Anda di halaman 1dari 9

KERANGKA ACUAN KERJA MASTER PLAN PENGENTASAN KEMISKINAN KOTA TANJUNGPINANG

LATAR BALAKANG Kemiskinan pada dasarnya merupakan indikator klasik yang hingga saat ini menjadi momok bagi negara dunia ketiga. Millenium Development Goals (MDGs) yang seluruh dideklarasikan negara yang oleh PBB pada anggota tahun PBB 2000 dapat mengharapkan menjadi

mengurangi jumlah penduduk miskin di masing-masing negara hingga mencapai 50 persen pada tahun 2015. Tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2006 mencapai angka 39,5 persen, lebih tinggi daripada angka kemiskinan tahun 2005 yang mencapai 35,1 persen, yang menyebabkan besaran angka program pengentasan kemiskinan terus meningkat pada anggaran tahun 2007 senilai Rp 51 triliun, yang sebelumnya hanya senilai Rp 42 triliun pada anggaran tahun 2006 (Priyono, 2007). Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tanjungpinang terhadap rumah tangga miskin (RTM) di Kota Tanjungpinang pada akhir 2008 menunjukkan penurunan dibandingkan 2005, dari 6376 RTM menjadi 5869 RTM. Sementara jumlah penduduk di Kota Tanjungpinang mengalami kenaikan dari 168 ribu jiwa menjadi 220 ribu jiwa pada 2008. Hasil pendataan program perlindungan sosial BPS Kota Tanjungpinang 2008 lalu, diketahui sebanyak 3521 dari 6376 Rumah Tangga Sasaran (RTS) masih dalam status yang sama dengan hasil survei 2005 tetap dalam keadaan miskin. Selanjutnya BPS melakukan sweeping untuk mendapatkan RTM. Ditemukan sebanyak 2381 RTM yang baru. Sehingga total RTM di Kota Tanjungpinang sebanyak 5869 RTM. Terdiri dari 1609 RTM di Bukit Bestari, 2315 RTM di Kecamatan Tanjungpinang Timur, 803 RTM di Kecamatan Tanjungpinang Kota dan 1092 RTM di Kecamatan Tanjungpinang Barat, (Sumber : BPS) Rangkaian perubahan kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politik di Indonesia telah membentuk kekhasan karakter kemiskinan di Indonesia. Oleh karena itu, sangatlah penting dipertimbangkan faktor-faktor

penyebab

kemiskinan

sebagai

landasan

awal

dalam

penanganan

permasalahan kemiskinan. Berdasarkan survei SMERU pada tahun 2004, yang digali menurut orang miskin itu sendiri, faktor-faktor penyebab kemiskinan antara lain :

Ketidakberdayaan yaitu kelompok faktor yang berada di luar kendali

masyarakat miskin seperti ketersediaan lapangan kerja, tingkat harga, keamanan, peraturan pemerintah.

Keterkucilan yaitu berkaitan dengan hambatan fisik dan non fisik

dalam mengakses kesempatan meningkatkan kesejahteraan seperti lokasi yang terpencil, buruknya prasarana transportasi, kurangnya akses terhadap pendidikan, kesehatan, irigasi, dan air bersih.

Kekurangan materi yaitu penyebab kemiskinan yang dominan,

seperti tidak memiliki rumah, tanah, modal kerja, dan rendahnya tingkat upah atau panen yang rendah.

Kelemahan fisik yaitu kondisi kesehatan, kemampuan bekerja, Kerentanan yaitu mencerminkan ketidakstabilan atau guncangan

kurang makan dan gizi, masalah sanitasi.

yang dapat menyebabkan turunnya tingkat kesejahteraan, sebagai contoh adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pekerjaan tidak tetap, bencana alam, dan berbagai musibah lainnya.

Sikap atau perilaku yaitu yang merupakan tanggung jawab orang

miskin itu sendiri (namun tidak sepenuhnya), misalnya kurangnya upaya untuk bekerja, malas, tidak bisa mengatur uang, boros, berjudi, dan mabuk. Kesuksesan kepemimpinan sebuah Kota tidak akan lepas dari indikasi tinggi rendahnya tingkat kemiskinan masyarakatnya dan keberhasilan Kepemimpinan kota tersebut untuk mensejahterakan masyarakatnya secara merata. Kemiskinan memberikan dampak negatif ke semua sektor, meningkatkan penganguran, kriminalitas, menjadi pemicu timbulnya bencana social, dan akan menghambat kemajuan suatu daerah. Oleh karena itu diperlukan

suatu kajian yang mendalam yang dapat memberikan gambaran solusi yang aplikatif bagi penanganan atau pengentasannya dalam bentuk Master Plan Penanggulangan Kemiskinan. DASAR HUKUM Selain partisipasi warga, pemenuhan kebutuhan dasar papan adalah salah satu syarat utama kota pro-poor. Sebenarnya, sebagai anggota Habitat International, Indonesia telah meratifikasi klausul rumah sebagai basic need. Konstitusi pun tegas menyatakan, "Negara wajib membantu mengadakan rumah yang layak bagi rakyat Indonesia" (UUD 45, Pasal 48 H). Begitu pula UU No 25/2000 tentang Propenas dan UU Bangunan Gedung 2003 (Pasal 43 Ayat 4) yang mewajibkan pemerintah daerah "memberdayakan masyarakat miskin yang belum memiliki akses rumah." Arahan konstitusi itu bertujuan memberi aksesibilitas rumah bagi rakyat Indonesia, terutama bagi kelompok lemah ekonomi. PENDEKATAN DAN PENGUKURAN KEMISKINAN Hampir semua pendekatan dalam mengkaji kemiskinan masih berporos pada paradigma modernisasi (the modernisation paradigm) yang kajiannya didasari oleh teori-teori pertumbuhan ekonomi, human capital, dan the production-centred model yang berporos pada pendekatan ekonomi neo-klasik ortodox (orthodox neoclassical economics) (Elson, 1997; Suharto, 2001; 2002a;2002b). Sejak ahli ekonomi menemukan pendapatan nasional (GNP) sebagai indikator dalam mengukur tingkat kemakmuran negara pada tahun 1950-an, hingga kini hampir semua ilmu sosial selalu merujuk pada pendekatan tersebut manakala berbicara masalah kemajuan suatu negara. Pengukuran kemiskinan yang berpijak pada perspektif kemiskinan pendapatan (income poverty) yang menggunakan pendapatan sebagai satu-satunya indikator garis kemiskinan juga merupakan bukti dari masih kuatnya dominasi model ekonomi neo-klasik di atas.

Karena indikator GNP dan pendapatan memiliki kelemahan dalam memotret kondisi kemajuan dan kemiskinan suatu entitas sosial, sejak tahun 1970-an telah dikembangkan berbagai pendekatan alternatif. Dintaranya adalah kombinasi garis kemiskinan dan distribusi pendapatan yang dikembangkan Sen (1973); Social Accounting Matrix (SAM) oleh Pyatt dan Round (1977); Physical Quality of Life Index (PQLI) yang dikembangkan Morris (1977) (lihat Suharto, 1998). Pada tahun 1990-an, salah satu lembaga dunia, yakni UNDP, (human

memperkenalkan

pendekatan

pembangunan

manusia

development) dalam mengukur kemajuan dan kemiskinan, seperti Human Development Index (HDI) dan Human Poverty Index (HPI). Pendekatan yang digunakan UNDP relatif lebih komprehensif dan mencakup faktor ekonomi, sosial dan budaya si miskin. Sebagaimana dikaji oleh Suharto (2002a:61-62), pendekatan yang digunakan UNDP berporos pada ide-ide heterodox dari paradigma popular development yang memadukan model kebutuhan dasar (basic needs model) yang dikembangkan oleh Paul Streeten dan konsep kapabilitas (capability) yang dikembangkan oleh Pemenang Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen. Namun demikian, bila dicermati, baik pendekatan modernisasi yang dipelopori oleh para pendahulunya, maupun pendekatan popular development yang digunakan UNDP belakangan ini, keduanya masih melihat kemiskinan sebagai individual poverty dan bukan structural and social poverty. Sistem pengukuran serta indikator yang digunakannya terpusat untuk meneliti kondisi atau keadaan kemiskinan berdasarkan variabel-variabel sosial-ekonomi yang dominan. Kedua perspektif tersebut masih belum menjangkau variabel-variabel yang menunjukkan dinamika kemiskinan. Metodanya masih berfokus pada outcomes dan kurang memperhatikan aspek aktor atau pelaku kemiskinan serta sebab-sebab yang mempengaruhinya. Suharto (2002a) menunjukkan bahwa: Kini, setelah pendekatan-pendekatan di atas dianggap belum memenuhi harapan dalam mengkaji dan menangani kemiskinan, perspektif

kemiskinan yang bersifat multidimensional dan dinamis muncul sebagai satu isu sentral dalam prioritas pembangunan. Munculnya isu ini tidak saja telah melahirkan perubahan pada fokus pengkajian kemiskinan, terutama yang menyangkut kerangka konseptual dan metodologi pengukuran kemiskinan, melainkan pula telah melahirkan tantangan bagi para pembuat kebijakan untuk merekonsktruksi keefektifan programprogram pengentasan kemiskinan. Kesadaran ditemukan akan oleh pentingnya orang yang penanganan bersangkutan kemiskinan semakin lokal yang

berkelanjutan yang menekankan pada penguatan solusi-solusi yang mengemuka. Pendekatan ini lebih memfokuskan pada pengidentifikasian apa yang dimiliki oleh orang miskin ketimbang apa yang tidak dimiliki orang miskin yang menjadi sasaran pengkajian. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang miskin adalah manajer seperangkat asset yang ada diseputar diri dan lingkungannya. Sebagaimana ditunjukkan oleh studi Suharto (2002a:69): Keadaan di atas terutama terjadi pada orang miskin yang hidup di negara yang tidak menerapkan sistem negara kesejahteraan (welfare state) yang dapat melindungi dan menjamin kehidupan dasar warganya terhadap kondisi-kondisi yang memburuk yang tidak mampu ditangani oleh dirinya sendiri. Kelangsungan hidup individu dalam situasi ini seringkali tergantung pada keluarga yang secara bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan pemberian bantuan keuangan, tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak lainnya. PERMASALAHAN Fakta bahwa berbagai bantuan yang diberikan tidak sepenuhnya memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap pengentasan kemiskinan, tidak data dipungkiri lagi. Sudah saatnya disusun kebijakankebijakan dan program-program yang pro poor, yang sudah disiapkan secara terencana, tersinergis dan berkesinambungan.

Mempertimbangkan penanganan

hal

tersebut,

perlu

dilakukan adalah:

reformasi

dalam

kemiskinan,

diantaranya

pertama,

anggaran

kemiskinan yang dianggap sekadar dana yang disisihkan, kini harus diperhitungkan setiap rupiah yang dikeluarkan dengan berkurangnya angka kemiskinan, kedua, urusan penanganan kemiskinan yang senantiasa menjadi urusan pemerintah, kini saatnya menjadi urusan semua pihak (masyarakat, pengusaha, sektor formal dan non-formal, akademisi, LSM), ketiga, kegiatan penanganan yang terkesan berjalan sendiri-sendiri dan terjadinya kesenjangan antar program, serta programprogram yang umumnya bersifat insidental, kini saatnya penanganan lebih terkoordinasi dan berkelanjutan, keempat, anggapan orang miskin sebagai beban negara, kini saatnya orang miskin dianggap sebagai human capital (modal manusia) yang potensial dalam pembangunan ekonomi bangsa, yang perlu diberdayakan. Reformasi paradigma tersebut diharapkan dapat mengubah pola

penanganan kemiskinan yang selama ini banyak mengalami hambatan dan berakhir kegagalan. Pola penanganan kemiskinan yang sistemik dan tidak parsial, menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Dengan pola yang sistemik diharapkan, di komunitas, kegiatan misalnya penanganan swadaya kemiskinan bisa dalam yang didevolusikan program CSR masyarakat perusahaan hanya

mengangkat kesejahteraan tetangganya yang miskin di wilayahnya, atau (Corporate dapat Social Responsibility) tidak jangkauannya diperluas sekadar

pemberdayaan/penanganan kemiskinan secara materil namun juga moril dan kesempatan untuk mengapresiasikan diri masyarakat miskin, yang berada di sekitar wilayahnya. Penanganan kemiskinan sistemik yang dimaksud dalam rangka reformasi penananganan kemiskinan adalah suatu pola terkoordinasi yang melibatkan pihak /stakeholders penanganan kemiskinan (pemerintah, LSM/NGO, masyarakat, pengusaha, akademisi, sektor formal dan non formal, dan lembaga donor), yang bergerak basis dalam data usaha-usaha miskin, penanganan kemiskinan: penyusunan orang

pemenuhan kebutuhan dasarnya (sandang, pangan, papan), kebutuhan pendidikan dan keterampilan usaha, motivasi dan konseling, bimbingan agama, pemberdayaan ekonomi, penyediaan terhadap akses pelayanan kesehatan dan air bersih dan ekonomi. Dimana dalam penanganan kemiskinan tersebut melibatkan aspek sosial, budaya, kelembagaan, ekonomi dan keuangan, kebijakan, dan dukungan wilayah setempat, karena tiap daerah memiliki kekhasan resources based, yang meliputi modal alam, manusia, lingkungan sosial dan budaya masing-masing. Akhirnya, seluruh rangkaian peran stakeholder, unsur-unsur penanganan kemiskinan, dan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam penanganan kemiskinan tersebut, semuanya dapat dijalankan secara berkelanjutan (sustainable). Dan diharapkan, penanganan kemiskinan juga sebagai titik tolak pemerataan pembangunan yang komprehensif di seluruh Indonesia, khususnya Kota Tanjungpinang. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah amanat MDGs terhadap eksistensi program adalah progressive realization: pencapaian secara bertahap, memiliki rencana dan target yang terukur, respect: penghormatan, protect: perlindungan, dan fulfill : pemenuhan hak dasar rakyat fakir dan miskin. TUJUAN STUDI Mendapatkan data dan informasi yang akurat dan menunjukkan fakta yang sebenarnya terjadi saat ini tentang kondisi warga miskin di Kota Tanjungpinang, yang diperoleh secara langsung dari sumber utamanya.
-

Menyusun usulan materi-materi kebijakan yang pro poor Melakukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan dan programMendapatkan gambaran potensi-potensi daerah baik SDM maupun

program yang telah dijalankan sebelumnya. SDA yang dapat dijadikan solusi bagi pengentasan kemiskinan di Kota Tanjungpiang

Menyusun

Master

Plan

Penanggulangan

Kemiskinan

Kota

Tanjungpinang LINGKUP PEKERJAAN Penyusunan Database warga miskin agar memiliki single number rumah sakit, kantor pos (untuk BLT), kantor-kantor identity sebagai akses yang dapat digunakan pada setiap instansi seperti
-

pemerintahan, dll Identifikasi/Pemetaan Kemiskinan berdasarkan kriteria tertentu


Pemetaan kemiskinan berdasarkan lokasi, Pemetaan kemiskinan berdasarkan jenis kemiskinan, Pemetaan kemiskinan berdasarkan kebutuhan, Pemetaan demografi warga miskin Pemetaan kemiskinan berdasarkan mata pencaharian, Pemetaan kemiskinan berdasarkan potensi lokasi sekitar Pemetaan kemiskinan berdasarkan budaya Pemetaan kemiskinan berdasarkan persoalan sosial Pemetaan kemiskinan berdasarkan karakteristik masyarakat

(motivasi, etos kerja, mentalitas, dan sejenisnya) Pemetaan Stakeholder pengentasan kemiskinan Pengelompokkan solusi pengentasan kemiskinan Penyusunan alat monitoring dan evaluasi kemiskinan Penyusunan Masterplan Penanggulangan Kemiskinan Kota

Tanjungpinang TENAGA AHLI DAN TENAGA PENDUKUNG YANG DIBUTUHKAN Untuk


-

mendapatkan

hasil

yang

sesuai

dengan

tujuan,

diperlukan

beberapa Tenaga Ahli, yaitu : 1 orang, Tenaga Ahli Bidang Kesejahteraan Sosial, sebagai Team Leader, dengan kualifikasi Pendidikan Minimal S2 Kesejahteraan Sosial, berpengalaman 10 tahun
-

1 orang, Tenaga Ahli Bidang Sosiologi, dengan kualifikasi Pendidikan

minimal S1 Sosiologi, berpengalaman kerja minimal 10 tahun

1 orang, Tenaga Ahli Bidang Psikologi Sosial, dengan kualifikasi 1 orang, Tenaga Ahli Bidang Mikro Ekonomi, dengan kualifikasi minimal S1 Ekonomi, berpengalaman dalam bidang

Pendidikan minimal S1, berpengalaman kerja minimal 10 tahun


-

Pendidikan

microfinance selama minimal 5 tahun Adapun Tanaga Pendukung yang diperlukan yaitu :
-

Peneliti Lapangan : 3 orang dengan pendidikan minimal D3 yang Asisten Konsultan : 2 orang, berpendidikan minimal S1 yang Tenaga Administrasi Operator Komputer : 1 orang : 2 orang

berpengalamn dalam melakukan penelitian sosial memiliki pengalaman dalam penelitian social

LOKASI STUDI Studi penyusunan Masterplan Penanggulangan kemiskinan Kota Tanjungpinang akan dilakukan di wilayah-wilayah Kota TYanjungpinang yang menjadi kantong-kantong kemiskinan. Dan beberapa wilayah sekitar yang dapat dijadikan potensi untuk pengentasannya. JANGKA WAKTU STUDI Studi Masterplan Penanggulangan Kemiskinan Kota Tanjungpinang akan dijalankan dalam jangka waktu 4 bulan. (skedul terlampir).

ANGGARAN Anggaran Studi penyusunan Masterplan Penanggulangan Kemiskinan Kota Tanjungpinang adalah sebesar Rp. .. yang akan debebankan pada APBD Kota Tanjungpinang tahun 2009.