Anda di halaman 1dari 4

NAMA : MUH. FAIDZ Y.A.

KELAS : XII IPA 1


NO.URUT : 10
TAMU
Kebetulan pak Sigit adalah kenalan suamiku. Mereka ketemu sewaktu kuliah dulu, beda
jurusan tapi masih satu Iakultas. Jadi, aku diminta bosku untuk menemani beliau berkeliling kota
Makassar, setidaknya hari ini. Itu maunya sendiri, dan bosku tidak mungkin menolak. Pak Sigit
tiba-tiba saja muncul di instansi tempatku bekerja dan menjadi tamu kantor. Entah dalam rangka
apa kedatangannya aku juga tidak mau tau. Aku hanya menjalankan tugas.
'Bu Ida hanya perlu membuat Pak Sigit nyaman tinggal di kota Makassar sementara.
Beliau tiba dua hari yang lalu. begitu kata bosku.
'Tapi, kenapa harus saya, Pak? bukannya ingin menolak, aku memang cuma butuh
alasan.
'Pak Sigit bilang Ia kenal suami ibu.
'Terus hubungannya dengan saya apa? Yang Beliau kenalkan suami saya, bukan saya?
'Barangkali banyak yang bisa ibu bicarakan dengan Beliau. Saya bisa mengerti kalau ibu
mau menolak.Tapi ini permintaan dari Pak Sigit sendiri. Tolonglah, Bu! Ini demi perusahaan kita
juga. bosku memohon.
'Saya tidak menolak, Pak. Sungguh! Saya hanya khawatir harus pulang malam tiap hari.
Keluarga kami tidak mempekerjakan pembantu, jadi segala urusan rumah tangga saya yang
tanggulangi. Kalau hari ini mungkin saya bersedia, tapi besok-besok .
'Oh! Saya akan coba bicara dengan pak Sigit kalau hanya itu masalahnya. Tenang
sajalah, Bu!
Sehabis jadwal shiItku, aku kembali lagi ke ruangan bosku karena pak Sigit sedang
menunggu di sana. Entah di mana ia tadi sewaktu aku berbincang-bincang dengan bosku.
'Sudah siap, Pak? Mari saya antar! sapaku berusaha terdengar ramah.
'Mari! Tapi kalau ibu tidak keberatan, boleh Pak Adi ikut? Pak Adi entah darimana
tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. Pak Adi adalah salah satu asisten bosku. Pimpinan
macam apa coba yang sampai harus punya lima orang asisten?
'Tentu! Tidak masalah. Makin ramai makin baik. aku tersenyum berterima kasih pada
Pak Adi. Pasti bosku lagi yang meminta Beliau ikut agar aku tidak repot.
Pak Adi menawari untuk mengemudi. Aku setuju saja, asal ia tidak macam-macam
dengan mobilku.
Pak Sigit duduk di depan bersama pak Adi di kursi pengemudi, aku duduk di belakang.
Selama perjalanan kami banyak berbincang. Paling sering membahas urusan kantor. Kadang pak
Sigit menanyakan tentang suamiku. Aku hanya menjawab seadanya. Aku tidak mau ambil
pusing mengenai tujuan kami. Biarlah pak Adi yang menentukan, toh ia juga yang mengemudi.
'Pak Sigit, barangkali ada tempat di Makassar yang selama ini ingin Bapak kunjungi?
tanya Pak Adi ingin tau.
'Terserah Pak Adi saja. Saya hanya ikut. jawab pak Sigit datar.
Pak Adi membawa kami ke pantai Losari. Pak Sigit membawa kamera jadi ia mengambil
beberapa gambar. Ia ingin mengambil gambarku juga, tapi aku menolak. Aku bilang aku malu
diIoto.
Kami singgah di sebuah rumah makan dekat pantai. Pak Adi memesan coto, pak Sigit
mengikutinya. Aku hanya pesan minum air putih.
'Bu Ida tidak makan? tanya pak Sigit tiba-tiba padaku.
'Ah, saya tidak lapar, Pak. jawabku sopan.
Kemudian ia melanjutkan makannya. Pak Sigit banyak menanyakan suamiku. Bagaimana
kabarnya, di mana ia kerja, apa ia gemukan sekarang, begitu.
'Bapak sepertinya kenal betul suami saya. kataku.
'Kami lumayan akrab waktu kuliah dulu. Suamimu itu orangnya baik. kata pak Sigit.
'Ya! aku membenarkan.
'Aku kira dia mau tetap di Jakarta sehabi kuliah. Ia justru pindah ke sini. Katanya dia
capek tinggal di kota besar terus. Tapi, kalau meliaht kondisi Makassar sekarang, rasanya tidak
jauh berbeda dengan Jakarta, bukan? jelasnya panjang lebar. Aku jadi tau suamiku ternyata
memang memilih tinggal di Makassar.
'Ya! aku membenarkan lagi, 'Entah kenapa akhir-akhir Makassar sesak sekali rasanya
. kami terus berbincang-bincang. Kadang pak Adi ikut nimbrung, sesekali kami tertawa
mendengar perkataan kami sendiri. Pak Sigit seharusnya sudah merasa sangat nyaman, sadar
kalau tidak semua orang di Makassar 'kasar seperti yang banyak didengar kalangan luar.
Agenda hari ini berakhir di kios tempat kami singgah. Pak Adi mengantar pak Sigit
kembali ke hotel tempatnya menginap. Ia berpamitan dan akhirnya masuk ke dalam hotel. Pak
Adi menghela napas.
'Huh! Bu Ida capek? tanya pak Adi setelah pak Sigit turun dari mobil.
'Tidak juga. Oh iya, terima kasih untuk hari ini, Pak. Saya sangat tertolong. aku betul-
betul memaknainya.
'Tidak masalah, Bu. Oh! Saya hampir lupa. Bos tadi meminta saya mengurus reservasi
pak Sigit di hotel. Katanya harus diperpanjang tiga samapai empat hari ke depan. Kalau ibu tidak
keberatan menunggu .
'Hotel pak Sigit kantor yang tanggung? tanyaku.
'Ya! Tamu kan harus dijamu, Bu.jawab pak Adi sambil tersenyum.
'Tentu, Pak! Saya tidak keberatan. Apa perlu sekalian saya temani? aku menawarkan.
'Terserah ibu saja. Pak Adi turun dari mobil. Aku mengikutinya dari belakang.
Pak Adi sibuk berbicara dengan resepsionis hotel di lobi. Aku sama sekali tidak mengerti
pembicaraan mereka. Aku diam saja, mematung di sebelah pak Adi. Rasanya lama sekali kami di
situ. Aku belum pernah mengurus reservasi di hotel jadi kurang tau juga bagaimana prosedurnya.
Kupikir resepsionis cukup menyodorkan kunci kamar saja, tapi ternyata tinggal di hotel jauh
lebih rumit dari yang kuduga.
Kami singgah dulu ke rumah pak Adi. Ia berterima kasih lalu masuk ke dalam rumahnya.
Aku masih sempat mendengar anaknya berteriak 'Papa! sebelum akhirnya aku sendiri beranjak
pulang.
Suamiku tiba duluan di rumah. Pintu rumah tidak dikunci, kebiasaan kalau aku tidak di
ruamh.
'Kok baru pulang, Sayang? ucap suamiku lalu mengecup keningku.
'Aku habis antar tamu kantor tadi. Pak Sigit, kamu ingat? Katanya kalian akrab waktu
kuliah dulu?
'Ya! Aku baru terima SMS dari dia setengah jam yang lalu. suamiku menyodorkan
handphonenya padaku. Aku membacanya,
Yo, aku lagi di Makassar. Baru afa habis falan sama istri kamu. Kebetulan kantornya dia
ngundang aku buat fadi tamu.Jangan kaget, Yo. Aku baru afa liat istri kamu check-in sama
asisten bosnya di hotel tempatku nginap. Bukannya lancang, tapi aku liat sendiri dengan mata
kepalaku. Yo kamu orang baik. Kamu pantas dapat yang lebih baik. Mau hang out malam ini?
Aku kaget setengah mati, tapi aku menyembunyikannya. 'Kamu percaya? ujarku mesra.
'Apa kamu mau aku percaya? ia bertanya, terdengar jauh lebih mesra.
'Tidak. jawabku.
'Oke! ia lalu mengecup hidungku
'Itu saja? Apa kamu tidak marah?aku memain-mainkan kerah bajunya, lalu membuka
kancingnya yang paling atas.
'Tidak. jawabnya.
'Kenapa?
'Karena aku percaya sama kamu.

Beri Nilai