Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

Acquired Immuno-deficiency Syndrome (AIDS) merupakan penyakit menular di mana


terjadi penurunan kerja sistim imun manusia yang diakibatkan oleh Human Immuno-
deficiency Jirus (HIV). AIDS merupakan salah satu masalah global di dunia sehingga
penanggulangannya merupakan salah satu tujuan dari Millenium Development Goals yang
dicanangkan oleh PBB.
Peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sangat mencemaskan. Pada akhir
tahun 2003 jumlah kasus AIDS berjumlah 1371 kasus, sementara jumlah kasus HIV positiI
2720 kasus. Pada akhir tahun 2003, 25 provinsi telah melaporkan adanya kasus AIDS. Pada
akhir September 2006 kasus AIDS sudah menjadi 6871 kasus dan dilaporkan oleh 32 dari 33
provinsi.
1
Laporan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan bulan Juni
2011 mencatat jumlah kasus AIDS baru sebanyak 2001 kasus dari 59 kabupaten/kota di 19
propinsi, sehingga secara kumulatiI jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 26438 kasus
yang terdapat di 33 propinsi dan 300 kabupaten/kota yang melapor.
2

Para ahli epidemiologi Indonesia dalam kajiannya tentang kecenderungan epidemi
HIV dan AIDS memproyeksikan bila tidak ada peningkatan upaya penanggulangan yang
bermakna, maka pada tahun 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang.
Penularan dari sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya akan terus
berlanjut. Diperkirakan pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan HIV secara kumulatiI
pada lebih dari 38,500 anak yang dilahirkan dari ibu yang sudah terinIeksi HIV.
1

Salah satu sub-populasi yang juga berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS
adalah Waria, yaitu pria yang mengidentiIikasi diri mereka sebagai wanita. Kerentanan
populasi ini disebabkan terutama oleh perilaku seksual berisiko seperti seks anal dan
kecenderungan untuk berganti-ganti pasangan. Dari STBP 2007 diketahui bahwa sebagian
besar Waria (~80 di 4 kota dan 72 di 1 kota) menjual seks kepada pelanggan pria. Di
samping itu, 40-50 Waria juga berhubungan seks dengan pria pasangan tetap yang disebut
sebagai 'suami. Para pria pelanggan dan 'suami ini mempunyai pasangan seks wanita
maupun membeli seks dari wanita.
3

Selain perilaku seksual beresiko, stigma dan diskriminasi juga memegang peranan
penting, di mana sering menyebabkan Waria mengalami krisis identitas yang berujung pada
kurangnya rasa percaya dan penghargaan terhadap diri sendiri sehingga menimbulkan
perilaku-perilaku yang merugikan dan merusak diri sendiri. Stigma juga menghambat akses
Waria terhadap inIormasi dan berbagai layanan yang berkaitan dengan HIV/ AIDS. Stigma

yang berujung pada diskriminasi ekstrim berupa penangkapan, penahanan dan kekerasan
terhadap Waria yang dilakukan oleh aparat keamanan maupun organisasi masyarakat
merupakan tantangan terberat dalam promosi kesehatan dan layanan HIV/AIDS terhadap
Waria.
3

Fakta-Iakta yang telah dijabarkan di atas menunjukkan pentingnya populasi Waria
dalam penularan HIV/AIDS sehingga pada bab selanjutnya akan dibahas tentang prevalensi
HIV/AIDS pada Waria di Indonesia.

PREVALENSI HIV/AIDS PADA WARIA



Menurut Surveilans Terpadu Biologis Perilaku Pada Kelompok Berisiko Tinggi
(STBP) di Indonesia tahun 2007, angka prevalensi HIV pada Waria sangat tinggi di tiga kota
yang menjadi lokasi pengumpulan data biologis yaitu Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Prevalensi HIV pada Waria di Jakarta adalah 34.0, di Surabaya 25.2, dan di Bandung
14.0 (gambar 1). Terjadi peningkatan prevalensi HIV pada Waria di Jakarta sejak tahun
1995 hingga 2007 (gambar 2)
4


Gambar 1.: Prevalensi HIV dan IMS lain pada Waria di tiga kota (STBP, 2007)

Gambar 2: Prevalensi HIV Waria di Jakarta 1995-2007 (STBP, 2007)

Menurut laporan Estimasi Populasi Dewasa Rawan TerinIeksi HIV tahun 2009,
diperkirakan Waria di Indonesia berjumlah 32.065 orang, dengan nilai median estimasi
prevalensi HIV sebesar 18,96 dan estimasi ODHA sebanyak 6.078 orang.
5


Gambar 3: Estimasi Jumlah Populasi Rawan TerinIeksi HIV dan jumlah ODHA di Indonesia
tahun 2009

PEMBAHASAN
Tingginya prevalensi HIV pada Waria di tiga kota besar menunjukkan sub epidemi
HIV yang meluas di kalangan Waria. Hal ini membahayakan penanggulangan penularan HIV
karena Waria merupakan salah satu populasi dengan perilaku seksual aktiI berisiko. Menurut
STBP 2007, lebih dari 80 dari Waria di empat dari lima kota yang diambil sampel (Jakarta,
Bandung, Surabaya, Malang, Semarang) menjual seks kepada pelanggan pria dalam satu
tahun terakhir (gambar 4), ditambah lagi dengan tidak konsistennya penggunaan kondom dan
pelicin saat berhubungan seksual (gambar 5). Hal ini menunjukkan adanya suatu populasi
lain yaitu pelanggan Waria yang sangat berisiko terkena HIV dan pula berisiko menularkan
kepada pasangannya yang lain. Faktor-Iaktor ini tentu mempersulit penanggulangan HIV di
Indonesia ditambah lagi dengan stigma sosial yang masih erat melekat pada Waria sehingga
pelayanan pencegahan maupun terapi HIV/AIDS sulit menjangkau keseluruhan Waria.
Penyebaran HIV di kalangan Waria harus mendapat perhatian khusus untuk menunjang
keberhasilan program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.


Gambar 4: Perilaku Seksual Waria di 5 Kota (STBP 2007)

Gambar 5: Pemakaian Kondom dan Pelicin secara Konsisten Pada Seks Anal Komersial pada
Waria di 5 Kota dalam persen (STBP 2007)




PENUTUP

Kesimpulan

1. Prevalensi HIV pada Waria di Jakarta adalah 34.0, di Surabaya 25.2, dan di
Bandung 14.0
2. Terjadi peningkatan prevalensi HIV pada waria di Jakarta sejak tahun 1995 hingga
2007
3. Nilai median estimasi prevalensi HIV pada Waria di Indonesia 18,96 dan estimasi
ODHA sebanyak 6.078 orang

Saran
1. Program pendidikan, pencegahan serta terapi HIV/AIDS pada Waria harus
digalakkan untuk menekan prevalensi
2. Waria yang sudah terinIeksi harus dididik tentang penyakitnya dan diberdayakan
guna mencegah Waria tersebut menularkan HIV pada pasangan maupun
pelanggannya
3. Promosi penggunaan kondom harus digalakkan terutama di lokalisasi maupun lokasi-
lokasi tempat transaksi Waria.

DAFTAR PUSTAKA

1. Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007-2010. Komisi
Penanggulangan AIDS. 2007.

2. Laporan Situasi Perkembangan HIV&AIDS di Indonesia sampai dengan 1uni
2011. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
Kementrian kesehatan RI. 13 Juli 2011.

3. Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS pada
Populasi Kunci GWL 2010-2014. Komisi Penanggulangan AIDS. 2010.

4. Surveilans Terpadu Biologis Perilaku Pada Kelompok Berisiko Tinggi. 2007

5. Estimasi Populasi Dewasa Rawan Terinfeksi HIV. Kementrian Kesehatan RI. 2009