Anda di halaman 1dari 14

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Infeksi Menular Seksual 2.1.1. Definisi dan Epidemiologi Infeksi Menular Seksual Penyakit kelamin (veneral diseases) sudah lama dikenal dan beberapa di antaranya sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat, banyak ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi sexually transmitted disease (STD) atau Penyakit Menular Seksual (PMS) (Hakim, 2009; Daili, 2009). Perubahan istilah tersebut memberi dampak terhadap spektrum PMS yang semakin luas karena selain penyakit-penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit kelamin (VD) yaitu sifilis, gonore, ulkus mole, limfogranuloma venerum dan granuloma inguinale juga termasuk uretritis non gonore (UNG), kondiloma akuminata, herpes genitalis, kandidosis, trikomoniasis, bakterial vaginosis, hepatitis, moluskum kontagiosum, skabies, pedikulosis, dan lain-lain. Sejak tahun 1998, istilah STD mulai berubah menjadi STI (Sexually Transmitted Infection), agar dapat menjangkau penderita asimtomatik (Hakim, 2009; Daili, 2009). Peningkatan insidens IMS dan penyebarannya di seluruh dunia tidak

dapat diperkirakan secara tepat. Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang intensif akan menurunkan insiden IMS atau paling tidak insidennya relatif tetap. Namun demikian, di sebagian besar negara, insiden IMS relatif masih tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru beserta komplikasi medisnya antara lain kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan pertumbuhan, kanker bahkan juga kematian memerlukan penanggulangan, sehingga hal ini akan meningkatkan biaya kesehatan. Selain itu pola infeksi juga mengalami perubahan, misalnya infeksi klamidia, herpes genital, dan kondiloma akuminata di beberapa negara cenderung meningkat dibanding uretritis gonore dan sifilis. Beberapa penyakit infeksi sudah resisten terhadap

Universitas Sumatera Utara

antibiotik, misalnya munculnya galur multiresisten Neisseria gonorrhoeae, Haemophylus ducreyi dan Trichomonas vaginalis yang resisten terhadap metronidazole. Perubahan pola infeksi maupun resistensi tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya (Hakim, 2009; Daili, 2009). Menurut Hakim (2009) dalam Daili (2009), perubahan pola distribusi maupun pola perilaku penyakit tersebut di atas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu: 1. Faktor dasar a) Adanya penularan penyakit b) Berganti-ganti pasangan seksual 2. Faktor medis a) Gejala klinis pada wanita dan homoseksual yang asimtomatis b) Pengobatan modern c) Pengobatan yang mudah, murah, cepat dan efektif, sehingga risiko resistensi tinggi, dan bila disalahgunakan akan meningkatkan risiko penyebaran infeksi. 3. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan pil KB hanya bermanfaat bagi pencegahan kehamilan saja, berbeda dengan kondom yang juga dapat digunakan sebagai alat pencegahan terhadap penularan IMS. 4. Faktor sosial a) Mobilitas penduduk b) Prostitusi c) Waktu yang santai d) Kebebasan individu e) Ketidaktahuan Peningkatan insidens tidak terlepas dari kaitannya dengan perilaku risiko tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa penderita sifilis melakukan hubungan seks rata-rata sebanyak 5 pasangan seksual yang tidak diketahui asal-usulnya, sedangkan penderita gonore melakukan hubungan seksual dengan rata-rata 4 pasangan seksual (Daili, 2009).

Universitas Sumatera Utara

Menurut Hakim (2009) dalam Daili (2009), yang tergolong kelompok risiko tinggi adalah: 1. Usia a) 20-34 tahun pada laki-laki b) 16-24 tahun pada wanita c) 20-24 tahun pada kedua jenis kelamin 2. Pelancong 3. Pekerja seksual komersial atau wanita tuna susila 4. Pecandu narkotik 5. Homoseksual

2.1.2. Penyebab Infeksi Menular Seksual Menurut Handsfield (2001), infeksi menular seksual dapat diklasifikasikan menurut agen penyebabnya, yakni: a. Dari golongan bakteri, yakni Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis, granulomatis, Haemophilus Ureaplasma ducreyi,

Calymmatobacterium

urealyticum,

Mycoplasma hominis, Gardnerella vaginalis, Salmonella sp., Shigella sp., Campylobacter sp., Streptococcus grup B., Mobiluncus sp. b. Dari golongan protozoa, yakni Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, dan protozoa enterik lainnya. c. Dari golongan virus, yakni Human Immunodeficiency Virus (tipe 1 dan 2), Herpes Simplex Virus (tipe 1 dan 2), Human Papiloma Virus (banyak tipe), Cytomegalovirus, Epstein-Barr Virus, Molluscum contagiosum virus, dan virus-virus enterik lainnya. d. Dari golongan ekoparasit, yakni Pthirus pubis, Sarcoptes scabei. Sedangkan menurut Daili (2009), selain disebabkan oleh agen-agen diatas, infeksi menular seksual juga dapat disebabkan oleh jamur, yakni jamur Candida albicans

Universitas Sumatera Utara

2.1.3. Cara Penularan Infeksi Menular Seksual Cara penularan IMS adalah dengan cara kontak langsung yaitu kontak dengan eksudat infeksius dari lesi kulit atau selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang telah tertular. Lesi bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas. Pemajanan hampir seluruhnya terjadi karena hubungan seksual (vaginal, oral, anal). Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu : Melalui darah : 1. transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV. 2. saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba. 3. tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/ tidak sengaja. 4. menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril. 5. penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika terluka dan menyisakan darah pada alat). 6. dari ibu kepada bayi: saat hamil, saat melahirkan, dan saat menyusui. Menurut Depkes RI (2006), penularan infeksi menular seksual dapat melalui beberapa cara, yakni bisa melalui hubungan seksual, berkaitan dengan prosedur medis (iatrogenik), dan bisa juga berasal dari infeksi endogen. Infeksi endogen adalah infeksi yang berasal dari pertumbuhan organisme yang berlebihan secara normal hidup di vagina dan juga ditularkan melalui hubungan seksual. Sedangkan infeksi menular seksual akibat iatrogenik disebabkan oleh prosedurprosedur medis seperti pemasangan IUD (Intra Uterine Device), aborsi dan proses kelahiran bayi.

2.1.4. Gejala Klinis dan Diagnosa Infeksi Menular Seksual Terkadang infeksi menular seksual tidak memberikan gejala, baik pria maupun wanita. Beberapa infeksi menular seksual baru menunjukkan gejalanya berminggu-minggu, berbulan-bulan, maupun bertahun-tahun setelah terinfeksi (Lestari, 2008). Mayoritas infeksi menular seksual tidak memberikan gejala (asimtomatik) pada perempuan (60-70% dari infeksi gonore dan klamidia). Pada perempuan, konsekuensi infeksi menular seksual sangat serius dan kadang-kadang

Universitas Sumatera Utara

bersifat fatal (misalnya kanker serviks, kehamilan ektopik, dan sepsis). Konsekuensi juga terjadi pada bayi yang dikandungnya, jika perempuan tersebut terinfeksi pada saat hamil (bayi lahir mati, kebutaan) (Kesrepro, 2007). Gejala infeksi menular seksual bisa berupa gatal dan adanya sekret di sekitar alat kelamin, benjolan atau lecet disekitar alat kelamin, bengkak disekitar alat kelamin, buang air kecil yang lebih sering dari biasanya, demam, lemah, kulit menguning dan rasa nyeri disekujur tubuh, kehilangan berat badan, diare, keringat malam, pada wanita bisa keluar darah diluar masa menstruasi, rasa panas seperti terbakar atau sakit saat buang air kecil, kemerahan disekitar alat kelamin, rasa sakit pada perut bagian bawah pada wanita diluar masa menstruasi, dan adanya bercak darah setelah berhubungan seksual (WHO, 2001). Diagnosis infeksi menular seksual dilakukan melalui proses anamnesa, diikuti pemeriksaan fisik, dan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium (Daili, 2009).

2.1.5. Komplikasi Infeksi Menular Seksual Infeksi menular seksual yang tidak ditangani dapat menyebabkan kemandulan, merusak penglihatan, otak dan hati, menyebabkan kanker leher rahim, menular pada bayi, rentan terhadap HIV, dan beberapa infeksi menular seksual dapat menyebabkan kematian (Dinkes Surabaya, 2009).

2.1.6. Pencegahan Infeksi Menular Seksual Menurut WHO (2006), pencegahan infeksi menular seksual terdiri dari dua bagian, yakni pencegahan primer dan pencegahan sekunder. Pencegahan primer terdiri dari penerapan perilaku seksual yang aman dan penggunaan kondom. Sedangkan pencegahan sekunder dilakukan dengan menyediakan pengobatan dan perawatan pada pasien yang sudah terinfeksi oleh infeksi menular seksual. Pencegahan sekunder bisa dicapai melalui promosi perilaku pencarian pengobatan untuk infeksi menular seksual, pengobatan yang cepat dan tepat pada pasien serta pemberian dukungan dan konseling tentang infeksi menular seksual dan HIV.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Depkes RI (2006), langkah terbaik untuk mencegah infeksi menular seksual adalah menghindari kontak langsung dengan cara berikut: a. Menunda kegiatan seks bagi remaja (abstinensia). b. Menghindari bergonta-ganti pasangan seksual. c. Memakai kondom dengan benar dan konsisten. Selain pencegahan diatas, pencegahan infeksi menular seksual juga dapat dilakukan dengan mencegah masuknya transfusi darah yang belum diperiksa kebersihannya dari mikroorganisme penyebab infeksi menular seksual, berhatihati dalam menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan darah segar, mencegah pemakaian alat-alat yang tembus kulit (jarum suntik, alat tindik) yang tidak steril, dan menjaga kebersihan alat reproduksi sehingga meminimalisir penularan (Dinkes Surabaya, 2009).

2.2. Bahaya dan Dampak Sosial Terhadap Penderita Infeksi Menular Seksual Sepuluh tahun terakhir, IMS (terutama HIV/ AIDS) meningkat jumlahnya dan sangat mempengaruhi kehidupan berjuta-juta orang di seluruh dunia. Pada beberapa orang dan rumah tangga, efek dari HIV/ AIDS menjadi berlipat ganda. Selain meningkatkan ketidaknormalan dan kematian, juga mengakibatkan kelumpuhan total yang dapat mengancam produktivitas di sektor ekonomi keluarga maupun secara makro. Secara garis besar, dampak sosial terhadap penderita IMS (Infeksi Menular Seksual) terutama HIV/ AIDS terbagi beberapa kategori, yaitu:

Ekonomi dan Demografi, produktivitas pembangunan dan produksi pertanian, penekanan pada sektor kesehatan, rumah tangga dan keluarga, anak-anak, wanita, diskriminasi HIV/AIDS serta dampak HIV/AIDS terhadap seseorang (Kader Karang Taruna Jatim, 2001). 1. Ekonomi dan demografi Dampak ekonomi dari IMS dan HIV/ AIDS dapat memberikan kerugian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian secara langsung melalui kegiatan pencegahan, pengobatan, dan penelitian. Sedangkan kerugian

Universitas Sumatera Utara

secara tidak langsung antara lain kehilangan harapan hidup yang diakibatkan oleh IMS/ AIDS itu sendiri. Upaya untuk menilai kerugian yang ditimbulkan oleh IMS serta HIV/ AIDS sangat luar biasa, dimana hal ini perlu dilakukan seiring dengan kebutuhan akan pengukuran value of persons life terhadap pendapatan seseorang. Jadi dapat dikatakan bahwa dampak dari IMS serta HIV/ AIDS adalah kehilangan pendapatan. 2. Produktivitas Dampak dari IMS, HIV/ AIDS terhadap tingkat produktivitas tidak hanya meningkatkan ketidaknormalan dan kematian, tetapi juga meningkatkan ketidakhadiran pekerja karena kesakitan. Pada beberapa kasus AIDS mengakibatkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan

kesehatan dan otomatis menjadi member atau langganan dari pusat pelayanan kesehatan tersebut. Selain itu IMS/ AIDS dapat menurunkan produktivitas. Adanya pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja yang terinfeksi HIV, tidak hanya akan meniadakan pendapatan pekerja tersebut, tetapi juga kesempatan berkontribusi di sektor ekonomi, diskriminasi di tempat kerja. Hal ini dilaporkan hampir terjadi di semua bagian. 3. Pembangunan dan produksi pertanian Seperti juga di sektor-sektor lain diatas, perusahaan dan sumber mata pencaharian di bidang pertanian juga terkena dampak dari terjadinya penyakit menular seksual seperti HIV/ AIDS, antara lain dapat mengakibatkan kemiskinan seseorang maupun masyarakat pertanian di seluruh sistem ekologi yang ada serta kerugian sosial yang tidak terukur dengan nilai.

2.3. Upaya Pengendalian IMS IMS merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk dikendalikan secara cepat dan tepat, karena mempunyai dampak selain pada aspek kesehatan juga politik dan sosial ekonomi. Kegagalan diagnosa dan terapi pada tahap dini mengakibatkan terjadinya komplikasi serius seperti infertilitas,

Universitas Sumatera Utara

kehamilan ektopik, disfungsi seksual, kematian janin, infeksi neonatus, bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), kecacatan bahkan kematian. Prinsip umum pengendalian IMS adalah bertujuan untuk memutus rantai penularan infeksi IMS dan mencegah berkembangnya IMS dan komplikasinya. Tujuan tersebut dapat dicapai bila ada penyatuan semua sumber daya dan dana untuk kegiatan pengendalian IMS, termasuk HIV/ AIDS (Kader Karang Taruna Jatim, 2001). Upaya tersebut meliputi: 1. Upaya promotif a. Pendidikan seks yang tepat untuk mengikis ketidaktahuan tentang seksualitas dan IMS. b. Meningkatkan pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama untuk tidak berhubungan seks selain pasangannya. c. Menjaga keharmonisan hubungan suami istri tidak menyeleweng untuk meningkatkan ketahanan keluarga. 2. Upaya preventif a. Hindari hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan atau dengan pekerja seks komersial (WTS). b. Bila merasa terkena IMS, hindari melakukan hubungan seksual. c. Bila tidak terhindarkan, untuk mencegah penularan pergunakan kondom. d. Memberikan penyuluhan dan pemeriksaan rutin pada kelompok risiko tinggi. e. Penyuluhan dan pemeriksaan terhadap partner seksual penderita IMS. 3. Upaya kuratif a. Peningkatan kemampuan diagnosis dan pengobatan IMS yang tepat. b. Membatasi komplikasi dengan melakukan pengobatan dini dan efektif baik simtomatik maupun asimtomatik. 4. Upaya rehabilitatif a. Memberikan perlakuan yang wajar terhadap penderita IMS, tidak mengucilkannya, terutama oleh keluarga dan partnernya, untuk

mendukung kesembuhannya.

Universitas Sumatera Utara

2.4.

Pengetahuan

2.4.1. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni: indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman, indera perasa dan indera peraba. Pengetahuan seorang individu terhadap sesuatu dapat berubah dan berkembang sesuai kemampuan, kebutuhan, pengalaman dan tinggi rendahnya mobilitas informasi tentang sesuatu

dilingkungannya (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan tentang infeksi menular seksual harus dimiliki seorang siswi sehingga terhindar dari dampak negatif dari penyakit-penyakit infeksi menular seksual.

2.4.2. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif (cognitive domain) mempunyai 6 tingkatan,yaitu: a. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahun tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, Tahu ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang lebih rendah. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu atau kondisi yang riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

Universitas Sumatera Utara

d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang baru dari formula-formula yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2007).

2.4.3. Proses Penyerapan Ilmu Pengetahuan Menurut Penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2003), bahwa suatu pesan yang diterima oleh setiap individu akan melalui lima tahapan-tahapan berurutan sebelum individu tersebut mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), yaitu: a. Awareness (Kesadaran) Awareness adalah keadaan dimana seseorang sadar bahwa ada suatu pesan yang disampaikan. b. Interest (Merasa Tertarik) Interest adalah seorang mulai tertarik akan isi pesan yang disampaikan. c. Evaluation (Menimbang-nimbang) Evaluation merupakan tahap dimana penerima pesan mulai mengadakan penilaian keuntungan dan kerugian dari isi pesan yang disampaikan. d. Trial (Mencoba) Trial merupakan tahap dimana penerima pesan mencoba mempraktekkan isi pesan yang didengarkan.

Universitas Sumatera Utara

e. Adaption (Adapsi) Adaption merupakan tahap dimana penerima pesan mempraktekkan dan melaksanakan isi pesan dalam kehidupan sehari-hari.

2.4.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Menurut pengetahuan ialah: a. Pengalaman Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. b. Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. c. Keyakinan Biasanya keyakinan diperoleh secara turun-temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif. d. Fasilitas Fasilitas fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuann seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku. e. Penghasilan Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas fasilitas sumber informasi. f. Sosial Budaya Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu. Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi

Universitas Sumatera Utara

2.5. Remaja 2.5.1. Defenisi Remaja Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja

(adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara PBB menyebut anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam terminologi kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun.

2.5.2. Gambaran Kaum Remaja di Indonesia Kaum remaja Indonesia saat ini mengalami lingkungan sosial yang sangat berbeda daripada orangtuanya. Dewasa ini, kaum remaja lebih bebas mengekspresikan dirinya, dan telah mengembangkan kebudayaan dan bahasa khusus antara grupnya. Sikap-sikap kaum remaja atas seksualitas dan soal seks ternyata lebih liberal daripada orangtuanya, dengan jauh lebih banyak kesempatan mengembangkan hubungan lawan jenis, berpacaran, sampai melakukan hubungan seks (Creagh, 2004). Menurut hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 1999 oleh Sahabat Remaja, suatu cabang LSM Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), 26% dari 359 remaja di Yogyakarta mengaku telah melakukan hubungan seks. Menurut PKBI, akibat derasnya informasi yang diterima remaja dari berbagai media massa, memperbesar kemungkinan remaja melakukan praktek seksual yang tak sehat, perilaku seks pra-nikah, dengan satu atau berganti pasangan (Bening, 2004). Saat ini, kekurangan informasi yang benar tentang masalah seks akan memperkuatkan kemungkinan remaja percaya salah paham yang diambil dari media massa dan teman sebaya. Akibatnya, kaum remaja masuk ke kaum berisiko melakukan perilaku berbahaya untuk kesehatannya. Dengan 87.5% remaja perkotaan menghadiri SMP dan 66.0% remaja perkotaan menghadiri SMA, ruang sekolah merupakan satu segi masyarakat yang mampu bertindak memberikan Pendidikan Seks kepada kaum remaja Indonesia (Creagh, 2004).

Universitas Sumatera Utara

2.5.3. Kebijakan Pemerintah RI terhadap Pendidikan Seks di Sekolah Sampai sekarang, pemerintah Republik Indonesia belum meresmikan persis Pendidikan Seks di ruang sekolah. Cara pengajaran dan materi dipakai untuk mengajar Pendidikan Seks diserahkan kepada setiap sekolah, sesuai dengan keinginan sekolahnya. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Indonesia, atau BKKBN, adalah Dinas pemerintah yang bertanggung jawab untuk hal kesehatan reproduksi di Indonesia, termasuk penilaian kebutuhan masyarakat,

pengembangan dan mengadakan program kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. Meskipun BKKBN berhasil mempromosikan penggunaan alat-alat kontrasepsi dan keluarga berencana sejak tahun 1980an, semua program dalam bidang ini memfokuskan wanita yang sudah menikah dengan tujuan mengurangi jumlah penduduk Indonesia (Utomo, 2003). Di ruang sekolah, kebijakan berkaitan dengan kesehatan reproduksi mulai masuk pada tahun 1980an, dengan tujuan mendidik dan menyadari generasi muda tentang kesehatan reproduksi bertanggung jawab dalam rangka urusan jumlah penduduk. Pada tahun 1997, demi keprihatinan soal HIV/AIDS di Indonesia, membangunkan program pendidikan mengenai HIV/AIDS di ruang sekolah. Tetap menjadi kenyataan, bahwa program-program ini tidak berhasil dimasukkan Kurikulum Nasional. Menurut studi penelitian dilakukan pada tahun 2000, fokusnya Pendidikan Seks di sekolah-sekolah Indonesia adalah pengetahuan reproduksi seksual secara biologis, daripada masalah seks di konteks sosial. Hubungan seks pra-nikah sama sekali tidak didukung, suatu norma masyarakat yang dicerminkan di rangka sekolahan. Topik mengenai masalah seks yang diajari sekolah SD terfokus pada reproduksi, perbedaan anatomi pria dan wanita, dan perubahaan jasmani pas pubertas. Di tingkat SMP dan SMA, pendekatan Pendidikan Seks ditambah dengan soal keluarga berencana dan HIV/AIDS. Di pelajaran seperti ini, HIV disebut virus AIDS, dan sering tak membedakan antara HIV dan AIDS. Pokokpokok Pendidikan Seks, the ABCs (Abstinence, Be faithful, or use Condoms Penahanan Nafsu, Kesetiaan, atau memakai Kondom) yang sudah lama didukung

Universitas Sumatera Utara

WHO bukan diajari sekolah Indonesia, melainkan oleh pendidik pengunjung (Smith, 2000).

Universitas Sumatera Utara