Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

STABILITAS ASAM ASKORBAT


(VITAMIN C)

DISUSUN OLEH:
1. ALFI RANDINI (10243 FA)
2. ALLIFAH KURNIAWATI (10244 FA)
3. ANISA NUR RAHMANI (10246 FA)
4. ARMYN AYU ARYANY (10248 FA)
5. PARWANTI (10265 FA)
I. PENDAHULUAN
Stabilitas obat merupakan hal utama yang harus dipertimbangkan sebelum
mengolah zat aktiI menjadi sediaan utuh. Faktor Iaktor yang mempengaruhi
stabilitas obat dapat berupa Iaktor Iisika seperti suhu dan cahaya, Iaktor kimia
seperti pH ataupun interaksi dengan senyawa lain ataupun Iaktor biologis
dengan munculnya biota biota kontaminan.
Makalah ini disusun secara khusus dari berbagai sumber reIerensi yang
membahas stabilitas vitamin C atau dikenal dengan asam askorbat.
Harapan yang ingin dicapai penulis secara khusus adalah bertambahnya
pemahaman penulis tentang stabilitas obat secara umum dan karakteristik obat
(dalam hal ini asam askorbat).













Surakarta, 26 November 2011
Penyusun Makalah

II. PEMBAHASAN
Stabilitas obat dideIinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat untuk
bertahan dalam batas spesiIikasi yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan
dan pengguanaan untuk menjamin identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian
produk tersebut. Kestabilan suatu obat dipengaruhi oleh beberapa Iaktor,
diantaranya adalah pH, suhu, kelembaban, cahaya, oksigen, pelarut, chelating
agent, dll. Aspek-aspek stabilitas obat seperti aspek kimia, Iisika, mikrobiologi
dan biotrasIormasi perlu dipertimbangkan di dalam merancang suatu sediaan
Iarmasi guna mencegah timbulnya eIek yang tidak diinginkan seperti: hilangnya
keseragaman kandungan, menurunnya status mikrobiologis, hilangnyakekedapan
kemasan atau menurunnya kualitas label.
STABILITAS VITAMIN C
Vitamin C sebagai derivat dari glukosa, atau dikenal juga sebagai asam
askorbat atau askorbat, termasuk dalam golongan vitamin yang larut dalam air.
Manusia adalah sedikit dari beberapa spesies yang tidak punya enzim untuk
mengubah glukosa menjadi vitamin C. Vitamin C adalah nama generik untuk
semua senyawa yang menunjukkan aktivitas biologis sama seperti asam askorbat.
1. SE1ARAH PENEMUAN ASAM ASKORBAT
Kegunaan vitamin C ditemukan pertama kali pada 1747. Selama abad ke-
16 banyak sekali para pelaut yang meninggal oleh penyakit yang dikenal sebagai
scurvy. James Lind menemukan bahwa penderita scurvy dapat disembuhkan
setelah diberi jeruk dan lemon dan ia mempublikasikan penemuannya pada 1753.
Beliau mengembangkan hipotesisnya berdasarkan hasil dari pengamatannya,
walaupun idenya kurang tepat, Beliau adalah orang pertama yang memahami
manIaat cikal bakal obat yang kita sebut sebagai vitamin C. Pada 1930, scurvy
diteliti di laboratorium hewan yang mana membuka peluang baru untuk
memahami penyakit tersebut. Dua ilmuwan mengisolasi dan mengumumkan
penemuan mereka sebagai vitamin C. Orang-orang ini menemukan bahwa vitamin
C merupakan pencegah dan obat scurvy. Vitamin C mulai disintesis di
laboratorium pada 1933.
2. SIFAT-SIFAT VITAMIN C (ASAM ASKORBAT)
SIFAT FISIKA
#umus Molekul : C
6
H
8
O
6

Sinonim : L-ascorbic Acid
Kerapatan : 1,694 g/ml
Titik Lebur : 190
o
C
Titik Didih : 553
o
C
Kelarutan :
1. Air 33g/100ml
2. Ethanol 2g/100ml
3. Glycerol 1g/100ml
4. Propilenglikol 5 g/100ml
5. Tidak larut dalam : dietil eter, chloroIorm, benzene, petrolium eter,
minyak, lemak
Pemerian : Hablur atau serbuk putih atau agak kuning.

PENGARUH CAHAYA PADA STABILITAS VITAMIN C

Dari graIik tersebut, kemasan yang transparan cenderung akan memberikan
paparan lebih banyak terhadap cahaya. Semakin lama sediaan(dalam hal ini susu)
terpapar cahaya semakin banyak hilangnya L-ascorbic acid pada sediaan tersebut.
PENGARUH SUHU TERHADAP STABILITAS VITAMIN C
Pada suhu kamar, asam askorbat teroksidasi spontan menjadi asam
dehidroaskorbat. Semakin tinggi suhu, semakin cepat proses tersebut dan semakin
ireversible reaksi tersebut. Sebaliknya bila suhu semakin rendah, proses tersebut
pun semakin lambat.
SIFAT KIMIA
Vitamin C ada pada jaringan-jaringan hidup dan mempengaruhi reaksi
oksidasi dan reduksi. L-asam askorbat adalah lactone(internal hydrocarboxylic
acid) dan punya ciri khas yaitu gugus enediol yang membuatnya jadi agen
pereduksi kuat. Bentuk D dari asam askorbat tidak punya aktivitas biologis. Salah
satu dari isomernya D-isoascorbic acid atau erythorbic acid diproduksi secara
komersial sebagai penyedap rasa. Vitamin C merupakan vitamin paling tidak stabil
dibandingkan dengan vitamin lainnya dan dengan mudah terdegradasi selama proses
ataupun penyimpanan.
OKSIDASI


L asam askorbat cepat teroksidasi (secara reversibel) menjadi dehidro L-
asam askorbbat yang menghalangi aktivitas asam askorbat. Selanjutnya senyawa
ini akan teroksidasi menjadi diketo-L-gulonic acid, dalam reaksi ireversibel.
Diketo-L-gulonic acid tidak mempunyai aktivitas biologis, tidak stabil dan lebih
jauh lagi teroksidasi menjadi beberapa senyawa seperti 1-threonic acid. Dehidrasi
dan dekarboksilasi bisa berakibat pada terbentuknya IurIural, yang
berpolimerisasi dan membentuk pigmen coklat.
Kecepatan degradasinya dapat dikatalis oleh adanya:
1. Pengaruh logam terutama tembaga dan besi
2. Pengaruh enzim terutama enzim yang mengandung tembaga dan besi
sepeti ascorbic acid oxidase, cytochrome oxidase, phenolase dan
peroxidase
3. Terpapar oleh oksigen dan pemanasan yang terlalu lama dengan
adanya oksigen.
4. Terpapar cahaya
Usaha pencegahan terjadinya reaksi oksidasi dapat dilakukan dengan cara
mengganti udara dengan gas inert, melarutkan zat dengan pH yang sesuai,
menggunakan pelarut bebas logam, menambahkan antioksidan, menghindari
cahaya, penyimpanan dilakukan pada suhu rendah dan tertutup rapat.
PENGARUH OKSIGEN TERHADAP STABILITAS VITAMIN C
O
2
H
2
O
Dengan adanya oksigen, asam askorbat akan cepat teroksidasi menjadi asam
dehidroaskorbat dan terbentuknya air. Terbentuknya air lebih jauh lagi akan
mempengaruhi organoleptis asam askorbat dan akan mengganggu stabilitas asam
askorbat secara kimia.




PENGARUH pH TERHADAP STABILITAS VITAMIN C
pH Kemampuan reduksi asam dehidroaskorbat menjadi asam
askorbat dengan penambahan H
2
S pada suhu 23
o
C
1 jam 2 jam 4 jam 6 jam
3,0 100 95 98 98
4,0 98 98 100 98
4,5 95 93 90 88
6,0 86 80 73 60
7,0 61 41 30 20
8,0 21 18 15 14
9,0 16 12 11 11

Karena reaksi oksidasi asam askorbat menjadi asam dehidroaskorbat
bersiIat reversibel, maka pH dapat mempengaruhi stabilitas vitamin C. Ketika
teroksidasi, asam askorbat melepaskan ion H

sehingga apabila ada donor ion H

,
asam dehidroaskoaskorbat akan tereduksi kembali menjadi asam askorbat. Donor
ion H

bisa didapat dengan penambahan asam, terutama asam kuat yang energi
ionisasinya lebih sempurna. Dengan energi ionisasi yang sempurna tersebut,
reaksi akan berjalan lebih cepat.Sehingga asam askorbat lebih stabil pada pH
asam.
FAKTOR-FAKTOR LAIN YANG MEMPENGARUHI STABILITAS
1.WADAH
Sediaan yang disimpan dalam wadah botol atau kaleng tipis akan lebih tahan
tehadap oksidasi.
2.PELA#UT YANG DIGUNAKAN SE#TA BENTUK SEDIAAN
3. ORDE REAKSI

Laju reaksi suatu sediaan obat ditentukan oleh orde reaksi. Orde #eaksi adalah
jumlah atom atau molekul yang terlibat dalam reaksi yang konsentrasinya
menentukan laju reaksi.Orde reaksi dapat ditentukan dengan berbagai cara, yaitu
dengan mensubstitusikan konsentrasi zat yang diperoleh ke dalam persamaan orde
reaksi, bila diperoleh harga k yang relative konstan berarti reaksi berjalan pada
orde tersebut, atau bias juga dengan membuat graIik hubungan antara konsentrasi
yang diperoleh terhadap t. Jika sesuai dengan salah satu graIik, maka reaksi
berjalan pada orde tersebut.
GraIik yang digunakan adalah :
- GraIik orde nol : c vs t
- GraIik orde-satu : log c vs t
- GraIik orde-dua : 1/c vs t
Menurut penelitian-penelitian yang ada, asam askorbat mengikuti aturan orde
reaksi 1:
1ika , adalah konsentrasi awal dari pereaksi , dan , adalah konsentrasi
pada waktu t, maka:
/ ( a ) k ( a )
Dt
-d ( a-x ) dapat diubah menjadi:
f%%

( da/dt 0 karena a adalah konstan )


/ k ( a )
/t

/ k /t
( a )

3 ( a ) k t tetapa3

Jika t0, x0, maka tetapan -ln a
-ln ( a-x ) k t ln a
kt ln a ln ( a-x )



ATAU





4.WAKTU PARO

Waktu Paro t adalah waktu yang diperlukan agar setengah dari jumlah A
bereaksi,

kt ln a
( a x )
Setelah t1/2 , x a/2 dan a 2
( a x )
kt1/2 ln 2
t1/2 0,693
k
k t90 ln 9
t90 2,19
k





kL ln a
a x
log ( ax ) _ k L + log a
02303
IV. DAFTAR PUSTAKA
O Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Depkes #I
O Anonim. 2011. Ascorbic Acid. http://en.wikipedia.org. Diakses: 25
November 2011
O Anonim. 2011. Water-soluble Vitamins. Slide presentation.
O Borsook, Henry. 1936. THE OXDATON OF ASCORBC ACD AND TS
REDUCTON N VTRO AND N VVO. Journal.