Anda di halaman 1dari 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis 1. Penganggaran Daerah dan APBD a. Pengertian dan prinsip anggaran Menurut Yuwono (2005 : 270) Anggaran adalah suatu rencana terinci yang dinyatakan secara formal dalam ukuran kuantitatif, biasanya dalam satuan uang (perencanaan keuangan) untuk mewujudkan perolehan dan penggunaan sumber-sumber suatu organisasi. Suatu anggaran harus terorgianisasi secara rapi, jelas, rinci dan komprehensif. Proses pengaggaran harus dilakukan secara jujur dan terbuka serta dilaporkan dalam suatu struktur yang mudah dipahami dan relevan dalam proses operasional dan pengendalian organisasi. Untuk menyusun suatu anggaran, organisasi harus mengembangkan lebih dahulu perencanaan strategis. Melalui perencanaan strategis tersebut, anggaran mendapatkan kerangka acuan strategis. Disini, anggaran menjadi bermakna sebagai alokasi sumber daya (keuangan) untuk mendanai berbagai program dan kegiatan. Prinsip-prinsip yang mendasari pengelolaan anggaran daerah adalah sebagai berikut : 1. Transparansi, adalah keterbukaan dalam proses perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan anggaran daerah. Transparansi memberikan arti bahwa anggota masyarakat memiiliki hak dan akses yang sama untuk mengetahui

Universitas Sumatera Utara

proses anggaran karena menyangkut aspirasi dan kepentingan masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. 2. Akuntabilitas, adalah pertanggungjawaban publik yang berarti bahwa proses penganggaran harus mulai dari perencanaan, dapat penyusunan, dilaporkan dan dan

pelaksanaan

benar-benar

dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan masyarakat. Masyarakat tidak hanya memiliki hak untuk mengetahui anggaraan tersebut, tetapi juga berhak menuntut pertanggungjawaban atas rencana ataupun pelasanaan anggaran tersebut. 3. Value for money, yakni diterapkannya tiga prinsip dalam proses penganggaran daerah yaitu ekonomi, efisiensi dan efektivitas. Ekonomi berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan sumber daya dalam jumlah dan kualitas tertentu pada harga yang paling murah. Efisiensi berarti bahwa penggunaan dana masyarakat (public money) tersebut

menghasilkan output yang maksimal (berdaya guna). Efektivitas berarti bahwa penggunaan anggaran tersebut harus mencapai target-target atau tujuan kepentingan publik. Dalam konteks otonomi daerah, value for money merupakan jembatan untuk mengantarkan pemerintahan daerah mencapai good governance. Value for money tersebut harus dioptimalkan dalam pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. Untuk mendukung dilakukannya pengelolaan dana publik (public money) yang mendasarkan konsep value for money diperlukan sistem pengelolaan keuangan daerah

Universitas Sumatera Utara

dan anggaran daerah yang baik. Hal tersebut dapat tercapai apabila pemerintah daerah memiliki sistem akuntansi yang baik. b. Pengertian APBD Menurut Yuwono (2005 : 92), APBD didefinisikan sebagai Suatu rencana keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dalam satu tahun anggaran, APBD meliputi : 1. Hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih, 2. Kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih, 3. Penerimaan yang perlu dibayar kembali, dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. c. Klasifikasi APBD Klasifikasi APBD terbaru berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Adapun bentuk dan susunan APBD yang didasarkan pada Permendagri 13/2006 pasal 22 ayat (1) terdiri atas 3 bagian, yaitu pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah. Pendapatan daerah sebagaimana dimaksuud pada pasal 22 ayat (1) dikelompokkan atas pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lainlain pendapatan daerah yang sah. Belanja menurut kelompok belanja terdiri atas belanja tidak langsung dan belanja langsung. Pembiayaan daerah terdiri atas penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan pembiayaan mencakup siasa lebih perhitungan anggaran

Universitas Sumatera Utara

tahun anggaran sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, pemerimaan pinjaman daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman, dan penerimaan piutang daerah. Pengeluaran pembiayaan mencakup pembentukan dana cadangan, penyertaan modam (investasi) pemerintah daerah, pembayaran pokok piutang, dan pemberian pinjaman daerah. (Permendagri 13/2006)

d. Konsep pertanggungjawaban APBD Pengelolaan keuangan daerah berkaitan dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban APBD yang memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengiikuti Standar Akuntasi Pemerintah untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas. Penjelasan mengenai konsep pertanggungjawaban APBD memiliki hubungan dengan asymetry information theory dan commander theory. 1. Asymetry Information Theory Mohamad dkk. (2004) dalam Mulyana (2006 : 65) berpendapat bahwa asymetry information theory beranggapan bahwa banyak terjadi kesenjangan informasi antara pihak manajemen yang mempunyai akses langsung terhadap informasi dengan pihak konstituen atau masyarakat yang berada di luar manajemen. Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat bertindak sebagai manajemen yang mempunyai tanggung jawab berkenaan dengan pengelolaan keuangan daerah kepada publik secara terbuka dan jujur melalui media berupa penyajian laporan APBD yang dapat diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan anggapan bahwa publik berhak mengetahui informasi tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Pada kenyataannya, publikasi laporan APBD oleh pemerintah daerah melalui surat kabar, internet atau dengan cara lain beluim menjadi hal yang umum. Kebijakan penggunaan PAD dan DAU tersebut sudah seharusnya pula secara transparan dan akuntabel. 2. Commander Theory Commander theory mengungkapkan bahwa yang perlu dijadikan sebagai pusat perhatian atau sebagai pemilik perusahaan adalah komanditernya atau mereka yang memilki kekuasaan atau wewenang untuk melakukan kontrol ekonomi atas resorsis yang efektif terhadap suatu perusahaan. Penekanan informasi menurut teori ini adalah pertanggungjawaban bagaimana mereka yang dipercayai mengelola kekayaan yang diamanahkan kepadanya. Pada pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuanagan Daerah bagian keempat tentang belanja daerah ayat 1 dinyatakan bahwa, Kekayaan yang dimiliki daerah seharusnya digunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusann wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.

2. Dana Perimbangan Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah adalah suatu sistem pembiayaan pemerintah dalam negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan daerah serta pemerataan antar daerah secara proposional, demokratis, adil, dan transparan dengan

Universitas Sumatera Utara

memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata acara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya. Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Bastian 2001:261), sedangkan menurut Widjaja (2002:129), Dana perimbangan merupakan sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah, yaitu terutama peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang sangat baik. Implementasi kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah melalui dana perimbangan ditujukan untuk mengurangi ketidakmampuan daerah dalam membiayai kebutuhan pengeluarannya dari pajak dan retribusi dan dengan melihat kenyataan bahwa kebutuhan daerah sangat bervariasi. a. Klasifikasi Dana Perimbangan Menurut Undang-Undang Nomor 25/1999 dalam Mardiasmo (2004 : 97), dana perimbangan dari pemerintah pusat terdiri dari bagian daerah dan penerimaan pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, dan penerimaan dari sumber daya alam, DAU dan DAK. Dari ketiga alokasi dana tersebut DAU merupakan alokasi terbesar. Klasifikasi dana perimbangan berdasarkan Permendagri 13/2006, terdiri atas : Dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Jenis dana bagi hasil dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak. Jenis dana alokasi umum hanya terdiri atas pendapatan dana alokasi umum. Jenis dana alokasi khusu dirinci

Universitas Sumatera Utara

menurut objek pendapatan menurut kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

3. Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Halim 2004: 141). DAU dialokasikan untuk provinsi dan kabupaten/kota. Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto. Proporsi DAU antara provinsi dan

kabupaten/kota dihitung dari perbandingan antara bobot urusan pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Dalam hal penentuan proporsi belum dihitung secara kuantitatif, proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota ditetapakan dengan imbangan 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen). Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan dalam APBN. Ada beberapa alasan perlunya dilakukan pemberian DAU dari pemerintah pusat ke daerah, yaitu : a. Untuk mengatasi permasalahan ketimpangan fiskal vertikal. Hal ini disebabkan sebahagian besar sumber-sumber penerimaan utama di negara yang bersangkutan. Jadi pemerintah daerah hanya menguasai sebahagian kecil sumber-sumber penerimaan negara, atau hanya berwenang untuk memungut pajak yang bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaan rekatif kurang signifikan.

Universitas Sumatera Utara

b. Untuk menaggulangi persoalan ketimpangan fiskal horizontal. Hal ini disebakan karena kemampuan daerah untuk menghimpun pendapatan sangat bervariasi, tergantung kepada kondisi daerah dan sangat bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut. c. Untuk menjaga standar pelayanan minimum daerah tersebut. d. Untuk stabilitas ekonomi. DAU dapat dikurangi disaat perekonomian daerah sedang maju pesat, dan dapat ditingkatkan ketika perekonomian sedang lesu. a. Tujuan Dana Alokasi Umum Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 104 tahun 2000, Mardiasmo (2002:157) mengungkapkan bahwa Tujuan DAU adalah untuk horizontal equity dan sufficiency. Tujuan horizontal equity merupakan kepentingan pemerintah pusat dalam rangka melakukan distribusi pendapatan secara adil dan merata agar tidak terjadi kesenjangan yang lebar antar daerah. Sementara itu yang menjadi kepentingan daerah adalah kecukupan (sufficiency), terutama adalah untuk menutup fiscal gap. Fiscal gap terjadi karena karakteristik daerah di Indonesia sangant beraneka ragam. Ada daerah yang dianugerahi kekayaan alam yang sangat berlimpah. Ada juga daerah yang sebenarnya tidak memiliki kekayaan alam yang besar namun karena struktur perekonomian mereka telah tertata dengan baik maka, potensi pajak dapat dioptimalkan sehingga kekayaan tersebut menjadi kaya. Namun, banyak juga daerah yang secara alamiah maupun struktur ekonomi masih

Universitas Sumatera Utara

sangat tertinggal. Untuk itulah maka, transfer dari pemerintah pusat dalam bentu DAU masih diberikan untuk mengatasi kesenjangan antar daerah (fiscal gap).

4. Pendapatan Asli Daerah Pemerintah daerah di dalam membiayai belanja daerahnya, selain dengan menggunakan transfer dari pemerintah pusat, mereka juga menggunakan sumber dananya sendiri yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurut UU No. 33 Tahun 2004, PAD adalah pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan desentralisasi. Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh dari sumbersumber pendapatan daerah dan dikelola sendiri oleh pemerintah daerah. Pendapatan asli daerah adalah tulang punggung pembiayaan daerah, oleh karenanya kemampuan melaksanakan ekonomi diukur dari besarnya kontribusi yang diberikan oleh pendapatan asli daerah terhadap APBD, semakain besar kontribusi yang dapat diberikan oleh PAD terhadap APBD berarti semakin kecil ketergantungan pemerintah daerah terhadap bantuan pemerintah pusat. PAD memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian daerah. Daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan PAD yang positif mempunyai kemungkinan untuk memiliki pendapatan per kapita yang lebih baik (Harianto dan Adi, 2007). Apabila suatu daerah PAD-nya meningkat maka dana yang dimiliki

Universitas Sumatera Utara

pemerintah akan meningkat pula. Peningkatan ini akan menguntungkan pemerintah, karena dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan daerahnya. PAD menurut Halim (2004:67) merupakan Semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. PAD hanya merupakan salah satu komponen sumber penerimaan keuangan negara disamping penerimaan lainnya berupa dana perimbangan, pinjaman daerah dan lain-lain penerimaan yang sah juga sisa anggaran tahun sebelumnya dapat ditambah sebagai sumber pendanan penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Keseluruhan penerimaan tersebut setiap tahun tercermin dalam APBD. Meskipun PAD tidak seluruhnya dapat membiayai APBD, proporsi PAD terhadap total penerimaan tetap merupakan indikasi derajat kemandirian keuangan suatu pemerintah daerah. IASC dalam Halim (2004:67) pendapatan asli daerah merupakan sumber murni daerah yang terdiri dari: a. Pajak Daerah b. Retribusi Daerah c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. Klasifikasi PAD yang terbaru berdasarkan Permendagri 13/2006 adalah terdiri dari : Pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Jenis pajak daerah dan retribusi daerah dirinci menurut obyek pendapatan sesuai dengan undang-undang tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaab modal pada perusahaan milik daerah/ BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik Negara/ BUMN, dan bagian laba atas

Universitas Sumatera Utara

penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat. Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam pajak daerah, retribusi daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup ,hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah, penerimaan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/ atau pengadaan barang dan/ atau jasa oleh daerah, penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, pendapatan denda pajak, pendapatan denda retribusi, pendapatan hasil eksekusi atas jaminan, pendapatan dari pengembalian, fasilitas sosial dan fasilitas umum, pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan, pendapatan dari angsuran/ cicilan penjualan.

5. Belanja Langsung Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Pasal 36 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program kegiatan. Belanja langsung terdiri dari: a. Belanja Pegawai Belanja pegawai adalah belanja kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada pejabat negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan dimana pekerjaan tersebut yang berkaitan dengan pembentukan modal.

Universitas Sumatera Utara

b. Belanja Barang dan Jasa Belanja barang dan jasa adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun tidak dipasarkan, dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. c. Belanja Modal

Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aktiva tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Untuk mengetahui apakah suatu belanja dapat dimasukkan sebagai belanja modal atau tidak, maka perlu diketahui definisi aset tetap atau aset lainnya dan kriteria kapitalisasi aset tetap.

B. Tinjauan Penelitian Terdahulu Adapun beberapa penelitian terdahulu yang memiliki konsep yang sama dengan penelitian ini, antara lain : 1. Habriani (2009) Penelitian yang berjudul Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Langsung di Pemerintah Kab/Kota di Sumatera Utara ini mengambil sampel sebanyak 25 Kab/Kota di Sumatera Utara selama periode 2005 sampai 2007. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial, hanya lain-lain PAD yang sah yang berpengaruh signifikan positif terhadap belanja langsung sedangkan secara simultan, keseluruhan variabel yang terdapat dalam PAD berpengaruh signifikan positif terhadap belanja langsung.

Universitas Sumatera Utara

2. Sihite (2009) Penelitian yang berjudul Pengaruh Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Langsung pada Kab/Kota di Sumatera Utara ini mengambil sampel sebanyak 25 Kab/Kota di Sumatera Utara periode 2005 sampai 2007. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial DAK, PAD dan DBH masing-masing berpengaruh signifikan positif terhadap belanja langsung sedangkan secara simultan, ketiga variabel independen berpengaruh positif terhadap belanja langsung. 3. Widodo (2007) Penelitian ini yang berjudul Flypaper Effect Pada DAU dan PAD terhadap Belanja Daerah Pada Kab/Kota di Bali (Studi Kasus pada Kab/Kota di Bali) ini mengambil sampel sebanyak 2 Kab/Kota di Bali selama periode 2000 sampai 2005. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DAU dan PAD baik secara parsial maupun simultan berpengaruh positif terhadap belanja daerah dan terjadi flypaper Effect pada belanja daerah 4. Augustina (2009) Penelitian yang berjudul Flypaper Effect pada Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Daerah pada Pemerintahan Kab/Kota di Sumatera Utara ini mengambil sampel sebanyak 13 Kab/Kota di Sumatera Utara selama periode 2004 sampai 2006. hasil penelitian ini menunjukkan bahwabDAU dan PAD baik secara parsial maupun siimultan berpengaruh positif terhadap belanja daerah. Selain itu, terjadi flypaper effect pada belanja daerahndan pengaruh DAU periode lalu terhadap belanja daerah periode sekarang adalah lebih

Universitas Sumatera Utara

besar daripada pengaruh DAU periode sekarang terhadap belanja daerah periode sekarang. Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu Peneliti (Tahun Penelitian) Habriani (2009) Pengaruh PAD terhdap Belanja Langsung di Pemerintah Kab/Kota di Sumatera Utara Sampel Penelitian 25 Kab/Kota di Sumatera Utara Periode 2005-2007 Variabel Penelitian PAD (X1), Belanja Langsung (Y) Metode Hasil Penelitian Penelitian Analisis Seacara parsial, hanya Regresi lain-lain PAD yang Berganda berpengaruh signifikan positif terhadap belanja langsung sedangkan secara simultan, keseluruhan Variabel yang terdapat dalam PAD berpengaruh signifikan Positif terhadap belanja langsung Analisis Secara parsial, DBH, Regresi DAK dan PAD Berganda masing-masing berpengaruh signifikan positif terhadap belanja langsung sedangkan secara simultan, ketiga variabel independen berpengaruh positif terhadap belanja langsung. Analisis DAU dan PAD baik Regresi secara parsial maupun Sederhana simultan berpengaruh dan positif terhadap Analisis belanja daerah Regresi Berganda Terjadi flypaper Effect pada belanja daerah DAU dan PAD baik secara parsial maupun simultan berpengaruh positif terhadap

Sihite (2009) Pengaruh Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Langsung pada Kab/Kota di Sumatera Utara. Widodo (2007) Flypaper Effect Pada DAU dan PAD terhadap Belanja Daerah Pada Kab/Kota di Bali (Studi Kasus pada Kab/Kota di Bali). Augustina (2009) Flypaper Effect Pada PAD dan DAU terhadap 9 Kab/Kota di Bali Periode 2000-2005

DBH (X1), DAK (X2), PAD (X3) dan Belanja Langsung (Y)

DAU (X1), PAD (X2) dan Belanja Daerah (Y)

13 Kab/kota di Sumatera Utara Periode

DAU (X1), Analisis PAD (X2), regresi dan Belanja berganda Langsung

Universitas Sumatera Utara

Belanja Daerah 2004-2006 pada pemerintahan Kab/Kota di Sumatera Utara.

(Y)

belanja daerah. Terjadi flypaper Effect pada belanja daerah Pengaruh Dau periode lalu terhadap belanja daerah periode sekarang adalah lebih besar daripada pengaru DAU sekarang terhadap belanja daerah periode sekarang.

Universitas Sumatera Utara