Anda di halaman 1dari 55

4/4/2011

Disajikan Oleh: Dr. dr. Trihono, MSc


Makasar, 21 24 Maret 2011

IPKM
Sebagai Dasar Kebijakan Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan
Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI

4/4/2011

Riskesdas IPKM

PDBK

Manfaat Riskesdas
DATA RISKESDAS (Public Domain) ANALISIS/ LAPORAN INPUT KEBIJAKAN

EVALUASI

IMPLEMENTASI PROGRAM

PERENCANAAN

4/4/2011

Manfaat Riskesdas
DATA RISKESDAS (Public Domain) ANALISIS LANJUT

IPKM
DBKB/K

INOVASI KEKBIJAKAN PROGRAM

PDBK

Pokok bahasan
1.

2.

3. 4.

5.

Latar belakang, batasan, tujuan dan manfaat IPKM Perumusan IPKM (Rangkaian kegiatan, Alternatif IPKM, Penentuan IPKM terpilih) Kemiskinan dan IPKM Perumusan DBKBK (Daerah Bermasalah Kesehatan Berat/Khusus) Kesimpulan

4/4/2011

1. Latar belakang

Salah satu indikator penting dalam pembangunan adalah HDI (Human Development Index) HDI terdiri dari:

Indeks ekonomi (pendapatan riil per kapita) Indeks pendidikan (angka melek huruf dan lama sekolah) Indeks kesehatan (umur harapan hidup waktu lahir)

Unsur HDI & Intervensinya

Ekonomi: pendapatan per kapita, intervensinya jelas: pertumbuhan ekonomi dan pemerataan melalui perluasan lapangan kerja Pendidikan: melek huruf dan lama sekolah, intervensinya jelas: wajib belajar 9 tahun akan meningkatkan indeks pendidikan. Kesehatan: umur harapan hidup waktu lahir, intervensinya? Harus dijabarkan lebih lanjut Diperlukan rumusan program yang nyata

4/4/2011

HDI Indonesia dan Negara Tetangga


Urutan Negara 4 27 28 63 81 Australia Brunei Singapore Malaysia Thailand HDI LE LR .. ER GDP LEI EI GDPI 0.968 1.000 1.000 0.806 0.723 0.965 81.0 114.2 33,035 0.934 0.993 78.5 49,898 0.865 0.892 64.4 47,426 0.911 0.843 71.5 12,536 0.815 0.848 78.0 7,613 0.750 0.886

0.919 76.9 94.6 0.918 79.7 94.2 0.823 73.9 91.5 0.786 70.0 93.9

102
109 114 135 136 158

Philippines
Indonesia Viet Nam Myanmar Cambodia Timor-Leste World

0.745 71.3 93.3


0.726 70.1 91.0 0.718 74.0 90.3 0.585 61.2 89.9 0.575 58.6 75.6 0.483 60.2 50.1 0.747 68.3 81.0

79.6
68.2 62.3 56.3 58.7 63.2 67.0

3,153 0.772 0.887


3,455 0.752 0.834 2,363 0.816 0.810 881 0.604 0.787 1,619 0.561 0.700 668 0.586 0.545 9,316 0.722 0.763

0.576
0.591 0.528 0.363 0.465 0.317 0.757

HDI Provinsi di Indonesia


Propinsi 31. DKI Jakarta 32. Jawa Barat 33. Jawa Tengah 34. Yogyakarta 35. Jawa Timur 36. Banten HDI 2004 2005 2006 2007 75,8 69,1 68,9 72,9 62,2 76,1 69,9 69,8 73,5 68,4 76,3 76,59 70,3 70,71 70,3 70,92 73,7 74,15 69,2 69,78 69,1 69,29

619,2 68,8

4/4/2011

HDI Kab/kota di Indonesia


Kabupaten/Kota 01. Bogor 02. Sukabumi 03. Cianjur 04. Bandung 05. Garut 06. Tasik Malaya 07. Ciamis 08. Kuningan 09. Cirebon HDI 2004 2005 2006 68,3 69,2 69,7 67,9 68,7 68,9 66,1 66,8 67,1 70,7 72,4 72,6 67,3 68,7 69,5 69,1 70,4 70,9 67,8 69,3 69,8 67,7 68,5 69,2 65,1 66,0 66,3 2007 70,08 69,21 67,65 72,97 69,99 71,24 70,14 69,70 67,30

Kebijakan Pembangunan

HDI dijadikan indikator pembangunan daerah, banyak Bupati/Walikota dan Gubernur yang mengacu ke HDI Untuk kesehatan, indikator yang masuk dalam IPM adalah Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) Dari UHH ke program kesehatan, sulit penjabarannya Riskesdas menyajikan data yang sangat kaya. Bisakah dikemas indikator komposit yang berkaitan dengan UHH? IPKM

4/4/2011

Hubungan IPM - IPKM


IPM / HDI
Ekonomi Pendidikan Kesehatan

Umur Harapan Hidup (UHH)

Diurai lebih lanjut dengan IPKM (24 indikator kesehatan)

Batasan IPKM

IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) adalah indikator komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan, dirumuskan dari data kesehatan berbasis komunitas yaitu:

Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Susenas (Survei Ekonomi Nasional) Survei Podes (Potensi Desa)

IPKM merupakan indeks komposit yang dirumuskan dari 24 indikator kesehatan

4/4/2011

Tujuan

Diketahuinya IPKM untuk tiap kabupaten/kota, dapat dibuat peringkat kabupaten/kota berdasarkan kemajuan pembangunan kesehatan. Diketahuinya indikator kesehatan yang tertinggal di masing-masing kabupaten/kota, sehingga bisa dirumuskan pogram intervensi yang lebih tepat.

Manfaat IPKM
Digunakan untuk: Menentukan peringkat kab/kota dalam pembangunan kesehatan. Advokasi ke Pemda agar terpacu menaikkan peringkatnya, sehingga sumber daya dan program kesehatan diprioritaskan. Sebagai dasar penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari Pusat ke Daerah (provinsi maupun kab/kota).

4/4/2011

2. Perumusan IPKM

Diperlukan waktu hampir 1 tahun untuk merumuskan IPKM. Dilakukan serangkaian diskusi intensif secara berkala, baik intern Balitbangkes maupun diskusi dengan para pakar kesehatan masyarakat Meminta IAKMI memfasilitasi pertemuan pakar yang membahas rancangan IPKM Serangkaian pertemuan itu antara lain

Perumusan IPKM
Mar Mei 2009 16-19 Juni 2009 9-10 Juli 2009 10-11 Agus 2009 14-17 Okt 2009 4 - 6 Nov 2009 Serangkaian diskusi intern Balitbangkes Diskusi IPKM lintas sektor dan pakar di Hotel Mutiara Bandung Debat Ilmiah IPKM di Wisma MakaraDepok Diseminasi konsep IPKM ke lintas sektor di Hotel Horison Bekasi Pengembangan alternatif IPKM di Hotel Aquila Bandung Lokakarya IPKM oleh IAKMI dan pakar kesmasdi Wisma Ciumbeuluit Bandung

4/4/2011

Perumusan IPKM
4 - 5 Des 2009 7 Des 2009 IPKM untuk perumusan Daerah Bermasalah Kesahatan, Hotel Aquila Bandung Diseminasi konsep IPKM di Simposium Nasional, Balai Kartini Jakarta Pertemuan tim kecil IPKM di Bogor Perumusan IPKM teoritis di Hotel Parklane Jakarta Presentasi IPKM dihadapan Menkes dan Pejabat Eselon I & II di Ruang Leimena Presentasi IPKM kepada UNFPA dan donor agencies lainnya di Menara Thamrin Jakarta

15-16 Des 2009 23-24 Des 2009 Januari 2010 15 Mar 2010

Perumusan IPKM

Riskesdas, menghasilkan prevalensi / proporsi masalah kesehatan per kabupaten/kota Susenas, menghasilkan prevalensi / proporsi masalah kesehatan per kabupaten/kota Podes, menghasilkan data SDM dan fasilitas kesehatan per kabupaten/kota

10

4/4/2011

Perumusan IPKM
Riskesdas Indikator Kesehatan Susenas Indikator Kesehatan Podes Indikator Kesehatan

Diseleksi berdasarkan substansi dan representasi tingkat kab/kota oleh para pakar dan praktisi

Terpilih 24 Indikator Kesehatan yang kemudian dirumuskan menjadi IPKM

Perumusan IPKM

Dikembangkan 22 alternatif IPKM Variasi terjadi:


Jenis dan jumlah indikator yang dipilih Ada dan besarnya bobot antar indikator Pelakuan terhadap angka prevalensi (hanya untuk tentukan peringkat, ada penyetaraan antar prevalensi, atau apa adanya)

Semua alternatif dilakukan uji korelasi dengan UHH (umur hrapan hidup), dipilih yang tertinggi.

11

4/4/2011

Alternatif IPKM
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Alternatif Alternatif 1 Alternatif 2 a Alternatif 2 b Alternatif 2 c Alternatif 2 d Alternatif 2 e Alternatif 3 Alternatif IAKMI a Alternatif IAKMI b Indikator Bobot Prevalensi 18 18 18 12 18 12 18 20 21 (+) (-) (-) (-) (-) (+) (+) (+) (+) model A model B model B model B model B model B model B model C model C Ket gugur 0.455(**) 0.429(**) 0.449(**) 0.406(**) 0.398(**) 0.292(**) 0.449(**) 0.446(**) r

Alternatif IPKM
No Alternatif Indikator Bobot Prevalensi 21 22 20 24 20 20 20 20 20 (+) (+) (+) (-) (-) (-) (+) (+) (+) model C model C model C model A model A model A model C model C model C gugur gugur gugur gugur 0.489(**) 0.496(**) Ket r 0.439(**) 0.436(**) 0.438(**) 10 Alternatif IAKMI c 11 Alternatif IAKMI d 12 Alternatif IAKMI e 13 Alternatif 4 14 Alternatif 5a 15 Alternatif 5b 16 IPKM teoritis 17 IPKM empiris 18 IPKM MDG's

12

4/4/2011

Alternatif IPKM
No Alternatif Indikator Bobot Prevalensi 24 24 24 24 (+) (+) (+) (-) model C model C model C model C Ket r 0.505(**) 0.512(**) 0.505(**) 0,505(**)

19 Alternatif 24 indi a) 20 Alternatif 24 indi b) 21 Alternatif 24 indi c) 22 Alternatif 24 indi d)

Ke 4 alternatif terakhir menggunakan indikator yang sama, perbedaannya adalah: a) Ratio dr/rata2 penduduk puskesmas dan bidan/rata2 penduduk desa b) Ratio dr/puskesmas (idealnya 1 dr untuk 1 puskesmas) dan bidan/desa (1 bidan untuk 1 desa) c) Ratio dr/penduduk dan bidan/penduduk (40 dr dan 100 bidan per 100.000 pdd) d) Rato dr/penduduk dan bidan/penduduk, ratio dikalikan 100, ideal sama dng c)

Indikator yang masuk


Variabel Prev. balita gizi buruk dan kurang Prev. balita sangat pendek & pendek Prev. balita sangat kurus dan kurus Prevalensi balita gemuk Prevalensi diare Prevalensi pnemonia Prevalensi hipertensi Bobot 5 5 5 4 4 4 4

13

4/4/2011

Indikator yang masuk


Variabel Prevalensi gangguan mental Prevalensi asma Prevalensi penyakit gigi dan mulut Prevalensi Disabilitas Prevalensi Cedera Prevalensi Penyakit Sendi Prevalensi ISPA Bobot 3 3 3 3 3 3 3

Indikator yang masuk


Variabel Proporsi perilaku cuci tangan Proporsi merokok tiap hari Akses air bersih Akses sanitasi Cakupan persalinan oleh nakes Cakupan pemeriksaan neonatal-1 Cakupan imunisasi lengkap Cakupan penimbangan balita Ratio Dokter/Puskesmas Ratio Bidan/desa Bobot 4 3 5 5 5 5 5 5 5 5

14

4/4/2011

IPKM

Nilai berkisar antara 0 (terburuk) 1 (terbaik) Yang terbaik adalah kondisi ideal (secara teoritik) Dari 440 Kabupaten/Kota Riskesdas, nilai berkisar antara:

Terrendah: 0,247059 (Pegunungan Bintang, Papua) Tertinggi: 0,708959(Kota Magelang, Jateng)

Peringkat 20 besar teratas


Peringkat 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 IPKM 0,708959 0,706451 0,704497 0,694835 0,691480 0,685481 0,680316 0,680142 0,679631 0,678957 Kabupaten/Kota Kota Magelang Gianyar Kota Salatiga Kota Yogyakarta Bantul Sukoharjo Sleman Balikpapan Kota Denpasar Kota Madiun

15

4/4/2011

Peringkat 20 besar teratas


Peringkat 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 IPKM 0,672752 0,672242 0,663828 0,659259 0,658937 0,656839 0,656550 0,656258 0,655481 0,653035 Kabupaten/Kota Kota Metro Badung Tabanan Kota Medan Kota Batu Kuningan Kota Jambi Kota Pasuruan Kota Jakarta Selatan Kota Mojokerto

Peringkat 20 besar terbawah


Peringkat 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 IPKM 0,359507 0,357076 0,352756 0,350624 0,333381 0,327692 0,321211 0,314795 0,302086 0,301325 Kabupaten/Kota Mandailing nata Sumba Timur Murung Raya Jeneponto Nias Sampang Manggarai Barat Jayawijaya Tolikara Mamasa

16

4/4/2011

Peringkat 20 besar terbawah


Peringkat 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 IPKM 0,299731 0,295536 0,294741 0,292974 0,291263 0,288243 0,283220 0,282181 0,271275 0,247059 Kabupaten/Kota Mappi Asmat Seram Bagian Timur Yahukimo Nias Selatan Paniai Manggarai Puncak Jaya Gayo lues Pegunungan Bintang

3. Kemiskinan dan IPKM

Kesehatan berhubungan erat dengan kemiskinan. Secara agregat IPKM juga berhubungan dengan proporsi penduduk miskin per kab/kota. Hasil uji anova (analisis of varians) kab/kota kaya, miskin dan sangat miskin menunjukkan rerata IPKM yang berbeda secara bermakna Kelompok kab/kota sangat miskin (proporsi penduduk miskin > 35,87% ) mempunyai rerata nilai IPKM yang paling rendah.

17

4/4/2011

Kemiskinan dan IPKM


% penduduk miskin >=35.87 18.4-35.86 <18.4 Total N 27 164 249 440 Mean 0,395030 0,476461 0,542133 0,508629 SD 0,083025 0,081426 0,083040 0,092642

Uji Anova: p < 0.05 antar kelompok Secara statistik berbeda bermakna antar kelompok kab/kota berdasarkan proporsi penduduk miskin

4. Perumusan Daerah Bermasalah Kesehatan Berat (DBKB)

Dilihat dari peringkat kab/kota berdasarkan IPKM, makin bawah peringkatnya makin buruk dan makin kompleks masalah kesehatannya, karena banyak indikator kesehatan yang tertinggal. Untuk menentukan kelompok kab/kota yang dikategorikan bermasalah kesehatan berat, digunakan ukuran (Mean 1 SD).

18

4/4/2011

IPKM Kab/Kota

N = 440 Mean = 0,508629 SD = 0,092642 Batas = 0,415987

IPKM Kab dan IPKM Kota

N = 349 Mean = 0,482541 SD = 0,083391 Batas = 0,399150

N = 91 Mean = 0,608678 SD = 0,047058 Batas = 0,561620

19

4/4/2011

Batasan DBKBK

Daerah Bermasalah Kesehatan Berat (DBKB) adalah daerah kabupaten atau kota yang mempunyai nilai IPKM < (rerata IPKM 1 SD) masing2 kelompok (kabupaten atau kota). Sebagian besar pada kab/kota miskin dan ada juga pada kab/kota non-miskin Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah daerah kabupaten atau kota yang nilai IPKM > DBKB, tetapi < rerata IPKM dan pendataan sosial ekonomi (PSE) > rerata untuk masing2 kelompok kabupaten dan kota

Batasan

Daerah Bermasalah Kesehatan Khusus (DBKK) adalah daerah kabupaten atau kota yang mempunyai masalah yang khusus, bisa berkaitan dengan:

Geografi, yaitu daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan. Sosial budaya, yaitu tradisi atau adat kebiasaan yang mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan. Misalnya tradisi sei untuk bayi baru lahir di Kabupaten Timor Tengah Selatan, tradisi sifon di NTT, dll Penyakit tertentu yang spesifik di daerah tersebut, misalnya Fasciolopsis buski di Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan, Schistosomiasis di sekitar Danau Lindau Provinsi Sulawesi Tengah, dll

20

4/4/2011

Batasan
Batasan DBKB ditentukan oleh 2 indikator: IPKM, yang dibagi 3:

> (rerata IPKM) (rerata IPKM 1 SD) < IPKM < (rerata IPKM) < (rerata IPKM 1 SD)

PSE (pendataan sosial ekonomi): proporsi penduduk miskin di kab/kota:


> (rerata proporsi penduduk miskin) < (rerata proporsi penduduk miskin)

Batasan Ko-BK/B KoKab/Kota Kota IPKM > Rerata Rerata < IPKM < (Rerata 1SD) IPKM < (Rerata 1SD) Subtotal PSE < Rerata < 8,66 26 22 4 52 PSE > Rerata > 8,66 22 6 11 39 Total

48 28 15 91

21

4/4/2011

Batasan Ka-BK/B KaKab/Kota


Kabupaten PSE < Rerata < 21,01 108 75 12 PSE > Rerata > 21,01 57 57 40 165 132 52

Total

IPKM > Rerata Rerata < IPKM < (Rerata 1SD) IPKM < (Rerata 1SD) Subtotal

195

154

349

Batasan Ka-BK/B KaKab/Kota Kabupaten IPKM > Rerata Rerata < IPKM < (Rerata 1SD) IPKM < (Rerata 1SD) Subtotal PSE < Rerata < 21,01 PSE > Rerata > 21,01 Total

F D B
195

E C A
154

165 132 52 349

22

4/4/2011

Kategorisasi Ka/Ko-DBK/B Ka/KoKategorisasi DBK/B Kabupaten BKB Miskin (A) Kabupaten BKB Non-Miskin (B) Kabupaten BK (C) Jumlah KaBK/B Kota BKB Miskin (A) Kota BKB Non-Miskin (B) Kota BK (C) Jumlah KoBK/B Jumlah KaKoBK/B Jumlah 40 12 57 109 11 4 6 21 130

Provinsi Aceh
KABUPATEN GAYO LUES ACEH JAYA ACEH BARAT NAGAN RAYA ACEH SELATAN ACEH TENGGARA ACEH UTARA ACEH TIMUR SIMEULUE ACEH SINGKIL BENER MERIAH Kategori wilayah KaA KaA KaA KaA KaA KaA KaA KaC KaC KaC KaC R-IPKM 439 410 404 396 393 391 389 360 344 321 279 IPKM 0,271275 0,373137 0,378038 0,388881 0,392049 0,392944 0,397710 0,425879 0,438738 0,446846 0,470000 PSE 32,31 29,28 32,63 33,61 24,72 21,60 33,16 28,15 32,26 28,54 26,55

23

4/4/2011

Provinsi Aceh
KABUPATEN PIDIE BIREUEN ACEH BARAT DAYA ACEH BESAR ACEH TAMIANG ACEH TENGAH KOTA LHOKSEUMAWE KOTA LANGSA KOTA BANDA ACEH KOTA SABANG Kategori R-IPKM IPKM PSE wilayah 260 0,479638 33,31 KaC 253 0,484556 27,18 KaE 246 0,489055 28,63 KaE 245 0,489691 26,69 KaE 219 0,511308 22,19 KaE 192 0,524341 24,41 KaE 205 0,519893 12,75 KoA 194 0,524090 14,25 KoA 98 0,593039 6,61 KoD 40 0,634165 27,13 KoE

Provinsi Jambi
Kabupaten Sarolangun Tj. Jabung Timur Kerinci Bungo Tj. Jabung Barat Merangin Tebo Batanghari Muaro Jambi Kota Jambi Kategori wilayah KaB KaD KaD KaD KaD KaF KaF KaF KaF KoF R-IPKM 414 368 362 346 256 240 238 230 206 17 IPKM 0,369692 0,417493 0,425254 0,437706 0,482403 0,493972 0,495415 0,502543 0,518695 0,656550

24

4/4/2011

Provinsi Banten
KABUPATEN PANDEGLANG LEBAK SERANG TANGERANG KOTA CILEGON KOTA TANGERANG Kategori wilayah KaB KaD KaD KaF KoB KoF R-IPKM 420 373 345 141 179 54 IPKM 0,361063 0,412081 0,438016 0,555405 0,534972 0,622227 PSE 15,64 14,43 9,47 7,18 4,71 4,92

Provinsi DI Jogjakarta
KABUPATEN GUNUNG KIDUL KULON PROGO SLEMAN BANTUL Kategori wilayah KaE KaE KaF KaF KoE R-IPKM 49 47 7 5 4 IPKM 0,626753 0,628427 0,680316 0,691480 0,694835 PSE 28,90 28,61 12,56 19,43 9,78

KOTA YOGYAKARTA

25

4/4/2011

Provinsi Bali
Kabupaten Buleleng Karangasem Bangli Klungkung Jembrana Tabanan Kategori wilayah R-IPKM KaF KaF KaF KaF KaF KaF 218 204 176 110 61 13 IPKM 0,511388 0,520190 0,536889 0,584312 0,619864 0,663828

Badung
Gianyar Kota Denpasar

KaF
KaF KoF

12
2 9

0,672242
0,706451 0,679631

Provinsi Nusa Tenggara Barat


KABUPATEN DOMPU SUMBAWA LOMBOK BARAT LOMBOK TENGAH BIMA LOMBOK TIMUR SUMBAWA BARAT KOTA BIMA MATARAM Kategori R-IPKM IPKM wilayah KaC 336 0,441806 KaC KaC KaC KaC KaE KaE KoA KoE 303 296 286 284 237 234 252 48 0,459297 0,462781 0,467282 0,467318 0,495927 0,499877 0,485410 0,627411 PSE 28,57 28,78 28,97 25,74 25,12 25,60 28,63 11,85 9,67

26

4/4/2011

Provinsi Nusa Tenggara Timur


Kabupaten Manggarai Manggarai Barat Sumba Timur Sumba Barat Rote Ndao Timor Tengah Selatan Alor Kupang Timor Tengah Utara Belu Lembata Ende Ngada Sikka Flores Timur Kota Kupang Kategori wilayah R-IPKM 437 KaA 427 KaA 422 KaA 406 KaA 401 KaA 399 KaA 395 KaA 370 KaC 313 KaC 304 KaC 264 KaC 316 KaD 231 KaF 227 KaF 197 KaF 32 KoF IPKM 0,283220 0,321211 0,357076 0,377430 0,385605 0,386755 0,390217 0,416146 0,450906 0,459197 0,477881 0,449823 0,501934 0,503396 0,522098 0,643858

Provinsi Maluku
Kabupaten Maluku Tenggara Barat Maluku Tenggara Maluku Tengah Buru Kategori wilayah R-IPKM KaC KaE KaE KaA 385 233 199 415 IPKM 0,404237 0,501291 0,520899 0,368814

Kepulauan Aru
Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kota Ambon

KaA
KaC KaA KoF

394
352 433 43

0,391465
0,432828 0,294741 0,632536

27

4/4/2011

Provinsi Kalimantan Barat


KABUPATEN LANDAK SEKADAU KAPUAS HULU KETAPANG MELAWI BENGKAYANG SINTANG SANGGAU SAMBAS PONTIANAK KOTA PONTIANAK KOTA SINGKAWANG

Kategori wilayah KaA KaB KaD KaD KaD KaD KaD KaF KaF KaF KoD KoD

R-IPKM 403 390 383 363 359 319 262 223 191 178 125 88

IPKM 0,382892 0,395683 0,407029 0,424304 0,425966 0,447096 0,479401 0,508573 0,526580 0,535176 0,571401 0,599614

PSE 24,95 10,25 15,05 17,94 19,50 11,88 17,10 7,97 14,00 8,26 6,77 7,02

Provinsi Papua Barat


KABUPATEN TELUK WONDAMA KAIMANA SORONG SELATAN TELUK BINTUNI RAJA AMPAT MANOKWARI Kategori R-IPKM wilayah KaA 408 KaA KaC KaC KaC KaE 402 358 293 261 255 IPKM 0,374026 0,384936 0,428914 0,463739 0,479417 0,483619 PSE 47,34 33,84 30,07 35,22 53,34 28,05

SORONG
FAK-FAK KOTA SORONG

KaE
KaE KoA

222
211 156

0,509246
0,516219 0,546419

51,37
39,57 35,71

28

4/4/2011

Provinsi Papua
Kabupaten Pegunungan Bintang Puncak Jaya Paniai Yahukimo Asmat Mappi Tolikara Jayawijaya Waropen Boven Digoel Kategori wilayah KaA KaA KaA KaA KaA KaA KaA KaA KaA KaA RIPKM 440 438 436 434 432 431 429 428 418 417 IPKM 0,247059 0,282181 0,288243 0,292974 0,295536 0,299731 0,302086 0,314795 0,363633 0,366978

Provinsi Papua
Kabupaten Supiori Nabire Yapen Waropen Merauke Jayapura Biak Numfor Mimika Sarmi Keerom Kota Jayapura Kategori wilayah KaA KaC KaC KaE KaE KaE KaE KaE KaE KoC RIPKM 398 343 332 122 171 225 254 198 115 77 IPKM 0,386935 0,438776 0,442937 0,573297 0,538811 0,507261 0,484058 0,521530 0,580288 0,604670

29

4/4/2011

Provinsi Sulawesi Utara


Kabupaten Bolaang Mengondow Kepulauan Talaud Kep. Sangihe Talaud Minahasa Minahasa Utara Minahasa Selatan Bitung Tomohon Manado Kategori R-IPKM wilayah KaF KaF 201 174 153 139 133 82 57 38 24 IPKM 0,520742 0,537660 0,548020 0,558964 0,565420 0,601526 0,621187 0,636290 0,650180

KaF KaF KaF KaF KoE KoF KoF

Provinsi Sulawesi Selatan


Kabupaten Jeneponto Luwu Tana Toraja Bone Sinjai Bantaeng Bulukumba Gowa Wajo Luwu Utara Takalar Maros Kategori wilayah R-IPKM IPKM 424 0,350624 KaA 299 0,460545 KaC 379 0,409028 KaD 355 0,430934 KaD 331 0,443005 KaD 318 0,447416 KaD 311 0,451781 KaD 290 0,466640 KaD 288 0,467133 KaD 272 0,475723 KaD 269 0,476500 KaD 258 0,481097 KaD

30

4/4/2011

Provinsi Sulawesi Selatan


Kabupaten Pangkajene Kepulauan Enrekang Barru Luwu Timur Selayar Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Kota Pare-pare Kota Palopo Kota Makassar Kategori wilayah R-IPKM IPKM 180 0,534938 KaE 111 0,584205 KaE 210 0,516324 KaF 184 0,531654 KaF 161 0,544119 KaF 121 0,573328 KaF 81 0,602477 KaF 36 0,636888 KaF 112 0,582270 KoD 26 0,648437 KoE 27 0,648139 KoF

Provinsi Sulawesi Tengah


Kabupaten Buol Toli-toli Donggala Banggai Kepulauan Parigi Moutong Tojo Una-Una Banggai Morowali Poso Palu Kategori R-IPKM IPKM wilayah 392 0,392416 KaA 387 0,401544 KaC 337 0,440977 KaC 330 0,443375 KaC 320 0,446960 KaC 295 0,463214 KaC 265 0,477513 KaD 239 0,494967 KaE 142 0,555379 KaE 193 0,524115 KoA

31

4/4/2011

Provinsi Sulawesi Tenggara


Kabupaten Kolaka Utara Muna Wakatobi Kolaka Buton Konawe Bombana Konawe Selatan Bau-bau Kota Kendari Kategori R-IPKM IPKM wilayah 397 0,388577 KaA 357 0,429366 KaC 340 0,439676 KaC 294 0,463434 KaC 289 0,466681 KaC 271 0,476170 KaC 351 0,433098 KaD 314 0,450837 KaD 209 0,517897 KoA 96 0,594733 KoC

Provinsi Sulawesi Barat


Kabupaten Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mamasa Majene Kategori wilayah KaA KaB KaB KaC KaE R-IPKM 430 412 405 322 221 IPKM 0,301325 0,371524 0,377814 0,446343 0,509314

32

4/4/2011

Provinsi Gorontalo
KABUPATEN POHUWATO BOALEMO GORONTALO BONE BOLANGO KOTA GORONTALO Kategori R-IPKM wilayah KaA KaA KaC KaC KoB 419 411 372 333 146 IPKM 0,363029 0,371624 0,412362 0,442348 0,551443 PSE 29,74 29,21 32,07 30,60 8,11

Penanggulangan

PDBK, merupakan pengembangan, jadi dikoordinir oleh Badan Litbang Polanya adalah pendampingan intensif, pendamping memberikan alternatif solusi, pemda menentukan pilihan solusi Bentuknya studi operasional, setiap saat bisa dilakukan modifikasi intervensi pendamping eselon 1 dan eselon2 dari unsur program Tiap pendamping ada seorang peneliti yang juga bertugas mendokumentasikan PDBK di kab/kota yang bersangkutan

33

4/4/2011

Keberhasilan PDBK

Proses pendampingan dilakukan 3-5 tahun Indikator keberhasilan dilihat salah satunya dengan perubahan IPKM Bila IPKM meningkat, pembangunan kesehatan berhasil. IPKM menurun berarti kurang berhasil. Harus dilakukan perbaikan kebijakan dan program Untuk memacu pembangunan kesehatan, akan disediakan IPKM Award

5. Kesimpulan

IPKM merupakan penjabaran lebih lanjut indikator Umur Harapan Hidup pada HDI IPKM dan Proporsi Penduduk Miskin dijadikan alat untuk merumuskan Daerah Bermasalah Kesehatan, yang terdiri dari:

Daerah Bermasalah Kesehatan Berat & Miskin Daerah Bermasalah Kesehatan Berat & Non-Miskin Daerah Bermasalah Kesehatan

Mulai tahun ini dilakukan Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK)

34

4/4/2011

Proses Pendampingan PDBK


Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI

Tahapan Kegiatan
Pusat Persiapan Data lengkap Provinsi Kabupaten Lapangan

Penyajian PDBK Dinkes Prov+Kab Kunjungan Menkes Gub/Bupati + DPRD

Penyajian PDBK Dinkes + Puskesmas Pendampingan berkala Perencanaan Kesehatan Penajaman prioritas Perencanaan Kesehatan

Melengkapi Data Dari lapangan

Implementasi Program Terus Pendampingan, Monitoring & Evaluasi

35

4/4/2011

Tahapan Kegiatan
Pusat Persiapan Data lengkap Provinsi Kabupaten Lapangan

Penyajian PDBK Dinkes Prov+Kab Kunjungan Menkes Gub/Bupati + DPRD

Penyajian PDBK Dinkes + Puskesmas


Pendampingan berkala Perencanaan Kesehatan Penajaman prioritas Perencanaan Kesehatan

Melengkapi Data Dari lapangan

Implementasi Program Terus Pendampingan, Monitoring & Evaluasi

Persiapan Tim Pusat

Penyamaan persepsi tentang IPKM dan 24 indikator yang masuk IPKM IPKM sebagai alat diagostik masalah kesehatan masyarakat di kabupaten/kota penentu Daerah Bermasalah Kesehatan Kebijakan PDBK (Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan) Materi dan modul pelatihan Metoda pendampingan, saling belajar, saling memberi gagasan/pengetahuan/pengalaman

36

4/4/2011

Tingkat Provinsi

Penyajian konsep IPKM PDBK kepada para Kadinkes Provinsi & Kab/Kota dan unsur pemda (Sekda, Bappeda, DPRD, dll) Proses penyadaran bahwa kab/kota mereka tergolong under developed dalam kesehatan masyarakat Proses penyadaran bisa sekali pertemuan, tetapi bisa berkali-kali, bahkan mungkin menggunakan berbagai model komunikasi Ini sangat bergantung pada kepiawaian komunikasi antara pendamping dan kab/kota

Tingkat Provinsi

Bila telah terjadi proses penyadaran, diperlukan proses menjalin komitmen seluruh jajaran pemerintah daerah, baik provinsi maupun kab/kota Kunjungan kerja Menkes didepan seluruh jajaran pemda (Gubernur & DPRD Prov, Bupati/Walikota & DPRD Kab/Kota, Bappeda Prov & Kab/Kota, Dinkes Prov & Kab/Kota, dll) Luaran: komitmen kongkrit tentang upaya PDBK, dengan target: peningkatan nilai IPKM pada tahun 2014

37

4/4/2011

Tingkat Kab/Kota

Penyajian PDBK kepada jajaran Pemda Kab/Kota (Eksekutif+ legislatif) Data IPKM saja tidak cukup, harus ada tambahan data dari Kab/Kota ybs, termasuk data dari Kecamatan/Puskesmas Urai 24 indikator dalam IPKM, ditambah indikator lain yang diperlukan Fokus, mana yang akan digarap misalnya MDG Lakukan optimalisasi pemanfaatan SDM dan dana

Majene - Mamasa
Indikator
IPKM Rank_IPKM UHH_2007 IPM_2007 PSE gemuk burkur pendek_sgtpndk krs_sgtkrs p_dgdiare

Majene 0,509314 221 64,43 69,12 23,55 11,63 19,53 40,68 14,42 5,70

Mamasa 0,301325 430 70,78 69,16 25,51 14,29 37,05 47,37 18,27 7,96

38

4/4/2011

Majene - Mamasa
Indikator p_ispa p_dgpneu p_mental p_gilut p_dgasma p_sendi p_tensi p_cedera p_disable p_rokok Majene 23,96 0,89 9,20 31,46 3,59 14,05 30,54 3,84 26,16 22,25 Mamasa 8,75 1,02 10,08 9,66 5,74 21,50 48,15 2,84 24,10 25,04

Majene - Mamasa
Indikator p_cucitangan p_sanitasi p_akses_air p_nakes2 p_kn1 P_imun p_timbang dokter_jml_puskes bidan_jml_desa Majene 36,51 34,21 53,86 80,44 72,97 8,32 22,03 3,00 1,55 Mamasa 17,09 18,00 7,16 23,25 9,52 10,55 5,03 1,56 0,36

39

4/4/2011

Tingkat Kab/Kota

Lakukan pendampingan berkala, membahas penajaman perencanaan kesehatan Bila dipandang perlu, bisa diundang berbagai pakar atau praktisi dari daerah lain Proses disini bisa sebentar, tetapi bisa juga lama, bergantung pada kualitas komunikasi pendamping dan yang didampingi Tim pendamping bertugas memberikan serangkaian ALTERNATIF SOLUSI, diiringi aspek positif dan negatif dari tiap alternatif Pemilihan solusi oleh Pemda Kab/Kota ybs.

Tingkat Kab/Kota

Hasil pendampingan adalah: Optimalisasi program kesehatan tahun 2011 dengan memanfaatkan dana yang ada. Perencanaan kesehatan yang lebih fokus dan layak terap Dimungkinkan mengusulkan hal-hal baru yang akan ditampung dalam new initiative Pendamping akan memfasilitasi pendanaan new initiative melalu donor agencies dan pemanfaatan CSR (Corporate Social Responsibility)

40

4/4/2011

Pendampingan berkelanjutan

Proses pendampingan akan terus berlanjut sampai 3 tahun Setiap tahun ada monitoring dan evaluasi Hasil pendampingan akan diketahui tahun 2014, apakah nilai IPKM membaik atau malah memburuk Bila IPKM membaik dan lulus, Kab/Kota akan dikembalikan ke jalur biasa Bila IPKM memburuk, pendampingan dilanjutkan sampai Kab/Kota lulus, melewati batas Daerah Bermasalah Kesehatan

Perubahan IPKM Prov: 07-10


0.8000 0.7000 0.6000 0.5000 0.4000 0.3000 0.2000 0.1000 0.0000 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua IPKM(7)2007 IPKM(7)2010

Komposit IPKM (7 Indikator): GzBurKur, Pendek, Imunisasi, Linakes, Sanitasi, KN1, Penimbangan Balita

41

4/4/2011

Terimakasih

42

4/4/2011

Tanggapan

Sumba Barat Rangkin pada pemekaran bagaimana? Sumba Tengah: Apakah bermasalah sehingga dipanggil? Kami tunggu pendamping: kapan pendampingan ini dilaksanakan? Pimpinan kabupaten/kota harus tahu Riskesdas 2010 bagaimana? Sumba Tengah bisa kelihatan

Tanggapan

Dompu: Tantangan di kabupaten, menghasilkan output, apa yang harus kita lakukan Kab Lombok Utara Puskesmas Bayan Kami sudah bekerja luar biasa Sektor yang lain membingungkan kami Kenapa kok dibawah? Ekonomi dan pendidikan sangat rendah

43

4/4/2011

Tanggapan

Sumba Barat 24 indikator: Cakupan KN1, kenapa bukan KN3 Cakupan imunisasi kenapa yang lengkap? Lombok Utara Kesempatan membuka wawasan Harapan: pendampingan 3-5 tahun: mudah2an bermanfaat dan terima kasih. Petugas pindah, duit habis program habis. Perlu komitmen bersama, di semua jenjang

Tanggapan

Buku satu, buku tiga, kemana buku dua?

44

4/4/2011

Tanggapan

Angka harapan hidup IPKM (pengaruh langsung), sudah terbukti Penting di daerah, ada keterbatasan anggaran, prioritasnya bagaimana (tidak total 24 indikator) pendampingan Pembobotan, sudah tepat Siapa yang mengukur? Litbang validasi?

45

4/4/2011

Tanggapan

Pendampingan 109 kab dan 21 kota Konsep kab dan kota bagaimana? Bahan advokasi, salah satu aspek ke depan Melibatkan berbagai program, bagaimana pelaksanaannya?

Tanggapan

FKM Undip Indeks, operasional pernah dikaji supaya sedikit saja Indeks, terus menerus Setelah tahu kabupaten ke bawah bagaimana? (2013 perluas sampel)

46

4/4/2011

Tanggapan

Indikator komposit (24 indikator), indikator apa saja? Alternatif semi instant

Tanggapan

Rusdi saleh Pelibatan Univesitas Pengawasan? Unpat Ambon Karakteristik daerah berbeda Kepualauan beda berbasis kepualuan? Penentuan proyek

47

4/4/2011

Tanggapan

Pengembangan wilayah Bisa digunakan untuk standarisasi Menjadi acuan pengembangan wilayah ratio tenaga HDI Data yang dikumpulkan sudah merata?

Tanggapan

Tanjungpura Pontianak Klasifikasi daerah tersedianya dr spesialis Instruksi daerah untuk menyekolahkan spesialis Ijin praktek dokter, kapan mulai praktek Kondisi yankes RS, pendidikan moral bagi petugas RS banyak yang telat

48

4/4/2011

Tanggapan

Jambi: Data 2007/2008 sudah lama Update data 2008 ke depan UU 36 dan 44 / 2009 berpengaruh pada IPKM 2010 Riskesdas khusus MDG Yogyakarta Ada uulan konkrit: guru besar turun gunung data kes, data profesor

Tanggapan

49

4/4/2011

Kontak?
Trihono HP:

08129557410 E-mail: trihono1954@yahoo.com

Tanggapan

Gorontalo: IPKM: Riskesdas 2007 dan 2010 Daerah pengembangan bagaimana Untuk menaikkan HDI (kesehatan, ekonomi dan pendidikan). Apakah kita mau menaikkan IPKM saja IPKM cuma untuk melihat peringkat kesehatan?

50

4/4/2011

Tanggapan

Iwan: Gorontalo Uneg2: IPKM menambah masalah, kesehatan seperti ular kobra, yang bergerak di atas nya saja Sinkronisasi IPKM dengan anggaran? Tidak ada? Pendampingan tinggal 2 tahun, bukan karkena pendampingan Riskesdas tidak bisa dipercaya Data di Pusdatin? Akurat sekali untuk apa? Manajemen aplikatif

Tanggapan

Sulawesi Tenggara Tingkat pendapatan dan pendidikan IPM Riskesdas, untuk membenahi lapangan kesenjangan laporan puskesmas dan riskesdas jauh sekali

51

4/4/2011

Tanggapan

Muna Sultra Menarik sebagai acuan, standarnya berapa? Standar acuan bisa beragam: rata2 nasional atau provinsi UHH sebagai standar Banggai kepulauan Senang dengan data pusat. Daerah terpencil sulit. Daerah terpencil, pemekaran lagi Problem SDM intervensi nyata, konkritnya? Desa siaga harus ada bidan

Tanggapan

Otoda: fungsional ke sektor lain, tenaga kesehatan kurang. Tenaga kesehatan? Anggaran infrastruktur / operasional, beda antara darat dan kepulauan BOK DAK kenapa untuk fisik saja? Bisa untuk yang lain? kebijakan daerah Menkes

52

4/4/2011

Tanggapan

Buton Utara (Sultra) Bagus untuk pencapaian program kesehatan Kabupaten pemekaran baru Hamzah: Gorontalo Utara Hubungan UHH dengan IPKM, kategorisasi (A F) dengan UHH Bobot dalam IPKM, ratio bidan tidak cocok dengan wonogiri pola intervensi Tenaga kesehatan pindah ke luar

Tanggapan

Bersyukur dengan riskesdas Pendek: lintas sektor Pendidikan dan ekonomi Jangan sok kesehatan tanggulangi sendiri Puskesmas Kab Ponawe Utara, Sulteng Disabilitas, penyakit sendi, asma kenapa penyakit malaria tidak masuk? Bidan itu tulang punggung kesehatan, siap bermitra dengan dukun Bidan minta kendaraan (seperti dr. Puskesmas)

53

4/4/2011

Tanggapan

Bidan: Membuka mata kami, kita harus kerja bersama orang lain Dulu posyandu milik bersama Bagaimana mengaktifkan lagi posyandu contoh NTB Bidan (Banggai Kepulauan) Tenaga bidan sedikit, jadi masuk jelek Setelah otonomi daerah bidan kurang Sebagian data bisa dari bidan upaya lain selain riskesdas

Tanggapan

Dr. Siberia (Bangkep) Indikator penyakit, harus diperiksa oleh tenaga kesehatan. Penyakit yang tidak tercatat, karena tidak datang ke fasilitas.

54

4/4/2011

Tanggapan

55