Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

A. Dasar Teori 1. Sistem Saraf Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan berhubungan serta terdiri dari jaringan saraf. Menurut strukturnya, sistem saraf dibagi menjadi dua macam yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan medulla spinalis yang dilindungi tulang kranium dan kanal vertebral. Sistem saraf perifer meliputi seluruh jaringan saraf selain saraf pusat dalam tubuh. Sistem ini terdiri dari saraf cranial dan saraf spinal yang menghubungkan otak dan medulla spinalis dengan reseptor dan efektor. Secara fungsional sistem saraf perifer terbagi menjadi sistem aferen dan sistem eferen.
1. Saraf aferen (sensorik) mentransmisi informasi dari reseptor

sensorik ke Sistem Saraf Pusat (SSP).


2. Saraf eferen (motorik) mentransmisi informasi dari SSP ke otot

dan kelenjar. Sistem eferen dibagi menjadi dua macam divisi:


a.

Divisi somatic (volunteer) berkaitan dengan perubahan

lingkungan eksternal dan pembentukan respon motorik volunter pada otot rangka.
b.

Divisi otonom (involunter) mengendalikan seluruh respons

involunter pada otot polos, otot jantung, dan kelenjar dengan cara mentransmisi impuls saraf melalui dua jalur yaitu simpatis dan parasimpatis.
1) Saraf simpatis berasal dari area toraks dan lumbal pada

medulla spinalis
2) Saraf parasimpatis berasal dari area otak dan sakral pada

medulla spinalis.

Fungsi saraf dibagi menjadi dua macam yaitu irritability

dan

conductivity. Irritability yaitu kemampuan untuk menanggapi stimulus dan mengubahnya menjadi impuls saraf. Sedangkan conductivity yaitu kemampuan untuk mengirim impuls ke neuron, otot, dan kelenjar. Mekanisme jalannya rangsangan dalam sistem saraf ini dimulai dari adanya stimulus atau rangsangan. Ada beberapa macam rangsangan berdasarkan intensitasnya:
1. Rangsangan subliminal yaitu rangsang terkecil yang belum mampu

menimbulkan respons
2. Rangsangan

liminal yaitu rangsang terkecil yang mampu

menimbulkan respons
3. Rangsangan supraliminal yaitu rangsangan terkecil yang mampu

menimbulkan respons yang lebih besar


4. Rangsangan submaksimal yaitu rangsang dengan intensitas yang

bervariasi dari minimal sampai maksimal


5. Rangsangan maksimal yaitu rangsangan dengan intensitas terbesar

(maksimal) dan hasil responsnya maksimal


6. Rangsangan supramaksimal yaitu rangsang dengan intensitas lebih

besar dari maksimal, tetapi respons yang dihasilkan sama dengan maksimal Rangsangan tersebut ditangkap oleh reseptor sensorik yang kemudian mengubahnya menjadi impuls saraf. Reseptor sensorik dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi sensasinya antara lain:
1. Eksteroreseptor yaitu reseptor yang sensitif terhadap stimulus

eksternal terhadap tubuh dan terletak pada atau dekat permukaan tubuh misalnya, sentuhan, tekanan, nyeri pada kulit, suhu, penciuman, penglihatan, serta pendengaran.
2. Proprioreseptor yaitu reseptor yang terletak pada tubuh dalam

otot, tendon, dan persendian juga mencakup reseptor ekuilibrium pada area telinga dalam. Jika distimulasi bagian tersebut akan

menyampaikan kesadaran akan posisi bagian tubuh, besarnya tonus otot, dan ekuilibrium.
3. Interoseptor yaitu reseptor yang dipangaruhi oleh stimulus yang

muncul dalam organ visceral dan pembuluh darah yang memiliki inervasi motorik dari system saraf otonom (SSO). Contohnya adalah stimulus yang terjadi akibat perubahan selama proses digesti, ekskresi, dan sirkulasi. Setelah melalui reseptor, impuls saraf tersebut akan diteruskan ke saraf pusat melalui serangkaian potensial aksi. Kemudian setelah diolah dalam saraf pusat menjadi informasi, maka akan diteruskan ke efektor melalui saraf motorik. Efektor tersebut dapat berupa otot atau kelenjar. 2. Otot Rangka Otot rangka terdiri dari serabut-serabut yang tersusun dalam berkas yang disebut fasikel. Semakin besar otot, semakin banyak jumlah serabutnya. Lapisan jaringan ikat fibrosa membungkus setiap otot dan masuk ke bagian dalam untuk melapisi fasikel dan serabut individual. Jaringan ini menyalurkan impuls saraf dan pembuluh darah ke dalam otot dan secara mekanis mentransmisikan daya kontraksi dari satu ujung otot ke ujung lainnya. Setiap serabut otot menerima satu ujung neuron motorik somatik (sel saraf pada medulla spinalis yang mentransmisi impuls ke otot rangka). Setiap serabut otot mengandung beratus-ratus dan beberapa ribu myofibril. Tiap-tiap myofibril selanjutnya terletak berdampingan, sekitar 1500 filamen miosin, dan 3000 filamen aktin yang merupakan molekul protein polimer bertanggung jawab untuk kontraksi otot. Filamen aktin dan myosin saling bertautan dan menyebabkan myofibril secara bergantian mempunyai pita gelap dan pita terang. Pita-pita terang yang hanya mengandung filamen aktin dinamakan pita I. Pita-pita gelap yang mengandung filamen myosin serta ujung-ujung filamen aktin tempat ujung-ujung ini tumpang tindih dengan myosin dinamakan pita A.

Filamen aktin melekat pada garis yang dinamakan membran Zat atau cakram Z. Membran Z berjalan dari myofibril ke myofibril, melekatkan myofibril satu sama lainnya melalui serabut otot. Bagian myofibril yang terletak di antara membran Z yang berurutan dinamakan sarkomer. Miofibril dalam serabut otot terpendam dalam matrik yang disebut sarkoplasma yang terdiri atas unsur-unsur umum intrasel. Dalam sarkoplasma juga terdapat banyak mitokondria dalam jumlah banyak yang terletak antara dan sejajar dengan myofibril. Selain itu juga terdapat reticulum endoplasma yang dalam serabut otot dinamakan reticulum sarkoplasma. Banyak informasi mengenai kontraksi otot didapat dari preparat saraf otot di laboratorium. Biasanya berasal dari musculus gastroenemius seekor katak dengan saraf motoriknya yang masih melekat. Salah satu ujung saraf tersebut kaku dan ujung lainnya dapat digerakkan serta melekat pada alat perekam yang meraba dan memberikan gambaran mengenai perubahan panjang otot. Elektroda langsung diinsersi ke dalam otot dan stimulus diberikan untuk memperlihatkan karakteristik dasar dari kontraksi. Kontraksi otot rangka tentunya melibatkan proses potensial aksi. Perambatan potensial aksi di sekitar sarkolema disebabkan oleh pelepasan ion kalsium dari tubulus dalam retikulum sarkoplasma. Ketika ion kalsium mengikat protein di miofilamen aktin, ion kalsium bertindak sebagai pemicu ion yang menimbulkan kontraksi dimana filamen miosin berikatan dengan filamen aktin. Ketika potensial aksi berakhir, ion kalsium hampir dengan cepat mentransfer kembali menuju tubulus dalm retikulum sarkoplasma. Kemudian dengan cepat sel otot berelaksasi. Stimulasi ambang adalah voltase listrik minimum yang menyebabkan kontraksi serabut otot tunggal. Jika preparasi otot distimulasi maka setiap serabut otot dalam otot akan mematuhi hukum all or none. Jika stimulus ambang telah tercapai maka serabut otot akan merespons secara maksimal atau tidak sama sekali selama kondisi

lingkungan serabut tidak berubah. Jika stimulus meningkat derajat voltasenya maka serabut tambahan turut merespon. Kedutan otot (kontraksi maksimum keseluruhan otot) akan terjadi saat intensitas stimulus cukup untuk seluruh serabut. Gambar 1 adalah kedutan otot yang terekam dalam miogram.

Gambar 1. Siklus kedutan otot simple terdiri dari 3 periode : laten, kontraksi, dan relaksasi
1. Periode laten adalah waktu antar stimulus atau peristiwa kejutan

dan peristiwa mekanisme kontraksi


2. Periode kontraksi adalah waktu yang diperlukan otot untuk

memendek.
3. Periode relaksasi adalah waktu yang diperlukan otot untuk

kembali panjang semula. Periode relaksasi berlangsung lebih lama daripada periode kontraksi.
4. Magnitude respons adalah tinggi gelombang 5. Periode refratoris adalah waktu yang sangat singkat setelah

stimulus pertama yaitu saat otot tidak responsif terhadap stimulus kedua. Sumasi adalah penjumlahan rangsangan otot-otot tunggal untuk membuat gerakan yang kuat . Sumasi ada dua macam:

1. Sumasi spasial adalah sumasi banyak PPSE yang diterima hampir banyak simultan dari beberapa neuron lain pada tempat yang berbedabeda pada bagian reseptif neuron. 2. Sumasi temporal adalah suatu bentuk sumasi dimana PPSE subliminal berulang dari suatu neuron prasinaps terhadap membran reseptif neuron pascasinaps, mempunyai efek kumulatif yang mungkin bersumasi dalam jarak waktu yang cukup untuk mengeksitasi neuron.

Gambar 2. Treppe, wave summation, and tetanization (gelombang sumasi, dan proses tetani) Pada umumnya sumasi terjadi melalui dua cara yaitu sumasi unit motorik multiple dengan meningkatkan jumlah unit motorik yang kontraksi secara serentak dan sumasi gelombang dengan meningkatkan kecepatan kontraksi tiap unit motorik. Kontraksi tetani adalah kontraksi yang terjadi jika frekuensi stimulus meningkat melebihi batas relaksasi otot, dimana kontraksi akan bergabung menjadi kontraksi yang panjang dan kuat. Tetani sebagian disebabkan karena sifat-sifat liat otot dan sebagian dari kenyataan bahwa keadaan aktivasi serat otot pulsatil yang banyak bergabung menjadi keadaan aktivasi kontinu yang lama. Tetani ada dua macam yaitu: 1. Tetani bergerigi, didapatkan bila intensitas frekuensinya lebih kecil sehingga otot masih dapat berelaksasi yang kemudian disambung dengan kontraksi lagi.

2. Tetani lurus, didapatkan bila intensitas yang lebih besar dan cepat sehingga tidak memberi kesempatan untuk berelaksasi. Kontraksi otot meliputi pemendekan elemen-elemen kontraktil otot. Kontraksi otot dikatakan isometric bila otot tidak memendek selama kontraksi, dan dikatakan isotonic bila otot memendek untuk memindahkan atau mengangkat suatu beban tetapi tegangan pada otot tetap konstan Kontraksi kuat otot yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan otot. Hal ini diakibatkan dari ketidakmampuan proses kontraksi dan metabolisme-metabolisme serabutserabut otot untuk melanjutkan suplai pengeluaran kerja yang sama. Semakin lemah karena dalam serabut-serabut otot sendiri kekurangan ATP, padahal ATP adalah sumber energi untuk berkontraksi.

Gambar 3. Isometrik

Gambar 4. Isotonik

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana kepekaan saraf perifer katak? 2. Bagaimana pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot dan kerja otot katak (afterloaded dan preloaded)? 3. Bagaimana kontraksi otot sumasi dan tetani pada katak? C. Tujuan 1. Mempelajari dan mengetahui kepekaan saraf perifer (nervus ishiadicus)

2. Mempelajari pengaruh pembebanan terhadap kekuatan kontraksi otot dan kerja otot 3. Mempelajari gastroenemius) dan mengetahui kontraksi otot tetani (musculus

BAB II METODE KERJA


A. Alat dan Bahan 1. Statif, alat penulis, dan sekrup penyangga 2. Tempat beban dan beban 3. Papan fiksasi dan jarum fiksasi 4. Alat atau jarum penusuk 5. Kimograf dan kertas grafik 6. Stimulator listrik 7. Larutan ringer 8. Pipet 9. Benang 10. Katak B. Prosedur 1. Preparasi Katak a. Merusak otak dan medula spinalis katak 1) Peganglah katak dengan tangan kiri sedemikian rupa, jari telunjuk diletakkan di bagian belakang kepala dan ibu jari di bagian punggung 2) 3) Tekanlah jari telunjuk agar kepala katak sedikit merunduk, Tusukkan jarum penusuk pada lekukan tersebut di mana sehingga terdapat lekukan antara cranium dan columna vertebralis sela interspinalis lebar. Kemudian arahkan jarum ke dalam rongga tengkorak dan gerakkan kian kemari untuk merusak otak katak.

Setelah itu pindahkan arah jarum ke jurusan medula spinalis. Putarkan jarum ke arah yang berlainan untuk merusak medula spinalis. Tanda bahwa jarum masuk ke dalam rongga dan merusak medula spinalis adalah kekejangan dari kedua otot kaki katak b. Membuat sediaan otot rangka (musculus gastroenemius) 1) 2) 3) 4) Guntinglah kulit tungkai bawah kanan melingkar setinggi Angkatlah kulit yang telah lepas ke atas dengan pinset Pisahkan tendon achilles dari jaringan sekitarnya dengan Ikatlah tendon achilles dengan benang yang telah pergelangan kaki

alat tumpul. Tendon achilles jangan dipotong dulu disediakan berupa ikatan mati yang kuat pada insertionya. Kemudian potonglah tendon achilles tersebut pada bagian distal dari ikatan benang tersebut 5) Bebaskan musculus gastroenemius dari jaringan sekitarnya sampai mendekati persendian lutut (jangan memotong musculus gastroenemius) 6) Pasanglah ikatan benang yang kuat pada tulang tibia, fibula serta otot-otot yang melekat pada tulang tersebut (kecuali musculus gastroenemius) kira-kira 5 mm di bawah lutut 7) 8) kering 9) Basahi sediaan ini setiap kali dengan larutan ringer c. Membuat sediaan saraf perifer (nervus ischiadicus) 1) Letakkan katak pada posisi telungkup, guntinglah kulit memanjang pada bagian paha belakang kanan sehingga ototnya terlihat 2) Carilah nervus ischiadicus dengan cara memisahkan otot-otot pada daerah paha belakang menggunakan alat tumpul. Hati-hati jangan Potonglah tulang-tulang tibia, fibula serta otot-otot yang Kembalikan kulit tadi ke bawah sehingga menutupi melekat pada tulang tersebut di bawah ikatan benang kembali otot-otot gastroenemius untuk melindunginya agar tidak

merusak pembuluh darah yang berjalan bersama-sama nervus ischiadicus 3) Buatlah simpul longgar pada nervus ischiadicus dan kembalikan nervus tersebut di antara otot-otot d. Mempersiapkan sediaan nervus ischiadicus dan musculus gastroenemius untuk percobaan selanjutnya 1) Letakkan katak telungkup pada papan katak 2) Fiksir kaki kanan, dengan lutut pada tepi bawah papan sehingga nantinya musculus gastroenemius dapat tergantung bebas 3) Fiksir ketiga kaki yang lain, sehingga paha kanan dalam posisi tegak lurus untuk memudahkan pemasangan electrode perangsang 4) Hubungkan tali pada ujung tendon achilles dengan penulis 5) Aturlah posisi penulis, tanda rangsang dan tanda waktu sehingga percobaan dapat berlangsung dengan benar 2. Kepekaan Saraf Perifer a. Siapkan sediaan nervus ischiadicus dan musculus gastroenemius b. Berikan rangsangan tunggal (dengan menggunakan elektroda stimulator listrik) pada nervus ischiadicus dimulai dengan intensitas rangsangan yang paling kecil, selanjutnya secara bertahap besar intensitas rangsangan dinaikkan dengan interval waktu 30 detik. Setiap kali menambah intensitas rangsangan, drum kimograf diputar sekitar 0,5 cm supaya gambaran alat penulis pada kertas kimograf tidak tumpang tindih c. Perhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas kimograf. Dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas kimograf, tentukan besar : 1) 2) 3) 4) Rangsangan subliminal Rangsangan luminal Rangsangan supraliminal Rangsangan submaksimal

10

5) 6)

Rangsangan maksimal Rangsangan supramaksimal

3. Pengaruh Pembebanan Terhadap Kekuatan Kontraksi dan Kerja Otot Rangka Pembebanan pada otot dapat dibagi2, yaitu : a. Pembebanan yang diberikan pada saat otot kontraksi (after loaded) b. Pembebanan yang diberikan sebelum otot kontraksi (preloaded) Kontraksi After Loaded Tahapan dalam mengamati kontraksi after loaded sebagai berikut : a. Aturlah sekrup penyangga sehingga ujung sekrup menyangga penulis dan garis dasar (baseline) penulis tidak berubah. Dengan demikian panjang otot tidak akan berubah (tidak direnggang oleh tempat beban maupun beban yang ditambahkan
b. Dalam keadaan tanpa pengisian beban dengan kimograf dalam

keadaan diam, rangsanglah nervus ischiadicus dengan rangsangan tunggal maksimal c. Beri beban 10 gram, putar kimograf 0,5 cm, interval waktu rangsang 30 detik kemudian beri rangsangan tunggal maksimal lagi d. Ulangi tindakan di atas dengan setiap kali menambah beban sebesar 10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi e. Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf :
1)

Hitunglah kerja otot (W) untuk setiap pembebanan Buatlah grafik yang menggambarkan hubungan antara Berilah penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut

2) 3)

besar beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat)

Kontraksi Preloaded Tahapan dalam mengamati kontraksi preloaded sebagai berikut :

11

a. Longgarkan sekrup penyangga yang menyangga penulis sehingga musculus gastroenemius secara langsung menahan tempat beban. Aturlah letak penulis sehingga posisinya horizontal
b. Rangsanglah nervus ischiadicus dengan rangsangan tunggal

maksimal c. Beri beban 10 gram, putar kimograf 0,5 cm, kembalikan penulis pada posisi horizontal, kemudian beri rangsangan tunggal maksimal lagi d. Ulangi tindakan di atas dengan setiap kali menambah beban sebesar 10 gram hingga otot tidak dapat mengangkat beban lagi e. Dari hasil gambaran penulis pada kertas kimograf :
1)

Hitunglah kerja otot (W) untuk setiap pembebanan Buatlah grafik yang menggambarkan hubungan antara Berilah penjelasan dan kesimpulan tentang grafik tersebut Bandingkan dan beri penjelasan mengenai perbedaan antara

Kerja otot = beban x pemendekan otot 2) 3) 4) besar beban (pada absis) dengan besar kerja otot (pada ordinat)

grafik pada kontraksi after loaded dengan kontraksi preloaded 4. Kontraksi Tetani Untuk mempelajari dan mengetahui kontraksi tetani, lakukan langkahlangkah sebagai berikut :
a. Berikan rangsangan maksimal secara beruntun (multiple maximal

stimulus, successive maximal stimulus) dimulai dengan frekuensi rendah selama 3 - 5 detik, selanjutnya secara bertahap frekuensi rangsangan ditingkatkan dengan interval waktu sekitar 60 detik (untuk memberi istirahat yang cukup bagi otot) sampai terjadi complete titanic contraction (kontraksi tetani lurus) b. Perhatikan apa yang tergambar oleh penulis pada kertas kimograf, dengan melihat hasil yang tergambar pada kertas kimograf, catatlah

12

masing-masing data frekuensi rangsangan dan gambar grafik kontraksi yang dihasilkan, selanjutnya masukkan data tersebut pada tabel data

BAB III HASIL PRAKTIKUM Tabel I. Data Kepekaan Saraf Perifer Kepekaan Saraf Perifer (Nervus Ischiadicus) Rangsangan (volt) 0,01 x 5 0,01 x 10 0,01 x 15 0,01 x 20 0,01 x 25 0,1 x 5 0,1 x 10 0,1 x 15 0,1 x 20 0,1 x 25 1x5 1 x 10 1 x 15 1 x 20 1 x 25 Kontraksi (cm) 0 0 0 0 0 0 0 5,8 5,8 6,6 6 5,6 5,4 5,7 5,5

Besar rangsangan subliminal Besar rangsangan liminal Besar rangsangan supraliminal Besar rangsangan submaksimal Besar rangsangan maksimal Besar rangsangan supramaksimal

= 0,1 x 10 = 1 volt = 0,1 x 15 = 1,5 volt = 0,1 x 20 = 2 volt = 0,1 x 20 = 2 volt = 0,1 x 25 = 2,5 volt = 1x5 = 5 volt

13

Tabel II. Data Kontraksi After Loaded Kontraksi After Loaded Beban (gram) 10 20 30 40 50 60 (Musculus Gastroenemius) Kontraksi (cm) 3,5 1,75 1,15 1 0,5 0 Grafik I. Kontraksi After Loaded Kerja (erg) 35 35 34,5 40 25 0

Penjelasan : Pada pemberian beban 10 gram, otot mulai bekerja sebesar 35 erg. Kerja otot sedikit menurun setelah diberi beban 30 gram, sebesar 34,5 erg Otot bekerja maksimal sebesar 40 erg pada pemberian beban 40 gram. Kerja otot menunjukkan penurunan drastis setelah diberi beban 50 gram Pemberian beban 60 gram sudah tidak menunjukkan adanya kerja pada otot Kesimpulan :

14

Setelah diberi beban 60 gram, kerja otot hanya sebesar 0 erg menunjukkan otot tidak dapat berkontraksi atau memendek karena beban yang terlalu berat

Tabel III. Data Kontraksi Preloaded Kontraksi Preloaded Beban (gram) 10 (Musculus Gastroenemius) Kontraksi (cm) 0 Grafik II. Kontraksi Preloaded Kerja (erg) 0

Penjelasan : Sejak awal pembebanan, tidak terjadi kontraksi sama sekali, sehingga kerja otot sama dengan 0 erg Kesimpulan : Otot katak mengalami kelelahan Tabel IV. Data Kontraksi Rangsangan Berbagai Frekuensi Kontraksi Sumasi Kontraksi Tetani

15

Frekuensi Rangsangan (kali/detik) 0,2 x/detik 0,4 x/detik 0,8 x/detik 1 x/detik 2 x/detik 3 x/detik 4 x/detik 5 x/detik 6 x/detik 7 x/detik 8 x/detik 9 x/detik 10 x/detik 25 x/detik 50 x/detik 100 x/detik

Kontraksi Sumasi (+/-) + + + + + + + + + + + + + -

Kontraksi Tetani (+/-) + + +

16

BAB IV PEMBAHASAN
A. Kepekaan Saraf Perifer Katak Mekanisme jalannya rangsangan dalam sistem saraf katak dimulai dari adanya rangsangan atau stimulus. Dalam percobaan kelompok kami, pada rangsangan 0,05 volt, musculus gastroenemius masih belum dapat berkontraksi. Hingga akhirnya musculus gastroenemius mulai berkontraksi pada rangsangan 1,5 volt. Hal tersebut menunjukan bahwa saraf perifer katak baru peka pada tegangan 1,5 volt. Rangsangan sebesar 1,5 volt disebut sebagai rangsangan liminal. Pada tegangan tersebut musculus gastroenemius baru menerima stimulus yang cukup untuk berkontraksi dan dalam keadaan itu, musculus gastroenemius telah mampu menimbulkan respon. Sedangkan rangsangan terkecil ketika musculus gastroenemius belum mampu menimbulkan respons adalah pada 1 volt. Ketika nervus ischiadicus mendapat rangsangan sebesar 2,5 volt, nervus tersebut menerima rangsangan yang maksimal dan musculus gastroenemius mampu berkontraksi secara maksimal. Sedangkan pada tegangan sebesar 5 volt, nervus ischiadicus mendapat rangsangan dengan intensitas yang lebih besar dari maksimal, tetapi panjang kontraksi yang dihasilkan sedikit berbeda yakni sebesar 0,6 cm lebih pendek dibandingkan dengan panjang kontraksi maksimal. B. Pengaruh Pembebanan terhadap Kekuatan Kontraksi Otot dan Kerja Otot Katak (Afterloaded dan Preloaded) Pembebanan sangat berpengaruh terhadap kontraksi otot dan kerja otot katak. Pengukuran besar kontraksi otot diukur dengan menggunakan kimograf.

17

1. Afterloaded Afterloaded merupakan pembebanan yang diberikan pada saat otot berkontraksi. Pada pembebanan ini musculus gastroenemius mengalami kontraksi isotonik karena pengaruh pembebanan. Pada pemberian beban sebesar 10 gram, otot berkontraksi sebesar 3,5 cm dan melakukan kerja sebesar 35 erg. Besar kontraksi isotonik pada musculus gastroenemius terus menurun seiring bertambahnya beban, namun kerja otot meningkat sampai pada pemberian beban dengan berat tertentu. Pada pemberian beban sebesar 20 gram, kerja otot tetap konstan sebesar 35 erg. Pada saat pemberian beban sebesar 30 gram kerja otot sempat menurun kemudian meningkat lagi pada pemberian beban sebesar 40 gram. Pada pembebanan 40 gram otot bekerja sebesar 40 erg. Pembebanan sebesar 40 gram pada otot katak menunjukkan kerja otot yang maksimal, namun setelah beban ditambah menjadi 50 gram kerja otot menurun. Hal ini menunjukkan setelah adanya peningkatan pembebanan sampai optimal kerja otot semakin menurun. 2. Preloaded Untuk kontraksi preloaded, ketika katak diberi beban 10 gram sampai dengan 20 gram, musculus gastroenemius sudah tidak dapat berkontraksi. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kelelahan otot pada katak tersebut. Kelelahan otot tersebut disebabkan karena kekurangan ATP dan penumpukkan asam laktat. C. Kontraksi Otot Sumasi dan Tetani Pada frekuensi rangsangan 0,2 kali/detik sampai dengan frekuensi rangsangan 10 kali/detik terjadi kontraksi sumasi. Sedangkan kontraksi tetani baru terjadi pada frekuensi rangsangan 25 kali/detik sampai dengan frekuensi rangsangan 100 kali/detik. Dapat disimpulkan frekuensi rangsangan 25 kali/detik sampai dengan frekuensi rangsangan 100 kali/detik. merupakan frekuensi stimulus yang tinggi dimana musculus gastroenemius tidak dapat berelaksasi.

18

BAB V KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, kita dapat menyimpulkan bahwa : 1. Kontraksi otot terjadi karena adanya rangsangan. Rangsangan tersebut ditangkap oleh reseptor sensorik yang kemudian mengubahnya menjadi impuls saraf. Setelah melalui reseptor, impuls saraf tersebut akan diteruskan ke saraf pusat melalui serangkaian potensial aksi. Kemudian setelah diolah dalam saraf pusat menjadi informasi, maka akan diteruskan ke efektor melalui saraf motorik. 2. Tiap serabut otot memiliki ukuran stimulus ambang tertentu yang dapat dilihat dari besarnya rangsangan liminal 3. Kontraksi sumasi berlangsung pada frekuensi rangsangan dimana otot rangka masih dapat berelaksasi. 4. Frekuensi rangsangan yang begitu tinggi tanpa adanya relaksasi menyebabkan otot mengalami kontraksi tetani 5. Kerja otot meningkat seiring dengan bertambahnya beban sampai batas optimal, namun setelah itu kerja otot akan menurun.
6. Kontraksi otot yang terus menerus menyebabkan kelelahan otot yang

disebabkan karena penumpukkan asam laktat dan kekurangan ATP.

19

Daftar Pustaka
Ganong, WF.1981.Review of Medical Physiology, 10th edition.Lange Los Altos California:Medical Publication. Guyton, Arthur.1981.Medical Physiology.Canada:Saunders Company. Marieb, Elaine Nicpon.1994.Essential of Human Anatomy and Physiology. California:The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc.. Marieb, Elaine.2006.Human Anatomy & Physiology Laboratory Manual.USA: Pearson Education. Noback, Charles R. dan Robert J. Demarest.1982.Anatomi Susunan Saraf Manusia, Edisi 2.Jakarta:EGC Penerbit Buku Kedokteran. Sloane, Ethel.1995.Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula.Jakarta:EGC Penerbit Buku Kedokteran. Tengadi, Ken Ariata, dkk.1994.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC Penerbit Buku Kedokteran.

20

LAMPIRAN

21

Anda mungkin juga menyukai