Anda di halaman 1dari 27

1

FENOMENA ANAK JALANAN KOTA MEDAN ; PROBLEMATIKA DAN SOLUSINYA


(Sebuah studi tematik terhadap permasalahan Anak Jalanan; Antara tuntutan dan kebebasan hidup) Oleh :

Andriansyah, S. Sos
General Coordinator Save Street Child Medan Jl. Murai No. 98 Perbaungan. Contac Mobile : 0853 1171 7087 Email : Riyan_m0eslim@yahoo.co.id
Abstrak: Keberadaan anak jalanan di Kota Medan telah menjadi fenomena yang kerap kali menimbulkan berbagai respon dari masyarakat, baik itu positif maupun negatif. Dibalik keberagaman fenomena yang dihadirkan oleh anak jalanan kota Medan, terdapat banyak sisi latarbelakang yang sangat menarik untuk dikaji lebih dalam. Penelitian kualitatif deskriptif ini membuktikan bahwa berbagai persoalan telah hadir sebelum seorang anak memutuskan untuk menjadi seorang anak jalanan. Latar belakang ekonomi menjadi alasan paling dominan adanya anak jalanan. Kemudian kurang harmonisnya hubungan dengan keluarga menjadi faktor selanjutnya seorang anak memutuskan menjadi anak jalanan. Sebuah tuntutan hidup yang mesti ditempunya demi keberlangsungan hidup. Selain dari itu, seorang anak juga memutuskan untuk menjadi anak jalanan hanya karena ingin mencari kebebasan dalam hidupnya, ingin menyalurkan bakat dan hidup mandiri diluar rumah. Fenomena anak jalanan di kota Medan hadir karena berbagai faktor yang sangat beragam, hal ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi pihak-pihak terkait dalam mencari solusi dalam penanganan anak jalanan di kota medan. Karena permasalahan anak jalanan adalah permasalahan yang sangat kompleks, harus banyak opsi dalam mencari solusi penyelesaiannya. Kata Kunci : anak jalanan kota Medan, orang tua, keluarga, problematika, solusi

1
Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

Pendahuluan
Pada umumnya, setiap orang menginginkan seorang anak sebagai pelanjut keturunan dan penyambung cita-cita mereka. Namun, tercapai atau tidaknya suatu cita-cita perjuangan orang tua sangat tergantung pada anak mereka, dan kualitas anak-anak mereka sebagai penerus cita-cita perjuangan tersebut. Anak-anak yang mampu melanjutkan cita-cita orang tua, bahkan cita-cita suatu bangsa adalah anak yang memiliki sumber daya bersaing yang tinggi, seperti berbadan sehat dan kuat, terampil, berpendidikan, bercita-cita tinggi, berakhlak mulia, taat kepada peraturan Allah Swt dan rasul-Nya, serta memahami Tuhan sebagai pencipta segala keberadaan.1 Untuk memperoleh generasi seperti itu, maka negara, masyarakat, dan orangtua harus menjamin terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan anakanaknya, serta memberikan perhatian, perlindungan, pendidikan dan kebutuahan psikologi anak-anak tersebut secara utuh, seimbang dan berkesinambungan. Meskipun perlindungan anak sudah diatur secara Undang-Undang, dan pendidikan anak telah diatur dan diprogramkan oleh pemerintah melalui wajib belajar 9 tahun, realitas menunjukkan bahwa tidak semua orangtua mempersiapkan anakanak mereka dengan baik. Banyak orangtua, baik secara sengaja maupun tanpa sadar, telah menjadikan anak-anak mereka sebagai pekerja, bahkan anak jalanan. Buktinya semakin banyaknya anak-anak yang mengisi setiap sudut persimpangan jalan dan traffic ligth. Dan disini para orangtua menjadi penonton serta pengawas atas aktivitas mereka. Masalah krusial bagi mereka yang hidup di jalanan ini adalah mereka yang tergolong usia muda. Seharusnya, mereka tidak berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi mereka harus membekali diri mereka dengan berbagai ilmu dan keterampilan untuk masa depan mereka. Sebab, mereka adalah harapan bangsa. Karena itu, idealnya mereka harus diberikan berbagai kemampuan, baik kemampuan fisik maupun psikis. Semestinya, mereka mengeyam pendidikan terlebih dahulu dan menggapai cita-citanya tanpa harus berjuang memperoleh rezeki. Kenyataan bahwa semua ini tidak bisa mereka dapatkan, maka anak jalanan selalu berpikir economic
1

Syahminan Zaini, Arti Anak bagi Seorang Muslim, (Surabaya : Al-Ikhlas, t.t.), h. 10

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

oriented (berorientasi kepada pencarian harta), tanpa memikirkan aspek-aspek lain untuk dapat melihat masa depan lebih baik dan berkehidupan lebih layak. Hadirnya fenomena anak jalanan di kalangan masyarakat, selain disebabkan oleh faktor problema kehidupan sosial seperti keadaan ekonomi, pendidikan, dan kelurga, juga sangat dimungkinkan muncul akibat tidak tersalurnya bakat yang mereka miliki serta kebebasan mereka yang tertekan dilingkungan keluarganya. Dan dalam hal itu faktor dari orang tua dan keluarga menjadi yang paling dominan. Sebab, kebutuhan seorang anak tidak hanya terletak pada kebutuhan primer saja, tetapi kebutuhan sekunder juga, yaitu kebutuhan psikologis yang juga sangat penting. Kebutuhan tersebut dapat mencakup kebutuhan untuk mengembangkan kepribadian seseorang, contohnya adalah kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan mengaktualisasikan diri, atau kebutuhan untuk memiliki sesuatu, di mana kebutuhan psikologis tersebut bersifat lebih rumit dan sulit diidentifikasi segera. Begitu juga dengan anak jalanan tersebut, untuk dapat memupuk harga diri, perilaku dan aktualisasi dirinya, pertimbangan mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebutuhan anak jalanan tersebut perlu dilakukan. Selanjutnya, pengalaman hidup menjadi anak jalanan dan kondisi lingkungan akan dapat mempengaruhi perspektif mereka tentang masa depan. Dengan demikian persepktif mereka tentang masa depan menjadi harapan hampa yang mungkin tidak dipikirkan. Mereka terlalu asyik dengan hidup di jalanan, bisa berbuat bebas, bisa makan, memiliki penghasilan sendiri. Sedang idealnya, seoarang anak jalanan akan menjadi dewasa, dan semakin dewasa akan semakin sedikit penghasilan yang didapat. Dampaknya mereka akan memanfaatkan anak jalanan yang masih kecil untuk menambah penghasilan mereka. Kalau sudah seperti ini, mata rantai anak jalanan akan terus berkelanjutan, dan pemikiran tentang kehidupan lebih layak diluar menjadi anak jalanan tidak akan pernah terpikirkan lagi. Kita menyadari, tidak semua manusia memiliki status sosial yang tinggi, sebab ternyata sebagian manusia menyandang status sosial yang rendah. Dalam hal ini termasuk didalamnya status sosial anak jalanan. Para ahli telah banyak membahas masalah anak jalanan ini. Dari satu sisi, ada beberapa istilah yang kerap digunakan

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

untuk merujuk kepada makna anak jalanan seperti tekyan, kedan, gelandangan, anak mandiri dan anak 505. Untuk anak jalanan berjenis kelamin perempuan, mereka sering disebut ciblek. Semua istilah ini menjadi istilah umum bagi penyebutan anak jalanan.2 Ada banyak defenisi tentang anak jalanan. Anak jalanan bisa diartikan sebagai mereka yang menghabiskan sebagian waktunya untuk mencari nafkah dijalanan, atau kelompok anak yang tidak memiliki tempat tinggal tetap, dan tempat tinggal mereka adalah alam terbuka, tidak memiliki hubungan dengan keluarga lagi, dan berkeliaran diberbagai tempat seperti pertokoan, stasiun, terminal, kolong jembatan dan taman kota;3 atau pekerja informasi yang mana mereka bekerja dijalanan;4 atau anak yang kegiatannya menyatu dengan jalanan kota; atau seseorang yang berumur di bawah 18 tahun yang menghabiskan waktu minimal 6 jam perhari dan 6 hari per minggu di jalanan dengan melakukan berbagai kegiatan tertentu untuk mendapatkan uang atau guna mempertahankan hidupnya.5 Dengan demikian, anak jalanan telah dipahami secara bervariasi, meskipun semua arti tersebut memiliki hakikat yang sama. Dari sisi lain, para ahli telah melakukan pengelompokan terhadap anak jalanan. Ditinjau dari segi hubungan anak-anak jalanan dengan keluarganya, anak jalanan dibagi menjadi dua katagori, yaitu anak jalanan yang tumbuh di jalanan (children of the street), dan anak-anak yang ada di jalanan (children on the street). Anak-anak yang tumbuh di jalanan adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh hidupnya di jalanan, tidak memiliki rumah dan tidak pernah kontak dengan keluarganya. Umumnya mereka berasal dari keluarga berkonflik. Sedangkan anakanak yang ada di jalanan adalah anak-anak yang berada sesaat di jalanan. Anak-anak dari katagori ini dibagi menjadi dua, yaitu kelompok anak dari luar kota, dan kelompok anak yang sesaat di jalan, dan masih tinggal bersama orang tua.

Hasil diskusi dengan bapak Ahmad Taufan Damanik (Komisioner ACWC) pada hari selasa, 18 Oktober 2011 pukul 19.00 Wib s/d selesai di Kantor KKSP Medan. 3 Surya Mulandar (ed), Dehumanisasi Anak Marginal: Berbagai Pengalaman Pemberdayaan, (Bandung: Akatiga, 1996). 4 Ibid 5 Kementerian Sosial Republik Indonesia

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

Ditinjau dari segi kepentingan, anak jalanan dikelompokkan menjadi empat kelompok. Pertama, anak yang berada di jalanan disebabkan karena mereka tidak memiliki pilihan, karena tidak memiliki orang tua maupun keluarga asuh, sehingga mereka harus mempertahankan hidup dengan mencari nafkah di jalanan. Kelompok ini disebut Anak Tanpa Pilihan. Kedua, anak berada di jalanan karena desakan ekonomi keluarga, dimana anak harus ikut menopang ekonomi keluarga. Kelompok ini disebut Anak Penopang Keluarga. Ketiga, anak berada di jalanan karena kondisi yang kurang menguntungkan, yang antara lain karena mendapat tekanan dari orang tua dan sarana penghidupan kurang memadai. Kelompok ini disebut Anak Kondisi Keadaan. Keempat, anak berada di jalanan karena hobi dan senang mencari uang serta sekedar ingin menyalurkan bakatnya. Kelompok ini disebut Anak Iseng di Jalanan. Banyak para ahli meneliti tentang faktor-faktor penyebab kemunculan anak jalanan. Menurut mulandar, ada sejumlah penyebab dari fenomena anak yang bekerja antara lain adalah tekanan ekonomi keluarga, dipaksa orang tua, diculik dan terpaksa bekerja oleh orang yang lebih dewasa, asumsi bahwa dengan bekerja bisa digunakan sebagai sarana bermain, dan pembenaran budaya bahwa kecil anak harus bekerja. 6 Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial menyebutkan bahwa faktorfaktor penyebab anak turun ke jalan adalah kemiskinan keluarga, kesibukan orang tua, penolakan masyarakat karena cacat atau anak haram, rumah tangga yang berkonflik, dan salah satu atau kedua orang tua meninggal dunia, serta faktor keinginan seorang anak untuk dapat mengekspresikan dirinya secara bebas. Menurut Whitemole dan Sutini bahwa sebab-sebab dan latar belakang dari anak jalanan adalah terkait dengan masalah ekonomi sehingga anak terpaksa ikut membantu orang tua, hubungan dalam keluarga tidak harmonis, oran tua menjadikan anak sebagai sumber ekonomi, anak-anak mengisi peluang-peluang ekonomi jalanan secara individual maupun kelompok, dan adanya pihak yang mengorganisir anak-anak sebagai pekerja jalanan.7 Sedangkan menurut Salahuddin, Faktor penyebab kemunculan anak jalanan
Mulandar (ed), Dehumanisasi Anak Marginal, h. 177. Bandingkan Sri Sanituti Hariadi dan Bagong Suyanto (ed), Anak Jalanan di Jawa Timur; Masalah dan Upaya Penanganannya (Jawa Timur: BK3ES-Depsos Tk. 1 Jawa Timur, 1999);
7 6

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

adalah kekerasan dalam keluarga, dorongan keluarga, impian kebebasan, ingin memiliki uang sendiri dan pengaruh teman.8 Namun, banyak pihak meyakini bahwa kemiskinan adalah faktor utama pendorong kemunculan anak jalanan. Setiap individu dan kelompok manusia biasanya memiliki karakter tertentu. Dalam konteks anak jalanan ini, menurut Salahuddin, ada enam ciri anak jalanan, yaitu cepat tersinggung, mudah putus asa, tidak terbuka dan cepat murung, butuh kasih sayang, perbedaan latar belakang keluarga, suku dan agama, masih sangat labil, dan mereka memiliki suatu keterampilan.9 Umumnya setiap anak jalanan memiliki watak seperti ini. Anak jalanan, sebagai salah satu bentuk status sosial dalam masyarakat, memiliki pengalaman hidup secara silih berganti. Terkadang, mereka akan senang dan bahagia karena memperoleh rezeki diluar harapannya. Namun terkadang, batin mereka menderita dan tersiksa, karena dihina oleh masyarakat, atau bahkan cemburu dengan anak-anak lain yang hidup mewah dan mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka. Tentunya status sosial yang mereka miliki akan mempunyai hubungan dengan terbentuknya perspektif tentang masa depan yang akan mereka jalani. Terlepas dari faktor apapun mereka menjadi anak jalanan. Sebagai sebuah karya ilmiah. Penelitian ini memiliki tiga tujuan pokok. Pertama, mengetahui faktor-faktor penyebab seorang menjadi anak jalanan. Kedua, mengetahui kegiatan dan pengalaman hidup anak jalanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ketiga, mengetahui problematika anak jalanan serta menyusun instrumen solusi dalam penyelesaiannya.

Metode Penelitian

Irwanto, (ed) Pekerja Anak di Tiga Kota Besar; Jakarta-Surabaya-Medan (PKPM Atmajaya dan Unicef). 8 Salahuddin, Anak Jalanan Perempuan. h. 11. 9 Ibid. h. 8.

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana data atau informasi yang diperoleh kemudian dideskripsikan secara mendalam sehingga muncul makna yang hakiki. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan permasalahan yang berkaitan dengan fenomena anak jalanan di kota Medan. Menemukan problematika didalamnya, serta menyusun instrumen solusi dalam penyelesaiannya, dengan mempertimbangkan faktor penyebab dari kemunculan anak jalanan antara tuntutan atau kebebasan hidup. Penelitian ini diyakini akan mampu mengumpulkan data dan menyesuaikan dengan konteks melalui studi tematik tentang fenomena anak jalanan di kota Medan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Peneliti mengamati secara berulang dan mencatat data secara teliti dan sistematis, serta menganalisis data tersebut secara induktif. Karena itu, dalam penelitian ini, setiap prilaku anak jalanan dideskripsikan sehingga ditemukan makna dari suatu temuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berusaha memahami makna perilaku manusia secara murni dalam situasi tertentu. Karena itu, penelitian kualitatif memiliki tiga pola dasar yaitu : 1) berbentuk siklus yaitu prosesnya dapat dilakukan berulangulang, 2) membuat catatan mengenai data, dan 3) menganalisis data yang dikumpulkan. Karena itu, dalam penelitian kualitatif, peneliti harus berpartisipasi dengan subyek penelitian. Sehubungan dengan keterlibatan peneliti sebagai partisipan, teknik yang digunakan untuk menghayati sistem makna (meaning system) antara lain adalah dengan melalui pengamatan berperan serta (observation partisipant), yaitu suatu pengamatan yang peneliti terlibat dalam penelitian itu. Pemahaman terhadap makna perilaku anak jalanan tentang problematika dan faktorfaktor fenomena anak jalanan diposisikan sebagai objek dan subjek yang memerlukan keterlibatan langsung seorang peneliti. Demikian juga implikasi yang ditimbulkan dari anak jalanan, baik secara historis, sosiologis, psikologis dan kultural, memungkinkan penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Adapun subjek penelitian ini adalah 8 orang anak jalanan di kota Medan, dengan usia antara 7 sampai 17 tahun, dan sudah terjun kejalanan minimal 2 tahun

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

dari latar belakang yang berbeda. Adapun rincian sebagai berikut : Pertama, 4 orang dari kelompok anak jalanan yang melakukan aktifitas di jalanan (children on the street), tetapi mereka masih mempunyai hubungan dengan keluarganya. Keempat subjek ini masing-masing diberi kode CONS-1, CONS-2, CONS-3, dan CONS-4. Kedua, adalah 4 orang dari kelompok anak-anak yan seluruh waktunya berada dijalanan (children of the street), dan tidak memiliki hubungan dengan keluarganya. Keempat subjek ini masing-masing diberi kode COFS-1, COFS-2, COFS-3, dan COFS-4. Dalam proses pengumpulan data, penelitian ini menggunakan tiga teknik. Pertama, melakukan wawancara mendalam dengan anak jalanan dengan usia 7-17 tahun. Kedua, melakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait seperti Depatemen Sosial Kota Medan. Ketiga, pengkajian dokumen, yaitu mendapatkan data mengenai jumlah anak jalanan di Kota Medan. Untuk memperkuat kesahihan data, penelitian ini menggunakan teknik yang meliputi: keterpecayaan (credibility), bisa ditransfer (transferability), bisa dipegang kebenarannya (dependability) dan bisa dikonfirmasikan (confirmability). Agar temuan dan interpretasi penelitian ini dapat dipercaya, maka dilakukan sejumlah cara yaitu 1) keikutsertaan peneliti dalam aktifitas anak jalanan dilaksanakan dengan tidak tergesa-gesa, 2) ketekunan pengamatan terhadap aktifitas anak jalanan, 3) melakukan triagulasi, yaitu informasi yang diperoleh dari beberapa sumber diperiksa silang antara data wawancara dengan pengamatan, dan sumber informasi yang diperoleh dari seorang informan akan dibandingkan dengan informasi dari informan lain, 4) mendiskusikan dengan para ahli dan rekan sejawat yang tidak berperan serta dalam penelitian, 5) analisis kasus negatif, yaitu menganalisis dan mencari kasus yang menyanggah temuan penelitian, sehingga tidak ada lagi bukti lain yang menolak temuan hasil penelitian, 6) pengujian ketepatan referensi terhadap data temuan dan interpretasi. Kemudian, peneliti akan semaksimal mungkin mendeskripsikan latar penelitian secara detail agar dapat menjadi acuan bagi karakteristik latar penelitian lain yang sejenis untuk membantu menjamin tingkat tranferability. Agar data penelitian ini dapat diandalkan (dependability), maka diusahakan semaksimal

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

mungkin untuk konsisten dalam keseluruhan proses penelitian. Setiap aktifitas akan dicatat dalam bentuk memo untuk membantu proses analisis data. Kamera akan digunakan sebagai alat bantu dalam pengumpulan data, sedangkan alat perekam akan digunakan sebagai alat bantu keterandalan dan untuk menghindari bias interpretasi. Selain itu, aktifitas cross-checking dan trigulasi akan digunakan dalam proses analisis data untuk membantu usaha menjamin tingkat confirmability. Analisis data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara mendeskripsikan data sesuai dengan tujuan dan kedalaman yang menjadi fokus penelitian ini. Untuk selanjutnya, deskripsi data tersebut akan diinterpretasikan secara lebih mendalam lagi.

Hasil dan Pembahasan


Subjek penelitian ini adalah 8 orang anak jalanan di kota Medan, yang terdiri atas 4 orang dari kelompok Children on the Street, yaitu anak-anak jalanan yang memiliki keluarga di Medan, dan 4 orang dari kelompok Children of the Street, yaitu anak-anak jalanan yang tidak memiliki keluarga di Medan. Anak-anak jalanan dari kelompok pertama diberi kode CONS, dan anak-anak jalanan dari kelompok kedua diberi kode COFS. Faktor-faktor Penyebab Menjadi Anak Jalanan CONS-1 adalah anak berusia 12 tahun. Ia masih memiliki kedua orang tua, dan anak keempat dari enam bersaudara. Saudara tertuanya adalah perempuan dan telah menikah, saudara keduanya juga perempuan namun tidak diketahui keberadaannya. Saudara ketiganya adalah lelaki dan tidak memiliki pekerjaan tetap, sedangkan saudara kelimanya masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD), dan saudara terakhir masih berusia 3 tahun. Menurut informasi darinya, ayahnya tidak memiliki pekerjaan, dan suka mabuk-mabukan. Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai tukang cuci tetangganya. Karena penghasilan ayahnya tidak ada, dan gaji ibunya tidak mencukupi kebutuhan keluarga, maka ia dipaksa ayahnya berjualan. Jika

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

10

ia menolak dan pendapatannya kurang, maka ayahnya sering marah-marah dan terkadang memukulinya. Karena itulah, akhirnya CONS-1 menjadi anak jalanan. CONS-2 adalah anak usia 15 tahun, dan seorang yatim. Ibunya adalah seorang guru honor di sebuah SD swasta. Ia adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Adikadiknya masih sekolah dibangku SD. Ayahnya meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas ketika membawa truk pengangkutan ke Jakarta sekitar 2 tahun yang lalu. Sejak itulah ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan gaji cukup kecil. Sebagai anak pertama, ia harus membantu ibunya, dan karena tidak memiliki kemampuan tertentu, ia memilih untuk menjadi anak jalanan. CONS-3 adalah seorang anak berusia 9 tahun, anak pertama dari 3 bersaudara. Adik keduanya berusia 6 tahun dan adik bungsunya berusia 4 tahun. Ia sudah 2 tahun menjadi anak jalanan. Ibunya meninggal 3 tahun yang lalu, dan ayahnya telah menikah lagi. Ibu tirinya suka memarahi bahkan memukulinya. Kondisi keluarga seperti itu membuatnya tidak tahan di rumah, dan karena itulah ia mulai menjadi anak jalanan. CONS-4 adalah seorang anak perempuan berusia 16 tahun. Anak bungsu dari 4 bersaudaranya. Kehidupan keluarganya secara finasial cukup memadai. Tetapi kebebasannya sangat tertekan dengan segala peraturan yang ada dirumah. Pergaulannya dengan anak funk didaerahnya menjadikannya lebih sering hidup di jalanan. Menurut pengakuannya, ia lebih nyaman ketika beraktifitas di jalanan. Saat ini anak tersebut duduk dikelas XI SMA. Demi menyalurkan bakat bermain gitarnya dan kondisi kelurga yang tidak mendukung hobinya. Akhirnya ia memilih untuk menjadi anak jalanan. COFS-1 adalah anak berusia 8 tahun. Seoarang anak tunggal, tetapi tidak pernah mengenal ayahnya. Dari pengakuannya, ia tertinggal di sebuah bus ketika masih balita. Ia tidak mengetahui secara pasti alasannya, apakah sengaja atau tidak ditinggal ibunya. Menurutnya, ia sudah ada dipersimpangan lampu merah di Aksara Medan, karena supir bus menurunkannya. Kini, ia tidak mengetahui posisi ibunya dan dari mana asalnya. Namun, ia masih sangat ingat wajah ibunya, dan meyakini tetap bisa mengenalinya ketika bertemu lagi.

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

11

COFS-2 adalah seorang anak dari Nias berusia 13 tahun. Sekitar 5 tahun yang lalu, rumahnya terbakar dan peristiwa kebakaran tersebut membuat fisiknya cacat terbakar. Ia menjadi anak jalanan karena terpisah atau mungkin sengaja ditinggal orang tuanya. Dari pengakuannya, ia merasa sengaja dibuang oleh orang tuanya ketika orang tuanya hendak pindah ke tempat lain. Kini, ia tidak mengetahui keberadaan keluarganya. Akhirnya, terpaksa ia menjadi anak jalanan, tanpa orang tua dan keluarga. COFS-3 adalah seorang anak berusia 16 tahun. Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya adalah seorang buruh di perkebunan kelapa sawit. Ia sudah menjadi anaka jalanan selama 7 tahun. Awalnya, ia tinggal bersama orang tuanya di Riau. Ekonomi keluarganya serba kekurangan. Ketika berhenti sekolah dan menjadi pengangguran, ia berteman dengan anak jalanan didaerahnya, sehingga ia terbiasa hidup dijalanan. Pada suatu sore, ketika ia pulang dari jalanan, tanpa sengaja ia melihat sepatu tetangganya di teras rumah, dan tanpa berpikir panjang, ia mengambil sepatu itu dan menjualnya. Beberapa hari kemudian, tetangga tersebut mengetahui bahwa sepatu dicuri olehnya. Sebab itu, orang tuanya marah dan memukulinya karena dianggap telah membuat malu keluarga. Karena peristiwa itu, ia pergi dari rumah tanpa tujuan dan akhirnya pergi ke Medan dan hingga kini menjadi seorang anak jalanan. COFS-4 adalah seorang anak berusia 17 tahun. Seorang anak tunggal dari keluarga kaya di Nangro Aceh Darusalam. Keinginannya untuk melanjutkan SMA pada jurusan seni di kota Medan ditentang oleh keluarganya yang menginginkan anaknya tetap mengenyam pendidikan agama di Aceh. Tanpa sepengetahuan keluarga ia pergi ke Medan. Awalnya ia ingin melanjutkan sekolah. Tetapi karena ia tidak membawa berkas apapun dan tidak memiliki keluarga sama sekali di Medan, akhirnya ia menjadi seoarang gelandangan. Melihat para pengamen diperempatan jalan aksara, ia merasa tertarik untuk ikut serta, karena memang ia sudah tidak tahu lagi harus ngapain di Medan. Akhirnya ia bergabung dengan anak jalana tersebut, dan menjadi bagian dari mereka. Menurut pengakuannya, setahun yang lalu, pihak keluarga sempat datang ke Medan dan mengajaknya pulang kerumah, tetapi dengan

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

12

alasan ia lebih nyaman tinggal di jalanan, ia menolak ajakan keluarga untuk kembali kerumah. Akhirnya dengan berat hati keluarganya membiarkannya mengikuti apa yang di ingininya. Walau demikian, COFS-4 tetap menjalin hubungan dengan keluarga dan pada lebaran idul fitri 1432 H kemarin, ia menyempatkan untuk kembali kerumah sekedar menjenguk kelurganya. Berdasarkan informasi dari anak-anak jalanan tersebut, bisa disimpulkan bahwa mayoritas anak menjadi anak jalanan disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga lemah. Akibatnya, sebagian kecil disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak harmonis. Karena tidak betah dirumah, akhirnya mereka memilih hidup di jalanan dan faktor lain seorang anak menjadi anak jalanan adah sekedar iseng dan dalam rangka penyaluran bakat, tetapi dibalik itu, ada faktor kelurga yang menjadikan anak tersebut turun ke jalanan. Kenyataan ini menguatkan pendapat para peneliti lain bahwa anak-anak menjadi anak jalanan dikarenakan faktor ekonomi dan keluarga.

Aktivitas dan Pengamalan Anak Jalanan


CONS-1 menjadi anak jalanan dengan berjualan rokok dan minuman gelas dalam bentuk gendongan. Ia berjualan setelah pulang sekolah, dan pulang ke rumah setelah pukul 20.00 WIB. Penghasilannya setiap berjualan sekitar 25 sampai 40 ribu rupiah. Menurut pengakuannya, sebenarnya penghasilan tersebut masih kurang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena uang tersebut sering digunakan oleh ayahnya untuk mabuk-mabukan. CONS-2 menjadi anak jalanan karena gaji ibunya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menjadi penjual asongan seperti rokok, minuman gelas, permen dan tisu. Menurutnya, berjualan adalah perbuatan terpuji dari mengamen atau mengemis, meskipun ia pernah meminjam gitar milik temannya sesama anak jalanan untuk mengamen. Hal itu dilakukannya karena ia memiliki bakat memainkan musik dan menyanyi, sehingga terkadang ia ingin menyalurkan bakat tersebut. Pada awal menjadi anak jalanan, ia lebih suka menjadi pengamen, namun ibunya melarang. Pendapatan sehari-harinya antara 30 sampai 40 ribu rupiah. Sebanyak 20 ribu rupiah dari pendapatannya diberikan kepada ibunya, 10 ribu rupiah

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

13

digunakan sebagai pengeluarannya selama di jalanan, dan 10 ribu rupiah ditabung. Ia punya cita-cita, jika tabungannya sudah banyak, mak ia akan menggunakannya sebagai modal untuk memiliki kios sendiri lengkap dengan barang-barang jualan, menjadi pedagang sukses, sehingga dapat membantu semua adiknya untuk melanjutkan sekolah. CONS-3 menjadi anak jalanan karena kondisi keluarga tidak harmonis. Ia menjadi seorang pengemis, karena tidak memiliki kemampuan apapun untuk mendapatkan uang sebagai biaya hidup di jalanan. Ia sangat jarang pilang ke rumah, dan selalu tidur di pelantaran toko. Pada awal menjadi anak jalanan, ia selalu dimintai uang oleh seniornya di jalanan dengan alasan uang keamanan atau uang sewa tempat tidur di pelantaran toko tersebut. Karena sudah dianggap anak lama di jalanan, kini ia tidak pernah dimintai uang lagi oleh seniornya, namun malah ikut memintai uang kepada juniornya. CONS-4 menjadi anak jalanan sebagai pengamen. Ia melakukan aktivitasnya setelah pulang dari sekolah, antara pukul 14.00 WIB sampai 21.00 WIB di persimpangan jalan titing kuning Medan. Pada awal menjalani hidup sebagai anak jalanan, ia tetap pulang kerumah setiap harinya. Tetapi belakangan karena sering dimarahin oleh orang tuanya, tak jarang ia ikut menginap bersama teman-teman sesama anak jalanan lainnya di jalanan. Dari pengakuannya, ia tidak pernah menghitung berapa uang yang didapatnya setiap hari, dan tidak ada targetan apa-apa dalam mengamen. Ia mengamen hanya untuk kesenangan pribadi, sekedar menyalurkan bakat musiknya dalam bermain gitar dan bernyayi. Sehingga setiap mendapat uang selalu dihabiskannya begitu saja di jalanan, atau membeli sesuatu yang di ingininkannya saat itu. COFS-1 adalah seorang anak tanpa orang tua di kota Medan. Ia menjadi seorang pengamen. Ia mengamen bersama seorang anak seusianya, dan mereka berada dibawah koordinasi seniornya di jalanan. Sebagian pendapatan mereka diberikan kepada seorang senior, dan mereka hanya diberikan sebesar 5 samapi 10 ribu rupiah sehari. Jika pendapatannya kurang, maka ia harus berkongsi bersama temannya untuk membeli satu nasi bungkus dan dimakan bersama-sama. Pada malam

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

14

hari, ia tidur di pelataran toko di sekitar Aksara (Medan). Menurut pengakuannya, ia sering mendapat perlakuan kasar dari para seniornya seperti dipukul, dibentak bahkan disodomi. COFS-2 menjadi anak jalanan karena ditinggal oleh kedua orang tuanya, di jalanan ia berperan sebagai seorang pengamen, walaupun ia memiliki tubuh yang cacat akibat terbakar. Ia malu menjadi pengemis, sebab menurutnya, mengamen lebih baik dari mengemis, meski ia tidak memiliki suara yang bagus. Pendapatannya sehari adalah 10-15 ribu rupiah. Pendapatan ini hanya cukup untuk makan sehari saja, karena itu, keesokan hari ia harus mengamen lagi untuk mencari rezeki hanya untuk makan. COFS-3 menjadi anak jalanan karena pergi dari rumah setelah dimarahi dan dipukul orang tuanya karena telah mencuri barang miliki tetangganya. Ia berperan menjadi pengamen bersama sejumalah temannya dan bertugas sebagai pemain gitar. Penghasilannya sehari-hari mencapai 25 sampai 40 ribu rupiah, dan penghasilan ini dibagi dua dengan temannya. COFS-4 adalah seorang anak dari Aceh yang menjadi anak jalanan karena keinginannya untuk menekuni bidang seni musik ditentang oleh kedua orang tuanya. Di jalanan di berperan sebagai seorang pengamen. Aktivitas mengamen di jalaninya dari pukul 10.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan pendapatan rata-rata 50 sampai 70 ribu rupiah setiap harinya. Sebagian uang itu dipakai untuk keperluan sehari-harinya, untuk membeli perlengkapan mengamen, sewa kos di Medan dan sisanya ditabung. COFS-4 termasuk anak jalanan yang aktif mengikuti kegiatan dari yayasan dan LSM peduli anak jalanan. Ia juga menjadi angggota dalam sebuah lembaga pecinta alam di kota Medan. Dengan demikian, pada umumnya, anak-anak jalanan tersebut lebih banyak memilih pekerjaan sebagai pengamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menyalurkan bakat yang dimilikinya. Mereka menyanyikan lagu dengan lirik seadanya sampai yang hampir mirip dengan penyanyi profesional. Alat musik yang digunakan juga masih tergolong sederhana, dari mulai kerincingan yang dibuat dari

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

15

kayu dan beberapa tutup botol minuman, mini drum, gitar kecil dan besar sampai pada alat musik harmonika. Dari aktifitas yang mereka jalani di jalanan, ada beberapa temuan menarik tentang bagaimana fenonema yang terjadi sebenarnya di jalanan. Ada beberapa latar belakang alasan yang dari hadirnya anak jalanan di kota Medan. Dan dalam penelitian ini, peneliti mengelompokkan anak jalanan kota Medan kepada dua kelompok, yaitu anak jalanan yang hadir dari sebuah tuntutan hidup dan anak jalanan yang hadir dari keinginan untuk mendapatkan kebebasan hidup. Anak Jalanan Hadir dari Sebuah tuntutan hidup Setiap orang pastinya mnginginkan kehidupan yang layak dan berkecukupan. Apalagi seorang anak, mestinya mereka hidup dengan selayaknya, bermain, bersuka ria, dan belajar tanpa harus memikirkan hal lain dari itu. Tetapi tidak semua anak mendapatkan semua itu. Faktor ekonomi keluarga yang kurang mampu dan berbagai alasan lain, terkadang mengharuskan anak untuk bekerja dan memiliki penghasilan agar dapat melanjutkan hidupnya. Fenomena anak jalanan di kota Medan yang kita lihat merupakan dampak dari tuntutan hidup mereka yang pada akhirnya menjadikan mereka anak jalanan. Menurut CONS-1, alasan utama yang menjadikannya anak jalanan adalah karena ingin mencari uang untuk membantu keluarganya, karena ayahnya yang tidak memiliki pekerjaan dan gaji ibunya yang tidak mencukupi buat pemenuhan seharihari. Kemudian CONS-2, yang memilih menjadi anak jalanan karena ingin membantu ibunya dalam mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Data ini dapat diambil dari pengakuan beberapa anak jalanan yang mengatakan mereka turun ke jalan karena untuk mencari uang agar tetap bisa makan. Pernyataan senada juga dikatakan oleh CONS-3, COFS-1, COFS-2, dan COFS-3. Berbagai alasan yang mereka sebutkan, yang pada umumya alasan-alasan tersebut mengarah pada sebuah tuntutan hidup yang dialami mereka sehingga mereka memilih untuk menjadi anak jalanan. CONS-3 karena ibunya yang meninggal dunia dan ayahnya telah menikah lagi dengan ibu tiri yang sering memarahinya sehingga ia tidak tahan dirumah dan

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

16

akhirnya keluar dari rumah. Dan untuk memenuhi kebutuhannya selama berda di luar rumah, ia menjadi anak jalanan sebagai mengemis untuk dapat uang agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. COFS-1 yang ditinggal orang tuanya dalam bus harus mengamen di jalanan agar tetap dapat hidup di Medan. Menurutnya, tidak ada pilihan lain selain menjadi anak jalanan, karena di Medan ia sama sekali tidak memiliki keluarga. Ia mengatakan; Bagaimana bisa tetap hidup kalau kita tidak punya duet (uang) buat beli nasi dan kebutuhan lain, ya mau tidak mau harus kerja, dan kerjaan yang dapat aku lakukan ya mengamen, dengan mengamen aku dapat duet dan aku bisa makan. COFS-2 yang rumahnya terbakar kemudia di tinggal orang tuanya juga memilih menjadi anak jalanan karena tidak ada lagi pilihan lain. Ia mengatakan : siapa yang mau ngasih kita makan disini, sedang keluarga gak ada, dan gak ada yang peduli. Dengan mengamen aku dapat uang dan bisa makan, sisanya bisa ditabung buat kebutuhan lain. COFS-3 nekat meninggalkan rumah dan pergi ke Medan setelah dimarahi orang tuanya karena telah membuat malu kelurga akibat ia mencuri sepatu tetangganya. Selama di Medan ia harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan cara untuk mendapatkan uang menurutnya adalah menjadi seorang pengamen. Mengamen menhasilkan uang dengan mudah tanpa harus mengeluarkan modal, karena ia memang tidak memiliki modal untuk membuka sebuah usaha dan tidak memiliki keahlian untuk dapat bekerja selayaknya. Pengakuan dari beberapa anak jalanan diatas, dapat disimpulkan bahwa alasan mereka menjadi anak jalanan adalah karena tuntutan hidup, baik itu yang berhubungan dengan kelurga maupun dirinya sendiri. Mereka sangat mengaharapkan apa yang dilakukannya selama di jalanan akan dapat menutupi kebutuhan sehari-hari hidupnya. Terutama kebutuhan primer yaitu makan.

Anak Jalanan Hadir dari keinginan untuk kebebasan hidup

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

17

Diluar dari alasan-alasan diatas, sebuah temuan menarik yang di dapat oleh peneliti, bahwa keberadaan anak jalanan di kota Medan juga disebabkan oleh keinginannya untuk mendapatkan kebebasan dan menyalurkan bakat yang di milikinya, bukan karena tuntutan hidup. Data ini diperoleh dari pernyataan yang dikemukakan oleh CONS-4 dan COFS-4. CONS-4 menjadi anak jalanan karena kurangnya kebebasan yang didapat didalam kelurga, hobi dan bakatnya tidak dapat di salurkannya, dan ia lebih memilih untuk menjadi anak jalanan, sehingga ia lebih memiliki kebebasan dan dapat mengekspresikan dirinya. Begitu juga dengan COFS-4 yang turun ke jalan setelah pergi dari rumahnya karena keinginnya tidak di penuhi oleh keluarga. Menjadi anak jalanan telah memberikan kebebasan dalam hidupnya dan ia dapat menyalurkan hobi dan bakatnya tanpa ada tentangan dari orang lain. Fenomena ini menjadi hal yang cukup menarik, melihat bagaimana seorang anak berperan menjadi anak jalanan dalam usia yang seharusnya masih harus mengenyam pendidikan tanpa ada suatu hal yang dapat merusak konsentrasinya dalam belajar. Tetapi faktor ini menjadi suatu hal yang harus dikaji lebih dalam karena mungkin bukan hanya karena hobi atau untuk kebebasan hidup saja mereka menjadi anak jalanan. Dari temuan yang di dapat lapangan menyimpulkan mereka ini menjadi betah di jalanan dengan orientasi yang jauh berbeda dari alasan awal mereka turun di jalan. Faktor hobi dan kebebasan hidup pada akhirnya merusak pemikiran mereka tentang perspektif masa depan yang lebih layak dari sekedar harus menjadi pengamen di jalanan. Pemikiran mereka menjadi sempit, karena yang mereka jalani saat ini, sudah sangat nyaman bagi mereka, dan sudah menjadi kebiasaan rutin mereka. Yang pada akhirnya tidak memberiakan ruang lagi untuk berpikir tentang masa depan mereka nantinya.

Problematika Anak Jalanan Kota Medan

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

18

Ada banyak problem yang selalu di alami oleh anak jalanan. Baik itu problem internal dikalangan sesama anak jalanan dan kehidupan sehari-hari, maupun problem extrenal tentang status sosial mereka dalam masyarakat. Ada yang peduli dan menaruh simpati kepada mereka, tapi banyak juga yang merasa terusik dan tidak senang akan keberadaan mereka. Dalam hal ini peneliti mencoba membahas problem tersebut secara menyeluruh, baik itu problem internal mereka , dan juga problem external dikalangan masyarakat dalam menyikapi fenomena anak jalanan di kota Medan. Sesuai dengan tema pembahasan yang penelitian paparkan diatas, peneliti akan merincikan problem dari anak jalanan yang hadir dari sebuah tuntutan hidup dan problem anak jalanan yang hadir dari keinginan mereka untuk kebebasan hidupnya. Pastinya sangat berbeda problema yang dialami dan intrumen solusinya akan berbeda pula. Problem yang dialami pada anak jalanan pada umumya sama yaitu masalah mental dalam menyandang status sebagai anak jalanan, status sosial yang dianggap rendah oleh masyarakat secara umum, sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat agar dapat menyatu dalam kehidupan normal di masyarakat. Dan pada akhirnya menjadi problem external di kalangan masyarakat yang menilai buruk akan apa yang di perbuat mereka. Kemudian problem mereka sesama anak jalanan yang memiliki keinginan bersaing dalam menjalani kehidupan sebagai anak jalanan, sehingga ada yang namanya senior dan junior yang akan mempengaruhi status mereka dikalangan sesama anak jalanan. Selain persamaan tersebut, problem anak jalanan yang hadir karena tuntutan hidup dan anak jalanan yang hadir dari keinginan mendapatkan kebebasan hidup, memiliki perbedaan. Problem utama yang dialami oleh anak jalanan yang hadir akibat sebuah tuntan hidup adalah mereka hanya akan berpikir bagaimana mereka bisa mengahasilkan uang. Berbagai peran seperti menjadi pedagang asongan, pengamen sampai menjadi pengemis telah merubah perspektif mereka dalam memandang hidup. Walau sebagian masih berpikir kepada orientasi masa depan yang lebih layak, tetapi mereka terjepit dengan keadaan di jalanan yang harus membuat mereka terus bekerja

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

19

mencari uang. Mereka tidak memiliki opsi lain yang lebih baik, karena mereka menganggap mereka telah mampu memenuhi hidupnya selama berperan menjadi anak jalanan. Sedangkan problem utama yang dialami oleh anak jalanan yang hadir dari keinginan untuk mendapatkan kebebasan hidup lebih kepada orientasi mereka pada masa depan, mereka telah terjebak pada sebuah pilihan hidup di jalanan. Selama berada di jalanan, mereka telah mendapatkan semua keinginan mereka, kebebasan, tersalurnya bakat yang mereka miliki, dan telah memiliki penghasilan sendiri. Pada akhirnya pemikiran mereka akan berhenti hanya sampai pada titik tersebut, kalau tidak ada pembinaan dan pemberian pandangan secara persuasif kepada mereka, bisa jadi, meraka berkeinginan untuk tetap menjadi anak jalanan sampai waktu yang tidak ditentukan, hal ini tentunya akan menyempitkan pandangan mereka bahwa ada kehidupan lain yang lebih layak selain menjadi anak jalanan, ada opsi lain dalam mencari kebebasan dan menyalurkan bakat selain menjadi anak jalanan. Dua katagori anak jalanan yang disebutkan diatas juga akan menjadi problem di masyarakat, sebagian masyarakat akan merasa resah, merasa terganggu dengan kehadiran anak jalanan, karena melihat fakta dilapangan, kebanyakan anak jalanan telah merasa betah dengan aktifitas yang mereka lakoni, apapun alasannya. Baik itu karena faktor tuntutan hidup, maupun faktor ingin mencari kebebasan hidup. Dan jarang mereka mereka melakukan tindakan diluar dari norma yang seharusnya sehingga masyarakat meresa resah dan terganggu. Belum lagi perspektif mereka yang telah terkurung dalam paradigma hidup di jalanan adalah sebuah pilihan yang telah mereka pilih dan itu yang terbaik karena tidak ada pilihan lain yang mereka punya. Untuk itu, seharusnya peran kita semua adalah bagaimana memberikan mereka sugesti bahwa di luar kehidupan sebagai anak jalanan, mereka masih mempunyai kehidupan lain, mereka masih mempunyai pilihan lain, tentunya juga harus dibarengi dengan opsi-opsi dari kita semua untuk dapat merubah paradigma sempit mereka dalam memandang kehidupan, juga dengan fasilitas yang mendukung sehingga mereka akan tertarik untuk mengikuti atau setidaknya mempertimbangkan untuk berpikir bahwa sebenarnya mereka punya banyak pilihan dan pilihan itu akan lebih baik selain mereka harus menjadi anak jalanan.

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

20

Karena kehidupan sebagai anak jalanan tidak akan bisa menjamin kehidupan yang lebih layak dimasa depan buat mereka. Hal ini berlaku kalau mereka tidak memiliki lagi opsi lain selain peran sebagai anak jalanan yang telah mereka pilih sebagai alternatif terakhir untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Juga tidak adanya dukungan dari pihak lain agar mereka dapat membuat pilihan lain.

Instrumen Solusi penyelesaian Problematika Anak Jalanan Kota Medan


Permasalahan anak jalanan, merupakan permasalahan yang kompleks, dan perlu beragam alternatif solusi untuk dapat menyelesaikan permasalahannya. Menurut Kakanda Sakti Ritonga10 saat diajak berdiskusi tentang permasalahan anak jalanan pada hari jumat, tanggal 18 Nopember 2011 di ruangan Jurnal Miqot IAIN SU pukul 16.00 s/d selesai. Ada beberapa langkah dalam penyelesaian permasalahan anak jalanan, meliputi : Pendekatan Penyuluhan Pendidikan Pembinaan Pemberdayaan Langkah-langkah tersebut lebih lanjut beliau paparkan bahwa dalam menyelesaikan permasalahan anak jalanan, khususnya anak jalanan di kota Medan, kita harus melakukan pendekatan secara persuasif, pendekatan secara humanisme. Pendekatan perlu dilakukan agar mereka mau berbicara tentang keadaan sebenarnya yang mereka alami di jalanan, faktor penyebab dan problematika yang mereka hadapi. Dengan pendekatan secara persuasif dan humanisme mereka akan berbicara secara gamblang, sehingga data yang kita peroleh benar-benar sesuai dengan realita yang ada. Setelah kita mampu melakukan pendekatan kepada mereka, perlahan kita dapat melakukan penyuluhan dalam merubah pandangan mereka tentang kehidupan yang mereka lakoni dijalanan. Penyuluhan itu penting agar mereka mendapatkan
Beliau adalah dosen antropologi di Fakultas Ushuluddin IAIN SU yang juga menjabat sebagai Kepala laboraturium Prodi Filsafat Politik Islam Fak. Ushuluddin IAIN SU, serta pengurus dari Jurnal Miqot IAIN SU.
10

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

21

pandangan bahwa tidak selamanya mereka akan menjadi anak jalanan. Setelah dua tahapan itu telah kita laksanakan, selanjutnya kita harus mengisi pikiran mereka dengan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan karakter, yaitu penanaman karakter sehingga mereka memahami hakikat dari apa sebenarnya makna dari kehidupan mereka dan siapa sebenarnya mereka. Sehingga nantinya mereka memiliki karakter yang positip untuk selanjutnya dapat di lakukan proses pembinaan kepada mereka untuk dapat hidup lebih baik setelah pemahaman mereka dapatkan melalui pendidikan yang mereka peroleh. Proses pembinaan terhadap anak jalanan, nantinya akan mengacu pada tahapan pemberdayaan mereka, karena kita tahu, masing-masing anak jalanan mempunyai potensi yang lebih, mempunyai keterampilan khusus yang dapat diberdayakan untuk dapat meningkatnya status sosial mereka. Kalau semua langkah-langkah ini dilakukan dengan seksama, dan prosesnya dilakukan dengan baik, maka besar kemungkinan permasalahan anak jalanan akan dapat diselesaikan. Disini kita tidak berbicara bagaimana menghapuskan anak jalanan, tetapi lebih kepada bagaimana anak jalanan tersebut dapat memili opsi lain untuk memperoleh keinginannya tanpa harus memilih untuk tetap menjadi anak jalanan. Langkah-langkah tersebut merupakan proses umum dalam menyelesaikan permasalahan anak jalanan. Peneliti akan mencoba membuat sebuah intrumen solusi penyelesaian memalui data temuan terhadap fenomeni anak jalanan di kota Medan. Instrumen solusi akan disusun sesuai dengan kebutuhan anak jalanan di kota Medan dengan melihat beragam problematika yang mereka hadapi. Adalah salah besar kalau kita mempunyai asumsi bahwa untuk menyelesaikan anak jalanan harus dengan menghapuskan keberadaan anak jalanan tanpa opsi lain setelah mereka tidak lagi berperan sebagai anak jalanan. Analoginya, itu sama halnya dengan kita ingin menghapuskan kemiskinan. Kalau ingin seperti itu, kita harus memusnakan semua orang-orang miskin yang ada, agar yang tersisa hanyalah orangorang kaya. Begitu juga dengan penghapusan anak jalanan, kita musnakan saja mereka, dengan begitukan tidak ada lagi anak jalanan, karena percuma menghapuskan anak jalanan tanpa solusi, itu sama saja dengan membunuh mereka.

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

22

Yang salah bukan mereka, tetapi bagaimana kita semua, pemerintah dan masyarakat yang menjadi mereka tetap ada.Seharusnya ada solusi lain, sehingga kita bukan ingin menghapuskan mereka, tetapi bagaimana mereka dapat melihat kehidupan lain selain menjadi anak jalanan yang akhirnya mengikis keberadaan anak jalanan secara alami. Tidak bisa menghapuskan mereka tanpa memberikan mereka pilihan, dan mereka akan memiliki pilihan setelah adanya opsi lain yang mereka anggap lebih baik11 Dalam teori Problem Solving sebuah instrumen solusi akan dapat tersusun setelah seluruh permasalahan diketahui. Kemudian diklasifikasi untuk membuat rumusan-rumusan masalah dan kemudian dicari solusi penyelesaiannya. Dalam hal ini langkah-langkah yang harus dilakukan, meliputi :
-

Mengumpulkan semua problem yang terjadi dikalangan anak jalanan kota Medan, baik internal maupun external Mengelompokkan problem-problem yang ada Problem yang ada dibuat menjadi sub-sub problem Menyusun alternatif solusi dari problem yang ada Alternatif solusi diklasifikasikan untuk membuat alternatif umum dan khusus dalam penyelesaian problem Paparkan solusi Problem yang ada dikalangan anak anak jalanan di kota Medan sangat

dipengaruhi dari faktor yang melatarbelakangi mereka menjadi anak jalanan.Dari hasil penelitian dilapangan, adapun faktor yang melatarbelakangi mereka menjadi anak jalanan kota Medan meliputi : 1. Ekonomi keluarga yang tidak mencukupi 2. Tidak harmonisnya hubungan didalam keluarga 3. Tidak mempunyai pilihan lain selain menjadi anak jalanan 4. Hobi dan ingin mencari kebebasan hidup Dari berbagai faktor tersebut, faktor ekonomi menjadi yang paling dominan, kemudian disusul oleh faktor ketidak harmonisan keluarga, faktor tidak adanya
Hasil diskusi dengan Ahmad Kurniawan Hrp (Departemen Partisipasi Pembangunan Daerah HmI Cabang Medan) pada hari Sabtu, 26 Nopember 2011 pukul 19.00 Wib di Sekretariat HmI Koms Ushuluddin IAIN SU.
11

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

23

pilihan, dan faktor hobi atau ingin mendapatkan kebebasan hidup. Beragam problem yang berbeda muncul dari latar belakang tersebut. Solusi yang lahir dari beragam permasalahan tersebut akan berbeda satu dengan lainnya melihat latar belakang dari keberadaan mereka. Karena apa yang dialami oleh anak jalanan seperti CONS-1 tentunya berbeda dengan CONS-2 dan seterusnya. Latar belakang inilah yang akan menjadi acuan dalam membuat instrumen solusi penyelesaiannya. Untuk itu peneliti akan merincikannya satu persatu kemudian membuat instrumen secara umum untuk dapat dilaksanakan. Anak jalanan seperti CONS-1 hadir akibat faktor ekonomi keluarganya yang tidak mencukupi, dalam menyelesaikan permasalahan anak jalanan seperti CONS-1 tidak bisa dilakukan hanya melalui CONS-1 saja, tetapi harus juga melibatkan pihak keluarga dalam mencari solusi dan alternatif lain sehingga CONS-1 tidak lagi menjadi anak jalanan. Dalam hal ini, upaya harus dilakukan meliputi : Pendekatam secara persuasif dan humanisme kepada CONS-1 dan keluarga agar dapat menggali permasalahan yang menjadikan CONS-1 sebagai anak jalanan. Mengadakan penyuluhan kepada keluarga CONS-1 tentang status CONS-1 sebagai anak jalanan bahwa hal itu tidak seharusnya dilakukan kepada CONS-1 sehingga nantinya keluarga dapat memberikan pemahaman kepada CONS-1 bahwa tidak seharusnya CONS-1 menjadi anak jalanan, tentunya dalam penyuluhan ini juga disertai opsi lain dan fasilitas yang mendukung sehingga keluarga dan CONS-1 dapat menerima saran atau tawaran yang kita ajukan. Karena kita mengetahuo, alasan CONS-1 menjadi anak jalanan karena ingin membantu ibunya mencari uang untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarga. Disini dituntut peran aktif pemerintah dan masyarakat sehingga anakanak seperti CONS-1 memiliki opsi lain selain menjadi anak jalanan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka. -

Memberikan pendidikan karakter kepada CONS-1 untuk lebih dapat berpikir positif dalam memandang kehidupan. Melakukan pembinaan terhadap CONS-1 dan keluarganya tidak berpikiran lagi untuk turun menjadi anak jalanan.

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

24

Memberdayakan potensi yang dimiliki CONS-1 dan keluarga agar apa yang dilakukan oleh CONS-1 bermanfaat bagi mereka sehingga mereka terhindar dari opsi menjadi anak jalanan. Pemberdayaan juga harus didertai dengan fasilitas untuk mendukung program penyelesaian masalah ini tetap berjalan. Problem yang dihadapi oleh anak jalanan seperti CONS-1 tidak jauh berbeda

denga problem anak jalanan seperti CONS-2, CONS-3. Tetapi perbedaannya terletak pada pembinaan terhadap keluarga CONS-2 dan CONS-3. Peran kita semua harus dapat memberikan rasa nyaman kepada CONS-2 dan CONS-3 didalam lingkumgan keluarganya, tentunya dengan mengadakan penyuluhan kepada kelurga CONS-2 dan CONS-3 bahwa tidak selayak mereka harus menjadi anak jalanan. Disini peran kita semua sangat diharapkan, sehingga pihak kelurga dan CONS-2 dan CONS-3 dapat mencari solusi lain sari menjadi anak jalanan dalam menyelesaiakan permasalahan mereka. Dalam kasus ini, metode pendekatan kepada keluarga juga dapat diterapkan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh CONS-4 dan COFS-4. Karena selain faktor hobi dan ini mencari kebebasan hidup, latar belakang CONS-4 dan COFS-4 juga tidak terlepas dari faktor keluarga. Selanjutnya CONS-3 dan Cons4 harus diberikan pemahaman bahwa ada opsi lain selain harus menjadi anak jalanan agar dapat mendapatkan kebebasan hidup dan menyalurkan bakat mereka. Komunikasi dengan pihak kelurga kemudian di dukung dengan fasilitas penunjang berkenaan dengan hal tersebut akan menjadi alternatif solusi dalam menyelesaikan permasalahan anak jalanan seperti CONS-4 dan COFS-4. Solusi berbeda terdapat dalam penyelesaian masalah yang dihadapi oleh COFS-1, COFS-2, dan COFS-3. Anak jalanan seperti kasusu COFS-3 bisa saja dilakukan dengan metode yangg dipakai pada masalah diatas, karena setidaknya COFS-3 masih memiliki keluarga walau tidak di Medan. Tetapi sebelum sampai pada tahap itu, perlu adanya upanya pendekatan yang dlakukan kepada COFS-3, kemudian penyuluhan, pendidkan, pembinaan dan pemberdayaan. Kemudia baru memulai proses untuk melakukan pendekatan kepada keluarga agar COFS-3 ingin kembali

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

25

menyatu dengan keluarga dengan bekal kemampuan dan keterampilan yang telah dimilikinya, sehingga ia tidak akan menjadi anak jalanan lagi. Sedangkan penyelesaian masalah untuk COFS-1 dan COFS-2 perlu kerja extra karena mereka sama sekali tidak memiliki keluarga di Medan, bahkan tidak mengetahui dimana keberadaan keluarga. Solusi yang diberikan kepada mereka adalah mencari alternatif pekerjaan lain yang lebih layak buat mereka selain menjadi anak jalanan, yang ini harus sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki, sehingga mereka juga mendapatkan penghasilan sendiri untuk mempertahankan hidup mereka. Alternatif ini juga harus disertai dengan fasilitas yang cukup, sehingga tepat sasaran dan mereka dapat menjalani kehidupan baru yang lebih layak dari selain menjadi anak jalanan. Dari berbagai alternatif yang dipaparkaan diatas, dapat dirumuskan secara umum instrumen solusi penyelesaian permasalahan anak jalanan di kota Medan, meliputi : Adanya pendekatan kepada anak jalanan untuk mengetahui problem yang mereka hadapi. Pendekatan tersebut dilakukan secara persuasif dan humanisme sehingga anak-anak jalanan merasa tidak terusik dengan kehadiran kita, karena anak jalanan tak jarang juga beranggapan negatif ketika kita melakukan pendekatan kepada mereka. Dari pendekatan ini, diharapkan kita mendapatkan data dari problem-problem yang mereka alami selama menjadi anak jalanan. Problemproblem tersebut selanjutnya dikumpulkan dan dianalisis secara mendalam untuk satu persatu dicari solusi penyelesaiannya.
-

Penyediaan fasilitas pendidikan altertenatif untuk menunjang pendidikan anak jalanan, sehingga mereka tetap dapat belajar dan lambat laun akan meninggalkan profesinya sebagai anak jalanan karena telah memiliki pandangan lebih luas dan memiliki bekal ilmu untuk selanjutnya diamalkan dalam kehidupan sehari.

Penyediaan fasilitas untuk mengoptimalkan keterampilan dan bakat yang dimiliki anak jalanan, seperti penyediaan rumah singgah, rumah musik, dan tempat-tempat pengembangan kreativitas sehingga mereka tidak lagi menjadi anak jalanan.

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

26

Pemberian modal usaha untuk keluarga kurang mampu agar dapat membuka usaha sendiri dan tidak lagi mengharuskan anaknya menjadi anak jalanan.

Penutup
Anak jalanan adalah aset pembangunan sebuah daerah, karena apabila anak jalanan diberikan pembinaan, kemudian diberdayakan, bukan tidak mungkin mereka akan memberikan kontribusi untuk kemajuan pembanguna sebuah daerah. Mereka memiliki potensi, memiliki keterampilan, hanya saja penempatan dan cara penyalurannya belum sesuai pada tempat yang semestinya. Disini peran kita semua dituntut, peran pemerintah, peran masyarakat dan peran kaum terpelajar harus bersama mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan problematika yang ada pada anak jalanan. Dari berbagai faktor yang telah menjadikan seorang anak menjadi anak jalanan, harusnya berbeda pula solusi dalam penyelesaiannya. Langkah-langkah strategis harus diambil untuk dapat menjadikan anak jalanan bukan sekedar sebuah status sosial yang rendah, tapi bagaimana mereka dapat memberika kontribusi yang baik buat kemajuan pembangunan di sebuah daerah bahkan cakupan nasional. Harapan kita semua, semoga pihak-pihak terkait dalam permasalahan ini, kembali membuka hati, melihat langsung realita keadaan dilapangan tentang anak jalanan agar dapat dengan segera menyelesaiakan permasalahan fenomena anak jalanan di kota Medan yang semakin komplek dari hari ke hari. Anak jalanan juga anak bangsa. Anak jalanan juga bagian dari kita semua. Mari kita sama-sama peduli. Karena kepedulian kita adalah harapan baru buat mereka.

Daftar Bacaan
-

Syahminan Zaini, Arti Anak bagi Seorang Muslim, (Surabaya : Al-Ikhlas, t.t.)

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya

27

Surya Mulandar (ed), Dehumanisasi Anak Marginal: Berbagai Pengalaman Pemberdayaan, (Bandung: Akatiga, 1996). Sri Sanituti Hariadi dan Bagong Suyanto (ed), Anak Jalanan di Jawa Timur; Masalah dan Upaya Penanganannya (Jawa Timur: BK3ES-Depsos Tk. 1 Jawa Timur, 1999)

Irwanto, (ed) Pekerja Anak di Tiga Kota Besar; Jakarta-Surabaya-Medan (PKPM Atmajaya dan Unicef).

Fenomena Anak Jalanan Kota Medan; Problematika dan Solusinya