Anda di halaman 1dari 8

Tugas makalah perekonomian indonesia

05 Apr 2011 Leave a Comment


by risna angrumningsi in Uncategorized
PEMBANGUNAN EKONOMI INDONEISA
'Masalah Kemiskinan
Disusun :
NAMA : RISNA ANGRUMNINGSIH
NPM : 26210055
KELAS : 1EB19
UNIVERSITAS GUNADARMA
2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah penulis panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena
rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah pembangunan ekonomi indonesia. Selain
sebagai tugas, makalah yang penulis buat ini bertujuan memberi inIormasi kepada para pembaca
tentang masalah pokok pembangunan ekonomi Indonesia antara lain masalah kemiskinan,
dampaknya serta upaya pengentasan masalah kemiskinan.
Banyak sekali hambatan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu ,selesainya makalah ini
bukan semata karena kemampuan penulis, banyak pihak yang mendukung dan membantu.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang telah
membantu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan. Oleh sebab
itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan agar kedepannya kami mampu lebih
baik lagi.
Bekasi, April 2011
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
A. LATAR BELAKANG....................... 1
B. MASALAH............................... 1
C. LANDASAN TEORI.......................... 1
D. PEMBAHASAN
1. Kemiskinan Di Indonesia...................... 2
2. Dampak Kemiskinan......................... 2
3. Upaya Pengentasan Kemiskinan................... 3
E. PENUTUP................................. 6
LAMPIRAN.................................. 7
DAFTAR PUSTAKA 10
A. LATAR BELAKANG
Latar belakang pembuatan makalah ini adalah adanya tugas yang diberikan oleh dosen mata
kuliah Perekonomian Indonesia. Makalah ini di buat sebagai salah satu syarat untuk kelulusan
mata kuliah tersebut.
Tema Pembangunan Ekonomi Indonesia di pilih karena menurut penulis masih banyak masalah
yang perlu di soroti dalam hal ini. Masalah kemiskinan, dampaknya serta upaya pemerintah
untuk mengentaskan kemiskinan yang dari tahun ke tahun tak kunjung memberikan hasil yang
menggembirakan membuat semakin menariknya masalah ini untuk di bahas. selain itu mekalah
ini di buat sebagai pembelajaran bagi para pembaca terutama bagi penulis. Maka dengan alasan-
alasan tersebutlah makalah ini di buat.
B. MASALAH
Makalah ini akan membahas tentang masalah-masalah :
1. Kemiskinan Di Indonesia
2. dampak dari kemiskinan
3. upaya pngentasan kemiskinan
Masalah-masalah ini diangkat dengan asumsi bahwa nyatanya di jaman globalisasi seperti
sekarang ini, kemiskinan di Indonesia masih saja merajalela dan seperti tak kunjung usai.
masalah ini menimbulkan masalah-masalah baru seperti pengangguran, dan kekerasan yang
belakangan ini sering terjadi di Indonesia dan akhirnya pembangunan ekonomi Indonesia tidak
berjalan lancar.
C. LANDASAN TEORI
1. Lingkaran Kemiskinan
Konsep lingkaran kemiskinan (vicious circle oI proverty) ini pertama kali dikenalkan oleh
Ragnar Nurkse dalam bukunya yang berjudul Problems OI Capital Formation In
Underdeveloped Countries (1953).
Lingkaran kemiskinan dideIinisikan sebagai suatu rangkaian kekuatan yang saling
mempengaruhi satu sama lain sehingga menimbulkan suatu kondisi di mana sebuah Negara akan
tetap miskin dan akan mengalami banyak kesulitan untuk mencapai tingkat pembangunan yang
lebih tinggi. Menurut Nurkse, kemiskinan bukan hanya disebabkan oleh tidak adanya
pembangunan masa lalu, tetapi kemiskinan juga dapat menjadi Iaktor penghamabat dalam
pembangunan di masa mendatang. Sehubungan dengan hal itu, lahirlah suatu ungkapan nurkse
yang sangat terkenal yaitu 'a country is poor because it is poor.
Pada hakikatnya konsep lingkaran kemiskinan menganggap bahwa : 1) ketidakmampuan untuk
mengerahkan tabungan yang cukup, 2) kurangnya Iaktor pendorong untuk kegiatan penanaman
modal, dan 3) tingkat pendidikan dan keahlian masyarakat yang relatiI masih rendah ,
merupakan tiga Iaktor utama yang menghambat proses pembentukan modal dan pembangunan
ekonomi di berbagai Negara yanga sedang berkembang.
Gambar 1.1 lingkaran kemiskinan (terlampir) akan memperjelas bagaimana konsep ini mampu
menjelaskan dengan baik tentang penyebab kemiskinan yang tidak berkesudahan dan Iaktor-
Iaktor yang dinilai menjadi penghambat pembangunan di Negara sedang berkembang.
D. PEMBAHASAN
1. Kemiskinan Di Indonesia
Kemiskinan menurut Wikipedia bahasa Indonesia adalah keadaan dimana terjadi
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat
berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Masalah kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan global. di Indonesia masalah
kemiskinan seperti tak kunjung usai. masih banyak kita dapati para pengemis dan gelandangan
berkeliaran tidak hanya di pedesaan bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta pun pemandangan
seperti ini menjadi tontonan setiap hari.
Kini di Indonesia jerat kemiskinan semakin parah. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret
2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen (www.bps.go.id). Kemiskinan bukan semata-
mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural.
Hari Susanto (2006) mengatakan umumnya instrumen yang digunakan untuk menentukan
apakah seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat tersebut miskin atau tidak bisa
dipantau dengan memakai ukuran peningkatan pendapatan atau tingkat konsumsi seseorang atau
sekelompok orang. Padahal hakikat kemiskinan dapat dilihat dari berbagai Iaktor. Apakah itu
sosial-budaya, ekonomi, politik, maupun hukum.
Menurut Koerniatmanto Soetoprawiryo menyebut dalam Bahasa Latin ada istilah esse (to be)
atau (martabat manusia) dan habere (to have) atau (harta atau kepemilikan). Oleh sebagian besar
orang persoalan kemiskinan lebih dipahami dalam konteks habere. Orang miskin adalah orang
yang tidak menguasai dan memiliki sesuatu. Urusan kemiskinan urusan bersiIat ekonomis
semata.
Bila kita cermati kondisi masyarakat dewasa ini. Banyak dari mereka yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Bahkan, hanya untuk mempertahankan hak-
hak dasarnya serta bertahan hidup saja tidak mampu. Apalagi mengembangkan hidup yang
terhormat dan bermartabat.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan menambah panjang deret persoalan yang membuat negeri
ini semakin sulit keluar dari jeratan kemiskinan. Hal ini dapat kita buktikan dari tingginya
tingkat putus sekolah dan buta huruI. Belum lagi tingkat pengangguran yang meningkat
'signiIikan. Jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 di Indonesia sebanyak 12,7 juta orang.
Ditambah lagi kasus gizi buruk yang tinggi, kelaparan/busung lapar, dan terakhir, masyarakat
yang makan 'Nasi Aking.
2. Dampak Kemiskinan
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks,
diantaranya :
1. Pengangguran.
Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena
tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu
memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing
dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat
pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
2. Kekerasan.
Kekerasan-kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan eIek dari pengangguran.
Karena seseorang tidak mampu lagi mencari naIkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika
tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya
maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu.
belakangan banyak oknum-oknum yang menggunakan modus penipuan melalui sms.
3. Pendidikan
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan Ienomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya
pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau
pendidikan. Karena untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
Kondisi seperti ini membuat masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat
putus sekola berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan
mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan
menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang
menuntut keterampilan di segala bidang.
4. Kesehatan
Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan
apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tariI atau ongkos pengobatan yang biayanya
melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
3. Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Indonesia
Seperti telah disinggung di atas bahwa kemiskinan merupakan suatu masalah yang kompleks dan
multidimensional yang tak terpisahkan dari pembangunan mekanisme ekonomi, sosial dan
politik yang berlaku. Oleh karena itu setiap upaya pengentasan kemiskinan secara tuntas
menuntut peninjauan sampai keakar masalah. Jadi, memang tak ada jalan pintas untuk
mengentaskan masalah kemiskinan ini. Penanggulanganya tidak bisa dilakukan dengan tergesa-
gesa.
Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional
Penanggulangan Kemiskinan (SNPK). Disamping turut menandatangani Tujuan Pembangunan
Milenium (atau Millennium Development Goals) untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya
pemerintah telah menyusun tujuan-tujuan pokok dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun
2009, termasuk target ambisius untuk mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun
2002 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009.
Dalam pelaksanaan program pengentasan nasib orang miskin, keberhasilannya bergantung pada
langkah awal dari Iormulasi kebijakan, yaitu mengidentiIikasikan siapa sebenarnya 'si miskin
tersebut dan dimana ia berada. Kedua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat proIil
dari si miskin.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak rumah tangga yang
berada disekitar garis kemiskinan nasional, yang setara dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga
banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan.
Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas
kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong miskin dari segi
pendapatan dapat dikategorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan
dasar serta rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas
dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari
kemiskinan di Indonesia.
Tiga cara untuk membantu mengangkat diri dari kemiskinan adalah melalui pertumbuhan
ekonomi, layanan masyarakat dan pengeluaran pemerintah. Masing-masing cara tersebut
menangani minimal satu dari tiga ciri utama kemiskinan di Indonesia, yaitu: kerentanan, siIat
multi-dimensi dan keragaman antar daerah (lihat Tabel 1). Dengan kata lain, strategi pengentasan
kemiskinan yang eIektiI bagi Indonesia terdiri dari tiga komponen:
Membuat Pertumbuhan Ekonomi BermanIaat bagi Rakyat Miskin.
Pertumbuhan ekonomi telah dan akan tetap menjadi landasan bagi pengentasan kemiskinan.
Pertama, langkah membuat pertumbuhan bermanIaat bagi rakyat miskin merupakan kunci bagi
upaya untuk mengkaitkan masyarakat miskin dengan proses pertumbuhan baik dalam konteks
pedesaan-perkotaan ataupun dalam berbagai pengelompokan berdasarkan daerah dan pulau. Hal
ini sangat mendasar dalam menangani aspek perbedaan antar daerah. Kedua, dalam menangani
ciri kerentanan kemiskinan yang berkaitan dengan padatnya konsentrasi distribusi pendapatan di
Indonesia, apapun yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat akan dapat dengan cepat
mengurangi angka kemiskinan serta kerentanan kemiskinan.
Membuat pertumbuhan bermanIaat bagi masyarakat miskin memerlukan langkah untuk
membawa mereka pada jalan yang eIektiI untuk keluar dari kemiskinan. Hal ini berarti
memanIaatkan transIormasi struktural yang sedang berlangsung di Indonesia yang ditandai oleh
dua Ienomena. Pertama, sedang terjadi pergeseran dari kegiatan yang berbasis pedesaan ke
kegiatan yang berbasis perkotaan. Kedua, telah terjadi pergeseran yang menonjol dari kegiatan
bertani (Iarm) ke kegiatan non-tani (non-Iarm). TransIormasi ini menunjukan adanya dua jalan
penting yang telah diambil oleh rumah tangga untuk keluar dari kemiskinan di Indonesia.
1. Peningkatan produktivitas pertanian.
2. Peningkatan produktivitas non-pertanian, baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan
yang 'dikotakan dengan cepat.
Membuat Layanan Sosial BermanIaat bagi Rakyat Miskin.
Penyediaan layanan sosial bagi rakyat miskin baik oleh sektor pemerintah ataupun sektor swasta-
adalah mutlak dalam penanganan kemiskinan di Indonesia. Pertama, hal itu merupakan kunci
dalam menyikapi dimensi non-pendapatan kemiskinan di Indonesia. Indikator pembangunan
manusia yang kurang baik, misalnya Angka Kematian Ibu yang tinggi, harus diatasi dengan
memperbaiki kualitas layanan yang tersedia untuk masyarakat miskin. Hal ini lebih dari sekedar
persoalan yang bekaitan dengan pengeluaran pemerintah, karena berkaitan dengan perbaikan
sistem pertanggungjawaban, mekanisme penyediaan layanan, dan bahkan proses
kepemerintahan. Kedua, ciri keragaman antar daerah kebanyakan dicerminkan oleh perbedaan
dalam akses terhadap layanan, yang pada akhirnya mengakibatkan adanya perbedaan dalam
pencapaian indikator pembangunan manusia di berbagai daerah. Dengan demikian, membuat
layanan masyarakat bermanIaat bagi rakyat miskin merupakan kunci dalam menangani masalah
kemiskinan dalam konteks keragaman antar daerah.
Membuat layanan bermanIaat bagi masyarakat miskin memerlukan perbaikan sistem
pertanggungjawaban kelembagaan dan memberikan insentiI bagi perbaikan indikator
pembangunan manusia. Saat ini, penyediaan layanan yang kurang baik merupakan inti persoalan
rendahnya indikator pembangunan manusia, atau kemiskinan dalam dimensi non-pendapatan,
seperti buruknya pelayanan kesehatan dan pendidikan. Bidang lain yang memerlukan perhatian
adalah perbaikan akses bagi masyarakat miskin terhadap pelayanan untuk menekan kesenjangan
antar daerah dalam hal indikator pembangunan manusia. Di bidang pendidikan, salah satu
masalah kunci adalah tingginya angka putus sekolah di masyarakat miskin pada saat mereka
melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP. Dalam menyikapi aspek multidimensional kemiskinan,
upaya-upaya hendaknya diarahkan pada perbaikan penyediaan layanan, khususnya perbaikan
kualitas layanan itu sendiri. Upaya-upaya tersebut dapat di wujudkan dalam bentuk :
1. Meningkatkan tingkat partisipasi sekolah menengah pertama
2. Layanan kesehatan dasar yang lebih baik untuk masyarakat miskin maupun untuk penyedia
layanan.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat miskin dalam mengakses air bersih dan
sanitasi.
4. Perjelas tanggungjawab Iungsional dalam penyediaan layanan.
5. Perbaiki penempatan dan manajemen PNS.
6. Berikan insentiI lebih besar untuk para penyedia layanan.
Membuat Pengeluaran Pemerintah BermanIaat bagi Rakyat Miskin.
Di samping pertumbuhan ekonomi dan layanan sosial, dengan menentukan sasaran pengeluaran
untuk rakyat miskin, pemerintah dapat membantu mereka dalam menghadapi kemiskinan (baik
dari segi pendapatan maupun non-pendapatan). Pertama, pengeluaran pemerintah dapat
digunakan untuk membantu mereka yang rentan terhadap kemiskinan dari segi pendapatan
melalui suatu sistem perlindungan sosial modern yang meningkatkan kemampuan mereka sendiri
untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Kedua, pengeluaran pemerintah dapat digunakan
untuk memperbaiki indikator-indikator pembangunan manusia, sehingga dapat mengatasi
kemiskinan dari aspek non-pendapatan. Membuat pengeluaran bermanIaat bagi masyarakat
miskin sangat menentukan saat ini, terutama mengingat adanya peluang dari sisi Iiscal yang ada
di Indonesia saat kini.
Pengurangan subsidi BBM merupakan langkah besar ke arah pengeluaran publik pemerintah
yang lebih berpihak pada masyarakat miskin. Sampai saat ini, pengeluaran pemerintah tidak
selalu bisa secara eIektiI mengatasi kendala yang dihadapi masyarakat miskin untuk keluar dari
kemiskinan. Ketika pemerintah memperoleh kelonggaran Iiskal menyusul realokasi subsidi BBM
yang regresiI, penting untuk memastikan bahwa pengeluaran tersebut benar-benar berdampak
positiI bagi masyarakat miskin. Sekarang pemerintah mempunyai kesempatan untuk menangani
masalah kerentanan tinggi masyarakat miskin di Indonesia dengan cara mengarahkan belanja
pemerintah ke dalam sistem jaminan sosial yang mampu mengurangi kerentanan tersebut. Salah
satu komponen penting dari realokasi pengeluaran pemerintah adalah memusatkan perhatian
pada upaya peningkatan penghasilan masyarakat miskin. Pengeluaran pemerintah yang bisa
berdampak langsung pada peningkatan penghasilan juga akan berdampak positiI pada
penanganan kemiskinan. Salah satu prioritas yang bisa dikedepankan-dan telah dimulai oleh
pemerintah-ialah memperluas cakupan pembangunan berbasis masyarakat (community driven
development atau CDD).
E. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kemiskinan menurut Wikipedia bahasa Indonesia adalah keadaan dimana terjadi
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat
berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks,
diantaranya : pengangguran, kekerasan, masalah pendidikan dan masalah kesehatan.
Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional
Penanggulangan Kemiskinan (SNPK).
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak rumah tangga yang
berada disekitar garis kemiskinan nasional. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada
pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Ketiga,
mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan
ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.
Tiga cara untuk membantu mengangkat diri dari kemiskinan adalah melalui pertumbuhan
ekonomi, layanan masyarakat dan pengeluaran pemerintah.
2. Saran
Masalah kemiskinan hendaknya menjadi prioritas agar tidak menimbulkan masalah-maslah
lain.
Dalam hal pengentasan kemiskinan perlu diperhitungkan kebijakan-kebijakan apa yang cocok
dengan proIil kemiskinan yang sedang dihadapi.
LAMPIRAN
Gambar 1.1
Lingkaran Kemiskinan
(3)
(1)
(2)
Tabel 1 Pendekatan untuk menyikapi masalah-masalah kemiskinan di Indonesia
Dimensi kemiskinan Indonesia
Kerentanan SiIat multi-dimensi Keragaman antar daerah
Pertumbuhan ekonomi
Layanan sosial
Pengeluaran pemerintah
Catatan: Menunjukkan kaitan antara area tematik dengan aspek kemiskinan; menunjukkan kaitan
penting/erat, menunjukkan kaitan yang kurang erat.
DAFTAR PUSTAKA
Basri, Faisal. 1995. Perekonomian Indonesia Menjelang Abad XXI. Erlangga : Jakarta.
www.bps.go.id
www.wikipedia.com
http://www.ekonomirakyat.org/index4.php
http://els.bappenas.go.id/upload/other/MDGs20dan20Masalah20Kemiskinan20di20In
donesia.htm