Anda di halaman 1dari 55

MANAJEMEN PAKAN PADA PEMELIHARAAN LARVA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO JAWA TIMUR

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG II JURUSAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PERIKANAN SEMESTER III

LAPANG II JURUSAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PERIKANAN SEMESTER III Oleh: DANIAR RIFQI FARDIAN NIT. 10. 3. 02.

Oleh:

DANIAR RIFQI FARDIAN NIT. 10. 3. 02. 095

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN AKADEMI PERIKANAN SIDOARJO

2011

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

:

Manajemen Pakan pada Pemeliharaan Larva Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Jawa Timur

Nama

:

Daniar Rifqi Fardian

NIT

:

10. 3. 02. 095

Jurusan

:

Teknologi Budidaya Perikanan

Laporan ini Disusun Sebagai Pertanggungjawaban Atas Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang II Jurusan Teknologi Budidaya Perikanan Akademi Perikanan Sidoarjo

2011

Menyetujui:

Dosen Pembimbing I,

Ir. Teguh Harijono, MP Tanggal :

Dosen Pembimbing II,

Hamdani, S.Pi. MMA Tanggal :

Mengetahui:

Ketua Jurusan TBP,

KATA PENGANTAR Ir. Moh. Zainal Arifin, MP NIP. 19640214 199003 1 004

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat

menyelesaikan penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapang II. Keberhasilan penyusunan

laporan ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis

menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak H. Endang Suhaedy, A.Pi., MM., M.Si, selaku Direktur Akademi Perikanan

Sidoarjo .

2. Bapak Ir. Moh. Zainal Arifin, MP, selaku Ketua Jurusan Teknologi Budidaya Perikanan

yang telah memberikan kesempatan dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapang II.

3. Bapak Ir. Teguh Harijono, MP selaku dosen pembimbing I dan bapak Hamdani, S.Pi.

MMA selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan

dalam menyusun Laporan Praktek Kerja Lapang II.

4. Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya laporan ini.

Penulis menyadari kemungkinan adanya kekurangan, kesalahan dalam penyusunan

laporan ini, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaannya.

Sidoarjo, Oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR GAMBAR

iv

DAFTAR TABEL

v

DAFTAR LAMPIRAN

vi

I.

PENDAHULUAN

1

1.1.

Latar Belakang

1

1.2.

Maksud

2

1.2.

Tujuan

2

II.

TINJAUAN PUSTAKA

3

2.1. Biologi Udang Vannamei

3

 

2.1.1. Klasifikasi

3

2.1.2. Morfologi

4

2.1.3. Tingkah Laku

5

2.1.4. Perkembangan Larva

6

 

2.2. Persyaratan Lokasi

9

2.3. Manajemen Pakan Larva Udang Vanname

10

 

2.3.1. Persyaratan Nutrisi Pakan

10

2.3.2. Pemberian Pakan

12

2.3.3. Pakan Alami

13

2.3.4. Pakan Buatan

15

2.3.5. Pakan Tambahan

17

 

2.4. Pemeliaraan Larva Udang Vannamei

18

 

2.4.1. Persiapan Bak Pemeliharaan Larva

18

2.4.2. Persiapan Air Media

19

2.4.3. Penebaran Naupli

20

2.4.4. Pengolahan Pakan

20

2.4.5. Monitoring Pertumbuhan

21

III.

METODOLOGI

23

3.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

23

3.2. Metode PKL

23

3.3. Sumber Data

23

3.4. Teknik Pengumpulan Data

24

IV.

KEADAAN UMUM

26

4.1. Lokasi BBAP Situbondo

26

4.2. Sejarah berdirinya BBAP Situbondo

26

4.3. Tugas dan Fungsi BBAP Situbondo

27

4.4. Struktur Organisasi BBAP Situbondo

28

4.5. Sarana dan Prasarana

29

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

31

5.1. Pemeliharaan Larva

31

5.1.1. Persiapan Bak Pemeliharaan larva

31

5.1.2. Persiapan Air Media

32

5.1.3. Penebaran Naupli Udang Vannamei

33

5.2. Manajemen Pakan Udang Vannamei

33

5.2.1. Pakan Alami

34

5.2.2. Pakan Buatan

39

5.3. Pengelolaan Kualitas Air

43

5.4. Pengendalian Penyakit

44

5.5. Monitoring Pertumbuhan

44

5.6. Pemanenan

46

5.7. Pemasaran

47

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

48

6.1. Kesimpulan

48

6.2. Saran

48

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Gambar

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

4

2. Stadia Zoea I-III

8

3. Stadia Mysis I-III

8

4. Stadia PL I-10

9

5. Pengisian Filter Bag

32

6. Skeletoneme pada Penampungan

34

7. Kultur Artemia dan Artemia dalam Kemasan

37

8. Pakan Buatan

40

9. Pencampuran dan Penyebaran Pakan Buatan

43

Tabel

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Stadia Perkembangan Naupli

7

2. Tabel Perkembangan Stadia Zoea

7

3. Stadia Perkembangan Mysis

8

4.

Kandungan nauplius artemia

14

5. Bentuk dan Ukuran Pakan Buatan

6. Manajemen Pemberian Pakan pada Larva Udang Vannamei

16

18

7. Dosis Pemberian Pakan Alami

38

8.

Kandungan Nutrisi Artemia

38

9.

Komposisi Pakan Buatan

40

10.Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Buatan

42

Lampiran

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Denah lokasi BBAP Situbondo

51

2. Struktur Organisasi BBAP Situbondo

52

3. Dekapsulasi Artemia sp

53

4. Jadwal Pemberian Pakan

54

1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Udang putih Amerika Litopenaeus vannamei merupakan salah satu pilihan jenis udang

Udang putih Amerika Litopenaeus vannamei merupakan salah satu pilihan jenis

udang

yang

dapat

dibudidayakan

di

Indonesia,

selain

udang

windu

(Penaeus

monodon). Di Indonesia, udang Litopenaeus vannamei lebih dikenal dengan nama

udang vannamei. Udang vannamei masuk ke Indonesia paada tahun 2001. Pada Mei

2002, pemerintah memberikan ijin kepada perusahaan swasta untuk mengimpor induk

udang vannamei sebanyak 2.000 ekor. Selain itu juga mengimpor benur sebanyak 5

juta ekor dari Hawai dan Taiwan serta 300.000 ekor dari Amerika Latin. Induk dan

benur tersebut kemudian dikembangkan oleh hatchery pemula.

Dengan adanya pembenihan udang vannamei, baik dalam bentuk skala kecil atau

skala mini hatchery akan membantu pemerintah dalam penyediaan benur bemutu bagi

pembudidaya udang vannamei. Sehingga target pemerintah meningkatkan produksi

udang dalam negeri dapat tercapai.

Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya udang vannamei karena

menyerap 60 70 % dari total biaya operasional. Pemberian pakan yang sesuai kebutuhan

akan memacu pertumbuhan dan perkembangan udang vannamei secara optimal sehingga

produktifitasnya bisa ditingkatkan. Pada prinsipnya, semakin padat penebaran benih udang

berarti ketersediaan pakan alami semakin sedikit dan ketergantungan pada pakan buatan pun

semakin meningkat.

Karena itu, manajemen pakan sangat penting dalam budidaya perairan.

Manajemen

pakan yang tidak tepat dapat menyebabkan usaha tidak ekonomis dan tidak lestari. Manajemen

pakan terdiri dari memilih merek atau membuat pakan yang akan digunakan, mengadakan,

menyimpan dan prosedur pemberiannya kepada biota budidaya pada waktu yang tepat dan

benar. Untuk itu perlu dilakukan PKL II tentang management pakan udang vannamei untuk

meningkatkan produktifitas benur.

1.2.

Maksud dan Tujuan

1.2.1.

Maksud

Adapun maksud yang ingin dicapai selama mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang II

adalah ikut berpatisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan manajemen pakan udang vannamei

mulai dari persiapan lahan, pengisian air, penebaran naupli, manajemen pakan, dan monitoring

pertumbuhan.

1.2.2. Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang II adalah :

1. Untuk

memperoleh

pengetahuan

(Litopenaeus vannamei).

tentang

teknik

pemeliharaan

larva

udang

vannamei

2. Untuk memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan pakan pada pemeliharaan larva udang

vannamei.

3. Menambah keterampilan tentang teknik pemeliharaan larva udang vannamei.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Biologi Udang Vannamei

2.1.1.

Klasifikasi

Menurut

Haliman

dan

Adijaya

(2005),

klasifikasi

vannamei) adalah sebagai berikut :

Kingdom

: Animalia

Subkingdom

: Metazoa

Filum

: Artrhopoda

Subfilum

: Crustacea

Kelas

: Malascostraca

Subkelas

: Eumalacostraca

Superordo

: Eucarida

Ordo

: Decapoda

Subordo

: Dendrobrachiata

Famili

: Penaeidae

Genus

: Litopenaeus

Spesies

: Litopenaeus vannamei

udang

Famili : Penaeidae Genus : Litopenaeus Spesies : Litopenaeus vannamei udang vannamei (Litopenaeus

vannamei

(Litopenaeus

2.1.2.

Morfologi

Tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang atau (biramous) yaitu exopodite dan

endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktifitas berganti kulit luar atau

eksoskeleton secara periodik

(moulting).

Bagian chephalothorax udang

vannamei sudah

mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut:

Makan, bergerak dan membenamkan diri dalam lumpur (burrowing).

Menopang insang karena struktur insang mirip bulu unggas.

Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.

unggas.  Organ sensor, seperti pada antena dan antenula. Gambar 1. Udang Vannamei ( Litopenaeus vannamei

Gambar 1. Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

Kepala (Chephalothorax) udang vannamei terdiri dari antenula, antenna, mandibula, dan

dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxiliped

dan lima pasang kaki berjalan (peripoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxipiliped sudah

mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Bentuk peripoda beruas-ruas

yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki 1,2 dan 3) dan tanpa

capit kaki 4 dan 5.

Perut (abdomen) terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki

renang dan sepasang uropod (mirip ekor) yang berbentuk kipas bersama-sama telson (Haliman

dan Adijaya, 2005).

2.1.3. Tingkah Laku

Dalam usaha pembenihan udang, perlu adanya pengetahuan tentang tingkah laku

udang. Menurut Haliman dan Adiwijaya (2005), beberapa tingkah laku udang yang perlu

diketahui antara lain:

1. Sifat nokturnal

Yaitu sifat binatang yang aktif mencari makan pada waktu malam, dan siang hari udang

vannamei lebih suka beristirahat, baik membenamkan diri pada lumpur maupun menempel

pada suatu benda yang terbenam.

2. Sifat kanibalisme

Yaitu sifat suka memangsa sejenisnya. Sifat ini sering timbul pada udang yang kondisinya

sehat, yang tidak sedang ganti kulit. Sasarannya adalah udang-udang yang kebetulan ganti

kulit.

3. Ganti kulit (moulting)

Yaitu suatu proses pergantian kutikula lama digantikan dengan kutikula yang baru. Kutikula

adalah kerangka luar udang yang keras (tidak elastis). Oleh karena itu untuk tumbuh menjadi

besar udang vannamei perlu melepas kulit lama dan menggantikan dengan kulit baru.

4. Daya tahan

Udang pada waktu masih berupa benih sangat tahan pada perubahan kadar garam

(salinitas). Sifat demikian dinamakan sifat euryhaline. Sifat lain yang menguntungkan adalah

ketahanan terhadap perubahan suhu dan sifat ini dikenal sebagai Eurytherma.

5. Menyukai hidup di dasar (bentik).

Dengan mengetahui tingkah laku larva udang vannamei di atas, maka akan mudah untuk

menentukan menejemen pakan yang baik.

2.1.4. Perkembangan Larva

Telur yang telah menetas pada dasarnya masih bersifat planktonis dan bergerak

mengikuti arus air. Dalam perkembangan pertumbuhannya, larva akan berkembang sempurna

dengan kondisi suhu 26 o - 28 0 C, oksigen terlarut 5 - 7 mg/l, salinitas 35 ppt. Setelah menetas

larva akan berkembang menjadi 3 stadia yaitu nauplius, zoea, mysis. Setiap stadia akan

dibedakan menjadi sub stadia sesuai dengan perkembangan morfologinya. Pergantian stadia

terjadi setelah larva mengalami pergantian kulit (moulting).

Menurut Haliman dan Adijaya (2005), perkembangan larva udang vannamei pada setiap

stadia mulai dari stadia nauplius sampai stadia post larva sebagai berikut:

1. Stadia Nauplius

Stadia ini terbagi menjadi enam tingkatan dan berlangsung antara 35 - 50 jam. Pada

stadia ini belum memerlukan makanan dari luar karena masih memiiki cadangan makanan dari

kuning telur. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Stadia Perkembangan Naupli.

Stadia

Karakteristik

Nauplius I

Bentuk badan bulat telur dan mempunyai anggota badan tiga pasang

Nauplius II

Pada ujung antena pertama terdapat setai (rambut) yang satu panjang dan dua buah yang pendek

Nauplius III

Dua buah furcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri (spine), tunas maxillaped mulai tampak

Nauplius IV

Masing-masing furcel terdapat empat buah duri ,exopoda pada antena kedua beruas-ruas

Nauplius V

Struktur tonjolan tumbuh pada pangkal maxilla dan organ pada bagian depan sudah mulai Nampak jelas

Nauplius VI

Perkembangan bulu-bulu makin sempurna dan duri pada furcel tumbuh makin panjang

Sumber : Martosudarmo dan Ranoemirahardjo (1980)

2. Stadia Zoea

Pada fase ini larva mulai tampak aktif mengambil makanan sendiri dari luar, terutama

plankton. Fase zoea berlangsung selama 3 - 4 hari (3 stadia). Adapun ciri-ciri dari setiap stadia

dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tabel Stadia Perkembangan Zoea.

Stadia

Karakteristik

Zoea I

Badan pipih, mata dan carapace mulai nampa, maxilla pertama dan kedua serta maxilliped pertama dan kedua mulai berfungsi. Proses furcel mulai sempurna dan alat pencernaan makanan tampak jelas.

Zoea II

Mata mulai bertangkai dan pada carapace sudah terlihat rostrum dan duri pada supra orbital yang bercabang.

Zoea III

Sepasang uropoda yang bercabang dua mulai berkembang dan duri pada ruas-ruas perut mulai tumbuh.

Sumber : Martosudarmo dan Ranoemirahardjo (1980).

I 3. Stadia Mysis II III Gambar 2. Stadia Zoea I-III Setelah fase zoea selesai

I

3. Stadia Mysis

II

III

Gambar 2. Stadia Zoea I-III

Setelah fase zoea selesai maka stadia selanjutnya adalah fase mysis yang berlangsung

selama 4 - 5 hari. Fase mysis mengalami 3 kali perubahan atau stadia. Tanda- tanda stadia

mysis dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Stadia Perkembangan Mysis.

Stadia

Karakteristik

Mysis I

Bentuk udang sudah seperti udang dewasa

Mysis II

Tunas kaki renang/pleopoda mulai nampak nyata, tetapi belum beruas-ruas

Mysis III

Kaki renang/pleopoda bertambah panjang dan beruas-ruas

Sumber : Martosudarmo dan Raboemihardjo (1980).

bertambah panjang dan beruas-ruas Sumber : Martosudarmo dan Raboemihardjo (1980). Gambar 3. Stadia Mysis I-III

Gambar 3. Stadia Mysis I-III

4.

Stadia Post Larva (PL)

Bentuk paling akhir dan paling sempurna dari seluruh metamorfosa adalah post larva (PL).

Pada fase ini tidak mengalami perubahan bentuk karena seluruh bagian anggota tubuh sudah

lengkap dan sempurna seperti udang dewasa. Post larva yang berumur 20 - 25 hari dapat

dilepas di tambak.

larva yang berumur 20 - 25 hari dapat dilepas di tambak. Gambar 4. Stadia PL 1

Gambar 4. Stadia PL 1 - 10

2.2. Persyaratan Lokasi

Pemilihan lokasi merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pembenihan

udang vannamei. Subaidah, dkk (2006), menyatakan tentang beberapa faktor harus memenuhi

persyaratan untuk memilih lokasi yang paling sesuai, yang terbagi dalam dua kriteria yaitu

kriteria

teknis

dan

kriteria

non

teknis.

keberhasilan produksi benih yaitu:

Sedangkan

beberapa

aspek

yang

mendukung

a. Aspek teknis dengan maksud agar dalam pembangunannya, tata bangunan pembenihan

yang akan dibangun dapat produktif dan efisien.

b. Aspek ekonomi dengan maksud agar pembenihan yang akan dibangun memang layak

secara ekonomi.

c. Aspek sosial budaya dengan maksud agar proses pembangunan unit pembenihan searah

dengan budaya lokal.

d.

Aspek lingkungan dengan maksud agar pembangunan unit pembenihan berwawasan

lingkungan dan ramah lingkungan.

2.3. Manajemen Pakan Larva Udang Vannamei

2.3.1.Persyaratan Nutrisi Pakan

Menurut Ghuhron, (2010) nutrisi adalah kandungan gizi yang terkandung dalam pakan.

Apabila pakan yang diberikankepada udang pemeliharaan mempunyai kandungan nutrisi yang

cukup tinggi, maka hal ini tidak saja akan menjamin hidup dan aktifitas udang, tetapi juga akan

mempercepat pertumbuhannya. Dengan demikian, sebelum membuat pakan, nutrisi yang

didibutuhkan udang perlu diketahui terlebih dahulu. Banyaknya zat zat gizi yang dibutuhkan

ini disamping tergantung pada spesies udang, juga pada ukuran atau besarnya udang serta

keadaan lingkungan tempat hidupnya. Nilai nutrisi pakan pada umumnya dilihat dari komposisi

zat gizinya. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan harus tersedia dalam pakan udang

antara lain protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.

a. Protein

Protein merupakan senyawa organik kompleks, tersusun atas banyak asam amino yang

mengandung unsur-unsur C (carbon), H (hidrogen), O (oksigen), dan N (nitrogen) yang tidak

dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Molekul protein mengandung pula fospor dan sulfur.

Protein sangat penting bagi tubuh, karena zat ini mempunyai fungsi sebagai bahan - bahan

dalam

tubuh

serta

sebagai

zat

pembangun

(membentuk

berbagai

jaringan

baru

untuk

pertumbuhan), zat pengatur (pembentukan enzim dan hormon penjaga dan pengatur proses

metabolisme) dan zat pembakar (unsur karbon yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan

sebagai sumber energi (Ghufron, 2010) Hasil penelitian dilakukan oleh Colvin dan Brand (1977)

menunjukan bahwa untuk pertumbuhan udang jenis Penaeus californiensis, penaeus stylirostris

dan

penaeus

vannamei

ukuran

pasca

lava

dibutuhkan

40%

protein

dalam

sedangkan untuk juvenil dibutuhkan protein 30%

b. Lemak

pakannya,

Lemak dibutuhkan sebagai sumber energi yang paling besar diantara protein dan

karbohidrat. Untuk udang, asam lemak mempunyai peranan penting, baik sebagai sumber

energi maupun sebagai zat yang esensial untuk udang. Satu gram lemak dapat menghasilkan 9

kkal per gram sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal per gram. Lemak

juga berfungsi membantu proses metabolisme, osmoregulasi, dan menjaga keseimbangan

organisme di dalam air. Pakan yang baik bagi larva udang vannamei mengandung lemak atau

minyak antara 4-18%. Sedangkan pada larva udang membutuhkan pakan dengan kandungan

lemak 12-15%, juvenile 8-12%, dan untuk udang yang berukuran lebih dari 1g antara 3-9%.

Beberapa sumber lemak dapat ditambahkan ke dalam pakan sebagai sumber energi, seperti

minyak ikan, minyak jagung, dll. Namun kadar lemak dalam pakan buatan tidak boleh

berlebihan karena akan mempengaruhi mutu pakan (Ghufron, 2010)

c. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan

oksigen dalam perbandingan tertentu. Udang pada stadia larva memerlukan karbohidrat dalam

jumlah yang relatif kecil, hal ini disebabkan pada stadia larva mengalami pertumbuhan yang

sangat pesat, sehingga yang diperlukan adalah zat putih telur atau protein. Kandungan

karbohidrat untuk larva udang agar dicapai pertumbuhan optimal adalah lebih rendah dari 20%

(Wardiningsih, 1999).

d. Vitamin

Vitamin adalah zat organik yang diperlukan tubuh udang dalam jumlah sedikit, tetapi

sangat

penting

untukmempertahankan

pertumbuhan

dan

pemeliharaan

kondisi

tubuh.

Walaupun jumlah vitamin yang diperlukan udang sangat sedikit dibandingkan dengan zat yang

lainnya, namun kekurangan dari salah satu vitamin akan menyebabkan gejala tidak normal

pada udang sehingga akan mengganggu proses pertumbuhannya (Ghufron, 2010).

Menurut Kanazawa (1976) bahwa pertumbuhan juvenile penaeus untuk setiap 100gr

pakan perlu ditambahkan 300mg vitamin C, 400 mg inisitol, 6 - 12 mg vitamin B1 dan 12 mg

vitamin B6.

e.

Mineral

Mineral adalah bahan organik yang dibutuhkan oleh udang dengan cara menyerapnya

dari air atau tempat media hidupnya. Udang memerlukan mineral untuk pembentukan jaringan

tubuh, proses metabolisme serta untuk mempertahankan keseimbangan osmosis antara cairan

jaringan tubuh dan air di lingkungannya (Wardiningsih, 1999).

Menurut penelian Kanazawa (1976) bahwa pertumbuhan terbaik dapat dicapai oleh udang

melalui pemberian pakan dengan penambahan 1,04% fosfor dan 1,24% kalsium.

2.3.2.Pemberian Pakan

Menurut Wardiningsih (1999), menyatakan bahwa ada beberapa hal yang diperhatikan di

dalam pemberian pakan yaitu jenis pakan, Secara umum pakan yang diberikan pada larva

udang vannamei selama proses pemeliharaan ada dua jenis yaitu pakan alami (phytoplankton

dan zooplankton) dan pakan komersil (buatan). Secara alami makanan udang adalah plankton.

Adapun jenis plankton yang baik dan memenuhi syarat dijadikan makanan larva udang,

khususnya pada stadia zoea dan mysis memerlukan pakan plankton berupa Tetracellmis,

Chaetoceros calcitrans, sedangkan pada stadia akhir mysis sampai pada post larva makanan

yang paling baik adalah Artemia salina. Lebih jelasnya jadwal pemberian pakan dapat dilihat

pada Lampiran 1.

2.3.3.Pakan Alami

Jenis - jenis pakan alami yang dikonsumsi udang sangat bervariasi tergantung umurnya.

Dalam usaha budidaya biasanya menggunakan pakan alami plankton. Plankton adalah jasad

renik yang melayang di dalam kolom air mengikuti gerakan air. Plankton dapat dikelompokkan

menjadi dua :

Fitoplankton, jasad nabati yang dapat melakukan fotosintesis karena mengandung klorofil;

terdiri dari satu sel atau banyak sel.

Zooplankton, jasad hewani yang tidak dapat melakukan fotosintesis zoo-plankton memakan

fitoplankton. Zooplankton juga merupakan jasad hewani mikro yang melayang di dalam air

yang pergerakannya dipengaruhi arus. Zooplankton adalah kategorisasi untuk organisme

kecil.

Menurut Cahyaningsih (2006), pakan alami dari jenis zooplankton yang diberikan pada

larva udang vannamei antara lain dapat berupa Artemia salina dengan cara dilakukan

pengkulturan selama 24 jam dalam wadah berupa gallon air minum volume 20 liter, baru

kemudian dapat diberikan pada larva udang vannamei pada M3 - PL1 dengan kepadatan 3 - 4

individu/ml, pada PL2 - PL5 dengan kepadatan 8 - 10 individu/ml, dan PL6 - PL10 dengan

kepadatan 11 - 13 individu/ml.

Nauplius artemia merupakan zooplankton yang banyak diberikan pada larva udang. Hal ini

dikarenakan nauplius artemia banyak mengandung nilai nutrisi yang dibutuhkan oleh larva

udang. Kandungan nutrisi nauplius artemia terdiri atas protein, karbohidrat, lemak, air, dan

abu.adapun komposisi artemia selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan Nutrisi Nauplius Artemia

Jenis Nutrisi

Komposisi %

Protein

52,50

Karbohidrat

14,8

Lemak

23,40

Air

5 - 10

Abu

3 - 4

Sumber : Leger,(1987)

Teknik penetasan kista artemia dilakukan dengan conical tank yang berkapasitas 200 liter.

Sedangkan bahan yang digunakan untuk proses dekapsulasi kista artemia adalah klorin

(NaOCl) dan soda api. Sumber air diperoleh dari air laut dengan menggunakan pompa air dan

sumber air tawar berasal dari sumur. Kualitas air yang terukur adalah suhu air 31 o C, salinitas 34

promil, pH 8 dan cahaya dari dua buah lampu 40 watt. Pemanenan nauplius artemia dilakukan

setiap hari dan langsung dikonsumsikan pada larva udang vannamei stadia post larva (PL1 -

PL4). Proses pemberian nauplius artemia dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada pukul 08.00,

13.00, 19.00. Selain pemberian nauplius artemia larva udang vannamei juga diberikan pakan

alami Chaetoceros gracilis dan pakan buatan dari pabrik (Purnomo, 2008).

2.3.4.Pakan Buatan

Menurut Mudjiman (2004), menyatakan pakan buatan (artificial feed) adalah pakan yang

sengaja dipersiapkan dan dibuat, pakan ini biasanya terdiri dari beberapa bahan baku yang

kemudian diproses lebih lanjut sehingga bentuknya berubah dari bentuk aslinya.

a. Persyaratan Bahan Pakan Buatan

Menurut Wardiningsih (1999), menyatakan bahwa untuk membuat pakan buatan bagi

udang, maka pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu komposisi yang baik pada

pakan udang yang baik pada udang tersebut. Sebelum kita membahas tentang komposisi dari

pakan buatan untuk udang maka sebaiknya kita lihat persyaratan bagi bahan-bahan yang akan

diramu menjadi pakan buatan bagi udang.

Dalam memilih bahan ramuan pakan yang harus diperhatikan adalah kandungan asam

aminonya.

Selain

itu

bahan-bahan

tersebut

diantaranya sebagai berikut :

harus

memenuhi

beberapa

persyaratan,

1. Mempunyai nilai gizi yang tinggi, kandungan proteinnya relatif tinggi dan bermutu.

2. Mudah diperoleh dan diolah.

3. Tidak mengandung racun.

Nilai gizi bahan makanan dapat diketahui dengan cara pemeriksaan laboratorium. Bagi

pekerja praktek di lapangan yang tidak mungkin mengadakan pemeriksaan laboratorium dapat

cukup dengan melihat daftar komposisi makanan para ahli. Komposisi makanan hasil penelitian

ini dapat dipakai sebagai acuan untuk pembuatan bahan makanan yang diramu diharapkan

memenuhi kebutuhan gizi.

b. Penyediaan Pakan Buatan

Pakan buatan merupakan alternatif yang penyediaannya secara kontinyu memungkinkan

dan dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap makanan hidup (Sumeru dan Anna,

1992).

Tabel 5. Bentuk dan Ukuran Pakan Buatan

No

Bentuk Pakan

Ukuran Pakan

Stadia Larva

1

Powder (serbuk)

<20 mikron

larva

2

Flake (serpihan)

0,5 mm

PL 1 - PL15

3

Crumble (remahan)

1 mm

PL 20 ke atas

Sumber: Umiyati dan Kusnendar, (1987)

c. Dosis Pakan Buatan

Menurut Sumeru dan Anna (1992), bahwa pengaturan jumlah pemberian pakan selama

pemeliharaan dihitung berdasarkan hasil sampling. Untuk mempermudah penghitungannya,

maka jumlah pakan yang diberikan mengikuti ketentuan sebagai berikut:

1)

Udang stadia zoea, yaitu dengan jumlah 1,5 ppm.

2)

Udang stadia mysis, yaitu dengan jumlah 1 ppm.

3)

Udang stadia post larva, yaitu dengan jumlah 1 ppm.

d. Cara Pemberian Pakan Buatan

Menurut Mudjiman (2004), bahwa untuk burayak dan benih yang masih kecil, pakan

diberikan dengan menyebarkan secara merata di seluruh permukaan air. Apabila berbentuk

larutan maka pemberiannya dilakukan dengan alat penyemprot (spriyer). Pakan yang berbentuk

tepung remah dapat diberikan dengan cara ditaburkan menggunakan tangan.

e. Frekuensi dan Waktu Pemberian Pakan

Menurut Mudjiman (2004), bahwa pemberian pakan untuk burayak dan benih lebih sering

dilakukan kurang lebih 6 kali sehari. Apabila pakan sifatnya sebagai pakan pokok, maka

pemberian pakan perlu dilakukan sesering mungkin. Tenggang waktu antara pemberian pakan

yang pertama dengan pemberian pakan berikutnya sekitar 2 jam.

2.3.5.Pakan Tambahan

Pakan tambahan menurut Sumeru dan Anna (1992), dibagi menjadi 2 yaitu:

a. Egg Microcapsulated

Pembuatan Egg Microcapsulated pada dasar penggunaan telur bagi pakan larva karena

telur mempunyai nilai nutrisi yanng cukup tinggi, mudah didapat dengan harga relatif murah,

dan mempunyai keseimbangan nutrisi yang dikandungnya. Telur mentah mengandung zat

avidin yang dapat menghambat pertumbuhan, sehingga zat tersebut harus dihilangkan dengan

cara pemanasan sebelum diberikan pada larva udang. Walaupun demikian, pemanasan dapat

menyebabkan pemisahan kuning dan putih telur sebagai akibat denaturasi protein (kerusakan

struktur protein). Untuk mengikat kedua bagian tersebut menjadi pakan yang homogen stabil

dalam air, diperlukan penambahan bahan pengikat (binder) yang sesuai.

b. Egg Custard

Pembuatan Egg Custard, pada prinsipnya sama dengan pembuatan Microcapsulated,

karena bahan utama yang digunakan sebagai sumber protein berasal dari telur. Akan tetapi,

dapat juga digunakan bahan tambahan untuk sumber protein yang berasal dari bahan hewani

yang mempunyai jaringan daging lunak, seperti: kerang, tiram, dan artemia dewasa, dapat

dilihat pada Tabel 6 Mengenai manajemen pakan alami larva udang vannamei.

Tabel 6. Manajemen Pemberian Pakan pada Pembenihan Larva Udang

Vannamei.

No

Stadia

Jenis pakan

 

Jumlah pakan

Frekuensi

1

N5-6

Chaetoceros

Min. 50.000 sel/ml/hr

 

2

Zoea I

Chaetoceros

Min. 50.000 sel/ml/hr

2

Lancy Zm

3

ppm/hr

6

3

Zoea II

Chaetoceros

Min. 50.000 sel/ml/hr

2

Lancy Zm

3

ppm/hr

6

4

Zoea III

Chaetoceros

Min. 100.000 sel/ml/hr

2

Lancy Zm

4

ppm/hr

6

5

Mysis I

Chaetoceros

Min. 100.000 sel/ml/hr

2

Lancy Zm

4

ppm/hr

6

Flake

4

ppm/hr

6

6

Mysis II

Chaetoceros

Min. 100.000 sel/ml/hr

2

Lancy MPL

4

ppm/hr

6

Flake

4

ppm/hr

6

7

Mysis III

Chaetoceros

Min. 50.000 sel/ml/hr

2

Lancy MPL

6

ppm/hr

6

Flake

6

ppm/hr

6

Artemia

10

ind/hr

3

8

MPL-PL 1

Chaetoceros

Min. 50.000 sel/ml/hr

2

Lancy MPL

6

ppm/hr

6

Flake

6

ppm/hr

6

Artemia

20

ind/hr

3

9

PL 2-5

Chaetoceros

Min. 50.000 sel/ml/hr

2

Lancy PL

8

ppm/hr

6

Flake

8

ppm/hr

6

Artemia

60

ind/hr

3

10

PL 5-10

Lancy PL

9

ppm/hr

6

Flake

9

ppm/hr

6

Artemia

80

ind/hr

3

Sumber: BBAP

Situbondo,

2006

2.4.

Pemeliaraan

Larva

Udang

Vannamei

 

2.4.1.

Persiapa

n

Bak

Pemeliharaan

Larva

Menurut

Subaidah,

dkk

(2006),

bak

pemeliharaan

larva dilapisi dengan cat berwarna biru muda dan dilengkapi dengan pipa saluran udara,

instalasi air laut instalasi alga, dan saluran pengeluaran yang dilengkapi saringan sirkulasi dan

pipa goyang, serta terpal sebagai penutup agar suhu stabil selama proses pemeliharaan.

Sedangkan dalam proses pengeringan, pencucian bak dilakukan dengan menggunakan kaporit

60% sebanyak 100 ppm yang dicampur dengan deterjen 5 ppm dan dilarutkan dengan air tawar

pada wadah atau ember kemudian dinding dan dasar bak digosok-gosok dengan menggunakan

scoring pad dan dibilas dengan air tawar hingga bersih dan kemudian dilakukan pengeringan

selama dua hari. Pencucian dan pengeringan bak ini bertujuan untuk menghilangkan dan

mematikan mikroorganisme pembawa penyakit. Pengisian air laut dalam bak pameliharaan

disaring dengan menggunakan filter bag. Berdasarkan bentuknya bak pembenihan dapat

dibedakan menjadi bak persegi empat, bak berbentuk lingkaran, bentuk bulat telur dan bak

yang berbentuk kerucut yang biasa disebut conical tank (Martosudarmo dan Ranoemirahardjo,

1980).

Larva udang vannamei dapat dipelihara dalam bak yang terbuat dari semen atau fiber

glass. Keuntungan menggunakan bak berbahan semen antara lain mudah dalam pembuatan,

tahan lama dan mudah dalam memperoleh bahan baku. Kerugiannya antara lain jika lumut

tumbuh maka akan sulit dibersihkannya dan bak dapat membuat larva menjadi stress jika tidak

ada treatment terlebih dahulu, oleh karena itu bak tidak boleh langsung digunakan karena

berpengaruh buruk dalam kehidupan larva. Bak harus direndam dan dicuci terlebih dahulu

dengan air tawar. Bak dapat pula dicat untuk menutup pori - pori. Bak dapat berbentuk bulat,

oval atau persegi empat berbentuk tumpul. Bak pemeliharaan larva sebaiknya ditempatkan

dalam ruangan tertutup untuk menjaga kestabilan suhu dan menjaga intensitas cahaya. Atap

bangunan bak pemeliharaan larva dengan menggunakan asbes dengan 20% diantaranya

menggunakan atap fiber untuk pencahayaan (Subaidah, dkk, 2006).

2.4.2. Persiapan Air Media

Kualitas air harus diatur dan dipelihara pada kondisi menyerupai lingkungan alami udang

Penaeid. Air laut yang dimasukkan ke bak harus mengalami beberapa perlakuan dahulu, antara

lain penghilangan materi organik yang terlarut dengan cara filtrasi dan pengendapan, ozonisasi

untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme, dan pendinginan air (25 o C - 28 o C) agar

didapat suhu yang menyerupai habitat asli udang Penaeid. Thermostat diatur pada suhu 27 o C

dan fluktuasi temperatur harian diatur agar kurang dari 0,5 o C (Wyban et al., 1991).

2.4.3. Penebaran Naupli

Penebaran nauplius dilakukan pagi hari dengan tujuan untuk menghindari perubahan

suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi 15 menit atau sampai suhu dalam dengan

suhu di luar wadah sama dengan menggunakan thermometer 0°C. Aklimatisasi ini bertujuan

untuk menyesuaikan naupli dengan perubahan kondisi lingkungan air di bak pemeliharaan larva

(Subaidah dkk, 2006)

Nauplius yang ditebar adalah nauplli muda (N3 - N4), hal ini bertujuan agar menekan

gangguan proses metamorfosis sekecil mungkin dari stadia protozoea pertama. Karena pada

proses pemeliharaan larva udang putih vannamei sering dikenal dengan istilah zoea syndrome

atau zoea lemah.

2.4.4. Pengelolaan Pakan

Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan ada

dua jenis yaitu pakan alami ( phytoplakton dan zooplakton ) dan pakan komersil (buatan).

Masing-masing makanan tersebut diberikan dengan jumlah dan frekuensi tertentu sesuai

dengan stadia larva. Menurut Cahyaningsih dkk (2006),

pakan alami dari jenis zooplankton

yang diberikan pada larva udang vannamei antara lain dapat berupa Artemia salina dengan

cara dilakukan pengulturan selama 24 jam dalam wadah berupa gollon air minum

volume 20

liter, baru kemudian dapat diberikan pada larva udang vannamei pada M 3 PL 1 dengan

kepadatan 3 - 4 individu/ml, pada PL 2 PL 5 dengan kepadatan 8 - 10 individu/ml, dan PL 6

PL 10 dengan kepadatan 11 - 13 individu/ml.

Nauplius artemia merupakan zooplankton yang banyak diberikan pada larva udang. Hal ini

dikarenakan nauplius Artemia banyak mengandung nilai nutrisi yang dibutuhkan oleh larva

udang. Kebutuhan nauplius Artemia mutlak diperlukan seiiring dengan peningkatan usaha

pertambakan. Teknik penetasan kista Artemia dilakukan pada conical tank yang berkapasitas

200 liter. Sedangkan bahan yang digunakan untuk proses dekapsulasi kista artemia adalah

klorin (NaOCL) dan soda api. Sumber air diperoleh dari air laut dengan menggunakan pompa

air dan sumber air tawar berasal dari sumur. Kualitas air yang terukur adalah suhu air 31°C,

salinitas 34 promil, pH 8 dan cahaya dari 2 buah lampu 40 watt. Pemanenan nauplius Artemia

dilakukan setiap hari dan langsung dikonsumsikan pada larva udang vannamei stadia post larva

(PL1 - PL4). Proses pemberian nauplius Artemia ini dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada pukul

08.00, 13.00 dan 19.00. Selain pemberian nauplius Artemia larva udang vannamei juga

diberikan

pakan

alami

Chaetoceros

gracilis

dan

pakan

buatan

dari

pabrik

Selain pakan alami selama proses pemeliharaan larva udang vannamei diberikan juga

pakan tambahan berupa pakan komersil yang tujuannya untuk menjaga agar tidak sampai

terjadi under feeding selama pemeliharaan larva. Pakan buatan (artificial feed) adalah pakan

yang sengaja disiapkan dan dibuat. Pakan ini terdiri dari ramuan beberapa bahan baku yang

kemudian diproses lebih lanjut sehingga bentuknya berubah dari bentuk aslinya.

2.4.5. Monitoring Pertumbuhan

Pengamatan

pertumbuhan

larva

udang

dilakukan

bertujuan

untuk

mengontrol

pertumbuhan larva. Apabila pertumbuhan larva lambat dapat dipacu dengan pemberian pakan

yang berkualitas. Menurut Amri dan Kana, (2008), mengatakan apabila pakan yang diberikan

berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, dan kondisi lingkungan mendukung, maka dapat

dipastikan laju pertumbuhan udang akan lebih cepat sesuai yang diharapkan. Sedangkan untuk

mengamati kesehatan larva perlu dilakukan dengan pengamatan makroskopis dan mikroskopis

antara lain yaitu :

Pengamatan Makroskopis

Pengamatan makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel langsung

dari bak pemeliharaan sebanyak 1 liter becker glass kemudian diarahkan ke cahaya untuk

melihat kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, sisa pakan kotoran atau feces dan butiran-butiran

yang dapat membahayakan larva.

Pengamatan Mikroskopis

Dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan diletakkan di atas gelas

objek, kemudian diamati dibawah mikroskop. Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati

morfologi tubuh larva, keberadaan parasit, pathogen yang menyebabkan larva terserang

penyakit. (Subaidah dkk, 2006).

4.1. Lokasi BBAP Situbondo

IV. KEADAAN UMUM

Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo terdiri dari lima divisi yakni, divisi ikan, divisi

udang, dan divisi budidaya, instalasi udang Gelung dan instalasi pembenihan udang Tuban.

Secara geografis BBAP Situbondo terletak pada posisi 113 0 55’56’’ BT – 114 0 00’00” BT dan

07 0 40’32” LS – 07 0 42’35” LS. Divisi ikan sekaligus sebagai kantor utama BBAP Situbondo

terletak di Dusun Pecaron, Desa Klatakan, Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo. Divisi

udang terletak di Desa Blitok, Kecamatan Mlandingan Kabupaten Situbondo. Sedangkan divisi

budidaya berlokasi di desa Pulokerto, Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Sedangkan

instalasi pembenihan Gelung terletak di Desa Gelung, Kecamatan Panarukan kabupaten

Situbondo. Batas batas lokasi BBAP Situbondo yakni sebelah utara berbatasan dengan selat

Madura, sebelah Timur berbatasan dengan PT. Central Pertiwi Bahari (CPB), sebelah selatan

berbatasan dengan rumah penduduk dan sebelah barat berbatasan dengan pemukiman

penduduk Desa Klatakan. Lebih jelasnya denah lokasi BBAP Situbondo dapat dilihat pada

Lampiran 1.

4.2. Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo

Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo berdiri pada tahun 1986 yang pada awalnya

bernama proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur di bawah naungan Direktorat Jendral

Perikanan, Departemen Pertanian. Sub senter udang windu ini terletak di Desa Blitok,

Kecamatan Mlandingan Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara, Jawa

Tengah. Kemudian melepaskan diri dari BBAP Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai

Budidaya Air Payau yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui surat keputusan

Menteri Pertanian nomor : 246/Kpts/OT.210/4/94. Loka Balai Budidaya Air Payau terdiri dari tiga

divisi meliputi divisi ikan, divisi udang dan divisi budidaya.

Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT)

Direktorat Jenderal Perikanan bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau

yang bertanggung jawab kepada Direktorat Jendral Perikanan. Dengan beban tugas dan

tanggung jawabnya semakin berat maka pada tanggal 1 Mei 2001 Status Loka Balai Budidaya

Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau Situbondo berdasarkan surat Keputusan

Menteri Perikanan dan Kelautan No. KEP.26D/MEN/2001.

4.3. Tugas dan Fungsi BBAP Situbondo

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.26D/MEN/2001,

Balai Budidaya Air payau Situbondo mempunyai tugas melaksanakan penerapan teknik

pembenihan pembudidayaan ikan air payau serta pelestarian sumberdaya induk /benih ikan

dan lingkungan. Dalam melaksanakan tugas, BBAP Situbondo menyelenggarakan fungsi:

a. Pengkajian, pengujian, dan bimbingan penerapan standar pembenihan dan pembudidayaan

ikan air payau.

b. Pengkajian

standard dan

pelaksanaan

sertifikasi

sistim

pembenihan serta pembudidayaan ikan air payau.

mutu

dan

sertifikasi

personil

c. Pengkajian system dan tata laksana produksi dan pengelolaan induk penjenis dan induk

dasar ikan payau.

d. Pelaksanaan pengujian teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.

e. Pengkajian standar pengawasan benih, pembudidayaan, serta pengendalian hama dan

penyakit ikan air payau.

f. Pengkajian standar pengendalian lingkungan dan sumber daya induk/benih ikan air payau.

g. Pelaksanaan sistim jaringan labolatorium pengujian,pengawasan benih,dan pembudidayaan

ikan air payau.

h. Pengelolaon dan pelayanan informasi dan publikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan

air payau.

i.

Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

4.4. Struktur Organisasi

Berdasarkan surat keputusan menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP. 26 D/MEN/2001

pembagian tugas dan fungsi kerja dengan susunan organisasi terdiri dari seksi standarisasi dan

informasi, seksi pelayanan teknis, sub bagian tata usaha dan kelompok jabatan fungsional.

Untuk lebih jelasnya struktur organisasi BBAP Situbondo dapat dilihat pada Lampiran 2.

Kepala BBAP Situbondo bertugas untuk merumuskan kegiatan, mengkoordinasi dan

mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau serta

pelestarian sumber daya induk atau benih ikan air payau dan lingkungan serta membina

bawahan dan di lingkungan BBAP Situbondo sesuai dengan prosedur dan peraturan yang

berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas. Seksi standarisasi dan informasi mempunyai

tugas

untuk

menyiapkan

bahan

standart

teknik

dan

pengawasan

pembenihan

dan

pembudidayaan ikan air payau.

 
 

Sub

bagian

tata

usaha

mempunyai

tugas

melakukan

administrasi

keuangan,

kepegawaian, persuratan, perlengkapan dan rumah tangga serta pelaporan. Kelompok jabatan

fungsional di lingkungan BBAP Situbondo bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan,

pengujian,

penerapan,

bimbingan

hama

dan

penyakit

ikan,

pengawasan

pembenihan,

pembudidayaan dan penyuluhan serta kegiatan lain sesuai tugas masing masing jabatan

fungsional berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku.

4.5. Sarana dan Prasarana BBAP Situbondo

Di BBAP Situbondo terdapat beberapa Sarana dan Prasarana sebagai penunjang atau

pendukung untuk mencapai maksud dan tujuan dalam suatu kegiatan pembenihan udang

vannamei. Macam-macam prasarana yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri atas:

1) Gedung guest house / mess sebanyak 16 buah.

2) Gedung utama, sebagai ruangan pimpinan, ruangan staf dan tata usaha

3) Gedung laboratorium yang sampai saat ini difungsikan sebagai ruang laboratorium sekaligus

ruang kerja kepala seksi.

4) Bangsal kerja yang difungsikan sebagai ruangan staf teknis dan ruang kerja kepala seksi

pengadaan benih.

5) Gedung tambak yang difungsikan untuk ruang kerja kepala seksi induk dan koordinator

tambak, sebagai ruangan staf.

6) Rumah dinas pimpinan dan staf sebanyak 12 buah.

7) Bangsal kerja sebanyak 10 buah yang terdiri dari bangsal C1, C2, C3, D1, D2, D3, E1, E2,

E3, dan bangsal G.

8) Gudang mesin, sebagai tempat penyimpanan mesin seperti generator set dan alat pompa air

lainnya.

9) Gedung perpustakaan, auditorium, ruang kuliah, dan ruang makan.

Sedangkan jenis sarana yang dimiliki oleh BBAP Situbondo terdiri atas:

1) Ember dan Gayung, digunakan saat memberikan pakan alami dan buatan. Ember digunakan

sebai wadah pakan yang telah dilarutkan.

2) Saringan pakan, digunakan untuk menyaring pakan yang akan diberikan.

3) Timbangan Digital, digunakan untuk menimbang pakan yang akan diberikan.

4) Terpal,

digunakan untuk menutup bak pemeliharan agar intensitas cahayanya berkurang

dan mempertahankan suhu dalam bak pemeliharaan.

5) Beaker glass, digunakan untuk memonitoring pertumbuhan. Caranya dengan mengambil

sampel larva menggunakan beaker glass lalu diamati.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pemeliharaan Larva 5.1.1. Persiapan Bak Pemeliharaan Larva Di BBAP Situbondo

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.

Pemeliharaan Larva

5.1.1.

Persiapan Bak Pemeliharaan Larva

Di BBAP Situbondo bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva udang vannamei

terbuat dari semen dilapisi cat berwarna biru muda, berbentuk persegi panjang dengan

kemiringan 3% ke arah pembuangan, dan berkapasitas 10 ton.

Dalam kerjanya pembersihan bak dilakukan dengan cara membilas bak dengan menggunakan

air tawar sampai bersih. Selanjutnya dilakukan pengeringan hingga hari berikutnya. Kemudian,

diberi kaporit 60% sebanyak 100 ppm secara merata pada dinding dan bagian dasar bak dan

dibiarkan selama 1 hari lalu dibilas lagi dengan sabun deterjen dan air tawar, setelah itu

dilakukan pengeringan selama 2 hari. Proses pencucian bak dilakukan dengan menggunakan

deterjen secukupnya dan dilarutkan dengan air tawar pada timba, kemudian dinding dan bagian

dasar bak digosok-gosok menggunakan spon lalu dibilas kembali dengan air tawar hingga

bersih. Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, dkk (2006), yang menyatakan bahwa

pencucian bak dilakukan dengan menggunakan kaporit 60% sebanyak 100 ppm yang dicampur

dengan deterjen 5 ppm dan dilarutkan dengan air

tawar pada wadah atau ember kemudian

dinding dan dasar bak digosok-gosok dengan menggunakan scoring pad dan dibilas dengan air

tawar hingga bersih dan kemudian dilakukan pengeringan selama dua hari. Pencucian dan

pengeringan bak ini bertujuan untuk menghilangkan dan mematikan mikroorganisme pembawa

penyakit.

5.1.2.

Persiapan Air Media

Pengisian air laut kedalam bak pemeliharaan larva dilakukan dengan menggunakan filter

bag ukuran 10 µ, sebanyak 7 ton atau setengah dari kapasitas bak. Pengisian air laut dapat

dilihat pada Gambar 5.

bak. Pengisian air laut dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Pengisian menggunakan filter bag (Data

Gambar 5. Pengisian menggunakan filter bag

(Data Primer, 2011)

Air yang dimasukkan berasal dari laut yang disedot pompa air kedalam tandon hingga

akhirnya disedot menuju

bak pemeliharaan larva. Setelah itu air di treatment dengan

menggunakan EDTA 5 ppm, dan diaerasi kuat selama 24 jam agar larutan dapat tercampur rata

dengan air media tersebut. Kemudian diendapkan selama 15 menit. Setelah itu air media

dibuang

sedikit

untuk

menghilangkan

sisa

endapan

EDTA

untuk

dapat

bisa

digunakan

selanjutnya. Persyaratan kualitas air yang dimasukkan sudah cukup baik, karena dalam

persiapan air sebelumnya air laut telah di treatment dan juga melewati proses sinar UV selama

ada di bak tendon.

Untuk menjaga agar suhu air selalu baik, maka bak pemeliharaan ditutup dengan terpal

biru. Fungsinya agar suhu air tetap berada di suhu normal dan kualitas air akan tetap baik.

5.1.3.

Penebaran Naupli Udang Vannamei

Naupli yang ditebar berasal dari BBAP Situbondo itu sendiri. Penebaran naupli dilakukan

pada pagi hari, hal ini dilakukan dengan harapan untuk menghindari fluktuasi suhu yang terlalu

tinggi terhadap lingkungan.

Padat tebar dalam bak pemeliharaan larva sebanyak 167 ekor/liter, dengan populasi

mencapai 1.170.000 ekor/bak 10 ton dengan stadia tebar Naupli (N) untuk 7 ton volume air.

Padat tebar yang dilakukan oleh BBAP Situbondo tersebut berbeda dengan Better Management

Practices (BMP) Manual for Black Tiger Shrimp (Penaeus monodon) Hatcheries (2005), yang

menyatakan bahwa padat tebar naupli sekitar 100 - 150 ekor/liter dalam air media pemeliharaan

sekitar 50 - 75 % dari volume bak.

Sebelum ditebar naupli yang masih berada dalam ember diaklimatisasi terlebih dahulu

pada bak pemeliharaan larva selama ± 15 menit. Aklimatisasi terhadap suhu dan salinitas perlu

dilakukan sebelum naupli ditebar ke dalam bak pemeliharaan larva agar naupli tidak mengalami

stres.

Setelah dilakukan penebaran aerasi harus diatur, jangan sampai aerasi dalam bak

terlalu besar dan terlalu kecil sehingga dapat menyebabkan stres pada nauplius. Kualitas air

media di BBAP Situbondo cukup baik, dengan suhu 31 - 32 0 C, salinitas 32 ppm, dan pH

sebesar 7,5. Sehingga naupli udang vannamei dapat beradaptasi dan tumbuh dengan baik.

5.2. Manajemen Pakan Larva Udang Vannamei

Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei terdiri dari pakan alami dan

pakan buatan. Pakan alami yang digunakan adalah Skeletonema dan Artemia. Sedangkan

untuk pakan buatan menggunakan beberapa merek seperti Rotemia, Rotofier, dan Brine

Shrimp Flakes. Hal ini sesuai pendapat Wardiningsih (1999), yang menyatakan bahwa, secara

umum pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan ada dua

jenis

yaitu

pakan

alami

(phytoplankton

dan zooplankton)

dan

pakan

komersil

(buatan).

Frekuensi pemberian pakan diberikan 8 kali sehari. Dosis pemberian pakan alami dan buatan

pada larva udang vannamei disesuaikan dengan stadia larva.

5.2.1. Pakan Alami

Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam. Berikut pakan alami yang

digunakan di BBAP Situbondo:

A. Skeletonema costatum

Skeletonema costatum merupakan salah satu jenis phytoplankton dari kelompok diatom.

Skeletonema ini digunakan sebagai pakan alami bagi larva udang vannamei dari naupli 3 -mysis 3 .

BBAP Situbondo dalam pengadaan pakan alami ini tidak dengan kultur sendiri, melainkan

BBAP Situbondo membelinya secara langsung dari PT Summa Benur sebanya 7 kantong. 1

kantong berisi 5 liter, seharga 10.000/kantong.

Gambar 6. Skeletonema c pada tempat penampungan

Gambar 6. Skeletonema c pada tempat penampungan (Data primer, 2011) Dosis yang diberikan sebanyak 10 liter

(Data primer, 2011)

Dosis yang diberikan sebanyak 10 liter setiap 1 pemberian pakan. Frekuensi pemberian

hanya 2 kali dalam sehari, pada pukul (07.00) pagi dan (15.00) sore hari. Penebarannya

dengan mengambil skeletonema di bak penampungan sebanyak 10 liter keadaan timba,

selanjutnya dilakukan pemberian secara merata kebak larva.

B. Artemia salina

a)

proses

Proses Dekapsulasi Artemia, dekapsulasi dapat diartikan sebagai

penipisan/pembersihan

cangkang.

Proses

ini

biasanya

dilakukan

untuk

menipiskan cangkang pada artemia, agar nauplius artemia dapat keluar dengan

mudah.

1)

Ambil 1 kaleng cyste artemia lalu dibuka dan dituang ke dalam

timba berukuran 10 liter, rendam cyste artemia dengan air tawar ±7 liter selama 15

menit.

2)

Selanjutnya,

tiriskan

cyste

artemia

dengan

saringan

100

µ.

Kembalikan lagi cyste artemia kedalam timba berukuran 10 liter, lalu beri chlorine

sebanyak 1 liter. Fungsi dari chlorine adalah melarutkan senyawa lipoprotein pada

cangkang

telur

artemia

yang

banyak

mengandung

heamatin

sehingga

mempercepat pengikisan cangkang telur artemia.

 

3)

Aduk dengan tekanan yang kuat tujuannya untuk menghomogenkan

larutan chlorine dalam proses dekapsulasi, selama ± 5 menit.

 

4)

Setelah dekapsulasi cyste artemia, saring kembali dengan memakai

saringan 100 µ, lalu dibilas hingga bersih dengan air tawar sampai bau chlorine

benar-benar hilang. Proses pengadukan diulang 3-4 kali dengan chlorine yang

diakhiri dengan perubahan warna dari warna awal (coklat keputihan) menjadi

warna orange atau merah bata. Selama proses dekapsulasi diusahakan suhu tidak

lebih dari 40ºC karena dapat menyebabkan artemia terbakar dan mati.

 

5)

Kemudian dibungkus dengan plastik yang dibagi menjadi 15 bagian,

masing-masing sebanyak 80 grm. Proses dekapsulasi Artemia sp dapat dilihat

b)

Proses

Kultur

Artemia,

kultur

dapat

diartikan

sebagai

proses

membudidayakan mahluk hidup dari ukuran kecil sampai ukuran yang diharapkan.

1)

Dalam setiap proses pengkulturan hanya membutuhkan satu bagian

saja dan sisanya dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Kultur dilakukan setiap

hari pada pagi hari untuk memasok naupli artemia pada keesokan harinya.

2)

Tempat kultur atau menetaskan cyste artemia menggunakan timba

bervolume 10 liter, kemudian diisi air laut yang telah steril sebanyak 7 liter dan

diberi aerasi. Selanjutnya, sekitar 12-24 jam cyste artemia akan menetas menjadi

nauplius artemia.

Keuntungan dari dekapsulasi artemia adalah:

1. Membunuh bakteri dan jamur yang terdapat pada cyste melalui pemberian chlorine.

2. Mengurangi kotoran cangkang setelah penetasan karena adanya penipisan pada

cangkang.

3. Lebih cepat menetas karena nauplius artemia mudah merobek cangkang yang tipis,

sehingga tingkat penetasan tinggi.

cangkang yang tipis, sehingga tingkat penetasan tinggi. Gambar 7. Kultur artemia dan artemia dalam kemasan (Data
cangkang yang tipis, sehingga tingkat penetasan tinggi. Gambar 7. Kultur artemia dan artemia dalam kemasan (Data

Gambar 7. Kultur artemia dan artemia dalam kemasan

(Data primer, 2011)

2.

Pemberian Nauplius artemia

Nauplius artemia merupakan pakan alami jenis zooplankton yang diberikan pada larva

udang mulai dari stadia post larva 1. Pemberian nauplius artemia dikarenakan banyak

mengandung nilai nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh larva dan merupakan zooplankton yang

bergerak aktif sehingga dapat merangsang serta meningkatkan nafsu makan larva udang.

a. Dosis Pemberian

dosis pemberian pakan alami dilakukan pada stadia PL 1 -PL 9 dengan 100 - 200

ekor/hari. Dosis pemberian pakan alami dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Dosis Pemberian Pakan Alami

   

Nauplius

 

Skeletonema c

Stadia

artemia

Keterangan

(sel/ml/hari)

(ekor/hari)

Naupli 3-4

   

Pemberian

Naupli 5-6

Min.600

 

Skeletonema

c

Zoea 1

Min.600

 

dan

nauplius

Zoea 2

Min. 600

 

artemia

Zoea 3

Min. 600

 

dilakukan

pada

Mysis 1

Min.600

 

pukul

07.00

Mysis 2

Min.600

 

atau 15.00

Mysis 3

Min.600

 

PL 1 PL 9

 

100 - 200

Sumber : BBAP Situbondo (2011)

Kandungan nutrisi naupli artemia dapat dilihat padda Tabel 8.

Tabel 8. Kandungan Nutrisi Naupli Artemia

No.

Kandungan Nutrisi

Komposisi (%)

1.

Protein

40

- 60

2.

Karbohidrat

15

- 20

3.

Lemak

15

- 20

4.

Air

1

- 10

5.

Abu

3

-

4

Sumber : BBAP Situbondo (2011)

b. Frekuensi dan Waktu Pemberian

Frekuensi pemberian nauplius Artemia sama dengan Skeletonema c yaitu hanya dua kali

dalam sehari, pagi (07.00) dan sore hari (15.00).

c. Cara Pemberian

Pemanenan dilakukan setelah cyste menetas dengan cara mematikan aerasi dan biarkan

selama 5 - 10 menit agar sisa cangkang artemia yang tidak menetas mengendap di dasar,

nauplius artemia disaring dengan menggunakan saringan 100 µ dan dimasukkan kedalam

timba, kemudian dicuci dengan air laut. Nauplius artemia diberikan dengan cara ditebar secara

merata ke seluruh bagian bak pemeliharaan.

5.2.2. Pakan Buatan

1. Jenis Pakan Buatan

Pakan buatan merupakan pakan yang diberikan pada larva udang selama proses

pemeliharaan selain pakan alami. Pakan buatan berperan sebagai pakan tambahan dan untuk

menjaga agar tidak sampai terjadi under feeding. Hal ini sependapat Sumeru dan Anna (1992),

yang menyatakan bahwa pakan buatan merupakan alternatif yang penyediaannya secara

continue atau berlanjut memungkinkan dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap

makanan hidup.

Di BBAP Situbondo pakan buatan diperoleh atau didapat dengan tidak memilih bahan

dan meramu pakan secara manual atau dibuat sendiri melainkan diperoleh dengan membeli

langsung dari produsen pembuat pakan buatan atau pabrik dalam bentuk powder dan cair.

Pakan buatan yang digunakan bermerek Rotemia yang memiliki komposisi atau kandungan

nilai gizi dan nutrisi yang tinggi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan larva udang. Untuk

lebih jelasnya mengenai komposisi pakan buatan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Komposisi Pakan Buatan

 

Nama

     

No

Pakan

Stadia

Ukuran Pakan

Komposisi

Buatan

1

Rotemia TM

N

300

meshes (20 -

Protein min 52%, lipid 16 %,

Mysis 3

50 µm)

Fiber max 7 %, moisture 8

%, Ash max 6,5 %

2

Rotofier

Z

150

- 200 meshes

Protein min 50%, moisture

PL 5

(50 - 100 µm)

max 8%, Fiber max 6%, lipid

16%, Ash max 6,5%

3

Brine

Z

Mesh (75 - 150 µ)

Protein min 48%, lipid 12%,

Shrimp

PL 10

Fiber max 3%, moisture 8%,

Flakes

Ash max 10%

Sumber : BBAP Situbondo (2011)

Untuk lebih jelasnya mengenai macam pakan buatan dapat dilihat pada Gambar 8.

Ash max 10% Sumber : BBAP Situbondo (2011) Untuk lebih jelasnya mengenai macam pakan buatan dapat
Ash max 10% Sumber : BBAP Situbondo (2011) Untuk lebih jelasnya mengenai macam pakan buatan dapat

Gambar 8. Pakan Buatan

( Data Primer, 2011)

2. Pemberian Pakan Buatan

Pakan buatan berperan sebagai pakan tambahan yang ketersediannya secara continue

yang memungkinkan dapat digunakan sebagai pengganti atau pelengkap dari pakan alami.

Oleh karena itu, sirkulasi atau ketersediaan pakan alami tidak selalu ada setiap saat yang mana

harus melalui proses pengkulturan terlebih dahulu. Sedangkan pakan buatan ketersediannya

selalu ada karena dibuat oleh mesin atau pabrik dalam bentuk powder atau cair dengan

kandungan nutrisi dan nilai gizi yang tinggi serta lengkap, sehingga dapat dijadikan pengganti

atau tambahan pakan sewaktu pakan alami tidak tersedia.

a. Dosis, Frekuensi, dan Waktu Pemberian

Dosis pemberian pakan buatan tergantung dari tingkatan stadia larva, pakan buatan mulai

diberikan saat stadia zoea 1 sampai post larva. Semakin tinggi tingkat stadia larva maka

pemberian pakan buatan semakin meningkat dikarenakan sifat dari udang vannamei yang

pemakan lambat dan terus-menerus, jika ketersediaan pakan tersebut habis maka sifat

kanibalisme udang muncul yang berdampak pada Survival Rate (SR).

Frekuensi pemberian pakan buatan di BBAP Situbondo 6 kali/hari dengan selang waktu 4

jam. Pemberian pakan buatan setiap 4 jam sekali karena untuk memperkirakan kondisi larva itu

lapar dan menghindari endapan-endapan dari sisa pakan sebelumnya. Dosis dan Waktu

Pemberian Pakan Buatan dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Buatan

Stadia

Dosis

 

Jenis dan Waktu Pemberian Pakan

 

(grm)

05.00

09.00

13.00

17.00

21.00

01.00

N 2 Z 2

4

RT

-

-

RT

RT

RT

Z 2 Z 3

6

RT

RT

RT

RT

RT

RT

Z 3 M 1

7

RT

RT

RT

RT

RT

RT

M 1 M 2

8

RT

RT

RT

RT

RT

RT

M 2 M 3

9

RT

RT

RT

RT

RT

RT

M 3

10

RF-

RF-

RF-

RF-

RF-

RF-

PL 5

BSF

BSF

BSF

BSF

BSF

BSF

Sumber : BBAP Situbondo (2011)

Keterangan:

RT

: Rotemia (pakan buatan)

RF

: Rotofier (pakan buatan)

BSF : Brine Shrimp Flakes (pakan buatan)

b. Cara Pemberian

Di BBAP Situbondo, pakan buatan terdiri dari dua macam bentuk yaitu dalam bentuk

powder (Rotemia, Rotofier, dan Brine Shrimp Flakes) dan cair. Kedua macam bentuk pakan

buatan tersebut dalam pemberiannya terlebih dahulu dilarutkan dengan air tawar. Misalnya,

pada

stadia

zoea 2

pada

pukul

13.00

diberikan

pakan

buatan

Rotemia

(powder),

pada

pemeliharaan larva terdapat 1 bak yaitu: E1, padat tebar 1.170.000. Jadi, timbang pakan buatan

Rotemia dengan dosis 6 gram dan hari berikutnya menambah menjadi 7 gram, sampai larva

siap panen. Lain halnya dengan pakan buatan jenis Rotofier dan Brine Shrimp Flakes, ke dua

pakan tersebut dicampur dengan perbandingan 1:1, masing-masing 3 grm. Sebanyak 6 grm

Rotemia dimasukkan ke dalam timba lalu disaring dengan saringan 100 µ dan dilarutkan

dengan air tawar ± 10 liter kemudian diaduk agar tidak terjadi endapan dan pakan buatan yang

telah tercampur dengan air tawar, pemberian dilakukan dengan cara menyebarkannya secara

merata ke seluruh permukaan air pada bak pemeliharaan. Pencampuran pakan buatan dengan

air tawar dan cara penyebaran pakan secara merata dapat di lihat pada Gambar 9 dan 10.

pakan secara merata dapat di lihat pada Gambar 9 dan 10. Gambar 9 dan 10. Pencampuran
pakan secara merata dapat di lihat pada Gambar 9 dan 10. Gambar 9 dan 10. Pencampuran

Gambar 9 dan 10. Pencampuran dan Penyebaran Pakan Buatan

( Data Primer, 2011)

Pemberian pakan yang dilakukan sudah sangat efektif. Hal ini terlihat dari setiap

perkembangan stadia yang sehat dan terus berkembang bagi pertubuhan larva.

5.3. Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air pada pemeliharaan larva udang vannamei dilakukan dengan

beberapa cara, yaitu : penyiponan (dilakukan pada pagi hari saat pertumbuhan larva mencapai

stadia mysis 1 ) dan ganti air (dilakukan pada pagi hari setelah larva mencapai stadia mysis 2 )

dengan menurunkan air sebanyak 4 ton dari volume awal air 7 ton dan diiringi pengisian air

kembali sebanyak volume awal air. Monitoring kualitas air dilakukan setiap hari. Monitoring

yang dilakukan hanya pengamatan suhu saja, sedangkan yang lainnya seperti DO, salinitas,

dan pH, tidak dilakukan.

Pengukuran suhu air pemeliharaan larva udang vannamei di BBAP Situbondo dilakukan

dengan

menggunakan

termometer.

Termometer

diikat

dalam

media

pemeliharaan

agar

perubahan suhu yang terjadi dapat diamati. Pengukuran suhu dilakukan pada pagi dan sore

hari. Suhu pada pemeliharaan larva udang vannamei berkisar 31 - 32 0 C, hal ini sesuai dengan

pendapat Haliman dan Adijaya, (2005) yang menyatakan bahwa suhu optimal pertumbuhan

udang antara 26 - 32 0 C.

5.4. Pengendalian Penyakit

Pada pemeliharaan larva udang vannamei BBAP Situbondo, tidak ditemukan penyakit

Karena telah dilakukannya tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan cara

mensterilisasi peralatan, pengeringan bak, melakukan treatment air, baik treatment air tandon

maupun treatment air media pemeliharaan larva.

Treatment air tandon hanya menggunakan sinar UV, sedangkan treatment air media pada

bak pemeliharaan menggunakan EDTA 5 ppm.

5.5. Monitoring Pertumbuhan

Monitoring pertumbuhan di BBAP SItubondo dilakukan sejak penebaran nauplius. Setiap

hari larva udang dikontrol dengan rutin. Monitoring ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui sejauh mana pertumbuhan larva.

2. mengetahui stadia mana pertumbuhan larva.

3. Mengetahui perkembangan udang selama moulting.

Monitoring ini dilakukan dengan mengambil sampel dari beberapa titik, namun yang sering

diambil yaitu titik pojok bak karena larva udang akan cenderung mengumpul di daerah pojok.

Pengembilan sampel ini menggunakan beaker glass. Selanjutnya diamati, pengamatan ini

umumnya dilakukan oleh teknisi.

a.

Larva

memasuki

stadia

zoea,

ditandai

dengan

adanya

kotoran

yang

selalu

menggantung seperti ekor, ini berlangsung selama 4 hari.

b. Larva memasuki stadia mysis, apabila cara berenangnya ke belakang dan sedikit

bengkok. Fase ini berlangsung selama 3 hari.

c. Larva memasuki stadia PL, apabila sudah tampak seperti udang dewasa yaitu larva

sudah berenang dengan normal dan bentuk tubuh serta alat pencernaanya sudah

sempurna.

Larva udang vannamei ini jika diamati dengan beaker glass pada stadia zoea-mysis

akan melayang-layang di air bila pada stadia PL larva akan terlihat aktif bergerak, PL yang

pertumbuhannya lebih rendah daripada yang lainnya atau mempunyai bentuk badan yang lebih

kurus dari yang lain akan berada di permukaan gelas beaker. Dari monitoring tersebut

didapatkan hasil dari pertumbuhan larva cukup baik, karena perkembangan pertumbuhan larva

setiap stadia stabil.

Dalam

satu

siklus

produksi

pertumbuhan

larva

belum

tentu

sama.

Dalam

arti

pertumbuhannya tidak sama atau tidak seragam, sebagai contoh larva dalam bak yang

seharusnya sudah memasuki masa PL tetapi pada pengamatan masih ada yang masih stadia

mysis. Hal ini disebabkan karena kemampuan moulting setiap larva itu berbeda.

5.6.

Pemanenan

Pemanenan larva udang vannamei biasanya dilakukan saat stadia minimal post larva 9

(PL9) dengan ciri-ciri uropoda telah terbuka semua atau benur yang sudah siap di tebar di

tambak.

Namun,

konsumen.

a. Cara Panen

hal

tersebut

dapat

berubah

sesuai

dengan

permintaan

pembeli

atau

Terlebih dahulu air dalam bak pemeliharaan larva diturunkan hingga 50% (volume bak 10

ton terisi air sebanyak 7 ton diturunkan menjadi 3 ton) melalui pipa goyang atau pipa

pengeluaran dan pipa saringan bagian dalam. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (2003),

yang menyatakan bahwa salah satu tahapan pemanenan adalah dengan menurunkan air dalam

bak pemeliharaan secara perlahan-lahan dengan penyiponan sampai tertinggal setengahnya.

Air yang keluar ditampung dengan menggunakan ember bersaring dengan ukuran saringan 300

µ. Benur diseser dan ditampung dalam baskom bersaring. Setelah jumlah benur dalam bak

berkurang, pipa saringan bagian dalam dilepaskan untuk dilakukan panen total. Selanjutnya

disaring kembali dengan saringan rangka besi ukuran 50 x 70 cm.

Air

dialirkan

melalui

saringan

saluran

pembuangan

dan

ditampung

dalam

ember

bersaring.

Setelah

pemanenan

selesai,

dilakukan

sampling

kepadatan

benur

dengan

menggunakan takaran yang telah diperhitungkan dari setiap sampling tersebut. Misalnya,

dilakukan sampling dengan menggunakan skopnet dengan jumlah benur sebanyak 2.500

ekor/skopnet.

b. Pengemasan

Benur yang telah dipanen dan ditakar dituang dalam kantong plastik yang telah diisi air

laut sebanyak 4 liter. Kemudian diberi oksigen (O 2 ) dengan perbandingan air laut dan O 2 1:1,5

atau sesuai dengan kepadatan dan jarak pengiriman, lalu ikat dengan karet gelang.

5.7. Produksi dan Pemasaran

BBAP Situbondo memproduksi atau menghasilkan larva sebanyak 300.000 ekor larva,

dengan tingkat kelulushidupan larva (SR) 25,6% dari jumlah tebar 1.170.000 ekor. Benur siap

tebar pada tambak hasil pemeliharaan larva BBAP Situbondo yang akan dipasarkan untuk

tambak milik sendiri dan sebagai sampel dalam laboratorium biotek.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Dari hasil Pemeliharaan Larva Udang vannamei yang telah dilaksanakan di BBAP Situbondo penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Manajemen pakan yang diterapkan pada pemeliharaan udang vannamei sudah cukup

baik karena pakan yg diberikan berkualitas baik, serta dosis pemberian pakan tepat dan

frekwensi pemberian pakan yang diberikan

tepat, namun pada pertumbuhan dirasa

tidak seragam kemungkinkan dalam cara pemberian pakan yang kurang tepat membuat

pertumbuhan larva menjadi tidak seragam dan laju pertumbuhan lambat serta tingkat

kelulushidupan (SR) rendah yaitu hanya 25,6%.

2. Tidak ditemukannya penyakit pada saat pemeliharaan karena dosis dan frekwensi

pemberian pakan diberikan secara tepat.

6.2. Saran Saran yang dapat saya berikan pada BBAP Situbondo antara lain :

1. Dalam pemberian pakan larva udang vannamei sebaiknya dilakukan dengan cara yang

baik

dan

benar,

yakni

dengan

terpal

mempersulit pada saat pakan ditebar.

penutup

bak

larva

dibuka

sehingga

tidak

2.

Penggunaan vitamin sebaiknya dilakukan, agar larva terhindar dari segala penyakit, dan

dapat meningkatkan daya tubuhnya.

DAFTAR PUSTAKA

BBAP Situbondo. 2006. Pembenihan Udang Vannamei. Standarisasi dan Informasi. Situbondo Cahyaningsih, H. S. 2006. Petunjuk Teknis Produksi Pakan Alami. Direktorat Jendral Perikanan. Situbondo. 34 hal. Farhan, Goenawan M, Insani dan Marliani. 2006. Jurnal BAPPL Sekolah Tinggi Perikanan. Bagian Administrasi Pelatihan Perikanan Lapangan. Serang. Ghufran, M. 2006. Pemeliharaan Udang Vanname. INDAH. Surabaya. Gramedia. Haliman, Rubiyanto W dan Dian Adijaya. 2005. Budidaya Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Jakarta. http://adln.lib.unair.ac.id/. Teknik Penetasan Kista Artemia Dengan Metode Dekapsulasi Yang Digunakan Sebagai Pakan Udang Vannamei (Litopenaeuas Vannamei) Stadia Post Larva Di Unit Pembenihan Gelung Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Researcth Report. Universitas Airlangga. Surabaya. [16 Oktober 2010] Kanra, Iskandar dan Khairul Amri. 2008. Budidaya Udang Vannamei. Jakarta. Martosudarmo, B dan Ranoemirahardjo, B.S. 1980. Pedoman Pembenihan Udang Penaid. Direktorat Departemen Pertanian.139 hal. Mudjiman,A. 2004. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta Murtidjo,B.A. 2003. Benih Udang Windu Skala Kecil. Kanisius. Yogyakarta Narbuko,C dan Ahmad Achmadi. 2001. Metode Penelitian. Bumi Aksara. Jakarta Nautika. 2009. Pakan Alami Skeletonema costatum. http://jenieb-

nautika.blogspot.com/2009/10/pakan-alami-skeletonema-costatum.html

[23 Oktober 2011] Nazir, M. 1988. Metodologi Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta Timur Purnomo, S. H. 2008. Perkembangan ekspor Udang Vannamei. www.dkp.go.id [8 Oktober 2009]

Salim, A. 2009. Pembenihan Udang Windu dan Produksi Pakan Alami.

http://www.scribd.com/doc/22477392/Laporan-Magang-Pembenihan-Udang-

Windu [23 oktober 2011] SNI.2009. Produksi Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Kelas Benih Sebar.

websisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/unduh/9381

Subagyo, P Joko. 1991. Metode Penelitian Dalam Teori Dan Praktek. UD.Rineka Subaidah, Pramudjo, Oktiandi, Manijo, dan M. Yunus. 2006. Pembenihan Udang Vannamei (Litopenaeus Vannamei). Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Situbondo. 51 hal. Sumeru, S.U dan Anna S. 1999. Pakan Udang Windu. Kanisius. Yogyakarta Suyanto, S. Rachmatun, dan Enny Purbani Takarina. 2009. Panduan Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta

Wardiningsih. 1999. Materi Pokok Teknik Pembenihan Udang. Universitas Terbuka. Jakarta

www

Wyban, J. A. 1992. Selective Breeding of Specifik Pathogen Free (SPF) Shrimp for

Health and Increased Growth in Diseases of Cultural Penaeid Shrimp in Asia and United State. Proc. of Workshop in Honolulu. 257-268.

aquaculture.com.

Ciri-ciri Benur Yang Baik. [14 Oktober 2010]

Lampiran 1. Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo

Lampiran 2. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau Situbondo

Lampiran 2. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau Situbondo

Kepala Balai Kepala Sub. Bagian tata usaha Kepala seksi standarisasi Dan informasi Kepala seksi Pelayanan
Kepala Balai
Kepala Sub.
Bagian tata usaha
Kepala seksi standarisasi
Dan informasi
Kepala seksi Pelayanan
teknis
Kelompok jabatan fungsional
koordinator
Perekayasaa
Litkayasa
Pengawas Benih
Pengawas Budidaya
Pranata humas
Peng. Hama dan Penyakit

Lampiran 3. Proses Dekapsulasi Artemia sp

Pengadukan dilakukan sampai telur artemia berwarna orange Pemberian Chlorine Memasukkan dalam timba 100 liter dan
Pengadukan dilakukan sampai telur artemia berwarna orange Pemberian Chlorine Memasukkan dalam timba 100 liter dan

Pengadukan dilakukan sampai telur artemia berwarna orange

Pengadukan dilakukan sampai telur artemia berwarna orange Pemberian Chlorine Memasukkan dalam timba 100 liter dan diaerasi

Pemberian Chlorine

sampai telur artemia berwarna orange Pemberian Chlorine Memasukkan dalam timba 100 liter dan diaerasi kuat Dibilas

Memasukkan dalam timba 100 liter dan diaerasi kuat

Chlorine Memasukkan dalam timba 100 liter dan diaerasi kuat Dibilas menggunkan air tawar Hingga bau chlorine
Chlorine Memasukkan dalam timba 100 liter dan diaerasi kuat Dibilas menggunkan air tawar Hingga bau chlorine

Dibilas menggunkan air tawar Hingga bau chlorine hilang

kuat Dibilas menggunkan air tawar Hingga bau chlorine hilang Panen dilakukan dengan cara disipon pada bagian

Panen dilakukan dengan cara disipon pada bagian atas

Penyaringan menggunakan Saringan 100 mikron

dilakukan dengan cara disipon pada bagian atas Penyaringan menggunakan Saringan 100 mikron Larva Artemia Stadia Post

Larva Artemia Stadia Post Larva