Anda di halaman 1dari 30

Merancang Instalasi Tenaga Listrik Bangunan Sederhana (MITLBS)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran MITLBS Semester Pertama

MAKALAH

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA

Disusun Oleh : ARIEF MAULANA SIDIQ KELAS : XI TITL 2

SMK NEGERI 2 GARUT


Jl. Suherman No.90 Telp.(0262)233141 Tarogong Kaler-Garut Tahun Ajaran 2010/2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan memberi petunjuk dan kekuatan kepada penulis sehingga makalah, PEMANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA ini dapat diselesaikan.

Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi materi yang ada. Materi materi bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa dalam belajar mengenai Pemangkit Listrik Tenaga Surya. Serta siswa juga dapat memahami nilai nilai dasar yang direfleksikan dalam berpikir dan bertindak.

Mudah-mudahan dengan mempelajari makalah ini, para siswa akan mampu menghadapi masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang timbul dalam belajar memahami tentangPemangkit Listrik Tenaga Surya dan Aplikasinya Dan dengan harapan semoga siswa mampu berinovasi dan berkreasi dengan potensi yang dimiliki.

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas akhir semester pertama untuk bidang study MITLBS, dan lebih lanjut semoga makalah ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan seputar Sistem Pemangkit Listrik Tenaga Surya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Garut, 27 November 2011

Penulis

DAFTAR ISI
(TABLE OF CONTENTS)

Kata Pengantar (Foreword) ................................................................................ Daftar Isi (Table of contents) .............................................................................. BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ Chapter I INTRODUCTION ................................................................................... 1.1 Latar Belakang (Background) ........................................................... 1.2 Rumusan Masalah (Problem Formulation)................................. 1.3 Tujuan Penulisan (The Purpose Of Writing) .............................. 1.4 Manfaat Penulisan (Benefits Of Writing) ..................................... BAB II Definisi Pembangkit Listrik tenaga Surya ..................................... Chapter II Definition Of Solar Power Plant Power .................................... 2.1 Definisi Umum (Common Definition)............................................ 2.2 Prinsip Kerja PLTS (Working Principle of PLTS) ..................... BAB III Spesipikasi Komponen-komponen pada PLTS ........................... Chapter III Spesipikasi Components On PLTS ............................................ 3.1 Panel Surya (The Solar Panels) ........................................................ 3.2 Charge Controller (Charge Controller) ......................................... 3.3 Inventer DC ke Ac (Inventer DC To AC) ........................................ 3.4 Batrei untuk Panel Surya (Batrei For Solar Panels) ................ BAB IV Perencanaan dan Perhitungan PLTS............................................... Chapter IV Planning and Calculation PLTS ................................................. 4.1 Pembangkit Listrik Tenaga Surya................................................ 4.1 Solar Power Generation................................................................... 4.2 Panel Sonar............................................................................................ 4.2 Solar Panels........................................................................................... BAB V Penutup ....................................................................................................... Chapter V cover ..................................................................................................... 5.1 Kesimpulan (conclusion)............................................................... 5.2 Saran (suggestion)................................................................................

Bab I PENDAHULUAN (Chapter I Foreword) 1.1 Latar Belakang (Background) 1 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah peralatan pembangkit listrik yang merubah cahaya matahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar Cell, atau Solar Photovoltaic, atau Solar Energy. 1. Solar Power (PLTS) is an electrical generating equipment that converts sunlight into electricity. PLTS is often also called Solar Cell or Solar Photovoltaic, or Solar Energy. 2 Sebagian besar kebutuhan listrik di catu melalui jaringan distribusi listrik (PLN). Konsumen yang membutuhkan harus berada di dekat jaringan listrik atau jika tidak, maka perlu dibuatkan sambungan tersendiri. 2. Most of the electricity demand in the power supply via power distribution network (PLN). Consumers who need to be near power lines or if not, then it need a separate connection. 3 Dengan konsep yang sederhana yaitu mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Yang mana cahaya matahari adalah salah satu bentuk energi dari sumber daya alam. Sumber daya alam matahari sudah banyak digunakan untuk memasok daya listrik di satelit komunikasi melalui sel surya. Sel surya ini dapat menghasilkan energi yang tidak terbatas langsung diambil dari matahari, tanpa ada bagian yang berputar dan tidak memerlukan bahan bakar. Sehingga sel surya sering dikatakan bersih dan ramah lingkungan. 3. With a simple concept that convert sunlight into electrical energy. Which light is one form of energy from natural resources. Natural resources of the sun is already widely used to supply electrical power in a satellite communication through solar cells. These solar cells can produce an unlimited energy drawn directly from the sun, without any rotating parts and requires no fuel. So that the solar cells is often said to be clean and environmentally friendly. 4 Bandingkan dengan generator listrik, ada bagian yang berputar dan memerlukan bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Suaranya bising. Selain itu gas buang yang dihasilkan dapat menimbulkan efek gas rumah kaca (green house gas) yang pengaruhnya dapat merusak ekosistem bumi kita. 4. Compare with electric generators, no rotating parts and require fuel to generate electricity. His voice is loud. In addition the resulting flue gases can cause effects of greenhouse gases (green house gas) whose influence could damage our Earth's ecosystem.

1.2 Rumusan Masalah (Problem formulation) 1 1. 2 2. 3 3. 4 4. 5 5. 6 6. 7 7. Karena pembangkit listrik tenaga surya sangat tergantung kepada sinar matahari, Since solar power is dependent upon sunlight maka perencanaan yang baik sangat diperlukan. Perencanaan terdiri dari : then good planning is indispensable. Planning consists of: Jumlah daya yang dibutuhkan dalam pemakaian sehari-hari (Watt). The amount of power needed in everyday use (Watt). Berapa besar arus yang dihasilkan panel surya (dalam Ampere hour), dalam hal How large is the resulting current solar panels (in Ampere hour), in the case ini memperhitungkan berapa jumlah panel surya yang harus dipasang. takes into account how many solar panels to be installed. Berapa unit baterai yang diperlukan untuk kapasitas yang diinginkan 6. dan How many units of batteries required for the desired capacity and pertimbangan penggunaan tanpa sinar matahari. (Ampere hour). consideration of the use without sunlight. (Ampere hour).

1.3 Tujuan Penulisan (the purpose of writing) Mengetahui perencanaan dan perhitungan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sehingga dapat menghasilkan perencanaan yang baik dan mendapatkan efisiensi dalam penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Knowing the planning and calculation of Solar Power Generation (PLTS). So can result in good planning and gain efficiency in the use of Solar Power Generation (PLTS). 1.4 Manfaat Penulisan (Benefits of Writing) Agar dapat memahami tentang teknologi terbaharu khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya sekaligus dapat mengetahui oprasional dari perangkat-perangkat yang digunakan dalam komponen-komponen penyusun alat Pembangkit Listrik Tenaga Surya In order to understand the technology particularly terbaharu Solar Power Generation at once can know oprasional of the devices used in the constituent components of Solar Power tools

Bab II Definisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Chapter II Definition of Solar Power) 2.1 Definisi Umum (General definitions) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah peralatan pembangkit listrik yang merubah cahaya matahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar Cell, atau Solar Photovoltaic, atau Solar Energy. Orang awam seringkali keliru menganggap Solar Water Heater (Pemanas Air Tenaga Surya) sebagai PLTS. Solar water heater memanfaatkan thermal dari solar energy dan menghasilkan air panas, prinsip yang sama juga diterapkan untuk solar dryer (pengering tenaga surya), sedangkan PLTS memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan listrik. DC (direct current), yang dapat diubah menjadi listrik AC (alternating current) apabila diperlukan. Oleh karena itu meskipun cuaca mendung, selama masih terdapat cahaya, maka PLTS tetap dapat menghasilkan listrik. Solar Power Generation (PLTS) is an electrical generating equipment that converts sunlight into electricity. PLTS is often also called Solar Cell or Solar Photovoltaic, or Solar Energy. Lay people often mistakenly assume Solar Water Heater (Solar Water Heating) as a PLTS. Solar thermal water heater use of solar energy and produce hot water, the same principle also applies to solar dryer (solar drying), while the PLTS harness sunlight to produce electricity. DC (direct current), which can be converted into AC electricity (alternating current) if necessary. Therefore, although the weather is cloudy, as long as there is still light, then PLTS can still produce electricity. PLTS pada dasarnya adalah pencatu daya (alat yang menyediakan daya), dan dapat dirancang untuk mencatu kebutuhan listrik yang kecil sampai dengan besar, baik secara mandiri, maupun dengan Hybrid (dikombinasikan dengan sumber energy lain, seperti PLTS-genset, PLTS microhydro, PLTSAngin), baik dengan metoda Desetralisasi (satu rumah satu pembangkit) maupun dengan metoda Sentralisasi (listrik didistribusikan dengan jaringan kabel). PLTS is essentially a power supply (which provides a power tool), and can be designed to distribute the electricity needs of small to large, either independently, or with Hybrid (combined with other energy sources, such as the PLTSgenerators, microhydro PLTS, PLTS-wind), both with the method Desetralisasi (one house one plant) and the Centralized method (electricity distributed by cable networks).

Untuk instalasi listrik tenaga surya sebagai pembangkit listrik, diperlukan komponen sebagai berikut: For installation of solar electricity as power plants, is required components as follows: 1. Solar panel mengkonversikan tenaga matahari menjadi listrik. Sel silikon (disebut juga solar cells) yang disinari matahari/ surya, membuat photon yang menghasilkan arus listrik. Sebuah solar cells menghasilkan kurang lebih tegangan 0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12 Volt terdiri dari kurang lebih 36 sel (untuk menghasilkan 17 Volt tegangan maksimun). 1. Solar panels convert solar energy into electricity. Silicon cells (called also solar cells) are exposed to the sun / solar, making photons that produce electric current. A solar cell produces a voltage of approximately 0.5 Volts. So a 12 volt solar panel consists of approximately 36 cells (toproduce a maximum voltage of 17 volts). 2. Charge controller digunakan untuk mengatur pengaturan pengisian baterai.Tegangan maksimun yang dihasilkan panel surya pada hari yang terik akan menghasilkan tegangan tinggi yang dapat merusak baterai. 2. Charge controller is used to adjust the charging arrangements. Maximum voltage produced by solar panels on a hot day will produce a high voltage that can damage the battery. 3. Inverter adalah perangkat elektrik yang mengkonversikan tegangan searah (DC direct current) menjadi tegangan bolak balik (AC alternating current). 3. Inverters are devices that convert electrical voltage (DC direct current) into alternating voltage (AC - alternating current). 4. Baterai, adalah perangkat kimia untuk menyimpan tenaga listrik dari tenaga surya.Tanpa baterai, energi surya hanya dapat digunakan pada saat ada sinar matahari & berfungsi menyimpan arus litrik yang dihasilkan oleh modul surya sebelum dimanfaatkan untuk menggerakkan beban. Beban dapat berupa lampu penerangan atau peralatan elektronik dan peralatan lainnya yang membutuhkan listrik. 4. Battery, is a chemical device for storing electricity from solar power. Without batteries, solar energy can only be used when there is sunlight & store serves litrik current generated by solar modules before used to drive the load. Expenses may include lights or electronic equipment and other equipment that require electricity.

2.2 Prinsip Kerja PLTS(Working Principle PLTS) Pada siang hari modul surya menerima cahaya matahari yang kemudian diubah menjadi listrik melalui proses fotovoltaik. Listrik yang dihasilkan oleh modul dapat langsung disalurkan ke beban ataupun disimpan dalam baterai sebelum digunakan ke beban: lampu, radio, dll. Pada malam hari, dimana modul surya tidak menghasilkan listrik, beban sepenuhnya dicatu oleh battery. Demikian pula apabila hari mendung, dimana modul surya menghasilkan listrik lebih rendah dibandingkan pada saat matahari benderang. During the day solar module receives the sunlight which is then converted into electricity through the photovoltaic process. Electricity generated by the module can be directly supplied to the load or stored in a battery before it is used to load: lights, radio, etc.. In the evening, which does not produce solar electricity modules, the load is fully supplied by the battery. Similarly, if the cloudy days, solar modules generate electricity which is lower than in the bright sun. Modul surya dengan kapasitas tertentu dapat menghasilkan jumlah listrik yang berbeda-beda apabila ditempatkan pada daerah yang berlainan. Solar modules with a certain capacity to produce the amount of electricity different when placed in different areas. Bab III Spesifikasi Komponen-komponen Pada PLTS (Chapter III specification components in PLTS) 3.1 Panel Surya (Solar Panels) Panel sel surya mengubah intensitas sinar matahari menjadi energi listrik. Panel sel surya menghasilkan arus yang digunakan untuk mengisi batere. Intensity of solar cell panels convert sunlight into electrical energy. Solar cell panels generate currents that are used to fill batteries. Panel sel surya terdiri dari photovoltaic, yang menghasilkan listrik dariintensitas cahaya, saat intensitas cahaya berkurang (berawan, hujan, mendung)arus listrik yang dihasilkan juga akan berkurang. The panel consists of photovoltaic solar cells, which produce electricity dariintensitas light, when light intensity decreases (cloudy, rainy, cloudy) the electric current generated will also be reduced. Dengan menambah panel sel surya (memperluas) berarti menambah konversitenaga surya. Umumnya panel sel surya dengan ukuran tertentu memberikan hasiltertentu pula. Contohnya ukuran a cm x b cm menghasilkan listrik DC (DirectCurrent) sebesar x Watt per hour/ jam. By adding a solar cell panel (expand) means adding solar konversitenaga. Generally, solar cell panel with a certain size provide hasiltertentu anyway. For example the size of a cm cm XB generate DC electricity (DirectCurrent) for x Watts per hour / hour.

Tabel Jenis bahahan pembuatan solar panel: Jenis Efisiensi Daya Biaya Perubahan Tahan Daya Mono Sangat Sangat Baik Baik Baik Poly Baik Sangat Baik Sangat Baik

Keterangan Kegunaan Pemakaian Luas Cocok untuk Produksi masal di masa depan Bekerja baik dalam pencahayaan fluorescent Berat &Rapuh

Penggunaan Sehari-hari Sehari-hari

Amorphous

Cukup Baik

Cukup Baik Sangat Baik

Baik

Coumpound Sangat (GAS) Baik

Cukup Baik

Sehari-hari &Perangkat Komersial (Kalkulator) Pemakaian di Luar Angkasa

Beberapa penjelasan contoh jenis bahan panel sel surya Some examples of this type of material explanation of the solar cell panel Polikristal (Poly-crystalline) Polycrystalline (poly-crystalline) Merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak. Type Polikristal memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monokristal untuk menghasilkan daya listrik yang sama, akan tetapi dapat menghasilkan listrik pada saat mendung. Is a solar panel that has a random arrangement of crystals. Type polycrystal requires a larger surface area compared with the kinds monokristal to generate the same electrical power, but can generate electricity during cloudy. Monokristal (Mono-crystalline) Monokristal (Mono-crystalline) Merupakan panel yang paling efisien, menghasilkan daya listrik persatuan luas yang paling tinggi. Memiliki efisiensi sampai dengan 15%. Kelemahan dari panel jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik ditempat yang cahaya mataharinya kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan.Contoh Implementasi Solar Panel Beberapa contoh implementasi solar panel dan perangkat yang menggunakan energi yang dihasilkan : Is the most efficient panels, electrical power generating broad unity of the most high. Have efficiencies up to 15%. The downside of this type of panel is not going to work well in place of less sun light (shade), its efficiency will

drop drastically in cloudy weather. Example Implementation of Solar Panels Some examples of the implementation of solar panels and devices using energy produced:
Ukuran Panel Surya Jumlah Watt untuk pengisian batere ( 5 jam sehari ) Lampu LED 3 Watt ( pemakaian 12 jam ) Lampu LED 21 Watt ( pemakaian 12 jam ) 1 (252 W) 1 (252 W) 2 (504 W) 1 ( 36 W) 3 (108 W) 7 (252 W) 11 (396 W) 16 (576 W) 10 WP 20 WP 50 WP 80 WP 120 WP

50 W, 4.17A

100W, 8.33A

250 W, 20.83 A

400 W, 33.33 A

600 W, 50 A

Pemeliharaan Solar Panel Maintenance of Solar Panels Pada umumnya panel sel surya tidak membutuhkan pemeliharan yang rutin seperti genset. Genset umumnya diharuskan untuk dihidupkan satu kali seminggu, pemeriksaan oli, pemeriksaan batere, dll. Pemeliharaan panel sel surya: In general, solar cell panels do not require routine maintenance such as generators. Genset is generally required to be turned once a week, checking the oil, checking batteries, etc.. Maintenance of solar cell panels: Dibersihkan berkala untuk tidak mengurangi penyerapan intensitas matahari. Cleaned periodically to not reduce the absorption intensity the sun. Mengatur letak dari panel sel surya supaya mendapatkan sinar matahari langsung dan tidak terhalangi objek (pohon, jemuran, bangunan, dll) Set the location of the solar cell panels in order to get some sunshine direct and unobstructed objects (trees, clotheslines, buildings, etc.)

3.2 Charge Controller - Solar Controller (Charge Controller - Solar Controller)

Solar Charge Controller adalah peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur arus searah yang diisi ke baterai dan diambil dari baterai ke beban.Solar Charge Controller is the electronic equipment used for set the direct current to the battery charged and taken from the battery to the load. Solar charge controller mengatur overcharging (kelebihan pengisian karena batere sudah 'penuh') dan kelebihan voltase dari panel surya. Kelebihan voltase dan pengisian akan mengurangi umur baterai. Solar charge controller regulate Overcharging (excess charge - because the battery is 'full') and the excess voltage from the solar panels. Excess voltage and charging will reduce battery life. Solar charge controller menerapkan teknologi Pulse width modulation (PWM) untuk mengatur fungsi pengisian baterai dan pembebasan arus dari baterai ke beban. Solar charge controller regulate Overcharging (excess charge - because the battery is 'full') and the excess voltage from the solar panels. Excess voltage and charging will reduce battery life. Solar panel 12 Volt umumnya memiliki tegangan output 16 - 21 Volt. Jadi tanpa solar charge controller, baterai akan rusak oleh over-charging dan ketidakstabilan tegangan. Baterai umumnya di-charge pada tegangan 14 14.7 Volt. Solar panels generally have a 12 volt output voltage of 16-21 volts. So without solar charge controllers, batteries will be damaged by over-charging and voltage instability. Batteries are generally in-charge at a voltage 14 - 14.7 volts.

Fungsi Solar Charge Controller Solar Charge Controller Functions Beberapa fungsi detail dari solar charge controller adalah sebagai berikut: Some detail the function of the solar charge controller is as follows: Mengatur arus untuk pengisian ke baterai, menghindari overcharging, dan overvoltage. Set the current for charging the battery, avoid Overcharging, and overvoltage. Mengartur arus yang dibebaskan/ diambil dari baterai agar baterai tidak 'full discharge', dan overloading. Mengartur currents released / taken from the battery so the battery does Not 'full discharge', and overloading. Monitoring temperatur baterai Untuk membeli solar charge controller yang harus diperhatikan adalah: Monitoring the temperature of the battery To buy solar charge controller to be considered are: Voltage 12 Volt DC / 24 Volt DC Kemampuan (dalam arus searah) dari controller. Misalnya 5 Ampere, 10 Ampere, dsb. Ability (in direct current) from the controller. Say 5 Ampere, 10 Amperes, and so on. Full charge dan low voltage cut Full charge and low voltage cut Cara Kerja Charge Controller How to Work Charge Controller Solar charge controller, adalah komponen penting dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Solar charge controller berfungsi untuk: Solar charge controller, is an important component in Solar Power. Solar charge controller serves to: Solar charge controller, adalah komponen penting dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Solar charge controller berfungsi untuk: Charging mode: Mengisi baterai (kapan baterai diisi, menjaga pengisian kalau baterai penuh). Operation mode: Penggunaan baterai ke beban (pelayanan baterai ke beban diputus kalau baterai sudah mulai 'kosong'). Operation mode: Use a battery to the load (battery service to load is disconnected when the battery has begun to 'empty').

Charging Mode Solar Charge Controller Dalam charging mode, umumnya baterai diisi dengan metoda three stage charging: In charging mode, the battery is generally filled with a three-stage method charging: Fase bulk: baterai akan di-charge sesuai dengan tegangan setup (bulk antara 14.4 - 14.6 Volt) dan arus diambil secara maksimun dari panel surya. Pada saat baterai sudah pada tegangan setup (bulk) dimulailah fase absorption. Bulk phase: the battery will be charged in accordance with the voltage setup (bulk - between 14.4 - 14.6 volts) and current drawn at the maximum of solar panels. At the time the battery is at a voltage setup (bulk) absorption phase begins

Fase absorption: pada fase ini, tegangan baterai akan dijaga sesuai dengan tegangan bulk, sampai solar charge controller timer (umumnya satu jam) tercapai, arus yang dialirkan menurun sampai tercapai kapasitas dari baterai. Absorption phase: during this phase, the battery voltage will be maintained in accordance with the bulk voltage, up to solar charge controller timer (usually one hour) is reached, the current that flowed down to reach the capacity of the battery. Fase flloat: baterai akan dijaga pada tegangan float setting (umumnya 13.4 13.7 Volt). Beban yang terhubung ke baterai dapat menggunakan arus maksimun dari panel surya pada stage ini. Phase flloat: batteries will be maintained at float voltage setting (typically 13.4 - 13.7 volts). Load connected to the battery can use the maximumflow of solar panels at this stage. Sensor Temperatur Baterai Charge Controller Temperature Sensor Battery Charge Controller Untuk solar charge controller yang dilengkapi dengan sensor temperatur baterai. Tegangan charging disesuaikan dengan temperatur dari baterai. Dengan sensor ini didapatkan optimun dari charging dan juga optimun dari usia baterai. For solar charge controller is equipped with a battery temperature sensor. Charging voltage is adjusted to the temperature of the battery. With this sensor optimun obtained from the charging and also optimun of battery life. Apabila solar charge controller tidak memiliki sensor temperatur baterai, maka tegangan charging perlu diatur, disesuaikan dengan temperatur lingkungan dan jenis baterai. If the solar charge controller has no battery temperature sensor, then the charging voltage should be regulated, adjusted to ambient temperature and battery type. Mode Operation Solar Charge Controller Pada mode ini, baterai akan melayani beban. Apabila ada over-discharge ataun over-load, maka baterai akan dilepaskan dari beban. Hal ini berguna untuk mencegah kerusakan dari baterai. In this mode, the battery will serve the load. If there is over-discharge ataun over-load, the battery will be released from the burden. It is useful to prevent damage from battery.

3.3 Inverter DC ke AC (Inverter DC to AC)

Inverter adalah perangkat elektrik yang digunakan untuk mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus listrik bolak balik (AC). Inverter mengkonversi DC dari perangkat seperti batere, panel sel surya menjadi AC. Penggunaan inverter dari dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah untuk perangkat yang menggunakan AC (Alternating Current). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan inverter: The inverter is an electrical device used to convert electrical current (DC) into alternating electrical current (AC). Inverters convert DC from devices such as batteries, solar cell panels into AC. The use of inverter from the Solar Power Generation (PLTS) are for devices that use AC (Alternating Current). Some things to consider in the selection of the inverter: Kapasitas beban dalam Watt, usahakan memilih inverter yang beban kerjanya mendekati dgn beban yang hendak kita gunakan agar effisiensi kerjanya maksimal. Load capacity in Watt, try to choose an inverter that approach with his workload burden that we wish to use to its maximum efficiency Input DC 12 Volt atau 24 Volt Input DC 12 Volt or 24 Volt Sinewave ataupun square wave outuput AC Sinewave or square wave AC outuput True sine wave inverter diperlukan terutama untuk beban-beban yang masih menggunakan motor agar bekerja lebih mudah, lancar dan tidak cepat panas. Oleh karena itu dari sisi harga maka true sine wave inverter adalah yang paling mahal diantara yang lainnya karena dialah yang paling mendekati bentuk gelombang asli dari jaringan listrik PLN.

True sine wave inverters are needed especially for loads that are still using the motor to work more easily, smoothly and fast heat. Therefore, in terms of price then the true sine wave inverter is the most expensive among the others because he is the most close to the original waveform of the grid. Dalam perkembangannya di pasaran juga beredar modified sine wave inverter yang merupakan kombinasi antara square wave dan sine wave. Bentuk gelombangnya bila dilihat melalui oscilloscope berbentuk sinus dengan ada garis putus-putus di antara sumbu y = 0 dan grafik sinusnya. Perangkat yang menggunakan kumparan masih bisa beroperasi dengan modified sine wave inverter, hanya saja kurang maksimal. In its development in the market are also circulating modified sine wave inverter which is a combination of square wave and sine wave. Waveformshaped when viewed through an oscilloscope sine there is a dotted line between the axis y = 0 and the graph sinuses. Devices that use the coil can still operate with a modified sine wave inverters, only less than the maximum. Sedangkan pada square wave inverter beban-beban listrik yang menggunakan kumparan / motor tidak dapat bekerja sama sekali. While on the square wave inverter electrical loads using coil / motor can not work at all. Selain itu dikenal juga istilah Grid Tie Inverter yang merupakan special inverter yang biasanya digunakan dalam sistem energi listrik terbarukan, yang mengubah arus listrik DC menjadi AC yang kemudian diumpankan ke jaringan listrik yang sudah ada. Grid Tie Inverter juga dikenal sebagai synchronous inverter dan perangkat ini tidak dapat berdiri sendiri, apalagi bila jaringan tenaga listriknya tidak tersedia. Dengan adanya grid tie inverter kelebihan KWh yang diperoleh dari sistem PLTS ini bisa disalurkan kembali ke jaringan listriki PLN untuk dinikmati bersama dan sebagai penggantinya besarnya KWh yang disuplai harus dibayar PLN ke penyedia PLTS, tentunya dengan tarif yang telah disepakati sebelumnya. Sayangnya sampai sekarang ketentuan tarif semacam ini masih terus digodok seiring dengan aturan mengenai listrik swasta. In addition the term also known as Grid Tie Inverter which is a special inverter is usually used in renewable electrical energy systems, which convert DC power into AC current which is then fed into an existing power grid. Grid Tie Inverter also known as a synchronous inverter and this device can not stand alone, especially if the electrical power network is not available. With the grid tie inverter KWh advantages gained from this PLTS system can be channeled back to the network listriki PLN to be enjoyed together, and as his successor KWh supplied amount to be paid to the provider PLN PLTS, of course, at the rate agreed in advance. Unfortunately until now the provisions of such tariff is still brewing along with the rules of private power.

Rugi-rugi / loss yang terjadi pada inverter biasanya berupa dissipasi daya dalam bentuk panas. Effisiensi tertinggi dipegang oleh grid tie inverter yang diclaim bisa mencapai 95-97% bila beban outputnya hampir mendekati rated bebannya. Sedangkan pada umumnya effisiensi inverter adalah berkisar 5090% tergantung dari beban outputnya. Bila beban outputnya semakin mendekati beban kerja inverter yang tertera maka effisiensinya semakin besar, demikian pula sebaliknya. Modified sine wave inverter ataupun square wave inverter bila dipaksakan untuk beban-beban induktif maka effisiensinya akan jauh berkurang dibandingkan dengan true sine wave inverter. Perangkatnya akan menyedot daya 20% lebih besar dari yang seharusnya. Losses / loss that occurs in the inverter is usually a power dissipation in the form of heat. The highest efficiency is held by a grid tie inverter that diclaim can reach 95-97% when the load close to rated output load. While in general efficiency of the inverter is in the range 50-90% depending on the load output. When the output load closer to the workload of the inverter are listed effisiensinya greater, and vice versa. Modified sine wave or square wave inverter when the inverter is forced to inductive loads effisiensinya it will be much reduced compared with a true sine wave inverter. The device will suck power 20% larger than they should. 3.4. Baterai untuk Sel Surya (Batteries for Solar Cells)

Baterai adalah alat penyimpan tenaga listrik arus searah ( DC ). Ada beberapa jenis baterai / aki di pasaran yaitu jenis aki basah/konvensional, hybrid dan MF ( Maintenance Free ). Aki basah/konvensional berarti masih menggunakan asam sulfat ( H2SO4 ) dalam bentuk cair. Sedangkan aki MF sering disebut juga aki kering karena asam sulfatnya sudah dalam bentuk gel/selai. Dalam hal mempertimbangkan posisi peletakkannya maka aki kering tidak mempunyai kendala, lain halnya dengan aki basah. The battery is a store of electric power direct current (DC). There are several types of batteries / battery on the market are the type of battery wet / conventional, hybrid and MF (Maintenance Free). Aki wet / conventional means still using sulfuric acid (H2SO4) in liquid form. While the MF battery

dry battery is also often referred to as acid sulfatnya already in the form of gel / jam. In considering this position then routed dry batteries have no constraints, another case with a wet battery. Aki konvensional juga kandungan timbalnya ( Pb ) masih tinggi sekitar 2,5%untuk masing-masing sel positif dan negatif. Sedangkan jenis hybrid kandungan timbalnya sudah dikurangi menjadi masing-masing 1,7%, hanya saja sel negatifnya sudah ditambahkan unsur Calsium. Sedangkan aki MF / aki kering sel positifnya masih menggunakan timbal 1,7% tetapi sel negatifnya sudah tidak menggunakan timbal melainkan Calsium sebesar 1,7%. Pada Calsium battery Asam Sulfatnya ( H2SO4 ) masih berbentuk cairan, hanya saja hampir tidak memerlukan perawatan karena tingkat penguapannya kecil sekali dan dikondensasi kembali. Teknologi sekarang bahkan sudah memakai bahan silver untuk campuran sel negatifnya. Conventional batteries also contain timbalnya (Pb) is still high at about 2.5% for each positive and negative cells. While this type of hybrid content timbalnya been reduced to 1.7% respectively, only negative cells were added element calcium. While the MF battery / dry cell battery plus 1.7% still use lead but negative cells are not using the lead but at 1.7% calcium. In Calcium Sulfatnya battery acid (H2SO4) is still a liquid, it's just almost do not require treatment because the evaporation rate was very small and condensed back. The technology is now even been wearing silver material to a mixture of cells negative. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih aki : There are several considerations in choosing a battery: Tata letak, apakah posisi tegak, miring atau terbalik. Bila pertimbangannya untuk segala posisi maka aki kering adalah pilihan utama karena cairan air aki tidak akan tumpah. Kendaraan off road biasanya menggunakan aki kering mengingat medannya yang berat. Aki ikut terguncang-guncang dan terbanting. Aki kering tahan goncangan sedangkan aki basah bahan elektodanya mudah rapuh terkena goncangan.
The layout, whether upright, tilted or upside down. If the consideration for

any position of the dry battery is a top choice for liquid battery acid will not spill. Off road vehicles usually use dry battery recall terrain the weight. Aki joined shaken and slammed. Shock-resistant dry battery whereas the wet battery easily brittle materials exposed to shocks elektoda

Voltase / tegangan, di pasaran yang mudah ditemui adalah yang bertegangan 6V, 12V da 24V. Ada juga yang multipole yang mempunyai beberapa titik tegangan. Yang custom juga ada, biasanya dipakai untuk keperluan industri.

Voltage / voltage, on the market are easily found is the voltage 6V, 12V da 24V. There is also a multipole having some voltage points. which There is also custom, usually used for industrial purposes. Kapasitas aki yang tertulis dalam satuan Ah ( Ampere hour ), yang menyatakan kekuatan aki, seberapa lama aki tersebut dapat bertahan mensuplai arus untuk beban/ load.
Battery capacity is written in units of Ah (Ampere hour), which states

battery power, how long the battery can last a supply current to the load / Load.

Cranking Ampere yang menyatakan seberapa besar arus start yang dapat disuplai untuk pertama kali pada saat beban dihidupkan. Aki kering biasanya mempunyai cranking ampere yang lebih kecil dibandingkan aki basah, akan tetapi suplai tegangan dan arusnya relatif stabil dan konsisten. Itu sebabnya perangkat audio mobil banyak menggunakan aki kering.
Cranking Amperes which states how much the starting current can be

supplied for the first time when the load is turned on. Dry batteries usually have cranking amperage battery that is smaller than wet, but the supply voltage and the current relatively stable and consistent. That's why a lot of car audio equipment using a dry battery.

Pemakaian dari aki itu sendiri apakah untuk kebutuhan rutin yang sering dipakai ataukah cuma sebagai back-up saja. Aki basah, tegangan dan kapasitasnya akan menurun bila disimpan lama tanpa recharge, sedangkan aki kering relatif stabil bila di simpan untuk jangka waktu lama tanpa recharge. The use of the battery itself whether for routine needs that are often used or just as a back-up only. Wet batteries, voltage and capacity will decreased when stored longer without recharging, while relatively stable when dry battery in save it for a long time without recharging. Harga karena aki kering mempunyai banyak keunggulan maka harganya pun jauh lebih mahal daripada aki basah. Untuk menjembatani rentang harga yang jauh maka produsen aki juga memproduksi jenis aki kalsium ( calcium battery ) yang harganya diantara keduanya. Prices for dry batteries have many advantages then the price is too much more expensive than wet batteries. To bridge the price range that far then battery manufacturers also produce battery type calcium (calcium battery) that cost between them. Secara garis besar, battery dibedakan berdasarkan aplikasi dan konstruksinya. Berdasarkan aplikasi maka battery dibedakan untuk automotif, marine dan deep cycle. Deep cycle itu meliputi battery yang biasa digunakan untuk PV ( Photo

Voltaic ) dan back up power. Sedangkan secara konstruksi maka battery dibedakan menjadi typebasah, gel dan AGM ( Absorbed Glass Mat ). Battery jenis AGM biasanya juga dikenal dgn VRLA ( Valve Regulated Lead Acid ). Broadly speaking, the battery is distinguished based on the application and construction. Based on the application then the battery is distinguished for the automotive, marine and deep cycle. Deep cycle battery that includes commonly used for PV (Photo Voltaic) and back up power. While the construction of the battery can be divided into type wet, gel and AGM (absorbed Glass Mat). Battery type is usually well known AGM with VRLA (Valve Regulated Lead Acid) . Battery kering Deep Cycle juga dirancang untuk menghasilkan tegangan yang stabil dan konsisten. Penurunan kemampuannya tidak lebih dari 12% per bulan tanpa perlu dicharge. Bandingkan dengan battery konvensional yang bisa mencapai 2% per minggu untuk self discharge. Konsekuensinya untuk charging pengisian arus ke dalam battery Deep Cycle harus lebih kecil dibandingkan battery konvensional sehingga butuh waktu yang lebih lama untuk mengisi muatannya. Antara type gel dan AGM hampir mirip hanya saja battery AGM mempunyai semua kelebihan yang dimiliki type gel tanpa memiliki kekurangannya. Kekurangan type Gel adalah pada waktu dicharge maka tegangannya harus 20% lebih rendah dari battery type AGM ataupun basah. Bila overcharged maka akan timbul rongga di dalam gelnya yg sulit diperbaiki sehingga berkurang kapasitas muatannya. Dry Deep Cycle Battery is also designed to generate a stable voltag and consistent. Decreased ability to not more than 1-2% per month without need to be charged. Comparing with conventional battery which can reach 2% per week for self-discharge. Consequently the charging current for charging into Deep Cycle battery must be smaller than that of conventional battery It took longer to fill the cargo. Between the type of gel and AGM almost similar except that AGM batteries have all the advantages of type gel without its drawbacks. Gel-type deficiency is charged at then the voltage should be 20% lower than AGM or wet-type battery. when overcharged it will arise in the cavity in a very difficult gelnya repaired so reduced cargo capacity. Karena tidak ada cairan yang dapat membeku maupun mengembang, membuat battery Deep Cycle tahan terhadap cuaca ekstrim yang membekukan. Itulah sebabnya mengapa pada cuaca dingin yang ekstrim, kendaraan yang menggunakan baterai konvensional tidak dapat distart alias mogok. Since there is no liquid that can freeze and expand, making Deep Cycle batteries are resistant to extreme freezing weather. that is why why in the extreme cold weather,vehicles using conventional batteries can not be distart or strike.

Ada 2 rating untuk battery yaitu CCA dan RC. There are two ratings for the battery are CCA and RC. CCA ( Cold Cranking Ampere ) menunjukkan seberapa besar arus yang dapat dikeluarkan serentak selama 30 detik pada titik beku air yaitu 0 derajad Celcius. CCA (Cold Cranking Amperes) shows how much current can issued simultaneously for 30 seconds at the freezing point of water is 0 degrees Celsius. RC ( Reserve Capacity ) menunjukkan berapa lama ( dalam menit ) battery tersebut dapat menyalurkan arus sebesar 25A sambil tetap menjaga tegangannya di atas 10,5 Volt. RC (Reserve Capacity) indicates how long (in minutes) battery is can deliver a current of 25A while still keeping its voltage above 10.5 Volt. Battery Deep Cycle mempunyai 2-3 kali lipat nilai RC dibandingkan battery konvensional. Umur battery AGM rata-rata antara 5-8 tahun. Deep Cycle Battery has a 2-3 fold compared to the value of RC conventional battery. AGM battery life average between 5-8 years. BAB IV Perencanaan dan Perhitungan PLTS CHAPTER IV Planning and Calculation PLTS Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Solar Power Generation Plan Karena pembangkit listrik tenaga surya sangat tergantung kepada sinar matahari, maka perencanaan yang baik sangat diperlukan. Perencanaan terdiri dari: Because solar power is dependent upon sunlight, so good planning is indispensable. Planning consists of: Jumlah daya yang dibutuhkan dalam pemakaian sehari-hari (Watt). power needed in everyday use (Watt). Berapa besar arus yang dihasilkan panel surya (dalam Ampere hour), dalam hal ini memperhitungkan berapa jumlah panel surya yang harus dipasang. The resulting large current solar panels (in Ampere hour), in this case calculate how many solar panels to be installed. Berapa unit baterai yang diperlukan untuk kapasitas yang diinginkan dan pertimbangan penggunaan tanpa sinar matahari. (Ampere hour). How many units of batteries required for the desired capacity and without consideration of the use of sunlight. (Ampere hour).

Dalam nilai ekonomi, pembangkit listrik tenaga surya memiliki nilai yang lebih tinggi, dimana listrik dari PT. PLN tidak dimungkinkan, ataupun instalasi generator listrik bensin atau solar. Misalnya daerah terpencil seperti: pertambangan, perkebunan, perikanan, desa terpencil, dll. Dari segi jangka panjang, nilai ke-ekonomian juga tinggi, karena dengan perencanaan yang baik, pembangkit listrik tenaga surya dengan panel surya memiliki daya tahan 20 - 25 tahun. Baterai dan beberapa komponen lainnya dengan daya tahan 3 - 5 tahun. In economic value, solar power plants have a higher value, where electricity from the PT. PLN is not possible, or installation of gasoline or diesel electric generators. Eg remote areas such as: mining, plantation, fishery, a remote village, etc.. In terms of long-term, value to the economy is also high, because with good planning, solar power plants with solar panels have the durability of 20-25 years. Batteries and several other components with durability 3-5 years. Diagram Pembangkit Listrik Tenaga Surya Diagram of Solar Power Generation Diagram instalasi pembangkit listrik tenaga surya ini terdiri dari solar panel,charge controller, inverter, baterai. Diagram of the installation of solar power generation is made up of solar panels,charge controllers, inverters, batteries. Dari diagram pembangkit listrik tenaga surya diatas : beberapa solar panel di paralel untuk menghasilkan arus yang lebih besar. Combiner pada gambar diatas menghubungkan kaki positif panel surya satu dengan panel surya lainnya. Kaki/ kutub negatif panel satu dan lainnya juga dihubungkan. Ujung kaki positif panel surya dihubungkan ke kaki positif charge controller, dan kaki negatif panel surya dihubungkan ke kaki negatif charge controller. Tegangan panel surya yang dihasilkan akan digunakan oleh charge controller untuk mengisi baterai. Untuk menghidupkan beban perangkat AC (alternating current) seperti Televisi, Radio, komputer, dll, arus baterai disupply oleh inverter. From the diagram above solar power plants: some solar panels in parallel to generate larger currents. Combiner in the image above to connect the positive leg of solar panels to each other solar panels. Leg / negative pole panel is also connected to one another. Positive toe solar panels connected to the foot of the positive charge controller, solar panels and a negative leg is connected to the foot of the negative charge controller. Voltage of solar panels produced will be used by the charge controller to charge the battery. To turn the load device is AC (alternating current) such as Television, Radio, computer, etc., the battery current supplied by the inverter.

Instalasi pembangkit listrik dengan tenaga surya membutuhkan perencanaan mengenai kebutuhan daya: Installing a solar power plant with required planning regarding power requirements: Jumlah pemakaian The number of usage Jumlah solar panel The number of solar panels Jumlah baterai Number of batteries

Menghitung Kebutuhan PLTS Calculating Needs PLTS Sebagian besar orang selalu menanyakan kapasitas PLTS dengan ukuran listrik PLN, seperti 450W, 900 W dan seterusnya. Kapasitas terpasang tersebut dalam PLTS sering disebut sebagai Wp (Watt Peak) yang menunjukkan kapasitas dari modul surya pada saat matahari dalam kondisi terik/puncak. Kapasitas modul surya yang tersedia sangat banyak: 10 Wp, 30 Wp, 40 Wp, 50 Wp, 65 Wp, 70 Wp, 80 Wp, 100 Wp, 125 Wp, 150 Wp, dan 160 Wp. Untuk menghitung berapa PLTS yang dibutuhkan, dapat diikuti tahapan sebagai berikut: Most people are always asking PLTS capacity to measure electricity, such as 450W, 900 W and so on. The installed capacity in the PLTS often referred to as Wp (Watt Peak) which shows the capacity of solar modules at the blazing sun in a state / peak. The capacity of solar modules that are available are very much: 10 Wp, 30 Wp, 40 Wp, 50 Wp, 65 Wp, 70 Wp, 80 Wp, 100 Wp, 125 Wp, 150 Wp, 160 Wp and. To calculate how PLTS are needed, can be followed stage as the following:

a. Modul surya akan menghasilkan listrik sesuai dengan tingkat radiasi matahari yangditerimanya. Tingkat radiasi ini berbeda dari satu tempat ke lainnya, dipengaruhi oleh letak lokasi dari khatulistiwa (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), awan, tingkat polusi, kelembaban, dan suhu. Namun demikian untuk memudahkan, di Indonesia dapat dipakai patokan 1 modul surya kapasitas 120Wp dapat menghasilkan listrik sebesar 120 Wh (Watt hour atau Watt Jam) per hari. a. Solar modules will generate electricity in accordance with the level of solar radiation yangditerimanya. These radiation levels differ from one place to another, influenced by the location of the location of the equator (latitude), altitude (altitude), the cloud, the level of pollution, humidity, and temperature. However, to facilitate, in Indonesia can be used a benchmark a solar module can produce electricity 120Wp capacity of 120 Wh (Watt hour or Watt Hours) per day. b. Untuk menghitung berapa listrik yang akan diperlukan untuk mengoperasikan peralatan elektronik (Wh), kalikan Watt (AC ataupun DC) peralatan dengan lamanya (Jam) peralatan tersebut akan dipakai setiap hari (kumulatif). Misal, jika 1 buah lampu 10 watt, ingin dinyalakan dalam satu hari kumulatif selama 15 jam, maka akan dibutuhkan listrik sebanyak 10 Watt x 1 buah x 15 Jam = 150 Wh (Watt Jam-Watt Hour). Masukkan peralatan lainnya dalam kalkulasi berikut: b. to calculate how much electricity would be needed to operate the electronic equipment (Wh), multiply Watts (AC or DC) equipment to the duration (hours) equipment will be used every day (cumulative). For example, if a 10-watt lamps, turned in one day want cumulative for 15 hours, it will need as much electricity as 10 Watt x 1 pc x 15 hours = 150 Wh (Watt-Hours Watt Hour). Enter the other equipment in the following calculation: Penerangan rumah: 10 lampu CFL @ 15 Watt x 4 jam sehari = 600 Watt hour. Home lighting: 10 @ 15 Watt CFL lamp x 4 hours per day = 600 Watt hours. Televisi 21": @ 100 Watt x 5 jam sehari = 500 Watt hour Televisions 21 ": @ 100 watts x 5 hours per day = 500 Watt hours Kulkas 360 liter : @ 135 Watt x 24 jam x 1/3 (karena compressor kulkas tidak selalu hidup, umumnya mereka bekerja lebih sering apabila kulkas lebih sering dibuka pintu) = 1080 Watt hour

Fridge 360 liters @ 135 Watts x 24 hours x 1 / 3 (for refrigerator

compressors are not always lives, they generally work more often when the refrigerator is opened more often door) = 1080 Watt hours

Komputer : @ 150 Watt x 6 jam = 900 Watt hour Computers: @ 150 Watts x 6 hours = 900 Watt hours Perangkat lainnya = 400 Watt hour Other devices = 400 Watt hour Total kebutuhan daya = 3480 Watt hour Jumlah panel surya yang dibutuhkan, satu panel kita hitung 120 Wp (perhitungan adalah 5 jam maksimun tenaga surya): The total power requirement = 3480 Watt hours The number of solar panels required, one panel we count 120 Wp (the calculation is 5 hours of solar maximum): Kebutuhan panel surya : ( 3480 / (120 x 5) ) = 6 panel surya. The needs of solar panels: (3480 / (120 x 5)) = 6 solar panels. Dengan dimensi pada panel surya ( Panjang x Lebar x Tinggi ) = 1499 x 662 x 46 (mm) Jumlah kebutuhan batere 12 Volt dengan masing-masing 100 Ah: With the dimensions of the solar panel (Length x Width x Height) = 1499 x 662 x 46 (mm) Total demand 12 volt batteries with 100 Ah each: Kebutuhan batere minimun (batere hanya digunakan 50% untuk pemenuhan kebutuhan listrik), dengan demikian kebutuhan daya kita kalikan 2 x lipat : 3480 x 2 = 6960 Watt hour = 6960 / 12 Volt / 100 Amp = 6 batere 100 Ah. Needs minimum battery (batteries only used 50% for compliance demand for electricity), so we multiply the power requirement of 2 x folding: 3480 x 2 = 6960 Watt hour = 6960 / 12 Volt / 100 Amp = 6 100 Ah batteries. Kebutuhan batere (dengan pertimbangan dapat melayani kebutuhan 3 hari tanpa sinar matahari) : 3480 x 3 x 2 = 20880 Watt hour =20880 / 12 Volt / 100 Amp = 17 batere 100 Ah. Needs batteries (with consideration to serve the needs of 3 days without sunlight): 3480 x 3 x 2 = 20 880 Watt hour = 20880 / 12 Volt / 100 Amp = 17 100 Ah batteries.

Panel Surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya Membangkitkan listrik sendiri di rumah? Itu dimungkinkan dengan pemasangan panel surya / solar cell, panel surya - solar cell mengubah sinar matahari menjadi listrik. Listrik tersebut disimpan di dalam aki, aki menghidupkan lampu.
Generating your own electricity at home? It was made possible with the installation of solar panels / solar cell, solar panels - solar cells convert sunlight into electricity. Electricity is stored in the battery, battery lights turn on.

Dalam penggunaan panel surya / solar cell untuk membangkitkan listrik di rumah, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan karena karakteristik dari panel surya / solar cell:
In the use of solar panels / solar cell to generate electricity at home, there are some things we need to consider because of the characteristics of solar panels / solar cell:

Panel surya / solar cell memerlukan sinar matahari. Tempatkan panel surya / solar cell pada posisi dimana tidak terhalangi oleh objek sepanjang pagi sampai sore. Solar panels / solar cell requires sunlight. Place the solar panel / solar cell at the position where not obstructed by objects throughout the morning until afternoon. Panel surya - solar cell menghasilkan listrik arus searah DC. The solar panels - solar cell produces direct current DC electricity. Untuk efisiensi yang lebih tinggi, gunakan lampu DC seperti lampu LED. For higher efficiency, use DC lights such as LED lamps.

Instalasi kabel baru khusus untuk arus searah DC untuk perangkat berikut ini misalnya: lampu penerangan berbasis LED (Light Emiting Diode), kamera CCTV, wifi (wireless fideliity), dll. Installing a new cable for direct current DC to the following example: LED based lighting (Light Emiting Diode), CCTV cameras, wifi (wireless fideliity), etc. Kalau kita membuat rumah baru, disarankan untuk menggunakan PLN dan panel surya / solar cell. Panel surya / solar cell digunakan untuk sebagian

penerangan (dalam hal ini menggunakan arus searah DC) dan PLN untuk perangkat arus bolak balik AC seperti: Air Conditioning, Lemari Es, sebagian penerangan dll. If we make a new home, it is advisable to use electricity and solar panels / solar cell. The solar panel / solar cell is used for partial lighting (in this case using direct current DC) and PLN for alternating current AC devices such as: Air Conditioning, Fridge, some lighting, etc.. Bila listrik DC yang tersimpan dalam aki ingin digunakan menyalakan perangkat AC: pompa air, kulkas, dsbnya maka diperlukan inverter yang dapat mengubah listrik DC menjadi AC. Sesuaikan kebutuhan daya yang dibutuhkan dengan panel sel surya, inverter, aki. When the DC electricity stored in batteries to power the device used AC: water pumps, refrigerators, etc. it is necessary that the inverter can change DC power into AC. Adjust the power requirements needed by solar cell panels, inverters, batteries. Lampu LED sebagai Penerangan Rumah (Led Lights For Home Lighting) Saat ini sudah ada lampu hemat energi yang menggunakan DC seperti lampu LED. Bandingkan lampu LED 3 Watt setara dengan Lampu AC 15 Watt. There is now using energy saving light bulbs like LED light DC. Compare 3 Watt LED light the equivalent of 15 Watt AC lamp. Kekurangannya adalah (the drawback is): * Instalasi kabel baru untuk lampu LED. * Installation of new wiring for the LED lights. * Biaya pengadaan lampu yang lebih mahal. * The costs of the lights are more expensive. Keuntungannya adalah(the advantage is): * Penggunaan energi yang kecil * The use of small energy * Keandalan lampu LED 10 x lampu standard biasa * Reliability LED lights standard 10 x normal * Penggunaan kabel listrik 2 inti. * Use 2 core power cable.

BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Dari hasil pengamatan makalah ini, kami menyimpulkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memiliki banyak keuntungan apalagi jika di kebangkan di indonesia yang sangat berpotensi karena beriklim tropis, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mungkin bisa di gunakansebagai pengganti pembangkit listrik berbahan fosil. From the observation of this paper, we conclude that the Solar Power Generation (PLTS) has many advantages especially if the kebangkan in Indonesia is very potential for tropical climates, and Solar Power (PLTS) may be in gunakansebagai substitute for fossil fired power plants.

5.2 SARAN Pembangkit Listrik Tenaga Surya dapat menggantikan pembangkit listrik berbahan fosil yang tidak dapat diperbaharui sehingga cocok dikembangkan di daerah tropis seperti Indonesia. Solar Power could replace fossil fired power plants that can not be updated so that it fits developed in tropical regions such as Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA REFERENCES [ SOLAR-PANEL.PDF] http://www.tenaga-surya.com/index.php/solar-panel http://www.tenaga-surya.com/index.php/charge-controller http://www.tenaga-surya.com/index.php/inverter http://www.tenaga-surya.com/index.php/batere INFORMASI UMUM PLTS.PDF - Abdul Kholik http://www.tcpdf.org