Anda di halaman 1dari 16

KONSEP MEDIS

DEFINISI

Kanker Testis adalah pertumbuhan sel-sel ganas di dalam testis (buah zakar), yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum (kantung zakar).

Kanker testikuler, yang menempati peringkat pertama dalam kematian akibat kanker diantara pria dalam kelompok umur 20 sampai 35 tahun, adalah kanker yang paling umum pada pria yang berusia 15 tahun hingga 35 tahun dan merupakan malignansi yang paling umum kedua pada kelompok usia 35 tahun hingga 39 tahun.

Kanker yang demikian diklasifikasikan sebagai germinal atau nongerminal. Tumor germinal timbul dari sel-sel germinal testis (seminoma, terakokarsinoma, dan karsinoma embrional); tumor germinal timbul dari epithelium.

Klasifikasi patologik tumor testis menurut WHO:

1. Tumor sel bening: 1. Tumor dengan satu pola histologik: 1. Seminoma 1. Seminoma spermatositik 2. Karsinoma embrional 3. Yolk sac tumor (Karsinoma embrional tipe infantile) 2. Teratoma: 1. Matur 2. Imatur 3. Dengan transformasi maligna 2. Tumor dengan lebih dari satu pola histoligik: 1. Karsinoma embrional plus teratoma (teratokarsinoma) 2. Kariokarsinoma dan tipe lain apapun (perinci tipe-tipenya) 3. Kombinasi lain (perinci) 1. Tumor stromal-Tali kelamin: 1. Bentuk berdiferensiasi baik: 1. Tumor sel leydig 2. Tumor sel sertoli 3. Tumor sel granulosa 2. Bentuk campuran (perinci) 3. Bentuk berdiferensiasi tidak lengkap

Sebagian besar neoplasma adalah germinal, dengan sekitar 40% adalah seminoma. Seminoma cenderung untuk tetap setempat, sementara tumor nonseminomas tumbuh cepat. Penyebab tumor testikuler tidak diketahui, tetapi kriptokhidisme, infeksi, dan faktor-faktor genetic dan endokrin tampak berperan dalam terjadinya tumor tersebut.

Risiko kanker testikuler adalah 35 kali lebih tinggi pada pria dengan segala tipe testis yang tidak turun ke dalam skrotum dibanding dengan populasi umum. Tumor testis biasanya malignan dan cenderung untuk bermetastasis lebih dini, menyebar dari testis ke dalam nodus limfe dalam retroperineum dan ke paru-paru.

PATOFISIOLOGI

Tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikuler yang akhinya mengenai seluruh parenkim testis. Sel-sel tumor kemudian menyebar ke rate testis, epididimis, funikulus spermatikus, atau bahkan ke kulit scrotum. Tunika albugenia merupakan barrier yang sangat kuat bagi penjalaran tumor testis ke organ sekitarnya, sehingga kerusakan tunika albugenia oleh invasi tumor membuka peluang sel-sel tumor untuk menyebar keluar testis.

Kecuali kariokarsinoma, tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe menuju ke kelenjar limfe retroperitoneal (para aorta) sebagai stasiun pertama, kemudian menuju ke kelenjar mediastinal dan supraclavikula, sedangkan kariokarsinoma menyebar secara hematogen ke paru, hepar, dan otak.

PENYEBAB

Kebanyakan kanker testis terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang menunjang terjadinya kanker testis: 1. Testis undesensus (testis yang tidak turun ke dalam skrotum) 2. Perkembangan testis yang abnormal 3. Sindroma Klinefelter (suatu kelainan kromosom seksual yang ditandai dengan rendahnya kadar hormon pria, kemandulan, pembesaran payudara (ginekomastia) dan testis yang kecil). Faktor lainnya yang kemungkinan menjadi penyebab dari kanker testis tetapi masih dalam taraf penelitian adalah pemaparan bahan kimia tertentu dan infeksi oleh HIV. Jika di dalam keluarga ada riwayat kanker testis, maka resikonya akan meningkat. 1% dari semua kanker pada pria merupakan kanker testis. Kanker testis merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada pria berusia 15-40 tahun. Kanker testis dikelompokkan menjadi: 1. Seminoma : 30-40% dari semua jenis tumor testis. Biasanya ditemukan pada pria berusia 30-40 tahun dan terbatas pada testis. 2. Non-seminoma: merupakan 60% dari semua jenis tumor testis. Dibagi menjadi subkategori: 1. Karsinoma embrional: sekitar 20% dari kanker testis, terjadi pada usia 20-30 tahun dan sangat ganas. Pertumbuhannya sangat cepat dan menyebar ke paruparu dan hati. 2. Tumor yolk sac: sekitar 60% dari semua jenis kanker testis pada anak lakilaki. 3. Teratoma: sekitar 7% dari kanker testis pada pria dewasa dan 40% pada anak laki-laki. - Koriokarsinoma. 4. Tumor sel stroma: tumor yang terdiri dari sel-sel Leydig, sel sertoli dan sel granulosa. Tumor ini merupakan 3-4% dari seluruh jenis tumor testis. Tumor bisa menghasilkan hormon estradiol, yang bisa menyebabkan salah satu gejala kanker testis, yaitu ginekomastia.

MANIFESTASI KLINIS

Gejala berupa : 1. 2. 3. 4. Testis membesar atau teraba aneh (tidak seperti biasanya) Benjolan atau pembengkakan pada salah satu atau kedua testis Nyeri tumpul di punggung atau perut bagian bawah - Ginekomastia Rasa tidak nyaman/rasa nyeri di testis atau skrotum terasa berat.

Tetapi mungkin juga tidak ditemukan gejala sama sekali. Gejala timbul dengan sangat bertahap dengan massa atau benjolan pada testis yang tidak nyeri. Pasien dapat mengeluh rasa sesak pada skrotum, area inguinal, atau abdomen dalam. Sakit pinggang (akibat perluasan nodus retroperineal), nyeri pada abdomen, penurunan berat badan, dan kelemahan umum dapat diakibatkan oleh metastasis. Pembesaran testis tanpa nyeri adalah temuan diagnostik yang signifikan.

Satu-satunya metode deteksi dini yang efektif adalah pemeriksaan testis mandiri. Suatu bagian penting dari promosi kesehatan untuk pria harus mencakup pameriksaan mandiri. Pengajaran tentang pemeriksaan mandiri adalah intervensi penting untuk deteksi dini penyakit ini.

EVALUASI DIAGNOSTIK

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: 1. USG skrotum 2. Pemeriksaan darah untuk petanda tumor AFP (alfa fetoprotein), HCG (human chorionic gonadotrophin) dan LDH (lactic dehydrogenase). Hampir 85% kanker non-seminoma menunjukkan peningkatan kadar AFP atau beta HCG. 1. Rontgen dada (untuk mengetahui penyebaran kanker ke paru-paru) 2. CT scan perut (untuk mengetahui penyebaran kanker ke organ perut) 3. Biopsi jaringan. Human chorionic gonadotropin dan a-fetoprotein adalah penanda tumor yang mungkin meningkat pada pasien kanker testis. (Penanda tumor adalah substansi yang disintesis oleh sel-sel tumor dan dilepaskan ke dalam sirkulasi dalam jumlah yang abnormal).

Tehnik imunositokimia yang terbaru dapat membantu mengidentifikasi sel-sel yang tampaknya menghasilkan penanda ini. Kadar penanda tumor dalam darah digunakan untuk mendiagnosis, menggolongkan, dan memantau respon terhadap pengobatan. Uji diagnostic lainnya mencakup urografi intravena untuk mendeteksi segala bentuk penyimpangan uretral

yang disebabkan oleh massa tumor; limfangiografi untuk mengkaji keluasan penyebaran tumor ke sistem limfatik; dan pemindai CT dada dan abdomen untuk menentukan keluasan penyakit dalam paru-paru dan retroperineum.

PENATALAKSANAAN Pengobatan tergantung kepada jenis, stadium dan beratnya penyakit. Setelah kanker ditemukan, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan jenis sel kankernya, selanjutnya ditentukan stadiumnya: 1. Stadium I: kanker belum menyebar ke luar testis 2. Stadium II: kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di perut 3. Stadium III: kanker telah menyebar ke luar kelenjar getah bening, bisa sampai ke hati atau paru-paru. Ada 4 macam pengobatan yang bisa digunakan: 1. Pembedahan: pengangkatan testis (orkiektomi) dan pengangkatan kelenjar getah bening (limfadenektomi). 2. Terapi penyinaran: menggunakan sinar X dosis tinggi atau sinar energi tinggi lainnya, seringkali dilakukan setelah limfadenektomi pada tumor non-seminoma. Juga digunakan sebagai pengobatan utama pada seminoma, terutama pada stadium awal. 3. Kemoterapi: digunakan obat-obatan (misalnya cisplastin, bleomycin dan etoposid) untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi telah meningkatkan angka harapan hidup penderita tumor non-seminoma. 4. Pencangkokan sumsum tulang: dilakukan jika kemoterapi telah menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang penderita. Tumor seminoma 1. Stadium I diobati dengan orkiektomi dan penyinaran kelenjar getah bening perut 2. Stadium II diobati dengan orkiektomi, penyinaran kelenjar getah bening dan kemoterapi dengan sisplastin 3. Stadium III diobati dengan orkiektomi dan kemoterapi multi-obat. Tumor non-seminoma: 1. Stadium I diobati dengan orkiektomi dan kemungkinan dilakukan limfadenektomi perut 2. Stadium II diobati dengan orkiektomi dan limfadenektomi perut, kemungkinan diikuti dengan kemoterapi 3. Stadium III diobati dengan kemoterapi dan orkiektomi. Jika kankernya merupakan kekambuhan dari kanker testis sebelumnya, diberikan kemoterapi beberapa obat (ifosfamide, cisplastin dan etoposid atau vinblastin).

Kanker testikuler adalah salah satu tumor padat yang dapat disembuhkan. Tujuan penatalaksanaan adalah untuk menyingkirkan penyakit dan mencapai penyembuhan. Pemilihan pengobatan tergantung pada tipe sel dan keluasan anatomi penyakit. Testis diangkat dengan orkhioektomi melalui suatu insisi inguinal dengan ligasi tinggi korda spermatikus.

Prosthesis yang terisi dengan jel dapat ditanamkan untuk mengisi testis yang hilang. setelah orkhioektomi unilateral untuk kanker testis, sebagian besar pasien tidak mengalami fungsi endokrin. Namun demikian, pasien lainnya mengalami penurunan kadar hormonal, yang menandakan bahwa testis yang sehat tidak berfungsi pada tingkat yang normal. Diseksi nodus limfe retroperineal (RPLND) untuk mencegah penyebaran kanker melalui jalur limfatik mungkin dilakukan setelah orkhioektomi.

Meskipun libido dan orgasme normal tidak mengalami gangguan setelah RPLND, pasien mungkin dapat mengalami disfungsi ejakulasi dengan akibat infertilitas. Menyimpan sperma di bank sperma sebelum operasi mungkin menjadi pertimbangan.

Iradiasi nodus limfe pascaoperasi dari diagfragma sampai region iliaka digunakan untuk mengatasi seminoma dan hanya diberikan pada tempat tumor saja. Testis lainnya dilindungi dari radiasi untuk menyelamatkan fertilitas. Radiasi juga digunakan untuk pasien yang tidak menunjukkan respon terhadap kemoterapi atau bagi mereka yang tidak direkomendasikan untuk dilakukan pembedahan nodus limfe.

Karsinoma testis sangat responsive terhadap terapi medikasi. Kemoterapi multiple dengan sisplantin dan preparat lainnya seperti vinblastin, bleomisin, daktinomisin, dan siklofosfamid memberikan persentase remisi yang tinggi. Hasil yang baik dapat dicapai dengan mengkombinasi tipe pengobatan yang berbeda, termasuk pembedahan, terapi radiasi, dan kemoterapi. Bahkan kanker testikuler diseminata sekalipun, prognosisnya masih baik, dan penyakit kemungkinan dapat disembuhkan karena kemajuan dalam diagnosis dan pengobatan.

INTERVENSI KEPERAWATAN/PENDIDIKAN PASIEN

Karena pasien mungkin mengalami kesulitan dalam menerima kondisi ini, isu-isu yang berhubungan dengan citra tubuh dan seksualitas harus diungkapkan. Pasien memerlukan dorongan untuk mempertahankan sikap yang positif selama perjalanan terapi. Pasien juga harus mengetahui bahwa terapi radiasi tidak harus selalu menghambat pasien untuk menjadi seorang ayah, dan eksisi tumor unilateral tidak harus menurunkan virilitas.

Pasien dengan riwayat satu tumor testikuler mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengalami tumor berikutnya. Pemeriksaan tindak lanjut mencakup rontgen, urografi ekskretori, radioimmunoassay untuk human chorionic gonadotropins dan kadar a-fetoprotein, serta pemeriksaan nodus limfe untuk mendeteksi malignansi kambuhan.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TUMOR TESTIS

Kanker adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan penyakit tunggal. Saat ini ada lebih dari 120 perbedaan tipe pengetahuan tentang kanker. Karena kanker adalah penyakit seluler, ini dapat timbul dari jaringan mana saja. Dengan manifestasi yang mengakibatkan kegagalan untuk mengontrol proliferasi dan maturasi sel.

Selama bertahun-tahun observasi dan dokumentasi, telah ditemukan bahwa perilaku metastatik dari kanker bervariasi sesuai dengan sisi primer diagnosis. Pola perilaku ini diketahui sebagai "riwayat alamiah". Pengetahuan tentang etiologi dan riwayat alamiah dari tipe kanker adalah penting pada perencanaan keperawatan pasien dan pada evaluasi kemajuan, prognosis, dan keluhan fisik pasien.

DATA DASAR PENGKAJIAN PASIEN

Aktivitas/istirahat

Sirkulasi Integritas ego

Gejala: Kelemahan dan/atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur, misalnya nyeri, ansietas, berkeringat malam. Keterbatasan partisipasi dalam hobby, latihan. Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stress tinggi. Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja. Kebiasaan: Perubahan pada tekanan darah. Gejala: Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress (misalnya merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religious/spiritual). Masalah tentang perubahan dalam penampilan,

misalnya alopesia, lesi cacat, pembedahan. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan control, depresi. Tanda: Menyangkal, menarik diri, marah. Gejala: Perubahan pada pola defekasi, misalnya darah pada feses, nyeri pada defekasi. Perubahan eliminasi urinarius, misalnya nyeri Eliminasi atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuri, sering berkemih. Tanda: Perubahan pada bising usus, distensi abdomen. Gejala: Kebiasaan diet buruk (misalnya rendah serat, tinggi lemak, adiktif, bahan pengawet). Anoreksia, mual/muntah. Intoleransi makanan. Makanan/cairan Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan, kakeksia, berkurangnya massa otot. Tanda: Perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema. Neurosensori Gejala: Pusing; sinkope. Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi, Nyeri/kenyamanan misalnya ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit). Gejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup Pernapasan dengan seseorang yang merokok) Pemajanan asbes Gajala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. Keamanan Pemajanan matahari lama/berlebihan. Tanda: Demam. Ruam kulit, ulserasi. Gejala: Masalah seksualitas, misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan. Seksualitas Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun. Multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini. Herpes genital. Gejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung. Interaksi sosial Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau bantuan). Masalah rentang fungsi/tanggung jawab peran. Penyuluhan/pembelajaran Gejala: Riwayat kanker pada keluarga, misalnya ibu atau bibi dengan kanker payudara. Sisi primer: penyakit primer dalam rumah tangga ditemukan/didiagnosis. Penyakit metastatik: sisi tambahan yang terlibat;

bila tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan memberikan informasi penting untuk mencari metastatik. Pemeriksaan diagnostik Tes, seleksi tergantung riwayat, manifestasi klinis, dan indeks kecurigaan untuk kanker tertentu. 1. Scan (misalnya MRI, CT, gallium) dan ultrasound: dilakukan untuk tujuan diagnostic, identifikasi metastatik, dan evaluasi respon pada pengobatan. 2. Biopsy (aspirasi, eksisi, jarum, melubangi): dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum tulang, kulit, organ, dan sebagainya. 3. Penanda tumor (zat yang dihasilkan dan disekresi oleh sel tumor dan ditemukan dalam serum, misalnya CEA, antigen spesifik prostat, a-fetoprotein, HCG, asam fosfat prostat, kalsitonin, antigen onkofetal pancreas, CA 15-3, CA 19-9, CA 125 dan sebagainya): dapat membantu dalam mendiagnosis kanker tetapi lebih bermanfaat sebagai prognostic dan/atau monitor terapeutik. 4. Tes kimia skrining, misalnya elektrolit (natrium, kalium, kalsium); tes ginjal (BUN/Cr); tes hepar (bilirubin, AST/SGOT alkalin fosfat, LDH); tes tulang (alkalin fosfat, kalsium) 5. JDL dengan diferensial dan trombosit: dapat menunjukan anemia, perubahan SDM dan SDP; trombosit berkurang atau meningkat. 6. Sinar x dada: menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer. Prioritas keperawatan 1. 2. 3. 4. 5. Dukungan adaptasi dan kemandirian. Meningkatkan kenyamanan. Memeprtahankan fungsi fisiologis optimal. Mencegah komplikasi. Memberikan informasi tentang proses/kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.

Tujuan pemulangan

1. 2. 3. 4. 5.

Pasien menerima situasi denga realistis. Nyeri hilang/terkontrol. Homeostatis dicapai. Komplikasi dicegah/dikurangi. Proses/kondisi penyakit, prognosis, pilihan terapeutik dan aturan dipahami.

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

1. Cemas/takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio

ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga. 1. Tujuan: 1. Klien dapat mengurangi rasa cemasnya 2. Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif. 3. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan. 2. Intervensi Keperawatan: 1. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya. 2. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat. 3. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai. 4. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan. 5. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan. 6. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system. 7. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman. 8. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar. 3. Rasional: 1. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi. 2. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya. 3. Dapat menurunkan kecemasan klien. 4. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya. 5. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan. 6. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga. 7. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat. 8. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benarbenar di tolong. 2. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping terapi kanker. 1. Tujuan: 1. Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas 2. Melaporkan nyeri yang dialaminya 3. Mengikuti program pengobatan 4. Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin

2. intervensi Keperawatan: 1. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas 2. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya 3. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV 4. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik. 5. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu. 3. Kolaboratif: 1. Disusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien. 2. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narcotik dll 4. Rasional: 1. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan. 2. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi. 3. Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri. 4. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas. 5. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri. 6. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran. 7. Untuk mengatasi nyeri. 3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekuensi kemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri. 1. Tujuan: 1. Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi 2. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat 3. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya 2. Intervensi Keperawatan: 1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya. 2. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan. 3. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis. 4. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien. 5. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas. 6. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.

7. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan. 8. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien. 3. Kolaboratif: 1. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin 2. Berikan pengobatan sesuai indikasi Phenotiazine, antidopaminergik, corticosteroids, vitamin khususnya A, D, E dan B6, antacida 3. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus. 4. Rasional: 1. Memberikan informasi tentang status gizi klien. 2. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien. 3. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk. 4. Kalori merupakan sumber energi. 5. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas. 6. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri. 7. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan. 8. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien). 9. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien. 10. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping, meningkatkan status kesehatan klien. 11. Mempermudah intake makanan/minuman dengan hasil yang maksimal dan sesuai kebutuhan. 4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif. 1. Tujuan: 1. Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada tingkatan siap. 2. Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut. 3. Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengobatan. 4. Bekerjasama dengan pemberi informasi. 2. Intervensi Keperawatan: 1. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya. 2. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker. 3. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.

4. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien. 5. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya. 6. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal. 7. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi. 8. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut. 3. Rasional: 1. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien. 2. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan pengertian. 3. Membantu klien dalam memahami proses penyakit. 4. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan. 5. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien. 6. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat. 7. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman. 8. Meningkatkan integritas kulit dan kepala. 5. Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemoterapi dan radiasi/radiotherapi. 1. Tujuan: 1. Membran mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi 2. Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal. 3. Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga mulut. 2. Intervensi Keperawatan: 1. Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat pertemuan dengan klien dan secara periodik. 2. Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah. 3. Diskusikan dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygiene. 4. Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, makanan keras. 5. Amati dan jelaskan pada klien tentang tanda superinfeksi oral. 3. Kolaboratif: 1. Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi 2. Berikan obat sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine, antimikrobial mouthwash preparation. 3. Kultur lesi oral. 4. Rasional: 1. Mengkaji perkembangan proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi memberikan informasi penting untuk mengembangkan rencana keperawatan.

2. Masalah dengan kesehatan mulut dapat mempengaruhi pemasukan makanan dan minuman. 3. Mencari alternatif lain mengenai pemeliharaan mulut dan gigi. 4. Mencegah rasa tidak nyaman dan iritasi lanjut pada membran mukosa. 5. Agar klien mengetahui dan segera memberitahu bila ada tanda-tanda tersebut. 6. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan gigi dan gusi. 7. Tindakan/terapi yang dapat menghilangkan nyeri, menangani infeksi dalam rongga mulut/infeksi sistemik. 8. Untuk mengetahui jenis kuman sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat. 6. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake. 1. Tujuan: 1. Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilary refill normal, urine output normal. 2. Intervensi Keperawatan: 1. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam. 2. Timbang berat badan jika diperlukan. 3. Monitor vital sign. Evaluasi pulse peripheral, capilary refill. 4. Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien. 5. Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu. 6. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan petekie. 7. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah. 3. Kolaboratif: 1. Berikan cairan IV bila diperlukan. 2. Berikan therapy antiemetik. 3. Monitor hasil laboratorium: Hb, elektrolit, albumin. 4. Rasional: 1. Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia. 2. Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan. 3. Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi. 4. Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia. 5. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang. 6. Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan. 7. Mencegah terjadinya perdarahan. 8. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang. 9. Mencegah/menghilangkan mual muntah. 10. Mengetahui perubahan yang terjadi. 7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif.

1. Tujuan: 1. Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pencegahan infeksi. 2. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal. 2. Intervensi Keperawatan: 1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Batasi pengunjung. 2. Jaga personal hygine klien dengan baik. 3. Monitor temperatur. 4. Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi. 5. Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur. 3. Kolaboratif: 1. Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets. 2. Berikan antibiotik bila diindikasikan. 4. Rasional: 1. Mencegah terjadinya infeksi silang. 2. Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup. 3. Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi. 4. Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi. 5. Mencegah terjadinya infeksi. 6. Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi. 7. Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi. 8. Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan defisit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan. 1. Tujuan: 1. Klien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker dan terapi terhadap seksualitas 2. Mempertahankan aktivitas seksual dalam batas kemampuan 2. Intervensi: 1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang proses seksualitas dan reaksi serta hubungannya dengan penyakitnya. 2. Berikan advis tentang akibat pengobatan terhadap seksualitasnya. 3. Berikan privacy kepada klien dan pasangannya. Ketuk pintu sebelum masuk. 3. Rasional: 1. Meningkatkan ekspresi seksual dan meningkatkan komunikasi terbuka antara klien dengan pasangannya. 2. Membantu klien dalam mengatasi masalah seksual yang dihadapinya. 3. Memberikan kesempatan bagi klien dan pasangannya untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan secara wajar. 9. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, defisit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia. 1. Tujuan: 1. Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik 2. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan

2. Intervensi Keperawatan: 1. Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka. 2. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal. 3. Ubah posisi klien secara teratur. 4. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter. 3. Rasional: 1. Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit. 2. Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi. 3. Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu. 4. Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Basuki B Purnomo, Dasar-dasar Urologi.Edisi kedua, cetakan ketiga, CV. Sagung

Seto: Jakarta 2007.


2. Carpenito Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran

EGC: Jakarta, 2001.


3. Danielle Gale & Jane Charette, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Penerbit

Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 2000.


4. Doenges E. Marilynn, Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Untuk Perencanaan

5. 6.

7. 8. 9.

dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1999. Gallo & Hudak, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Edisi VI, Volume II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1996. Long Barbara C. Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung, 1996 Price A. Sylvia & Wilson M. Lorraine, Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit, Edisi 4, Buku II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1995. Robbins Stanley L, Buku Saku Dasar Patologi Penyakit, Edisi 5, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 1996. Suzanne. C. Smeltzer & Brenda.G.Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2001.

Read more: ASKEP TUMOR TESTIS