Anda di halaman 1dari 16

2

lMPLEMENTASl

HUKUM' INTERNASIONAL HUKUM NASIONAL

KE DALAM

DISlfSUN OLER :
DADANG SfSWANTO,

sa

Makalah disusun sebagai bahan diskusi padabagian HUKum Intemasional, tanggal 12 Oktober 2001

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DlPONEGORO
SEMARANG ~ 2UOl,

;::':??

:~}~~\~:~~~~ /_ ~.:\'-~i~~'~~ ,/ .~i>·:~\"\

n p.tahui:
'~D.

~

+r1Y t~),/~~'
131 929 443

UM INT~RNASI9N~-

\';~,_'-.-_ - _HM4:~A~m.~~AD~I~f\~m -,
--,;,'_'N.I-P;-::",-'

terbadap pelja~. ndang No 26 U Tahun 2000 tentang Pengadilan HAK ASASI MANAUSIA rnesikipun pemerintah Indonesia sampai sekarang belum meratifikasi Statute Rome 1998 tersebut. Kovenan maupun peljanjian-perjanjian internasinal lainnya yang berlakunya memerlukan Imptementasi hukum intemasronal ke dalam hukum nasional sebenarnya juga tidak semata-mata tergantung dan kemauna negara melalui proses ratifikasi.l. teori yang membahas mengenai hubungan Perbedaan pandangan dari berbagai internasional dengan hukum an tara hukwn nasional serinekall berbeda dengan praktek negara dalarn melakukan irnplementasi hukwn internasional ke dalam hukum nasional. Ketentuan hukum mtemasional tersebut bersumberkan pada hukum kebiasaan mternasionat. namun ada juga ketentuan -ketentuan dari hukum mternasional yang secara Iangsung mengikat negara tanpa melalui proses persetujuan atau ratifikasi."- I PENHAH111_. ------_. asas-asas hukum atau pnnsip-prinsip hukum yang berlaku seeara universal. Namun perlu diingat bahwa dalam praktek negara seperti di Indonesia telah melakukan adopsi ketentuan dan Statute Rome 1998 ke dalam Undang .. -. Ratifikasi ini dilakukan ratifrkasi.e.. misalnya Konvensi._ .11AN : Berlakunya hulwm internasional ke dalam hukum nasional atau yang' dikenaJ dengan istilah lmplementasi hukum internasional ke dalam hukum nasional.rian internasional.ER OADANG SrSWANTO ----_. dengan maksud agar ketentuan hukwn internasional dapat mengikat dalam suatu negara..Ol. . Protokol. PERMASALAHAN : " ••• . Proses implernentasi hukum inrernasional ke dalam hukum nasional biasanya dilakukan melalui prosedur ratifikasi melalui undang-undang nasionalnya. dapat ditiniau dari aspek teoritis maupun aspek praktek-praktek negara. II. Di sam ping itu juga praktek dad suatu negara be7het1a tlengHn negara lainnya.-._...jan-pe(ian...

PEMBAHASAN : 1.Padahal dalamhukum berlaku apabila internasional terdapat pula hukum kebiasaan intemasional dan asas-asas umum hokum. dlkemukakan bahwahakekat berlakunya hukum internasional adalah terlepas 2 .. sebab perjanjian internasional lebih dahulu adanya persetujuan dari negara. menurut pandangan objectivisme. Voluntarisme ini melihat bahwa yang dimaksud hukum intema."\tonaJ adalah semata-mata merupakan perjanjian intemasional. atau merupakan dalam hukum asas-asas. Hal inilah rnerupakan kelemahan dati pandangan voluntarisme. Bagaiamanakah berlakunya hukwn internasinal ke dalam hukwn nasional menurut praktek-praktek negara ? III. yang berlakunya tidak harus ada atau tidaknya persetujuan dan negara. Hubungan Hukum Internasional dan Hukum Nasional Membahas implementasi perjanjian intemasional ke dalam hukwn nasional.Sesuai dengan uraian tersebut maka permasalah yang diajukan dalam makalah ini adalah : I. pengakuan hukum nasional teihadap herlakunya kaidah-kaidah pandangan atau It. yang hanya melihat hukum internasional dalam bentuk perjanjian internasional saja. Bagaiamankah penulisan hubungan hukum internasional dengan hukum nasional menurut teoriinternasionalke dalam hukum nasional ? teon tentang beilakunyahukurn 2. Iebih dahulu diketahui kedudukan atau keberadaan hukum mternasional nasional. saja. maka. Berbeda dengan pandangan voiuntarisme terse but.etentuan-ketentuan hukum intemasional mengenai hake kat berlakunya hukum intemasional Secara historis ada dua yaitu pandangan dari Voluntarisme dan Objectivisme Menurut pandangan voluntarisme hakekat dan berlakunya negara hukum intemasional adalah didasarkanpada ada atau tidaknya kemauan uotuk tunduk pads hukwn inrernasional. Jadi ada atau tidaknya hukum internasional semata-mata didasarkan pada ada atau tidaknya kemauan negara untuk mengikatkan diri pada ketentuan hukum imemasional.

I Banduns.' Pandangan ini dikenal dengan pandangan monisme. . Jakarta. 3 Lihat Fnms.l(em'.tmadja.mr Hu"'. Liksdia dan na"~ie( Frans Bessie. menurut dualisme agar hukum internasional dapat berlaku dalam bukum nasional. Dalam hubungan hubungan hierakhi antara hukum inrernasional dengan hukum nasional.. hahn 553. karena telah herubah menjadi hukum nasional' Selanjutnya menurut 800ut pandang objectivisme. Penvantar Hukum tnternasmat Boe. merupakan dUB bagian dari sam sistem hukum.. maka hukum intemasional ini barus duransformastkan lebih dahulu ke dalam hukum nasional dan berubah menjadi hukum nasional. Berlakunya hukum intemasional 100dalam hukum nasional terlepas dari ada atau tidaknya kemauan negara. halm 56. Menurut pandangan dualisms.(.'iional. Tucker. Principies of International !JI"lV~ Edition. hubungan antara hukum nasionaU dengan hukum intemasional. hukum internasional yang telah ditranstbrmasikan ke dalam hukum nasional. Pandangan dua sistem sebagaimana dikemukakan oJeh kaum volumaris sebagai berikut: 'International law and national law are /WO separate. mutually independent legal order that regulate quite d~fforent matters and have quite d~fforent sources . Akibar perbedaan kedua pandangan ini. 2 Mochtar Kurmmaatmadia./ Pandangan voluntarts dalam meJihat hubungan hukum inrernasione) dengan hukum nasional tersebut.E.m /. Dan sudut pandang tersebut."tksional lli". 1967. halm 59 dan Lihat pula Mocktar Kusuma. maka menimbulkan dua sudut pandang yang berbeda tentang hubungao hukum internasiooat daD hukum nasional. GhaJia Indonesia . Desain lm. halm S3 . Maryland: Holt. Ada dan tidaknya hukum bukan didasarkan pada kemaun negara.1985.dari ada atau ttdaknya kemauan negara untu/c lund uk poria keteruuan hukum iruernasional. dikenal dengan pandangan "dualisme" Akibat dari pandangan tersebut. 1984.'. 3 . Akibat dari pandangan tersebut menimbulkan dengan hukum monisme dalam rnelihat hubungan hukum intemasional dengan hukum nasional merupakan dua perangkat dari kesatuan sistem hukum. maka dalam hubungan hierarkhi antara hukum internasiona! i Hans Ketsen. Opcit. melainkan kemauan manusia dalam usaha mempertahankan hidup dan mencapai tujuan hidup itu sendiri. Bina cinta . voluntarisme hukum yang melihat hukum imernasional dan hukum nasional merupakan hidup berdampingan dan terpisah satu sarna lainnya. Inc. maka hukum intemasional tersebut sudah tidak ada lagi. revise and edited by "\\'. Rinehert and Winston.

adalah berlawanan dengan teori morusme dengan primat intemasional. terletak sepenuhnya pada kewenangan negara untuk mengadakan petjanjian internasional (kewenagan konsntutsional). Alasan yang mendasari teorinya yaitu : (a) tidak ada satupun organisasi di atas negara -negara yang mengatur kehidupan negara-negara di dunia.ber pada hokum nasional.tidak semata-mata didasarkan pada perjanjian_ saja. kedudukan hukum nasionat adalah lebill tinggi lain sebagai dan hukum internasionat Hukum intemasional tidak hukum nasional untuk urusan luar negeri iauszeres staatrecht}. Kelemahan dari teori monisme dengan primat hukum nasional tersebut adalah tidak sesuai dengan 4 . merupakan pendelegasian wewenang yang diberikan oleh hukukm intemasional. Hal ini didasarkan pandangan bahwa hukum intemasional bersum." Kelemahan meodasar dari pandangan monisme dengan primat hulrnm nasional ini.Monisme deogan primat bukum ftasiooa' Menurut pandangan teori monisme dengan primal hukum nasional. Dalam arti kewenangan suatu negara untuk membuat perjanjian internasional. 2. sehingga kedudukan hukum nasional adalah di bawah hukum internasional. Ad. Monisme dengan primat hukum internasional Pandangan teori ini. 1. intemasional suber hukum intemasional . hakekat berlakunya hukum nasional adalah didasarkan pada suaru "pendelegasian" wewenang dari hukum internasional. menimbulkan dua teori yang berbeda yaitu (1) Monisme dengan prima: hukum nasionai dan (2) Monisme dengan primal hukum ituemaslonal: Ad.nasional tersebut. Padahal dalam kenyataannya. melainkan juga bersumber pada hukum kebiasaan internasional yang berlakunya tidak harus memerlukan persetujuan atau pengakuan negara Kelemanan teori ini sama dengan pandangan dari voluruarisme. melihat bahwa hukum nasional Menurut monisme dengan primat hukum kedudukan hukum mternasional adalah Iebih tinggi dari hukum nasional. yaitu rnasih menganggap bahwa adanya hukum intemasional tergantung pada ada atau tidaknya kemauan negara dalam pernbuatan peljanjian internasional. (b) dasar dan hukum intemasiona1 yang mengatur hubungan~hubungan inremasiona). Selanjutnya menu rut pandangan teori ini. Hukum nasional bersumberkan pada hokum nasionai.

intemasional. Di Inggris didasarkan pada berlakunya -~Mochtar 6 Kusumaatmadja. atau melihat bagaimanakah dalam ketentuan-ketentuan hukum internasional diimplementRSllum merupakan pengakuan negara ke hukum O3sio031. melainkan merupakan hak sepenuhnya dan hukum nasional di bidang ketatanegaraan. 5 . Berkaitan dengan hal tersebut di bawah ini akan diuraiakan beberapa praktek dari negara-negara • mengenai hubungan hukum intemasional dengan hukum nasional sebagai berikut: (a) Hukum loteroasional daJam Hukum Positif Inggris Inggris merupakan suatu negara yang mendasarkan aturan hukumnya pada hukum kebiasaan atau Common Law. Sedangkan sistem hukum yang dianutnya adalah sistem Eropa Kontinental. KU8pmaatmadja. Dalam kenyataannya keberadaan hukum nasional lebih dahulu dari hukum D1 samping itu hak untuk membuat peIjanjian internasional. atau disebut pula sebagai Customary Law. pada dasarnya membahas adopsi ketentuan -ketentuan hukum internasional ke daJam hukum nasional. temyata teori atau pandangan dari dualisme dan monlsme. daJam memberikan penjelasan mengenai dikarekan masing-masing teori mempunyai kelemahan. 'Membahas hukum internasional dalam Hukum Positif hukum positif negara. Hubungan.lili. bukan berasal dari pendelegasian wewenang hukum internasional. S Sesuai dengan uraian-uraian tersebut di atas. halm 58. Opc't. untuk melihat secara prakns hubungan hukum intemasional dengan hukum nasional dalam hukum 2. Jl. Berkaitan dengan hal tersebut.kenyataan. disarankan oJeh Mochtar positif negara. Dapat dikatakan terhadap berlakunya hukum internasional. 6 hubungan hukum intemasional dengan hukum nasional tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.Hukum Internasiona' dan Hukum Nasional dalam Negara. Dalam kaitannya dengan praktek rnggris terhadap pengakuan hukum internasional.

Starkc. 8 fhid halm 7f)~17 rhn Uhat !. 0fK'. halm 76. Dokrin inkorporasi ini pertamakalinya dikembangkan oleh Blackstone. sebelum kaidah hukum internasional tersebut berlaku. 6 . II Berbeda dengan berlakunya perjanjian mtemasional ke dalam hukum nasionai di lnggris. aoabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : ( 1) Ketentuan hukum kebiasaan internasional tersebut tidak bertentangan dengan perundang-undangan Inggris.Banduag Bina Akssra. maka pengadilan lainnya terikat oleh keputusan pengadilan tersebut. (2) Perjanjian internasinal yang tidak memerlukan persetujuan Parlemen.aw. dapat berlaku Ire dalam hukum nasional di Inggris setelah langsung dilakukan penandatangan oleh pemerintah Inggris tanpa melalui perundang-undangan nasional lebih dahulu. Jadi hukum internasional secara otomatis berlaku sebagai hukum negara. menurut dokrin inkorporasi adalah :9 (1) Perjaniian berlakunya internasional perjanjian yang memerlukan tersebut.Llla Mnrhtar KlI!'mmR~tmA"jR. Au Introduction to International I. Khususnya selaniutnya berlakunya dokrin terhadap berlakunya hukum keputusan pengadilan di Inggris.' inkorporasi ini mengalami perkembangan kebiasaan intemasional yang dapat bertaku seeara otamatis di Inggris. persetujuan harus Parlemen.doktrin atau ajaran yang dikenal sebagai "doktrin inkorporasi" yang dinyatakan sebagai berikut : "International law is the law 0/ the 'and".(aIih bahasa Socmitro dkk).it. maka melalui internasional lebih dahulu pembentukan undang-undang nasional. LX. halm 7R II Ibid. atau setelah setelah adanya kaidah hukwn intemasional berlaku (2) Sesekali kaidah hukumintemasional meskipun dikemudian ditetapkan oleh pengadilan munculnya tertinggi ill Inggris. hari ada kemungkinan kaidah kebiasaan internasional yang berbeda. .. yang diartikan bahwa hukum internasional merupakan bagian dari hukum negara lnggris. pada abad XVlll dan abad XIX melalui beberapa Dalam perkembangan . !984. r JG.

Dalam praktek di negara Inggris. adalah undang-undang nasionalnya. Lebih lanjut dalam menentukan pembedaan apakah suatu perjanjian aka" berlaku dengan sendirinya. dalarn arti ketentuan 16 Ibid. merupakan hukum negara tertinggi. Berlakunya hukum kebiasaan internasional. dan mendasarkan suatu negara yang menganut sistem hukum Anglo berlakunya hukum intemasional sarna dengan inggris yaitu menganut dDkrin lnkorporasl. Selanjutnya Serikat mempunyai menunjukkan berkaitan dengan berlakunya maka yang diutamakan perjanpan internasional di Amerika perbedaan dengan praktek di Inggris. Perjanjian intemasiona11ainnya yang tidak bersifat penting dan ridak mengakibatkan perubahan 10 perubahan dalam status. atau undang- undangan pelaksanaan . (2) perjanjian interaasionai tersebut mengakibatkan garis batas wilayah negara. perjanjian internasional yang memerlukan persetujuan Parlemen adalah sebagai berikut: ( 1) perjanjtan tersebut menimbulkan akibat perubahan dalam undang-undang nasional. dalam hukum nasional Amerika Serikat sarna dengan di Inggris. Namun suatu undang-undang nasional bertentangan dengan hukum kebiasaan internasional yang lama. yaitu menganut dokrin inkorporasi. Di samping itu undang-undang yang dibuat oleh Konggres diusahakan untuk tidak bertentangan dengan hukum kebiasaan internasional. Praktek di Amerika Serikat otoritas bahwa semua traktat yang dibuat atau akan dibuat berdasarkan Arnerika Serikat. 79_ 7 . (3) peljanjian internasional tersebut mempengaruhi hak-hak sipii kaula negara inggris atau memerJukan penambahan wewenang pada Raja (4) Petjanjian intemasional tersebur menambah beban keuangan secara langsung atau tidak Iangsung pada pemerintah Inggris. dapat berlangsung setelah penandatangan (b) Hukum [nternasionaf dalam Hukum Positif Negara Amerika Serikat Amerika Serikat roerupakan Saxon.

U. Menurut praktek Arnerika Serikat apabila suatu perianjian dengan konstitusi dan termasuk dalam golongan itu tidak bertentangan perjanjian selfexecuung. Di samping itu berlakunya hukum .12 nasionallebih 3. O. Dalam Konstitusi Austria the federal law" > Pasal 9 yang berbunyi sebagai berikut : "The generaly recognization rules of international law are held to component part Sesuai Konstitusi Perancis dan Austria tersebut di atas.i~at~rladja~ Opcit. diserahkan sepenuhnya pada pelaksanaan JJ kewenganan internasionai pengadilan. dengan syarat perjanjian atau kesepakatan tersebut ditaati juga olen pihak Berdasarkan konstituti Perancis tersebut. maka ketentuan dalam perjanjian internasional menjadibagian hukum Amerika Serikat. tanpa adanya perudang-undangan lebih dahulu tseif: executing). berlakunya hukum intemasional ke dalam hukum nasional tidak mempersoalkan masalah "transformasi" perjanjian intemasional ke dalam hukum nasional terlebih dahulu ke dalam undang-undang nasionalnya. Perjanjian yang tennasuk self executing dari ini akan tetap mengikat pengadilan Sebaliknya rneskipun bertentangan dengan undang-undang nasional Amerika Serikat. Berlakunya Hukum Internasional dalam Konstitusi beberapa negara Dalam Konstituti Perancis tahun 1958 pada Pasal 58 dinyatakan : "Setiap perjanjian atau kesepakatan yang diratifikasi atau disetujui sesuai dengan pengaturan.hukum internasional berlaku ke dalam hukum nasional.re Stl\rk~. lain" setelah pengumumannya akan mempunyai kekuatan lebih tinggi daripada undang-undang. h!llm WI 8 !bid_ l\'tochtai" I{usliii.ndt. dan berlaku tanpa memerlukan undang-undang pelaksanaannya. tidak mempersoalkan masalah transfonnasi hukum internasional dalam hukum nasional melalui undang-undang nasional. perundang-undang dan perjanjian internasional yang berlakunya hams melalui (non self executing). perjanjian interanasional yang tidak termasuk se?f executing (non self' executing) akan mengikat pengadilan di Amerika Serikat setelah adanya perundang-undangan dahulu. 11 12 \3 seperti di Amerika Serikat dan di lnggris. hal 59 .

Temyata dalam UUD 1945 tidak ada ketetentau yang mengatur hubungan hukum intemasional dengan hukum nasional tersebut. .internasional dalam hukum positif kedua negara tidak dibedakan antam hukwn intemasional yang bersumber pada kebiasaan internasional dan pejanjian intemasional dalam menentukan kedudukan hukum internasional ke dalam hukum uasionalnya. hanya Ketentuan UUD i945 yang berkaitan dengan hukum internasional. berlakunya hukum intemasinal ke dalam hukum nasional diatur dalarn Undang-undang No 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. 1 /. . Menurut Mochtar Kusumaatmadja Indonesia tidak: menganut teori transfonnasi dan tidak pula menganut sistem Amerika Serikat. membuat perdamaian dan petjanjian dengan negara lain. Indonesia lebih condong ke pada sistem Eropa Kontinental. Law. Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal ) 1 UUD 1945 yang berbunyi sebagai berikut: "Presiden dengan persetujuan Dewan PerwakHan Rakyat.'!lp}·nn!ionf1! ~ .London." Mochtar Kusumaatrnadja tersebut. !Q8 6.:!t~t Rebl'("ca M W:df:tcl'." Selanjutnya nasional bagaimanakah hubungan antara hukum internasional dan hukum menurut Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Artinya Indonesia langsung terikat terhadap konvensi atau peIjanjian yang telah disahkan. dalam Pasal 15 dinyatakan sebagai berikut : ( 1) Selain peIjanjian intemasional yang perlu disahkan dengan atau keputusan presiden. Pemerintah Indonesia undang-undang dapat membuat perjanjian intemasional yang berlaku setelah penandatanganan atau pertukaran 14 l." Tidak adanya pengaturan hubungan hokum internasional dengan hukum nasional dalam UUD 1945 tidak berarti indonesia tidak mengakui supremasi hukum internasional. Namun untuk beberapa hal mutiak diperLukan undang-undang pelaksanaannya. yakni antara lain apabila diperlukan perubahan dalam undang-undang Berkaitan dengan pendapat nasionaI yang langsung menyangkut hak-hak warganegara. secara umum mengatur kewenangan presiden dalam membuat perjanjian intemasional. halm 6~ IS MA("htllr KII"'~lml'll'ltnu~liil'l Om-:it h"lm fiR 9 . Swet"! and Maxell. menyatakan perang. -.' ~. tanpa terlebih dahulu membuat undang-undang pelaksanaannya (implemeeting legislation).

pembentukan kaidah hukum bam f pinjaman dan/atau hibah luar negeri.-~-----------. e. cukup pemberitahuan saja dari pemerintah pada DPR untuk diketahui. Selanjumya mengenai berlaknnya perjanjian internasional yang memerlukan ratifikasi melalui undang-undang. yang mengandung ketentuan hukum yang diakui secara tegas oleh negara-negara yang bersengketa. atau melalui cam --cam lain sebagaimana disepakati para pihak dalam perjanjian tersebut.. b. perdamaian dan keamanan negara.------------- .. masalah politik. Selanjutnya istilah perjanjian internasional yang digunakan dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Petjanjian Internasional (Vienna Convention on the Law of the 10 .-.. ------------. Perjanjian lnternasional sebagai Sumber Hukum Internasional Dalam Pasal 38 ayat (1) Statute Mahkamah Intemasional menegaskan bahwa dalam mengadili perkara-perkara yang diajukan kepadanya. ----- . ----------- dokumen perjanjian I nota diplomatik... (2) Suatu perjanjian internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak setelah memenuhi ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian tersebut. Treaty memerlukan pengesaban dan DPR... telah ditentukan jenis-jenis perjanjian yang digolongkan sebagai treaty dan agreement. sedangkan agreement tidak rnemerlukan pengesahan DPR. (2) Kebiasaan-kebiasaan internasional. (4) Keputusan pengadilan dan ajaran-ajaran sarjana-sarjana yang paling terkemuka dari berbagai negara sebagai bukti sumber tambahan bagi penetapan kaidah-kaidah hukum. Mahkamah Internasional akan menggunakan : (1) Perjanjian internasional. d. (3) Prinsip-prinsip umum hukum yang diterima oleh bangsa yang beradab.. balk yang bersifat umum maupun khusus. c. kedaulatan dan hak berdaulat negara. menurut Pasal 10 UU No 24 tahun 2000 adalah perjanjian yang berkenaan dengan : a. 4.--------------_. sebagai bukti daripada suatu kebiasaan umwn yang diterima sebagai hukum. Berdasarkan pada UU no 24 tahun 2000 tentang Perjanjian internasional tersebut. hak asasi man usia dan lingkungan hidup.. perubahan wilayah atan penetapan batas wilayah negara.

tersebut dilihat secara yuridis tidak mempunyai pembedaan. yaitu ~ treaty.. penyebutan Berbeda dengan praktek -praktek negara. Sesuai dengan definisi dalam Konvensi Wina 1969 tersebut yang melihat subjeck perjanjian adalah negara dengan negara saja. Adapun perjanjian lnternasional difenisikan sebagai berikut : are contractual engangements between subjects of international dest ined to create rights and obligations for the part ies " Berkaitan dengan definisi-defmisi di atas dalam Pasall sub l UU No 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Istilah-istilah O. 1986. lstilah-istilah tersebut accord. and melainkan mencakup subjek-subjek "Treaties hulrum intemasional lainnya yang memiliki kapasitas untuk law membut perjanjanjian. Vol I. Steven London. halm 46 Lihat Ksrrini Sekartadii. perjanjian internasional didefinisikan sebagai berikut : "An agreement between states. convenant. yang mengatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik Definisi yang digunakan dalam UU No 24 tahun 2000 tersebut lebih luas dibandingkan dengan detinisi dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional. Cannel. definisi perjanjian internasional adalah : Perjanjian internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan nama tertentu. 1~4.Treaties) adalah disebut dengan istilah "treaty" dan didefinisikan dalam Pasal 2 ayat (1) sub a sebagai berikut : Treaty means an international agreement concluded between states in written form and governed by iruernational law.'!l. governed by international Jaw as districtform manner of which is material to legal consequences of (he act . "Tesis": Implementasi Perjanjian Internasional mengenai Pelanggaran terhadap HAM dalam PemI:Hlh!\fl. pacta.l"mamng. statute. 'i.}6 Berheda dengan definisi di atas. conventions. istilah yang digunakan dalam perjanjian internasional adalah beerbeda-beda. halrn 4R 16 17 J1 . Pmeram~? KPK-UI T_lndip. protocol. declarations. menurut Herman Mosfer·7 perjanjian internasionaJ tidak terbatas pada negara saja sebagai subjek dad perjanjian internasional. rnaka menurut 0 Connel. ltuernationa! Law. wheter emboided in a Single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation. arrangement.mn Hnkum Pid!'t1U1Ttlfll)ne-'.

Menurut Hans KeIse14 asas pacta sund servanda merupakan. Perjanjian intemasional digolongkan sebagai law making treaties. Opcit. atau disebut perjanjian khusus. Adapun peIjanjian intemasinal yang digolongkan sebagai treaty contract adalah petjanjian yang hanya mengikat kedua belah pihak yang membuat perjanjian saia.mempunyai kedudukan yang sarna sebagai sumber hukum. 12 . balm !10. merupakan internasional. fhid. dikarenakan berlakunya "usas pacta sund servanda". Secara teoritis dapat dikatakan bahwa perjanjian internasional mengikat terhadap pihak pembuat perjanjian. dengan kata lain negara mau tunduk dan mengakui berlakunya perjanjian internasional. Perjanjian internasional ini. melalui tindakan ratiflkasi atau aksesi . khususnya dalam melindungi korban-korban akibat sengketa bersemjata internasional maupun nou internasional. mengandung ani bahwa peIjanjian intemasional itu menimbulkan kaidah-kaidah bagi hukum bagi masyarakat intemasional. Artinya setiap pihak pembuat perjanjian akan melaksanakan isi perjanjian tersebut dengan itikad baik. perjanjian intemasional dalam bentuk Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan T dan 11-1977 merupakan perjanjian intemasional yang digolongkan sebagai "law making treaties". untuk: turut serta dalam perjanjian intemasional. perjanjian tersebut terbuka kesempatan bagi pihak-pihak yang belum terikat pacta perjanjian. norma dasar (ground norm) sebagai landasan dasar mengapa negara-negara mau tunduk pada hukum intemasionaL Berlakunya asas pacta sund servanda ini.!}t'htllr Kusumaermadja. dimaksudkan untuk: menimbulkan kaidah-kaidah hukwn yang berlaku secara umum bagi masyarakat internasional.. ditegaskan pula dalam Pasal4 Ayat (1) UU No 24 tahun 2000 tentang Perjanjianlntemasional. tl! Pada dasamya pernjanjian internasional berdasarkan kaidah hukum yang ditimbulkan dapat dibedakan dalarn arti " law making treaties" dan treaty contract. sehingga disebut sebagai perjaniian publik. ketentuan hukum nasional yang dimaksudkan UlJ No 24 tahun 2000 untuk mengatur perjanjian IR 19 Lihat M. Di samping itu sebagai perjanjian yang bersifat publik." Sesuai dengan uraian-uraian tersebut di atas.

Pemerintah republik Indonesia berpedoman pada kepentingan nasional dan berdasarkan prinsipprinsip persamaan kedudukan. melalui undang-undang ke dalam ratifikasi. pengesahan. Sesuai dengan uraian-uraian tersebut di atas. dan memperhatikan. h. cara-cara lain sebagaimana disepakati para pihak dalam perjanjian intemasional Berdasarkan pada ketentuan tersebut di atas. Berkaitan dengan hal tersebut.. namun demikian tidak berarti begitu sala menerima hukwn intemasional. petjanjian ataupun setelah diratifikasinya dapat dilakukan setelah adanya pendatanganan perjanjian tersebut.Berlakunya perjanjian intemasional dalam praktek-praktek negara. dapat dikatakan pada prinsipnya Pemerintah indonesia meugakui eksjstcnsi hukwn intemasionaJ. baik hukum nasional maupun hukum inremasiona) yang berlaku". pertukaran dokumen perjanjianlnota diplomatik d. maka berlakunya perjanjian internasional ke daJam hokum nasional. kecuah setelah dilakukan hannonisasi antara hukum intemasional dan hukum nasionaL Namun dalam prakteknya berkaitan dengan kejahatan HAM. Selanjutnya berkaitan dengan berlakunya perjanjian intemasional hukum nasional ini. Di Indonesia berlakunya perjanjian intemasional ke dalam hukum nasional tidak diatur dalam UUD 1945. 13 . pendatanganan. saling menguntungkan. di dalam UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM telah mengadopsi kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan genocide dari Statute Rome 1998 tanpa melalui proses ratifikasi terlebih dahulu. yang mengatur berlakunya hukum internsional ke dalam hukum nasionalnya. dalam Pasal 3 UU No 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Intemasional ditegaskan sebagai berikut: Pemerintah Indonesia mengikatkan diri pada perjanjian internasional melalui cara-cara sebagai berikut : a. c. dalam Pasal 11 UUD 1945 sebatas mengatur kewenangan presiden dengan persetujuan DPR untuk membuat perjanjian dengan negara lain. maka dalam Pasal 4 ayat (2) UU No 24 tahun 2000 ditegaskan sbb "Dalam pembuatan pembuatan perjanjian internasional. didasarkan pada ketentuan dalam konstitutsinya masing-masing.

Dengan kata lain hukum nasional tunduk terhadap ketentuan hukum intemasional sebagai hukum yang bersifat koordinatif. Namun terhadap ketentuan hukwn internasional yang bersumber pada kebiasaan internasional maupun prinsip-prinsip wnum hukum dapat secara otomatis mengikat suatu negara.IV. kecuali terhadap ketentuanketentuan hukum internasional yang berlakunya tidak memerlukan ratifikasi. KESIMPULAN: Berdasarkan pada uraian-uraian terdahulu. maka dapatlah diketahui bahwa berlakunya hukum intemasional ke dalam hukum nasional dapat dikatakan bahwa tidak semua ketentuan hukum interuasional mengikat suatu negara . 14 .

Edmon Revisi edited by W Tucker.OAF'fAR BA(. Sejarah dan Sumber-Sumber Hukum Humamter Internasional. Maryland Holt Reinhert and Wiston inc 1967 JU Starke. International Law. Constraint on the Wanging of War. Sekelumit tentang Hukum Humaniter. Bandung Bina Aksara i984 Kalshoven Fritz. May 1991 Mochtar Kusumaatmadja. Pengantar Hukum Tntemasiona1 Bag TBinacipta Bandung 1984 0. dalam . ICRC second Edition. 1996 Haryomataram. UNS Press 19M4 Hans Kelsen. Course Material on Humanitarian Law. Kerjasama FH Trisakti dengan JeRe. Principle of International Law. UPH.AAN : Fournier Hennry. Connel. An Introduction To International Law. Vol I Steven London 1986 _<" .