Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS PENYIMPANGAN BIAYA

PENDAHULUAN
Dalam mekanisme penerapan anggaran maupun dalam konsep Manajemen By Objektive (MBO) maka salah satu teknis yang selalu diterapkan adalah analisis variance atau analisis penyimpangan. Analisis ini dilakukan dengan cara memperbandingkan antara anggaran dan realiasi. Perbedaan antara angka anggaran dengan realisasi ini disebut penyimpangan atau variance. Menurut Munandar (2003 : 20) ,menyatakan bahwa : Laporan anggaran (Anggaran Report), yaitu laporan tentang realisasi pelaksanaan anggaran, yang dilengkapi dengan berbagai analisa perbandingan antara anggaran dengan realisasinya itu, sehingga dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, baik penyimpangan yang bersifat negatif (merugikan). Dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan-penyimpangan, sehingga dapat ditarik beberapa kesimpulan dan beberapa tindakan lanjut (follow up) yang segera perlu dilakukan. Mulyadi (2003 : 415) menyatakan : Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu. Mulyadi (2003 : 424) mengemukakan : Penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar disebut dengan selisih (variance). Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisis ini diselidiki penyebab terjadinya, untuk kemudian dicari jalan untuk mengatasi terjadinya selisih yang merugikan. Namun sebagaimana yang namanya taksiran, maka tidak selalu anggaran itu benar, dan tidak juga selalu sama dengan realisasi. Sehingga penyimpangan ini jangan terus dianggap sebagai suatru kesalahan. Menurut Harahap (2003 : 223), penyimpangan bisa juga disebabkan oleh :
Kesalahan anggaran Kesalahan akuntansi

Klasifikasi atau pencatatan Kesalahan operasi

Penyimpangan ini harus dianalisis penyebabnya. Biasanya perusahaan harus menetapkan ukuran mana yang mesti dilakukan investigasi dan mana yang tidak perlu dilakukan investigasi. Standar penentuan ini biasanya melihat benefit costnya. Jika biaya investigasi atau penyimpangan ini lebih besar dari pada taksiran yang dihemat maka biasanya tidak perlu dilakukan investigasi, sebaliknya jika yang dihemat jauh lebih besar dari biaya investigasi maka harus dilaksanakan investigasi penyebab penyimpangan. Kecuali dalam hal tertentu yang sifatnya material atau berpotensi beresiko besar maka kendatipun ukurannya kecil namun harus menjadi bahan investigasi. Kegunaannya bukan untuk melihat penyimpangan itu tapi melihat kemungkinan pelajaran yanga dapat diambil untuk menjadi bahan dalam operasi mendatang. Menurut Harahap (2003 : 224) penyimpangan anggaran biaya terdiri atas: a. Penyimpangan dalam hal biaya langsung, dibagi : 1) Penyimpangan harga beli 2) Penyimpangan Kuantitas pembelian b. Penyimpangan dalam hal biaya upah langsung, dibagi : 1) Penyimpangan tingkat upah 2) Penyimpangan tidak efisiensi upah c. Penyimpangan dalam hal biaya overhead, dibagi : 1) Penyimpangan pemakaian 2) Penyimpangan kapasitas 3) Penyimpangan efisiensi

A. ANALISIS PENYIMPANGAN ANGGARAN Contoh : Perusahaan MAJU JAYA menggunakan biaya standar dan anggaran fleksibel. Manager pembelian bertanggungjawab atas penyimpaangan harga bahan baku, dan manajer produksi bertanggungjawab atas segala penyimpangan yang lain. 2

Operasional minggu lalu dirangkum sebagai berikut: Unit barang jadi yang diproduksi: 5.000 unit. Bahan baku langsung : Pembelian 10.000 kg, @ Rp 1,50. Harga standar @ Rp 1.60 per kg. Digunakan 5.400 kg. Standar yang diperkenankan per unit barang jadi = 1 kg. Upah kerja langsung: biaya aktual 8.000 jam @ Rp 3.05. atau total Rp 24.400,Standar per unit produk = 1 jam. Upah standar Rp 3,- per jam. Overhead produksi variabel : Aktual Rp 8.800,Standar = Rp 1,- per jam kerja langsung.

Penyimpangan biaya fleksibel, dan penyimpangan volume penjualan. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan gambar berikut ini : Aktual Input aktual x harga standar Anggaran fleksibel Anggaran Induk

A D

C E

A = penyimpangan harga B = penyimpangan efisiensi C = penyimpangan volume penjualan D = penyimpangan anggaran fleksibel E = penyimpangan volume penjualan Di dalam pembahasan-pembahasan ini digunakan analisis-analisis anggaran fleksibel dan standar anggaran fleksibel. 3

B. PENYIMPANGAN BAHAN LANGSUNG


Dalam analisis ini digunakan singkatan sebagai berikut: PBAF = Penyimpangan Bahan Anggaran Fleksibel PHB PEB HSs HSt OSs ISs ISt = Penyimpangan Harga Bahan = Penyimpangan Efisiensi Bahan = Harg Bahan Sesungguhnya = Harga Bahan Standar = Output Sesungguhnya = Input Sesungguhnya = Input Standar

QBSs = Quantitas Pembelian Bahan Sesungguhnya

1. Penyimpangan Harga Beli dan Efisiensi QBSs x HSs ` QBSs x HSt OSs x ISt x HSt Keterangan OSs x ISt = Input yang digunakan senurut standar yang diperkenankan. 2. Penyimpangan Anggaran Fleksibel ISs x HSs ` ISs x HSt ISt x HSt Keterangan : ISt (Input Standar) = Output Sesungguhnya x Input menurut standar

PHB PEB

= QBSs (HSs HSt) = HSt (ISs ISt)

PHB PBAF PEB

= QSs (ISs 1St) = HSt (ISs ISt)

Menggunakan soal di atas : 5.400 x Rp 1,50 = Rp 8.100,Rp 540,- Laba 5.400 x Rp 1,60 = Rp 8.640 Rp 640,- Rugi 5.000 x Rp 1,60 = Rp. 8000,-

PHB PBAF = Rp 100,- Rugi PEB

= =

C. PENYIMPANGAN TENAGA KERJA LANGSUNG


Singkatan yang digunakan : PTKAF JSs PUTK JSt Uss PETK Oss = Penyimpangan Tenaga Kerja Anggaran Fleksibel = Jam Sesungguhnya = Penyimpangan Upah Tenaga Kerja = Jam Standar = Upah Sesungguhnya = Penyimpangan Efisiensi Tenaga Kerja = Output Sesungguhnya

Kerangka Analisis : PUTK PTKAF PETK JSt x USt Keterangan : JSt = Oss x jam yang diperkenankan menurut standar Menggunakan angka pada soal: 8.000 x Rp 3,05 = Rp 24.400,Rp 400,- Rugi 8.000 x Rp 3,- = Rp 24.000,Rp 1.500,- Rugi 7.500 x Rp 3,- = Rp 22.500,JSs x USs ` JSs x USt = JSs (USs USt) = USt (JSs JSt)

PUTK = PTKAF = Rp 1.900,- Rugi PETK =

KeteranganPenyimpangan Tenaga Kerja Langsung: JSt = 7.500 jam = Output Sesungguhnya x Perjam Tenaga Kerja = 5.000 x 1 jam

D. PENYIMPANGAN OVERHEAD VARIABEL POHAF OHSs PTOH TOHSt Oss PEOH JSt TOHSs JSs = Penyimpangan Overhead Anggaran Fleksibel = Overhead Sesungguhnya = Penyimpangan Tarif Overhead = Tarif Overhead Standar = Output Sesungguhnya = Penyimpangan Efisiensi Overhead = Jam kerja Standar = Tarif Overhead Sesungguhnya = Jam Sesungguhnya

Kerangka Analisis : PTOH POHAF PEOH JSt x TOHSt JSs x TOHSs ` JSs x TOHSt = JSs (TOHSs TOHSt) = TOHSt X (JSs JSt)

Menerapkan soal: Rp 8.000,- (pada soal) Rp 800,- Rugi Rp 8.000,Rp 500,- Rugi Rp 7.500,-

PTOH = POHAF = Rp 1.300,- Rugi PEOH =

E. ANALISIS LANJUTAN BIAYA TAK LANGSUNG (OVERHEAD)


Pada analisis sebelumnya, analisis overhead tidak mengikutsertakan overhead tetap. Walaupun ini sudah dipelajari pada bagian biaya standar, tetapi perlu diingatkan kembali dan untuk mengadakan perbandingan. Misalnya : Jumlah biaya produksi tak langsung Rp 8.,000,- yang terdiri dari tetap Rp. 3.200,- dan variable Rp 4.800,- sedangkan jam kerja normal pada biaya ini adalah 4.000 jam atau 4 jam per produksi. Pada suatu aktivitas sesungguhnya : - Dikeluarkan overhead sebesar Rp 7,384,- Jam kerja sebenarnya 3.475 jam - Produksi sebenarnya 850 produk. Langkah pertama: menentukan Tarif Overhaead sebagai berikut: Tarif overhead per jam kerja langsung Jumlah Overhead = Jam kerja Rp 8.000,= 4.000 Overhead Variabel Tarif overhead Variable = Jam kerja Rp 4.800,= 4.000 Overhead Tetap Tarif overhead tetap = Jam kerja Rp 3.200,= 4.000 = Rp 0,8,- per jam = Rp 1,2,- per jam = Rp 2,- per jam

Dari data di atas diperoleh: TOH TOHT JSs JN JSt = Tarif Overhead = Tarif overhead tetap = Jam Sesungguhnya = Jam Normal = Jam Standar (Produksi sebenarnya x JSt = 850 x 4) = 3.400 jam a. POH (Penyimpangan Overhead), yaitu: OHSs (Overhead Sesungguhnya) ------------------- POH = Rp 7.384 - Rp 6.800 = Rp 584,- RUGI OHStz (Overhead Standar) JSt x TOH = 3.400 x 2 b. Analisis 2 Penyimpangan: POH sebesar Rp 584,- dapat dianalisis dalam 2 jenis yaitu : 1. PT = Penyimpangan Terkendali: Yaitu beda antara OHSs dengan Anggaran Fleksibelk pada JSt (Jam Standar). Atau selisih karena biaya variabel. 2. PV = Penyimpangan Volume: Yaitu beda antara : Anggaran fleksibel OH pada JS dengan JSt x TOH Atau beda antara JN JSt x TOH = Rp 6.800,= Rp 7.384,= Rp 2,per jam kerja langsung

TOHV = Tarif Overhead Variabel

= Rp 1,2,- per jam kerja langsung = Rp 0,8,- per jam kerja langsung = 3.475 jam = 4.000 jam

Gambar 2 jenis Analisis Penyimpangan: OHSs PT = Rp 104 RUGI Rp 584,OH Tetap + JSt x TOHV Rp 3.200,- + (3.400 x Rp 1,20) = Rp 7.384,-

= Rp 7.280

PV = Rp 480 RUGI JSt x TOH (3.400 x Rp 2,- ) = Rp 6.800,-

Penyimpangan Tarif Overhead (PT) Disebabkan penyimpangan Biaya Variabel, yaitu dapat dihitung sebagai berikut: Overhead Sesungguhnya Biaya Tetap menurut anggaran Overhead Variabel sesungguhnya Overhead Variable Standar: 3.400 jam x Rp 1,20,Penyimpangan Tarif (PT) Penyimpangan Volume Overhead (PV) Disebabkan penyimpangan Biaya Overhead Tetap, dapat dihitung sebagai berikut: PV = Tarif Overhead Tetap x (Jam normal Jam standar) = Rp 0,80,- x (4.000 jam 3.400 jam) = Rp 0,80,- x 600 jam = Rp 480,= Rp 4.080,Rp 104,Rp 7.384,Rp 3.200,Rp 4.184,-

c. Analisis 3 Penyimpangan: 1. PP = Penyimpangan Pengeluaran beda antara: OHSs nya dengan Anggaran Fleksibel OH pada JSs. atau Selisih karena TOHV saja 2. PK = Penyimpangan Kapasitas adalah beda antara: Anggaran Fleksibel OH pada JSs-nya dengan JSs x TO atau JN JSs x TOHT 3. PE = Penyimpangan Efisiensi adalah beda antara: JSs x TOH dengan JSt x TOH atau (JSs JSt) TOH Gambar 3 jenis Analisis Penyimpangan: PP OHSs Rp 7.384,= Rp 14,- Rugi OHtetap + (JSs x TOHV) = 3.200 + 3.475 x 1,20 = Rp 7.370,= Rp 420,- Rugi JSs x TOH = 3.475 x Rp 2,- = Rp 6.950,= Rp 150,- Rugi JSt x TOH = 3.400 x Rp 2,- = Rp 6.800,-

Rp 584,- Rugi

PK PE

d. Analisis 4 Penyimpangan 1. PP = Penyimpangan Pengeluaran sama dengan perhitungan sebelumnya 2. PK = Penyimpangan Kapasitas sama dengan perhitungan di atas 3. PE = Penyimpangan Efisiensi dibagi 2(dua) : a. PET (Penyimpangan Efisiensi Tetap) JSs JSt (TOHT) b. PEV (Penyimpangan Efisiensi Variabel ) JSs JSt (TOHV)

10

Penyimpangan Efisiensi Tetap (PET) dan Penyimpangan Efisiensi Variabel (PEV) dihitung dalam bentuk sebagai berikut: JSs x TOHT = 3.475 x Rp 0,80 PET = Rp 60,- Rugi JSs x TOHT = 3.400 x Rp 0,80 PE Rp 150,- Rugi JSt x TOHV = 3.400 x Rp 1,20 PEV = Rp 90,- Rugi JSt x TOHV = 3.475 x Rp 1,20 = Rp 4.080,= Rp 4.170,= Rp 2.780,= Rp 2.720,-

OHSs Rp. 7.384

PP Rp. 14 Rugi

PP Rp. 14 Rugi PT Rp. 104 Rugi PEV Rp. 90 Rugi

POH Rp.584 Rugi

PE Rp. 150 Rugi PET Rp. 60 Rugi PV Rp. 480 Rugi

OHSt Rp. 6.800 Keterangan: OHSs OHSt POH PP PE PK PEV PET PT PV = = = = = = = = = =

PK Rp. 420 Rugi

PK Rp. 420 Rugi

Overhead Sesungguhnya Overhead Standar Penyimpangan Overhead Penyimpangan Pengeluaran Penyimpangan Efisiensi Penyimpangan Kapasitas Penyimpangan Efisiensi Variabel Penyimpangan Efisiensi Tetap Penyimpangan Terkendali Penyimpangan Volume 11

F. PENYIMPANGAN CAMPURAN BAHAN DAN HASIL


Dalam perusahaan industri terutama industri yang menggunakan sistem proses, perusahaan menggunakan kombinasi dari berbagai jenis bahan baku, dan hasil yang merupakan bagian penting dalam kalkulasi harga pokok. Selain penyimpangan-penyimpangan yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, maka untuk perusahaan seperti ini diperlukan suatu analisis khusus yaitu: 1. Selisih Campuran Selisih campuran bahan baku, yaitu penyimpangan yang ditimbulkan adanya perbedaan antara spesifikasi (yang ditentukan) dengan standar dan campuran sesungguhnya. 2. Selisih Hasil Yaitu penyimpangan yang disebabkan karena hasil campuran yang dicapai berbeda dari hasil campuran yang diharapkan berdasarkan input.

Contoh: Perusahaan Permata Indah memproduksi sejenis produk, makanan kecil atau kembang gula dengan menggunakan sistem harga pokok standar. Produk standar dan spesifikasi biaya untuk 1.000 unit produk adalah sebagai berikut: Bahan A B C Quantitas 800 Kg 200 Kg 200 Kg 1.200 Kg Harga Per unit Rp 25/Kg Rp 40/Kg Rp 10/kg = Harga Pokok Rp. 20.000,Rp. 8.000,Rp. 2.000,Rp. 30.000,-

30.000 12

Input rata-rata

= 1.200 30.000

= Rp 25,- per kg

Input rata-rata

= 1.000

= Rp 30,- per kg

Campuran produk terdiri dari 3 jenis bahan. memerlukan 1.200 kg bahan. Dengan demikian hasil campuran yang diharapkan adalah: 1.000 Output 5/6 = 1.200 Input Catatan bahan menunjukkan: Pembelian Bahan A 162.000 kg @ Rp 24,Bahan B 30.000 kg @ Rp 42,Bahan C 32.000 kg @ Rp 11,Produksi sebenarnya : 200.000 unit Pembahasan : 1) Penyimpangan Quantitas (PQ) Sebetulnya merupakan sebab dari Penyimpangan

Produksi 1.000 produk

Pemakaian sebenarnya 157.000 kg 38.000 kg 36.000 kg

Campuran

(PC) dan

Penyimpangan Hasil (PH), atau jika digambarkan tampak sebagai berikut: PC = Penyimpangan Campuran PQ = Penyimpangan Quantitas PH = Penyimpangan Hasil

PQ soal di atas dihitung sebagai berikut: Input/pemakaian sesungguhnya x harga standar 13

A = 157.000 x Rp 25 B = 38.000 x Rp 40 C = 36.000 x Rp 10 PQ = Rp 1.905.000,- LABA

= 3.925.000 = 1.520.000 = 360.000 Rp 5.805.000,-

Output sesungguhnya x Harga Rata-rata output: 200.000 x Rp 30 = Rp 6.000.000,atau Input menurut standar x harga rata-rata input (200 x 6/5 x Rp 25 = Rp 6.000.000,-)

2) PC (Penyimpangan Campuran) dan PH (Penyimpangan Hasil) Input/pemakaian Ss x HSt PC = Rp 300.000,- Rugi PQ Rp 1.905.000 Laba Input Ss x HSt Rata-rata Input PH = Rp 2.250.000,- LABA Output SS x Harga Rata-rata St = Rp 6.000.000,= Rp 5.775.000,= Rp 5.805.000,-

Catatan : - Input/pemakaian Ss x HSt, sama dengan perhitungan sebelumnya. - Input Ss x HSt rata-rata Input: A 157.000 B C 38.000 36.000 231.000 x Rp 25 = Rp 5.775.000,- Output Ss x Harga rata-rata standar, sama dengan sebelumnya.

KESIMPULAN

14

Analisis penyimpangan biaya sangat di perlukan suatu perusahaan dalam hal pengambilan suatu keputusan. Dalam mekanisme penerapan anggaran atau biaya maupun dalam konsep Manajemen By Objektive (MBO) maka salah satu teknis yang selalu diterapkan adalah analisis variance atau analisis penyimpangan. Analisis penyimpangan ini dilakukan dengan cara memperbandingkan antara anggaran atau biaya dan realiasi. Perbedaan antara angka anggaran atau biaya dengan realisasi ini disebut penyimpangan atau variance.

Analisis penyimpangan biaya dapat dihitung sesuai apa yang di butuhkan oleh suatu perusahaan, misalnya ingin menghitung : Analisis penyimpangan anggaran Penyimpangan bahan langsung Penyimpangan tenaga kerja langsung Penyimpangan overhead variabel Analisis lanjutan biaya tak langsung (Overhead) Penyimpangan campuran bahan dan hasil.

15

DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi, Akuntansi Biaya, STIE Yayasan Keluarga Pahlawan Negara,Yogyakarta, 1991. http://xa.yimg.com/kq/groups/22316722/250953079/name/Cost_Accounting_ DTSS_PCA.pdf Ahmad, Kamaruddin. 1996. Akutansi Manajemen. Jakarta: PT . Raja Grafindo Persada. http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpanganbudget.html

16