Anda di halaman 1dari 4

10.

4 PERSAMAAN-PERSAMAAN MAXWELL DALAM BENTUK INTEGRAL


Bentuk integral dari persamaan-persamaan Maxwell biasanya lebih mudah dikenali jika
dikait kan dengan hokum-hukum eksperimentalyang menghasilkannya,lewat suatu proses
generalisasi. Eksprimen-eksperimen dan percobaan-percobaan Iisika berurusan dengan besaran-
besaran dalam skala makrosopik,dan oleh sebab itu hasil-hasil yang diperolah darinya harus
dinyatakan dalam bentuk persamaan-persamaan integral. Sebuah persamaan diIerensial selalu
mempresentasikan sebuah teori. Sekarang, marilah kita menuliskan bentuk integral dari semua
persamaan Maxwell yang telah dijabarkan pada subbab10.3
Dengan mengintegrasikan (20) untuk seuah permukaan dalam bentuk yang sangat umum,
dan penerapan teorema Stoke, kita dapat memperoleh hukum Faraday.
}. I = -]
s
B
t
. (33)
Dan proses yang sama diterapkan pada (21) untuk mendapatkankembali hukum rangkaian
Ampere,

}E. I = + ]
s

st
. (34)
Hukum Gauss untuk medan listrik dan medan magnet dapat diperoleh kembali dengan
mengintegrasikan (22) dan (23) untuk sebuah volume dalam bentuk umum,dan menerapkan
teorema divegensi :

] . = ] p
oI s
v
dv (35)

] B. dS =
s
(36)
Keempat persamaan integral ini memungkinkan kita mengetahui kondisi-kondisi bidang
batas dari B. D. H. dan F, yang dibutuhkan untuk menentukankonstanta-konstanta yang muncul
saat kita memecahkan persamaan-persamaan Maxwell dalam bentuk diIerensial parsial. Kondisi-
kondisi batas untuk medan-medan Iungsi waktu secara umum tidak berubah dari bentuknya
untuk medan-medan statis, dan metode yang serupa dapat dipakai untuk menurunkannya. Pada
bidang perbatasan antara sembarang dua medium Iisik di dunia nyata (dimana K harus nol pada
bidang ini), persamaan (33) memungkinkan kita untukmengubungkan komponen-komponen
tangensilmedan F.
E
t1
E
t2
(37)
Dan dari (34),
H
t1
H
t2
(38)
Kedua persamaan integral permukaan (35) dan (36) menghasilkan kondisi-kodisi batas untuk
komponen-komponen normal,
D
N1

N2
p
S
(39)

N1

N2
(40)

Seringkali, kita harus menggunakan sebuah aproksimasi teoretis (ideal) untuk
permasalahan-permasalahan Iisika tertentu,dimana sebuah konduktor ideal yang memiliki o tak
terhingga namun J berhingga diasumsikan ada. Dari hukum Ohm,kita dapat mengetahui bahwa
didalam sebuah bahan kondoktor ideal,
E 0
Dan dari bentuk titik hukum Faraday,
H 0
untuk medan-medan Iungsi waktu.ntuk titik hukum rangkaian Ampere selanjutnya
memperlihatkan kepada kita bahwa nilai berhingga J ini adalah
J 0
dan karenanya arus harus bergerak tepat di permukaan pada bahan konduktor ideal,sebagai
kerapatan arus permukaan K . sehingga, jika daerah 2 ditempati olehsebuah konduktor ideal
persamaan (37) hingga (40) secara berurut akan berubah menjadi,
E
t1
0 (41)
H
t1
K (H
t1
K a
N
) (42)
D
N1
p
S
(43)

N1
0 (44)
Dinana ,

adalah arah normal keluar pada bidang permukaan konduktor.
Perhatikan bahw kerapatan muatan permukaan dianggap ada secara Iisik pada
bahanbahan dielektrum, konduktor ideal maupun konduktor non-non ideal,namun kerapatan arus
permukaan diasumsikan hanya ada pada bahan koduktor deal.
Kondisi-kondisi batas yang dijabarkan diatas merupakan bagian yang tidak terpisah dari
persamaampersamaan Maxwell. Semua persoalan Iisika di dunia nyata melibatkan bidang-
bidang perbatasasn antara dua buah medium atau lebih, dan menuntut solusi persamaan-
persamaan Maxwell di tiap-tiap medium,sesuai dengan kondisi-kondisi batas yang diberikan.
Dalam kasus bahan konduktor ideal, persamaan-persamaan Maxwell di dalam konduktor
dapatmemiliki lebih dari satu solusi, atau bersiIat trival (semua medan Iungsi waktu bernilai nol
di sini), namun penerapan kondisi-kondisi batas (41) hingga (44)dapat menjadi sangat sulit.
Karakteristik-karaktristik tertentu dari propagasi gelombang akan Nampak ketika kita
memecahkan persamaan-persamaan Maxwell untuk satu daerah yang tidak memiliki kondisi-
kondisi bata (unbounded). Persamaan ini dibicarakan dalam bab 12 nanti. Permasalahan ini
merupakan penerapan paling sederhana dari persamaan-persamaan Maxwell, karena merupakan
satu-satinya yang tidak membutuhkan kondisi-kondisi batas.
D10.5. vertor satuan 0,64a
x
0,6a
y
-,8a
z
mengarah dari daerah 2 ( e
r
2, p
r
3,
o
2
0) ke daerah 1 (e
r1
5, p
r1
2, o
1
0). Jika B
1
(a
x
-2a
y
3a
z
)sin 300
t
T dititik P
yang berbeda dibidang perbatasan antara ke dua daerah, tentukan amplitudo di P dari (a)
B
N1;
(b) B
t2
; (c) B
N2
; (d) B
2.
Jawaban. (a) 200 T; (b) 3,16 T; (c) 2,00 T; (d) 5,15 T
D10.6 permukaan y 0 adalah sebuah bahan kondoktor ideal, sedangkan derah y ~ 0
memiliki e
r
5, p
r
3 dan o 0. Bila E 20 cos (2
8
t 2,58
z
)a
y
V/m untuk y ~
0, tentukan pada t 6 ns: (a) p
s
di P(2; 0; 0,3); (b) H di p; (c) K di P.
Jawaban. (a) 0,81 nC/m
2
; (b) -62,3a
x
mA/m; (c)-62,3a
z
mA/m.