Anda di halaman 1dari 114

PENGANTAR

K R I T I K
ARSITEKTUR
SIKLUS - SEJARAH, TEORI, DAN KRITIK ARSITEKTUR
Sejarah, Teori dan Kritik dalam ilmu arsitektur merupakan aspek-aspek yang tidak dapat dipisahkan dan ketiga hal tersebut memiliki keterkaitan dan saling terkait. Proses ber-arsitektur secara terus menerus akan melahirkan teori arsitektur, sedangkan kritik arsitektur merupakan buah dari teori arsitektur. Sebuah siklus yang berlaku secara universal 1. Sejarah Dalam Arsitektur Pembelajaran tentang sejarah dalam arsitektur akan terkait dengan deskripsi dan interpretasi kajian akan keberhasilan dari produk arsitektur. Kesalahan dan kekurangan masa lampau menjadi pelajaran yang terbaik saat ini agar dapat menghasilkan karya arsitektur yang bermanfaat dan berguna. Monumen-monumen bangunan bersejarah hasil karya nenek moyang yang sudah berdiri pada masa lampau sampai sekaang tetap terkenang namanya bahakan masih dapat dijadikan konsumsi secara visual dan edukasi dapat dijadikan suatu kebanggaan sebagai pelajaran bahwa pada jaman dahulu orang sudah dapat membuat bangunan yang indah dan megah. Arsitektur dipandang sebagai bangunan atau teknik membuat bangunan dimana melalui proses yang terdiri dari : Perencanaan (ide atau gagasan), Perancangan (desain) dan pelaksanaan pembangunan. Arsitektur juga dipandang sebagai ruang atau pemenuhan kebutuhan akan ruang oleh manusia untuk melakukan segala aktivitas tertentu. Arsitektur dipandang sebagai sejarah, dimana arsitektur merupakan ungkapan fisik dan peninggalan budaya suatu mayarakat, dalam batasan tempat dan waktu. Keberadaan arsitektur sendiri seumur dengan peradaban manusia di muka bumi ini. Sejarah dan arsitektur mencakup dimensi ruang dan waktu yang tidak dapat ditentukan batasannya. Oleh karenanya kajian terhadap sejarah arsitektur dilakukan berdasarkan kronologis menurut ruang, dimensi dan waktu. Pengkajian ini dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu : primitif tradisional, klasik dan modern. Pembagian ini masih bersifat global sehingga tiap-tiap periode masih harus dikelompokkan lagi secara terperinci. 2. Teori Dalam Arsitektur Teori dalam arsitektur merupakan deskripsi dari beberapa pertanyaan-pertanyaan, yaitu :

Apakah arsitektur itu?

Apa yang harus dicapai dengan arsitektur? Bagaimana cara merancang/mendesain? Apa produk dari arsitektur? Bagaimana seorang arsitek menemukan ide? Dsb.

Tujuan untuk mempelajari teori arsitektur adalah:


Membantu mengenal dan mempelajari karya arsitektur; Membantu arsitek dalam proses merancang; Memberi arah dalam proses desain namun tidak dapat menjamin hasil karya yang sempurna; Merupakan dugaan, harapan, hipotesis yang dapat diidentifikasikan namjn sering tidak ilmiah.

Menurut Vitruvius, tujuan arsitektur tergantung pada susunan penataan, keselarasan dalam pergerakan, simetri, kesesuaian dan ekonomi. Arsitektur ditentukan oleh fungsi/kenyamanan, struktur/ketahanan, dan estetika/keindahan. Menurut Bruno Zevi, teori arsitektur meliputi cara mengidentifikasikan variabel-variabel penting, ruang, struktur dan proses-proses aktifitas kehidupan masyarakat. Ruang merupakan unsur pokok, memahami ruang berarti mengetahui bagaimana cara melihat (elemenelemen arsitektur) dan merupakan kunci untuk mengenal dan memahami arsitektur bangunan. Cara memandang, mengenal, dan memahami arsitektur antara lain dengan analogi :

Arsitektur dianggap sesuatu yang organik Arsitektur merupakan suatu bahasa Arsitektur dianggap seperti mesin

3. Kritik Dalam Arsitektur Kritik merupakan rekaman dari tanggapan terhadap lingkungan buatan (built environment). Kritik meliputi semua tanggapan termasuk tanggapan negatif dan pada hakekatnya kritik bermaksud menyaring dan melakukan pemisahan. Ciri pokok kritik adalah pembedaan dan bukan penilaian (misalnya : reaksi penduduk terhadap rancangan pemukiman dilakukan dengan metode penyampaian tanggapan). Metode kritik arsitektur terdiri dari :

Kritik Normatif; kritik ini berdasarkan pada pedoman baku normatif. Kritik Penafsiran; kritik ini merupakan penafsiran dan bersifat pribadi. Kritik Deskriptif; bersifat tidak menilai, tidak menafsirkan, semata-mata membantu orang melihat apa yang sesungguhnya ada, menjelaskan proses terjadinya perancangan bangunan.

METODEKRITIK

N O R M A T I F

HAKIKATKRITIK

N O R M A T I F
Hakikat kritik normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip. Melalui suatu prinsip, keberhasilan kualitas lingkungan buatan dapat dinilai Suatu norma tidak saja berupa standard fisik yang dapat dikuantifikasi tetapi juga non fisik yang kualitatif. Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi.
Sebagai contoh adalah slogan yang berkembang pada beberpa Negara dan berperan kuat terhadap perkembangan arsitektur seperti form follow function.

JENISJENISMETODA

K R I T I K N O R M A T I F
Karena kompleksitas, abstraksi dan kekhususannya kritik normatif perlu dibedakan dalam metode sebagai berikut : Metoda Doktrin ( satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur) Metoda Sistemik ( suatu norma penyusunan elemen elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan) Metoda Tipikal ( suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik)

Metoda Terukur ( sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif)

METODAKRITIK

D O K T R I N A L
Doktrin sebagai dasar dalam pengambilan keputusan desain arsitektur yang berangkat dari keterpesonaan dalam sejarah arsitektur. Sejarah arsitektur dapat meliputi : Nilai estetika, etika, ideologi dan seluruh aspek budaya yang melekat dalam pandangan masyarakat. Melalui sejarah, kita mengenal :
Form Follow Function - Function Follow Form Form Follow Culture - Form Follow World View Less is More - Less is Bore Big is beauty Small is beauty Buildings should be what they wants to be Building should express : Structure, Function, Aspiration, Construction Methods, Regional Climate and Material Ornament is Crime - Ornament makes a sense of place, genius loci orextence of architecture.

Doktrin bersifat tunggal dalam titik pandangnya dan biasanya mengacu pada satu ISME yang dianggap paling baik.

KEUNTUNGANMETODAKRITI K

D O K T R I N A L

Dapat menjadi guideline tunggal sehingga terlepas dari pemahaman yang samar dalam arsitektur Dapat memberi arah yang lebih jelas dalam pengambilan keputusan Dapat memberikan daya yang kuat dalam menginterpretasi ruang Dengan doktrin perancang merasa bergerak dalam nilai moralitas yang benar Memberikan kepastian dalam arsitektur yang ambigu Memperkaya penafsiran

KERUGIANMETODAKRITIK

D O K T R I N A L
Mendorong segala sesuatunya tampak mudah Mengarahkan penilaian menjadi lebih sederhana Menganggap kebenaran dalam lingkup yang tunggal Meletakkan kebenaran lebih kepada pertimbangan secara individual Memandang arsitektur secara partial Memungkinkan tumbuhnya pemikiran dengan kebenaran yang absolut Memperlebar tingkat konflik dalam wacana teoritik arsitektur

SEJARAHEKSISTING

D O K T R I N
Utilitarian Doktrin yang mengacu pada progress harga Keputusan arsitektur pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas Preservasionist Doktrin yang cenderung mengacu pada isme lama Berorientasi pada paham yang bersifat immateri Tidak berorientasi pada bahan atau material Tidy Minded Doktrin yang mengacu pada keteraturan Tahap pengambilan keputusan yang sistematik Berpikir detail dan cermat sebelum melanjutkan pada langkah berikutnya The Improver Berpikir inovatif Menggali kemungkinan-kemungkinan baru dari kegagalan masa lalu Menyesuaikan pola-pola yang ada terhadap pola-pola baru yang muncul Ada keinginan yang kuat untuk mempertinggi kualitas karena kebaruan

KESIMPULANDALAMMETODA

K R I T I K D O K T R I N A L
Tidak etik menggunakan keberhasilan arsitektur masa lalu untuk bangunan fungsi mutakhir Tidak etik memperlakukan teknologi secara berbeda dari yang dilakukan sebelumnya Jika akan mereproduce objek yang muncul pada masa lalu untuk masa kini harus dipandang secara total dan dengan cara pandang yang tepat Bahwa desain arsitektur selalu mengekspresikan keputusan desain yang tepat

Secara sosial bangunan akan tercela bila ia merepresentasikan sikap seseorang dan tidak didasarkan pada hasrat yang tumbuh dari kebutuhan masyarakatnya

CONTOH 1 AL:

KRITIKDOKTRIN

Kubah sebagai Identitas Masjid Metoda Doktrin (satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur) Kubah adalah 1 lengkung (atap); 2 atap yg melengkung merupakan setengah bulatan (kupel): -masjid;

Kubah, Sumber : google.com

Kubah bukan merupakan simbol keagamaan, namun sudah membudaya sehingga kubah dijadikan sebagai identitas bangunan masjid sama halnya dengan lambang bulan dan bintang pada masjid.

Masjid Agung Semarang, Masjid Baiturahman (kiri) dan Masjid Istiqlal (kanan). Sumber : google.com

Studi Kasus : Kubah yang digunakan pada Gereja

Gereja Blenduk, Sumber : google.com Gereja GPIB Immanuel merupakan gereja kristen tertua di Jawa Tengah. Gereja yang lebih sering disebut Gereja Blenduk ini dikenal karena keistimewaan kubahnya yang mirip dengan kubah masjid. Dapat dikatakan bahwa kubah gereja ini merupakan vocal point dan menjadi keunikan tersendiri pada bangunan gereja. Kesimpulan : Kubah bukan merupakan simbol keagaman (agama Islam), namun karena telah membudaya sejak lama dalam penggunaannya sebagai atap pada masjid sehingga menjadikan kubah identik dengan bangunan masjid. Seperti bangunan Gereja Blenduk karena desainnya (kubah) berbeda dengan gereja lainnya dan

mirip dengan masjid sehingga bangunan gereja tersebut dikatan unik dan istimewa. Bentuk Kubah sekarang ini dijadikan identitas masjid, apabila masjid tanpa kubah menjadikan bangunan tersebut terlihat janggal. Kini tidak hanya dalam penggunaan atap namun kubah juga digunakan sebagai ornamen ornamen (bentuk jendela, pintu, pagar, dll.) pada masjid.

Pilar Masjid Sumber : google.com

Pintu Masjid Sumber : google.com

Jendela Masjid, Sumber : google.com

CONTOH 2 AL:

KRITIKDOKTRIN

Kritik Arsitektur dengan METODE DOKTRIN pada Louvre Museum


Museum Louvre (Muse du Louvre) di Paris, Perancis, adalah salah satu museum terbesar dan paling terkenal di dunia. Gedungnya, bekas sebuah istana bangsawan, terletak di pusat Perancis antara sungai Seine dan Rue de Rivoli. Lapangannya kini terdapat piramida gelas Louvre. Sebagian dari istana tersebut dibuka sebagai museum pada 8 November 1793, pada saat Revolusi Perancis.

Bangunan museum terdiri dari 4 lantai, yaitu lower ground floor, ground floor, first floor, dan second floor. Ada 8 kategori karya seni di Louvre, yaitu Oriental antiquities, Egyptian antiquities, Greek, Etruscan and Roman antiquities, Islamic art, sculture, painting , objects dart, dan graphics art. Ada tiga sayap (wing) bangunan , yaitu Denon, Sully, dan Richeliu. Denon adalah yang paling banyak dikunjungi, karena di wing inilah disimpan lukisan Mona Lisa yang sangat terkenal.

Bangunan museum Louvre mulai didirikan pada tahun 1190 M, dan ditetapkan sebagai museum pada tahun 1793 (sebelumnya berfungsi sebagai istana). Main entrance museum Louvre berbentuk pyramida dari kaca yang terdapat di tengah ketiga sayap bangunan. Pyramida ini dibuat pada masa Presiden Francois Mitterand, yang dibangun tahun 1984 1989. Arsitek Pyramida adalah Ieoh Ming Pei. Tinggi pyramida 20,6 meter dan lebar sisinya 35 meter. PLUS dan MINUS LOUVRE MUSEUM PLUS : Merupakan salah satu Museum terbesar di dunia Mix Design Terdapat open space Sirkulasinya terarah, terdapat 3 wing yaitu : Denon, Sully, dan Richeliu Piramida kaca digunakan sebagai main entrance MINUS : Terlalu luas, sehingga membuat lelah pengunjung Adanya pertentangan di masyarakat mengenai desain main entrance dan main building Pembangunan pyramida yang bergaya futuristik ini sempat mengundang kontroversi luas di masyarakat Perancis, karena dianggap tidak sesuai dengan style bangunan Louvre yang antik. Kelompok yang menentang pembangunan pyramida mengatakan bahwa proyek ini adalah Pharaonic Complex dari Mitterand. Meskipun demikian pyramida tetap dibangun, dan pada akhirnya menjadi kebanggaan orang Paris. Desain dari Pyramida yang bertolak belakangan dengan desain awal bangunanlah yang menjadikan pertentangan. Desain bangunan yang sebelumnya sangat detail dengan ornamen, kemudian diberi penambahan

bangunan modern yang minim detail dan bangunan inilah yang justru menjadi main entrance dari Louvre Museum. Akan tetapi justru pembentukkan desain modern pada Louvre Museum justru menjadi daya tarik sendiri. Kita dapat melihat perpaduan antara dua style desain yang berbeda, namun tetap memiliki kesan unik dan harmonis. Detail dari Piramida Kaca pada Louvre Museum hanya berupa susunan space frame yang strukturnya diekspos. Bangunan ini juga memiliki Plaza yang dapat digunakan sebagai Open Space, ruang terbuka yang dapat menjadi tempat bersosialisasi masyarakat Paris. Tidak terdapat penghijauan sebagai pelembab suhu pada plaza ini, akan tetapi diganti dengan penggunaan air sebagai elemen pelembab.

Desain Tangga memutar yang unik dan dinamis

Main Entrance yang berbentuk segitiga kaca dengan struktur space frame, memberikan pencahayaan alami. Open space bagi masyrakat yang ingin bersosialisasi. Kolam berfungsi untuk melembabkan udara di sekitar museum.

CONTOH 3 AL:

KRITIKDOKTRIN

Kritik Arsitektur dengan METODE DOKTRIN pada GUGGENHEIM MUSEUM BILBAO

Guggenheim Museum Bilbao adalah sebuah museum dan seni modern kontemporer dirancang oleh Kanada-Amerika arsitek Frank Gehry , dibangun oleh Ferrovial dan terletak di Bilbao , Basque Country , Spanyol. Hal ini dibangun di sepanjang Sungai Nervion , yang berjalan melalui kota Bilbao ke Pantai Atlantik. Guggenheim adalah salah satu dari beberapa museum milik

Solomon R. Guggenheim Foundation . museum ini memiliki pameran tetap dan mengunjungi karya-karya seniman Spanyol dan internasional.

Salah satu yang paling dikagumi karya arsitektur kontemporer , bangunan ini telah dipuji sebagai "momen tunggal dalam budaya arsitektur" karena merupakan "salah satu saat langka ketika kritikus, akademisi, dan masyarakat umum semua bersatu tentang sesuatu. "Museum ini adalah bangunan paling sering disebut sebagai salah satu karya yang paling penting diselesaikan sejak tahun 1980 di 2010 Arsitektur Dunia Survey di kalangan ahli arsitektur. Kurva di gedung itu untuk muncul secara acak. arsitek ini telah dikutip yang mengatakan bahwa " kurva dirancang secara acak untuk menangkap cahaya". Ketika dibuka untuk umum pada tahun 1997, ia segera dianggap sebagai salah satu bangunan paling spektakuler didunia dalam gaya Deconstructivism , meskipun Gehry tidak mengaitkan diri dengan gerakan arsitektur. Arsitek Philip Johnson menyebutnya "gedung terbesar di zaman kita.

Reflektif cemerlang titanium panel menyerupai sisik ikan, menggemakan kehidupan organik lainnya (dan, khususnya, menyerupai ikan) bentuk yang muncul kembali umumnya didesain oleh Gehry, serta sungai Nervin atas mana museum duduk. Juga dalam mode Gehry khas, bangunan ini unik produk teknologi masa itu. Computer Aided Tiga Dimensi Interaktif Aplikasi ( CATIA ) dan visualisasi yang digunakan besar-besaran dalam strukturs desain. Simulasi komputer dari struktur bangunan membuatnya bisa untuk dibangun, bentuk-bentuk yang arsitek era sebelumnya akan menemukan hampir tidak mungkin untuk membangun. Sementara museum adalah monumen spektakuler dari sungai. Bangunan ini dibangun pada waktu dan anggaran, yang jarang untuk arsitektur jenis ini. Dalam sebuah wawancara di Harvard Design Magazine. Gehry menjelaskan bagaimana ia melakukannya. Pertama, ia memastikan bahwa apa yang dia sebut "organisasi seniman "berlaku selama konstruksi, dalam rangka mencegah dan bisnis kepentingan politik dari campur dengan desain. Kedua, dia yakin dia memiliki perkiraan biaya terperinci dan realistis sebelum melanjutkan. Ketiga, ia menggunakan CATIA dan kolaborasi erat dengan perdagangan bangunan individu untuk mengontrol biaya selama konstruksi.

METODAKRITIK

S I S T E M I K
Latar Belakang Bagi Kritikus dan Desainer bergantung pada hanya satu doktrin sangat riskan untuk mendukung satu keputusan desain

Menggantungkan pada hanya satu prinsip akan mudah diserang sebagai : menyederhanakan (simplistic), tidak mencukupi (inadequate) atau kadaluarsa (out of dated )

Alternatifnya adalah bahwa ada jalinan prinsip dan faktor yang dapat dibangun sebagai satu system untuk dapat menegaskan rona bangunan dan kota.

Systematic Criticsm dipandang cukup lebih baik daripada doktrin yang tunggal untuk dihadapkan pada kompleksitas kebutuhan dan pengalaman manusia Menurut (Huxtable, 1976, Kicked a Building Lately, Quadrangle, New York) Kritik arsitektur sedang dihadapkan hanya dengan sekadar produksi bangunan yang indah. Bahwa kini kita kewalahan menghitung beragam cara memenuhi kondisi kebutuhan lingkungan yang kompleks dan sophisticated (canggih). o o o o o o Apa sajakah bagian-bagiannya? Bagaimana ia bekerja? Bagaimana ia dikaitkan dengan apa yang ada di sekitarnya? Bagaimana bangunan dapat memuaskan manusia dan masyarakat sebagaimana yang dibutuhkan klien? Bagaimana kelayakannya terhadap organism secara lebih luas, komunitas? Apa nilai tambah atau kurang terhadap dan dari kualitas hidup?

Beberapa

Variasi

Sistem

Albert Bush-Brown, 1959 : Beberapa sistem untuk mengevaluasi lingkungan fisik adalah commodity (komoditas), firmness (kekokohan) dan delight (kesenangan) o Sistem harus didasarkan pada tiga elemen o Asumsinya bahwa arsitektur yang baik tidak sekadar kokoh. Kekokohan (firmness) akan bermakna jika dihubungkan dengan kelayakan fungsinya (commodiousness) dan kapasitasnya untuk meningkatkan kualitas aktifitas dan penglaaman manusia (delight) Viruvius, The Ten Books of Architecture, 1900 o Sistem Bangunan : Firmitas Venustas ( Kekokohan) ( Keindahan ) Utilitas ( Kegunaan )

John Ruskin,1851 : Beberapa sistem yang dibutuhkan bangunan (masih dapat diidentifikasi dari konsepnya Vitruvius) : o Bahwa bangunan harus bertindak baik, dan memperlakukan segala sesuatunya untuk meningkatkan cara yang paling baik o Bahwa bangunan harus berbicara yang baik. Dan mengatakan pada bagianbagiannya untuk berbicara dengan kata-kata yang baik o Bahwa bangunan harus tampak baik, dan mempersilahkan kita melalui keberadaannya baik yang dilakukannya atau yang dikatakannya Hillier, Musgrove, OSullivan (1972)

Berbeda dengan Vitruvius, bahwa bangunan harus bertindak : o o o o Climate Modifier (Pengatur Iklim) Container of Activities (Pewadah aktifitas) Symbolic and Cultural Object (Objek Simbol dan Budaya) Addition of Value to Raw Materials (Memberi nilai terhadap material

yang kasar) Geofrey Broadbent Menambahkan : Having Environment Impact ( Memiliki dampak lingkungan)

Christian Norberg Schulz (1965) Mengembangkan Tripartiete system : o o o Building Task ( Tugas Bangunan) Form (Bentuk ) Technics (Teknik Membangun)

Kritik sistematik dikembangkan dari satu analisis : Bahwa Problem arsitek adalah membangun sistem dalam kategori-kategori formal yang tidak memungkinkan kita untuk melukiskannya dan membandingkannya dalam struktur yang formal. Ketika kita mengatakan bahwa analisis formal mengandung indikasi elements and relations. Elements (bagian bentuk arsitektur ), bermakna bahwa kita harus memperlakukan objek sebagai dimensi kesebandingan. Melahirkan konsep : o Mass (massa), Bentuk wujud tiga dimensi yang terpisah dari lingkungan o Space (ruang), Volume batas-batas permukaan di sekeliling massa o Surface (permukaan), batas massa dan ruang

Relations , bahwa kita menterjemahkan saling keterhubungan ini diantara dimensi-dimensi

Capacity of the structure, kelayakan untuk mendukung tugas bangunan Valuable, nilai yang dikandung yang mengantarkan kepada rasa manusia untuk mengalami ruang.

CONTOH MIK:

KRITIKSISTE

METODAKRITIK

T I P I K A L
HAKIKATMETODA

K R I T I K T I P I K A L

Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat perhatian teoritikus dan sejarawan arsitektur karena desain menjadi lebih mudah dengan mendasarkannya pada type yang telah standard, bukan pada innovativeoriginals (keaslian inovasi) Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas, fungsi (utility) dan ekonomi lingkungan arsitektur yang telah terstandarisasi dan terangkum dalam satu typologi Menurut Alan Colquhoun (1969), Typology & Design Method, in Jencks, Charles, Meaning in Architecture, New York: G. Braziller : Type pemecahan standard justru disebut sebagai desain inovatif. Karena dengan ini problem dapat diselesaikan dengan mengembalikannya pada satu convensi (type standard) untuk mengurangi kompleksitas. March, Lionel and Philip Steadman (1974), The Geometry of Environment, Cambridge : MIT Press, bahwa pendekatan tipopolgis dapat ditunjukkan melalui tiga rumah rancangan Frank Lloyd Wright didasarkan atas bentuk curvilinear, rectalinear dan triangular untuk tujuan fungsi yang sama. Typical Criticsm diasumsikan bahwa ada konsistensi dalam pola kebutuhan dan kegiatan manusia yang secara tetap dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan lingkungan fisik

ELEMEN

K R I T I K T I P I K A L
Struktural (Struktur)
Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan berkait dengan penggunaan material dan pola yang sama. o Jenis bahan o Sistem struktur o Sistem Utilitas dan sebagainya.

Function (Fungsi)
Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama. o Kebutuhan pada ruang kelas o Kebutuhan auditorium o Kebutuhan ruang terbuka dsb.

Form (Bentuk)
o Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan

memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain. o Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi dan dikembangkan variasinya. o Sebagai contoh bagaimana Pantheon telah memberi inspirasi bagi bentuk-bentuk bangunan yang monumental pada masa berikutnya.
Menurut Mc. Donald (1976), The Pantheon, Cambridge: Harvard : Secara simbolis dan ideologis Pantheon dapat bertahan karena ia mampu menjelaskan secara memuaskan dalam bentuk arsitektur, segala sesuatunya secara meyakinkan memenuhi kebutuhan dan inspirasi utama manusia. Melalui astraksi bentuk bumi dan imaginasi kosmos dalam bentuk yang agung. Arsitek Pantheon telah memberi seperangkat simbol transedensi agama, derajad dan kekuatan politik.

KEUNTUNGANMETODA

K R I T I K T I P I K A L
Desain dapat lebih efisien dan dapat menggantungkan pada tipe tertentu Tidak perlu mencari lagi panduan setiap mendesain Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi baru lagi Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap kasus yang sama Tidak memerlukan upaya yang membutuhkan konteks lain.

KERUGIANMETODA

K R I T I K T I P I K A L
Desain hanya didasarkan pada solusi yang minimal Sangat bergantung pada tipe yang sangat standard Memiliki ketergantungan yang kuat pada satu type Tidak memeiliki pemikiran yang segar Sekadar memproduksi ulang satu pemecahan

AKIBATYANGDITIMBULKA N

K R I T I K T I P I K A L

Munculnya Semiotica dalam arsitektur, satu bentuk ilmu sistem tanda (Science of sign systems) yang mengadopsi dari tipe ilmu bahasa. Walaupun kemudian banyak pakar menyangsikan kesahihan tipe ini. Dan menyebut Semiotica dalam arsitektur sebagai bentuk PSEUDO THEORITIC Munculnya Pattern Language sebagaimana telah disusun oleh Christoper Alexander Banyak penelitian yang mengarah pada hanya sekadar penampilan bentuk bangunan Lahirnya arsitektur yang tidak memiliki keunikan dan bangunan yang bersifat individual. Munculnya satu bentuk tipikal arsitektur yang eternal dan menguasai daya kreasi perancang Lahirnya periode historis suatu konsep menjadi sebuah paham yang bersifat kolektif

CONTOH1 AL:
ANALISIS BANGUNAN YANG ADA DI DEPOK Objek bangunan yang dianalisis :

KRITIKTIPIK

ZOE merupakan sebuah caf yang tujuan market utamanya adakah pelajar dan mahasiswa,terlihat dari singkatan namay ZOE (Zone Of Edutaiment). low Spot yang beralamat di Jln. Margonda Raya No. 27, Depok ini terbilang cukup unik, Glowers! ZOE Library Shop Caf adalah one stop edutainment yang memiliki fasilitas library dengan koleksi ratusan buku Komik, Novel, dan Popscience.

THE HARVEST merupakan sebuah caf yang menytujuan market utamanya adakah pelajar dan mahasiswa,terlihat dari singkatan naedia macam kue tart yang beralamat di Jln. Margonda Raya No. 295, Depok ini terbilang cukup menarik dengan berbagai menu yang disedikan dan nuansa kenyamanan dari bangunan itu sendiri. Segi Struktur Bangunan :

Bangunan ZOE didesain secara grid yang terlihat dari pola kolom yang teratur dan hanya memiliki 1 lantai. Antar ruang yang ada di hubungkan denagan open space berupa taman. Material yang di gunakan untuk mendesain bangunan ini hanya baja ringan sebagai kolom. Serta penggunaan material kaca dinding dan allucubount sebagai kanopi.

Bangunan The Harvest di desain secara grid yang terlihat dari pola kolom yang berbentuk tabung teratur dan hanya memiliki 3 lantai. Material yang di gunakan untuk mendesain bangunan ini hanya baja ringan sebagai kolom. Serta penggunaan material kaca dinding dan pollycarbonat sebagai kanopi serta beberapa elemen natural seperti bambu,guci, kolam sebagai penghias ruang. Segi Fungsi Bangunan :

Bangunan ZOE berfungsi sebagai kafe / restoran yang tujuan marketnya adalah pelajar dan mahasiswa

dengan fungsi ruang tambahan yaitu perpustakaan, sehingga ZOE di kenal sebagai Library Shop & caf.

Bangunan The Harvast berfungsi sebagai bangunan komersial kafe dengan ruang display makanan yang cukup luas dan ruang untuk bersantai sambil menikmati menu yang ada terdiri dari indoor dan outdoor. Segi Bentuk Bangunan : Bentuk bangunan ZOE adalah kotak dengan coakan dan penambahan bentuk kotak (gempal tunggal) dengan ornament kolom persegi berwarna merah. Serta bentuk atap yang datar sehingga bangunan ZOE memiliki gaya arsitektur modern minimalis. Namun masih memunculkan kesan tropis dari open space yang di buat. Bentuk bangunan The Harvest sama hamper sama dengan ZOE yaitu kotak dengan coakan dan penambahan bentuk kotak (gempal tunggal) dengan ornament kolom tabung berwarna metallic. Serta memiliki atap datar sehingga bangunan The Harvest memiliki gaya arsitektur modern minimalis. Namun masih memunculkan kesan tropis dari elemen natural yang di pakai sebagai desain ruang. KESIMPULAN : Dari hasil analisis dengan metode Tipikal didapat hasil bahwa ZOE dan The Harvest merupakan bangunan komersial yang berfungsi sebagai kafe dengan beberapa kesamaan seperti gaya arsitektur modern minimalis dan beberapa pemakaian material yang sama. Sehingga bangunan ZOE sudah cukup memenuhi kriteria untuk menjadi bangunan publik berdasarkan cukup banyaknya hasil yang sama dari parameter yang dijadikan standar.

CONTOH2 AL:

KRITIKTIPIK

Kritik Arsitektur dengan METODE TIPIKAL pada Cinere Mall dan Depok Town Square Metode Tipikal adalah suatu norma yang didasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik CINERE MALL Mall Cinere adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di area Cinere, berada di jalan Raya Cinere, Depok, Jawa Barat. Letak mall ini berdepanan dengan Ruko Cinere skt 1 yang berada persis di depan area Cinere. Mal ini dibangun oleh Megapolitan Group. Anchor yang sudah bergabung antara lain Giant Supermarket, Superindo, Pojok Busana, KFC, Dunkin Donuts, A & W, dan bioskop 21 dan yang baru bergabung bread talk , J.Co , dan Baskin Robbins.

Desain fasade pada Cinere Mall sangatlah sederhana, hanya penggunaan ornamen garis, kotak dan segitiga. Bentuk dari bangunanpun hanya susunan dari kubus dan balok, hal ini untuk mempermudah penataan ruang sehingga tidak terdapat ruang mati. Bangunan yang bersifat kubustis dapat lebih mudah untuk diatur penataan ruang dan jarang ditemui ruangan yang tidak terpakai.

Awal Juli 1993, Mall Cinere membuka Food Court Mall Cinere yang merupakan food court Mall Cinere. Awal Mei 2007, Hero Supermarket Bangkut, Ia Menjadi Giant Supermarket Pembangunan mal ini dimulai pada tahun 1991 dan diselesai pada tahun 1992, namun baru terealisasi pada tahun 2008, tepatnya pada September 2008. Sebelumnya telah hadir supermarket Hero Supermarket pada tahun 1993 kemudian menyusul Cinere Mall yang membuka cabang ketiganya di Jakarta dan satu-satunya Cinere Mall yang ada di area Cinere. Pojok Busana Department Store dibuka pada tanggal 3 Juli 1993 melengkapi tenanttenant yang telah hadir. Tenant-tenant baru yang akan hadir antara lain Time Zone dan Superindo.

Dahulu McDonalds berada di dalam bangunan, akan tetapi seiring dengan perkembangan McDonald membuat bangunan sendiri yang berada di lahan yang dulunya merupakan lahan parkir. Lokasinya berdekatan dengn Rumah Sakit Puri Cinere sehingga memberikan keuntungan sendiri bagi kedua belah pihak. Desain McDonald akan terlihat lebih menonjol dibandingan dengan bangunan, karena warna yang diambil McDonald jauh lebih cerah dibandingkan dengan Cinere Mall. Desain parkirnya mulai berubah seiring dengan kebutuhan, terdapat perluasan lahan parkir. Parkir motor yang sebelumnya hanya berada di basement, kemudian dipindahkan ke lahan yang berada di sebelah kanan belakang bangunan.

DEPOK TOWN SQUARE Depok Town Square (atau disingkat Detos) adalah sebuah pusat perbelanjaan di Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia. Mal ini mulai beroperasi tahun 2005, berlokasi di jalan utama Depok yaitu jalan Margonda Raya. Depok Town Square berada di bawah bendera Grup Lippo dan dibangun oleh PT Lippo Karawaci Tbk. Detos berdiri di area seluas 160.000 m dengan total areal lahan seluas 24.000 m menawarkan lebih dari 2.300 unit kios yang terdiri dari exterior shop, speciality shop, open shop, kafe/restoran dan food court. Pusat perbelanjaan itu memiliki area parkir yang mampu menampung sekitar 1.300 mobil. Pusat perbelanjaan ini menawarkan status kepemilikan secara strata title bagi para tenant.

Tenant besar yang saat ini telah hadir dalam pusat perbelanjaan ini diantaranya Hypermart, Matahari Department Store, Timezone, AW Restaurant, California Fried Chicken, KFC,Popeye, Hoka Hoka Bento, Bucheri dan Cineplex 21.

Depok Town Square lebih cenderung mempergunakan warna - warna cerah dibandingan dengan Cinere Mall. Untuk bentuk fasade jauh lebih terlihat dinamis walaupun sama - sama menggunakan ornamen berupa garis, akan tetapi jauh lebih berani dalam mengolah fasade. Tidak terdapat bangunan massa lain dalam site, tidak seperti Cinere Mall yang memiliki McDonald yang berdiri sendiri dalam satu lahan yang sama.

Hal yang meresahkan dari Depok Town Square adalah tata pengarahan pengunjung dengan cara memainkan arah escalator. Letak dari Elevatornya tersembunyi sama seperti Cinere Mall, sehingga membuat pengunjung bingung.

METODAKRITIK

T E R U K U R

Kritik Pengukuran menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu. (Perbedaan dari kritik normatif yang lain adalah terletak pada metode yang digunakan yang berupa standardisasi desain yang sangat kuantitatif dan terukur secara matematis) Norma pengukuran digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam. Pengolahan melalui statistik atau teknik lain akan mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi. Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya. Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa:Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang dikehendaki Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard normatif : Batas maksimal ketinggian bangunan, sempadan bangunan, Luas terbangun, ketinggian pagar yang diijinkan

Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik sebagai sebuah norma Contoh : Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis investasi konstruksi yang diukur melalui sta Norma atau standard yang digunakan dalam Kritik pengukuran yang bergantung pada ukuran minimum/maksimum, kondisi yang dikehendaki selalu merefleksikan berbagai tujuan dari bangunan itu sendiri.

Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga ragam petunjuk sebagai beikut: o Tujuan Teknis ( Technical Goals) o Tujuan Fungsi ( Functional Goals) o Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals)

TUJUANTEKNIS M E T O D E K R I T I K T E R U K U R
Kesuksesan bangunan dipandang dari segi standardisasi ukurannya secara teknis Contoh : Sekolah, dievaluasi dari segi pemilihan dinding interiornya. Pertimbangan yang perlu dilakukan adalah :
1.

Stabilitas Struktur
Daya tahan terhadap beban struktur Daya tahan terhadap benturan Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem

2.

Ketahanan Permukaan Secara Fisik


Ketahanan permukaan Daya tahan terhadap gores dan coretan Daya serap dan penyempurnaan air

3.

Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan


Kebersihan dan ketahanan terhadap noda Timbunan debu Kemudahan dalam penggantian terhadap elemen-elemen yang rusak Kemudahan dalam pemeliharaan baik terhadap noda atau kerusakan teknis dan alami.

TUJUANFUNGSI M E T O D E K R I T I K T E R U K U R
Berkait pada penampilan bangunan sebagai lingkungan aktifitas yang khusus maka ruang harus dipenuhi melalui penyediaan suatu area yang dapat digunakan untuk aktifitas Pertimbangan yang diperlukan : Keberlangsungan fungsi dengan baik Aktifitas khusus yang perlu dipenuhi Kondisi-kondisi khusus yang harus diciptakan Kemudahan-kemudahan penggunaan, Pencapaian dan sebagainya.

TUJUANPERILAKU M E T O D E K R I T I K T E R U K U R

Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan. Behaviour Follow Form Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) Man-Environment Interaction-5 Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :

Persepsi Visual Lingkungan Fisik Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara langsung dari perilaku manusia. Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompokkelompok sosial dsb. Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan. Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumeninstrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.

CONTOH 1 UR:
BURJ AL ARAB

KRITIKTERUK

Burj Al Arab merupakan hotel mewah yang terletak di pantai Jumeirah, Dubai. Merupakan hotel termahal di dunia dengan ketinggian 321 meter. Di desain oleh Arsitek asal Inggris, Tom Wright yang juga telah mendesain rencana pembangunan Regatta Hotel di Jakarta. Sedangkan konsultan teknik sipil adalah Atkins, dan untuk pembangunan hotel melibatkan kontraktor asal Afrika Selatan, Murray & Roberts. Hal yang unik dari Burj Al Arab adalah hotel ini berdiri di atas pulau buatan yang terletak 280 meter dari pantai Jumeirah. Pondasi bangunan memiliki 250 titik dengan kedalaman 120 kaki dari permukaan air laut. Merupakan bangunan High Rise Building pertama yang berdiri di atas pulau buatan. Dengan sistem struktur yang di desain sedemikian rupa sehingga bisa menahan beban angin dan beban gempa. Sistem Struktur yang Digunakan Pada Burj Al Arab Burj Al Arab berdiri di atas Artificial Island (pulau buatan) dengan Mike McNicholas sebagai Artificial Islands Engineer. Di buat dengan menggunakan metode penimbunan (Dumping Method). Hal ini sangatlah unik, karena Burj Al Arab merupakan High Rise Building pertama yang berdiri di atas Artifial Island. Artificial Islandnya sendiri menggunakan bahan berbentuk menyerupai pola sarang lebah untuk mengatasi abrasi air laut.

Pioneering Concrete Block, Honey Comb Pattern Burj Al Arab memiliki struktur utama berbentuk V-shape untuk menggambarkan layar perahu dhow yang terkembang. Bentuk ini merupakan hasil metafora dari perahu dhow, yang kemudian dipergunakan sebagai sistem struktur. V-shape ini terdiri dari Reinforced Concrete Spine pada bagian belakang, dan Exoskeleton yang berdiri di samping bangunan. Struktur berbentuk V bekerja jauh lebih kuat daripada struktur berbentuk lain, hal ini mengambil pola kerja dari bentuk segitiga yang merupakan bentuk yang dapat menahan beban lebih kuat dari bentuk lainnya. Menggunakan hukum newton dimana ketika ada aksi maka akan ada reaksi, bentuk ini saling mempertemukan aksi dan reaksi dari beban sehingga momen menjadi nol (0). Sistem struktur pada Burj Al Arab terdiri dari berbagai macam bagian, saling berkorelasi membentuk V-shape. Terdapat Reinforced Concrete Spine dan Exoskeleton Rear Leg yang membentuk V-shape, Triangular Truss dan Tune Mass Dumper yang memperkuat bangunan ini. Fungsi dari Tune Mass Dumper untuk mengatasi kemungkinan beban gempa pada bangunan, karena lokasi site sangat rentan dengan gempa berskala besar.

Hal yang unik dari Burj Al Arab adalah fasade bangunan ini menggunakan struktur Tent berupa bahan kain yang dilapisi dengan teflon. Penggunaan teflon dapat mengurangi penyerapan debu pada bahan kain karena lokasi bangunan yang berada di daerah Timur Tengah. Burj Al Arab memiliki luas area lantai 111.500 m2, jumlah lantai mencapai 60 lantai, dilengkapi dengan 18 elevator dan ketinggian keseluruhan dari Burj Al Arab adalah 321 m. Burj Al Arab sebenarnya lebih besar daripada yang terlihat. Karena sesungguhnya lebih tinggi daripada yang terlihat dari mata. Ukurannya yang mencapai ketinggian 321 meter, membuat bangunan ini menjadi salah satu dari bangunan tertinggi di dunia. Untuk membayangkan ketinggian Burj Al Arab, coba bayangkan Gedung Empire State Building yang memiliki 102 level lantai berdiri di sebelah Burj Al Arab, yang hanya lebih pendek 16 % dari Empire State. Bentuk desain lengkung dan lantai ganda dari Burj Al Arab menimbulkan ilusi penglihatan.

Burj Al Arab memiliki fasade yang dapat berubah. Teflon yang melapisi Burj Al Arab akan tampak sangat putih pada siang hari, tapi akan menjadi sangat berbeda pada malam hari. Program pengaturan cahaya oleh komputer memberikan efek pada fasade bangunan yang berwarna putih. Burj Al Arab merupakan hotel pertama yang berdiri di atas Artificial Island, didesain sedemikan rupa, semewah mungkin dengan menggunakan sistem struktur yang modern. Penggunaan sistem strukturnya bahkan digunakan pula sebagai ornamen bagi bangunan itu sendiri.

CONTOH 2 UR:

KRITIKTERUK

Kritik Arsitektur dengan METODE TERUKUR pada Redesain Jalan Raya Margonda

METODEKRITIK

I N T E R P R E T I F

HAKIKATMETODA K R I T I K I N T E R P R E T I F
Kritikus sebagai seorang interpreter atau pengamat yang sangat personal

Bentuk kritik cenderung subjektif namun tanpa ditunggangi oleh klaim doktrin, klaim objektifitas melalui pengukuran yang terevaluasi.

Mempengaruhi pandangan orang lain untuk bisa memandang sebagaimana yang kita lihat

Menyajikan satu perspektif baru atas satu objek atau satu cara baru memandang bangunan (biasanya perubahan cara pandang dengan metafor terhadap bangunan yang kita lihat)

Melalui rasa artistiknya mempengaruhi pengamat merasakan sama sebagaimana yang ia alami

Membangun satu karya bayangan yang independen melalui bangunan sebagaimana miliknya, ibarat sebuah kendaraan.

Referensi lain: Karakteristik utama kritik interpretif adalah kritikus dengan metode sangat personal. Tindakannya bagaikan sebagai seorang interpreter atau pengamat tidak mengklaim satu doktrin, sistem, tipe atau ukuran sebagaimana yang terdapat pada kritik normatif.

TIGA TEKNIK KRITIK INTERPRETIF


Advocatory Evocative Impressionistic

HAKIKATMETODA K R I T I K A D V O C A T I F

Kritik ini tidak diposisikan sebagai bentuk penghakiman (judgement) sebagaimana yang terjadi pada Normatif Criticism. Bentuk kritiknya lebih kepada sekadar anjuran yang mencoba bekerja dengan penjelasan lebih terperinci yang kadangkala juga banyak hal yang terlupakan Isi kritik tidak mengarahkan pada upaya yang memandang rendah orang lain Kritikus mencoba menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan Kritikus membantu kita untuk melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh sang arsitek melalui bangunannya dan berusaha menemukan pesona dimana kita telah mengira ia hanyalah sebuah objek yang menjemukan Dalam hukum advocatory Criticism, kritiknya tercurah terutama pada usaha mengangkat apresiasi pengamat,

CONTOH

A D V O C A T I F:

ANALISIS BANGUNAN PUBLIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE ADVOKASI


Definisi Kritik Advokasi :
Kritik Advokasi yaitu : metode kritik dalam arsitektur yang memberikan sekadar anjuran yang mencoba bekerja dengan penjelasan lebih terperinci yang kadangkala juga banyak hal yang terlupakan. Objek yang akan dianalisis adalah : Islamic Center Washington

Pusat Islam Washington adalah masjid dan Islam pusat kebudayaan di Washington, DC , Amerika Serikat . Hal ini terletak diEmbassy Row di Massachusetts Avenue di sebelah timur jembatan di atas Rock Creek . Ketika dibuka pada tahun 1957 itu adalah tempat ibadah Muslim terbesar di Belahan Barat. 6000 Beberapa orang menghadiri shalat di sana setiap hari Jumat.

Pusat awalnya disusun pada tahun 1944 ketika Turki duta besar Munir Ertegn meninggal dan tidak ada masjid di mana untuk menahan pemakamannya. Komunitas Washington diplomatik memainkan peran utama dalam upaya untuk memiliki sebuah masjid dibangun. Dukungan datang dari sebagian besar negara-negara Islam dunia yang menyumbangkan dana, [ rujukan? ] dekorasi, dan pengrajin untuk proyek. Dukungan untuk proyek tersebut juga datang dari komunitas Muslim Amerika. Situs ini dibeli pada tahun 1946 dan landasan itu diletakkan pada 11 Januari 1949. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Italia Mario Rossi dan didedikasikan pada tanggal 28 Juni 1957 Presiden Dwight D. Eisenhower yang hadir. Ruang sholat utama pusat ditutupi oleh karpet Persia didedikasikan oleh almarhum Shah Iran. [2] Pusat terus dikendalikan oleh dewan gubernur terdiri dari berbagai duta besar. Sekitar bangunan yang tersusun bendera negara-negara Islam dunia. Masjid telah dikunjungi oleh banyak pejabat profil tinggi, termasuk beberapa presiden. Kunjungan profil tertinggi oleh PresidenGeorge W. Bush pada tanggal 17 September 2001, hanya beberapa hari setelah serangan 11 September . [3] Di televisi nasional, Bush dikutip dari Al Qur'an dan bekerja untuk memastikan Amerika bahwa sebagian besar Muslim damai. [ rujukan? ] Selain masjid, pusat berisi perpustakaan dan ruang kelas di mana kursus tentang Islam dan bahasa Arab diajarkan. Masjid ini adalah salah satu dari tiga bangunan diambil alih dalam Pengepungan 1977 Hanafi . orang bersenjata Muslim memegang sandera membuat beberapa tuntutan, termasuk permintaan bahwa film Muhammad, Rasul Allah akan hancur karena mereka menganggap hal itu melanggar kesucian. "

HAKIKATMETODA K R I T I K E V O K A T I F
Evoke : menimbulkan, membangkitkan Ungkapan sebagai pengganti cara kita mencintai bangunan Menggugah pemahaman intelektual kita atas makna yang dikandung bangunan Membangkitkan emosi rasa kita dalam memperlakukan bangunan Kritik evokatif tidak perlu menyajikan argumentasi rasional dalam menilai bangunan

Kritik evokatif tidak dilihat dalam konteks benar atau salah tetapi makna yang terungkap dan penglaman ruang yang dirasakan. Mendorong orang lain untuk turut membangkitkan emosi yang serupa sebagaimana dirasakan kritikus

KRITIK EVOKATIF DISAMPAIKAN DALAM BENTUK : a. Kritik Naratif b. Kritik Fotografi (Intensify, Eteherial, Juxtaposition, Assosiation, Moment of Truth)

C O N T O H 1 naratif F:
Contoh : Kritik Peter Green (1974) Perjalanan ke Bawah Tanah London Ketika aku turun memasuki usus-ususmu London Melalui mulutmu yang lembab Melalui bibirmu yang kering

EVOKATI

Melalui ubinmu yang retak dan jalanmu yang penuh luka Melalui eskalatormu yang tiada berujung Bergerak menggelinding dalam temaram cahayamu Bergelantung dalam kompartemenmu yang merana Bergelantung melintasi seluruh kota Bergelantung melintasi benua Bergelantung sembari menggapai keseimbangan Dan membaca dengan sebelah tangan koran-koran raksasa Jiwa melemah menghirup lagi udara yang telah berpuluh-puluh kali dihirup Aku mengelana dalam mimpi yang memuakkan Melewati dinding-dindingmu yang kasar Dan lorong-lorongmu yang bisu Menari-nari berjejalan di sela tempat dudukmu yang mahal Dan ruang dansa yang lurus membosankan Di kerumunan teman yang tak pernah kukenal Menuju keterasingan.. Musik yang tak berirama.. Kadang berdentum Kadang sunyi.. Diselingi cahaya yang melintas Kadang terang berkilau Kadang pendar temaram Lintasanmu meliuk di bawah tanah Menembus jalan-jalan sungai-sungai dan rumah-rumah

Kadang turun menghunjam naik menukik dan Kadang melata di tengah perut bumi.. Debu terbang di sela asapmu Menyusup dan menyergap sesak napasku Menggerincing di sepanjang lintasan listrikmu Angkutan London Menyisakan kehangatan masa lalu Di Sloane Square, seorang anak lai-laki melintas Menggiring seekor sapi dengan tambatan Sapi putih kecoklatan Hidung besar kemerahan Ekornya menari-nari mengibas serangga Puttingnya membengkak Menatap dengan mata mengkilap Sementara hitam di luar jendela mulai merangkak Dan mata dipenuhi oleh malam yang buta Aku berdiri dalam hati yang mulai panas Hening di tengah terowongan Dan berdiri di atas kereta yang tak sempurna Sisa debu kemarin masih menempel Koran-koran berdesir mengumpulkan kesadaranku yang hamper hilang Dan batuk-batuk gelisah masih belum reda juga Kami harus menyusuri malam Duduk kembali mengunci dalam kesendirian Kepala terkulai lelap Dengkur-dengkur kelelahan menyelinap dalam hening Kelopak mata lelah kehilangan tenaganya Lantai kereta. Adalah lautan surat kabar, bungkus permen, puntung rokok dan kertas-kertas tisu Sesekali sepeda motor di luar menderu melawan hiruk musik tak berirama Lalu kembali sunyi Dalam jam kami tak pernah tahu telah berapa lama waktu habis bersamanya di sana

Hari pasti telah berlalu Dan wanita hamil menunggu di atas kaki letih dan kaku Bau pesing keringat dan air seni berbaur menciptakan aroma baru Hari tampak menunggu malam Bintang berpendar di luar di sela garis hitam jendela Pada jam lima pagi Mereka bergerak kembali tanpa peringatan Di Kensington Selatan.. Pintu-pintu terbuka Mereka berhamburan bagai terlempar dalam tumpukan jerami Angin sepoi dingin menyelinap melalui celah kereta Ia kembali melintas seperti kemarin Ia tak pernah lelah menyusuri seluruh kota, benua dan Seluruh tempat pijak peradaban manusia

C O N T O H 2 fotografi F:
a. Fotografi :

EVOKATI

Intensify (Kemudahan pemahaman)

Juxtaposition ( Penyandingan sesuatu yang kontras)

Ethereal (Suasana pemahaman yang mudah dari referensi)

Assosiation ( Pengkaitan dengan hal-hal lain yang eksotik)

Momen of Thruth ( Momen kebenaran)

HAKIKATMETODA K R I T I K I M P R E S S I O N I S
Karakteristik Seniman mereproduksi karyanya sendiri atau orang lain dengan konsekuensi adanya kejemuan, sedang kritik selalu berubah dan berkembang. Impresi terhadap karya mempengaruhi perancang untuk membuat perubahan dan perkembangan dalam karya-karya berikutnya. Kritik impressionis adakalanya dipandang sebagai parasit karena seringkali menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya keseniannya. Karya yang telah ada menjadi kendaraan untuk menghasilan karya seni lain melalui berbagai metode penyajian. Karya yang asli berjasa bagi kritik sebagai area eksplorasi karya-karya baru yang berbeda. Begitu juga sebaliknya kritik akan membaerikan impresi bagi pengkayaan rasa, pengalaman dan apresiasi terhadap perkembangan teoritik ke depan. Kecantikan, memberi kepada penciptaan unsur yang universal dan estetik, menjadikan kritikus sebagai kreator, dan menghembuskan ribuan benda yang berbeda yang belum pernah hadir dalam benaknya, yang kemudian terukir pada patung-patung, terlukis pada panel-panel dan terbenam dalam permata-permata. Kritik Impresionistik dapat berbentuk : Verbal Discourse Caligramme Painting Photo image Modification of Building Cartoon : Narasi verbal puisi atau prosa : Paduan kata yang membentuk silhouette : Lukisan : Imagi foto : Modifikasi bangunan : Focus pada bagian bangunan sebagai lelucon

KEUNTUNGANMETODA
K R I T I K S
Menggugah imaji tentang fakta menjadi lebih bermakna Dengan cepat membuat pengamat menduga-duga sesuatu yang lain lebih dari sekadar sebuah bangunan fisik Menggiring pengamat untuk lebih seksama melihat sebuah karya seni
Mampu membangkitkan analisis objek yang sebelumnya tampak

I M P R E S S I O N I

sulit atau sebaliknya membuat kompleks yang sebelumnya tampak sederhana Membuat lingkungan lebih terlihat dan mudah diingat

KERUGIAN METODA
K R I T I K S
Kritik seolah tidak berkait dengan arsitektur

I M P R E S S I O N I

Interpretasi menjadi lebih luas dan masuk dalam wilayah bidang ilmu lain Pesan perbaikan dalam arsitektur tidak tampak secara langsung Menghasikan satu interpretasi yang bias tentang hakikat arsitektur.

CONTOH S:
berkarya. THE ROOM Day Lewis

IMPRESSIONI

Contoh kritik impressionis (narasi verbal) yang menggunakan ruang sebagai media

Inilah dunia dimana saya bisa pergi Dan menceritakan segala rahasiku kepadanya Dalam kamarku Dalam dunia telah kukurung diriku Dari seluruh kecemasan dan ketakutanku Dalam kamarku Dapatkah mimpi-mimpiku dan seluruh rencanaku Kubangun dan kumohonkan Dapatkah tangis dan keluhanku Terhibur seperti kemarin Sekarang telah gelap dan aku sendiri Tetapi aku tidak takut Dalam kamarku.

Calliagra me

Imagi Foto

Modifikasi bangunan

Cartoon

METODEKRITIK

D E S K R I P T I F

Dibanding metode kritik lain metode kritik deskriptif tampak lebih nyata (faktual) Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan. Lebih dipahami sebagai sebuah landasan untuk memahami bangunan melalui berbagai unsur bentuk yang ditampilkannya

Tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekadar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya.

TIGA METODE

KRITIK D ESKRIPTIF

Kritik Depiktif (Gambaran bangunan) Static Process Kritik Biografis Kritik Kontekstual ( Secara Grafis ) ( Secara Prosedural ) ( Riwayat Hidup) ( Peristiwa) Dynamic ( Secara Verbal )

HAKIKATMETODA K R I T I K D E P I K T I F
a. Aspek Statis ( Static Aspects ) Depictive cenderung tidak dipandang sebagai sebuah bentuk kritik karena ia Sebagaimana tradisi dalam kritik kesenian yang lain, metode ini menyatakan Fakta yang digambarkan dari aspek fisik sebuah bangunan dapat menjadi cenderung memandang dunia sesuai dengan keterbatasan tidak didasarkan pada pernyataan baik atau buruk sebuah bangunan apa yang sesungguhnya ada dan terjadi disana instrumen untuk meningkatkan apresiasi kita terhadap sebuah karya arsitektur. Masyarakat pengalaman masa lalunya, maka melalui perhatian yang jeli terhadap aspek tertentu bangunan dan mennceritakan kepada kita apa yang telah dilihat, kritik depictive telah menjadi satu metode penting untuk membangkitkan satu catatan pengalaman baru seseorang. Kritik Depictive tidak butuh satu pernyataan betul atau salah karena penilaian dapat menjadi bias akibat pengalaman seseorang di masa lalunya. Kritik depictive lebih mengesankan sebagai seorang editor atau reporter, yang menghindari penyempitan atau perluasan perhatian terhadap satu aspek bangunan agar terhindar dari pengertian kritikus sebagai interpreter atau advocate. Kritik Depiktif dalam aspek statis memfocuskan perhatian pada elemen-elemen bentuk (form), bahan (materials) dan permukaan (texture) Penelusuran aspek static dalam Depictive criticism seringkali digunakan oleh para kritikus untuk memberi pandangan kepada pembaca agar memahami apa yang telah dilihatnya sebelum menentukan penafsiran kemudian. Penggunaan media grafis dalam kritik depiktif dapat dengan baik merekam dan mengalihkan informasi bangunan secara non verbal, tanpa kekhawatiran terhadap bias. terhadap apa yang dilihatnya

Aspek static kritik depiktif dapat dilakukan melalui beberapa cara survey antara lain : photografi, diagram, pengukuran dan deskripsi verbal (kata-kata).

b. Aspek Dinamis ( Dynamic Aspect ) Tidak seperti aspek static, aspek dinamis depictive mencoba melihat bagaimana bangunan digunakan bukan dari apa bangunan di buat. Aspek dinamis mengkritisi bangunan melalui : Bagaimana manusia bergerak melalui ruang-ruang sebuah bangunan? Apa yang terjadi disana? Pengalaman apa yang telah dihasilkan dari sebuah lingkungan fisik? Bagaimana bangunan dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang ada didalamnya dan disekitarnya?. Contoh : Grady Clay (1974) : Sekalipun komunikasi elektronik telah ditemukan, masih banyak transaksi bisnis penting orang per orang dilakukan di ruang-ruang terbuka, diantara kantor dan makan siang, ruang-ruang istirahat dan seminar, bangku-bangku dan bar, kursi dan minumminuman Sesudah berulangkali diperhatikan, Saya temukan bahwa satu bagian di jalan samping yang lurus, pintu-pintu dan koridor-koridor di distrik keuangan publik secara luar biasa penuh dengan kontak, tips, sugesti, reaksi, observasi dan gossip. Saya temukan bahwa pemosisian saya di sore itu di tengah-tengah ruang publik yang sibuk di sisi luar bank yang sangat luas dan gedung perkantoran, sambil mengawasi pintu County Court House dan Bank yang lain serta rute dari City Hall saya dengan mudah menemukan paling tidak dua lusin sumber berita, para laki-laki dalam kehidupan dan bisnis publik, terlibat untuk makan siang di restoran atau club, berkeinginan dan bahkan berhasrat untuk bertukar rumor, gossip dan informasi pentingIni makin memperjelas bahwa di sana bukanlah tempat yang kosong, antara kantor-kantor elite dan kehidupan siangnya : tempat minum, makan dan bernegosiasi.

c. Aspek Proses (Process Aspect ) Merupakan satu bentuk depictive criticism yang menginformasikan kepada kita tentang proses bagaimana sebab-sebab lingkungan fisik terjadi seperti itu. Kalau kritik yang lain dibentuk melalui pengkarakteristikan informasi yang datang ketika bangunan itu telah ada, maka kritik depictive (aspek proses) lebih melihat pada langkah-langkah keputusan dalam proses desain yang meliputi : Kapan bangunan itu mulai direncanakan, bagaimana perubahannya, bagaimana ia diperbaiki, kita dapat membayangkan persepsi kita dalam proses pembentukannya.

CONTOH T I F:
Plaza Senayan

DEPIK

Plaza Senayan adalah kelas atas pusat perbelanjaan yang terletak di Jakarta Pusat , Indonesia . Mal hanya beberapa menit dengan mobil dari Semanggi daerah. Mal terkenal di antara komunitas kelas atas di Jakarta, dan menawarkan beragam toko-toko high-end dan layanan seperti barang bermerek dan makanan gourmet. Sejauh anak-anak pergi, mal ini saat ini salah satu tempat paling populer untuk melihat dan dilihat di Jakarta. Ini benar-benar cerminan dari budaya mal Jakarta, di mana hip anak muda dan fashionista sama berkumpul di pusat perbelanjaan untuk hang outall ini juga populer di kalangan komunitas

ekspatriat Jakarta, karena fasilitas yang sangat baik dan kedekatan dengan pusat kota.

Plaza Senayan adalah pusat perbelanjaan berlantai tiga dengan dua department store terinterkoneksi pada dua sisi, Metro Department Store di sebelah kanan dan Sogo Department Store di sebelah kiri. Kedua department store empat dan lima lantai bangunan dengan basement. Plaza Senayan juga rumah bagi kedua bangsa asing terbesar adalah toko buku, Buku Kinokuniya. Saat ini, toko buku asing terbesar di Indonesia Times Bookstore di Lippo Village (Lippo Karawaci) Jakarta Barat.

Rumah-rumah lantai dasar berbagai butik-butik perancang sementara lantai kedua adalah didedikasikan untuk pakaian santai dan lantai tiga untuk makanan dan hiburan. Salah satu makanan paling populer pengadilan di CBD area di-host di sini. Singapura terkenal The Crystal Jade Restaurant baru-baru ini membuka's andalannya outlet Indonesia di mal. Berdekatan ke mal ini merupakan cerita parkir garasilima memasok lebih dari 3.500 parkir spasi. Ada juga beberapa toko di tanah, keempat dan kelima lantai bangunan. Sebuah toko furnitur terletak di lantai dasar, yang telah direnovasi Plaza baru Senayan XXI cineplex dan restoran di lantai lima sementara gang bowling ada di lantai tiga. Sinepleks baru saja ditingkatkan dengan 10 studio, 8 studio standar dan 2 studio premier dengan interior baru. Object Pengamatan : museum Fatahillah Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 17071710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Di dalam museum ini terdapat perjalanan sejarah Jakarta replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran hasil penggalian arkeologi di Jakarta mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia keramik, gerabah, dan batu prasasti Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang

Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.

Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda. Kini museum ini digunakan masyarakat sebagai plasa tempat berkumpul, berjualan,sarana Fotografi,sebagai tempat belajar sejarah bagi siswa sekolah dll Selain itu, Museum Sejarah Jakarta setiap tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum Sejarah Jakarta baik berskala nasional maupun internasional. Seminar yang telah diselenggarakan antara lain adalah seminar tentang keberadaan museum ditinjau dari berbagai aspek dan seminar internasional mengenai arsitektur gedung museum.

HAKIKATMETODA K R I T I K B I O G R A F I S
Kritik yang hanya mencurahkan perhatiannya pada sang artist (penciptanya), aktifitas yang telah dilakukannya.. Memahami dengan logis khususnya

perkembangan sang artis sangat diperlukan untuk memisahkan perhatian kita terhadap intensitasnya pada karya-karyanya secara spesifik. Sejak Renaisance telah ada sebagian perhatian pada kehidupan pribadi sang artis atau arsitek dan perhatian yang terkait dengan kejadian-kejadian dalam kehidupannya dalam memproduksi karya atau bangunan. Misalnya : Bagaimana pengaruh kesukaan Frank Lyod Fright waktu remaja pada permainan Froebel Bloks (permainan lipatan kertas) terhadap karyanya? Bagaimana pengaruh karier lain Le Corbusier sebagai seorang pelukis? Bagaimana pengaruh hubungan Eero Sarinen dengan ayahnya yang juga arsitek? Informasi seperti ini memberi kita kesempatan untuk lebih memahami dan menilai bangunan-bangunan yang dirancangnya.

REF LAIN:

menunjukkan berbagi fakta, mengenal pembuat bangunan mengendentifikasi fakta-fakta yang relevan mengenai kehidupan para arsitek, klien dan kontraktor serta damapk akhir terhadap bentuk akhir bangunan. Contoh: Pengaruh permainan dan blok-blok karya Gunther Froebel tas karya Frank Lloyd Wright diakui oleh sejumlah kritisi, dan juga Wright sendiri.

Mengelakkan penafsiran-penafsiran demikian dan hanya mengemukakan fakta-fakta. Menyerahkan pernyataan tentang pengaruh-pengaruh tersebut terhadap pembaca.

CONTOH I S:

BIOGRAF

Han Awal (lahir di Malang, Jawa Timur, 16 September 1930; umur 79 tahun) adalah seorang arsitek Indonesia.Han Awal menyelesaikan pendidikan dasarnya di Malang. Setelah lulus SMA tahun 1950, Han sebetulnya ingin belajar arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Namun, waktu itu ITB belum memiliki jurusan arsitektur. Terpengaruh brosur program pendidikan ahli bangunan di Technische Hoogeschool di Delft, Belanda, ia melanjutkan studi di sekolah itu dengan beasiswa dari Keuskupan Malang. KarenaIndonesia-Belanda terlibat sengketa Papua pada tahun 1956, Han terpaksa pindah ke Jerman dan melanjutkan kuliah arsitektur di Technische Universitat, Berlin Barat, dan lulus tahun 1960. "Di Belanda, saya banyak belajar arsitektur dari segi teknis. Mungkin karena negerinya kecil, para arsitek Belanda sangat mementingkan presisi. Perbedaan ukuran sesentimeter saja bisa dipersoalkan. Baru di Jerman saya mendapat pengetahuan tentang konsepkonsep besar arsitektur," ujarnya. Prestasinya dalam merancang bangunan mendapatkanpenghargaan Internasional Award of Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage untuk bangunan Gedung Museum Arsip Nasional. Karya-karya lainnya yang menonjol di Indonesia adalah Kampus Universitas Katolik Atma Jaya di Semanggi dan gedung sekolah Pangudi Luhur di Kebayoran Baru, Jakarta. Han Awal juga terlibat dalam pembangunan Gedung Conefo (Conference of New Emerging Forces) 1964-1972. Gedung yang terletak di Senayan ini kemudian dikenal sebagai Gedung DPR/MPR. Han awal mengabdikan ilmu yang dimilikinya sebagai Pembantu Rektor/Dosen Akademi Pertamanan DKI Jakarta, 1969-1971, Dosen Tak Tetap FTUI Jurusan Arsitektur, 1965-2000 - Dosen Pembina FT Unika Soegiyapranata, Semarang, 1990-2003, Dosen Pembina FT Universitas Merdeka, Malang, 1997-2004, dan Dosen Tak Tetap Program Pascasarjana FT UI, 2003. Selain itu, ia juga aktif mendorong berdirinya Ikatan Arsitek Indonesia, ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur dan memberi andil dalam berdirinya ajang diskusi Arsitek Muda Indonesia. Han sekarang lebih dikenal sebagai arsitek konservatoris yang menggeluti pemugaran bangunan-bangunan tua. Pada tahun 1988 ia terlibat proyek pemugaran Katedral Jakarta yang sudah mengalami kerusakan berat di berbagai bagian. Ia mengusulkan mengganti atap sirap gereja Katolik yang hampir berusia

seabad itu dengan pelat tembaga yang tahan lama. Karya Han yang monumental di bidang pemugaran adalah Gedung Arsip Nasional, Jalan Gajah Mada 111, Jakarta. Bersama arsitek Belanda, Cor Passchier dan Budi Lim, arsitek lulusan Inggris, ia terlibat pemugaran besar-besaran atas gedung yang dibangun pejabat VOC, Renier de Klerk, akhir abad ke-18 itu. Pemugaran dibiayai oleh berbagai pihak swasta di Belanda, sebagai hadiah ulang tahun emas Proklamasi Kemerdekaan RI, tahun 1995.

Budi Pradono, Lahir tanggal 15 Maret 1970 di Salatiga. 1995 Menyelesaikan studinya di jurusan arsitek, Universitas Duta Wacana Christian, Jogjakarta.1995-1996 Bekerja di Beverley Garlick Architects PTY. LTD. Sydney- Australia. 1996-1999 Bekerja di PT. International Design Consultants (IDC), Jakarta San Francisco. 1999-sekarang Bekerja di Budi Pradono Architects, Jakarta. 2002 Menyelesaikan gelar master di Berlage Institute, Rotterdam, Netherlands. 2000-2002 sebagai project architect pada Kengo Kuma & Associates, Tokyo-Japan. Konsep green architecture atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi site dan menghemat sumber daya alam akibat menipisnya sumber energi tak terbarukan. Berbagai pemikiran dan interpretasi arsitek bermunculuan secara berbeda-beda, yang masing-masing diakibatkan oleh persinggungan dengan kondisi profesi yang mereka hadapi. Salah satunya konsep 'green' oleh Budi Pradono, seorang arsitek yang sudah dikenal di mancanegara dengan berbagai award internasional yang sudah diraihnya. Saat menjelaskan tentang green design, Budi Pradono menggunakan contoh-contoh dari desain yang ia hasilkan, baik yang menurutnya green atau tidak green. Profesi arsitek dewasa ini menuntut kita untuk melihat green sebagai kesatuan dalam desain bangunan, dimana sekarang ini banyak award khusus diberikan pada bangunan yang green dengan berbagai kriteria. Green dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik). Ukuran 'green' ditentukan oleh berbagai faktor, dimana terdapat peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih hijau. Di negara-negara maju terdapat award, pengurangan pajak, insentif yang diberikan pada bangunan-bangunan yang tergolong 'green'. Profesi arsitek saat ini sedang mengalami tekanan yang kuat untuk melakukan perubahan besar dalam metode merancang dan juga melakukan absorbsi teknologi yang cepat agar dapat menghasilkan rancangan yang kontemporer yang berorientasi pada Arsitektur Hijau (green architecture), yang lebih tanggap pada isu-isu lingkungan. Saat ini Best Practice selalu dikaitkan dengan etika arsitek dalam mengantisipasi pemanasan global, penghematan energy, dan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung-jawab. (Budi Pradono) Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana mendesain sebuah bangunan yang 'green' sekaligus memiliki estetika bangunan yang baik? Karena bisa saja bangunan memiliki fasilitas yang mendukung konsep green, namun ternyata secara estetika terlihat kurang menarik. Dalam hal ini, peran arsitek menjadi penting. Standar bangunan yang 'green' juga bisa menuntut lebih banyak dana, karena

fasilitas yang dibeli agar bangunan menjadi 'green' tidak murah, misalnya penggunaan photovoltaic (sel surya pembangkit listrik). Teknologi agar bangunan menjadi 'green' biasanya tidak murah. Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya. Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan. Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya. Budi Pradono menjelaskan tentang konsep 'green' dalam rancangannya melalui contoh, misalnya pada rancangan Bloomberg Office, dimana diterapkan desain yang mendukung pencahayaan alami dapat bermanfaat untuk keseluruhan lantai kantor, penggunaan alat yang dapat mendeteksi cahaya alami untuk mengurangi penggunaan pencahayaan buatan, yang merupakan salah satu contoh efisiensi pencahayaan. Pada 'K-house' yang dirancangnya untuk rumah mungil dengan 3 orang penghuni dan 5 ekor anjing, konsep arsitektur hijau diterapkan pada rancangan desain yang dibuat agar anjing-anjing tidak mudah lepas dan mengganggu tetangganya. Rumah ini mengetengahkan konsep rumah 'kandang' dengan jeruji-jeruji besinya, yang didesain dengan artistik sehingga menghilangkan kesan kandang dan menimbulkan artikulasi arsitektur baru dengan estetika yang unik. Ahmett Salina Studio di Jakarta Selatan adalah salah satu rancangan dimana open space ditambahkan agar ruang hijau didepan bangunan lebih luas dan dapat digunakan bersama dengan tetangga-tetangganya. Rumah ini juga 'menggunakan dinding tetangga' untuk penghematan resource, serta memanfaatkan elemen bambu untuk secondary skin yang dapat menetralisir panas matahari. AA house di Cipinang, Jakarta Timur dikonsep dengan keleluasaan ruang-ruang untuk saling overlap satu sama lainnya. Ruang tamu dan musholla dapat dibuka dan mencairkan ruang lebih luas. Roof garden dibuat pada tiap lantai hingga atapnya. Dari konsep-konsep desain tersebut, terdapat upaya Budi Pradono untuk menghadirkan 'green design' dalam rancangan arsitekturnya, dimana letak 'green' pada tiap bangunan bisa berbeda sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada.

HAKIKATMETODA K R I T I K K O N T E K S T U A L
Hal yang perlu diketahui dalam metode kritik kontekstual adalah : Informasi tentang aspek sosial, politik dan ekonomi pada saat bangunan di desain. Tekanan-tekanan apakah yang diterima sang arsitek atau klien pada saat bangunan akan dan sedang dibangun?.

REF LAIN:

merekam tekanan-tekanan dan peristiwa-peristiwa yang menyertai perancangan dan produksi. Bagaimana tekanan-tekanan ekonomi, politik, atau ntar pribadi mewujudkan dirinya dalam rancangan akhir?

CONTOH A L:

KONTEKSTU

Campus Center ITB: Kontekstual di antara Bangunan Kolonial


Bagi seorang arsitek, membangun bangunan yang berhasil dan sesuai dengan konteks lingkungan di sekitarnya merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah. Apalagi jika bangunan tersebut dibangun di kawasan bangunan lama yang memiliki banyak nilai sejarah. Salah satu contoh bangunan kontekstual yang cukup berhasil merespon lingkungannya adalah Campus Center di Institut Teknologi Bandung. Arsiteknya adalah Baskoro Tedjo. Sebelum dibangun menjadi Campus Center, dilahan tersebut sudah terdapat sebuah bangunan yang disebut Student Center, yang fungsinya lebih dominan untuk menampung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa. Setelah itu, Campus Center atau yang dikenal dengan singkat CC ini pun dirancang dan dialihfungsikan sebagai information center Kampus ITB. Selain itu, bangunan ini juga menampung beberapa fungsi lainnya seperti kantor adminstrasi kemahasiswaan, ruang rapat, auditorium, cafe dan toko buku, ruang pameran, serta sejumlah ruangan yang dipergunakan sebagai sekretariat lembaga-lembaga kemahasiswaan. Para pengguna yang terlibat menggunakan bangunan Campus Center ini mayoritas merupakan civitas akademika dari mahasiswa, dosen, maupun karyawan. Namun, tidak menutup kemungkinan bangunan ini juga digunakan oleh pihak di luar civitas akademika, mengingat fungsinya sebagai information center yang pasti akan banyak dikunjungi oleh orang-orang dari luar kampus ITB. Apabila dibandingkan dengan bangunan-bangunan lama yang sudah lebih dahulu dibangun di ITB seperti Aula Barat, Aula Timur, dan 4 Labtek kembar, Campus Center akan terlihat kontras. Bangunan Campus Center ITB dirancang dengan langgam modern. Struktur utamanya menggunakan beton bertulang. Fasadenya didominasi oleh penggunaan kaca dengan frame baja. Atapnya pun didesain datar. Sedangkan bangunan eksisting di sekitarnya yang sudah berdiri sejak lama, dibangun dengan langgam kolonial. Bangunan-bangunan kolonial ITB itu identik dengan kolom-kolom besar dengan material batu kali dan atap miring dengan penutup sirap. Tentu saja Campus Center menjadi kontras jika dibandingkan dengan bangunan kolonial di sekitarnya. Dalam prinsip desain arsitektur kontekstual, ada beberapa pendekatan dalam merancang bangunan yang sesuai konteks dengan sekitarnya. Pertama adalah prinsip replikasi dengan membangun bangunan yang sama persis dengan bangunan eksistingnya. Kedua adalah kontras, menciptakan bangunan yang benar-benar berbeda dengan bangunan yang sudah lebih dahulu ada. Dan ketiga adalah harmoni, mengambil elemen-elemen tertentu yang menjadi ciri khas pada bangunan lama, kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bentuk baru pada bangunan yang baru. Dalam hal ini, sang arsitek, Baskoro Tedjo, tampaknya menerapkan gabungan antara prinsip kontras dan harmoni pada bangunan Campus Center-nya. Bentuk massa bangunan Campus Center terbentuk berdasarkan analogi sang perancang terhadap massa gerbang kampus ITB. Bentuk dua persegi panjang yang mengapit sebuah lingkaran di tengahnya pada gerbang kampus menjadi asal muasal bentuk CC ITB. Arsitek Campus Center ITB ingin menciptakan sebuah kesan yang menggugah dengan menciptakan pola berulang dari gerbang kampus hingga Campus Center.

Selain dengan pendekatan analogi tersebut, sang arsitek juga menerapkan prinsip harmoni pada bangunannya. Beberapa elemen-elemen bangunan lama ITB berhasil dipakaikannya ke bangunan baru dengan bentuk yang berbeda namun masih memiliki makna yang sama. Elemen yang pertama adalah kolom. Kolom bangunan kolonial ITB yang besar dan menggunakan batu kali tersebut digantikan dengan kolom beton finishing sebagai struktur Campus Center. Meskipun keduanya menggunakan material yang berbeda, masih ada unsur yang menjadi benang merah keduanya yaitu bentuk kolom yang bulat, serta proporsi dan skalanya yang sama. Elemen berikutnya yang juga diterapkan pada pembangunan Campus Center adalah sistem selasar. ITB terkenal dengan sistem selasarnya yang terdapat pada setiap bangunan. Selasar inilah yang menjadi salah satu pemersatu bangunan-bangunan yang ada di ITB, dan diterapkan pula pada bangunan Campus Center. Lalu, ada satu elemen lagi yang menegaskan langgam modern pada bangunan ini, yaitu dominasi penggunaan kaca dengan frame baja sebagai fasade bangunan. Material kaca inilah yang akhirnya menyebabkan CC ITB terlihat sangat kontras dibandingkan bangunan-bangunan kolonial lainnya di ITB. Terkait dengan hal ini, saya akan menanggapinya dengan menggunakan preseden bangunan lain yang saya anggap sama kasusnya dengan Campus Center ITB, yaitu Museum Louvre karya I.M. Pei di Paris, Perancis. Louvre di Paris ini dibangun di kawasan bangunan bersejarah dan juga dirancang dengan pendekatan kontras. Prinsip perancangan kontras bukan berarti membangun bangunan yang mencolok mata seolah-olah berteriak, Lihatlah aku!, namun kontras dalam hal ini lebih dimaksud dengan menjadikan bangunan baru justru sebagai latar bagi bangunan lama, sehingga bangunan lama menjadi lebih menonjol. Oleh karena itu, penerapan kontras pada bangunan seharusnya membuat bangunan baru terlihat simpel, tenang, dan tidak banyak bicara. Konsep itulah yang diterapkan baik pada Museum Louvre oleh I.M. Pei maupun pada Campus Center ITB oleh Baskoro Tedjo. Di balik penggunaan material kaca sebagai fasade, ada maksud tertentu yang ingin dicapainya. Material kaca yang bersifat transparan dan tembus pandang mampu menciptakan bangunan yang menjadi latar dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Dari Whole Building Design Guide, ada beberapa kriteria suatu desain dapat dikatakan berhasil, antara lain aksesibel, estetik, biaya, fungsional, pelestarian sejarah, produktif, selamat dan aman, serta berkelanjutan. Dari segi estetika, CC ITB menerapkan prinsip golden section pada skala bangunan serta ukuran dan jarak elemen-elemen bangunannya. Campus Center ITB juga merupakan bangunan yang aksesibel, dilihat dari usaha arsiteknya membuat banyak ramp di dalam dan di luar bangunan. Namun, dari sisi keberlanjutannya, bangunan ini tidak menyumbang dikarenakan bentuk atap datar yang membuat suhu termal bangunan menjadi lebih tinggi dan fasadenya modern dengan material kacanya yang berdampak buruk bagi global warming. Keberhasilan dari segi desain bentuk dan fasade bangunan belum tentu menjamin keberhasilan pula pada perancangan program dan ruang dalamnya. Di samping sebagian besar kritik positif terhadap bangunan ini, ada pula beberapa kritik negatif terhadap perancangan ruangnya. Hal pertama yang saya komentari adalah rotunda berbentuk bulat yang terletak di antara dua massa bangunan. Secara program ruang, rotunda ini difungsikan sebagai ruang penerima utama bagi para tamu atau pengunjung dari luar ITB. Namun, secara operasional, rotunda kurang mampu menjadi penarik perhatian bagi para tamu di ITB (non-civitas akademika). Meskipun bentuknya unik, tetapi skala ruang di dalam rotunda yang terlalu kecil tersebut membuatnya tidak cocok difungsikan sebagai ruang penerima. Permasalahan skala ruang ini tidak hanya terjadi pada rotunda saja, tetapi juga terjadi di ruangan lain di dalam Campus Center, yaitu toilet. Toilet CC Barat ITB berukuran sangat kecil, bahkan lebih kecil daripada

ukuran standar toilet di buku Data Arsitek Neufert. Hal ini menyebabkan pengguna toilet merasa tidak nyaman menggunakannya. Psikologi masyarakat Indonesia terutama civitas akademika ketika beraktivitas di dalam ruangan tidak menjadi pertimbangan utama dalam perancangan bangunan ini. Masalah ruang berikutnya yaitu pada ruang-ruang sekretariat yang berdinding kaca. Secara psikologis, sekretariat atau kantor merupakan ruang privat yang membutuhkan tingkat privasi para penggunanya. Penggunaan kaca secara dominan pada ruangan dengan fungsi tersebut terkadang justru membuat privasi para pengguna ruangannya menjadi terganggu. Lalu, kritik lainnya adalah perancangan kolam air. Penggunaan kolam air yang terbuka memang kurang cocok diterapkan di daerah tropis dengan kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Apalagi jika tidak didukung dengan perawatan yang memadai, kolam tersebut justru akan bernilai negatif. Hal tersebut terjadi pada perancangan Campus Center. Perawatan yang tidak mendukung menyebabkan kolam CC menjadi tidak terawat dengan baik. Campus Center Institut Teknologi Bandung merupakan contoh yang baik sebagai bangunan kontekstual yang berhasil di antara bangunan-bangunan kolonial. Di samping beberapa kekurangan yang ada, banyak pula kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki oleh bangunan ini. Dan yang paling penting, Campus Center ITB saya nilai sukses memenuhi salah satu kriteria desain yang sukses yaitu produktif. Kehadiran CC ITB di tengah-tengah kampus ITB mampu membangun kehidupan aktivitas para civitas akademikanya terutama mahasiswa. Sehingga CC ITB bukan hanya sebuah space. Ia sudah menjadi place yang memiliki ruh kehidupan.

RONA KRITIK SETTINGFORCRITICSM


Rona atau situasi d imana kritik biasanya berlangsung. Secara garis besar dapat diidentifikasi dalam beberapa kondisi, antara lain : Self (diri), Authority (yang berwenang), Expert (pakar), Peer (kelompok) dan Layman (orang awam).

1. K R I T I K D I R I (SELFCRITICISM)

Kritik diri merupakan situasi dimana perancang atau pembuat keputusan mengkritisi dirinya sendiri dalam proses perancangan. Kritik model ini memusatkan perhatian pada pengkayaan pikiran diri. Dengan ini diharapkan kritikus dapat lebih banyak mempelajari dan mengembangkan berbagai fenomena yang muncul dalam situasi dan hukum-hukum perancangan.

Kritik diri merupakan kerja yang otoritasnya merupakan komposisi dari beberapa kegiatan : a. Pengayaan/Penyaringan ( Labour of Shifting ) b. Penggabungan ( Labour of Combining ) c. Penyusunan ( Labour of Constructing ) d. Penghapusan ( Labour of Expunging ) e. Pembetulan ( Labour of Correcting ) f. Pengujian ( Labour of Testing )

Seorang artis dalam pekerjaan keseniannya ia tidak cukup sekadar menjadi dirinya. Dia harus berfungsi dan bertindak sebagai dua orang setiap saat dan dalam berbagai cara. Satu sisi ia berlaku sebagai penghayal (imaginer) dan pembuat (producer) tetapi pada sisi lain ia juga kritikus (Shan, 1957)

Setidaknya ada lima suara (bisikan) yang secara psikologis menyertai diri ketika dihadapkan dalam usaha memecahkan proses perancangan, yaitu : a. Suara Keharusan ( The Should Voices ) - Ada dua suara keharusan (should voice) yang mencoba meyakinkan diri untuk melakukan ini atau itu. - Suara yang berwenang (authority voices) mengatakan pada diri bahwa diri naf dan tidak kompeten dan menyatakan bahwa diri harus lebih baik lagi; - Suara umum (peer voice) mengatakan bahwa kita professional dan harus mempertanggungjawabkannya. Secara psikologis should (keharusan akan) dalam suara bisikan ini telah menjadi obsesi neurotic. Semua ini berkecamuk di sekeliling diri selama berlangsungnya proses berkarya. Rujukan dari suara keharusan mengacu pada prinsip prinsip moral tertentu yang harus dipertimbangkan dalam diri. b. Suara Ketakutan ( The fear voices ) - Ada dua suara ketakutan : - Ketakutan pada Kegagalan ( Fear of Failure ) Adakalanya ketika kritik telah kita lontarkan tiba-tiba diri merasa bahwa diri tidak mampu bertindak semuanya. Apa yang dilakukan terasa salah dan akan gagal. Diri ditempatkan sedemikian rupa dalam kebenaran yang lain yang lebih terpercaya. Ketakutan pada kegagalan menyeruak ketika diri dapat mengantisipasi suara petuah dan suara umum dan juga tahu bahwa mereka benar. Yah..karya diri tidak terlalu baik ataudiri harus menghentikannya. - Ketakutan pada Kesuksesan ( Fear of Success ) Jika diri sukses dalam tugas, maka sukses akan membawa tanggungjawab baru, standard yang lebih tinggi dan tuntutan performa yang lebih baik lagi ke depan. c. Suara peringatan ( The Cautionary voice ) Suara peringatan mengklain lebih mengetahui diri dari pada diri saya sendiri. Suara-suara itu ditemukan dalam serapan pengalaman dan kemampuan internal.

2. K R I T I K Y A N G B E R W E N A N G ( T H E A U T H O R I T A T I V E S E T T I N G) Sumber kritik otoritas adalah kekuatan yang melekat dalam posisi social. Hubungan secara hirarkis individu dengan pembuat keputusan dan penentu kebijakan. Dalam kasus yang sama adalah dasar-dasar kritik yang berlangsung dalam situasi pendidikan studio perancangan. Sekalipun dalam banyak model pendidikan sebagaimana di Beaux Art Guru dipandang sebagai partner dalam proses pembelajaran. Ada juga dalam model pendidikan kontemporer yang masih memandang guru secara structural memiliki kepekaan untuk menyukai individu tertentu sebagai sebuah figure yang semi otoriter. Terdapat beberapa kesulitan dalam kritik yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas (John Wade, 1976): a. Peran juri yang berlaku sebagai pihak yang memiliki otoritas menghakimi tetapi juga memiliki kekuasaan instruksional. b. Adanya fleksibelitas dalam menetapkan nilai kritik yang dilancarkan- dimana kritikus merespon pada fakta projek yang sedang dipresentasikan. c. Keputusan dipengaruhi oleh situasi yang beragam yang dihadapi masing-masing pendidikan, keputusan yang dilakukan secara acak terinspirasi dari solusi yang datang berdasarkan pengaruh jaman. d. Tidak ada kualitas nilai yang secara eksplisit tertuang dalam setiap keputusan.

3. K R I T I K P A K A R (EXPERTCRITICISM)

Kritik pakar dipandang tidak memiliki kekuatan yang spesifik melampaui apa yang dikritiknya. Dampaknya sangat bergantung pada kesan-kesan yang lain yang berkait dengan pengetahuan secara khusus dan kemampuan internalnya. Kritik biasanya berupa tulisan popular yang dimuat di media massa. Pakar dalam hal ini biasanya adalah orang-orang jurnalis yang memiliki kepekaan untuk membuat paparan dan pengumpulan fakta-fakta. Melalui berbagai perangkat pengalamannya mereka mendemonstrasikan kemampuan pemahamannya tentang isuisu yang berkaitan dengan desain lingkungan. Dua bentuk kritik pakar : Kolom umum dan Berita palsu. Kolom umum biasanya berupa tulisan yang dikarakteristikkan sebagai berita pembentuk opini yang memiliki tendensi pengajuan karakteristik tertentu yang diinginkan. Berita Palsu, menyajikan samaran dari sebuah berita dan upaya advertensi (pengiklanan). Adakalanya kritikus pakar juga menuai kritik antara lain, sebagaimana ditulis oleh Ada Louise Huxtable : Yang terhormat Tuan Kritikus : Artikel anda tentang arsitektur sungguh mengindikasikan bahwa anda kurang memiliki kepekaan rasa. Arsitektur terlalu penting untuk dibiarkan kepada para kritikus arsitektur.

4. K R I T I K K E L O M P O K (PEERCRITICISM) Kebanyakan lingkungan masyarakat dan institusi tertentu dalam kritik kelompok (peer criticism) tentang arsitektur adalah juri penghargaan desain. Dalam hal ini arsitek professional mengevaluasi dan memberikan pengetahuan khusus tentang desain yang dibawa oleh para professional. Institusi lain dalam kritik kelompok adalah buku atau artikel yang ditulis oleh para arsitek tentang arsitek-arsitek lain. Beberapa kriteria kualitas yang biasanya menjadi poin-poin evaluasi dalam kritik kelompok : a. Bangunan harus memiliki konsep

b. Bangunan harus mencerminkan keteraturan struktur c. Bangunan harus menghargai dan respek terhadap lingkungan d. Ruang harus peka terhadap emosi lingkungan e. Sangat disarankan untuk menggunakan teknologi yang dipersyaratkan f. Bangunan harus memiliki makna dan ruang yang selalu bisa diingat..dll. 5. K R I T I K A W A M (LAYMANCRITICISM) Awam lebih diarahkan pada pengguna lingkungan fisik yang : a. Tidak menyadari bahwa lingkungan fisik diciptakan b. Tidak secara khusus dilatih sebagai desainer dan kritikus. Beberapa kategori dasar respon awam dalam memandang arsitektur : a. Perhatian terhadap Lingkungan b. Perilaku terhadap lingkungan antara desain dan kebutuhan kondisi lingkungan yang diinginkan c. Modifikasi terhadap lingkungan : - Yang tidak disadari - Yang disadari (improvement/perbaikan). - Yang disadari (destruksi/penghancuran) -