Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH CACING TAMBANG

Di susun oleh ISAN SULAMA NAHROWI MARYONO A W I

KELAS KHUSUS S1 KEPERAWATAN SEMESTER III STIKes BANI SALEH BEKASI

KATA PENANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini . Makalah mengenai helmintologi (berupa cacing) yang

dispesifikasikan pada Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. merupakan bahasan yang akan kami uraikan selanjutnya. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Fatologi, yang menjadi pembelajaran bagi kami agar bertambahnya wawasan kami mengenai kesehatan. Semoga apa yang kami persembahkan dapat menjadi motivasi dalam meningkatkan prestasi belajar para mahasiswa khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Kami sadar dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan kekurangan , olah karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun guna meningkatkan kualitas makalah selanjutnya.

( Penulis )

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar isi . BAB I PENDAHULUAN 1.a. Latarbelakang .. 1.b. Rumusan masalah ... 1.c. Tujuan . BAB II PEMBAHSAN 2.1. Pengertian 2.2. Daur hidup cacing tambang 2.3. Siklus hidup . 2.5. Fatofisiologi 2.6. Penyebab 2.7. Gejala . 2.8. Epidemiologi . 2.9. Cara penularan .. 2.10.Diagnosa .. 2.11.Pengobatan .. 2.12.Cara Pencegahan . 2.13.Faktor resiko . BAB III PENUTUP 3.a. Kesimpulan 3.b. Saran ..
11 11

i ii ii

1 1 2

3 3 4

2.4. Patogenesis 5.
6 6 6 8 8 8 8 9 9

DAFTAR PUSATAKA 12 GAMBAR . 13

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.a. Latar Belakang Indonesia masih banyak penyakit yang merupakan masalah kesehatan, salah satu diantaranya ialah cacing perut yang ditularkan melalui tanah. Cacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktifitas penderitanya sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian, karena menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakitini.

1.b. Rumusan masalah 1) Pengertian Cacing tambang 2) Siklus Hidup Caing tambang 3) Patofisiologi Cacing tambang 4) Penyebab Cacing tambang 5) Gejala Cacing tambang 6) Epidemiologi Cacing tambang 7) Cara penularan Cacing tambang 8) Diagnosa Cacing tambang 9) Pengobatan Cacing tambang 10) Cara pencegahan Cacing tambang

1.c. Tujuan Memahami Pengertian cacing tambang, siklus hidup, cara penularan, penyebab dan bagaimana cara pengobatan penderita cacing tambang pada umumnya. Serta berusaha sebaik mungkin untuk mencegah terinfeksi cacing tambang

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Cacing adalah binatang kecil, Melata, tidak berkaki, tubuh bulat/pipih ada yang hidup di air, tanah, perut manusia atau perut binatng.Cacing

tambang paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan di keluarkan bersama dengan kotoran manusia. Telur akan menetas menjadi larva di luar tubuh manusia, yang kemudian masuk kembali ke tubuh korban menembus kulit telapak kaki yang berjalan tanpa alas kaki. Larva akan berjalan jalan di dalam tubuh melalui peredaran darah yang akhirnya tiba di paru paru lalu di batukan dan ditelan kembali. Gejala meliputi reaksi alergi lokal atau seluruh tubuh, anemia dan nyeri abdomen. Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira- kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. 2.2. Daur Hidup Cacing Tambang Telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larvarabditif orm. Dalam waktu sekitar 3 hari l a rva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40mi kron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, 3

larvaikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru menembus pembuluh darah masuk kebronchu s lalu ketrachea dan laring. Dari laring, larvaikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larvaf ilarif orm menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan, Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. Ancylostoma duodenale ditemukan di daerah Mediterenian, India, Cina dan Jepang. Necator americanus ditemukan di daerah tropis Afrika, Asia dan Amerika Gambar : Daur Hidup Cacing Tambang (Necator americanus danA ncyl ost oma duodenale)

2.3. Siklus Hidup Cacing tambang atau cacing cambuk adalah cacing parasit(nematoda) yang hidup pada usus kecil. Ada dua spesies cacing tambang yang biasa menyerang manusia, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Necator americanus banyak ditemukan di Amerika,Sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Tiongkok, Indonesia,Ankylostoma duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan Eropa bagian selatan. Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab,dgn tingkat kebersihan yg buruk.

2.4. Patogenesis Cacing tambang memiliki alat pengait seperti gunting yang membantu melekatkan dirinya pada mukosa dan submukosa jaringan intestinal. Setelah terjadi pelekatan, otot esofagus cacing menyebabkan tekanan negatif yang menyedot gumpalan jaringan intestinal ke dalam kapsul bukal cacing. Akibat kaitan ini terjadi ruptur kapiler dan arteriol yang menyebabkan perdarahan.Pelepasan enzim hidrolitik oleh cacing

tambang akan memperberat kerusakan pembuluh darah. Hal itu ditambah lagi dengan sekresi berbagai antikoagulan termasuk diantaranya inhibitor faktor (tissue inhibitory factor). Cacing ini kemudian mencerna sebagian darah yang dihisapnya dengan bantuan enzim hemoglobinase, sedangkan sebagian lagi dari darah tersebut akan keluar melalui saluran cerna. Masa inkubasi mulai dari bentuk dewasa pada usus sampai dengan timbulnya gejala klinis seperti nyeri perut, berkisar antara 1-3 bulan. Untuk meyebabkan anemia diperlukan kurang lebih 500 cacing dewasa. Pada infeksi yang berat dapat terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/hari, meskipun pada umumnya didapatkan perdarahan intestinal kronik yang terjadi perlahan-lahan.Terjadinya anemia defisiensi besi pada infeksi cacing tambang tergantung pada status besi tubuh dan gizi pejamu, beratnya infeksi (jumlah cacing dalam usus penderita), serta spesies cacing tambang dalam usus. Infeksi A. duodenale menyebabkan perdarahan yang lebih banyak dibandingkan N. americanus.

Gejala klinis nekatoriasis dan ankilostomosis ditimbulkan oleh adanya larva maupun cacing dewasa. Apabila larva menembus kulit dalam jumlah banyak, akan menimbulkan rasa gatal-gatal dan kemungkinan terjadi infeksi sekunder. Gejala klinik dapat berupa nekrosis jaringan usus, gangguan gizi dan gangguan darah.

2.5. Patofisiologi Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Tetapi kekurangan darah (anemia)ini biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab.

2.6. Penyebab Penyebabnya adalah cacing gelang usus, yaitu Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Telur dari kedua cacing tersebut ditemukan di dalam tinja dan menetas di dalam tanah setelah mengeram selama 1-2 hari. Dalam beberapa hari, larva dilepaskan dan hidup di dalam tanah. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia, karena larva bisa menembus kulit.Larva sampai ke paru-paru melalui pembuluh getah bening dan aliran darah.Lalu larva naik ke saluran pernafasan dan tertelan. Sekitar 1 minggu setelah masuk melalui kulit, larva akan sampai di usus.Larva menancapkan dirinya dengan kait di dalam mulut mereka ke lapisan usus halus bagian atas dan mengisap darah.

2.7 . Gejala Gejala klinik penyakit cacing tambang berupa anemia yang diakibatkan oleh kehilangan darah pada usus halus secara kronik. Jumlah darah yang hiIang setiap hari tergantung pada (1) jumlah cacing, terutama yang secara kebetulan melekat pada mukosa yang berdekatan dengan kapiler arteri; (2) species cacing : seekor A. duodenaleyang lebih besar 6

daripada N. americanus mengisap 5x lebih banyak darah;

lamanya

infeksi. Terjadinya anemia tergantung pada keseimbangan zat besi dan protein yang hilang dalam usus dan yang diserap dari makanan. Kekurangan gizi dapat menurunkan daya tahan terhadap infeksi parasit. a. Infeksi ringan Infeksi ringan dengan kehilangan darah yang dapat diatasi tanpa gejala, walaupun penderita mempunyai daya tahan yang menurun terhadap penyakit lain. b. Infeksi sedang dengan kehilangan darah yang tidak dapat dikompensasi dan penderita kekurangan gizi, mempunyai keluhan pencernaan, anemia, lemah, dan mentaI kurang baik. fisik

c .Infeksi berat yang dapat menyebabkan keadaan fisik buruk dan payah jantung dengan segala akibatnya. Pada infeksi yang berat dapat terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/hari Gejala lainnya adalah Ruam yang menonjol dan terasa gatal (ground itch) bisa muncul di tempat masuknya larva pada kulit. Demam, batuk dan bunyi nafas mengi (bengek) bisa terjadi akbiat berpindahnya larva melalui paru-paru. Cacing dewasa seringkali menyebabkan nyeri di perut bagian atas. Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat perdarahan usus. Kehilangan darah yang berat dan berlangsung lama, bisa menyebabkan pertumbuhan yang lambat, gagal jantung dan pembengkakan jaringan yang meluas pada anak- anak.

2.8 Epidemiologi Kejadian penyakit ()ini di Indonesia sering ditemukan pada penduduk yang bertempat tinggal di pegunungan, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan atau pertambangan. Cacingini menghisap darah hanya sedikit namun luka-luka gigitan yang berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepaskan dapat menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat penting dalam penyebaraninfeksi penyakitini (Srisasi Gandahusada, 2000:15). Tanah yang baik untuk pertumbuhan 2.9. Cara penularan Cara penularan penyakit cacing tambang adalah melalui larva cacing yang terdapat di tanah yang menembus kulit (biasanya diantara jari-jari kaki), cacingini akan berpindah ke paru kemudian ke tenggorokan dan akan tertelan masuk saluran cerna.

210. Diagnosa Jika timbul gejala, maka pada pemeriksaan tinja penderita akan ditemukan telur cacing tambang. Jika dalam beberapa jam tinja dibiarkan dahulu, maka telur akan mengeram dan menetaskan larva.

2.11. Pengobatan Pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan berbagai macam anthelmintik, antara lain befenium hidroksinaftoat, tetraldoretilen, pirantel pamoat dan mebendazol. Bila cacing tambang telah dikeluarkan, perdarahan akan berhenti, tetapi pengobatan dengan

preparat besi (sulfasferrosus) per os dalam jangka waktu panjang dibutuhkan untuk memulihkan kekuranganzat besinya. Di sampingitu keadaan gizi diperbaiki dengan diet protein tinggi

2.12. Cara pencegahan Hati-hati bila makan makanan mentah atau setengah matang terutama pada tempat-tempat dimana sanitasi masih kurang masak bahan makanan sampai matang. Selalu mencuci tangan setelah dari kamar mandi/WC atau sebelum memegang makanan Infeksi cacing tambang bisa dihindari dengan selalu mengenakan alas kaki. Gunakan desinfektan setiap hari di tempat mandi dan tempat buang air besar. 2.13. Faktor resiko Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prevalensi i nfeksi cacing tambang adalah 61,2%. Sedangakn Prevalensi i nfeksi cacing tambang berdasarkan kebiasaan BAB yaitu 78,6% untuk yang BAB di sembarang tempat dan 58,4 untuk yang BAB di kakus. Prevalensi berdasarkan munum obat dalam waktu 3 bulan terakhir yaitu 63,5% untuk yang tidak minum obat dan 28,6% untuk yang minum obat. Prevalensi berdasarkan kebiasaan memakai alaskaki yaitu 69,7% untuk yang tidak biasa memakai alas kaki dan 37,1% untuk yang biasa memakai alas kaki. Besarnyafaktor resiko terinfeksi berdasarkan kebiasaan memakai alas kaki adalah 1,88 artinya kebiasaan memakai alas kaki merupakanfaktor resiko yang kuat untuk terjadinya infeksicacing tambang.

Dari hasil tersebut diharapkan adanya upaya untuk melakukan penyuluhan tentang pentingnya kegunaan pemakaian alas kaki/sepatu but pada waktu bekerja dan membiasakan untuk selalu buang air besar dikakus. Untuk penelitian lebih lanjut dapt dikembangkan dan pemeriksaan besarnya derajatinfeksi, pemeriksaan kadar Hb, pemeriksaan sampel tanah danpembiakan telur cacing tembang untuk indentifikasi dan membedakan antara larva cacing Necato americanus dan Ancylostoma duodenale

10

BAB III PENUTUP

3.b.Kesimpulan Cacing tambang paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Hospes parasitini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat padamucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larvar abditif orm. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. Gejalanya adalah Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah larva bisa terjadi yang akibat terdapat perdarahan di tanah

usus.penularanmelalui

cacing

yangmenembus kulit, Pengobatan dengan anthelmintik, antara lain befenium hidroksinaftoat. 3.b.Saran 1. Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuciber sih dengan air. 2. Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman. 3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar. 4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air. 11

5. Bila sudah terjadi i nfeksi cacing tambang maka penderita harus segera di beri obat cacingan atau segera di bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut Daftar pustaka 1. FINE, J.D :Loeffler s syndrome ?Letter. Arch. Dermatol., 117 :677, 1979. 2. KARYAD, D., TARWOTJO, 1., BASTA, S., SUKIRMAN, HUSAINI, ENOCH, H., MARGONO, S.S. and SALIM, A. : Nutritionand Health Status of Construcrion Workers at Three Selected Sitesin West Java, Indonesia. Bull. Penel. Keseh. (Bull. Hlth. Studiesin Indon.) No. 2, 1: 47 77, 1974. 3. KNOWLES, J.H. : Other disorders of the lung, dalam Wintrobe,M.M., Thorn, G.W., Adams, R.D. (eds) : Harrison s Principles of Internal Medicine ed. 6, New York, Mc Graw-Hill Book Co Inc., 1970, pp. 1370 1371. 4 .LIE, K.J. and SANDOSHAM, A.A., : The pathology of classicalf ilariasis due 5. http://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_tambang

6. http://www.scribd.com/search?cat=cacing+tambang&sq=Search#913

12

GAMBAR CACING TAMBANG DAN SIKLUS PENULARAN Cacing Tambang

Siklus Penularan

13