Anda di halaman 1dari 3

Novel Bekisar Merah

Pengarang : Ahmad Tohari


Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 309 Halaman
Tokoh : Lasi, Kanjat, Wiryaji, Eyang Atus, Pak Tir, Bunet
(Tukang Pijat)

1.1. #ingksan Cerita

Bekisar merupakan sejenis ayam, hasil persilangan antara ayam hutan dengan ayam
piaraan. Keberadaannya cukup langka dan memiliki banyak keistimewaan. Sejumlah
hobiis ayam dan unggas menghargainya demikian tinggi. Jauh lebih tinggi dari harga
masing-masing induknya.
Tetapi novel ini tidak berbicara tentang bekisar dalam artian sesungguhnya. Novel ini
justru berkisah tentang kehidupan Karangsoga, kampung pembuat gula kelapa; dimana
para lelaki memanjat kelapa untuk memperoleh nira yang dikumpulkan dalam pongkor
bambu; sementara para perempuan menunggu dirumah sembari bersiap memasak nira
dalam tungku panas hingga menjadi gula.
Meskipun mereka memiliki sendiri pohon kelapa dan memproduksinya hingga
menjadi gula, kehidupan mereka tidak pernah sejahtera. Ini karena mereka tidak
mampu mengakses pasar secara langsung. Gula kelapa dibeli oleh tengkulak, dengan
harga dan timbangan yang menyedihkan. bahan baku maupun tenaga kerja pembuat
gula kelapa tidak dihargai sebagaimana mestinya. Sementara tengkulak, cukong dan
jaringan distribusi lain mengeruk kemakmuran diatas jerih payah orang lain.
Dengan latar belakang itu, Ahmad Tohari menampilkan tokoh Lasi sebagai sosok
sentral. Keturunan blasteran Jawa Jepang ini dikisahkan sebagai perempuan paling
cantik diantara sebayanya. Semasa muda, Lasi selalu menjadi olok-olok teman
sekolahnya. Karena matanya yang sipit, berbeda dengan kebanyakan anak
Karangsoga. Tetapi ada satu anak yang tidak ikut menggoda Lasi, bernama Kanjat.
Dua tahun lebih muda, namun pintar dan baik hati, di mata Lasi.

Menginjak usia dewasa, Lasi kemudian menikah. Ia menjadi istri Darsa, pemanjat
yang memiliki dua belas pohon kelapa. Sekaligus juga keponakan Wiryaji, suami
sambung ibunya. Kehidupan pasangan muda ini berbahagia, meskipun dalam jerat
kemiskinan dan bayangan masa depan tidak menentu. Sampai tiga tahun pernikahan,
mereka belum juga memiliki keturunan.
Suatu ketika Darsa jatuh dari pohon kelapa, tidak mati tetapi mengalami luka parah,
terus menerus buang air kecil tanpa henti. Dengan sabar Lasi merawatnya. Bahkan
sampai menggadaikan tanah pada tengkulak untuk menutup biaya pengobatan Darsa di
Rumah Sakit. Meskipun Ia tahu konsekuensinya, harga gula produksinya akan
dipermainkan dengan seenak hati oleh tengkulak. Tapi Darsa belum sembuh benar,
terpaksa dibawa pulang karena ketiadaan biaya.
Sampai di rumah, Darsa kemudian berobat pada dukun pijat, Bunek. Perlahan tapi
pasti, Ia kemudian sembuh. Hingga suatu pagi, Ia mendatangi istrinya bercerita bahwa
Ia sudah tidak ngompol lagi. Sejenak kebahagian dirasakan pasangan muda ini. Gairah
yang sekian lama terpendam dapat disalurkan. Darsa kembali utuh sebagai lelaki.
Tetapi disinilah justru permasalahan dan konIlik mulai terbangun. Tidak berapa lama
semenjak kesembuhan Darsa. Sipah, anak Bunek meminta pertanggungjawaban. Ia
mengaku hamil oleh perbuatan Darsa. Lasi kemudian kalut, bercampur sedih dan
jengkel karena suami yang dirawat dengan penuh kasih dan pengorbanan semasa sakit
ternyata berbuat tidak semestinya dengan perempuan lain. Lasi kemudian lari ke
Jakarta, menumpang truk Pardi, tetangganya mengantarkan gula kelapa.
Sebagaimana sopir kebanyakan, Pardi memiliki sejumlah rumah makan langganan
sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Ia juga punya `pacar` di tiap rumah makan yang
disinggahi. Lasi kemudian dititipkan di salah satu rumah makan langganan Pardi untuk
diambil kembali sepulang dari Jakarta. Lasi diperlakukan dengan sangat baik oleh
pemilik rumah makan, Bu Koneng. Seolah menemukan kedamaian, Ia tidak mau
kembali ke Karangsoga. Tetapi tidak ada kebaikan tanpa pamrih, apalagi di kota besar
seperti Jakarta.
Petualangan Lasi berlanjut. Karena keluguannya, Ia tidak sadar kalau masuk dalam
perangkap perdagangan perempuan. Lepas dari Bu Koneng, Ia kemudian dibawa oleh
Bu Lanting, yang terkagum akan kecantikan Lasi. Sekali lagi, Bu Lanting adalah
orang baik di mata Lasi, sementara Lasi berprinsip bahwa ketika menerima kebaikan
seseorang, Ia seperti berhutang sehingga harus dibayar dengan kebaikan pula. Karena
itu ia menurut saja ketika diajak ikut Bu Lanting ke rumahnya. Perempuan bermata
sipit pada masa itu memang sedang tren, mengikuti Pemimpin Besar Revolusi yang
memiliki istri bermata sipit.
Oleh Bu Lanting, Lasi dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi kian cantik. Ia juga
dibiasakan dengan budaya kota, termasuk dalam hal berpakaian dan gaya hidup.
Sampai dianggap siap, Ia kemudian dikenalkan dengan Handarbeni, lelaki tua yang
sedang mencari perempuan bermata sipit untuk dijadikan istri, entah keberapa.
Singkat cerita, Lasi kemudian menikah dengan Handarbeni. Sebuah pernikahan pura-
pura, tanpa makna. Sekedar prestise bagi Handarbeni. Dalam rangka mengurus surat
cerai dari Darsa, Lasi kembali ke Karangsoga sebagai `sosok berbeda`. Lasi yang
sangat kaya dan kian cantik. Ia bercengkrama kembali dengan sebagian masa lalunya.
Bertemu kembali dengan Kanjat yang sudah menjadi sarjana. Dua insan ini ternyata
saling menyukai. Namun masing-masing harus menjalani takdirnya, Lasi kembali ke
Jakarta dan menjalani pernikahan semu dengan Handarbeni. Sementara hatinya tetap
untuk Kanjat.
Novel ini berakhir dengan tragis, dimana Karangsoga dan penduduknya semakin
merana. Namun tampaknya akhir cerita sengaja digantung oleh penulis, entah demi
kepentingan interpretasi dan imajinasi pembaca atau apa.

1.2. Makna Yang Terkandung
a. Hidup dan kehidupan adalah sebuah perjuangan yang harus dilakukan oleh
semua manusia untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan demi tercapai
dan terpenuhinya kenyamanan dan kesejahteraan hidup walaupun dalam
prosesnya terdapat banyak hambatan tetapi kita jangan berputus asa dan
harus tetap semangat dalam menjalankan kehidupan ini, walaupun seorang
wanita sekalipun.
b. Kisah perdagangan wanita Orang lugu yang menerima kebaikan orang lain
dan merasa berkewajiban membalasnya. Dia, tanpa sadar, dan tanpa merasa
tertipu atau terintimidasi, masuk dalam alur perdagangan perempuan yang
mengekploitasi kecantikan ragawi semata. Bahkan Lasi turut menikmati
sesuatu yang justru menjadikannya sebagai obyek.
Kunjungi Blog Kami di : http://www.pustakasekolah.com/