Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Harian KOMPAS memberitakan akhir-akhir ini telah dibicarakan mengenai Perombakan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai berlawanan dengan harapan rakyat. Reshuffle dalam waktu belakangan ini menjadi tema yang menghangat dalam ruang-ruang diskusi publik. Perombakan kabinet tersebut hanya membuat sistem kabinet bertambah gemuk dengan daya sedot anggaran yang besar bagi para elite dan tidak untuk rakyat. Dengan adanya wakil menteri yang harus bekerja sama dengan menteri, hal itu pasti akan membuat anggaran negara kian tersedot ke atas, bukan ke bawah. Padahal, harapan rakyat saat ini, paling tidak, posisi kementerian bisa lebih profesional dan terarah dalam menjalankan agenda untuk rakyat. Proses perombakan kabinet yang berlarut-larut dan mengundang perhatian media massa itu seolah hanya menjadi panggung politik pencitraan Yudhoyono. Pendapat senada diungkapkan ahli psikologi politik dari Universitas Indonesia, Handy Muluk. Menurut dia, jika perombakan kabinet hanya menghasilkan menteri-menteri yang tidak cakap dalam meningkatkan akselerasi kinerja, dapat dikatakan, proses perombakan kabinet itu sekadar basa-basi. Sampai saat ini masih ada pengangkatan menteri yang tidak seusai dengan bidangnya. Itu artinya profesionalisme itu tidak dijadikan pertimbangan dalam reshuffle (perombakan kabinet) ini. Kabinet masih jauh dari nilai-nilai yang diharapkan rakyat. Meskipun ada, itu hanya di beberapa bidang tertentu.Dengan waktu satu setengah tahun efektif di sisa tiga tahun pemerintahannya, kondisi itu akan menjadikan pekerjaan yang berat bagi para menteri dan wakil menteri pasca-perombakan. Sisa satu setengah tahun ke depan, diprediksi banyak manuver dari partai-partai politik menyambut Pemilu 2014. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa alasan presiden dengan adanya perombakan kabinet dan apa tujuan diadakannya reshuffle? 2. Bagaimana pendapat rakyat tentang adanya perombakan kabinet? 3. Siapa saja nama- nama baru menteri dan wakil menteri hasil perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II? 4. Apa dampak reshuffle kabinet bagi masyarakat dan peternak?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui alasan presiden dengan adanya perombakan kabinet? 2. Untuk mengetahui rakyat tentang adanya perombakan kabinet? 3. Untuk mengetahui nama- nama baru menteri dan wakil menteri hasil perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II? 4. Untuk mengetahui dampak reshuffle kabinet bagi peternak? 1.4 Manfaat Penulisan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Alasan presiden melakukan reshuffle Menurut Susilo Bambang Yudhoyono, reshuffle kabinet dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan efektifitas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Sekaligus untuk menyukseskan pencapaian sasaran-sasaran pembangunan tiga tahun mendatang, ditengah permasalahn yang semakin komplek dan berat. Lima 1. 2. 3. dasar Hasil The right pertimbangan evaluasi man Kebutuhan SBY on melakukan kinerja the reshuffle dan right yakni: integritas place organisasi

4. Masukan dan aspirasi masyarakat luas yang diterima SBY selama 1 tahun. 5. Faktor persatuan dalam kemajemukan Pertanyaan yang perlu dijawab sebenarnya apa tujuannya reshuffle? Apakah untuk mensejahterakan rakyat? tujuannya adalah Untuk mempertahankan kekuasaan. Benarkah? Ya, setidaknya jika melihat hasil reshuffle. Dapat disimak fakta dalam reshuffle kali ini, justru kabinet ini tidaklah ramping. Makin tambun saja. Terbukti dengan penambahan beberapa wakil menteri dalam beberapa kementerian (ada 13 wakil menteri, ditambah dengan 6 wakil menteri yang sebelumnya sudah ditetapkan presiden, jauh sebelum reshuffle kali ini). Ini tidak saja membuat birokrasi diduga akan kian lambat, juga tidak efektif dan pemborosan anggaran negara (mana mungkin wakil menteri tidak digaji, pastilah ongkos transportasi dan uang makan haruslah ada, dan itu tentu saja di luar gaji dan tunjangan). Namun terlepas dari kabinet ini menjadi tambun dan pos anggaran pengeluaran kian menyedot APBN), yang perlu diwaspadai adalah Presiden SBY sedang menumpuk barikade di sektor pertahanan untuk mengamankan kekuasaannya. Ini memang baru asumsi dan analisis, bahwa dengan hak prerogatif presiden, sangat mungkin untuk menggunakan kekuasaan dan logika kekuatannya dalam mengamankan kekuasaan dengan cara memilih orang-orang yang bisa menjadi tameng. Jika melihat susunan terbaru hasil reshuffle, sepertinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyo tidak berniat secara sungguh-sungguh merombak kabinetnya. Beberapa menteri yang lalai dalam tanggungjawab dan tugasnya, tetap menduduki posisinya semula. Padahal, menteri yang

bersangkutan gagal dalam bertugas. Apakah karena dia bagian dari partainya atau karena ada deal politik dengan partai koalisi? Memang ada yang diganti karena sudah jelas kelalaiannya seperti menteri perhubungan, Freddy Numberi (dari Partai Demoktrat). Tetapi penggantinya adalah EE Mangindaan (juga kader Partai Demokrat), yang sebelumnya menjabat Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Ada beberapa menteri yang hanya bertukar posisi jabatan saja dan umumnya dari legiun yang sama. Bisakah KIB II hasil reshuffle ini menjalankan amanat salah satunya menghilangkan kasus korupsi bisa terwujud? Korupsi dan problem lainnya akan tetap ada. Ini bisa dilihat dari kinerja Presiden SBY dan kabinetnya, dua periode menjabat tak ada perubahan signifikan. Bahkan dalam beberapa kasus, terutama Century-Gate dan Kisruh Wisma Atlet posisi presiden kian tersudutkan. Itu sebabnya, reshuffle kali ini diduga kuat juga untuk menumpuk kekuatan di lini pertahanan kekuasaan. Dengan seringnya reshuffle, masyarakat tidak mengetahui sebagian besar nama-nama menteri di kabinet. Hal ini timbul pertanyaan apa keuntungan dan kerugian bagi masyarakat. Dengan bergantinya istilah kementrian juga membuat bingung di tingkat bawah. Presiden mudah saja mengubah nama beberapa kementerian, tetapi bagaimana dengan di tingkat bawah? Salah satu contohnya adalah Kemendiknas yang diubah (atau dikembalikan) jadi Kemendikbud. Silakan dihitung biaya-biaya yang akan dikeluarkan untuk perubahan logo, kop surat, papan nama dari puluhan ribu sekolah dari tingkat dasar hingga tingkat atas. Bandingkan dengan pada zaman presiden Suharto, tidak pernah ada reshuffle di tengah jalan. Sehingga dalam lima tahun masa pemerintahan tiap kabinet (pada masa Presiden Suharto kabinetnya bernama Kabinet Pembangunan I hingga VIIkabinet Pembangunan VII cuma bertahan sekira 2 bulan 7 hari (14 Maret 1998 21 Mei 1998), karena presiden dilengserkan. Tidak adanya reshuffle di tengah jalan, bagi masyarakat juga mudah untuk menghafal namanama menteri di tiap kabinetnya dan tidak perlu berganti-berganti hal yang tidak perlu akibat perubahan nama menteri dan nama kabinet seperti di jaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selama masa pemerintahannya sudah melakukan reshuffle 3 kali. Termasuk di masa Presiden Soekarno yang melakukan reshuffle berkali-kali. Kabinetnya sendiri tercatat ada 26 kabinet antara tahun 1945 hingga 1968 yang terbagi dalam era perjuangan kemerdekaan, era demokrasi parlementer dan era demokrasi terpimpin). Dari semua presiden yang pernah memimpin negara Indonesia, ada tiga presiden yang sama sekali tidak pernah melakukan

reshuffle kabinet selama masa kepemimpinannya, yaitu Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie dan Presiden Megawati Soekarno Putri. 2.2 Pendapat rakyat Indonesia Reshuffle dalam waktu belakangan ini menjadi tema yang menghangat dalam ruang-ruang diskusi publik. Di berbagai media, issue reshuffle menjadi primadona dari berbagai hiruk pikuk berita lainnya. Tetapi berbagai perdebatan menjadi sangat absurd tatkala kita tidak mencari tahu seperti apakah pendapat dan kehendak masyarakat terhadap issue reshuffle ini. Untuk itulah dalam waktu belakangna ini, SPACE Indonesia melakukan polling dan analisa terhadap pendapat masyarakat berkenaan issue reshuffle yang membuat gonjang-ganjing dunia politik Indonesia. Sampel pendapat dilakukan di enam kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Makasar, Semarang dan Bandung. Satu hal yang paling substansial dari hasil pengumpulan sampel pendapat masyarakat adalah adanya fakta bahwa masyarakat yang merasa perlu adanya reshuffle hanyalah 48% dari total jumlah responden, berselisih tidak terlalu jauh dengan masyarakat yang merasa tak perlu ada reshuffle sebesar 43% (hanya berselisih 5% saja). Kemudian sisanya memutuskan tidak bersikap terhadap issue reshuffle ini. Kemudian dilakukan break-down terhadap masyarakat yang memilih perlu ada reshuffle ini secara rinci. Dua alasan terbesar kenapa mereka memilih perlu adanya reshuffle adalah adanya harapan perbaikan kinerja dan kebijakan (58%) serta kebutuhan akan kabinet yang bersih dari korupsi (21%). Sisanya diisi oleh responden yang memilih perlunya reshuffle karena alas analasan kesehatan para menteri, pembagian kekuasaan partai politik pendukung pemerintah dan alasan-alasan yang bersifat personal. Selain itu, kami juga melakukan pengumpulan sampel pendapat dari masyarakat responden yang merasa perlu adanya reshuffle tentang menteri yang patut direshuffle. Hasilnya adalah 49% responden memilih menteri yang wajib di reshuffle adalah menteri yang terindikasi kasus korupsi, 31% memilih menteri yang dianggap tidak maksimal kinerjanya dan kebijakannya dianggap merugikan publik, alasan karena menteri yang tidak dalam kondisi sehat layak diganti menempati urutan ketiga (17%), dan karena masalah-masalah pribadi hanyalah 3% saja. Berdasarkan hasil ini maka tampak jelas bahwa masyarakat Indonesia masih memasukkan perilaku yang menyimpang seperti mencuri, memanfaatkan jabatan dan tidak amanah sebagai pemimpin sebagai variabel-variabel pelanggaran etik. Seperti diketahui bersama, sebelum adanya hukum positif yang dibuat berlaku mengikat, jauh sebelumnya masyarakat telah diikat oleh

hukum-hukum adat yang mengikat secara etik-moral. Terbukti disini masyarakat tidak menganggap masalah personal seseorang menteri tidak mempengaruhi pendapat mereka berkaitan dengan issue reshuffle selagi menteri tersebut dianggap tidak melanggar hukum moral yang berlaku di masyarakat seperti mencuri, memanfaatkan jabatan, tidak amanah, atau perbuatan amoral lainnya. Masyarakat tidak terpengaruh kepada problematika kehidupan pribadi seorang menteri. Melihat fakta bahwa responden kali ini tergolong sebagai responden yang merepresentasikan kelompok terdidik yaitu D3 (34%) dan S1 (37%) maka dapat dipastikan bahwa pandangan masyarakat akan keputusan politik sudah bergeser kearah yang lebih rasional. Tidak ditemukan alasan seorang menteri harus diganti karena tidak separtai dengan responden. Hal ini setidaknya memutus perkara-perkara emosional dalam menentukan pilihan. Bagi kelompok responden yang tidak merasa perlu adanya reshuffle, alasan akan adanya kondisi yang berindikasi pada perubahan kebijakan dapat mengancam stabilitas investasi karena pergantian menteri (33%), khawatir kepada instabilitas ekonomi (31%), instabilitas kemananan (31%), dan sisanya adalah pendapat responden yang menganggap reshuffle hanyalah proyek bagibagi kekuasaan (6%).

Melihat kondisi hasil ini maka SPACE Indonesia berusaha membuat analisa-analisa yang berkaitan antara issue reshuffle dengan kenyataan faktual berbasis hasil riset ini. Secara jelas maka kebutuhan akan reshuffle kabinet tidak mutlak menjadi issue yang menarik bagi masyarakat. Kalaupun reshuffle dilakukan maka masyarakat lebih memilih seorang menteri diganti karena faktor-faktor yang relevan dengan hajat hidup mereka. Untuk itulah kemudian issue indikasi korupsi dan kinerja berada pada variabel teratas jumlah responden. Kalaulah, media atau bahkan petinggi politik melakukan pengumpulan sampel pendapat masyarakat terkait issue politik yang sedang hangat seperti issue reshuffle kali ini maka tidak perlu ada missing link antara kehendak politik kekuasaan dengan kehendak rakyat.

2.3 Nama- nama baru menteri dan wakil menteri hasil perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II Setelah beberapa saat jadi teka teki siapa dan bagaimana komposisi akhir menteri dalam kabinet pemerintahan SBY-Boediono, maka beberapa waktu lalu Presiden SBY resmi menjawab teka teki tersebut dengan mengumumkannya kepada seluruh rakyat Indonesia. Masyarakat

berharap semoga dapat membawa angin segar bagi perbaikan berbagai bidang pembangunan di negeri ini. Inilah komposisi kabinet Indonesia bersatu tersebut: MENTERI KOORDINATOR 1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Marsekal (Purn) Djoko Suyanto 2. Menko Perekonomian : Hatta Rajasa 3. Menko Kesra : R Agung Laksono 4. Sekretaris Negara : Sudi Silalahi MENTERI DEPARTEMEN 1. Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi 2. Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa 3. Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro 4. Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar 5. Menteri Keuangan : Sri Mulyani 6. Menteri ESDM: Darwin Saleh 7. Menteri Perindustrian : MS Hidayat 8. Menteri Perdagangan : Mari E. Pangestu 9. Menteri Pertanian : Suswono 10. Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan 11. Menteri Perhubungan : Freddy Numberi 12. Menteri Kelautan dan Perikanan : Fadel Muhammad 13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Muhaimin Iskandar 14. Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto 15. Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Setianingsih 16. Menteri Pendidikan Nasional : Mohammad Nuh 17. Menteri Sosial : Salim Segaf Al Jufri 18. Menteri Agama : Suryadharma Ali 19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wacik 20. Menteri Komunikasi dan Informasi : Tifatul Sembiring MENTERI NEGARA 1. Menteri Riset dan Teknologi : Suharna Suryapranata 2. Menteri Koperasi dan UKM : Syarifudin Hasan 3. Menteri Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta 4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari 5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : E.E Mangindaan 6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Ahmad Helmy Faishal Zaini 7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional : Armida Alisjahbana 8. Menteri BUMN : Mustafa Abubakar 9. Menteri Pemuda dan Olahraga : Andi Alfian Mallarangeng 10. Menteri Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa PEJABAT SETINGKAT MENTERI 1. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto 2. Kepala BKPM: Gita Wirjawan 3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan Pengedalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto

UPDATE KABINET RESHUFFLE 18 OKTOBER 2011 (Klik Disini)

Menteri-Menteri Kabinet Indonesia Bersatu Part-2

Susunan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II Pasca Reshuffle


Setelah dalam sepekan terakhir media tanah air ramai membahas perihal perombakan kabinet SBY yaitu Kabinet Indonesia Bersatu II, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan secara resmi susunan Kabinet hasil reshuffle tersebut. Berikut susunan Kabinet Indonesia Bersatu II berdasarkan perombakan Selasa, 18 Oktober 2011. Pelantikan para menteri ini akan dilakukan di Istana Negara Rabu, 19 Oktober 2011. Dua menteri dari partai politik berkurang yakni menteri dari Partai Demokrat dan menteri dari Partai Keadilan Sejahtera.

Mesin pemerintahan SBY bukan bekerja keras tetapi bekerja berat karena ditumpangi oleh banyak kepentingan politik. Menteri Koordinator 1. Menko Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan: Djoko Suyanto 2. Menko Bidang Perekonomian: Hatta Rajasa 3. Menko Bidang Kesejahteraan Rakyat: Agung Laksono

Kementerian 4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi 5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi 6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa 7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro 8. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Amir Syamsuddin* (Partai Demokrat) 9. Menteri Keuangan: Agus Martowardojo 10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Jero Wacik (Partai Demokrat) 11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat 12. Menteri Perdagangan: Gita Wirjawan* 13. Menteri Pertanian: Suswono 14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan 15. Menteri Perhubungan: Ever Ernest Mangindaan* (Partai Demokrat) 16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Cicip Sutardjo* (Partai Golkar) 17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar 18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto 19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih 20. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Mohammad Nuh 21. Menteri Sosial: Salim Segaf Al-Jufri 22. Menteri Agama: Suryadharma Ali 23. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Marie Elka Pangestu (Jero Wacik-) 24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring 25. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Gusti Muhammad Hatta 26. Menteri Negara Koperasi dan UKM : Syarifuddin Hasan 27. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Berth Kambuayana* 28. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari 29. Menteri Negara PAN dan Reformasi Birokrasi: Azwar Abubakar* (Partai Amanat Nasional) 30. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faishal Zaini 31. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bapenas: Armida Alisjahbana 32. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: Dahlan Iskan* 33. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Djan Farid* 34. Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga: Andi Mallarangeng Kepala Lembaga Pemerintah Nonkementerian, yaitu: 1. Kepala Badan Intelijen Negara: Marciano Norman* 2. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Wakil Menteri: 1. Wakil Menteri Luar Negeri: Wardana* (Sriyono** menjadi Duta Besar) 2. Wakil Menteri Pertahanan: Sjafrie Sjamsoeddin 3. Wakil Menteri Perindustrian: Alex Retraubun 4. Wakil Menteri Perdagangan: Bayu Krisnamurti (Wamen Pertanian****) 5. Wakil Menteri Pertanian: Rusman Heriyawan* 6. Wakil Menteri Perhubungan: Bambang Susantono 7. Wakil Menteri Pekerjaan Umum: Hermanto Dardak 8. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Musliar Kasim dan Wiendu Nuryanti* 9. Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional: Lukita Dinarsyah Tuwa 10. Wakil Menteri Keuangan: Anny Ratnawati + Mahendra Siraegar (Wamen Perdagangan****)

11. Wakil Menteri Pertanian: Rusman Heriawan* 12. Wakil Menteri Kesehatan: Ali Ghufron Mukti* 13. Wakil Menneg BUMN: Mahmudin Yasin* 14. Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara: Eko Prasodjo* 15. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Sapta Nirwanda* 16. Wakil Menteri Hukum dan HAM: Denny Indrayana* 17. Wakil Menteri ESDM: Widjajono Partowidagdo* 18. Wakil Menteri Agama: Nasruddin Umar* * Wajah Baru ** Terdepak *** Penambahan **** Jawaban Awal 2.4 Dampak Reshuffle 2.4.1 Terhadap Para Pengusaha Menteri ESDM Baru Akan Tegas kepada Pengusaha Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik yang baru dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggantikan Darwin Zahedy Saleh tampak garang. Dalam tiga tahun ke depan, dia akan berjuang dengan keras agar sumber daya alam sektor energi dan mineral memberikan manfaat yang lebih besar kepada negara dan rakyat Indonesia. "Orang-orang yang bergerak di ESDM di Indonesia, termasuk orang asing yang mengeksplorasi di Indonesia, mereka itu kaya dari bumi Indonesia. Jadi, janganlah terlalu banyak ngakal-ngakali. Sebagian dari keuntungannya dikembalikan ke negeri tercinta ini," ujar Jero dalam acara serah terima jabatan di Kementerian ESDM, Rabu (19/10/2011). Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ini mengatakan, apabila semua pengusaha dari hulu sampai ke hilir mau diajak berpikir seperti itu negara ini, beserta seluruh rakyatnya akan makmur dari energi dan sumber daya mineral. "Sudah diberikan rezeki, Tuhan memberikan limpahan rahmat begini besar kepada ibu pertiwi. Di mana-mana digali tanah ini, ada nikel, batubara, ada minyak, gas, uranium. Apa saja ada di negeri kita. Mari kita gunakan ini untuk kita semua, untuk seluruh bangsa ini, " ujarnya. Jero mengatakan, dia akan membentuk tim untuk menegosiasi lagi kontrak karya pertambangan dan migas agar memberikan kemakmuran yang besar kepada negara dan rakyat. "Para pengusaha tidak akan miskin. Mereka yang bergerak di bidang ESDM cuma untungnya berkurang," ujarnya. Jero mengatakan, dirinya sudah mendapat perintah dari Presiden untuk merenegosiasi kontrak pertambangan. "Itu juga amanah UU, harus ada renegoisasi. Tentunya kita mengarah ke sana." Jero juga berjanji untuk meningkatkan lifting minyak."Produksi minyak juga akan ditingkatkan. Sekarang di sekitar 930.000 barrel per hari, makanya bisa enggak menuju 1 juta barel," ujarnya seusai acara serah terima jabatan. Jero juga berjanji akan meneruskan proyek listrik 10.000 MW baik tahap I yang saat ini sedang berjalan maupun tahap II yang sedang dalam persiapan saat ini. "Yang tahap pertama harus

dipercepat. Saya akan buat evaluasi juga menangani kesulitan dan hambatan yang pertama dan dijadikan pelajaran sehingga itu mempermudah yang 10.000 MW tahap kedua," ujarnya. Sementara itu, mantan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh dalam pesannya kepada Jero Wacik mengatakan, ada tiga hal yang harus menjadi perhatian Menteri ESDM yang baru. Pertama, subsidi energi yang terus membengkak. "Kami sudah sampai pada tahap memahami persoalannya dan bagaimana mengatasinya," ujar Darwin. Kedua, meningkatkan kontribusi sumber daya alam secara maksimal dan peningkatan nilai tambah serta pengikutsertaan komponen bangsa dalam kegiatan produksi baik di hilir maupun hulu. Dan ketiga, soal renegosiasi kontrak pertambangan. Menurut Darwin, renegosiasi tidak mudah dilakukan, tetapi harus berhasil dilakukan karena sesuai amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara. "Renegosiasi harus berhasil lebih baik," ujar Darwin. 2.4.2 Bagi BUMN Dahlan Akan Beri Keleluasaan BUMN Menteri BUMN yang baru, Dahlan Iskan, berjanji bakal memberikan keleluasaan terhadap perusahaan pelat merah untuk melakukan aksi korporasi. Hal itu yang menjadi prioritas langkah yang akan dibangun untuk mengembangkan perusahaan pelat merah kian maju. "Akan berikan keleluasaan lebih besar untuk lakukan aksi-aksi korporasi, itu mendasar sekali bagi perusahaan BUMN," katanya seusai pelantikan di Kompleks Istana, Rabu (19/10/2011). Keleluasaan di sini artinya BUMN akan dituntut bekerja lebih keras dan lebih bertanggung jawab ketimbang membuat laporan, surat-menyurat, dan rapat. "Nanti rapat pun kita akan tentukan yang ter-manage dengan baik," katanya. Dahlan berjanji akan mengurangi kuantitas rapat mencapai 50 persen dari biasanya. Menurut dia, padatnya jadwal rapat justru mengganggu kinerja perusahaan pelat merah. "Kita akan sepakati rapat mingguan di masing-masing BUMN harus ditentukan pada hari apa. Misal Selasa pukul 07.00 WIB sampai 10.00 WIB. Itu semua perusahaan wajib rapat," katanya. Dahlan optimistis tidak terlalu kerepotan memimpin jabatan barunya selaku orang nomor satu di Kementerian BUMN. Pengalaman selaku Dirut PLN menjadi bekal berharga dalam memimpin. "Saya belajar di BUMN makanya saya akan dorong BUMN berani lakukan aksi korporasi, Kementerian BUMN tidak akan jadikan mereka instansi di bawah BUMN, tapi korporasi di bawah BUMN," jelasnya.

2.4.3 Terhadap Pariwisata Jero Wacik: 50 Persen CSR BUMN untuk Pariwisata Jero Wacik menjanjikan perhatian lebih untuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Meski ia kini menjabat Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), ia berjanji tetap mendorong kemajuan periwisata di Indonesia. "Di Kementerian ESDM, saya membawahi 11 perusahaan BUMN yang memiliki anggaran total CSR perusahaan sebanyak Rp 1 triliun. Saya akan minta mengalokasikan 50 persen dari dana itu untuk mengembangkan pariwisata," kata Jero Wacik dalam pidato saat serah terima jabatan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Rabu (19/10/2011). Menanggapi pernyataan tersebut, Mari Elka Pangestu langsung menyambut baik. Ia pun langsung memegang janji Jewro Wacik. "Saya akan menagih janji dari Pak Jero Wacik soal dana CSR BUMN itu, saksinya banyak lho ini Pak," kata Mari Elka Pangestu yang disambut dengan tepuk tangan hadirin. Acara serah terima jabatan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu juga dihiasi dengan pidato pamitan yang cukup emosional. "Awal mula saya menjabat sebagai Menbudpar tahun 2004, banyak orang yang meng-under estimate saya untuk mengurus bidang kebudayaan dan pariwisata," kata Jero Wacik. Saat penandatanganan kesepakatan untuk menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik mengaku keberatan, hanya saja demi tugas negara akhirnya setuju dipindahkan dari Kemenbudpar. "Saya sudah terlanjur cinta dengan Kemenbudpar, semua sudah seperti keluarga sendiri," kata Jero Wacik sambil mengusap air mata di depan podium. Sikap emosional Jero Wacik tampak pada beberapa kesempatan, pertama setelah menandatangani kesepakatan dengan presiden, saat memimpin rapat pimpinan terakhir di Kemenbudpar, ketika membuat pidato pamitan, terakhir saat menyampaikan pidato di acara serah terima jabatan ini. "Ini tangisan saya yang keempat, cukup sudah, habis air mata saya untuk meninggalkan Kemenbudpar," kata Jero Wacik yang disambut tepuk tangan hadirin. "Dengan menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Kemenbudpar akan menjadi almamater saya yang keenam, karena saya punya filosofi setiap orang punya almamater untuk diperjuangkan sesuai cita-cita. Almamater pertama adalah Bali, ITB, Astra-IT, UI, Partai Demokrat, dan Kemenbudpar," kata Jero Wacik. 2.4.4 Bagi Peternak Purwanto, Ketua Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi BPTKPDAS Solo (JIBI/SOLOPOS/dok) Pergantian Menteri Perdagangan dari Marie Elka Pangestu ke Gita Wiryawan menerbitkan harapan baru bagi peternak kecil; terutama peternak sapi, kerbau, kambing dan ayam. Harapan ini terkait pengalihan kebijakan impor sapi dari Kementerian Pertanian ke Kementerian Perdagangan per 1 Juli 2011 yang tidak mengurangi kecurangan yang terjadi. Tetap muncul aturan yang tidak jelas akibat kasak-kusuk para mafia daging yang mencari keuntungan. Izin volume impor tetap berada di Kementerian Pertanian, tapi Kementerian Perdagangan bisa langsung melakukan impor. Peternak kecil berharap menteri yang baru ini dapat meningkatkan harga ternak rakyat yang selama 4-5 tahun terakhir menurun yang menimbulkan kerugian bagi usaha ternak mereka.

Menteri Perdagangan yang baru diharapkan dapat menyetop impor daging sapi dari Australia dan impor daging ayam negeri dari Amerika Serikat sehingga daging dalam negeri dapat terdongkrak harganya. Bukankah daging ayam kampung lebih enak dan lebih sehat dari pada ayam leghorn atau ayam bule? Dalam hal perdagangan daging, Menteri Perdagangan yang baru hendaknya jangan ikut-ikutan selebritas yang lebih suka memilih pasangan bule ketimbang gadis atau perjaka asli dalam negeri. Harus impor? Kekurangan pasokan daging dalam negeri menjadi alasan Marie Elka Pangestu ketika menjabat Menteri Perdagangan membuat kebijakan mengimpor daging sapi dan daging ayam. Kekurangan ini mencapai 30% dari kebutuhan daging nasional. Bila tidak dilakukan impor daging, restoranrestoran besar di Jakarta akan tutup akibat kekurangan bahan baku. Namun, pertanyaannya mengapa harga hewan penghasil daging di tingkat petani malah turun pada 4-5 tahun terakhir? Hukum permintaan dan penawaran menyatakan apabila permintaan tetap dan pasokan tidak mencukupi atau berkurang maka akan menggeser harga ke arah yang lebih tinggi. Tetapi, realitasnya harga daging dan hewan yang masih hidup relatif tetap. Selama lima tahun terakhir, di kawasan Soloraya harga daging sapi berkisar Rp 55.000-Rp 60.000 per kilogram. Apakah masalah kekurangan daging harus diatasi dengan impor? Salah satu penyebab kekurangan pasokan daging tersebut yakni akibat petani menahan diri, tidak menjual ternak mereka, karena jika dijual hanya akan mengalami kerugian. Ngadi, seorang petani dan peternak di Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, yang memiliki satu ekor sapi dan ingin menjual sapinya akhirnya memilih menahan diri, tak jadi menjual sapinya, karena dia membeli sapi seharga Rp 7 juta dan sudah memeliharanya selama bulan bulan ketika akan dia jual hanya ditawar Rp 6 juta oleh pedagang. Padahal menurut perkiraannya sapi tersebut layak dijual seharga Rp 9 juta sehingga dia berharap mendapatkan keuntungan Rp 2 juta. Menghadaoi kenyataan harga di pasar, bukan untung yang dia peroleh, tetapi malah buntung. Pilihan paling logis adalah menahan sapi, tak jadi dijual. Kebijakan mengimpor daging sebaiknya dihentikan untuk memberi kesempatan para petani mengembangkan usaha ternak mereka. Kebijakan Presiden Soeharto pada masa Orde Baru mengimpor bibit sapi baik untuk sapi pedaging atau sapi perah merupakan strategi untuk swasembada daging dan susu dalam jangka panjang. Kebijakan ini tidak diteruskan oleh pemerintah berikutnya. Pengembangannya di Boyolali, misalnya, dibiarkan menjadi puso. Bila terpaksa terjadi kekurangan daging sebenarnya tidak sekritis kekurangan beras. Daging bukan merupakan makanan pokok bangsa kita. Zat-zat yang ada di dalam daging dapat disubstitusi dengan bahan-bahan yang berasal dari biji-bijian yang tersedia di dalam negeri atau bila terpaksa diimpor dengan harga yang lebih murah sehingga menghemat devisa sambil menunggu kesiapan peternak kita mencukupi kebutuhan daging nasional. Biarkan menjadi kaya Berbagai kajian menunjukkan sebelum 2005 pendapatan petani dari usaha ternak dapat menyumbang 51% dari pendapatan rumah tangga petani. Wajar jika orang-orang tua kita menyebut ternak sebagai rajakaya, raja yang bisa membuat kaya sehingga petani-petani yang masih berpikir tradisional mengandangkan sapi atau kerbau mereka di ruang tamu tanpa merasa jijik. Dengan berkembangnya teknologi peternakan di Indonesia, petani sudah maju dalam hal memelihara ternak mereka. Berbagai ras sapi seperti limousin, metal, benggala, persilangan

berbagai ras sapi tersebut dan juga persilangan dengan sapi Bali dan Nusa Tenggara sudah tidak asing lagi dan banyak dipelihara oleh petani. Bahkan penjantan sapi limousin yang asli Australia ini lebih kuat mengawini sapi betina di Indonesia karena di negaranya hanya boleh kawin dengan satu pasangan sedangkan di Indonesia boleh mengawini empat betina. Penerapan teknologi inseminasi buatan sudah banyak dilakukan oleh peternak. Pemberian makanan konsentrat dan pemeriksaan kesehatan secara rutin juga sudah dilakukan oleh petani karena mereka tidak mau menanggung risiko ternak mereka sakit dan mati. Agar subsektor peternakan ini lebih maju, diperlukan kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga daging dan ternak supaya tetap tinggi sehingga petani ternak menjadi kaya. Makin banyak petani yang kaya akan mendongkrak pertumbuhan sektor lainnya. Konsep hubungan center and peryphery antara kota dan desa dalam pengembangan ekonomi wilayah harus didorong dengan cara sedikit demi sedikit menaikkan harga komoditas pertanian. Konsep ini mungkin bertentangan dengan mainstream teori ekonomi pembangunan karena dengan harga bahan makanan pokok yang tinggi akan terjadi gejolak dan mengganggu stabilitas sosial, ekonomi dan keamanan. Namun, untuk Indonesia yang memiliki jumlah angkatan kerja di sektor pertanian yang mencapai 46,7 juta jiwa atau 44% dari angkatan kerja, kebijakan menaikkan harga komoditas pertanian secara pelan-pelan dapat meningkatkan kesejahteraan sebagian besar masyarakat. Dengan jumlah petani yang sangat banyak tersebut, bila memiliki pendapatan yang tinggi akan mampu membeli produk-produk yang dihasilkan sektor industri dan jasa. Pada kondisi impian ini, di masa mendatang, mal-mal di Kota Solo dan kota-kota lainnya akan diserbu petani-petani berdasi dari kabupaten sekitarnya. Saat ini mal-mal tersebut hanya didatangi pegawai negeri sipil (PNS) golongan tinggi dan swasta. Strategi desa mengepung kota dengan kekayaan petani merupakan mimpi indah masa depan Indonesia. Pemerintah daerah di kawasan Soloraya sebaiknya segera memberi masukan kepada Menteri Perdagangan yang baru tentang pentingnya menyetop impor daging dengan memberi data jumlah petani peternak yang merugi akibat kebijakan tersebut. Kepada Menteri Pertanian kita mohon agar membina petani dengan teknik peternakan modern sehingga peternak kita dapat memenuhi kuantitas dan standar kebutuhan daging nasional.

2.4.5 Harapan Rakyat