Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan Nilem (Osteochillus hasselti dipilih sebagai preparat dalam praktikum
kali ini merupakan perwakilan dari classis Pisces, karena ikan Nilem memiliki
ukuran tubuh yang relatiI kecil (berat per ekor induk yang telah masak kelamin
adalah 120 gram, dapat dipelihara di akuarium dan produk telur yang dihasilkan
oleh setiap induk betina yang masak kelamin cukup banyak yaitu 20.000 butir.
Ikan nilem hidup di air tawar dan banyak dibudidayakan masyarakat sehingga mudah
untuk mendapatkannya. Ikan Nilem dapat dipelihara dengan baik pada daerah
dengan ketinggian 150 1000 m dpl, daerah yang paling baik pada ketingian 1800 m
dpl dengan suhu optimum 18 28 C. Pembelahan segmentasi pada ikan nilem
memerlukan waktu yang relatiI tidak terlalu lama, sehingga tidak menjadi kendala
pada saat melakukan pengamatan.
Percobaan Iertilisasi kali ini menggunakan jeda waktu yang berbeda dan
tingkat pengenceran yang berbeda adalah untuk melihat perbedaan perkembangan
yang dialami masing-masing telur dengan perlakuan yang berbeda-beda. Pembuahan
atau Iertilisasi adalah bergabungnya inti sperma dengan inti sel telur dalam
sitoplasma hingga membentuk zigot. Pada dasarnya Iertilisasi adalah merupakan
satuan atau Iusi sel gamet jantan dan gamet betina untuk membentuk sel zigot.
Fertilisasi ada dua macam yaitu Iertilisasi internal dan eksternal. Fertilisasi internal
adalah proses bertemunya telur dan sperma yang terjadi di dalam tunuh induk betina.
Fertilisasi eksternal merupakan proses bertemunya sperma dan ovum di luar tubuh
induk betina.

B. Tujuan
%ujuan dari praktikum ini adalah untuk melakukan Iertilisasi, mengenali sel
telur ikan yang telah diIertilisasi dan untuk mengetahui Iaktor-Iaktor yang
mempengaruhi Iertilisasi.
II. TIN1AUAN PUSTAKA
Fertilisasi adalah suatu proses yang dimulai dengan bertemunya sel kelamin
jantan dan sel kelamin betina, penetrasi spermatozoa ke dalam telur diakhiri dengan
bergabungnya kedua pronuklei, karena setelah terjadi pembuahan, uvom akan
menjadi lebih aktiI melakukan pembelahan segmentasi dan berkembang, sedangkan
bila tidak terbuahi ovum akan segera mati (Soeminto, 2000. Fertilisasi dapat terjadi
dengan dua cara, yaitu Iertilisasi eksternal dan Iertilisasi internal. Fertilisasi eksternal
(khas pada hewan-hewan akuatik terjadi karena gamet-gametnya dikeluarkan dari
dalam tubuhnya sebelum Iertilisasi. Fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan
kehidupan di darat terjadi karena sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi
betina yang kemudian disusul dengan Iertilisasi. %elur itu membentuk membran
Iertilisasi untuk merintangi pemasukan sper ma lebi h lanjut (EIIendi, 2002.
Pekembangan embrio pada ikan nilem (Osteochillus hassselti) betina dimulai
setelah telur dibuahi oleh inti spermatozoon yang semua haploid, menjadi inti zigot
yang diploid. Zigot inilah yang mempunyai kemampuan untuk melakukan
pembelahan segmentasi melalui proses mitosis yang cepat. Zigot yang tersegmen-
segmen menjadi bagian yang kecil (cleavage, bermula dari satu sel kemudian
membelah menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, hingga 32 sel yang disebut Iase morula
(Djuhanda, 1981.
Perkembangan embrio ikan diawali dengan pembuahan sel telur dengan
spermatozoa. Pembuahan adalah penggabungan antara sel telur dengan spermatozoa
sehingga dapat membentuk zigot. Ikan umumnya terjadi pembuahan di luar tubuh
(eksternal. %elur yang tidak dibuahi akan mati dan mudah dikenal karena
kecerahannya hilang, warnanya menjadi memutih dan keruh. Pembelahan diikuti
oleh perkembangan selanjutnya yang berupa proses-proses blastulasi, gastrulasi,
organogenesis sampai mencapai proses penetasan (Sumantadinata, 1981.
Ikan nilem (Osteochillus hasselti mempunyai tipe telur telolechital berat,
artinya yolk tersebar tidak merata dan dapat dikatakan hampir mengisi seluruh
bulatan telur. Bioplasma hanya sebagai lapisan tipis pada kutub animal yang di
dalamnya terdapat inti telur. %ipe pembelahan ikan Nilem ini adalah meroblastik
%elur Ikan Nilem berbentuk bulat dengan yolk berwarna kuning kehijauan. Diameter
telur sudah masak dan belum tercelup air 0,98-1,08 3m dan setelah terbuahi
diameternya 1,36-1,40 3m. yolk terdistribusi tidak merata dan dapat digolongkan
pada telur tipe telolechital berat, sehingga tipe pembelaha clevagenya termasuk
pembelahan meroblastik. %elur terbungkus karion dengan dilengkapi satu mikropil
untuk jalan masuk spermatozoa pada saat pembuahan (Moeller, 2004.


III. MATERI DAN METODE
A. Materi
lat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah saringan jamu dari
plastik, spuit injeksi 2 dan 5 ml, baskom, mangkuk plastik 500 ml, stopwatch,
mikroskop cahaya, gelas obyek cekung, pipet tetes, table isian hasil pengamatan, dan
label. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Iertilisasi dan perkembangan
embrio ikan ini adalah ikan nilem jantan dan betina, larutan Ringer, air sumur bersih
dan jernih.

B. Metode


Cara kerja dalam praktikum Iertilisasi adalah sebagai berikut :
Dibuat stok milt (milt diencerkan 100x, 1000x, 10000x, dan 100000x
1. cara I (kelompok 1-3
a. Dihitung waktu yang dibutuhkan untuk pengenalan dan penetrasi
spermatozoa pada dinding sel telur.
O 300 butir telur dari induk betina ovulasi distriping ke dalam mangkuk.
O Dicampurkan 1 ml milt yang telah diencerkan 100 x.
O angsung ditambahkan 10 ml air sumur.
O Digoyang perlahan agar homogen.
O Disaring setelah dibiarkan selama :
1 menit untuk kelompok 1
2 menit untuk kelompok 2
3 menit untuk kelompok 3
dan dicuci dengan air sumur.
O Diinkubasikan dalam 3 liter air sumur dalam baskom.
O Dibuat ulangan 3 x.
b. Diamati :
O Sel telur yang terbuahi
O aktu yang dibutuhkan pada tiap tahap perkembangan telur (dari muncul
hylock
c. Keesokan harinya dihitung telur yang menetas (normal dan cacat dan dilihat
tahapan telur menetas.
2. Dihitung rasio ovum spermatozoa pada pembuahan ikan nilem.
a. 100 butir telur hasil striping dicampur dengan 10 ml milt yang diencerkan
dengan jumlah larutan Ringer berbeda (1000 x, 10.000 x, dan 100.000 x,
kemudian dihitung persentase telur terbuahi.
O Konsentrasi I :
1 ml milt yang telah diencerkan 100 x dicampur larutan Ringer
pengenceran 1.000 x
O Konsentrasi II
1 ml mlit yang telah diencerkan 1.000 x dicampur larutan Ringer
pengenceran 10.000 x
O Konsentrasi III
1 ml mlit yang telah diencerkan 10.000 x dicampur larutan Ringer
pengenceran 100.000 x
b. Dibiarkan selama 5 menit agar homogen dan diinkubasikan masing-masing di
dalam 3 liter air sumur.
c. Dihitung rasio telur spermatozoa (% 25
0
C.
d. Diukur diameter telur dan diameter kepala sperma.
e. Dihitung jumlah sperma yang mengelilingi butir telur.
















B. Pembahasan
asil yang diperoleh berdasarkan pengamatan yang dilakukan dalam
praktikum Iertilisasi dan perkembangan embrio ikan yang menggunakan ikan nilem
sebagai preparat dengan perlakuan tingkat pengenceran 10.000x adalah terdapat 70
telur yang telah mengalami tahap perkembangan hylock pada waktu 5 menit pertama
pada ulangan II, sedangkan pada ulangan I 60 terdapat hylock, ulangan III belum
terdapat hylock dan ulangan IV terdapat 50 hylock. Pengamatan 5 menit kedua
pada Ulangan II dan Ulangan III belum terdapat hylock sedangkan Ulangan I dan
Ulangan IV 50. Pengamatan 10 menit pertama diperoleh tahap perkembangan
hylock 50 pada ulangan I. Ulangan II 70 terdapat hylock, ulangan III belum
terdapat hylock dan ulangan IV 30. Pengamatan 10 menit kedua hylock mulai ada
pada Ulangan III 10, sedangkan Ulangan IV tidak terjadi hylock, Ulangan I dan II
terjadi hylock 50. Pengamatan 10 menit ketiga pada Ungan III dan IV tidak
terjadi hylock, namun pada Ulangan I 40 dan Ulangan II 50.
Dalam budidaya ikan, teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga
macam cara, yaitu: Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur
tangan manusia, terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon.
Pemijahan secara semi intensiI, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan
memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi
proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Pemijahan ikan secara intensiI
(buatan, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon
untuk mempercepat kematangan gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara
buatan dengan teknik stripping atau pengurutan. (Sumantadinata, 1981.
%ahap perkembangan embrio adalah Singgami yaitu pembentukan pronuklei
jantan dan betina, Cleavage yaitu pembelahan zigot secara tepat menjadi unit-unit sel
yang lebih kecil (blastomer, Blastulasi yaitu proses pembentukan blastula,
Gastrulasi yaitu proses pemisahan blastoderm menjadi tiga lapis sel germinal yang
sudah terbentuk pada saat blastulasi dan yang terakhir Organogenesis yaitu proses
perkembangan berbagai organ tubuh. al ini sesuai dengan pernyataan elsen
dalam Carlson (1999 bahwa tahap perkembangan embrio adalah sinngami, cleavage,
blastulasi, gastrulasi dan organogenesis. Menurut Soeminto (2000, pengamatan
embrio ikan dapat diketahui waktunya, bahwa 1 sel membelah menjadi dua sel dalam
10 menit, kemudian 4 sel dalam waktu 15 menit, 8 sel 25 menit, 32 sel selama 50
menit. Pengamatan pada jam ke-1 sukar ditentukan stadiumnya bila diamati secara
morIologi. Jam ke-3 setelah pembuahan telah dicapai bentuk blastula dan pada jam
ke-17 dimulailah proses gastrulasi. Gambaran embrio mulai tampak samar-samar
pada akhir hari pertama. Stadium penetasan terjadi pada hari ke-3, pada saat ini mata
tampak lebih mengkilat, mulut belum terbuka dengan panjang kira-kira 5,5 mm.
Perkembangan larva menjadi dewasa dimlai pada hari ke-8 dengan warna larva
menjadi kuning kemerah-merahan.
Berikut ini adalah graIik antara jeda waktu dengan _ telur yang terbuahi :

Gambar 1. GraIik ubungan antara persentase jumlah telur yang terbuahi dengan
jeda waktu.
Keterangan: series 1 Ulangan I, series 2 Ulangan II, series 3 Ulangan III, series
4 Ulangan IV.
0
50
100
150
kontrol 1 menit 2 menit 3 menit
1
u
m
l
a
h

T
e
l
u
r
Waktu
Grafik antara 1eda Waktu dengan 1umlah Telur
Terbuahi
Ulangan I
Ulangan II
Ulangan III
Ulangan IV
Berdasarkan graIik di atas maka pola yang didapat adalah korelasi positiI
karena persentase telur yang dibuahi pada kelompok dengan kontrol dan jeda waktu
1, 2 dan 3 menit ada yang terbuahi 100 terbuahi. Perlakuan yang dilakukan dengan
tingkat pengenceran dan jeda waktu yang berbeda-beda diperoleh rata-rata
banyaknya telur yang terbuahi oleh sperma tidak dapat menetas menjadi larva ikan.
Berikut ini adalah graIik antara tingkat pengenceran dengan _ telur yang
terbuahi :






Gambar 2. GraIik ubungan antara persentase jumlah telur yang terbuahi dengan
tingkat pengenceran.
Berdasarkan hasil diatas menurut Gilbert (1991, semakin tinggi tingkat
pengenceran, maka lama motilitas spermaozoa semakin pendek, begitu juga
sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa semakin pendek motilitas sperma berarti
semakin sedikit pula jumlah spermatozoa yang hidup dan dapat teramati. %elur Ikan
Nilem (Osteochilus hasselti yang telah dibuahi hanya mencapai tahapp 1 sel, 2 sel, 4
sel dan 8 sel serta terbentuknya hylock. %idak terdapat larva yang terbentuk setelah
proses Iertilisasi, hal ini dikarenakan beberapa Iaktor, yakni keadaan temperatur
lingkungan sehingga sel telur tidak mengalami pembelahan secara sempurna, waktu
praktikum yang kurang lama, waktu melakukan pembuahan terlalu lama dan kurang
di geser-geser.
0
20
40
60
80
100
120
1000 10000
Jumlah telur yang
terbuahi (
%ingkat pengenceran
Grafik Presentase JumIah TeIur yang terbuahi
dengantingkat pengenceran
UIanga I
UIangan II
UIanga III
UIangan IV
Sperma mudah sekali tergantung oleh suasana lingkungan, suhu medium
yang terlalu tinggi. Sebaliknya, perubahan p akan merusak pertumbuhan
kemampuan untuk membuahi. Keberhasilan dalam proses Iertilisasi dipengaruhi oleh
beberapa Iaktor antara lain Iaktor eksternal dan Iaktor internal. Faktor eksternal
biasanya berupa kondisi lingkungan yang meliputi suhu, kondisi tempat terjadinya
Iertilisasi, dan air serta gangguan dari organisme-organisme lainnya, sedangkan
Iaktor internal dapat berupa kualitas sperma dan kualitas dari sel telur itu sendiri.
Kualitas sel telur dan spermatozoa erat kaitannya dengan Iertilitas. Kualitas telur dan
spermatozoa sangat menentukan keberhasilan Iertilisasi. Keberhasilan pembuahan
bergantung pula pada kemampuan sperma melewati mikroIil telur untuk masuk ke
sitoplasma telur dan melakukan penggabungan inti untuk mengadakan pembuahan.
aktu telur untuk dapat dibuahi terbatas, sehingga ketepatan penetrasi sperma pada
telur juga sangat menentukan keberhasilan proses pembuahan. aktu hidup sperma
juga terbatas, tergantung pada jenis ikan dan kondisinya (Balinsky, 1995.
Presentase telur ikan yang menjadi larva pada pengamatan kontrol dari semua
ulangan diperoleh rata-rata terbentuknya larva 35,1. Pengamatan jeda waktu 1
menit dari semua ulangan diperoleh rata-rata 39,4. Pengamatan jeda waktu 2 menit
dari semua ulangan diperoleh rata-rata 19,25. Pengamatan jeda waktu 3 menit dari
semua ulangan diperoleh rata-rata 13,05. Pengamatan pengenceran 1000x dari
semua ulangan diperoleh rata-rata 30,3 dan pengamatan pengenceran 10000x dari
semua ulangan diperoleh rata-rata 0,5.
Berdasarkan data pengamatan diatas terlihat yang paling banyak terjadi
pembentukan telur ikan menjadi larva adalah pada pengamatan jeda waktu 1 menit
dan yang paling sedikit terbentuk menjadi larva adalah pengenceran 10000x, hal ini
dapat terjadi karena sperma telah diencerkan sebanyak 10000x sehingga tidak dapat
membuahi sel telur.







Penelitian yang dilakukan oleh Verma, et al.(2009 ultra struktur yang
diperlihatkan dalam mikroskop elektron menunjukkan bahwa spermatozoon Gurame
terdiri dari kepala tanpa kompleks akrosom dengan nukleus yang bundar hingga
lonjong dan ekor atau Ilagellum dengan cincin mitokondria. Faktor-Iaktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan telur ikan antara lain adalah sebagai berikut: Suhu
ikan yang telah terbuahi mampu berkembang baik pada suhu lingkungan normal
namun ikan juga dapat berkembang pada suh 52
0
F. Pengaruh Iisik terutama air yang
mengandung polusi berpengaruh pada perkembangan ikan, yang dinyatakan dalam
batas ambang konsentrasi (ealth, 2003.





0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
kontrol 1 menit 2 menit 3 menit 1000 10000
Presentase telur
ikan yang menjadi
larva (
%ingkat pengenceran
Presentase rata-rata(%) TeIur Ikan yang menjadi
Larva dari UIangan I, II, III dan IV
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. %ahapan perkembangan embrio adalah morula, blastula, gastrula, neurulasi,
morIogenesis, diIerensiasi, dan organogenesis.
2. Munculnya hylock pada pengenceran 1000 x dan 10.000 x terjadi pada 5 menit
pertama.
3. Faktor-Iaktor yang mempengaruhi perkembangan telur ikan adalah suhu dan
pengaruh Iisik.
B. Saran
Praktikum ini mengamati proses pembelahan yang terjadi pada ikan nilem.
Proses pembelahan terjadi dengan sangat cepat, sehingga sebaiknya jangan terlalu
lama dalam mengamati pada setiap perlakuan. Mencampurkan sperma yang telah
diencerkan dengan ovum sebaiknya di lakukan dengan hati-hati. %erlalu kencang
dalam mengaduknya akan menyebabkan telur menjadi rusak.
DAFTAR REFERENSI
Balinsky, B.I. 1995. n Introduction oI Embryologi. .B. Saunders Company,
Philadelpia.

Carlson, Bruce M. 1999. uman Embryology and Developmental Biology. Mosby,
New York.

Djuhanda, %atang. 1981. Embriologi Perbandingan. CV. rmico, Bandung.ealth,
lves, E lvares, JE Gabriel and E Coutinho. 2003. InIluence oI the
neural tube/notochord complex on oD expression and cellular proliIeration
in chicken embryos. Brazilian Journal oI Medical and Biological Research.
36: 191-197.

EIIendi, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Nusatama. Bogor.

Gilbert, Scott F. 1991. Developmental Biology. Sinauer ssociates Inc., Sunderland.

Moeller, R. B. 2004. Biology oI Fish. CaliIornia nimal ealth and Food SaIety
aboratory. System University oI CaliIornia, CaiIornia.

Soeminto. 2000. Embriology Vertebrata. Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto.

Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Pemeliharaan di Indonesia.
Sastra Budaya, Bogor.

Verma, D.K. Routray, P. Dash, C. Dasgupta, S. and Jena, J.K. 2009. Physical and
Biochemical Characteristics oI Semen and Ultrastructure oISpermatozoa in
Six Carp Species. Orissa, India.