Anda di halaman 1dari 42

PETUNJUK PELAKSANAAN CAMPURAN EMULSI BERGRADASI RAPAT CARA SEDERHANA

NO. 006/T/Bt/1995

DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTORAT BINA TEKNIK

PRAKATA

Dalam rangka mengembangkan jaringan jalan yang efisien dengan kualitas vang balk, perlu diterbitkan buku-buku standar mengenai perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian dan pemeliharaan. Untuk maksud tersebut Direktorat Jenderal Bina Marga, selaku pembina pembangunan jalan jalan di Indonesia berusaha menyusun standar-standar yang diperlukan sesuai dengan prioritas dan kemampuan yang ada. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan Dewan Standarisasi Indonesia yang diberikan oleh Panitia Tetap Standarisasi Departemen Pekerjaan Umum, standar-standar bidang konstruksi dikelompokkan ke dalam standar mengenai Tata Cara Pelaksanaan, Spesifikasi, dan Metode Pengujian. Buku standar "Petunjuk Pelaksanaan Campuran Aspal Emulsi Bergradasi Rapat Cara Sederhana" (CEBR) ini, merupakan salah satu konsep dasar yang dihasilkan oleh Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga yang masih memerlukan persetujuan Menteri Pekerjaan Umum untuk menjadi Standar Konsep Standar Nasional Indonesia (SKSNI) dan persetujuan Dewan Standar Indonesia untuk menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun demikian sambil menunggu persetujuan tersebut, kiranva standar ini dapat diterapkan di dalam melaksanakan kegiatan-keglatan pelaksanaan Campuran Aspal Emulsi Bergradasi Rapat Cara Sederhana. Dan kami harapkan dari penerapan di lapangan, dapat diperoleh masukanmasukan kembali berupa saran dan tanggapan guna penyempurnaan selanjutnya.

Jakarta, Februari 1995 DIREKTUR BINA TEKNIK

MOHAMAD ANAS ALY

DAFTAR ISI

Halaman BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Penggunaan Emulsi 1.2.1. Sifat-sifat Umum Aspal Emulsi 1.2.2. Pemakaian Campuran Aspal Emulsi Bergradasi Rapat 1 1 1 2

BAB II PROSEDUR PELAKSANAAN 2.1. Bahan 2.2. Peralatan 2.3. Pembuatan Rancangan Campuran (Mix Design) 2.4. Penyiapan Campuran 2.4.1. Cara Pencampuran 2.4.2. Penyimpanan dan Pengangkutan Campuran 2.5. Pelaksanaan 2.5.1. Penghamparan 2.5.2. Pemadatan 2.5.3. Pelaburan Permukaan 5 6 7 7 7 9 10 10 10 12

LAMPIRAN "Tata Cara Perencanaan campuran Dingin Aspal Emulsi Bergradasi Menerus" SK - SNI 1992-03

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Dalam Repelita VI keterbatasan dana dan daya masih merupakan masalah yang memerlukan pemecahan khusus. Dengan demikian efesiensi dan efektivitas harus diusahakan dan dilaksanakan sebaikbaiknya untuk mencapai sasaran yang telah ditargetkan. Sehubungan dengan itu Direktorat Jenderal Bina Marga telah menetapkan. bahwa ekbijaksanaan diversifikasi bahan dan diversifikasi teknologi perlu dilaksanakan. Pemanfaatan aspal emulsi untuk perkerasan jalan adalah salah satu Iangkah untuk mendukung kebijaksanaan tersebut di atas.

1.2.

Penggunaan Aspal Emulsi

1.2.1. Sifat-Sifat Umum Aspal Emulsi Aspal emulsi diperoleh dari aspal keras yang didispersikan ke dalam air dalam bentuk butir-butir halus (0,001 - 0,1 mm) dan dipertahankan dalam kondisi tersebut untuk jangka waktu yang lama dengan bantuan bahan pengemulsi. Aspal emulsi biasanya mengandung 55 - 70 % aspal dan 30 - 40 % air. Dalam campuran dengan agregat, butir-butir akan terpisah dari air dan bergabung dengan butir-butir aspal lainnya membentuk gumpalan serta menyelimuti agregat. Peristiwa Iepasnya butir-butir aspal dari air dan bergabung kembali dengan butir-butir lainnya disebut pecahnya emulsi (breaking/setting). Hal ini dapat terjadi akibat sentuhan dari butir-butir aspal emulsi dengan agregat akibat pemadatan, yang ditandai dengan perubahan warna dari coklat menjadi hitam. Dari kecepatan pecahnya emulsi, aspal emulsi terbagi menjadi tiga golongan : RS (Rapid Setting) MS (Medium Setting) SS (Slow Setting) Sedangkan ditinjau dari muatan listriknya, aspal emulsi dibagi ke dalam dua jenis

Aspal emulsi anior ik (bermuatan negatif) Aspal emulsi kationik (bermuatan positif) Pada saat ini aspal emulsi yang umum digunakan di Indonesia adalah aspal emulsi kationik, karena aspal emulsi tipe ini cocok dengan hampir semua batuan (agregat) yang ada di Indonesia. Aspal emulsi yang termasuk jenis aspal emulsi kationik tersebut yang cocok digunakan untuk membuat campuran dingin adalah CSS1,CSS1h, CMS2, dan CMS2h. Tabel 1. Tingkatan aspal emulsi berdasarkan ASTM dan AASHTO
EMULSIFIED ASPHALT CATIONIC EMULSIFIED ASPHALT

RS-1 RS-2 MS-1 MS-2 MS-2h H FMS-1 H FMS-2 H FMS-2h H FMS-2s SS-1 SS-2

CRS-1 CRS-2 CMS-2 CMS-2h CSS-1 CSS-1 h

Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan aspal emulsi dibandingkan dengan aspal panas antara lain 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dapat dipakai dengan agregat basah / lembab; Dapat disimpan, diangkut, dan digunakan pada temperatur ruangan; Konsumsi bahan bakar hampir tidak ada; Tidak ada pencemaran Iingkungan; Tidak ada masalah overheating; Resiko kebakaran dapat dihindari.

1.2.2. Pemakaian Campuran Aspal Emulsi Bergradasi Rapat Campuran emulsi bergradasi rapat (CEBR) adalah campuran antara agregat dengan aspal emulsi, yang agregatnya mempunyai gradasi rapat (dense graded). CEBR dapat digunakan untuk 1. lapis pondasi bawah (subbase course);

2. 3. 4. 5.

lapis pondasi (base course) lapis permukaan / apis aus (surface course); lapis perata (leveling); bahan penambal lubang (patching).

CEBR dipergunakan sebagai lapis permukaan dengan lalu-lintas ringan sampai sedang. Apabila CEBR dipergunakan sebagai lapis permukaan, cukup ditutupi dengan laburan aspal emulsi sebanyak 0,3 - 0,5 liter/m2, kemudian ditabur pasir. Pencampuran CEBR dapat dilakukan dengan beberapa cara, yang disesuaikan dengan kondisi setempat serta tingkat kualitas yang diperlukan, sebagai berikut : 1. Menggunakan alat pencampur terpusat (mixing plant) dengan pengukur berat agregat dan aspal emulsi yang teliti; yaitu untuk pekerjaan yang memerlukan kualitas tinggi. 2. Menggunakan alat pengaduk beton sederhana (beton molen / concrete mixer); yaitu untuk pekerjaan yang tidak memerlukan kualitas terlalu tinggi, misalnya pondasi atau lapis permukaan jalan dengan lalu-lintas ringan / jarang (ADT <= 500). 3. Menggunakan motor grader, pencampuran setempat di lapangan (insitu); yaitu untuk pekerjaan lapis pondasi. 4. Dengan cara-cara lain yang sederhana, misalnya dengan cara manual (menggunakan tenaga manusia). Berbeda dengan campuran panas, CEBR dapat disimpan dahulu sebelum dipergunakan (stockpile) dalam waktu yang cukup lama sampai beberapa minggu, asal dengan stockpiling yang baik. Cara pengangkutan CEBR dari tempat pencampuran/penyimpanan ke tempat penghamparan dapat dilakukan dengan menggunakan dump truck atau dengan menggunakan truck bak biasa, harus dijaga agar tidak terjadi segregasi akibat proses pemuatan dan pembongkaran. Penghamparan CEBR dapat dilakukan dengan beberapa cara : 1. Dengan finisher; untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan kualitas yang tinggi. 2. Dengan motor grader; apabila ketelitian dari ketebalan tidak perlu tinggi. Cara ini dipergunakan untuk penghamparan lapis pondasi bawah. 3. Dengan cara manual, mempergunakan alat-alat yang sederhana; dapat dipakai pada penghamparan lapis pondasi atau lapis

permukaan pada jalan dengan lalu-lintas ringan di daerah-daerah terpencil. Cara pemadatan CEBR dilaksanakan dengan cara yang sama seperti pada campuran aspal panas, yaitu mempergunakan tandem roller (mesin gilas roda besi) dan tyre roller (mesin gilas roda karet). Kalau tidak terdapat tyre roller, dapat digunakan hanya tandem roller.

BAB II PROSEDUR PELAKSANAAN

Di bawah ini akan diuraikan cara pelaksanaan yang sederhana, yaitu pencampuran dengan beton molen (mesin pengaduk beton sederhana) dan penghamparan dengan tenaga manusia.

2.1

Bahan Bahan yang diperlukan untuk CEBR adalah : 1. 1. 2. 3. Agregat, terdiri dari agregat kasar, agregat sedang, agregat halus. Kadang-kadang diperlukan filler, tetapi umumnya tidak. Aspal emulsi, tipe slow setting (CSS 1 / H.60). Kadang-kadang diperlukan air, yaitu bila keadaan agregat terlalu kering.

Setiap bahan yang akan dipergunakan harus diuji di laboratorium sehingga memenuhi spesifikasi Bina Marga. Pengujian tersebut antara lain Untuk agregat : a) uji saringan (gradasi), lihat Tabel 3, 4 dan 5 b) abrasi c) tingkat penyerapan (absorbsi) bitumen d) bidang pecah Untuk aspal a) viskositas b) kadar air c) breaking point Untuk air a) bersih b) tidak payau Bahan-bahan yang akan dipergunakan tersebut diatas harus tersedia dalam jumlah yang cukup di tempat pencampuran sebelum pekerjaan dimulai.

Mengingat agregat yang diperlukan adalah produksi stone crusher, dan biasanya produksi stone crusher (dengan. primary dan secondary crusher) terdiri atas tiga ukuran/fraksi sebagai berikut : 0 - 5 mm 5 - 10 mm 10 - 20 mm atau atau atau 0 - 6 mm, 6 - 12 mm, dan 12 - 20 mm,

maka dalam penyiapan agregat disesuaikan dengan ukuran-ukuran diatas. Khusus untuk ukuran 0 - 5 mm, dapat juga sebagian dipakai pasir alam/sungai. Tapi, disarankan jumlahnya jangan sampai lebih dari 10% dari total berat campuran agregat, dan dalan keadaan bagaimana pun juga gradasi campuran harus tetap memenuhi Spesifikasi. Dalam penyimpanan, agar diusahakan bahan agregat terlindung dari air hujan supaya kadar airnya tidak terlalu tinggi. Sebagai gambaran, pada pembuatan mix desain biasanya diperoleh perbandingan campuran sebagai berikut Tabel 2 : Perbandingan Campuran AGREAT kasar sedang halus pasir alam 2.2. Peralatan 1. Alat Pencampur Sebagai alat pencampur dapat digunakan beton molen dengan kapasitas sekurang-kurangnya 200 liter, atau peralatan lainnya, misalnya pan mixer. Peralatan itu harus mampu menghasilkan campuran yang homogen dan seluruh agregat terselimuti dengan merata. UKURAN 10 - 20 mm 5 - 10 mm 0 - 5 mm PROSENTASE (%) 14 - 18 42 - 45 30 -33 8-10

2. Peralatan Penghamparan Untuk pekerjaan yang sederhana dengan lingkup pekerjaan kecil biasanya digunakan cara penghamparan dengan tenaga manusia. Alat bantu yang digunakan adalah garu, singkup, alat penumbuk, dan sapu. 3. Peralatan Pemadat Alat pemadat yang digunakan dalam pemadatan adalah : 1) Tandem roller (mesin gilas roda besi) 2) Tyre roller (mesin gilas roda karet)

2.3.

Pembuatan Rancangan Campuran (Mix Design) Mengingat dalam pelaksanaan akan dipakai cara sederhana (pencampuran dengan beton molen dan penghamparan dengan tenaga manusia), disarankan gradasi agre gat mengikuti tipe III atau IV dari Tabel 5, dengan ketebalan lapisan minimum 5 cm. Prosedur pembuatan mix design di laboratorium, sama dengan prosedur seperti pada campuran panas (hot mix), seperti diuraikan dalam "Tata Cara Perencanaan Campuran Dingin Aspal Emulsi Bergradasi Menerus" (rancangan SK-SNI teriampir).

2.4.

Penyiapan Campuran

2.4.1. Cara Pencampuran Alat yang diperlukan untuk pencampuran adalah sebagai berikut : 1. Beton molen Ukuran dan banyaknya agar diperhitungkan dengan kebutuhan / jadwal waktu. Lebih besar ukuran beton molen akan menghasilkan mutu campuran yang lebih baik. 2. Alat bantu, antara lain 1) gerobak dorong 2) kotak penakar agregat 3) plastik penutup campuran

Ukuran besarnya kotak penakar ngregat disesuaikan dengan kapasitas beton molen. Dari beberapa pengalaman, pelaksanaan pencampuran cara sederhana dapat dilakukan sebagai berikut 1) Untuk sekali pencampuran diperhitungkan volume tertentu, misalnya untuk beton 250 liter, kapasitas pengadukan antara 100-150 liter. 2) Untuk membuat campuran dengan aspal emulsi cara sederhana, dapat digunakan perbandingan volume bahan-bahan agregat kasar, agregat halus, dan aspal emulsi, sebagai berikut (1) Bagian Campuran Agregat kasar (0,5 - 2 cm) : 9 takaran Agregat halus (< 0,5 cm) : 6 takaran Aspal emulsi : 2,5 takaran
Catatan : Dalam mix design, banyaknya masing-masing fraksi agregat dinyatakan dalam satuan berat, la/u diubah menjadi satuan volume dan dinyatakan dalam satuan kotak takaran.

(2) Pencampuran dan penimbunan sementara A. Putar molen / pengaduk 25 putaran permenit B. a b c d e f g Masukkan agregat kasar (0,5-2 cm) sebanyak 6 takaran Masukkan aspal emulsi sebanyak 1 takaran Masukkan agregat kasar (0,5 - 3 cm) sebanyak 3 takaran Masukkan agregat halus (< 0,5 cm) sebanyak 3 takaran Masukkan aspal emulsi sebanyak 1 takaran Masukkan agregat halus sebanyak 3 takaran Masukkan aspal emulsi sebanyak 1 /2 takaran

C. Kontrol kerataan campuran dan usahakan total waktu mencampur kurang lebih 4 menit. D. Tuangkan hasil campuran. E. Untuk membawa campuran di tempat campuran sementara sebelum diangkut ke lokasi pekerjaan, bisa dilakukan dengan gerobak dorong. Dasar tempat penimbunan sementara haruslah dasar yang keras atau diberi alas dari terpal / plastik, agar campuran tidak tercampur dengan bahan lain. Timbunan campuran harus ditutup dengan terpal

plastik untuk menghindari penguapan air yang cepat -tau masuknya air dan bahan lain dari luar. Untuk dapat menghasilkan campuran yang balk sebelumnya perlu diadakan percobaan pencampuran. (3) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pencampuran adalah : a. Waktu pencampuran dengan beton molen, sering terjadi penempelan agregat halus dan aspal emulsi pada dinding beton molen terutama bila keadaan air agak tinggi. Untuk menghindari hal tersebut, selama pengadukan dinding beton molen perlu sering dibersihkan.

b. Usahakan menghindari terjadinya segregasi. Kalau terjadi segregasi lakukan pengadukan lagi seperlunya. 2.4.2. Penyimpanan dan Pengangkutan Campuran 1. Penyimpanan Campuran yang menggunakan aspal emulsi dapat langsung dipakai segera setelah pembuatannya. tetapi dapat juga disimpan untuk pemakaian di lain waktu (stockpiling) selama 4 - 15 hari, dengan ketentuan penyimpanan harus dilaksanakan sebagai berikut : 1) Dasar tempat penyimpanan timbunan harus keras, mempunyai drainase yang balk serta bebas dari tanaman / bahan organis dan kotoran apapun. Tinggi timbunan 1,5 - 2,5 meter Timbunan terlindung dari penyinaran matahari secara langsung Campuran yang mengalami segregasi atau campuran yang tercemar dan menjadi terlampau kaku serta memadat harus dibuang.

2) 3) 4)

2.

Pengangkutan Campuran Pengangkutan CEBR dari tempat pencampuran / penyimpanan ke lokasi penghamparan dapat dilakukan dengan dump truck atau truck bak biasa, sedangkan pemuatannya dapat dilakukan dengan loader atau cara manual menggunakan tenaga manusia.

Bila memakai truck biasa dan pembongkaran di lapangan juga dilakukan secara manual (dengan tenaga manusia) dengan sekop, cangkul atau dengan gerobak dorong harus diperhatikan agar jangan sampai terjadi segregasi (pemisahan butir kasar). Tetapi apabila terjadi segregasi, di lapangan perlu dilakukan lagi pengadukan seperlunya untuk menghilangkan segregasi tersebut.

2.5.

Pelaksanaan

2.5.1. Penghamparan

1. Ruas jalan yang akan dilapis perlu dipersiapkan terlebih dahulu mengenai kepadatan, kerataan, dan kebersihan permukaannya. 2. Sebelum penghamparan dimulai, permukaan jalan perlu diberi lapis perekat (tack coat) dari aspal emulsi yang telah diencerkan dengan air menurut perbandingan 1 : 1, kemudian ditunggu sampai lapis perekat tersebut berubah warnanya dari coklat menjadi hitam.

3. Alat-alat untuk keperluan penghamparan disiapkan di lokasi. Juga tenaga kerja dan lain-lain yang diperlukan. 4. Untuk mengatur tebal penghamparan serta sudut kemiringannya, dipakai balok-balok kayu (kaso) dengan tebal atau tinggi tertentu yang dipaku pada permukaan jalan sehingga kokoh dan berfungsi sebagai pembatas tepi hamparan. Untuk mengetahui berapa tebalnya hamparan gembur (sebelum dipadatkan) untuk menghasilkan tebal tertentu setelah pemadatan, perlu diadakan percobaan sebelumnya. Tebal hamparan gembur yang didapat dari percobaan ini menjadi ukuran tinggi balok. Untuk membuat permukaan hamparan rata, dipergunakan penggaris dari kayu.

5.

6.

7. Penghamparan bisa dilaksanakan setengah lebar jalan ataupun selebar penuh jalan, tergantung dari pertimbangan lapangan, terutama sehubungan dengan kepentingan lalu-Iintas. Lubang / celah bekas balok kayu yang dicabut (pada waktu penghamparan) harus betul-betul terisi kembali dengan campuran sebelum dimu!ai pemadatan.

10

2.5.2. Pemadatan Pemadatan adalah tahapan akhir dari serangkaian kegiatan pekerjaan pembuatan lapisan perkerasan jalan. Urutan pekerjaan pemadatan adalah sebagai berikut : 1. Pemadatan dapat dilakukan dengan tandem roller 6 - 8 ton (pemadatan awal dan pemadatan akhir) dan tyre roller 10 - 12 ton (pemadatan antara). Dalam hal tidak ada tyre roller, pemadatan dapat dilakukan seluruhnya dengan tandem roller. Apabila digunakan tandem roller dan tyre roller, pemadatan dilakukan. sebagai berikut : 1) 2) Pemadatan awal dengan tandem roller sebanyak 2 - 4 lintasan dengan kecepatan 3 - 4 km/jam. Pemadatan antara, segera setelah pemadatan pertama, menggunakan tyre roller dengan kecepatan 5 km/jam sebanyak 6 - 8 lintasan. Pemadatan akhir setelah pemadatan antara dengan menggunakan tandem roller sampai alur-alur bekas roda pemadat hilang (kirakira 2 lintasan) dengan kecepatan 5 - 8 km/jam.

2.

3)

Apabila seluruhnya digunakan tandem roller, pemadatan dilakukan sebanyak kira-kira 16 lintasan. Perkiraan-perkiraan jumlah lintasan di atas pada umumnya memenuhi kepadatan yang diharapakan. 3. Cara Penggilasan 1) 2) 3) 4) Pada jalan lurus, penggilasan dimulai dari tepi perkerasan sejajar as jalan menuju ke tengah. Pada tikungan, penggilasan dimulai dari bagian yang rendah sejajar as jalan menuju ke bagian yang tinggi. Pada bagian tanjakan dan turunan, harus dimulai dari bagian yang rendah sejajar as jalan menuju ke bagian yang tinggi. Roda penggerak mesin gilas pada lintasan pertama ditempatkan di muka.

4. 5.

Apabila pada waktu penggilasan terjadi pelekatan campuran pada roda mesin gilas, roda mesin gilas dapat dibasahi dengan lap basah (air). Apabila pada waktu pemadatan terdapat bagian-bagian yang tidak rata atau terjadi pemisahan butir (segregasi), bagian-bagian tersebut

11

tersebut harus segere diperbaiki dengan campuran yang baru sebelum penggilasan selesai. 2.5.3. Pelaburan Permukaan Selesai pemadatan, pada permukaan haparan harus dilakukan pelaburan dengan aspal emulsi clan pasir. Bila memungkinkan, pelaburan tidak dilaksanakan terlalu cepat setelah selesai pemadatan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi waktu Iebih banyak bagi penguapan sisa air pada CEBR. Tetapi bila tidak mungkin, karena harus segera dilalui kendaraan atau akan turun hujan, pelaburan dapat dilaksanakan segera setelah pemadatan. Pelaburan dilaksanakan sebagai berikut : 1. Pemberian aspal emulsi (CSS1) sebanyak 0,3 - 0,5 liter/m2 (tanpa diencerkan). 2. Ditabur dengan pasir alam / abu batu secukupnya. 3. Kemudian digilas 2 lintasan untuk meratakan permukaan.

12

Tabel 3 : Gradasi Agregat kasar untuk CEBR Saringan (mm) 50 37.5 25 12.5 9.5 4.75 2.36 0.075 Ukuran (ASTM) 2" 1 1/2" 1 1/2" 3/8" #4 #8 #200 Prosentase Berat yang Lewat untuk Semua CEBR 100 90-100 20-100 5-100 0-100 0-30 0-10 0-5

Tabel 4 : Gradasi Agregat Halus untuk CEBR Saringan (mm) 9.5 4.75 2.36 0,60 0.075 Ukuran (ASTM) 3/8" #4 #8 #30 #200 Prosentase Berat yang Lewat untuk Semua CEBR 100 90-100 20-100 5-100 1-11

13

Tabel 5 : Gradasi Agregat

No. Campuran Gradasi Tebal Padat (mm) Uk. Saringan (mm) 38.1 25.4 19.1 12.7 9.52 4.76 2.38 0.59 0.279 0.149 0.074

I kasar
19.138.1

II kasar
25.450.8

III Rapat
19.138.1

IV Rapat
25.450.8

V Rapat
38.163.5

VI Rapat
50.876.2

VII Rapat
38.150.8

VIII Rapat
19.138.5

IX Rapat
38.163.5

X Rapat
38.163.4

XI Rapat
38.150.8

% BERAT YANG LEWAT SARINGAN 100 75-100 35-55 20-35 10-22 6-16 4-12 2-8 100 75-100 0-85 55-75 20-35 10-22 6-16 4-12 2-8 100 80-100 50-70 35-50 18-29 13-23 8-16 4-10 100 80-100 70-90 50-70 35-50 18-29 13-23 8-16 4-10 100 80-100 60-80 48-65 35-50 19-30 13-23 7-15 1-8 100 90-100 82-100 72-90 52-70 40-56 24-36 16-26 10-18 6-12 100 80-100 54-72 42-58 26-38 18-28 12-20 6-12 100 62-80 44-60 26-40 20-30 12-20 6-12 100 85-100 65-85 45-65 34-54 20-35 16-26 10-18 5-10 100 95-100 56-78 38-60 27-47 13-28 9-20 4-8 100 74-92 48-70 33-53 15-30 10-20 4-9

14

LAMPIRAN

STANDAR

RANCANGAN SK SNI

TATA CARA PERENCANAAN CAMPURAN DINGIN ASPAL EMULSI GRADASI MENERUS

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DAFTAR ISI
halaman Daftar isi BAB I : DESKRIPSI 1.1. Maksud dan Tujuan 1.1.1. Maksud 1.1.2. Tujuan 1.2. Ruang Lingkup 1.3. Pengertian BAB II : PERSYARATAN-PERSYARATAN BAB III : KETENTUAN-KETENTUAN 3.1. Bahan 3.2. Campuran BAB IV: CARA PENGERJAAN 4.1. Mutu bahan 4.2. Komposisi campuran 4.3. Kadar air coating 4.4. Kadar air pemadatan 4.5. Kadar air Emulsi Rencana LAMPIRAN A : Daftar Istilah LAMPIRAN B : Lain-lain i 1 1 1 1 1 1 2 3 3 6 9 9 9 9 10 10 13 14

grada

SK SNI - 1992-03

BAB I DESKRIPSI

1.1 1.1.1

Maksud dan Tujuan Maksud Tata cara ini dimaksud sebagai acuan dan pegangan bagi perencana untuk merencanakan campuran dingin aspal emulsi gradasi menerus.

1.1.2

Tujuan Tata cara ini bertujuan untuk menyeragamkan cara merencanakan campuran dingin aspal emulsi gradasi menerus.

1.2

Ruang Lingkup Tata cara ini memuat uraian tentang persyaratan bahan, persyaratan dan perencanaan campuran sesuai dengan persyaratan teknik.

1.3

Pengertian 1) Campuran dingin aspal emulsi gradasi menerus adalah lapisan konstruksi perkerasan jalan yang terdiri campurar, merata cari agregat bergradasi menerus, dengan aspal emulsi ; Aspal emulsi adalah suatu jenis aspal yang terdiri dari aspal keras, air, dan bahan pengelmusi; Agregat adalah sekumpulan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir, atau minimal lainnya, balk berupa hasil alam ataupun buatan; Gradasi menerus adalah suatu komposisi agregat yang menunjukan pembagian butir yang merata.

2) 3)

4).

grada

SK SNI - 1992-03

BAB II PERSYARATAN PERSYARATAN Ikhwal yang dipersyaratkan, sebagai berikut : 1) Agregat dan aspal emulsi hanya boleh digunakan apabila telah dilakukan pengujian dan memenuhi persyaratan; Sebelum agregat dan bahan pengisi didatangkan untuk pengujian, terlebih dahulu diperiksa sumber bahannya; Dalam memilih sumber agregat, hendaknya dipertimbangkan jumlah aspal yang akan digunakan merupakan yang paling sedikit menyerap aspal ; Sebelum aspal didatangkan, terlebih dahulu harus diketahui sumber dan sifat-sifatnya, serta harus dilakukan pengambilan contohnya, pencampuran dua aspal yang berasal dari pengilangan yang berbeda sama sekali tidak boleh dilakukan ; Dalam pengujian campuran dingin aspal emulsi penggunaan peralatan harus standar dan sudah dikalibrasi.

2)

3)

4)

5)

grada

SK SNI - 1992-03

BAB III KETENTUAN - KETENTUAN 3.1 3.1.1. Bahan Agregat kasar

Agregat kasar harus terdiri dari batu pecah atau kerikil yang bersih atau terak, kering, kuat, awet, dan bebas dari bahan loris yang mengganggu, serta memenuhi spesifikasi yang berlaku : 1) 2) 3) keausan dalam 500 putaran pada pemeriksaan dengan alat Los Angeles (SK SNI M02-90-F) tidak lebih dari 40%; kelekatan terhadap aspal (SK SNI M 28-90-F) paling sedikit 95% ; indeks kepipihan butir - butir yang tertahan ayakan yang 9,5 mm (3/8") (BS 812) paling sedikit 25% ; khusus untuk kerikil, paling sedikit 50% dari agregat yang tertahan pada ayakan 4,76 mm (No. 4) harus mempunyai minimum dua bidang pecah ; penyerap agregat kasar terhadap air (SK SNI M 09-90- F) maksimum 3%; agregat kasar mempunyai berat jenis curah (bulk) (SK SNI M 09-90F) minimum 2,5% ;

4)

5)

6)

7)

bagian batu yang lunak (AASHTO T 189 - 82) maksimum 5%.

3.1.2

Agregat halus Agregat halus harus terdiri dari pasir alam, atau hasil pemecahan batu, atau terak, atau gabungan dari bahan-bahan tersebut, bersih, kering, kuat, bersudut tajam, bebas dari gumpalan-gumpalan lempung dan bahan-bahan lain yang mengganggu serta memenuhi spesifikasi yang berlaku

grada

SK SNI - 1992-03

1)

penyerapan agregat halus terhadap air (SK SNI M 10-90-F) maksimum 3%; agregat halus mempunyai nilai ekivalen pasir (AASHTO T 176-73) minimum 50%.

2)

3.1.3

Bahan pengisi Apabila bahan diperlukan dalam campuran, bahan pengisi harus terdiri dari kapur atau semen atau bahan non plastis Iainnya, kering, bebas dari bahan-bahan yang mengganggu, serta memenuhi gradasi (AASHTO M - 1277) yang berlaku seperti dalam tabel ;

Tabel 1 Gradasi Bahan Pengisi

UKURAN AYAKAN No. 30 (0.59 mm) No. 50 (0.279 mm) No. 100 (0.149 mm) No. 200 (0.074 mm) 3.1.4 Aspal Emulsi

PROSENTASE BERAT YANG LOLOS 100 95 - 100 90 - 100 65 - 100

Aspal emulsi yang dipergunakan dalam campuran dapat berupa aspal emulsi jenis kationik dan anionic; yang penggunaannya harus disesuaikan dengan jenis agregat yang dipergunakan dalam campuran. Aspal emuisi cationic bermuatan elektro positif cocok untuk agregat bermuatan positif; aspal emuisi harus memenuhi spesifikasi yang berlaku seperti dalam Tabel 2 ;

grada

SK SNI - 1992-03

3.1.5

Air Air diperlukan untuk membantu mencapai kepadatan maksimum campuran. Air yang dipergunakan harus air yang bersih bebas dari kotoran yang tidak diinginkan.

3.1.6

Spesifikasi Rancangan Campuran Dalam campuran dingin aspal emulsi gradasi menerus harus dipenuhi ketentuan spesifikasi rancangan campuran seperti dalam Tabel 3 ; TABEL 3 SPESIFIKASI RANCANGAN CAMPURAN

SARINGAN Inchi/mm 1.5 (37.5) 1 (25.0) 3/4 (19.0) 1 /2 (12.0) 3/8 (9.50) No. 4 (4.75) No. 8 (2.36) No. 55 (300 U) No. 200 (75U) I 100 90 - 100 60 - 80 25 - 60 15 - 45 3-18 1-7

PERSEN LOLOS SARINGAN II 100 90 - 100 60 - 80 35 - 65 20 - 50 3-20 2-8 III 100 90 - 100 45 - 70 25 - 55 5-20 2-8 IV 100 90 - 100 60 -80 35 - 65 6-25 2-10

3.2 3.2.1

Campuran Komposisi campuran Campuran pada dasarnya terdiri dari agregat kasar, agregat halus, bahan pengisi bila diperlukan, air, dan aspal emulsi. Masing-masing agregat tersebut harus terlebih dahulu diperiksa gradasinya (SKSNI M0889-F) dan selanjutnya digabungkan menurut perbandingan yang akan menghasilkan campuran yang memenuhi persyaratan spesifikasi rancangan agregat pada Tabel 3.

grada

SK SNI - 1992-03

3.2.2

Perencanaan campuran 1) menentukan perbandingan campuran dari masing-masing fraksi agregat, untuk mendapatkan rancangan gradasi yang sesuai dengan spesifikasi rancangan campuran; metoda untuk menentukan perbandingan fraksi agregat dapat digunakan dengan cara grafis; perkiraan kadar aspal emulsi rencana dengan rumus; p = 0,05A + 0,1B + 0,5C.........................................(1) Keterangan p = persentase aspal rencana A = prosentase agregat tertahan no. 8 B = prosentase agregat lolos no. 8, tertahan no. 200 C = prosentase agregat lolos saringan no. 200 3) menentukan kadar air untuk penyelaputan agregat, merupakan salah satu bagian yang penting, dimana diharapkan permukaan agregat sebanyak mungkin terselimuti oleh aspal; cara untuk menentukan kadar air tersebut, dilakukan dengan interval 1 % pada agregat untuk selanjutnya ditambah aspal emulsi rencana dan ditentukan kadar air yang memberikan nilai penyerapan yang terbaik; menentukan kadar air pemadatan, merupakan salah satu faktor guna mencapai kepadatan yang optimum. Caranya adalah dengan membuat briket yang dipadatkan dengan marshall sebanyak 2 x 50 tumbukan, pada kadar air yang bervariasi dan kadar aspal rencana, kemudian buat hubungan antara kepadatan dan kadar air, sehingga dapat ditentukan kadar air optimum, yang akan dijadikan pegangan pada saat pelaksanaan dilapangan. Menentukan variasi kadar air pemadatan dengan cara mengurangi kadar air coating sedemikian rupa sehingga diperkirakan mendapatkan kadar air optimum. menentukan kadar aspal rencana dalam campuran (1) dilakukan dengan cara Marshall pada kadar air yang sesuai untuk pemadatan dan kadar aspal di variasikan di bawah dan di atas perkiraan kadar aspal emulsi rencana, kemudian dipadatkan 2 x 50 setiap variasi kadar aspal dibuat minimum 3 contoh benda uji. Penguji dengan alat marshall dilakukan setelah benda uji di oven selama 24 jam pada suhu 38 C.

2)

4)

5)

grada

SK SNI - 1992-03

(2)

dibuat grafik hubungan antara variasi kadar aspal dengan; a. b. c. d. e. Kepadatan (gr/cc) Stabilitas (kg) Rongga terhadap campuran Kelelehan (mm) Kehilangan stabilitas setelah divaccum.

(3)

kadar aspal rencana hasil pengujian Marshall harus memenuhi ketentuan pada Tabel 4.

Tabel 4 : Sifat-Sifat Campuran Aspal Dingin Aspal Emulsi Gradasi Menerus

PENGUJIAN ALAT MARSHALL Jumlah tumbukan Stabilitas Rongga Terhadap Campuran Kelelehan Kehilangan Stabilitas

KETENTUAN 2 x 50 3-8 max 50

grada

SK SNI - 1992-03

BAB IV CARA PENGERJAAN

4.1.

Mutu Bahan Periksa mutu bahan campuran yang akan dipergunakan sesuai dengan ketentuan : 1). 2). 3). 4). 5). agregat kasar sesuai Bab III, butir 3.1.1; agregat halus sesuai Bab III, butir 3.1.2; bahan pengisi bila diperlukan sesuai Bab III. BUTIR 3.1.3; aspal emulsi sesuai Bab III, butir 3.1.3; air sesuai Bab III, butir 3.1.4.

4.2

Komposisi Campuran Hitung komposisi campuran sesuai dengan ketentuan 1). komposisi perbandingan agregat kasar, agregat halus, dan bahan pengisi dengan cara grafis sehingga memenuhi spesifikasi rancangan campuran sesuai pada Tabel 3; 2). hitung perkiraan kadar aspal emulsi rencana sesuai rumus no. 1 Bab 3.2.2 butir 2.

4.3

Kadar Air Coating Tentukan kadar air coating dengan cara sebagai berikut 1) campur rancangan gradasi dengan air yang bervariasi dimulai dari kadar air agregat 0 %, 1 %, 2 %, dan seterusnya, kemudian campur dengan aspal emulsi sesuai dengan perkiraan kadar aspal emulsi rencana; 2) amati secara visual campuran tersebut di atas dan tentukan kadar air yang memberikan nilai pelekatan yang terbaik dengan ketentuan pelekatan 75%.

grada

SK SNI - 1992-03

4.4

Kadar Air Pemadatan Tentukan kadar air pemadatan dengan cara sebagai berikut : 1) buat beberapa contoh campuran pada kadar air coating, kemudian di diamkan dengan di angin-anginkan; 2) kemudian contoh-contoh tersebut diamati dan dibuat sedemikian rupa, sehingga kadar airnya menjadi bervariasi atau berkurang 1 %, 2 %, dan seterusnya dari kadar air coating. Caranya dengan menimbang setiap contoh, sehingga dapat menghasilkan variasi kadar air tersebut di atas ; 3) padatkan contoh campuran 2 x 50 tumbukan, kemudian periksa kepadatannya. 4) buat grafik hubungan antara kepadatan dan kadar air, kemudian tentukan besarnya kadar air yang memberikan kepadatan yang maksimum.

4.5

Kadar Aspal Emulsi Rencana Tentukan kadar aspal rencana dengan cara sebagai berikut : 1) variasikan kadar aspal emulsi di bawah dan di atas campuran pada kadar air pemadatan dengan interval 1 %. Setiap variasi kadar aspal emulsi dibuat 6 buah benda uji yang dipadatkan 2 x 50 tumbukan ; 2) kemudian oven benda uji selama 1 x 24 jam pada suhu 38 C ; 3) test 3 buah benda uji dengan alat Marshall pada temperatur ruang 25 0 C dan 3 buah benda uji lagi di test dengan alat Marshall setelah divacum di dalam air selama 60 menit ; 4) hitung dan buat grafik hubungan antara kadar residu dengan (1) (2) (3) (4) Kepadatan (gr/cc) Stabilisasi (kg) Rongga terhadap campuran (%) ; Kelelehan (mm).

5) tentukan kadar aspal emulsi rencana sesuai dengan ketentuan Tabel 4.

grada

SK SNI - 1992-03

BAGAN ALIR PENENTUAN KADAR ASPAL EMULSI ASPAL EMULSI CAMPURAN DINGIN GRADASI MENERUS STEP 1. MENENTUKAN PELEKATAN AGREGAT CAMPURAN DAN KADAR AIR

Pemeriksaan mutu agregat Bab. III, butir 3.11 dan 3.1.2

Pemeriksaan mutu aspal emulsi table 2.

Pemeriksaan mutu air Bab. III butir 3.1.

Rencanakan komposisi campuran agregat dengan cara grafis Spec. table 3

Campur dan amati secara visual perlengkapan emulsi terhadap aspal syarat 75%

Hitung perkiraan kadar aspal rencana P = 0.05A + 0.7B + 0.05C

Tentukan kadar air yang Memberikan pelekatan terbaik

STEP 2.

MENENTUKAN KADAR AIR PEMADATAN Tumbuk 2 x 50 Berdasarkan Marshall Buat grafik Hubungan antara Kepadatan dengan Kadar air

Buat campuran seperti Pada step 1. (kadar air Coating) kemudian Kurangi kadar air Tersebut 1%, 2%, dst,

Tentukan kadar air yang Memberikan kepadatan maksimum

10

grada

SK SNI - 1992-03

STEP 3.

MENENTUKAN KADAR ASPAL RENCANA OPTIMUM Tumbuk 2 x 50 berdasarkan prosedur marshall Oven benda uji pada suhu 35 oc selama 24 jam Test dengan alat marshall pada suhu ruang 25 oc

Variasi kadar aspal Emulsi campuran pada Step 2 di bawah dan Di atas diperkirakan Kadar aspal emulsi rencana

test marshall setelah divacum pada suhu ruang 25oc

buat grafik hubungan antara kadar residu dengan : - density - stability - rongga terhadap campuran

tentukan kadar residu optimum table 4

11

grada

SK SNI - 1992-03

LAMPIRAN A DAFTAR ISTILAH Pengujian Marshall : adalah suatu metoda pengujian untuk stabilitas dan kelelehan plastis campuran beraspal dengan menggunakan alat Marshall. adalah kemampuan maksimum suatu benda uji campuran aspal dengan menahan beban sampai terjadi kelelehan plastis, dinyatakan dalam satuan beban. adalah perbandingan volume rongga campuran terhadap volume total campuran padat, yang dinyatakan dalam persen. adalah besarnya perubahan bentuk plastis suatu benda uji campuran beraspal yang terjadi akibat suatu beban sampai batas keruntuhan, dinyatakan dalam satuan panjang. adalah agregat yang tertahan pada ayakan no. 8 atau ukuran 2,38 mm. adalah agregat yang lolos ayakan no. 8 atau ukuran 2,38 mm. adalah bahan berbutir halus yang lolos ayakan no. 30 dimana persentase buat butir yang lolos ayakan No. 200 minimum 65 %. adalah sisa emulsi yang telah menguap airnya.

Stabilitas

Rongga di dalam

Kelelehan (flow)

Agregat kasar

Agregat halus

Bahan pengisi

Residu

12

grada

SK SNI - 1992-03

LAMPIRAN B LAIN - LAIN Contoh Perhitungan 1) Data bahan campuran (a) sifat-sifat aspal emulsi css 1 h

Jenis Perkerasan Daktilitas pada residu aspal Penentrasi pada 25C pada residu aspal Jenis aspal Analisa Saringan Viskositas pada 25C Penyulingan : % residu air Pengendapan : satu hari lima hari Berat jenis residu

Nilai > 140 73.2 Cationik 0.08 29 58 42 0.4 2.1 1.036

Satuan Cm 0.1 mm % detik % % % % %

(b) Agregat Gradasi Agregat Ukuran saringan inch/mm 3/4 (19.0) 1/2 (12.5) 3/8 (9.50) No. 4 (4.75) No. 8 (2.36) No. 30 (0.59) No. 50 (0.279) No. 100 (0.149) No. 200 (0.074) split 100 20.04 5.27 0.2 0.17 0.15 0.13 0.11 0.09 % berat lolos screen 100 84.27 20.79 5.15 3.47 2.88 2.17 1.45 abu batu 100 99.23 80.62 40.06 25.70 15.53 7.89 pasir 100 97.27 91.65 57.84 40.51 24.33 14.01

13

grada

SK SNI - 1992-03

Berat Jenis Agregat

Periksaan - Berat jenis - Berat jenis kering permukaan jenuh - Berat jenis semu - Penyerapan

Split 2.606 2.665

Screen 2.604 2.658

Abu batu 2.513 2.586

Pasir 2.715 2.759

Satuan -

2.769 2.249

2.753 2.079

2.712 2.917

2.839 1.609

Kadar Air Agregat Agregat Kadar Air (%)

Split Screen Abu batu Pasir

1.486 1.203 3.148 6.72

Sand equivalen pasir = 89.95 Keausan agregat = 18 %

14

grada

SK SNI - 1992-03

2).

Rancangan agregat Cara Grafis Komposisi agregat

Gambar 1 Gradasi rancangan agregat Ukuran saringan inch/mm 3/4(19.0) 1/2(12.5) No.4 (4.75) No.8 (2.36) No.50 (0.279) No.200 (0.074) split 8% 8 1.63 0.02 0.01 0.01 0 Screen 42% 42 42 8.73 2.15 1.21 0.61 Abu batu 35% 35 35 34.75 28.22 9 2.75 Pasir 15% 15 15 14.59 13.75 6.08 2.1 Total camp Agregat 100 93.63 58.07 44.14 16.29 5.47 Spec III 100 90-100 45-70 25-55 5-20 2-9

(3)

menghitung perkiraan kadar aspal emulsi rencana : P = 0,05+0,1 B+0,5C = 0,05 (55) + 0,1 (39) + 0,5 (6) = 9,65

15

grada

SK SNI - 1992-03

4)

menentukan kadar air coating (1) Kadar air coating untuk percobaan pelekatan adalah kadar air yang sudah ada dalam agregat, dalam aspal emulsi diperhitungkan sebesar 35% dan kadar air yang akan ditambahkan. Kadar air untuk percobaan pelekatan ini dimulai dari 9,8% sampai dengan 19,8% dengan interval 1 Amati secara visual nilai pelekatannya 9.8 80 10.8 11.8 82 85 12.8 87 14.8 92 15.8 95 16.8 95 17.8 95 18.8 95 19.8 95

(2)

Kadar air (%) Nilai Pelekatan (%)

(3). Dari grafik ditentukan kadar air coating untuk pelekatannya sebesar 16,8 %.

(5). Menentukan kadar air pemadatan. Kadar air pemadatan ditentukan dengan cara mengurangi kadar air coating dengan interval 2 /o. Campuran pada kadar air coating di anginanginkan, kemudian untuK menentukan kadar air yang dikehendaki campuran ditimbang dan diperiksa kadar airnya. (2). Campuran pada kadar air yang sudah tertentu tersebut kemudian dipadatkan 2 x 50 tumbukan dengan cara Marshall dan diperiksa kepadatannya. (1).

16

grada

SK SNI - 1992-03

Kadar air (%) Nilai Pelekatan (%)

0.8 1.75

2.8 1.89

4.8 1.91

6.8 1.95

8.8 1.96

10.8 1.97

12.8 1.95

14.8 1.96

16.8 1.95

(3).

Buat grafik hubungan antara kadar air pemadatan dengan kepadatan (gr/cc) dan tentukan kadar air pemadatan (%);

(4). dari grafik ditentukan kadar air pemadatan sebesar 10,8 % pada kepadatan maksimum 1.97 %.

(6). Menentukan kadar aspal residu; (1). Campuran pada kadar air pemadatan di variasikan kadar aspal emulsinya di bawah dan di atas perkiraan kadar aspal rencana sebesar 1 %. (2). Contoh campuran dibuat sebanyak 6 contoh, kemudian di oven selama 1 x 24 jam pada suhu 38 oC; (3). Campuran tersebut dipadatkan 2 x 50 tumbukan dengan cara Marshall ; (4). Kemudian 3 benda uji di test dengan alat Marshall pada suhu ruang 25 o C dan benda uji lagi di test setelah divacum pada rendaman air selama 60 menit ;
(5). Hitung sifat-sifat campuran :

17

grada

SK SNI - 1992-03

(f) (g) (h) (i)

kepadatan (gr/cc) Rongga dalam campuran (%) Kelelehan (mm) Stabilitas setelah di vacum

No. Benda Up

Kadar Aspal residu (%)

Sifat-sifat campuran Stabilitas (kg) Kepadatan (gr/cc) Kelelehan (mm)

Rongga
(%) Langsung Di vacum

1 2 3 4 5 6 7 8 9

4 5 6 7 8 9 10 11 12

2,185 2,192 2,212 2,215 2,194 2,187 2,178 2,175 2,172

14,97 11,25 9,39 7,70 7,29 6,29 5,40 4,24 3,03

705 676 625 495 482 359 287 245 224

165 182 187 189 178 150 132 127 123

4,40 4,55 4,44 4,55 4,59 5,64 5,76 6,01 6,42

(6)

buat grafik hubungan antara kadar aspal reside dengan : a. Kepadatan (gr/cc).

18

grada

SK SNI - 1992-03

b. Rongga dalam campuran (%) c. Kelelahan (mm). d. Stabilitas setelah di vacum.

19

grada

SK SNI - 1992-03

GRAFIK HASIL PEMERIKSAAN ASPAL EMULSI GRADASI MENERUS CARA MARSHALL

20

grada

SK SNI - 1992-03

KADAR EMULSI RESIDU (%)

(7)

menentukan kadar aspal emulsi rencana dari grafik sifat-sifat campuran

pemeriksaan benda uji

syarat

- Kadar emulsi residu (%) - Stabilitas - Setelah di vacum (%) - Rongga dalam campuran (%) - Kelelahan (mm)

7 705 34 7,7 4,55

min 225 max 50 2-8 -

Kadar emulsi rencana

= 7 % + (35/65 x 7%) = 7 % + 3,77% = 10,77%

21

grada

SK SNI - 1992-03

DAFTAR NAMA DAN LEMBAGA

1).

Pemrakarsa

2).

Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga

Tim Penyusun

3).

Sub Direktorat Penyusunan Standar

Tim Pembahas 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ir. Sukawan Mertasudira, MSc. Ir. Buddy Darma Setiawan, MSc. Ir. Jawali Marbun, MSc. Ir. Nawawi, MSc. Ir. Utang Kadarusman Ir. Dendi Pryandana Jumiran, BE. Direktorat Bina Teknik Direktorat Bina Teknik Direktorat Bina Teknik Direktorat Bina Teknik Direktorat Bina Teknik Direktorat Bina Teknik Direktorat Bina Teknik

22

Beri Nilai