Anda di halaman 1dari 46

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan/atau telurnya. Pada umumnya unggas yang dipergunakan dalam pengolahan adalah ayam,itik, kalkun, angsa, dan bermacam-macam burung. Secara esensial komposisi unggas pada umumnya sama dengan daging, yaitu: air 75% dari jaringan otot, protein 20% dari jaringan otot, lemak 5% dari jaringan otot, dan elemen-elemen lain. Umur binatang merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan unggas. Umur ini pula yang menentukan metode pengolahan unggas. Unggas muda lebih lunak, karena itu dapat diolah secara panas kering, sedang unggas yang tua memerlukan pengolahan pelan dan panjang,karena itu cocok digunakan pengolahan secara panas basah. Unggas termasuk hewan monogastrik, yaitu hewan yang memiliki satu lambung. Hewan ini berbeda dengan hewan ruminansia yang memiliki lambung yang terbagi menjadi empat kompartemen/bagian, yaitu; rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Menyebabkan hewan tersebut mampu memanfaatkan mikroba dalam membantu mencerna zat-zatmakanan seperti serat. Mikroba itu sendiri juga dapat dimanfaatkan oleh hewan ruminansia sebagai sumber protein. Lain halnya dengan hewan monogastrik yang tidak mampu mencerna dan memanfaatkan makanan berserat sebanyak hewan ruminansia karena hewan monogastrik memiliki alat pencernaan atau lambung hanya satu. Saluran pencernaan pada unggas terbagi atas beberapa segmen yaitu: mulut

(paruh=beak),esofagus, tembolok (corp), lambung kelenjar (proventiculus), lambung keras(ventriculus/gizard), usus halus (small intestine), sekum (caecum), usus besar (largeintestine), kloaka (cloaca) dan anus (vent). Selain itu ada pula pankreas dan hati yang merupakan organ yang diperlukan dalam membantu proses pencernaan. Umumnya daging unggas berwarna putih, hal ini disebabkan karena unggas hanya mengandung 1-3 miligram mioglobin tidak seperti daging berwarna merah seperti sapi yang mengandung lebih banyak mioglobin dalam jaringannya, yakni sekitar 8 miligram per gram daging daripada jenis daging lain. Mioglobin, seperti halnya hemoglobin, adalah protein yang mengikat oksigen. Hemoglobin mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel di seluruh tubuh, sementara mioglobin menyimpan oksigen di dalam sel

1.2 Rumusan Masalah 1. Strain dan karakteristik dari entok ? 2. Anatomi dan fisiologi pencernaan serta reproduksi unggas? 3. Bagaimana proses penetasan pada unggas dari 2 unggas yang berbeda? 4. Bagaimana Penyusunan Ransum ayam petelur grower dengan bahan pakan jagung, bekatul, dan konsentrat? 5. Mengapa bungkil kacang kedelai dan bungkil kelapa tidak dapat digunakan secara maksimal dalam penyusunan ransum? 1.3 Tujuan Untuk mengetahui strain, karakteristik, anatomi, fisiologi, proses penetasan dan penyusunan ransum pada unggas.

BAB II Tinjauan Pustaka


Entok adalah sejenis burung atau unggas yang termasuk keluarga bebek. Istilah mentok berasal dari bahasa Jawa; di tempat lain ia mungkin disebut dengan salah satu atau beberapa nama berikut: mentok, enthok atau entog (Sd., Bms.), basur (Bms.), itik manila, atau bebek manila (Ind.). Dalam bahasa Inggris disebut Muscovy Duck atau Barbary Duck. Di Indonesia unggas ini adalah sepenuhnya hewan peliharaan, yang diternakkan terutama untuk dagingnya. Asal-usul mentok peliharaan adalah dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, di mana populasi burung ini hidup alami dan liar di rawa-rawa berhutan dan wilayah berpaya di sekitar danau dan sungai; termasuk di hilir lembah Sungai Rio Grande di Texas. Populasi lepasan yang meliar (feral) juga dijumpai di Florida bagian selatan. Burung yang berukuran sedang sampai agak besar. Entok jantan liar dapat mencapai 86 cm, dari ujung paruh hingga ke ujung ekor. Dan beratnya bisa sampai 3 kg. Mentok betina lebih kecil, sampai sekitar 64 cm dan 1,3 kg. Mentok peliharaan biasanya lebih gemuk, di mana jantan bisa mencapai 7 kg dan betina mencapai 5 kg. Berwarna dominan hitam dan putih, mentok memiliki kulit atau tonjolan kulit berwarna merah dan hitam di sekitar mata dan wajah. Paruh gemuk pendek khas bebek, putih kemerahan; kaki gemuk pendek berselaput renang, abu-abu kehitaman. Ekor memipih datar agak lebar. Meskipun pandai terbang, mentok peliharaan hampir tak pernah terbang jauh. Unggas ini sering terlihat berjalan bersama kelompoknya, perlahan-lahan dan tak pernah tergesa-gesa, dengan ekor bergoyang ke kanan dan ke kiri untuk mengimbangi tubuh (Jawa, megal-megol) sehingga berkesan lucu. Entok liar di alamnya tidur di atas cabang-cabang pohon. Akan tetapi mentok peliharaan biasanya tidur di atas tanah. Di pedesaan di Jawa, mentok jarang dikandangkan. Dibiarkan bebas berkeliaran mencari makanannya sendiri, terutama di sekitar saluran air, sungai dan sawah. Mentok memakan aneka siput, cacing, serangga air, yuyu kecil dan pucukpucuk tumbuhan. Oleh pemiliknya, mentok kerap diberi makan dedak bercampur air dan sisasisa makanan. Unggas ini tidak berisik, tidak seperti itik petelur. Mentok betina mengeluarkan desisan dan desahan sambil berjalan. Mentok jantan kadang-kadang mengeluarkan desis
3

keras sambil menggerakkan kepala maju mundur (Jawa, nyosor), untuk memperingatkan atau mengusir pengganggu. Entok bertelur hingga kurang-lebih 10 butir, yang dierami oleh betinanya selama sekitar 5 minggu. Pada unggas, telur yang dihasilkan ada dua macam yaitu telur fertil yang sering disebut telur tetas dan telur infertile yang sering disebut telur konsumsi. Telur fertil merupakan telur yang dibuahi, sehingga nantinya telur ini akan menjadi individu baru. Dahulu, penetasan dilakukan secara alami yaitu dengan mengeramkan telur pada induknya. Namun dengan metode ini hanya bisa menetaskan telur dalam jumlah yang terbatas dan dalam waktu tertentu. Penetasan alami ini tidak mampu mencukupi kebutuhan produksi unggas untuk kehidupan manusia saat ini, sehingga diperlukan suatu system penetasan yang lebih efektif dan efisien. Maka dari itu berkembanglah teknologi penetasan buatan. Perbedaan anatomis dan perbedaan kapasitas dalam sistem pencernaan di antara spesies adalah lebih nyata secara fisis daripada secara gizi karena makanan dalam saluran pencernaan boleh dikatakan masih tetap diluar tubuh. Dalam proses pencernaan, zat-zat makanan masuk tubuh dengan cara penyerapan melalui dinding saluran pencernaan. Proses metabolik yang kemudian menggunakan zat-zat makanan yang diserap, kenyataannya adalah sama bagi semua spesies. Penetasan buatan yaitu penetasan yang dilakukan dengan menggunakan alat tetas. Prinsip dari penetasan buatan adalah melakukan kegiatan yang dilakukan oleh induk unggas untuk menetaskan telurnya. Achmanu (2011). Dengan adanya penetasan buatan ini telur yang ditetaskan tidak bergantung dengan induk dan jumlah telur yang ditetaskan bisa lebih banyak dari penetasan buatan. Selain itu, penetasan buatan dianggap lebih efektif daripada penetasan alami karena sang induk, setelah seminggu bertelur bisa dikawinkan kembali. Untuk menghasilkan individu baru yang berkualitas diperlukan telur tetas yang berkualitas. Syarat telur tetas yang digunakan dalam penetasan buatan antara lain: telur berasal dari induk yang berkualitas, bobot telur, warna telur, kulit telur standart,seragam, dan berkualitas sesuai dengan ketentuan penetasan. Mesin tetas yang digunakan saat ini bermacam-macam, mulai dari yang manual sampai mesin tetas otomatis. Hal yang terpenting dalam penetasan adalah cara penetasan harus benar dan sesuai dengan jenis unggas karena dalam penetasan telur, masing-masing unggas memiliki metode yang berbeda-beda mengingat sifat pengeraman unggas antar spesies juga berbeda-beda, misalnya pada penetasn

telur itik membutuhkan waktu 28 hari sedangkan pada telur ayam membutuhkan waktu 21 hari. Makanan yang diberikan kepada seekor ternak, harus sempurna dan mencukupi. Sempurna dalam arti bahwa makanan yang diberikan pada ternak harus mengandung semua zat-zat yang diperlukan oleh tubuh dengan kualitas yang baik. Cukup, berarti makanan yang diberikan pada ternak itu sesuai banyaknya dengan kebutuhan ternak yang bersangkutan (Sastroamidjojo,1981). Nomenklatur Internasional telah membagi makanan ternak menjadidelapan kelas, yaitu: 1) Forage kering dan Roughage , yang termasuk dalam kelasini adalah semua hay, jerami kering, dry fodder, dry stover dan semua makanan kering yang berisi 18% atau lebih serat kasar; 2) Pasture (hijauan), ramban. Yang termasuk kelas ini adalah semua tanaman yang diberikan secara segar sebagai hijuan atau tanaman segar; 3) Silase. Yang termasuk dalam kelas ini adalah semuamakanan yang dipotong-potong, dicacah-cacah dan difermentasikan; 4) Makanan Sumber Energi, yang termasuk dalam kelas ini adalah semua biji-bijian, hasilikutannya, buah-buahan dan umbi-umbian. Yang termasuk kelas ini untuk biji- bijian adalah yang mempunyai kandungan protein 20% dan 18% serat kasar.; 5)Makanan Sumber Protein, adalah semua makanan yang mengandung protein 20%atau lebih dan didapat dari tanaman, hewan dan ikan; 6) Makanan Sumber Mineral, yang termasuk dalam kelas ini adalah makanan yang tinggi kandungan mineralnya; 7) Bahan Makanan Sumber Vitamin, yang termasuk dalam kelas ini ada yang mengandung satu macam vitamin ataupun lebih dari satu macam vitamin; 8) Makanan Additif, yaitu zat-zat tertentu yang biasanya ditambahkan pada ransum seperti antibiotika, zat-zat warna, hormon, dan obat-obat lain (Tillman, et.al , 1998). Klasifikasi Ingredien tersebut tidak mutlak disamping adanya klasifikasi ingredien menjadi delapan kelas, khusus bahan pakan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu pertama, bahan pakan yang tinggi kandungan serat kasarnya (rofase/ roughage). Kedua, bahan pakan yang rendah kandungan serat kasarnya (konsentrat/Concentrate). Yang dimaksud Rofage adalah bahan pakan hijauan tanaman dan bahan pakan lain yang kandungan serat kasarnya tinggi.Bahan pakan yang rendah kandungan serat kasar dan tinggi kandungannutrien yang lain disebut konsentrat (concentrate). Dengan demikian dapat dinyatakan pula bahwa bahan pakan konsentrat adalah setiap bahan pakan yangkandungan serat kasarnya kurang dari 18% dan TDN-nya diatas 60% berdasar bahan kering. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa nilai nutritive konsentrat merupakan

kebalikan dari nilai nutritive rofage. Satu atau beberapa macamnutrien selain serat kasar digunakan untuk memenuhi nutrien dalam campuran pakan atau ransum (Kamal,1998).

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Karakteristik Entok Secara Umum

Entok ( Cairina moschata) Entok adalah sejenis burung atau unggas yang termasuk keluarga bebek. Istilah mentok berasal dari bahasa Jawa; di tempat lain ia mungkin disebut dengan salah satu atau beberapa nama berikut: mentok, enthok atau entog (Sd., Bms.), basur (Bms.), itik manila, atau bebek manila (Ind.). Dalam bahasa Inggris disebut Muscovy Duck atau Barbary Duck. Di Indonesia unggas ini adalah sepenuhnya hewan peliharaan, yang diternakkan terutama untuk dagingnya. Asal-usul mentok peliharaan adalah dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, di mana populasi burung ini hidup alami dan liar di rawa-rawa berhutan dan wilayah berpaya di sekitar danau dan sungai; termasuk di hilir lembah Sungai Rio Grande di Texas. Populasi lepasan yang meliar (feral) juga dijumpai di Florida bagian selatan. Burung yang berukuran sedang sampai agak besar. Entok jantan liar dapat mencapai 86 cm, dari ujung paruh hingga ke ujung ekor. Dan beratnya bisa sampai 3 kg. Mentok betina lebih kecil, sampai sekitar 64 cm dan 1,3 kg. Mentok peliharaan biasanya lebih gemuk, di mana jantan bisa mencapai 7 kg dan betina mencapai 5 kg. Berwarna dominan hitam dan putih, mentok memiliki kulit atau tonjolan kulit berwarna merah dan hitam di sekitar mata dan wajah. Paruh gemuk pendek khas bebek, putih kemerahan; kaki gemuk pendek berselaput renang, abu-abu kehitaman. Ekor memipih datar agak lebar. Meskipun pandai terbang, mentok peliharaan hampir tak pernah terbang jauh. Unggas ini sering terlihat berjalan bersama kelompoknya, perlahan-lahan dan tak pernah tergesa-gesa, dengan ekor bergoyang ke kanan dan ke kiri untuk mengimbangi tubuh (Jawa, megal-megol) sehingga berkesan lucu.
7

Entok liar di alamnya tidur di atas cabang-cabang pohon. Akan tetapi mentok peliharaan biasanya tidur di atas tanah. Di pedesaan di Jawa, mentok jarang dikandangkan. Dibiarkan bebas berkeliaran mencari makanannya sendiri, terutama di sekitar saluran air, sungai dan sawah. Mentok memakan aneka siput, cacing, serangga air, yuyu kecil dan pucukpucuk tumbuhan. Oleh pemiliknya, mentok kerap diberi makan dedak bercampur air dan sisasisa makanan. Unggas ini tidak berisik, tidak seperti itik petelur. Mentok betina mengeluarkan desisan dan desahan sambil berjalan. Mentok jantan kadang-kadang mengeluarkan desis keras sambil menggerakkan kepala maju mundur (Jawa, nyosor), untuk memperingatkan atau mengusir pengganggu. Entok bertelur hingga kurang-lebih 10 butir, yang dierami oleh betinanya selama sekitar 5 minggu. Jenis Mentok 1. Entok lokal Entok lokal termasuk dalam ordo Anseriformes, family anatidae genus Chairina dan species Moschata

(Suryawijaya, 1984). Unggas ini berasal dari Amerika Selatan yaitu Brasilia kemudian menyebar ke Manila, Philipina dan selanjutnya masuk ke Indonesia dengan nama itik Manila. Itik manila atau Entog dapat mengeluarkan bau Musky yaitu seperti bau kesturi, oleh karena itu dikenal dengan nama Musk Duck. Karakteristik yang dimiliki oleh entok adalah karankula yang berwarna merah atau kadang kadang hitam yang menutupi sebagian dari muka dan paruh atas, Karankula pada itik jantan lebih tebal dan kasar daripada itik betina. Disamping itu, terdapat gumpalan merah disekitar mata dan diatas pangkal paruhnya. Berbeda dengan itik jantan, entog jantan tidak memiliki bulu keriting pada pangkal ekornya. Pada umur yang sama, bobot badan entog jantan kurang lebih dua kali lebih besar dari entog betina. Bobot badan dewasa entog jantan umumnya berkisar antara 4,5 sampai 4,6 kg. Entok mempunyai laju pertumbuhan lebih lambat dibandingkan bebek biasa. Pada umur 8 minggu, bebek terutama betinanya tumbuh lebih cepat karena mendekati bobot tubuh dewasa kelamin . Entok merupakan hewan pengubah makanan yang efisien, mempunyai nafsu makan lebih terkendali dan karenanya pembentukan lemak dalam tubuhnya relatif
8

lebih sedikit. Selain itu karkasnya mengandung lebih banyak daging yang tidak berlemak dan kandungan lemak tubuhnya sedikit. Deskripsi akan galur atau bangsa itik lokal di Indonesia sulit dilakukan karena banyaknya variasi warna dan ukuran tubuh yang ada. Pengakuan akan nama galur dari masing-masing daerah dan membuat kemiripan performa itik antara daerah satu dengan derah lainnya. Fakta tersebut telah menghantar akan banyaknya nama itik yang disesuaikan dengan nama daerah, dimana ternak tersebut beradaptasi dan berkembang biak dengan baik. Konsekuensi dari pengakuan tersebut merupakan indikasi bahwa ternak itik sudah lama dipelihara dan cukup berkelanjutan (sustainable). Matull dan Reiter (1995) melaporkan bahwa ternak entok lebih banyak menghabiskan waktunya di darat dengan penggunaan sumber air yang lebih sedikit. Kondisi ini juga telah dilaporkan sebelumnya oleh Reiter et al. (1997) bahwa baik ternak itik Pekin, entog maupun mandalung hanya mengalokasikan waktu mandi sebesar 2,1%, sementara untuk merawat tubuh (preening) memiliki persentase tertinggi yaitu 11%. Itik dan entog sama-sama berasal dari kelas unggas air. Secara biologis, sebagian besar aktivitasnya banyak dihabiskan di dalam air (aquatic) baik untuk berenang maupun berburu makanan.

2. Entok Rimba Mentok Rimba atau dalam bahasa ilmiahnya Cairina scutulata bisa dikatakan sebagai jenis bebek paling langka di dunia. Populasinya di seluruh dunia sangat langka, diperkirakan hanya tersisa sekitar 1000 ekor. Sekitar 150 ekor terdapat di Taman Nasional Way Kambas, salah satu habitat Mentok Hutan yang tersisa di Indonesia. Mentok Rimba dikenal juga sebagai Mentok Hutan, Serati, Bebek Hutan atau Angsa Hutan dan dalam bahasa inggris dikenal sebagai White-winged Wood Duck. Spesies ini termasuk salah satu burung air dari suku Anatidae (bebek). Mentok Rimba (Cairina scutulata) nyaris mirip dengan spesies Bebek Manila (Cairina moschata) yang sering dipelihara. Mentok berukuran besar antara 66-75 cm. Bentuknya hampir menyerupai bebek. Warna bulunya gelap dan kepala serta lehernya

keputih-putihan. Penutup sayap kecil putih, penutup sayap tengah dan spekulum abu-abu biru. Mentok Rimba berhabitat di lahan basah yang dekat dengan rawa-rawa. Burung jenis ini suka sekali bersembunyi di siang hari dan pada malam hari mereka juga dapat aktif mencari makan sendiri, berpasangan, maupun berkelompok 6-8 ekor. Karena hidupnya di lahan basah (air), maka

pembangunan listrik tenaga air dan polusi manusia menjadi ancaman terbesar bagi mereka. Selain itu, penurunan polulasinya juga diakibatkan oleh kerusakan, degradasi, dan gangguan habitatnya termasuk

kehilangan koridor hutan di tepi sungai. Polulasinya yang tinggal sedikit ini sangat beresiko terhadap kepunahan. Habitat Mentok Rimba tersisa di Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar, Indonesia, India, dan Bangladesh dengan jumlah populasi tidak mencapai 1000 ekor. Di Indonesia, semula Mentok Rimba ini dapat dijumpai di Jawa dan Sumatera, namun kini bebek jenis ini telah punah di Jawa. Sedangkan di Sumatera diperkirakan hanya bertahan di Taman Nasional Way Kambas dengan populasi sekitar 150 ekor. 3.2 Anatomi Dan Fisiologi A. Anatomi Dan Fisiologi Pencernaan Pada Ayam a. Pengertian Perncernaan Sistem pencernaan adalah penghancuran bahan makanan (mekanis/enzimatis, kimia dan mikrobia) dari bentuk komplek (molekul besar) menjadi sederhana (bahan penyusun) dalam saluran cerna. Tujuan dari pencernaan itu sendiri adalah untuk mengubkkah bahan komplek menjadi sederhana. Dan kegunaanya adalah unuk mempermudah penyerapan oleh vili usus. b. Organ Sistem Pencernaan 1. Mulut Mulut terdiri dari rahang bawah dan rahang atas,keduanya saling berhubungan sebagai paruh.Lidah berbentuk seperti pisau yang mempunyai permukaan yang kasar dibagian belakang yang berfungsi untuk membantu mendorong makanan ke esophagus. Disamping mulut berfungsi untuk memasukkan makanan,juga berfungsi untuk minum,menghasilkanair liur yang mengandung enzim
10

amilase.Enzim amilase adalah enzim pengurai makanan dan mempermudah pakan masuk kedalam kerongkongan. 2. Esophagus Esophagus sering disebut juga kerongkongan yang berupa pipa tempat pakan,melalui saluran ini dari bagian belakang mulut ke proventrikulus. 3. Tembolok ( Crop ) Tembolok merupakan organ berbentuk seperti kantong yang merupakan perlebaran dari kerongkongan.Tembolok ini berfungsi sebagai tempat

penyimpanan pakan sementara sebelum proses selanjutnya.Ditembolok ini sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali proses pencernaan.kecuali pencampuran sekresi saliva dari mulut yang dilanjutkan aktivitasnya tembolok.Didalam tembolok pakan mengalami proses pelunakan agar mudah dicerna pada organ pencernaan selanjutnya. 4. Proventrikulus Proventrikulus merupakan suatu pelebaran dari kerongkongan sebelum

berhubungan dengan ampela.kadang-kadang disebut juga glandula stomach atau true stomach.Proventrikulus berfungsi sebagai penghasil enzim pencernaan yaitu pepsin ( enzim pengurai protein ) dan penghasil asam lambung.Didalam proventrikulus ini terjadi pencernaan kimiawi oleh enzim pepsin dan hydrochloric acid. 5. Ampela Ampela sering disebut dengan perut otot atau gizzard atau mascular stomach.Tempat ampela terletak diantara proventrikulus dan bagian atas usus halus.Ampela mempunyai dua pasang otot yang sangat kuat sehingga ayam mampu menggunakan tenaga yang kuat.Pada umumnya ampela menyimpan material yang bersifat mengelilingi seperti grit,karang,batu-batu kecil atau kerikil.pakan yang masuk kedalam ampela segera digiling menjadi partikel kecil yang mampu melewati saluran usus.Apabila pakan yang masuk berukuran besar akan tertinggal beberapa jam. 6. Duodenum ( Usus 12 jari ) Duodenum merupakan organ retroperitoneal,yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum.pH duodenum yang normal berkisar pada derajat sembilan.Duodenum bertanggung jawab untuk menyalurkan makanan ke usus halus.secara histologi terdapat kelenjar Brunner yang menghasilkan
11

lendir.Dinding duodenum tersusun atas lapisan sel yang sangat tipis membentuk mukosa otot. 7. Jejenum ( Usus Kosong ) Jejenum adalah bagian kedua dari usus halus,diantara duodenum dan ileum.Jejenum dan ileum digantungkan dalam tubuh dengan

mesenterium.Permukaan dalam jejenum berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili),yang memperluas permukaan dari usus.secara histologis dapat dibedakan dengan duodenum,yakni berkurangnya kelenjar Brunner.secara histologi pula dapat dibedakan dengan ileum,yakni sedikitnya sel goblet dan palak peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis. Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti "lapar" dalam bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang berarti "kosong".Makanan mengalami pencernakan kimiawi oleh enzim yang dihasilkan didindig usus. Enzim-enzim yang dihasilkan dinding usus sebagai berikut : 1. Enterokinase : fungsi, mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan pankreas. 2. Erepsin: mengubah dipeptida/peptone menjadi asam amino 3. Maltase: mengubah maltosa menjadi glukosa 4. Disakarase: mengubah disakarosa menjadi monosakarida 5. Peptidase: mengubah polipeptida menjadi asam amino 6. Sukrase: mencerna sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa 7. Lipase: mengubah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak.

8. Ileum ( Usus Penyerapan ) Ileum adalah abgian terakhir dari usus halus dan terletak setelah duodenum dan jejenum,dan dilanjutkan oleh usus buntu.ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu. 9. Seka Seka dalam istilah anatomi adalah Suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Usus buntu dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis. Pada awalnya Organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara
12

aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki/berisi kelenjar limfoid. 10. Rektum Rektum adalah organ terakhir dari usus besar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.Mengembangnya dinding rektum karena

penumpukan material didalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi.jika defekasi tidak

terjadi,sering kali material akan dikembalikan ke usus besar,dimana penyerapan air akan kembali dilakukan.jika defekasi gtidak terjadi untuk periode yang lama,konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.

11. Kloaka Kloaka merupakan lubang bagian luar dari anus.pada ayam betina ukurannya sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh masa produksi atau tidak.ketika bertelur ukuran kloakanya lebih besar dapi pada tidak berproduksi.

c. Organ pembantu dalam proses pencernaan ayam Organ-organ tertentu berkaitan erat dengan pencernaan sebagai saluran sekresi kedalam saluran pencernaan.Fungsinya membantu dalam pemprosesan pakan organ tersebut yaitu pankreas,hati,dan kantong empedu. 1. Pankreas Pankreas terletak di antara duodenal loop pada usus halus. Pangkreas merupakan suatu kelenjer yang berfungsi sebagai kelenjer endokrin maupun sebagai kelenjer eksokrin. Sebagai kelenjer endokrin, pangkreas mensekresikan hormon insulin dan glukagon. Sementara sebagai kelenjer eksokrin, pangkreas mensekrsikan cairan yang diperlukan sebagai proses pencernaan di dalam usus halus, yaitu pencreatic juice. Cairan ini selanjutnya mengalir kedalam duodenum melalui pancreatic duct (saluran pangkreas), dimana lima enzim yang kuat membantu pencernaan pati, lemak, dan protein.Beberapa enzim dari pangkreas di simpan dan disekresikan dalam bentuk inaktif dan menjadi aktif pada saat berada di saluran pencernaan. Tripsinogen adalah enzim proteolitikyang di aktifkan di dalam usus halus oleh enterokinase, suatu enzim yang di sekresikan dari mukosa usus. Tripsinogen di aktifkan menjadi tripsin. Kemudian, tripsin akan mengaktifkan
13

kimotripsinogenmenjadi kimotripsin. Enzim yang lainnya-nuklease, lipase dan amilase-disekresikan dalam bentuk aktif. Beberapa enzimmembutuhkan kondisi lingkungan optimal untuk dapat berfungsi. 2. Hati Dari perut dan usus halus, sebagian besar pakan yang diserap masuk ke dalam vena portal menuju hati, suatu kelenjar terbesar kedalam tubuh. Hati tersusun dari dua lobi besar. Fungsi fisiologi hati sebagai berikut: a. Sekresi empedu. b. Detoksifikasi persenyawaan racun bagi tubuh. c. Metabolisme protein, karbohidrat, dan lipida. d. Penyimpan vitamin. e. Penyimpan karbohidrat. f. Destruksi sel-sel darah merah. g. Pembentukan protein plasma. h. Inaktifasi hormon polipeptida. Fungsi utama hati dalam pencernaan dan absorpsi adalah produksi empedu. Empedu penting dalam proses penyerapan lemak pakan dan ekskresi limbah produk, seperti kolesterol dan hasil sampingan degradasi hemoglobin. Warna kehijauan empedu disebabkan karena produk akhir destruksi sel darah merah, yaitu biliverdin dan dilirubin. 3. Kantong Empedu Ayam memiliki kantong empedu tetapi beberapa jenis burung tidak. Dua saluran empedu mentransfer empedu dari hati ke usus. Saluran kanan kantong empedu terbentuk melebar, dimana sebagian besar empedu mengalir dan kadangkadang di tampung. Sementara pada seluran sebelah kiri tidak melebar. Oleh karena itu, hanya sedikit empedu yang mengalir melelui bagian ini secara langsung ke usus.

14

B. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Reproduksi a. System Reproduksi Ayam Betina Organ reproduksi ayam betina terdiri dari ovarium dan oviduk. 1. Ovarium Adalah tempat sintesis hormon steroid seksual, gametogenesis, dan perkembangan serta pemasakan kuning telur (folikel). Oviduk adalah tempat menerima kuning telur masak, sekresi putih telur, dan pembentukan kerabang telur. Pada unggas umumnya dan pada ayam khususnya, hanya ovarium kiri yang berkembang dan berfungsi, sedangkan yang bagian kanan mengalami rudimenter. Ovarium pada unggas dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur 12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin. Ovarium terbagi dalam dua bagian, yaitu cortex pada bagian luar dan medulla pada bagian dalam. Cortex mengandung folikel dan pada folikel terdapat sel-sel telur. Jumlah sel telur dapat mencapai lebih dari 12.000 buah. Namun, sel telur yang mampu masak hanya beberapa buah saja (pada ayam dara dapat mencapai jutaan buah). Folikel akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid pakan ataupun karotenoid yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun folikel menjadikan lapisan konsentris tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang merupakan sintesis asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai volikel atau ovum yang dinamakan yolk (kuning telur). Dikenal tiga fase perkembangan yolk, yaitu fase cepat antara 4-7 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 10-8 hari sebelum ovulasi, serta pada 1-2 hari sebelum ovulasi. Akibat perkembangan cepat tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kadar xantofil dan karotenoid pada

15

pakan yang dibelah oleh latebra yang menghubungkan antara inti yolk dan diskus germinalis. Folikel dikelilingi oleh pembuluh darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui pembuluh darah ini, ovarium mendapat suplai makanan dari aorta dorsalis. Material kimiawi yang diangkut melalui sistem vaskularisasi ke dalam ovarium harus melalui beberapa lapisan, antara lain theca layer yang merupakan lapisan terluar yang bersifat permeabel sehingga memungkinkan cairan plasma dalam menembus ke jaringan di sekelilingnya. Lapisan kedua berupa lamina basalis yang berfungsi sebagai filter untuk menyaring komponen cairan plasma yang lebih besar. Lapisan ketiga sebelum sampai pada oocyte adalah lapisan perivitellin yang berupa material protein bersifat fibrous (berongga). Dalam membran plasma, oocyte (calon folikel) berikatan dengan sejumlah reseptor yang akan membentuk endocitic sehingga terbentuklah material penyusun kuning telur. Sehingga besar penyusutan kuning telur adalah material granuler berupa high density lipoprotein (HDL) dan lipovitelin. Senyawa ini dengan ion kuat dan pH tinggi akan membentuk kompleks fosfoprotein, fosvitin, ion kalsium, dan ion besi. Senyawa-senyawa ini membentuk vitelogenin, yaitu prekursor protein yang disintesis di dalam hati sebagai respon terhadap estradiol. Komponen vitelogenin lebih mudah larut dalam darah dalam bentuk kompleks lipida kalsium dan besi. Oleh adanya reseptor pada oocyte, akan terbentuk material kuning telur. proses pembentukan vitelogenin ini dinamakan vitelogenesis. Penyusun utama kuning telur adalah air, lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur diklasifikasikan menjadi dua kategori: 1. Livetin, yakni protein plasmatik yang terakumulasi pada kuning telur dan disintesis di hati hampir 60% dari total kuning telur. 2. Phosvitin dan lipoprptein yang terdiri dari high density lipoprotein (HDL) dan low density lipoprotein (LDL) yang disebut pula dengan granuler dan keduanya disintesis dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari disintesis 2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesis ini dikontrol oleh hormon estrogen. Hasil sintesis bersama-sama dengan
16

ion kalsium, besi dan zinc membentuk molekul kompleks yang mudah larut kemudian masuk ke dalam kuning telur. 2. Oviduk Oviduk terdapat sepasang dan merupakan saluran penghubung antara ovarium dan uterus. Pada unggas oviduk hanya satu yang berkembang baik dan satunya mengalami rudimenter. Bentuknya panjang dan berkelok-kelok yang merupakan bagian dari ductus muller. Ujungnya melebar membentukcorongg dengan tepi yang berjumbai. Oviduk terdiri dari lima bagian yaitu: infundibulum, maghnum, isthmus, uterus dan vagina. Urutan perjalanan terbentuknya sebutir telur pada saluran reproduksi ayam betina adalah sebagai berikut: a. Infundibulum/papilon : panjang 9 cm fungsi untuk menangkap ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang mengelilingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian ini berkisar 15-30 menit. Pembatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa sebelum terjadi pembuahan. b. Magnum : Bagian yang terpanjang dari oviduk (33cm). Magnum tersusun dari glandula tubiler yang sangat sensibel. Sintesis dan sekresi putih telur terjadi disini. Mukosa dan magnum tersusun dari sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam. c. Isthmus: Mensekresikan membran atau selaput telur. Panjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini berkisar 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan warna merah. d. Uterus : Disebut juga glandula kerabang telur, panjangnya 10 cm. Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu dehidrasi putih telur atau /plumping/ kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur. Warna kerabang telur yang terdiri atas sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20 21 jam.
17

e. Vagina : Bagian ini hampir tidak ada sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali pembentukan kutikula. Telur melewati vagina dengan cepat, yaitu sekitar tiga menit, kemudian dikeluarkan (/oviposition/) dan 30 menit setelah peneluran akan kembali terjadi ovulasi. f. Kloaka: Merupakan bagian paling ujung luar dari induk tempat dikeluarkannya telur. Total waktu untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Ini salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari. Di samping itu, saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal. Artinya, hanya oviduk bagian kiri yang mampu berkembang. Padahal, ketika ada benda asing seperti /yolk/ (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi. Proses pengeluaran telur diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian belakang. b. Sistem Reproduksi Ayam Jantan Sistem reproduksi pada ayam jantan berbeda dengan ayam betina. Alat reproduksi ayam jantan dibagi dalam tiga bagian utama, yaitu sepasang testis, sepasang saluran deferens, dan kloaka. 1. Testis Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara, temperatur testis selalu 41o - 43o C karena spermatogenesis (pembentukan sperma) akan terjadi pada temperatur tersebut. Testis ayam berbentuk biji buah buncis dengan warna putih krem. Testis terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan, lapisan albugin yang lunak. Bagian dalam dari testis terdiri atas tubuli seminiferi (85% 95% dari volume testis), yang merupakan tempat terjadinya spermatogenesis, dan jaringan intertitial yang terdiri atas sel glanduler (sel Leydig) tempat disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron. Besarnya testis tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan.

18

2. Saluran Deferens Saluran deferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma dari testis, serta bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan dinamakan saluran deferens. Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang berseberangan dengan urodium dan koprodeum. Di dalam saluran deferens, sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma terjadi pada 65% bagian distal saluran deferens. 3. Alat Kopulasi Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12-18 cm. Pada papila ini juga diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi. Mekanisme Spermatogenesis Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma yang terjadi di epitelium (tubuli) seminiferi di bawah kontrol hormon gonadotropin dan hipofisis (pituitaria bagian depan). Tubuli seminiferi ini terdiri atas sel sertoli dan sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam tiga fase, yaitu fase spermatogenial, fase meiosis, dan fase spermiogenesis yang membutuhkan waktu 13-14 hari

19

3.3 Proses Penetasan Pada Unggas Dari 2 Unggas Yang Berbeda A. Penetasan Telur Itik Dan Ayam Serama Persiapan Penetasan

Persiapan Telur Sebelum melakukan penetasan yang dilakukan haruslah persiapan telur tetas dengan

memilih atau menyeleksi telur tetas sesuai dengan kriteria telur tetas yang baik, telur yang kulitnya terlalu kotor perlu dibersihkan, akan tetapi perlu ke hati-hatian dalam membersihkan kulit telur jangan sampai lapisan kulit ikut hilang, selain itu harus memisahkan telur retak, kerabang yang tebal atau kerabang yang tipis.

Persiapan Mesin Tetas Persiapan mesin tetas dilakukan dengan pembersihan mesin tetas telah dilakukan satu

hari sebelum mesin dipakai meskipun mesin tersebut baru dibeli untuk menjaga sanitasi mesin tetas. Sanitasi di dalam mesin tetas sangatlah penting. Sanitasi ini sangatlah berpengaruh terhadap daya tetas dan kualitas DOC maupun DOD. Selain kebersihan mesin tetas dijaga dengan cara mencuci bersih hatcher dan setter yang kosong, maka perlu juga dilakukan fumigasi di dalam mesin tetas.

Menghubungkan mesin tetas dengan catu daya listrik dan tunggu sampai suhu mencapai kestabilan pada suhu 37-38C. Pemanasan mesin tetas dilakukan minimal 3 jam sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin tetas. Mengecek dengan seksama cara kerja thermostat, pitingan lampu dan yang lainnya. Hal yang tidak kalah penting adalah menyediakan cadangan bola lampu (dop) atau lampu templok (minyak tanah) untuk mempersiapkan adanya kerusakan lampu yang sedang dipakai. Suhu mesin tetas 100F dan harus dijaga kelembaban dengan terciptanya uap air dari air yang dipanaskan. Selama anak ayam (umur 1 18 hari) berada di mesin tetas suhu yang baik adalah 37,6C. Temperatur
20

ruang mesin setter maupun hacther harus konstan dan dicek setiap jam. Suhu yang berfluktuasi akan menyebabkan kegagalan dalam proses penetasan. Kegagalan ini ditandai dengan banyaknya telur tetas yang tidak menetas. Kalaupun menetas, bulu final stock itu lengket oleh cairan omnium. Selain dapat menyebabkan banyaknya telur yang tidak menetas, temperatur yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah juga dapat mempengaruhi lamanya waktu tetas.

Suhu di dalam mesin setter dijaga agar selalu konstan. Untuk itu digunakan peralatan yang terdapat di dalam mesin tetas. Cara settingnya pun diatur sehingga kapasitas satu mesin tetas tidak dipenuhi sekaligus melainkan hanya 1/3 bagian pada setiap minggu. Hal ini berkaitan dengan pengeluaran dan penyerapan panas (telur yang berumur 4 hari atau lebih akan mengeluarkan panas sedangkan telur kurang dari 4 hari akan menyerap panas). Kelembaban udara yang diukur dengan Hygrometer didalam ruang mesin penetas (incubator) haruslah dijaga pada kisaran 55-60% untuk 18 hari pertama di incubator dan lebih tinggi setelah itu. Mesin Penetas yang baik dan berharga mahal biasanya dilengkapi dengan hygrometer, namun jika tidak tersedia bisa dibeli sendiri. Hal yang perlu diperhatikan adalah temperatur mesin setter/hatcher. Kelembapan di inkubator 52 55 % (setara dengan 28,9C 29.4C pada bola basah thermometer), sedangkan kelembapan pada hatcher mula-

21

mula 52 55%. Apabila 1/3 dari jumlah telur di dalam mesin hacther telah retak, maka kelembapan dinaikan menjadi 70 75% (32.8C 33.3C pada bola basah thermometer). Harus terdapat sirkulasi ventilasi udara pada mesin tetas yang memiliki fungsi :

mengirim oksigen ke dalam mesin tetas, membuang atau mengalirkan CO2 ke luar mesin tetas sehingga kadarnya di dalam mesin tetas tidak lebih dari 0.5%. dan mendistribusikan panas secara merata.

Hal lain yang perlu diketahui sebelum penetasan dalam penetasan adalah mengetahui teknik pemutaran telur yang benar. Selama telur tetas berada di dalam mesin setter atau inkubator, telur tetas harus diputar 90 derajat setiap jam untuk menjaga agar embrio tidak menempel pada salah satu sisi kulit telur. Arah pemutaran telur untuk semua rak yang ada di dalam mesin inkubator harus searah. Hal ini terutama penting untuk sirkulasi udara dari panas. Pada mesin tetas buatan yang modern (memakai sistem digital), pengaturan temperatur, kelembapan, pemutaran telur dan sirkulasi udara tidak perlu dicek terus menerus dengan membuka pintu mesin tetapi cukup dengan melihat catatan yang dibuat secara otomatis pada panel kontrol mesin tetas.

Penetasan Ayam Serama Dalam budidaya ayam hias serama yang tersulit adalah pada proses penetasan,

dikarenakan daya tetas ayam hias dari Malaysia ini rendah. Hal ini dikarenakan seekor ayam betina unggul hanya mampu bertelur 6 -7 butir per bulan, dan hanya setengahnya yang bisa menetas. Selain itu cuaca sangat mempengaruhi kesuburan ayam serama. Cuaca yang terlalu dingin bisa menurunkan kemampuan ayam betina untuk bertelur. Sehingga suhu dalam proses penetasan tidak boleh lebih atau kurang dari 37,5C - 38C. Kelembapan udara juga harus selalu disesuaikan dengan usia telur.

22

Cara Penetasan Ayam Serama Setiadi, 2010, menjelaskan tata cara menetaskan ayam serama yang hamper sama

dengan penetasan DOC ayam ras. Tata caranya adalah sebagai berikut : Hari ke-1: Setelah sumber pemanas dihidupkan, pintu dan lubang ventilasi dari mesin penetas ditutup rapat, jangan sekali-kali mencoba membukanya dan suhu tetap dipertahankan 101F (38,33C). Aturan-aturan ini berlaku dalam jangka waktu 48 jam atau selama dua hari berturut-turut untuk menekan seminimal mungkin perubahan temperatur udara. Hari ke-2: Mesin tetas tetap dalam kondisi tertutup rapat, sementara suhu ruangan sama seperti pada hari pertama. Hari ke-3: Mulai dilakukan pemutaran telur dengan menggerakkan handle rak putar ke depan atau kebelakang. Pemutaran telur dilakukan supaya seluruh bagian telur mendapatkan panas secara merata. Hal ini sangat berguna untuk meningkatkan daya tetas. Kegiatan pemutaran dikerjakan dua atau tiga kali dalam sehari, masing-masing pada pukul 07.00, dan 19.00, atau pukul 07.00, 12.00 dan 19.00. Pemutaran telur dilakukan secara rutin setiap hari mulai hari ketiga sampai hari ke17 dengan frekuensi yang sama. Hari ke-4 Kegiatan yang dilakukan meliputi pemutaran, dan pembukaan lubang ventilasi selebar 1/4 bagian dan peningkatan suhu mesin penetas menjadi 102F (3 8,8C). Baki perlu diperiksa, apakah air yang ada di dalamnya masih cukup atau tidak. Hari ke-5: Kegiatan sama seperti hari ke-4, hanya saja lubang ventilasi dibuka selebar 1/2 bagian. Hari ke-6: Lubang ventilasi dibuka 3/4 bagian. Mengenai kegiatan, semuanya masih sama seperti hari ke-5.
23

Hari ke-7: Pemutaran telur tetap dilkukan tiga kali sehari. Pada malam hari mulai melakukan peneropongan telur (candling) untuk mengetahui keadaan di dalam telur. Melalui peneropongan tersebut akan diketahui telur yang fertil, telur kosong (infertil) dan kematian embrio di dalam telur. Telur yang fertil dimasukkan kembali ke rak tetas, sedangkan telur yang embrionya mati harus segera disingkirkan. Telur kosong masih dapat dimanfaatkan sebagai telur konsumsi. Suhu dalam mesin penetas tetap dipertahankan 102F (38,88C), namun lubang ventilasi dibuka seluruhnya. Hari ke-8: Kegiatan masih berkisar pada pemutaran, seperti yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Demikian pula mengenai lubang ventilasi yang tetap dibuka seluruhnya. Memasuki hari kedelapan, suhu penetasan ditingkatkan menjadi103F (39,44C). Hari ke-9 sampai hari ke-13: Seluruh kegiatan sama dengari hari ke-8. Hari ke-14: Pada hari ke- 14, kembali dilakukan peneropongan telur untuk mengetahui keadaan embrio di dalamnya. Embrio yang mati di dalam telur langsung dikeluarkan, sehingga rak tetas hanya diisi telur dengan bibit yang masih hidup saja. Namun jika masih ragu-ragu sebaiknya telur tetap biarkan dalam mesin tetas sampai hari yang ke 21, karena pada hari ke 14 ini sulit membedakan embrio yang hidup dan tidak, karena sama-sama tidak bergerak. Selain peneropongan, semua kegiatan pada hari ke- 14 ini sama dengan hari ke-13. Hari ke-15: Telur-telur tetas tetap diputar 3 kali sehari. Suhu masih 103F (39,44C) dan lubang ventilasi juga tetap dibuka seluruhnya. Hari ke-16 sampai hari ke 17 : Sama dengan kegiatan pada han ke-15.

24

Hari ke-18: Kegiatan pemutaran masih dilakukan, tetapi sesudahnya tidak boleh dilakukan lagi hingga telur menetas. Memasuki hari ke-18 sampai 21, telur mengalami masa kritis yang pada saat tersebut embrio mengalami perubahan yang sangat cepat untuk menjadi anak ayam. Beberapa organ tubuh mulai tumbuh sempurna, sehingga cukup peka terhadap perubahan temperatur udara luar. Suhu dalam ruangan mesin tetas ditingkatkan menjadi 104F(40C). Hari ke-19: Sebagian telur mulai retak. Pada saat seperti ini ruangan mesin penetas membutuhkan kelembaban yang lebih tinggi daripada hari- hari sebelumnya.Untuk menciptakan suasana tersebut, kita dapat menambah volume air pada baki. Suhu masih 104F (40C) dan lubang ventilasi tetap terbuka Hari ke-20: Seperti hari ke- 18 dan 19, maka pada hari ke-20. Suhu dipertahankan pada skala 104F (40C). Proses pecahnya kulit telur terjadi pada hari ke-20 dan ke-2 1. Anak ayam melalui paruhnya menekan ujung tumpul yakni rongga udara, kemudian memperpanjang diri dan menggelembung. Akibatnya, kulit telur menjadi sobek dan lama-kelamaan akan pecah. Dengan kekuatan sedikit demi sedikit, ujung tumpul tadi akan terangkat dan kepala anak ayam tersebut menyembul keluar.

Perkembangan Embrio Ayam Serama

Hari ke-1 Sel permulaan untuk sIstem pencernaan mulai terbentuk pada jam ke-18. Pada jamjam berikutnya, secara berturut-turut sampai dengan jam ke-24, mulai juga terbentuk sel permulaan untuk jaringan otak, sel permulaan untuk jaringan tulang belakang, formasi hubungan antara jaringan otak dan jaringan syaraf, formasi bagian kepala, sel permulaan untuk darah, dan formasi awal syaraf mata. Terbentuk lempengan embrio pada blastodermal. Nampak ada rongga segmentasi yang berada di bawah area pelucida, terdapat pada cincin yang berwarna lebih gelap dari sekitarnya.

25

Rongga segmentasi Hari ke-2 Embrio mulai bergeser ke sisi kiri, dan saluran darah mulai terlihat pada bagian kuning telur. Perkembangan sel dari jam ke-25 sampai jam ke -48 secara berurutan adalah pembentukan formasi pembuluh darah halus dan jantung, seluruh jaringan otak mulai terbentuk dan jantung mulai berdetak, jaringan pendengaran mulai terbentuk, selaput cairan mulai terlihat dan mulai juga terbentuk formasi tenggorokan. Selain itu nampak jalur pertama pada pusat blastoderm. Diantara extraembrionic annexis nampak membran vitelin yang memiliki peranan utama dalam nutrisi embrio.

Hari ke-3 Dimulainya pembentukan formasi hidung , sayap, kaki, dan jaringan pernafasan. Pada masa ini, selaput cairan juga sudah menutup seluruh bagian embrio. Embrio berada di sisi kiri, dikelilingi oleh sistem peredaran darah, membram viteline menyebar di atas permukaan kuning telur. Kepala dan badan dapat dibedakan, demikian juga otak. Nampak juga struktur jantung yang mulai berdenyut.

26

Hari ke-4 Sel permulaan untuk lidah mulai terbentuk. Pada masa ini embrio terpisah seluruhnya dari kuning telur dan berputar ke kiri. Sementara itu jaringan saluran pernafasan terlihat mulai menembus selaput cairan. Terjadi pula perkembangan rongga amniotik, yang akan mengelilingi embrio, yang berisi cairan amniotik, berfungsi untuk melindungi embrio. Nampak gelembung alantois yang berperan utama dalam penyerapan kalsium, pernapasan dan tempat penyimpanan sisa-sisa.

Hari ke-5 Saluran pencernaan dan tembolok mulai terbentuk. Pada masa ini terbentuk pula jaringan reproduksi. Karenanya sudah mulai dapat juga ditentukan jenis kelaminnya. Terjadi peningkatan ukuran embrio, embrio membentuk huruf C, kepala bergerak mendekati ekor.

Hari ke-6 Pembentukan paruh dimulai. Begitu juga dengan kaki dan sayap. Selain itu, embrio mulai melakukan gerakan-gerakan. Membram vetiline terus berkembang dan mengelilingi lebih dari separuh kuning telur. Fissura ada diantara jari kesatu, kedua dan ketiga dari anggota badan bagian atas dan antara jari kedua dan ketiga anggota badan bagian bawah. Jari kedua lebih panjang dari jari lain.

27

Hari ke-7, ke-8, dan ke-9 Jari kaki dan sayap terlihat mulai terbentuk. Selain itu, perut mulai menonjol karena jeroannya mulai berkembang. Pembentukan bulu juga dimulai. Pada masa-masa ini, embrio sudah seperti burung, dan mulutnya terlihat mulai membuka

Membram vetillin menyelimuti (menutupi) hampir seluruh kuning telur. Pigmentasi pada mata mulai nampak. Bagian paruh atas dan bawah mulai terpisah, demikian juga dengan sayap dan kaki. Leher merenggang dan otak telah berada di dalam rongga kepala. Terjadi pembukaan indra pendengar bagian luar

Kuku mulai nampak, selain itu alantois mulai berkembang dan meningkatnya pembuluh darah pada vitellus.

28

Hari ke-10 dan ke-11 Paruh mulai mengeras, jari-jari kaki sudah mulai sepenuhnya terpisah, dan pori-pori kulit tubuh mulai tampak. Lubang hidung masih sempit. Terjadi pertumbuhan kelopak mata, perluasan bagian distal anggota badan. Membran viteline mengelilingi kuning telur dengan sempurna. Folikel bulu mulai menutup bagian bawah anggota badan. Patuk paruh mulai nampak.

Hari ke-12 Jari-jari kaki sudah terbentuk sepenuhnya dan bulu pertama mulai muncul Hari ke-13 dan ke-14 Sisik dan kuku jari kaki mulai terbentuk. Tubuh pun sudah sepenuhnya ditumbuhi bulu. Pada hari ke-14 embrio berputar sehingga kepalanya tepat berada di bagian telur yang tumpul .Bulu-bulu halus hampir menutupi seluruh tubuh dan berkembang dengan cepat.

Hari ke-15
29

Jaringan usus mulai terbentuk di dalam badan embrio. Beberapa morfologi embrio berubah : anak ayam dan bulu halus terus berkembang. Vitellus menyusut cepat, putih telur mulai menghilang. Kepala bergerak ke arah kerabang telur (posisi pipping) di bawah sayap kanan.

Vitellus Hari ke 16 - 17 Sisik kaki, kuku dan paruh semakin mengeras. Tubuh embrio sudah sepenuhnya tertutupi oleh bulu yang tumbuh. Putih telur sudah tidak ada lagi, dan kuning telur meningkat fungsinya sebagai bahan makanan yang sangat penting bagi embrio. Selain itu, paruh sudah mengarah ke rongga kantung udara, selaput cairan mulai berkurang, dan embrio mulai melakukan persiapan untuk bernapas. Sistem ginjal dari embrio mulai memproduksi urates (garam dari asam urat). Permulaan internalisasi vitellin. Terjadi pengurangan cairan amniotik. Pada umur ini dilakukan transfer dari mesin setter (inkubtor) ke mesin hatcher dan juga bisa dilakukan vaksin in ovo.

Hari ke 18-19 Pertumbuhan embrio sudah mendekati sempurna. Kuning telur mulai masuk ke dalam rongga perut melalui saluran tali pusat. Embrio sudah semakin besar sehingga sudah memenuhi seluruh rongga telur kecuali rongga kantung udara. Penyerapan vitellin secara

30

cepat. Paruh mulai mematuk selaput/membran kerabang bagian dalam dan siap untuk menembusnya.

Hari ke-20 Vitelus terserap semua, menutup pusar (umbilicus). Kuning telur sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh embrio. Embrio yang hampir menjadi anak ayam ini menembus selaput cairan, dan mulai bernapas menggunakan udara di kantung udara. Saluran pernapasan mulai berfungsi dan bekerja sempurna. Ketika waktu peneropongan kita dapatkan kantung udara yang juga gelap maka dapat dipastikan bahwa embrio tersebut telah mati.

Hari ke-21 Anak ayam menembus lapisan kulit telur (pipping) dan pada akhirnya menetas. Anak ayam menggunakan sayap sebagai pemandu dan kakinya memutar balik, paruh memecah kerabang dengan cara sirkular. Anak ayam mulai melepaskan diri dari kerabang telur dalam waktu 12 18 jam dan membiarkan bulunya menjadi kering.

31

B. Penetasan Telur Itik Itik siap bertelur pada umur 4-5 bulan, untuk menghasilkan telur yang fertile,

indukan betina harus dikawinkan dengan indukan jantan dengan perbandingan 1:10 (1 jantan mengawini 10 betina). Secara alami penetasan DOD (Day Old Duck) menggunakan bantuan entok, karena bebek tidak mau mengerami telurnya. Sehingga penetasan lebih efektif menggunakan mesin tetas. a. Cara Penetasan Telur Itik Hari ke-1

Masukkan telur ke dalam mesin tetas dengan posisi miring atau tegak (bagian tumpul di atas). Telur bisa langsung begitu saja dimasukkan ke dalam mesin atau melalui proses prewarming terlebih dahulu yaitu dibilas secra merata dengan air hangat.

Ventilasi ditutup rapat Kontrol suhu (38C)

Hari ke-2

Ventilasi dibiarkan tertutup sampai hari ke-3 Kontrol suhu (38C)


32

Hari ke-3

Pembalikan telur harian bisa dimulai pada hari ini atau masuk hari hari ke-4. Disarankan pembalikan telur minimal 3x dalam sehari-semalam (jika memungkinkan dipakai rentang waktu setiap 8 jam. Misalkan pagi pukul 05.00, siang pukul 13.00, dan malam pukul 21.00.

Bersamaan dengan itu bisa dilakukan

peneropongan

telur

kalau sudah

memungkinkan karena ketelitian seseorang berbeda-beda. Telur yang berembrio ditandakan dengan bintik hitam seperti mata yang ikut bergoyang ketika telur digerakkan dan disekitarnya ada serabut-serabut kecil. Kalau telur tidak menandakan tersebut dikeluarkan saja dam masih layak untuk dikonsumsi. Peneropongan telur dilaukan ditempat yang gelap argar bayangan telur nampak lebih jelas.

Kontrol suhu (38C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-4

Pembalikan telur harian sesuai jadwal hari ke-3 Lubang ventilasi mulai dibuka bagian Kontrol suhu (38C)

Hari ke-5

Pembalikan telur harian Ventilasi dibuka bagian Kontrol suhu (38C)

Hari ke-6

Pembalikan telur harian Ventilasi dibuka bagian Kontrol suhu (38C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-7

Pembalikan telur harian Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui perkembangan embrio (hidup atau mati). Embrio mati mati ditandakan dengan bercak darah atau lapisan darah pada salah satu sisi kerabang telur sedang embrio yang berkembang serabut yang menyerupai sarang laba-laba semakin jelas

Ventilasi dibuka seluruhnya

33

Hari ke-8 sampai ke-13


Pembalikan telur harian Kontrol suhu (38C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-14

Pembalikan telur harian Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup atau sudah mati. Telr fertile membentuk gambaran mulai gelap dengan rongga udara yang terlihat jelas

Hari ke 15 sampai ke-20


Pembalikan telur harian Kontrol suhu dinaikkan sedikit (38,5-39C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-21

Pembalikan telur harian Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup dan mati. Embrio mati ditandakan dengan bocornya lapisan rongga udara sehingga telur terlihat hitam semua

Kontrol suhu (38,5-39C) dan tambahkan air ke dalam bak

Hari ke-22 sampai ke-25


Pembalikan telur harian Kontrol suhu (38,5-39C) dan tambahkan air ke dalam bak

Hari ke-26 sampai ke-27


Pembalikan telur dihentikan Kontrol kelembaban, lakukan penyemprotan jika diperlukan (dengan semburan yang paling halus)

Biasanya ada telur yang sudah mulai menetas di malam hari

Hari ke-28

Telur-telur sudah banyak yang menetas Keluarkan cangkang telur dari rak agar space atau ruangan lebih longgar Keluarkan anak itik yang baru menetas setelah bulunya setengah kering atau kering seluruhnya

Proses menetas biasanya berlangsung hingga hari ke-29

34

Dan setelah semuanya selesai mesin tetas bisa dibersihkan dan difumigasi kembali untuk persiapan proses penetasan berikutnya.

b. Perkembangan Embrio Telur Itik Pada hari ke-0 terjadi pembuahan, jika setelah dikawinkan tapi telur infertil kemungkinan pejantan masih terlalu muda, atau pejantan terlalu gemuk atau ada masalah dengan kaki sehingga kawin tidak sempurna. Dimungkinkan pula induk itik betina terkena penyakit. Hari ke1 1.5 terjadi perkembangan awal 24 jam. Warna membran embrio coklat muda dengan diameter 1 cm. Hari ke 2.5 3 terjadi perkembangan awal 48 jam. Warna membran embrio coklat muda dengan diameter 3 cm. Menuju hari ke 4 5 terdapat cincin darah yang terlihat jelas dan awal pembentukan cairan sub-embrio. Pada hari ke 5.5 15 terbentuk mata hitam yaitu pigmen hitam pada mata embrio jelas terlihat. Sayap dan kaki dapat terlihat juga. Memasuki hari ke 6 21 bulu mulai ada. Walau bulu pertama mulai terlihat pada hari ke 11, namun biasanya belum penuh, sebelum hari ke 13. Hari ke 22 25, embrio bergerak dari kepala di antara kaki ke posisi penetasan dan kuning telur tetap berada di luar badan embrio. Pada hari ke 25 27 terjadi Robek internal. Paruh dari embrio menembus membran dalam ke ruang udara. Menjelang hari ke 25 - 27 terjadi proses robek eksternal yaitu paruh dari embrio telah memecah cangkang. Pada hari ke 28 telur menetas sempurna. Keberhasilan penetasan telur bebek menjadi meri umumnya hanya 50%, namun jika ada yang mencapai 70-80% sudah sangat bagus, karena cangkang telur bebek sangat tebal sehingga memakan waktu lama dan lebih sulit dari penetasan ayam. Untuk membedakan DOD atau meri jantan dan betina, meri yang jantan pada duburnya terdapat tonjolan, sedangkan yang betina tidak. Selain itu bulu meri jantan lebih kasar dari betina.

35

Kegagalan Dalam Proses Penetasan serta Kemungkinan Penyebabnya Kegagalan Penetasan Adapun beberapa faktor yang sering kali menyebabkan kegagalan penetasan dalam proses penetasan dengan menggunakan alat penetas buatan, antara lain seperti berikut : a. Telur Infertil Beberapa faktor yang menyebabkan telur infertil atau tidak tertunasi adalah :

Perbandingan induk jantan dan betina tidak memenuhi persyaratan Induk jantan/betina sudah terlalu tua Induk betina terlalu gemuk Kebersihan kerabang telur tetas Telur tetas disimpan terlalu lama pada kondisi yang tidak sesuai sebelum dimasukan ke dalam mesin tetas

Pakan induk parent stock kekurangan vitamin A,B,C atau E dan Parent stock mengalami sakit/stres.

b. Embrio mati awal Apabila embrio banyak yang mati awal, kemungkinan penyebabnya adalah :

Temperatur mesin tetas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah Faktor genetik parent stock Kesalahan dalam proses fumigasi (pengasapan) Kesalahan pada pemutaran telur Stres/penyakit pada parent stock

c. Embrio banyak yang mati di mesin penetasan Bila embrio banyak yang mati , sesaat sebelum kulit telur retak, maka kemungkinan penyebabnya adalah :

Pemutaran telur yang tidak benar, Temperatur dan kelembapan mesin tetas yang tidak tepat, Faktor generik parent stock, Peletakan telur pada tray yang tidak benar arahnya, seharusnya yang bulat di atas dan runcing di bawah.

Sirkulasi udara yang tidak baik


36

d. Embrio banyak yang mati setelah kulit telur retak Bila embrio banyak yang mati sesudah kulit telur retak, maka kemungkinan penyebabnya adalah kelembapan di mesin hatcher (penetasan) terlalu rendah dan terjadi fluktuasi temperatur di mesin setter. e. Bila final stock menetas terlalu cepat Kemungkinan disebabkan oleh temperatur mesin setter/hatcher yang terlalu tinggi. f. Final stock terlambat menetas Bila final stock terlambat menetas, kemungkinan disebabkan oleh temperatur mesin setter terlalu rendah atau sebelum ditetaskan, telur tetas telah lama disimpan. g. Final stock tidak serempak menetas Bila final stock tidak serempak menetas, kemungkinan penyebabnya adalah :

Penyebaran panas di dalam mesin tetas tidak merata Telur tetas berasal dari induk/parent stock yang berbeda umur Ukuran telur yang beragam

h. Pusar final stock tidak menutup secara sempurna Bila pusar final stock tidak menutup secara sempurna, kemungkinan penyebabnya adalah :

Temperatur di mesin hatcher terlalu tinggi Temperatur di mesin setter terlalu berfluktuasi Kesalahan teknik fumigasi pada saat telur berada di mesin hacther dan Kelembapan di mesin hatcher terlalu rendah.

i. Final stock tertutup cairan Bila final stock tertutup cairan, maka kemungkinan penyebabnya adalah :

Temperatur di mesin tetas terlalu rendah Kelembapan di mesin tetas terlalu tinggi dan Kandungan gizi pakan parent stock kurang tepat.

j. Final stock terlalu kecil Bila final stock terlalu kecil, maka kemungkinan penyebabnya adalah :

Berat telur tetas terlalu rendah Kelembapan di mesin tetas terlalu rendah dan Temperatur di mesin tetas terlalu tinggi

k. Final stock lemah Bila final stock terlalu lemah, maka kemungkinan penyebabnya adalah :

Temperatur di mesin hatcher terlalu tinggi


37

Kelembapan di mesin hatcher terlalu tinggi Kandungan gizi pakan parent stock kurang tepat Telur tetas berasal dari induk parent stock yang masih muda.

38

3.4 Penyusunan Formula Ransum Terdapat tiga (3) macam metode yang biasa digunakan dalam penyusunan formula ransum yaitu pearson square method, least cost formulation dan trial and error. Pearson square method adalah metode penyusunan pakan yang berasal dari perhitungan 4 macam bahan. Least cost formulation adalah penyusunan ransum ekonomis dengan dasar linear programming. Metode trial and error dapat dilakukan peternak dengan cara mengubah ubah komposisi (persentase) bahan pakan dalam ransum dengan mempertimbangkan kriteria rasional, ekonomis dan aplikatip. Saat ini telah pula tersebia beberapa soft ware atau program yang dapat digunakan untuk penyusunan formula ransum seperti MIXID atau aplikasi EXCEL. Menggunakan dua bahan makanan ternak Jika ada dua macam bahan makanan ternak yang akan dipergunakan untuk mencampur konsentrat menjadi ransum ayam petelur periode layer dengan protein kasar 16%, bagaimana formula ransumnya. Jika diketahui bahan makanan yang digunakan adalah jagung PK 9 % dan bekatul PK 12 % dengan perbandingan 3 : 1, serta konsentrat PK 38 %. Bahan yang digunakan, yaitu konsentrat, jagung dan bekatul. Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 1995 menyebutkan, untuk ayam petelur periode starter (umur 1-6 minggu), membutuhkan PK antara 18-20%, grower (6-20 minggu) memerlukan asupan PK 13.5-16%, dan periode produksi yang umumnya berumur lebih dari 20 minggu membutuhkan kadar PK pada kisaran 15-18%. No. 1. 2. 3. Bahan Konsentrat Jagung Bekatul 38 9 12 PK %

39

PK yang dibutuhkan ayam petelur fase grower sebesar 16 % Menghitung PK dari campuran jagung dan bekatul : a. Suplai PK dari jagung b. Suplai PK dari bekatul = 0,75 x 9 % = 6,75 % = 0,25 x 12 % = 3,00 %

Menghitung proporsi campuran jagung dan bekatul dalam ransum

Kosentrat

38 %

6,25

16

Campuran

9,75 %

22 + 28, 25

Jika ingin dibuat ransum sebanyak 100 kg maka : a. Kosentrat yang digunakan = 6,25/28,25 x 100 kg = 22,1 kg b. Jagung yang digunakan = 0,75 x 22/28,25 x 100 kg = 58,40 kg c. Bekatul yang digunakan = 0,25 x 22/28,25 x 100 kg = 19,4 kg

Penyususnan pakan unggas dengan metode trial and error (metode coba-coba) ini, tidaklah dapat sekaligus dipenuhi kebutuhan beberapa zat makanan. Oleh karena itu setelah didapat suatu formula yang mengandung zat makanan yang mendekati jumlah kebutuhan, langkah selanjutnya adalah mengadakan penyesuaian jumlah bahan makanan yang dipakai
40

sampai didapat suatu formula yang mengandung zat makanan dalam jumlah yang dikehendaki. Untuk jelasnya kita buat contoh sebuah formula ransum untuk ayam petelur periode grower yang mengandung protein 35 %, energi 3100 kkal/kg, calsium 2 %, phospire 7 %, methionin 0,4 % dan lysine 1,12 %. Pakan ini disusun dari bahan-bahan makanan yang mengandung zat-zat makanan seperti tertera dalam tabel matrik dibawah ini.

3.5 Alasan bungkil kacang kedelai dan bungkil kelapa tidak dapat digunakan secara maksimal dalam penyusunan ransum. Bungkil kedelai (Glycine max) merupakan legum penting yang ditanam untuk kebutuhan pangan dan minyak tanaman. Walupun tanaman ini telah ditanam di dunia timur untuk beberapa ribu tahun yang lalu dan telah diintroduksikan di Amerika utara kira-kira seabad lalu, ternyata 70% dari produksi dunia berasal dari Amerika. Bungkil biji kedelai mengandung PK 40-48% (bergantung berapa banyak bagian kulit dihilangkan). Dibandingkan dengan bungkil dari bijian yang mengandung minyak, asam amino yang dikandung bungkil kedelai relatif seimbang untuk diek unggas. Kandungan lysin sangat tinggi, demikian juga dengan ketersediaan asam aminonya. Kandungan ME bungkil kedelai berkisar 2,4-2,8 kkal/g. Anti nutrisi yang terkandung dalam bungkil kedelai termasuk protease inhibitor, goitrogenic factor, dan oestrogenic compound. Pemanasan dapat merusak protease inhibitor dan faktor lainnya tidak menunjukkan kendala nutrisi dibawah penggunaan yang normal. Bungkil kedelai yang diproses dengan baik merupakan sumber potein yang sangan baik untuk semua kelas unggas, dengan penggunaan yang tidak terbatas. Alasan bungkil kacang kedelai tidak dapat digunakan secara maksimal dalam penyusunan ransum karena zat anti nutrisi yang terkandung didalamnya apabila diberikan secara berlebihan akan menurunkan performans ternak, Biji kedelai menagandung zat penghambat protease yang bila bergabung dengan trypsin akan membentuk senyawa kompleks yang tidak aktif. Penghambat ini mengakibatkan hipertropy pada pancreas. Mode aksi dari penghambatan ini adalah dihambatnya sekresi enzyme pancreas. Perlakuan pemanasan pada tempratur yang tepat (2500F selama 2,5-3,5 menit) dapat menghancurkan bahan ini. Anti vitamin B-12 merupakan cara yang baik untuk menanggulangi masalah ini. Goitrogens merupakan bahan yang menghambat penyerapan yodium.

41

Bungkil kelapa memiliki nilai hayati 60 - 80 persen dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi bagi ternak ayam dan mempunyai kemampuan mensuplai energi dan protein setara dengan dedak padi. Salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian bungkil kelapa pada ternak non ruminansia adalah kandungan serat kasar terutama lignin yang tinggi karena sulit dicerna oleh alat pencernaan. Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan bungkil kelapa adalah nilai nutrisi dibatasi oleh rendahnya kandungan asam amino lisin dan metionin. permasalahan lain pada bungkil kelapa adalah sifatnya yang mudah tengik di udara terbuka (proses oksidasi). Jika sudah tengik, permukaan berubah warna menjadi kehitaman dan mengeluarkan bau busuk. Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya ulat dan ragi. Untuk menghindari hal itu, bungkil disimpan dalam plastik hitam dengan oksigen minimal. Perlakuan tersebut dimaksudkan untuk menghindari terjadinya oksidasi. Di dalam plastik tanpa oksigen tersebut, bungkil bisa tahan disimpan selama satu bulan. Pengawetan bungkil kelapa juga bisa dilakukan dengan mengeringkannya dalam bentuk blok. Pakan dalam bentuk blok biasanya diperkaya dengan nutrisi dan bahan pakan tambahan lainnya. Sebagai contoh complete feed block (CFB) yang juga bisa difermentasi. Lignin merupakan bahan penguat yang terdapat dalam dinding selulosa. Pada umumnya lignin terdapat dalam selulosa sebanyak 60% dan 24 % dari total berat kering kayu. Karena lignin dan selulosa adalah penyusun dinding sel tumbuhan maka dapat dipastikan bahwa seluruh bagian dalam tumbuhan akan mengandung lignin dan selulosa. Hanya saja kandungannya berbeda-beda, seperti janggel, kulit keras, biji, bagian serabut kasar, akar dan batang akan lebih tinggi kandungan ligninnya dibanding pada daun dan buah. Pada tanaman tua, kandungan lignin sangat tinggi karena lignin akan melapisi matriks dari selulosa dan hemiselulosa, dengan kata lain semakin bertambah umur suatu tanaman maka kandungan lignin juga akan semakin bertambah tinggi.

42

BAB IV KESIMPULAN

Entok lokal termasuk dalam ordo Anseriformes, family anatidae genus Chairina dan

species Moschata.
Entok mempunyai laju pertumbuhan lebih lambat dibandingkan bebek biasa

Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan dakam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh proses pada saluran pencernaan unggas menggunakan tiga prinsip yaitu mekanik, enzimatis dan microbioligis Saluran pencernaan pada unggas terdiri dari mouth (mulut), oeshophagus (tenggorok), crop (tembolok), proventriculus (lambung kelenjar), gizzard (empedal/rempela), small intestine (usus kecil), ceca (usus buntu), large intestine (usus besar), cloaca Penetasan adalah usaha untuk menghasilkan anak ayam atau unggas lain dengan berbagai cara pengeraman. Prinsip penetasan adalah proses pengeraman telur secara alami ataupun buatan untuk memberikan suasana panas dan kelembaban tertentu agar embrio didalam telur dapat berkembang sehingga dapat menjadi anak ayam. Perubahan posisi telur (pembalikan) sebaiknya 3 atau 5 kali sehari dan dihentikan pada hari ke 18. Hasil tetas adalah presentase jumlah telur yang menetas dari total yang di setting. Lama penetasan sekitar 21 hari Dalam penetasan telur secara buatan diatur kondisi sesuai dengan pada saat telur dieram induks secara alami sehingga suhu, kelembapan, proses diatur sedemikian hingga mirip kondisi pengerama alami. Sebelum penetasan haruslah dipilih telur yang memiliki kualitas tinggi dan harus dilakukan persiapan alat mesin tetas dengan fumigasi, pengaturan suhu, pengaturan kelembapan, dan ventilasi Daftar Pustaka

43

Anonimous.2007. System Reproduksi Ayam Betina. http://chickaholic.wordpress.com /2007/10/19/ sistem-reproduksi-ayam-betina. Diakses tanggal 21 Oktober 2011. Anonim. 2007. CP Bulettin Service, Maret 2007, Perkembangan Embrio dari Hari ke Hari. No. 87/Tahun VIII, Hal 1-4. Diakses tanggal 21 Oktober 2011. Anonim. 2010. Bila Telur Buras Gagal Menetas. Poultry Indonesia

http://www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid= 784/6/12/07.htm. Diakses tanggal 20 Oktober 2011. Anonim.2010. Bahan Makanan Ternak : Biji Kedelai (Glycine max) dan Bungkil Kedelai. http://intannursiam.wordpress.com/2010/08/20/bahan-makanan-ternak-biji-kedelaiglycine-max-dan-bungkil-kedelai/#more-200. Diakses tanggal 20 Oktober 2011. Anonim. 2011. Ayam Serama Perawatan Ekstra Sampai Menjelang Kontes. http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1295504808/56924/Ayam-seramaPerawatan-ekstra-dari-telur-sampai-menjelang-kontes-2-. Diakses tanggal 21 Oktober 2011. Anonim. 2011. Pertumbuhan Embrio Bebek. http://bebeksolo.web.id/pertumbnuhan%20embrio%20bebek, diakses 20 Oktober 2011. Diakses tanggal 21 Oktober 2011.

Anonim.

2011.

Menetaskan

DOC

yang

Ber-kualitas.

http://www.glory-

farm.com/ptetas_mesin/mgt_tetas.htm. Diakses tanggal 20 Oktober 2011. Achmanu, Prof. Dr. Ir. , dan Muharlien Ir, MP, 2011, Ilmu Ternak Unggas, UB Press : Malang Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak. Universitas Indonesia . Jakarta.Hartadi, H. ,A.D. Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta Kamal, M. 1994. Nutrisi Ternak Dasar I. Jurusan Nutrisi dan Makana Ternak.Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta Isnani,Galuh Adi.2007. Sistem reproduksi Ayam Jantan. http://chickaholic. wordpress.com /2007/10/23/ sistem-reproduksi-ayam-jantan. Diakses tanggal 21 Oktober 2011.

44

Rita,

2010, Perbandingan Perkembangan Lanjut Embrio, http://ritacuitcuit.blogspot.com/2011/02/perbandingan-perkembangan-lanjutembrio.html, diakses 29 Oktober 2011

Setiawan, 2010, Tata Cara penetasan Telur Itik, http://sentralternak.com/index.php/2010/08/07/tata-cara-penetasan-telur-itik/, diakses 29 Oktober 2011 Suryani Titik,Ir,Santosa,Ir, 2002. Pembibitan Ayam Ras, Penebar Swadaya : Jakarta Tillman, dan S. Reksohadiprodjo. 1986. Tabel Komposisi PakanUntuk Indonesia.Fakultas Peternakan. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

45

46