Anda di halaman 1dari 12

1

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan bagian dari upaya untuk membantu manusia memperoleh
kehidupan yang bermakna hingga diperoleh suatu kebahagiaan hidup, baik secara
individu maupun kelompok. Sebagai proses, pendidikan memerlukan sebuah sistem
yang terprogram dan mantap, serta tujuan yang jelas agar arah yang dituju mudah
dicapai. Pendidikan adalah upaya yang disengaja. Maka pendidikan merupakan suatu
rancangan dari proses suatu kegiatan yang memiliki landasan dasar yang kokoh, dan
arah yang jelas sebagai tujuan yang hendak dicapai.
Dasar pendidikan dihasilkan dari rumusan pemikiran yang terpola dalam bentuk
pandangan hidup. Sedangkan tujuan pendidikan yang dihasilkan dari rumusan kehendak
dan cita-cita yang akan dicapai, yang menurut pertimbangan dapat memberi
kebahagiaan dan makna hidup bagi manusia. Keduanya dirumuskan atas dasar berbagai
sudut pandang. Dengan demikian, maka dasar dan tujuan pendidikan menjadi beragam,
tergantung dari latar belakang pemikiran, pengalaman serta pendekatan yang digunakan.

















2
PEMBAHASAN
TU1UAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Berbagai Kosa Kata tentang Tujuan
Di dalam bahasa Arab terdapat sejumlah istilah yang berkaitan dengan tujuan
pendidikan. Sejumlah istilah itu antara lain al-niyyat, al-ghardu, al-qashdu, al-hadp,
dan al-ghayah. Pengertian tentang berbagai istilah tersebut secara singkat dapat
dikemukakan sebagai berikut.
. Al-Niyat (Interest)
Kata al-niyat berasal dari kata nawaa, yang berarti niat atau maksud. Adapun
menurut syara`, niyat adalah memantapkan hati untuk melakukan ibadah guna
mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan maksud hanya Allah saja yang
mengetahuinya.
Pengertian tersebut memperlihatkan, bahwa niyat merupakan pekerjaan hati atau
tempatnya di hati dan yang diharapkan oleh hati mendapatkan perasaan kedekatan
spiritual dengan Allah Swt. Pekerjaan yang dilakukan oleh hati tersebut sejauh mungkin
hanya diketahui oleh Allah swt, tanpa mengharap pujian, sanjungan, dan perhatian dari
manusia. Dengan kata lain, niyat dihubungkan dengan keikhlasan.
Ada beberapa catatan tentang niyat. Pertama, niyat berarti keinginan atau
maksud untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Kedua, bahwa perbuatan yang
baik yang disyaratkan adanya niyat itu ialah perbuatan ibadah dalam arti yang luas,
termasuk di dalamnya menyelenggarakan kegiatan pendidikan. Ketiga, bahwa niat harus
didasarkan pada keikhlasan, yakni kemurnian dan ketulusan melaksanakan ibadah
hanya karena Allah SWT. Karena pendidikan juga termasuk ibadah dalam arti yang
luas, maka dalam pelaksanaannya harus disertai dengan niat yang ikhlas karena Allah
SWT semata. Keempat, bahwa membersihkan hati dari motivasi selain Allah SWT,
termasuk perbuatan yang berat atau tidak disukai oleh orang-orang yang tidak beriman.
Dengan demikian, pelaksanaan pendidikan memerlukan niyat semata-mata karena
pengabdian kepada Allah SWT. Niat yang ikhlas ini semakin dirasakan penting
ditengah situasi masih rendahnya penghargaan (secara material) kepada para pelaksana
pendidikan.

3
. Al-Ghardlu (Motivation)
Al-Ghardlu secara harIiah berarti sasaran atau tujuan. Selain itu kata Al-
Ghardlu, juga berarti target (sasaran), aim (tujuan), goal (hasil), objective (tujuan),
purpose (tujuan), object oI desire (sesuatu yang diinginkan). Al-raghib al-astahaniy
mengartikan Al-Ghardlu sebagai tujuan yang dikehendaki dengan lemparan. Kemudian
dijadikan nama bagi setiap tujuan yang dapat diprediksi ketercapaiannya. Al-Ghardlu
selanjutnya terbagi dua: ghardlu yang naqis (kurang), yaitu sesuatu yang dirasakan
hasilnya setelah adanya sesuatu yang lain, seperti al-yasar dan kekuasaan dan
sebagainya yang pada umumnya merupakan kehendak manusia. Ghardu yang tamm
(sempurna) sesuatu yang tidak dapat dibayangkan adanya sesuatu yang lain sesudah itu
seperti surga.
. Al-Qashdu (Aim)
Al-Qashdu mengandung arti to go or proceed straight away (berjalan atau jalan
lurus mencapai tujuan), walk up to (berjalan menuju), to aim (mencapai tujuan),
purpose (tujuan), to seek (mencari), dan sebagainya.
Dari berbagai pengertian kata Al-Qashdu tersebut terdapat pengertian yang
berhubungan dengan tujuan, yaitu to aim dan purpose. Dengan demikian, kata Al-
Qashdu berhubungan dengan tujuan. Dari kata Al-Qashdu berkembang menjadi kata al-
maqshud, yaitu sesuatu yang ingin dicapai.
4. Al-Hadf (Goal)
Al-HadI berarti to approach (mendekati), draw or be near (menarik atau
membuat lebih dekat), to aim (tujuan). To be exposed (agar menjadi jelas), be open
(terbuka), aim (tujuan) dan sebagainya. Baik di dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadist
kata Al-HadI tidak digunakan. Namun dalam pencatatan atau tulisan bahasa arab, kata
Al-HadI biasa digunakan, dengan arti tujuan yang merupakan terjemahan kata goal.
5. Al-Ghayah (Ultimate Goal)
Kata Al-Ghayah dapat berarti extreme limit (batas akhir), the out most (tujuan
besar), aim (tujuan), goal (tujuan), end (akhir), intent (tujuan), objective (tujuan),
purpose (tujuan) dan destination (tujuan perjalanan).
Dari kelima istilah tersebut diatas, dapat dikemukakan beberapa catatan sebagai
berikut. Pertama, bahwa kosakata yang berkaitan dengan tujuan yang demikian banyak
itu, masih belum memiliki batasan yang jelas dalam penerapannya. Kosakata tersebut
4
dapat digunakan sesuai dengan konteksnya. Kedua, bahwa diantara para ahli ada yang
menempatkan al-ghayah dengan arti sebagai tujuan akhir, al-hadI sebagai tujuan tiap
tahapan, al-qashdu sebagai tujuan sementara, al-ghardlu sebagai tujuan per bidang
kajian, al-maksud sebagai tujuan yang bersiIat keinginan yang kuat, dan al-niyat sebagai
landasan tujuan. Ketiga, berbagai kosakata tersebut bersiIat umum, yakni tidak secara
khusus untuk masalah pendidikan, melainkan dapat pula digunakan untuk berbagai
masalah lainnya, diluar masalah pendidikan, seperti ibadah, akidah, syari`ah dan
sebagainya.

B. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan ialah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah usaha kegiatan selesai.
Maka pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-
tahap dan tingkatan-tingkatan tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan
bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi merupakan suatu
keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.
Dilihat dari segi cakupan atau ruang lingkupnya, tujuan pendidikan dapat dibagi
ke dalam tujuh tahapan sebagai berikut.
. Tujuan Pendidikan Islam secara Universal.
Tujuan pendidikan yang bersiIat universal dapat dirujuk pada hasil kongres
sedunia tentang pendidikan Islam yang dirumuskan dari berbagai pendapat para pakar
pendidikan, seperti Al-Attas, Athiyah al-Abrasy, Munir Mursi, Ahmad D. Marimba,
Muhammad Fadhil al-Jamali Mukhtar Yahya, Muhammad Quthb, dan sebagainya.
Tujuan pendidikan Islam tersebut ialah :
ducation should aim at the ballanced growth of total personality of man
through the training of mans spirit, intelect the rational self, feeling and bodily sense.
ducation should therefore cater for the growth of man in all its aspects, spiritual,
intelectial, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individual and collectivelly,
and motivate all these aspects toward goodness and attainment of perfection. The
ultimate aim of education lies in the reali:ation of complete submission to Allah on the
level individual, the community and humanity at large.

3
Artinya: bahwa pendidikan harus ditujukan untuk menciptakan keseimbangan
pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal
pikiran, perasaan dan Iisik manusia. Dengan demikian pendidikan harus mengupayakan
tumbuhnya seluruh potensi manusia, baik yang bersiIat spiritual, intelektual, daya
khayal, pisik, ilmu pengetahuan, maupun bahasa, baik secara perorangan maupun
kelompok, dan mendorong tumbuhnya seluruh aspek tersebut agar mencapai kebaikan
dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan terletak pada terlaksananya pengabdian
yang penuh kepada Allah, baik pada tingkat perseorang, kelompok maupun
kemanusiaan dalam arti yang seluas-luasnya.
Tujuan pendidikan Islam yang bersiIat universal tersebut memiliki ciri-ciri
sebagai berikut.
a) Mengandung prinsip universal (syumuliyah) antara aspek akidah, ibadah,
akhlak dan muamalah; keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun dan
iqtisyadiyah) antara aspek pribadi, komunitas, dan kebudayaan; kejelasan
(tabayyun), terhadap aspek kejiwaan manusia (qalb, akal dan hawa naIsu) dan
hukum terhadap setiap masalah; kesesuaian atau tidak bertentangan antara
berbagai unsur dan cara pelaksanaannya; realisme dan dapat dilaksanakan, tidak
berlebih-lebihan, praktis, realistik, sesuai dengan Iitrah dan kondisi
sosioekonomi, sosiopolitik, dan sosiokultural yang ada; sesuai dengan
perubahan yang diinginkan, baik pada aspek ruhaniyah dan naIsaniyah, serta
perubahan kondisi psikologis, sosiologis, pengetahuan, konsep, pikiran,
kemahiran, nilai-nilai, sikap peserta didik untuk mencapai dinamisasi
kesempurnaan pendidikan; menjaga perbedaan-perbedaan individu, serta prinsip
dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi pada pelaku
pendidikan serta lingkungan di mana pendidikan itu dilaksanakan.
b) Mengandung keinginan untuk mewujudkan manusia yang sempurna (insan
kamil) yang di dalamnya memiliki wawasan kaIIah agar mampu menjalankan
tugas-tugas kehambaan, kekhaliIahan, dan pewaris Nabi.
. Tujuan Pendidikan Islam secara Nasional
Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan Islam nasional ini adalah tujuan
pendidikan Islam yang dirumuskan oleh setiap negara (Islam). Dalam kaitan ini, maka
setiap negara merumuskan tujuan pendidikannya dengan mengacu kepada tujuan
6
universal sebagaimana tersebut di atas. Tujuan pendidikan Islam secara nasional di
Indonesia, nampaknya secara eksplisit belum dirumuskan, karena Indonesia bukanlah
negara Islam. Untuk itu tujuan pendidikan Islam secara nasional dapat dirujuk kepada
tujuan pendidikan yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut.
Membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berkperibadian,
memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, sehat jasmani, dan rohani,
memiliki rasa seni, serta bertanggung jawab bagi masyarakat, bangsa dan negara.
1

Rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut, walaupun secara eksplisit tidak
menyebutkan kata-kata Islam, namun substansinya memuat ajaran Islam. Dalam
rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut mengandung nilai-nilai ajaran Islam yang
telah terobyektivasi, yakni ajaran Islam yang telah mentransIormasi ke dalam nilai-nilai
yang disepakati dalam kehidupan nasional. Rumusan tujuan pendidikan nasional
tersebut memperlihatkan tentang kuatnya pengaruh ajaran Islam ke dalam pola pikir
(mindset) bangsa Indonesia.
. Tujuan Pendidikan Islam secara Institusional
Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan Islam secara institusional adalah
tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh masing-masing lembaga pendidikan Islam,
mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak atau Raudhatul AtIal, sampai dengan Perguruan
Tinggi. Misalnya, Tujuan pendidikan Islam pada UIN SyariI Hidayatullah Jakarta,
yaitu:
(a) Melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik dan proIesional serta dapat
mempergunakan, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan dalam bidang
pengetahuan agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
(b) Mengembangkan dan menyebarluaskan studi Islam serta integrasi nilai-nilai Islam
ke dalam pengajaran ilmu pengetahuan, technologi dan seni.
4. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Program Studi (Kurikulum)
Tujuan pendidikan Islam pada tingkat program studi adalah tujuan pendidikan
yang disesuaikan dengan program studi. Sebagai contoh, misalnya tujuan pendidikan
pada program studi manajemen pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari
Banjarmasin, sebagai berikut:


7
a. Membentuk sarjana Manajemen Pendidikan Islam (MPI) berkualitas yang
mampu berperan dalam pengembangan Ilmu Manajemen Pendidikan Islam
(MPI).
b. Membentuk sarjana Muslim yang mampu menjadi tenaga ahli di bidang
administrasi dan manajerial pendidikan Islam dan memiliki kemampuan dalam
merencanakan dan memecahkan persoalan manajemen pendidikan Islam pada
umumnya.
5. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Mata Pelajaran
Tujuan pendidikan Islam pada tingkat mata pelajaran adalah tujuan pendidikan
yang didasarkan tercapainya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam
yang terdapat pada bidang studi atau mata pelajaran tertentu. Misalnya tujuan mata
pelajaran taIsir adalah agar peserta didik dapat memahami, menghayati dan
mengamalkan ayat-ayat al-Qur`an secara benar, mendalam, dan komprehensiI.
6. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Pokok Bahasan
Tujuan pendidikan Islam pada tingkat pokok bahasan adalah tujuan pendidikan
yang didasarkan pada tercapainya kecakapan (kompetensi) utama, dan kompetensi dasar
yang terdapat pada pokok bahasan tersebut. Misalnya pokok bahasan tentang tarjamah,
maka kompetensi dasarnya adalah agar para siswa memiliki kemampuan
menerjemahkan ayat-ayat al-Qur`an secara benar, sesuai kaidah-kaidah penerjemahan.
7. Tujuan Pendidikan Islam pada Tingkat Subpokok Bahasan
Tujuan pendidikan Islam tingkat subpokok bahasan yaitu tujuan pendidikan
yang didasarkan pada tercapainya kecakapan (kompetensi) yang terlihat pada indikator-
indikatornya secara terukur. Misalnya menerjemahkan kosakata yang berkaitan dengan
alat-alat tulis, kosakata yang berkaitan dengan tempat tinggal dan sebagainya.
Dengan tercapainya kecakapan (kompetensi) pada tingkat subpokok bahasan,
maka akan tercapailah kecakapan (kompetensi) pada tingkat pokok bahasan; dengan
tercapainya kecakapan pada tingkat pokok bahasan akan tercapailah kecakapan pada
tingkat mata pelajaran; dan dengan tercapainya kecakapan pada mata pelajaran akan
tercapailah kecakapan tingkat program studi atau kurikulum; dengan tercapainya
kecakapan tingkat program studi atau kurikulum, maka tercapailah kecakapan pada
tingkat institusional; dengan tercapainya kecakapan pada tingkat institusional, maka
tercapailah kecakapan pada tingkat nasional, dan dengan tercapainya kecakapan pada
8
tingkat nasional, maka tercapailah kecakapan pada tingkat universal. Semakin tinggi
tingkat kecakapan yang ingin dicapai, maka semakin banyak waktu, tenaga, sarana
prasarana, dan biaya yang dibutuhkan. Untuk itu tujuan pendidikan pada setiap
tingkatan harus saling berkaitan dan saling menunjang. Dengan demikian, tujuan
pendidikan yang sesungguhnya harus dicapai adalah tujuan pada setiap kali kegiatan
belajar mengajar yang dilakukan oleh para guru.
Selain tujuan pendidikan dari segi ruang lingkup dan cakupannya sebagaimana
tersebut di atas, terdapat pula tujuan pendidikan dilihat dari segi kepentingan
masyarakat, individu peserta didik, dan gabungan antara keedua. Penjelasan atas ketiga
model ini dapat dikemukakan sebagai berikut.
a) Tujuan pendidikan dari segi kepentingan sosial, adalah tujuan pendidikan yang
diharapkan oleh masyarakat. Termasuk pula di dalamnya tujuan pendidikan
yang diharapkan oleh agama, masyarakat, negara, ideologi, organisasi dan
sebagainya. Dalam konteks ini, maka pendidikan seringkali menjadi alat untuk
mentransIormasikan nilai-nilai yang dikehendaki oleh agama, masyarakat,
negara, ideologi dan organisasi tersebut. Berdasarkan titik tolak ini, maka tujuan
pendidikan dapat dirumuskan misalnya tersosialisasikannya nilai-nilai agama,
nilai budaya, paham ideologi, pada missi organisasi kepada masyarakat. Tujuan
pendidikan yang bertitik tolak dari segi kepentingan agama, masyarakat, negara,
ideologi dan organisasi, seringkali menjadikan peserta didik sebagai obyek atau
sasaran. Peserta didik menjadi terkesan pasiI.
Timbulnya tujuan pendidikan dari sisi eksternal ini, didasarkan pada
assumsi bahwa apa yang terdapat dalam agama, nilai-nilai budaya, paham
ideologi dan organisasi adalah nilai-nilai yang sudah terseleksi secara ketat, dan
telah terbukti keunggulan dan manIaatnya dalam kehidupan masyarakat dari
waktu ke waktu. Oleh karenanya nilai-nilai tersebut perlu dilestarikan,
dipelihara, dijaga dan disampaikan kepada setiap generasi, melalui pendidikan.
Islam sebagai agama yang mengandung nilai universal, berlaku
sepanjang zaman, dijamin pasti benar, sesuai dengan Iitrah manusia,
mengandung prinsip keseimbangan dan seterusnya dijamin dapat
menyelematkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Atas dasar ini, maka
pendidikan Islam pada umumnya, memiliki tujuan yang didasarkan pada
9
kepentingan agama, namun tujuannya untuk mensejahterakan dan
membahagiakan manusia. Intinya adalah bahwa dengan berpegang teguh pada
agama, kehidupan manusia dijamin pasti sejahtera dan bahagia di dunia dan
akhirat. Atas dasar ini, maka tidaklah mengherankan, jika penyelenggaraan
pendidikan Islam cenderung bersiIat normatiI, doktriner, kurang memberikan
peluang dan kebebasan kepada peserta didik, serta berpusat pada kreatiIitas dan
aktivitas guru. Model pendidikan dari sisi eksternal ini berhasil dalam
mewujudkan masyarakat yang tertib, aman, damai, dan harmonis, namun dari
sisi lain kurang melahirkan gagasan dan inovasi baru, mengingat pada umumnya
masyarakat bersiIat status quo, atau cenderung melestarikan nilai-nilai yang
sudah ada.
b) Tujuan pendidikan Islam dari segi kepentingan individual adalah tujuan yang
menyangkut individu, melalui proses belajar dalam rangka mempersiapkan
dirinya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
2
Dengan tujuan ini, maka
pendidikan bukanlah mentransIormasikan atau mentransmisikan nilai-nilai yang
berasal dari luar kepada diri peserta didik, melainkan lebih bersiIat menggali,
mengarahkan dan mengembangkan motivasi, minat, bakat dan potensi anak
didik agar tumbuh, berkembang dan terbina secara optimal, sehingga potensi
yang semula terpendam itu menjadi muncul kepermukaan dan menjadi aktual
atau nyata dalam realitas. Pendidikan bukan dilihat seperti mengisi air ke dalam
gelas, melainkan seperti menyalakan lampu, atau melahirkan energi. Dengan
sudut pandang ini, maka pendidikan lebih dipusatkan pada aktivitas peserta
didik (student centris).
Untuk itu desain proses belajar mengajar harus memberikan peluang dan
kebebasan yang lebih besar kepada peserta didik untuk beraktivitas, berkreasi,
berekspresi, berinovasi, dan bereksperimen untuk menemukan berbagai
kebenaran dan kebaikan. Dengan cara ini, setiap pengetahuan yang dimiliki anak
adalah merupakan hasil usahanya sendiri, dan bukan diberikan oleh guru atau
dari luar. Dengan demikian, maka sejak dari awal peserta didik sudah memiliki
kompetensi dalam menemukan, yaitu menemukan proses-proses yang bersiIat
metodologis untuk menghasilkan temuan ilmu pengetahuan. Dengan cara itu,


10
maka setiap peserta didik sudah menjadi peneliti (reseacher), penemu dan
mujtahid. Dengan kemampuannya ini, maka ia akan dapat mengembangkan
ilmunya secara terus menerus, dan akan memiliki rasa percaya diri (self
confident) yang tinggi, kreatiI, inovatiI dan seterusnya. Lulusan peserta didik
yang seperti inilah yang sesungguhnya diharapkan pada era reIormasi dan
demokratisasi seperti sekarang ini.
Timbulnya tujuan pendidikan yang berpusat pada peserta didik (internal)
tersebut didasarkan pada iIormasi dari kalangan para psikolog, bahwa
sesungguhnya pada diri setiap peserta didik sudah ada potensinya masing-
masing yang berbeda antara satu dan lainnya. Atas dasar inIormasi ini, maka
pendidikan bukanlah memasukan sesuatu dari luar ke dalam diri anak,
melainkan menumbuhkan dan mengembangkan potensi tersebut agar aktual dan
berdaya guna. Jika seorang anak memiliki potensi dan bakat melukis misalnya,
maka tugas pendidikan adalah menumbuhkan, mengasah dan membina bakat
melukis tersebut agar menjadi sebuah kenyataan yang aktual dan terlihat dalam
praktek serta bermanIaat bagi dirinya.
c) Tujuan pendidikan dari segi perpaduan (konvergensi) antara bakat dari diri anak
dengan nilai budaya yang berasal dari luar. Dengan pandangan ini, maka dari
satu sisi pendidikan memberikan ruang gerak dan kebebasan bagi peserta didik
untuk mengekspresikan bakat, minat dan potensinya yang bersiIat khas
individualistik, namun dari sisi lain pendidikan memberikan atau memasukkan
nilai-nilai atau ajaran yang bersiIat universal dan diakui oleh masyarakat ke
dalam diri anak. Dengan cara demikian, dari satu sisi setiap orang memiliki
kebeban untuk mewujudkan cita-citanya, namun dari sisi lain, ia juga harus
patuh dan tunduk terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Perpaduan
antara sisi internal dan eksternal ini sejalan dengan prinsip pendidikan sistem
among ang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro, yaitu ing ngarso sung tulado
(teacher centris), ing mandya mangun karso (teacher centris dan student
centris), dan tut wuri handayani (student centris).
Selanjutnya jika dilihat dari sudut ajaran Islam, sesungguhnya ketiga
model pendekatan tersebut bersiIat anthropo-centris atau memusat pada
11
manusia, yakni bahwa ketiga pendekatan tersebut sepenuhnya mengandalkan
usaha manusia semata-mata, dan belum melibatkan peran Allah SWT.
Islam sebagai agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha
yang dilakukan manusia tidak hanya melibatkan peran manusia semata,
melainkan juga melibatkan peran Allah SWT. Nabi Muhammad SAW
menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan bertani. Jika seorang
petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan
lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat, air dan pupuk yang
cukup, bibit yang unggul, cara menanamnya yang benar, pemeliharaan dan
perawatan tanaman yang benar dan intensiI, waktu dan masa tanam yang tepat
dan cukup. Namun walaupun berbagai usaha tersebut sudah dilakukan, tapi
belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian tersebut akan
berhasil dengan baik. Keberhasilan pertanian tersebut masih bergantung kepada
kehendak sang kholiq. Di dalam al-Qur`an, Allah SWT menyatakan: aka
terangkanlah kepada-Ku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang
menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? (QS. Al-Waqi`ah
(56):63-64)
Tanah yang subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat
digambarkan seperti bakat dan potensi peserta didik yang bersiIat internal.
Sedangkan cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan yang tepat
dan intensiI, dan pemberian pupuk yang cukup dapat digambarkan seperti usaha
dan program pendidikan yang dilakukan oleh sekolah dan guru. Sedangkan
keberhasilan pertanian menggambarkan peranan Tuhan. Dengan demikian, maka
pendidikan Islam menganut paham teo-anthropo centris, yakni memusat pada
perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha manusia. Itulah sebabnya, pada
setiap kali memulai pengajaran harus dimulai dengan memohon petunjuk Tuhan,
dan ketika selesai pengajaran harus diakhiri dengan mengucapkan al-
hamdulillahi rabbil alamin.




12
PENUTUP

Berdasarkan uraian dan analisis sebagaimana tersebut diatas, dapat disimpulkan
bahwa :
Pertama, dalam Islam tujuan pendidikan sangat penting ditetapkan dengan dasar
ikhlas semata-mata karena Allah, dan dicapai secara bertahap, mulai dari tujuan yang
paling sederhana hingga tujuan yang paling tinggi.
Kedua, dalam Islam, tujuan pendidikan diarahkan pada terbinanya seluruh bakat
dan potensi manusia sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam, sehingga dapat
melaksanakan Iungsinya sebagai khaliIah di muka bumi dalam rangka pengabdiannya
kepada Allah SWT.
Ketiga, dalam Islam keberhasilan pendidikan, bukan semata-mata ditentukan
oleh usaha guru, lembaga pendidikan atau usaha peserta didik, melainkan juga karena
petunjuk dan bantuan dari Allah SWT.