Anda di halaman 1dari 7

Hafsah binti Umar bin Khattab (wafat 45H)

Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan
mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang
adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah . dengan HaIshah merupakan
bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya,
Khunais bin HudzaIah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah,
kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan
perasaan sedih, Urnar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda.
Ketika itu HaIshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya
kabar gembira dengan mengatakan bahwa beliau bersedia menikahi HaIshah.
Jika kita menyebut narna HaIshah, ingatan kita akan tertuju pada jasa-jasanya yang besar
terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur`an dalam
bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang
sangat agung.
Nasab dan Masa Petumbuhannya
Nama lengkap HaIshah adalah HaIshah binti Umar bin Khaththab bin NaI`al bin Abdul-Uzza
bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah
Zainab binti Madh`un bin Hubaib bin Wahab bin HudzaIah, saudara perempuan Utsman bin
Madh`un. HaIshah dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu
ketika Rasullullah . memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka`bah dibangun
kembali setelah roboh karena banjir. Pada tahun itu juga dilahirkan Fathimah az-Zahra, putri bungsu
Rasulullah dari empat putri, dan kelahirannya disambut gembira oleh beliau. Beberapa hari setelah
Fathimah lahir, lahirlah HaIshah binti Umar bin Khaththab. Mendengar bahwa yang lahir adalah bayi
wanita, Umar sangat berang dan resah, sebagaimana kebiasaan bapak-bapak Arab Quraisy ketika
mendengar berita kelahiran anak perempuannya. Waktu itu mereka menganggap bahwa kelahiran
anak perempuan telah membawa aib bagi keluarga. Padahal jika saja ketika itu Umar tahu bahwa
kelahiran anak perempuannya akan membawa keberuntungan, tentu Umar akan menjadi orang yang
paling bahagia, karena anak yang dinamai HaIshah itu kelak menjadi istri Rasulullah. Di dalam
Thabaqat, Ibnu Saad berkata, 'Muhammad bin Umar berkata bahwa Muhammad bin Zaid bin Aslam,
dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, HaIshah dilahirkan pada saat orang Quraisy
membangun Ka`bah, lima tahun sebe1um Nabi diutus menjadi Rasul.
Sayyidah HaIshah r.a. dibesarkan dengan mewarisi siIat ayahnya, Urnar bin Khaththab.
Dalarn soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas.
Aisyah melukiskan bahwa siIat HaIshah sarna dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dirniliki HaIshah
adalah kepandaiannva dalarn rnernbaca dan menulis, padahal ketika itu kernampuan tersebut belum
lazirn dirniliki oleh kaurn perempuan.
Memeluk Islam
HaIshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam, karena ketika
awal-awal penyebaran Islam, ayahnya, Urnar bin Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam
hingga suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam. Ketika suatu waktu Umar mcngetahui keislarnan
saudara perernpuannya, Fathimah dan suarninya Said bin Zaid, dia sangat marah dan berniat
menyiksa mereka. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Umar mendengar bacaan Al-Qur`an
yang mengalun dan dalam rumah, dan memuncaklah amarahnya ketika dia memasuki rumah tersebut.
Tanpa ampun dia menampar mereka hingga darah mengucur dari kening keduanya. Akan tetapi, hal
yang tidak terduga terjadi, hati Umar tersentuh ketika meihat darah mengucur dari dahi adiknya,
kernudian diarnbilnyalah Al Qur`an yang ada pada mereka. Ketika selintas dia membaca awal surat
Thaha, terjadilah keajaiban. Hati Umar mulai diterangi cahaya kebenaran dan keimanan. Allah telah
mengabulkan doa Nabi . yang mengharapkan agar Allah membuka hati salah seorang dari dua Umar
kepada Islam. Yang dimaksud Rasulullah dengan dua Umar adalah Amr bin Hisyam atau lebih
dikenal dengan Abu Jahl dan Umar bin Khaththab.
Setelah kejadian itu, dari rumah adiknya dia segera menuju Rasulullah dan menyatakan
keislaman di hadapan beliau, Umar bin Khaththab bagaikan bintang yang mulai menerangi dunia
Islam serta mulai mengibarkan bendera jihad dan dakwah hingga beberapa tahun setelah Rasulullah
waIat. Setelah menyatakan keislaman, Umar bin Khaththab segera menemui sanak keluarganya untuk
mengajak mereka memeluk Islam. Seluruh anggota keluarga menerima ajakan Umar, termasuk di
dalamnya HaIshah yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.
Menikah dan Hijrah ke Madinah
Keislaman Umar membawa keberuntungan yang sangat besar bagi kaum muslimin dalam
menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Kabar keislaman Umar ini mernotivasi para muhajirin yang
berada di Habasyah untuk kembali ke tanah asal rnereka setelah sekian larna ditinggalkan. Di antara
mereka yang kembali itu terdapat seorang pemuda bernama Khunais bin HudzaIah as-Sahami.
Pemuda itu sangat mencintai Rasulullah sebagaimana dia pun mencintai keluarga dan kampung
halamannya. Dia hijrah ke Habasyah untuk rnenyelamatkan diri dan agamanya. Setibanya di Mekah,
dia segera mengunjungi Umar bin Khaththab, dan di sana dia melihat HaIshah. Dia meminta Umar
untuk menikahkan dirinya dengan HaIshah, dan Umar pun merestuinya. Pernikahan antara mujahid
dan mukminah mulia pun berlangsung. Rumah tangga mereka sangat berbahagia karena dilandasi
keirnanan dan ketakwaan.
Ketika Allah menerangi penduduk Yatsrib sehingga memeluk Islam, Rasulullah . menernukan
sandaran baru yang dapat membantu kaum muslimin. Karena itulah beliau mengizinkan kaum
muslimin hijrah ke Yatsrib untuk menjaga akidah mereka sekaligus menjaga mereka dan penyiksaan
dan kezaliman kaum Quraisy. Dalam hijrah ini, HaIshah dan suaminya ikut serta ke Yatsrib.
Cobaan dan Ganjaran
Setelah kaum muslirnin berada di Madinah dan Rasulullah . berhasil menyatukan mereka
dalam satu barisan yang kuat, tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi orang musyrik yang telah
memusuhi dan mengambil hak mereka. Selain itu, perintah Allah untuk berperang menghadapi orang
musyrik sudah tiba.
Peperangan pertarna antara umat Islam dan kaum musyrik Quraisy adalah Perang Badar.
Dalam peperangan ini, Allah telah menunjukkan kemenangan bagi harnba- hamba-Nya yang ikhlas
sekalipun jumlah mereka masih sedikit. Khunais termasuk salah seorang anggota pasukan muslimin,
dan dia mengalami luka yang cukup parah sekembalinya dari peperangan tersebut. HaIshah senantiasa
berada di sisinya dan mengobati luka yang dideritanya, namun Allah berkehendak memanggil
Khunais sebagai syahid dalam peperangan pertama melawan kebatilan dan kezaliman, sehingga
HaIshah menjadi janda. Ketika itu usia HaIshah baru delapan belas tahun, namun HaIshah telah
memiliki kesabaran atas cobaan yang menimpanya.
Umar sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda, sehingga
dalam hatinya terbetik niat untuk menikahkan HaIshah dengan seorang muslim yang saleh agar
hatinya kembali tenang. Untuk itu dia pergi ke rumah Abu Bakar dan merninta kesediaannya untuk
menikahi putrinya. Akan tetapi, Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikit pun. Kemudian Umar
menemui Utsman bin AIIan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, pada
saat itu Utsman masih berada dalam kesedihan karena istrinya, Ruqayah binti Muhammad, baru
meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Uman sangat
kecewa, dan dia bertambah sedih karena memikirkan nasib putrinya. Kemudian dia menemui
Rasulullah dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya. Mendengar penuturan Umar,
Rasulullah . bersabda, 'HaIshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman
dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada HaIshah.
Semula Umar tidak memahami maksud ucapan Rasulullah, tetapi karena kecerdasan akalnya, dia
kemudian memahami bahwa Rasulullah yang akan meminang putrinya.
Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah untuk menikahi putrinya, dan
kegernbiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menernui Abu Bakar untuk mengutarakan
maksud Rasulullah. Abu Bakar berkata, 'Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi,
karena aku tahu bahwa Rasulullah telah rnenyebut-nyebut nama HaIshah, namun aku tidak mungkin
membuka rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya, tentu akulah yang akan
menikahi HaIshah. Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya.
Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud
menyunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan
Rasulullah. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini (pemilik dua
cahaya). Pernikahan Rasulullah . dengan HaIshah lebih dianggap sebagai penghargaan beliau terhadap
Umar, di samping juga karena HaIshah adalah seorang janda seorang mujahid dan muhajir, Khunais
bin HudzaIah as-Sahami.
erada di Rumah Rasulullah
Di rumah Rasulullah, HaIshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah binti Zum`ah
dan Aisyah binti Abu Bakar. Secara manusiawi, Aisyah sangat mencemburui HaIshah karena mereka
sebaya, lain halnya Saudah binti Zum`ah yang menganggap HaIshah sebagai wanita mulia putri Umar
bin Khaththab, sahabat Rasulullah yang terhormat.
Umar memahami bagaimana tingginya kedudukan Aisyah di hati Rasulullah. Dia pun
rnengetahui bahwa orang yang rnenyebabkan kemarahan Aisyah sama halnya dengan menyebabkan
kemarahan Rasulullah, dan yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah. Karena itu
Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mcncintainya. Selain itu,
Umar meminta agar HaIshah rnenjaga tindak-tanduknya sehingga di antara mereka berdua tidak
terjadi perselisihan. Akan tetapi, mcmang sangat manusiawi jika di antara mereka rnasih saja terjadi
kesalahpahaman yang bersumber dari rasa cemburu. Dengan lapang dada Rasulullab . mendamaikan
mereka tanpa menimbulkan kesedihan di antara istri istrinya. Salah satu contoh adalah kejadian
ketika HaIshah melihat Mariyah al-Qibtiyah datang rnenemui Nabi dalam suatu urusan. Mariyah
berada jauh dari masjid, dan Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalarn rumah HaIshah yang ketika itu
sedang pergi ke rumah ayahnya, dia melihat tabir karnar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah dan
Mariyah berada di dalamnya. Melihat kejadian itu, amarah HaIshah meledak. HaIshah menangis
penuh amarah. Rasulullah berusaha membujuk dan meredakan amarah HaIshah, bahkan beliau
bersumpah rnengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak merninta maaI pada HaIshah, dan
Nabi meminta agar HaIshah rnerahasiakan kejadian tersebut.
Merupakan hal yang wajar jika istri-istri Rasulullah merasa cemburu terhadap Mariyah,
karena dialah satu-satunya wanita yang melahirkan putra Rasulullah setelah Siti Khadijah r.a..
Kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk menutupi rahasia
tersebut. Berita itu akhirnya diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau sangat marah. Sebagian
riwayat mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, Rasulullah . menceraikan HaIshah, namun
beberapa saat kemudian beliau merujuknya kembali karena melihat ayah HaIshah, Umar, sangat
resah. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah bermaksud menceraikan HaIshah,
tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk mempertahankan
HaIshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah pun
mempertahankan HaIshah sebagai istrinya, terlebih karena tersebut HaIshah sangat menyesali
perbuatannya dengan membuka rahasia dan memurkakan Rasulullah .
Umar bin Khaththab mengingatkan putrinya agar tidak lagi membangkitkan amarah
Rasulullah dan senantiasa menaati serta mencari keridhaan beliau. Umar bin Khaththab meletakkan
keridhaan Rasulullah . pada tempat terpenting yang harus dilakukan oleh HaIshah. Pada dasarnya,
Rasulullah menikahi HaIshah karena memandang keberadaan Umar dan merasa kasihan terhadap
HaIshah yang ditinggalkan suaminya. Allah menurunkan ayat berikut ini sebagai antisipasi atas isu-
isu yang tersebar.
'Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu,- kamu
mencari kesenangan hati istri -istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Sesungguhnya Allah telah mewafibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dan sumpahmu, dan
Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bifaksana. Dan ingatlah ketika
Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dan istri-istrinya (Hafshah) suatu
peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah
memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad
lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberiitakan Allah kepadanya) dan
rnenyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan
pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, Siapakah yang telah
memberitahukan hal ini kepadamu? Nabi menfawab, Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka
sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan fika kamu berdua
bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya (begitu pula)
Jibril dan orang-orang mukrnin yang haik, dan selain dan itu malaikat-malaikat adalah penolongnya
pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh fadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-
istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang
mengerfakan ibadah, yang berpuasa, yang fanda, dan yang perawan. (Qs. At-Tahrim:1-5)
Cobaan esar
HaIshah senantiasa bertanya kepada Rasulullah dalam berbagai rnasalah, dan hal itu
menyebabkan marahnya Umar kepada HaIshah, sedangkan Rasulullah . senantiasa memperlakukan
HaIshah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau bersabda, 'Berwasiatlah engkau
kepada kaum wanita dengan baik. Rasulullah . pernah marah besar kepada istri-istrinya ketika
mereka meminta tambahan naIkah sehingga secepatnya Umar mendatangi rumah Rasulullah. Umar
melihat istri-istri Rasulullah murung dan sedih, sepertinya telah terjadi perselisihan antara mereka
dengan Rasulullah. Secara khusus Umar memanggil putrinya, HaIshah, dan mengingatkannya untuk
menjauhi perilaku yang dapat membangkitkan amarah beliau dan menyadari bahwa beliau tidak
memiliki banyak harta untuk diberikan kepada mereka. Karena marahnya, Rasulullah bersumpah
untuk tidak berkumpul dengan istri-istri beliau selama sebulan hingga mereka menyadari
kesalahannya, atau menceraikan mereka jika mereka tidak menyadari kesalahan. Kaitannya dengan
hal ini, Allah berIirman,
'Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan
segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan
menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya
serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba
yang baik di antara kalian pahala yang besar. ' (QS. Al-Ahzab)
Rasulullah . menjauhi istri-istrinya selama sebulan di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah, dan
seorang budak bernama Rabah duduk di depan pintu kamar.
Setelah kejadian itu tersebarlah kabar yang meresahkan bahwa Rasulullah . telah menceraikan
istri-jstri beliau. Yang paling merasakan keresahan adalah Urnar bin Khaththab, sehingga dia segera
rnenemui putrinya yang sedang menangis. Urnar berkata, 'Sepertinya Rasulullah telah
menceraikanmu. Dengan terisak HaIshah menjawab, 'Aku tidak tahu. Umar berkata, 'Beliau telah
menceraikanmu sekali dan merujukmu lagi karena aku. Jika beliau menceraikanmu sekali lagi, aku
tidak akan berbicara dengan mu selama-lamanya. HaIshah menangis dan menyesali kelalaiannya
terhadap suami dan ayahnya. Setelah beberapa hari Rasulullah . menyendiri, belum ada seorang pun
yang dapat memastikan apakah beliau menceraikan istri-istri beliau atau tidak. Karena tidak sabar,
Umar mendatangi khazanah untuk menemui Rasulullah yang sedang rnenyendiri. Sekarang ini Umar
menemui Rasulullah bukan karena anaknya, melainkan karena cintanya kepada beliau dan merasa
sangat sedih melihat keadaan beliau, di samping memang ingin memastikan isu yang tersebar. Dia
merasa putrinyalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau. Umar pun meminta penjelasan dari
beliau walaupun di sisi lain dia sangat yakin bahwa beliau tidak akan menceraikan istri istri beliau.
Dan memang benar, Rasulullah . tidak akan menceraikan istri-istri beliau sehingga Umar meminta
izin untuk mengumumkan kabar gembira itu kepada kaum muslimin. Umar pergi ke masjid dan
mengabarkan bahwa Rasulullah . tidak menceraikan istri-istri beliau. Kaum muslimin menyambut
gembira kabar tersebut, dan tentu yang lebih gembira lagi adalah istri-istri beliau.
Setelah genap sebulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya, beliau kembali kepada mereka.
Beliau melihat penyesalan tergambar dari wajah mereka. Mereka kembali kepada Allah dan Rasul-
Nya. Untuk lebih meyakinkan lagi, beliau rnengurnumkan penyesalan mereka kepada kaurn
muslimin. HaIshah dapat dikatakan sebagai istri Rasul yang paling menyesal sehingga dia
mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai tebusan bagi
Rasulullah. HaIshah memperbanyak ibadah, terutama puasa dan shalat malam. Kebiasaan itu berlanjut
hingga setelah Rasulullah waIat. Bahkan pada masa kekhaliIahan Abu Bakar dan Urnar, dia
mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan besar, baik di bagian timur maupun barat.
HaIshah merasa sangat kehilangan ketika ayahnya meninggal di tangan Abu Lu`luah. Dia
hidup hingga masa kekhaliIahan Utsman, yang ketika itu terjadi Iitnah besar antar muslirnin yang
menuntut balas atas kematian KhaliIah Utsman hingga masa pembai`atan Ali bin Abi Thalib sebagai
khaliIah. Ketika itu, HaIshah berada pada kubu Aisyah sebagaimana yang diungkapkannya,
'Pendapatku adalah sebagaimana pendapat Aisyah. Akan tetapi, dia tidak termasuk ke dalam
golongan orang yang menyatakan diri berba`iat kepada Ali bin Abi Thalib karena saudaranya,
Abdullah bin Umar, memintanya agar berdiam di rumah dan tidak keluar untuk menyatakan ba`iat.
Tentang waIatnya HaIshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah HaIshah waIat
pada tahun ke empat puluh tujuh pada masa pemerintahan Mu`awiyah bin Abu SuIyan. Dia
dikuburkan di Baqi`, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Nabi yang lain.
Pemilik Mushaf yang Pertama
Karya besar HaIshah bagi Islam adalah terkumpulnya A1-Qur`an di tangannya setelah
mengalami penghapusan karena dialah satu-satunya istrii Nabi . yang pandai membaca dan menulis.
Pada masa Rasul, A1-Qur`an terjaga di dalam dada dan dihaIal oleh para sahabat untuk kemudian
dituliskan pada pelepah kurma atau lembaran-lembaran yang tidak terkumpul dalam satu kitab
khusus.
Pada masa khaliIah Abu Bakar, para penghaIal A1-Qur`an banyak yang gugur dalam
peperangan Riddah (peperangan rnelawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin
Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur`an yang tercecer. Awalnya Abu
Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur`an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang
mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan
Umar, Abu bakar akhirnya memerintah HaIshah untuk mengumpulkan Al-Qur`an, sekaligus
menyimpan dan memeliharanya. MushaI asli Al-Qur`an itu berada di rumah HaIshah hingga dia
meninggal.
Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai HaIshah. dan semoga Allah memberinya tempat
yang layak
$ang Pencemburu tapi sholihah, Hafshah binti Umar bin Khattab


HaIshah binti Umar Bin Khattab adalah putri seorang laki-laki-laki-laki yang terbaik, Umar
Bin Khattab ra. Sayyidah HaIshah ra dibesarkan dengan mewarisi siIat ayahnya. Dalam soal
keberanian, dia berbeda dengan wanita lain. Kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas, demikian
Aisyah ra melukiskan siIat HaIshah ra. Kelebihan lain yang dimiliki HaIshah adalah kepandaiannya
dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum
perempuan.

Pernikahan Rasulullah SAW dengan HaIshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada
mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin HudzaIah as-Sahami,
yang berjihad di jalan Allah SWT dan gugur dalam Perang Badar. Ayahanda HaIshah sangat sedih
karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda, sehingga dalam hatinya terbersit niat
untuk menikahkan HaIshah dengan seorang muslim yang sholeh agar hatinya kembali tenang.

Untuk itu dia pergi kerumah Abu Bakar dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya.
Akan tetapi Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikitpun. Kemudian Umar menemui Utsman bin
AIIan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi pada saat itu, Utsman masih
berada dalam kesedihan karena istrinya Ruqayah binti Muhammad, baru meninggal. Utsman pun
menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Umar sangat kecewa. Kemudian dia
menemui Rasulullah SAW dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya itu. Mendengar
penuturan Umar, Rasulullah SAW bersabda, " HaIshah akan menikah dengan seseorang yang lebih
baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik
daripada HaIshah."

Disinilah Umar mengetahui bahwa Rasulullah SAW yang akan meminang putrinya.
Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah SAW untuk menikahi putrinya, dan
kegembiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menemui Abu Bakar untuk mengutarakan
maksud Rasulullah SAW. Abu Bakar berkata, "Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku
tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah SAW telah menyebut-nyebut nama HaIshah, namun aku tidak
mungkin menyebut rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah saw membiarkannya tentu
akulah yang akan menikahi HaIshah." Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak putrinya.
Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud
mempersunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan
Rasulullah SAW. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini (
pemilik dua cahaya ). Di rumah Rasulullah SAW, HaIshah menempati kamar khusus, sama dengan
Saudah dan Aisyah. Secara manusiawi Aisyah sangat mencemburui HaIshah karena mereka sebaya.
Lain halnya dengan Saudah binti Zum`ah yang menganggap HaIshah sebagai wanita mulia putri
Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah SAW yang terhormat. Umar berpesan kepada putrinya agar
berusaha dekat dengan Aisyah dan mencintainya, karena Umar mengetahui bahwa kedudukan Aisyah
sangat tinggi dihati Rasulullah SAW juga yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap
Rasulullah SAW. Selain itu Umar juga mengingatkan HaIshah agar menjaga tindak tanduknya
sehingga diantara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi memang sangat manusiawi
jika diantara mereka tetap saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari perasaan cemburu.
Membicarakan kehidupan HaIshoh binti Umar bin Khattab memang tak bisa lepas dari siIat
pencemburunya yang besar. Sebenarnya, siIat cemburunya itu lahir dari rasa cintanya yang mendalam
kepada Rasulullah. Ia khawatir kalau-kalau Rasulullah kurang memberi perhatian dan cinta yang
cukup kepadanya. Pernah suatu hari, ketika Rasulullah menemuinya, HaIshah bertanya, "Ya
Rasulullah, mengapa mulutmu bau maghaIir (minuman dari getah yang berbau busuk)?" "Aku baru
saja minum madu, bukan maghaIir," jawab Nabi penuh tanda Tanya keheranan. "Kalau begitu,
engkau minum madu yang sudah lama," timpal HaIshah. Keheranan Rasulullah makin bertambah
ketika Aisyah yang ditemuinya mengatakan hal serupa. Saking kesalnya, Rasulullah mengharamkan
madu buat dirinya untuk beberapa waktu. Beliau tak tahu kalau HaIshoh telah bersepakat` dengan
Aisyah lantaran Keduanya cemburu karena Nabi tinggal lebih lama dari jatah waktunya di rumah
Zainab binti Jahsy. Waktu itu Nabi tertahan karena Zainab menawarkan madu kepada beliau.
Perbuatan Nabi mengharamkan madu itu kemudian ditegur oleh Alloh swt.

Kecemburuan HaIsah yang lain ketika HaIshah melihat Mariyah al-Qibtiyah, seorang budak
yang dihadiahkan oleh Al Muqaiqis kepada Rosululloh (seorang budak pada masa itu boleh digauli),
datang menemui Nabi SAW dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan Rasulullah
SAW menyuruhnya masuk kedalam rumah HaIshah yang ketika itu sedang pergi kerumah ayahnya,
dia melihat tabir kamar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah SAW dan Mariyah berada di
dalamnya. Melihat kejadian itu amarah HaIshah meledak, HaIshah menangis penuh amarah.
Rasulullah SAW berusaha membujuk dan meredakan amarah HaIshah, bahkan beliau bersumpah
mengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak meminta maaI pada HaIshah, dan Nabi SAW
meminta agar HaIshah merahasiakan kejadian tersebut. Akan tetapi, kejadian itu segera menyebar,
padahal Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu akhirnya
diketahui Rasulullah saw sehingga beliau sangat marah, Rasulullah SAW bermaksud menceraikan
HaIshah, tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk
mempertahankan HaIshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh.
Rasulullah SAW pun mempertahankan HaIshah sebagai istrinya, terlebih karena HaIshah sangat
menyesali perbuatannya dengan membuka rahasia yang memurkakan Rasulullah SAW. Rasulullah
mendatangi anak Umar bin Khattab itu dan berkata, "Ya HaIshoh, hari ini Jibril datang kepadaku dan
memerintahkan kepadaku "irji' ilaa HaIshoh, Iainnaha hiya showwama, qowwama wa hiya
azawaajuka Iil jannah" (kembalilah kepada HaIshoh, sesungguhnya ia wanita yang senantiasa puasa,
mendirikan shalat, dan ia adalah istrimu kelak di surga). Akibat rasa cemburunya yang berlebihan itu
pula, HaIshoh ditegur langsung oleh Allah melalui Iirman-Nya dalam surat At-Tahrim ayat 3 dan 4.

Umar bin Khattab kemudian mengingatkan kembali putrinya agar tidak lagi membangkitkan
amarah Rasulullah SAW dan senantiasa mentaati dan mencari keridhaan beliau. HaIshah pun
memperbanyak ibadah terutama puasa dan sholat malam. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga
Rasulullah SAW waIat.

Karya besar HaIshah bagi Islam adalah terkumpulnya Al Qur`an ditangannya setelah
mengalami penghapusan. Dialah istri Nabi SAW yang pertama kali menyimpan Al Qur`an dalam
bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah Kitab yang
sangat agung. MushaI asli Al Qur`an itu berada dirumah HaIshah hingga dia meninggal.

Tentang waIatnya HaIshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah HaIshah waIat
pada tahun ke-47 pada masa pemerintahan Mu`awiyah bin Abu SuIyan. Dia dikuburkan di Baqi`,
bersebelahan dengan kuburan-kuburan istri-istri Nabi SAW yang lain