Anda di halaman 1dari 6

PERPINDAHAN PANAS

Panas tidak dapat kita lihattetapi kita dapat mengetahui keberadaannya. Perpindahan panas ada tiga cara, yaitu : 1. Radaiasi Radiasi adalah perpindahan panas tanpa melalui zat perantara. Contoh : penas matahari yang memancar ke bumi. 2. Konveksi Konveksi adalah perpindahan panas yang diikuti oleh perpindahan zat perantaranya. Contoh : pada saat kita memasak air. 3. Konduksi Konduksi adalah perpindahan panas tanpa diikuti perpindahan zat perantaranya. Contoh : pada saat kita mengaduk teh panas, maka sendok yang kita pegang akan terasa panas juga.

Koefisien pindah panas


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Koefisien pindah panas digunakan dalam perhitungan pindah panas konveksi atau perubahan fase antara cair dan padat. Koefisien pindah panas banyak dimanfaatkan dalam ilmu termodinamika dan mekanika serta teknik kimia.

di mana Q = panas yang masuk atau panas yang keluar, W h = koefisien pindah panas, W/(m2K) A = luas permukaan pindah panas, m2 T = perbedaan temperatur antara permukaan padat dengan luas permukaan kontak dengan fluida, K Dari persamaan di atas, koefisien pindah panas adalah koefisien proporsionalitas antara fluks panas, Q/(A delta t), dan perbedaan temperatur, T, yang menjadi penggerak utama perpindahan panas. Satuan SI dari koefisien pindah panas adalah watt per meter persegi-kelvin , W/(m2K). Koefisien pindah panas berkebalikan dengan insulasi termal. Terdapat beberapa metode untuk mengkalkulasi koefisien pindah panas dalam berbagai jenis kondisi pindah panas yang berbeda, fluida yang berlainan, jenis aliran, dan dalam kondisi termohidrolik. Perhitungan koefisien pindah panas dapat diperkirakan dengan hanya membagi konduktivitas termal dari fluida dengan satuan panjang, namun untuk perhitungan yang lebih akurat seringkali digunakan bilangan Nusselt, yaitu satuan tak berdimensi yang menunjukkan rasio pindah panas konvektif dan konduktif normal terhadap bidang batas.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Korelasi Dittus-Boelter (konveksi paksa, forced convection) 2 Korelasi Thom 3 Koefisien pindah panas pada dinding pipa 4 Koefisien pindah panas gabungan 5 Aplikasi koefisien pindah panas 6 Referensi 7 Daftar pustaka

[sunting] Korelasi Dittus-Boelter (konveksi paksa, forced convection)


Korelasi yang khusus namun sederhana dan biasa digunakan pada berbagai aplikasi adalah korelasi pindah panas Dittus-Boelter untuk fluida dalam aliran turbulen. Korelasi ini dapat digunakan ketika konveksi adalah satu-satunya cara dalam memindahkan panas, tidak ada perubahan fase, dan tidak ada radiasi yang signifikan. Koreksi dari perhitungan ini 15%. Untuk aliran fluida pada pipa melingkar yang lurus dengan bilangan Reynolds antara 10000 dan 120000, ketika bilangan Prandtl di anara 0.7 dan 120, untuk titik yang jaraknya lebih dari

sepuluh kali diameter pipa dan ketika permukaan pipa halus secara hidrolik, koefisien pindah panas antara fluida dan permukaan pipa dapat diekspresikan sebagai:

di mana kw = konduktivitas termal fluida DH = Di = diameter hidrolik Nu = bilangan Nusselt bilangan Nusselt dapat dicari dengan: (korelasi Dittus-Boelter) di mana: Pr = bilangan Prandtl Re = bilangan Reynolds n = 0.4 untuk pemanasan (dinding lebih panas dari fluida yang mengalir) dan 0.33 untuk pendinginan (dinding lebih dingin dari fluida yang mengalir)[1].

[sunting] Korelasi Thom


Terdapat korelasi yang sederhana antara koefisien pindah panas dalam proses pemanasan fluida hingga mendidih (boiling process). Korelasi Thom adalah untuk aliran air yang mendidih dan jenuh pada tekanan di atas 20 MPa, dalam kondisi di mana molekul-molekul air yang mendidih lebih banyak mendominasi sepanjang konveksi paksa sedang terjadi. Konsep ini berguna untuk perkiraan kasar dari perbedaan temperatur yang mungkin terjadi pada fluks panas yang ditentukan. [2]

di mana: Tsat = kenaikan temperatur pada dinding di atas titik jenuh, K q = fluks panas, MW/m2 P = tekanan air, MPa perhatikan bahwa ini adalah rumus empiris yang khusus pada satuan tertentu yang diberikan pada rumus.

[sunting] Koefisien pindah panas pada dinding pipa


Pada kasus pindah panas pada pipa yang melingkar, fluks panas bergantung pada diameter dalam dan diameter luar dari pipa, atau tebalnya. Namun jika tebal pipa sangat tipis jika dibandingkan dengan diameter dalamnya, maka perhitungannya:

di maka k adalah konduktivitas termal dari material dinding dan x adalah ketebalan dinding. Penggunaan asumsi ini bukan berarti mengasumsikan bahwa ketebalan dinding diabaikan, namun diasumsikan bahwa perpindahan panas adalah linier pada satu garis, tidak tersebar dari satu titik di pusat pipa ke segala arah penampang melintang pipa.

Jika asumsi di atas tidak berlaku, maka koefisien pindah panas dapat dihitung dengan menggunakan:

di mana di adalah diameter dalam dan do adalah diameter luar.

[sunting] Koefisien pindah panas gabungan


Untuk dua atau lebih proses pindah panas yang bekerja secara paralel, koefisien pindah panas ditambahkan:

Untuk dua atau lebih proses pindah panas yang bekerja secara berantai pada garis lurus, koefisien pindah panas ditambahkan secara invers:

Misalnya, katakan ada sebuah pipa dengan fluida yang mengalir di dalamnya. Laju pindah panas antara fluida di bagian dalam pipa dengan permukaan luar pia adalah

di mana Q = laju pindah panas (W) h = koefisien pindah panas (W/(m2K)) t = ketebalan dinding (m) k = konduktivitas termal dinding (W/mK) A = luas permukaan dinding (m2) T = perbedaan temperatur.

[sunting] Aplikasi koefisien pindah panas


Koefisien pindah panas banyak digunakan dalam perhitungan dan permodelan proses pengeringan[3], pengolahan makanan (misalnya penggorengan[4], pemasakan dengan manipulasi tekanan (puffing)[5], dsb), hingga permodelan suhu udara di dalam bangunan (misalnya rumah tanaman atau greenhouse)[6].

[sunting] Referensi
1. ^ F.Kreith (editor), "The CRC Handbook of Thermal Engineering", CRC Press, 2000. 2. ^ W.Rohsenow, J.Hartnet, Y.Cho, "Handbook of Heat Transfer", 3rd edition, McGraw-Hill, 1998. 3. ^ Sri Rahayoe, Budi Rahardjo, dan Rr. Siti Kusumandari. Koefisien Perpindahan Panas Konveksi Pada Pengeringan Daun Sambiloto Menggunakan Pengering Hampa, sebuah prosiding dalam dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta 18-19 November 2008, Repository IPB, diunduh 19 Juli 2010

4. ^ Siswantoro, Budi Rahardjo, Nursigit Bintoro, dan Pudji Hastuti. Model Matematik Transfer Panas Pada Penggorengan Menggunakan Pasir, sebuah prosiding dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta 18-19 November 2008. Repository IPB , diunduh 19 Juli 2010 5. ^ S. Mariyah,, S. Rahayu, dan B. Rahardjo. Perpindahan Panas dan Massa pada Proses Pemasakan Kacang Mete Dengan Manipulasi Tekanan, sebuah prosiding dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta 18-19 November 2008. Repository IPB, diunduh 19 Juli 2010 6. ^ H. Suhardiyanto. Permodelan Suhu Udara di Dalam Rumah Tanaman. Repository IPB, diunduh 19 Juli 2010

[sunting] Daftar pustaka

F.Kreith (editor),The CRC Handbook of Thermal Engineering, CRC Press, 2000.

Pelajaran Fisika : Perpindahan/Perambatan Kalor (Panas)


* * * * 24 pemilih 51,919 views | April 19, 2009

oleh Rahadian
Apa sih yang dimaksud dengan perpindahan Kalor ?? Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa yang namanya Kalor itu adalah berupa suatu energi. Dimana berdasar hukum kekekalan energi, energi dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dan dapat pula berubah bentuk, dari bentuk energi satu ke energi lain Sekarang kita bahas tentang energi kalor atau energi panas. Perpindahan Kalor adalah suatu proses perpindahan energi panas pada suatu zat atau dari satu zat ke zat lain. Kalor dapat berpindah dapat melalui suatu zat perantara maupun tanpa zat perantara, zat perantara yang dapat menghantarkan kalor disebut dengan konduktor, sedangkan yang tidak dapat menghantarkan panas disebut dengan isolator. Perpindahan kalor dapat melalui tiga cara : 1. Konduksi. 2. Konveksi. 3. Radiasi Sekarang mari kita lihat penjelasan dari ketiga cara tersebut. 1. Konduksi : Merupakan perpindahan kalor yang tejadi dimana energi kalornya berpindah sedangkan zat perantaranya tidak bergerak. sebagai contoh : Andi | Budi | Bagas | Rahmat | Andi ingin memberikan buku kepada Rahmat, tetapi dia tidak boleh berdiri dari tempat duduk, sehingga Andi harus mengoper2 bukunya melalui Budi, lalu Budi mengopernya ke Bagas, baru kemudian Bagas memberikannya kepada Rahmat. Coba perhatikan !! Buku tetap sampai ke Rahmat tanpa si Andi perlu untuk beranjak dari tempat duduknya. Hal ini yang dimaksud dengan perpindahan kalor secara Konduksi. Kalor berpindah tanpa zat penghantarnya bergerak. Perpindahan kalor dengan cara konduksi biasa terjadi pada jenis zat penghantar yang berbentuk padat, seperti besi. Coba saja panaskan sebuah batang besi lalu kamu memegang ujung yang lain, pasti lama kelamaan ujung besi yang kamu pegang juga ikutan terasa panas, hal ini dikarenakan panas merambat pada besi tersebut, sehingga kemudian seluruh batang besi tersebut menjadi panas.