Anda di halaman 1dari 4

Sinar dalam toples

Sepertinya aku mengalami hal yang sama, hal


yang biasa aku lakukan setiap kali ku
regangkan otot-otot kelopak mataku.
Berusaha menahan tabrakan ribuan cahaya
yang ingin mencapai retinaku. ketika itu
memori otak ku bergerak, merekam segala
cahaya yang tertabrak dengan cepat dan
empuk di dinding-dinding retina.

Secara perlahan cahaya ini di pilah-pilah
oleh otakku. Aku dapat membedakan kesemua
warna, tapi hanya sebagian warna yang aku
ketahui. Ku tolehkan kepalaku ke samping
kiri, hanya dinding warna .70,2 yang ada.
Di depanku hanyalah atap beton yang dihiasi
dua lampu neon yang bergelantungan seperti
buah dalam pohonya, memancarkan cahaya
putih tegas keseluruh penjuru sudut
ruangan.

Aku baru sadar, tubuhku sedang terlentang
di pinggiran ruang ini, ruang
kesekertariatan pers kampus UNS. Ruang yang
keseharianya selalu dihiasi oleh mahasiswa-
mahasiswa sok kritis, sok idealis, sok
pragmatis, sok alim, dan terlebih sok
pintar. Hanya bualan dan gombalan manis
dari mulut-mulut mereka, termasuk aku. Biar
kita sok-sok an ala apa yang kita minta,
karena dengan sok-sok an seperti ini adalah
harapan-harapan kami, impian-impian kami
tentang masa depan yang kami idamkan, do'a
kami untuk mengabulkan apa yang kami
inginkan.

Ku tegakkan tulang punggungku tegak lurus
dengan kedua kakiku yang membujur lurus ke
dapan. Di sampingku hanya notebook yang
menemani tidurku dengan setia. Dengan layar
yang seakan tak lelah terus menyinari apa
yang di depanya sambil mengumandangkan
5,89 kesukaanku, lagu akustik-akustik
dari beberapa penyanyi asing. Mengantar
tidurku di hari kemaren.

Di luar langit masih menyimpan misterinya,
misteri yang tak seorangpun dapat mengira
akan gelap pekat di dalamnya, hanya kerlap-
kerlip bintang yang memberikan inspirasi
ketika aku memandang luasnya sang langit.
Jikalau aku temukan bulan kali ini,
teringatlah aku pada Erna. Wanita dengan
pancaran wajah yang bersih, ayu dan lembut.
Tapi tidak aku jumpai bulan hingga gelapnya
malam tergerus perlahan oleh tegasnya sinar
mentari.

Warna kuning telur bebek dan kemudian terus
menguning, hingga menyingkirkan cahaya-
cahaya kerlip bintang. Andai langit terus
seperti ini, dimana cahaya mentari tidak
memenuhi gelapnya langit, ketika bintang
masih bisa turut menghiasi langit, dan ada
bulan bersolek indah di ujung barat,
sedangkan rona kuning telur bebek tetap di
ujung timur. Ingin kumiliki suasana ini
sebagai koleksiku, kuwadahi dalam toples
kecilku. Toples yang kemanapun aku bawa.
Mengganti isinya dengan kesemua yang aku
lihat sekarang.

Berulang kali ku buka toplesku, namun tidak
terengut cahaya-cahaya yang aku inginkan.
Cahaya bintang, kuning telor bebek dalam
gelapnya warna langit. Mungkin toplesku
tidak muat untuk menampung kesemuanya. Aku
harus mencari toples yang lebih luas,
melebihi luasnya bintang, luasnya bulan,
luasnya langit dan luasnya bumi.

Kemanakah aku dapat membeli toples semacam
itu, di toko manakah terjual. Apakah di
toko orang-orang cina pasar gedhe. Atau
toko barang-barang antik ngarsopuro.
kalaupun ada, uangkupun tak cukup untuk
membelinya. Dalam dompetku hanyalah ada
selembaran uang berhias di tengah foto Jto
Iskandar Dinata. Seorang pahlawan yang
lantang berani mengkritik pemerintahan
belanda dengan pedas, hingga si jalak
harupat menjadi julukanya ketika itu.

Mungkin aku harus mengurungkan niat untuk
membeli toples semacam itu. Tapi, bukanya
aku punya sebuah penampung akan segalanya,
melebihi kecanggihan kantong ajaib
doraemon, melebihi luasnya bintang, luasnya
matahari, luasnya bulan, luasnya langit.
Batasan dari wadah yang aku miliki tidaklah
Nampak, bagiku batasan dari wadah itu
adalah ketidak berbatasan, dan hanyalah
diri kita yang tahu batasan itu, bersama
sang pencipta. Yang terbenam lebih luas
dari pada yang terlihat, begitu Sigmund
freud menganalogikannya dengan fenomena
gunung es. Dialah pikiran ku, pikiran
seorang kecil dengan angan-angan masa depan
yang besar.

graha ukm uns, setan
Jum'at, 27 Mei 2011