Anda di halaman 1dari 46

Ku entot istri polisi itu sampai lemas Aku sangat menyukai pergi dengan menggunakan mobil, terutama untuk

k daerah daerah yang belum pernah aku kunjungi dengan demikian aku dapat melihat banyak pemandangan alam serta juga untuk menjaga stamina tubuh. Karena dengan berkendaraan jarak jauh, pastilah dibutuhkan stamina yang tinggi dan ini aku sukai. Ada lagi hal hal kecil yang aku sukai karena dengan berkendaraan seorang diri, kadang kadang aku bisa mendapat rejeki berupa perempuan cantik yang kerap kali kutemui diperjalanan. Hal ini aku alami ketika suatu hari aku pergi ke Semarang dengan mengendarai Mercedesku, semuanya berjalan dengan lancar, aku sempat mampir dibanyak tempat untuk sekedar bersantai dan menikmati pemandangan alam. Tetapi tanpa diduga disatu jalan pintas ditengah hutan yang aku sendiri kurang mengenal, aku terjebak pohon roboh. Aku jadi kuatir, karena kota terakhir yang aku lewati sekitar 50 km dibelakangku, padahal saat itu hari sudah agak sore, dengan kesal aku keluar dari mobil dan menunggu sebentar, aku sudah hampir memutuskan untuk kembali kekota Pekalongan ketika kulihat ada sepeda motor datang menghampiriku. Aku segera melambai lambaikan tangan memintanya berhenti. Ternyata penumpangnya adalah seorang pria dan wanita, si pria seorang laki laki dengan tubuh tinggi besar berkumis melintang dan wajah yang kasar sekali, rupanya adalah seorang polisi hutan, hal ini kulihat dari seragamnya, yang membuat aku berdebar adalah perempuannya. Si perempuan benar benar menarik, badannya montok, tinggi besar, berkulit putih bersih dan wajah yang menarik sekali. Hidung mancung, mata yang bulat dan bibir penuh menampilkan sensualitas seorang wanita. Si pria dengan tersenyum senyum yang aku lihat memuakkan sekali menanyakan apa keperluanku, kukatakan apa dia bisa membantu menyingkirkan pohon yang roboh itu, kukatakan kalau aku mau bayar berapa saja asal pohon dapat disingkirkan dan aku dapat meneruskan perjalanan. Dengan wajah yang dibuat sesopan mungkin dia menyatakan bahwa dia sanggup untuk mencari orang untuk meminggirkan pohon tersebut. Mendengar itu aku langsung mengeluarkan uang 200 ribu untuk kuberikan padanya.Kukatakan bahwa itu untuk uang muka, nanti kalau pohonnya sudah minggir akan aku beri lagi. Menerima uang itu dia segera bertindak, disuruhnya perempuan cantik yang rupanya isterinya itu untuk menunggu dan dia segera pergi dengan sepeda motornya. Aku bersorak girang karena ditinggal berdua dengan perempuan secantik ini ditengah hutan sepi, tetapi aku tak berani semberono karena aku belum mengerti bagaimana perempuan ini. Ternyata Wiwid nama isteri polisi hutan itu gampang diajak bicara bahkan sedikit genit, apalagi ketika kutanya hal yang agak agak berbau porno, berkali kali dia tertawa terkikik mendengar perkataanku. Aku benar benar suka dengan perempuan ini, giginya putih dan

rata sekali, susunya besar sekali, karena kuperhatikan dari tempat dudukku, susunya yang putih itu kelihatan menonjol sekali. Suasana yang sepi membuat nafsuku jadi naik keotak, kontolku juga ngaceng tapi aku masih kuatir kalau Wiwid menolak. Akhirnya tanpa pikir panjang aku pura pura kencing dipohon dekat mobilku, aku yakin kalau dia memperhatikan aku, karena cara kencingku sengaja sedikit kuarahkan padanya. Benar saja Wiwid tertawa melihat kontolku dan dia melengos, melihat reaksinya itu aku makin berani, secara sengaja aku mendekati dia sementara kontolku yang ngaceng masih kukeluarkan dari celana. Apa punya suamimu sebesar ini Wid ? tanyaku penuh nafsu. Wiwid mendorong badanku sambil berkata Lebih besar lagi, sana Pak, nanti ada yang lihat lho ! Aku tertawa sambil memasukkan kontolku, aku menganggap kata katanya tadi itu hanya omong kosong, aku yakin dia juga suka denganku, hanya mungkin dia masih takut kalau ketahuan suaminya yang memang wajahnya galak dan licik itu. Dalam hati aku sudah memutuskan untuk malam ini bermalam dirumahnya saja, karena aku benar benar ingin menikmati tubuh Wiwid yang montok itu. Rupanya keberuntungan masih berpihak kepadaku, karena ternyata ketika Edy suami Wiwid kembali, dia belum menemukan cukup orang untuk memindahkan pohon itu, mungkin agak malam baru ada cukup banyak orang. Dengan nekad aku bertanya apakah aku bisa bermalam saja dirumahnya agar besok pagi bisa melanjutkan perjalanan Seperti yang kuduga, dengan senang hati Edy mengajak aku kerumahnya, aku menarik nafas lega, ketika aku menoleh ke Wiwid, Wiwid yang berdiri dibelakang suaminya tersenyum mendengar aku akan bermalam dirumahnya. Kukeluarkan lagi uang 200 ribu dan kuberikan pada Wiwid dengan pesan untuk belanjanya. Wiwid ragu ragu menerima, tetapi aku paksa saja. Edy sangat senang, dia terus tersenyum dan berbicara panjang lebar, tetapi tak bisa menghilangkan kesan kejam dan licik dari wajahnya. Aku sendiri sempat heran, kenapa orang secantik Wiwid bisa dikawin pria seperti Edy ini. Kuiikuti sepeda motor Edy yang bergoncengan dengan Wiwid untuk menuju rumahnya, ternyata rumah mereka agak jauh ditengah hutan jati yang menjadi tanggung jawab Edy sebagai polisi hutan. Rumahnya cukup besar tetapi masih terbuat dari bambu, dikelilingi oleh pohon jati yang besar. Meskipun terpencil, ternyata rumah itu memiliki tenaga listrik yang berasal dari diesel kecil. Menurut Edy tenaga listrik diperlukan untuk komunikasinya dengan pusat pengawasan hutan di Semarang. Aku mendapat kamar yang kecil dengan dinding dari bambu, tetapi keadaan kamar itu cukup rapi dan bersih. Ketika aku dan Edy sedang berbincang, kulihat Wiwid lewat dengan hanya memakai sarung yang menutupibuah dadanya, aku menelan ludah melihat kemulusan pundaknya serta susunya yang menyembul keluar dari balik sarung itu, aku pura pura tak memperhatikannya, karena aku kuatir kalau Edy jadi curiga kepadaku. Aku terus mengharap agar Edy mau keluar sebentar agar aku bisa mencari alasan untuk mengintai Wiwid yang sedang mandi tetapi Edy terus saja berbicara tanpa henti. Akhirnya

aku jadi bosan dan putus asa, aku memperkirakan bahwa tak mungkin aku dapat menikmati tubuh Wiwid karena suasananya yang tak memungkinkan ini. Sampai Wiwid masuk kembali setelah dari kamar mandi, aku masih terus bercakap dengan Edy. Wiwid kuperhatikan sedang mempersiapkan makan malam untuk kami. Makan malam sederhana sekali tetapi Wiwid rupanya pandai memasak dan lagi pula dia ingin menjamuku sehingga segala persediaan makanan dikeluarkan. Selesai makan aku segera minta permisi untuk tidur. Rupanya kamarku bersebelahan dengan kamar Wiwid dan Edy, karena tadi kulihat Wiwid keluar masuk kekamar sebelah begitu juga dengan Edy. Setelah kurapatkan pintu aku duduk diatas tempat tidur sambil melamun, saat itulah pandanganku tertambat pada sebuah lubang kecil didinding bambu pembatas kamarku dan kamar Edy, letaknya agak tinggi sehingga aku harus mencari kursi untuk memanjat. Setelah aku yakin bahwa pintu kamarku telah terkunci rapat, barulah aku berani mengintai kekamar sebelah, aku jadi berdebar debar, karena aku bisa melihat pemandangan dikamar sebelah dengan sangat leluasa sekali, aku dapat melihat tempat tidur mereka dan semua bagian kamar itu tanpa ada yang tersisa. Kubayangkan seandainya nanti Wiwid berganti pakaian atau apa dikamar itu, pasti aku dapat melihatnya dengan jelas. Kuperhatikan Wiwid dan Edy masih bercakap cakap diluar, kadang kadang kudengar tertawa Wiwid yang merangsang, mungkin mereka sedang bercumbu, agar mereka tak curiga kalau aku tak tidur, maka aku sengaja mematikan lampu kamarku. Tak lama kemudian kudengar pintu kamar Edy dibuka dan langkah kaki memasukinya, aku segera berjingkat menaiki kursiku dan mengintai, kulihat Wiwid didalam kamar sendirian, entah dimana Edy, tetapi tak lama kemudian Edy masuk kekamar dan menyusul Wiwid yang sudah berbaring diatas tempat tidur itu. Edy kulihat merangkul Wiwid dan berbisik bisik. Setelah itu keduanya bangkit dari berbaringnya dan sama sama membuka pakaiannya, hatiku berdebar keras. Seperti yang kuduga, mereka akan bersetubuh ! Tubuh Wiwid yang telanjang bulat betul betul membuat liurku bertetesan, mulus dan montok sekali, susunya seperti semangka dengan pentil yang kecil sekali sementara perutnya langsing dengan selangkangan yang penuh olehjembut hitam keriting. Tetapi yang paling membuat aku takjub adalah Edy ! kontol Edy benar benar hebat, panjangnya melebihi panjang kontolku ditambah lagi dengan ujungnya yang membengkak seperti jamur besar sekali. Aku membayangkan betapa leganya Wiwid merasakan tusukan kontol sebesar itu. Dasar orang desa, setelah sama sama telanjang, Wiwid langsung tidur mengangkang sambil tangannya merentangkan liang nonoknya sendiri, Edypun langsung menindih Wiwid dan menuntun kontolnya keliang nonok Wiwid. Aku melotot melihatnonok Wiwid yang merah tua menganga menanti kontol Edy, begitu kontol Edy

masuk kedalam liangnya, Wiwid langsung mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil direntangkan lebar lebar, rupanya dia juga merasa kalau kontol suaminya terlalu gede. Dengan sangat cepat Edy menggerak gerakkan pantatnya maju mundur sementara Wiwid dengan cepat pula memutar mutar pantatnya mengimbangi gerakan Edy ! Suara Wiwid yang merintih rintih membuat aku jadi makin bernafsu, kontolku rasanya tak tahan inginmencari nonok untuk kusetubuhi, tetapi sungguh sial nasibku, ditengah hutan tanpa nonok atau tempek, aku justru harus menyaksikan adegan persetubuhan yang seperti ini. Edy dengan kasar terus merojok nonok Wiwid sambil mulutnya menciumi susu Wiwid, tiba tiba saja Edy melenguh seperti kerbau yang digorok dan gerakan pantatnya mengejang ngejang. Cerita sex asoi dengan pilisi lainya bisa anda baca di ceritasexngentot.com Aku yakin kalau Edy sudah memuntahkan air maninya. Setelah berdiam diri beberapa saat, Edy langsung menggulingkan dirinya kesamping sehingga kontolnya yang sekarang sudah mengkerut itu tampak menjijikkan karena penuh dengan lendir air maninya. Kuperhatikan wajah Wiwid ternyata tak sedikitpun terlihat kepuasan diwajah itu, justru yang terlihat adalah rasa kecewa, rupanya Wiwid belum berhasil mencapai kepuasannya sementara Edy sudah loyo. Wiwid berbaring terlentang dengan kakinya terkuak lebar menampakkan nonoknya yang berkilau karena lendir dari kontol Edy, tangannya diam diam menggosok gosok susunya. Edy sendiri, tampaknya tak perduli dengan isterinya, ia menarik selimut dan langsung tidur dengan membelakangi Wiwid. Dengan keberanian yang sedikit takut, aku beranikan mengkode Wiwid lewat atas kamar, akhirnya wiwid tahu kalo aku juga menginginkan bersetubuh dengannya. Tanpa pikir panjang Wiwid keluar dan berpindah ke kamarku. Entah karena apa Suaminay udah terdur pulas. Akhirnya dengan leluasa wiwid bisa bercumbu dengan kontolku yang sudah kangen sentuhan nonok desa ini. Keberuntunagn ketiga kalinay buat ku, Aku langsung saja melakukan foreplay ala kota yang tak pernah Wiwid dapatkan dari suaminya, mulai kuusap rambutnya, dan sampai akhiranya kujit memknya yang udah basah karena lendir suaminya. Sampai akhirnya Wiwid memaksaku memasukkan kontolku yang sudah ngaceng ini ke vagina nya, entah mungkin sudah gak tahan ingin merasakan kejantanan kontol kota. Sampai akhirnya kami klimaks dan wiwid sangat puas. Diam diam wiwid ingin mengulang percintaan ini suatu saat nanti, dia minta pin bbku dan telponya agar mudah suatu saat nanti kita janjian untuk ngentot lagi.

Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan

menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu. Bagus ya topiknya tadi kata saya membuka pembicaraan. Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya Nama saya Arthur kata saya sambil memberikan kartu namaku Oh iya, saya Dewi katanya sambil mengeluarkan kartu namanya. Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja Kamu sendiri saja ke seminar ini? tanya saya. Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese. Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu. Halo, saya Arthur Saya Henry kata si pria. Saya Carol kata si wanita. Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur. Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore. Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel tanya Henry.

Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam. Kamis Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock CafA? lalu makan malam ke Warung Made. Jumat Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm. Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian. Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.

Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi. Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya Shit, kunci kartu gue mana ya? Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club kata saya. Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis ujar Dewi. Telepon dari kamar saya saja saya menawarkan. Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut Lumayanlah, kecil-kecilan kata saya sekenanya. Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut. Enak ya mendengar suara ombak kata Dewi. Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku. Ummhh Arthur, you are so sexy kata Dewi. Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal.

Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas tongkolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur. Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69. Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam tongkolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari tongkol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya. Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan tongkolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan tongkol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas tongkol Rudi. Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum tongkol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap tongkolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya seks ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali tongkolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali tongkol saya keluar masuk vagina Dewi. Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama tongkolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan tongkolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami

Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan. Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi. Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas tongkol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap tongkolnya. Setelah puas menghisap tongkol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata Satisfy me, bitch, suck my dick Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan tongkolku. Dewi menyambut tongkolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan tongkolnya dalam vagina Dewi dengan keras, tongkol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja. Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun. Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhiRudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas. Tiba-tiba telepon berbunyi.. Halo, ini Henri, sudah tidur kalian? tanya Henri. Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini jawab saya. Wah, habis seks ya? tanya Henri dengan semangat. Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol tanya

saya menduga-duga. Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh kata Henri. Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH. Wah, kalian abis pesta pora nih kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri. Kamu juga nih abis pesta dengan Carol kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada tongkolku yang sudah berdiri. Mana Dewi? tanya Henri. Di kamar mandi jawabku. Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening. Kelihatannya mereka sudah mulai kata saya kepada Carol. Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya. Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat. Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan tongkolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak hentihentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.

Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali tongkol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyutdenyut di ujung kepala tongkolku. Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan tongkolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan. Sabtu Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit. Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas. Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.

Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir tanya saya. Saya capek banget, pengen bubble bath kata Carol. Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat kata Dewi. Kita bertiga berendam aja yuk saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol. Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub. tongkol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua. Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok tongkolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi. Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas tongkolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok tongkolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya. Balik dong badannya kata Dewi. Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap tongkolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan tongkolku ke vaginanya.

Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok tongkolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita kata Carol. Just go with the flow, jangan dilawan kata Dewi. Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas tongkolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub. Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesahdesah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari tongkol dan remasan dari Dewi. Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali tongkolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya. Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin

bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi. Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.

Servise sex duru olahragaku Aku adalah seorang isteri dari seorang karyawan swasta. Aku punya anak dua. Yang kedua kelas satu. Aku sering nungguin anakku yang kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga. Guru olah raga anakku bernama Pak Jono. Ia suka sekali bercanda dan berhumor. Tubuhnya tinggi, kurang lebih 175 cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja bercerai dengan isteri 4 bulan yang lalu. Jadi ia seorang duda. Selain ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet olehnya. Ketika olah raga seperti biasanya ia memakai celana training. Sambil menunggu anakku aku memperhatikan ia yang sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aku memperhatikan diantara selangkangannya aku lihat tonjolan yang memanjang dan besar. Aku berkata dalam hatiku, wuh panjang dan besar sekali barangnya. Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra. Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas! kubilangi suamiku. Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malammalam? Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya. Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Jono. Pak, mau enggak mijetin suami saya? tanyaku. Tapi kalo bisa malam hari, Pak. Boleh juga asalkan ongkosnya mahal, katanya sambil bercanda. Setelah suamiku pulang kantor sambil makan malam aku ceritakan padanya bahwa Pak Jono mau. Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00, kata suamiku.

Sampai waktu yang ditentukan Pak Jono datang ke rumahku. Ia ngobrol dengan suamiku sambil bercanda sehingga baru saja kenal suamiku merasa akrab dengannya. Aku duduk di dekat suamiku menemaninya. Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan dekat ruang tamu. Mulailah suamiku dipijet oleh Pak Jono sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pak Jono banyak ngebanyol karena memang ia hobi bercanda. Aku nonton TV sambil tiduran di sofa ruang tamu ngedengerin obrolan Pak Jono dan suamiku. Suamiku mulai bercerita agak serius dengan suara pelan-pelan. Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Jono bagaimana dengan isteri Anda? Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai. Wah, hebat kamu ini, Pak. Pak Jono yang biasanya suka bercanda mulai berbicara serius. Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa, katanya pada suamiku. Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong, kata suamiku. Ada yang bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi, kata Pak Jono berusaha meyakinkan. Pak Jono pernah nyoba enggak? tanya suamiku selanjutnya. Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya 4,5 inch, jawab Pak Jono sambil tertawa. Kalau punya bapak berapa? Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch. Mendengar obrolan suamiku dan Pak Jono aku berkata dalam hatiku.

Wuh besar dan panjang sekali punya Pak Jono, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun. Aku jadi berkhayal, kalau seandainya. Wah, nikmat sekali Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku. Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Jono? tanyaku setelah Pak Jono pulang. Wah bagus sekali, lebih bagus daripada langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak Jono saja. Saya sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu. Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali, kata suamiku Aku mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan. Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain. Keesokan harinya saya ketemu Pak Jono. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku. Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dengan pijetan saya? tanya Pak Jono padaku. Cocok sekali Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan. Ya.. Bapak sudah bilang sama saya. Setelah suamiku menawarkan untuk diurut oleh Pak Jono, hatiku tidak karuan, membayangkan bermacam-macam, bercampur takut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aku jarang menemukan kepuasan dengan suami. Selain punya suamiku lemes, barang kecil dan pendek dan tidak tahan lama. Hampir-hampir setiap malam aku membayangkan penis punya Pak Jono. Aku berkata dalam hati, barang Pak Jono pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yang agak hitam itu kuat, mana badannya tinggi, besar dan kekar. Pokoknya sangat jantan. Kayak apa kalau badan yang besar itu menindiku dan memelukku keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya 155 cm. Apa kuat aku ditindih badan raksasa itu. Apa bisa masuk barang sebesar itu ke lobangku yang kecil ini. Apa tidak

mentok kesakitan bila barang yang keras dan panjang ditekan ke lobangku dengan tenaga yang raksasa. Pokoknya aku membayangkan antara takut dan ingin merasakan. Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun. Malam ini malam minggu, Pak Jono akan datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian Pak Jono datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa aku mau juga dipijet malam ini, dan suamiku minta tidak bercerita macam-macam ke orang lain. Pak Jono menjawab, Ya, tidak dong, Pak. Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam 23.00 suamiku selesai diurut. Sekarang giliran aku yang akan diurut. Aku pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sambil nonton TV. Aku mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug. Pak Jono mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang betisku sambil mengurut pelan-pelan, aku merinding merasakan urutan Pak Jono, karena sebelumnya aku membayangkan sesuatu yang nikmat. Kini Pak Jono membisu seribu bahasa tidak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati pandangan terhadap betisku yang mulus. Maklum ia menduda 4 bulan. Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak Jono meletakkan kakiku ke pahanya. Sambil mengurut ia maju sedikit-sedikit sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa kakiku menyentuh benjolan yang mulai mengeras. Dengan suara pelan dan terpatah-patah Pak Jono bertanya. Paha ibu mau diurut? Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak, aku pun menjawab dengan suara pelan. Pak Jono mulai menyingkap pelan-pelan sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak Jono mengurut pahaku sampai ke selangkanganku, aku merintih dengan suara pelan-pelan takut kedengaran suamiku. Pak Jono pun terasa meningkat rangsangannya terasa dari sentuhan tangannya yang kadang-kadang mengurut sambil mengelus dan meremas pahaku apalagi ketika sampai di selangkanganku.

Semakin timbul sensasi yang luar biasa ketika Pak Jono membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sambil meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aku merintih dengan suara pelan. Dan Pak Jono tahu kalau merangsang, aku juga tahu kalau Pak jono juga merangsang. Aku berkata dalam hatiku: sebelum aku diurut dalam posisi terlentang, aku akan pamit sama Pak Jono untuk buang air kecil sambil aku ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau belum. Ketika Pak Jono menyuruhku terlentang, aku berkata kepadanya: Aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil. Ketika keluar kamar aku lihat suamiku tertidur pulas mungkin karena lelah seharian dan habis diurut. Di kamar mandi aku berkata dalam hati. Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi terlentang, pasti Pak Jono akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin merangsang. Aku menginginkannya meraba vaginaku dan memasukkan jarinya ke lobang vaginaku. Setelah masuk ke kamar, aku bilang bahwa suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataku Pak Jono semakin bersemangat. Kini aku terlentang di hadapan Pak Jono. Dan Pak Jono tidak was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aku memenjamkan mata sambil menggigit bibirku. Kini Pak Jono tidak memijat lagi tetapi ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaku dengan gemesnya. Kini ia melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir vaginaku, dan semakin tidak tahan rasanya aku ingin memegang barangnya Pak Jono sambil penasaran tapi malu. Pak Jono semakin berani menusukkan jarinya ke lobang vaginaku yang sudah membasah dengan ledir. Aku mulai memberanikan diri meraba selangkangan Pak Jono. Dan Pak Jono membuka resleting celananya. Sambil aku melirik ke selangkangannya, Pak Jono mengeluarkan rudalnya. Aku terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman, nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi dari batangnya. Aku menggenggamnya tapi genggamanku tidak muat saking besar.

Sambil mengelus-elusnya, aku bayangkan kalau rudal yang kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku. Apakah tidak robek lobang vaginaku dan jebol lobang rahimku. Sensasiku semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan takut robek dan jebol. Pak Jono kini semakin ganas mengocok lobang vaginaku dengan jarinya, dan aku sangat ingin ditindihi dan disetubuhi tapi takut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku. Sambil mengocok Pak Jono menciumi pipiku. Pelan-pelan ia lalu mengecup bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aku pun terangsang berat. Kemudian ia memelukku dan menindihku sambil berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan rudalnya, tapi tidak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi. Aduh jeritku sambil menggigit bibirku tidak tahan. Tekanan kedua kalinya ini tidak berhasil memasukkan rudalnya ke lobang vaginaku. Kemudian ia menekan lagi dengan tenaga yang super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku mengegok. Pak Jono dan aku pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku ke seluruh tubuh. Dan aku mengakhiri pijetan. Kemudian aku membangunkan suamiku. Pak Jono pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aku mengajak suami masuk kamar, aku sudah tidak tahan. Barang suami juga mengeras tidak seperti biasanya. Kini aku menyalurkan rangsanganku dengan suami sambil membayangkan disetubuhi Pak Jono. Malam itu aku benar-benar merasakan puncak orgasme yang luar biasa tidak seperti biasanya, juga suamiku. Ma Malam ini tidak seperti biasanya. Urutan Pak Jono memang luar biasa membuat kita benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma kata suamiku. Hari-hari aku hidup dalam bayangan: Kalau malam minggu depan suamiku tidak ada di rumah, aku akan menyiapkan minyak pelumas agar dioleskan ke lobang vaginaku. Aku membayangkan barang Pak Jono yang besar dimasukkan sambil melelukku, menyepokiku dan menggenjotku. Membayangkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar dimasukkan. Sambil rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang rahimku jebol. Kini malam minggu datang, hatiku berdebar-debar membayangkan sesuatu yang besar dan panjang, membayangkan lobang vaginaku membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang besar. Pak Jono datang memakan pakaian yang serasi nampak sangat

gagah dan manis. Ketika suami ngobrol dengan Pak Jono telpon berdering. Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Ya nanti setelah dipijet, jawab suamiku. Malam ini aku semakin yakin bahwa aku akan disetubuhi dengan Pak Jono. Ma saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota, kata suamiku padaku. Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas. Tidak apa-apa pijet saja, Pak Jono orangnya baik, aku sudah percaya kok. Mendengar pernyataan suamiku, hatiku girang karena sebentar lagi pasti aku disetubuhi oleh Pak Jono yang berhari-hari aku membayangkannya. Setelah suamiku selesai diurut ia mandi. Dan Aku bilang pada Pak Jono, Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu kopinya. Aku mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota. Setelah suamiku menyiapkan semua yang akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak Jono. Aku mengantarkan sampai pintu gerbang. Begitu Bapak berangkat hujan turun rintik-ritik. Aku masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak Jono, Tunggu dulu ya pak, aku pakaian dulu. Aku memakai sarung dan kaos dan sengaja aku tidak memakai BH dan celana dalam. Begitu aku keluar, sorotan mata Pak Jono menatap payudaraku, aku tersenyum. Aku duduk di kursi sebentar. Aku bayangkan bahwa Pak jono duda selama 4 bulan, berarti ia tidak berhubungan selama 4 bulan. Aku yakin ia tidak jajan sembarangan. Aku begitu yakin malam ini aku akan digenjot berkali-kali dan berjam-jam. Memang aku ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya. Sekarang aku memilih kamar untuk urut di bagian belakang, agar jeritanku yang keras nanti tidak terdengar oleh siapapun. Aku mengajak Pak Jono ke kamar belakang, dan hujan turun cukup deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tidak akan terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yang mengganas, dan bunyi lobang vaginaku yang digenjot oleh kepala rudal besar dan tenaga yang super keras.

Kini aku beduaan yang sama mengharapkan kepuasan seksual dengan sepuas-puasnya. Pak Jono membuka kain sarungku dan tinggal kaos yang menutupi payudaraku. Ia meremas-remas pahaku. Aku mengelinjang-gelinjang. Kemudian Pak Jono membuka celananya. Rudalnya tegang, membesar dan memanjang. Uratnya mengeras dan kepala rudalnya membesar sekali. Ia menciumi pahaku terus ke bibir vaginaku. Aku sudah tidak tahan karena mulai tadi sudah merangsang karena membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan. Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00. Ia meremas-remas tetekku sambil mengocokkan jarinya ke lobang vaginaku. Pak, masukkan aku sudah tidak tahan. Aku juga tidak tahan, aku sudah 4 bulan tidak pernah berhubungan badan, aku ingin malam ini benar-benar puas, mungkin aku main sampai pagi, timpal Pak Jono. Aku juga pak Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Jono. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit. Aku siapkan parfum dan minyak pelumas yang harum. Bu lobang Ibu kecil sekali, katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dengan ludahnya. Kini Pak Jono mengangkangkan pahaku lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia arahkan rudal besar dan panjang itu lobang vaginaku. Ia menekan, tapi tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tidak juga berhasil masuk, aku menjerit kesakitan. Pertama rasanya agak sakit, karena lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tidak ngimbang, katanya merayuku. Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku dengan minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dengan ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras sekali. Ia menekannya dengan tenaga yang super keras, akhir masuklah kepala rudal besar itu, dan aku pun menjerit kesakitan.

Ia terdiam, menahan sejenak, sambil menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaku. Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku mengangguk. Tahan ya, Bu, aku akan tekan lagi agar masuk semua, bisiknya lagi. Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan. Aduh.. sakit, Pak, Jeritku tertahan sambil menggigit bibir. Akhirnya barang itu trot bleees masuk semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih dari rasa sakit ke rasa nikmat yang luar biasa. Pak .. rasanya nikmat sekali. Semakin ganaslah Pak Jono menggenjotnya. Nyaring sekali bunyi lobang vaginaku akibat genjotan yang luar biasa. Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aku menggigil, meraung-raung kenikmatan. Aah uuuh uuh aku aku mau mencapai puncak, Pak Pak Jono menekan keras-keras. Aku pun mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Pak Jono sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai orgasme. Aku sudah lemas, tapi karena Pak Jono meremas-remas kembali tetekku dan menjelati vaginaku, aku mulai merangsang lagi. Pak Jono menyuruhku nungging. Ia menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari belakang, bunyinya semakin keras, ceprok ceprok.. ceprok sambil ia mengelus-ngelus lobang anusku. Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku. Aduh Pak! jeritku. Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat. Enak.. Pak Nikmat Pak.

Akhirnya Pak Jono menambahi minyak pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari vaginaku, ia oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku. Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak. Kemudian menusukkan tepat ke lobang anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret prot ia tekan pelan-pelan hingga separuh penis itu. Ia mendorongku agar aku tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus. Sampai terasa ada cairan muncrat dari dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aku merasakan nikmat sambil menahan genjotan. Prot prot druuuuut. Semakin ganas ia menggenjot sampai aku terkentut-kentut dibuatnya. Akhirnya Pak Jono mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku. Malam itu aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku disetubuhi oleh Pak Jono sampai 4 kali hingga pagi. Pak Jono guru olah raga yang humoris. Setelah kejadian yang pertama itu aku masih sering ke sekolahan tapi aku sering menghindar untuk ketemu Pak Jono karena malu dengan kejadian yang kualami itu, kecuali banyak teman-teman. Pada suatu ketika aku duduk berjauhan dari tempat olah raga, tapi aku melihat Pak Jono memperhatikan aku dari kejauhan, dan waktu itu kebetulan sepi tidak ada ibu-ibu yang lain. Pak Jono memandangi aku, aduh .. aku rasanya malu, kemudian ia duduk di sebelahku dan bertanya. Bagaimana, Bu Masih terasa sakit dan nyelunya. Maafin aku ya, Bu.. Enggak kok udah enggak Memang sehabis berhubungan badan dengan Pak Jono itu terasa lobang vaginaku terganjal oleh sesuatu sampai dua hari, jawabku sambil tersenyum malu. Pernah suatu malam aku diajak nonton film BF oleh suami, aku pura-pura menolaknya, tapi suamiku memaksa dengan merayuku. Bagus kok filmnya dan agar kita nanti lebih hangat lagi. Kebetulan film itu antara orang hitam dan wanita Jepang. Ketika melihat kemaluan orang hitam aku terbayang barang Pak Jono.

Pa.. besar dan panjang sekali anunya sampai perempuannya menggeliat-geliat, menggigit bibir, dan ngerinti-rintih, sakit kali ya, Pa .. bisikku pada suamiku. Tidak justeru itu ia merasakan puncak kenikmatan. Kalau punya Papa seperti itu asyik ya, Ma .. bisik suamiku. Ah, mana mungkin. Papa kan orangnya kecil dan pendek, sedangkan dia tinggi besar. Suamiku berbisik lagi sambil meraba barangku: Mungkin punya Pak Jono seperti itu ya, Ma.. Enggak tahu ya, Pa.. Kok Papa bilang begitu? jawabku dengan perasaan terangsang. Ya soalnya dia pernah cerita pada saya. Apa ceritanya, Pa ..? Dia kalau berhubungan badan dengan isterinya, sebelum ia cerai, isterinya sampai sambat-sambat. Padahal isterinya juga tinggi besar, bagaimana kalau isterinya kecil seperti kamu? Papa kok isterinya Pak Jono dibandingin ke Mama.. sambil kuremas barangnya dengan gemes. Orang hitam itu kuat dan ganas mainnya, lihat tu Ma.. Papa aku jadi merangsang suamiku. Kemudian filmnya dihentikan kami main dengan sangat hot sekali, tapi tidak se-hot waktu main dengan Pak Jono. Besok harinya aku semakin ingin dipijet lagi oleh Pak jono. Aku terbayang terus, setelah nonton adegan orang hitam dengan perempuan Jepang di film itu. Malam minggu kurang tiga hari. Pikiranku membayangkan apa yang akan terjadi pada malam minggu nanti setelah aku dipijet oleh Pak Jono. Aku masih terbayang ketika barang Pak Jono yang besar, panjang dan keras itu mulai memasuki pintu kemaluanku. Aku rasanya mau menjerit karena bercampur antara sangat nyilu dan nikmat dan hangat. Aku masih terbayang waktu ia mengecup bibirku dengan

gemes sambil mengayunkan barangnya ke lobang kenikmatanku dengan diiringi bunyi ceplak.. ceplok.. srook Belum hilang dari bayanganku barang yang kepala lebih dari batang bagian tengah dan pangkalnya itu ketika dicabut dari lobang vaginaku berbunyi trooot.. ceplok Apalagi waktu barangnya dimasukkan lobang anusku yang awalnya terasa sakit lalu dengan pandainya permainan Pak Jono rasa sakit itu rasa nikmat yang sulit kubayangkan. Kini tibalah malam minggu, malam yang kunanti-nantikan. Suamiku, sebagaimana biasanya, mempersilakan Pak Jono masuk. Sebelum memulai memijet, Pak Jono ngobrol dulu dengan suamiku. Sementara itu aku membuatkan kopi untuk mereka berdua. Tak lama kemudian suamiku mulai diurut. Sedang enak-enaknya diurut, tiba-tiba ada telpon dari Bosnya. Aku pun memanggil suamiku. Setelah berbicara di telepon beberapa lama dengan bosnya, ia berkata padaku bahwa ia diajak ke luar kota untuk urusan bisnis. Lalu ia memberiku uang agar diberikan ke Pak Jono nanti setelah aku selesai diurut. Dalam hati sebetulnya aku merasa sangat terangsang. Pikiranku membayangkan bahwa aku dan Pak Jono sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang kenikmatannya sulit aku bayangkan. Setelah selesai diurut, suamiku mandi, sementara aku mempersiapkan pakaian untuknya. Aku mengantarkan suamiku sampai di pintu melepas keberangkatannya. Setelah itu aku menutup dan mengunci pintu. Sebentar ya Pak, teruskan dulu minum kopinya, aku mau ganti baju, kataku pada Pak Jono. Aku memakai sarung dan kaos yang tipis, tanpa memakai CD dan BH, karena aku membayangkan sebentar lagi aku akan melakukan hubungan badan yang luar biasa. Gaya apa saja malam ini yang akan dilakukan oleh Pak Jono terhadapku? tanyaku dalam hati sambil berganti pakaian. Kusemprotkan parfum yang istimewa ke tubuhku. Aku keluar dari kamar utamaku kemudian duduk dulu di ruang tamu bersama Pak Jono. Pak Jono tersenyum. Aku pun membalas senyumannya dengan memberi isyarat yang ia pahami maksudnya.

Kemudian Pak Jono mengajakku ke kamar tempat urut biasanya. Sepertinya Pak Jono sudah tidak sabar lagi. Aku mulai tengkurep. Pak Jono tidak mengurutku seperti biasanya karena nafsunya yang sudah sangat menggelora. Ia menyingkap sarungku sampai ke panggulku. Ia mengelus-elus pahaku dan meremasremas pinggulku. Ia ciumi pahaku dan pinggulku. Aku kini sudah tak berdaya karena lama aku menyimpan nafsu birahi. Pak .. malam ini aku ingin benar-benar puas, seperti puasnya perempuan Jepang yang digauli oleh orang hitam di dalam film BF, rintihku. Pak Jono dengan nafsu yang menyala-nyala dan ganas bertanya kepadaku. Ibu nonton film BF? Bagaimana ceritanya? Laki-lakinya seperti Pak Jono, barangnya sangat besar dan panjang. Ia dengan ganasnya mengocok perempuan Jepang sampai berkali-kali. Ia merintih-rintih, lalu ia tergeletak lemas dengan memperoleh kepuasan yang luar biasa. Pak Jono.. Aku juga malam ini ingin seperti perempuan Jepang itu. Kemudian Pak Jono membalikkan tubuhku. Kini aku terlentang, dan Pak Jono dengan mudah membuka sarung. Memang aku sebelumnya tidak memakai CD. Ia mengangkangkan kedua kakikuku, lalu ia menciumi kemaluanku sambil meludahi lobangnya dan meremas-remas payudaraku. Kini aku tak kuasa lagi menahan nafsuku, rasanya ingin meledak. Pak Jono membuka baju kaosnya dan celana dan CD-nya. Barang Pak Jono luar biasa tegak dan keras, besar dan panjang. Kemudian ia membuka kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat dengan sinar yang cukup terang. Sehingga nampak jelas urat-urat kemaluan Pak Jono yang siap menerjang lobang kemaluanku. Pak Jono merebahkan tubuhnya kemudian memelukku dengan gemes dan mengecup bibirku sambil menggigit-gigitnya, sementara penisnya dijepitkan ke antara kedua pahaku. Terasa hangat di pangkal kedua pahaku sambil barangnya bergerak-gerak. Kini Pak Jono sudah tidak sabar lagi, akupun juga. Pak Jono menindihku. Aduh Pak berat sekali badan Bapak, kataku terengah-engah di bawah himpitan tubuhnya.

Pak Jono mengangkangkan pahaku seperti V. Ia meludahi lobangku dan barangnya agar licin dimasukkannya. Begitu banyak Pak Jono meludahi lobangku sampai meleleh ke pintu lobang anusku. Pak Jono mengarahkan barangnya yang sangat besar, panjang dan keras itu ke lobang vaginaku yang kecil tapi montok. Ia menekannya tapi pertama dan kedua kali tidak berhasil Masuk. Aduh.. Pak.. Pelan-pelan, Pak, jeritku. Katanya ingin puas ngerasain keganasan barangku? Pak Jono berbisik dengan suara terengah-engah. Nanti, Pak.. kalau sudah masuk semua. Sekarang pelan-pelan dulu. Ketika ia menekan kembali, akhirnya penisnya berhasil menerobos lobang kenikmatanku. Croook Trooot Bleees Kemudian ia menindihiku. Kini tubuh tinggi, besar dan kekar itu menindihi diriku yang kecil mungil. Ia mulai menggenjotku. Mula-mula ia mengayunkan pinggulnya pelan-pelan. Makin lama makin keras dan ganas, sambil menekan. Ketika ia dengan ganasnya menekan penisnya sampai rasanya nyelu dan ngenyut, sambil memelukku dengan gemes dan ganas. Aduh.. Pak! aku berteriak kecil. Ia terus menggenjotku dengan tenaga yang kuat dan kerasa sampai aku terkentut karena menahan genjotannya. Memang nikmat sekali, nikmat yang luar biasa. Kemudian aku menggelinjang sambil merintih dan menjerit. Sroot Aku memcapai puncak kenikmatan. Dan Pak Jono kuat sekali, ia belum juga orgasme. Udah dulu, Pak kataku dengan suaraku terengah-engah. Ibu tengkurep. Aku ingin masuk ke lobang belakang. Aku akan keluarkan spermaku di lobang belakangmu, bisiknya padaku. Aku mulai tengkurep, dan Pak Jono mulai menindihku. Ia meludahi lobang anusku sambil menusukkan jarinya. Aduh rasanya Kemudian ia menusukkan rudalnya ke lobang anusku. Setelah empat kali tekan baru bisa masuk. Ia menggenjot dengan ganasnya. Makin lama makin keras kocokan dan genjotannya, lalu muncratlah air hangat ke dalam lobang anusku. Aduh nikmat lagi walaupun baru saja aku mencapai orgasme.

Namaku Maya. Usiaku hampir mendekati kepala tiga. Sudah menikah sejak lima tahun yang lalu namun belum dikarunia anak. Suamiku berusia lebih tua dariku dengan jarak yang cukup jauh. Kehidupan kami bisa dibilang bahagia, bisa juga dibilang tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, antara aku dan suamiku tidak ada permasalahan yang pelik dan tidak mengancam pernikahan kami. Hanya saja dalam masalah kehidupan seksual ada sedikit permasalahan yang menurut kami berdua bukan merupakan ancaman. Kondisi ini mungkin akibat belum adanya tanda-tanda kami akan dikaruniai seorang anak. Kami rasakan hubungan intim antara aku dan suami jadi hambar, tidak seperti tahuntahun pertama pernikahan kami yang penuh dengan gelora, penuh dengan cinta yang membara. Dan saat ini kami melakukannya hanya sekedar kewajiban saja, tidak seperti dulu. Nampaknya kami pun tidak mempermasalahkan ini. Akhirnya kami jadi sibuk mencari kegiatan masing-masing untuk menghilangkan kejenuhan ini. Suamiku semakin giat bekerja dan usahanya semakin maju. Aku pun demikian dengan mencari kegiatan lain yang bisa menhgilangkan kejenuhanku. Kami sama-sama sibuk dengan kegiatan masingmasing sehingga waktu untuk bermesraan semakin jarang. Namun kelihatannya kami bisa menikmati kehidupan seperti ini dan tidak mengakibatkan permasalahan yang berarti. Keadaan ini berlangsung cukup lama hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri. Ketika itu kami mendapat khabar bahwa ayahku yang berada di lain kota bermaksud datang ke tempat kami. Suamiku langsung menyatakan kegembiraannya dan tanpa menunggu persetujuanku ia mengharapkan ayahku cepat-cepat datang. Dia bilang sudah sangat rindu sekali karena bisa bertemu kembali setelah pertemuan terakhir ketika kami menikah dahulu. Demikian pula dengan ayahku, katanya kepada suamiku mengatakan bahwa ia pun sangat rindu terutama kepadaku, anaknya yang tersayang. Aku hanya bisa memandang suamiku yang tengah menerima telepon dengan perasaan gundah. Setelah mendapat khabar itu, aku jadi sering melamun. Aku jadi gelisah menunggu kedatangan ayahku. Sebenarnya ia bukan ayah kandungku. Ia aalah ayah tiri. Ia menikahi ibuku ketika aku sudah remaja. Ketika itu ayahku masih bujangan dan usianya berbeda cukup jauh dengan ibuku. Kehidupan kami saat itu berlangsung normal. Tahun demi tahun berjalan dan akupun mulai tumbuh semakin dewasa. Permasalahan mulai muncul ketika ibuku mulai sakit-sakitan. Mungkin juga karena usia. Di sinilah awal dari segalanya. Ayahku yang masih muda dan penuh vitalitas merasa kurang terpenuhi kebutuhannya dan mulai mencari-cari jalan keluarnya. Celakanya, yang menjadi sasaran adalah diriku sendiri. Saat itu aku masih sangat muda dan tidak mengerti apa-apa. Ayahku ini sangat pandai mengelabuiku sehingga akhirnya aku terperangkap oleh semua akal bulusnya. Aku tidak berani mengadukan hal ini kepada ibu. Takut malah akan membuatnya semakin parah. Tetapi aku pun tak bisa menjamin bahwa ia tidak

mengetahui apa yang terjadi antara ayah dengan diriku. Sampai akhirnya ibuku wafat meninggalkanku sendiri, anak semata wayangnya, untuk dititipkan pada ayah. Sepeninggal ibu, ayah semakin menjadi-jadi. Aku tak bisa berbuat banyak karena hidupku sangat tergantung kepadanya. Beruntunglah beberapa tahun kemudian aku mendapatkan jodoh dan menikah dengan suamiku yang sekarang. Aku diboyong meninggalkan rumahku ke kota yang sangat jauh jaraknya. Itulah pengalaman yang sangat kusesalkan hingga hari ini. Hei, sayang! tiba-tiba suamiku membuyarkan lamunanku. Kok malah ngelamun? Ayo kita berangkat sekarang, kasihan nanti ayahmu terlalu lama menunggu di stasiun kereta, lanjutnya seraya mengambil kunci mobil untuk segera berangkat menjemput ayah. Ketika sampai di stasiun, suamiku langsung mencari-cari ayahku sementara aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan serba tak karuan. Gelisah, khawatir serta ada sedikit rasa rindu karena sudah lama tak bertemu, bercampur menjadi satu. Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Aku agak terkesima karena ternyata ayahku tak berubah banyak dari ketika kutinggalkan dahulu. Ia nampak masih muda, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Hei Maya. Apa khabar, sayangku, sapa ayah kemudian ketika selesai berpelukan dengan suamiku. Ayah, apa khabar? Sehat-sehat saja khan? balasku setengah terpaksa untuk berbasa-basi. Ayahku mengembangkan kedua tangannya sambil menghampiriku. Aku sempat bingung menghadapinya dan dengan spontan melirik pada suamiku yang kelihatannya seperti tahu apa yang kupikirkan. Ia menganggukan kepalanya seolah menyuruhku untuk menyambut rentangan tangan ayah. Aku lalu menghampiri ayahku. Ia langsung menyambutnya dengan memelukku. Aku terpana dengan pelukannya yang erat dan kurasakan ayahku sesenggukan. Menangis sambil berbisik betapa rindunya ia padaku. Aku jadi tak tega dan dengan refleks, balas memeluknya sambil berkata bahwa aku baik-baik saja dan merasa rindu juga kepadanya.

Ia bersyukur bahwa masih ada orang yang merindukannya sambil terus memelukku dengan erat. Aku jadi serba salah. Pelukannya jadi lain dan bahkan aku merasa tubuhnya sengaja didesakan padaku. Aku berusaha untuk mendorongnya secara halus dan jangan sampai hal ini diketahui suamiku. Ayahku masih juga genit! Ia sengaja menggesek-gesekan tubuhnya padaku! Dasar lelaki celamitan, runtukku dalam hati. Ayo kita ke rumah, kata suamiku kemudian. Aku bersyukur bisa terlepas dari pelukannya dan buru-buru menjauh. Aku lalu dengan sengaja memamerkan kemesraan dihadapan ayahku dengan memeluk pinggang suamiku sambil menyandarkan kepala di dadanya. Suamiku balas memeluk sambil berjalan menuju tempat parkir sementara ayahku hanya tersenyum melihat semua ini. Aku tak tahu apa arti senyum itu. Aku hanya ingin memperlihatkan semua ini kepadanya. Aku juga tak tahu apakah aku ingin membuatnya cemburu atau apa? Sejak adanya ayah di rumah, memang ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayahku memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Termasuk suamiku. Ia begitu senang dengan kehadirannya. Ia jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalanjalan bersama. Dan yang lebih menggembirakan lagi, suamiku jadi lebih mesra kepadaku. Ia jadi sering mengajakku berhubungan intim. Aku turut gembira dengan perubahan ini. Tadinya aku sempat khawatir akan kehadiran ayah yang akan membuat masalah baru. Tetapi ternyata tidak. Justru sebaliknya! Namun dibalik itu aku agak was-was juga karena kemesraan suamiku ternyata atas saran ayahku. Katanya ia banyak memberi nasihat bagaimana cara membahagiakan seorang istri. Hah? Aku terperanjat mendengar ini. Jangan-jangan..? Akh.., aku tak mau berpikir sejauh itu. Rasa kekhawatiranku ternyata beralasan juga. Karena seringkali secara diamdiam, ayah menatapku. Dari tatapannya aku sudah bisa menduga. Ia sudah mulai berani menggodaku meski hanya berupa senyuman ataupun kerlingan nakal. Aku tak pernah melayaninya. Aku tak mau suamiku tahu akan hal ini. Kekhawatiran berkembang menjadi rasa takut. Malam itu suamiku memberitahu bahwa ia akan pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya selama beberapa hari. Aku terkejut dan berupaya mencegahnya agar jangan pergi. Memangnya kenapa? Toh biasanya juga aku suka keluar kota untuk bisnis, bukan untuk main-main, katanya kemudian. Bukan itu. Aku masih kangen sama kamu, jawabku mencari alasan.

Aku cuma tiga hari. Mungkin kalau bisa cepet selesai, bisa dua hari aku sudah kembali, kata suamiku lagi. Kamu di sini kan ada ayah, juga Si Inah. Jadi tak perlu takut ditinggal sendiri. Justru itu yang kutakutkan, kataku tetapi hanya dalam hati. Aku tak bisa mencari alasn lain lagi karena khawatir justru dia malah curiga dan semuanya jadi ketahuan. Akhirnya aku hanya bisa mengiyakan dan berpesan agar dia cepat-cepat pulang. Hari pertama kepergian suamiku ke luar kota tak ada peristiwa yang mengkhawatirkan meski ayahku lebih berani menggoda. Ada saja alasannya agar aku bisa berdekatan dengannya. Bikinkan kopi lah, ambilkan Koran lah dan entah apa lagi alasannya. Ia mencoba menggoda dengan memegang tanganku pada saat memberikan Koran padanya. Buru-buru kutarik tanganku dan pergi ke kamar meninggalkannya. Aku jadi semakin hati-hati terhadapnya. Pintu kamar selalu kukunci dari dalam. Tetapi masih saja aku kecolongan sampai suatu ketika terulang kembali perisitiwa masa lalu yang sering kusesalkan. Sore itu aku habis senam seperti biasanya sekali dalam seminggu. Setelah mandi aku langsung makan untuk kemudian istirahat di kamar. Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan langsung tertidur. Celakanya, aku lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi berangsur hilang. Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh. Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan. Dalam tidurku, aku mengira ini perbuatan suamiku yang memang akhir-akhir ini suka mencumbuku di kala tidur. Namun begitu ingat bahwa ia masih di luar kota, aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat ayah sambil tersenyum tengah menciumi betisku, sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus. Ayah! Ngapain ke sini? bentakku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku. Maya, maafkan ayah. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang, ia malah berkata seperti itu bukannya malu didamprat olehku. Ayah nggak boleh. Keluar, saya mohon, pintaku menghiba karena kulihat tatapan mata ayah demikian liar menggerayang ke sekujur tubuhku.

Aku buru-buru menurunkan daster menutupi pahaku. Aku beringsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Ayah kembali menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan. Kamu tidak kasihan melihat ayah seperti ini? Ayolah, kita khan pernah melakukannya, desaknya. Jangan bicarakan masa lalu. Aku sudah melupakannya dan tak akan pernah mengulanginya, jawabku dengan marah karena diingatkan perisitiwa yang paling kusesali. OK. Ayah nggak akan cerita itu lagi. Tapi kasihanilah ayahmu ini. Sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakannya lagi, lanjutnya kemudian. Ayah lalu bercerita bahw ia tak pernah berhubungan dengan wanita lain selain ibu dan diriku. Dia tak pernah merasa tertarik selain dengan kami. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia memang pandai sekali membuat wanita tersanjung. Dan entah kenapa akupun merasakan hal seperti itu. Ketika kutatap wajahnya, aku jadi trenyuh dan berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat ayah yang kelihatan sudah menggebu-gebu. Aku tahu persis ayah akan berbuat apapun bila sudah dalam keadaan seperti ini. Akhirnya aku mengalah dan mau mengocok batangnya agar ia bisa tenang kembali. Baiklah.., kata ayahku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku agak terkesima juga melihat batang ayah yang masih gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun juga baru kali ini aku memegang kontol orang selain milik suamiku meski dulu pernah merasakannya juga. Tapi itu dulu sekali. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar ayah melenguh seraya menyebut namaku. Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah ayah meringis menahan remasan lembut tangannku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar ayah

kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu ayah sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Selesai sudah, pikirku mulai tenang. Dua menit, tiga sampai lima menit berikutnya ayah masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan ayah menggerayang ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam. Biar cepet keluar.., kata ayah memberi alasan. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Ayah tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut mulai meremas-remas payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang setiap akan tidur, jadi remasan tangan ayah langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan atas remasan ini. Apalagi tanganku menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya setelah ini selesai ayah tidak akan berbuat lebih jauh lagi seperti dulu. Maya sayang.., buka ya? Sedikit aja.., pinta ayah kemudian. Jangan Yah. Tadi khan sudah janji nggak akan macam-macam.., ujarku mengingatkan. Sedikit aja. Ya? desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas ayahku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang. Oh.., Maya kamu benar-benar cantik sekali, pujinya sambil memilin-milin puting susuku. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukan batang ayah ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak memperdulikan perbuatan ayah pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan bibirnya mulai menciumi buah dadaku pun aku tak berusaha mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan

kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai ayahku terengahengah merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari ayahku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan ayahku? Apa ia memakai obat kuat? Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan ayah padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika ayah berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Ayah dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkangan dan memekku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan ayahku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah ayah. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan masih kenyal. Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau ayah memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desirandesiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut ayah

benar-benar membuatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat. Auugghh..! aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku.

Sebut saja namaku Rahul, usiaku 32 tahun, sudah empat tahun perkawinanku tapi seorang anak belum kami dapatkan. Karena cintaku pada istriku, tidak ada niat untukku berselingkuh, tapi sejak perkenalanku dengan wanita itu, aku tergoda untuk selingkuh. Perkenalanku dengan wanita itu berawal 2 tahun yang lalu, saat kakak istriku mau menikah, kami mengunjungi rumah calon mempelai wanita untuk melamar, aku melihat seorang wanita berumur kira-kira 40 tahunan yang kutahu dia adalah istri dari pamannya calon pengantin wanita, dan kutahu kemudian namanya Tante Ayu Ting Ting, karena kami sama-sama panitia perkawinan iparku. Awalnya kuanggap biasa perkenalan ini, tetapi pada waktu hari perkawinan iparku, aku terpana melihat kecantikan Tante Ayu Ting Ting yang memakai baju kebaya bordiran, sehingga lekuk tubuh dan bentuk payudaranya terbayang ditutupi kemben (pakaian kain Jawa) hitam yang membuatku ingin sekali melirik kemana perginya Tante Ayu Ting Ting dan membayangkannya di saat Tante Ayu Ting Ting telanjang. Setelah acara pernikahan itu selesai, otomatis kami jarang sekali bertemu, karena Tante Ayu Ting Ting harus menemani suaminya yang tugas di Surabaya. Hampir satu tahun lamanya aku ingin melupakan dirinya, tetapi ketika iparku memiliki anak, aku bertemu lagi dengan Tante Ayu Ting Ting pada waktu menengok bayi. Saat itu Tante Ayu Ting Ting mengenakan baju dan jeans ketat, sehingga lekuk tubuhnya membayangi lagi pikiranku yang terbawa hingga kutidur. Sebulan kemudian, ketika acara syukuran bayi iparku, tante Ayu Ting Ting datang dengan suaminya dan ibunya Tante Ayu Ting Ting yang duduk di kursi roda akibat sakit stroke yang katanya sudah 4 tahun diderita. Dan dari iparku, kuketahui Tante Ayu Ting Ting sekarang satu bulan di Jakarta untuk menjaga ibunya dan satu minggu menemani suaminya di Surabaya. Seminggu setelah itu, temanku datang ke rumah untuk menawarkan bisnis MLM berbasis food suplement yang dapat membuat beberapa penyakit sembuh. Langsung pikiranku tertuju kepada ibunya Tante Ayu Ting Ting. Setelah dapat nomor telpon Tante Ayu Ting Ting dari iparku, aku langsung menghubunginya. Setelah obrolan kami, Tante Ayu Ting Ting setuju untuk mencobanya terlebih dahulu. Keesokan harinya, ketika aku

mengantar obat itu, aku berharap bisa ketemu Tante Ayu Ting Ting, tapi karena ibunya sedang anval, otomatis aku hanya bertemu pembantunya. Satu minggu kemudian, tiba-tiba HP-ku berdering, sebenarnya aku malas menerimanya karena nomor yang tertera tidak kukenal, tapi dengan agak malas kuterima juga telpon itu yang rupanya dari Tante Ayu Ting Ting. Dik.. Rahul, ya..? Disini Tante Ayu Ting Ting. Eh.. iya Tante.. apa khabar..? Wah.., Dik.. tante senang loh kayaknya obat yang adik kirim buat ibu bagus sekali, ibu sekarang sudah nggak pakai kursi roda lagi.. kalau begitu tante pesan lagi yach..? Kapan bisa kirim..? Selamet deh Tante.. eng.. kalau begitu besok siang deh.. Tante.. saya kirim ke rumah..! Ya.. sudah.. sampai besok yach..! Keesokannya, pukul 11:00 aku ke rumah Tante Ayu Ting Ting. Ketika sampai, aku disuruh menunggu oleh pembantunya di ruangan yang sepertinya ruang perpustakaan. Tidak lama kemudian Tante Ayu Ting Ting muncul dari pintu yang lain dari tempat kumasuk ruangan itu. Saat itu Tante Ayu Ting Ting mengenakan baju model jubah mandi yang panjang dengan tali di pinggangnya, dan mempersilakan aku duduk di sofa yang dia pun ikut duduk, sehingga kami berhadapan. Ketika dia duduk, satu kakinya disilangkan ke kaki yang lain, sehingga betisnya yang bunting padi dan putih bersih terlihat olehku, membuat pikiran kotorku kepada Tante Ayu Ting Ting muncul lagi. Kami mengobrol panjang lebar, Tante Ayu Ting Ting menanyakan hal tentang perkawinanku yang sudah 4 tahun tetapi belum dikaruniai keturunan, sedangkan dia menceritakan bahwa sebenarnya Tante Ayu Ting Ting menikah disaat suaminya telah mempunyai anak yang sekarang sudah kuliah. Setelah hampir satu jam kami mengobrol, Tante Ayu Ting Ting mengatakan padaku bahwa ia senang kalau ibunya sudah agak membaik. Oh.. ya berapa nih harga obatnya..? Ah.. sudah Tante, nggak usah, gratis kok, tujuan saya khan yang penting Ibu bisa baik. Ah.. nggak lah Dik, Tante ambil dulu yach uangnya di kamar. Tante Ayu Ting Ting berdiri dan masuk ke pintu tempat tadi dia datang, tapi pintu itu dibiarkannya terbuka, sehingga kulihat kalau kamar di sebelah ruang kududuk adalah kamar tidur Tante Ayu Ting Ting. Dari dalam dia teriak ke arahku menanyakan harganya sambil memanggilku. Dik.. Rahul, berapa sih harganya..? Kamu sini deh..! Dengan agak ragu karena perasaanku tidak enak masuk kamar orang lain, kuhampiri juga Tante Ayu Ting Ting.

Begitu sampai di pintu, aku seperti melihat suatu mukjizat, dan tiba-tiba perasaanku terhadap Tante Ayu Ting Ting yang pernah ada dalam pikiranku muncul. Tante Ayu Ting Ting berdiri di samping tempat tidurnya dengan jubah yang dipakainya telah tergeletak di bawah kakinya. Aku melihat tanpa berkedip tubuh Tante Ayu Ting Ting yang sedang berdiri telanjang dada dan pangkal pahanya tertutup celana dalam berwarna pink memperlihatkan sekumpulan bulu hitam di tengah-tengahnya. Dik, kalau kamu nggak mau dibayar sama uang, sama nafsu Tante Ayu Ting Ting aja yach..? Kamu mau khan..? E.. e.. eng.. bb.. boleh deh Tante..! Tiba-tiba kali ini aku bisa melihat Tante Ayu Ting Ting yang setengah bugil dan memohon kepadaku untuk melayani nafsunya, kuhampiri dia sambil menutup pintu. Bentuk tubuh Tante Ayu Ting Ting sungguh indah di mataku, kulitnya putih bersih, payudara yang berukuran 36B berdiri dengan tegaknya seakan menantangku, lekukan paha dan kaki jenjangnya yang indah dan betisnya yang bunting padi, persis bentuk tubuhnya penyanyi Jennifer Lopez. Aku seakan tidak bisa menelan ludahku karena Tante Ayu Ting Ting sekarang tepat berdiri di depanku. Dik.. Rahul, layani Tante yach..! Soalnya sudah dua bulan Tante tidak dijamah Om.. Iya.. Tante, ta.. tapi.. kalau anak-anak Tante datang gimana..? Anak-anak kalau pulang jam 5:00 sore, lagi itu kan anak-anaknya Om. Ok.. deh Tante, Tante tau nggak, kalau hal ini sudah saya impikan sejak pernikahan Desi, soalnya Tante seksi banget sih waktu itu. Sekarang.. sudah nggak seksi dong..? Oh.. masih.. apa lagi sekarang, Tante kelihatan lebih seksi. Bibir tipisnya mencium bibirku dengan hangat, sesekali lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun membalasnya dengan lidahku. Tangan lembutnya mulai melepaskan dasi dan bajuku hingga kami sudah telanjang bagian atasnya. Dada bidangku mulai diciumi dengan nafsunya, sementara lehernya dan pundaknya kuciumi. Wangi tubuhnya membuat nafsuku juga meningkat, sehingga batangku mulai mengeras mendesak celana dalamku. Tangannya mengelus celanaku di bagian batangku yang sudah mengeras, sedangkan aku mulai memainkan mulutku di payudaranya yang terbungkus kulit putih bersih, putingnya yang putih kemerahan sudah jadi bulan-bulanan lidah dan gigiku, kugigit dan kusedot, sehingga Tante Ayu Ting Ting mengelinjang dan makin keras tangannya mencengkram batangku. Celana panjangku mulai dibuka dengan tangan kirinya, lalu celana dalamku ditarik turun sehingga batangku sudah dipegang tangan halusnya dan mulai mengocok batangku. Dik.. batangmu besar sekali yach..? Kalau punya Om paling setengahnya aja, berapa sih besarnya..? Kalau panjangnya 20 cm, kalau diameternya 4 cm.

Wah.. gede banget yach.. pasti Tante puas deh.., boleh Tante isap nggak.. Aku hanya mengangguk, Tante Ayu Ting Ting langsung jongkok di hadapanku, batangku dipegangnya lalu dimainkan lidahnya pada kepala batangku, membuatku agak gelisah keenakan. Batangku yang besar berusaha dimasukkan ke dalam mulut mungilnya, tetapi tidak bisa, akhirnya kepala batangku digigit mulut mungilnya. Kira-kira 15 menit, dia berdiri setelah kelelahan mengulum batangku, lalu dia merebahkan dirinya di sisi tempat tidur. Kali ini aku yang jongkok tepat di sisi kedua kakinya, tangan kananku melepaskan celana dalam pinknya, saat itu juga aroma wangi langsung bertebaran di ruangan yang rupanya aroma itu adalah aroma dari vagina Tante Ayu Ting Ting yang bentuknya sangat indah ditutupi bulu-bulu halus di sekitar liang vaginanya. Ah.. Tante Mon.. vagina Tante harum sekali, boleh saya jilatin..? Ah.. jangan Dik.. kamu nggak jijik, soalnya si Om nggak pernah menjilatinya. Wah.. payah si Om.. vagina itu paling enak kalau dijilatin, mau yach.. Tante.. enak.. kok..! Iya deh.. kalau kamu nggak jijik. Paha putihnya sudah kuusap lembut dengan tangan kiriku, sementara jari tengah tangan kananku mulai menjamah liang vaginanya. Kulihat Tante Ayu Ting Ting melirik ke arahku sambil berkata, Dik.. jilatnya yang enak yah..! Aku hanya mengangguk sambil mulai kutempelkan lidahku pada liang vaginanya yang rupanya selain wangi rasanya pun agak manis, membuatku semakin bernafsu untuk menjilatinya, sementara kulirik Tante Ayu Ting Ting sedang merasakan geli-geli keenakan. Ah.. ah.. ssh.. argh.. iya.. yach.. Dik.. enak deh rasanya.. wah kalau gini.. besok-besok mainnya sama Dik Rahul aja deh.. sama Om.. ntar-ntar deh.. abis.. enak.. banget.. sih.. Dik Rahul mau khan..? Ah.. argh..! Aku tidak menjawab karena lidahku sudah menemukan biji klitoris yang rasanya lebih manis lagi dari liangnya, sehingga makin cepat kujilati. Rasa manisnya seakan-akan tidak pernah hilang. Tante Ayu Ting Ting semakin menggelinjang tidak karuan, sementara tangannya menekan kepalaku yang seakan dia tidak mau kalau kulepaskan lidahku dari biji klitorisnya. Hampir 30 menit klitoris manis itu kujilati ketika tiba-tiba tubuh Tante Ayu Ting Ting mengejang-ngejang, dan dari klitoris itu mengalir deras cairan putih bersih, kental dan rasanya lebih manis dari biji klitoris, sehingga dengan cepat kutangkap dengan lidahku, lalu kutelan cairan itu sampai habis. Tante Ayu Ting Ting pun mendesah dan langsung tubuhnya lemas. Argh.. argh.. agh.. ssh.. sshh.. eegh.. eegh.. Dik.. Rahul.. enak.. buangget.. deh.. kamu.. pintar.. membuat.. Tante.. keluar.. yang belum pernah Tante.. keluarin dengan cara

begini.. kamu.. hebat deh, agh.. agh..! Kuubah posisi Tante Ayu Ting Ting, kali ini kakinya terjuntai ke bawah, lalu kuposisikan batangku tepat di liang kemaluannya yang masih agak basah. Dengan jariku, kurenggangkan liang vaginanya, lalu dengan sedikit hentakan, batang kejantananku kudorong masuk, tapi agaknya vagina itu masih agak sempit, mungkin karena batangku yang besar. Kucoba lagi hingga 5 kali tapi belum bisa masuk. Tante.. Vagina Tante.. sempit.. yach.. padahal saya sudah tekan berkali-kali.. Iya.. dik.. mungkin karena belum pernah melahirkan.. yach.. tapi tekan.. aja terus.. biar batang adik.. masuk.. nggak apa-apa kok.. kalau sampai vagina saya robek.. Kucoba lagi batangku kutekan ke dalam vagina Tante Ayu Ting Ting. Akhirnya setelah 15 kali, Tante Ayu Ting Ting menjerit keenakan, masuklah batang kejantananku yang super besar itu merobek liang kewanitaannya. Ooowww.. argh.. argh.. gila.. hegk.. hegk.. gede.. banget.. sich.. Dik batangmu rasanya nembus ke perut Tante nich.. tapi.. enak.. banget dech.. trus.. Dik.. trus.. tekannya.. argh.. argh..! desahnya tidak menentu. Kulihat Tante Ayu Ting Ting berceracau sambil dengan perutnya berusaha menahan batangku yang masuk lubang kenikmatannya. Kutekan keluar masuk batangku pada vaginanya berkali-kali, tangannya memegang perutku berusaha menahan tekanan batangku pada vaginanya. Tanganku mulai meremas-remas payudaranya, kupelintir putingnya dengan jariku. Hampir satu jam Tante Ayu Ting Ting melawan permainanku. Tiba-tiba tubuh Tante Ayu Ting Ting menggelinjang dengan hebatnya, kakinya disepak-sepak seperti pemain bola dan keluarlah cairan dari vaginanya yang membasahi batangku yang masih terjepit di liang senggamanya. Cairan itu terus mengalir, sehingga meluber keluar membuat pahaku dan pahanya basah, tetapi aku belum merasakan apa-apa. Yang kukagetkan adalah ketika kulirik cairan yang mambasahi paha kami ada tetesan darahnya, aku berpikir bahwa selama ini Tante Ayu Ting Ting pasti masih perawan walau sudah berkali-kali main dengan suaminya. Kulihat tubuh Tante langsung tergolek loyo, Argh.. arghh.. ssh.. aawww.. oohh.. Dik Rahul.. kamu.. e.. emang.. hebat..! Batangmu.. yahud. Aku benar-benar puas.. aku.. sudah.. keluar. Besok.. besok.. aku hanya.. mau.. memekku.. dihujam.. punyamu.. saja. Ah.. arghh.. ah.. ah.. ah.. ah..! Badan Tante Ayu Ting Ting langsung kuputar hingga kali ini dia tengkurap, pantatnya yang dibungkus kulitnya yang putih bersih dengan bentuk yang padat dan sexy, membuat nafsuku bertambah besar. Kuangkat sedikit pantatnya supaya agak menungging dan terlihatlah vagina yang tersembunyi di balik badannya. Aku agak menunduk sedikit,

sehingga memudahkan lidahku memainkan liang kemaluannya untuk menjilati sisa-sisa cairan yang baru saja dikeluarkan oleh Tante Ayu Ting Ting. Cairan itu sangat manis rasanya sehingga langsung kuhisap habis. Setelah cairan itu habis, kutempelkan lagi batang keperkasaanku pada liang senggamanya. Karena tadi Tante Ayu Ting Ting sudah orgasme, jadi liang kemaluannya sedikit lebih lebar dan memudahkanku dalam menekan batang kejantananku untuk masuk ke lubangnya Tante Ayu Ting Ting. Jleb.. bless.. jleb.. bless.. ah.. ah.. sedapnya.. memek.. Tante.. deh.. ah..! Aku memasukkan batang kejantananku ke liang Tante Ayu Ting Ting dengan berceracau, karena liang senggama Tante Ayu Ting Ting sangat sedap sekali rasanya. Sementara kulihat Tante Ayu Ting Ting tidak bersuara apa-apa, karena dia sudah tertidur lemas. Batang kejantananku keluar masuk liangnya dengan lembut, sehingga aku pun menikmatinya. Hal itu berlangsung satu jam lamanya. Tiba-tiba Tante Ayu Ting Ting terbangun dan dia mengatakan bahwa dia mau mencapai orgasme yang kedua kalinya, dan meneteslah cairan kental lagi dari liang kewanitaan Tante Ayu Ting Ting yang membasahi batang kemaluanku. Agh.. agh.. aawww.. arghh.. sshh.. Dik.. Se.. Rahul ka.. kamu memang.. he.. hebat..! Tante sampai dua.. kali.. keluar.., tapi.. kamu.. masih tegar.. argh.. sshh..! Ah.. Tante.. saya juga sudah.. mau keluar.. saya.. mau.. keluarin.. di luar.. Tante.. agh..! Jangan.. Dik Rahul.. keluarin.. aja.. di dalam.. memek.. Tante.. Tante.. mau.. coba.. air.. mani.. Dik.. Rahul. Siapa tahu nanti.. Tante bisa.. hamil.. Keluar di dalam.. yach.. Dik..! Tante Ayu Ting Ting merengek meminta untuk air maniku harus dikeluarkan di dalam vaginanya, sebenarnya aku agak bingung atas permintaannya, tetapi setelah kupikir, aku dan Tante menginginkan seorang keturunan. Akhirnya kulepas cairan maniku ke liang senggamanya dengan sedikit pengharapan. Crot.. crot.. serr.. serr.. agh.. aghr.. agh.. Tante.. Tante Ayu Ting Ting.. memek Tante memang.. luar biasa.. argh.. argh..! Ahh.. ahh.. Dik.. air mani.. kamu.. hangat.. sekali.. ahh.. Tante.. jadi segar.. rasanya..! Cairanku dengan derasnya membasahi lubang kemaluan Tante Ayu Ting Ting, sehingga agak meluber dan rupanya Tante Ayu Ting Ting menyukai air maniku yang hangat. Akhirnya kami pun ambruk dan langsung tertidur berpelukan. Aku terbangun dari tidurku ketika batangku sedang dihisap dan dijilat Tante Ayu Ting Ting untuk mengeringkan sisa air maniku, jam pun sudah menunjukkan waktu 4:30. Aku berpikir bahwa hampir 3 jam aku dan Tante Ayu Ting Ting berburu nafsu birahi. Dik Rahul, terima kasih yach..! Tante Ayu Ting Ting puass deh sama permainan seks kamu.. Kamu lebih hebat dari suami saya. Kapan kita bisa main lagi..? Tante udah pingin main lagi deh..

Iya Tante, besok pun juga boleh. Habis saya juga puas. Tante bisa mewujudkan mimpi saya selama ini, yaitu menikmati tubuh Tante Ayu Ting Ting dan Tante luar biasa melayani saya hampir tiga jam. Wahh, Tante memang luar biasaa.. Iya.., kamu pun hebat, Dik Rahul. Saya suka sekali ketika batangmu menghujam memek saya. Terlebih air mani kamu, hanggatt.. sekali. Besok kita bisa main lagi khan..? Iya.. sayangku. Sekarang kita bersih-bersih, nanti anak dan suamimu datang..! Kukecup bibir Tante Ayu Ting Ting yang setelah itu kami membersihkan badan kami bersamaan. Di kamar mandi, Tante Ayu Ting Ting sekali lagi kusodok liang senggamanya sewaktu bershower ria. Setelah itu, hampir setiap hari aku bertemu Tante Ayu Ting Ting untuk memburu nafsu birahi lagi. Hingga sekarang sudah berlangsung 3 bulan lebih lamanya, dan yang agak menyejukkan hati kami berdua bahwa sejak sebulan lalu, Tante Ayu Ting Ting dinyatakan hamil. Disini ayu tingting bukan nama sebenarnya. Cerita sex ini sungguh indah apalagi sambil lihat goyangan Ayu ting ting di kamar mandi.

Cerita merangsang gara gara gatal di pinggang Aku bekerja sebagai sales assistant di sebuah supermarket Y di Bandung. Di tempat kerjaku ada seorang cewek bernama Rista. Rista adalah cewek yang paling akrab denganku. Segala masalahnya akan dia berRistahukan padaku. Rista memang cantik, kulitnya putih, matanya bulat, buah dadanya pun membulat, tidak terlalu besar tapi cukup menantang membuat setiap lakilaki yang dekat dengannya ingin selalu menjamahnya. Siapapun yang melihat tubuh Rista pasti naik nafsu syahwatnya. Pantat Rista mengiurkan juga. Rambutnyapun panjang sebahu. Suatu hari Rista datang padaku, Fer belakang badan Rista gatal-gatal nih, Rista memberRistahuku akan masalahnya. Tolong gosokkan ya, Fer Rista menyuruhku. Kalau begitu kemarilah, balasku dengan sedikit terkejut. Disini saja, di dalam gudang lebih nikmat Rista memberitahuku dengan suara yang amat lembut dan begitu manja. Hatiku jadi cair. Fer Rista menarik tanganku menuju ke dalam gudang yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi. Kemudian Rista mengunci pintu gudang itu, serta mengambil bedak antiseptik di rak yang berdekatan, lalu mengulurkannya kepadaku. Aku tak sungkan-sungkan lagi, terus saja menaburkan bedak itu di atas telapak tanganku. Rista menarik baju yang dipakainya ke atas hingga sebatas tengkuk. Aku menelan ludah melihat ke belakang badan Rista, yang selama ini tak pernah aku lihat tanpa busana. Aku menepuk bedak yang ada di tanganku ke atas badan Rista. Hangat badannya. Aku mulai menggosok. Sesekali Rista kegelian, ketika aku mengurutkan jariku pada alur di tengah belakang badan Rista. Aku menggosok rata. Rista meraba-raba kancing BH-nya, lalu dilepaskannya, maka terurailah tali BH-nya

itu di belakang badannya itu. berdesir darahku, aku menelan air liur, melihat aksi Rista yang berani itu tadi. Aku terus menggosok, dengan hati yang berdebar-debar. Aku merasa batang penisku sudah mulai mengeras. Aku merasa tak tahan. Tengah menggosok belakang badan Rista, tanganku secara perlahan-lahan merayap ke dada Rista. Hei! Apa-apaan nih, Rista melarang sambil menepuk tanganku. Ohh! sorry, aku meminta maaf. Tanganku kembali ke bekakang. BH yang Rista pakai masih melekat di dadanya, menutupi buah dadanya yang mungil itu. Aku terus menggosok, kali ini turun sampai ke batas pinggang. Aku memberanikan diri mengurut ke dalam rok Rista, tetapi Rista menepuk lagi tanganku. Jangan!, larang Rista lagi. Sudah hilang belum gatal itu?, Tanyaku pada Rista. Belum! jawab Rista pendek. Aku merasa semakin terangsang, batang penisku semakin mengeras dan mula tegang! Aku coba lagi untuk meraba ke dada Rista, kini aku telah dapat memegang buah dada Rista yang lembut itu, yang tertutup dengan BH berwarna putih. Rista tidak lagi menepuk tanganku tetapi dia memegang tanganku yang aku takupkan pada payudaranya itu. Aku mulai meremas buah dada Rista. Rista menggeliat geli sambil tangannya memegang pergelangan tanganku. Rista nampak sudah mula merasa terangsang. Aku mencium tengkuk Rista. Dia masih menggeliat-geliat akibat remasan serta ciumanku. Buah dadanya aku rasa sudah semakin menegang. Jariku kini memainkan peranan memilin-milin puting susu Rista pula! Aku sadari tadi memeluk Rista dari belakang. Batang penisku yang keras menonjol itu aku gesek-gesekkan pada alur pantat Rista. Rista ketawa kecil, merangsang sekali! Rista membuka kancing bajunya dan terus menanggalkannya berserta BH-nya dan mencampakkannya di atas lantai. Kini payudara Rista tak tertutup apa-apa lagi. Aku terus meremas-remas dan membalikkan badan Rista supaya berhadapan denganku. Rista menciumku rakus sekali, sambil mengulum-ngulum lidahku. Akupun begitu juga membalas dengan rakus serangan Rista. Aku menanggalkan bajuku. Rista mencium dadaku, perutku. Aku tetap mengecupngecup buah dada nya yang sudah mengeras tegang. Tanganku menekan-nekan pantatnya. Batang penisku semakin menegang. Tiba-tiba Rista berlutut, lalu membuka retsleting celanaku. Dia menarik keluar batang penisku yang tegak keras. Rista merasa kagum melihat batang penisku yang menegang secara maksimal itu. Rista menguak rambutnya ke belakang dan meng-karaoke batang kejantananku. Dia menggengam dengan rapi. Sambil mengulum secepat-cepatnya. Rista mengarahkan batang penis ke matanya, hidungnya, ke pipinya. Rista mencium sekRistar batang penisku. Aku merasa nikmat sekali. Rista terus mengulum penisku hingga ke pangkal makin lama semakin cepat. Aku merasa kepala penisku terkena anak tekak Rista. Ngilu rasanya! Aku juga membantu Rista dengan mendorong dan menarik

kepalanya. Rista, sudah hampir keluar! Sudah hampir keluar! Rista sengaja berlagak tak tahu saja, ketika aku katakan maniku sudah hendak keluar. Rista masih mengulum. Air maniku tersemprot memenuhi rongga mulut Rista. Dia lantas mencabut keluar penisku lalu menjilat-jilat air maniku. Dia nampaknya menikmati sekali. Penisku jadi lembek kembali! Aik! belum apa-apa sudah lembek. Rista mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Rista tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Rista duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Rista sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya. Aku mencium sekRistarnya. Rista meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Rista. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Rista. Argh, argh, argh! Rista mengerang perlahan. Vaginanya terlihat basah sekali. Aku meletakkan kepala penisku ke pintu vaginanya. Aku sodok sedikit, Argh! Rista mengerang lagi. Laku aku tekan lagi. Yes! suara Rista perlahan. Aku menyodok lagi dalam sedikit dan terus ke pangkal. Aku mendorong dan menarik berulang kali. Rista makin terlihat lemas dan nikmat. Aku merasa kehangatan lubang vagina Rista. Rista mencabut penisku keluar. Dia turun dari atas meja dan mendorongku telentang lalu duduk di atas badanku dan memasukkan lagi penisku ke dalam lubang vaginanya itu. Dia mengayun ke atas dan ke bawah. Tak lama dia tarik keluar lagi penisku. Rista kini agresif. Aku mendorongnya telentang lagi. Rista merapatkan payudaranya dengan kedua belah tangannya. Masukin di celah susuku dong! Masukin di celah susu ah..! Rista menyuruhku. Aku tidak sungkan-sungkan lagi terus melakukannya tapi sebentar saja. Aku duduk dan Rista masih telentang, pahaku di bawah paha Rista, aku sodok lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku mengayun dengan perlahan. Licin dan sedap rasanya Rista bangun dan bertiarap di atas meja, kakinya lurus ke lantai menungging! Akupun berdiri lalu membuat dog style. Aku pegang kiri dan kanan pantat Rista dan mengayun lagi. Aku kemudian menyangkutkan sebelah kaki Rista di atas bahuku dalam posisi telentang. Aku sodok lagi tarik dan keluar dorong dan masuk ke dalam vaginanya, pokoknya malam itu kami merasakan kepuasan bersama dengan mencoba segala posisi. Oh Rista kapan kita mengukir cerita sex indah kayak gini lagi, apakah pantatmu kini gatal ?

Sex kilat ternyata asik Rumah yang garasinya difungsikan sebagai toko,atau mungkin lebih tepat disebut warung,itu tampak sepi.Tidak banyak barang yang dijual.Cuma buat

sambilan saja dik Pras,dari pada bengongjawab pemiliknya waktu aku tanyakan kenapa jualannya tidak di lengkapi sekalian.Dia ibu beranak satu.Berkulit kuning langsat dengan wajah biasa-biasa saja meskipun tidak dapat dikatakan jelek.Suaminya bekerja pada satu instansi pemerintahan.Pergi pagi pulang petang.Usia suaminya kutaksir empat puluhan,tapi kepalanya sudah botak.Kata orang sih,kalau botak didepan berarti dia pintar.Kalau yang botaknya belakang dia pemikir.Lha ini botaknya mulai depan sampai belakang,berarti dia fikir dia pintar dong! Ah,ngapain jadi menceritakan suaminya?! Dia bernama Sutiyah.Bermata sayu berwajah sendu.Kesehariannya wanita berpayudara besar itu berdandan ala kadarnya.Sering berbaju terusan yang longgar dibagian lengan.Ini yang aku suka.Saat dia mengambil rokok dietalase, karena letaknya tinggi tentu tangannya terangkat.Nah aku jadi tahu kalau bulu ketiaknya lebat.Benarlah kata pepatah rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput dirumah sendiri.Dan Rumput ketiak Sutiyah lebih hijau eh maksudku lebih lebat dari istriku dirumah. Aku laki-laki berpengalaman dalam urusan merayu wanita-wanita bersuami untuk membawanya keatas ranjang.Sederhana saja,beri pujian pada sekecil apapun kelebihan yang ada padanya,kecuali berat badan.Lalu sentuh tangannya dan lihat reaksinya. Kalau matanya melotot ya sdh,cari yang lain. Gaya seperti ini kuterapkan juga pada Sutiyah.Setiap hari kusempatkan beli rokok diwarungnya. Mbak Sutiyah ini asli mana sih?tanyaku sambil menunggu kembalian uang darinya. Malang.memang kenapa? Ooo Malang,makanya kulitnya putih banget! masa sih?biasa aja kokkatanya dengan senyum sambil melihat kearah kulit lengannya.Sepertinya bangga nih. Uang kembalian kuterima dengan menyentuh tangannya seperti tak sengaja.Tak ada reaksi. Besoknya: Usianya berapa sih mbak?Pancingku Tiga enam.memang kenapa?jawabnya sambil menatap kearahku Ah yang bener!saya kira baru dua lima-an masa seh? Dia tersenyum bangga lagi.hidungnya kembang kempis, pikirku kena lu! Sejak itu aku makin berani.Menyentuh tangannya tanpa harus berpura-pura tak sengaja.Ia hanya tersenyum,tanpa berusaha menarik saat kugenggam.Dan matanya yang sayu itu bagai mengundang.Dan kemaluanku mengacung keras didalam sangkarnya.Aku meremas tangan halusnya sampai akhirnya dia berkata Jangan ah,nanti dilihat orang Aha!Dia hanya takut dilihat orang.Bagaimana kalau kedalam rumah.Tutup rapat pintu juga tirai jendela.Tentu tak akan ada orang yang melihat.Tentu ia akan membiarkanku

berbuat lebih dari sekedar menggenggam tangan.Ini hanya soal kesempatan.Kesempatan yang datang dua hari kemudian,dan dia yang menciptakan. Pagi itu istriku sudah berangkat kerja seperti biasa.Aku masuk kerja siang.Kulihat toko Sutiyah tutup tapi pintu rumahnya terbuka.Dia tampak duduk diteras. kok tutup? tanyaku.Mata lirik kiri lirik kanan,sekeliling tak ada orang. Lagi malas.Tapi kalau perlu rokok bisa aku ambilkan kok!tawarnya sambil langsung berdiri dan berjalan kearah pintu samping yang memang tembus ketokonya.Aku rasakan ini sebuah isyarat. Sekali lagi menoleh kiri kanan memastikan keadaan aman. Segera aku menyusul, berdiri dibelakangnya,menatap pinggul dan bongkahan pantat yang besar dibalik baju terusan longgarnya. Ia masih membelakangiku,berusaha membuka etalasenya. Ia tahu aku begitu dekat tapi ia membiarkannya. Rambutnya yang tidak terlalu panjang diikat memperlihatkan tengkuknya yang putih dan berbulu halus. dan aku mengecupnya. Diamenggelinjang. Aku makin tidak tahan untuk memeluk tubuhnya hingga tersentuhlah bagian pantatnya oleh penisku yang sudah membengkak. Jangan Dik ah sshh Jangan dari belakang maksudnya, hee..dengusku ditelinganya.Kini dua tanganku menyelinap dari bawah ketiak untuk bekerja pada dua bukit kembarnya. Ia makin bergelinjang,makin giat aku meremasnya. Payudaramu kenyal mbak,aku ingin netek Punya istrimu lebih kenyal.kan masih muda.Aduhgeli dik Lebih kenyal yang ini.sungguh.Ayo kekamarmu! Jangan,sebentar lagi anakku pulang. salahnya kenapa nggak dari tadi! lha tukang sayurtak kulanjutkan ucapanku. ini bukan waktunya berdebat,tapi waktunya membalikkan tubuh Sutiyah. Kami berhadapan kini. Matanya terpejam, bibir sensual tanpa gincu itu merekah. Segera kulumat dan ia membalasnya dengan panas dan bergairah. Lidahku menjelajah rongga mulutnya,mengait lidahnya.Ia bagai kesulitan bernafas.Lalu kulepas untuk kemudian beralih pada lehernya,kuangkat lengannya,lalu lidahku menempel pada ketiaknya yang selama ini hanya dapat kucuri pandang.Kujilati rumput lebat berbau khas itu,Sutiyah kegeliaan. Pindah kini pada payudara montoknya.Dua kancing kubuka,cukuplah,tanganku bisa merayap masuk langsung kebalik bh.Langsung kusingkap tempurung kain itu,tampaklah puting susu yang kecoklatan dan tegak.Kulumat dengan rakus dan Sutiyah mendesah ohhh..sshh.. Aku terus mengelitik dan melumat,sementara sebelah tanganku merayap kebawah,pada selangkangannya.waduh bos,ada penutupnya,tebal lagi!lapor tanganku pada otak.Otakku merespon:cepat diplorot!!.Lidahku protesaku belum puas bos,puting satunya

belum...jilat vaginanya,bodoh!nafsuku menyela dan otak mendukungYa ya ya,waktu kita tidak banyak! Segera aku berlutut diantara kaki Sutiyah.Kusibak setinggi mungkin bagian bawah gaun terusannya sampai aku dapat melihat selangkanganya.glek!aku menelan liur.Penutupnya telah kutarik, alangkah menggairahkan pemandangan didepanku kini.Vaginannya begitu tembam sedang rambutnya seperti dugaanku,hutan belantara! Sutiyah tetap berdiri,mengangkang,memberi kemudahan lidahku bermain sirkus diarena yang sempit namun basah itu. nghhh.ohh..sshh lamat kudengar Sutiyah merintih.Aku terus dan terus menjilat bahkan menelan lendir vaginanya. Sudahh dik,aku ga tahan..Ia menggigil, menarik kepalaku dari pangkala pahanya.Lalu dia berbalik,berisyarat agar aku segera memasukinya dari belakang. Sutiyah berdiri dengan setengah menungging.Kedua tangannya bertumpu pada pinggiran etalase.Aku hanya menurunkan celanaku sebatas lutut,lalu mengarahkan otot kejantanku pada belahan yang mengintip dari bawah pantat besarnya.jleb..jlebjleb aku langsung menggempur celah yang sempit itu.Sutiyah merintih dan mengerang tertahan,begitu juga aku.Kemudian dia lebih menunggingkan lagi pantatnya,sedang kakinya menjinjit oh..makin dalam penisku masuk. Duh enaknyaterus dik..ohhhhlebih keraas! plak,plak,plak, pantatnya tertampar tampar hempasan pinggulku yang kian menggila. memiawmu oh..memiawmu legit sekali Sutiyah..nghhh. ouhh cepetan dikaku mau keluarr Aku makin mempercepat gerakanku,karena akupun hampir ejakulasi.Kucengkram pinggulnya,lalu dengan satu sentakan panjang dan dalam menyemburlah lahar kejantananku dalam lubang surganya. Sutiyah cepat-cepat menarik diri.Memakai kembali celana dalamnya yang tadi berserakan dilantai.Aku menaikkaan kolorku dengan malas-malasan.Kedua kaki masih terasa lemas sedikit gemetar ketika Sutiyah berkataNih rokoknya,cepat keluar nanti anakku keburu pulang!.Aku menjelang pintu ketika dia bersuara lagiEh dik,duitnya belum! Sutiyah.oh Sutiyah!