Herman Willam Daendels (1808-1811

)

Tugas Daendels “ Mempertahankan Pulau Jawa Dari Serangan Inggris” .

Membagi Jawa Menjadi 9 Perfectur 2.Kebijakan Daendels di Bidang Politik 1. Menjadikan Bupati Sebagai Pegawai Pemerintah 3. Menjadikan Kesultanan Banten dan Cirebon Sebagai Guberneman Belanda 5. Melakukan Penyederhanaan Upacara di Keraton Yogyakarta dan Surakarta 6. Membentuk Pengadilan Bagi Pribumi 4. Menjadikan Batavia Sebagai Pusat Pemerintahan .

Membangun Benteng-Benteng Pertahanan . Membangun Jalan Anyer – Panarukan 2. Menambah Jumlah Prajurit Dari Kalangan Pribumi 3.Kebijakan Daendels di Bidang Pertahanan 1.

Madura dan Semua Pangkalan Belanda di Luar Jawa Menjadi Bagian Dari Kekuasaan Inggris 2.Kapitulasi Tuntang (1811) : 1. Pulau Jawa. Semua Tentara Belanda Menjadi Tawanan Inggris 3. Orang-Orang Belanda Dapat Dipekerjakan Dalam Pemerintahan Inggris .

Membagi Jawa Menjadi 18 Daerah Keresidenan 2.Kebijakan Raffles 1. Mengadakan Land Rent (Sistem Sewa Tanah) . Menjadikan Bupati Sebagai Pegawai Negeri 3.

Adanya Kebebasan Bagi Petani Dalam Menentukan Tanaman Yang Hendak Ditanam . Penghapusan Kekuasaan Para Bupati Sebagai Pemungut Pajak Atas Rakyat 3. Penghapusan Segala Bentuk Penyerahan Wajib dan Kerja Rodi 2.Landasan Sistem tanam Paksa 1.

Besarnya Sewa Tanah Tergantung Kesuburan Tanah 3. . Penyewaan Tanah Dibeberapa Daerah Dilakukan Berdasarkan Kontrak Dan Terbatas Waktunya 1.Pokok-Pokok Sistem Sewa Tanah Semua Tanah Dianggap Menjadi Milik Pemerintah Kolonial Sehingga Petani Harus Membayar Sewa Tanah Kepada Pemerintah 2. Pemungutan Sewa Tanah Langsung Dilakukan Pegawai Pemerintah dan Tidak Melalui Perantara Bupati 4.

Raffles 1.S. Rafflesia Arnoldi . Buku History of Java 2.Peniggalan T. Kebun Raya Bogor 3.

BUYKESS. VAN DER CAPELLEN  KEBIJAKAN : SISTEM DUALISME EKONOMI  TERJADI PERANG-PERANG DAERAH .PEMERINTAHAN KOMISARIS JENDERAL (18161830)  KONVENSI LONDON (1814)  DIPIMPIN OLEH : FLOUT.

Johannes Van Den Bosch .

6.Latar Belakang Tanam Paksa 1. 5. Diponegoro Besarnya Hutang Belanda Pemisahan Belgia dari belanda Perang Jawa Kegagalan dualisme ekonomi Beban hutang yang tinggi Bersaing dengan Negara-negara Eropa . Kegagalan Sistem Sewa Tanah 2. 8. 7. 4. Kosongnya Kas Belanda Akibat Perang 3.

Adanya Cultuur Procenteen (Prosentase Keuntungan) Untuk Pengawas Tanam Paksa . Kegagalan Panen Menjadi Tanggung Jawab Petani 6.ATURAN DAN PELAKSANAAN TANAM PAKSA ATURAN POKOK TANAM PAKSA 1. Melebihi 1/5. Waktu Pekerjaan Menanam Tanaman Tidak Boleh Melebihi Waktu Untuk Menanam Padi (66 Hari) 5. Pengawasan Tanam Paksa Dilakukan Oleh Pejabat Pribumi (Bupati) PELAKSANAAN TANAM PAKSA 1. Kegagalan Panen Menjadi Tanggung Jawab Pemerintah 6. Sisa Keuntungan Diambil Pemerintah 4. Rakyat Diwajibkan Menyediakan 1/5 Tanahnya Untuk Tanaman Ekspor 2. Keuntungan Dari Penanaman Diberikan Kepada Petani 4. Pekerjaan Menanam Melebihi Waktu Yang Ditentukan 5. Tanah Dibebaskan Dari Pajak 3. Rakyat Harus Membayar Pajak 3. Bahkan Mencapai ½ Luas Lahan 2.

KOMODITI TANAMAN EKSPOR  KOPI  KINA  TEH  TEBU  KRITIKAN : EDWARD DOUWES DEKKER (MULTATULI) MELALUI BUKUNYA “MAX HAVELAR” .

DAMPAK  BAGI BELANDA Mendapatkan Keuntungan yang besar (Batig Slot) BAGI BUPATI Mendapatkan Persenan dari penjualan tanaman perkebunan (Culturprocenten) BAGI RAKYAT Kelaparan yang terjadi di Demak Kerusakan lahan pertanian Terbengkalainya tanaman utama (padi) Mengenal jenis tanaman Ekspor   .

  .

      O         .

.

O        .

f°° ¾If° ° ¾n .

ff ff°– @f°f¯ 9f¾f # # #      WYSYSSZ_`WWcSSZS [_[ZYZ S S_WSZVSTS` W^SZY \[ZWY[^[ W_S^Z S a`SZYWSZVS W_SSZWYSVS^TWSZVS W^SZY ScS WYSYSSZVaS_WW[Z[ WTSZa`SZY SZY`ZYY W^_SZYVWZYSZ WYS^SZWYS^S^[\S .

9  .@D--9--@-.

.

              # S S` cSTSZ WZ WVSSZ # WWT #È SSZ WZUS\S  #È SZSZ S Z`a SZSSZ aS_ SSZ _\[^ # S S` S^a_ WTS S^ SS # SZSTWTS_SZ S^ SS # _S WaZ`aZYSZ ST # WaZ`aZYSZ S^ WZSZSSZ WW^Z`S TW^SZ W\SVS W`SZ  S`a WW^SSZ WZSZS  WW^SSZ WZSZS WWT SZSSZ VS [W WWT S`a SZY`WZ`aSZ S`a Z`a WZSZS SV   S^  WYSYSSZ SZWZ WZSV  WYSYSSZ SZWZ WZSV SZYYaZY ScST W`SZ SZYYaZY ScST WW^Z`S  VSZ S a`aa^ ^[UWZ`WWZ  WZYScS_SZ SZS S_S  ^[_WZ`S_W WaZ`aZYSZZ`a SaSZ .

W WSTS` ^Ta WZYScS_ SZS S_S a\S` .

-9 O .@@-..

 O  O  O O    .

               .

.9 O     WZVS\S`SZ WaZ`aZYSZ SZYTW_S^S`Y[`    WZVS\S`SZ W^_WZSZVS^\WZaSSZ`SZSSZ\W^WTaZSZ a`a^\^[UWZ`WZ    WS\S^SZ SZY`W^SVVWS W^a_SSZSSZ\W^`SZSZ W^TWZYSSZ S`SZSSZa`SS\SV WZYWZSWZ_`SZSSZ_\[^ O O .

9@ % % S`S^TWSSZY # Wb_[Z_``a_WSZVS# # WWZSZYSZY[[ZYSZTW^SV\S^WWZWSZVS # W^WTSZYSZ SS TW^SV^[\S  ^`SZVS^`[[`[[WSZVS  WZZYS`Z SWYS`SZ\W^VSYSZYSZ O .

 . O   # # O  aZVSZYaZVSZYYaS O ZVSZYaZVSZY`WZ`SZY`S`SUS^S WW^Z`SSZ V ZV[ZW_S O   .

   W^TWZVSS^SSZ WYS^S ZVSWSZVS .

.9 O S_aZ S ZbW_`[^S_ZY [` Z`aW^TaS O W^V^Z S W^a_SSSZ\W^a_SSSZ O aZUaZ SSaTa^aVSZ__`Wa\SÈYS O aZUa\WZYa_SS\^Ta O _\[`S_\W^WTaZSZ\W^`STSZYSZ O WZZYS`Z SS^a_Y^SZVS^ZS O WTSZYaZSZSSZ^S SVSZ^WW^W`SS\ O WTSSZ [WZSWSZU`W [W.

^V[ZSZ`W .