Anda di halaman 1dari 2

Pelukan Hangat untuk Amel

oleh : Raudah Azmi Florencia Karen Seperti malam-malam yang lain, aku dan kedua orang tuaku duduk bersama menikmati santapan makan malam yang dimasak dengan kasih sayang oleh ibuku. Sebuah acara makan malam yang sederhana dengan diselipi obrolan ringan yang selalu mempererat hubungan kami. Makan yang banyak ya sayang biar adik tambah pintar, ucap ibu sambil meletakkan seentong nasi di pringku. Ia dong, anak ayah harus makan yang banyak biar jadi anak yang super duper jenius, ungkap ayah sambil menebar senyum padaku dan ibu. Pasti dong, anak ayah dan ibu ini akan jadi anak yang paling membanggakan buat ayah dan ibu, ucapku sambil tersenyum riang pada keduanya. Sayang, ayah ingin sampaikan kabar bagus buat ibu dan adik. Bulan depan ayah pindah dinas ke Semarang. Jadi mulai jauh-jauh hari kita harus persiapkan semuanya. ucap ayah sambil memandang aku. Terus Amel akan pindah sekolah juga dong yah? Amel gak mau pindah yah. Nanti Amel ndak punya teman disana. jawabku dengan nada sedih. Amel sayang, amel pasti punya temen baru nanti disana. Amel ndak perlu khawatir. ucap ayah mencoba menenangkanku. Tapi yah, Amel lebih suka sekolah disini. Amel lebih suka ucapku sambil terbata-bata tak kuasa menahan tangis. Sayang, kalau nanti Amel kangen sama temen-temen Amel, Amel bisa telfon atau kalau ayah ndak sibuk kita bisa datang lagi kesini. ucap ibu seraya memeluk erat aku yang semakin sedih. Malam ini semakin sunyi, sesunyi hatiku yang semakin kalut. Kupandangi langitlangit kamarku sembari berharap waktu berhenti sejenak dan kembali. Air mataku mengalir lagi membayangkan apa yang akan terjadi bulan depan. Kuambil sebuah album foto dari dalam laciku. Kuamati dengan seksama semua kenangan yang pernah tercetak dalam lembaran foto itu. Kuingat ingat lagi serentet cerita kala itu, senyum, tangis, marah dan sedih. Terlalu banyak kenangan yang tak mungkin dapat kulupakan begitu saja. Air mataku mengalir lagi hingga aku terlelap karena kelelahan menangis. Mentari telah menyapaku dengan hangat sinarnya. Tapi aku masih enggan terbangun dari tidurku. Kudekap erat selimutku, berharap aku masih punya sedikit waktu untuk tetap disini. Kuambil telepon genggam diatas laciku. Banyak pesan singkat yang belum kubaca. Kubuka satu pesan terakhir. Air mataku melebur lagi. Dengan segera aku bangun dari tempat tidurku, berharap aku masih bisa mengukir kenangan hari ini. Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu semalam? sapa ayah yang melihatku keluar dari kamar. Pagi yah, Amel masih ingin disini yah. jawabku pada ayah dengan mata berkacakaca. Ia sayang, ayah tau kok yang sekarang adik rasakan. Tapi adik juga harus tau kalau ini semua juga buat kebaikan adik. Kan ayah kerja buat adik. ucap ayah menjelaskan seraya menghampiri putri semata wayangnya itu. Ya sudah, Amel pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Ibu dan ayah selalu siap membantu adik untuk menghadapinya. ucap ibu dari balik pintu dapur. Sekarang kita sarapan dulu ya sayang, adik ndak boleh sedih terus ya sayang. ucap ayah lagi sambil mengajakku sarapan.

Seusai sarapan aku segera berangkat sekolah bersama ayah. Dengan hati-hati aku melangkahkan kakiku keluar rumah sampai kedalam mobil. Kupandangi setiap sudut jalan yang kulewati lewat jendela mobil ayahku. Ayahku yang sedang berada tepat di depan kemudi tersenyum simpul melihat tingkahku. *** Hari berganti hari, seminggu lagi aku dan kedua orangtuaku harus meninggalkan kota ini. Kota dengan sejuta kenangan untuk aku dan kedua orangtuaku. Dalam hati kecilku, aku tidak ingin pergi karena aku tidak ingin kehilangan teman-temanku disini. Bagaimana tidak? Aku seorang remaja yang mulai belajar bagaimana mengerti arti dari kata pertemanan. Tapi akupun tidak boleh egois, aku harus juga mulai mencoba mengerti dan memahami betapa pentingnya pekerjaan ayah untuk hidupku dan kedua orangtuaku yang tidak untuk hari ini saja tapi juga untuk masa depanku kelak. Ibu memintaku untuk membantunya berkemas. Satu per satu kukemas barang-barang kedalam beberapa kardus dan memastikan tak ada satu barangpun yang tertinggal. Sesekali ibu mendapati aku yang tampak melamun sendiri dan ibu mencoba menenangkanku dengan senyum simpul dan pelukan hangatnya. Dan haripun semakin cepat berganti. Besok adalah hari terakhir aku tinggal dikota ini. Wajahku tampak lesu. Senyumpun rasanya berat bagiku. Kupandangi kamarku yang telah penuh dengan tumpukan kardus berisi barang-barang yang siap dikemas. Kenapa secepat ini? ucapku dalam hati. Aku terdiam lemas menghadapi ini semua. Air mataku tak bisa kubendung lagi. Kuraih telfon genggam diatas beberapa tumpukan kardus. Kukirim pesan singkat pada semua teman-temanku, berharap dapat tersenyum bersama sebelum aku berangkat besok. *** Pagi-pagi sekali ibu sudah membangunkanku dan memintaku segera bersiap. Akupun bergegas mandi dan bersiap. Sesekali kupandangi sekitar rumahku dari jendela kamarku, berharap semua temanku mau menyempatkan datang sebelum aku berangkat. Setengah jam lagi aku dan kedua orangtuaku harus segera berangkat. Tapi tak ada satupun teman yang datang. Aku terperanjat. Kuperiksa laporan di telfon genggamku dan memastikan semuanya telah terkirim. Kuhela nafas panjang dan masih berharap mereka datang dan memberiku pelukan hangat. Sayang, maafkan ayah tapi kita sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. ucap ayah dengan nada lirih sambil memandangku penuh arti. Akupun semakin terperanjat, aku menangis tersedu-sedu namun pasrah seraya naik kedalam mobil. Ayah mulai melajukan mobil keluar pagar. Tiba-tiba datang segerombol teman-temanku. Dengan segera aku turun dari mobil dan menyambut pelukan hangat dari mereka. Aku sangat senang sekali. Makasih ya teman-teman sudah mau datang dan aku berharap kita bisa jadi teman yang baik untuk selamanya. Jangan lupakan aku ya. ucapku disambut senyum dan pelukan hangat dari mereka. *** Selesai ***