Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingginya tingkat kriminalitas saat ini menyebabkan tingginya permintaan visum.

Hal ini menjadi perhatian kita sebagai dokter umum karena walaupun permintaan visum biasanya diajukan kepada rumah sakit besar baik umum maupun swasta, tidak menutup kemungkinan permintaan visum diajukan kepada kita sebagai dokter umum pada saat kita melakukan tugas PTT di suatu daerah. Untuk itu sebagai dokter umum kita wajib dapat melakukan visum dan membuat laporannya melalui Visum et Repertum. Dalam setiap melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya, pada setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal, seperti yang dipergunakan oleh seorang ahli hukum kenamaan Italia yang bernama E. Ferri, 1859-1927, bahwa ada yang dinamakan saksi diam yang terdiri antara lain atas : 1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan. 2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan. 3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian. 4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda atau tubuh manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari tempat kejadian. 5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang mengalami kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata yang dipakai ataupun berasal dari si penjahat sendiri. (10) Bila saksi diam tersebut diteliti dengan memanfaatkan berbagai macam ilmu forensik (forensic sciences) maka tidak mustahil kejahatan tersebut akan dapat terungkap dan bahkan korban yang sudah membusuk atau hangus serta pelakunya akan dapat dikenali. Sebagai contoh, pada kasus infantisida, untuk kepentingan pengadilan perlu diketahui apakah bayi tersebut lahir hidup kemudian meninggal karena pembunuhan atau memang lahir mati, dengan mudah dapat kita ketahui dengan melakukan pemeriksaan hidrostatik, dimana bila jaringan paru yang dicelupkan ke dalam air tawar tersebut mengapung maka bayi tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup. Oleh sebab itu, pemeriksaan penunjang khususnya pemeriksaan laboratorium sederhana menjadi sangat dibutuhkan keberadaannya. Dalam membantu kita sebagai si pembuat visum untuk memperjelas suatu kasus kejadian kejahatan, karena dengan 1

mengetahui secara pasti pemeriksaan penunjang laboratorium sederhana apa saja yang dapat dilakukan dalam kasus-kasus tertentu, apa yang kita lakukan menjadi tepat guna. Sehingga dapat membantu terungkapnya kebenaran yang sesungguhnya akan suatu kasus kejadian kejahatan seperti moto yang berlaku dalam forensik bahwa melalui visum, barang/ benda yang tidak bernyawa dan tidak bergerak dapat dibuat berbicara oleh para dokter yang melakukan visum melalui Visum et Repertum. Darah adalah bahan yang paling penting untuk bukti pada peristiwa kriminal dewasa ini. Diantara berbagai cairan tubuh, darah merupakan yang paling penting karena merupakan cairan biologik dengan sifat-sifat potensial lebih spesifik untuk golongan manusia tertentu. Tujuan utama pemeriksaan darah forensik sebenarnya adalah untuk membantu identifikasi pemilik darah tersebut, dengan membandingkan bercak darah yang ditemukan di TKP (tempat kejadian perkara) pada obyek-obyek tertentu (lantai, meja, kursi, karpet, senjata, dan sebagainya), manusia dan pakaiannya dengan darah korban atau darah tersangka pelaku kejahatan ( Kedokteran Forensik FKUI, 1997). Darah sangat penting untuk tersangka maupun korban dari suatu kejahatan. Pewarnaan darah akan dapat menceritakan mengenai posisi dan tindak suatu peristiwa kejahatan/pembunuhan. Siapa yang membunuh dan siapa yang memulai. Pelaku tindak kriminal berusaha menutupi dengan jalan menghilangkan tanda bukti yaitu dengan membersihkan darah dan menghilangkan jejak (Kedokteran Forensik FKUI,1997). Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali tercecer pada hampir semua bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap bercak darah ini sangat berguna untuk mengungkapkan suatu tindakan kriminil (Robert P. Spalding, 2000). Bercak darah yang terdapat pada objek-objek di sekitar korban sering kali disamarkan oleh pelaku. Objek yang paling sering adalah baju korban,seringkali pelaku kejahatan menghilangkan barang bukti berupa darah tersebut dengan berbagai cara antara lain : membuang baju korban, mencuci baju korban dengan tujuan untuk menghilangkan bercak darah yang ada, sehingga pada saat dilihat tidak akan diketahui adanya darah. Oleh karena fakta tersebut kelompok kami ingin mengkaji bagaimana pengaruh air rendaman sabun pada tetes darah kering yang dilakukan tes Benzidine. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah didapatkan rumusan masalah antara lain: 1. Bagaimana prosedur untuk melakukan Tes Benzidine?

2. Bagaimana pengaruh perendaman bercak darah kering yang dilakukan Tes Benzidine dalam rendaman air sabun batang? 1.3. Tujuan Penyusunan refarat ini bertujuan agar tenaga medis khususnya para dokter umum R, dapat mengetahui dan memahami pemeriksaan laboratorium sederhana yang ada pada ilmu forensic yaitu dapat melakukan tes penyaring (Tes Benzidine) dan dapat menginterpretasikan hasilnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Darah adalah cairan serologis yang terdiri dari beberapa jenis sel disuspensikan dalam larutan berair asin yang disebut plasma.(Jika seseorang menganggap bahwa organisme hidup seperti manusia telah berevolusi dari spesies awalnya hidup dan bernapas dalam air laut, maka orang mungkin menduga bahwa larutan garam dari plasma darah adalah cara tubuh internalisasi air laut dan hidup di tanah kering). Warna darah berasal dari sel-sel darah merah (RBC) atau eritrosit (partikel berbentuk disk ditampilkan di atas). Sel darah merah membuat sekitar 40% dari darah (berdasarkan volume). Hal ini mudah terlihat dalam tes sentrifugal sederhana. Setiap sel darah merah diisi dengan hemoglobin, protein yang membawa oksigen ke jaringan dan membawa karbon dioksida dari jaringan. Hemoglobin mengangkut oksigen dengan menggunakan heme, sebuah cincin seperti besar molekul yang memiliki pusatnya atom tunggal dari besi (Fe), yang adalah apa yang sebenarnya mengikat oksigen untuk membentuk besi (hydr) kompleks oksida. Properti kimia heme yang memberikan kemampuan ini dalam ikatan kovalen banyak ganda yang membentuk cincin. Ini ikatan ganda dapat digeser ke dalam banyak berbeda "resonansi" konfigurasi.Hal ini memungkinkan untuk oksigen lebih banyak untuk dilakukan dibandingkan jika hanya larut dalam darah. Ada berbagai sel ditemukan dalam darah. Sel darah putih ('berbulu' partikel berbentuk bola yang ditampilkan di atas) misalnya, adalah instrumental dalam sistem kekebalan tubuh dengan memproduksi antibodi untuk membela terhadap perangkat lunak berbahaya pembawa penyakit bakteri, virus, atau jamur.Trombosit adalah fragmen sel darah putih (juga ditampilkan di atas) yang membantu pembekuan darah menjumlahkan dan membentuk serat dalam pembukaan luka yang memerangkap sel-sel darah merah untuk membentuk keropeng. Darah sedikit bersifat (alkali) terdiri dari 55% cairan (plasma, serum) dan 45% padatan (sel, fibrin). Darah mengandung air, sel, enzim protein dan substansi organic yang bersirkulasi keseluruh system vaskuler (pembuluh drah), membawa bahan mutrisi dan menyalurkan oksigen serta bahan sisa untuk dibuang. Cairan darah terdiri dari plasma yang sebagian besar adalah air dan serum yang berwarna kekuningan yang merupakan cairan mengandung zat beku darah. Bahan padatan terdiri dari sel darah merah dan sel darah putih. Dimana seorang ilmuwan (imunolog) tertarik untuk mempelajari sel darah putih, sedangkan seorang ahli forensic tertarik pada sel darah merah. Pada serum, seorang analisis dapat 4

membedakan antara darah yang segar dan darah yang sudah beberapa menit kontak dengan udara luar. Dalam serum juga ditemukan antibody, yang penting untuk pemeriksan forensic. Pada sel darah merah, analis dapat memeriksa suatu substansi yang terdapat pada permukaan sel yaitu antigen yang sangat penting untuk pemeriksaan forensic. Pada hokum forensic, darah selalu dijadikan sebagai barang bukti, tetapi kekuatan barang bukti adalah tipe golongan darah individu. Sampai sekarang serologic forensic dapat dijadikan barang bukti yang kuat untuk memperkirakan hubungan antara orang tertentu dengan orang lain. Bahkan pada kembar identik mungkin mempunyai DNA profil yang sama, tetapi profil antibodinya berbeda. 2.1 Pemeriksan darah untuk kasus kriminal Darah segar mempunyai nilai yang lebih penting daripada darah kering, karena uji darah segar dapat memperoleh hasil yang lebih baik. Darah akan mongering setelak kontak dengan udara luar dalam waktu 3-5 menit. Begitu darah mongering maka darah akan berubah warna dari merah menjadai coklat kehitaman. Darah pada kasus kriminal dapat berbentuk genangan darah, tetesan, usapan atau bentuk kerak. Dari genangan darah akan diperoleh nilai yang lebih baik untuk mendapatkan darah segar. Tetesan darah akan dapat diperkirakan jatuhnya darah dari ketinggian seberapa dan sudut seberapa. Ilmu forensic mengenai analisis percikan darah dapat menduga bahwa jatuhnya darah tegak lurus ke lantai dan dalam jarak 02 feet akan membentuk percikan bulat dengan pinggir bergerigi. Usapan darah pada lantai atau dinding akan dapat menunjukkan arah usapan, biasanya pada awal usapan adalah bentuk yang besar dan kemudian mengecil pada akhir usapan. Kerak darah yang kering harus diuji dengan tes kristalin untuk menentukan darah tersebut benar darah atau bukan. Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu identifikasi pemilik darah tersebut. Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu kita harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu perlu dilakukan pemeriksaan guna menentukan : a. Bercak tersebut benar darah b. Darah dari manusia atau hewan c. Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia

Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan diatas, harus dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : a. Persiapan Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian direndam dalam larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan garam fisiologis bila menempel pada pakaian. b. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test) Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya positif saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Prinsip pemeriksaan penyaringan: H2O2 > H2O + On Reagen -> perubahan warna (teroksidasi) Pemeriksaan penyaringan yang biasa dilakukan adalah dengan reaksi benzidine dan reaksi fenoftalin. Reagen dalam reaksi benzidine adalah larutan jenuh Kristal Benzidin dalam asetat glacial, sedangkan pada reaksi fenoftalin digunakan reagen yang dibuat dari Fenolftalein 2g + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji biji zinc sehingga terbentuk fenolftalein yang tidak berwarna. Hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan hasil negative pada kedua reaksi tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah. 1. Reaksi Benzidine (Test Adler) Dulu Benzidine test pada forensic banyak dilakukan oleh Adlers (1904). Tes Benzidine atau Test Adlerlebih sering digunakan dibandingkan dengan tes tunggal pada identifikasi darah lainnya. Karena merupakan pemeriksaan yang paling baik yang telah lama dilakukan. Pemeriksaan ini sederhana, sangat sensitif dan cukup bermakna. Jika ternyata hasilnya negatif maka dianggap tidak perlu untuk melakukan pemeriksaan lainnya. Cara pemeriksaan reaksi Benzidin: Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian diteteskan 1 tetes H202 20% dan 1 tetes reagen Benzidin. Hasil: Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas saring. 6

2. Reaksi Phenolphtalein (Kastle Meyer Test) Prosedur test identifikasi yang sekarang ini, mulai banyak menggunakan Phenolphtalein. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kastle (1901,1906), zat ini menghasilkan warna merah jambu terang saat digunakan pada test identifikasi darah. Cara Pemeriksaan reaksi Fenolftalein: Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung diteteskan reagen fenolftalein. Hasil: Hasil positif pada reaksi Fenoftalin adalah bila timbul warna merah muda pada kertas saring. c. Pemeriksaan Meyakinkan/Test Konfirmasi PadaDarah Setelah didapatkan hasil bahwa suatu bercak merah tersebut adalah darah maka dapat dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan meyakinkan darah berdasarkan terdapatnya pigmen atau kristal hematin (hemin) dan hemokhromogen. Terdapat empat jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan bercak darah tersebut benar berasal dari manusia, yaitu : 1. Cara kimiawi Terdapat dua macam tes yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa yang diperiksa itu bercak darah, atas dasar pembentukan kristal-kristal hemoglobin yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskopik. Tes tersebut antara lain tes Teichmann dan tes Takayama. a. Test Teichman (Tes kristal haemin) Pertama kali dilakukan oleh Teicmann (1853). Test diawali dengan memanaskan darah yang kering dengan asam asetat glacial dan chloride untuk membentuk derivate hematin. Kristal yang terbentuk kemudian diamati di bawah mikroskop, biasanya Kristal muncul dalam bentuk belah-belah ketupat dan berwarna coklat. Cara pemeriksaan: Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek tambahkan 1 butir kristal NaCL dan 1 tetes asam asetat glacial, tutup dengan kaca penutup dan dipanaskan.

Hasil: Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya Kristal hemin HCL yang berbentuk batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik.(1) Kesulitan : Mengontrol panas dari sampel karena pemanasan yang terlalu panas atau terlalu dingin dapat menyebabkan kerusakan pada sampel. b. Test Takayama (Tes kristal B Hemokromogen) Apabila heme sudah dipanaskan dengan seksama dengan menggunakan pyridine dibawah kondisi basa dengan tambahan sedikit gula seperti glukosa, Kristal pyridine ferroprotoporphyrin atau hemokromogen akan terbentuk. (2) Cara kerja: Tempatkan sejumlah kecil sampel yang berasal dari bercak pada gelas objek dan biarkan reagen takayama mengalir dan bercampur dengan sampel. Setelah fase dipanaskan, lihat di bawah mikroskop. Hasil : Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya kristal halus berwarna merah jambu yang terlihat dengan mikroskopik. Kelebihan: Test dapat dilakukan dan efektif dilakukan pada sampel atau bercak yang sudah lama dan juga dapat memunculkan noda darah yang menempel pada baju. Selain itu test ini juga memunculkan hasil positif pada sampel yang mempunyai hasil negative pada test Teichmann. (1) Selain dua tes tersebut terdapat juga tes yang digunakan untuk memastikan bercak tersebut berasal dari darah, yaitu : c. Pemeriksaan Wagenaar Cara pemeriksaan: Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, letakkan juga sebutir pasir, lalu tutup dengan kaca penutup sehingga antara kaca obyek dan kaca penutup terdapat celah untuk penguapan zat. Kemudian pada satu sisi diteteskan aseton dan pada sisi lain di tetes kan HCL encer, kemudian dipanaskan. Hasil: Hasil positif bila terlihat Kristal aseton hemin berbentuk batang berwarna coklat. Hasil negative selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan 8

bercak darah, juga dapat dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang struktur kimiawinya telah rusak, misalnya bercak darah yang sudah lama sekali, terbakar dan sebagainya. 2. Cara serologik Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan golongan darah. Untuk itu dibutuhkan antisera terhadap protein manusia (anti human globulin) serta terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu. Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibody (antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi. a. Test Presipitin Cincin Test Presipitin Cincin menggunakan metode pemusingan sederhana antara dua cairan didalam tube. Dua cairan tersebut adalah antiserum dan ekstrak dari bercak darah yang diminta untuk diperiksa. Cara pemeriksaan : Antiserum ditempatkan pada tabung kecil dan sebagian kecil ekstrak bercak darah ditempatkan secara hati-hati pada bagian tepi antiserum. Biarkan pada temperatur ruang kurang lebih 1,5 jam. Pemisahan antara antigen dan antibody akan mulai berdifusi ke lapisan lain pada perbatasan kedua cairan. Hasil: Akan terdapat lapisan tipis endapan atau precipitate pada bagian antara dua larutan. Pada kasus bercak darah yang bukan dari manusia maka tidak akan muncul reaksi apapun. b. Reaksi presipitasi dalam agar. Cara pemeriksaan : Gelas obyek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas lemak, dilapisi dengan selapis tipis agar buffer. Setelah agak mengeras, dibuat lubang pada agar dengan diameter kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis. Masukkan serum anti-globulin manusia ke lubang di tengah dan ekstrak darah dengan berbagai derajat pengenceran di lubang-lubang sekitarnya. Letakkan gelas obyek ini dalam ruang lembab (moist chamber) pada temperature ruang selama satu malam. 9

Hasil : Hasil positif memberikan presipitum jernih pada perbatasan lubang tengah dan lubang tepi. Pembuatan agar buffer : 1 gram agar; 50 ml larutan buffer Veronal pH 8.6; 50 ml aqua dest; 100 mg. Sodium Azide. Kesemuanya dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer, tempatkan dalam penangas air mendidih sampai terbentuk agar cair. Larutan ini disimpan dalam lemari es, yang bila akan digunakan dapat dicairkan kembali dengan menempatkan labu di dalam air mendidih. Untuk melapisi gelas obyek, diperlukan kurang lebih 3 ml agar cair yang dituangkan ke atasnya dengan menggunakan pipet. Selain dua tes tersebut terdapat juga tes yang digunakan untuk mengkonfirmasi bercak darahtersebut, yaitu : 3. Pemeriksaan Mikroskopik Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat morfologi sel darah merah. Cara pemeriksaan : Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh pada kaca obyek kemudian ditambahkan 1 tetes larutan garam faal, dan ditutup dengan kaca penutup, lihat dibawah mikroskop. Cara lain, dengan membuat sediaan apus dengan pewarnaan Wright atau Giemsa. Hasil : Pemeriksaan mikroskopik kedua sediaan tersebut hanya dapat menentukan kelas dan bukan spesies darah tersebut. Kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti, sedangkan kelas lainnya berbentuk oval atau elips dan tidak berinti Bila terlihat adanya drum stick dalam jumlah lebih dari 0,05%, dapat dipastikan bahwa darah tersebut berasal dari seorang wanita. Kelebihan: Dapat terlihatnya sel sel leukosit berinti banyak. Dapat terlihat adanya drum stick pada pemeriksaan darah seorang wanita.

10

2.2 Golongan darah Tipe golongan darah yang disebut system A-B-O, telah ditemukan pada tahun 1901. Beberapa tahun kemudian dimulai pada tahun 1937, reaksi antigen-antibodi dalam darah ditemukan, dimana yang sering ditemukan adalah factor ABH, Mn, Rh dan Gm (diantara lebih dari 100 antigen yang ada).Kebanyakan orang hanya mengenal factor Rh (Rhesus factor), yang secara teknis disebut D-antigen. Ada lebih dari 256 antigen dan 23 sistem penggolongan darah yang didasarkan pada antigen tersebut. Antigen adalah struktur kimia yang melekat pada permukaan sel darah merah. Sedangkan antibody adalah protein yang mengambang pada cairan darah (terutama serum yang berhubungan dengan factor kloting/pembeku darah). Karena suatu individu kadang mengamai alergi atau infeksi oleh agen penyakit (TB, smallpox dan hepatitis), sehingga substansi tersebut aktif melawannya. Prinsip dasar dari serologi adalah setiap ada antigen akan terbentuk terbentuk antibody yang spesifik. Sehingga dengan demikian semua golongan darah didefinisikan sebagai antigen pada sel darah merahnya dan ada antibody terhadap antigen tersebut didalam serumnya. Tabel 1. Golongan darah, antigen dan antibodinya Golongan darah A B AB O Antigen pada sel darah merah A B AB O Antibody dalam serum Anti-B Anti-A Bukan anti-A/anti-B Anti-A/anti-B

Pada tabel diatas terlihat bahwa darah golongan A akan teraglutinasi oleh serum anti A, golongan B teraglutinasi serum anti B, golongan AB oleh anti-A/anti-B. Persentase jumlah populasi penduduk dunia sangat berpengaruh terhadap ras dan variasi geographis. Secara normal jumlah persentase tersebut sebagai berikut (Tabel2): Tabel 2. Persentase jumlah penduduk yang mempunyai golongan darah A, B, AB dan O. O 43-45% O+ 39% O- 6% A 40-42% A+ 35% A- 5% B 10-12% B+ 8% B- 2% AB 3-5% AB+ 4% AB- 1%

Diantara ras/suku bangsa golongan A adalah paling banyak ditemukan pada ras kaukasia, golongan B paling banyak pada ras Asia dan Afrika. Tetapi yang paling sering

11

dijadikan pegangan adalah distribusi dari komponen Rhesus (Rh), yang diekspresikan dalam bentuk (+) dan (-) yang ada pada setiap golongan darah dalam bentuk angka. Tabel 3. Jumlah komponen Rh dalam setiap golongan darah Golongan O+ OA+ AB+ BAB+ ABJumlah 1 diantara 3 orang 1 diantar 15 orang 1 diantara 3 orang 1 diantara 16 orang 1 diantara 12 orang 1 diantara 67 orang 1 diantara 29 orang 1 diantara 167 orang

Sub kelompok juga terjadi diantara system ABO, Bebeberapa ekstrak dapat disintesis dari tanaman atau biji-bijian untuk mendapatkan antiserum yang dapat mengkoagulasi golongan darah O dan seterusnya. Hampir kebanyakan golongan darah paling tidak mempinyai dua sub kelompok, misalnya O1, O2; A1, A2 dansebagainya. Antigen yang paling banyak digunakan untuk penggolongan ini adalah lectins Penggolongan darah tersebut mungkin berdasarkan atas type protein dan enzim. Serologi forensic hampir semuanya dilakukan pada nilai tiping dari komponen tersebut. Protein darah dan enzim mempunyai karakteristik polymorphisme atau iso enzim, yang artinya mereka selalu hadior dalam beberapa bentuk dan varian, sehingga setiap kelompok mempunyai sub-type. Kebanyakan orang paling mengenal paling tidak satu bentuk polymorphisme dalam darah: yaitu Hb, yang menyebabkan sickle-cell anemia. Beberapa bentuk polymorfisme yang sering dijumpai adalah sebagai berikut: PGM2-1 EAP EsD AK ADA GPT G-PGD G-6-PD Tf Phosphoglucomutase Erytrocyt acid phosphatase Esterase D Adenyl kinase Adenosin deaminase Glutamic pyruvat transaminase 6- phosphoglucoronat dehydrogenase Glucosa -6- phosphat dehydrogenase Transferin 12

Setiap protein atauy enzim variant begitu juga sub-type darah telah diketahui distribusinya dalam suatu populasi. Dengan demikian kemungkinan batasan type darah untuk setiap individu dapat diperkirakan. Misalnya: Seseorang diduga melakukan tindak kriminal dan pada pemeriksaan darahnya mempunyai tipe golongan darah A (42%), sub type A2 (25%), Protein AK (15%) dan enzim PGM2-1(6%). Kemungkinan untuk menemukan dua orang dalam satu populasi dengan tipe darah yang tepat adalah sekitar 0,000945 (0,42x0,25x0,15x0,06). Semakin dekat anda mendapatkan angka dibawah 6 desimal, akan lebih sulit menentukan siapa yang bertindak kriminal tersebut. 2.3 Deterjen Deterjen adalah sebuah (atau gabungan beberapa) senyawa, yang memudahkan proses pembersihan (cleaning). Istilah deterjen kini dipakai untuk membedakan antara sabun dengan surfaktan jenis lainnya. Kelebihan deterjen adalah mampu lebih efektif membersihkan kotoran meski dalam air yang mengandung mineral dan lebih mudah dibuat. Derajat keasaman/pH detergen sangat basa, yakni 9,5-12. Kandungan Detergen Surfaktan merupakan bahan utama deterjen. Surfaktan yang biasa digunakan dalam deterjen adalah linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat, etoksilat, senyawa amonium kuarterner, imidazolin dan betain. o Linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat bila dilarutkan dalam air akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif (anionik), memiliki daya bersih yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak (biasanya digunakan untuk pencuci kain dan pencuci piring). o Etoksilat, tidak berubah menjadi partikel yang bermuatan (non-ionik), busa yang dihasilkan sedikit, tapi dapat bekerja di air sadah (air yang kandungan mineralnya tinggi), dan dapat mencuci dengan baik hampir semua jenis kotoran. o Senyawa-senyawa amonium kuarterner, berubah menjadi partikel positif (kationik) ketika terlarut dalam air, surfaktan ini biasanya digunakan pada pelembut (softener).

13

o Imidazolin dan betain dapat berubah menjadi partikel positif, netral atau negatif bergantung pH air yang digunakan (amfoterik). Kedua surfaktan ini cukup kestabilan dan jumlah buih yang dihasilkannnya, sehingga sering digunakan untuk pencuci alat-alat rumah tangga. Setelah surfaktan, kandungan lain yang penting adalah penguat (builder), yang meningkatkan efisiensi surfaktan. Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat (sodium tripolyphosphate/STP), natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit. Penambahan sodium tripolifosfat menaikkan pH menjadi basa (di atas 10). Standar STP di Indonesia adalah 2,18 gr. Kandungan lain dalam detergen adalah anti redeposisi. Redeposisi dimaksudkan untuk mengikat kotoran yang sudah lepas dari pakaian agar tidak kembali menempel. Kotoran itu diikat oleh bahan yang dinamai sodium carboxy methyl cellulose (SCMC). Cara kerja SCMC adalah menyerap kotoran dengan membuat pembatas ion yang mencegah redeposisi. Kotoran terbungkus ion negatif atau kation demikian pula lapisan pakaian bermuatan negatif. Akibat dua kutub yang sama, maka terjadi saling tolak, sehingga kotoran akan larut dalam air saat pembilasan atau pengeringan. Pada umumnya kotoran yang dapat dihilangkan surfaktan adalah yang berasal dari debu atau tanah. Bila kotoran lebih berat seperti noda makanan dan noda darah, perlu ditambahkan enzim tertentu seperti enzim pengurai protein atau lemak. Namun, jika nodanya sudah lama, akan sukar sekali dihilangkan karena antara noda dan serat kain dapat terjadi reaksi polimerisasi yang menyatukan noda dengan kain. Bahan pengisi. Bahan pengisi ini berfungsi menetralisir kesadahan air atau melunakkan air, mencegah menempelnya kembali kotoran pada bahan yang dicuci dan mencegah terbentuknya gumpalan dalam air cucian. BAB III HASIL PENELITIAN DAN KESIMPULAN

14

Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya- RSSA Malang dari tanggal 31 Oktober 3 November 2011. 3.1 Alat dan Bahan: 1. Sampel darah vena 5 cc tanpa antikoagulan 2. Kain putih ukuran 10 cm x 10 cm 3. Reagen Benzidine 4. Reagen Hidrogen Peroksida 3% (H2O2) 5. Deterjen (Rinso) 5 g 6. Air 250 cc 7. Beaker glass 50 cc dan 500 cc 8. Bengkok 9. Batang pengaduk 14 cm 10. Pipet Pasteur 11. Timbangan automatic 12. Corong kaca 7,5 cm

H2O2 3%

Benzidine

Bengkok dan Pengaduk 15

Gelas Kimia Berisi Rendaman Air Sabun Batang

Bercak Darah pada Kain

3.2 Hasil Penelitian Hari 1 jam 08.30 WIB Perlakuan: Hasil : Hari 2 Jam 08.30 WIB 16 Menyiapkan 4 lembar kain putih ukuran 10 cm x 10 cm Meneteskan 2 tetes darah pada 5 bagian pada masing-masing kain putih Membiarkan darah kering selama 24 jam dalam suhu kamar (27oC)

Perlakuan: Hasil : Hasil tes benzidine pada bercak darah: positif dengan warna biru kehijauan. Hal ini menunjukkan bahwa bercak darah tersebut adalah benar darah. Hari 2 Jam 20.30 WIB Perlakuan: Hasil: Hasil tes benzidine pada 12 jam pertama : o Pada bercak yang sebelumnya telah dilakukan tes benzidine, setelah dilakukan tes benzidine kembali, hasilnya masih positif. o Sedangkan pada bercak darah yang tidak dilakukan tes benzidine sebelumnya, bercak darah menghilang, sehingga ketika dilakukan tes benzidine, warna kain biru muda seperti pada kain bersih tanpa bercak darah yang dilakukan tes benzidine. Menyiapkan reagen kontrol, yaitu deterjen 5 g dilarutkan dalam 250 cc air Meneteskan Benzidine 1-2 tetes pada masing-masing bercak darah yang telah dikeringkan Meneteskan H2O2 3% 1-2 tetes pada bercak darah yang telah ditetesi Benzidine Ratakan dengan batang pengaduk Melihat perubahan warna Merendam kain ke dalam masing-masing reagen kontrol, yaitu deterjen Ditunggu selama 12 jam dan ulangi prosedur tiap 12 jam.

17

Hari 2 Jam 10.00WIB setelah dilakukan perendaman dengan air sabun batang selama 24 jam. Hasil : Hasil tes benzidine pada 24 jam pertama : o Pada bercak yang sebelumnya telah dilakukan tes benzidine, setelah dilakukan tes benzidine kembali, hasilnya negatif. o Sedangkan pada bercak darah yang tidak dilakukan tes benzidine sebelumnya, bercak darah menghilang, sehingga ketika dilakukan tes benzidine, warna kain biru muda seperti pada kain bersih tanpa bercak darah yang dilakukan tes benzidine.

18

Hari 2 Jam 22.00 WIB setelah dilakukan perendaman dengan air sabun batang selama 36 jam. Hasil : Hasil tes benzidine setelah 36 jam perendaman : o Pada bercak yang sebelumnya telah dilakukan tes benzidine, setelah dilakukan tes benzidine kembali, hasilnya negatif. o Sedangkan pada bercak darah yang tidak dilakukan tes benzidine sebelumnya, bercak darah menghilang, sehingga ketika dilakukan tes benzidine, warna kain biru muda seperti pada kain bersih tanpa bercak darah yang dilakukan tes benzidine.

Hari 3 Jam 10.00 WIB setelah dilakukan perendaman dengan air sabun batang selama 48 jam. Hasil : Hasil tes benzidine setelah 48 jam perendaman : o Pada bercak yang sebelumnya telah dilakukan tes benzidine, setelah dilakukan tes benzidine kembali, hasilnya negatif. o Sedangkan pada bercak darah yang tidak dilakukan tes benzidine sebelumnya, bercak darah menghilang, sehingga ketika dilakukan tes benzidine, warna kain 19

biru muda seperti pada kain bersih tanpa bercak darah yang dilakukan tes benzidine.

3.3 Kesimpulan Setelah 12 jam perendaman dengan air sabun batang, bercak darah yang tidak dilakukan tes benzidine sebelumnya, akan hilang sama sekali, dibuktikan dengan hasil tes benzidine yang negatif. Sedangkan pada bercak darah yang dilakukan tes benzidine, setelah dilakukan tes benzidine kembali, hasilnya masih positif. Setelah 24 jam perendaman dengan air sabun batang, bercak darah yang dilakukan tes benzidine kembali, hasilnya menjadi negatif.

DAFTAR PUSTAKA Budiyanto, Arif, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 20

Idris, Abdul Munim. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Jakarta : Binarupa Aksara. Rustyadi, Dudut. 2009. Laboratorium Kedokteran Forensik Sederhana. Catatan Kuliah Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI. Darmono. Serologi Forensik. www.geocities.ws/kuliah_farm/farmasi_forensik/Serologi_forensic.doc. Diakses Tanggal 2 November 2011 Anonymous. 2011.Kandungan Sabun, Shampo, Detergen. (Online). http://pretzga.multiply.com/journal/item/3/Kandungan_SabunSampo_Detergen_. Diakses tanggal 2 November 2011.

21