Anda di halaman 1dari 4

Di Bawah Lindungan Ka`bah

Pengarang : HAMKA
Penerbit : Perpustakaan Perguruan Kementerian PPK Jakarta 1955
Tebal : 68 Halaman
Pelaku Utama : Hamid dan Zainab

1.1. #ingkasan Cerita
$eorang pemuda bernama Hamid, sejak berumur empat tahun telah ditinggal mati
ayahnya. Ayah Hamid mula-mula ialah seorang yang kaya. Karena itu banyak sanak
saudara dan sahabatnya. Tetapi setelah perniagaannya jatuh dan menjadi melarat, tak
ada lagi sanak saudara dan sahabatnya yang datang. Karena sudah tak terpandang lagi
oleh orang-orang sekitarnya itu, maka pindahlah ayah Hamid beserta ibunya ke kota
Padang, yang akhirnya dibuatnya sebuah rumah kecil. Di tempat itulah ayah Hamid
meninggal.
Tatkala Hamid berumur enam tahun, untuk membantu ibunya ia minta kepada ibunya
agar dibuatkan jualan kue-kue untuk dijajakan setiap pagi.
Di dekat rumah hamid terdapat sebuah gedung besar yang berpekarangan luas. Rumah
itu telah kosong karena pemiliknya, seorang Belanda, telah kembali ke negerinya.
Hanya penjaganya yang masih tinggal, yakni seorang laki-laki tua yang bernama Pak
Paiman. Tetapi tak lama kemudian, rumah itu dibeli oleh seorang-orang kaya yang
bernama Haji JakIar. Isterinya bernama Mak Asiah dan anaknya hanya seorang
perempuan saja yang bernama Zainab.
$etiap hari Hamid dipanggil oleh Mak Asiah karena hendak membeli makanan yang
dijualnya itu. Pad awaktu itu juga ia ditanya oleh Mak Asiah tentang orang tuany6a
dan tempat tinggalnya. $etelah Hamid menjawab pertanyaan itu, Mak Asiah pun
meminta kepada Hamid agar ibunya datang ke rumahnya. $ejak kedatangan ibu
Hamid ke rumah Mak Asiah itulah, maka persahabatan mereka itu menjadi karib dan
Hamid beserta ibunya sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
Ketika Hamid berumur tujuh tahun, ia pun atas biaya Haji JakIar yang baik hati itu
disekolahkan bersama-sama anaknya, Zainab, yang umurnya lebih muda daripada
Hamid. Pergaulan Hamid dengan Zainab, seperti pergaulan antara kakak dengan adik
saja. $etelah tamat dari $D, Hamid dan Zainab pun sama-sama dilanjutkan sekolahnya
ke Mulo.
$etelah keduanya tamat dari Mulo, barulah Hamid berpisah dengan Zainab, karena
menurut adat Zainab harus masuk pingitan, sedang Hamid yang masih dibiayai oleh
Haji JakIar, meneruskan pelajaran ke sekolah agama di Padangpanjang. Di sekolah
itulah Hamid mempunyai seorang teman laki-laki yang bernama $aleh.
Pada suatu petang, tatkala Hamid pergi berjalan-jalan di pesisir, bertemulah ia dengan
Mak Asiah yang baru datang dari berziarah ke kubur suaminya. Ia naik perahu sewaan
bersama-sama dua orang perempuan tua lainnya. Pada pertemuan itulah Mak Asiah
mengharapkan kedatangan Hamid ke rumahnya pada keesokan harinya, karena ada
suatu hal penting yang hendak dibicarakannya. $etelah Hamid datang pada keesokan
harinya ke rumah Mak Asiah, maka Hamid pun dimintai tolong oleh Mak Asiah agar
ia mau membujuk Zainab untuk bersedia dinikahkan dengan kemenakan Haji JakIar
yang pada waktu itu masih bersekolah di Jawa. Tetapi permintaan itu ditolak oleh
Zainab dengan alasan ia belum lagi hendak menikah. Penolakan itu sebenarnya
disebabkan Zainab sendiri telah jatuh cinta kepada Hamid. Bagi Hamid sendiri,
sebenarnya ia cinta kepada Zainab, hanya cintanya itu tidak dinyatakan berterus terang
kepada Zainab. Karena itulah, sebenarnya suruhan Mak Asiah itu bertentangan dengan
isi hatinya. Tetapi karena ia telah berhutang budi kepada Mak Asiah, maka
dilaksanakan permintaan tersebut. $etelah kejadian itu Hamid pun pulang ke
rumahnya, tetapi sejak itu, ia tidak pernah lagi datang ke rumah Mak Asiah, karena
sejak itu ia meninggalkan kota Padang menuju Medan dan selanjutnya pergi ke tanah
$uci Mekah. Dari Medan Hamid berkirim surat kepada Zainab untuk minta diri pergi
menurutkan kemana arah kakinya berjalan. $urat Hamid itulah yang selalu
mendampingi Zainab yang dalam kesepian itu.
Tentang $aleh, setelah ia tamat dari pelajarannya di sekolah agama di Padangpanjang,
ia pun menikah dengan seorang gadis teman Zainab yang bernama Rosna. $etelah
menikah $aleh meneruskan pelajarannya ke Mesir. Tetapi sebelum ke Mesir, ia naik
haji ke Mekah lebih dahulu. Tentang Rosna, walaupun ia sudah menikah, sering pula
ia datang ke rumah Zainab, sehingga dari gerak-gerik dan pernyataan Zainab
kepadanya nyata sekali bahwa Zainab sebenarnya mencintai Hamid. Hal itu oleh
Rosna diberitahukan kepada suaminya yang ada di Mekah. Kebetulan di Mekah $aleh
dapat bertemu dengan Hamid dan pengaduan isterinya itu dikabarkan pula kepada
Hamid, sehingga hal Zainab yang sengaja dilupakannya itu, sekarang timbul dalam
ingatannya kembali. Hanya saja sekarang ia lebih senang, karena ternyata cintanya
mendapat balasan dari pihak Zainab.
$epuluh hari kemudian sekembali $aleh berziarah dari Madinah, ia mendapat surat
dari Rosna yang mengabarkan keadaan diri Zainab yang makin bertambah kurus
karena sakit-sakit saja. Bersamaan dengan surat itu, Hamid pun menerima surat dari
Zainab yang mengabarkan tentang dirinya yang sakit-sakit saja, sehingga ia
berpengharapan sangat tipis untuk dapat bertemu. Kedatangan surat Zainab itulah
yang menyebabkan kesehatan Hamid bertambah terganggu an sakitnya makin payah.
Tidak lama kemudian $aleh mendapat kawat dari isterinya yang mengabarkan bahwa
Zainab telah meninggal. Kabar kematian Zainab itu dapat diketahui oleh Hamid
sehingga menyebabkan ia makin bertambah sedih. Kesedihan yang dideritanya itulah
yang menyebabkan Hamid meninggal dunia di bawah lindungan kaabah di tanah suci
Mekah, dan dikuburkan di kuburan tanah suci itu.
Akhirnya ceritera ini diakhiri dengan kunjungan pengarang (karena ceritera ini
berbentuk aku) dan $alek ke kubur Hamid sebelum mereka itu meninggalkan tanah
suci karena telah menunaikan ibadah haji itu. $etelah itu pengarang dan $aleh menuju
ke Jedah. Di Jedah itulah mereka itu berpisah. $aleh meneruskan pelajarannya ke
Mesir, sedang pengarang terus pulang ke tanah airnya.

1.2. akna Yang Terkandun
a. Di balik kisah tersebut ada ajaran budi pekerti yang perlu dicermati antara
lain rasa kesadaran diri karena status social dalam masyarakat ternyata
sangat berpengaruh terhadap pemilihan jodoh.
b. Kisah roman ini saya nilai telah mengajarkan kepada kita bagaimana
ketulusan cinta itu dilahirkan.
c. Bagaimana seharusnya manusia menghadapi segala beban hidupnya, dan
tentunya mengajarkan kepada kita apa makna kecintaan pada dua insan
manusia itu. Nilai luhurnya mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita semua
dalam menyikapi hidup ini, ditambah lagi kedalaman makna dan kata-
katanya, yang membuat kita hanyut untuk merasakan pula apa yang mereka
rasakan.
d. Mengupas masalah kawin paksa yang berlaku di Minangkabau.
e. Pernikahan yang dilaksanakan karena paksaan orang tua ataupun adat akan
berakibat tidak baik. Karena itu orang tua perlu mempertimbangkan
pendapat anak yang hendak dinikahkan.
I. Kebahagiaan hidup akan runtuh jika jiwa atau batin manusia telah
rusak, walaupun betapa banyak harta benda kekayaan orang itu.