Anda di halaman 1dari 50

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Hukum pidana di Indonesia adalah warisan pemerintah kolonial

Belanda melalui penerapan asas konkordansi.1 Dikarenakan oleh Indonesia merupakan jajahan kerajaan Belanda, maka hukum yang berlaku di Indonesia mengikuti hukum yang berlaku di kerajaan Belanda. Tentunya hukum tersebut sangat diskriminatif terhadap rakyat Indonesia sebagai daerah jajahannya. Sedangkan bagi bangsa Indonesia, pilihan hukum terbuka untuk masalah- masalah keperdataan dan untuk bidang hukum lainnya seperti pidana diberlakukan sistem hukum yang sama. Hingga memasuki masa kemerdekaan, Indonesia yang masih belum stabil pemerintahannya pun melalui ketentuan penutup dalam Undang-Undang Dasar 1945 harus mengakui dan memberlakukan semua hukum yang telah berlaku selama belum ada undang-undang baru yang menggantikannya. Termasuk didalamnya adalah KUHP yang merupakan sistem hukum pidana

Berdasarkan asas yang diberlakukan di dalam perundang-undangan Hindia Belanda ps. 151 I.S. lihat Satochid Kertanegara. Hukum Pidana; Kumpulan Kuliah. Balai Lektur Mahasiswa. Hal. 8-9
1

Belanda yang bernama asli Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie yang disahkan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1945 menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.2 Sebagaimana yang kita ketahui bahwa dalam KUHP sendiri terdapat pasal-pasal yang dinilai tidak selaras dengan budaya dan nilai sosial masyarakat Indonesia, maka dalam perjalanannya pun pasal-pasal tersebut diubah melalui undang-undang baru yang artinya menghapus unsur mengikatnya bagi masyarakat. Sesungguhnya usaha untuk menasionalisasi hukum pidana secara keseluruhan merupakan tindakan yang tidak perlu, dan bangsa Indonesia cukup melakukan perubahan-perubahan kecil yang sekiranya ditemukan ada ketidak-sesuaian dikemudian hari saja. Seiring dengan bergeraknya hidup masyarakat yang terus berkembang, maka ada beberapa perubahan nilai dan pandangan yang muncul di masyarakat dan perubahan tersebut mengalami suatu proses interaksi yang saling

mempengaruhi yang bermuara pada integrasi yang dilakukan melalui

Moeljatno, Hukum Pidana Indonesia, Cet.Ke-8 (Jakarta: Rineka Cipta, 2009). Hal. 21
2

hukum.3 Termasuk didalamnya tentang ketentuan pasal-pasal didalam KUHP, bisa saja diubah-suaikan dengan keputusan bersama yang terejawantahkan pada kerjasama parlemen dan pemerintah melalui proses legislasi untuk menyusun satu undang-undang baru. Perubahan-perubahan tersebut dapat kita lihat pada gejala yang muncul di masyarakat dan pada perilaku atau tindakan pejabat pemerintah yang memang sedikit banyak dilakukan dalam rangka memenuhi kehendak rakyat. Inilah yang disebut dengan keberlakuan sosiologis, dimana secara tidak disadari pada pemikiran masyarakat yang sudah tidak lagi menerima produk hukum tertentu menunjukkan sifat penolakannya melalui kritik-kritik atau sekalipun diam, tindakan tersebut merupakan wujud pengingkaran terhadap hukum yang ada.4 Selaras dengan yang dikehendaki masyarakat, pemerintah pun disisi lain sebagai pemegang kewenangan untuk melaksanakan undang-undang juga terlihat

keengganannya untuk melaksanakan hukum yang sudah secara diam-diam diingkari keberlakuannya oleh masyarakan dan pemerintah itu. Hal tersebut
Satjipto Rahardjo. Hukum dan Perubahan Sosial; Suatu Tinjauan Teoritis serta Pengalaman-Pengalaman di Indonesia, Cet. Ke-3 (Genta Publishing: Yogyakarta, 2009). Hal. 26-27. 4 Lihat keberlakuan sosiologis menurut Prof. Jimly dalam keberlakuan undnag-undang pada Jimly Ashshiddiqie. Perihal Undang-Undang (Jakarta: Rajawali Press, 2010). Hal. 168
3

dapat terlihat pada proses pemenuhan salah satu ketentuan undang-undang, dan pada tahap tertentu yang lebih konkret adalah tidak dilaksanakannya putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap. Gejala-gejala ini sedikit banyak sudah mulai terasa pada ranah penerapan hukum pidana, dan secara khusus pada kasus-kasus yang menghasilkan vonis pidana mati pada diri terdakwa suatu tindak pidana tertentu. Beberapa kasus terdahulu yang menghasilkan putusan pidana mati pada saat selesainya proses pengajuan upaya hukum biasa hingga upaya hukum luar biasa pun masih harus menunggu turunnya jawaban grasi bila terpidana tersebut mengajukannya. Padahal proses antara satu tahapan upaya hukum dan upaya hukum lainnya tidak cukup hanya dengan sidang sekali selesai. Waktu tunggu antartahapan bisa memakan waktu tahunan bahkan puluhan tahun. Ini semua didasari oleh rasa kemanusiaan dan keadilan sekaligus, sehingga memunculkan tindakan yang sangat hati-hati pada pihak pengadilan juga pemerintah untuk melakukan eksekusi mati. Tentu bila dipandang dari perspektif penghormatan terhadap HAM tindakan ini patutlah diapresiasi, namun pada sisi lain akhirnya muncul rasa ketidak-

adilan bagi diri terpidana dan juga keluarga korban. Masalahnya adalah ketidak-jelasan kapan eksekusi akan dilaksanakan. Bagi terpidana, fatalnya mereka harus menjalani satu bentuk penghukuman lain yang sama sekali tidak pernah tertulis dalam amar putusan hakim bagi kasusnya. Dilain pihak, keluarga korban pun merasa belum mendapatkan hasil nyata dari pengadilan yang tidak kunjung tiba eksekusi dilakukan pemerintah, yang seolah-olah proses pengadilan yang telah dijalani selama ini menjadi sia-sia. Dalam sistem hukum kita tidak dikenal adanya lembaga

pengampunan oleh keluarga korban, karena sekali tuntutan sudah dibuat oleh jaksa dan masuk dalam proses pengadilan, maka tidak dapat lagi diganggu-gugat. Hasilnya pun harus konsisten dapat diterima sebagai hasil terbaik untuk menyelesaikan masalah. Dalam hukum pidana sendiri, filosofi pemidanaan tersebut bukan semata-mata untuk menghukum atau

membalaskan dendam pada si pelaku, akan tetapi juga untuk memulihakan kondisinya dan memperbaiki tatanan masyarakat agar perbuatan serupa tidak terjadi lagi atau ditiru oleh orang lain.5 Hingga pada akhirnya, karena

Muladi & Barda Nawawi, Teori-teori dan Kebijakan Pidana (Bandung: Alumni, 1992). Hal. 20-23.
5

terpidana tersebut sudah lama sekali mendiami lembaga pemasyarakatan yang bukan bermaksud menjalani hukuman penjara, namun lebih karena menunggu untuk dilakukan eksekusi mati terhadap vonis yang telah diputuskan baginya, para terpidana tersebut malah menjalani masa penahanan yang lamanya bisa jadi melebihi pidana penjara maksimal (20 tahun) hanya untuk menunggu dilakukannya eksekusi. Masalah besar kemudian muncul, dimana si terpidana ini akhirnya dapat dipandang telah menjalani dua kali penghukuman. Pertama adalah hukuman penjara, yang mana maksudnya adalah masa penahanan sebelum eksekusi dilakukan, dan hukuman kedua adalah pelaksanaan eksekusi mati itu sendiri. Masalah lainnya yang mungkin muncul bisa saja terjadi dari keluarga korban yang mungkin saja berubah pikiran dengan melihat kondisi terpidana yang sudah lama mendiami penjara, namun mereka tidak dapat mengajukan pembatalan atas vonis yang telah mengikat tersebut. Tiba gilirannya pada pihak pemerintah, dimana bisa saja Presiden RI sulit untuk memutuskan penolakan grasi yang sudah diajukan oleh terpidana. Meski pun bagi Presiden RI masih lebih mudah memberikan pemaafan dengan melihat

pendirian keluarga korban yang memiliki itikad yang sama untuk memaafkan, namun lain halnya bila memang keluarga korban tidak mengubah pendiriannya. Hasilnya mau tidak mau Presiden RI harus menolak grasi yang diajukan terpidana, padahal pemerintah pun sejatinya enggan atau berat hati untuk menolak grasi tersebut dikarenakan sudah terlampau lamanya terpidana menjalani masa penahanan yang bisa jadi melebihi lamanya pidana penjara maksimal yaitu 15-20 tahun.

1.2

Pokok Masalah Berdasarkan pada uraian latar belakang tersebut, maka dapatlah

dirumuskan menjadi dua pertanyaan kritis yang akan dibahas sebagai jalan mencari solusi atas pokok masalah yang ada, kurang lebih dua pertanyaan tersebut adalah; 1. Bagaimanakah konsep dasar pemidanaan yang berlaku pada sistem hukum pidana nasional?
2. Bagaimanakah arah kebijakan politik hukum pemerintah terhadap

penerapan pidana mati?

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1

Politik Hukum; Pengertian, Ruang lingkup dan Penerapannya Di dalam perkuliahannya, Prof. Satya Arinanto membagi pengertian

politik hukum menjadi tiga; Pertama, politik hukum yang diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah; Kedua, politik hukum diartikan sebagai hubungan yang saling mempengaruhi antara politik dan hukum dengan melihat konfigurasi kekuatan yang ada dibelakang proses pembuatan dan penegakan hukum tersebut; Ketiga, politik hukum diartikan sebagai hukum yang bukan hanya pada pasal-pasal yang bersifat das sollen, melainkan harus dipandang sebagai subsistem yang dalam kenyataannya (das sein) dapat ditentukan oleh politik, baik dalam perumusan materi pasal-pasalnya maupun dalam implementasi dan penegakannya.6 Lebih lanjut lagi, maksud dari pengertian politik hukum sebagai kebijakan hukum (legal policy) adalah terdapat pada

Satya Arinanto, Kumpulan Materi Presentasi Politik Hukum (Jakarta: Pascasarjana FHUI, 2010). Hal. 21
6

bagaimana ditentukannya arah pembangunan hukum yang berintikan pada pembentukan dan pebaharuan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi bangsa Indonesia. Termasuk juga pada proses pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada, dimana didalamnya terdapat penegasan fungsi lembaga dan pembinaan terhadap para penegak hukum.7 Selain ditinjau dari segi isinya, politik hukum yang diartikan sebagai kebijakan hukum juga perlu ditinjau dari segi waktu keberlakuannya. Dimana politik hukum merupakan suatu pilihan arah penegakan hukum yang dijalankan dimasa yang akan datang, yang sedang berjalan dan yang sudah berlalu. Selain itu diberlakukan secara nasional oleh pihak pemerintah (dalam arti luas; eksekutif, legislatif dan yudikatif). Jadi politik hukum merupakan pilihan sikap pemerintah dibidang hukum yang akan menentukan arah penegakan hukum. Sehingga terdapat unsur intervensi politik dalam proses penegakan hukum, karena sejatinya hukum merupakan alat yang sifatnya tergantung dari siapa yang mengendalikannya (man behind the gun). Pemerintah, dalam
7

hal

ini

eksekutif sebagai

pemegang

kekuasaan

Satya Arinanto, Ibid., Hal. 22.

pelaksanaan membentuk

undang-undang undang-undang hukum pada

bersama dapat saat

parlemen

yang

berwenang pihak yang proses

dikatakan hukum itu

sebagai masih

mengendalikan

dalam

pembuatannya (ius constituendum). Pada tahap ini, politik hukum merupakan suatu gambaran situasi yang akan mewarnai proses pembentukan hukum, dimana peran dan pengaruh politik sangat besar menentukan isinya agar sesuai dengan yang diinginkan atau dibutuhkan (das sein).8 Hal demikian disebabkan oleh pihak yang memegang wewenang pembentukan undangundang adalah lembaga negara yang diisi melalui jalur politik, yaitu Presiden dan Parlemen. Beda halnya dengan lembaga negara yang menjalankan kekuasaan yudisial, Mahkamah Agung (MA), meski jauh dari pengaruh kekuatan politik pemerintah (presiden dan parlemen), akan tetapi bukan bebas dari unsur politik. Bahkan dengan caranya sendiri, MA pun dapat menerapkan politiknya sendiri di lingkungan para penegak hukum (hakim). Kemungkinan ini besar terjadi, karena MA merupakan lembaga negara yang dijamin bebas dan mandiri, maka sebagai lembaga negara yang juga memiliki wewenang mengatur internal kelembagaannya tersebut, terdapat
8

Satya Arinanto, Ibid., Hal. 20

pula corak politik hukum yang mungkin diterapkan oleh MA terhadap tugas penegakan hukum yang dijalankannya. Politik hukum tersebut biasanya telah disesuaikan dengan garis kebijakan yang telah tersususun dalam dokumen seperti GBHN pada masa orde baru atau RPJMN pada masa sekarang. Contoh penerapan kebijakan hukum dibidang penegakan hukum ini adalah dengan bersikap tegas kepada para pelaku pidana terrorisme dan narkotika (menyusul juga para koruptor) yang bila terbukti bersalah harus dipidana maksimal sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada akhirnya politik hukum yang menjadi arah pembagunan dan penegakan hukum tersebut mempengaruhi seluruh sendi kehidupan dan termasuk pula yang terjadi di ruang persidangan. Meski hakim dijamin kemandirian dan kebebasannya untuk memutus, namun secara individu bila sang hakim setuju dan mau mengikuti (karena sepakat dan terpengaruhi) arahan kebijakan hukum pemerintah, maka hasil putusannya akan senafas dengan apa yang telah dicanangkan dalam dokumen politik hukum pemerintah.
2.2

Teori Pemidanaan yang Dianut dalam Hukum Pidana Indonesia Penjatuhan pidana memiliki berbagai pengertian, menurut Prof.

Sudarto dan Prof. Roeslan Saleh, pidana adalah pemberian penderitaan atau nestapa yang sengaja diberikan oleh negara kepada orang yang melakukan perbuatan delik. Sedangkan menurut Black Law Dictionary, pidana atau punishment diartikan sebagai, any fine, penalty or confinement inflicted upon a person by authority of the law and the judgement and sentence of court, for some crime of offence committed by him, or for his omission of a duty

enjoined by law. Berlainan dengan pendapat yang mengartikan pidana sebagai sebuah nestapa atau penderitaan, Hulsman lebih berpendapat bahwa pidana pada hakekatnya menyerukan untuk tertib (tot de orde roepen) karena pidana bertujuan untuk mempengaruhi perilaku dan menyelesaikan konflik.9 Secara teori, ada dua macam teori pidana dan pemidanaan sebagai dasar pembenar dan tujuan pidana. Pertama adalah teori absolut atau disebut juga teori retributif. Menurut teori ini, pemidanaan dilakukan karena semata-mata seseorang telah melakukan kejahatan atau tindak pidana (quia peccatum est) dan pemidanaan harus ada sebagai akibat mutlak untuk

Muladi & Barda Nawawi, Teori-teori dan Kebijakan Pidana (Alumni: Bandung. 1992) hal. 2-9.
9

membalaskan perbuatan jahat seseorang. Dasar merupakan pembenar pemidanaannya terhadap adalah karena kejahatan yang

pengingkaran

ketertiban

hukum

negara

merupakan wujud dari cita-susila masyarakat. Sedangkan teori lainya adalah teori relatif atau sering disebut teori utilitarian, inti dari teori ini adalah menolak teori absolut, dimana pemidanaan itu bukan untuk memuaskan keadilan dengan memberi hukuman karena pembalasan merupakan tujuan yang tidak bernilai. Aliran ini lebih berpendapat bahwa pemidanaan memiliki nilai untuk melindungi masyarakat karena bertujuan untuk mengurangi frekuensi kejahatan supaya orang lain jangan melakukan kejahatan (ne paccetur).10 Terdapat beberapa pendapat ahli yang menanggapi kedua teori tersebut (diluar penganut dua teori pidana dan pemidanaan), adalah N. Walker, menurutnya konsep KUHP yang ada di beberapa negara lebih suka menganut teori retributif (tidak murni atau limitatif dan ditributif). Dengan penganutan teori retributif yang limitatif dan retributif, formulasi pemidanaan dalam KUHP bersifat alternatif. Dimana ada pilihan dan pembatasan pidana
10

Ibid. Hal. 10-16.

yaitu batas minimal dan maksimal pemidanaan terhadap jenis pidana tertentu. Tanggapan lain terhadap teori pemidanaan adalah dari Van Bemmelen, menurutnya penjatuhan pidana yang memberikan efek

penderitaan harus dibatasi dan lebih diarahkan kepada proses penyesuaian kembali si terpidana pada kehidupan masyarakat. Ia juga berpendapat bahwa pemidanaan tidak boleh melebihi kesalahan terdakwa.11 Sedaangkan Prof. J. E. Sahetapy berpendapat bahwa pidana harus membebaskan si pelaku dari cara atau jalan yang keliru yang telah ditempuhnya. Maksudnya adalah, efek penderitaan dari pidana harus mampu membebaskan, bukan semata-mata memberikan penderitaan, alam pikiran jahat dan keliru si pelaku untuk kemudian berfungsi sebagai obat dan jalan keluar yang membebaskan dan memberi kemungkinan bertobat (efek penderitaan atas pemidanaan jadi obat agar si pelaku tobat dan terbebas dari perilaku jahat yang sebenarnya dipengaruhi lingkungannya)12.

2.2.1

Tujuan Pemidanaan di Indonesia Masalah pemidanaan berhubungan erat dengan kehidupan

11 12

Ibid. Hal. 18. Ibid. Hal. 20-23.

seseorang dimasyarakat, terutama bila menyangkut kepentingan benda hukum yang paling berharga bagi kehidupan bermasyarakat yaitu nyawa dan kemerdekaan atau kebebasan. Pada masa sekarang ini telah umum diterima pendapat bahwa yang menjatuhkan pidana adalah negara atau pemerintah dengan perantaraan alat-alat hukum pemerintah. Pemerintah dalam

menjalankan hukum pidana selalu dihadapkan dengan suatu paradoxaliteit yang oleh Hazewinkel-Suringa dilukiskan sebagai berikut:13 Pemerintah negara harus menjamin kemerdekaan individu, menjamin supaya pribadi manusia tidak disinggung dan tetap dihormati. Tapi kadang-kadang sebaliknya, pemerintah negara menjatuhkan hukuman, dan justru

menjatuhkan hukuman itu, maka pribadi manusia tersebut oleh pemerintah negara diserang, misalnya yang bersangkutan dipenjarakan. Jadi pada satu pihak pemerintah negara membela dan melindungi pribadi manusia terhadap serangan siapapun juga, sedangkan pada pihak lain, pemerintah negara menyerang pribadi manusia yang hendak dilindungi dan dibela itu". Apabila dilihat dari aliran-alirannya, teori pidana dibagi menjadi dua

E. Utrecht, Hukum Pidana I (Bandung; Penerbitan Universitas, 1968). Hal.


13

aliran; 1) aliran klasik dan 2) aliran modern. Dimana kedua aliran ini berpangkal pada aspek munculnya tindakan manusia dan cara

pertanggungjawaban hukum atas tindakannya itu. Pada aliran klasik, secara garis besar menitikberatkan pada aspek kepastian hukum. Dan berpandangan bahwa manusia memiliki kebebasan pilihan dalam bertindak, oleh karena itu ia pantas dimintai

pertanggungjawaban atas tindakannya itu. Selain itu, aliran ini berpedoman pada pandangan pembalasan berimbang, asas legalitas dan asas kesalahan. Jargonnya yang terkenal adalah let the punishment fit the crime yang dikemukakan Beccaria sebagai salah satu pemikir aliran ini14. Sedangkan pada aliran moderen menitik-beratkan pada aspek faktor yang melatar-belakangi dari timbulnya suatu tindak pidana. Karena aliran moderen ini memandang bahwa manusia dalam bertindak tidak memiliki kebebasan pilihan karena dipengaruhi lingkungan, sehingga pertanggungjawaban atas tindakannya itu diarahkan pada sifat berbahayanya dan untuk melindungi masyarakat.

Muladi & Barda Nawawi, Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Op,. Cit. Hal. 25-39.
14

Oleh Sue Titus Reid, perbandingan antara aliran klasik dan moderen antara lain: Aliran Klasik 1 Pendefinisian tindak pidana 1. dalam undang-undang (pengaruh asas legalitas untuk kepastian hukum) 2 Biarkan pemidanaan .2 menyesuaikan diri pada tindak pidana 3 Doktrin kebebasan berkehendak 3. Aliran Moderen 1 Menolak pendefinisian tindak .1 pidana dan menggantinya dengan kejahatan alamiyah 2 Biarkan pemidanaan .2 menyesuaikan diri pada tindak pidana 3 Doktrin determinisme (kebalikan .3 dari doktrin kebebasan berkehendak, bahwa manusia dipengaruhi lingkungan) 4 Penghapusan pidana mati 4. Menggunakan metode induktif dalam penelitian empirisnya Kalimat yang tidak ditentukan spesifikasi perbuatannya perbedaan yang muncul, yaitu

4 Pidana mati untuk beberapa 4. kejahatan (tertentu yang dikecualikan) 5 Metode anekdot; tidak ada 5 5. penelitian empiris 6 Kalimat yang pasti dan jelas 6 6. (definitif) Pada tebel diatas dapat diketahui

pada titik tolak pandangan terhadap tindakan manusia yang berbuat kejahatan, yang pada akhirnya menentukan cara pemidanaannya sebagai pertanggung-jawaban yang pantas dilakukan. Kedua aliran ini secara terpisah sama-sama membicarakan pidana mati sebagai hasil pandangan masing-masing. Demikian terjadi karena dalam pemidanaan terjadi adanya disparitas atas perbuatan pidana dan hukuman pidana yang dikenakan

padanya.15 Selain dari kedua teori tersebut, ada pula teori gabungan

mendasarkan jalan pikiran bahwa pidana hendaknya didasarkan atas tujuan pembalasan dan mempertahankan ketertiban masyarakat, yang diterapkan secara kombinasi dengan menitikberatkan pada salah satu unsurnya tanpa menghilangkan unsur yang lain maupun pada semua unsur yang ada. Tujuan pemidanaan menurut konsep Rancangan KUHP 1991/1992 dinyatakan dalam pasal 51, adalah sebagai berikut:16
1.

Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat,

2.

Memasyarakatkan

terpidana

dengan

mengadakan

pembinaan

sehingga menjadikannya orang yang baik dan berguna,


3.

Menyelesaikan

konflik

yang

ditimbulkan

oleh

tindak

pidana,

memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat,


Lihat Muladi & Nawawi dalam Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Hal.52, dijelaskan bahwa disparitas pidana adalah penerapan pidana yang tidak sama terhadap tindak pidana yang sama atau terhadap tindak-tindak pidana yang bersifat berbahaya dapat diperbandingkan tanpa dasar pembenar yang jelas. Hal ini bisa terjadi pada pelaku tindak pidana yang dilakukan bersama. 16 Muladi, Proyeksi Hukum Pidana Materil lndonesia di Masa Datang, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Semarang, 1990.
15

4.

Membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Keseluruhan teori pemidanaan baik yang bersifat prevensi umum dan

prevensi khusus, pandangan perlindungan masyarakat, teori kemanfaatan, teori keseimbangan yang bersumber pada pandangan adat bangsa Indonesia maupun teori resosialisasi sudah tercakup didalamnya. Menurut Muladi dalam perangkat tujuan pemidanaan tersebut harus tercakup dua hal, yaitu pertama harus sedikit banyak menampung aspirasi masyarakat yang menuntut pembalasan sebagai pengimbangan atas dasar tingkat kesalahan si pelaku dan yang kedua harus tercakup tujuan pemidanaan berupa memelihara solidaritas masyarakat, pemidanaan harus diarahkan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan masyarakat.17 Dalam bukunya, Prof. Andi Hamzah, yang berjudul Sistem Pidana dan Pemidanaan di Indonsia; dari Retributif ke Reformasi , mengungkapkan bahwa pada perkembangan jamannya, tujuan pemidanaan mengarah dari pembalasan (revange) beralih ke penghapusan dosa (expiation atau retribution) kemudian beralih menuju konsep efek jera (deterrent) dan

17

Muladi, Proyeksi Hukum Pidana Materil lndonesia di Masa Datang,

Ibid.

akhirnya menuju pada konsep perlindungan terhadap masyarakat yang intinya adalah perbaikan perbuatan si pelaku kejahatan (reformasi). Penganutan tujuan pemidanaan yang terakir ini dianggap paling moderen dan beradab untuk kehidupan masyarakat di abad 21.18 Pendapat tersebut seiring dengan dasar filosofis pada Undangundang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang menekankan bahwa narapidana bukan saja objek tetapi juga subjek yang tidak berbeda dengan manusia lainnya yang sewaktu-waktu dapat melakukan kesalahan atau khilaf yang kemudian menyebabkannya dipidana, sehingga tidak harus diberantas. Yang harus diberantas adalah faktor-faktor penyebabnya bukan pada orang-orangnya. Karena agar pemidanaan menyesali adalah upaya untuk dan

menyadarkan

narapidana

perbuatannya

mengembalikannya ke masyarakat agar taat hukum dan menjunjung tinggi moral sosial dan agama. Sehingga tercapai masyarakat yang aman, tertib dan damai.19

Todung Mulya Lubis, Alexander Lay, Kontroversi Hukuman Mati; Perdebatan diantara Hakim Konstitusi (Kompas: Jakarta, 2009). Hal. 64 19 Todung Mulya Lubis, Alexander Lay. Ibid., Hal. 63.
18

2.2.2

Macam-macam Bentuk Pemidanaan Sanksi dalam hukum pidana (pemidanaan) berupa ancaman dengan

hukuman, yang bersidat penderitaan dan siksaan. Hukum pidana hadir untuk melindungi kepentingan hukum yang meliputi; kehidupan, jasmani,

kehormatan, kebebasan dan hak hidup. Apabila ada seseorang melakukan pelanggaran pada kepentingan hukum yang telah dilundungi tersebut, maka hilanglah perlindungan negara kepadanya dan berdampak pada penetapan perbuatan tersebut sebagai pelanggaran atas kepentingan hukum yang dapat (dibenarkan) dikenakan sanksi kepadanya.20 Hukuman (sanksi) yang bersifat siksaan terdiri dari: 1. Hukuman mati (penghilangan nyawa pelaku), 2. Hukuman kurungan (penjara), dan 3. Hukuman denda (perampasan sejumlah harta benda).

2.2.3

Pidana Mati; Pro-Kontra Penerapannya dalam Hukum Positif KUHP yang berlaku di Indonesia buatan pemerintah Belanda sejak 1

Januari 1918, dalam pasal 10 masih mencantumkan pidana mati dalam

20

Satochid Kertanegara, Hukum Pidana; Kumpulan Kuliah, Op. Cit.,

hal. 49.

pidana pokoknya, padahal di Belanda sendiri pidana mati sudah dihapuskan Pada tahun 1870. Hal tersebut tak diikuti di Indonesia karena keadaan khusus di Indonesia menuntut supaya penjahat yang terbesar dapat dilawan dengan pidana mati. Menyikapi konsep penerapan pidana mati dalam KUHP Prof. Muladi dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Semarang tahun 1990 memiliki pertimbangannya sendiri, beliau menyatakan bahwa.21 hukum pidana tidak boleh hanya berorientasi pada perbuatan manusia saja (daadstrafrecht), sebab dengan demikian hukum pidana menjadi tidak manusiawi dan mengutamakan pembalasan. Pidana hanya diorientasikan pada pemenuhan unsur tindak pidana didalam perundangundangan. Hukum pidana juga tidak benar apabila hanya memperhatikan si pelaku saja (daderstrafrecht), sebab dengan demikian penerapan hukum pidana akan berkesan memanjakan penjahat dan kurang memperhatikan kepentingan yang luas, yaitu kepentingan masyarakat, kepentingan negara, dan kepentingan korban tindak pidana. Dengan demikian maka yang paling tepat secara integral hukum pidana harus melindungi pelbagai kepentingan diatas, sehingga hukum pidana yang dianut harus adalah yang berorientasi pada si pelaku kejahatan dan perbuatannya (daad-daderstafrecht). Oleh sebab itu, kedepannya harus dirumuskan pada R-KUHP bahwa pidana mati dikeluarkan dari pidana pokok menjadi pidana yang sifatnya pengecualian terhadap tindak pidana yang dikhususkan. De Bussy membela adanya pidana mati di Indonesia dengan

21

Muladi, Proyeksi Hukum Pidana Materil lndonesia di Masa Datang,

Op. Cit.

mengatakan bahwa di Indonesia terdapat suatu keadaan yang khusus. Bahaya terhadap gangguan yang sangat terhadap ketertiban hukum di Indonesia adalah lebih besar.22 Begitu pun dengan Jonkers, Ia membela pidana mati dengan alasan bahwa walaupun ada keberatan terhadap pidana mati yang seringkali dajukan adalah bahwa pidana mati itu tak dapat ditarik kembali, apabila sudah dilaksanakan dan diakui bahwa ada kekhilafan atau kekeliruan dalam putusan hakim, lalu tak dapat diadakan pemulihan hak yang sesungguhnya. Terhadap orang mati ketidakadilan yang dialaminya tidak dapat diperbaiki lagi. Hazewinkel-Suringa mengemukakan bahwa pidana mati adalah suatu alat pembersih radikal yang pada setiap masa revolusioner kita dapat menggunakannya. Bichon van Tselmonde menyatakan:23 saya masih selalu berkeyakinan, bahwa ancaman dan pelaksanaan pidana mati harus ada dalam tiap-tiap negara dan masyarakat yang teratur, baik ditinjau dari sudut keputusan hakum maupun dari sudut tidak dapat ditiadakannya, kedua-duanya jure divino humano. Pedang pidana seperti juga pedang harus ada pada negara. Hak dan kewajiban ini tak dapat diserahkan begitu saja. Tapi haruslah dipertahankannya dan juga digunakannya. Lombrosso dan Garofalo juga termasuk yang mendukung pidana

Djoko Prakoso dan Nurwachid, Studi Tentang Pendapat-Pendapat Mengenai Efektivitas Pidana Mati di Indonesia Dewasa Ini (Ghalia Indonesia: Jakarta, 1985). Hal. 23 Ibid. Hal.
22

mati. Mereka berpendapat bahwa pidana mati adalah alat mutlak yang harus ada pada masyarakat untuk melenyapkan individu yang tak mung kini dapat diperbaiki lagi. Para sarjana hukum di Indonesia juga ada yang mendukung pidana mati diantaranya adalah Bismar Siregar yang menghendaki tetap

dipertahankannya pidana mati dengan maksud untuk menjaga sewaktuwaktu kita membutuhkan masih tersedia. Sebab beliau menilai kalau seseorang penjahat sudah terlalu keji tanpa perikemanusiaan, pidana apa lagi yang mesti dijatuhkan kalau bukan pidana mati. Sedangkan Oemar Seno Adji menyatakan bahwa selama negara kita masih meneguhkan diri, masih bergulat dengan kehidupan sendiri yang terancam oleh bahaya, selama tata tertib masyarakat dikacaukan dan dibahayakan oleh anasir-anasir yang tidak mengenal perikemanusiaan, ia masih memerlukan pidana mati.24 Pada kubu yang berlawanan, ilmuwan yang dianggap sebagai pelopor dari gerakan anti pidana mati ini adalah Caesar Beccaria dengan karangannya yang terkenal Dei Delicti el delle Pene (1764). Hal yang

Andi Hamzah dan A. Sumangelipu, Pidana Mati di Indonesia di Masa lain, Kini dan di Masa Depan (Ghalia Indonesia: Jakarta, 1985).
24

menyebabkan Beccaria menentang pidana mati ialah proses yang dijalankan dengan cara yang amat buruk terhadap Jean Callas yang dituduh telah membunuh anaknya sendiri. Hakim menjatuhkan pidana mati, tapi Voltaire kemudian dapat membuktikan bahwa Jean Callas tidak bersalah sehingga namanya direhabilitasi. Walaupun demikian ia telah mati tanpa salah, akibat pidana mati yang diperkenankan pada waktu itu. Beccaria menunjukkan adanya pertentangan antara pidana mati dan pandangan negara sesuai dengan doktrin Contra Social. Karena hidup adalah sesuatu yang tak dapat dihilangkan secara legal dan membunuh adalah tercela, karena pembunuhan yang manapun juga yang mengijinkan untuk pidana mati adalah immoral dan makanya tidak sah.25 Senada dengan Beccaria, Van Bemmelen menyatakan bahwa pidana mati menurunkan wibawa pemerintah, pemerintah mengakui ketidakmampuan dan kelemahnnya. Diantara sarjana hukum Indonesia yang menentang adanya pidana mati adalah Roeslan. Menurut beliau bagi kita penjara seumur hidup dan lain-lainnya pidana yang merupakan perampasan dan pembatasan atas kemerdekaan dan harta kekayaan seseorang sajalah

25

Djoko Prakoso dan Nurwachid, Op. Cit., Hal.

yang dipandang sebagai pidana.26 Selanjutnya beliau menyatakan bahwa karena orang semakin tahu betapa buruknya pidana mati itu, sehingga berturut-turut banyak negara beradab yang menghapuskannya. Begitu pun dengan Ing Dei Tjo lam yang menyatakan bahwa tujuan pidana adalah memperbaiki individu yang melakukan tindak pidana disamping melindungi masyarakat. Jadi nyata bahwa dengan adanya pidana mati bertentangan dengan salah satu tujuan pidana yang disebutkan tadi.27 Prof. J.E. Sahetapy juga dianggap sebagai penentang pidana mati, walaupun terbatas hanya mengenai pembunuhan berencana. Dalam desertasinya yang berjudul Suatu Studi Khusus mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana, beliau memberikan hipotesa:28
1. Acaman pidana mati dalam pasal 340 KUHP dewasa ini

dalam praktek merupakan suatu ketentuan abolisi de facto, 2. Acaman pidana mati dalam pasal 340 KUHP tidak akan mengenai sasarannya selama ada berapa faktor seperti lembaga banding, lembaga kasasi, lembaga grasi, kebebasan hakim dan "shame culture", 3. Dari segi kriminologi sangat diragukan manfaat pidana mati. Sependapat dengan Prof. J. E. Sahetapy, Todung Mulya Lubis pun
Andi Hamzah dan A. Sumangelipu, Op. Cit., Hal. Andi Hamzah dan A. Sumangelipu, Ibid, Hal. 28 J.E. Sahetapy, Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana (CV Rajawali: Jakarta, 1982). Hal.
26 27

memberikan kesimpulan yang sama pada kesempatan bersidang di hadapan Mahkamah Konstitusi berkaitan dengan kasus Judicial Review undangundang Narkotika yang menerapkan pidana mati. Menurutnya filosofi pemidanaan yang berlaku di Indonesia adalah lebih dititikberatkan pada usaha untuk merehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi pelaku pidana, dan pemberantasan kejahatan bukan pada narapidana yang bersangkutan, akan tetapi harus diarahkan pada faktor penyebab pelaku pidana melakukan tindak pidana.29

2.3

Politik Hukum Penerapan Pidana Mati dalam Hukum Positif Indonesia

2.3.1

Arah Kebijakan Pemerintah terhadap Penerapan Pidana Mati dalam Beberapa Undang-undang

2.3.1.1 Undang-undang No. 1 Tahun 1946 tentang KUHP

KUHP Indonesia membatasi kemungkinan dijatuhkannya pidana mati atas beberapa kejahatan yang berat-berat saja. Yang dimaksudkan dengan kejahatan-kejahatan yang berat itu adalah :
1.

Pasal104 (makar terhadap presiden dan wakil presiden),

29

Todung Mulya Lubis, Alexander Lay. Op. Cit., Hal. 64-65.

2.

Pasal 111 ayat 2 (membujuk negara asing untuk bermusuhan

atau berperang, jika permusuhan itu dilakukan atau jadi perang) 3.


4.

Pasal 124 ayat 3 (membantu musuh waktu perang) Pasal 140 ayat 3 (makar terhadap raja atau kepala negara-

negara sahabat yang direncanakan dan berakibat maut)


5. 6.

Pasal 340 (pembunuhan berencana) Pasal 365 ayat 4 (pencurian dengan kekerasan yang

mengakibatkan luka berat atau mati)


7.

Pasal 368 ayat 2 (pemerasan dengan kekerasan yang

mengakibatkan luka berat atau mati)


8.

Pasal 444 (pembajakan di laut, pesisir dan sungai yang

mengakibatkan kematian).

2.3.1.2 Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Meskipun dalam undang-undang ini tidak mencantumkan ketentuan pidana mati, namun fungsinya yang mengatur mengenai pemidanaan perlu dibandingkan secara materilnya. Karena pada pelaksanaannya, para terpidana mati selama menunggu pengeksekusiannya, mereka ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang statusnya juga sebaga warga binaan LP. Untuk itu perlu dikaji tentang semangat utama dari undang-undang yang melaksanakan pemidanaan ini. Untuk dapat melihat arah kebijakan pemidanaannya, disajikan pagian penjelasan umum yang merupakan bagian yang cukup jelas mengenai dasar pemikiran sistem pemidanaan di Indonesia.

Bagi negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, pemikiran-pemikiran baru mengenai fungsi pemidanaan yang tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan telah melahirkan suatu sistem pembinaan yang sejak lebih dari tiga puluh tahun yang lalu dikenal dan dinamakan sistem pemasyarakatan. Walaupun telah diadakan berbagai perbaikan mengenai tatanan (stelsel) pemidanaan seperti pranata pidana bersyarat (Pasal 14a KUHP), pelepasan bersyarat (Pasal 15 KUHP), dan pranata khusus penuntutan serta penghukuman terhadap anak (Pasal 45, 46, dan 47 KUHP), namun pada dasarnya sifat pemidanaan masih bertolak dari asas dan sistem pemenjaraan, sistem pemenjaraan sangat menekankan pada unsur balas dendam dan penjeraan, sehingga institusi yang dipergunakan sebagai tempat pembinaan adalah rumah penjara bagi Narapidana dan rumah pendidikan negara bagi anak yang bersalah. Sistem pemenjaraan yang sangat menekankan pada unsur balas dendam dan penjeraan yang disertai dengan lembaga "rumah penjara" secara berangsurangsur dipandang sebagai suatu sistem dan sarana yang tidak sejalan dengan konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial, agar Narapidana menyadari kesalahannya, tidak lagi berkehendak untuk melakukan tindak pidana dan kembali menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab bagi diri, keluarga, dan lingkungannya. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka sejak tahun 1964 sistem pembinaan bagi Narapidana dan Anak Pidana telah berubah secara mendasar, yaitu dari sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan. Begitu pula institusinya yang semula disebut rumah penjara dan rumah pendidikan negara berubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan berdasarkan Surat Instruksi Kepala Direktorat Pemasyarakatan Nomor J.H.G.8/506 tanggal 17 Juni 1964. Sistem Pemasyarakatan merupakan satu rangkaian kesatuan penegakan hukum pidana, oleh karena itu pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari pengembangan konsepsi umum mengenai

pemidanaan Oleh karena itulah mengapa meskipun nama hukumannya adalah pidana penjara namun nama tempat mereka dipenjara adalah Lembaga Pemasyarakatan. Ini adalah perwujudan konsep pemidanaan yang sifatnya reformasi dan reintegrasi. Begitu pun dengan narapidana mati, mereka ditampung di LP sambil menunggu eksekusi.

2.3.1.3 Undang-undang No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika

Pemidanaan tentang narkotika diatur dalam UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Dalam undang-undang ini dikenal pemidanaan berupa hukuman mati. Pengujian pasal tentang hukuman mati dalam UU No. 22 Tahun 1997 telah dilakukan di Mahkamah Konstitusi (MK). MK memutuskan untuk mempertahankan hukuman mati karena kejahatan narkotika termasuk kejahatan luar biasa serius terhadap kemanusiaan (extra ordinary) sehingga penegakannya butuh perlakuan khusus, efektif dan maksimal. Salah satu perlakuan khusus itu, menurut MK, antara lain dengan cara menerapkan hukuman berat yakni pidana mati. Pasal yang mengatur tindak pidana yang dihukumi dengan pidana mati adalah:

1. Pasal 80 ayat (1) butir a dan (2) butir a, memproduksi, mengolah,

mengekstraksi, mengkonversi, merakit, atau menyediakan narkotika Golongan I, 2. Pasal 81 ayat (3) butir a, tentang pengorganisasian kegiatan jual beli narkotika, 3. Pasal 82 ayat (1) butir a, (2) dan (3), tentang mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, alat menukar narkotika Golongan I, 4. Pasal 83, tenang unsur permufakatan/ perencanaan, 5. Pasal 96, tentang residivish.

2.3.1.4 Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM

Pada 2000, perangkat hukum nasional untuk kasus kejahatan serius diundangkan di Indonesia. Perangkat tersebut berupa UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Di dalam undang-undang ini terdapat pasal yang mengatur tentang pidana mati. Pidana mati dikaitkan terhadap kejahatan yang serius berupa genosida, sebagaimana diatur di dalam pasal 8. Sementara itu pidana hukuman mati dalam UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM diatur dalam beberapa pasal di bawah ini: Pasal 36, Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a, b, c, d, atau e dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun
1.

dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun. 2. Pasal 37, Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, b, d, e, atau j dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun. 3. Pasal 41, Percobaan, permufakatan jahat, atau pembantuan untuk melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 atau Pasal 9 dipidana dengan pidana yang sama dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 40. 4. Pasal 42 ayat (3), Perbuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diancam dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pasal 37, Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 40.

2.3.1.5 Undang-undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

undang-undang

tentang

Perlindungan

Anak

ditetapkan

oleh

pemerintah setelah Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden No. RI No. 36 Tahun 1990. Baik UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak maupun KHA merupakan payung hukum daalam setiap upaya perlindungan anak. UU tersebut tidak saja mengatur pencegahan dan perlindungan, tetapi mengatur pula sanksi dan denda setiap pelanggaran terhadap anak-anak. Dalam UU ini terdapat suatu pasal (Pasal 89 ayat (1) ) yang mengatur tentang pidana mati. Pidana mati berkaitan

dengan tindakan penyalahgunaan narkotika dan/atau psikotripika. Pasal 89 ayat (1) (1) Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan, produksi atau distribusi narkotika dan/atau psikotropika dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

2.3.1.6 Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang Terrorisme

Undang-undang ini hanya berisi tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU. Sedangkan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme dilatarbelakangi oleh serangkaian tragedi bom yang melanda Indonesia. Tragedi tersebut dimulai dari bom Natal (2000), bom di kediaman duta besar Philipina (2001), bom Bali I (2002), bom Kedutaan Besar Australia (2004) dan bom Bali (2005). Peristiwa Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 pukul 23.15 WITA di Paddys Caf dan Sari Club di Jalan legian mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam

menghadapi tindak pidana terorisme.30 Pemerintah RI memperkuat perangkat hukum dan organisasi yang dapat dijadikan landasan bagi upaya penindakannya. Perangkat hukum yang dikeluarkan adalah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Perpu 2 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Perpu No. 1 Tahun 2002. Penanganan kasus bom Bali I

menggunakan dasar hukum Perpu No. 1 Tahun 2002. Perpu No. 1 Tahun 2002 mengatur tentang pidana mati sebagai berikut :

Pasal 6 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Rocky Sistarwanto, 2010. Potensi Ideologisasi. Depok : FISIP UI (http://www.google.co.id/search? q=latar+belakang+Perpu+no+1+tahun+2002&ie=utf-8&oe=utf8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a) diakses pada 10 Oktober 2010.
30

Pasal 9 Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Pasal 14 Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.

Pasal 19 Ketentuan mengenai penjatuhan pidana minimum khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 15, Pasal 16 dan ketentuan mengenai penjatuhan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, tidak berlaku untuk pelaku tindak pidana terorisme yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun.

2.3.1.7 Undang-undang No. 5 Tahun 2010 tentang Grasi

Undang-undang grasi pertama kali disahkan pada tahun 2002 dan pada tahun 2010 dilakukan perubahan pertama kali. Dimana ttik tekan perubahannya adalah pada mekanisme pengajuan grasi, untuk lebih jelasnya disajikan petikan penjelasan umum berikut ini:

Grasi, pada dasarnya, pemberian dari Presiden dalam bentuk pengampunan yang berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan putusan kepada terpidana. Dengan demikian, pemberian grasi bukan merupakan persoalan teknis yuridis peradilan dan tidak terkait dengan penilaian terhadap putusan hakim. Pemberian grasi bukan merupakan campur tangan Presiden dalam bidang yudikatif, melainkan hak prerogatif Presiden untuk memberikan ampunan. Kendati pemberian grasi dapat mengubah, meringankan, mengurangi, atau menghapuskan kewajiban menjalani pidana yang dijatuhkan pengadilan, tidak berarti menghilangkan kesalahan dan juga bukan merupakan rehabilitasi terhadap terpidana. Dalam Undang-Undang ini diatur mengenai prinsip-prinsip umum tentang grasi serta tata cara pengajuan dan penyelesaian permohonan grasi. Ketentuan mengenai tata cara tersebut dilakukan dengan penyederhanaan tanpa melibatkan pertimbangan dari instansi yang berkaitan dengan sistem peradilan pidana. Untuk mengurangi beban penyelesaian permohonan grasi dan mencegah penyalah- gunaan permohonan grasi, dalam Undang-Undang ini diatur mengenai pembatasan putusan pengadilan yang dapat diajukan grasi paling rendah 2 (dua) tahun serta ditegaskan bahwa permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan, kecuali terhadap putusan pidana mati. Di samping itu, ditentukan pula bahwa permohonan grasi hanya dapat diajukan 1 (satu) kali, kecuali untuk pidana tertentu dan dengan syarat tertentu pengajuan permohonan

grasi dapat diajukan 1 (satu) kali lagi. Pengecualian tersebut terbuka bagi terpidana yang pernah ditolak permohonan grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal penolakan permohonan grasi tersebut, atau bagi terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterima. Untuk menjamin kepastian hukum dan hak-hak terpidana, dalam Undang-Undang ini diatur percepatan tata cara penyelesaian permohonan grasi dengan menentukan tenggang waktu dalam setiap tahap proses penyelesaian permohonan grasi. Tata cara pengajuan grasi, terpidana langsung menyampaikan permohonan tersebut kepada Presiden, dan salinan permohonan tersebut disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. Presiden memberikan atau menolak permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.

Perubahan penting yang perlu disoroti adalah mengenai kebijakan hukum terhadap penerapan pidana mati, dimana pada para pemohon grasi yang vonisnya adalah pidana mati, bagi mereka hanya diberi kesempatan sekali saja untuk mengajukan grasi. Artinya ketika pertama kali grasi diajukan dan oleh Presiden ditolak, maka eksekusi harus segera dilaksanakan dengan penetapan tempo yang sudah diatur pula, hal ini demi kepastian hukum atas vonis pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

2.3.2

Dilema Penerapan Pidana Mati; Menghukum Terpidana dengan Pidana yang Tidak Tertulis dalam Amar Putusan

2.3.2.1 Permasalahan dalam Penegakkan Hukum (Law Enforcement)

Penjatuhan pidana harus dilakukan oleh satu badan atau lembaga yang memiliki wewenang untuk mengadili dengan membawa sifat yang tidak memihak dan hadir untuk menegakkan hukum bagi kepentingan masyarakat melalui hukum negara (kekuasaan yudikatif).31 Dimana didalam lembaga itu menjadi tempat bekerjanya para hakim, algojo, dan sipir. Melalui lembaga itulah hukum mampu ditegakkan untuk menghukum para pelanggar ketertiban hukum negara, supaya tidak terulangi lagi perbuatan serupa dikemudian hari, maka dari itu hukum harus berfungsi sebagai penjera bagi orang lain yang aka berniat melakukan tindakan serupa. Lembaga pengadilan sebagai penegak hukum memiliki fungsi memperbaiki perilaku dan membenarkan harapan warga negara yang taat hukum.32 Vitalnya fungsi lembaga peradilan sebagai alat penegak hukum dijelaskan pula oleh Friedman mengenai sistem hukum, dimana lembaga

Peter J. Burns, The Leiden Legacy; Concept of Law in Indonesia (Pradnya Paramita: Jakarta, ). Hal. 32 Ibid.
31

peradilan adalah bagian yang menjadi kerangka tegaknya sistem hukum.33 Bila pengadilan merupakan struktur bagi berjalannya sistem hukum, maka struktur tersebut diisi oleh orang-orang yang bekerja didalamnya. Mereka itu adalah suprastruktur yang menggerakkan kinerja lembaga guna menegakkan hukum. Ketika sudah membicarakan orang yang bekerja, maka erat kaitannya dengan integritas para petugas yang diberikan wewenang untuk melaksanakan tugas penegakkan hukum. Ini tidak lain adalah masalah mentalitas dan moralitas orang-orang yang ada didalamnya. Apakah substansi hukum akan benar-benar dilaksanakan dan atau bahkan dimatikan, ini semua bergantung pada suasan sosial dan kekuatan sosial masyarakat, dan aparat pun tidak terkecuali ada padanya.34 Menurut Kelsen, permasalahan permasalahan yang sering menghinggapi budaya penegakkan hukum adalah adanya intervensi dari ideologi-ideologi yang ada pada masyarakat sendiri.35 Dan menurutnya pula,

Lawence M. Friedman, American Law; an Introduction, penerjemah Wishnu Basuki (Tatanusa: Jakarta, 2001). Hal. 7 34 Ibid., Hal. 8 35 Hans Kelsen, Teori Umum tentang Hukum dan Negara , Cet Ke-6 (Nusamedia: Bandung, 2011). Hal. 251.
33

ada satu ideologi yang wajib dimiliki oleh aparat penegak hukum untuk mampu melawan gangguan-gangguan ideologi yang tidak seiring dengan semangat penegakkan hukum. Ideologi tersebut adalah ideologi keadilan, dimana idoelogi ini bisa diambil dari kepercayaan terhadap institusi peradilan dalam menerapkan teori hukum positif (tanpa mau terpengaruh oleh ideologi lainnya diluar hukum dan keadilan).36 Berkaca pada pemikiran para ahli hukum tersebut, akhirnya kita pahami bahwa sumber permasalahan utama dari penegakkan hukum adalah pada para aparaturnya sendiri, baik dari pihak pembuat undang-undang (parlemen-kumpulan politisi), polisi dan jaksa, dan juga termasuk hakimhakimnya. Karena sejatinya pengaruh itu bisa ditolak dan juga tergantung pada pilihan sikap individunya. Terkait masalah yang kemudian merusak kepercayaan pada institusi pengadilan yang berdampak pada ketidak-jelasan arah hukum mau dibawa kemana, penerapan pidana mati harus menjadi perhatian serius karena langsung berpengaruh pada hak hidup seseorang. Luar biasanya adalah, bila institusi pengadilan ini tidak mampu menjalankan tugas dan fungsinya untuk dapat menemukan keadilan, maka
36

Hans Kelsen, Ibid.

bukan tidak mungkin tersangka pun akhirnya menjadi korban kedua setelah dirinya merugikan banyak orang. Padahal bisa jadi yang menjadi terpidana mati ini secara kualitas tidak begitu pantas dipidana mati, hanya karena proses peradilan yang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Mengenai permasalahan ini, lembaga Amnesty Internasional merinci beberapa masalah serius yang terjadi didalam institusi penegak hukum, yang mana menjadi lubang besar penyebab tingginya angka penjatuhan hukuman mati di Indonesia.37 1. Kurangnya akses ke pengacara: Beberapa orang yang telah dijatuhi pidana mati telah ditolak aksesnya untuk mendapatkan pembela pada tingkat pra-peradilan, menolak mereka atas hak untuk mempersiapkan pembelaan, dalam konflik KUHP dan standar internasional untuk mendapatkan pemeriksaan pengadilan yang adil. Juga ada kekhawatiran bahwa dalam beberapa kasus, mereka yang telah ditolak permohonan grasinya, telah ditolak aksesnya untuk bertemu pembela menjelang eksekusi mereka. Dalam hal orang asing, di mana akses ke anggota keluarga tidak dimungkinkan, hal ini berarti telah meniadakan akses mereka ke dunia luar. 2. Kurangnya akses ke penerjemah: Dalam beberapa kasus, ada laporan-laporan tentang orang-orang asing yang tidak didampingi penerjemah, baik selama interogasi awal maupun pada saat diadili. Hal ini telah menghalangi mereka untuk mendapatkan
Amnesty Internasional in Asia Pasific. Data diunduh pada hari Rabu, 1 Desember 2011 pukul 13.20 WIB. [http://asiapacific.amnesty.org/apro/aproweb.nsf/ pages/A5B2C6426CCCFF4648256FFD001E345D/$File/INDASA210402004.pdf]
37

hak mengerti secara penuh tentang tuntutan terhadap mereka, supaya bisa mempersiapkan pembelaan dengan cukup. Komite HAM PBB telah menyatakan bahwa hak untuk mendapatkan penerjemah merupakan kepentingan dasar dalam kasus-kasus di mana ketidaktahuan tentang bahasa yang digunakan oleh suatu pengadilan atau kesulitan untuk mengerti bisa merupakan hambatan utama terhadap hak untuk membela. Perjanjian Internasional tentang Hak Sipil dan Politik juga menjamin hak seorang tersangka untuk mendapatkan bantuan penerjemah secara bebas bila dia tidak bisa mengerti atau tidak bisa berbicara dalam bahasa yang digunakan di pengadilan. 3. Siksaan: Siksaan dan penganiayaan diyakini telah dipraktekkan secara luas di Indonesia. Amnesty International telah menerima informasi tentang kasus-kasus, baik kasus tersangka politik maupun kriminal yang menjadi sasaran penyiksaan. Termasuk di sini adalah kasus-kasus di mana tuntutannya bisa berupa pidana mati. Dalam sebuah kasus, di mana ada seseorang yang dijatuhi pidana mati, orang tersebut telah disiksa untuk mendapatkan pengakuan. Ini bertentangan dengan kewajiban Indonesia sebagai negara yang mengakui Konvensi melawan Penyiksaan dan Hukuman lain yang Kejam, tidak berperikemanusiaan dan Perlakuan serta Hukuman yang Merendahkan, yang disahkan pada tahun 1998.

Penilaian dari lembaga internasional ini setidaknya menjadi cermin pandangan objektif yang pada tataran kenyataan dilapangan memang benar adanaya. Dimana tingginya angka penjatuhan pidana mati ini bukan sematamata orang-orang Indonesia atau wilayah Indonesia menjadi daerah yang bebas bagi para pelaku kejahatan. Atau dengan cara pandang lain bahwa lembaga peradilan di Indonesia begitu ketat dan sangat tegas terhadap para pelaku kejahatan. Namun lain dari hal tersebut, lebih kepada ketidak-beresan

proses penegakkan hukumnya (due process of law). Disisi lain, terdapat fakta yang luar biasa, Beberapa kasus menarik dan sempat menjadi perbincangan adalah kasus eksekusi hukuman mati tiga terpidana terorisme, yaitu Amrozi, Imam Samudra dan Ali Gufron pada tahun 2002 dan 2003. Ali Gufron dijerat Perpu Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Sedangkan Amrozi dan Imam Samudra dikenakan tuntutan pidana mati sesuai dengan Perpu Nomor 1 Tahun 2002 jo Perpu Nomor 2 Tahun 2002 jo Undang Undang Nomor 15 Tahun 2003 jo Kitab Undang Undang (KUHP) Hukum
38

Pidana Ketiganya

dieksekusi pada tanggal 9 November 2008. Dalam satu decade terakhir (2000-2010), setidaknya sudah ada 8 putusan hukuman mati untuk mereka yang disebut teroris.

Wawan H. Purwanto, Kontroversi Seputar Hukuman Mati Amrozi cs, (Jakarta: CMB Pres, 2008), hlm. 87
38

Jumlah ini hanya sebagian kecil dari jumlah terpidana hukuman mati selama 10 tahun belakangan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dirjen PAS, hingga tahun 2010, tercatat 116 orang berada di bawah pantauan Dirjen Pas setelah dijatuhi pidana hukuman mati. Setelah ditelususri dari 116 orang

tersebut, 2 orang sudah meninggal dan 4 orang melarikan diri. Sehingga saat ini hanya tinggal 111 orang. Dengan demikian data-data yang akan disajikan berikutnya adalah data dari ke-116 orang tersebut. Dari 116 orang yang

tercatat dalam data Dirjen PAS tahun 2010, sebanyak 106 orang diputus

dalam periode 2000 sampai dengan 2010.Selama 10 tahun terakhir jumlah putusan hukuman mati tertinggi terjadi pada tahun 2005 dan 2007, yaitu masing-masing 16 putusan dan mulai menurun di tahun 2008, sebanyak 12 putusan. Jumlah putusan hukuman mati kembali menurun drastis pada tahun 2009 hingga 2010, masing-masing 2 putusan.39 Sebagian besar dari terpidana hukuman mati menempuh upaya hukum di tingkat selanjutnya. Mulai dari Banding, Kasasi, Peninjauan Kembali hingga Grasi. Setidaknya ada 1 terpidana yang dalam proses banding. Sebanyak 13 terpidana masih menempuh proses kasasi. Proses Peninjauan Kembali paling banyak ditempuh oleh terpidana hukuman mati. Saat ini ada kurang lebih 60 terpidana yang berada dalam proses peninjauan kembali. Sedangkan yang berada dalam proses Grasi sebanyak 15 orang orang. Sementara itu 2 orang terpidana berada dalam proses Peninjauan Kembali dan Grasi. Sisanya, sebanyak 11 orang, belum menentukan sikap. Mayoritas dari terpidana hukuman mati adalah laki-laki. Dari 116 terpidana hukuman mati, 111 terpidana adalah laki-laki. Sisanya, yaitu 6 terpidana

Komnas HAM. Laporan Kajian Pidana Mati; tentang Situasi Terpidana, Jaksa, dan Hakim. Jakarta, 2011.
39

adalah perempuan. Data-data tersebut mengindikasikan adanya disparitas (kesenjangan) yang lebar antara putusan vonis mati dengan eksekusinya. Hal ini menambah kesan yang membingungkan, apakah benar hasil vonis tersebut atau kah terdapat perbedaan kebijakan hukum terkait penerapan pidana mati ini antara institusi pengadilan dengan pihak eksekutif sebagai eksekutornya.

2.3.2.2 Dampak dari Kebijakan Hukum Penerapan Pidana Mati Berdasarkan pada uraian data tersebut, menjadi terbaca bahwa kelemahan suprastruktur aparat penegak hukum menjadi sebab turunnya kepercayaan terhadap institusi peradilan. Padahal masyarakat sangat menggantungkan nasibnya pada pengadilan. Hukum negara pun menjadi kehilangan arti pentingya lagi, karena bukan hukum yang ditaati, akan tetapi bagaimana situasi dan kondisi selama proses peradilan berlangsung akan menentukan hasil akhirnya. Satu sisi perangkat perundang-undangannya sudah jelas secara konsep dan arahnya, namun menjadi rancu ketika diterapkan pada tataran prakteknya. Keadilan sendiri menjadi barang langka dan mahal, seperti nampaknya transaksi putusan yang jelas-jelas hanya bisa

dibeli oleh kaum berharta banyak. Meski sesungguhnya legitimasi terhadap peradilan untuk beberapa kasus lainnya yang tidak terlampau sensitif dan berat masih terasa keadilannya. Faktor lingkungan dan budaya hukum masyarakat Indonesia lah yang menjadi penyebab sistem hukum menjadi lemah dan kurang dipercaya. Seperti yang diuraikan Friedman bahwa pengadilan sejatinya masih tetap akan menjadi institusi yang memiliki legitimasi untuk menegakkan hukum, namun legitimasi tersebut diarahkan oleh lingkungannya.40 Dilain pihak, bagi para terpidana dan keluarga korban. Nuansa kepercayaan terhadap hukum semakin lama menghilang, karena waktu dan tahapan penyelesaian hukum sangat tidak bisa ditentukan kejelasannya. Mereka hanya pasrah menunggu waktu penjatuhan eksekusinya. Padahal waktu yang sangat lama dipenjara sudah menjadi bentuk penghukuman tersediri bagi terpidana mati, mereka pun selama menjalani penantian eksekusi sudah mengalami perubahan yang signifikan. Bahkan dapat terlihat dari tingkat kepercayaan diri mereka saat menghadapi hukuman mati, terlihat

Lawrence M. Friedman, Stewart Macaulay, John Stookey. Law & Society; Reading on the Social Study of Law (W.W. Norton & Comapny: London, 1967).
40

tanpa beban dan penuh kepasrahan. Hal ini sesungguhnya mencerminkan adanya proses dan usaha pemulihan pada institusi Lembaga

Pemasyarakatan yang cuku berhasil. Dan orang-orang semacam ini sejatinya pantas dan layak kembali ke masyarakat untuk hidup normal. Akan tetapi apa mau dikata, vonis telah diucapkan dan bahkan grasi pun ditolak (untuk waktu yang sekian lama), maka eksekusi pun tiba waktunya. Akhirnya terpidana mati terpaksa menjalani dua kali pidana tanpa pernah tertulis dalam amar putusan kasus mereka, yaitu secara tidak dikehendaki, mereka menjalani penjara seumur hidup dan pidana mati yang divoniskan pengadilan kepadanya. Dengan demikian semacam ada ketidak konsistenan antara konsep pemidanaan dengan penerapan hukum pidana mati. Karena sesungguhnya tujuan pemidanaan telah tercapai dengan melihat kondisi terpidanannya, namun kepastian hukum lebih didahulukan dari kemanfaatannya, dan arah kebijakan politik hukum khususnya penerapan pidana mati pada tataran perundang-undangannya sangat tegas dan jelas mendukung pidana mati.

BAB 3

KESIMPULAN
Setelah menguraikan teori dan data yang ada, maka untuk menjawab pertanyaan dalam pokok masalah dapat disimpulkan menjadi beberapa paragraf berikut: Tentang pertanyaan Bagaimanakah konsep dasar pemidanaan yang berlaku pada sistem hukum pidana nasional?, maka jawabannya adalah konsep pemidanaan dan tujuan yang hendak dicapai adalah bukan sekedar untuk menghukum pelaku, namun juga hendak memebrikan efek jera dengan sebanyak mungkin menghasilkan undang-undang yang menerapkan pidana mati. Disamping itu, masa penahanan yang cukup lama bagi terpidana mati, setidaknya dapat dibenarkan dari segi kemanusiaan, guna mastikan tuntasnya proses hukum yang seadil-adilnya. Selain itu, dimasa

penantiannya itu, terpidana banyak mendapatkan program pembinaan yang akhirnya membuatnya siap menghadapi eksekusi. Ini merupakan bukti berhasilnya konsep pemidanaan yang bernuansa rehabilitasi, reintegrasi dan reformasi. Sedangkan untuk menjawab pertanyaan Bagaimanakah arah kebijakan politik hukum pemerintah terhadap penerapan pidana mati?, maka dapat terlihat pada bagaimana lengkapnya peraturan perundang-undangan yang sangat mendukung penerapan pidana mati sebagai pidana maksimal.

Selain itu juga dipertegas dengan adanya undang-undang grasi yang semakin memperjelas proses pengeksekusiannya supaya kepastian dan keadilan semakin nyata terlihat. Meski memang dalam pelaksanaannya, lembaga peradilan telah kehilangan legitimasi untuk sementara waktu karena perlaku aparatnya sendiri. Namun demikian, politik hukum negara untuk menerapkan pidana mati sejatinya sangat sungguh-sungguh dan tidak terpengaruh pada ideologi lain yang mengecamnya, termasuk intrumen hukum internasional mengenai HAM.