Anda di halaman 1dari 7

1angan Pasang Kawat Gigi Sembarangan

Written on 28 July, 2010 14:17 , by Rahmat Zikri ,


Pemasangan bracket pada gigi atau yang lebih dikenal dengan kawat gigi alias behel adalah
sebuah cara yang saat ini lazim dipakai untuk memperbaiki susunan gigi yang tidak rapih. Tapi
tidak banyak orang yang tahu apalagi sadar bahwa penggunaan kawat gigi tidak hanya
berhubungan dengan asal gigi rapih (estetika). Lebih dari sekadar rapih, penggunaan kawat gigi
juga dimaksudkan untuk memperbaiki posisi gigi dalam Iungsi pengunyahan makanan,
memperbaiki penampilan wajah dan juga memperbaiki masalah lingual (seperti kesulitan dalam
pengucapan huruI s`) karena gigi depan bagian atas tidak mengatup sempurna dengan bagian
bawah (bahasa kerennya: open bite). Penggunaan kawat gigi juga berhubungan dengan
kesehatan; di mana gigi yang berjejal akan menyulitkan pembersihan plak dan sisa makanan,
sehingga meningkatkan resiko terjadinya gigi berlubang dan peradangan gusi.

Gambar di atas adalah contoh Ioto gigi pasien sebelum dan sesudah perawatan orthodonti. Tanda
panah merah menunjukkan gigi yang harus dicabut. (properti: drg. Vera Susanti Z, Sp.Ort).
Maraknya tren penggunaan kawat gigi dan ditambah oleh ketidaktahuan masyarakat awam
membuat banyak orang berani` mempertaruhkan aset tubuh yang tak tergantikan itu dengan
mempercayakan pemasangan behel pada sembarang orang(ingat, gigi orang dewasa yang telah
tanggal atau rusak tidak akan tergantikan oleh gigi baru). Tren pemakaian behel yang dikaitkan
juga dengan gaya hidup dan Iashion membuat banyak orang nekat memakai walau sebenarnya
tidak memerlukannya. Lebih gawat lagi, sebagian di antara mereka malah nekat memasang di
tempat yang asal murah yang penting gaya!
catatan: tulisan ini merupakan tulisan populer (non ilmiah) yang ditulis oleh orang awam untuk
bidang yang sedang dibicarakan (bukan dokter gigi), namun demikian saya sudah berpengalaman
pakai kawat gigi 3x (tiga kali) karena harus diperbaiki kembali; dan sekarang ber-istri seorang
dokter gigi spesialis orthodonti yang jadi teman ngobrol sebelum tidur.
Pada saat ini, pemasangan kawat gigi boleh dibilang sebagai bisnis yang menggiurkan.
Pemasangan kawat gigi yang seharusnya hanya dilakukan oleh dokter gigi spesialis orthodonti
(drg. Sp.Ort) pada kenyataannya dikerjakan juga oleh dokter gigi spesialis lainnya, atau malah
oleh seorang dokter gigi non spesialis (eneral practitioner). Lebih edan lagi, mereka yang
bukan dokter gigi pun nekat buka praktek` di pinggir jalan dengan label Ahli Gigi. Terima
pasang kawat gigi.
Gigi Yang Baik
Karena saya bukan dokter gigi, tentu saya tidak membicarakan masalah penyakit gigi dan
kawan-kawannya. Dalam kacamata yang sederhana kita bisa anggap bahwa gigi yang baik
adalah gigi yang bersih, tidak bolong, tidak ada yang ompong, serta menjalankan tugasnya
dengan sempurna.
Bagaimana tuh gigi yang sempurna menjalankan tugasnya? Tugas utama gigi untuk menggigit
dan mengunyah makanan bukan? Cara termudah untuk memeriksanya adalah coba katupkan gigi
rapat-rapat pada posisi yang paling nyaman (ngga dibuat-buat dengan menggeser rahang ke arah
tertentu. :8t relax.). Perhatikan gigitan gigi mulai dari geraham atas bertemu geraham bawah
secara sempurna untuk mengunyah, taring atas berpasangan dengan taring bawah untuk
mengoyak, gigi seri atas bertemu dengan gigi seri bawah untuk menggigit. Normalnya rahang
bawah akan sedikit lebih mundur dibanding rahang atas.
Pada kasus rahang bawah lebih maju dibanding rahang atas, orang awam sering menyebutnya
sebagai cakil, atau cameuh, dan sejenisnya. Sebaliknya, bisa saja yang terjadi ternyata adalah
rahang atas terlalu maju dibanding rahang bawah, sehingga gigi seri atas tidak bisa bertemu
dengan gigi seri bawah, alias protusiI. Pada kasus cakil dan protusiI, sudah tidak bisa ditawar-
tawar lagi bahwa yang mengerjakan haruslah dokter gigi dengan spesialisasi orthodonti alias
orthodontist.
Pengalaman Pribadi
Pada waktu SMP dulu (tahun 1989), keinginan menggunakan kawat gigi yang tidak didukung
oleh pengetahuan yang memadai membuat saya tersasar` ke seorang spesialis bedah mulut.
Waktu itu sebenarnya saya sudah berjalan (mungkin) ke arah yang benar, yaitu ke rumah sakit
umum daerah. Tapi waktu tanya-tanya di poli-gigi, salah seorang perawatnya menyebut kalau
mau pakai kawat gigi dengan drg. X, Sp.BM saja. Datang saja ke tempat prakteknya. Akhirnya
saya pakai kawat gigi dengan sang spesialis bedah mulut. Waktu itu saya kehilangan` 2 buah
gigi geraham kecil yang persis di belakang gigi taring, di sebelah kanan, bagian atas dan bawah.
Semua gigi perlahan-lahan mulai digeser ke arah kanan, untuk mengisi kekosongan` yang
diakibatkan hilangnya 2 buah gigi tersebut.
Hampir 2 tahun setelah perawatan memang sekilas gigi bisa dibilang rapih. Tapi kalau dilihat2
dengan seksama terlihat bahwa garis tengah gigi (di tengah-tengah gigi seri atas dan bawah)
tidak terletak di tengah-tengah wajah, pada arah garis imajiner jika wajah kita dibagi 2 secara
simetris. Coba-lah senyum nyengir` di depan cermin, perhatikan apakah garis tengah gigi Anda
persis segaris dengan garis tengah wajah, yang ditarik dari titik tengah di antara 2 alis mata
melewati puncak hidung dan dagu. Jadi kalau dilihat-lihat, gigi saya waktu itu miring ke kanan.
Garis tengah gigi tidak persis segaris dengan garis tengah wajah (imajiner). Lambat laun juga
dirasa gigi kembali 'bubar jalan. Sedikit demi sedikit mulai bergerak lagi dan kembali terlihat
berantakan pada gigi bawah dan jadi 'gigi bobo pada gigi atas.
Pada waktu kuliah di Bandung, kembali saya mencoba mengulangi perawatan gigi menggunakan
behel kembali. Waktu itu saya mendatangi klinik yang ada di kampus. Lagi-lagi oleh perawat
yang ada direIerensikan untuk datang kembali pada jadwal praktek dokter gigi yang menurutnya
biasa mengerjakan pemasangan kawat gigi. Untuk kedua-kalinya, di tahun 1997 saya kembali
memakai kawat gigi. Kali ini saya harus merelakan kembali 2 (dua) buah gigi geraham kecil
yang di belakang gigi taring, kali ini yang di sebelah kiri, atas dan bawah.
Kali ini saya tidak tahu sebenarnya yang mengerjakan gigi saya ini seorang orthodontist atau
spesialis lainnya? (mungkin saja lagi-lagi spesialis bedah mulut, atau prostodontist, atau
periodontist, atau malah dokter gigi anak? hehehe).. atau bisa saja dia ternyata seorang dokter
gigi biasa alias GP? Yah, sama seperti orang awam pada umumnya, waktu itu saya sama sekali
tidak perduli dan tidak mencari tahu. Bahkan berkali-kali kontrol gigi dengan rutin pun saya
tidak pernah mencari tahu. Sampai sekarang pun saya juga tetap tidak tahu apa kompetensi
dokter gigi saya waktu itu??! (Padahal sudah 13 tahun berlalu).
Singkat cerita, lagi-lagi hasil perawatan tersebut adalah nol besar. Memang waktu itu gigi saya
rasanya rapih kembali. Tapi lagi-lagi seiring dengan waktu kembali terasa bergerak dan
cenderung rusak` kembali.
Kesalahan` bentuk gigi tersebut baru saya sadari dan pahami ketika menunjukkan susunan gigi
pada seseorang yang kelak menjadi istri saya (drg. Vera Susanti Z, Sp.Ort). Waktu itu dia sedang
mengambil spesialisasi Orthodonti di Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Universitas
Indonesia. Di situ saya baru sadar bahwa gigi saya tidak menutup sempurna kalau sedang
menggigit. Konsekuensi paling sederhana dari kondisi ini tentu adalah waktu mengunyah
makanan tidak sempurna. Akibatnya tanpa disadari saya sering hanya menggunakan sebelah sisi
untuk mengunyah makanan (geraham sebelah kanan saja yang bisa menggigit, sedang sebelah
kiri tidak menggigit), sedangkan sebelahnya lagi tidak melakukannya. Konsekuensi lainnya
adalah lagi-lagi garis tengah gigi juga tidak persis di tengah. Saya sadari juga bahwa ternyata
ketika saya membuka mulut (rahang) lebar-lebar lalu menutup kembali kadang terdengar bunyi
klek pada pangkal rahang dekat telinga. Serta beberapa kesalahan lain yang harus dikoreksi.
Akhirnya, untuk ketiga-kalinya saya menggunakan kawat gigi, kali ini pada trek yang benar.
Karena walau dikerjakan oleh orang yang sedang belajar untuk menjadi orthodontist, perawatan
gigi saya dilakukan di kampus UI di bawah supervisi dokter-dokter spesialis yang benar, bahkan
yang sudah bergelar proIesor (ProI. drg. Faruk Husin, Sp.Ort, yang kemudian juga berkenan
menjadi saksi pada pernikahan saya).
Prosedur Pemasangan Kawat Gigi yang Benar
Dari pengalaman yang sudah-sudah, sekali ini saya baru merasa bahwa pemasangan kawat gigi
mengikuti sebuah proses yang secara teknis bisa diterima. Dulu ketika terjadi kesepakatan harga
antara calon pasien dan dokternya, langsung saja diputuskan untuk pasang. Langsung pasang
cetakan gigi, lalu melihat sekilas apakah ada gigi yang perlu dicabut atau tidak. Paling lambat 2
minggu kemudian gigi kita sudah bergaya dengan bracket melintang.
Pada prosesi pemasangan kawat gigi yang dilakukan oleh seorang orthodontist, proses diawali
dengan pemeriksaan secara visual. Struktur gigi sang pasien dilihat dengan mata telanjang, untuk
menentukan apakah penggunaan bracket memang disarankan atau tidak. Jika ya, jenis bracket
seperti apa yang sesuai dengan kasus gigi pasien.
Proses selanjutnya pasien harus melakukan Ioto rontgen gigi, untuk melihat struktur gigi di
dalam gusi. Pada beberapa kasus Ioto rontgen ini juga berguna untuk menemukan gigi yang
tersembunyi (gagal keluar) karena berbagai sebab. Keberadaan benda keras (gigi) di antara akar-
akar gigi yang lain tentunya akan menjadi penghambat gerak gigi yang lain. Lebih celaka lagi,
bisa saja keberadaan gigi yang terpendam itu bisa menimbulkan akibat-akibat lain, termasuk
yang terkait dengan kesehatan tubuh.
Jika ternyata terindikasi ada gigi yang seperti itu, seorang orthodontist akan meminta bantuan
dokter gigi spesialis bedah mulut untuk melakukan operasi guna mengeluarkan gigi itu.
Tergantung juga dengan tingkat masalah yang dihadapi, sebisa mungkin gigi yang dikeluarkan
dengan cara memasang bracket dan ditarik perlahan-lahan selama proses perawatan kawat gigi.
Jika kondisinya ekstrim, gigi tersebut akan dicoba untuk dikeluarkan langsung, lalu dipasang
kembali pada gusi dengan posisi yang benar. Jika tidak memungkinkan, barulah pasien harus
'say goodbye ke gigi tersebut. Sepanjang yang saya ketahui dalam 2 tahun terakhir ini saja istri
saya sudah pernah menemukan beberapa kasus yang seperti ini. Jadi hal seperti ini ngga aneh-
aneh amat. Pada beberapa orang ternyata memang tidak semua gigi dewasanya tumbuh
sempurna. Jadi, jika ternyata Anda memasang kawat gigi pada orang yang tidak meminta Ioto
rontgen terlebih dahulu, sudah bisa dipastikan dia naw:r!
Selain Ioto rontgen, pasien juga harus diIoto menggunakan kamera biasa. Orthodontist
memerlukan Ioto pasien dalam beberapa pose; tampak depan diam, tampak samping diam,
tampak depan senyum lebar, tampak samping senyum lebar. Selain itu dibutuhkan juga Ioto gigi
pada rahang bawah saja, Ioto gigi pada rahang atas saja, Ioto gigi penuh dalam posisi menggigit
sempurna. Foto-Ioto ini tidak hanya digunakan sebagai dokumentasi dan pembanding ketika
proses perawatan sudah selesai, tetapi juga digunakan sebagai reIerensi untuk melihat` apakah
ada kesalahan struktural pada bentuk wajah yang diakibatkan oleh susunan gigi pasien, misalnya
wajah tidak simetris, atau monyong. Jika pada waktu memasang kawat gigi Anda tidak diIoto
dengan pose-pose tersebut, lagi-lagi itu artinya Anda salah kamar!
Ingat, salah satu hasil akhir yang harus dicapai dari perawatan orthodonti adalah membuat gigi
bisa menjalankan Iungsi kunyah dengan baik dan benar. Secara sederhana boleh diterjemahkan
bahwa hasil akhir perawatan antara gigi-gigi di rahang atas haruslah bisa menggigit sempurna
dengan gigi-gigi di rahang bawah. Artinya, tidak mungkin perawatan hanya pada gigi atas saja
buat gaya-gayaan! Jika orang yang memasangkan kawat gigi hanya pada atas saja, banyak-
banyaklah berdoa, karena itu sudah jelas si pemasang saja tidak paham Iungsi perawatan.. hanya
mengejar order
'ariasi Harga
Salah satu alasan kenapa ada banyak orang yang nekat pasang kawat gigi di pinggir jalan adalah
karena harga yang lebih murah. Seringkali Iaktor harga murah ini hanya dicerna sebagai akibat
lokasi tempat praktek tukang gigi yang hanya di kios alakadarnya, dibanding dengan tempat
praktek dokter gigi yang lebih mentereng`. Pada alternatiI lain, bisa saja yang diadu adalah
sesama dokter gigi. Pasang di dokter gigi spesialis orthodonti lebih mahal dibanding pasang di
dokter gigi biasa.
Dari kacamata awam saya cuma bisa ajak mencerna hal sesederhana mungkin. Harga sepeda
motor saja bervariasi. Motor buatan Jepang acapkali kalah bersaing dengan Motor buatan Cina
jika dilihat dari Iaktor harga. Jika cuma karena harga dan asal punya motor, bisa dipastikan
motor cina-lah yang dipilih. Tapi coba lihat, ada banyak orang yang mengerti bagaimana kualitas
dari motor cina, akan tetap bertahan untuk menabung dan mengupayakan minimal motor Jepang
lah yang harus mereka beli, bukan motor cina. Artinya, jika orang sudah paham soal kualitas,
harga motor Jepang yang lebih mahal ngga ada masalah. Di lain sisi, ternyata motor Jepang juga
kalah jika kualitas jika diadu dengan motor buatan Eropa, BMW misalnya. Singkat kata, seperti
halnya membicarakan sepeda motor secara generik, begitu pula ketika kita bicara kawat gigi.
Ada macam-macam kelas dan harga. Inilah titik awal lain yang harus diketahui oleh calon
pengguna. Ada buatan Amerika, banyak pula yang 2ade in China'
Sebagai ilustrasi tambahan, anggap saja hanya ada 2 pilihan barang untuk kawat gigi, A dan B,
yang akan digunakan untuk merapihkan gigi seorang pasien dengan kasus yang sulit. Kawat
yang A lebih murah di harga awal, misal X rupiah. Harus kontrol 3 minggu sekali. Perawatan
bisa lebih dari 3 tahun. Sedangkan kawat B harganya ternyata 2x lipat dari A, jadi 2X rupiah.
Harus kontrol 6 minggu sekali. Perawatan bisa diharapkan setahun selesai. Silahkan saja
berhitung berapa biaya kontrol dan waktu yang bisa dihemat dengan menggunakan kawat yang
B. Ini sekedar ilustrasi sederhana. Jangan lupa pepatah 'ada harga ada kualitas dan 'harga ngga
pernah bohong.
was Celaka
Secara mekanika, penggunakan kawat gigi pasti akan dapat menggeser susunan gigi yang ada
sekarang. Gigi geligi yang ada akan dipaksa mengikuti lengkungan kurva kawat gigi yang
tentunya berbentuk ideal. Masalahnya, apakah si pemasang memiliki cukup ilmu terkait
(termasuk mekanika) untuk menentukan arah pergeseran yang benar dan pas.
Pada pemasangan kawat gigi yang dilakukan oleh orang yang telah cukup ilmunya, susunan gigi
bisa dibuat rapih tidak hanya karena susunannya pada arah bersebelahan, tapi juga tinggi
rendahnya gigi yang satu dengan lainnya. Kesalahan arah gerak bracket misalnya bisa saja
membuat gigi seri Anda tidak sama tinggi rendah-nya! Sebuah kasus tragis yang pernah dijumpai
pada seorang pasien yang ingin pasang ulang kawat gigi adalah kenyataan bahwa ternyata
giginya pernah dipaksa` rata tingginya dengan cara dikikir! Percaya atau tidak, konon dia
sebelumnya memasang kawat gigi pada seorang dokter gigi (yang pasti bukan Sp.Ort. karena
tidak mungkin hal seperti itu dilakukan oleh orthodontist). Dengan kegilaan semacam itu,
sebenarnya lebih meyakinkan kalau dia mengaku bahwa yang pasang adalah ahli gigi di pinggir
jalan.
Kembali lagi ke soal perlu tidaknya ada gigi yang dicabut dalam proses perawatan orthodonti.
Jika memang dari pemeriksaan visual terlihat tidak ada ruang gerak tersisa untuk merapihkan
susunan gigi, memang seorang ahli orthodonti akan melakukan proses ekstraksi (bahasa
kerennya untuk pencabutan gigi). Kodratnya, yang akan dicabut adalah gigi geraham kecil yang
terdepan. Hasil akhir yang diharapkan dari perawatan orthodonti tidak hanya asal terlihat rapih,
tapi juga gigi berIungsi secara sempurna untuk mengunyah makanan. Jangan lupa, gigi juga
harus simetris. Pada prakteknya tidak selalu pula gigi harus dicabut di kedua sisi, kanan dan kiri.
Untuk kasus tertentu dengan lengkung gigi asimetris perlu dilakukan pencabutan gigi hanya pada
satu sisi. Yang penting hasil akhirnya nanti gigi harus jadi simetris. Kadangkala ada pasien
bandel` yang menolak untuk dicabut giginya, padahal orthodontist menyatakan bahwa ada
giginya yang harus dicabut. Untuk yang bandel` seperti ini ya siap-siap saja giginya ngga akan
benar-benar beres`. Kembali ke gambar di atas, pada contoh kasus gigi dalam gambar tersebut
sangat mungkin non-orthodontist akan mencabut gigi lain (bukan yang ditunjuk oleh tanda panah
merah) untuk mempermudah pekerjaan yang mereka lakukan. Padahal gigi yang mungkin
dicabut tersebut adalah gigi seri atau gigi taring!
Cerita soal perlu tidaknya pencabutan gigi ini, ada sebuah kasus menarik. Mungkin karena
tingkat kesulitan kasus gigi yang dimiliki oleh pasien, atau karena mau ambil mudahnya saja, ada
seorang pasien yang dicabut gigi taringnya!!! Sengaja saya kasih tanda seru tiga.. Fungsi gigi
taring adalah Iungsi yang tak tergantikan. Gigi taring digunakan untuk mengoyak makanan. Jadi
kalau gigi taring dicabut, tentu pasien akan mengalami masalah waktu makan. Minimal waktu
harus mengoyak makanan dia hanya bisa menggunakan sebelah gigi taring yang masih lengkap
(di sebelah kiri saja atau sebelah kanan saja). Celakanya, setelah susunan gigi dianggap rapih,
orang yang melakukan perawatan gigi pasien ini melakukan aksi sulap` dengan mengikir gigi
geraham kecil bagian depan untuk menggantikan gigi taring! Prosedur semacam itu tidak akan
pernah terjadi jika yang melakukan adalah orang yang mengerti Iungsi masing-masing gigi dan
mengerti apa yang harus dilakukan dalam proses perawatan orthodonti yang benar. 'Perawatan
gigi yang salah bisa menyebabkan Iungsi gigi rusak dan masalah itu biasanya baru bisa dirasakan
setelah sekian lama memakai kawat gigi, ujar ProI. Dr. Eky Soeria Soemantri, Sp.Ort, dokter
ahli orthodonti dan dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Bandung.
Kesimpulan
Penggunaan kawat gigi ngga hanya sekedar soal 1a8hion atau gaya-gayaan. Ngga juga sekedar
asal rapih. Rapih saja tidak cukup. Gigi harus bisa berIungsi untuk mengunyah dengan
sempurna. Gigi atas harus bertemu dan menggigit dengan baik bersama gigi bawah. Kelainan
pada gigitan (istilah kerennya maloklusi) bisa diakibatkan karena susunan gigi yang berantakan,
atau karena kesalahan bentuk rahang, atau kombinasi keduanya.
Perawatan orthodonti tidak hanya sekedar membuat gigi asal rapih demi estetika, tapi juga harus
dapat memperbaiki Iungsi kunyah. Perawatan yang dilakukan oleh orang yang benar-benar
memahami ilmu orthodonti dapat memperbaiki kesalahan bentuk/posisi rahang. Perbaikan dari
susunan gigi dan rahang juga akan mempengaruhi bentuk wajah secara keseluruhan. Tanpa ilmu
yang benar, bisa saja dokter gigi atau tukang gigi malah membuat wajah Anda menjadi aneh!
Mereka yang tidak mengerti ilmu orthodonti (atau hanya mengetahui sepotong-sepotong) paling
top hanya akan dapat membuat gigi pasien terlihat rapih, tapi belum tentu pas posisinya untuk
menggigit antara gigi atas dan gigi bawah. Lebih celaka lagi, bisa membuat wajah pasien
berubah ke arah yang tidak diharapkan (kalau ngga mau disebut malah jadi makin jelek..).
Seseorang yang telah berpredikat dokter gigi dan ingin melanjutkan pendidikan menjadi dokter
gigi spesialis orthodonti akan menghabiskan waktu sedikitnya 3 (tiga) tahun untuk belajar
mengenai ilmu orthodonti saja. Sedangkan mereka yang tidak mengenyam pendidikan spesialis
orthodonti hanya berkesempatan mengenal ilmu orthodonti sekilas waktu kuliah. Itu pun perlu
dicatat bahwa mereka hanya mempelajari penggunaan alat orthodonti lepasan, tidak diajarkan
mengenai perawatan orthodonti menggunakan alat orthodonti cekat alias behel.
Seorang tukang gigi (istilahnya techneker) di pinggir jalan yang sama sekali tidak pernah
mendapatkan pendidikan Iormal sebagai seorang dokter gigi. Bayangkan saja, seseorang yang
lulus pendidikan sarjana pada Fakultas Kedokteran atau Fakultas Kedokteran Gigi saja tidak
langsung berpredikat sebagai dokter atau dokter gigi. Mereka harus melewati Iase untuk
mendapatkan status proIesi tersebut. Nah, apa pun alasannya, walau katanya si tukang gigi sudah
pernah belajar tentang kawat gigi dan sebagainya, tetap saja dia tidak berhak secara keilmuan
dan proIesi untuk berpraktek sebagai orthodontist. Hal serupa juga untuk dokter gigi yang tidak
mendalami orthodonti pada program pendidikan dokter gigi spesialis orthodonti.
Nah selanjutnya tinggal dicerna oleh calon pengguna bracket, pasang kawat gigi dengan dokter
gigi non spesialis orthodonti saja sangat tidak dianjurkan, bagaimana dengan praktek 'ahli gigi
yang sekarang marak. Sebagian masyarakat yang ngga tahu menahu soal perawatan orthodonti
dengan baik banyak yang menganggap remeh masalah ini. Penggunaan alat-alat kedokteran gigi
yang tidak memenuhi standar kesehatan tentunya akan berbahaya bagi kesehatan pasien.
Asal tahu saja, dokter gigi beresiko tertular penyakit dari pasiennya, setidaknya bisa melalui air
liur atau darah yang keluar dari gusi pasien. Untuk meminimalisir resiko tersebut dokter gigi
wajib menggunakan sarung tangan. Sarung tangan ini hanya boleh digunakan sekali untuk 1
pasien. Artinya, tiap ganti pasien dokter harus ganti sarung tangan. Tujuannya agar jangan
sampai virus yang mungkin dibawa oleh pasien sebelumnya tertular ke pasien berikutnya gara-
gara si dokter tidak ganti sarung tangan. Begitu juga dengan alat-alat kedokteran gigi yang
dipakai. Semua harus disterilisasi menggunakan alat sterilisasi khusus, sebelum boleh dipakai
pada pasien lain. Nah, dari hal yang sepertinya kecil ini saja silahkan dibayangkan apa yang akan
terjadi jika peralatan orthodonti yang digunakan oleh tukang gigi tanpa proses sterilisasi tiap kali
ganti pasien? Alat-alat tersebut dicuci di air yang mengalir setiap kali ganti pasien saja sudah
bagus. Walau jelas itu saja tidak cukup. Soal sarung tangan, jangan harap tukang gigi pakai.
Kalau pun pakai, sangat mungkin satu sarung tangan dipakai berpuluh kali. Kenapa? Bayangkan
saja jika sekali perawatan kawat gigi di tukang gigi pasien hanya diminta bayar RP 30.000,
komponen sarung tangan saja sudah memotong` budget sebesar Rp 5.000! Hitungan
ekonomisnya ngga masuk Baru dari sudut pandang kemungkinan terpapar penyakit (termasuk
HIV/AIDS lho!!) resiko yang dihadapi oleh pasien tukang gigi saja sudah berat. Apalagi ditinjau
dari berbagai resiko kesalahan prosedur pemasangan dan perawatan orthodonti yang dilakukan
tanpa pengetahuan memadai.