Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

KEHAMILAN LEWAT BULAN


(SEROTINUS)

Nama : Taufik Abidin


NIM : H1A 003048

PEMBIMBING :
Dr. Doddy Ario Kumboyo, SpOG(K)

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI LAB/SMF KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM/RSU MATARAM
MEI 2008
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada
waktunya.
Laporan kasus yang berjudul “Serotinus” ini disusun dalam rangka
mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/ SMF Obstetri dan Genikologi
Rumah Sakit Umum Mataram.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan
kepada penulis:
1. Dr. Edi Prasetyo Wibowo, Sp.OG, selaku Kepala Bagian/ SMF Kebidanan
dan Kandungan RSU Mataram.
2. Dr. Agus Thoriq, Sp.OG, selaku Koordinator Pendidikan Bagian/ SMF
Kebidanan dan Kandungan RSU Mataram.
3. Dr. Doddy A.K, Sp.OG(K), selaku pembimbing laporan kasus ini.
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan kepada penulis.
Akhirnya penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan laporan kasus ini.
Semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan
pengetahuan khususnya kepada penulis dan kepada pembaca dalam menjalankan
praktek sehari-hari sebagai dokter. Terima kasih.

Mataram, Mei 2008

Penulis

BAB I

2
PENDAHULUAN

Kehamilan lewat waktu merupakan salah satu kehamilan yang beresiko


tinggi, dimana dapat terjadi komplikasi pada ibu dan janin. Kehamilan umumnya
berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari Hari Pertama haid terakhir. Kehamilan
lewat waktu juga biasa disebut serotinus atau postterm pregnancy, yaitu
kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 42 minggu atau 294 hari1.
Beberapa penulis menghitung waktu 42 minggu setelah haid terakhir, ada pula
yang mengambil 43 minggu.
Postterm, prolonged, postdates, dan postmature merupakan istilah yang
lazim digunakan untuk kehamilan yang waktunya melebihi batas waktu normal
(40 minggu). Menurut standar internasional dari American College of
Obstetricians and Gynocologist (1997), kehamilan jangka panjang atau prolonged
pregnancy ialah kehamilan yang terjadi dalam jangka waktu lengkap 42 minggu
(294 hari) atau lebih, yang dihitung dari hari pertama haid terakhir. Yang
dimaksud lengkap 42 minggu ialah 41 minggu 7 hari, jika 41 minggu 6 hari belum
bisa dikatakan lengkap 42 minggu2. Kehamilan yang terjadi dalam jangka waktu
>40 minggu sampai dengan 42 minggu disebut kehamilan lewat tanggal atau
postdate pregnancy.

BAB II

3
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Kehamilan lewat bulan (serotinus) ialah kehamilan yang berlangsung lebih
dari perkiraan hari taksiran persalinan yang dihitung dari hari pertama haid
terakhir (HPHT), dimana usia kehamilannya telah melebihi 42 minggu (>294
hari).

Insiden
Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi antara
3,5-14%1. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat
waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka
kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5 - 7 %. Variasi insiden postterm
berkisar antara 2-31,37%7.

Etiologi
Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum kita ketahui.
Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada
janin (anenefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan
pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim
sulfatase plasenta).
Menurut dr. Bambang Fadjar, SpOG dari Rumah Sakit Asih, Jakarta
Selatan, penyebab kehamilan lewat waktu adalah kelainan pada janin sehingga
tidak ada kontraksi dari janin untuk memulai proses persalinan. Kelainan janin
tersebut antara lain anensephalus, hipoplasia, kelenjar supra renal janin, dan janin
tidak memiliki kelenjar hipofisa, kelainan pada plasenta yang berupa tali pusar
pendek dan kelainan letak kehamilan4.
Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut6:
• Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering.
• Tidak diketahui.
• Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan.
• Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab yang
jarang terjadi.

4
• Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.
• Faktor genetik juga dapat memainkan peran.

Jumlah kehamilan atau persalinan sebelumnya dan usia juga ikut


mempengaruhi terjadinya kehamilan lewat waktu. Bahkan, ras juga merupakan
faktor yang berpengaruh terhadap kehamilan lewat waktu. Data menunjukkan, ras
kulit putih lebih sering mengalami kehamilan lewat waktu ketimbang yang
berkulit hitam.
Di samping itu faktor obstetrik pun ikut berpengaruh. Umpamanya,
pemeriksaan kehamilan yang terlambat atau tidak adekuat (cukup), kehamilan
sebelumnya yang lewat waktu, perdarahan pada trisemester pertama kehamilan,
jenis kelamin janin (janin laki-laki lebih sering menyebabkan kehamilan lewat
waktu ketimbang janin perempuan), dan cacat bawaan janin.

Resiko
Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan
janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat
terjadi 3 kali dari pada kehamilan aterm1. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak
di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat
mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku
memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan
oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam
rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat.
Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran
napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum
aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin.
Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil,
hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologik.
Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara
lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding
(moulage) kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak,
inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum8.

5
Diagnosis
Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus
Naegele setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila ada
keraguan, maka pengukuran tinggi fundus uterus serial dengan sentimeter akan
memberikan informasi mengenai usia gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang
mungkin ditemukan ialah air ketuban yang berkurang dan gerakan janin yang
jarang.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mendiagnosis kehamilan
lewat waktu, antara lain9:
1. HPHT jelas.
2. Dirasakan gerakan janin pada umur kehamilan 16-18 minggu.
3. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan Doppler,
dan 19-20 minggu dengan fetoskop).
4. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan USG pada umur
kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu.
5. Tes kehamilan (urin) sudah positif dalam 6 minggu pertama telat haid.

Bila telah dilakukan pemeriksaan USG serial terutama sejak trimester


pertama, maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan
yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan.
Diagnosis juga dapat dilakukan dengan penilaian biometrik janin pada
trimester I kehamilan dengan USG. Penyimpangan pada tes biometrik ini hanya
lebih atau kurang satu minggu.
Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik >20%) mempunyai
sensitifitas 75% dan tes tanpa tekanan dengan KTG mempunyai spesifisitas 100%
dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta atau postterm. Kematangan
serviks tidak bisa dipakai untuk menentukan usia kehamilan.
Tanda kehamilan lewat waktu yang dijumpai pada bayi dibagi atas tiga
stadium1:
1. Stadium I. Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi
berupa kulit kering, rapuh, dan mudah mengelupas.

6
2. Stadium II. Gejala stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan)
pada kulit.
3. Stadium III. Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali
pusat.

Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah


menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko
kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan1:
1. Tes tanpa tekanan (non stress test). Bila memperoleh hasil non reaktif
maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif
maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar janin baik.
Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relatif
rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur.
2. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal
rata-rata 7 kali/ 20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal
rata-rata 10 kali/ 20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian
banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG (normal >1 cm/
bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata
oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu.
3. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin
keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung
mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia.

Penatalaksanaan
Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan
pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil
pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score=PS).

Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain:


1. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley.
2. Induksi dengan oksitosin.
3. Bedah seksio sesaria.

7
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus
memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his,
ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi
kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai
membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.
Tabel pengukuran pelvis dapat dilihat dibawah ini:
Skor 0 1 2 3
Pendataran 0-30% 40-50% 60-70% 80%
serviks
Pembukaan 0 1-2 3-4 5-6
serviks
Penurunan kepala -3 -2 -1.0 +1 +2
dari Hodge III
Konsistensi Keras Sedang Lunak
serviks
Posisi serviks Posterior Searah sumbu anterior
jalan lahir
ý Bila nilai pelvis >8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan
berhasil.
ý Bila PS >5, dapat dilakukan drip oksitosin.
ý Bila PS <5, dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu, kemudian
lakukan pengukuran PS lagi.

Tatalaksana yang biasa dilakukan di RSU Mataram ialah induksi dengan


oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu
kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor pelvisnya. Jika
keadaan janin baik dan skor pelvis >5, maka induksi persalinan dapat dilakukan.
Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose
5%. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit
sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul his yang adekuat. Selama pemberian infus,
kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat
janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan.
Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan
infus drip oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul,
dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria.

8
Pada pelaksanaan di RSU Mataram, kehamilan yang telah melewati 40
minggu dan belum menunjukkan tanda-tanda inpartu, biasanya langsung segera
diterminasi agar resiko kehamilan dapat diminimalis.

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan
yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama
(sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28
minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan
memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7
bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 – 8 bulan dan seminggu sekali pada
bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar
usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.
Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter
kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat.. Untuk itu perlu diketahui
dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu.
Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu
dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A
jatuh pada 2 Januari 1999. Saat ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari
pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7.
Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.

9
BAB III
LAPORAN KASUS

Identitas pasien
Nama : Yuliati
Usia : 30 tahun
Suku : Sasak
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT
Alamat : Karang Tatah, Mataram.
No. RM : 876106

Anamnesis
Pasien datang ke Poli Kandungan dengan keluhan perut mules ingin melahirkan
sejak pukul 07.00 WITA (09/05/2008). Pasien masuk ke kamar bersalin pada
pukul 14.00 WITA, tanggal 09 Mei 2008. Pasien juga mengatakan bahwa
kehamilannya telah lewat bulan. Perkiraan pasien usia kehamilannya telah
mencapai 10 bulan.

Keluhan utama
Pasien merasa mules dan kehamilannya telah lewat bulan.

Riwayat penyakit sekarang


ý Tidak ada riwayat keluar air.
ý Rasa perut mules sejak pukul 07.00 (09/05/2008).
ý HPHT: 05 Juli 2007 HTP: 12 April 2008.
ý ANC: teratur di PKM.
ý Tidak ada riwayat keluar darah.

10
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM, dan
hipertensi. Pasien pernah mengalami persalinan dengan usia kehamilan lebih dari
10 bulan.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular, keturunan dan
kejiwaan. Ibu pasien pernah mengalami persalinan yang usia kehamilannya lebih
dari 10 bulan.

Riwayat perkawinan: 1x
Riwayat hamil/ abortus/ persalinan
1. Perempuan, hamil 11 bulan, di Polindes oleh bidan, BBL 3.750 gram,
hidup, 8 thn.
2. ini.
Riwayat kontrasepsi: Suntikan 3 bulan.
Rencana kontrasepsi: Suntikan 3 bulan.
Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
TB/ BB : 158 cm/ 73 Kg.
Tekanan darah : 130/90 mmHg.
Frekuensi Nadi : 80 x/menit.
Frekuensi pernapasan : 20 x/menit.
Suhu : 36,6oC.
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Thorak : Jantung dalam batas normal, paru dalam batas normal.
Abdomen : Status obstetrikus
Genitalia : Status obstetrikus
Ekstremitas : Edema -/-, refleks fisiologis +/+, reflek patologis -/-.

Status Obstetrikus:

11
Abdomen
Inspeksi : Perut membuncit sesuai dengan keadaan wanita hamil.
Linea Mediana hiperpigmentasi, striae gravidarum (+).
Sikatrik (-).
Palpasi :
L1: Teraba massa bulat lebar, lunak. TFU 36 cm.
L2: Teraba daerah yang keras dan rata di sebelah kanan. Teraba tonjolan
ireguler di sebelah kiri.
L3: Teraba massa besar, bulat, keras.
L4: Bagian terbawah janin belum masuk PAP.
TBJ : 3720 gr.
His : Ada. Frekuensinya 2x tiap 10 menit selama 30 detik.
DJJ : 12 13 12 (144 x/menit).
Genitalia
VT : Ø 4 cm, eff. 50%, ketuban (+), teraba kepala, uuk depan, ↓H I, tidak
teraba bagian kecil janin/ tali pusat.

Diagnosa
G2P1A0H1 hamil 43-44 minggu /T/H kala I aktif.
Rencana
ý Observasi kemajuan persalinan 4 jam kemudian.
ý Periksa darah: DL, HbsAg.
ý Observasi kesejahteraan ibu dan janin.

Hasil laboratorium:
Hb : 12,4 gr%
Leukosit : 13.200 /mm3
Ht : 34,1
Trombosit : 293.000 /mm3
HbsAg : (-)

12
18.00 WITA
Anamnesa:
Pasien merasa sakit perut bagian bawah, keluar air yang banyak, dan ingin
mengedan.
Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum : Baik
Tensi : 120/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit.
Frekuensi napas : 24 x/menit.
Suhu : 37,1 oC
His : (+) 3x tiap 10 menit selama 45 detik.
DJJ : 12.13.12 (156 x/menit)
VT : Ø lengkap, ketuban (-) jernih, ↓H II, teraba kepala, uuk
dep.
Diagnosa:
G2P1A0H1 hamil 43-44 minggu /T/H kala II.
Rencana tindakan:
Pimpin persalinan

18.30 WITA
Lahir bayi laki-laki spontan dengan berat badan 3.700 gr, panjang badan 50 cm.
Apgar score 7-9, anus (+), kelainan (-). Verniks kaseosa sedikit dan maserasi pada
kulit bayi tidak ada.
Kemudian disuntikkan oksitosin 10 IU IM, dilanjutkan dengan penanganan kala
III aktif. Pada pukul 18.40 WITA, lahir plasenta lengkap dengan berat 500 gram,
kontraksi uterus baik, fundus uterus setinggi 2 jari di bawah pusat, perineum
intak, dan perdarahan +100 cc.
Diagnosa:
P2A0H2 post partus maturus per vaginam.
Rencana:
Observasi post partum 2 jam lagi.

13
20.30 WITA
Anamnesa:
Ibu tidak ada keluhan subjektif.
Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg.
Frekuensi nadi : 76 x/menit.
Frekuensi napas : 18 x/menit.
Suhu : 37,4 oC.
CUT : baik.
TFU : 2 jari bawah pusat.
Perdarahan : tidak ada perdarahan aktif.
Diagnosa:
P2A0H2 kala IV
Rencana:
ý Observasi perdarahan post partum.
ý Pindah ke bangsal Melati.

14
BAB IV
PEMBAHASAN

Telah dilaporkan suatu kasus wanita 30 tahun dengan usia kehamilan 43-
44 minggu dengan diagnosa G2P1A0H1 serotinus + inpartu kala I. Selanjutnya akan
dibahas:
1. Apakah diagnosa pasien sudah tepat?
Pasien ini didiagnosa dengan G2P1A0H1 serotinus + inpartu kala I. Tinggi
fundus uterus 36 cm, taksiran berat janin 3720 gram.
Diagnosis terhadap pasien diperkuat oleh tanggal hari pertama haid terakhir
(HPHT), yaitu tanggal 05 Juli 2007. Taksiran persalinannya ialah 12 April 2008.
Berdasarkan HPHT pasien, usia kehamilannya ialah 11 bulan kurang 3 hari atau
43-44 minggu.
Syarat kehamilan lewat bulan ialah kehamilan yang telah lewat 42
minggu. Maka diagnosa untuk pasien ini sudah tepat.
Penilaian terhadap bayinya, diagnosa serotinus belum tepat karena badan
bayi masih ada sisa verniks kaseosa dan tidak dijumpai maserasi, sehingga bayi
termasuk partus aterm.

2. Apakah pelaksanaan pada kasus ini sudah tepat?


Prinsip dari kehamilan lewat bulan adalah terminasi kehamilan segera.
Pada kasus ini terminasi secara induksi maupun cara lainnya tidak dilakukan,
melainkan dengan kekuatan ibu sendiri. Namun tujuan dari pelaksanaan telah
dilakukan dengan baik.

3. Apa penyebab kehamilan lewat bulan pada kasus ini?


Faktor penyebab dari kehamilan lewat bulan ialah kelainan janin
(anensephalus, hipoplasia, kelainan kelenjar suprarenal janin, janin tidak memiliki
hipofisa), tali pusar pendek, dan kelainan letak janin. Faktor lain ialah kesalahan
dalam penanggalan, primigravida, riwayat serotinus, jenis kelamin laki-laki, dan
genetik.

15
Pada kasus ini, pasien memiliki riwayat persalinan yang lewat bulan pada
anak pertama. Selain itu, ibu dari pasien juga memiliki riwayat persalinan lewat
bulan. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa faktor penyebab kehamilan lewat
bulan pada pasien ini adalah genetik.

16
BAB V
KESIMPULAN

1. Melihat usia kehamilan yang dialami oleh ibu Yuliati, kehamilannya dapat
digolongkan kedalam kehamilan lewat waktu, yang dihitung berdasarkan
HPHT.
2. Dari hasil penilaian terhadap bayi, tidak dapat digolongkan sebagai bayi
postmaturitas karena ketika dilahirkan bayi masih memiliki verniks
kaseosa dan maserasi pada kulit bayi belum ada.
3. Faktor predisposisi pada kasus ini adalah genetik, dimana pasien memiliki
riwayat kehamilan lewat waktu pada kehamilan sebelumnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H. Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Dalam Ilmu


Kebidanan hal. 317. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
Jakarta 2005.
2. Cunningham FG et al. Postterm Pregnancy. Williams Obstetric, 22st ed.
Mc.Graw Hill Publishing Division, New York, 2005.
3. Krisnadi, Sofie Rifayani. Kehamilan Lewat Waktu. Accessed:
http://pikiran-rakyat.com.
4. Fadjar, Bambang. Bayi Berukuran Besar dan Tali Pusar Pendek Bisa
Sebabkan Kehamilan Lewat Waktu. Tabloid Mom&Kiddie, edisi 09/th
II/7-30 desember 2007.
5. Mansjoer Arif, et al. Induksi persalinan. Dalam kapita selekta kedokteran
ed.3 cet.1 hal. 300. Media Aesculapius, Jakarta. 2000.
6. Fouda Ashraf. Prolonged Pregnancy. Damietta specialized hospital. 2006.
7. Chan, L.G. Post-Maturity. The Bulletin of Hongkong Chinese Medical
Association. Department of Obstetrics & Gynaecology, University of
Hongkong.
8. Mochtar, Rustam. Postmatur. Dalam: Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi,
Obstetri Patologi ed.2. EGC:Jakarta. 1998.
9. Karkata, M. K., dkk. Kehamilan Postterm. Dalam: Pedoman Diagnosis –
Terapi Dan Bagan Alir Pelayanan Pasien. SMF OBSTETRI DAN
GINEKOLOGI FK UNUD, RS Sanglah, Denpasar. 2003.

18

Anda mungkin juga menyukai