Anda di halaman 1dari 10

Aplikasi Sistem Keseimbangan Larutan Binair Pada Industri

Oleh : Irvan Karamy (03101003116)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA TAHUN AJARAN 2010/2011

1. Definisi Larutan
Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi. Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi (campuran logam) dan mineral tertentu. Fasa cair yang berupa sistem dua atau multi komponen, yakni larutan juga sangat penting. Larutan terdiri atas cairan yang melarutkan zat (pelarut) dan zat yang larut di dalamnya (zat terlarut). Pelarut tidak harus cairan, tetapi dapat berupa padatan atau gas asal dapat melarutkan zat lain. Sistem semacam ini disebut sistem dispersi. Untuk sistem dispersi, zat yang berfungsi seperti pelarut disebut medium pendispersi, sementara zat yang berperan seperti zat terlarut disebut dengan zat terdispersi(dispersoid). Baik pada larutan ataupun sistem dispersi, zat terlarut dapat berupa padatan, cairan atau gas. Bahkan bila zat terlarut adalah cairan, tidak ada kesulitan dalam membedakan peran pelarut dan zat terlarut bila kuantitas zat terlarut lebih kecul dari pelarut. Namun, bila kuantitas zat terlarut dan pelarut, sukar untuk memutuskan manakah pelarut mana zat terlarut. Dalam kasus yang terakhir ini, Anda dapat sebut komponen 1, komponen 2, dst.

Ada banyak hal-hal yang berkaitan dengan larutan, pelarut atau hal-hal yang berkenaan dengan ini, diantaranya ialah :

1.A Konsentrasi

Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million, ppm). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagaiencer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi). Konsentrasi larutan juga didefinisikan dengan salah satu dari ungkapan berikut: Ungkapan konsentrasi 1.
2. 3.

persen massa (%) =(massa zat terlarut/ massa larutan) x 100 molaritas (konsentrasi molar) (mol dm-3) =(mol zat terlarut)/(liter larutan) molalitas (mol kg-1) =(mol zat teralrut)/(kg pelarut)

1.B Pelarutan Molekul komponen-komponen larutan berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Pada proses pelarutan, tarikan antarpartikel komponen murni terpecah dan tergantikan dengan tarikan antara pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika pelarut dan zat terlarut sama-sama polar, akan terbentuk suatu sruktur zat pelarut mengelilingi zat terlarut; hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil. Bila komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut, pada suatu titik komponen yang ditambahkan tidak akan dapat larut lagi. Misalnya, jika zat terlarutnya berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik padatan tersebut tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. Jumlah zat terlarut dalam larutan tersebut adalah maksimal, dan larutannya disebut sebagai larutan jenuh. Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, tekanan, dan kontaminasi. Secara umum, kelarutan suatu zat (yaitu jumlah suatu zat yang dapat terlarut dalam pelarut tertentu) sebanding terhadap suhu. Hal ini terutama berlaku pada zat

padat, walaupun ada perkecualian. Kelarutan zat cair dalam zat cair lainnya secara umum kurang peka terhadap suhu daripada kelarutan padatan atau gas dalam zat cair. Kelarutan gas dalam air umumnya berbanding terbalik terhadap suhu. 1.C larutan Ideal Bila interaksi antarmolekul komponen-komponen larutan sama besar dengan interaksi antarmolekul komponen-komponen tersebut pada keadaan murni, terbentuklah suatu idealisasi yang disebut larutan ideal. Larutan ideal mematuhi hukum Raoult, yaitu bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding tepat lurus dengan fraksi mol pelarut dalam larutan. Larutan yang benar-benar ideal tidak terdapat di alam, namun beberapa larutan memenuhi hukum Raoult sampai batas-batas tertentu. Contoh larutan yang dapat dianggap ideal adalah campuran benzena dan toluena. Ciri lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlahan tepat volume komponen-komponen penyusunnya. Pada larutan non-ideal, penjumlahan volume zat terlarut murni dan pelarut murni tidaklah sama dengan volume larutan. Sebagaimana juga perilaku gas nyata berbeda dengan perilaku gas ideal, perilaku larutan nyata berebeda dengan perilaku larutan ideal, dengan kata lain berbeda dari hukum Raoult. Gambar 7.7(a) menunjukkan kurva tekanan uap sistem biner dua cairan yang cukup berbeda polaritasnya, aseton Me2CO dan karbon disulfida CS2. Dalam hal ini, penyimpangan positif dari hukum Raoult (tekanan uap lebih besar) diamati. Gambar 7.7(b) menunjukkan tekanan uap sistem biner aseton dan khloroform CHCl3. Dalam kasus ini, penyimpangan negatif dari hukum Raoult diamati. Garis putusputus menunjukkan perilaku larutan ideal. Peilaku larutan mendekati ideal bila fraksi mol komponen mendekati 0 atau 1. Dengan menjauhnya fraksi mol dari 0 atau 1, penyimpangan dari ideal menjadi lebih besar, dan kurva tekanan uap akan mencapai minimum atau maksimum. Lihat Gambar dibawah !!

Penyebab penyimpangan dari perilaku ideal sebagian besar disebabkan oleh besarnya interaksi molekul. Bila pencampuran komponen A dan B menyebabkan absorpsi kalor dari lingkungan (endoterm), interaksi molekul antara dua komponen lebih kecil daripada pada masing-masing komponen, dan penyimpangan positif dari hukum Raoult akan terjadi. Sebaliknya, bila pencampuran menghasilkan kalor ke lingkungan (eksoterm), penyimpangan negatif akan terjadi. Bila ikatan hidrogen terbentuk antara komponen A dan komponen B, kecenderungan salah satu komponen untuk meninggalkan larutan (menguap) diperlemah, dan penyimpangan negatif dari hukum Raoult akan diamati. Kesimpulannya, penyebab penyimpangan dari hukum Raoult sama dengan penyebab penyimpangan dari hukum gas ideal. 1.D Sifat Koligatif Larutan Larutan cair encer menunjukkan sifat-sifat yang bergantung pada efek kolektif jumlah partikel terlarut, disebut sifat koligatif (dari kata Latin colligare, "mengumpul bersama"). Sifat koligatif meliputi penurunan tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku, dan gejala tekanan osmotik. a. Tekanan uap Tekanan uap cairan adalah salah satu sifat penting larutan. Tekanan uap larutan juga penting dan bermanfaat untuk mengidentifikasi larutan. Dalam hal sistem biner, bila komponennya mirip ukuran molekul dan kepolarannya, misalnya benzen dan toluen, tekanan uap larutan dapat diprediksi dari tekanan uap komponennya. Hal ini karena sifat tekanan uap yang aditif. Bila larutan komponen A dan komponen B dengan fraksi mol masing-masing adalah xA dan xB berada dala kesetimbangan dengan fasa gasnya tekanan uap masing-masing komponen sebanding dengan fraksi molnya dalam larutan. Tekanan uap komponen A, pA,diungkapkan sebagai: pA = pA0 xA pA0 adalah tekanan uap cairan A murni pada suhu yang sama. Hubungan yang mirip juga berlaku bagi tekanan uap B, pB. Hubungan ini ditemukan oleh kimiawan Perancis Francois Marie Raoult (1830-1901) dan disebut dengan hukum Raoult. Untuk larutan

yang mengikuti hukum Raoult, interaksi antara molekul individual kedua komponen sama dengan interaksi antara molekul dalam tiap komponen. Larutan semacam ini disebut larutan ideal. Gambar 7.6 menunjukkan tekanan uap larutan ideal sebagai fungsi konsentrasi zat teralrut. Tekanan total campuran gas adalah jumlah pA dan pB, masingmasing sesuai dengan hukum Raoult. b. Kenaikan titik didih dan penurunan titik beku Bila dibandingkan tekanan uap larutan pada suhu yang sama lebih rendah dari tekanan uap pelarutnya. Jadi, titik didih normal larutan, yakni suhu saat fasa gas pelarut mencapai 1 atm, harus lebih tinggi daripada titik didih pelarut. Fenomena ini disebut dengan kenaikan titik didih larutan. Dengan menerapkan hukum Raoult pada larutan ideal, kita dapat memperoleh hubungan berikut: pA = pA0 xA = pA0 [nA /(nA + nB)] . (pA0- pA)/ pA0 = 1 xA = xB xA dan xB adalah fraksi mol, dan nA dan nB adalah jumlah mol tiap komponen. Persamaan ini menunjukkan bahwa, untuk larutan ideal dengan zat terlarut tidak mudah menguap, penurunan tekanan uap sebanding dengan fraksi mol zat terlarut. Untuk larutan encer, yakni nA + nB hampir sama dengan nA, jumlah mol nB dan massa pada konsentrasi molal mB diberikan dalam ungkapan. xB = nB/(nA + nB) = nB/nA= nB/(1/MA) = MAmB MA adalah massa molar pelarut A. Untuk larutan encer, penurunan tekanan uap sebanding dengan mB, massa konsentrasi molal zat terlarut B. Perbedaan titik didih larutan dan pelarut disebut dengan kenaikan titik didih, T b = Kb m B Tetapan kesebandingan Kb khas untuk setiap pelarut dan disebut dengan kenaikan titik didih molal. Hubungan yang mirip juga berlaku bila larutan ideal didinginkan sampai membeku. Titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarut. Perbedaan antara titik beku larutan dan pelarut disebut penurunan titik beku, T f = Kf m B Tf. Untuk larutan encer penurunan titik beku akan sebanding dengan konsentrasi molal zat terlarut mB Tb. Untuk larutan encer, kenaikan titik didih sebanding dengan massa konsentrasi molal zat terlarut B.

Tetapan kesebandingannya Kb khas untuk tiap pelarut dan disebut dengan penurunan titik beku molal. c. Tekanan Osmosis Membran berpori yang dapat dilalui pelarut tetapi zat terlarut tidak dapat melaluinya disebut dengan membran semipermeabel. Bila dua jenis larutan dipisahkan denga membran semipermeabel, pelarut akan bergerak dari sisi konsentrasi rendah ke sisi konsentrasi tinggi melalui membran. Fenomena ini disebut osmosis. Membran sel adalah contoh khas membran semipermeabel. Membran semipermeabel buatan juga tersedia. Bila larutan dan pelarut dipisahkan membran semipermeabel, diperlukan tekanan yang cukup besar agar pelarut bergerak dari larutan ke pelarut. Tekanan ini disebut dengan tekanan osmosis. Tekanan osmosis larutan 22,4 dm3 pelarut dan 1 mol zat terlarut pada 0 C adalah 1,1 x 105 N m-2. Hubungan antara konsentrasi dan tekanan osmoisi diberikan oleh hukum vant Hoffs. V = nRT adalah tekanan osmosis, V volume, T temperatur absolut, n jumlah zat (mol) dan R gas. Anda dapat melihat kemiripan formal antara persamaan ini dan persamaan keadaan gas. Sebagaimana kasus dalam persamaan gas, dimungkinkan menentukan massa molekular zat terlarut dari hubungan ini.

2. Aplikasi pada Industri


Di dalam dunia industry tidak terlepas dari factor-faktor diatas, tidak hanya industry yang memerlukan bahan baku berbentuk cairan saja, melainkan sudah sangat sering dijumpai industry kimia memperoleh bahan baku dalam bentuk gas maupun padatan. Di dalam industry kimia, aplikasi dari system keseimbangan kimia dalam larutan binair ialah pada proses pembuatan produk itu tersebut. Baik melalui proses kimia maupun proses separasi (pemisahan). Didalam proses kimia, bahan baku yang berfase cair (liquid) mempunyai berbagai macam karakteristik yang berbeda-beda baik itu dari sifat kimia maupun fisika nya. Contoh nya antara minyak dan air. Ketika dicampurkan maka akan membentuk 2 fase yang berlainan. Hal ini dikarenakan sifat fisika nya berlainan, itu lah yang menyebabkan larutan tersebut heteorogen (tidak bisa bercampur). Kemudian oleh karena itu dalam mereaksikan bahan bahan yang berfasa cair dalam industry kimia haruslah diketahui terlebih dahulu baik sifat fisika maupun kimia nya. Kemudian dalam proses pemisahan di industry sangat erat dengan sifat sifat larutan tersebut. Selain itu, pemanfaatan sifat khas zat cair juga tidak hanya pada industry melainkan pada pembangkit energy seperti PLTA (pembangkit listrik tenaga air). Contoh yang lain pada Salah satu proses removal gas CO2 dari gas proses yang banyak diaplikasikan di industri kimia adalah absorbsi disertai reaksi kimia dari gas CO2 menggunakan solvent hot potassium carbonate dengan promoter DEA (Diethanolamine) yang dikenal dengan proses Benfield. Secara umum proses ini terdiri dari proses absorpsi dan stripping gas CO2. Sampai saat ini data kesetimbangan fasa yang diperlukan untuk evaluasi performa unit removal CO2 sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kesetimbangan uap-cair sistem larutan elektrolit CO2-K2CO3-DEA-air dengan variasi suhu, konsentrasi K2CO3 dan konsentrasi DEA. Komposisi kesetimbangan ditentukan dengan minimasi energi bebas Gibbs, koefisien aktifitas fasa cair diestimasi menggunakan model E-NRTL (Electrolyte-Non Random Two Liquids), tekanan parsial fasa uap mengikuti hukum Raoult Modifikasi dan hukum Henry. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan bahasa program Matlab, sistem persamaan non linear diselesaikan dengan metode Newton. Dari

perhitungan secara umum didapatkan hasil, kenaikan temperatur sistem memberikan efek penurunan kelarutan gas CO2 dalam larutan dan kenaikan tekanan parsial CO2 di fasa uap. Kenaikan konsentrasi absorbent K2CO3 diikuti dengan penurunan fraksi CO2 di fasa cair dan tekanan parsialnya. Sedang efek kenaikan konsentrasi DEA adalah turunnya kelarutan CO2 sedang tekanan parsialnya naik. Kenaikan CO2 loading mengakibatkan kenaikan fraksi CO2 di larutan dan tekanan parsial kesetimbangannya. Efek konsentrasi DEA terhadap kelarutan dan tekanan parsial kesetimbangan CO2 lebih signifikan dibandingkan dengan konsentrasi K2CO3, menunjukkan fungsi DEA sebagai promoter cukup efektif. Dibanding data experimental, hasil perhitungan memberikan deviasi rata-rata 1.62 % untuk komposisi (fraksi mol) fasa cair, 1.70 % untuk koefisien aktifitas species fasa cair dan 2.63 % untuk tekanan parsial fasa uap.

Daftar Pustaka
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/cairan_dan_larutan/larutan/ diakses tanggal 14 oktober 2011 jam 8 PM http://id.wikipedia.org/wiki/Larutan diakses tanggal 14 oktober 2011 jam 8 PM http://id.wikipedia.org/wiki/Molaritas diakses tanggal 14 oktober 2011 jam 8 PM http://rega42.wordpress.com/2011/04/26/kesetimbangan-uap-cair-pada-sistem-binair/ diakses tanggal 14 oktober 2011 jam 8 PM