Anda di halaman 1dari 18

KAIDAH-KAIDAH FIQIH YANG TIDAK DIPERSELISIHKAN

(1)


( Ijtihad tidak dibatalkan oleh ijtihad ) Hukum hasil ijtihad terdahulu tidak batal karena adanya hukum hasil ijtihad kemudian, sehingga salah semua perbuatan yang berdasarkan ijtihad terdahulu, namun untuk perbuatan kemudian hukumnya telah berubah dengan adanya hukum hasil ijtihad yang baru. Yang demikian ini karena: Pertama, nilai ijtihad adalah sama, sehingga hasil ijtihad kedua tidak lebih kuat dari hasil ijtihad pertama. Kedua, apabila suatu ketetapan hukum hasil ijtihad dapat dibatalkan oleh ijtihad yang lain, akan mengakibatkan tidak adanya kepastian hukum. Dasar kaidah ini adalah; Ijma' sahabat yang diriwayatkan oleh Ibnus Sibagh: "Sesungguhnya Abu Bakar RA (sebagai khalifah) memberikan keputusan hukum pada beberapa masalah yang kemudian diperselisihkan oleh khalifah Umar; dan Umar tidak membatalkan keputusan Abu Bakar dan tetap mengakuinya". Misalnya ialah seorang yang sembahyang dengan menghadap ke arah yang dianggap kiblat, kemudian pada waktu masuk sembahyang berikutnya berubah anggapannya tentang kiblat, maka dia harus menghadap arah yang dianggapnya kiblat dan tidak wajib mengqodlo' sembahyangnya yang pertama.

(2)


( Apabila berkumpul antara yang halal dan yang haram, dimenangkan yang haram ) Sebagian golongan ulama mendasarkan kaidah ini pada sebuah hadits:

. 1

(Manakala berkumpul yang halal dan yang haram, maka dimenangkan yang haram )
Termasuk dalam kaidah ini adalah:


"Apabila berkumpul di dalam suatu ibadah, segi dirumah dan segi bepergian, maka dimenangkan segi dirumah" Contohnya Mengusap sepatu (khoff) dirumah kemudian pergi atau sebaliknya, maka hendaklah dia menganggap sepatu dirumah.

(3)


( Mengutamakan orang lain dalam urusan ibadah adalah makruh, dan dalam urusan selain ibadah adalah disenangi ) Kaidah ini asalnya berdasarkan kepada firman Allah:


( Mereka itu (shahabat Anshor) mengutamakan shahabat muhajirin dan mengalahkan dirinya sendiri walaupun sebenarnya mereka memerlukan).Contohnya mendahulukan orang lain dalam menerima zakat. Pengutamaan kepada orang lain itu ada tiga kategori: 1. Haram Mengutamakan orang lain, sampai dirinya sendiri meninggalkan yang wajib. Contoh: Air terbatas, kesempatan wudlu ada, justru air diberikan kepada orang lain sehingga ia tidak bisa mengerjakan shalat. 2. Makruh Mementingkan orang lain sehingga dirinya meninggalkan sunnat, atau mengerjakan yang makruh. 3. Khilaful Aulaa, yaitu menyalahi keutamaan. Yang demikian ini kalau tidak ada larangan yang khusus.

(4)


(Pengikut itu adalah pengikut) Artinya: Sesuatu yang mengikuti orang lain, mak hukumnya adalah yang diikuti. Termasuk dalam kaidah ini adalah:

(1

( Pengikut hukumnya tidak tersendiri )

(2

( Pengikut menjadi gugur dengan gugurnya yang diikuti )

(3

( Cabang menjadi jatuh apabila pokoknya jatuh )

(4

( Pengikut tidak mendahului yang diikuti )

(5

( Dapat dimaafkan pada hal-hal yang mengikuti, tidak dimaafkan pada yang lainnya)


sengaja )

(6

( Sesuatu itu dapat dimaafkan karena terkait sesuatu yang lain, tidak dapat dimaafkan karena

(7

( Dapat dimaafkan bagi yang meniru, tidak demikian bagi yang memulai )

(5)


( Tindakan imam terhadap rakyat harus dihubungkan dengan kemashlahatan ) Kaidah ini berasal dari fatwa Imam As-Syafi'i:


( Kedudukan Imam terhadap rakyat adalah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim ) Contohnya pemerintah boleh menggusur perkampungan rakyat untuk kepentingan sarana umum dengan imbangan ganti rugi yang memadai.

(6)


( Hukuman-hukuman itu gugur karena syubhat ) Kaidah ini berasal dari sabda Nabi:


"Hindarkanlah hukuman-hukuman karena adanya syubhat" Contoh: Mengumpuli wanita dikira istri sendiri, padahal bukan. Yang termasuk dalam kaidah ini adalah:


"Kewajiban membayar kafarat gugur karena adanya syubhat" Contoh: orang melakukan persetubuhan pada waktu puasa ramadhan karena lupa, tidak wajib membayar kafarat.

(7)


"Orang yang merdeka itu tidak masuk dalam kekuasaan" Contoh: Seandainya mengurung orang merdeka, dengan memperlakukannya dengan baik, kemudian dia mati tertimpa tembok yang roboh, maka tidak wajib membayar ganti ruginya. Tetapi kalau hamba wajib diganti ruginya.

(8)


"Yang mengelilingi larangan hukumnya sama dengan yang dikelilingi" Dasar dari kaidah ini adalah sabda Nabi:

(.... )
"Yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas dan diantara keduanya ada masalah-masalah mutasyabihat (yang tidak jelas hukumnya), yang kebanyakan orang tidak mengetahui hukumnya."

(9)


"Apabila berkumpul dua perkara satu jenis, dan tidak berbeda maksud dari keduanya maka menurut biasanya yang satu masuk kepada yang lain."

Contoh: Masuk mesjid kemudian shalat fardlu, sudah termasuk shalat tahiyatul masjid.

( 10 )


"Mengamalkan maksud suatu kalimat lebih utama dari menyia-nyiakannya" Contoh: seorang mempunyai dua bejana, yang satu untuk khomer, dan yang satu lagi untuk cuka. Kemudian orang tersebut mewasiatkan salahsatu bejana itu. Wasiatnya adalah bejana cuka. Masuk dalam kaidah ini:


"Membuat dasar itu lebih utama dari pada memperkuat"

( 11 )


"Hak mendapatkan hasil disebabkan oleh keharusan menanggung kerugian"

( 12 )


"Keluar dari khilaf itu adalah diutamakan" Dasar dari kaidah ini adalah sabda Nabi:


"Maka barangsiapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah mencari kebersihan untuk agama dan kehormatannya" Contoh: Mengutamakan menggosok anggota wudlu'

( 13 )


"Menolak itu lebih kuat daripada mengangkat" Contoh: Kefasikan mencegah orang untuk diangkat menjadi Imam, tetapi kefasikan ditengah tengah menjadi imam tidak menjatuhkan.

( 14 )


"Keringanan itu tidak dikaitkan dengan kemaksyiatan-kemaksyiatan" Contoh: Seorang bepergian di tengah perjalanan melakukan maksyiat ini tidak termasuk kategori bepergian maksyiat.

( 15 )


Keringanan itu dihubungkan dengan ragu-ragu

( 16 )


"Rela terhadap sesuatu adalah rela terahadap apa yang timbul dari sesuatu itu" Searti dengan kaidah ini ialah kaidah: Searti dengan kaidah ini adalah:


"Yang timbul dari sesuatu yang telah diizinkan tidak ada pengaruh baginya" Contoh: orang mengizinkan adanya kemaksiatan, sama dengan mengizinkan adanya maksiat.

( 17 )


"Pertanyaan itu diulangi dengan jawaban"

( 18 )


"Tidak dapat diserupakan kepada orang yang diam, suatu perkataan"

( 19 )


"Apa yang lebih banyak perbuatannya, tentu lebih banyak keutamaannya" Dasar kaidah ini ialah Sabda Nabi SAW:

( )
"Pahalamu adalah berdasarkan kadar usahamu" Contoh: Sholat witir dengan cara diputus lebih utama dibandingkan dengan secara disambung, sebab dengan diputus akan tambah niat, takbir dan salam.

( 20 )


"Perbuatan yang mencakup kepentingan orang lain lebih utama daripada hanya terbatas untuk kepentingan sendiri" Menurut Imam Asy-Syafi'I, mencari ilmu itu lebih utama daripada sholat sunat, karena mencari ilmu akan bermanfa'at kepada orang banyak, sedangkan sholat sunat itu manfa'atnya hanya pada diri sendiri.

( 21 )


"Fardu itu lebih utama dari pada sunnat" Dasar dari kaidah ini ialah Sabda Nabi SAW: Artinya: "Tidak ada cara yang paling aku sukai bagi hambaku yang mendekatkan diri kepadaku kecuali dengan apa yang telah aku Fardukan kepadanya, dan tidak henti-hentinya hambaku mendekatkan diri kepada Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah sehingga aku mencintai nya"

( 22 )


"Keutamaan yang dipautkan dengan ibadah sendiri, lebih baik daripada yang dipautkan dengan tempatnya"

( 23 )


"Sesuatu yang wajib tidak boleh ditinggalkan kecuali karena sesuatu yang wajib" Contoh: Wajibnya makan bangkai bagi orang yang terpaksa, kalau tidak, pasti haram hukumnya.

( 24 )


"Sesuatu karena kekhususannya telah mewajibkan yang lebih besar dari dua perkara, tidaklah mewajibkan dari yang lebih kecil dari dua perkara itu karena keumumannya" Contoh: Keluarnya sperma tidak mewajibkan wudlu' walaupun itu merupakan salahsatu benda yang keluar dari lubang muka, sebab dari kekhususannya telah mewajibkan mandi, dan mandi adalah yang lebih besar dari dua kewajiban akibat keluarnya benda dari jalan muka.

( 25 )


"Apa yang telah ditetapkan syara' didahulukan daripada apa yang wajib menurut syarat"

( 26 )


"apa yang haram menggunakannya haram pula memperolehnya" Dasar kaidah ini adalah sabda Nabi:

( )
"Barangsiapa jatuh pada barang syubhat, jatuh pada haram"

( 27 )


"Sesuatu yang haram diambilnya, diharamkan pula memberikannya" Dasar kaidah ini adalah firman Allah:

(3: )
"Janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan permusuhan"

10

( 28 )


"Sesuatu yang sedang dijadikan obyek perbuatan tertentu tidak boleh dijadikan obyek tertentu lain." Contoh: tidak boleh barang yang sudah dijadikan jaminan sesuatu hutang, kemudian dijadikan jaminan hutang yang lain.

( 29 )


"yang sudah diperbesar tidak dibesarkan"

( 30 )


"barangsiapa yang berusaha menyegerakan sesuatu yang sebelum waktunya, menanggung akibat tidak mendapatkan sesuatu itu."

( 31 )


"sunnah itu lebih longgar daripada fardlu'

11

( 32 )


"Kekuasaan yang khusus lebih kuat dari pada kekuasaan yang umum"

( 33 )


Tidak dipegangi sesuatu hukum yang berdasarkan dhon yang jelas salahnya.

( 34 )


"Berbuat yang bukan dimaksud berarti berpaling dari yang dimaksud (sehingga karenanya batal yang dimaksud"

( 35 )


"tidak diingkari perbuatan yang diperselisihkan (hukum haramnya) dan sesungguhnya yang diingkari ialah yang telah disepakati."

( 36 )

12

"yang kuat mencakup yang lemah, tidak sebaliknya"

( 37)


"dimaafkan yang pada sarana, tidak dimaafkan yang pada maksud"

( 38 )


"yang mudah dilaksanakan tidak gugur/ditinggalkan karena adanya yang sukar dilaksanakan"

( 39 )


"sesuatu yang tidak dapat dibagi maka mengusahakan sebagian seperti mengusahakan keseluruhannya, dan menggugurkan sebagian seperti menggugurkan keseluruhannya."

( 40 )


"apabila berkumpul antara sebab, kicuhan dan pelaksana langsung, maka didahulukan pelaksana langsung"

13

KAIDAH-KAIDAH FIQH YANG DIPERSELISIHKAN

(1)


"Shalat jumat merupakan shalat dhuhur yang dipendekan ataukah merupakan shalat menurut keadaannya yang semestinya"

(2)


"Shalat makmum dibelakang orang yang berhadast yang tidak diketahui keadaannya apabila kita katakana shalatnya sah, maka shalatnya itu merupakan shalat jamaah ataukah sendiri."

(3)


Barangsiapa melakukan perbuatan yang meniadakan membatalkan perbuatan fardlunya bukan perbuatan yang sunnat diawal perbuatan fardlu dan tengah-tengahnya, maka batal fardlunya dan apakah shalat fardlunya menjadi shalat sunnat atau batal"

(4)


Pelaksanaan nazar apakah harus dilaksanakan seperti melaksanakan pekerjan wajib, ataukah boleh dilaksanakan seperti melaksanakan perbuatan jaiz."

14

(5)


"Yang dianggap itu apakah shighot, akad, atau maknanya"

(6)


"Barang yang dipinjam untuk gadai, apakah yang lebih umum pada barang itu berlaku segi jaminan atau segi pinjaman"

(7)

,
"memindahkan hutang itu merupakan jual beli ataukah kewajiban yang harus dipenuhi"

(8)


"pembebasan utang apkah pengguguran utang ataukah merupakan pembelian untuk dimiliki".

(9)


Mencabut jual beli terhadap orang yang menyesal adakah itu merupakan pembatalan jual beli ataukah merupskan jual beli lagi

15

( 10 )


Mas kawin yang sudah ditentukan dan masih ditangan suami, belum diterima oleh istri, itu merukan barang yang dijamin oleh suami berdasarkan akad; ataukah dijamin sebagai barang yang diambil dari tangan istri.

( 11 )


Tolak roj'I adakah itu memutuskan pernikahan atau tidak

( 12 )


Yang lebih umum apakah dihari itu menyerupai tolak ataukah menyerupai sumpah.

( 13 )


Fardu kifayah , apakah menjadi fardu ain setelah mulai dikerjakan, ataukah tetap sebagai fardu kifayah

( 14)

16

Sesuatu yang hilang kemudian kembali, apakah hukumnya seperti yang tidak hilang ataukah seperti barang baru.

( 15 )


Apakah anggapan itu didasarkan pada keadaannya, ataukah didasarkan pada bendanya.

( 16 )


Apabila telah batal segi kekhususannya, apakah masih tetap syah segi keumumannya.

( 17 )


Anak yang masih dalam kandungan, apakah di hukumi sebagai sesuatu yang telah diketahui ataukah sebagai sesuatu yang belum diketahui.

( 18 )


Sesuatu yang jarang terjadi, apakah dihubungkan dengan jenisnya ataukah dengan dirinya sendiri

( 19 )


Orang yang dapat mencapai yang yakin apakah padanya masih izinkan berijtihad berdasarkan dzaan.

( 20 )

17

Halangan yang dating kemudian, apakah dia seperti bercampur dengan yang dihalagi atau tidak

18