Anda di halaman 1dari 8

PROBLEMATIKA PERZAKATAN

MAKALAH ( TUGAS MATA KULIAH FIQIH ZAKAT ) Dosen Pembina : NURUL YAQIN M.A.

Oleh ; MOH. SYIFAUL KIROM NIM : 201081160028

KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUNAN DRAJAT KRANJI PACIRAN OKTOBER 2011

A. PENDAHULUAN Zakat merupakan salah satu rukun dalam Islam, sehingga sudah sangat dikenal oleh para kaum muslimin. Zakat dikeluarkan hanya bagi mereka yang telah tercukupi kebutuhan pokoknya. Orang yang membayar zakat dalam Islam disebut muzakki, dan orang yang berhak menerimanya disebut dengan mustahik. Ditinjau dari segi bahasa, disebutkan bahwa kata zakat merupakan kata dasar (mashdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang, dan seseorang itu zaka, berarti orang itu baik. Secara bahasa (lughat) berarti: tumbuh, berkembang dan berkah atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah: 103). Seorang yang membayar zakat karena keimanannya nicaya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah SWT berfirman: Artinya : "Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka....". (QS. At-Taubah: 103). Ayat ini juga berarti bahwa arti tumbuh dan Suci tidak dipakai hanya buat kekayaan, tetapi lebih dari itu, tetapi juga buat jiwa yang menzakatkannya. Sedangkan menurut terminologi syariah (istilah syara'), zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak dengan mengeluarkan jumlah tertentu tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya, fakir miskin dan sebagainya menurut yang telah ditetapkan oleh syara. Sejak waktu yang sangat lama, umat Islam memandang zakat tidak lebih dari sekedar amaliah ritual yang terpisah dari konteks sosial. Seperti halnya shalat, zakat mereka tunaikan semata-mata untuk memenuhi kewajiban yang ditentukan dari agama. Suatu kewajiban Tuhan

yang harus dipenuhi hanya karena ia adalah perintah dari Dzat yang haram ditolak perintahnya. Pandangan dogmatis-ritualistis inilah yang telah membikin zakat menjadi a-sosial dan teralienasi dari fungsi dasar yang dibawanya. Persoalan Zakat adalah sesuatu yang tidak pernah habis dibicarakan, wacana tersebut terus bergulir mengikuti peradaban Islam. Persoalan yang muncul atas zakat sekarang antara lain peran zakat sebagai salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan oleh umat Islam yang mampu (muzakki) hanya menjadi kesadaran personal. Membayar zakat merupakan kebajikan individual dan sangat sufistik sehingga lebih mementingkan dimensi keakhiratan. Semestinya zakat adalah menjadi sebuah gerakan kesadaran kolektif. Karena, Zakat bukan hanya sekedar kewajiban yang mengandung nilai teologis, tetapi juga kewajiban finansial yang mengandung nilai sosial yang tinggi. Persoalan ini, tidak lepas juga dari pamahaman umat (yang wajib zakat) terhadap makna substansi zakat. Zakat hanya sebagai suatu kewajiban agama untuk membersihkan harta milik dari kekotoran. Pemahaman masyarakat seperti itu tentang zakat, akhirnya zakat di berikan tanpa melihat sisi kemanfaatan ke depan bagi yang berhak menerimanya (Mustahiq). Tanpa melihat, bahwa Zakat memainkan peran penting dan signifikan dalam distribusi pendapatan dan kekayaan serta berpengaruh nyata pada tingkah laku konsumen.

B. PEMBAHASAN Terdapat beberapa masalah dalam hal pengelolaan zakat di Indonesia sehingga berimplikasi tidak maksimalnya proses pengelolaan, pengumpulan hingga penyaluran zakat. Berikut ini adalah problem-problem tersebut. 1. Kesadaran umat Islam yang rendah tentang zakat. Kesadaran umat Islam untuk mengeluarkan zakat masih terbilang rendah akibat pemahaman yang salah dengan menganggap membayar zakat akan mengurangi hartanya. Padahal, apabila dana masyarakat terutama zakat bisa dioptimalkan, jelas akan membuat Indonesia tidak perlu bergantung pada bantuan dari negara-negara lain, seperti saat ini hingga pemerintah tak bisa berkutik dengan utang negara-negara luar, karena potensi zakat sangatlah luar biasa besarnya. 2. Paradigma umat yang keliru akan formalitas zakat. Artinya, zakat hanya dianggap sebagai kewajiban normatif, tanpa memperhatikan efeknya bagi pemberdayaan ekonomi umat. Akibatnya, semangat pemerataan ekonomi dalam implementasi zakat menjadi hilang. Orientasi zakat tidak diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, tapi lebih karena ia merupakan kewajiban dari Tuhan. Bahkan, tidak sedikit muzakki yang mengeluarkan zakat disertai maksud untuk menyucikan harta atau supaya hartanya bertambah. Ini artinya, muzakki membayarkan zakat untuk kepentingan subjektivitasnya sendiri. Memang tidak salah, tapi secara tidak langsung, substansi dari perintah zakat serta efeknya bagi perekonomian masyarakat menjadi terabaikan. Fiqih zakat yang tidak sesuai zaman, tentang nishab, objek zakat, penentuan mustahiq, menjadi masalah lain. Di samping model pendistribusian dana yang tidak menyertakan pemetaan

ekonomi dan sosial. Tidak sedikit muzakki yang langsung memberikan zakat kepada fakir miskin tanpa memperhatikan apakah dana zakat tersebut mampu meningkatkan level kesejahteraan mereka atau tidak. Di sinilah pentingnya amil dalam proses penyaluran zakat. Lembaga amil yang profesional sangat diperlukan agar proses pengumpulan dana serta pendistribusiannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Salah satu yang membuatnya efektif dan efisien adalah dengan melakukan pemetaan sosial dan ekonomi. 3. Sumber daya pengelola zakat yang rendah. Yang menjadi masalah pengelolaan zakat selanjutnya adalah perihal standarisasi mutu amil zakat. Agar sumber daya manusia yang menjadi amil zakat adalah orang-orang yang benar-benar memenuhi kualifikasi dan profesional, maka diperlukan suatu standar kualifikasi sumber daya manusia amil zakat. Selain standarisasi SDM, diperlukan juga standarisasi lembaga-lembaga zakat. Hal ini berguna sebagai petunjuk bagi setiap pihak yang ingin mendirikan lembaga zakat. Tujuannya agar lembaga zakat ini benar-benar bisa berjalan secara baik dan dapat dipertanggungjawabkan. 4. Pendayagunaan zakat yang bersifat sesaat mengakibatkan kurang tertatanya system zakat.. Masalah lainnya adalah bahwa pendayagunaan zakat hanya mengambil bentuk bantuan konsumtif yang hanya bersifat peringanan beban sesaat. Sifatnya tidak berjangka panjang, melainkan hanya untuk manfaat jangka pendek semata. Termasuk juga kurangnya inovasi di bidang distribusi dan pemanfaatan dana zakat. Hanya terbatas pada masalah-masalah seperti pembangunan mesjid dan madrasah, penyantunan fakir-miskin, anak yatim dan bantuan korban bencana, dan bukan program-program yang lainnya seperti advokasi kebijakan publik, bantuan hukum, HAM, perlindungan anak, pelestarian lingkungan dan pemberdayaan perempuan.

Masyarakat yang mengeluarkan zakat (muzakki) lebih memilih dan fokus kepada orang dan bukan pada lembaga. Sehingga kurang tertatanya pendayagunaan zakat dan beberapa efek negatif lain seperti: hanya menampilkan parade kemiskinan, tidak memberdayakan, tidak mendidik, menghasilkan ketergantungan, salah sasaran hingga salah kelola. Ini menandakan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap organisasi pengelola zakat masih terhitung rendah. 5. Lemahnya sosialisasi dari pemerintah tentang perzakatan. Dalam konteks Indonesia, baik dari konteks pengelolaan, filosofis, maupun

pemanfaatannya, sedikit banyak masih ada problem. Salah satunya lemahnya sosialisasi UU nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat beserta peraturannya. Kenyataan di lapangan menunjukkan, masih sangat banyak masyarakat yang belum mengetahui dan memahami peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan zakat ini. Tidak kalah pentingnya adalah tidak lengkapnya mekanisme dalam sistem perzakatan nasional, baik dari pengelolaan, pengawasan dan perundang-undangan. Tiga unsur pokok inilah, yakni pengelolaan, pengawasan dan perundang-undangan, yang secara spesifik belum eksplisit termuat dalam UU No. 38 Tahun 1999. Juga terkait dengan belum tersedianya konstruksi perzakatan nasional sebagai bingkai dan acuan pengaturan dalam pelaksanaan pengelolaan zakat di Indonesia. Siapa yang operasional, siapa yang menjadi pengawas dan siapa yang mengupayakan perundang-undangan zakat sehingga sistem pengelolaan zakat terstruktur, operasi serta sasaran pencapaiannya menjadi terarah dan jelas.

C. KESIMPULAN Ada beberapa permasalahan yang memang masih membuat sistem perzakatan belum efektif. Dalam konteks Indonesia masalah tersebut yang sudah dibahas di atas adalah : 1. Kesadaran umat Islam yang rendah tentang zakat. 2. Paradigma umat yang keliru akan formalitas zakat. 3. Sumber daya pengelola zakat yang rendah. 4. Pendayagunaan zakat yang bersifat sesaat mengakibatkan kurang tertatanya system zakat.. 5. Lemahnya sosialisasi dari pemerintah tentang perzakatan. Sebagai Negara yang mayoritas masyarakatnya muslim, seharusnya zakat bisa dimaksimalkan. Namun, dengan apa yang terjadi kita mengetahui bahwa masih banyak kekurangan yang dalam sistem zakat di Indonesia. Menjadi tugas kita bersama untuk membentuk sistem zakat yang baik di negeri ini, bukan hanya tugas pemerintah saja.

SUMBER-SUMBER Al-Quranul Karim Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin, Syaikh, Fiqih Zakat Kontemporer (terjemah), AlQowam, Surakarta : 2011 Modul 1. Fiqih Zakat DR. Yusuf Al-Qaradhawy. 2. Panduan Zakat. 3. Copy Undang-Undang RI NO. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat.

Sumber lain : http//www.google.co.id Problematika pengelolaan zakat Problem zakat di Indonesia Permasalahan zakat di Indonesia