Anda di halaman 1dari 6

Teknik Identifikasi

Tujuan identiIikasi jenazah adalah untuk mengumpulkan bukti atau petunjuk


mengenai identiIikasi korban atau jenazah. Tindakan ini dilakukan dengan mencatat secara
teliti keadaan korban khususnya keadaan kepala, mulut, dan gigi-geligi. Perhatian khusus
diberikan terhadap hal-hal yang mungkin berubah pada saat transportasi korban ke ruang
otopsi. Apabila kerangka yang ditemukan telah rusak atau dalam keadaan membusuk karena
terendam air, cari gigi dengan teliti karena gigi cenderung lepas dari tempatnya. Apabila gigi-
geligi yang lepas telah ditemukan, masukkan dalam kantong plastik khusus terpisah, jangan
dibersihkan atau direkonstruksi di TKP, rekonstruksi dilakukan di ruang otopsi. Pada kasus
terbakar parah, jenazah atau gigi menjadi sangat rapuh, transportasi harus dilakukan dengan
hati-hati. Bagian gigi yang rapuh dan mudah rusak akibat transportasi dapat direkatkan dulu
dengan lem cair misalnya power glue,alteco, dan super glue agar tetap utuh saat transportasi.
Jika terpaksa, pemeriksaan dapat langsung dilakukan di TKP. Pada kasus mutilasi buat Ioto
dari sisa jenazah, catat dengan teliti, dan buat sketsa yang rinci tentang posisi tiap bagian
tubuh yang terpisah (Lukman, 2006).
Setelah jenazah berada di ruang otopsi pemeriksaan intraoral mulai dilakukan, berikan
kesempatan pada dokter Iorensik untuk mengambil sampel cairan atau bahan dalam mulut
jika diperlukan untuk pemeriksaan lab. Setelah bersih, periksa adanya kemungkinan luka atau
tanda-tanda yang tidak wajar dalam rongga mulut. Jika ada gigi-geligi yang lepas, masukkan
kembali gigi-geligi ke dalam soketnya. Buat pemeriksaan postmortem kedokteran gigi
Iorensik sesuai juknis atau Iormulir standar. Setelah itu, buat Ioto-Ioto detail wajah dan
keadaan mulut dalam keadaan selengkap mungkin. Jika dirasakan perlu dapat dibuat cetakan
gigi dan panoramic x-ray. Setelah pembuatan x-ray, dapat dilakukan penentuan golongan
darah dengan sampel sepertiga apikal salah satu gigi. Jika diperlukan dapat dilakukan isolasi
DNA, untuk ini harus dikorbankan satu gigi yang utuh agar dapat memperoleh jaringan pulpa
yang cukup (Lukman, 2006). Pada waktu proses perbandingan, kasus-kasus yang banyak
masalah sebaiknya dikerjakan terakhir (Ardan, 1999).
Semua data-data yang diperoleh dalam identiIikasi dituangkan dalam Iormulir baku mutu
nasional, yaitu ke dalam Iormulir korban tindak pidana yang berwarna merah atau disebut
dengan data postmortem, pada korban hidup tetap pula ditulis ke dalam Iormulir yang sama,
sedangkan data-data semasa hidup ditulis ke dalam Iormulir antemortemyang berwarna
kuning. Hal ini berlaku pula pada pelaku, ia mempunyai kedua penulisan data
pula, antemortem dan postmortem pada kertas yang berwarna kuning dan merah (Lukman,
2006)

Identifikasi Bitemark !4a Gigitan)
A.Pengertian Pola Gigitan
Menurut William Eckert pada tahun 1992 bahwa yang dimaksud dengan pola gigitan
ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka,
jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari pola
permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitaan
merupakan suatu produksi dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban.
B.KlasiIikasi Pola Gigitan
Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan kerasnya gigitan, pada pola
gigitan manusia terdapat 6 kelas yaitu :
1. Kelas I : Pola gigitan terdapat jarak dari incisive dan kaninus
2. Kelas II : Seperti pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola gigitan cups bucalis
dan patalis maupun cups bukalis dan cups lingualis tetapi derajat pola gigitan
masih sedikit
. Kelas III : Derajat bukal lebih parah dari kelas II yaitu permukaan gigit incisiv
telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah
dari pola gigitan kelas II
4. Kelas IV : Pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit
yang sedikit terlepas atau ruptur sehingga terlihat pola gigitan ireguler
5. Kelas V : Terlihat luka yang menyatu pola gigitan incisiv,kaninus, dan
premolar, baik pada rahang atas maupun rahang bawah.
6. Kelas VI : Memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari gigi rahang atas dan
bawah dan jaringan kulit serta jaringan otot terlepas sesuai dengan kekerasan
oklusi dan pembukaan mulut
C.Analisa Pola Gigitan Pada Manusia
Analisa pola gigitan dilakukan hanyalah korban terdapat pola gigitan manusia. Karena
pola gigitan oleh hewan dapat segera diketahui.
1. Bahan- bahan analisa
Apabila dilakukan pecetakan pada pola gigitan manusia haruslah digunakan bahan
cetak yang 1low system antara lain alginate dan sejenisnya. Kemudian untuk organ
tubuh yang bulat adalah yang paling sulit untuk dilakukan pencetekan. Maka
Djohansyah Lukman menemukan cara dengan menggunakan masker dari kain
keras yang digunting dibentuk sesuai dengan sekitar pola gigitan sehingga bahan
cetak yang 1low system tidak berhambur keluar dari sekitar pola gigitan karena
dijaga oleh masker yang digunakan tersebut.
2. Cara mencetak pola gigitan
Terdapat berbagai cara mencetak pola gigitan atara lain dengan menggunakan
mangkok cetak dari masker kain kears atau dengan menggunakan kain kasa
sepanjang diameter pencetetakan dan berlapis-lapis. Berikutnya diaduk bahan
cetak yang 1low system ditempatkan dan ditekan dengan getaran pada sekitar pola
gigitan kemudian mangkok cetak diisi setengah dari mangkok oleh bahan yang
1low system kemudian dijadikan satu dengan bahan 1low system sekitar pola
gigitan.
. Hasil cetakan dari pola gigitan menghasilkan suatu model dari gips yang telah di
cor dari model negatiI kemudian dicekatkan pada okludator atau artikulator
apabila gigitannya tidak stabil. Hal ini dapat diketahui terdapat pola gigitan rahang
atas maupun pola gigitan rahang bawah.
4. Kontrol Pola Gigitan
Kontrol pola gigitan dilakukan melalui artikulator dengan model cetakan pada
selempeng wax atau keju sehingga akan menapak pola gigitan.

Identifikasi bi424ekuer )
DNA merupakan kepanajngan dari Deoxyribonucleic Acid yang merupakan suatu
materi dari tubuh manapun yang terdapat dalam inti sel. ProI. Alec JeIIrey
menemukan bahan DNA dalam satu tidak sama, meskipun berasal dari bagian tubuh
manapun.
DNA tersebut bisa diambil dari air liur korban. Penelitian baru telah menemukan
bahwa DNA mitokondria dapat ditemukan di serbuk dentin.
A. DNA ProIiling (Sidik DNA)
Dicari 'non coding area dimana area khas ini ditemukan lalau dianalisis untuk
identitas.
Mula-mula keluarkan DNA dari inti sel yang ditemukan melalui analisa DNA.
Proses analisa sample:
1. Isolasi
Isolasi ialah mengeluarkan dan memurnikan DNA dari dalam inti sel. Inti sel
terlindungi oleh bagian-bagian jaringan dan sel pemisah jaringan, pemisah sel,
pemisah inti sel,dan dilakukan pembersihan DNA dari sisa-sisa sel yang tidak
diperlukan dencan proses kimiawi.
2. Restriksi
Restriksi adalah memotong DNA yang telah dimurnikan. DNA yang
dihasilkan langkah 1sangat panjang sehingga harus dipotong-potong terlebih
dahulu dengan enzim.
. ElektroIoresa
Merupakan pemengelompokan hasil potongan DNA menurut panjang
potongan tersebut. DNA yang terpotong dalam keadaan campur baur sehingga
harus dipisahkan agar dapat dicari dengan elektroIoresa.
Potongan DNA tertarik ke kutub, setelah itu terpisah dari pot. Potongan yang
besar bergerak lambat sedang pot yang kecil bergerak cepat.
4. Pelacakan (Probing)
Menandai area khas yang dicari. Pelacak adalah potongan DNA pada lokasi
indent yang khas di tengah untaian DNA.
Jenis lokasi yang di lacak
5. Labelling
Memberikan zat yang memungkinkan untuk melihat lokasi dan jumlah area
yang dicari. DNA tidak dapat dilihat begitu saja maka harus ditempatkan
'pertanda yang dilekatkan pada pelacak. Penanda tersebut ialah
chemillluminscence yang akan memberi warna.


Kiri : DNA proIil dari pap smear
Kanan : DNA proIil dari gigi