Anda di halaman 1dari 4

1

http://www.pustakasekolah.com/


Azab Dan Sengsara

!engarang : Merari Siregar
!enerbit : Dinas !enerbitan Balai !ustaka Jakarta 1958
Tebal : 189 halaman
!elaku Utama : Aminudin dan Mariamin

1.1. #ngkasan Cer9a
Suatu keluarga mempunyai dua orang anak, seorang bernama Tohir (setelah dewasa
bergelar Sutan Baringin), dan seorang lagi perempuan, adik Sutan Baringin yang
menikah dengan Sutan di atas, seorang Kepala Kampung A dari Lubak Sipirok, dan
mempunyai seorang anak tunggal laki-laki bernama Aminudin.
Ayah Sutan Baringin bersikap keras dalam mendidik sutan Baringin, tetapi sikap itu
ditentang oleh isterinya yang bermaksud memanjakan Sutan Baringin. Cara mendidik
Ibu Sutan Baringin yang salah itulah yang menyebabkan azab dan sengsara yang
diderita oleh cucunya yang bernama Mariamin, yaitu anak Sutan Barimin yang sulung
dengan isterinnya seorang wanita yang saleh bernama Nuria. Mariam mempunyai adik
laki-laki.
Hubungan antara Aminudin dengan Mariamin seperti kakak dengan adik saja
(menurut adat Batak, Aminudin memanggil anggi (adik) kepada Mariamin). Mereka
itu semasa bersekolah selalu bersama pergi ke sekolah. Setelah dewasa, timbullah
perasaan cinta di antara mereka. Mereka akhirnya mengikat janji akan sehidup semati.
Suatu Baringin termasuk orang yang kaya, karena memperoleh harta peninggalan dari
neneknya. Sebenarnya harta warisan itu harus dibagi dua dengan baginda Mulia, adik
sepupu Sutan Baringin yang menjadi guru di Medan.
!ada suatu hari Baginda Mulia memberitahu Sutan Baringin bahwa ia akan pulang dan
tinggal bersama-sama dengan Sutan Baringin jarena permintaan pindahnya
dikabulkan. Hal itu tidak menyenangkan hati Sutan Baringin, karena menurut
pendapatnya, kedatangan Baginda Mulia akan mengurangi harta kekayaannya saja
dengan jalan meminta separuh dari harta peninggalan neneknya tersebut. Karena itu
sebelum adik sepupunya itu datang, ia sudah siap sedia, yakni ia mendatangkan
sahabatnya yang menjadi pokrol bambu bernama Marah Sait. Atas hasutan Marah Sait


http://www.pustakasekolah.com/
yang bermaksud mencari keuntungan itulah maka jadilah perkara mengenai harta
warisan dengan Baginda Mulia. Nasihat-nasihat dan sekalian Iamilinya, demikian pula
dari isterinya, sama sekali tidak dihiraukannya. Kedatangan Baginda Mulia secara
baik-baik dan harapannya kepada kakaknya agar masalah harta peninggalan itu
hendaknya diselesaikan secara damai saja, tidak diterima oleh sutan Baringin, bahkan
sejak itu Baginda Mulia dianggap bukan saudaranya lagi dan perkara tetap
dilangsungkan.
!erkara dihadapkan ke !engadilan !adangsidempuan. !utusan pengadilan ialah bahwa
harta warisan itu dibagi dua. Terhadap putusan itu Sutan baringin tidak puas. Atas
hasutan Marah Sait, perkara itu dilanjutkan ke pengadilan !adang. !utusan pengadilan
!adang sama dengan putusan pengadilan padangsidempua. Terhadap putusan
pengadilan !adang itu masih juga belum memuaskan hati Sutan Baringin. Karena itu
atas hasutan Marah Sait, ia minta putusan pengadilan Jakarta. !engadilan Jakarta pun
memberikan putusan yang sama. Maka pulanglah Sutan Baringin ke rumahnya.
Rumah dan segala kekayaannya habis terjual untuk biaya perkara itu. Maka pindahlah
Sutan Baritan ke suatu pondok kecil di tepi sungai sipirok. Karena sedihnya, maka tak
berapa lama kemudian, meninggalkan Sutan Baringin di pondok kecil itu.
Setelah Aminudin dewasa, orang tuanya bermaksud hendak menikahkannya dengan
seorang anak gadis pilihan orang tuanya, padahal Aminudin sendiri telah mengikat
janji akan sehidup semati dengan Mariamin Karena itu setelah ia minta diri kepada
Mariamin, ia pergi ke Medan untuk mencari pekerjaan sebagai seorang kerani,
sehingga dengan demikia orang tuanya terpaksa mengurungkan niatnya.
Sepeninggal Aminudin banyak orang yang melamar Mariamin, tetapi ia sendiri tidak
mau, karena ia telah mengikat janji pula dengan Aminudin.
Beberapa bulan kemudian Aminudin minta menikah kepada orang tua nya dengan
memberitahukan bahwa isteri yang diinginkannya ialah Mariamin. Bersamaan dengan
itu kepada Mariamin pun ia memberi kabar tentang itu dan memintanya agar bersiap-
siap.
!ermintaan Aminudin disetujui ibunya, mengingat bahwa Mariamin masih kaumnya
sendiri, lagu pula baik budi bahasanya. Tetapi ayahnya tidak menyetujui karena
keluarga Marimin sekarang telah miskin. Akhirnya mereka itu pergi ke rumah seorang
datu (dukun). Dukun mengatakan bahwa pernikahan antara Aminudin dengan


http://www.pustakasekolah.com/
Mariamin kelak akan berakibat tidak baik. Maka mereka pun mencari anak gadis lain
untuk jodoh Aminudin. Setelah mereka tiu memperoleh jodoh Aminudin, yakni anak
seorang kepala kampung, maka Aminudin pun diberitahu agar mereka dijemput di
stasiun tetapi tidak diberitahu bahwa yang dibawa itu bukan Mariamin. Setelah mereka
itu datang alangkah terkejut Aminudin ketika dilihatnya bahwa yang dibawa oleh
orang tuanya itu bukan Mariamin. Setelah diceritakan oleh seorang tuanya mengapa ia
tidak membawa Mariamin, maka dengan berat diterimanya juga isteri pemberian
orang tuanya itu. Setelah itu juga Aminudin memberitahukan peristiwa itu kepada
Mariamin. Membaca surat Aminudin itu, Mariamin pun pinsanlah. Untunglah pada
waktu itu ibunya ada di dekatnya sehingga dapat membelanya.
Setelah orang tua Aminudin pulang dari Medan, atas permintaan Aminudin mereka itu
datang minta maaI kepada keluarga Mariamin.
!ada suatu hari Mariamin dilamar oleh seorang laki-laki bernama Kasibun. Atas
nasihat ibunya Mariamin menerima lamaran itu walaupun orang itu belum dikenalnya
betul. Setelah pernikahan dan berziarah ke kubur Sutan Baringin, maka pergilah
Mariamin mengikuti suaminya ke Medan, karena Karena kasibun menjadi kerani di
Medan. Kasibun sendiri sebenarnya sudah beristeri. Hal itu tidak diketahui oleh
Mariamin. Setelah ia menikah dengan Mariamin maka isterinyapun diceraikannya.
Kedatangan Mariamin mengikuti suaminya di Medan itu didengar oleh Aminudin.
Karena itu iapun pada suatu hari pergi mengunjungi rumah Mariamin. !ada waktu ia
datang, suaminya masih bekerja di kantornya, sehingga Aminudin hanya ditemui oleh
Mariamin. !ertemuan itu mengakibatkan hujan air mata, lebih-lebih bagi Mariamin,
hal itu menyebabkan luka hatinya karena ia ingat akan hal-hal yang telah lampau yang
menyedihkannya itu.
Setelah di Medan dan bergaul dengan suaminya, barulah diketahui oleh Mariamin
bahwa suaminya mempunyai penyakit raja singa. Itulah sebabnya maka Mariamin pun
selalu menolak bergaul dengan suaminya. Sikapnya itu menyebabkan Kasibun
cemburu kepada Mariamin, lebih-lebih setelah kedatangan Aminudin ke rumahnya,
walaupun sudah diterangkan oleh Mariamin bahwa Aminudin ialah saudara
sepupunya.
!ada suatu hari Kasibun menjadi sangat marah karena sikap Mariamin yang selalu
menolak berkumpul sebagaimana layaknya suami isteri. Akibatnya Mariamin pun


http://www.pustakasekolah.com/
disakitinya sehingga menyebabkan luka-luka pada mukanya. Setelah perlakukan
suaminya atas dirinya itu, Mariamin pun pergi ke kantor polisi. Setelah perkara
diselesaikan, Kasibun didenda duapuluh lima rupiah dan ia harus bercerai dengan
Mariamin. Setelah perceraian itu Mariamin pun pulang ke rumahnya.
Beberapa waktu kemudian orang menjumpai pondok Mariamin telah roboh. Kemana
pergi ibu dan adinya, tak ada orang yang mengetahui. Orang hanya mengetahui bahwa
suatu kuburan terdapat sebuah kubur yang masih merah tanahnya. Kuburan itu tidak
lain ialah kuburan Mariamin. Ia bari saja meninggal karena sedihnya menanggung
azab dan sengsara. Baru sekarang lah ia terlepas dari azab serta kesengsaraan itu dan
beristirahat untuk selamanya.

1.2. Makna Yang Terkandung
a. Jangan hendaknya kita karena terpaksa mau mengerjakan sesuatu yang tidak
berkenan dalam hati kita, karena hal itu akan merugikan diri kita sendiri.
b. Janganlah memanjakan anak karena pendidikan yang salah akan diderita
oleh keturunannya.
c. Kita harus berhati-hati menerima nasihat orang lain, karena kadang-kadang
dengan menerima pendapat orang lain yang sengaja hendak mencari
keuntungan untuk diri sendiri, akan mengakibatkan retaknya hubungan kita
dengan kaum keluarga.
d. Jika hendak mengerjakan sesuatu hendaknya dipikirkannya masak-masak
lebih dahulu baik-buruknya agar kelak tidak menyesal.