapat diamati melalui teropong dan diketahui kedudukannya
dengan membaca skalanya.



Gambar 3.2. Skema Spektrometer
Jika spektrum diketahui panjang gelombangnya, maka spektrometer ini
dapat digunakan untuk menentukan panjang gelombang spektrum zat yang
belum diketahui. Untuk lampu Hg paling sedikit ada Sembilan garis spektrum,
diantaranya dengan panjang gelombang sebagai berikut:
No. Warna λ (Å)
1 Merah 6234
2 Merah 6152
3 Kuning 5700
4 Kuning 5770
5 Hijau 5461
6 Hijau – biru 4916-4539
7 Biru 43348
8 Violet 4078
9 Violet 4047
Tabel 3.1. Garis spektrum lampu Hg

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


47
Jika ditinjau dari susunan spektrumnya, maka :
a) Indeks bias (n) : Ungu terbesar sedang merah terkecil.
b) Deviasi (δ) : Ungu terbesar sedang merah terkecil.
c) Frekuensi (f) : Ungu terbesar sedang merah terkecil.
d) Energi photon (Eph) : Ungu terbesar sedang merah terkecil.
e) Panjang gelombang (λ ) : Ungu terkecil sedang merah terbesar.
f) Kecepatan (v) : Ungu terkecil sedang merah terbesar.
Sudut yang dibentuk antara deviasi sinar merah (deviasi terkecil) dan sudut
deviasi sinar ungu (deviasi terbesar) dinamakan sudut dispersi (ω) atau disebut
juga dispersi fraunhofer

2.2. PEMBIASAN PADA PRISMA
Prisma adalah benda bening (transparan) terbuat dari gelas yang dibatasi
oleh dua bidang permukaan yang membentuk sudut tertentu yang berfungsi
menguraikan (sebagai pembias) sinar yang mengenainya. Permukaan ini disebut
bidang pembias, dan sudut yang dibentuk oleh kedua bidang pembias disebut
sudut pembias (β). Cahaya yang melalui prisma akan mengalami dua kali
pembiasan, yaitu saat memasuki prisma dan meninggalkan prisma. Jika sinar
datang mulamula dan sinar bias akhir diperpanjang, maka keduanya akan
berpotongan di suatu titik dan membentuk sudut yang disebut sudut deviasi.
Jadi, sudut deviasi ( δ ) adalah sudut yang dibentuk oleh perpanjangan sinar
datang mula-mula dengan sinar yang meniggalkan bidang pembias atau
pemantul.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


48

Gambar 3.2. Sudut deviasi pada pembiasan prisma
Pada segiempat ABCE berlaku hubungan:
β + ZABC = 180
o

Pada segitiga ABC berlaku hubungan:
r1+i2 + ZABC = 180
o

Sehingga diperoleh hubungan:
β+ ZABC = r
1
+i
2
+ ZABC
β= r
1
+ i
2
.......... (1)
dengan: β = sudut pembias prisma
i
2
= sudut datang pada permukaan 2
r
1
= sudut bias pada permukaan 1
Pada segitiga ACD, ZADC + ZCAD + ZACD = 180
o
dengan ZCAD = i
1
– r
1

dan ZACD = r
2
– i
2
, sehingga berlaku hubungan:
ZADC + (i
1
– r
1
) + (r
2
– i
2
) = 180
o

ZADC = 180
o
+ (r
1
+ i
2
) – (i
1
+ r
2
)
Jadi, sudut deviasi (δ) adalah:
δ = 180
o
– ZADC
= 180
o
– [180
o
+ (r
1
+ i
2
) – (i
1
+ r
2
)]
= (i
1
+ r
2
) – (r
1
+ i
2
)


Laporan Praktikum Fisika Dasar II


49
Diketahui β = r
1
+ i
2
(persamaan (1)), maka besar sudut deviasi yang terjadi
pada prisma adalah:
δ = (i
1
+ r
2
) – β ............ (2)
dengan: δ = sudut deviasi
i
1
= sudut datang mula-mula
r
2
= sudut bias kedua
β = sudut pembias
Sudut deviasi berharga minimum ( δ= 0) jika sudut datang pertama (i
1
)
sama dengan sudut bias kedua (r
2
). Secara matematis dapat dituliskan syarat
terjadinya deviasi minimum ( δm ) adalah i
1
= r
2
dan r
1
= i
2
, sehingga persamaan
(2) dapat dituliskan kembali dalam bentuk:
δm = (i
1
+ i
1
) –β
= 2i
1
– β
i
1
= δm + β /2 ............. (3)
Selain itu, deviasi minimum juga bisa terjadi jika r
1
= i
2
,maka dari persaman
(3) diperoleh:
β = r
1
+ r
1
= 2r
1

r
1
= β/2 .......................... (4)
Bila dihubungkan dengan Hukum Snellius diperoleh:
n
1
.sin i
1
= n
2
.sin r
1

sin i
1
/sin r
1
= n
2
/n
1

Masukkan i
1
dari persamaan (3) dan r
1
dari persamaan (4) sehingga:
Sin i
1
/sinr
1
= n
2
/n
1
 n
2
/n
1
= sin ½ (β + δm) / sin ½ β
sin ½ (β + δm) = sin ½ β . n
2
/ n
1
…………….(5)
Untuk sudut pembias yang kecil (β< 15
o
):
δm = [(n
2
/n
1
) – 1] β ……………….(6)
Jika n1 = udara, maka n1 = 1, sehingga persamaan di atas menjadi:
δm = (n
2
-1) β .................. (7)
dengan: n
1
= indeks bias medium
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


50
n
2
= indeks bias prisma
β = sudut pembias (puncak) prisma
δm = sudut deviasi minimum
2.3. SUDUT DISPERSI
Sudut dispersi merupakan sudut yang dibentuk antara deviasi sinar satu
dengan sinar lain pada peristiwa dispersi (penguraian cahaya). Sudut ini
merupakan selisih deviasi antara sinar-sinar yang bersangkutan. Jika sinar-sinar
polikromatik diarahkan
pada prisma, maka akan terjadi penguraian warna (sinar monokromatik) yang
masingmasing sinar mempunyai deviasi tertentu. Selisih sudut deviasi antara dua
sinar adalah sudut dispersi, ¢ .

Gambar 3.3. Dispersi sinar merah terhadap sinar ungu
Sebagai contoh, pada Gambar 3.3 dapat dinyatakan:
a) deviasi sinar merah δ
m
=(n
m
-1) β
b) deviasi sinar ungu δ
u
=(n
u
-1) β
Dengan demikian, dispersi sinar merah terhadap ungu sebesar:
¢ = δ
u
- δ
m
.............. (8)
= (n
u
– 1)β – (n
m
– 1)β
¢ = (n
u
– n
m
) β............................. (9)
dengan: ¢ = sudut dispersi
n
u
= indeks bias warna ungu
n
m
= indeks bias warna merah
β = sudut pembias prisma
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


51

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

1. Memasang lampu Hg pada sistem tegangan tinggi.
2. Mengatur letak lampu dibelakan celah kolimator sehingga sinar sampai
ke prisma. Lalu menghubungkannya dengan sumber tegangan.
3. Mengatur fokus teropong sehingga dapat melihat benda di tak
terhingga.
4. Mengatur letak dan celah kolimator sehingga spektrum yang terjadi
cukup tajam dan spektrum tampak bersama-sama dengan pembagian
skala.
5. Mencatat kedudukan teropong untuk semua garis spektrum lampu Hg.
6. Mencatat kuat dan lemahnya garis-garis spektrum (intensitasnya).
7. Meletakkan prisma sama sisi di atas meja spektrometer dengan
mengubah kadudukan teropong. Mencari kedudukan spektrumnya pada
kedua sisi (kanan dan kiri). Mencatat kedudukan skala pada teropong.
8. Mencatat kedudukan teropong hingga terlihat pantulan cahaya oleh
kedua sisi prisma.
9. Mengganti prisma dengan prisma yang sama kaki, kemudian mengulangi
percobaan no. 5 dan 6 dengan cara yang sama


Laporan Praktikum Fisika Dasar II


52
BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN ANALISA DATA

4.4. DATA DAN PENGAMATAN
No. Warna
Deviasi minimum D
min
(
0
) Panjang
gelombang λ
(Angstrom Å)
β = 60
0
β = 90
0

Sisi 1 Sisi 2 Sisi 1 Sisi 2
1 Merah 138,50 146,00 155,20 156,20 6234
2 Jingga 138,00 145,70 155,00 156,10 6152
3 Kuning 138,00 145,50 154,80 156,00 5790
4
Hijau
muda
137,00 145,30 154,50 155,80 5770
5 Hijau 136,50 145,00 154,40 155,70 5461
6 Biru 136,00 144,80 154,10 155,50 4358
7 Ungu 135,50 144,60 153,90 155,20 4047
Tabel 3.2. Data Hasil Percobaan


4.5. PERHITUNGAN
4.5.1. Indeks Bias Prisma
Rumus : n = sin ½ (β + δm) / sin ½ β
Dimana: n = indeks bias
β = sudut puncak prisma
δ
m
= deviasi minimum




Laporan Praktikum Fisika Dasar II


53
No. Warna
Deviasi minimum δ
m
(
0
)
Indeks bias (n) β = 60
0

Sisi 1 Sisi 1 Rata-rata
1 Merah 138,50 146,00 142,25 1,962
2 Jingga 138,00 145,70 141,85 1,964
3 Kuning 138,00 145,50 141,75 1,964
4 Hijau muda 137,00 145,30 141,15 1,966
5 Hijau 136,50 145,00 140,75 1,967
6 Biru 136,00 144,80 140,40 1,968
7 Ungu 135,50 144,60 140,05 1,969
Tabel 3.3. Perhitungan indeks bias prisma 60
0

No. Warna
Deviasi minimum δ
m
(
0
)
Indeks bias (n) β = 90
0
(A)
Sisi 1 Sisi 1 Rata-rata
1 Merah 155,20 156,20 155,70 1,188
2 Jingga 155,00 156,10 155,55 1.189
3 Kuning 154,80 156,00 155,40 1,190
4 Hijau muda 154,50 155,80 155,15 1,192
5 Hijau 154,40 155,70 155,05 1,192
6 Biru 154,10 155,50 154,80 1,194
7 Ungu 153,90 155,20 154,55 1.196
Tabel 3.4. Perhitungan indeks bias prisma 90
0






Laporan Praktikum Fisika Dasar II


54
4.5.2. Kurva Dispersi
- Prisma dengan β = 60
0

No.
Panjang gelombang
(λ)
Indeks bias (n)
1 4047 Å 1,969
2 4358 Å 1,968
3 5461 Å 1,967
4 5770 Å 1,966
5 5790 Å 1,964
6 6152 Å 1,964
7 6234 Å 1,962
Tabel 3.5. Hubungan panjang gelombang dan indeks bias prisma 60
0



Grafik 3.1. Kurva Dispersi prisma 60
0


- Prisma dengan β = 90
0

No.
Panjang gelombang
(λ)
Indeks bias (n)
1 4047 Å 1,196
2 4358 Å 1,194
3 5461 Å 1,192
4 5770 Å 1,192
5 5790 Å 1,190
6 6152 Å 1,189
7 6234 Å 1,188
1,955
1,960
1,965
1,970
4047 Å 4358 Å 5461 Å 5770 Å 5790 Å 6152 Å 6234 Å
I
n
d
e
k
s

b
i
a
s

Panjang gelombang
Kurva Dispersi
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


55
Tabel 3.6. Hubungan panjang gelombang dan indeks bias prisma 90
0



Grafik 3.1. Kurva Dispersi prisma 90
0


4.5.3. Daya Dispersi masing-masing warna
1. Prisma β = 60
0

No. Warna
Panjang gelombang (λ)
(Angstrom Å)
Indeks
bias (n)
Daya Dispersi (D)
D = n/λ
1 Merah 6234 1,962
3,147 . 10
-4

2 Jingga 6152 1,964
3,193 . 10
-4

3 Kuning 5790 1,964
3,392 . 10
-4

4 Hijau muda 5770 1,966
3,407 . 10
-4

5 Hijau 5461 1,967
3,602 . 10
-4

6 Biru 4358 1,968
4,516 . 10
-4

7 Ungu 4047 1,969
4,865 . 10
-4

Tabel 3.7. Perhitungan Daya Dispersi prisma 60
0




1,180
1,185
1,190
1,195
1,200
4047 Å 4358 Å 5461 Å 5770 Å 5790 Å 6152 Å 6234 Å
I
n
d
e
k
s

b
i
a
s

Panjang gelombang
Kurva Dispersi
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


56
2. Prisma β = 90
0

No. Warna
Panjang gelombang (λ)
(Angstrom Å)
Indeks
bias (n)
Daya Dispersi (D)
D = n/λ
1 Merah 6234 1,188
1,906 . 10
-4

2 Jingga 6152 1.189
1,933 . 10
-4

3 Kuning 5790 1,190
2,055 . 10
-4

4 Hijau muda 5770 1,192
2,066 . 10
-4

5 Hijau 5461 1,192
2,183 . 10
-4

6 Biru 4358 1,194
2,740 . 10
-4

7 Ungu 4047 1.196
2,955 . 10
-4

Tabel 3.8. Perhitungan Daya Dispersi prisma 90
0

4.5.4. Dispersi Fraunhofer
3. Prisma β = 60
0

Diketahui : n
b
= indeks bias warna biru = 1,194
n
m
= indeks bias warna merah = 1,188
n
k
= indeks bias warna kuning = 1,190
Ditanyakan : Daya dispersi Fraunhofer = ω
Jawab: Rumus: ω = n
b
-

n
m
/

n
k
– 1
= 1,194 –

1,188 /

1,190 – 1
= 6,224 . 10
-3

4. Prisma β = 90
0

Diketahui : n
n
= indeks bias warna biru = 1,968
n
m
= indeks bias warna merah = 1,962
n
k
= indeks bias warna kuning = 1,964
Ditanyakan : Daya dispersi Fraunhofer = ω
Jawab : Rumus: ω = n
b


n
m
/

n
k
– 1
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


57
= 1,968



1,962

/

1,964

– 1
= 3,157 . 10
-2




BAB V
KESIMPULAN

6. Hasil yang didapat dari percobaan adalah sebagai berikut:
1.1. Prisma β = 60
0

No. Warna
Panjang gelombang (λ)
(Angstrom Å)
Indeks
bias (n)
Daya Dispersi (D)

1 Merah 6234 1,962
3,147 . 10
-4

2 Jingga 6152 1,964
3,193 . 10
-4

3 Kuning 5790 1,964
3,392 . 10
-4

4 Hijau muda 5770 1,966
3,407 . 10
-4

5 Hijau 5461 1,967
3,602 . 10
-4

6 Biru 4358 1,968
4,516 . 10
-4

7 Ungu 4047 1,969
4,865 . 10
-4

Tabel 3.9. Hasil percobaan untuk prisma 60
0

1.2. Prisma β = 90
0

No. Warna
Panjang gelombang (λ)
(Angstrom Å)
Indeks
bias (n)
Daya Dispersi (D)

1 Merah 6234 1,188
1,906 . 10
-4

2 Jingga 6152 1.189
1,933 . 10
-4

3 Kuning 5790 1,190
2,055 . 10
-4

4 Hijau muda 5770 1,192
2,066 . 10
-4

5 Hijau 5461 1,192
2,183 . 10
-4

6 Biru 4358 1,194
2,740 . 10
-4

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


58
7 Ungu 4047 1.196
2,955 . 10
-4

Tabel 3.10. Hasil percobaan untuk prisma 90
0

7. Dari percobaan diketahui bahwa garis-garis warna spektrum atom merkuri
(Hg) berada pada jangkauan sinar tampak, yaitu antara 4000Å - 7000Å
8. Dari percobaan diketahui bahwa:
a) Indeks bias (n) : Ungu terbesar sedang merah terkecil.
b) Deviasi minimum (δm) : Ungu terkecil sedang merah terbesar.
c) Panjang gelombang (λ ) : Ungu terkecil sedang merah terbesar.
d) Daya dispersi (D) : Ungu terbesar sedang merah terkecil.
9. Prinsip kerja dari Spektrometer adalah, cahaya di datangkan lewat celah
sempit yang disebut kolimator. Kolimator ini merupakan fokus lensa, sehingga
cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar. Cahaya yang sejajar, kemudian
diteruskan ke kisi untuk kemudian ditangkap oleh teleskope yang posisinya
dapat digerakkan.





Laporan Praktikum Fisika Dasar II


59
DAFTAR PUSTAKA

Halliday, Resnick. 1985. Fisika, Edisi III jilid II, Terjemahan Silaban dan
Sucipto. Jakarta: Erlangga
http://wahyuriyadi.blogspot.com/2008/10/perbedaan-spektrometri-
dan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Dispersi
http://alifis.wordpress.com


Laporan Praktikum Fisika Dasar II


60
TUGAS AKHIR

1. Turunkan rumus-rumus yang digunakan !
2. Terangkan secara singkat kerjanya spektrometer yang dipergunakan!
Jawaban:
1.

Pada segiempat ABCE berlaku hubungan:
β + ZABC = 180
o

Pada segitiga ABC berlaku hubungan:
r1+i2 + ZABC = 180
o

Sehingga diperoleh hubungan:
β+ ZABC = r
1
+i
2
+ ZABC
β= r
1
+ i
2
.......... (1)
dengan: β = sudut pembias prisma
i
2
= sudut datang pada permukaan 2
r
1
= sudut bias pada permukaan 1
Pada segitiga ACD, ZADC + ZCAD + ZACD = 180
o
dengan ZCAD = i
1
– r
1

dan ZACD = r
2
– i
2
, sehingga berlaku hubungan:
ZADC + (i
1
– r
1
) + (r
2
– i
2
) = 180
o

ZADC = 180
o
+ (r
1
+ i
2
) – (i
1
+ r
2
)
Jadi, sudut deviasi (δ) adalah:
δ = 180
o
– ZADC
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


61
= 180
o
– [180
o
+ (r
1
+ i
2
) – (i
1
+ r
2
)]
= (i
1
+ r
2
) – (r
1
+ i
2
)
Diketahui β = r
1
+ i
2
(persamaan (1)), maka besar sudut deviasi yang terjadi
pada prisma adalah:
δ = (i
1
+ r
2
) – β ............ (2)
dengan: δ = sudut deviasi
i
1
= sudut datang mula-mula
r
2
= sudut bias kedua
β = sudut pembias
Sudut deviasi berharga minimum ( δ= 0) jika sudut datang pertama (i
1
)
sama dengan sudut bias kedua (r
2
). Secara matematis dapat dituliskan syarat
terjadinya deviasi minimum ( δm ) adalah i
1
= r
2
dan r
1
= i
2
, sehingga persamaan
(2) dapat dituliskan kembali dalam bentuk:
δm = (i
1
+ i
1
) –β
= 2i
1
– β
i
1
= δm + β /2 ............. (3)

Selain itu, deviasi minimum juga bisa terjadi jika r
1
= i
2
,maka dari persaman
(3) diperoleh:
β = r
1
+ r
1
= 2r
1

r
1
= β/2 .......................... (4)
Bila dihubungkan dengan Hukum Snellius diperoleh:
n
1
.sin i
1
= n
2
.sin r
1

sin i
1
/sin r
1
= n
2
/n
1

Masukkan i
1
dari persamaan (3) dan r
1
dari persamaan (4) sehingga:
Sin i
1
/sinr
1
= n
2
/n
1
 n
2
/n
1
= sin ½ (β + δm) / sin ½ β
sin ½ (β + δm) = sin ½ β . n
2
/ n
1
…………….(5)

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


62
2. Prinsip kerja dari Spektrometer adalah, cahaya di datangkan lewat celah
sempit yang disebut kolimator. Kolimator ini merupakan fokus lensa,
sehingga cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar. Cahaya yang sejajar,
kemudian diteruskan ke kisi untuk kemudian ditangkap oleh teleskope
yang posisinya dapat digerakkan.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


63
TUGAS PENDAHULUAN

1. Apakah yang dimaksud dengan dispersi cahaya itu ?
2. Terangkan terjadinya spektrum cahaya pada prisma ?
3. Apakah fungsi dari kolimator dan jelaskan !
Jawaban:
1. Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih) menjadi
cahaya-cahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) lewat pembiasan
atau pembelokan. Peristiwa dispersi ini terjadi karena perbedaan indeks
bias tiap warna cahaya.
2. Spektrometer adalah alat yang dipakai untuk mengukur panjang
gelombang cahaya dengan akurat yaitu dengan menggunakan kisi
difraksi. Atau prisma untuk memisahkan panjang gelombang cahaya yang
berbeda. Sebuah prisma atau kisi kisi mempunyai kemampuan untuk
menguraikan cahaya menjadi warna warna spektralnya. Indeks cahaya
suatu bahan menentukan panjang gelombang cahaya mana yang dapat
diuraikan menjadi komponen komponennya. Cahaya berwarna merah
mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu mengalami deviasi
terbesar. Sesuai dengan hukum Snellius. karena indeks bias yang lebih
besar untuk panjang gelombang yang lebih pendek, maka cahaya ungu
akan dibelokkan paling jauh dan merah akan dibelokkan paling dekat.
3. Kolimatur merupakan suatu celah sempit. Kolimator ini merupakan fokus
lensa, sehingga cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar. Dengan
meletakkan lampu gas (Hg) di depan Kolimator, maka sinar yang menuju
ke arah salah satu sisi prisma akan membentuk spektrum pada sisi lain.


Laporan Praktikum Fisika Dasar II


64






MODUL 3
LENSA DAN CERMIN







Laporan Praktikum Fisika Dasar II


65
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan jarak fokus dan jari-jari kelengkungan lensa
2. Menentukan indeks bias lensa dan zat cair
1.2 ALAT – ALAT PERCOBAAN
1. Lensa
2. Loupe
3. Jangka Sorong
4. Jarum Berbentuk Garpu
5. Statif














Laporan Praktikum Fisika Dasar II


66
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lensa
Alat optik yang paling umum dikenal dan paling sering digunakan setelah
cermin datar adalah lensa. Lensa adalah sebuah sistem optis dengan dua
permukaan yang merefraksikan. Lensa yang paling sederhana mempunyai dua
buah permukaan bola yang cukup dekat satu sama lain sehingga dapat diabaikan
jarak diantara kedua permukaan itu ( tebalnya lensa ), lensa ini dinamakan lensa
tipis. Lensa terdiri dari beberapa jenis, yang tergantung dari bentuk bagiannya.
Jenis lensa diantaranya adalah lensa cembung-cekung, lensa cekung-cekung,
lensa cembung-cembung.
Tiga sinar istimewa pada lensa cembung
Seperti pada cermin lengkung, pada lensa dikenal pula tiga berkas sinar
istimewa. Pada lensa positif tiga sinar istimewa tersebut adalah:


Gambar 2.1. Tiga berkas sinar istimewa pada lensa positif.
1. Sinar datang sejajar sumbu utama kan dibiaskan melalui focus utama
2. Sinar datang melalui focus utama dibiaskan sejajar sumbu utama
3. Sinar datang melalui pusat optic akan diteruskan tanpa dibiaskan
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


67
Berkas sinar-sinar istimewa di atas dibutuhkan dalam menentukan
bayangan suatu benda yang dibentuk oleh lensa dengan cara melukis seperti
dijelaskan berikut ini.

Gambar 2.2. Pembentukan bayangan pada lensa positif untuk benda yang
diletakkan antara F2 dan 2 F2
Benda AB pada gambar 2.2 di atas diletakkan di depan lensa positif pada
jarak s dari pusat optik O. Untuk melukis bayangan benda AB sebenarnya cukup
digunakan 2 dari 3 sinar istimewa saja. Namun pada gambar 2.2 di atas, tampak
ketiga sinar istimewa itu ditampilkan. Bayangan benda AB, yakni A'B' terbentuk
pada jarak s' dari pusat optik. Tampak bahwa titik B’ yang merupakan bayangan
dari titik B terbentuk dari perpotongan tiga sinar istemewa.
Melukis tiga sinar istimewa untuk menentukan bayangan titik A, sebab
benda AB merupakan garis lurus yang tegak lurus pada sumbu utama. Jadi titik A'
langsung tentukan begitu temukan titik B'. Caranya dengan menarik garis tegak
lurus melalui sumbu utama dari titik B' itu. Titik perpotongan dua garis ini
merupakan titik A’ sebagaimana tampak pada gambar 2.2 di atas
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


68


Gambar 2.3. Pembentukan bayangan oleh lensa positif untuk
benda yang diletakkan pada jarak lebih besar dari jarak antara pusat
optik ke titik 2F2.
Dua gambar di atas akan tampak persamaan dan perbedaan kedua
gambar tersebut. Kesamaan adalah bayangan kedua benda terbentuk sebagai
hasil pembiasan pada lensa yang dilukis menggunakan tiga sinarv istimewa,
bayangan yang terbentuk posisinya terbalik dari posisi bendanya dan kedua
gambar tampak benda di sebelah kiri atau di depan lensa, sedangkan
bayangannya ada di sebelah kanan atau di belakang lensa.
Sementara perbedaan antara kedua gambar dijelaskan sebagai berikut.
Pada gambar 2.2 benda diletakkan pada jarak antara titik F2 dan 2F2, sedangkan
pada gambar 2.3 benda diletakkan pada jarak yang lebih besar dari jarak antara
pusat optik ke titik 2F2. Bayangan yang terbentuk pada gambar 2.2 berukuran
lebih besar dari bendanya, sedangkan bayangan yang terbentuk pada gambar 2.3
ukurannya lebih kecil bila dibandingkan ukuran bendanya.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


69

Gambar 2.4 Pembentukan bayangan pada lensa positif bila benda
diletakkan antara pusat optik O dan fokus utama F2.
Pada gambar 2.4 tampak bayangan A'B' yang terbentuk ada di depan
lensa, tidak di belakang lensa seperti gambar sebelumnya dan bayangan tampak
tegak (tidak terbalik) serta lebih besar dari ukuran bendanya. Cara melukis
bayangannya secara prinsip sebenarnya sama, yakni menggunakan tiga sinar
istimewa. Hanya saja untuk mendapatkan bayangan benda A'B' garis-garis yang
merupakan sinar-sinar bias dari tiga sinar istimewa tersebut harus diperpanjang
ke belakang (garis putus-putus). Perpotongan tiga garis putus-putus itulah yang
merupakan titik bayangan B'. selanjutnya sama seperti gambar-gambar
sebelumnya bayangan A'B' dilukis dengan menarik garis A'B'.
Pembentukkan Bayangan Oleh Cermin Sferis
Cermin yang bentuk permukannya seperti permukaan bola akan
menghasilkan bayangan pada benda yang berbeda sifatnya daripada cermin
datar. Cermin ini umumnya membentuk cermin sferis, yang berarti cermin
tersebut akan membentuk sebagian dari bola. Berikut ini merupakan
pembentukkan bayangan oleh cermin bola. Sisi cembung dari sebuah cemrin
bola menghadap ke cahaya yang masuk. Pusat kelengkungan berada pada sisi
yang berlawanan dengan sinar keluar, sehingga R adalah negatif. Sinar PB
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


70
direfleksikan, dengan sudut masuk dan sudut refleksi yang keduanya sama
dengan θ. Sinar yang direfleksikan, yang proyeksikan ke arah belakang
memotong sumbu itu di P’. Seperti dengan sebuah cermin cekung, semua sinar
dari P yang direfleksikan oleh cermin itu berpencar dari titik P’ yang sama,
asalkan sudut α kecil. Maka P’ adalah bayangan dari P. Jarak benda s positif, jarak
bayangan s’ negatif, dan jari-jari kelengkungan R adalah negatif untuk sebuah
cermin cembung.
Pembiasan dan Pemantulan Pada Permukaan Bola
Pada pembahasan berikut ini akan diperlihatkan hubungan antara jarak
benda s, jarak bayangan s’, indeks bias medium (n dan n’) dan jari-jari
permukaan bola, R. Apabila ditinjau permukaan bola AA’ dengan sumbu utama di
sebut titik vertek V. Suatu sumber sinar P diletakkan di kiri AA’ dalam medium
berindeks bias n. Salah satu sinar dari p yang jatuh pada AA’ di B akan dibiaskan
sesuai dengan hukum Snellius menjadi B’P’ dalam medium berindes bias n’.
Sudut Ø dan Ø’ berturut-turut adalah sudut antara PB dan PB’ terhadap normal
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


71
AA’ di B dan sudut u dan u’ berturut-turut adalah sudut antara PB dan BP’
terhadap sumbu utama PP’. Rumusan dapat dinyatakan dalam pengertian jarak,
bila sebagai berikut :
a. Semua jarak diukur dari titik ertek V ke titik yang bersangkutan.
b. Daerah tempat asal sinar datang disebut daerah depan, sedangkan
daerah tempat sinar dibias di sebut daerah belakang.
c. Jarak benda s, adalah positif bila benda berada di daerah depan.
d. Jarak bayangan s’ adalah positif bila bayangan berada di daerah belakang.
e. Jari-jari permukaan R adalah positif bila pusat lengkungan bola berada di
daerah belakang
f. Tinggi benda Y maupun Y’ adalah positif bila benda di atas sumbu utama.




Laporan Praktikum Fisika Dasar II


72




Fokus Permukaan Bola
Apabila sinar datang dari suatu titik F berjarak f dari vertek suatu
permukaan bola, dan menghasilkan sinar bias sejajar sumbu utama, maka F
disebut titik fokus pertama permukaan bola tersebut dan f di sebut panjang
fokus pertama.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


73

Karena sinar bias sejajar sumbu utama maka bayangan berada di tidak
berhingga ( s’ = ∞ ), dan rumus pembiasan untuk permukaan bola menjadi

Dan s = f, sehingga
atau
Dengan f adalah panjang fokus pertama
Demikian pula bila sinar datang sejajar sumbu utama ( s = ∞ ) maka jarak
bayangan adalah merupakan panjang fokus kedua bagi permukaan bola tersebut.

Karena s = ∞, maka dari rumus pembiasan permukaan bola dapat
diperoleh
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


74

Dan s’ = f’, maka
atau dengan f’ adalah panjang
fokus kedua
2.2 Sifat – sifat Cahaya
2.2.1 Dispersi
Apabila suatu gelombang dibiaskan ke dalam medium dispersif
yang mempunyai indeks bias bergantung pada frekuensi atau panjang
gelombang, maka sudut pembiasan juga akan bergantung pada frekuensi
atau panjang gelombang tersebut. Untuk gelombang datang yang terdiri
atas berbagai frekuensi atau panjang gelombang, maka setiap
komponen panjang gelombang akan dibiaskan melalui sudut yang
berbeda, gejala ini disebut dispersi. Hal ini tampak pada peristiwa
cahaya putih yang dilakukan pada sebuah lensa, ternyata pinggiran dari
bayangan yang dihasilkan oleh lensa tersebut kelihatan ada warna. Efek
tersebut disebut aberasi kromatik.
Cahaya putih biasa merupakan superposisi dari gelombang-
gelombang dengan panjang gelombang yang membentang melalui
seluruh sprektrum tampak. Laju cahaya dalam ruang hampa adalah sama
untuk semua panjang gelombang tetapi laju cahaya tersebut dalam zat
material berbeda untuk panjang gelombang yang berbeda. Maka indeks
refraksi sebuah material bergantung pada panjang gelombang.
Kebergantungan laju gelombang dan indeks refraksi pada panjang
gelombang dinamakan dispersi. Banyaknya dispersi bergantung pada
beda antara indeks-indeks refraksi untuk cahaya violet dan cahaya
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


75
merah. Beda antara indeks untuk cahaya merah dan violet adalah kecil
dan dispersi itu juga akan kecil.
2.2.2 Spektrum Gelombang Elektromagnetik
Garis-garis lurus yang menunjukkan arah perambatan berkas
datang, berkas pantul dan berkas bias dan berkas bias ini dinamakan
sinar datang, sinar pantul, dan sinar bias.
Penyederhanaan ini membantu dalam optika geometri ( optika
geometri merupakan bagian fisika yang membahas fenomena-
fenomena atau sifat-sifat cahaya dengan menggunakan alat yang
ukurannya relatif lebih besar dibandingkan dengan panjang gelombang
cahaya).
Penyederhanaan berkas-berkas cahaya menjadi garis atau sinar
tidak boleh dilakukan dalam optika fisis(optika fisis merupakan bagian
fisika yang membahas fenomena atau sifat-sifat cahaya dengan
menggunakan alat-alat yang ukurannya relatif sama atau lebih kecil
dibandingkan dengan panjang gelombang cahaya). Pada optika fisis
harus memperlakukan cahaya sebagai gelombang sebab efek
interferensi dan difraksi sangat dominan.
2.2.3 Difraksi Gelombang
Difraksi gelombang adalah peristiwa difraksi atau lenturan dapat
terjadi jika sebuah gelombang melewati sebuah penghalang atau
melewati sebuah celah sempit.
3.2.4 Pemantulan dan Pembiasan
Pada gambar ditunjukkan jika suatu berkas cahaya dari medium
1 jatuh medium 2, maka berkas tersebut akan dipantulkan dari
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


76
permukaan batas AB antara medium 1 dan 2 ke medium 1 dan sebagian
lagi mengalami pembiasan ke dalam medium 2. berkas datang pada
gambar digambarkan sebagai garis lurus, disebut “sinar” datang, searah
dengan arah jalar. Berkas datang diandaikan sebagai gelombang bidang,
dengan muka gelombang tegak lurus sinar datang. Berkas terpantul dan
terbias juga dinyatakan dengan sinar. Bila sudut datang , sudut pantul
θr dan sudut bias θt masing-masing diukur dari normal bidang batas AB

2.2.5 Indeks Bias Lensa
Laju cahaya dalam udara hampa 3 x 10
8
m/s. Di udara laju
tersebut hanya sedikit lebih kecil. Pada benda transparan seperti kaca
dan air, kelajuan selalu lebih kecil dibanding di udara hampa. Sebagai
contoh, di air cahaya merambat kira-kira dengan laju ¾ c. Perbandingan
laju cahaya di udara hampa dengan laju v pada materi tertentu disebut
indeks bias (n), secara matematis ditulis sebagai berikut

Nilai indeks bias tidak pernah lebih kecil dari 1. Berikut tabel yang
menunjukkan nilai indeks bias cahaya pada beberapa medium

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


77
Tabel 2.1. Tabel nilai indeks bias pada beberapa medium

2.3 Prinsip Fermat
Pada tahun 1650 Pierre Fermat menemukan prinsip yang sangat berarti
pada dewasa ini yaitu : “suatu sinar cahaya yang melintasi dari titik satu ke titik
yang lain akan mengikuti lintasan yang paling pendek, sehingga diperlukan waktu
tempuh minimum”.
Hukum pemantulan dan pembiasan dapat dengan mudah diturunkan dari
prinsip ini.gambar dibawah ini menunjukkan titik tetap yaitu A dan B yang
dihubungkan sinar APB.

Medium Indeks Bias
Udara Hampa 1,0000
Udara (pada STP) 1,0003
Air 1,333
Alkohol Etil 1,36
Kuarsa Lebur 1,46
Kaca Korona 1,52
Api Cahaya 1,58
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


78
dengan X adalah tempat jatuhnya sinar pada cermin.
Menurut prinsip fermat,P akan memiliki posisi sedemikian rupa sehingga
waktu lintas cahaya haruslah minimum (atau maksimum atau tetap tidak
berubah) untuk menyatakan hokum pemantulan.




Untuk membuktikan hukum pemantulan dengan prinsip fermat gambar
dibawah ini yang menunjukan dua titik A dan B dalam dua medium yang berbeda
dan sinar APB menghubungkan dua titik tersebut. Untuk waktu t tertentu

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


79
Besaran 1 = (n
1
l
1
+ n
2
l
2
) disebut panjang lintasan optis.

Prinsip fermat menyatakan bahwa l adalah minimum (atau maksimum
atau tidak berubah) sehingga dapat diperoleh nilai X tertentu yang memenuhi
syarat dl/dx sama dengan nol. Dengan demikian panjang lintasan optis adalah

Bila dideferensialkan terhadap x diperoleh

Karena dl/dx = 0 maka

Persamaan ini ekivalen dengan

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


80
yang tidak lain adalah hokum pemantulan.



















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


81










Jika disusun suatu sistem optis seperti gambar diatas, maka dengan
mengubah-ubah kedudukan dimana bayangan jarum sama besarnya dengan
benda jarum.
Jarak antara D dan pusat optic pada kedudukan tersebut sama dengan
focus lensa tersebut (f). Bila cermin datar diambil dari kedudukan D di atas maka
di dapat persamaan :




Dimana :
R1 = jari-jari lensa kelengkungan permukaan
p = jarak dari D ke pusat optic lensa

bila permukaan kelengkungan atas dan bawah sama maka :
R1 = R1 . R2 = R2
Maka diperoleh :




Laporan Praktikum Fisika Dasar II


82
Dimana :
R2 = jari-jari kelengkungan atas lensa
n = indeks bias lensa
Bila di atas cermin diberi zat cair kemudian diletakkan lensa di atasnya, maka
dengan mengatur kedudukan D seperti di atas didapat persamaan :

Dimana :
F’’ = jarak focus lensa gabungan
n’ = indeks bias zat cair











Laporan Praktikum Fisika Dasar II


83
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

1. Meletakkan cermin datar di M
2. Meletakkan lensa di atas cermin datar
3. Mengusahakan ujung jarum berada pada sumbu utama lensa
4. Mengatur kedudukan jarum sehingga diperoleh bayangan yang sama besar
dengan jarum (mata berada di sumbu utama lensa dan pakailah loupe)
5. Mencatat jarak antara D dan pusat optic lensa
6. Membalik kedudukan lensa (bertanda R1 dan R2)
7. Mengulangi percobaan 3 s/d 5 dalam keadaan ini beberapa kali (ditentukan
oleh asisten)
8. Mengambil cermin dan melakukan pengamatan no 1 s/d 7 untuk beberapa
kali (ditentukan oleh asisten)
9. Mengambil lensa, meletakkan cermin di atas meja dan tetesi dengan zat cair,
kemudian meletakkan lagi di atas lensa tersebut di atas zat cair
10. Melakukan percobaan 2 s/d 7 untuk keadaan ini.







Laporan Praktikum Fisika Dasar II


84
BAB IV
HASIL DAN ANALISA
4.1 Cermin dan Lensa
No. p1 (cm) p2 (cm)
1 11.5 11.5
2 11.5 11.6
3 11.6 11.7
4 11.8 11.6
Total 46.4 46.4
Rata-rata 11.6 11.6

4.2 Lensa
No. p1 (cm) p2 (cm)
1 5.8 5.8
2 5.7 5.8
3 5.8 5.7
4 5.9 5.9
Total 23.2 23.2
Rata-rata 5.80 5.80

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


85
4.3 Cermin, Air dan Lensa
No. p1 (cm) p2 (cm)
1 11.8 12
2 11.9 11.8
3 12 11.9
4 11.9 11.9
Total 47.6 47.6
Rata-rata 11.9 11.9

















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


86
4.5 PEMBAHASAN

Lensa yang digunakan pada pengamatan ini adalah lensa cembung.
Karena lensa cembung bersifat konvergen atau bersifat mengumpulkan cahaya,
sehingga cahaya yang melewati lensa cembung akan mengumpul pada suatu
titik, titik tersebut adalah titik fokus. Titik fokus yang dapat ditentukan dari lensa
cembung digunakan untuk mencari indeks bias lensa dan indeks bias air.
Pembiasan itu sendiri adalah pembelokan cahaya yang disebabkan adanya
perbedaan medium. Pada percobaan yang pertama dan kedua pembiasnya
berupa lensa sedangkan pada percobaan ketiga pembiasnya berupa lensa dan
air. Tidak semua cahaya dapat dibiaskan sempurna, akan tetapi ada sebagian
cahaya yang dipantulkan. Hal ini terjadi karena atom-atom dalam medium
seperti lensa menyerap cahaya dan memantulkannya kembali dengan frekuensi
yang sama ke semua arah. Gelombang-gelombang yang dipantulkan kembali
oleh atom-atom medium tersebut menginterferensi secara konstruktif pada
sebuah sudut yang sama dengan sudut datang untuk menghasikan gelombang
yang terpantul.
Percobaan dengan menggunakan cermin dan lensa akan menghasilkan
jarak titik fokus lensa apabila diperoleh bayangan jarum yang simetris dengan
jarum. Hal ini didasarkan pada benda yang ditempatkan tepat pada fokus akan
menghasilkan bayangan yang sama besar dengan benda.
Pada Percobaan tanpa menggunakan cermin dan cairan, dilakukan pada
intensitas cahaya yang tinggi. Sebab pembentukan bayangan pada lensa sangat
tipis, pada lensa terdapat dua bayangan yang tebentuk. Bayangan yang letaknya
sejajar benda dan terbalik terhadap benda.
Pada saat ditambahkan air, jarak jarum terhadap jari – jari kelengkungan
lensa bertambah. Hal itu disebabkan karena terjadi pembiasan cahaya yang
mengakibatkan jarak antara jari – jari kelengkungan lensa terhadap jarum
bertambah, sehingga tampak pengaruh pembiasan terhadap cahaya yang
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


87
melewati lensa. Pengaruh ini disebabkan oleh cahaya yang telah dibiaskan oleh
lensa dibiaskan lagi oleh air sehingga jarak fokus f’ yang merupakan titik fokus
gabungan lensa dengan air lebih besar daripada f. Fungsi cermin pada percobaan
ini sebagai pembentuk bayangan yang terbentuk pada lensa.

















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


88
BAB V
KESIMPULAN

Dari data hasil percobaan didapatkan :
1. Jarak fokus antara benda dengan cermin dan lensa sebesar 5.80 cm
2. Jarak fokus antara benda dengan lensa sebesar 2.90 cm
3. Jarak fokus antara benda dengan cermin, lensa dan air sebedar 5.95 cm
4. Harga R1 dan R2 sebesar 11.60
5. Harga indeks bias lensa sebesar 1.50
6. harga indeks bias zat cair sebesar 0.95
Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa lensa tersebut simetris.











Laporan Praktikum Fisika Dasar II


89




















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


90




















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


91




















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


92




















Laporan Praktikum Fisika Dasar II


93
TUGAS PENDAHULUAN DAN TUGAS AKHIR


A. Jawaban Tugas Pendahuluan
1. Terangkan mengapa p pada gambar .2 sama dengan f dari lensa
Jawab:
Karena apabila jarum digeser naik atau turun akan didapat suatu
kedudukan dimana bayangan jarum akan sama besar dengan jarum
aslinya. Maka P=f lensa, karena jarak P itu tepat diperoleh bayangan
sama dengan benda aslinya.

2. Dimanakah titik optic lensa gabungan pada persamaan rumus (2)
petunjuk pada pertanyaan 1 bayangan yang terjadi dari pembiasan
seluruh lensa. Pada rumus (1) bayangan yang terjadi dari pembiasan
permukaan lensa bagian atas dan pantulan oleh bawah lensa.
Jawab:
Letak titik optic lensa ► jarak D dengan pusat optic lensa (tanpa cermin
datar)


Persamaan (3) lensa optic gabungan lensa didapatkan dari jari-jari lensa
yang dihitung menggunakan jangka sorong dan hasilnya dibagi dua
sehingga pada persamaan (3) angka 2 yang menyatakan perbandingan
lurus ½ hasil jari-jari perhitungan gabungan lensa.
3. Pada rumus (3) terjadi lensa gabungan dari lensa L dan lensa Planconcaf
dari zat cair dan pemantulan oleh cermin di bawah lensa.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


94
Jawab:
Pada persamaan (4) yaitu

memperlihatkan adanya
gabungan lensa yang terlihat dari f’’ yang berarti bayangan yang berasal
dari lensa bayangan sebelumnya f’ dan n’’ menunjukkan bahwa lensa
gabungan ini menggunakan zat cair atau cermin.


B. Jawaban Tugas Akhir

1. Tentukan focus lensa beserta kesalahannya (sesatannya)
Jawab:
a. Jarak Fokus antara Benda dengan Cermin dan Lensa
Karena p = p’, maka :

[

]

[

]

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


95
b. Jarak Fokus antara Benda dengan Lensa

[

]

[

]

c. Jarak Fokus antara Benda dengan Cermin, Lensa dan Air

[

]

[

]

2. Apakah harga f berubah dengan membalik lensa tersebut? Terangkan!
Jawab:
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


96
Dari data yang diperoleh, rata-rata p1 sama dengan p2, sehingga harga f1
dan f2 sama. Berarti harga f tidak berubah dengan membalikkan lensa
tersebut, hal ini menunjukkan bahwa lensa tersebut simetris.

3. Hitung harga R1 dan R2 apakah R1 dapat dianggap sama dengan R2 gunakan
rata-rata f no.1
Jawab:

[

]

[

]

[

]

[


]

[

]

[

]

[

]

[


]

Harga R1 dan R2 dianggap sama, karena nilai p1 dan p2 nya sama.

4. Hitung harga indeks bias lensa beserta kesalahannya (sesatannya)
Jawab:
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


97











5. Hitung harga indeks bias zat cair beserta kesalahannya (sesatannya)
Jawab:


6. Jelaskan dimana sumber kesalahan terbesar pada percobaan ini
Jawab:
Sumber kesalahan terbesar pada percobaan ini adalah terletak pada:
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


98
a) Pengamatan mata, hal ini dapat terjadi karena adanya kesalahan dalam
pengamatan antara bayangan dengan benda, yang mungkin telah
dianggap sama ternyata belum.
b) Kualitas Lensa, lensa yang tergores atau pecah dapat mempengaruhi
ketepatan dalam melihat bayangan benda, semakin baik lensa maka
semakin jelas bayangan yang ditimbulkan.
c) Klem dan statif, sebaiknya digunakan yang masih baik, karena klem
yang kurang baik menjadikan posisi benda menjadi tidak stabil,
sehingga mempengaruhi pengamatan saat pengukuran.
d) Intensitas cahaya. Pada percobaan ini, faktor yang sangat berpengaruh
adalah intensitas cahaya. Karena semakin tinggi intensitas cahaya yang
tersedia bayangan yang terbentuk pada lensa semakin jelas. Hal ini akan
mempermudah pengukuran pada percobaan, sehingga dalam
menentukan perhitungan terhadap data yang diperoleh dapat akurat.
Tingkat keakuratan pengukuran pada percobaan dapat diketahui dari
presentase ralat yang dilakukan.




Laporan Praktikum Fisika Dasar II


99
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA


Yasin, dkk. 2008. Laporan Praktikum Fisika Dasar 1 Percobaan Indeks Bias dan
Zat Cair: Institut Teknologi Sepuluh Nopember
www.mediabelajaronline.blogspot.com
www.aktifisika.wordpress.com
www.sidikpurnomo.net
www.wikipedia.com














Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
0






MODUL 4
RESISTANSI KULIT







Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
1
RESISTANSI KULIT

I. DASAR TEORI
Resistansi kulit adalah hambatan pada kulit. Dalam dunia elektronika bisanya
digunakan sebagai penghambat arus listrik. Hal yang bisa mempengaruhi
resistansi kulit manusia misalnya suhu, kondisi emosional seperti stress. Stress
merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari hari. Ketika
seseorang mengalami stress maka akan terjadi peningkatan psikologis didalam
tubuh. Dimana parameter-parameter fisiologi yang berubah akibat seseorang
mengalami stress sangat beragam, diantaranya adalah perubahan detak jantung,
perubahan pupil mata, resistansi kulit dan tekanan darah.

Galvanic Skin Respon (GSR) atau resistansi kulit saat ini lebih populer disebut
sebagai Electrodermal Respon (EDR) adalah sebuah metode yang dapat
digunakan untuk menangkap respon sistem saraf otonom sebagai sebuah
parameter dari fungsi kelenjar keringat. Secara fisik GSR adalah sebuah
perubahan elektrik kulit didalam respon terhadap berbagai macam stimuli.
Dengan kata lain GSR adalah perubahan psikologis pada kulit akibat dari
perubahan aktifitas kelenjar keringat, dimana kelenjar keringat akan aktif bila
tubuh dalam kondisi stress atau berada pada kondisi tertekan.
Pada dasarnya alat ini akan memonitor perubahan psikologis sinyal tubuh ketika
seseorang mengalami berbagai macam tekanan. Proyek akhir ini sinyal GSR akan
difiltering pada frekuensi 0,5 sampai 20 Hz. Kemudian sinyal tersebut dikirimkan
ke PC melalui port serial(COM) untuk ditampilkan dan dimonitoring pada PC
dengan parameter pembanding sinyal tekanan darah.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
2
Menurut penelitian di Science Centre Singapore (2009), “Berjalannya arus listrik
melalui tubuh manusia biasanya ditentukan oleh resistensi kulit, yang berkisar
dari sekitar 1000 Ω untuk kulit basah untuk sekitar 500.000 Ω untuk kulit kering.
Hambatan internal dari tubuh kecil, yaitu antara 100-500 Ω.”

Resistansi tubuh manusia terhadap aliran listrik berubah-ubah sesuai
dengan kondisinya. Resistansi tubuh manusia terdapat hampir pada semua
kulit tubuh. Kulit tubuh terdiri atas 2 (dua) lapisan, lapisan luar dan lapisan
dalam. Lapisan luar tersusun dari sel-sel sisik (scally cell) yang mempunyai
resistansi yang tinggi pada keadaan kering, bersih dan tidak sobek. Untuk kulit
lapisan dalam, karena adanya cairan tubuh, memiliki resistansi relatif lebih
rendah, yakni sekitar 300 Ω .

Jadi jika kulit sedang kering, resistansi menjadi tinggi dan cukup untuk
melindungi dari bahaya sengatan listrik. Tetapi untuk mendapatkan kondisi
kulit yang benar-benar kering adalah hal yang jarang dijumpai.
Kecenderungannya setiap orang akan mengeluarkan keringat walaupun hanya
sedikit. Oleh karena itu dianggap bahwa tubuh selalu basah, resistansi listrik
menjadi rendah.

Selain itu, resistansi tubuh juga dipengaruhi oleh jenis kelamin. Wanita dewasa
memiliki resistansi tubuh yang berbeda dengan laki-laki dewasa. Resistansi
tubuh wanita dewasa lebih rendah dibanding resistansi tubuh laki-laki dewasa.
Oleh karena itu arus listrik yang mengalir ke tubuh wanita dewasa cenderung
lebih besar.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
3
Jadi, hal-hal yang mempengaruhi resistansi tubuh manusia adalah :


Gambar Hal Mempengaruhi Resistansi

Menurut Prof. Drs. Physiol dan Dr. YS. Santoso Giriwijoyo, sel-sel dalam tubuh
manusia yang jumlahnya lebih dari 1 trilyun, masing-masing mempunyai muatan
listrik sebesar 90 V/m dengan muatan positif di luar membran sel dan muatan
negative di dalamnya. Listrik yang dihasilkan di dalam tubuh berfungsi untuk
mengendalikan dan mengoperasikan saraf, otot dan berbagai organ. Kerja otak
pada dasarnya bersifat elektrik.

Nilai resistansi kulit manusia sebenarnya tersebar di seluruh permukaan kulit,
namun menurut hasil riset, nilai resistansi terendah terletak di tangan. Itulah
sebabnya orang banyak kesetrum lewat kontak tangan.

Komponen listrik yang mengalir dalam tubuh sesuai dengan hukum ohm
dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu arus , resistansi tubuh dan tegangan sentuh.

R= V/I

Dimana R= resistansi tubuh
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
4
V= tegangan sentuh kulit
I= arus yang mengalir dalam tubuh

Besarnya arus yang mengalir di tubuh, berbeda-beda nilainya. Saat kita dialiri
arus dengan nilai arus tertentu, berbeda pula akibat yang dirasakan.

Besar arus Pengaruhnya pada tubuh manusia
0 – 0,9 mA Belum merasakan pengaruh
0,9 – 1,2 mA Baru terasa adanya arus listrik tapi tidak
menimbulkan kejang
1,2 – 1,6 mA Mulai terasa se akan2 ada yang merayap didalam
tangan
1,6 – 6,0 mA Tangan sampai kesiku merasa kesemutan
6,0 – 8,0 mA Tangan mulai kaku, rasa kesemutan makin
bertambah
13 – 15,0 mA Rasa sakit tak tertahankan penghantar masih
dapat dilepas
15 – 20,0 mA Otot tidak sanggup lagi melepaskan penghantar
20 – 50,0 mA Dapat mengakibatkan kerusakan pada tubuh
manusia
50 – 100,0 mA Batas arus yang dapat menyebabkan kematian

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
5


Tegangan sentuh

Tegangan (contact voltage) ini timbul ketika seseorang memegang sebuah benda
atau konduktor yang sedang dialiri arus dimana orang tersebut juga terhubung
ke ground.
Besar arus yang mengalir dibatasi oleh nilai resistansi dari tubuh manusia
tersebut,
Tegangan Sentuh Yang Tidak Membahayakan
Durasi (detik) Tegangan Sentuh (Volt)
0.1 1.980
0.2 1.400
0.3 1.140
0.4 990
0.5 890
1 626
2 443
3 362
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
6

Pemanfaatan dari resistansi kulit diantaranya adalah untk mendeteksi
kebohongan. Alatnya bernama Detektor Bohong
Prinsip dari detektor kebohongan
telah diketahui secara luas; keadaaan emosi seseorang tidak hanya ditandai
dengan detak jantung yang lebih cepat, dan tangan yang bergetar, tetapi juga
dengan meningkatnya kadar air pada permukaan kulit. Karena kulit menjadi
berair, maka reistansinya akan lebih rendah dan ini akan menyebabkan detektor
kebohongan bereaksi. Detektor kebohongan ini sesungguhnya memberikan dua
pembacaan : satu untuk orang percobaan ketika ditanyakan soal yang sulit dan
satu lagi untuk menunjukkan keadaan emosi umum dari seseorang.

Dua potong kawat lentur digulung pada jari-jari atau pergelangan tangan dan di
pergunakan sebagai penerima. Tentu berarti kontak langsung dengan rangkaian
dan oleh karena itu harus diberi tegangan 9 V.
Tiap perubahan resistansi, oleh karena itu tegangannya pula, pada masukan
rangkaian akan diperkuat oleh penguat operasional (op-amp) A
1
, yang juga akan
berlaku sebagai penyangga. Hasilnya, isyarat keluaran akan memberikan
pembacaan. Meter yang paling cocok untuk tujuan ini adalah jenis yang dipakai
penerima FM pada penunjuk penala, yaitu nol di tengah. Kapasitor C
1
menjamin
penekanan dengung (hum) yang muncul.

Keadaan emosi dari seseorang dapat ditentukan dengan mengukur resistansi
rata-rata kulit pada suatu jangka waktu. Tanda ini diberikan oleh sebuah meter
yang dihubungkan ke titik B pada rangkaian.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
7
Penguat operasional A
2
terhubung sebagai integrator dan memungkinkan
rangkaian mengatur secara otomatis harga rata-rata resistansi kulit. Jangka
waktu lamanya resistansi diukur ditentukan terutama oleh R
5
, C
2
, C
3
. Bila waktu
ini habis, meter yang tersambung pada keluaran B tak akan memberikan suatu
pembacaan (meter biasa dapat dipakai), akan tetapi dioda D
1
dan D
2
menjamin
bahwa rangkaian segera bekerja secepat mungkin.

Potensiometer P
1
memungkinkan penundaan waktu dari rangkaian. Karena
resistansi kulit berbeda dari satu orang dengan yang lainnya maka perlu untuk
merubah harga resistor R
1
. Bila perlu perbaikan lebih jauh dapat dilakukan
dengan mengganti resistor ini dengan potensiometer.

Pembacaan meter B yang terlalu tinggi menunjukkan bahwa resistansi dari orang
percobaan rendah (karakteristik orang dengan tangan basah / lembab) dan
dianjurkan untuk mengurangi harga R
1.


Mendeteksi kebohongan memang bukan hal mudah. Meskipun ada tanda-tanda
tertentu ketika seseorang berbohong. Tapi dengan alat pendeteksi kebohongan
atau Polygraph, seorang yang ahli berbohong pun tidak akan bisa mengelak.
Bagaimana cara kerja alat itu? Tiap orang memang memiliki gaya berbohong
yang berbeda-beda. Banyak alasan yang dikemukakan saat berbohong, namun
umumnya seseorang berbohong sebagai suatu mekanisme pertahanan diri untuk
menghindari masalah. Sebuah alat yang diciptakan khusus untuk mendeteksi
kebohongan pun akhirnya diciptakan. Alat yang diberi nama Polygraph itu
diciptakan pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902. Kemudian pada
tahun 1921, dibuat versi modernnya oleh John Larson, yang dulu merupakan
mahasiswa University of California.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
8
Polygraph banyak digunakan oleh kepolisian atau FBI untuk melakukan interogasi
dan investigasi suatu kasus. Namun alat ini masih menuai kontroversi terutama
di kalangan psikolog. Mereka mengatakan tidak ada standar khusus yang bisa
mendeteksi kebohongan. Cara kerja Polygraph adalah dengan mencatat dan
merekam seluruh respons tubuh secara simultan ketika seseorang diberi
pertanyaan. Secara sederhana, ketika seseorang berbohong, ucapan yang
dikeluarkannya akan menghasilkan reaksi psikologis di dalam tubuh yang akan
mempengaruhi kerja organ tubuh seperti jantung, kulit, dan lainnya.

Melalui sensor yang dihubungkan pada bagian tubuh atau organ tersebut,
diketahuilah grafik perubahan fungsi organ tersebut, diantaranya grafik bernafas,
detak jantung, tekanan darah, keringat dan lainnya. Pemeriksaan dengan
Polygraph umumnya mencapai 2 jam dengan tingkat keakuratan hingga 90
persen. Satu paket alat Polygraph terdiri atas monitor dan alat sensor digital
lainnya yang dihubungkan ke seluruh bagian tubuh untuk mengetahui perubahan
atau fluktuasi psikologia ketika seseorang berbicara jujur atau bohong.

Begini prosedur kerjanya
1. Seseorang yang akan diuji dengan alat Polygraph duduk di bangku. Di
dalam ruangan interogasi hanya ada dua orang, yaitu penguji (Forensic
Psychophysiologist) dan orang yang diuji.
2. Beberapa sensor yang terhubung dengan kabel-kabel pada alat Polygraph
dipasang di tubuh orang yang akan diuji. Sensor tersebut antara lain yaitu
:
1. Pneumograph, untuk mendeteksi ritme nafas, ditempelkan pada
bagian dada dan perut, bekerja ketika ada kontraksi di otot dan udara di
dalam tabung.
2. Blood Pressure Cuff, untuk mendeteksi perubahan tekanan darah dan
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


10
9
detak jantung, ditempelkan pada bagian lengan atas, bekerja seiring
dengan suara yang muncul dari denyut jantung atau aliran darah.
3. Galvanic skin resistance (GSR), untuk mendeteksi keringat terutama di
daerah tangan, ditempelkan pada jari-jari tangan, bekerja dengan
mendeteksi seberapa banyak keringat yang keluar ketika dalam keadaan
tertekan dan berbohong.

3. Penguji kemudian memberikan beberapa pertanyaan kepada seseorang
mengenai suatu topik, isu atau kasus.
4. Penguji akan membaca grafik tersebut dan mengetahui apakah ada reaksi
yang tidak normal atau fluktuatif.
5. Fluktuasi yang terbaca oleh alat Polygraph akan menentukan apakah
seseorang berbohong atau jujur.

Dapat digambarkan sebagai berikut :
Terdeteksi bohong atau tidaknya seseorang terbaca alat polygraph terlihat pada
grafik kondisi nafas input berupa ritme nafas, tekanan darah, dan intensitas
keringat tubuh
Keringat adalah respon dari keadaan emosional. Saat kita grogi atau gugup, ada
peningkatan aktivitas saraf simpatis dalam tubuh yang juga mengakibatkan
kenaikan sekresi ephinerphin dari kelenjar adrenalin.

Substansi ini bekerja pada kelenjar keringat, yakni pada telapak tangan dan
ketiak, memproduksi keringat. Hal inilah yang menyebabkan “keringat dingin”
tersebut. Semakin grogi seseorang, aktivitas ephinerphin pun semakin
meningkat. Akibatnya? Tentu saja, keringat semakin menjadi-jadi . Peningkatan
aktivitas saraf simpatis ini juga mengakibatkan perubahan resistansi elektrik kulit.
Biasanya, hal inilah yang menjadi basis penggunaan lie detector.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
0

II. PERALATAN
1. Elektroda Ag-AgCl dan jeli.
2. Ampere meter
3. Sumber arus DC ( baterei 1.5 volt/
4. Air Panas (400C) dan air dingin (100C)
5. Termometer
6. Stopwatch

III.PROSEDUR PERCOBAAN
1. Dibuat rangkaian alat pengukur resistansi kulit seperti pada gambar
diatas
2. Diukur arus listrik pada salah satu telapak tangan dalam kondisi kering
dengan sebelumnya di beri jeli secukupnya.
3. Mengulangi langkah 2 dengan telapak tangan yang telah direndan air
bersuhu normal selama 3 menit
4. Mengulangi langkah 2 dengan telapak tangan yang telah direndan air
bersuhu 400C selama 3 menit
5. Mengulangi langkah 2 dengan telapak tangan yang telah direndam air
bersuhu 10OC selama 3 menit
6. Diamati dan dianalisa hasil percobaan.

IV.HASIL PERCOBAAN

NO NAMA KONDISI KULIT
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
1
KERING BASAH NORMAL BASAH HANGAT BASAH DINGIN
I (mA) I(mA) T(
0
C) I(mA) T(
0
C) I(mA) T(
0
C)
1 ARINI 9 6 27 5 41 4 20
2 NOVIE 18 5 27 5 39 6 21
3 NURUL 11 6 27 6 46.5 4 19
4 HENDRIK 11 7 28 7 43 5 23
5 WINOTO 13 9 27 10 10 8 19




VI. TUGAS AWAL

1. Jelaskan bagaimana GSR dapat diaplikasikan untuk deteksi kebohongan
2. Jika terjadi penurunan resistansi kulit, apakah yang akan terjadi dengan
temperatur kulit !
3. Mengapa GSR digunakan pada telapak tangan !
4. Apa yang terjadi jika resistansi kulit meningkat hingga 1 MQ !
5. Mengapa elektroda yang digunakan adalah Ag-AgCl ?
6. Mengapa harus digunakan sumber arus DC? Apakah yang terjadi jika
diberikan arus AC?
7. Apakah yang dimaksud dengan metoda peletakan elektroda bipolar dan
unipolar? Belum
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
2
8. Jelaskan timbulnya kelistrikan dalam tubuh!
JAWABAN
1. Aplikasinya adalah bila alat GSR ditempelkan pada telapak tangan
pada manusia maka alat tersebut bisa menangkap reaksi yang terjadi
pada telapak tangan misalnya aktifitas keringat. Aktifitas keringat
tersebut sebagai indikator kondisi emosional seseorang. Semakin
berkeringat maka resistansi kulit akan menurun. Hal ini menunjukan
bahwa orang tersebut sedang mengalami tekanan emotional seperti
berbohong. Sehingga kebohongan pun bisa terdeteksi.
2. Temperatur kulit meningkat. Karena resisitansi kulit berbanding
terbalik suhu.
3. Karena kondisi kulit tangan berpori dan memiliki resistansi yang kecil
sehinggan lebih mudah diukur resistansinya dibandingkan organ
tubuh yang lain. Dimana nilai dari tegangan kulit yang diukur, apabila
diukur dengan mengunakan alat ukur tegangan kulit (GSR) maka nilai
dari hasil pengukuran akan sama dengan tegangan pada tubuh
manusia yang diukur.
4. m
5. Dengan menggunakan elektroda yang terbuat dari bahan perak /
perak klorida (Ag/AgCl) meminimalkan overpotentials (selisih antara
potensial setengah sel diamati untuk sirkuit tertentu dan potensial
setengah sel standar). Dimana potensial standar (E0) adalah potensi
1M konsentrasi larutan pada suhu 25 ° C ketika tidak ada arus di
seluruh antarmuka. Untuk Ag+Cl-, nilai potensial E0=+0.223V.
sedangkan untuk Ag, nilai potensial E0=+0.799V (data didapat dari
Medical Instrumentation Aplication and Design).
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
3
6. Karena arus DC memiliki arus yang stabil sehingga resistansi bisa
terbaca dengan optimal. Bila memakai arus AC resistansi yang terbaca
bukan yang sebenarnya dan bisa menyebabkan kelistrikan ( kesetrum
) pada tubuh.
7. Peletakan bipolar adalah peletakan elektroda dimana hanya
menggunakan 2 elektroda. Contohnya pada alat GSR. Peletakan
unipolar adalah adalah peletakan elektroda dimana menggunakan
banyak elektroda. Contohnya pada alat EKG.
8. Sel-sel dalam tubuh manusia yang jumlahnya lebih dari 1 trilyun,
masing-masing mempunyai muatan listrik sebesar 90 V/m dengan
muatan positif di luar membran sel dan muatan negative di dalamnya.
Listrik yang dihasilkan di dalam tubuh berfungsi untuk mengendalikan
dan mengoperasikan saraf, otot dan berbagai organ. Kerja otak pada
dasarnya bersifat elektrik.

V.TUGAS AKHIR

1. Hitunglah resistansi kulit dari percobaan yang dilakukan!
2. Bandingkan perbedaan resistansi kulit dari masing masing orang!
3. Jelaskan pengaruh dari suhu kulit dengan resistansi kulit!
4. Jelaskan timbulnya kelistrikan dalam tubuh!
5. Sebutkan hal – hal apa saja yang mempengaruhi resistansi seseorang
berdasarkan percobaan yang telah dilakukan!
6. Jelaskan menurut pendapat anda apakah kuantitas jeli yang diberikan
pada elektroda akan mempengeruhi resistansi ? Apakah jeli dapat
digantikan?

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
4
JAWABAN
1. Bila V=1.5 volt
R= V/I
NO NAMA
KONDISI KULIT
KERING BASAH NORMAL BASAH HANGAT BASAH DINGIN
I (A) R(Ω) I (A) R(Ω) I (A) R(Ω) I (A) R(Ω)
1 ARINI 0.009 166.6667 0.006 250 0.005 300 0.004 375
2 NOVIE 0.018 83.3333 0.005 300 0.005 300 0.006 250
3 NURUL 0.011 136.3636 0.006 250 0.006 250 0.004 250
4 HENDRIK 0.011 136.3636 0.007 214.2857 0.007 214.2857 0.005 300
5 WINOTO 0.013 115.3846 0.009 166.6667 0.01 150 0.008 187.5000

2. Perbedaannya sangat beragam. Contonya perbedaan resistansi pada kulit
kering, kulit basah normal, kulit basah hangat dan kulit basah dingin
sangat bervariasi. Setiap orang memiliki resistansi kulit yang berbeda –
beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan suhu kulit tangan tiap orang
berbeda – beda, ketebalan kulit tiap orang berbeda , kondidi emosional
dan genderpun berbeda.
3. Pengaruhnya suhu air bisa menimbulkan perubahan resistansi kulit
manusia. Karena suhu kondisi kulit manusia akan berubah contonya pada
suhu hangat . Resistansinya akan lebih besar dibandingkan dengan suhu
normal.Hal ini dikarenakan resistansi berbanding lurus dengan suhu.
Semakin tinggi suhu maka semakin tinggi pula resistansi kulitnya .
4. Sel-sel dalam tubuh manusia yang jumlahnya lebih dari 1 trilyun, masing-
masing mempunyai muatan listrik sebesar 90 V/m dengan muatan positif
di luar membran sel dan muatan negative di dalamnya. Listrik yang
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
5
dihasilkan di dalam tubuh berfungsi untuk mengendalikan dan
mengoperasikan saraf, otot dan berbagai organ. Kerja otak pada dasarnya
bersifat elektrik.
5. Resistansi tubuh manusia terhadap aliran listrik berubah-ubah sesuai
dengan kondisinya. Resistansi tubuh manusia terdapat hampir pada
semua kulit tubuh. Kulit tubuh terdiri atas 2 (dua) lapisan, lapisan luar
dan lapisan dalam. Lapisan luar tersusun dari sel-sel sisik (scally cell)
yang mempunyai resistansi yang tinggi pada keadaan kering, bersih dan
tidak sobek. Untuk kulit lapisan dalam, karena adanya cairan tubuh,
memiliki resistansi relatif lebih rendah, yakni sekitar 300 Ω .Jadi jika kulit
sedang kering, resistansi menjadi tinggi dan cukup untuk melindungi
dari bahaya sengatan listrik. Tetapi untuk mendapatkan kondisi kulit
yang benar-benar kering adalah hal yang jarang dijumpai.
Kecenderungannya setiap orang akan mengeluarkan keringat walaupun
hanya sedikit. Oleh karena itu dianggap bahwa tubuh selalu basah,
resistansi listrik menjadi rendah.Selain itu, resistansi tubuh juga
dipengaruhi oleh jenis kelamin. Wanita dewasa memiliki resistansi tubuh
yang berbeda dengan laki-laki dewasa. Resistansi tubuh wanita
dewasa lebih rendah dibanding resistansi tubuh laki-laki dewasa. Oleh
karena itu arus listrik yang mengalir ke tubuh wanita dewasa
cenderung lebih besar.Tebal tipisnya kulit juga membpengaruhi
resistansi kulit manusia. Semakin tebal kulit maka resitansi kulitnya akan
semakin besar. Sebaliknya selakin tipis kulit manusia maka resistansi
kulitnya akan semakin kecil.
6. Tidak mempengaruhi. Jeli tersebut hanya berperan sebagai penurun
tegangan kulit. Sehingga elektroda bisa menempel dengan kuat . Selain
itu jeli berperan sebagai penghubung antara kulit dengan alat .

VI. KESIMPULAN
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
6
1. Aktifitas keringat dan kondisi emotional bisa terbaca oleh alat
pengukur resistansi kulit. Aktifitas keringat dan kondisi emotional bisa
terbaca dengan adanya perubahan resistansi pada kulit.
2. Mengukur resistansi kulit dengan cara mengalirkan arus listrik.
Besarnya resistansi kulit bisa dihitung dengan membagi tergangan
yang dialirkan dibagi dengan kuat arusnya.
3. Besaran besaran listrik dalam tubuh diantaranya hambatan atau R
(Ω), tegangan atau V (volt) dan arus listrik atau I ( Ampere). Hambatan
berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan
kuat arus listrik.

























Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
7




MODUL 6
HUKUM OHM












BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Tujuan Percobaan :
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
8
1. Menentukan karakteristik beberapa komponen listrik dengan
menggunakan amperemeter dan voltmeter.
2. Mengenal hubungan seri dan paralel.

I.2. Alat Percobaan :
1. Amperemeter DC
2. Voltmeter DC
3. Sumber arus DC
4. Beberapa komponen (lampu, hambatan, NTC dan dioda)
5. Kabel –kabel penghubung.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


11
9
II.1. Teori Penunjang :
Sebuah elemen listrik X, bila diberi beda potensial maka akn dialiri
arus listrik di dalamnya. Untuk suatu hambatan biasa, pada umumnya
grafik karakteristiknya I vs V adalah linier memenuhi persamaan :
E = I . R ……………….(1)
Dimana :
E : beda potensial antara ujung – ujung elemen
I : kuat arus yang melalui elemen
R : besarnya hambatan
Sedangkan elemen – elemen lainnya tidak linier.
Daya (power) yang diberikan kepada elemen listrik :
P = V . I…………………(2)
Pada percobaan ini digunakan rangkaian metode 1 dan metode 2 ( lihat
gambar 1 dan gambar 2) yang masing – masing mempunyai perbedaan.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
0

Metode 1 memberikan pengukuran tegangan yang sebenarnya pada
elemen X sedangan metode 2 memberikan pengukuran kuat arus yang
sebenarnya yang melalui elemen X.

II. 2. Teori Tambahan :
Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik
yang mengalir melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan
beda potensial yang diterapkan kepadanya
.
Sebuah benda penghantar
dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak
bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan
kepadanya. Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua
jenis penghantar, namun istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan
sejarah.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
1
Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:

dimana I adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam
satuan Ampere, V adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung
penghantar dalam satuan volt, dan R adalah nilai hambatan listrik
(resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm.
Hukum ini dicetuskan oleh Georg Simon Ohm, seorang fisikawan dari
Jerman pada tahun 1825 dan dipublikasikan pada sebuah paper yang
berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada tahun
1827.
Ohm diambil dari nama tokoh fisika George Simon Ohm. Dia
merupakan ilmuan yang berhasil menentukan hubungan antara beda
potensial dengan arus listrik. Selain tiu dia juga menenmukan bahwa
perbandingan antara beda potensial di suatu beban listrik dengan arus
yang mengalir pada beban listrik tersebut menghasilkan angka yang
konstan. Konstanta ini kemudian di kenal dengan Hambatan listrik (R).
Untuk menghargai jasanya maka satuan Hambatan listrik adalah Ohm (Ω).
Bunyi hukum Ohm hampir setiap buku berbeda beda,Tetapi secara garis
besar semuanya hampir sama, ada 2 bunyi hukum Ohm yaitu :
1. Besarnya arus listrik yang mengalir sebanding dengan besarnya
beda potensial (Tegangan). Untuk sementara tegangan dan beda
potensial dianggap sama walau sebenarnya kedua secara konsep
berbeda. Secara matematika di tuliskan I ∞ V atau V ∞ I, Untuk
menghilangkan kesebandingan ini maka perlu ditambahkan
sebuah konstanta yang kemudian di kenal dengan Hambatan (R)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
2
sehingga persamaannya menjadi V = I.R. Dimana V adalah
tegangan (volt), I adalah kuat arus (A) dan R adalah hambatan
(Ohm).
2. Perbandingan antara tegangan dengan kuat arus merupakan
suatu bilangan konstan yang disebut hambatan listrik. Secara
matematika di tuliskan V/I = R atau dituliskan V = I.R.
Keduanya menghasilkan persamaan yang sama, tinggal anda menyukai
dan menyakini yang mana silakan pilih saja karena keduanya benar dan
ada buku literaturnya.
Fungsi utama hukum Ohm adalah digunakan untuk mengetahui
hubungan tegangan dan kuat arus serta dapat digunakan untuk
menentukan suatu hambatan beban listrik tanpa menggunakan
Ohmmeter. Kesimpulan akhir hukum Ohm adalah semakin besar sumber
tegangan maka semakin besar arus yang dihasilkan. Kemudian konsep
yang sering salah pada siswa adalah hambatan listrik dipengaruhi oleh
besar tegangan dan arus listrik. Konsep ini salah, besar kecilnya hambatan
listrik tidak dipengaruhi oleh besar tegangan dan arus listrik tetapi
dipengaruhi oleh panjang penampang, luas penampang dan jenis bahan.






Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
3








BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar.1 dengan memakai
lampu, dan belum di hubungkan dengan sumber tegangan.
Perhatikan besarnya tegangan listrik yang harus digunakan
(ditentukan oleh asisten).
2. Setelah rangakaian diperiksa oleh asisten, dengan persetujuannya,
barulah rangkaian dihubungkan dengan sumber tegangan.
3. Mencatat kuat arus untuk beberapa harga beda potensial dari
yang kecil hingga yang besar (Tanya pada asisten harga – harga
ini). Begitu pula sebaliknya dari yang besar hingga yang kecil.
4. Mengulangi percobaan diatas dengan menggunakan termistor,
NTC, hambatan dan dioda.
5. Mengulangi percobaan 1 s/d 3 dengan menggunakan dua
komponen yang dipasang seri.
6. Mengulangi percobaan 5 dengan komponen dipasang paralel.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
4
7. Mengulangi percobaan 1 s/d 6 untuk rangkaian seperti pada
gambar.2.












BAB IV
DATA PERCOBAAN

a. Tanpa Beban
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
5
No
Pengukuran Naik Pengukuran Turun
E (volt) I (mA) E (volt) I (mA)
1 4 0 11 0
2 5.5 0 7.5 0
3 7.5 0 5.5 0
4 11 0 4 0


b. Dengan Beban
No Komponen
Pengukuran Naik Pengukuran Turun
E (volt) I (mA) E (volt) I (mA)
1 lampu
3.5 40 10.5 70
5 50 7 60
7 60 5 50
10.5 70 3.5 40
2 Dioda
4 0 11 0
5.5 0 7 0
7 0 5 0
11 0 3.5 0
3 Resistor
3.5 40 10 120
5 50 6.5 70
6.5 70 9 50
10 120 3.5 40
4 NTC
3 40 - -
4.5 70 5.5 150
5.5 130 4.5 150
- - 2.5 90




c. Hubungan Seri dan Paralel
No. Komponen
Pengukuran Naik Pengukuran Turun
E (Volt) I (mA) E (Volt) I (mA)
1
Lampu 3.5 10 10 50
& 5 20 6.5 40
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
6
Resistor 6.5 30 5 20
(Terhubung Seri) 10 50 3.5 10
2
Lampu 2.5 70 9 180
& 4 100 5.5 130
Resistor 5 120 4.5 100
(Terhubung Paralel) 9 180 3 70

a. Dengan Beban
No Komponen
Pengukuran Naik Pengukuran Turun
E (volt) I (mA) E (volt) I (mA)
1 lampu
3.5 40 10.5 80
5.5 50 7 60
7 60 5.5 50
10.5 80 3.5 40
2 Dioda
4 0 11 0
5.5 0 7 0
7.5 0 5.5 0
11 0 4 0
3 Resistor
3.5 40 10.5 120
5 60 7 80
7 80 5 60
10.5 120 3.5 40
4 NTC
3.5 40 - -
5.5 80 7 170
7 140 5 130
- - 3.5 80


Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
7


b. Hububgan Seri dan Paralel
No. Komponen
Pengukuran Naik Pengukuran Turun
E (Volt) I (mA) E (Volt) I (mA)
1
Lampu 3.5 10 10.5 60
& 5.5 20 7 40
Resistor 7 40 5.5 20
(Terhubung Seri) 10.5 60 3.5 10
2
Lampu 3.5 80 10.5 180
& 5 100 7 130
Resistor 7 130 5 100
(Terhubung Paralel) 10.5 180 3.5 80





LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
1. Memberi koreksi bila diketahui hambatan dalam voltmeter adalah
dengan menggunakan rumus IR + IR
V
= I (R+R
V
)
2. Pada gambar.2 cara memberi koreksinya dengan menggunakan
rumus IA=

(

)
3. Rangkaian yang pling baik untuk percibaan ini adalah rangkaian
paralel, karena tidak bergantung pada arus.
4. Pengaruh suhu/temperature adalah semakin tinggi temperature
suatu penghantar, semakin tinggi pula getaran elektron-elektron
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
8
bebas dalam penghantar. Elektron-elektron tersebutlah yang akan
menghambat jalannya muatan listrik dan penghantar tersebut.
5. Hambatan ohmik adalah hambatan yang tidak dipngaruhi oleh
arus, sedangkan non ohmik adalah hambatan yang dipengaruhi
oleh arus.


TUGAS AKHIR
1. Menghitung hambatan dari setiap komponen
2. Menghitung hambatan seri dan paralel
3. Menghitung daya yang diberikan pada setiap komponen.

1. Tanpa Beban
No
Pengukuran
Naik
pengukuran
Turun
Hambatan
1 ∞ ∞
2 ∞ ∞
3 ∞ ∞
4 ∞ ∞

Laporan Praktikum Fisika Dasar II


12
9
2. Dengan beban
No Komponen
Pengukuran Naik
Pengukuran
Turun
Hambatan
1 Lampu
87.5 150
100 116.67
116.67 100
150 87.5
2 Dioda
∞ ∞
∞ ∞
∞ ∞
∞ ∞
3 Resistor
87.5 83.33
100 92.8
92.8 100
83.33 87.5
4 NTC
75 ∞
64.29 36.67
42.31 30
∞ 27.78

3. Hubungan seri dan paralel
No Komponen
Pengukuran
Naik
Pengukuran
Turun
Hambatan
1
Lampu 350 200
& 250 162.5
Resistor 216.67 250
(Terhubung Seri) 200 350
2
Lampu 35.71 50
& 40 42.31
Resistor 41.67 45
(Terhubung Paralel) 50 42.86

4. Tanpa beban
No Pengukuran pengukuran
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
0
Naik Turun
Daya
1 0 0
2 0 0
3 0 0
4 0 0

5. Dengan beban
No Komponen
Pengukuran Naik
Pengukuran
Turun
Daya
1 Lampu
0.14 0.735
0.25 0.42
0.42 0.25
0.735 0.14
2 Dioda
0 0
0 0
0 0
0 0
3 Resistor
0.14 1.2
0.25 0.455
0.455 0.25
1.2 0.14
4 NTC
0.12 ∞
0.315 0.825
0.715 0.675
∞ 0.225

6. Seri dan paralel
No Komponen
Pengukuran
Naik
Pengukuran
Turun
Daya
1
Lampu 0.035 0.5
& 0.1 0.26
Resistor 0.195 0.1
(Terhubung Seri) 0.5 0.035
2 Lampu 0.175 1.62
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
1
& 0.4 0.715
Resistor 0.6 0.45
(Terhubung Paralel) 1.62 0.21


1. Dengan beban
No Komponen
Pengukuran Naik Pengukuran Turun
Hambatan
1 Lampu
87.5 131.25
110 116.67
116.67 110
131.35 87.5
2 Dioda
∞ ∞
∞ ∞
∞ ∞
∞ ∞
3 Resistor
87.5 87.5
83.33 87.5
87.5 83.33
87.5 87.5
4 NTC
87.5 ∞
68.75 41.18
50 38.46
∞ 43.73
2. Hubungan seri dan paralel
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
2
No Komponen
Pengukuran
Naik
Pengukuran
Turun
Hambatan
1
Lampu 350 175
& 275 175
Resistor 175 275
(Terhubung Seri) 175 350
2
Lampu 43.75 58.33
& 50 53.84
Resistor 53.84 50
(Terhubung Paralel) 58.33 43.7

3. Dengan beban
No Komponen
Pengukuran Naik
Pengukuran
Turun
Daya
1 Lampu
0.14 0.84
0.275 0.42
0.42 0.275
0.84 0.14
2 Dioda
0 0
0 0
0 0
0 0
3 Resistor
0.14 1.26
0.3 0.56
0.56 0.3
1.26 0.14
4 NTC
0.14 ∞
0.22 1.19
0.98 0.65
∞ 0.28

4. Hubungan seri dan parallel
No Komponen
Pengukuran
Naik
Pengukuran
Turun
Daya
1 Lampu 0.01 0.63
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
3
& 0.11 0.28
Resistor 0.28 0.11
(Terhubung Seri) 0.63 0,01
2
Lampu 0.28 1.89
& 0.5 0.91
Resistor 0.91 0.5
(Terhubung
Paralel) 1.89 0.28









4 . Gambar grafik V terhadap I
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
4







- Gambar 1
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
4 5.5 7.5 11
A

V
Tanpa Beban (Pengukuran naik)
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
4 5.5 7.5 11
A

V
Tanpa Beban (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
5





0
10
20
30
40
50
60
70
80
3.5 5 7 10.5
A

V
Lampu (Pengukuran Naik)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
3.5 5 7 10.5
A

V
Lampu (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
6



0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
4 5.5 7 11
A

V
Dioda (Pengukuran Naik)
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
3.5 5 7 11
A

V
Dioda (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
7



0
20
40
60
80
100
120
140
3.5 5 6.5 10
A

V
Resistor (Pengikuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
3.5 5 6.5 10
A

V
Resistor (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
8




- Lampu dan resistor terhubung seri dan paralel
0
20
40
60
80
100
120
140
3 4.5 5.5
A

V
NTC (Pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
160
2.5 4.5 5.5
A

V
NTC (pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


13
9




0
10
20
30
40
50
60
3.5 5 6.5 10
A

V
Seri (pengukuran Naik)
0
10
20
30
40
50
60
3.5 5 6.5 10
A

V
Seri (Pengukuran turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
0







0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
2.5 4 5 9
A

V
Paralel (Pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
3 4.5 5.5 9
A

V
Paralel (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
1

- Gambar 2




0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
3.5 5.5 7 10.5
A

V
Lampu (Pengukuran Naik)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
3.5 5.5 7 10.5
A

V
Lampu (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
2



0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
4 5.5 7.5 11
A

V
Dioda (Pengukuran Naik)
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
4 5.5 7.5 11
A

V
Dioda (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
3



0
20
40
60
80
100
120
140
3.5 5 7 10.5
A

V
Resistor (Pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
3.5 5 7 10.5
A

V
Resistor (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
4







0
20
40
60
80
100
120
140
160
3.5 5.5 7
A

V
NTC (Pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
3.5 5 7
A

V
NTC (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
5
- Lampu dan resistor terhububg seri dan paralel



0
10
20
30
40
50
60
70
3.5 5.5 7 10.5
A

V
Seri (Pengukuran Naik)
0
10
20
30
40
50
60
70
3.5 5.5 7 10.5
A

V
Seri (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
6




5. Grafik hambatan sebagai fungsi dari daya
- Gambar 1
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
3.5 5 7 10.5
A

V
Paralel (Pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
3.5 5 7 10.5
A

V
Paralel (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
7



0
20
40
60
80
100
120
140
160
0.14 0.25 0.42 0.735
R

P
Lampu (pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
160
0.14 0.25 0.42 0.735
R

P
Lampu (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
8



0
20
40
60
80
100
120
0.14 0.25 0.455 1.2
R

P
Resistor (Pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
0.14 0.25 0.455 1.2
R

P
Resistor (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


14
9




- Lampu dan resistor terhubung seri dan paralel
0
10
20
30
40
50
60
70
80
0.12 0.315 0.715
R

P
NTC (Pengukuran Naik)
0
5
10
15
20
25
30
35
40
0.225 0.675 0.825
R

P
NTC (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
0



0
50
100
150
200
250
300
350
400
0.035 0.1 0.195 0.5
R

P
Seri (Pengukuran Naik)
0
50
100
150
200
250
300
350
400
0.035 0.1 0.26 0.5
R

P
Seri (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
1






0
10
20
30
40
50
60
0.175 0.4 0.6 1.62
R

P
Paralel (Pengukuran Naik)
38
40
42
44
46
48
50
52
0.21 0.45 0.715 1.62
R

P
Paralel (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
2

Gambar 2



0
20
40
60
80
100
120
140
0.14 0.275 0.42 0.84
R

P
Lampu (Pengukuran Naik)
0
20
40
60
80
100
120
140
0.14 0.275 0.42 0.84
R

P
Lampu (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
3



81
82
83
84
85
86
87
88
0.14 0.3 0.56 1.26
R

P
Resistor (Pengukuran Naik)
81
82
83
84
85
86
87
88
0.14 0.3 0.56 1.26
R

P
Resistor (pengukuranTurun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
4




- Lampu dan resistor terhubung seri dan paralel

0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0.14 0.22 0.98
R

P
NTC (Pengukuran Naik)
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
0.28 0.65 1.19
R

P
NTC (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
5



0
50
100
150
200
250
300
350
400
0.01 0.11 0.28 0.63
R

P
Seri (Pengukuran Naik)
0
50
100
150
200
250
300
350
400
0.01 0.11 0.28 0.63
R

P
Seri (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
6




0
10
20
30
40
50
60
70
0.28 0.5 0.91 1.89
R

P
Paralel (Pengukuran Naik)
0
10
20
30
40
50
60
70
0.28 0.5 0.91 1.89
R

P
Paralel (Pengukuran Turun)
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
7
6. Pada grafik no 4 dan 5 grafik ada yang turun dan ada pula yang naik
begitu pula dengan harga R (hambatan).
7. Faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah suhu, ketelitian alat ukur,
stabilitas sumber tenaga,dll.
8. Pengaruh suhu/temperature adalah semakin tinggi temperature suatu
penghantar, semakin tinggi pula getaran elektron-elektron bebas dalam
penghantar. Elektron-elektron tersebutlah yang akan menghambat
jalannya muatan listrik dan penghantar tersebut.
9. Dari semua komponen yang digunakan, komponen yang memenuhi
hukum ohm adalah komponen lampu, resistor, dan NTC. Sedangkan pada
komponen Dioda tidak memenuhi karena nilai hambatannya tak hingga ,
sehingga tidak dapat membaca besarnya arus listrik yang mengalir pada
rangkaian tersebut.
10.


PEMBAHASAN
Pada pengukuran tanpa beban, jarum skala pada miliampermeter tidak
mngalami pergerakan. Itu berarti nilai hambatannya tak hingga, shingga tidak
ada lagi arus yang terbaca. Hal serupa juga terjadi pada komponen dioda.



DAFTAR PUSTAKA

Haliday and Resnick.
Laporan Praktikum Fisika Dasar II


15
8

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

BAB I PENDAHULUAN 1.1. TUJUAN Tujuan dari praktikum fisika dasar II “Voltameter Tembaga” ini adalah: 1. Mengamati perubahan salah satu bentuk perubahan energi , yaitu energi listrik menjadi energi kimia 2. Memahami prinsip elektrolisis serta pemurnian logam dan peyepuhan (electroplating) 3. Menentukan tara kimia listrik dari tembaga

1.2. ALAT DAN BAHAN 1. Voltameter tembaga yang terdiri dari: a. Bejana b. Keping tembaga Anoda c. Keping tembaga Katoda 2. Larutan CuSO4 Sebagai elektrolit untuk penghantar listrik pada katoda 3. Sumber arus DC Sebagai sumber tenaga atau sumber arus listrik 4. Amperemeter DC Untuk mengukur besarnya arus listrik yang mengalir 5. Stopwatch Untuk mengukur waktu yang ditentukan pada saat percobaan 6. Tahanan geser pengatur Arus Untuk menstabilkan arus listrik yang mengalir 7. Penghubung arus 8. Kabel-kabel penghubung 9. Neraca digital

2

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

Untuk mengukur berat plat katoda agar diketahui jumlah massa sebelum dan sesudah diendapkan pada sel elektrolit larutan CuSO4. 10. Amplas Untuk membersihkan plat katoda

Gambar 1.1. Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan (larutan tembaga sulfat, lempeng tembaga, power supply, ampermeter, neraca digital, stopwatch)

3

pereaksi utama yang berperan dalam metode ini adalah elektron yang di pasok dari suatu sumber listrik.1. Salah satu bentuk perubahan energi yang dibahas kali ini adalah perubahan energi kimia ke energi listrik. dan energi bunyi. Karena didasarkan pada reaksi redoks. energi cahaya. dan energi uap. energi gerak. Maupun sebaliknya. Energi listrik merupakan hasil perubahan energi yang lain. ELEKTROKIMIA Hukum kekekalan energi menyatakan baha energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Baik sel galvani maupun sel elektrolisis kedanya merupakan bagian dari elektrokimia. perubahan energi listrik menjadi energi kimia seperti pada proses pemurnian logam yang disebut sel elektrolisis. energi panas. Elektrokimia itu sendiri adalah kajian mengenai proses perubahan antara energi listrik dan energi kimia. Sel elektrokimia yang menghasilkan listrik karena terjadinya reaksi spontan di dalamnya di sebut sel galvani. Energi listrik dapat berubah bentuk menjadi energi gerak. Sistem elektrokimia meliputi sel elektrokimia dan reaksi elektrokimia. Sesuai dengan reaksi yang berlangsung. Sesuai dengan namanya.yang dicelupkan ke dalam elektrolit konduktor ion (yang dapat berupa larutan maupun cairan) dan sumber arus. seperti pada baterai yang disebut sel galvani/sel volta. energi kimia gas alam. yakni gabungan dari reaksi reduksi dan oksidasi. Sedangkan sel elektrokimia di mana reaksi tak-spontan terjadi di dalamnya di sebut sel elektrolisis. Peralatan dasar dari sel elektrokimia adalah dua elektroda -umumnya konduktor logam. metode elektrokimia adalah metode yang didasarkan pada reaksi redoks. seperti dari energi matahari. elektroda dalam suatu sistem elektrokimia dapat dibedakan menjadi katoda. energi potensial air. yang berlangsung pada elektroda yang sama/berbeda dalam suatu sistim elektrokimia. melainkan dapat diubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. yakni 4 .

Oleh itu ion ini dikenali sebagai kation. elektrokoagulasi. Aplikasi lainnya dari metode elektrokimia selain pemurnian logam dan elektroplating adalah elektroanalitik. di mana reaksi kimia yang berlangsung dalam suatu sistem elektrokimia dimanfaatkan untuk menghasilkan arus listrik.1867]. Arus listrik dapat dialirkan melalui elektrolit dengan menggunakan dua elektroda. kation pasti tereduksi di katoda dan anion pasti teroksidasi di anoda. Aplikasi metode elektrokimia untuk lingkungan dan laboratorium pada umumnya didasarkan pada proses elektrolisis. Sebagai contoh. berikut ini adalah reaksi elektrolisis lelehan garam NaCl (yang dikenal dengan istilah sel Downs) : 5 . Pada proses elektrolisis lelehan. Istilah elektrolisis diperkenalkan oleh Michael Faraday [1791 . sedangkan elektroda yang disambungkan ke terminal negatif dinamakan katoda. elektrolisis bermaksud pemecahan oleh arus elektrik. Proses ini merupakan kebalikan dari proses Galvani. elektrodialisis elektrorefining dan elektrolisis. 2.Ion positif pula akan bergerak ke katoda yang mana ion ini dikenali sebagai kation.Semasa elektrolisis berlaku. elektrokatalis. Elektroda yang disambungakan ke terminal positif yang dinamakan anoda.2. ELEKTROLISIS Elektrolisis ialah proses penguraian elektrolit kepada unsur-unsurnya apabila arus listrik searah mengalir melaluinya. Jadi. Proses Elektrolisis adalah keadaan di mana apabila elektrolit mengkonduksikan listrik. perubahan kimia berlaku dan elektrolit terurai kepada unsurnya di elektroda. Ada dua tipe elektrolisis. ion negatif akan bergerak ke anoda. yaitu elektrolisis lelehan (leburan) dan elektrolisis larutan. yakni terjadinya reaksi kimia dalam suatu sistem elektrokimia akibat pemberian arus listrik dari suatu sumber luar. 'Lisis' bermaksud memecah dalam bahasa Yunani.Laporan Praktikum Fisika Dasar II elektroda di mana reaksi reduksi (reaksi katodik) berlangsung dan anoda di mana reaksi oksidasi (reaksi anodik) berlangsung. misalnya dalam sel bahan bakar (fuel-cell).

.i. (1) : 2 Cl-(aq) ——> Cl2(g) + 2 e..……………….. Dengan demikian. (1) : 2 Cl-(l) Cl2(g) + 2 e.i.q z=e/F : 2 H2O(l) + 2 e. Dengan demikian. terjadi persaingan antara air dengan ion Na+. terlihat bahwa produk elektrolisis lelehan umumnya berbeda dengan produk elektrolisis larutan. *(1) + (2)+ Reaksi elektrolisis lelehan garam NaCl menghasilkan endapan logam natrium di katoda dan gelembung gas Cl2 di anoda. HUKUM FARADAY Michael Faraday (1791-1867) pada tahun 1833 mengemukakan hubungan kuantitatif antara jumlah zat yang bereaksi di katoda adan anoda dengan muatan listrik total yang melewati sel.………………. reaksi yang terjadi pada elektrolisis larutan garam NaCl adalah sebagai berikut : Katoda (-) Anoda (+) Reaksi sel (2)] Reaksi elektrolisis larutan garam NaCl menghasilkan gelembung gas H2 dan ion OH.t/F q=i. (2) : 2 Na+(l) + 2 Cl-(l) ——> 2 Na(s) + Cl2(g) ……………….. (2) : 2 H2O(l) + 2 Cl-(aq) ——> H2(g) + Cl2(g) + 2 OH-(aq) ……. Pada katoda.——> 2 Na(s) ………………. yang dikenal dengan hukum Faraday.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Katoda (-) Anoda (+) Reaksi sel : 2 Na+(l) + 2 e.bunyi hukum Faraday tersebut adalah:  Hukum Faraday I : “jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut” m=e.t m=z.t m=z.——> H2(g) + 2 OH-(aq) ……………….(basa) di katoda serta gelembung gas Cl2 di anoda..3. *(1) + m = Massa zat yang dihasilkan (gram) e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi i = Kuat arus listrik (amper) t = Waktu (detik) F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb) 6 . 2.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II z = Tara kimia listrik. Pada proses elektrolisis. setiap satu mol partikel mengandung 6. logam yang lebih mahal dilapiskan (diendapkan sebagai lapisan tipis) pada permukaan logam yang lebih murah dengan cara elektrolisis. Demikian halnya.02 x 1023 partikel elektron x 1. ion perak)seperti perak nitrat (AgNO3). m1 : m2 = e1 : e2 m = massa zat (garam) e = berat ekivalen = Ar/Valensi = Mr/Valensi Faraday didefinisikan sebagai muatan (dalam Coulomb) mol elektron. Larutan elektrolit yang digunakan harus mengandung ion logam yang sama dengan logam penyepuh (dalam hal ini. Sementara setiap elektron mengemban muatan sebesar 1. Dengan demikian : 1 Faraday = 1 mol elektron = 6. lempeng perak di anoda akan teroksidasi dan larut menjadi ion perak. setengah Faraday equivalen dengan setengah mol elektron. Baterai umumnya digunakan sebagai sumber listrik selama proses penyepuhan berlangsung.6 x 10-19 C/partikel elektron 1 Faraday = 96320 C (sering dibulatkan menjadi 96500 C untuk mempermudah perhitungan) Salah satu aplikasi sel elektrolisis adalah pada proses yang disebut penyepuhan. Satu Faraday equivalen dengan satu mol elektron. Sebagaimana yang telah kita ketahui. Dalam proses penyepuhan. Metode ini relatif 7 . Logam yang ingin disepuh berfungsi sebagai katoda dan lempeng perak (logam pelapis) yang merupakan logam penyepuh berfungsi sebagai anoda. yaitu massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb q = Jumlah muatan listrik yang melalui larutan  Hukum Faraday II : “jumlah zat-zat yang dihasilkan oleh arus yang sama didalam beberapa sel yang berbeda sebanding dengan berat ekuivalen zat-zat tersebut”.6 x 10-19 C. Ion perak tersebut kemudian akan diendapkan sebagai lapisan tipis pada permukaan katoda.02 x 1023 partikel.

Kedua elektroda dicelupkan ke dalam larutan elektrolit yang mengandung ion tembaga (CuSO4 )yang mengandung asam. Pada percobaan Voltameter Tembaga ini. akan mencari ketetapan Faraday dengan konsep elektrolisis. tembaga ini memasuki larutan dan bergerak ke katoda dan membentuk lapisan dalam bentuk yang lebih murni.2. Seperti pemurnian logam tembaga. Rangkaian yang digunakan adalah suatu sistem elektrolisis dengan cairan CuSO4 . Sewaktu tembaga dioksidasi dari anoda tak murni. logam kotor yang akan dilapisi bertindak sebagai anoda sedangkan logam murni bertindak sebagai katoda.Laporan Praktikum Fisika Dasar II mudah dan tanpa biaya yang mahal. Pemurnian logam pada prinsipnya menggunakan reaksi elektrolisis larutan menggunakan elektroda yang tidak bereaksi. Sel elektrolisis CuSO4 (aq)  Cu2+(aq) + SO42-(aq)   Cu(s) Cu2+(aq) + 2eKatoda [elektroda . Dimana yang menjadi katoda dan anoda adalah adalah tembaga. sehingga banyak digunakan pada industri perabot rumah tangga dan peralatan dapur. Reaksi yang terjadi adalah : Gambar 1.: reduksi] : Cu2+(aq) + 2eAnoda [elektroda + : oksidasi]: Cu(s) 8 . Voltmeter adalah alat untuk mengukur besar tegangan listrik dalam suatu rangkaian listrik. Pemanfaatan lain dari elektrolisis adalah pada proses pemurnian logam. dimana akan banyak berhubungan dengan elektrokimia dan reaksi – reaksinya. Hal ini erat kaitannya dengan ilmu kimia.

maka ion-ion pada larutan akan bergerak berlawanan arah.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Pada larutan elektrolit yang ada kecenderungan sebagai konduksi listrik. Gambar 1. Pada katoda akan mengalami reduksi dan pada anoda akan mengalami oksidasi. jika kedua elektrode dihubungkan dengan arus listrik searah (DC). ion-ion positif akan bergerak ke elektrode negatif. Apabila ion-ion dalam larutan terkontak dengan elektrode maka reaksi kimia akan terjadi. sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak kearah elektrode positif. Pergerakan-pergerakan muatan ion dalam larutan akan membawa energi listrik. Artinya. Kondisi demikian ini disebut elektrolitik. Rangkaian alat elektrolisis 9 .3.

8. Menuangkan larutan CuSO4 ke dalam bejana. 9. Menjaga kuat arus yang mengalir agar stabil 12. 15. 3. kemudian menimbangnya dengan teliti. 4. Menggosok katoda dengan kertas amplas hingga bersih. 10. 2. Mengulangi percobaan (langkah 1-13) untuk kuat arus sebesar 2 Ampere. Memutuskan hubungan arus listrik setelah 20 menit. Mengganti katoda sementara dengan katoda yang sebenarnya (yang telah dibersihkan).5 Ampere. 7. kemudian mendiamkannya hingga kering. 13. Mencuci katoda dengan air. 5. 6. Menjalankan arus dan mengatur R (hambatan geser) sehingga amperemeter menunjukkan kuat arus sebesar 1. Menimbang katoda dengan teliti menggunakan neraca teknis digital. Memutuskan hubungan sumber arus dengan tidak merubah rangkaian alat. Mengeringkan katoda. Mengatur luas permukaan katoda yang tercelup ke dalam larutan agar sama dengan luas permukaan katoda sementara yang tercelup dalam larutan. Mengembalikan larutan ke dalam botol semula dan membereskan alat. Membungkus katoda dengan kertas tissue bersih untuk menghidari kotoran. 14.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 1. 10 . 11. Menjalankan arus listrik selama 20 menit. Merangkai alat percobaan dengan menngunakan katoda sementara. membilas dengan alkohol.

PERHITUNGAN 4.5 0.5 2 Waktu t (menit) 15 15 Berat awal Wa (gram) 91.703.0 Berat akhir Wb (gram) 91.55 e = Berat ekivalen = Ar/Valensi = 63.2.6 107. I .5 Ampere t = Waktu = 15 menit = 900 second Ditanyakan: Tara kimia listrik Cu & Berat ideal endapan Cu Jawab: a.6 Tabel 1.5 Ampere Diketahui: WCu = Berat Endapan Cu = 0.755 1 mol F = 96.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB IV HASIL DAN ANALISA 4.1.55/2 = 31.5 g / 1.5 g ArCu = 63. Data percobaan Voltameter Tembaga 4.1. t z = 0. 2. Kuat Arus I (Ampere) 1. 1.5 A x 900 s z = 3.10-4 g/coulomb z = Tara kimia listrik b. DATA DAN PENGAMATAN No.2.4 107. t z = WCu / I .1. Tara kimia listrik Cu Rumus : WCu = z .6 Endapan WCu = Wb-Wa (gram) 0.500 coulumb I = Kuat arus = 1. Berat ideal endapan Cu 11 . Arus 1.

10-4 g/coulomb b.55 e = Berat ekivalen = Ar/Valensi = 63.755 x 1.755 1 mol F = 96.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Rumus : WCu = e . t z = 0. t z = WCu / I .500 coulomb WCu = 0.6 g / 2 A x 900 s z = 3. I .755 g/ 96. t / F WCu = 31.4. Berat ideal endapan Cu Rumus : WCu = e .2. Tara kimia listrik Cu Teoritis Rumus : WCu = z . Simpangan z = Tara kimia listrik z = Tara kimia listrik 12 .500 coulomb WCu = 0.44 g 4. Arus 2 Ampere Diketahui: WCu = Berat Endapan Cu = 0.755 x 2 A x 900 s / 96.6 g ArCu = 63.333.55/2 = 31.500 coulumb I = Kuat arus = 2 Ampere t = Waktu = 15 menit = 900 second Ditanyakan: Tara kimia listrik Cu & Berat ideal endapan Cu Jawab: a.291. Tara kimia listrik Cu Rumus : WCu = z . t / F WCu = 31.5 A x 900 s / 96.59 g 4.3. t z = e/ F z = 31.2. I .2.10-4 g/coulomb 4. I .2.500 coulomb z = 3. I .

333.60)/ 0.1.10-4 .50] x 100% = .10-4)/ 3.3.703.Laporan Praktikum Fisika Dasar II % SD = x 100% a.1 g.67 % 4.291.13 % Arus 2 A %SD = [(3.703.50)/ 0. Pada saat penimbangan katoda.11. Tara kimia listrik Arus 1.5 A %SD = [(0.10-4 –3.59– 0.12 % Arus 2 A %SD = [(0.60] x 100% = .5 A %SD = [(3.44) – (0.1 Kurang teliti dalam menimbang katoda.10-4 ] x 100% = . 13 .10-4 ] x 100% = . neraca yang digunakan adalah neraca digital dengan ketelitian 0.3.26 % b. Sehingga berat yang diperoleh kurang teliti. Hasil yang didapatkan dari percobaan belum sempurna.333. PEMBAHASAN 1.291. Berat endapan Cu Arus 1.1. Melihat adanya perbedaan antara nilai yang diperoleh dari percobaan dengan nilai teoritis. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti: 1.10-4)/ 3.

Elektrolisis dapat berlangsung dengan arus listrik searah (DC). Akibatnya tidak akan terbentuk endapan Cu pada katoda. sehingga berat katoda lebih besar dari yang sebenarnya. sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak ke arah positif. Hal ini menyebabkan pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tidak stabil.3 Kesalahan alat amperemeter pada saat mengukur arus yang mengalir pada sistem elektrolisis. namun sewaktu-waktu dapat bersifat positif.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 1. Artinya. Berbeda dengan arus AC atau biasa disebut tegangan bolak-balik mempunyai dua polaritas yang selalu berubah dari 14egative ke positif dan sebaliknya.2 Pada saat penimbangan. karena reaksi yang terjadi berubah-ubah antara reduksi dan oksidasi. dimana perubahan tersebut terjadi 50 kali dalam satu detik. kondisi katoda belum benar-benar kering. 14 . Sehingga pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tetap. 2. Karena arus DC mempunyai polaritas yang selalu sama (tetap) yaitu positif (+) dan negatif (-) dimana arus mengalir dari tegangan positif ke negatif. ion-ion positif akan bergerak ke negatif. begitu juga dengan anoda. 1. Sehingga kuat arus yang mengalir tidak sesuai dengan yang seharusnya atau yang ditunjukkan oleh amperemeter. Katoda dapat bersifat negatif.

Elektrolisis adalah salah satu bentuk pemanfaatan perubahan energi. Pemanfaatan elektrolisis diantaranya untuk proses charging pada accu. Kuat Arus (Ampere) 1.12 % .291. pembuatan bahan-bahan kimia dan juga untuk elektrosintesis (sistesis zat-zat organik) 15 . Hasil percobaan 2. Hasil yang didapat dari percobaan adalah sebagai berikut: Tara kimia listrik Cu (g/coulomb) Teoritis 3. Pada elektrolisis terjadi perubahan bentuk energi dari energi listrik menjadi energi kimia. Kuat arus pada proses elektrolisis sebanding dengan massa zat yang terendapkan.6 %SD .10 3.5 0.10 -4 -4 1.44 0. 4. Semakin besar kuat arus yang mengalir.26 % Tabel 1. penyepuhan logam (electroplating). 5. 2.703. . pemurnian logam. Penggunaanya sangat luas terutama di dunia industri.1.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB V KESIMPULAN 1.13 % .67 % Praktikum 3.11. Tara kimia listrik adalah massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb atau g/coulomb 3. maka zat yang terendapkan akan semakin banyak.59 Praktikum 0.2.1.5 2 Berat endapan Cu (g) %SD Teoritis 0. Elektrolisis sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.10 -4 No.333.

com http://ravimalekinth. 5.susilochem04.co. http://www. 7.org/materi_kimia/kimia_dasar/ oksidasi_dan_reduksi1/elektrolisis 3. http://andykimia03.fredi-36-a1.chem-is-try. Edisi III jilid II.wordpress.wordpress.org/artikel_kimia/kimia_fisika/ elektrosintesis_metode_elektrokimia_untuk_memproduksi_senyawa_ki mia 4.chem-is-try. Resnick. 6. 1985. Halliday.com/2009/12/voltameter-tembaga 16 .files. Jakarta: Erlangga 2. http://www.cc http://www.blogspot.com http://www. Fisika.Laporan Praktikum Fisika Dasar II DAFTAR PUSTAKA 1. Terjemahan Silaban dan Sucipto.

Tuliskan definisi tara kimia listrik ! 4.Laporan Praktikum Fisika Dasar II TUGAS PENDAHULUAN 1.t m=z.i. Tuliskan reaksi yang terjadi. Hukum yang berlaku pada saat elektrolisis ialah hukum Faraday. baik pada anoda meupun katoda selama elektrolisis ! 2. Michael Faraday (1791-1867) pada tahun 1833 mengemukakan hubungan kuantitatif antara jumlah zat yang bereaksi di katoda adan anoda dengan muatan listrik total yang melewati sel. Hukum apakah yang berlaku pada peristiwa pengendapan di elektrolisis? Jelaskan! 3.q z=e/F m = Massa zat yang dihasilkan (gram) e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi i = Kuat arus listrik (amper) t = Waktu (detik) F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb) 17 .: reduksi] : Anoda [elektroda + : oksidasi]: 2. Terangkan hal tersebut? Jawaban : 1. maka berat atom dan/atau valensi endapan dapat dihitung. Jika kuat arus yang melalui voltameter diketahui dan berat tembaga dapat ditimbang. yang dikenal dengan hukum Faraday. Dapatkah elektrolisis berlangsung memakai arus bolak-balik ? 5.i.t m=z.bunyi hukum Faraday tersebut adalah: • Hukum Faraday I : “jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut” m=e. CuSO4 (aq)  Cu2+(aq) + SO42-(aq) Cu2+(aq) + 2eCu(s)   Cu(s) Cu2+(aq) + 2e- Katoda [elektroda .t/F q=i.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

z = Tara kimia listrik, yaitu massa zat yang dipisahkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb q = Jumlah muatan listrik yang melalui larutan • Hukum Faraday II : “jumlah zat-zat yang dihasilkan oleh arus yang sama didalam beberapa sel yang berbeda sebanding dengan berat ekuivalen zat-zat tersebut”. m1 : m2 = e1 : e2 m = massa zat (garam) e = berat ekivalen = Ar/Valensi = Mr/Valensi 3. Tara kimia listrik yaitu massa zat yang dipisahkan/diendapkan oleh muatan 1 coulomb selama proses elektrolisa satuan kg/coulomb. 4. Elektrolisis dapat berlangsung dengan arus listrik searah (DC). Karena arus DC mempunyai polaritas yang selalu sama (tetap) yaitu positif (+) dan negatif (-) dimana arus mengalir dari tegangan positif ke negatif. Sehingga pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tetap. Artinya, ion-ion positif akan bergerak ke negatif, sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak ke arah positif. Berbeda dengan arus AC atau biasa disebut tegangan bolak-balik mempunyai dua polaritas yang selalu berubah dari egative ke positif dan sebaliknya, dimana perubahan tersebut terjadi 50 kali dalam satu detik. Hal ini menyebabkan pergerakan-pergerakan muatan ion dalam sistem tidak stabil. Katoda dapat bersifat negatif, namun sewaktu-waktu dapat bersifat positif, begitu juga dengan anoda. Akibatnya tidak akan terbentuk endapan Cu pada katoda, karena reaksi yang terjadi berubah-ubah antara reduksi dan oksidasi. 5. Dengan Hukum Faraday I : “jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut”, kita dapat menghitung berat ekivalen suatu zat dengan menurunkan rumus nya m = e . i . t / F ……… menjadi e=m.F/i.t

m = Massa zat yang dihasilkan (gram) e = Berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi i = Kuat arus listrik (amper)

18

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

t = Waktu (detik) F = Tetapan Faraday (1 Faraday = 96500 coulumb)

19

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

TUGAS AKHIR

1. Jelaskan pengaruh kuat arus pada proses elektrolisis yang anda lakukan!  Kuat arus pada proses elektrolisis sebanding dengan massa zat yang terendapkan. Semakin besar kuat arus yang mengalir, maka zat yang terendapkan akan semakin banyak. Sesuai dengan hukum Faraday I : “jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda sebanding dengan jumlah arus yang dialirkan pada zat tersebut”

20

Laporan Praktikum Fisika Dasar II MODUL 2 RESONANSI LISTRIK 21 .

Menentukan besar tahanan dan induksi dir dari indicator (kumparan pemadaman) 1. 1 Tujuan   Mengamati adanya gejala resonansi dalam rangkaian arus bolak-balik. Kabel-kabel penghubung. 2 Alat – alat       Indikator (kumparan pemadam) Dan hambatan (R) Sumber tegangan (Transfomator /AC) Multimeter Bangku kapasitor Miliampermeter AC.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB I PENDAHULUAN 1. 22 .

1 Induktansi a. sehingga:   2  M I1 t dengan konstanta pembanding M yang disebut induktansi bersama. Perubahan arus pada salah satu kumparan akan menginduksi aruspada kumparan yang lain 23 . Tanda minus dari hokum Lentz. ggl ε2 yang diinduksi ke kumparan 2 sebanding dengan laju perubahan fluks yangmelewatinya. Menurut hukumFaraday. Induktanasi Bersama Jika dua buah kumparan berdekatan dengan yang lain terjadi perubahan arus padasalah satu kumparan yang akan mereduksi ggl pada kumparan yang lain. ε2 harus sebanding  I dengan laju perubahan arus pada kumparan   t   . Karena fluks sebanding dengan arus yang melewati kumparan 1.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Jika arus berubah melewati suatu kumparan atau solenoida terjadi perubahan flux magnetic di dalam kuparan. pengurangan flux akan menginduksi ggl dengan arah arus yang sama. akan meiliki nilai yang sama. dimana hubungan kedua kumparan dimaksimalkan sehingga hampir seluruh garis fluks melewati kedua kumparan. Suatu rangkaian AC selalu mengandung Induktansi tetapi biasanya kecil kecuali jika rangkaian tersebut menggunakan kumparan dengan jumlah lilitan yang banyak. Rumus ggl induksi adalah sebagai berikut:  2  M I1 t Dimana konstanta pembanding L disebut Induktansi diri.s/A+ = *Ω s+ atau *henry = H+ contoh induktansi bersama adalah transformator . atau cukup disebut Induktansi kumparan dengan satuan henry. b. sehingga cenderung mempertakankan nilai kuat arus semula. M. Besarnya induktansi bergantung geometri dan ada tidaknya inti besi. konstanta pembandingnya. Induktansi diri Konsep induktansi juga berlaku pada kumparan tunggal yang terisolasi.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Perubahan arus pada salah satu kumparan akan menginduksi arus pada kumparan yang lain Jika melihat situasi kebalikannya. yaitu perubahan arus di kumparan 2 menginduksi ggl pada kumparan 2. Jika arus pada kumparan berkurang. sehingga:  2  M I1 t Satuan M adalah : *V. dan ini akan menginduksi ggl pada arah yang berlawanan.Induktansi sangat bermanfaat 24 . Sebuahkumparan yang mempunyai induktansi diri disebut inductor atau kumparan penahan.

Induktor Jika inductor dihubungkan dengan sumber AC dapat mengabaikan hambatan yang mungkin ada.Laporan Praktikum Fisika Dasar II pada rangkain tertentu namun kadang-kadang dilakukanpencegahan timbulnya induktansi. Katakana arus dan tegangan sefase karena Jika l = locos 2 πf1 maka  v  vo cos 2 f 1 b. Resistor Jika sebuah sumber AC dihubungkan dengan resistor. arus akan menguat dan melemah mengikuti ggl bolak balik sesuai hokum ohm. Induktansi dapat dikurangi dengan malilitkan kawatberisolasi pada arah berlawanan sehingga arus yang mengalir pada dua arah itu akan salingmengilangkan dan menghasilkan sedikit flux magnet yang dinamakan kumparan noninduktif 2. melalui rumus :   L I t Hal ini disebakan jumlah ggl di dalam rangkaian tertutup harus bernilai nol sesuai dengan hokum Kirchoff 25 . Tegangan yang diberikan pada inductor sama dengan ggl balik yang dibangkitkan dalam indicator oleh perubahan arus.2 Rangkaian AC dan Impedansi a.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II Jadi : V  L I I  0 atau V  L t t ' Sehingga pada inductor arus yang tertinggal 90o dari tegangan yang setara dengan seperempatputaran). Karena arus dan tegangan berbeda fase 90 maka secara rata-rata tidak ada energy yang ditranformasi di dalam inductor dan tidak ada energi yang terbuang sebagai panas. Semakin besar frekuensi semakin cepat perubahan fluxmagnet yang terjadi pada inductor dan semakin besar frekuensi semakin besar reaktansi. sehingga : V  IX L XLdinamakan reaktansi induktif atau impedansi dari suatu inductor. Biasanya istilah yang digunakan ialah “reaktansi” hanya untuk sesuatu yang bersifat induktif dan “impedansi”untuk menghitung jumlah rintangan suatu kumparan. Karena itu I setiap saat akan menjadi lebih kecil dari frekuensi yang digunakan.sehingga: X L  2 fL c.Ditemukan bahwa kuat arus di dalam inductor sebanding dengan tegangan Acyang diberikanpada frekuensi tertentu. Dari kenyataan semakin besar nilai L semakin kecil perubahan arus ΔI dalam selang Δt tertentu. Kapasitor Jika sebuah kapasitor dihubungkan dengan sebuah baterai plat-plat kapsitor segera mendapatkan muatan-muatan dalam jumlah yang sama 26 .Reaktansi juga bergantung frekuensi.

Jika frekuensi membesar semakin sedikit waktu yangdiperlukan untuk mengisi muatan plat pada setiap siklus dan menambah aliran arus 27 . Karena ketika tegangan AC dihidupkan muatan mulai mengalir sehinggapada salah satu plat terkumpul muatan negatif dan plat lain terkumpul muatan positif. Semakin besar kapasitas semakin banyak muatan yang bisa ditampung sehingga semakin kecil perlambatanyang terjadi dalam arus bolak balik. Hubungan antara tegangan dan arus dalam kapasitor sebagai berikut : Xc  1 2 fC Dengan Xc adalah reaktansi kapasitif atau impedansi kapasitor. Persamaan iniberlaku untuk nilai rms atau nilai puncak dari tegangan. tidak berlaku untuk waktu sesaatkarena I dan F berbeda fase. Jadi jika digunakan teganganbolakbalik timbul arus AC pada rangkaian secara continue Pada kapasitor arus mendahului tegangan sebesar 90o. Ketika medan berkurang energi kembali ke sumbernya jadi pada rangkaian AC hanyaresistor yang menghamburkan energi. Kapasitor mencegah terjadinya aliran arus DC. Tetapijika sebuah kapasitor dihubungkan dengan tegangan AC arus bolak-balik akan mengalir secara continue.Laporan Praktikum Fisika Dasar II namun berlawanan dan tidak ada aliran arus konstan pada rangkaian. Energi dalamsumber diberikan kepada kapasitor dan energi disimpan dalam bentuk medan listrika antar plat. Ketikategangan berbalik muatan mengalir dengan arah berlawanan. X c bergantung pada kapasitas C dan frekuensi. Karena arus dan teganganberbeda fase daya rata-rata yang terbuang adalah 0 seperti dalam inductor.

Frekuensi resonansi (Fr) merupakan frekuensi dimana keadaan resonansi tercapai.Resonansi listrik digunakan pada banyak peralatan elektronika. misalnyamenggunakan rangkaian resonansi untuk mencari stasiun. Xc = XL. Jika R sangat kecil rangkaian LC.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 2. Arus rms di dalam rangkaian seri RLC dapat dihitung sebagai: I max  Vmax  Z Vmax  1  R   2 fL  2 fC    2 2 Karena impedansi inductor dan kapasitor tergantung pada frekuensi sumber.3 Resonansi Pada Rangkaian AC Resonansi pada rangkaian AC merupakan keadaan dimana reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif memiliki nilai yang sama satu sama lain (XL = XC ). dimana phasa tegangan AC dan arus AC berbeda 90° satu sama lain. sehingga impedansinya adalah resistif murni.XC = 0). Arus akan maksimum jika 2 fL  resonansi) Pada frekuensi resonansi tersebut. tetapi kuat arus yang signifikan hanya terjadi untuk gelombang yangfrekuensinya sama atau mendekati frekuensi resonansi. Energi di dalam rangkaian LC berosilasi pada frekuensiresonansi. Radio dan TV. Ketika rangkaian AC dalam keadaan resonansi maka reaktansi akan sama dengan ‘0’ (Nol). dan sebagian kecil energi akan terbuang di R. sehinggadapat dilakukan pencarian stasiun yang berbeda 1 1 0 f  2 fL 2 1 (frekuensi LC 28 . Banyak frekuensi yang masuk melalui antenna. L atau C dibuat variabel. (X = XL .dan 1cos = φ . maka arus padarangkaian RLC juga bergantung frekuensi.

Indikator (L). maka besarnya arus efektif ( I ) yang mengalir melalui rangkaian tersebut adalah : I E R  ( X L  X C )2 2 (1) Dimana : R = besarnya tahanan (ohm) L = besarnya induktansi diri dari indicator (henry) C = besarnya kapasitas dari kapasitor (farad) I = kuat arus (ampere) 29 . dan hambatan (R) dan juga sebuah miliampermeter (mA).Laporan Praktikum Fisika Dasar II  Resonansi Seri Gambar diatas menunjukan sebuah rangkaian listeik dengan arus bolak balik dengan susunan seri yang terdiri dari T sebuah tegangan arus bolakbalik. bangku kapasitor ( C ). Jika E adalah besarnya tegangan efektif dan Ѡ besarnya frekuensi sudut dari sumber tegangan arus bolak balik.

resonansi seri merupakan kombinasi rangkaian induktor dan kapasitor yang disusun secara seri. Impedansi Total : 1   Z tot  R  j   L  C    Saat Resonansi L  1 1  0  L  C C 1 LC 2  30 . maka akan terdapat harga I yang mencapai harga maksiumu.Laporan Praktikum Fisika Dasar II E = Tegangan (volt) Ѡ = frekuensi sudut radian per detik) Jika nilai C diubah-ubah besarnya. Harga aruss maksimum itu mencapai pada saat harga : C 1 2L (2) Dan besar kuat arus : I m ax  E R (3) Rangkaian listrik dimana I mencapai maksimum dan harga C  1 2L disebut : dalam keadaan resonansi seri.

maka akan terdapat harga I yang mencapai harga minimum. Jika E tegangan maka kuat arus efektifnya adalah : E  2C 2  1  2 2 LC I  R 2   2 L2 (4) jika C diubah-ubah besarnya. Harga arus yang minimum itu tercapai pada saat harga : C 1  R2  2L     L  (5) 31 . sehingga arusnya maksimum  Resonansi Paralel gambar rangkaian listrik dengan hubungan paralael gambar diatas menunjukan sebuah rangkaian arus bolak balik dengan susunan parallel dengan indicator (termasuk hambatannya) dengan kapasitor kemudian disusun seri dengan miliampermeter ke sumber tegangan arus bolak balik.Laporan Praktikum Fisika Dasar II fo  1 2 1 LC Pada saat resonansi impedansi Z minimum.

Resonansi paralel terjadi saat Y minimum sehingga I maksimum Pengamatan sifat resonansi pada arus. gunakan resistor 32 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II dan besar kuat arus : I m in  ER R   2 L2 2 seperti halnya pada rangkaian seri. tidak dapat dilakukan langsung dengan osiloskop. maka pada saat arus mencapai harga minimum.maka rangkaian disebut : dalam keadaan resonansi parallel.

Mengamati dan mencatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari nol sampai C terbesar 33 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 1. 1 s/d 4. 2. amatilah tegangan bolak – balik tiap komponen dan tegangan output (keluaran) transformator. 6. Menyusun rangkaian seperti hubungan seri yang sebelumnya telah dilaporakn kepada asisten dengan jala – jala PLN. Mengamati dan mencatat kuat arus I untuk beberapa harga C dimulai dari nol sampai C terbesar. Menyusun gambar rangkaian seperti hubungan parallel. 4. 5. Mengulangi dengan cara jalannya percobaan No. 3. Mengamati suatu harga I tertentu. Mengukur dengan multimeter hambatan dari indicator.

2 7 76.2 3 6. Kapasitor (C) ʯf 1 1 2 3.5 4 11.5 4 11. Hubungan Seri No. Hubungan Paralel No.2 6 43.2 6 43.2 3 6.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB IV HASIL DAN ANALISA Sumber Tegangan Hambatan Induktif 1.2 5 21. Kapasitor (C) ʯf 1 1 2 3.2 5 21.2 : 6 Volt :2 ohm : 2 Ohm Kuat Arus (I) mA 0 5 10 20 60 130 230 Kuat Arus (I) mA 185 180 180 175 160 145 175 34 .2 2.2 7 76.

43.14 x50  2 . 2 Perhitungan. I (kuat arus) semakin kecil hal ini menandakan bahwa dalam rangkaian parallel kapasitor berbanding terbalik dengan kuat arus.  Frekuensi sudut (Ѡ) pada rangkaian seri maupun paralel berbanding terbalik dengan kapasitor maka frekuensi sudut (Ѡ) semakin kecil.Laporan Praktikum Fisika Dasar II IV.76.14 x50 2 .  Induktansi (L) dari Induktor Seri L  1 1  2 w C  2 f 2 C 1  2 x3. 35 .  Jika dilihat pada rangkaian seri. Sedangkan pada rangkaian paralel.3 Pembahasan  Arus yang digunakan dalam praktikum resonansi listrik ini menggunakan arus AC (Alternating Current) karena daya yang disalurkan lebih besar dan konstan. Jadi kapasitor dalam rangkaian seri berbanding lurus dengan kuat arus.2348 IV. 2 x106 = 0. 2x106 = 0. didapatkan data apabila harga-harga C (kapasitor) semakin besar maka I (kuat arus) juga semakin besar.1331  Induktansi (L) dari Induktor Paralel L 1 1  2 w C  2 f 2 C 1 =  2 x3. apabila harga – harga C (kapasitor) semakin besar.

maupun hambatan maka tegangan akan semakin kecil. dan berbanding terbalik dengan tegangan (E).Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB V KESIMPULAN Dari hasil praktikum Resonansi Listrik kemaren dapat diambil kesimpulan bahwa hubungan antara hambatan (R) dengan induktor (L) berbanding lurus dengan kapasitor ©.Sedangkan kuat arus (I) berbanding lurus dengan tegangan (E). inductor. 36 .hal ini dapat di terangkan bahwa semakin besar kapasitor.

com/topik/materi+resonansi+listrik. http://lfd. Bandung :UNJANI.ac.comlabs.html www.html teknikelectronika. 2010. Cimahi.id/artikel/modul_interaktif/modul_2_g/tugas_lab.anakunhas. Penuntun Praktikum Fisika Dasar II.com/…/gambar-rangkaian-seri-dan-paralel 37 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II DAFTAR PUSTAKA Tim Fisika Dasar.blogspot.itb.

Turunkan rumus 2 dan 3 dari persamaan 1 3. bagaimanakah harga kuat arus I? bagaimana pula untuk rangkaia parallel 4. Jika harga C = 0. Turunkan rumus (5) dan (6) dari rumus (4) Jawaban 1. Turunkan rumus 4 dengan pertolongan diagram vector kaut arus untuk rangkaian parale dan beda potensialnya untuk rangkaian seri R. Turunkan rumus (1) dengan pertolongan diagram vector beda tegangan pada L. harga C besar sekali.C. bagaimana harga I pada rangkaian seri dan bagaimana pula pada rangkaian parallel? 5. Rumus (1) I I2  E R2   X l  X C  E R   Xl  XC  2 2 2 2 R2   X l  X C   E2 I2  Xl  XC   2 E2  R2 2 I Xl  XC  Xl  E2  R2 2 I E2  R2  X c 2 I 2. Turunkan rumus (2) dan (3) dari persamaan (1) E I  2 R2   X l  X c  I2  E R2   X l  X c  2  dianggap Xl = Xc misal Xl = 1. Jika pada hubungan seri. Xc = 1 38 . C dan R yang dihubungkN secara seri 2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II TUGAS PENDAHULUAN 1.L 6.

C  L   39 . Hubungan seri C I W 2L Harga C berbanding lurus dengan harga I. harga I pun menjadi besar.0 I 0  Hubungan Paralel I C  dengan harga C=0  R2  2 W L  L   R2   I   W 2 L     . maka jika harga C semakin besar.  Hubungan parallel I C  R2  W 2L    L Harga c berbanding lurus dengan harga I. maka jika harga C semakin besar.Laporan Praktikum Fisika Dasar II I2  2 E2 R 2  1  1 2 E2 I  2 R I E  rumus (3) R 3. Hubungan seri I C  2  harga C = 0 W L I  (W 2 L).C I  (W 2 L). 4. harga I pun menjadi besar.

0    .C  L     R2   I   W 2 L  . Rumus 4 I 2 E W 2C 2  1  2W 2 LC R 2  W 2 L2 I  E W 2C 2  1  2W 2 LC  R 4  W 4 L4 E 2 W 2C 2  1  2W 2 LC   I 2  R4  W 4  L4  E W C   E 2 2 2 2  E 2 2W 2 LC   I 2 R4  I 2W 4 L4 E 2W 2C 2  I 2 R4  I 2W 4 L4   E 2  E 2 2W 2 LC  E  2 I 2 R4  I 2W 4 L4   E 2  E 2 2W 2 LC  W 2C 2 40 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II  2  R2   I   W L  .0  L   I  00 I 0 5.C    .

14. Grafik terlampirkan 5 Berdasarkan grafik diatasSeri Seri Harga C = 175.2348 X l  73. f . Seri X l  2 . tentukanlah harga-harga C resonansi dan I resonansi Jawaban 1.L X l  2.01331 X l  41. Pada tiap2 pengukuran selalu terjadi penurunan tegangan. 7272 2. Semakin besar kapasitor maka tegangan semakin kecil atau menurun. Grafik terlampirkan 4.14.2 F Harga I =145 A 41 . Penurunan tegangan disebabkan oleh induksi dan tegangan pada kapasitor. Buatlah grafik antara kuat arus I terhadap kapasitor C untuk Rangkaian Seri 4.50.3. Buatlah grafik antara kuat arus I terhadap kapasitor C untuk rangkaian parallel 5.2 F Harga I = 230 A Paralel Harga C = 53. Berdasarkan grafik-grafik diatas. Hitunglah besar hambatan searah dari inductor? 2. Terangkan bagaimana ini bisa terjadi? 3. 7934  Paralel X l  2 . f . 3.Laporan Praktikum Fisika Dasar II TUGAS AKHIR 1.50.3.L X l  2.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II MODUL 3 SPEKTROMETER SEDERHANA 42 .

Sistem tegangan tinggi untuk lampu. Memahami prinsip kerja spektrometer sederhana. Mempelajari garis-garis spektra atom dengan cara spektroskopi. ALAT DAN BAHAN 1. TUJUAN Tujuan dari praktikum fisika dasar II “Spektrometer Sederhana” ini adalah: 4. 6. 2. 4.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB I PENDAHULUAN 1. 1.2. 43 . e. Jarum penunjuk/skala.3. Sumber cahaya (lampu Hg). 5. Kolimator. Menentukan indeks bias dari spektrum . Teropong. Spektrometer lengkap. terdiri dari: d. Prisma sama sisi dan sama kaki. f. 3. g.spektrum gas/Lampu Hg. Meja kecil.

Salah satu fenomena alam dispersi adalah munculnya pelangi. karena indeks bias yang lebih besar untuk panjang gelombang yang lebih pendek. maka cahaya ungu akan dibelokkan paling jauh dan merah akan dibelokkan paling dekat. Jadi Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih) menjadi cahaya-cahaya monokromatik (me. Sebuah prisma atau kisi kisi mempunyai kemampuan untuk menguraikan cahaya menjadi warna warna spektralnya. Gejala ini disebut dispersi cahaya. Hal ini membuktikan bahwa cahaya putih terdiri dari harmonisasi berbagai cahaya warna dengan berbeda-beda panjang gelombang. ku. bi. ji.1. TEORI DASAR Pada umunya cahaya terdiri dari beberapa komponen warna dengan panjang gelombang masing-masing. hi. u) pada prisma lewat pembiasan atau pembelokan. 44 . maka akan terjadi penguraian warna dalam bentuk spektrum-spektrum. Spektrometer adalah alat yang dipakai untuk mengukur panjang gelombang cahaya dengan akurat yaitu dengan menggunakan kisi difraksi.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. untuk cahaya infrared adalah prisma dari garam batu. Sesuai dengan hukum Snellius. Hal ini dapat diamati melalui Spektrometer. Jika cahaya datang pada salah satu sisi prisma. Untuk cahaya ultraviolet adalah prisma dari kristal. atau prisma untuk memisahkan panjang gelombang cahaya yang berbeda. Indeks cahaya suatu bahan menentukan panjang gelombang cahaya mana yang dapat diuraikan menjadi komponen komponennya. untuk cahaya putih adalah prisma dari kaca. ni. Pelangi adalah spektrum sinar matahari yang diuraikan oleh butir-butir air hujan. Cahaya berwarna merah mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu mengalami deviasi terbesar. Peristiwa dispersi ini terjadi karena perbedaan indeks bias tiap warna cahaya.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

Gambar 3.1. Dispersi cahaya pada prisma Prinsip kerja dari Spektrometer adalah, cahaya di datangkan lewat celah sempit yang disebut kolimator. Kolimator ini merupakan fokus lensa, sehingga cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar. Cahaya yang sejajar, kemudian diteruskan ke kisi untuk kemudian ditangkap oleh teleskope yang posisinya dapat digerakkan. Pada posisi teleskope tertentu yaitu pada sudut θ, merupakan posisi yang sesuai dengan terjadinya pola terang (pola maksimum), maka hubungan panjang gelombang cahaya memenuhi persamaan : λ = Sin θ . d/m Dimana m adalah bilangan bulat yang merepresentasikan orde, dan d jarak antara garis-gartis pada kisi. Dengan mengukur nilai θ, maka nilai panjang gelombang (λ) dari cahaya dapat diukur.

Gambar 3.2. Spektrometer Prisma Alat ini juga dapat dipakai untuk menentukan ada tidaknya jenis-jenis molekul tertentu pada spesimen laboratorium dimana analisa kimia tidak dapat dipakai.

45

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

Sinar cahaya yang digunakan berupa lampu gas yang diberikan tegangan tinggi, sehingga lampu akan memancarkan sinar-sinar dengan panjang gelombang yang spesifik (tergantung jenis gas yang digunakan. Dengan meletakkan lampu gas (Hg) di depan Kolimator, maka sinar yang menuju ke arah salah satu sisi prisma akan membentuk spektrum pada sisi lain. Spektrum ini dapat diamati melalui teropong dan diketahui kedudukannya dengan membaca skalanya.

Gambar 3.2. Skema Spektrometer Jika spektrum diketahui panjang gelombangnya, maka spektrometer ini dapat digunakan untuk menentukan panjang gelombang spektrum zat yang belum diketahui. Untuk lampu Hg paling sedikit ada Sembilan garis spektrum, diantaranya dengan panjang gelombang sebagai berikut: No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Warna Merah Merah Kuning Kuning Hijau Hijau – biru Biru Violet Violet λ (Å) 6234 6152 5700 5770 5461 4916-4539 43348 4078 4047

Tabel 3.1. Garis spektrum lampu Hg

46

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

Jika ditinjau dari susunan spektrumnya, maka : a) Indeks bias (n) : Ungu terbesar sedang merah terkecil. b) Deviasi (δ) : Ungu terbesar sedang merah terkecil. c) Frekuensi (f) : Ungu terbesar sedang merah terkecil.

d) Energi photon (Eph) : Ungu terbesar sedang merah terkecil. e) Panjang gelombang (λ ) : Ungu terkecil sedang merah terbesar. f) Kecepatan (v) : Ungu terkecil sedang merah terbesar.

Sudut yang dibentuk antara deviasi sinar merah (deviasi terkecil) dan sudut deviasi sinar ungu (deviasi terbesar) dinamakan sudut dispersi (ω) atau disebut juga dispersi fraunhofer

2.2. PEMBIASAN PADA PRISMA Prisma adalah benda bening (transparan) terbuat dari gelas yang dibatasi oleh dua bidang permukaan yang membentuk sudut tertentu yang berfungsi menguraikan (sebagai pembias) sinar yang mengenainya. Permukaan ini disebut bidang pembias, dan sudut yang dibentuk oleh kedua bidang pembias disebut sudut pembias (β). Cahaya yang melalui prisma akan mengalami dua kali pembiasan, yaitu saat memasuki prisma dan meninggalkan prisma. Jika sinar datang mulamula dan sinar bias akhir diperpanjang, maka keduanya akan berpotongan di suatu titik dan membentuk sudut yang disebut sudut deviasi. Jadi, sudut deviasi ( δ ) adalah sudut yang dibentuk oleh perpanjangan sinar datang mula-mula dengan sinar yang meniggalkan bidang pembias atau pemantul.

47

... ADC + CAD + ACD = 180o dengan CAD = i1 – r1 dan ACD = r2 – i2...Laporan Praktikum Fisika Dasar II Gambar 3. sudut deviasi (δ) adalah: δ = 180o – ADC = 180o – [180o + (r1 + i2) – (i1 + r2)] = (i1 + r2) – (r1 + i2) 48 . sehingga berlaku hubungan: ADC + (i1 – r1) + (r2 – i2) = 180o ADC = 180o + (r1 + i2) – (i1 + r2) Jadi.. Sudut deviasi pada pembiasan prisma Pada segiempat ABCE berlaku hubungan: β + ABC = 180o Pada segitiga ABC berlaku hubungan: r1+i2 +ABC = 180o Sehingga diperoleh hubungan: β+ ABC = r1 +i2 +ABC β= r1 + i2 . (1) dengan: β = sudut pembias prisma i2 = sudut datang pada permukaan 2 r1 = sudut bias pada permukaan 1 Pada segitiga ACD....2.

.. (4) Bila dihubungkan dengan Hukum Snellius diperoleh: n1.... (2) dengan: δ = sudut deviasi i1 = sudut datang mula-mula r2 = sudut bias kedua β = sudut pembias Sudut deviasi berharga minimum ( δ= 0) jika sudut datang pertama (i1) sama dengan sudut bias kedua (r2)...... n2 / n1 ……………..(6) Jika n1 = udara.maka dari persaman (3) diperoleh: β = r1 + r1 = 2r1 r1 = β/2 ... sehingga persamaan di atas menjadi: δm = (n2-1) β . (7) dengan: n1 = indeks bias medium 49 ..... Secara matematis dapat dituliskan syarat terjadinya deviasi minimum ( δm ) adalah i1 = r2 dan r1 = i2...... maka besar sudut deviasi yang terjadi pada prisma adalah: δ = (i1 + r2) – β .. maka n1 = 1... (3) Selain itu.. sehingga persamaan (2) dapat dituliskan kembali dalam bentuk: δm = (i1 + i1) –β = 2i1 – β i1 = δm + β /2 ....sin r1 sin i1/sin r1 = n2/n1 Masukkan i1 dari persamaan (3) dan r1 dari persamaan (4) sehingga: Sin i1/sinr1 = n2/n1  n2/n1 = sin ½ (β + δm) / sin ½ β sin ½ (β + δm) = sin ½ β ...sin i1 = n2................. deviasi minimum juga bisa terjadi jika r1 = i2......(5) Untuk sudut pembias yang kecil (β< 15o): δm = [(n2/n1) – 1] β ………………...........Laporan Praktikum Fisika Dasar II Diketahui β = r1 + i2 (persamaan (1))....

. pada Gambar 3.. dispersi sinar merah terhadap ungu sebesar:  = δu .3 dapat dinyatakan: a) b) deviasi sinar merah δm =(nm -1) β deviasi sinar ungu δu =(nu -1) β Dengan demikian. Selisih sudut deviasi antara dua sinar adalah sudut dispersi..... (9) dengan:  = sudut dispersi nu = indeks bias warna ungu nm = indeks bias warna merah β = sudut pembias prisma 50 .....3.. Jika sinar-sinar polikromatik diarahkan pada prisma.... Sudut ini merupakan selisih deviasi antara sinar-sinar yang bersangkutan.3.... SUDUT DISPERSI Sudut dispersi merupakan sudut yang dibentuk antara deviasi sinar satu dengan sinar lain pada peristiwa dispersi (penguraian cahaya).Laporan Praktikum Fisika Dasar II n2 = indeks bias prisma β = sudut pembias (puncak) prisma δm = sudut deviasi minimum 2........ (8) = (nu – 1)β – (nm – 1)β  = (nu – nm) β.  .....δm .. Gambar 3..... maka akan terjadi penguraian warna (sinar monokromatik) yang masingmasing sinar mempunyai deviasi tertentu...... Dispersi sinar merah terhadap sinar ungu Sebagai contoh....

5. 5 dan 6 dengan cara yang sama 51 . Mengatur letak dan celah kolimator sehingga spektrum yang terjadi cukup tajam dan spektrum tampak bersama-sama dengan pembagian skala. Memasang lampu Hg pada sistem tegangan tinggi. Meletakkan prisma sama sisi di atas meja spektrometer dengan mengubah kadudukan teropong.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 1. Mencari kedudukan spektrumnya pada kedua sisi (kanan dan kiri). Mencatat kedudukan teropong hingga terlihat pantulan cahaya oleh kedua sisi prisma. kemudian mengulangi percobaan no. Mencatat kuat dan lemahnya garis-garis spektrum (intensitasnya). 2. Mengatur letak lampu dibelakan celah kolimator sehingga sinar sampai ke prisma. 3. 4. 9. 7. Mengganti prisma dengan prisma yang sama kaki. Mencatat kedudukan teropong untuk semua garis spektrum lampu Hg. 6. 8. Mencatat kedudukan skala pada teropong. Mengatur fokus teropong sehingga dapat melihat benda di tak terhingga. Lalu menghubungkannya dengan sumber tegangan.

50 145.00 137.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISA DATA 4.00 135.5. Warna Sisi 1 1 2 3 4 5 6 7 Merah Jingga Kuning Hijau muda Hijau Biru Ungu 138.00 136.90 Sisi 2 156.60 β = 900 Sisi 1 155.70 145.1.50 155.20 156.5. DATA DAN PENGAMATAN Deviasi minimum Dmin ( 0) No.30 145.10 156.40 154.20 155.00 138.50 β = 600 Sisi 2 146.2.80 155.50 136.10 153.50 154.4.70 155.80 154.20 Panjang gelombang λ (Angstrom Å) 6234 6152 5790 5770 5461 4358 4047 Tabel 3.50 138.00 145. Indeks Bias Prisma Rumus : n = sin ½ (β + δm) / sin ½ β Dimana: n = indeks bias β = sudut puncak prisma δm = deviasi minimum 52 .00 144. PERHITUNGAN 4.00 154.80 144. Data Hasil Percobaan 4.00 155.

15 155.00 155.966 1.60 Rata-rata 142.80 155.50 136. Perhitungan indeks bias prisma 600 Deviasi minimum δm ( 0) No.25 141.00 144.20 156.50 138.40 154.968 1. Warna Sisi 1 1 2 3 4 5 6 7 Merah Jingga Kuning Hijau muda Hijau Biru Ungu 138.70 155.55 1.80 144.40 140. Warna Sisi 1 1 2 3 4 5 6 7 Merah Jingga Kuning Hijau muda Hijau Biru Ungu 155.80 154.190 1.4.967 1.00 135.30 145.00 154.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Deviasi minimum δm ( 0) No.05 1.50 β = 600 Sisi 1 146.50 145.962 1.40 155.00 145.189 1.00 137.194 1.188 1.75 141.964 1.964 1.50 154.85 141.00 136.20 155.192 1.3.55 155.80 154.70 145.05 154.50 155.20 Rata-rata 155.70 155.10 153.196 Indeks bias (n) Tabel 3.90 β = 900 (A) Sisi 1 156. Perhitungan indeks bias prisma 900 53 .15 140.192 1.969 Indeks bias (n) Tabel 3.10 156.00 138.75 140.

192 1.967 4 5770 Å 1.5.965 1.1. Kurva Dispersi  Prisma dengan β = 600 Panjang gelombang Indeks bias (n) (λ) 1 4047 Å 1.964 7 6234 Å 1.969 2 4358 Å 1.5.966 5 5790 Å 1. Kurva Dispersi prisma 600  Prisma dengan β = 900 No. 1 2 3 4 5 6 7 Panjang gelombang (λ) 4047 Å 4358 Å 5461 Å 5770 Å 5790 Å 6152 Å 6234 Å Indeks bias (n) 1.192 1.968 3 5461 Å 1.955 4047 Å 4358 Å 5461 Å 5770 Å 5790 Å 6152 Å 6234 Å Panjang gelombang Grafik 3.962 Tabel 3. Kurva Dispersi 1.190 1.196 1.2.194 1.970 Indeks bias 1. Hubungan panjang gelombang dan indeks bias prisma 600 No.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 4.960 1.189 1.964 6 6152 Å 1.188 54 .

195 1.407 .392 .6.602 .964 1. 10-4 3.516 . Kurva Dispersi prisma 900 4. 10-4 3.180 4047 Å 4358 Å 5461 Å 5770 Å 5790 Å 6152 Å 6234 Å Panjang gelombang Grafik 3.964 1. Daya Dispersi masing-masing warna 1.966 1. 10-4 Tabel 3.967 1.190 1.200 Indeks bias 1.1. 10-4 3.147 .962 1. 10-4 4.185 1. Perhitungan Daya Dispersi prisma 600 55 .968 1.193 . Prisma β = 600 No.865 . 10-4 3.7.3.5. 10-4 4. 1 2 3 4 5 6 7 Warna Merah Jingga Kuning Hijau muda Hijau Biru Ungu Panjang gelombang (λ) (Angstrom Å) 6234 6152 5790 5770 5461 4358 4047 Indeks bias (n) 1.969 Daya Dispersi (D) D = n/λ 3.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Tabel 3. Hubungan panjang gelombang dan indeks bias prisma 900 Kurva Dispersi 1.

10-4 2. 10-4 2. Perhitungan Daya Dispersi prisma 900 4.189 1.190 – 1 = 6. 10-4 2.962 nk = indeks bias warna kuning = 1.188 1.964 Ditanyakan Jawab : Daya dispersi Fraunhofer = ω : Rumus: ω = nb – nm / nk – 1 56 .190 Ditanyakan : Daya dispersi Fraunhofer = ω Jawab: Rumus: ω = nb. 10-3 4. 10-4 Tabel 3.194 1. 10-4 1.196 Daya Dispersi (D) D = n/λ 1.188 / 1. 10-4 2. Prisma β = 900 No.8.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 2.224 .188 nk = indeks bias warna kuning = 1. Prisma β = 900 Diketahui : nn = indeks bias warna biru = 1.194 – 1.955 .740 .4.190 1. Dispersi Fraunhofer 3. Prisma β = 600 Diketahui : nb = indeks bias warna biru = 1.066 .906 .194 nm = indeks bias warna merah = 1. 10-4 2.nm / nk – 1 = 1.055 . 1 2 3 4 5 6 7 Warna Merah Jingga Kuning Hijau muda Hijau Biru Ungu Panjang gelombang (λ) (Angstrom Å) 6234 6152 5790 5770 5461 4358 4047 Indeks bias (n) 1.5.192 1.933 .968 nm = indeks bias warna merah = 1.192 1.183 .

964 1. 1 2 3 4 5 6 7 Warna Merah Jingga Kuning Hijau muda Hijau Biru Ungu Panjang gelombang (λ) (Angstrom Å) 6234 6152 5790 5770 5461 4358 4047 Indeks bias (n) 1. 10-4 1.157 .516 .189 1.967 1.906 . 10-4 3.602 .9. 10-4 3.190 1.192 1. 10-4 3.968 – 1.865 .962 1. 10-4 Daya Dispersi (D) 57 .969 3.392 .740 .1. 10-4 2.194 1.193 . 10-4 2.147 .066 . Prisma β = 600 No.933 . 10-4 4. 1 2 3 4 5 6 Warna Merah Jingga Kuning Hijau muda Hijau Biru Panjang gelombang (λ) (Angstrom Å) 6234 6152 5790 5770 5461 4358 Indeks bias (n) 1. Hasil yang didapat dari percobaan adalah sebagai berikut: 1.2.183 .968 1.188 1. 10-4 2. 10-4 2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II = 1.964 – 1 = 3. 10-4 4. Prisma β = 900 No. 10-4 Daya Dispersi (D) Tabel 3. 10-2 BAB V KESIMPULAN 6.055 .407 .192 1.964 1.966 1.962 / 1. 10-4 3. Hasil percobaan untuk prisma 600 1.

Prinsip kerja dari Spektrometer adalah. cahaya di datangkan lewat celah sempit yang disebut kolimator. Dari percobaan diketahui bahwa: a) Indeks bias (n) : Ungu terbesar sedang merah terkecil. Hasil percobaan untuk prisma 900 7. yaitu antara 4000Å . kemudian diteruskan ke kisi untuk kemudian ditangkap oleh teleskope yang posisinya dapat digerakkan.10.7000Å 8. Dari percobaan diketahui bahwa garis-garis warna spektrum atom merkuri (Hg) berada pada jangkauan sinar tampak. 10-4 Tabel 3.955 . c) Panjang gelombang (λ ) : Ungu terkecil sedang merah terbesar. Kolimator ini merupakan fokus lensa. d) Daya dispersi (D) : Ungu terbesar sedang merah terkecil. 58 . Cahaya yang sejajar. b) Deviasi minimum (δm) : Ungu terkecil sedang merah terbesar. 9.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 7 Ungu 4047 1.196 2. sehingga cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar.

html http://id. 1985. Fisika.org/wiki/Dispersi http://alifis.wikipedia.com/2008/10/perbedaan-spektrometridan. Jakarta: Erlangga http://wahyuriyadi.Laporan Praktikum Fisika Dasar II DAFTAR PUSTAKA Halliday. Resnick. Terjemahan Silaban dan Sucipto. Edisi III jilid II.com 59 .wordpress.blogspot.

. Turunkan rumus-rumus yang digunakan ! Terangkan secara singkat kerjanya spektrometer yang dipergunakan! Jawaban: 1. sehingga berlaku hubungan: ADC + (i1 – r1) + (r2 – i2) = 180o ADC = 180o + (r1 + i2) – (i1 + r2) Jadi. Pada segiempat ABCE berlaku hubungan: β + ABC = 180o Pada segitiga ABC berlaku hubungan: r1+i2 +ABC = 180o Sehingga diperoleh hubungan: β+ ABC = r1 +i2 +ABC β= r1 + i2 . ADC + CAD + ACD = 180o dengan CAD = i1 – r1 dan ACD = r2 – i2...Laporan Praktikum Fisika Dasar II TUGAS AKHIR 1..... (1) dengan: β = sudut pembias prisma i2 = sudut datang pada permukaan 2 r1 = sudut bias pada permukaan 1 Pada segitiga ACD. sudut deviasi (δ) adalah: δ = 180o – ADC 60 ... 2.

... n2 / n1 …………….....maka dari persaman (3) diperoleh: β = r1 + r1 = 2r1 r1 = β/2 .... Secara matematis dapat dituliskan syarat terjadinya deviasi minimum ( δm ) adalah i1 = r2 dan r1 = i2. deviasi minimum juga bisa terjadi jika r1 = i2.. (2) dengan: δ = sudut deviasi i1 = sudut datang mula-mula r2 = sudut bias kedua β = sudut pembias Sudut deviasi berharga minimum ( δ= 0) jika sudut datang pertama (i1) sama dengan sudut bias kedua (r2).. maka besar sudut deviasi yang terjadi pada prisma adalah: δ = (i1 + r2) – β .... sehingga persamaan (2) dapat dituliskan kembali dalam bentuk: δm = (i1 + i1) –β = 2i1 – β i1 = δm + β /2 ............... (4) Bila dihubungkan dengan Hukum Snellius diperoleh: n1.Laporan Praktikum Fisika Dasar II = 180o – [180o + (r1 + i2) – (i1 + r2)] = (i1 + r2) – (r1 + i2) Diketahui β = r1 + i2 (persamaan (1))........sin i1 = n2.... (3) Selain itu..sin r1 sin i1/sin r1 = n2/n1 Masukkan i1 dari persamaan (3) dan r1 dari persamaan (4) sehingga: Sin i1/sinr1 = n2/n1  n2/n1 = sin ½ (β + δm) / sin ½ β sin ½ (β + δm) = sin ½ β .......(5) 61 ...

62 . cahaya di datangkan lewat celah sempit yang disebut kolimator. Prinsip kerja dari Spektrometer adalah. Cahaya yang sejajar.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 2. kemudian diteruskan ke kisi untuk kemudian ditangkap oleh teleskope yang posisinya dapat digerakkan. Kolimator ini merupakan fokus lensa. sehingga cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar.

2. bi. Peristiwa dispersi ini terjadi karena perbedaan indeks bias tiap warna cahaya. Sebuah prisma atau kisi kisi mempunyai kemampuan untuk menguraikan cahaya menjadi warna warna spektralnya. Sesuai dengan hukum Snellius. karena indeks bias yang lebih besar untuk panjang gelombang yang lebih pendek. Cahaya berwarna merah mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu mengalami deviasi terbesar. Atau prisma untuk memisahkan panjang gelombang cahaya yang berbeda. 3. Apakah yang dimaksud dengan dispersi cahaya itu ? Terangkan terjadinya spektrum cahaya pada prisma ? Apakah fungsi dari kolimator dan jelaskan ! Jawaban: 1. Kolimator ini merupakan fokus lensa. ku. u) lewat pembiasan atau pembelokan. maka sinar yang menuju ke arah salah satu sisi prisma akan membentuk spektrum pada sisi lain. Dengan meletakkan lampu gas (Hg) di depan Kolimator. Kolimatur merupakan suatu celah sempit. 2. sehingga cahaya yang diteruskan akan bersifat sejajar. Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih) menjadi cahaya-cahaya monokromatik (me. ji. Spektrometer adalah alat yang dipakai untuk mengukur panjang gelombang cahaya dengan akurat yaitu dengan menggunakan kisi difraksi. maka cahaya ungu akan dibelokkan paling jauh dan merah akan dibelokkan paling dekat. 63 . hi.Laporan Praktikum Fisika Dasar II TUGAS PENDAHULUAN 1. ni. Indeks cahaya suatu bahan menentukan panjang gelombang cahaya mana yang dapat diuraikan menjadi komponen komponennya. 3.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II MODUL 3 LENSA DAN CERMIN 64 .

Menentukan indeks bias lensa dan zat cair 1. Loupe 3.1 TUJUAN PERCOBAAN 1. Jarum Berbentuk Garpu 5.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB I PENDAHULUAN 1. Statif 65 . Menentukan jarak fokus dan jari-jari kelengkungan lensa 2. Lensa 2.2 ALAT – ALAT PERCOBAAN 1. Jangka Sorong 4.

lensa cekung-cekung.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. yang tergantung dari bentuk bagiannya.1.1 Lensa Alat optik yang paling umum dikenal dan paling sering digunakan setelah cermin datar adalah lensa. lensa ini dinamakan lensa tipis. 3. 2. Sinar datang sejajar sumbu utama kan dibiaskan melalui focus utama Sinar datang melalui focus utama dibiaskan sejajar sumbu utama Sinar datang melalui pusat optic akan diteruskan tanpa dibiaskan 66 . Tiga berkas sinar istimewa pada lensa positif. Tiga sinar istimewa pada lensa cembung Seperti pada cermin lengkung. Lensa terdiri dari beberapa jenis. 1. lensa cembung-cembung. Lensa yang paling sederhana mempunyai dua buah permukaan bola yang cukup dekat satu sama lain sehingga dapat diabaikan jarak diantara kedua permukaan itu ( tebalnya lensa ). Jenis lensa diantaranya adalah lensa cembung-cekung. Lensa adalah sebuah sistem optis dengan dua permukaan yang merefraksikan. pada lensa dikenal pula tiga berkas sinar istimewa. Pada lensa positif tiga sinar istimewa tersebut adalah: Gambar 2.

Caranya dengan menarik garis tegak lurus melalui sumbu utama dari titik B' itu. Untuk melukis bayangan benda AB sebenarnya cukup digunakan 2 dari 3 sinar istimewa saja.2. Pembentukan bayangan pada lensa positif untuk benda yang diletakkan antara F2 dan 2 F2 Benda AB pada gambar 2. yakni A'B' terbentuk pada jarak s' dari pusat optik.2 di atas. Jadi titik A' langsung tentukan begitu temukan titik B'. Titik perpotongan dua garis ini merupakan titik A’ sebagaimana tampak pada gambar 2. Bayangan benda AB. sebab benda AB merupakan garis lurus yang tegak lurus pada sumbu utama. Gambar 2. Namun pada gambar 2. Tampak bahwa titik B’ yang merupakan bayangan dari titik B terbentuk dari perpotongan tiga sinar istemewa. Melukis tiga sinar istimewa untuk menentukan bayangan titik A.2 di atas 67 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II Berkas sinar-sinar istimewa di atas dibutuhkan dalam menentukan bayangan suatu benda yang dibentuk oleh lensa dengan cara melukis seperti dijelaskan berikut ini.2 di atas diletakkan di depan lensa positif pada jarak s dari pusat optik O. tampak ketiga sinar istimewa itu ditampilkan.

3. Pembentukan bayangan oleh lensa positif untuk benda yang diletakkan pada jarak lebih besar dari jarak antara pusat optik ke titik 2F2. Bayangan yang terbentuk pada gambar 2.3 benda diletakkan pada jarak yang lebih besar dari jarak antara pusat optik ke titik 2F2. Sementara perbedaan antara kedua gambar dijelaskan sebagai berikut.2 berukuran lebih besar dari bendanya.2 benda diletakkan pada jarak antara titik F2 dan 2F2. sedangkan pada gambar 2. 68 . bayangan yang terbentuk posisinya terbalik dari posisi bendanya dan kedua gambar tampak benda di sebelah kiri atau di depan lensa. sedangkan bayangan yang terbentuk pada gambar 2.3 ukurannya lebih kecil bila dibandingkan ukuran bendanya.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Gambar 2. Pada gambar 2. Kesamaan adalah bayangan kedua benda terbentuk sebagai hasil pembiasan pada lensa yang dilukis menggunakan tiga sinarv istimewa. Dua gambar di atas akan tampak persamaan dan perbedaan kedua gambar tersebut. sedangkan bayangannya ada di sebelah kanan atau di belakang lensa.

sehingga R adalah negatif. Pada gambar 2. yang berarti cermin tersebut akan membentuk sebagian dari bola. Sisi cembung dari sebuah cemrin bola menghadap ke cahaya yang masuk. Pusat kelengkungan berada pada sisi yang berlawanan dengan sinar keluar. Berikut ini merupakan pembentukkan bayangan oleh cermin bola. yakni menggunakan tiga sinar istimewa. Pembentukkan Bayangan Oleh Cermin Sferis Cermin yang bentuk permukannya seperti permukaan bola akan menghasilkan bayangan pada benda yang berbeda sifatnya daripada cermin datar. selanjutnya sama seperti gambar-gambar sebelumnya bayangan A'B' dilukis dengan menarik garis A'B'. Sinar PB 69 . Cermin ini umumnya membentuk cermin sferis. tidak di belakang lensa seperti gambar sebelumnya dan bayangan tampak tegak (tidak terbalik) serta lebih besar dari ukuran bendanya.4 tampak bayangan A'B' yang terbentuk ada di depan lensa. Cara melukis bayangannya secara prinsip sebenarnya sama. Perpotongan tiga garis putus-putus itulah yang merupakan titik bayangan B'.4 Pembentukan bayangan pada lensa positif bila benda diletakkan antara pusat optik O dan fokus utama F2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Gambar 2. Hanya saja untuk mendapatkan bayangan benda A'B' garis-garis yang merupakan sinar-sinar bias dari tiga sinar istimewa tersebut harus diperpanjang ke belakang (garis putus-putus).

Apabila ditinjau permukaan bola AA’ dengan sumbu utama di sebut titik vertek V. yang proyeksikan ke arah belakang memotong sumbu itu di P’. Maka P’ adalah bayangan dari P. Sudut Ø dan Ø’ berturut-turut adalah sudut antara PB dan PB’ terhadap normal 70 . Jarak benda s positif. Salah satu sinar dari p yang jatuh pada AA’ di B akan dibiaskan sesuai dengan hukum Snellius menjadi B’P’ dalam medium berindes bias n’. R. indeks bias medium (n dan n’) dan jari-jari permukaan bola. dan jari-jari kelengkungan R adalah negatif untuk sebuah cermin cembung.Laporan Praktikum Fisika Dasar II direfleksikan. Sinar yang direfleksikan. Suatu sumber sinar P diletakkan di kiri AA’ dalam medium berindeks bias n. semua sinar dari P yang direfleksikan oleh cermin itu berpencar dari titik P’ yang sama. Pembiasan dan Pemantulan Pada Permukaan Bola Pada pembahasan berikut ini akan diperlihatkan hubungan antara jarak benda s. Seperti dengan sebuah cermin cekung. jarak bayangan s’ negatif. dengan sudut masuk dan sudut refleksi yang keduanya sama dengan θ. jarak bayangan s’. asalkan sudut α kecil.

Jarak benda s. sedangkan daerah tempat sinar dibias di sebut daerah belakang. Jarak bayangan s’ adalah positif bila bayangan berada di daerah belakang. Tinggi benda Y maupun Y’ adalah positif bila benda di atas sumbu utama. 71 . Jari-jari permukaan R adalah positif bila pusat lengkungan bola berada di daerah belakang f. b. adalah positif bila benda berada di daerah depan. e. Rumusan dapat dinyatakan dalam pengertian jarak. c. Daerah tempat asal sinar datang disebut daerah depan. d. Semua jarak diukur dari titik ertek V ke titik yang bersangkutan. bila sebagai berikut : a.Laporan Praktikum Fisika Dasar II AA’ di B dan sudut u dan u’ berturut-turut adalah sudut antara PB dan BP’ terhadap sumbu utama PP’.

72 . maka F disebut titik fokus pertama permukaan bola tersebut dan f di sebut panjang fokus pertama. dan menghasilkan sinar bias sejajar sumbu utama.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Fokus Permukaan Bola Apabila sinar datang dari suatu titik F berjarak f dari vertek suatu permukaan bola.

Karena s = ∞. sehingga atau Dengan f adalah panjang fokus pertama Demikian pula bila sinar datang sejajar sumbu utama ( s = ∞ ) maka jarak bayangan adalah merupakan panjang fokus kedua bagi permukaan bola tersebut. maka dari rumus pembiasan permukaan bola dapat diperoleh 73 . dan rumus pembiasan untuk permukaan bola menjadi Dan s = f.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Karena sinar bias sejajar sumbu utama maka bayangan berada di tidak berhingga ( s’ = ∞ ).

ternyata pinggiran dari bayangan yang dihasilkan oleh lensa tersebut kelihatan ada warna. Maka indeks refraksi sebuah material bergantung pada panjang gelombang.1 Dispersi dengan f’ adalah panjang Apabila suatu gelombang dibiaskan ke dalam medium dispersif yang mempunyai indeks bias bergantung pada frekuensi atau panjang gelombang. Hal ini tampak pada peristiwa cahaya putih yang dilakukan pada sebuah lensa. maka atau fokus kedua 2. maka setiap komponen panjang gelombang akan dibiaskan melalui sudut yang berbeda. Cahaya putih biasa merupakan superposisi dari gelombanggelombang dengan panjang gelombang yang membentang melalui seluruh sprektrum tampak. gejala ini disebut dispersi. Kebergantungan laju gelombang dan indeks refraksi pada panjang gelombang dinamakan dispersi.2. Laju cahaya dalam ruang hampa adalah sama untuk semua panjang gelombang tetapi laju cahaya tersebut dalam zat material berbeda untuk panjang gelombang yang berbeda. Efek tersebut disebut aberasi kromatik. maka sudut pembiasan juga akan bergantung pada frekuensi atau panjang gelombang tersebut. Untuk gelombang datang yang terdiri atas berbagai frekuensi atau panjang gelombang.2 Sifat – sifat Cahaya 2. Banyaknya dispersi bergantung pada beda antara indeks-indeks refraksi untuk cahaya violet dan cahaya 74 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II Dan s’ = f’.

2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II merah.3 Difraksi Gelombang Difraksi gelombang adalah peristiwa difraksi atau lenturan dapat terjadi jika sebuah gelombang melewati sebuah penghalang atau melewati sebuah celah sempit. Penyederhanaan berkas-berkas cahaya menjadi garis atau sinar tidak boleh dilakukan dalam optika fisis(optika fisis merupakan bagian fisika yang membahas fenomena atau sifat-sifat cahaya dengan menggunakan alat-alat yang ukurannya relatif sama atau lebih kecil dibandingkan dengan panjang gelombang cahaya). dan sinar bias. Penyederhanaan ini membantu dalam optika geometri ( optika geometri merupakan bagian fisika yang membahas fenomenafenomena atau sifat-sifat cahaya dengan menggunakan alat yang ukurannya relatif lebih besar dibandingkan dengan panjang gelombang cahaya). 2.2 Spektrum Gelombang Elektromagnetik Garis-garis lurus yang menunjukkan arah perambatan berkas datang.4 Pemantulan dan Pembiasan Pada gambar ditunjukkan jika suatu berkas cahaya dari medium 1 jatuh medium 2. 3. sinar pantul.2. Pada optika fisis harus memperlakukan cahaya sebagai gelombang sebab efek interferensi dan difraksi sangat dominan. Beda antara indeks untuk cahaya merah dan violet adalah kecil dan dispersi itu juga akan kecil. maka berkas tersebut akan dipantulkan dari 75 . 2.2. berkas pantul dan berkas bias dan berkas bias ini dinamakan sinar datang.

berkas datang pada gambar digambarkan sebagai garis lurus. secara matematis ditulis sebagai berikut Nilai indeks bias tidak pernah lebih kecil dari 1. Perbandingan laju cahaya di udara hampa dengan laju v pada materi tertentu disebut indeks bias (n).2. Berkas datang diandaikan sebagai gelombang bidang. disebut “sinar” datang. Bila sudut datang .Laporan Praktikum Fisika Dasar II permukaan batas AB antara medium 1 dan 2 ke medium 1 dan sebagian lagi mengalami pembiasan ke dalam medium 2. sudut pantul θr dan sudut bias θt masing-masing diukur dari normal bidang batas AB 2. di air cahaya merambat kira-kira dengan laju ¾ c. dengan muka gelombang tegak lurus sinar datang.5 Indeks Bias Lensa Laju cahaya dalam udara hampa 3 x 108 m/s. Pada benda transparan seperti kaca dan air. kelajuan selalu lebih kecil dibanding di udara hampa. Berkas terpantul dan terbias juga dinyatakan dengan sinar. searah dengan arah jalar. Berikut tabel yang menunjukkan nilai indeks bias cahaya pada beberapa medium 76 . Di udara laju tersebut hanya sedikit lebih kecil. Sebagai contoh.

sehingga diperlukan waktu tempuh minimum”. Hukum pemantulan dan pembiasan dapat dengan mudah diturunkan dari prinsip ini.36 1.52 1.gambar dibawah ini menunjukkan titik tetap yaitu A dan B yang dihubungkan sinar APB.0003 1.46 1.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Medium Udara Hampa Udara (pada STP) Air Alkohol Etil Kuarsa Lebur Kaca Korona Api Cahaya Indeks Bias 1.0000 1. 77 .3 Prinsip Fermat Pada tahun 1650 Pierre Fermat menemukan prinsip yang sangat berarti pada dewasa ini yaitu : “suatu sinar cahaya yang melintasi dari titik satu ke titik yang lain akan mengikuti lintasan yang paling pendek. Tabel nilai indeks bias pada beberapa medium 2.58 Tabel 2.1.333 1.

Untuk membuktikan hukum pemantulan dengan prinsip fermat gambar dibawah ini yang menunjukan dua titik A dan B dalam dua medium yang berbeda dan sinar APB menghubungkan dua titik tersebut.Laporan Praktikum Fisika Dasar II dengan X adalah tempat jatuhnya sinar pada cermin. Untuk waktu t tertentu 78 .P akan memiliki posisi sedemikian rupa sehingga waktu lintas cahaya haruslah minimum (atau maksimum atau tetap tidak berubah) untuk menyatakan hokum pemantulan. Menurut prinsip fermat.

Prinsip fermat menyatakan bahwa l adalah minimum (atau maksimum atau tidak berubah) sehingga dapat diperoleh nilai X tertentu yang memenuhi syarat dl/dx sama dengan nol.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Besaran 1 = (n1l1 + n2l2) disebut panjang lintasan optis. Dengan demikian panjang lintasan optis adalah Bila dideferensialkan terhadap x diperoleh Karena dl/dx = 0 maka Persamaan ini ekivalen dengan 79 .

80 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II yang tidak lain adalah hokum pemantulan.

maka dengan mengubah-ubah kedudukan dimana bayangan jarum sama besarnya dengan benda jarum.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Jika disusun suatu sistem optis seperti gambar diatas. Jarak antara D dan pusat optic pada kedudukan tersebut sama dengan focus lensa tersebut (f). R2 = R2 Maka diperoleh : 81 . Bila cermin datar diambil dari kedudukan D di atas maka di dapat persamaan : Dimana : R1 = jari-jari lensa kelengkungan permukaan p = jarak dari D ke pusat optic lensa bila permukaan kelengkungan atas dan bawah sama maka : R1 = R1 .

Laporan Praktikum Fisika Dasar II Dimana : R2 = jari-jari kelengkungan atas lensa n = indeks bias lensa Bila di atas cermin diberi zat cair kemudian diletakkan lensa di atasnya. maka dengan mengatur kedudukan D seperti di atas didapat persamaan : Dimana : F’’ = jarak focus lensa gabungan n’ = indeks bias zat cair 82 .

Mengambil cermin dan melakukan pengamatan no 1 s/d 7 untuk beberapa kali (ditentukan oleh asisten) 9. Mengulangi percobaan 3 s/d 5 dalam keadaan ini beberapa kali (ditentukan oleh asisten) 8. meletakkan cermin di atas meja dan tetesi dengan zat cair. Meletakkan lensa di atas cermin datar 3. Mengambil lensa. Mencatat jarak antara D dan pusat optic lensa 6. Mengatur kedudukan jarum sehingga diperoleh bayangan yang sama besar dengan jarum (mata berada di sumbu utama lensa dan pakailah loupe) 5. Meletakkan cermin datar di M 2. Membalik kedudukan lensa (bertanda R1 dan R2) 7. Mengusahakan ujung jarum berada pada sumbu utama lensa 4. Melakukan percobaan 2 s/d 7 untuk keadaan ini. kemudian meletakkan lagi di atas lensa tersebut di atas zat cair 10. 83 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 1.

8 46.6 46.7 5.8 5.6 4.6 p2 (cm) 11.8 5.9 23.7 11.2 5.5 11.2 Lensa No. 1 2 3 4 Total Rata-rata p1 (cm) 11.9 23.5 11. 1 2 3 4 Total Rata-rata p1 (cm) 5.7 5.8 5.6 11.80 84 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB IV HASIL DAN ANALISA 4.8 5.4 11.80 p2 (cm) 5.6 11.5 11.4 11.1 Cermin dan Lensa No.2 5.

Air dan Lensa No.9 11.9 p2 (cm) 12 11.8 11.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 4.6 11.6 11.9 47.8 11.9 85 .9 47.3 Cermin.9 12 11. 1 2 3 4 Total Rata-rata p1 (cm) 11.

dilakukan pada intensitas cahaya yang tinggi. titik tersebut adalah titik fokus. Sebab pembentukan bayangan pada lensa sangat tipis.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 4. jarak jarum terhadap jari – jari kelengkungan lensa bertambah. Pembiasan itu sendiri adalah pembelokan cahaya yang disebabkan adanya perbedaan medium. Karena lensa cembung bersifat konvergen atau bersifat mengumpulkan cahaya. sehingga cahaya yang melewati lensa cembung akan mengumpul pada suatu titik. Percobaan dengan menggunakan cermin dan lensa akan menghasilkan jarak titik fokus lensa apabila diperoleh bayangan jarum yang simetris dengan jarum. Gelombang-gelombang yang dipantulkan kembali oleh atom-atom medium tersebut menginterferensi secara konstruktif pada sebuah sudut yang sama dengan sudut datang untuk menghasikan gelombang yang terpantul. Tidak semua cahaya dapat dibiaskan sempurna. Hal ini terjadi karena atom-atom dalam medium seperti lensa menyerap cahaya dan memantulkannya kembali dengan frekuensi yang sama ke semua arah. sehingga tampak pengaruh pembiasan terhadap cahaya yang 86 . Pada Percobaan tanpa menggunakan cermin dan cairan. akan tetapi ada sebagian cahaya yang dipantulkan. Hal ini didasarkan pada benda yang ditempatkan tepat pada fokus akan menghasilkan bayangan yang sama besar dengan benda. Pada saat ditambahkan air.5 PEMBAHASAN Lensa yang digunakan pada pengamatan ini adalah lensa cembung. Titik fokus yang dapat ditentukan dari lensa cembung digunakan untuk mencari indeks bias lensa dan indeks bias air. Hal itu disebabkan karena terjadi pembiasan cahaya yang mengakibatkan jarak antara jari – jari kelengkungan lensa terhadap jarum bertambah. pada lensa terdapat dua bayangan yang tebentuk. Bayangan yang letaknya sejajar benda dan terbalik terhadap benda. Pada percobaan yang pertama dan kedua pembiasnya berupa lensa sedangkan pada percobaan ketiga pembiasnya berupa lensa dan air.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II melewati lensa. 87 . Fungsi cermin pada percobaan ini sebagai pembentuk bayangan yang terbentuk pada lensa. Pengaruh ini disebabkan oleh cahaya yang telah dibiaskan oleh lensa dibiaskan lagi oleh air sehingga jarak fokus f’ yang merupakan titik fokus gabungan lensa dengan air lebih besar daripada f.

6. 3.80 cm Jarak fokus antara benda dengan lensa sebesar 2. 88 .95 Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa lensa tersebut simetris.95 cm Harga R1 dan R2 sebesar 11. 5.90 cm Jarak fokus antara benda dengan cermin. lensa dan air sebedar 5. Jarak fokus antara benda dengan cermin dan lensa sebesar 5. 4.50 harga indeks bias zat cair sebesar 0.60 Harga indeks bias lensa sebesar 1. 2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB V KESIMPULAN Dari data hasil percobaan didapatkan : 1.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II 89 .

Laporan Praktikum Fisika Dasar II 90 .

Laporan Praktikum Fisika Dasar II 91 .

Laporan Praktikum Fisika Dasar II 92 .

2 sama dengan f dari lensa Jawab: Karena apabila jarum digeser naik atau turun akan didapat suatu kedudukan dimana bayangan jarum akan sama besar dengan jarum aslinya. 3. Terangkan mengapa p pada gambar . karena jarak P itu tepat diperoleh bayangan sama dengan benda aslinya.Laporan Praktikum Fisika Dasar II TUGAS PENDAHULUAN DAN TUGAS AKHIR A. 2. Pada rumus (3) terjadi lensa gabungan dari lensa L dan lensa Planconcaf dari zat cair dan pemantulan oleh cermin di bawah lensa. Dimanakah titik optic lensa gabungan pada persamaan rumus (2) petunjuk pada pertanyaan 1 bayangan yang terjadi dari pembiasan seluruh lensa. Pada rumus (1) bayangan yang terjadi dari pembiasan permukaan lensa bagian atas dan pantulan oleh bawah lensa. Maka P=f lensa. Jawaban Tugas Pendahuluan 1. 93 . Jawab: Letak titik optic lensa ► jarak D dengan pusat optic lensa (tanpa cermin datar) Persamaan (3) lensa optic gabungan lensa didapatkan dari jari-jari lensa yang dihitung menggunakan jangka sorong dan hasilnya dibagi dua sehingga pada persamaan (3) angka 2 yang menyatakan perbandingan lurus ½ hasil jari-jari perhitungan gabungan lensa.

Jarak Fokus antara Benda dengan Cermin dan Lensa Karena p = p’. maka : [ ] [ ] 94 . B.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Jawab: Pada persamaan (4) yaitu memperlihatkan adanya gabungan lensa yang terlihat dari f’’ yang berarti bayangan yang berasal dari lensa bayangan sebelumnya f’ dan n’’ menunjukkan bahwa lensa gabungan ini menggunakan zat cair atau cermin. Jawaban Tugas Akhir 1. Tentukan focus lensa beserta kesalahannya (sesatannya) Jawab: a.

Apakah harga f berubah dengan membalik lensa tersebut? Terangkan! Jawab: 95 . Jarak Fokus antara Benda dengan Cermin. Lensa dan Air [ ] [ ] 2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II b. Jarak Fokus antara Benda dengan Lensa [ ] [ ] c.

Hitung harga indeks bias lensa beserta kesalahannya (sesatannya) Jawab: 96 . karena nilai p1 dan p2 nya sama.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Dari data yang diperoleh. 4. sehingga harga f1 dan f2 sama. Hitung harga R1 dan R2 apakah R1 dapat dianggap sama dengan R2 gunakan rata-rata f no. hal ini menunjukkan bahwa lensa tersebut simetris. rata-rata p1 sama dengan p2.1 Jawab: [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] [ ] Harga R1 dan R2 dianggap sama. 3. Berarti harga f tidak berubah dengan membalikkan lensa tersebut.

Jelaskan dimana sumber kesalahan terbesar pada percobaan ini Jawab: Sumber kesalahan terbesar pada percobaan ini adalah terletak pada: 97 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II 5. Hitung harga indeks bias zat cair beserta kesalahannya (sesatannya) Jawab: 6.

Pada percobaan ini. sehingga dalam menentukan perhitungan terhadap data yang diperoleh dapat akurat. Tingkat keakuratan pengukuran pada percobaan dapat diketahui dari presentase ralat yang dilakukan. d) Intensitas cahaya. karena klem yang kurang baik menjadikan posisi benda menjadi tidak stabil. Karena semakin tinggi intensitas cahaya yang tersedia bayangan yang terbentuk pada lensa semakin jelas. b) Kualitas Lensa. c) Klem dan statif. lensa yang tergores atau pecah dapat mempengaruhi ketepatan dalam melihat bayangan benda. faktor yang sangat berpengaruh adalah intensitas cahaya. 98 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II a) Pengamatan mata. semakin baik lensa maka semakin jelas bayangan yang ditimbulkan. yang mungkin telah dianggap sama ternyata belum. sehingga mempengaruhi pengamatan saat pengukuran. hal ini dapat terjadi karena adanya kesalahan dalam pengamatan antara bayangan dengan benda. sebaiknya digunakan yang masih baik. Hal ini akan mempermudah pengukuran pada percobaan.

net www.com 99 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB VII DAFTAR PUSTAKA Yasin.wordpress. 2008.aktifisika. Laporan Praktikum Fisika Dasar 1 Percobaan Indeks Bias dan Zat Cair: Institut Teknologi Sepuluh Nopember www.blogspot.mediabelajaronline.sidikpurnomo.wikipedia.com www.com www. dkk.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II MODUL 4 RESISTANSI KULIT 10 0 .

Proyek akhir ini sinyal GSR akan difiltering pada frekuensi 0. 10 1 . diantaranya adalah perubahan detak jantung.Laporan Praktikum Fisika Dasar II RESISTANSI KULIT I. Kemudian sinyal tersebut dikirimkan ke PC melalui port serial(COM) untuk ditampilkan dan dimonitoring pada PC dengan parameter pembanding sinyal tekanan darah. Dalam dunia elektronika bisanya digunakan sebagai penghambat arus listrik. Galvanic Skin Respon (GSR) atau resistansi kulit saat ini lebih populer disebut sebagai Electrodermal Respon (EDR) adalah sebuah metode yang dapat digunakan untuk menangkap respon sistem saraf otonom sebagai sebuah parameter dari fungsi kelenjar keringat. kondisi emosional seperti stress. resistansi kulit dan tekanan darah. Ketika seseorang mengalami stress maka akan terjadi peningkatan psikologis didalam tubuh. dimana kelenjar keringat akan aktif bila tubuh dalam kondisi stress atau berada pada kondisi tertekan. Dimana parameter-parameter fisiologi yang berubah akibat seseorang mengalami stress sangat beragam. Stress merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari hari. Hal yang bisa mempengaruhi resistansi kulit manusia misalnya suhu. DASAR TEORI Resistansi kulit adalah hambatan pada kulit. perubahan pupil mata.5 sampai 20 Hz. Dengan kata lain GSR adalah perubahan psikologis pada kulit akibat dari perubahan aktifitas kelenjar keringat. Pada dasarnya alat ini akan memonitor perubahan psikologis sinyal tubuh ketika seseorang mengalami berbagai macam tekanan. Secara fisik GSR adalah sebuah perubahan elektrik kulit didalam respon terhadap berbagai macam stimuli.

Wanita dewasa memiliki resistansi tubuh yang berbeda dengan laki-laki dewasa. yakni sekitar 300 Ω . lapisan luar dan lapisan dalam. 10 2 . bersih dan tidak sobek. Jadi jika kulit sedang kering. Resistansi tubuh manusia terdapat hampir pada semua kulit tubuh. Resistansi tubuh wanita dewasa lebih rendah dibanding resistansi tubuh laki-laki dewasa. Tetapi untuk mendapatkan kondisi kulit yang benar-benar kering adalah hal yang jarang dijumpai. Untuk kulit lapisan dalam. karena adanya cairan tubuh. resistansi menjadi tinggi dan cukup untuk melindungi dari bahaya sengatan listrik. Kulit tubuh terdiri atas 2 (dua) lapisan. resistansi tubuh juga dipengaruhi oleh jenis kelamin. Oleh karena itu arus listrik yang mengalir ke tubuh wanita dewasa cenderung lebih besar.” Resistansi tubuh manusia terhadap aliran listrik berubah-ubah sesuai dengan kondisinya.000 Ω untuk kulit kering. resistansi listrik menjadi rendah.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Menurut penelitian di Science Centre Singapore (2009). yaitu antara 100-500 Ω. Kecenderungannya setiap orang akan mengeluarkan keringat walaupun hanya sedikit. Selain itu. yang berkisar dari sekitar 1000 Ω untuk kulit basah untuk sekitar 500. Hambatan internal dari tubuh kecil. memiliki resistansi relatif lebih rendah. “Berjalannya arus listrik melalui tubuh manusia biasanya ditentukan oleh resistensi kulit. Lapisan luar tersusun dari sel-sel sisik (scally cell) yang mempunyai resistansi yang tinggi pada keadaan kering. Oleh karena itu dianggap bahwa tubuh selalu basah.

nilai resistansi terendah terletak di tangan. hal-hal yang mempengaruhi resistansi tubuh manusia adalah : Gambar Hal Mempengaruhi Resistansi Menurut Prof. Kerja otak pada dasarnya bersifat elektrik. Physiol dan Dr. Drs. Listrik yang dihasilkan di dalam tubuh berfungsi untuk mengendalikan dan mengoperasikan saraf. Komponen listrik yang mengalir dalam tubuh sesuai dengan hukum ohm dipengaruhi oleh 3 faktor.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Jadi. YS. Santoso Giriwijoyo. sel-sel dalam tubuh manusia yang jumlahnya lebih dari 1 trilyun. masing-masing mempunyai muatan listrik sebesar 90 V/m dengan muatan positif di luar membran sel dan muatan negative di dalamnya. Nilai resistansi kulit manusia sebenarnya tersebar di seluruh permukaan kulit. Itulah sebabnya orang banyak kesetrum lewat kontak tangan. yaitu arus . namun menurut hasil riset. resistansi tubuh dan tegangan sentuh. R= V/I Dimana R= resistansi tubuh 10 3 . otot dan berbagai organ.

rasa kesemutan makin bertambah 13 – 15.0 mA Otot tidak sanggup lagi melepaskan penghantar Dapat mengakibatkan kerusakan pada tubuh manusia 50 – 100.6 – 6.0 mA Tangan sampai kesiku merasa kesemutan Tangan mulai kaku.0 mA 20 – 50. Saat kita dialiri arus dengan nilai arus tertentu.Laporan Praktikum Fisika Dasar II V= tegangan sentuh kulit I= arus yang mengalir dalam tubuh Besarnya arus yang mengalir di tubuh.9 – 1.0 mA Batas arus yang dapat menyebabkan kematian 10 4 . Besar arus 0 – 0.2 mA Pengaruhnya pada tubuh manusia Belum merasakan pengaruh Baru terasa adanya arus listrik tapi tidak menimbulkan kejang 1.6 mA Mulai terasa se akan2 ada yang merayap didalam tangan 1.2 – 1.0 – 8.0 mA Rasa sakit tak tertahankan penghantar masih dapat dilepas 15 – 20. berbeda-beda nilainya. berbeda pula akibat yang dirasakan.0 mA 6.9 mA 0.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II Tegangan sentuh Tegangan (contact voltage) ini timbul ketika seseorang memegang sebuah benda atau konduktor yang sedang dialiri arus dimana orang tersebut juga terhubung ke Besar arus yang mengalir dibatasi oleh nilai tersebut.400 1.5 1 2 3 Tegangan Sentuh (Volt) 1. Tegangan Sentuh Yang Tidak Membahayakan Durasi (detik) 0.3 0.140 990 890 626 443 362 ground.980 1.2 0.4 0.1 0. resistansi dari tubuh manusia 10 5 .

oleh karena itu tegangannya pula. 10 6 . Karena kulit menjadi berair. yang juga akan berlaku sebagai penyangga. Dua potong kawat lentur digulung pada jari-jari atau pergelangan tangan dan di pergunakan sebagai penerima. Detektor kebohongan ini sesungguhnya memberikan dua pembacaan : satu untuk orang percobaan ketika ditanyakan soal yang sulit dan satu lagi untuk menunjukkan keadaan emosi umum dari seseorang. Alatnya bernama Detektor Bohong Prinsip dari detektor kebohongan telah diketahui secara luas. isyarat keluaran akan memberikan pembacaan. Kapasitor C1 menjamin penekanan dengung (hum) yang muncul. Tanda ini diberikan oleh sebuah meter yang dihubungkan ke titik B pada rangkaian. Keadaan emosi dari seseorang dapat ditentukan dengan mengukur resistansi rata-rata kulit pada suatu jangka waktu. tetapi juga dengan meningkatnya kadar air pada permukaan kulit.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Pemanfaatan dari resistansi kulit diantaranya adalah untk mendeteksi kebohongan. dan tangan yang bergetar. Tentu berarti kontak langsung dengan rangkaian dan oleh karena itu harus diberi tegangan 9 V. Hasilnya. Meter yang paling cocok untuk tujuan ini adalah jenis yang dipakai penerima FM pada penunjuk penala. maka reistansinya akan lebih rendah dan ini akan menyebabkan detektor kebohongan bereaksi. pada masukan rangkaian akan diperkuat oleh penguat operasional (op-amp) A1. Tiap perubahan resistansi. keadaaan emosi seseorang tidak hanya ditandai dengan detak jantung yang lebih cepat. yaitu nol di tengah.

Jangka waktu lamanya resistansi diukur ditentukan terutama oleh R5. Tapi dengan alat pendeteksi kebohongan atau Polygraph. yang dulu merupakan mahasiswa University of California. Potensiometer P1 memungkinkan penundaan waktu dari rangkaian.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Penguat operasional A2 terhubung sebagai integrator dan memungkinkan rangkaian mengatur secara otomatis harga rata-rata resistansi kulit. namun umumnya seseorang berbohong sebagai suatu mekanisme pertahanan diri untuk menghindari masalah. Bila perlu perbaikan lebih jauh dapat dilakukan dengan mengganti resistor ini dengan potensiometer. akan tetapi dioda D 1 dan D2 menjamin bahwa rangkaian segera bekerja secepat mungkin. C2. 10 7 . Karena resistansi kulit berbeda dari satu orang dengan yang lainnya maka perlu untuk merubah harga resistor R1. seorang yang ahli berbohong pun tidak akan bisa mengelak. meter yang tersambung pada keluaran B tak akan memberikan suatu pembacaan (meter biasa dapat dipakai). dibuat versi modernnya oleh John Larson. Mendeteksi kebohongan memang bukan hal mudah. Bagaimana cara kerja alat itu? Tiap orang memang memiliki gaya berbohong yang berbeda-beda. Alat yang diberi nama Polygraph itu diciptakan pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902. Sebuah alat yang diciptakan khusus untuk mendeteksi kebohongan pun akhirnya diciptakan. Banyak alasan yang dikemukakan saat berbohong. Pembacaan meter B yang terlalu tinggi menunjukkan bahwa resistansi dari orang percobaan rendah (karakteristik orang dengan tangan basah / lembab) dan dianjurkan untuk mengurangi harga R1. Kemudian pada tahun 1921. Bila waktu ini habis. Meskipun ada tanda-tanda tertentu ketika seseorang berbohong. C3.

Di dalam ruangan interogasi hanya ada dua orang. Cara kerja Polygraph adalah dengan mencatat dan merekam seluruh respons tubuh secara simultan ketika seseorang diberi pertanyaan. Pemeriksaan dengan Polygraph umumnya mencapai 2 jam dengan tingkat keakuratan hingga 90 persen. detak jantung. Sensor tersebut antara lain yaitu : 1. tekanan darah. diketahuilah grafik perubahan fungsi organ tersebut. Secara sederhana. Satu paket alat Polygraph terdiri atas monitor dan alat sensor digital lainnya yang dihubungkan ke seluruh bagian tubuh untuk mengetahui perubahan atau fluktuasi psikologia ketika seseorang berbicara jujur atau bohong. Mereka mengatakan tidak ada standar khusus yang bisa mendeteksi kebohongan. Melalui sensor yang dihubungkan pada bagian tubuh atau organ tersebut. Namun alat ini masih menuai kontroversi terutama di kalangan psikolog. bekerja ketika ada kontraksi di otot dan udara di dalam tabung. Seseorang yang akan diuji dengan alat Polygraph duduk di bangku. dan lainnya.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Polygraph banyak digunakan oleh kepolisian atau FBI untuk melakukan interogasi dan investigasi suatu kasus. Blood Pressure Cuff. 2. kulit. ucapan yang dikeluarkannya akan menghasilkan reaksi psikologis di dalam tubuh yang akan mempengaruhi kerja organ tubuh seperti jantung. Pneumograph. untuk mendeteksi perubahan tekanan darah dan 10 8 . untuk mendeteksi ritme nafas. Begini prosedur kerjanya 1. ditempelkan pada bagian dada dan perut. diantaranya grafik bernafas. ketika seseorang berbohong. keringat dan lainnya. Beberapa sensor yang terhubung dengan kabel-kabel pada alat Polygraph dipasang di tubuh orang yang akan diuji. yaitu penguji (Forensic Psychophysiologist) dan orang yang diuji. 2.

aktivitas ephinerphin pun semakin meningkat. 4. bekerja seiring dengan suara yang muncul dari denyut jantung atau aliran darah. Akibatnya? Tentu saja. 5. bekerja dengan mendeteksi seberapa banyak keringat yang keluar ketika dalam keadaan tertekan dan berbohong. tekanan darah. Semakin grogi seseorang. ditempelkan pada jari-jari tangan. Substansi ini bekerja pada kelenjar keringat. Penguji kemudian memberikan beberapa pertanyaan kepada seseorang mengenai suatu topik.Laporan Praktikum Fisika Dasar II detak jantung. keringat semakin menjadi-jadi . Fluktuasi yang terbaca oleh alat Polygraph akan menentukan apakah seseorang berbohong atau jujur. Peningkatan aktivitas saraf simpatis ini juga mengakibatkan perubahan resistansi elektrik kulit. memproduksi keringat. 10 9 . ditempelkan pada bagian lengan atas. Biasanya. isu atau kasus. untuk mendeteksi keringat terutama di daerah tangan. Dapat digambarkan sebagai berikut : Terdeteksi bohong atau tidaknya seseorang terbaca alat polygraph terlihat pada grafik kondisi nafas input berupa ritme nafas. 3. Galvanic skin resistance (GSR). 3. Saat kita grogi atau gugup. Hal inilah yang menyebabkan “keringat dingin” tersebut. ada peningkatan aktivitas saraf simpatis dalam tubuh yang juga mengakibatkan kenaikan sekresi ephinerphin dari kelenjar adrenalin. dan intensitas keringat tubuh Keringat adalah respon dari keadaan emosional. yakni pada telapak tangan dan ketiak. Penguji akan membaca grafik tersebut dan mengetahui apakah ada reaksi yang tidak normal atau fluktuatif. hal inilah yang menjadi basis penggunaan lie detector.

Air Panas (400C) dan air dingin (100C) 5. PERALATAN 1. IV.5 volt/ 4. Sumber arus DC ( baterei 1.Laporan Praktikum Fisika Dasar II II.HASIL PERCOBAAN NO NAMA KONDISI KULIT 11 0 . Mengulangi langkah 2 dengan telapak tangan yang telah direndan air bersuhu 400C selama 3 menit 5. 2. Mengulangi langkah 2 dengan telapak tangan yang telah direndam air bersuhu 10OC selama 3 menit 6. 3. Dibuat rangkaian alat pengukur resistansi kulit seperti pada gambar diatas 2. Mengulangi langkah 2 dengan telapak tangan yang telah direndan air bersuhu normal selama 3 menit 4.PROSEDUR PERCOBAAN 1. Diukur arus listrik pada salah satu telapak tangan dalam kondisi kering dengan sebelumnya di beri jeli secukupnya. Ampere meter 3. Stopwatch III. Elektroda Ag-AgCl dan jeli. Diamati dan dianalisa hasil percobaan. Termometer 6.

apakah yang akan terjadi dengan temperatur kulit ! 3.Laporan Praktikum Fisika Dasar II KERING I (mA) 1 2 3 4 5 ARINI NOVIE NURUL HENDRIK WINOTO 9 18 11 11 13 BASAH NORMAL I(mA) 6 5 6 7 9 T(0C) 27 27 27 28 27 BASAH HANGAT I(mA) 5 5 6 7 10 T(0C) 41 39 46. TUGAS AWAL 1. Mengapa harus digunakan sumber arus DC? Apakah yang terjadi jika diberikan arus AC? 7. Jelaskan bagaimana GSR dapat diaplikasikan untuk deteksi kebohongan 2. Mengapa elektroda yang digunakan adalah Ag-AgCl ? 6. Mengapa GSR digunakan pada telapak tangan ! 4. Apakah yang dimaksud dengan metoda peletakan elektroda bipolar dan unipolar? Belum 11 1 . Jika terjadi penurunan resistansi kulit. Apa yang terjadi jika resistansi kulit meningkat hingga 1 MQ ! 5.5 43 10 BASAH DINGIN I(mA) 4 6 4 5 8 T(0C) 20 21 19 23 19 VI.

Untuk Ag+Cl-. nilai potensial E0=+0. Temperatur kulit meningkat. 2. 4. Karena resisitansi kulit berbanding terbalik suhu.799V (data didapat dari Medical Instrumentation Aplication and Design). Dengan menggunakan elektroda yang terbuat dari bahan perak / perak klorida (Ag/AgCl) meminimalkan overpotentials (selisih antara potensial setengah sel diamati untuk sirkuit tertentu dan potensial setengah sel standar). Sehingga kebohongan pun bisa terdeteksi. nilai potensial E0=+0. Karena kondisi kulit tangan berpori dan memiliki resistansi yang kecil sehinggan lebih mudah diukur resistansinya dibandingkan organ tubuh yang lain. Semakin berkeringat maka resistansi kulit akan menurun. Aplikasinya adalah bila alat GSR ditempelkan pada telapak tangan pada manusia maka alat tersebut bisa menangkap reaksi yang terjadi pada telapak tangan misalnya aktifitas keringat.223V. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut sedang mengalami tekanan emotional seperti berbohong. 3. Aktifitas keringat tersebut sebagai indikator kondisi emosional seseorang. apabila diukur dengan mengunakan alat ukur tegangan kulit (GSR) maka nilai dari hasil pengukuran akan sama dengan tegangan pada tubuh manusia yang diukur.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 8. Jelaskan timbulnya kelistrikan dalam tubuh! JAWABAN 1. m 5. 11 2 . Dimana nilai dari tegangan kulit yang diukur. sedangkan untuk Ag. Dimana potensial standar (E0) adalah potensi 1M konsentrasi larutan pada suhu 25 ° C ketika tidak ada arus di seluruh antarmuka.

TUGAS AKHIR 1. Jelaskan pengaruh dari suhu kulit dengan resistansi kulit! 4. Kerja otak pada dasarnya bersifat elektrik. Peletakan bipolar adalah peletakan elektroda dimana hanya menggunakan 2 elektroda. Jelaskan timbulnya kelistrikan dalam tubuh! 5. Contohnya pada alat GSR. Bandingkan perbedaan resistansi kulit dari masing masing orang! 3. Karena arus DC memiliki arus yang stabil sehingga resistansi bisa terbaca dengan optimal. 8. 7. Peletakan unipolar adalah adalah peletakan elektroda dimana menggunakan banyak elektroda. Sebutkan hal – hal apa saja yang mempengaruhi resistansi seseorang berdasarkan percobaan yang telah dilakukan! 6. Contohnya pada alat EKG. Listrik yang dihasilkan di dalam tubuh berfungsi untuk mengendalikan dan mengoperasikan saraf.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 6. otot dan berbagai organ. V. Hitunglah resistansi kulit dari percobaan yang dilakukan! 2. Bila memakai arus AC resistansi yang terbaca bukan yang sebenarnya dan bisa menyebabkan kelistrikan ( kesetrum ) pada tubuh. Jelaskan menurut pendapat anda apakah kuantitas jeli yang diberikan pada elektroda akan mempengeruhi resistansi ? Apakah jeli dapat digantikan? 11 3 . Sel-sel dalam tubuh manusia yang jumlahnya lebih dari 1 trilyun. masing-masing mempunyai muatan listrik sebesar 90 V/m dengan muatan positif di luar membran sel dan muatan negative di dalamnya.

006 136. kondidi emosional dan genderpun berbeda.6667 187.Hal ini dikarenakan resistansi berbanding lurus dengan suhu. 4.011 WINOTO 0.01 R(Ω) 300 300 250 214. Resistansinya akan lebih besar dibandingkan dengan suhu normal. Perbedaannya sangat beragam.013 115.009 0. masingmasing mempunyai muatan listrik sebesar 90 V/m dengan muatan positif di luar membran sel dan muatan negative di dalamnya.005 0.3333 0.005 136. Sel-sel dalam tubuh manusia yang jumlahnya lebih dari 1 trilyun. Karena suhu kondisi kulit manusia akan berubah contonya pada suhu hangat .006 83.3846 0. Contonya perbedaan resistansi pada kulit kering. Hal ini disebabkan karena perbedaan suhu kulit tangan tiap orang berbeda – beda.004 0.3636 0.018 0.007 HENDRIK 0. Pengaruhnya suhu air bisa menimbulkan perubahan resistansi kulit manusia. 3.005 0. Bila V=1.011 KERING R(Ω) BASAH NORMAL I (A) R(Ω) 250 300 250 214.5 volt R= V/I KONDISI KULIT NO NAMA I (A) 1 2 3 4 5 ARINI NOVIE NURUL 0.004 0.6667 0. kulit basah hangat dan kulit basah dingin sangat bervariasi. ketebalan kulit tiap orang berbeda . kulit basah normal.009 166.5000 2. Semakin tinggi suhu maka semakin tinggi pula resistansi kulitnya .005 0.3636 0.2857 BASAH HANGAT I (A) 0.006 0.006 0. Setiap orang memiliki resistansi kulit yang berbeda – beda.008 R(Ω) 375 250 250 300 166.Laporan Praktikum Fisika Dasar II JAWABAN 1. Listrik yang 11 4 .2857 150 BASAH DINGIN I (A) 0.007 0.

Untuk kulit lapisan dalam. resistansi listrik menjadi rendah. Kerja otak pada dasarnya bersifat elektrik. Resistansi tubuh manusia terdapat hampir pada semua kulit tubuh. Resistansi tubuh wanita dewasa lebih rendah dibanding resistansi tubuh laki-laki dewasa.Selain itu. Tetapi untuk mendapatkan kondisi kulit yang benar-benar kering adalah hal yang jarang dijumpai. Kecenderungannya setiap orang akan mengeluarkan keringat walaupun hanya sedikit. 5. Lapisan luar tersusun dari sel-sel sisik (scally cell) yang mempunyai resistansi yang tinggi pada keadaan kering. Semakin tebal kulit maka resitansi kulitnya akan semakin besar. Resistansi tubuh manusia terhadap aliran listrik berubah-ubah sesuai dengan kondisinya. resistansi tubuh juga dipengaruhi oleh jenis kelamin. otot dan berbagai organ. memiliki resistansi relatif lebih rendah. Oleh karena itu arus listrik yang mengalir ke tubuh wanita dewasa cenderung lebih besar. yakni sekitar 300 Ω .Tebal tipisnya kulit juga membpengaruhi resistansi kulit manusia. Wanita dewasa memiliki resistansi tubuh yang berbeda dengan laki-laki dewasa. resistansi menjadi tinggi dan cukup untuk melindungi dari bahaya sengatan listrik. Jeli tersebut hanya berperan sebagai penurun tegangan kulit. Sebaliknya selakin tipis kulit manusia maka resistansi kulitnya akan semakin kecil. Tidak mempengaruhi. Oleh karena itu dianggap bahwa tubuh selalu basah. Sehingga elektroda bisa menempel dengan kuat . KESIMPULAN 11 5 . VI.Jadi jika kulit sedang kering. Kulit tubuh terdiri atas 2 (dua) lapisan. bersih dan tidak sobek. Selain itu jeli berperan sebagai penghubung antara kulit dengan alat . 6.Laporan Praktikum Fisika Dasar II dihasilkan di dalam tubuh berfungsi untuk mengendalikan dan mengoperasikan saraf. lapisan luar dan lapisan dalam. karena adanya cairan tubuh.

Aktifitas keringat dan kondisi emotional bisa terbaca dengan adanya perubahan resistansi pada kulit. tegangan atau V (volt) dan arus listrik atau I ( Ampere). 2. Mengukur resistansi kulit dengan cara mengalirkan arus listrik. 11 6 . Besaran besaran listrik dalam tubuh diantaranya hambatan atau R (Ω). Besarnya resistansi kulit bisa dihitung dengan membagi tergangan yang dialirkan dibagi dengan kuat arusnya. Hambatan berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan kuat arus listrik. 3.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 1. Aktifitas keringat dan kondisi emotional bisa terbaca oleh alat pengukur resistansi kulit.

1. Tujuan Percobaan : 11 7 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II MODUL 6 HUKUM OHM BAB I PENDAHULUAN I.

2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 11 8 . Alat Percobaan : 1. I. Beberapa komponen (lampu. Menentukan karakteristik beberapa komponen listrik dengan menggunakan amperemeter dan voltmeter. Kabel –kabel penghubung. hambatan.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 1. Amperemeter DC 2. Mengenal hubungan seri dan paralel. Sumber arus DC 4. NTC dan dioda) 5.2. Voltmeter DC 3.

bila diberi beda potensial maka akn dialiri arus listrik di dalamnya.Laporan Praktikum Fisika Dasar II II. Daya (power) yang diberikan kepada elemen listrik : P = V . Teori Penunjang : Sebuah elemen listrik X.(1) Dimana : E : beda potensial antara ujung – ujung elemen I : kuat arus yang melalui elemen R : besarnya hambatan Sedangkan elemen – elemen lainnya tidak linier.1. Untuk suatu hambatan biasa. R ………………. I…………………(2) Pada percobaan ini digunakan rangkaian metode 1 dan metode 2 ( lihat gambar 1 dan gambar 2) yang masing – masing mempunyai perbedaan. 11 9 . pada umumnya grafik karakteristiknya I vs V adalah linier memenuhi persamaan : E = I .

Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis penghantar. II. namun istilah "hukum" tetap digunakan dengan alasan sejarah. 2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Metode 1 memberikan pengukuran tegangan yang sebenarnya pada elemen X sedangan metode 2 memberikan pengukuran kuat arus yang sebenarnya yang melalui elemen X. Teori Tambahan : Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya. Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya. 12 0 .

seorang fisikawan dari Jerman pada tahun 1825 dan dipublikasikan pada sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada tahun 1827. Konstanta ini kemudian di kenal dengan Hambatan listrik (R). Untuk menghilangkan kesebandingan ini maka perlu ditambahkan sebuah konstanta yang kemudian di kenal dengan Hambatan (R) 12 1 . Bunyi hukum Ohm hampir setiap buku berbeda beda. Untuk sementara tegangan dan beda potensial dianggap sama walau sebenarnya kedua secara konsep berbeda. Besarnya arus listrik yang mengalir sebanding dengan besarnya beda potensial (Tegangan). Secara matematika di tuliskan I ∞ V atau V ∞ I. V adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt. Hukum ini dicetuskan oleh Georg Simon Ohm. Selain tiu dia juga menenmukan bahwa perbandingan antara beda potensial di suatu beban listrik dengan arus yang mengalir pada beban listrik tersebut menghasilkan angka yang konstan. Ohm diambil dari nama tokoh fisika George Simon Ohm. dan R adalah nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm. ada 2 bunyi hukum Ohm yaitu : 1.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan: dimana I adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere. Untuk menghargai jasanya maka satuan Hambatan listrik adalah Ohm (Ω).Tetapi secara garis besar semuanya hampir sama. Dia merupakan ilmuan yang berhasil menentukan hubungan antara beda potensial dengan arus listrik.

Fungsi utama hukum Ohm adalah digunakan untuk mengetahui hubungan tegangan dan kuat arus serta dapat digunakan untuk menentukan suatu hambatan beban listrik tanpa menggunakan Ohmmeter. besar kecilnya hambatan listrik tidak dipengaruhi oleh besar tegangan dan arus listrik tetapi dipengaruhi oleh panjang penampang. 2. I adalah kuat arus (A) dan R adalah hambatan (Ohm).R. 12 2 . Konsep ini salah. Keduanya menghasilkan persamaan yang sama. Secara matematika di tuliskan V/I = R atau dituliskan V = I. luas penampang dan jenis bahan. tinggal anda menyukai dan menyakini yang mana silakan pilih saja karena keduanya benar dan ada buku literaturnya. Kesimpulan akhir hukum Ohm adalah semakin besar sumber tegangan maka semakin besar arus yang dihasilkan. Dimana V adalah tegangan (volt). Kemudian konsep yang sering salah pada siswa adalah hambatan listrik dipengaruhi oleh besar tegangan dan arus listrik.Laporan Praktikum Fisika Dasar II sehingga persamaannya menjadi V = I.R. Perbandingan antara tegangan dengan kuat arus merupakan suatu bilangan konstan yang disebut hambatan listrik.

dengan persetujuannya. 5. Mengulangi percobaan diatas dengan menggunakan termistor. 12 3 . 4. 6. 3. barulah rangkaian dihubungkan dengan sumber tegangan. Begitu pula sebaliknya dari yang besar hingga yang kecil. dan belum di hubungkan dengan sumber tegangan. Mengulangi percobaan 1 s/d 3 dengan menggunakan dua komponen yang dipasang seri. Menyusun rangkaian seperti pada gambar. Mencatat kuat arus untuk beberapa harga beda potensial dari yang kecil hingga yang besar (Tanya pada asisten harga – harga ini).1 dengan memakai lampu. Perhatikan besarnya tegangan listrik yang harus digunakan (ditentukan oleh asisten). NTC. Mengulangi percobaan 5 dengan komponen dipasang paralel. 2. Setelah rangakaian diperiksa oleh asisten.Laporan Praktikum Fisika Dasar II BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 1. hambatan dan dioda.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

7. Mengulangi percobaan 1 s/d 6 untuk rangkaian seperti pada gambar.2.

BAB IV DATA PERCOBAAN

a. Tanpa Beban

12 4

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

No 1 2 3 4

Pengukuran Naik E (volt) I (mA) 4 0 5.5 0 7.5 0 11 0

Pengukuran Turun E (volt) I (mA) 11 0 7.5 0 5.5 0 4 0

b. Dengan Beban No Komponen Pengukuran Naik E (volt) I (mA) 3.5 40 5 50 7 60 10.5 70 4 0 5.5 0 7 0 11 0 3.5 40 5 50 6.5 70 10 120 3 40 4.5 70 5.5 130 Pengukuran Turun E (volt) I (mA) 10.5 70 7 60 5 50 3.5 40 11 0 7 0 5 0 3.5 0 10 120 6.5 70 9 50 3.5 40 5.5 150 4.5 150 2.5 90

1

lampu

2

Dioda

3

Resistor

4

NTC

c. Hubungan Seri dan Paralel No. 1 Komponen Lampu & Pengukuran Naik E (Volt) I (mA) 3.5 10 5 20 Pengukuran Turun E (Volt) I (mA) 10 50 6.5 40

12 5

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

2

Resistor (Terhubung Seri) Lampu & Resistor (Terhubung Paralel)

6.5 10 2.5 4 5 9

30 50 70 100 120 180

5 3.5 9 5.5 4.5 3

20 10 180 130 100 70

a. Dengan Beban No Komponen Pengukuran Naik E (volt) I (mA) 3.5 40 5.5 50 7 60 10.5 80 4 0 5.5 0 7.5 0 11 0 3.5 40 5 60 7 80 10.5 120 3.5 40 5.5 80 7 140 Pengukuran Turun E (volt) I (mA) 10.5 80 7 60 5.5 50 3.5 40 11 0 7 0 5.5 0 4 0 10.5 120 7 80 5 60 3.5 40 7 170 5 130 3.5 80

1

lampu

2

Dioda

3

Resistor

4

NTC

12 6

Rangkaian yang pling baik untuk percibaan ini adalah rangkaian paralel.5 20 7 40 10.5 10 5. Pengaruh suhu/temperature adalah semakin tinggi temperature suatu penghantar.5 80 1 2 LAMPIRAN TUGAS PENDAHULUAN 1. Hububgan Seri dan Paralel No.5 60 3.5 10 10. karena tidak bergantung pada arus. 4. semakin tinggi pula getaran elektron-elektron 12 7 .5 60 7 40 5.5 80 5 100 7 130 10. Komponen Lampu & Resistor (Terhubung Seri) Lampu & Resistor (Terhubung Paralel) Pengukuran Naik E (Volt) I (mA) 3. Memberi koreksi bila diketahui hambatan dalam voltmeter adalah dengan menggunakan rumus IR + IRV = I (R+RV) 2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II b.2 cara memberi koreksinya dengan menggunakan rumus IA= ( ) 3.5 180 Pengukuran Turun E (Volt) I (mA) 10.5 180 7 130 5 100 3. Pada gambar.5 20 3.

Elektron-elektron tersebutlah yang akan menghambat jalannya muatan listrik dan penghantar tersebut. Menghitung hambatan seri dan paralel 3. Menghitung hambatan dari setiap komponen 2.Laporan Praktikum Fisika Dasar II bebas dalam penghantar. sedangkan non ohmik adalah hambatan yang dipengaruhi oleh arus. Tanpa Beban Pengukuran pengukuran Naik Turun Hambatan ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ No 1 2 3 4 12 8 . Hambatan ohmik adalah hambatan yang tidak dipngaruhi oleh arus. Menghitung daya yang diberikan pada setiap komponen. TUGAS AKHIR 1. 5. 1.

Hubungan seri dan paralel Pengukuran Pengukuran Naik Turun Hambatan 350 200 250 162.8 100 87.78 Pengukuran Turun No Komponen 2 Dioda 3 Resistor 4 NTC 3.33 75 64.31 41.8 83. Dengan beban Pengukuran Naik Hambatan 1 Lampu 87.31 ∞ 150 116.29 42.67 30 27.5 ∞ ∞ ∞ ∞ 83.33 92.67 150 ∞ ∞ ∞ ∞ 87.71 50 40 42.5 100 92.5 100 116.67 250 200 350 35.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 2.86 No Komponen Lampu & Resistor (Terhubung Seri) Lampu & Resistor (Terhubung Paralel) 1 2 4.5 ∞ 36.67 100 87. Tanpa beban No Pengukuran pengukuran 12 9 .67 45 50 42.5 216.

Seri dan paralel Pengukuran Naik No Komponen Lampu & Resistor (Terhubung Seri) Lampu Daya 0.2 0.14 0 0 0 0 1.715 ∞ 0.14 0.1 0.25 0.315 0.195 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Naik Daya 1 2 3 4 0 0 0 0 Turun 0 0 0 0 5.14 ∞ 0.735 0.455 1.825 0.12 0.42 0.455 0.26 0.675 0.62 Pengukuran Turun 1 2 13 0 .14 0.5 0.2 0.735 0 0 0 0 0.035 0.5 0. Dengan beban Pengukuran Naik Daya 1 Lampu 0.1 0.42 0.25 0.25 0.25 0.175 0.225 Pengukuran Turun No Komponen 2 Dioda 3 Resistor 4 NTC 6.035 1.

5 87.21 1.6 1.5 131.75 41.5 83.5 ∞ ∞ ∞ ∞ Dioda ∞ ∞ ∞ ∞ 87.46 ∞ 43.5 Resistor 87.25 110 116.715 0.62 0.5 87.67 110 131.5 ∞ 68.18 NTC 50 38. Dengan beban No Pengukuran Naik Pengukuran Turun Hambatan 87.5 87. 13 1 .4 0.33 87.33 87.Laporan Praktikum Fisika Dasar II & Resistor (Terhubung Paralel) 0.35 87.67 Lampu 116.45 0.73 Hubungan seri dan paralel Komponen 1 2 3 4 2.5 83.

33 50 53.19 0.14 ∞ 1.56 0.75 58.26 0.28 Pengukuran Turun No Komponen 2 Dioda 3 Resistor 4 NTC 4.14 0 0 0 0 1.3 0.84 50 58.275 0.98 ∞ 0.14 0.01 0.42 0.56 1.33 43.14 0. Hubungan seri dan parallel Pengukuran Naik Daya 1 Lampu 0.65 0.84 53.84 0 0 0 0 0.14 0. Dengan beban Pengukuran Naik Daya 1 Lampu 0.275 0.7 3.3 0.84 0.22 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II No Komponen Lampu & Resistor (Terhubung Seri) Lampu & Resistor (Terhubung Paralel) 1 2 Pengukuran Pengukuran Naik Turun Hambatan 350 175 275 175 175 275 175 350 43.42 0.63 Pengukuran Turun No Komponen 13 2 .26 0.

Gambar grafik V terhadap I 13 3 .89 0.5 0.91 1.28 0.28 0.11 0.01 1.28 0.63 0.91 0.89 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 2 & Resistor (Terhubung Seri) Lampu & Resistor (Terhubung Paralel) 0.5 0.11 0.28 4 .

4 0.2 0.5 0.3 0.8 0.6 0.5 V 7.4 0.5 0.1 0 4 5.1 0 4 5.5 V 7.9 0.7 0.5 11 A Tanpa Beban (Pengukuran Turun) 1 0.6 0.2 0.9 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Tanpa Beban (Pengukuran naik) 1 0.8 0.3 0.5 11 A  Gambar 1 13 4 .7 0.

5 5 V 7 10.5 A 13 5 .5 5 V 7 10.5 A Lampu (Pengukuran Turun) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 3.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Lampu (Pengukuran Naik) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 3.

5 V 7 11 A Dioda (Pengukuran Turun) 1 0.5 5 V 7 11 A 13 6 .6 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Dioda (Pengukuran Naik) 1 0.9 0.3 0.4 0.5 0.2 0.7 0.3 0.4 0.6 0.1 0 3.9 0.7 0.5 0.2 0.8 0.8 0.1 0 4 5.

5 10 Resistor (Pengukuran Turun) 140 120 100 80 A 60 40 20 0 3.5 5 V 6.5 5 V 6.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Resistor (Pengikuran Naik) 140 120 100 80 A 60 40 20 0 3.5 10 13 7 .

Laporan Praktikum Fisika Dasar II NTC (Pengukuran Naik) 140 120 100 80 A 60 40 20 0 3 4.5 V 5.5 NTC (pengukuran Turun) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 2.5 V 5.5 A  Lampu dan resistor terhubung seri dan paralel 13 8 .5 4.

5 5 V 6.5 10 A Seri (Pengukuran turun) 60 50 40 30 20 10 0 3.5 10 A 13 9 .5 5 V 6.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Seri (pengukuran Naik) 60 50 40 30 20 10 0 3.

5 V 5.5 9 A 14 0 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II Paralel (Pengukuran Naik) 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 2.5 4 V 5 9 A Paralel (Pengukuran Turun) 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 3 4.

5 5.5 V 7 10.5 14 1 .5 V 7 10.Laporan Praktikum Fisika Dasar II  Gambar 2 Lampu (Pengukuran Naik) 90 80 70 60 A 50 40 30 20 10 0 3.5 5.5 Lampu (Pengukuran Turun) 90 80 70 60 A 50 40 30 20 10 0 3.

9 0.8 0.5 0.9 0.3 0.8 0.1 0 4 5.7 0.6 0.7 0.5 11 A 14 2 .6 0.3 0.5 V 7.5 V 7.5 11 A Dioda (Pengukuran Turun) 1 0.2 0.4 0.4 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Dioda (Pengukuran Naik) 1 0.5 0.2 0.1 0 4 5.

5 14 3 .5 5 V 7 10.5 Resistor (Pengukuran Turun) 140 120 100 80 A 60 40 20 0 3.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Resistor (Pengukuran Naik) 140 120 100 80 A 60 40 20 0 3.5 5 V 7 10.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II NTC (Pengukuran Naik) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 3.5 5.5 5 V 7 14 4 .5 V 7 A NTC (Pengukuran Turun) 180 160 140 120 A 100 80 60 40 20 0 3.

5 V 7 10.5 14 5 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II  Lampu dan resistor terhububg seri dan paralel Seri (Pengukuran Naik) 70 60 50 40 A 30 20 10 0 3.5 V 7 10.5 5.5 Seri (Pengukuran Turun) 70 60 50 40 A 30 20 10 0 3.5 5.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II Paralel (Pengukuran Naik) 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 3.5 5 V 7 10.5 5 V 7 10.5 A Paralel (Pengukuran Turun) 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 3.5 A 5. Grafik hambatan sebagai fungsi dari daya  Gambar 1 14 6 .

42 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Lampu (pengukuran Naik) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0.14 0.42 0.735 R 14 7 .25 P 0.14 0.735 R Lampu (Pengukuran Turun) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0.25 P 0.

14 0.455 1.25 P 0.14 0.25 P 0.2 R 14 8 .Laporan Praktikum Fisika Dasar II Resistor (Pengukuran Naik) 120 100 80 60 40 20 0 0.2 R Resistor (Pengukuran Turun) 120 100 80 60 40 20 0 0.455 1.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II NTC (Pengukuran Naik) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0.315 P 0.12 0.675 P 0.225 0.715 R NTC (Pengukuran Turun) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0.825 R  Lampu dan resistor terhubung seri dan paralel 14 9 .

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

Seri (Pengukuran Naik)
400 350 300 250 200 150 100 50 0 0.035 0.1 P 0.195 0.5 R

Seri (Pengukuran Turun)
400 350 300 250 200 150 100 50 0 0.035 0.1 P 0.26 0.5 R

15 0

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

Paralel (Pengukuran Naik)
60 50 40 30 20 10 0 0.175 0.4 P 0.6 1.62 R

Paralel (Pengukuran Turun)
52 50 48 46 R 44 42 40 38 0.21 0.45 P 0.715 1.62

15 1

Laporan Praktikum Fisika Dasar II

Gambar 2 Lampu (Pengukuran Naik)
140 120 100 80 R 60 40 20 0 0.14 0.275 P 0.42 0.84

Lampu (Pengukuran Turun)
140 120 100 80 R 60 40 20 0 0.14 0.275 P 0.42 0.84

15 2

Laporan Praktikum Fisika Dasar II Resistor (Pengukuran Naik) 88 87 86 85 R 84 83 82 81 0.14 0.14 0.56 1.3 P 0.56 1.3 P 0.26 15 3 .26 Resistor (pengukuranTurun) 88 87 86 85 R 84 83 82 81 0.

65 P 1.22 P 0.28 0.98 R NTC (Pengukuran Turun) 45 44 43 42 41 40 39 38 37 36 35 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II NTC (Pengukuran Naik) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0.19 R  Lampu dan resistor terhubung seri dan paralel 15 4 .14 0.

28 0.11 P 0.11 P 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Seri (Pengukuran Naik) 400 350 300 250 200 150 100 50 0 0.01 0.01 0.63 R 15 5 .63 R Seri (Pengukuran Turun) 400 350 300 250 200 150 100 50 0 0.28 0.

28 0.91 1.89 15 6 .28 0.91 1.5 P 0.5 P 0.Laporan Praktikum Fisika Dasar II Paralel (Pengukuran Naik) 70 60 50 40 R 30 20 10 0 0.89 Paralel (Pengukuran Turun) 70 60 50 40 R 30 20 10 0 0.

Sedangkan pada komponen Dioda tidak memenuhi karena nilai hambatannya tak hingga . Dari semua komponen yang digunakan. 8. ketelitian alat ukur. 10. jarum skala pada miliampermeter tidak mngalami pergerakan. Faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah suhu. Hal serupa juga terjadi pada komponen dioda. Itu berarti nilai hambatannya tak hingga. Pengaruh suhu/temperature adalah semakin tinggi temperature suatu penghantar. 7. 9.dll. sehingga tidak dapat membaca besarnya arus listrik yang mengalir pada rangkaian tersebut. resistor. PEMBAHASAN Pada pengukuran tanpa beban. semakin tinggi pula getaran elektron-elektron bebas dalam penghantar.Laporan Praktikum Fisika Dasar II 6. stabilitas sumber tenaga. DAFTAR PUSTAKA Haliday and Resnick. Pada grafik no 4 dan 5 grafik ada yang turun dan ada pula yang naik begitu pula dengan harga R (hambatan). shingga tidak ada lagi arus yang terbaca. Elektron-elektron tersebutlah yang akan menghambat jalannya muatan listrik dan penghantar tersebut. komponen yang memenuhi hukum ohm adalah komponen lampu. 15 7 . dan NTC.

Laporan Praktikum Fisika Dasar II 15 8 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->