Anda di halaman 1dari 7

1

PENDAHULUAN


Arti Pembangunan

Istilah Pembangunan dapat diartikan sebagai:
'Upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan-perubahan yang
mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu-hidup atau kesefahteraan
seluruh warga masyarakat untuk fangka panfang yang dilaksanakan oleh pemerintah
yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya dengan menggunakan teknologi yang
terpilih

Lebuh lanjut, Goulet (Torado, 1981) mengemukakan adanya tiga inti nilai-nilai yang
terkandung dalam pengertian pembangunan, yaitu:
1. Tercapainya swasemabada
2. Peningkatan harga-diri, dan
3. Diperolehnya kabebasan

Rumusan pengertian tentang isitlah pembangunan seperti yang dikemukakan di atas,
dapat disimpulkan bahwa setiap kegiatan pembangunan sediktinya mengandung tiga macam
pengertian yang mencakup:
1. Pembangunan adalah suatu proses kegiatan yang dilaksanakan pemerintah dengan
memperoleh dukungan/partisipasi seluruh warga masyarakat (Rahim, 1976).
2. Pembangunan adalah proses penerapan atau penggunaan teknologi yang terpilih.
3. Pembangunan adalah proses pemecahan masalah.


Arti Penting Pembangunan Pertanian

Bagi Negara-negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia) kontribusi sektor pertanian
terhadap pertumbuhan ekonomi nasional selalu menduduki posisi yang sangat vital.
Pernyataan seperti ini, didukung oleh kenyataan-kenyataan sebagai berikut:
1. Sebagian besar penduduk di Negara Dunia Ketiga masih hidup di sektor pertanian.
2. Negara-negara di Dunia Ketiga, pada umumnya masih mengahapi masalah pangan, baik
untuk masa sekarang maupun masa mendatang.
3. Dewasa ini, Negara-Negara Dunia Ketiga tidak mungkin dapat mengejar
ketertinggalannya untuk dapat bersaing dengan negara-negara maju untuk menghasilkan
produk-produk industri di pasar internasional.
4. Ketegaran sektor pertanian dalam menghadapi gejolak perrekonomian dunia dibanding
sektor-sektor lainnya (Arsyad, dkk., 1985)
5. Besarnya sumbangan sektor pertanian bagi pembangunan sektor industri, terutama di
awal pembangunan sektor industri.


Peranan Penyuluhan Pertanian Di Dalam Pembangunan Pertanian

Mosher (1966) melalui 'dalilnya tentang syarat pokokd dan Iaktor pelancar
pembangunan pertanian, mengemukakan bahwa kegiatan penyuluhan atau pendidikan
pembangunan merupakan salah satu Iaktor pelancar pembangunan pertanian. Yang dimaksud
penyuluhan atau pendidikan pembangunan disini adalah, pendidikan pembangunan untuk
petani, pendidikan bagi petugas penyuluhan pertanian, dan latihan untuk petugas teknik
pertanian.

Dipihak lain Timmer (1982) mengemukakan pentingnya kegiatan penyuluhan
pertanian di dalam proses pembangunan pertanian, baik sebagai 'jembatan antara dunia ilmu
dan pemerintah sebagai penentu kebijakan, danjuga jembatan antara dunia penelitian dengan
praktek usahatani yang dilaksanakan oleh para petani.

Sebagai jembatan antara dunia ilmu dan pemerintah, (Schramm dan Lerner, 1976)
melihat pentingnya kegiatan penyuluhan pertanian sebagai proses komunikasi pembangunan
dalam sistem pembangunan nasional, baik untuk menjembatani kesenjangan perilaku antara
sesama aparat pemerintah maupun untuk menjembatani kesenjangan perilaku antara aparat
pemerintah dengan masyarakat (petani) sebagai pelaksana utama pembangunan pertanian.

Pemahaman tentang peranan penyuluhan pertanian di dalam proses pembangunan
pertanian sudah selayaknya untuk tidak lagi dipandang sekadar sebagai '1aktor pelancar
tetapi justru sebagai 'primadona yang perlu mendapat perhatian terbesar di dalam proses
pembangunan pertanian

Di dalam pembangunan pertanian, perlu lebih mengutamakan kegiatan penyuluhan
yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat (petani) agar selalu siap dan mampu
menguasai serta menerapkan setiap alternatiI inovasi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan produktivitas usahatani dan pendapatan petani demi perbaikan kesejahteraan
keluarga dan masyrakatnya.

Meskipun demikian, pemahaman seperti itu tidak berarti bahwa penyuluhan pertanian
merupakan satu-satunya upaya yang menjamin keberhasilan pembangunan pertanian.
Penyuluhan pertanian hanyalah salah satu peubah-antara (interviening variable) di antara
peubah-peubah lain yang menentukan keberhasilan pembangunan pertanian, seperti:
tersedianya inovasi, kemudahan kredit, penyediaan sarana-produksi, pengolahan dan
pemasaran produk, serta beragam kelembagaan-sosial dan kelembagaan-ekonomi yang
diperlukan.


POKOK-POKOK PENGERTIAN
TENTANG PENYULUHAN
PERTANIAN

Pengertian tentang Penyuluhan Pertanian, memang sangat sulit dirumuskan, karena
menyangkut banyak tujuan dan kepentingan. Oleh sebab itu, setiap orang dapat memberikan
konsepnya sendiri sesuai dengan latar-belakang keilmuan dan kepentingan yang ada padanya.

Penyuluhan Pertanian Sebagai Proses Penyebarluasan Informasi

Istilah penyuluhan, pada dasarnya diturunkan dari kata 'Extenssion yang dipakai
secara meluas dibanyak kalangan (amri Jahl, 1984). Extension itu sendiri, dalam bahasa
aslinya dapat diartikan sebagai perluasan atau penyebarluasan. Dengan demikian, Penyuluhan
Pertanian dapat diartikan sebagai:

!roses penyebarluasan in1ormasi yang berkitan dengan upaya perbaikan cara-cara
bertani dan berusahatani demi tercapainya peningkatan produktivitas, pendapatan
petani, dan perbaikan kesefahteraan keluarga/masyarakat yang diupayakan melalui
kegiatan pembangunan pertanian.

Yang dimaksud proses penyebaran inIormasi di dalam penyuluhan pertanian
sebenarnya tidaklah sekedar penyampaian inIormasi, tetapi terkandung maksud yanglebih
jauh, yakni untuk: dipahami, dikaji, dianalisis, dan diterapkan/dilaksanakan oleh semua pihak
yang terkait dalam pembangunan pertanian, sampai terwujudnya tujuan-tujuan yang ingin
dicapai oleh pembangunan pertanian itu sendiri (yang berupa peningkatan produk,
pertambahan pendapatan/keuntungan usahatani, dan perbaikan kesejahteraan
keluarga/masyarakat).

Penyuluhan Pertanian Sebagai Proses Penerangan

Dalam bahasa Indonesia, istilah penyuluhan berasal dari kata dasar 'suluh yang
berarti pemberi terang di tengah kegelapan (Totok Mardikantodan Sri Sutarni, 1982). Dengan
demikian, penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai:
!roses untuk memberikan penerangan kepada masyarakat (petani) tentang segala
sesuatu yang 'belum diketahui (dengan felas)` untuk dilaksanakan/diterapkan dalam
rangka penigkatan produksi dan pendapatan/keuntungan yang ingin dicapai melalui
proses pembangunan pertanian.

Namun perlu diingat bahwa, penerangan yang dilakukan tidaklah sekedar
'memberikan penerangan, tetapi penerangan yang dilakukan selama penyuluhan pertanian
harus terus menerus dilakukan sampai betul-betul diyakini (oleh juru-penerang/penyuluh)
bahwa segala sesuatu yang diterangkan tadi benar-benar telah dipahami, dihayati, dan
dilaksanakan oleh masyarakat sasarannya.

Penyuluhan Pertanian Sebagai Proses Perubahan Perilaku

Tujuan yang sebenarnya dari penyuluhan pertanian adalah terjadinya perubahan
perilaku sasarannya. Hal ini merupakan perwujudan dari: pengtahuan, sikap, dan
keterampilan yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung dengan indera
masnusia (Margono Slamet, 1979)

Dengan demikian, penyuluhan pertanian dapat diartikan bagai:
!roses perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) di kalangan
masyarakat (petani), agar mereka tahu, mau, dan mampu melaksanakan perubahan-
perubahan dalam usahataninya demi tercapainya penigkatan produksi,
pendapatan/keuntungan dan perbaikan kesefahteraan keluarga/masyarakat yang
ingin dicapai memalui pembangunan pertanian.

Dalam hubungan ini, perlu dipahami bahwa:
a. Tahu, berarti benar-benar memahami dangan pikirannya tentang segala ilmu/teknologi
dan inIormasi (yang disampaikan oleh penyuluh) yang harus dilakukan/kerjakan.
Pengerian 'tahu, tidak hanya sekedar dapat mengemukakan atau mengucapkan tentang
apa yang dia ketahui. Akan tetapi setidak-tidaknya dapat menggunakan pengetahuannya
itu dalam praktek usahataninya. Bahkan lebih tinggi dari itu, yaitu sampai dengan tahap
menganalisis, mensintesa, dan mengevaluasi segala sesuatu yang berkaitan dengan
pengetahuan yang dimilikinya.
b. Mau, dengan sukarela dan atas kemauan sendiri untuk mencari, menerima, memahami,
menghayati dan menerapkan/melaksanakan segala inIormasi (baru) yang diperlukan
untuk peningkatan produksi, pendapatan/keuntungan, dan perbaikan kesejahteraan
keluarga/masyarakatnya.
c. Mampu, baik dalam pengertian terampil untuk melakukan semua kegiatan, maupun dapat
mengupayakan sendiri sumber-daya (input) yang diperlukan demi tercapainya
peningkatan produksi, pendapatan/keuntungan, dan perbaikan kesejahteraan
keluarga/masyarakatnya.

Penyuluhan Pertanian Sebagai Proses Pendidikan

Penyuluhan pertanian sebenarnya merupakan proses perubahan perilaku melalui
pendidikan, akni suatu perubahan perilaku yang dilatarbelakangi oleh:
a. Pengetahuan/pemahaman tentang segala sesuatu yang dinilainya lebih baik atau
bermanIaat (bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakatnya).
b. Dengan kemauan sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun juga (keluarga, kerabat,
tetangga, sahabat, ataupun penguasa)
c. Kemampuan untuk melakukan sesuatu dan menyediakan sumberdaya (input) yang
diperlukan untuk terjadinya suatu perubahan.

Karena itu, penyuluhan pertanian sering diartikan sebagai:
$uatu sistem pendidikan bagi masyarakat (petani) untuk membuat mereka tahu, mau,
dan mampu berswadaya melaksanakan upaya peningkatan produksi,
pendapatan/keuntungan, dan perbaikan kesefahteraan keluarga/masyarakatnya.

Penyuluhan sebagai proses pendidikan memiliki ciri-ciri:
1. Penyuluhan adalah sistem pendidikan non-Iormal (di luar sistem sekolah) yang:
a. Terencana/terprogram
b. Dapat dilakukan dimana saja
c. Tidak terikat waktu, baik penyalenggaraan maupun jangka waktunya
d. Disesuaikan dengan kebutuhan sasaran
e. Pendidik dapat berasal dari salah satu anggota didik
2. Penyuluhan merupakan pendidikan orang dewasa, sehingga:
a. Metoda pendidikan lebih banyak bersiIat leteral yang saling mengisi dan berbagi
pengalaman dibanding pendidikan yang siIatnya vertikal atau menggurui/ceramah
(Linderman, 1967).
b. Keberhasilannya tidak ditentukan oleh jumlah materi/inIormasi yang disampaikan,
tetapi seberapa jauh tercipta dialog antara pendidik dan peserta didik.
c. Sasaran utamanya adalah orang dewasa (baik dewasa dalam arti biologis maupun
psikologis).

Penyuluhan Pertanian Sebagai Proses Rekayasa Sosial
Penyuluhan pertanian juga merupakan proses 'rekayasa sosial, sehingga dapat
diartikan sebagai:
!roses rekayasa sosial untuk terciptanya perubahan perilaku dari anggota-
anggotanya, seperti apa yang dikehfendaki demi tercapainya peningkatan produksi,
pendapatan/keuntungan, dan perbaikan kesefahteraan keluarga/masyarakatnya.

Bertolak dari pemahaman di atas pengertian penyuluhan pertanianm, sering kali (di
dalam praktek) tidak dapat terlepas dari perlakuan-perlaukan yang besiIat pemaksaan. Hal ini
akan mengakibatkan terjadinya ketergantungan, dan seringkali juga justru tidak membuat
petani sasarannya menjadi lebih 'sejahtera. Pengertian 'rekayasa sering lebih mengacu
kepada kehendak perekayasa daripada mengacu kepada kebutuhan sasaran. Atau dengan kata
lain, masyarakat sasaran seringkali (terpaksa) dikorbankan demi keberhasilan pembangunan
dan bukannya melaksanakan pembangunan yang bertujuan memperbaiki mutu hidup
masyarakatnya.

Karena itu, di kalangan sosiolog, ada yang keberatan digunakannya istilah ' rekayasa
sosial dan lebih suka menggunakan istilah 'transIormasi sosial yang lebih manusiawi.