Anda di halaman 1dari 13

BAB 1 TINJAUAN TEORI

1.1 Konsep Nutrisi 1.1.1 Definisi Nutrisi adalah proses asimilasi makanan dalam tubuh untuk memberikan gizi. (Kamus Saku Bidan, Denise Tiran) Nutrisi adalah zat-zat gizi dan zat yang lain yang berubungan dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan dari proses dalam tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas dalam tubuhnya serta mengeluarkan sisanya. (Tarwoto Wartonah, 2006) Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan. (Wikipedia, 9 September 2011) 1.1.2 Elemen Nutrisi Elemen nutrisi terdiri dari: 1. Karbohidrat Karbohidrat merupakan sumber energi utama. Setiap 1 gram karbohidrat mengandung 4 kkal. Karbohidran disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk gikogen, kelebihan energi karbohidrat disimpan dalam bentuk lemak. Sumber karbohidrat umumnya adalah makanan pokok, seperti beras, jagung, kacang, sagu dan singkong. 2. Protein Protein sebagai pertumbuhan, mempertahankan jaringan tubuh dan mengganti sel-sel yang rusak. Setiap 1 gram protein mengandung 4 kkal. Bentuk sederhana dari protein adalah asam amino. Sumber protein ada 2 macam, yaitu protein nabati dan hewani. Protein nabati jangung, kedelai dan kacang hijau, sedangkan protein hewani terdapat pada susu, daging, telur, ikan laut, hati dan udang. 3. Lemak Lemak merupakan sumber energi paling besar. Tiap 1 gram lemak mengandung 9 kkal. Sumber lemak berasal dari hewan dan tumbuhan. Lemak hewani bisa di peroleh dari daging sapi dan kambing, sedangkan lemak nabati bisa di peroleh darikacang-kacangan dan kelapa. 4. Vitamin

Vitamin adalah substansi organik. Vitamin sangat berperan dalam proses metabolisme karena berfungsi sebagai katalisator. Vitamin diklasifikasikan menjadi 2, yaitu vitamin yang larut dalam air (B kompleks, C dan Asam Folat) dan vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E dan K). 5. Mineral Mineral adalah elemen organik essensial untuk tubuh karena berperan sebagai katalis dalam reaksi kimia. Mineral diklasifikasikan menjadi 2, yaitu makromineral (Ca, MgSO4) dan mikromineral (Cl, I, Fe dan Zn) 1.1.3 Keseimbangan Energi Energi merupakan kapasitas untuk melakukan sebuah aktivitas yang dapat di ukur melalui pembentuka panas. Energi pada manusia dapat di peroleh dari berbagai asupan zat gizi, diantaranya protein, karbohidrat, lemak maupun bahan makanan lain yang di simpan dalam tubuh. Keseimbangan energi untuk melakukan aktivitas dapat dihitung melalui kebutuhan nutrisi yang di butuhkan seseorang, kebutuhan kalori dasar/basal dan tingkat aktivitas. BB ideal = (TB dalam cm 100) 10% kg Rumus = BB ideal x 10 KKB Keterangan: KKB : Kebutuhan Kalori Basal Rrumus tingkat aktivitas: Tingkat aktivitas Kebutuhan kalori tetap KKB x 3 Sedang KKB x 5 Berat KKB x 10 (Musrifatul Hidayat, 2008)

Tabel kebutuhan gizi wanita dewasa: Zat gizi energi Kebutuhan gizi 2500 kalori Sumber makanan Padi-padian, jagung, umbi-umbian, mi dan roti

protein kalsium Zat besi Vitamin A

40 gram 0,5 mg 28 mg 3500 SI

Daging, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu dan tempe Susu, ikan teri, kacang-kacangan dan sayuran hijau Daging, hati dan sayura hijau Hati, kuning telur, sayuran berwarna hijau dan kuning

kemerahan Vitamin C 20 mg Buah dan sayur (Clycount_Gorbacep, 24 Januari 2011) 1.1.4 Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Beberapa diagnosa yang muncul akibat gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: 1. a. b. a. b.
c.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Data mayor: Pasien mengalami asupan makanan yang tidak aadekuat kurang dari yang dianjurkan Kebutuhan metabolik aktual atau potensial dengan asupan yang lebih Data minor: Penurunan berat badan 10% sampai 20% di bawah berat badan ideal Kelemahan otot dan nyeri tekan Lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah dan lingkar otot lengan tengah kurang dari 60% standar pengukuran Penurunan albumin serum Intervensi dan rasional a. Jelaskan kepada pasien pengetahuan tentang nutrisi R/ pasien mengeti peran nutrisi bagi tubuh b. Jaga kebersihan mulut pasien R/ mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan c. Memberikan porsi makan sedikit tapi sering R/ asupan nutrisi lebih banyak masuk d. Menimbang berat badan setiap hari R/ mengetahui peningkatan berat badan e. Melakukan kolaborasi dengan ahli gizi R/ mengetahui kebutuhan kalori yang realistis dan adekuat

d.

2.

Nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh Data mayor: a. Peningkatan berat badan 10% dari berat badan ideal b. Obesitas (peningkatan berat badan 20% dari berat badan ideal)

c. Lipatan kulit trisep lebih besar dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita

Data minor: a. Pola aktivitas monoton b. Asupan melebihinkebutuhan metabolik Intervensi dan rasional a. Lakukan kembali pengkajian pola makan pasien R/ informasi dasar untuk perencanaan awal b. Memberitahukan pengetahuan kesehatan tentang program diit yang benar dan resiko kelebihan berat badan R/ memberikan informasi dan mengurangi komplikasi c. Hindari makanan yang banyak mengandung lemak R/ makanan berlemak menghasilkan banyak energi d. Menghitung intake makanan dalam 24 jam R/ mengetahui jumlah kalori yang masuk e. Kolaborasi dengan ahli gizi yang tepat R/ menentukan makanan sesuai dengan kebutuhan diit pasien 3. Gangguan menelan Data mayor: a. Pasien kesukaran dalam menelan b. Tersedak/ batuk setelah makan atau minum Data minor: a. Bicara tidak jelas b. Suara hidung c. Mengiler Intervensi dan rasional a. Mengatur posisi pasien R/ pasien duduk tegak (fowler) b. Memberikan makan porsi kecil tapi bertahap R/ mengurangi kemungkinan aspirasi c. Mengawali makan dengan meminum air R/ mengurangi rasa sakit saat menelan d. Memberikan makanan yang lembut R/ meudahkan pasien untuk menelan e. Kolaborasi dwngan ahli patologi wicara

R/ mencegah komplikasi

1.2 1.2.1

Konsep Sistem Pencernaan Anatomi Saluran Pencernaan

Gambar 1.1 (Anatomi Fisiologi Syaifuddin, 1997 : halaman 177) 1.2.2 Fisiologi sistim pencernaan Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari : 1. Ors (Mulut) Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas dua bagian, yaitu bagian luar yang sempit (Vestibula) merupakan ruang diantara gusi, gigi, bibir, dan pipi. Bagian rongga mulut bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan madibularis, disebelah belakang bersambung dengan faring.

2.

Faring (Tekak)

Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (Esofagus). Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. 3. Esofagus (kerongkongan) Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah dan depan tulang punggung, setelah melalui thoraks menembus diakfragma masuk kedalam abdomen menyambung dengan lambung. 4. Ventrikulus (Lambung) Lambung merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster. Lambung terdiri dari bagian atas, yaitu fundus yang berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilurik, terletak dibawah diafragma, didepan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus. 5. Intestinum Minor (Usus Halus) Usus halus adalah bagian dari sitem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada setium. Panjangnya 6 m. Usus halus merupakan saluran yang paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan. Usus halus terdiri dari jejunum, ileum dan duodenum. 6. Intestium Mayor (Usus Besar) Usus besar panjangnya 1,5 m dan lebarnya 5-6 cm. Fungsi usus besar adalah menyerap air dari makanan, tempat bakteri coli dan feses. Usus besar terdiri dari : a. Sekum : dibawah sekum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing. b. Kolon asendes : panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kanan, membujur ke atas dari iletim ke bawah hati. c. Apendiks (usus buntu) : bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari ujung sekum, mempunyai pintu keluar yang sempit tetapi masih memungkinkan dilewati beberapa usus. Sebagai organ pertahanan terhadap infeksi, kadang apendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa menimbulkan perforasi dindingnya kedalam rongga abdomen. d. Kolon traversun : panjangnya 38 cm, membujur dari kolon asendes sampai ke kolon desendens berada di bawah abdomen sebelah kanan terdapat fleksura lienalis. e. Kolon desendens panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dan fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.

f.

Kolon sigmoid : merupakan lanjutan dari kolon desendens, terletak miring dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S. Ujung bawahnya berhubungan dengan rekturn.

7.

Rekturn Rekturn terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os kogsigis. 8. Anus Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan udara luar. Terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh 3 sfinghter, yaitu: a. Sfinghter ani internus (sebelah atas) b. Sfinghter levator ani c. Sfinghter ani internus (sebelah bawah) (Syaifuddin: 2003) 1.2.3 Diagnosa Medis Saluran Pencernaan Beberapa gejala tertentu yang biasa terdapat pada gangguan atau penyakit pencernaan seperti: 1. Disfagia: kesukaran menelan bersamaan dengan penyakit atau gamgguan pada tengkorak/esofagus. 2. Stenosis (Penyempitan): disebabkan karena luka seperti kebakaran, tumor, tekanan dari tumor mediastinalis atau aneurisma di dalam thorax, pembesaran kelenjar tiroid. 3. Esofagitis (peradangan di esofagus): merupakan komplikasi pada herniahiatus esofagus. 4. Dispepsia: sebuah bentuk gangguan pencernaan yang sukar sembuh. Dapat disebabkan oleh ketidakpatuhan diit, waktu makan tidak teratur dan ada kalanya berhubungan dengan ketakutan dan tekanan jiwa. 5. Gastritis (peradangan lambung). Gastritis akut: umumnya disebabkan oleh zat perangsang seperti keracunan makanan, infeksi seperti influenza dan pemakaian alkohol berlebihan. Gastritis kronis: gangguan pencernaan yang terjadi pada orang setengah tua atau lebih tua. 6. Ulkus Peptikum: penyebabnya adalah makan tidak teratur, ketegangan, ketakutan dan tekanan jiwa. Terjadi pada beberapa bagian lambung dan duodenumyang terkena kerja getah lambung. 7. Stenosis Pilorus: dapat terjadi pada orang dewasa dan merupakan komplikasi pada ulkus duodenum. Gejalanya adalah muntah-muntahyang bisa menyemprot lewat hidung dan mulut. Dengan muntah-muntah, cairan dan elektrolit dalam tubuh akan hilang dan terjadi dehidrasi dan penurunan berat badan.

8. Enteritis: merupakan peradangan pada usus besar dan halus. Peyebabnya kebanyakan adalah infeksi, seperti keracunan bakterial dalam makanan. Pada bayi gejalanya adalah diare dan muntah-muntah yang disertai dengan dehidrasi, tekanan darah rendah dan bayi menjadi sangat lemah. 9. Kolik: rasa sakit yang akut dan berseling-seling yang disebabkan kontraksi kuat dinding berotot pada visera berongga. Penderita sangat gelisah, terpluntir-pluntir karena sakit. 10. Klitis: peradangan pada kolon. Kolitis ulseratifdikenak dari tanda-tanda ulkus dan pelebaran kolon disertai dengan keluarnya cairan yang berbau, berisi darah dan lendir. (Evelyn C. Pearce: 2008)

BAB 2 TINJAUAN KASUS

2.1 Pengkajian Tanggal MRS Tnggal pengkajian 2.2 Data Subyektif 1. Biodata Nama pasien : Ny. S Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Status Lama nikah Alamat : 52 tahun : tidak pernah sekolah : petani : Islam : kawin : 35 tahun : Jetis-Bondowoso : 17 September 2011, jam: 14.00 : 21 September 2011, jam: 09.10

Suku/Bangsa : Madura/Indonesia

2. Keluhan utama Ibu mengatakan bahwa dia malas makan karena sakit perut, diare dan batuk. 3. Riwayat kesehatan sekarang Ibu mengatakan pernah melakukan pengobtan 6 bulan yang lalu, yaitu pengobatan penyakit paru-paru di RSU Dr. H. Koesnadi Bondowoso 4. Riwayat kesehatan keluarga Ibu mengatakan bahwa dari pihak keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti HIV/AIDS, hepatitis dan TBC serta penyakit keturunan. 5. Pola kehidupan sehari-hari Pola Nutrisi Sebelum sakit Makan Frekuensi: 2 kali/hari Porsi : 1 piring penuh Jenis : nasi, sayur, ikan Minum : 3-4 gelas/hari Frekuensi : 3 kali/hari Porsi : 3 sendok makan Jenis : bubur Minum : 2 gelas/hari Saat sakit

Istirahat

Siang

:13.00-14.00

Siang : 12.00-14.00 (sering terbangun karena batuk) Malam : 18.00-05.00 (sering terbangun karena batuk) BAB Frekuens i : 2 kali/minggu Konsistensi : agak lembek BAK Frekuensi : 2 kali/hari Warna Seka sekali Mengganti pakaian dalam: tidak pernah ganti : agak putih : 2 kali/hari

Malam : 21.00-04.30 Eliminasi BAB Frekuensi : 1 kali/hari Konsistensi: padat BAK Frekuensi : 5 kali/hari Personal Hygiene Warna Mandi : kuning : 2 kali/hari

Menggosok gigi : 2 kali/hari Mengganti pakaian dalam: 2 kali/hari

Menggosok gigi : 3 hari

2.3 Data Obyektif 1. Pemeriksaan umum Keadaan umum Kesadaran TB BB sebelum sakit BB saat sakit BB ideal LILA 2. tanda-tanda vital Tekanan darah Suhu Nadi RR : 110/70 mmHg : 36,5 C : 96 kali/menit : 23 kali/menit : lemah : compos mentis : 145 cm : 35 kg : 32 kg : 40,5 kg : 19 cm

3. pemeriksaan fisik
a. Inspeksi

Kepala Wajah Mata Hidung Telinga Mulut

: simetris, rambut kusam, beruban, tidak ada ketombe : tidak pucat, tidak ada odem, bersih : simetris, tidak stradismus, sklera putih, konjungtiva merah : tidak ada secret, tidak ada polip, simetris : simetris, tidak ada serumen : bibir tidak ada labiokisis, palatum tidak ada palatokisis, tidak ada tonsilitis, warna bibir agak coklat

Punggung : tidak ada skoliosis, tidak ada kifosis, tidak ada lordosis Leher Dada :tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran vena jugularis : simetris, tidak ada lesi, tidak ada kardiomegali Abdomen : simetris, agak cekung, tidak ada hepatomegali Genetalia : bersih, tidak ada kelainan Ekstremitas atas : jari lengkap, terpasang infus di tangan kanan, tidak ada odem Ekstremitas bawah: jumlah jari lengkap, tidak ada odem b. Palpasi Kepala Leher Dada : rambut berminyak, kulit kepala tidak ada lesi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran vena jugularis : tidak ada kardiomegali Abdomen : tidak ada hepatomegali maupun pembesaran organ lain Punggung : tidak ada skoliosis, tidak ada kifosis, tidak ada lordosis Ekstremitas bawah: tidak ada odem c. Auskultasi Dada : detak jantung normal, terdengar ronkhi, tidak ada bunyi wheezing Abdomen : bising usus normal (16) d. Perkusi Abdomen : tidak kembung Ekstremitas bawah: reflek patella (+/+)

4. Pemeriksaan laboratorium Dilakukan pemeriksaan pada tanggal 17 September 2011

Hb Leukosit Trombosit Gula darah

: 13.3 gr% : 18.900 gr% : 209.000 gr% : 133 gr%

2.4 Itervensi Data Dasar Diagnosa : pasiean dengan masalah pemenuhan nutrisi, yaitu perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh DS DO : ibu mengatakan bahwa dia malas makan karena batuk, diare dan sakit perut : Suhu Nadi RR Tekanan darah TB BBsebelum masuk rumah sakit BB saat masuk rumah sakit BB ideal LILA Keadaan umum Kesadran : 36,5 C : 96 kali/menit : 23 kali/menit : 110/70 mmHg : 145 cm : 35 kg : 32 kg :40,5 kg : 19 cm : lemah : compos mentis