KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PENGETAHUAN PRIA TENTANG METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAMBAS KOTA SIBOLGA TAHUN 2010
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan D-III Kebidanan Program Khusus Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah Program Studi kebidanan PadangSidimpuan jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan

OLEH:

NURAISYAH NIM : 7324307161

KEMENTERIAN KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN MEDAN JURUSAN KEBIDANANPROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2010

LEMBAR PERSETUJUAN

TELAH DITERIMA DAN DISAHKAN UNTUK DIPERTAHANKAN

Pembimbing

(Tumiar Simanjuntak,SST.M.Kes) NIP. 19500225 197301 2 001

An. Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Medan Program Studi D-III Kebidanan PadangSidimpuan

(Dra. Hj. Nurida Nasution, MM) NIP. 19530520 197663 2 001

LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL : “GAMBARAN PENGETAHUAN PRIA TENTANG METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAMBAS KOTA SIBOLGA TAHUN 2010” : NURAISYAH : PO.7324307161 Karya Tulis Ini Telah Disetujui dan Disajikan Sebagai Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Medan Tahun 2010 Dosen Pembimbing

NAMA NIM

(Tumiar Simanjuntak, SST,M.Kes) NIP. 19500225 197301 2 001 Penguji I Penguji II

(Herlina Panggabean, SKM) NIP. 19770618 200212 2 004

(Djonny Sinaga, SKM.M,Kes) NIP. 19660503 198903 1 005

An. Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Medan Program Studi D-III Kebidanan PadangSidimpuan

(Dra. Hj. Nurida Nasution, MM) NIP. 19530520 197663 2 001

PROGRAM KHUSUS D-III KEBIDANAN PRODI PADANGSIDEMPUAN POLITEKNIK KESEHATAN MEDAN NAMA NIM Judul : NURAISYAH : 7324307161 : Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) Di Wilayah Kerja Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010.

VI + 48 Halaman + 5 Tabel + 6 lampiran ABSTRAK Di Indonesia program KB salah satu indikator menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Menurut SDKI, 2007 Partisipasi pria tentang KB 1 % hal ini disebabkan budaya kesetaraan jender sangat kurang diadopsi pria, keadaan ini didukung data Profil Dinkes kota Sibolga dari 8325 laki – laki PUS 5,91 % akseptor KB Metode Operatif Pria, berdasarkan data diatas tujuan penelitian untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria Tentang MOP Di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010. Penelitian ini jenis deskriktif, menggunakan data primer dengan alat ukur kuisioner. Populasi seluruh pasangan yang tidak ingin punya anak berjumlah 208 responden dan sampel sebanyak 68 responden . Hasil dan pembahasan penelitian bahwa dari 68 responden ditemukan variabel umur berpengetahuan baik 85,7 %, cukup 87,2 %, variabel pendidikan berpengetahuan baik 10,3 %, cukup 84,4 %, variabel pekerjaan berpengetahuan baik 10,3 %, cukup 83,7% , variabel sumber informasi berpengetahuan baik 10,3%, cukup 90,1 %. Sedangkan responden berpengetahuan kurang ditinjau dari variabel umur 2,9 %, pendidikan 2,9 % , pekerjaan 2,9 %. Rendahnya pengetahuan pria disebabkan kurangnya kesadaran pria menjadi akseptor KB MOP. Sebaiknya pimpinan Puskesmas dan petugas kesehatan mensosialisasikan Metode KB MOP kepada masyarakat supaya akseprtor pria mencapai target nasional. Kata Kunci : Pengetahuan Pria Metode Operatif Pria

Daftar Pustaka : 18 (1998-2009).

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010”. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari kesempurnaan, mengingat kurangnya pengetahuan dan

pengalaman yang dirasakan oleh penulis sendiri, baik dalam penulisan maupun penyusunannya. Maka penulis dengan besar hati menerima kritik dan saran untuk kesempurnaan penelitian ini. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ir. Zuraidah Nasution, M.Kes, selaku Direktur Politeknik Kesehatan

Kementerian Kesehatan RI Medan. 2. Hajopan Simanjuntak, SKM selaku Kepala Dinas Kesehatan Daerah Tapanuli Tengah.
3. Tumiar Simanjuntak, SST, M.Kes selaku Ketua Program Kebidanan

Politekhnik kesehatan kementrian kesehatan RI Medan dan sekaligus sebagai pembimbing Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Dra. Hj Nurida Nasution, MM, selaku Ketua Program Study Kebidanan

PadangSidimpuan Politekhnik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Medan.

Sibolga.5. 7. Buat sahabat-sahabat terdekat penulis (Tiur Renata Siagian. 6. Teristimewa kepada anak-anak/ menantu tercinta (Hendra Jaminsyah. Muliadi.Keb.Rona. Heri Antoni. dan Poppy. SP. Akhir kata penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini dapat diterima oleh tim penguji. Siti Rahmah. Kepada Seluruh Staf Dosen Program Khusus Dinas Kesehatan Daerah Tapanuli Tengah Politekhnik Kesehatan Medan Program Studi Kebidanan PadangSidimpuan yang secara komprehensif memberikan pengetahuan dan bimbingan selama penulis menjalani pendidikan.Am. Zahra. Agustus 2010 Penulis Nuraisyah . Nur Sasongko). menantu (Ayu Marviana. Dinda. Naswa.keb.SP.Am.Am. SST) dan cucu-cucu tersayang (Zaqi. M.keb.SST.Keb). SST. Tri Wahyuni. Hari Apriliani.Desy Farima. Zauza) serta seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan moril maupun material serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.Skm.SE. sebelumnya saya ucapkan terima kasih.Am.MegaSari.

...........2................................................................7 C.....1 B........................... Manfaat Penelitian........... Kontrasepsi Mantap... Pengetahuan............................................. Pekerjaan..............................25 B........... Definisi Pengetahuan................3 Keluhan Vasektomi....... Perumusan Masalah............... Umur............................................................................21 A............7 C.23 B...2.........................................................1 Definisi Kontrasepsi Mantap..........1..........................................................2.....1............2...25 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.............................4 Konseling............................... Tujuan Khusus.......................................... Latar Belakang....12 A.......................................................................7 C................................................................ Tujuan Penelitian......................DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A....Tujuan Umum. Gambaran Variabel yang Berkaitan Dengan Pengetahuan Metode Operatif Pria (MOP).........................8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A...................2........2......................12 A.......................3..............................2 Vasektomi (Metode Operasi Pria – MOP)..................................................22 B.. Kerangka Konsep Penelitian........9 A.................................................12 A............................7 D......................... Pendidikan............................23 B.........................................27 ...........................................2.............................4........................................................... Sumber Informasi.........23 B......9 A...........1............................................................................

...............27 C............................................ Kesimpulan.........................................................31 G........29 E............................................ Jenis Penelitian......... Hasil ........... Pengumpulan Data..................................B..30 Metode Pengumpulan Data......................................................47 DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................34 B.................................. Pembahasan........................................................................................................... Analisa Data................................ Aspek Pengukuran..........32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.39 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A................................................... Saran......46 B.......................... Populasi dan Sampel...... Lokasi dan Waktu Penelitian....31 H........ Defenisi Operasional......................................... Pengolahan Data....... F.....29 D...............................................................

1.. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Umur Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010...................38 ................2...34 Tabel 4.......3........36 Tabel 4.........4.................... Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Pekerjaan Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010........................DAFTAR TABEL Tabel 4..... Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Pendidikan Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010.......35 Tabel 4... Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010.5..................................... Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Sumber Informasi Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010.37 Tabel 4...

300 ibu yang meninggal. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 2006.000 kematian ibu melahirkan di seluruh dunia setiap tahunnya. Angka Kematian Ibu melahirkan di Indonesia masih tertinggi di negara ASEAN. Word Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa ada 500.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu. yakni 248 per 100. Angka tersebut diprediksikan akan bisa ditekan manakala . pelayanan kesehatan termasuk keluarga berencana (KB). 2002). persalinan ibu harus mendapatkan fasilitas dan partisipasi seperti tenaga profesional. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu keberhasilan layanan kesehatan di suatu negara. Indikator derajat kesehatan dapat dinilai dari angka kematian bayi. Setiap jamnya ada 2 kematian ibu. 1 bulan 1. partisipasi masyarakat setempat dan lainnya (Depkes RI. tiap minggu 352 ibu. angka kematian ibu. Latar Belakang Di Indonesia Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi semua orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.500 ibu dan setiap tahun berjumlah 18. 99% diantaranya terjadi di negara berkembang.BAB I PENDAHULUAN A. Dari angka tersebut diperkirakan bahwa hampir satu orang ibu setiap menit meninggal akibat kehamilan dan persalinan. setiap hari 50 ibu. umur harapan hidup dan angka kematian balita.

edukasi. Angka ini terus bertambah pada tahun 2007 sebesar 28.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kota Sibolga 2010).pemerintah menjalankan programnya termasuk keluarga berencana (KB) dibantu oleh peran serta seluruh lapisan masyarakat (Depkes. mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi insidens kehamilan beresiko tinggi. efektif. Menurut Profil Dinas Kesehatan Kota Sibolga Tahun 2010.49 % kemudian meningkat pada tahun 2006 menjadi 21. terjangkau.20 % dan akhir tahun 2008 proporsi KB baru mencapai 35. Angka Kematian Ibu Maternal tertinggi dalam empat tahun terakhir ini terjadi pada tahun 2005 sebesar 540 per 100. Meningkatkan mutu komunikasi. yaitu . 2006). sederhana dan aman.58 %.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Ibu Maternal terendah terjadi pada tahun 2008 dengan angka 209 per 100. Pada tahun 2005 proporsi wanita usia subur yang menjadi peserta KB baru sebanyak 17.79 %. kesakitan dan kematian membuat pelayanan yang bermutu. diterima dan mudah diperoleh bagi semua orang yang membutuhkan. ( Profil Dinas Kesehatan Kota Sibolga Tahun 2009). Vasektomi yang pertama kali dilakukan oleh seorang bedah ahli Inggris pada tahun 1894 ini adalah satu metode kontrasepsi mantap bagi pria (cara ber-KB) dengan biaya murah. konseling dan pelayanan meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab pria dalam praktek KB (BKKBN. 2006). informasi. Program Keluarga Berencana (KB) adalah Suatu program yang dimaksudkan untuk membantu para pasangan usia subur (PUS) dalam mencapai tujuan reproduksi mereka.

3 persen. kesertaan Pria ber KB secara Nasional mencapai 52. Menurut Suprihastuti (2000). Bila dilihat dari umur pemakai alat kontrasepsi pria cenderunglebih tua dibanding .1 persen ditahun 2007 dan menjadi 102 persen di tahun 2008. Kurangnya pengetahuan pada PUS sangat mempengaruhi dengan pemakaian alat kontrasepsi KB vasektomi.go. menurut temuan studi yang dilaporkan oleh IDI propinsi Jawa Timur (di 3 kabupaten) menyatakan bahwa vasektomi dapat diterima oleh semua tingkatan pendidikan dan sosial ekonomi. Penggunaan kontrasepsi juga harus berdasarkan kesepakatan suami-istri (http://www Salah Persepsi Tentang Kontrasepsi).2 persen).id). berbeda kebutuhan. Dari beberapa temuan fakta memberikan implikasi program yaitu manakala pengetahuan dari PUS masih kurang terutama selama ini hanya sasaran para wanita saja yang selalu diberi informasi. Beda orang. Sampai bulan Oktober 2009 lalu. Khusus dalam hal KB Pria. capaian peserta baru yaitu 38. Jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia Tahun 2008 adalah kontap pria (medis operasi pria 0. Sementara para akseptor pria kurang pembinaan dan pendekatan sehingga tidak saling memberikan pengetahuan (http://www bkkbn.dengan cara memotong kedua saluran sperma (Vas Deferens) sehingga pada saat ejakulasi cairan mani yang dikeluarkan tidak lagi mengandung sperma sehingga tidak terjadi kehamilan.

pekerjaan yang dilakukan memberikan kepuasaan kepada seseorang dan pekerjaan yang dilakukan seseorang berpengaruh terhadap yang lain. diikuti oleh media cetak seperti majalah.yang lain. 2000) ternyata “pendidikan” berpengaruh negatif terhadap pemakaian vasektomi. poster dan pamflet.dkk. pembentukan sikap dan prilaku ber-KB adalah melalui TV. Sedangkan media cetak seperti Koran. . sementara wilayah (desa) memberikan pengaruh positif mereka yang berpendidikan tinggi cenderung memilih kondom. menurut hasil analisis lanjut SDKI 2001 (Suprihastuti. media TV dan radio. Menurut Hurclock (1990). Pekerjaan merupakan kegiatan formula yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu. bidan dan pamong desa. Secara statistik ternyata tingkat pendidikan berpengaruh secara bermakna terhadap pemakaian kontrasepsi pria terutama Metode Operatif Pria (MOP). untuk kontrasepsi pria pada umumnya menyatakan bahwa sebagai sumber informasi adalah petugas KB. Bila ditinjau dari segi pendidikan. sarana. maka pria yang bekerja semakin banyak mendapatkan pengetahuan mengenai pelayanan kesehatan terutama metode operatif pria. majalah dan poster memberi kontribusi terhadap pengetahuannya mengenai kontrasepsi pria. Tentang sumber informasi yang paling disukai dalam kaitannya dengan penggunaan media massa merupakan sumber pengetahuan. Ini memberikan petunjuk bahwa kematangan pria juga ikut mempengaruhi untuk saling mengerti dalam kehidupan keluarga.

id).05% peserta (http://www BKKBN.dan kondom (3. ( Profil Dinas Kesehatan Kota Sibolga Tahun 2009). Dari jumlah pria yang memakai kontap sebesar 16 orang dan jumlah pria yang memakai kondom sebesar 50 orang. suntik 562 akseptor. Menurut data dari Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2009 yaitu jumlah laki-laki sebesar 8325 orang dan jumlah perempuan sebesar 8426 orang. . Mop/Mow (5.95 %).07 %). Peserta KB di wilayah ini yang menggunakan fasilitas pemerintah 1198 akseptor.54 %). jumlah pasangan yang tidak ingin anak lagi sebesar 208. melaporkan peserta KB baru (PB) dan pencapainya terhadap perkiraan permintaan masyarakat yaitu di Sumatera Utara yaitu 77 peserta. pil 481 akseptor. Pencapaian peserta KB baru terhadap PPM PB pria di Sumatera Utara sekitar 15. Pil (21. jumlah pasangan yang ingin anak tapi ditunda sebesar 254.go. jumlah pasangan yang ingin anak segera sebesar 302. implant (15.57 %). IUD (25.96 %). Jenis alat kontrasepsi yang digunakan peserta KB aktif Di Kota Sibolga pada tahun 2008 tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan tahun 2007 alat kontrasepsi yang paling banyak diminati oleh peserta KB aktif adalah suntikan (27.Menurut BKKBN (2006). Implant sebesar 246 akseptor. jumlah pasangan yang ingin hamil sebesar 94. Menurut data dari Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2009 yaitu jumlah peserta KB aktif 1698 akseptor MOP 16 akseptor. yang menggunakan fasilitas swasta 500 akseptor. Jumlah pasangan usia subur yang bukan peserta KB sebesar 838.91 %).

id). B. keterbatasan pilihan alat kontrasepsi yang tersedia dan sebagainya (http://www Partisipasi KB Pria Masih Rendah .go. C. Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010?”. Berdasarkan data di atas penulis ingin mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Akseptor KB Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010. Tujuan Penelitian Tujuan Umum C. sarana pelayanan KB bagi pria masih terus ditingkatkan. Permasalahannya antara lain adalah kondisi lingkungan sosial. budaya masyarakat dan keluarga yang masih menggangap partisipasi pria masih belum penting dilakukan karena pengetahuan dan kesadaran pria dan keluarga mengenai KB masih relatif rendah karena keterbatasan penerimaan dan aksesabilitas pelayanan kontrasepsi pria serta permasalahan lain yang turut mendukung seperti peran tokoh agama yang masih kurang.1.Namun dalam pelaksanaannya ternyata pria masih sukar untuk diajak berpartisipasi aktif dalam program KB. .

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian dan juga sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan Program Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah Politekkes Medan Prody Kebidanan Padang Sidimpuan. C. 4. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) berdasarkan pekerjaan di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) berdasarkan sumber informasi di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010. 2.Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010. 2. Bagi Institusi Pendidikan . Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) berdasarkan pendidikan di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) berdasarkan umur di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010.2. 3.

3. . Bagi Tempat Penelitian Sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi petugas kesehatan khususnya yang ada di Puskesmas Sambas tentang Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) sehingga petugas kesehatan mengetahui Tentang Metode Operatif Pria (MOP) pada pasangan usia subur khususnya dan untuk sebagai penyuluhan kepada masyarakat terutama pada masyarakat terutama pada pria terutama masyarakat yang ada di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga.Dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan Akademi Kebidanan Program Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah Politekkes Medan Prodi Kebidanan Padang Sidimpuan dan sebagai masukan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya.

2007). 2007). Pengetahuan merupakan faktor dimana yang sangat penting untuk membentuknya tindakan seseorang. Definisi Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan. Tahu (Know) . Pengetahuan pada dasarnya terjadi dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan untuk dapat mencapai masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain (Notoatmodjo. Pengetahuan perlu sebagai dorongan psikis dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun dorongan sikap dan perilaku dikatakan bahwa pengetahuan merupakan simulasi tindakan seseorang. Pengetahuan A. media dan lingkungan dengan kata lain semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuannya (Notoatmodjo. sebagian besar lagi diperoleh dari pengalaman.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. yaitu: 1. Menurut Notoatmodjo (2007) Tingkat pengetahuan terdiri dari 6 tingkatan.

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. menyebutkan contoh menyimpulkan. membedakan. Analisis (Analysis) Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Kemampuan analisis dapat menggambarkan. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi. 3. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 2. 5. Sintesis (Syntesis) . rumus. 4. metode. tetapi dalam masalah suatu struktur organisasi masih ada kaitannya satu sama lain. termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. harus dapat menjelaskan. meramalkan sesuatu terhadap objek yang dipelajari. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi penggunaan hukum-hukum. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang (sebenarnya). memisahkan dan mengelompokkan.

Kontrasepsi Mantap A. sementara para akseptor pria kurang pembinaan dan pendekatan sehingga tidak saling memberikan pengetahuan (http://www bkkbn. 6. dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk formulasi baru dari formulasi yang ada. yaitu manakala pengetahuan dari PUS masih kurang terutama selama ini hanya sasaran para wanita saja yang selalu diberi informasi.go.id) A.Sintesis Menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.1 Definisi Kontrasepsi Mantap . Dari beberapa temuan fakta memberikan implikasi program. penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kriteri yang ditentukan sendiri atau mengusahakan kriteria-kriteria yang telah ada.2. Kurangnya pengetahuan pada PUS sangat mempengaruhi dengan pemakaian alat kontrasepsi KB vasektomi.2. menyusun suatu Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Vasektomi yang pertama kali dilakukan oleh seorang bedah ahli Inggris pada tahun 1894 ini adalah satu metode kontrasepsi mantap bagi pria (cara ber-KB) dengan biaya murah. sederhana.2 Vasektomi (Metode Operasi Pria – MOP) Mungkin tidak semua orang familiar dengan vasektomi. dan sangat efektif.2004). A. kontrasepsi ini hanya diperkenankan bagi mereka yang sudah mantap memutuskan untuk tidak lagi mempunyai anak. sederhana. (http://www Kontrasepsi Mantap Pria Vasektomi Tanpa Pisau (VTP). Dengan cara ini. Obat dan Metode Kontrasepsi) Kontrasepsi mantap pria atau vasektomi merupakan suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang sangat aman. efektif. maupun vasektomi bagi lelaki. Karena sifatnya yang permanen.2. baik untuk tubektomi bagi perempuan. dan aman. memakan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anestesi umum (Hartanto. yaitu dengan cara memotong kedua saluran sperma (Vas Deferens) sehingga pada saat ejakulasi cairan mani yang dikeluarkan tidak lagi mengandung sperma sehingga tidak terjadi kehamilan. Sekitar 50 juta pria diseluruh dunia telah mengandalkan vasektomi . Kontrasepsi mantap dijalankan dengan melakukan operasi kecil pada organ reproduksi. Itulah sebabnya kontrasepsi ini disebut kontrasepsi mantap (Http://www Alat. proses reproduksi tidak lagi terjadi dan kehamilan akan terhindar untuk selamanya.Kontrasepsi mantap adalah satu metode kontrasepsi yang dilakukan dengan cara mengikat atau memotong saluran telur (pada perempuan) atau saluran sperma (pada lelaki).

dan biasanya lebih murah daripada sterilisasi wanita. Prosedur Vasektomi adalah prosedur bedah minor rawat jalan yang dilakukan dengan anastesi lokal. Operasi vasektomi hampir selalu dilakukan dibawah anestesi lokal. Vasektomi hanya diperuntukan bagi suami atau laki-laki yang tidak menginginkan anak lagi. cukup bius lokal saja sehingga relatif lebih aman (http://www Kontrasepsi Mantap Pria Vasektomi Tanpa Pisau (VTP). aman. biasanya oleh ahli urologi di praktik pribadi. Vasektomi ini merupakan suatu metode kontrasepsi dengan melakukan tindakan operasi kecil yang memakan waktu operasi singkat yaitu 10 – 15 menit dan tidak melakukan anestesi (bius) umum. Sterilisasi pria sukarela Vasektomi merupakan prosedur yang lebih sederhana. Sedangkan menurut Glasier & Gebbie (2005) Vasektomi adalah pemotongan atau penyumbatan vas deferens untuk mencegah lewatnya sperma. Pemakaian harus menandatangani surat persetujuan yang ditandatangani istri (Http://www Kontrasepsi Alternatif). Ahli bedah yang melakukan operasi lebih dari 10 kali setiap tahun memberikan angka kompikasi yang lebih rendah (Speroff. Dilakukan satu atau dua insisi kecil atau skorotum vas . 1. Pengertian Vasektomi Vasektomi adalah cara kontrasepsi bagi pria (suami) dengan mengikat saluran sperma melalui sebuah operasi ringan (kecil).untuk konrasepsi. 2003). sehingga sperma tidak bertemu dengan sel telur atau tidak terjadi pembuahan.

T. Vasektomi . ( dr. dkk. Brahm u. sperma yang diproduksi oleh tubuh pria juga akan diserap kembali oleh tubuh tanpa menyebabkan satu penyakit atau gangguan metabolisme apapun. Pendit.5 cm – 1 cm) saluran benih sehingga terdapat jarak diantara ujung saluran benih bagian sisi testis dan saluran benih bagian sisi lainnya yang masih tersisa dan pada masingmasing kedua ujung saluran yang tersisa tersebut dilakukan pengikatan sehingga saluran menjadi buntu/tersumbat (http://www bkkbn. Meskipun ringan. bibit laki-laki yang tidak keluar akan diserap kembali oleh tubuh tanpa menimbulkan efek apapun. 2009).id) Vasektomi yaitu menutup saluran bibit laki-laki dengan melakukan operasi kecil pada kantong zakar sebelah kanan dan kiri. 2006) Vasektomi adalah pemotongan sebagian (0. Sebelumnya. Operasi bisa dilakukan kapan saja dan boleh dokter yang betul-betul terlatih menangani masalah ini. Operasi ini tergolong ringan.Si. operasi ini memerlukan bius (anestesi) untuk mengurangi rasa sakit. Seperti juga pada perempuan. Seperti yang terjadi dengan sel telur perempuan. Dalam pelayanan KB nasional keberadaan pelayanan kontrasepsi mantap sudah berlangsung sekitar 30 tahun dan telah menjadi alternatif dari masyarakat Indonesia dalam pengaturan kelahiran. bahkan lebih ringan dari khitan (sunat) dan bisa dilakukan tanpa pisau.deferens dipotong dan diikat atau disumbat dengan cara lain untuk mencegah lewatnya sperma. (Dyah Noviawati Setia Arum. dokter yang akan menangani operasi akan memeriksa secara teliti kondisi kesehatan yang bersangkutan.go. S.

Tahun 1960. vasektomi sebagai kontrasepsi mantap mengalami perubahan. . hampir tidak ada efek samping yang muncul setelah operasi ini. Kalau ini terjadi. Sejarah Perkembangan Vasektomi Secara historis. India mulai menggunakan vasektomi sebagai kontrasepsi mantap. resiko dari vasektomi masih ada yaitu infeksi karena operasi. Namun bagaimanapun. bermula pada tahun 1954.adalah metode kontrasepsi dengan kemungkinan gagal sangat kecil. 2. Disamping itu. Tapi biasanya itu hanya bersifat psikologis. penilitian dan pemanfaatan vasektomi dalam bidang kesehatan telah dilakukan sejak kurang lebih 100 tahun yang lalu. Walaupun vasektomi merupakan tindakan sederhana. Memang beberapa orang mengeluhkan tentang gangguan terhadap gairah seksual mereka. Seiring perkembangan dan pengetahuan medis. aman dan murah tetapi pada kenyataannya peserta vasektomi lebih sedikit dibandingkan tubektomi (sterilisasi wanita). bukan gejala fisiologis. segeralah hubungi dokter untuk penanganan secara seksama. Selain itu vasektomi sering kali identikan dengan pengibirian atau dengan kata lain sifat kejantanan/keperkasaan pria akan menurun (http://www Kontrasepsi Mantap Pria Vasektomi Tanpa Pisau (VTP). Pemerintah Amerika Serikat melegalisisr vasektomi untuk sterilisasi sukarela. Hal ini dikarenakan masih banyak masyakat beranggapan bahwa KB itu adalah urusan wanita.

Tahun 1970. Semarang dan di Surabaya. dr. Widjoseno Gardjito. H. Apichart Narapathpongporn dari Thailand memperkenalkan teknik vasektomi kepada para ahli dari Indonesia. direktur Chongqiang Family Planing Scientific Research Institute. Hingga saat kini upaya pemerintah melalui Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam meningkatkan peranan pria untuk ikut ber-KB terus dikembangkan. Pada tahun 1988. Tahun 1990. Tahun 1989. Dr. . dr. Dr Li Shunqiang. program pelayanan vasektoi dilaksanakan di Jakarta. Djoko Rahardjo. di negeri tirai bambu. Sungsang Rochadi. Tahun 1971. mulai memperkenalkan Vasektomi Tanpa Pisau (VTP) sebagai cara kontrasepsi mantap teknik pembedahan dan peralatan yang sederhana tidak invasif dan lebih aman. dr. dengan memberi pemahaman dan pengenalan secara mendalam tentang amannya pilihan kontrasepsi bagi pria ini (http://www Kontrasepsi Mantap Pria Vasektomi Tanpa Pisau (VTP). Cina. Pemerintah Indonesia mengirim beberapa ahli bedah senior ke India untuk meninjau pelaksanaan vasektomi sebagai cara kontrasepsi. Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI) memperkenalkan teknik VTP secara luas di Indonesia. mempelajari teknik vasektomi tanpa pisau di Thailand dengan dr. Prof. Rudi Yuwana dan dr. disusul kemudian di Yogyakarta. Tahun 1974. Apichart Narapathpongporn.

4. 2004). dianjurkan memakai kondom. tetapi tidak lagi mengandung bibit. Operasi hanya berlangsung kurang lebih 15 menit. Bekas luka harus kering dan bersih selama 7 hari Minum obat yang diberikan oleh dokter sesuai dengan aturan Meskipun sudah boleh melakukan hubungan seksual dengan istri/pasangan setelah 7 hari tindakan operasi diambil. Sementara pasangannya menggunakan metode lain yang cocok. Ini karena vasektomi tidak sama dengan pengebirian (Http://www Pria Mulai Sadar Ber-KB). Setelah vasektomi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kehamilan akibat sisa-sisa sperma yang terdapat dalam cairan mani. sebaiknya b. air mani tetap ada. Bagi pria. pasien tidak perlu dirawat (Hartanto. Istirahat secukupnya dan selama 7 hari setelah operasi tidak bekerja keras. c. . namun pasangan tersebut masih harus memakai alat kontrasepsi lain selama kurang lebih 3 bulan. kira-kira pada 10-12 kali persenggamaan setelah operasi. Cara Kerja Vasektomi yaitu Menghalangi jalannya sel mani/sperma sehingga tidak membuahi sel telur.3. d. Cara kontrasepsi ini dipersiapkan melalui tindakan operasi ringan dengan cara mengikat dan memotong saluran sperma (vas deferens) sehingga sperma tidak dapat lewat dan air mani tidak mengandung spermatozoa dengan demikian tidak terjadi pembuahan. Hal yang perlu diperhatikan setelah vasektomi adalah sebagai berikut: a.

Tidak menganggu hubungan seksual d. 2004) 6. sangat dianjurkan di negara-negara dimana wanita merasa malu untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang tersedia dokter wanita dan paramedis wanita. Aman.5. Kelebihan Vasektomi a. h. apabila operasinya tidak sesuai dengan prosedur. c. Biaya rendah. Tidak perlu dirawat di Rumah Sakit karena berlangsung selama 1015 menit. Kelemahan atau efek samping dari Vasektomi a. morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas. e. Hanya ada tindakan pembedahan Tidak dilakukan pada suami yang masih ingin memiliki anak Kadang-kadang terasa nyeri atau terjadi perdarahan setelah operasi d. Kadang-kadang timbul infeksi pada kulit skrotum. Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi lokal saja. Tidak ada efek samping jangka panjang c. Sederhana. i. g. (Hartanto. b. f. Secara kultural. Sangat efektif b. .

Meskipun saluran sperma dipotong atau diikat dapat disambung kembali namun tingkat keberhasilan untuk hamil lagi sangat kecil (Http://www BKKBN 2006). Klinik KB. Tempat Pelayanan Vasektomi Pelayanan vasektomi dapat diperoleh diRumah Sakit. Diperlukan suatu tindakan operatif. 6 bulan. KB-Kes PKK). Jangan lupa memeriksa ulang ke dokter: 1 minggu. h. yang sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens dikeluarkan. 3 bulan. sebelum melakukan metode vasektomi harus dipertimbangkan secara matang. Kembalinya Kesuburan Sama seperti halnya metode tubektomi. 2006). 9. Kontraspesi pria belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa. dan 1 tahun setelah operasi (Http://www Alat Kontrasepsi). (Hartanto. Tingkat keberhasilan mencapai 99 % (BKKBN. Tim KB Keliling (TKBK). Problem psikologis yang berhubungan dengan prilaku seksual bertambah parah setelah tindakan operatif yang mungkin menyangkut sistem reproduksi pria. Momentum (KB-Kes-Manunggal TNI. Dokter dan Bidan Praktik Swasta terlatih. . Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi. 2004) 7.e. g. f. KB-Kes Bhayangkara. 8.

Pasangan yang tidak lagi ingin menambah jumlah anak b. Obat dan Metode Kontrasepsi). Tidak tetap pendiriannya f. Indikasi Vasektomi. Penderita hernia b. sebaiknya kantong buah zakar diberikan kompres es dalam 24 jam pasca vasektomi. Penderita penyakit kulit atau jamur didaerah kemaluan e.10. 11. Memiliki peradangan pada buah zakar (Http://www Alat. Penderita kencing manis c. Pasangan yang telah gagal dengan kontrasepsi lain (Http://www Alat. A. kalau bukan ada tumor atau kanker buah zakar. Obat dan Metode Kontrasepsi). Kontra indikasi Vasektomi. selain rasa nyeri berkepanjangan di sekitar situ (post vasectomy pain syndrome). Mungkin sudah ada infeksi menahun disana. Pasangan yang istrinya sudah sering melahirkan c.2. Penderia kelainan pembekuan darah d. Untuk mencegah yang tidak mengenakkan itu.3 Keluhan Vasektomi Keluhan paling sering berupa pembengkakan kantong buah zakar. yaitu: a. selain tetap . yaitu: a. Pada nyeri yang berkepanjangan biasanya lantaran kondisi buah zakar memang sudah bermasalah sebelum vasektomi dilakukan. Memiliki penyakit yang membahayakan kesehatan d.

(http://www bkkbn. penjelasan. sama kekentalan. dan pastikan tidak ternfeksi. pembahasan.id) Terhadap libido tidak berpengaruh karena buah zakar yang menghasilkan hormon tetap berfungsi dan hormon dialirkan melalui pembuluh darah sehingga tidak dipengaruhi oleh tindakan vasektomi. berarti kemungkinan sudah terjadi infeksi di sana. Tak ada yang berubah juga dalam sifat ejakulsi. Konseling Sebagian besar pasangan yang meminta sterilisasi telah memikirkan operasi ini dalam waktu yang cukup lama. muncul gejala merah meradang pada kantong zakar. Demikian juga terhadap lamanya ereksi sampai terjadi ejakulasi tidak akan terganggu.memakai celana berpenyangga. Sesi konseling seharusnya memberi kesempatan untuk mendapatkan informasi.id) Tak ada yang berubah dengan urusan seks pada rata-rata pria yang sudah vasektomi. (http://www bkkbn.4. A. (BKKBN.go. dan anjuran serta seharusnya memungkinkan pasangan dapat mengambil keputusan berdasarkan kepentingan mereka. Terhadap ke ereksi juga tidak berpengaruh karena persarafan dari aliran darah untuk ereksi terletak dibagian atas dan batang kemaluan sehingga tidak akan cedera sewaktu tindakan vasektomi. Ejakulasi yang keluar hanya berkurang sedikit dan itu tak ada artinya dalam hal kenikmatan berejakulasi. Banyak pasangan cukup merasa yakin akan keinginan mereka dan konsultasi sebaiknya tidak . 2006). Pembengkakan. begitu juga aromanya. warna.2.go. karena yang hilang yang hilang hanya sel benihnya saja.

terlalu lama kecuali apabila dinyatakan atau dirasakan adanya keraguraguan. Umur sangat erat hubungannya dengan tingkat pengetahuan seseorang karena semakin umur manusia semakin banyak pula pengetahuan yang didapatnya (Notoatmodjo. 2007). Umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan hingga saat penelitian dilaksanakan. B. Umur merupakan lamanya hidup dalam hitungan waktu yang dihitung sejak dilahirkan hingga saat ini dalam satuan tahun (Aziz. Pasangan harus siap mengungkapkan hal-hal terinci mengenai diri mereka. . Gambaran Variabel yang berkaitan Pengetahuan Metode Operatif Pria (MOP).1. keadaan mereka dan alas an untuk meminta sterilisasi (Glasier & Gebbie. 2005). A. 2007). Umur dengan B.

Bkkbn.net). Usahakan mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran.go. 2007). Tingkat pendidikan seseorang akan menentukan pola fikir dan wawasan mereka yang mendapatkan pelatihan. Dengan demikian umur dengan pengetahuan memberikan pengaruh yang cukup bermakna pada penggunaan alat kontrasepsi termasuk alkon pria secara umum dan vasektomi (http://www. 2003) Pendidikan memiliki peranan paling penting dalam menentukan kualitas manusia dalam hal ini pendidikan berperan untuk membuat kehidupan yang lebih baik sebab makin tinggi pendidikan seseorang semakin banyak pengetahuannya dengan seseorang yang tingkat pengetahuaanya rendah (Hurlock. pelatihan proses dan cara (http://www. . B. Keterampilan dan pendidikan akan memperoleh pengetahuan yang banyak dari pada mereka yang tanpa pelatihan atau ketermpilan (UU Pendidikan no.2. 2003) Orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi cenderung lebih banyak mendapatkan informasi dibandingkan orang yang memiliki pendidikan yang lebih rendah (Notoatmodjo. semakin banyak umur responden berpengaruh terhadap pengetahuan responden tentang vasektomi. Pendidikan Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari serta memproses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang.20.id). Pendidikan.Umur berpengaruh dengan pengetahuan.

4. Dengan mempertimbangkan tingkat pendidikan maka pengetahuan memberikan pengaruh yang cukup bermakna pada penggunaan alat kontrasepsi termasuk alkon pria secara umum dan vasektomi (http://www. Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa keputusan bersama antara suami istri dapat meningkatkan penggunaan alat kontrasepsi pria.id). kemudahan dan keterjangkauan. juga memperkecil pria untuk memilih vasektomi.go. Daerah perkotaan. 2007). B. Pekerjaan Pekerjaan merupakan suatu keaadaan atau aktivitas seseorang yang dilakukan untuk memperoleh pengasilan baik di sektor formal maupun informal. B. Pekerjaan merupakan suatu keaadaan atau aktivitas untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi hidup kebutuhan sehari-hari. sedangkan mereka yang bertempat tinggal di Jawa Bali lebih besar kemungkinan untuk mempergunakan alat kontrasepsi jenis ini terutama terkait dengan ketersediaan. Semakin tinggi pendidikan. sebaliknya pada penggunaan vasektomi ternyata tidak demikian.Faktor pendidikan memberikan dampak positif pada penggunaan alkon pria secara umum.3. Pekerjaan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan karena ibu yang memiliki pekerjaan diluar rumah lebih cepat dan mudah mendapat informasi kesehatan (BKKBN. semakin kecil peluang untuk menggunakan vasektomi. Sumber Informasi . Bkkbn.

Tidak ada atau kurangnya informasi secara langsung akan merugikan responden. 2. Komunikasi interpersonal tergantung pada charisma dan kemapuan verbal memberikan informasi dan kemahiran petugas kesehatan. Maka media masa berfungsi untuk membuaat orang tertarik sebagai sumber informasi merubah sikap dan menstimulasi perubahan prilaku serta meningkatkan pengetahuan. Merangsang fikiran dan kemampuaan (BKKBN. Para petugas juga harus memiliki kemampuan (metode) komunikasi interpersonal. Oleh sebab itu. Tenaga Kesehatan Dalam meningkatkkan pengetahuaan pria tentang akseptor KB Metode Operatif Pria (MOP) pria membutuhkan pengetahuaan dan informasi yang mendukung pria untuk mengetahui tentang akseptor KB Metode Operatif Pria (MOP) dan mempuyai peranan penting disini adalah petugas kesehatan. 2007). Beberapa peneliti menunjukkan komunikasi dua arah dalam merubah sikap dan perilaku sasaran begitu juga dengan tingkat pengetahuan.Sumber informasi adalah segala sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan informasi. Media Massa Media massa merupakan yang paling banyak memberikan informasi kepada masyarakat. 1. Media . Mengacu kepada defenisi komunikasi yaitu suatu proses secara langsung simultan diperuntukkan untuk pendidikan yang besar dan dalam skala yang sangat besar.

pendidkan.massa seperti : radio. pekerjaan dan sumber informasi yang mempengaruhi variabel dependen (terikat) yaitu pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP). Keluarga Dalam memperoleh informasi bagi pria tentang akseptor KB Metode Operatif Pria (MOP). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan dibawah ini : Bagan 3. Keluarga atau kerabat mempunyai peran yang sangat penting karena pada umumnya pria lebih percaya kepada keluarga atau kerabat sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang. poster dan media cetak lainnya. sering digunakan dalam suatu program masyarakat. Kerangka konsep dari penelitian yang berjudul “Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010”. 3. televisi. umur Pendidikan Pekerjaan Sumber informasi Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) A.1. leafet. BAB III METODE PENELITIAN Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konsep merupakan suatu konsep yang dibuat oleh peneliti untuk menyusun teori yang akan dibahas. . yaitu umur. Yang terdiri dari dua variabel independen (bebas).

B. Umur Usia pria yang • 30-35 Tahun dihitung sejak • 35-40 Tahun lahir Pendidikan Pendidikan formal yang pernah diselesaikan oleh pria Pekerjaan Suatu kegiatan formal yang dilakukan dalam kegiatan • • • • • • SD SLTP SMU/SMK Perguruan Tinggi Bekerja Tidak bekerja Variabel Alat Ukur Kuesioner Skal a Ordi nal Kuesioner Ordi nal Ordi nal Kuesioner Kuesioner Ordi nal . • Kurang 55 % yg benar dari 20 pertanyaan yg diajukan dpt dijawab responden <11 pertanyaan (Arikunto. Defenisi Operasional Defenisi Kategori Operasional Pengetahu Tingkat • Baik 76-100 % yg an pria pemahaman benar dari 20 pria tentang pertanyaan yg Metode diajukan dpt Operatif Pria dijawab responden 16-20 pertanyaan. 2007). • Cukup 56-75 % yg benar dari 20 pertanyaan yd diajukan dpt dijawab responden 11-15 pertanyaan.

D.1 Lokasi Penelitian .Sumber Informasi sehari-hari yang menyebabka n pria berinteraksi dengan orang lain yang mungkin pria memperoleh informasi atau pengetahuan. Lokasi dan Waktu Penelitian D. Sesuatu • Media cetak informasi • Media yang didapat elektronik pria untuk • Tenaga kesehatan mendapatkan • Keluarga/tema informasi n tentang • Pengalaman akseptor pribadi Keluarga Berencana (KB) Metode Operatif Pria Kuesioner Ordina l C. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer dan kuesioner sebagai alat ukur untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pria tentang Metode Operatif Pria (MOP) Kota Sibolga Tahun 2010.

(Hidayat.A. Sampel Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah adalah Seluruh jumlah pasangan yang tidak ingin punya anak di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2009 yang berjumlah 208 orang. Populasi dan Sampel E. E. Sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan purposive sampling yaitu mencari sample pada pria yang tidak ingin punya anak di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2009.1) .2007). D. Dengan rumus Notoatmodjo (2002) menggunakan formula yang lebih sederhana lagi seperti berikut: n = n = N +1 N ( dxd ) 208 +1 208 (0.Aziz Alimul.1x 0. E.2.2.Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010 Karena tempat tersebut mudah dijangkau dan belum pernah dilakukan penelitian tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Maret –Juli 2010.

F.5 = 68 Dari rumus diatas. Skor jawaban yang benar adalah : 1 Skor jawaban yang salah adalah : 0 Untuk menentukan kategori baik. yang diawali dengan perkenalan singkat. Aspek pengukuran Berdasarkan jumlah jawaban yang benar oleh responden atas kuesioner yang diberikan untuk pengetahuan secara umum dimulai dari pengetahuan pria dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pada kuesioner pertanyaan tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2009 sebanyak 20 soal.1) n = 28 0 3.n = 208 +1 208 (0. didapat jumlah sampel yaitu sebanyak 68 orang. kemudian menjelaskan cara pengisian serta menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti oleh responden (Arikunto. 2003). cukup dan kurang terlebih dahulu menentukan kriteria yang akan dijadikan patokan penilaian .0 8 n = 67. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data jenis primer yaitu dengan pemberian kuesioner kepada responden sebagai alat ukur.1x 0. G.

Pengumpulan data Jenis data yang digunakan data primer yaitu data yang langsung diperiksa atau diambil peneliti kepada responden. apabila 55 % jawaban yang benar dari 20 pertanyaan yang diajukan responden dapat menjawab <11 pertanyaan. 3. Skala pengukuran untuk pengetahuan dapat dikategorikan sebagai berikut .2. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner. Proses Editing Melakukan pengecekkan kesalahan dan kekeliruan dalam mengumpulkan data yang tidak diisi pada kuesioner yang telah terkumpul . Baik. Cukup.Menurut Arikunto. apabila 76-100 % jawaban yang benar dari 20 pertanyaan yang diajukan responden dapat menjawab 16-20 pertanyaan. diolah dengan cara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. 2. 1. H. Analisa data H. apabila 56-75 % jawaban yang benar dari 20 pertanyaan yang diajukan responden dapat menjawab 11-15 pertanyaan. Pengolahan data. Kurang. Pengumpulan data. H.1. Pengolahan data Data yang telah dikumpulkan.

pendidikan. 2. Proses Coding Pada tahap ini penulis melakukan pengelompokkan data berdasarkan kategori-kategori yang ditentukan yaitu : umur. Proses Tabulating Data yang terkumpul dianalisa data yang pengolahan data seta pengambilan kesimpulan data H. . 3. sumber informasi pekerjaan. Analisa data Analisa data dilakukan secara diskriptif yaitu analisa data yang disajikan dalam bentuk tabel-tabel dan dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori dan kepustakaan yang ada.3.dan memastikan semua data yang terkumpul sesuai dengan data yang diperlukan.

3.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010 No.9 %).9 Jumlah 68 100 Dari hasil Tabel 4.8 %) dan minoritas dengan berpengetahuan kurang sebanyak 2 responden (2.2.8 Kurang 2 2.3 %) Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Umur Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010 N Umur Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah . Tingkat Pengetahuan Frekuensi Persentase (%) Baik 7 10.1. sedangkan yang berpengetahuan baik sebanyak 7 responden (10.3 Cukup 59 86. diatas dapat diketahui bahwa mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 59 responden (86. 2.Hasil Dari hasil penelitian yang berjudul Gambaran Pengetahuan Pria tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010 didapat hasil sebagai berikut : Tabel 4. 1.

8 2.2.5 10. Pada kelompok 30-35 Tahun sebanyak 21 responden mayoritas tingkat pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (85.2 f 18 41 59 % 85.8 %) Tabel 4.9 f 21 47 68 % 100 100 100 Dari tabel 4.2 86. diatas dapat diketahui pada umur 35-40 Tahun sebanyak 47 responden mayoritas tingkat pengetahuan cukup sebanyak 41 responden (87.2 %) dan minoritas pada tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (2.3. SD Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang f % f % f % 1 20 4 80 0 0 Jumlah f 5 % 100 . 2. 1. 1.7 87.1 2.o.9 f 1 1 2 % 4.1 %). Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Pendidikan Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010 N Pendidikan o. 30-35 th 35-40th Total f 2 5 7 % 9.6 10.7 %) dan minoritas pada tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (4.

2 86.8 10.1 %).9 9 33 21 68 100 100 100 100 Dari tabel 4.8 84.4. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Pekerjaan Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010 . tingkat pengetahuan cukup sebanyak 28 responden (84.03 0 2.3.03 %) dan minoritas pendidikan pria adalah SD sebanyak 5 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 1 responden (20 %) dan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 4 responden (80 %). Tabel 4. 4. 3.8 1 1 0 2 11.1 3. diatas dapat diketahui bahwa mayoritas pendidikan pria adalah SMA/SMK sebanyak 33 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 4 responden (12.2.1 12.3 7 28 20 59 77.1 4.8 95.8 %) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (3. SMP SMA/SMK PT Total 1 4 1 7 11.

3 %). tingkat pengetahuan cukup sebanyak 41 responden (83.7 0 0 19 100 Total 7 10.3 18 94. Bekerja 1 Tingkat Pengetahuan Baik f % 6 12.1 %). diatas diketahui bahwa mayoritas pria bekerja adalah sebanyak 49 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 6 responden (12. 1. Tabel 4.3 Cukup f % 41 83.1 Jumlah f 49 % 100 100 5.4.7 Kurang F % 2 4.7 2 2.N Pekerjaan o. Bekerja Tidak 2.3 %).7 %) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 2 responden (4. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (94.9 68 Dari tabel 4.7%).5.3 59 86. Minoritas pria tidak bekerja dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 1 responden (5. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pria Berdasarkan Sumber Informasi Tentang Metode Operatif Pria (MOP) Di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010 .

1.3 0 10.1 14.3 0 2.1 9.1 %).9 90.9 88. B. Dari tabel 4.2 11.1 71.Pembahasan 4.8 %) dan minoritas dengan .5.3 Cukup F % 13 16 20 10 0 59 92. Minoritas sumber informasi responden didapat dari media cetak dan pengalaman pribadi. 3. 2. diatas diketahui bahwa mayoritas sumber informasi responden didapat dari tenaga kesehatan sebanyak 22 responden yaitu tingkat pengetahuan baik sebanyak 2 responden (9. Sumber Informasi Media Cetak Media Elektronik Tenaga 2 Kesehatan Keluarga/Teman Pengalaman 2 0 Pribadi Total 7 Tingkat Pengetahuan Baik f % 1 2 7.1 %) dan tingkat pengetahuan kurang tidak ada. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 20 responden (90.N o. 5. diketahui bahwa mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 59 responden (86.1.7 Kurang f % 0 0 0 2 0 2 0 0 0 14. Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) Dari hasil Tabel 4.1.4 0 86.9 Jumlah f 14 18 22 14 0 68 % 100 100 100 100 100 100 4.

7 %) dan minoritas pada tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (4. Menurut Suprihastuti (2000).2 %) dan minoritas pada tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (2. jika ibu termotivasi mengetahui informasi tentang Metode Operatif Pria (MOP) maka setiap pria sadar akan melakukan KB dengan MOP.2.3 %). Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) Berdasarkan Umur Dari tabel 4. diatas dapat diketahui pada umur 35-40 Tahun sebanyak 47 responden mayoritas tingkat pengetahuan cukup sebanyak 41 responden (87.berpengetahuan kurang sebanyak 2 responden (2.2. Bila dilihat dari umur pemakai alat kontrasepsi pria cenderung lebih tua dibanding . Pada kelompok 30-35 Tahun sebanyak 21 responden mayoritas tingkat pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (85.1 %). Hal ini menurut Notoatmodjo 2007.8 %).9 %). sedangkan yang berpengatahuan baik sebanyak 7 responden (10. 4. menurut temuan studi yang dilaporkan oleh IDI propinsi Jawa Timur (di 3 kabupaten) menyatakan bahwa vasektomi dapat diterima oleh semua tingkatan pendidikan dan sosial ekonomi. Demikian pula menurut Soekanto (2002) bahwa pengetahuan merupakan kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berbeda sekali dengan kepercayaan tahayul dan penerangan-penerangan yang keliru.

yang lain.8 %) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (3.03 %) dan minoritas pendidikan pria adalah SD sebanyak 5 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 1 responden (20 %) dan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 4 responden (80 %). sementara wilayah (desa) memberikan pengaruh positif mereka yang berpendidikan tinggi cenderung memilih kondom.3. menurut hasil analisis lanjut SDKI 1997 (Suprihastuti. Dengan demikian umur dengan pengetahuan memberikan pengaruh yang cukup bermakna pada penggunaan alat kontrasepsi termasuk alat kontrasepsi pria.dkk. semakin banyak umur responden berpengaruh terhadap pengetahuan responden tentang metode operatif pada pria. diatas dapat diketahui bahwa mayoritas pendidikan pria adalah SMA/SMK sebanyak 33 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 4 responden (12.1 %). Secara statistic ternyata tingkat pendidikan berpengaruh secara . Berdasarkan data diatas bahwa umur pria berpengaruh dengan pengetahuan. Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) Berdasarkan Pendidikan Dari tabel 4. Bila ditinjau dari segi pendidikan. 2000) ternyata “pendidikan” berpengaruh negatif terhadap pemakaian vasektomi.3. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 28 responden (84. Ini memberikan petunjuk bahwa kematangan pria juga ikut mempengaruhi untuk saling mengerti dalam kehidupan keluarga. 4.

Indikasi ini memberikan petunjuk bahwa kematangan pria juga ikut mempengaruhi untuk saling mengerti dalam kehidupan keluarga (Suprihastuti. dengan pendidikan manusia dapat dianggap memperoleh pengetahuan. Menurut Manuaba (1998). 2000). hidup manusia akan semakin berkualitas. Menurut temuan studi yang dilaporkan oleh IDI propinsi Jawa Timur (di 3 kabupaten) menyatakan bahwa vasektomi dapat diterima oleh semua tingkatan pendidikan pemakai alat kontrasepsi pria cenderung lebih tinggi pada pria yang mempunyai pendidikan dibanding yang tidak mempunyai pendidikan karena berpengaruh dengan tingkat pengetahuan pria tentang MOP. Dan dengan pendidikan yang tinggi . Berdasarkan data diatas terdapat kesenjangan antara teori dan kenyataan yang dihadapi. bahwa pendidikan sangat penting dalam menentukan kualitas hidup manusia dimana semakin tinggi pendidikan maka manusia akan semakin berkualitas. Implikasinya semakin tinggi pendidikan. Selain itu Hurlock (1990) berpendapat bahwa pendidikan memiliki peran yang penting dalam menetukan kualitas manusia. pendidikan seseorang dapat meningkatkan kematangan intelektualnya sehingga dapat mengambil keputusan dalam bertindak.bermakna terhadap pemakaian kontrasepsi pria terutama Metode Operatif Pria (MOP). Dan mungkin saja bila semakin tinggi pendidikan pria tentang Metode Operatif Pria (MOP) dan pria yang berpendidikan rendah kurang mengetahui tentang Metode Operatif Pria (MOP).

7 %) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 2 responden (4. Menurut Hurclock (1990). Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) Berdasarkan Sumber Informasi . pria yang bekerja semakin banyak mendapatkan informasi mengenai pelayanan kesehatan terutama metode operatif pada pria. Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) Berdasarkan Pekerjaan Dari tabel 4.5.tersebut manusia akan berusaha meningkatkan mutu dalam pelayanan kesehatan hidupnya.3 %).4. Minoritas pria tidak bekerja dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 1 responden (5.7 %). pekerjaan yang dilakukan memberikan kepuasaan kepada seseorang dan pekerjaan yang dilakukan seseorang berpengaruh terhadap yang lain. Berdasarkan data diatas bahwa adanya kesenjangan antara teori dan kenyataan karena pekerjaan mempengaruhi pengetahuan pria. 4. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (94.3 %). 4. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 41 responden (83. Pekerjaan merupakan kegiatan formula yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.4.1 %). diatas diketahui mayoritas pria bekerja adalah sebanyak 49 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 6 responden (12.

Bila dilihat dari gambaran pengetahuan pria tentang informasi KB dan KR yang diterima berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur (2001) tercermin bahwa sebanyak 67. teman dan istri. dari dokter (13 %). saudara. informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan.1 %). Mereka cukup berperan dalam menyampaikan informasi KB. Media TV merupakan sumber informasi KB yang paling dominan diketahui di kalangan responden yang berada baik di . Minoritas sumber informasi responden didapat dari media cetak dan pengalaman pribadi. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 20 responden (90.7 %). diatas diketahui mayoritas sumber informasi responden didapat dari tenaga kesehatan sebanyak 22 responden yaitu tingkat pengetahuan baik sebanyak 2 responden (9. tetangga. dari Tokoh Agama (9. Temuan kuantitatif ini didukung pula dari temuan kualitatif hasil fokus group diskusi.Dari tabel 4. bidan.1 %) dan tingkat pengetahuan kurang tidak ada.2 % menyatakan pelayanan tentang KB diterima dari petugas KB. konseling yang tersedia. Bidan memberikan peran yang cukup tinggu setelah PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) dan pesan KB melalui bidan biasanya disampaikan kepada klien terutama pada pasca persalinan. serta istri tidak dapat diabaikan. sebagian besar menyatakan yang memberikan penjelasan tentang KB bagi mereka adalah petugas KB. Aksesabilitas informasi. tetangga.5. KB dan KR baik media KIE. Peran pamong desa. tempat pelayanan yang ada masih bias gender.

Sedangkan media cetak seperti Koran. diikuti oleh media cetak seperti majalah. media massa. leatlet dan booklet. Sementara itu. pamtlet. orang dan keluarga. poster. media TV dan radio. Penjelasan responden tentang tempat memperoleh pelayanan KB pria secara berturutan adalah rumah sakit pemerintah. kemudian diikuti dengan media radio. merangsang pikiran dan pengetahuan. sumber informasi dapat diperoleh dari petugas kesehatan. bidan dan pamong desa. penting karena Tenaga kesehatan mempunyai peran yang sangat memberikan penyuluhan tenaga kesehatan dalam memberikan informasi yang benar dan bermutu. majalah dan poster member kontribusi terhadap pengetahuannya mengenai kontrasepsi pria. televisi. poster dan pamtlet. sarana. Dalam memperoleh informasi bagi pria tentang akseptor KB Metode Operatif Pria (MOP). media elektronik. Sumber informasi adalah suatu yang menjadi media bagi pria tentang Metode Operatif Pria (MOP) untuk mendapat sumber pengetahuan. Tentang sumber informasi yang paling disukai dalam kaitannya dengan penggunaan media massa merupakan sumber pengetahuan. teman. . pembentukan sikap dan prilaku ber-KB adalah melalui TV.perkotaan maupun pedesaan. Menurut Notoadmodjo. untuk kontrasepsi pria pada umumnya menyatakan bahwa sebagai sumber informasi adalah petugas KB. majalah. puskesmas dan RS swasta.

Responden mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 59 responden (86. Maka diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1.Menurut data diatas bahwa kesesuaian teori dan kenyataan yang dihadapi karena ditemukan responden sudah mendapatkan informasi metode operatif pria yang terbanyak dari tenaga kesehatan. sedangkan yang berpengetahuan baik sebanyak 7 responden (10.8 %) dan minoritas dengan berpengetahuan kurang sebanyak 2 responden (2.3 %). .9 %). Kesimpulan Dari hasil penelitian Gambaran Pengetahuan Pria Tentang Metode Operatif Pria (MOP) di Wilayah Puskesmas Sambas Kota Sibolga Tahun 2010. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.

1 %). tingkat pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (94.7 %).3 %).2.7 %) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 2 responden (4.1 %). Pada kelompok 30-35 Tahun sebanyak 21 responden mayoritas tingkat pengetahuan cukup sebanyak 18 responden (85.1 %). Mayoritas pria bekerja adalah sebanyak 49 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 6 responden (12. Minoritas pria tidak bekerja dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 1 responden (5.8 %) dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (3.2 %) dan minoritas pada tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (2.8 %). Mayoritas pendidikan pria adalah SMA/SMK sebanyak 33 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 4 responden (12. 3.3 %).7 %) dan minoritas pada tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 responden (4. 5. mayoritas sumber informasi responden didapat dari tenaga kesehatan sebanyak 22 responden yaitu tingkat pengetahuan baik sebanyak 2 responden (9. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 28 responden (84. Jumlah responden pada umur 35-40 Tahun sebanyak 47 responden mayoritas tingkat pengetahuan cukup sebanyak 41 responden (87. tingkat pengetahuan cukup sebanyak 41 responden (83.03 %) dan minoritas pendidikan pria adalah SD sebanyak 5 responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 1 responden (20 %) dan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 4 responden (80 %) 4.1 %). tingkat pengetahuan cukup sebanyak 20 .

Bagi penelitian berikutnya . dengan metode operatif pria ini 4. Saran 1. B. 3.responden (90. 2. Bagi petugas PPLKB Petugas PPLKB mensosialisasikan manfaat Metode Operatif Pria (MOP) salah satu cara mensejahterakan keluarga dibidang ekonomi yang berdampak meningkatkan kesehatan ibu dan anak.1 %) dan tingkat pengetahuan kurang tidak ada. Bagi responden Keluarga agar lebih menyadari pentingnya Keluarga Berencana . Bagi Puskesmas dan petugas kesehatan Bagi Puskesmas Pimpinan Puskesmas sebagai pengambil keputusan agar melakukan operasional khususnya Metode Operatif Pria (MOP) di puskesmas dan petugas kesehatan agar lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Minoritas sumber informasi responden didapat dari media cetak dan pengalaman pribadi.

Profil Kesehatan Kota Sibolga. Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis Data. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. dkk. 2009. Anna. 2003. Arca : Jakarta Arum. KB Dan Kontasepsi. 2005. 2004. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Hidayat. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Aziz Alimul. S. Keluarga Berencana Dan Kesehatan Reproduksi. Dyah Novianti Setya. 2007. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Hanafi. 2007 . 2009. Mitra Cendikia: Yogyakarta Dinkes. Salemba Medika: Jakarta Hurloclok . EGC :Jakarta Hartanto. Sibolga Glassier.Sebaiknya peneliti selanjutnya melakukan penelitian analisis supaya hasil penelitian lebih bermakna yang dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk propesi Kesehatan. 2003. A. fisiologi perkembangan suatu pendekatan sepanjangrentan kehidapan: Jakarta Kesehatan Reproduksi UI.

24 Maret 2009. Com. 2 Februari 2010. Com.. dkk. Com. Http://www Pria Mitra KB Yang Tertinggal.2003. Com. 26 Mei 2008. 2007. Com. Http://www Alat. Http://www Apakah Anda Mengetahui Ada Beberapa Cara KB Yang Bisa Anda Pilih?. U. Http://www SDKI 2002. Com. Jakarta. Leon. 05 November 2009. 07 Agustus 2009 Http://www Pria Mulai Sadar Ber-KB. Metode Penelitian Kesehatan. Http://www BKKBN 2006. 28 Agustus 2008. Com.Manuba. EGC :Jakarta Http://www Suprihastuti Kompas. Pedoman Klins Kontrasepsi.p Http://www Kontrasepsi Mantap Pria Vasektomi Tanpa Pisau (VTP). Brahm. Com. Rineka Cipta : Jakarta Pendit. Http://www Kontrasepsi Alternatif. Obat dan Metode Kontrasepsi. Metode Penelitian Kesehatan.EGC. Http://www Salah Persepsi Tentang Kontrasepsi. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandung dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. 2009. 2003. Com. Com. Http://www Suara Merdeka. Http://www Alat Kontrasepsi. 2009.000 Akseptor. Com. 2002-2006 . Rineka Cipta : Jakarta ___________ . Com. 2006. Com. Com. 2002. EGC. Ragam Metode Kontrasep. 2009. Jakarta Speroff. 10 Mei 2008. 2 Agustus 2009. 14 Juni 2006. Ida Bagus Gde. Notoadmodjo S. Http://www Depkes RI. 1998. Http://www Peserta KB Baru Capai 40. 2009 Http://www Undang-Undang Pendidikan. 2009.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful