Anda di halaman 1dari 11

Pergumulan dengan homoseksualitas dapat menusuk jauh ke dalam jiwa dan lubuk hati orang

Kristen. Hal ini bisa mempengaruhi pandangan orang tentang dirinya dan Tuhan yang
nantinya menentukan seluruh jalan hidupnya. Oleh karena dampaknya yang jangkauannya
panjang ini, maka kita perlu mengetahui pandangan Alkitab mengenai homoseksualitas.
Pandangan yang jelas dan akademis sangatlah penting, karena penemuan-penemuan ilmiah bisa
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap orang Kristen dalam pergumulan
homoseksualitasnya. Yang saya maksudkan dengan ini adalah bahwa banyak orang Kristen
yang memiliki keinginan homoseksualitas yang tidak sadar menginginkannya. Kecenderungan
homoseks tampaknya dimulai pada umur yang sangat muda yang kemudian ditambahi oleh
pengaruh-pengaruh lainnya dalam hidupnya di kemudian hari, bisa membuat seseorang untuk
condong mencari penyatuan emosi dan seks dengan sesama jenis. Tujuan daripada makalah ini
bukanlah untuk membuat penghakiman namun bertujuan untuk melihat bagaimana orang bisa
membuat pilihan-pilihan yang bertanggung jawab berdasarkan adanya keinginan-keinginan ini.
Untuk itu kita perlu mengetahui pandangan Alkitabiah mengenai hal ini..

Ini tidak semudah seperti kedengarannya. Buku-buku dan artikel-artikel yang telah ditulis
mengenai pandangan Alkitabiah tentang homoseksualitas memberikan pandangan yang
beragam. Ada berbagai ayat-ayat yang relevan yang bisa dilihat dari berbagai sudut, tergantung
dari kacamata yang dipergunakan untuk melihatnya. Seorang penulis Ieminis berpendapat
bahwa homoseksualitas merupakan minoritas yang tertekan yang harus dibebaskan untuk
menjelajah keinginan-keinginan mereka, penulis yang lain membela homoseksualitas dengan
menekankan bahwa beberapa ayat Alkitab dipengaruhi budaya dan tidak relevan untuk masa
kini. Penulis yang lainnya melihat adanya penyatuan homoseksualitas antara Jonatan dan Daud,
juga antara Rut dan Naomi, merupakan pandangan yang sangat kontras dengan penulis lainnya
yang memiliki pandangan yang keras dan menakutkan tentang homoseksualitas. Untuk
menghindari pandangan yang berlebihan, kita harus mulai dengan pandangan yang se-objektiI
mungkin dan kesediaan untuk menggali Alkitab secara lebih mendalam. Konteks budaya,
bahasa asli yang dipergunakan dan arti logis yang dimaksud oleh penulis semuanya merupakan
pertimbangan yang akan menerangi kebenaran pandangan Alkitab mengenai homoseksualitas.

Kita bisa menemukan rentangan benang merah yang melandasi Alkitab dan menghubungkannya
dengan ayat-ayat yang relevan dengan homoseksualitas. Benang merah ini sejajar dengan tema
Alkitab yang lebih luas mengenai penciptaan, kejatuhan dan penebusan. Dimulai dengan
Kejadian 1 dan 2, kita bisa menemukan rancangan mula-mula Tuhan laki-laki sebagai laki-laki
dan perempuan sebagai perempuan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa mengakibatkan
penyimpangan daripada rancangan Tuhan untuk seksualitas manusia Kejadian 3 dan 19 dan
peraturan-peraturan dibuat sebagai tanggapan terhadap penyimpangan ini, sebagaimana
dicerminkan dalam hukum Taurat, perintah Allah yang ke sepuluh dan kode etika Imamat.
Akhirnya, dalam Perjanjian Baru, peraturan-peraturan tampak sebagai sarana rekonsiliasi
Roma 1:1, Korintus 6:9, 1 Timotius 1:10 yang mengarahkan manusia yang berdosa kepada
Kristus.

Landasan untuk mengawali adalah kehendak Tuhan untuk seksualitas manusia. Ini didasari
secara kuat oleh hubungan laki-laki dengan perempuan di mana, dengan kerangka kerja adanya
komitmen untuk bersama-sama seumur hidup, membuat kasih seksualitas diperhadapkan pada
sanksi ilahi. Sangatlah penting bagi kita untuk memahami kehendak Tuhan, karena kita harus
senantiasa melandasi pemahaman kita di dalam terang rancangan Tuhan atas penciptaan untuk
dapat menelaah variasi-variasi seperti homoseksualitas.1 Pertama, beberapa inIormasi yang
melatar belakangi, Kejadian 1 menjelaskan adanya Pencipta yang memerintah dunia menurut
rencana-Nya yang sempurna, yang memisahkan terang dari kegelapan, langit dari bumi, air dari
samudera menjadi daratan. Oleh Firman-Nya, bumi dipenuhi tetumbuhan dan binatang; laut
dipenuhi ikan. Ayat 26 menguraikan ciptaan-Nya yang paling utama penciptaan manusia.
Tidak seperti ciptaan-ciptaan Tuhan yang sebelumnya, manusia dibuat menurut rupa dan
kesamaan-Nya, mengikuti Tuhan dalam hakiki-Nya.

Ayat 27 menguraikan citra ini. Penciptaan manusia tidaklah semata-mata laki-laki atau semata-
mata perempuan, tetapi kedua-duanya laki-laki dan perempuan. Citra Tuhan, lalu, diwakili oleh
seorang manusia laki-laki dan seorang perempuan. Bersama-sama berdua, keduanya
mencerminkan rancangan awal Tuhan. Don Williams menulis:

Bentuk primitiI daripada manusia adalah hubungan manusia sebagai laki-laki dan perempuan,
dan hanya dalam komunitas bersamalah citra Tuhan dapat dilihat di bumi.2

Menjadi manusia adalah untuk memiliki hubungan dengan orang yang berlainan jenis.
Penyatuan yang diperlengkapi secara ilahi ini menjadi terpisah dalam ayat 27 dari tambahan
berkat penciptaan-baru (ayat 28). Jadi Tuhan menciptakan manusia sebagai laki-laki dan
perempuan karena keberadaan-Nya paling nyata terlihat dalam bentuk dwi ini, kebenaran yang
hakiki dari rancangan penciptaan-baru mereka. 3

Bab 2:18-25 memberikan beberapa alsaan penting untuk penyatuan dan memahkotainya dengan
merayakan kasih seksual dalam konteks persetubuhan, persatuan heteroseksual. Ayat 18
menyatakan rancangan Tuhan untuk mengurangi kesepian yang dirasakan manusia dengan
memberikannya mitra-penolong. Tidak ada binatang yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan
penciptaan Tuhan yang paling rumit ini; seseorang yang seperti dia namun berbeda, sangat
dibutuhkan untuk memenuhi rasa kesepiannya. Barth mengamati:

Apabila ada mahluk yang seperti dia, yang merupakan pengulangan, pelipat gandaan secara
angka, maka kesendiriannya tidak akan bisa berkurang karena mahluk seperti itu tidak akan
dapat menghadapinya seperti seorang manusia yang lain tetapi ia akan melihat dirinya sendiri di
dalamnya.4

Begitupun, perempuan diambil dari laki-laki hanya untuk dikembalikan lagi kepadanya untuk
melengkapi satu sama lain secara sepadan. Adam berkata tentang Hawa daging daripada
dagingku` (ayat 23). Penyatuan persetubuhan ini diuraikan lebih lanjut dalam ayat 24 sebagai
tanda penyatuan seumur hidup seorang laki-laki dengan seorang perempuan, yang dikenal
sebagai perkawinan.

Yang mendasari kebutuah emosional laki-laki ini adalah seksual, dan kebutuhan ini terpenuhi
melalui perkawinan. Intimasi seksual akan menyatukan kedua-duanya bersama; merekat
komitmen satu terhadap yang lain di hadapan Tuhan. Ini dicerminkan secara indah dalam
tindakan seksual itu sendiri, lambang dinamis dari dua tubuh menjadi satu. Satu orang diambil
dari bagian tubuh orang yang lainnya dan dikembalikan lagi kepadanya dalam perayaan seksual
yang merupakan pemenuhan Tuhan atas kebutuhan kedua orang tersebut. Penyatuan yang
demikian di antara dua anggota yang sesama jenis adalah salah karena menyalahi citra ilahi
Pencipta manusia sebagai laki-laki dan perempuan, sebagaimana juga pemenuhan
seksual/emosional yang spesiIik yang Tuhan telah buat untuk manusia. Willan menulis,
'Masyarakat dengan satu jenis seks tidak mencerminkan kehendak Tuhan untuk kita maupun
pribadi-Nya di dunia. 5

Kejadian bab 3 menguraikan kejatuhan manusia ke dalam dosa dan akibatnya yang buruk
terhadap kehendak Tuhan untuk suatu hubungan seksual. Keteraturan dirubah menjadi bencana,
perlindungan ke pemisahan sewaktu ras manusia yang telah diciptakan menurut citra Allah
memilih untuk meninggikan dirinya ke status seperti Tuhan (ayat 5). Bila di bab 2:23 Adam dan
Hawa tidak merasa malu dengan ketelanjangan mereka, maka di bab 3:7 ditunjukkan bahwa
mereka menjadi sadar akan keberadaan mereka yang telanjang dan menjadi malu. 'Mereka jadi
tahu bahwa mereka telanjang dan mencoba untuk menutupi diri mereka seperti hendak
menyembunyikan noda dari ketidak-taatan mereka.

Kepolosan awal mereka mengenai penyatuan persetubuhan menjadi hilang dan mungkin diganti
oleh kesombongan tertentu atau keragu-raguan tentang diri sendiri, mungkin juga dengan naIsu
yang tajam dengan ketamakannya dan rasa memilikinya yang tinggi. Seksualitas mereka
berantakan, seperti ditulis Milton dalam Paradise Lost (Surga yang Hilang), di mana Adam
berkata kepada Hawa:

Tak pernah kurasakan seperti ini kecantikanmu
Yang membakar syahwatku dengan naIsu
Untuk menikmati drimu, semakin cantik sekarang daripada sebelumnya
Hasil daripada pohon kebajikan ini

Demikianlah kata dia dan tanpa tatapan atau usaha
Bara cinta, yang dipahami dengan baik
Oleh Hawa, yang Matanya menyulut Api yang membara. 6

NaIsu merasuki mereka berdua dan mengawali sejarah sikap seksual yang akan membara di luar
tungku api perkawinan. Kita bisa menyimpulkan, kemudian, bahwa setiap tindakan seksual yang
dilakukan di luar persetubuhan, penyatuan heteroseksual adalah bertentangan dengan kehendak
Tuhan yang ilahi dan menunjukkan kejatuhan manusia.

Contoh Alkitab yang pertama mengenai sikap homoseksual terjadi di Kejadian 19. KeIasikan
penduduk Sodom mendorong Tuhan untuk menghancurkan kota tersebut. (Pada titik ini, siIat
daripada keIasikan itu tidak diketahui). Tetapi sebelum kehancuran Sodom, Tuhan memanggil
orang-orang yang hidup dalam kebenaran Lot dan keluarganya dengan cara mengirim dua
malaikat untuk memperingatkan mereka akan rencana Tuhan untuk menghancurkan kota itu.
Orang-orang di kota mencari untuk mengetahui para malaikat itu, yang, dalam paras laki-laki,
menarik bagi para lelaki penduduk kota Sodom. Lot berusaha keras untuk menawarkan anak
perempuannya untuk pertukaran; namun para lelaki itu, tidak tertarik, dan melanjutkan kekerasan
mereka dan dibutakan secara ilahi. Keluarga itu meninggalkan kota yang tidak lama kemudian
dihancurkan oleh Tuhan.

Ini memunculkan satu pertanyaan penting, dan semakin penting apakah yang menjadi dosa
Sodom? Hingga tahun 1955, hampir semua penterjemah sepakat bahwa dosa Sodom adalah
naIsu homoseksual dengan kekerasan. Menurut pendeta/penulis Jerry Kirs, ini merupakan
pandangan yang dipegang oleh Luther, Calvin, Barth, Gerhard von Rod, Bruce Metzger, William
Harrison, Paul Jewett, Don Williams dan David Bartlett.7 Melalui pendukung hak-hak para gay
Kristen, Bartlett mempertahankan bahwa 'integritas cerita tersebut menunjukkan apa yang
menjadi isu . yaitu persetubuhan. 8

Jadi siapa yang memperdebatkan hal ini? Pada tahun 1955, Bailey, seorang pendeta Anglikan,
menulis buku berjudul Homoseksualitas dan Tradisi Kristen di Barat dalam usaha untuk
menunjukkan beberapa kesalahan pandangan yang mengatakan bahwa sikap tuan rumah yang
buruk yang menjadi alasan bagi kejatuhan kota Sodom, dengan menekankan bahwa 'ceritanya
sama sekali tidak menyatakan bahwa dosa Sodom adalah permasalahan seksual, apalagi
homoseksual . 9 Sebagai bukti, Bailey menunjukkan bahwa kata kerja di ayat 5 yadha, atau
'untuk mengetahui sebagai berarti untuk mengenal. Ia memastikan berdasarkan ini bahwa
hanya sepuluh dari 943 kata kerja di Perjanjian Lama memiliki makna yang berkonotasi seksual.
Oleh karena itu, ia mengilangkan dosa Sodom dari apapun yang berkaitan dengan seksual dan
menyatakan bahwa para lelaki penduduk kota Sodom menjadi marah kepada Lot, warga
pendatang asing, karena ia gagal untuk menanggapi keinginan tahu mereka mengenai dirinya dan
tamu-tamunya, para malaikat. KeIasikan inilah yang mendorong kehancuran kota ini.
Terjemahan Bailey meluas dan sampai hari ini menjadi perdebatan pendukung-gay yang paling
kuat di kalangan gereja.

Tetapi pertimbangan yang logis menunjuk kesalahan Bailey. Walaupun yadha secara mendasar
berarti untuk mengenal seseorang, namun kata ini bisa juga berarti persetubuhan seksual
sebagaimana halnya di Kejadian 4:1: 'Adam mengenal Hawa ... dan ia mengandung (ayat 7)
dan patut mendapat penghukuman. Bailey juga gagal untuk menjelaskan secara memadai
mengapa Lot menawarkan anak perempuannya sebagai pengorbanan seksual (ayat 8) ke para
lelaki yang dengan siapa ia tidak mau kenal. Jadi jika orang mau memakai makna logis ini untuk
menerangkan yadha dalam terang konteks ini dan memberikan alasan masuk akal bagi
sambungan cerita ini, 'untuk mengenal dalam ayat 5 tidak bisa tidak berarti homoseksual.

Orang bisa mengasumsikan bahwa pertukaran dalam Bab 19 merupakan petunjuk sikap dan
perilaku yang berkelanjutan. Namun adalah salah, untuk tidak melihat Iaktor-Iaktor yang
mendasarinya yang membuat penyimpangan seksual menjadi simbol yang tragis. Dalam
Kejadian 23:14, Jeremiah menunjukkan kepada pendengarnya hal yang mirip dengan orang-
orang Sodom bahwa mereka terus berselingkuh dan berbohong dan tidak mau balik dari
perilakunya yang bejat. Sangat masuk di akal bahwa perselingkuhan di sini berkaitan dengan
kecenderungan homoseksual para lelaki yang kedua-duanya bergerak di luar penyatuan
persetubuhan yang dimaksud. Ezekiel 16:49-50 menunjukkan tiga Iaktor sosial kesombongan
hidup, waktu luang yang berlebih, cukup makanan menpercepat penurunan moral daripada
orang-orang Sodom. Kehidupan santai tertentu bergandengan tangan dengan kesombongan
Sodom dan mungkin mendorong mereka untuk mengikuti hawa naIsu mereka yang bertentangan
dengan pengaturan penciptaan Tuhan. Hawa naIsu ini dinyatakan oleh para lelaki dengan
'memberikan diri mereka bagi percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar,
menurut Judas 1:6 dan 7,

Tetapi apakah relevansinya bagi orang-orang homoseksual pada masa kini? Tentunya, para gay
tidak akan mempertimbangkan hawa naIsu yang agresiI sebagai pilihan yang patut, sama seperti
para heteroseksual. Tetapi ceritanya berlanjut untuk mencerminkan seksualitas manusia yang
telah melampaui batas kewajaran. Orang-orang Sodom, apakah mereka bertindak berdasarkan
naIsu lama yang terpendam ataukah berdasarkan naIsu yang spontan yang sadis, telah secara
sadar menentang rancangan Allah bagi seksualitas manusia dalam konteks penyatuan
persetubuhan yang heteroseksual. Jadi, penempatan keinginan manusia di atas keinginan sang
Pencipta telah melahirkan dosa dan dampaknya dapat kita lihat sekarang ini.

Keinginan manusia yang demikian dilarang dalam perintah yang ke sepuluh: 'Jangan berzinah
(keluaran 20:14). Secara tradisi diberlakukan bagi setiap penyatuan persetubuhan seksual di luar
perkawinan, 10 perintah ini meliputi berbagai kegiatan seksual, baik itu heteroseksual,
homoseksual atau variasi macam apapun dari penyatuan persetubuhan. Peraturan-peraturan
Imamat menguraikan berbagai variasi ini. Pasal 18:20 berisi daItar beberapa penyatuan
persetubuhan seksual yang dilarang oleh Tuhan, termasuk tindakan homoseksualitas dalam 18:22
dan 20:13. Tetapi sebelum masuk lebih dalam pada reIerensi-reIerensi khusus kita harus
meninjau konteks yang lebih luas daripada pasal-pasal ini.

Pasal 18 dimulai dengan pernyataan, 'Akulah Tuhan Allahmu (ayat 2). Ia memerintahkan umat
Israel untuk mengikuti cara-cara-Nya daripada mengikuti cara-cara hidup orang Mesir dan
Kanaan, dengan menyiratkan adanya ancaman berupa pencemaran dari pengaruh-pengaruh
luar. Kepeduliannya semakin meningkat dalam 19:2: 'Hendaklah engkau kudus sebab Aku
kudus (ayat 2). Ia memerintahkan umat Israel untuk mengikuti jalan-jalan-Nya Larangan yang
mengelilingi pernyataan inti inilah yang membedakan bangsa Israel dari bangsa-bangsa lain.
Perintah untuk menjaga diri agar tidak tercemar oleh praktek-praktek agamawi dan moralitas
daripada bangsa-bangsa lain mencerminkan keberadaan Tuhan yang kudus. Letha Scanzoni
menulis dalam bukunya yang berpengaruh Apakah Tetangga Saya Homoseks?, ada tiga alasan
adanya kode etika kekudusan umat Israel, yakni:
1. Pemisahan dari adat-istiadat bangsa lain.
2. Menghindari perzinahan.
3. Kenajisan upacara11

Ayat 6-18 dari pasal 18 melarang untuk menyingkapkan auratnya yang memalukan di antara
orang-orang yang memiliki pertalian darah, yang bisa menjurus ke persetubuhan. Pertimbangan
di sini adalah bahwa laki-laki dan perempuan telah dipersatukan menjadi satu daging12 , dan
ketelanjangan mereka hanya boleh disingkapkan kepada pasangan mereka saja, seperti
dinyatakan dalam ayat 8. Penerapan aturan ini selaras dengan kehendak Tuhan dan memisahkan
umat Israel dari pencemaran moralitas daripada bangsa-bangsa lain. Untuk kekudusan upacara,
ayat 19 melarang wanita untuk melakukan persetubuhan saat sedang mengalami menstruasi.
Imamat 15:18-28 menerangkan mengapa darah menstruasi wanita dianggap sebagai kenajisan
yang dapat mencemari bait Allah. Oleh karena itu pertimbangan-pertimbangan khusus harus
dilakukan selama masa menstruasi dalam bulan yang bersangkutan. Menurut salah seorang
komentator, kekudusan dicerminkan dalam kesempurnaan tubuh, yang pada akhirnya, usaha
umat Israel untuk menjaga 'integritas, persatuan dan kemurnian daripada tubuh jasmaninya
berkaitan dengan 'batas-batas ancaman terhadap tubuh politik bangsa Israel (lihat catatan kaki
14, hal. 84).

Ayat 20 menjelaskan perzinahan sebagai hal yang najis karena mencemari penyatuan
persetubuhan yang diurapi oleh Tuhan. Perzinahan yang didasari ritual-ritual yang berapi-api
dan melibatkan anak-anak juga dilarang dalam ayat 21. Seorang komentator meyakini bahwa
ayat ini berada ditengah-tengah rangkaian tindakan-tindakan seksual tidak senonoh di mana
'mungkin anak-anak dipersembahkan di kuil untuk dijadikan pelacur lak-laki dan perempuan di
kuil.13 Ayat 21 membahas mengenai kegiatan homoseksual. Kegiatan homoseksual dilihat
sebagai suatu 'kekejian toebah kata Ibrani yang menyatakan sesuatu yang sangat
menjijikkan bagi Tuhan dan tidak selaras dengan kepribadian-Nya.14 Dengan mengacu pada tiga
alasan Scanzoni untuk kode etika kekudusan bangsa Israel, kita bisa menentukan bagaimana
perilaku homoseksual bisa bertentangan dengan kode etika ini.

Pertama, kegiatan semacam ini merupakan praktek yang umum dilakukan di daerah seperti
Mesopotamia.15 Kedua, banyak yang berpendapat bahwa perilaku homoseksual berkaitan
dengan perselingkuhan rohani, seperti disiratkan oleh pelacuran anak-anak di ayat 21 dan
beberapa reIerensi khusus dalam 1 Raja-Raja 14:24; 15:12 dan 22:46 mengecam keberadaan
pelacuran laki-laki di sekte-sekte Israel. Tetapi Bailey, secara mengejutkan dengan cara yang
orthodoks, memperdebatkan bahwa larangan dalam ayat 22 jangkauannya melampaui perzinahan
seksual daripada bangsa-bangsa kaIir. Ia menulis:

Perilaku |homoseksual| dilihat sebagai 'kekejian ... karena merupakan kebalikan daripada apa
yang alami, perilaku ini menunjukkan perzinahan rohani yang secara mendasar merupakan
tindakan makar yang mendasar daripada keteraturan yang sejati.16

Dengan demikian, perilaku homoseksual menunjukkan praktek-praktek sosial dan agamawi
daripada bangsa-bangsa kaIir yang Tuhan ingin pisahkan dari bangsa Israel. Namun, dalam
tingkatan yang lebih mendalam, homoseksualitas bertentangan dengan landasan kerangka kerja
rancangan penciptaan Tuhan, sehingga mendapat label sebagai kekejian.

Kategori Scanzoni yang ketiga ketidaktahiran/kenajisan upacara/ritus juga bisa mengacu
pada perilaku homoseksual. Ayat-ayat yang berdekatan dengan ayat 22 menunjukkan kegiatan-
kegiatan yang merupakan ritus yang najis, seperti melakukan persetubuhan selama masa
menstruasi. Seorang pengarang berpendapat bahwa kata najis berlaku untuk ketidak tahiran ritus
daripada perilaku homoseksual dan menyamakannya seperti halnya memakan daging babi.17
Ayat 23 menyimpulkan seluruh gambaran ini dengan melarang persetubuhan dengan binatang
hewan dan diikuti oleh peringatan Allah bagi bangsa Israel untuk tidak mencemari dirinya
dengan melakukan praktek-praktek yang najis.

Pasal 19 berisi berbagai aturan dan hukuman atas perilaku tidak bermoral dalam pasal 20.
Homoseksualitas dilihat di ayat 13 sebagai kenajisan yang patut dihukum dengan hukuman mati.
Selanjutnya ayat 13 merupakan peringatan untuk tidak melakukan incest (persetubuhan dengan
saudara sekandung atau orangtua kandung) dan poligami. Konteks yang lebih luas meliputi
perzinahan (ayat 10, 20-21), persetubuhan dengan binatang hewan (ayat 16), dan menyingkapkan
aurat (ayat 17,19) dan kegiatan seksual selama masa menstruasi (ayat 18). Bab ini diakhiri oleh
Tuhan dengan perintah bagi umat-Nya untuk menjadi kudus, agar berbeda dari bangsa yang lain.
Hal ini berlaku pada perilaku seksual yang dilakukan di luar penyatuan persetubuhan
heteroseksual seperti diuraikan dalam Kejadian 2:24.

Tetapi sampai di mana peraturan-peraturan Imamat ini masih berlaku bagi orang-orang Kristen
pada masa sekarang? Letha Scanzoni menanyakan hal berikut:

Jika Etika Moral Kekudusan bangsa Israel diperhadapkan dengan homoseksual pada abad ke 20,
harus diperbandingkan sama halnya dengan memakan daging setengah matang, mengenakan
bahan kain campuran dan melakukan persetubuhan seksual selama masa menstruasi.18

Dengan kata lain, mengapa perhatian hanya diberikan kepada aturan moral dan tidak kepada
aturan-aturan lainnya yang bersiIat diet makan dan ritual? Jawabannya ada pada Alkitab itu
sendiri. Jerry Kirk menunjuk ayat-ayat reIerensi dalam Perjanjian Baru yang memerintahkan
orang-orang Kristen untuk mengesampingkan aturan-aturan tentang diet makan Kisah Rasul-
Rasul 10:9-16; Roma 14:1-4, 14:13-21 seperti halnya upacara Galatia 3:1-14; 5:1-12; Ibrani
8-10.19 Sebaliknya aturan-aturan moral selanjutnya tetap ditegakkan di dalam Perjanjian Baru,
seperti dapat dilhat pada acuan bebas Rasul Paulus mengenai hukum Taurat dalam 1Timotius
1:9-10 (ini akan diuraikan secara lebih mendalam nanti) yang juga memberikan reIerensi
terhadap perilaku homoseksual. Perilaku ini dinyatakan bertentangan dengan perintah ke tujuh
seperti halnya persetubuhan dengan binatang hewan, persetubuhan dengan anggota keluarga
pertalian darah (saudara sekandung atau orangtua) dan perselingkuhan yang semuanya dilakukan
di luar perkawinan yang kudus. Tujuan daripada peraturan moral ini pada hari ini adalah untuk
mengarahkan semua yang menentang hal ini kepada Kristus, seperti akan dijelaskan kemudian.

Masalah homoseksual diutarakan dan dibahas secara sangat jelas di dalam Perjanjian Baru di
Roma 1. Di sini Rasul Paulus menjelaskan beberapa Iaktor yang mengarah pada kegiatan
homoseksual. Pandangan yang sesat mengenai Tuhan membawa ke suatu kejatuhan moral yang
dimaniIestasikan dalam bentuk meninggikan diri lebih tinggi daripada sang Pencipta. Ketika
manusia terpisah dari Tuhan dan dari aturan-Nya yang alami, ia lantas dibebaskan untuk
mengumbar naIsunya, seperti keinginan homoseksualnya. Rasul Paulus sepertinya tidak
membahas mengenai satu segi aspek masyarakat yang Iasik secara berlebihan; namun, ia
memberikan suatu pandangan umum dan melihat pergumulan manusia dengan dosa secara
umum dan beberapa gejala-gejala dosa manusia. Berdasarkan pendapat Rasul Paulus bahwa
manusia memiliki pengenalan akan Tuhan melalui ciptaan-Nya (1:20) dan bahwa ia sebaliknya
mencari pemuasan akan kebutuhannya untuk mendapatkan kasih melalui cara yang tidak alami
atau dalam batas kewajaran (1:26, 27), orang bisa saja mengasumsikan secara aman bahwa
konteks Rasul Paulus adalah mengenai penciptaan.20 Dibarengi dengan Iaktor penyembahan
berhala sama seperti yang ditemukan pada Imamat 18, Roma 1 merupakan penghubung yang
berkelanjutan dalam pelarangan Alkitabiah atas perilaku homoseksual.

Ayat 16 dan 17 pada Roma 1 menjelaskan Injil sebagai kekuatan dan kebenaran Tuhan yang
disingkapkan kepada orang-orang yang mempercayainya, baik itu orang Yahudi maupun bukan
Yahudi. Sangat kontras dengan kebenaran Injil adalah bahwa manusia tidak berada di dalam
kebenaran (ayat 18). Ini tampaknya ditujukan kepada manusia secara umum, seperti orang
bukan Yahudi, yang sepertinya memiliki kebenaran namun menekannya. Kenyataannya adalah
manusia telah memiliki kebenaran namun karena terus menerus bertindak sesat sehingga
menimbulkan amarah Tuhan.

Tetapi apabila orang-orang ini bukan orang Yahudi, bagaimana mereka bisa memegang
kebenaran? Dalam ayat 19 dan 20, Rasul Paulus menunjuk pada karya nyata Tuhan di dalam
ciptaan-Nya. Melalui hasil karya tangan-Nya (Mazmur 19:1), Tuhan telah menyingkapkan
kepada manusia kenyataan akan diri-Nya dan keteraturan semesta. Salah satu aspek yang
relevan mengenai penciptaan adalah pembuatan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Suatu
keagungan dan keharmonisan tampak dalam penciptaan yang memberikan manusia suatu
pengenalan akan Tuhan yang kepada-Nya ia harus bertanggung jawab; seperti ditulis oleh Rasul
Paulus, 'manusia tidak memiliki alasan apapun (ayat 21).

Ayat 21-23 dan 25 menjelaskan spiral kejatuhan yang diawali oleh ketidak benaran mereka.
Walaupun mengenal Tuhan, mereka gagal untuk memuliakan-Nya sebagai Tuhan dan untuk
bersyukur kepada-Nya. Kesalahan dan kebingungan timbul, seperti untuk memisahkan merka
lebih lanjut dari Tuhan dan dengan demikian mengikat mereka pada pemikiran-pemikiran yang
menyimpang tentang Tuhan. Hikmat mereka menjadi kebodohan (ayat 22), seperti dinyatakan
dalam pembuatan berhala-berhala menurut citra manusia dan binatang (ayat 23). Ayat 25
menyatakan bagaimana kesombongan dilepaskan melalui penyembahan berhala ini. Kebenaran
Tuhan, yang secara alami tersirat, telah dikoyakkan oleh suatu mahluk yang merupakan usaha
yang salah untuk meninggikan dirinya di atas sang Pencipta. Manusia mengganti Tuhan dengan
mahluk lain sebagai sosok untuk dilayani dan disembah; sebagai akibatnya, keteraturan moral
dilecehkan oleh ketidak benaran manusia.

Berbagai bentuk ketidak teraturan moral ini dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya. Akibat
penolakan mereka untuk mengakui-Nya, Tuhan melepaskan mereka, atau meninggalkan mereka
pada hawa naIsu hati mereka. Hawa naIsu ini membawa ketidak murnian atau ketidak moralan
dalam wujud orang-orang memperlakukan tubuh mereka secara tidak senonoh. Rasul Paulus
menunjuk pada hawa naIsu yang ada dalam diri mereka, dengan asumsi bahwa perilaku
homoseksual diawali oleh hawa naIsu homoseksual. Tindakan untuk memenuhi hawa naIsu
inilah yang melahirkan dosa, sebagaiman ditekankan oleh Yakobus 1:14 dan 15. Jadi Rasul
Paulus memasukkan pertimbangan bahwa orang-orang ini mungkin telah memiliki
kecenderungan homoseksual sebelumnya. Apa yang dilakukan seseorang dengan
kecenderungannya inilah yang menjadi permasalahan utama. Namun, dihadapkan pada hati
yang keras, tindakan Tuhan adalah dengan melepaskan mereka dalam berbagai hawa naIsu yang
berakhir dengan perilaku yang bebas dan tidak bermoral.

Ayat 26-32 menyatakan para wanita menukar kegunaannya yang alami dengan kegunaan yang
tidak alami. Penggunaan atau Iungsi ini, menurut Kamus Perjanjian Baru bahasa Yunani,21
mengacu pada persetubuhan heteroseksual. Dengan menyangkal hal ini, para wanita dilepas
untuk melakukan kegiatan lesbian. Dan sama halnya, para pria meninggalkan wanita dan
melakukan tindakan homoseksual yang memalukan. Penghukumannya, sekali lagi, adalah
kebebasan untuk menjelajah kegiatan seperti ini dan akhirnya terperangkap di dalam hawa naIsu
mereka. Ayat-ayat berikutnya menjelaskan daItar perilaku lain dan perbuatan-perbuatan yang
menjadi ciri-ciri daripada pemisahan diri secara sadar dari Tuhan.

Banyak teologiawan yang berpihak pada gay mengatakan bahwa contoh daripada laki-laki dan
perempuan menukar kegunaan alami dengan yang tidak alami hanya berlaku untuk yang
heteroseksual (seperti Scanzoni, Balir, Boswell, Bailey). Dengan kata lain, untuk homoseks
yang murni, tindakan ini adalah alami. Tetapi landasan acuan pemikiran Rasul Paulus
menjangkau lebih luas daripada pernyataan tersebut; ia mengkaitkan hal ini dengan keteraturan
penciptaan Tuhan yang alami. Ia berpendapat bahwa semua orang memiliki pengetahuan akan
keteraturan ini dan namun dengan tindakan mereka yang meninggikan dirinya dan hawa naIsu
mereka di atas Tuhan, mereka telah menolak keteraturan ini. David Fields menulis, 'Hubungan
yang alami mengacu pada laki-laki dan perempuan sebagaimana diciptakan oleh Tuhan...Pada
saat ditempatkan dalam konteks penciptaan, semua hubungan homoseksual menjadi tidak
alami.22 Lebih lanjut, nyata dalam ayat 24 bahwa Rasul Paulus sadar akan adanya naIsu-naIsu
homoseksual. Perdebatannya dengan teologiawan yang berpihak pada gay mungkin adalah
walaupun sepertinya alami, namun naIsu ini masih diarahkan di luar rancangan Tuhan dan
dengan demikian berakibat dosa bila dilakukan.

Perdebatan kedua yang penting terhadap pemahaman yang lebih tradisional dari Roma 1
berpegang pada bahwa perilaku ini hanya berlaku pada penyembah berhala dan tidak pada orang
Kristen. Namun bukankah orang Kristen juga memiliki kecenderungan untuk melayani naIsu
manusia daripada kehendak Tuhan. Orang Kristen yang secara sadar menyerah secara sadar
kepada hawa naIsu homoseksualitasnya sepertinya juga bersalah menerapkan bentuk
penyembahan berhala di mana ia menolak aturan moral Tuhan untuk memenuhi hawa naIsunya.
Ini disinggung dalam Imamat pasal 18 yang melarang perilaku homoseksual untuk (antara lain)
yang dihubungkan dengan upacara-upacara keagamaan di dalam penyembahan berhala. Seperti
telah disinggung sebelumnya, kegiatan seperti ini merupakan wujud penyembahan berhala secara
moral dalam hakikinya yang sejati karena bertentangan dengan rencana penciptaan Tuhan.
Richard Lovelace menulis:

Meskipun dalam budaya Kristen di mana Tuhan tidak disembah di dalam Roh dan kebenaran,
kecenderungan di dalam diri manusia untuk berdosa dan pengungkapannya keluar bisa dengan
mudah berkembang. Homoseksualitas orang --- adalah produk daripada tatanan sosial yang telah
rusak dalam masyarakat yang menyembah berhala.23

ReIerensi Alkitab yang terakhir tentang homoseksualitas ada di 1 Korintus 6:9 dan 1 Timotius
1:10. Yang terakhir ada di tengah-tengah pembahasan hukum Taurat secara bebas sebagai usaha
Rasul Paulus untuk menunjuk Iungsi mendasar daripada hukum tersebut. Ia memulai di ayat 8:
'Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan. Ia melanjutkan dengan bahwa
peraturan diterapkan ke orang-orang yang tak mengenal peraturan untuk menerangi dosa mereka
dan mengarahkan mereka ke kebenaran. Rasul Paulus kemudian membuat daItar beberapa
bentuk pelanggaran hukum pembunuh, penculik, orang durhaka dan 'segala sesuatu yang
bertentangan dengan pengajaran yang benar (1 Timotius 1:10) yang meliputi dua reIerensi
yang berlawanan dengan perintah ke tujuh, orang Iasik dan homoseksual. Kata Yunani untuk
homoseksual adalah arsenokoitai. Apabila diterjemahkan secara langsung, kata tersebut berarti
laki-laki arsen dan persetubuhan seksual koitai (koitus) berasal dari reIerensi aslinya yang
mengacu pada ranjang perkawinan. Jadi arsenokotiai mengacu pada para lelaki yang
berhubungan persetubuhan seksual bersama. Banyak orang yang memperdebatkan bahwa ini
hanya berlaku bagi pelacur laki-laki, tetapi tidak dapat memberikan bukti yang cukup kuat untuk
mendukung pendapatnya ini.24 Berdasarkan teks, kita bisa menyimpulkan bahwa Rasul Paulus
mendeIinisikan persetubuhan homoseksual, dengan jelas, sebagai pelanggaran terhadap hukum
Tuhan.

Namun bagaimana pandangan ini bisa selaras dengan kotbah Rasul Paulus mengenai kasih
karunia? Bagi orang yang bergumul dengan homoseksualitas, hukum seperti itu lebih tampak
sebagai beban daripada memberikan pengharapan. Kita harus mengikuti pimpinan Rasul Paulus
dalam 1 Timotius. Manusia telah menyimpang dari rancangan Tuhan yang sebenarnya dalam
berbagai cara: hukum berbalik menyingkapkan kesalahannya, maksudnya, namun, bukan untuk
menghakimi tetapi untuk menunjuk manusia ke arah sumber pengampunan dan pembaharuan
kekuatan. Sumber ini adalah kasih karunia yang diterima melalui iman kepada Kristus. Rasul
Paulus menulis dalam Galatia 3:24: 'Hukum telah menjadi pengajar kita yang memimpin kita ke
Kristus, supaya kita bisa dibenarkan oleh iman.

Pembebasan dari jeratan hukum dirayakan dalam 1 Korintus 6:9-11. Rasul Paulus memulai
dengan menyinggung berbagai perilaku yang, jika tidak ada pertobatan, mengeluarkan orang dari
hak mewarisi kerajaan Allah. Dua kata berlaku dalam studi kita arsenokoitai (sudah dilihat
dalam 1 Timotius) dan malakoi. Malakoi berasal dari kata siIat bahasa Yunani yang berarti halus
dan pemenuhan kepuasan diri sendiri. Sebagai kata benda, kata ini berlaku untuk 'pria dan anak
laki-laki yang membiarkan dirinya disalahgunakan sebagai homoseksual.25 Lovelace
mengatakan bahwa perbedaannya adalah bahwa malakoi mengacu pada pasangan yang pasiI
yang dipergunakan di dalam hubungan homoseksual sedangkan arsenokoitai mengacu pada
pasangan yang lebih aktiI. Apakah ini meliputi pelacuran laki-laki atau hubungan homoseksual
yang saling mengasihi, hal ini tidak relevan; Rasul Paulus menunjuk kepada kesalahan perilaku
homoseksual secara umum.

Ia menyimpulkan dalam ayat 11 bahwa 'begitulah keadaan beberapa orang di antaramu.
Banyak di antara anggota jemaat di Korintus yang telah dibentuk dan disimpangkan oleh budaya
seksual yang tidak bermoral. Tetapi Rasul Paulus memandangnya sebagai bentuk masa lampau;
yang penting di masa sekarang adalah pembasuhan Kristus dan karya pembaharuan yang telah Ia
mulai di dalam hidup mereka. Jelas bahwa tantangannya yang halus untuk bertobat
bergandengan tangan dengan kasih Kristus, bahwa dengan berpaling ke orang tersebut
memungkinkan orang tersebut menjadi sumber dukungan dan pemulihan yang lebih dimensional
(saya akan senang untuk membahasnya lebih lanjut tetapi hal ini akan memerlukan tambahan
lembar kertas).

Alkitab, lalu, tidak berdiam diri atau tidak mengambang dalam reIerensi terhadap
homoseksualitas. Rencana penciptaan Tuhan untuk seksualitas manusia membentuk standar
untuk melihat penyimpangan yang kelihatan yang merupakan akibat dari kejatuhan manusia ke
dalam dosa. Para lelaki di Sodom mengungkapkan kejatuhan dalam wujud keinginan
homoseksual; perintah ke sepuluh daripada hukum Taurat dan peraturan Imamat menanggapi
perilaku tersebut dengan melarangnya. Perjanjian Baru menyatakan perilaku homoseksual
adalah tidak alami dan berbentuk penyembahan berhala (Roma 1), sebagai dua reIerensi khusus
untuk menunjuk kesalahannya. Tetapi ini hanyalah permulaan. Ayat-ayat ini mendorong kaum
homoseks untuk berjalan diperbaharui dengan Kristus, yang akan membebaskannya untuk
menjelajah rencana sang Pencipta.