Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS PATOLOGIS DENGAN BENDUNGAN ASI TERHADAP NY.

D DI RSUD DARMAYU KECAMATAN PONOROGO

I. PENGKAJIAN 1.1 Data Subyektif Anamnesa ini dilakukan oleh Diyan Riyanti, mahasiswi Akbid Karya Husada Kediri tanggal 3 Desember 2011, jam 19.00 di Ruang Nifas RSUD Darmayu Ponorogo. 1.1.1. Identitas Nama Umur : Ny. D : 28 Tahun Nama Suami Umur Pendidikan Agama Alamat : Tn. S : 32 Tahun : SMA : TNI- AL : Islam : Tridatu. Jl Mawar No. 2 Ponorogo

Pendidikan : S1 Agama Alamat 1.1.2. : Islam : Tridatu Jl. Mawar No. 2 Ponorogo Keluhan Utama

Pekerjaan : Staf Cargo Bandara Pekerjaan Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Ibu mengatakan kedua payudaranya bengkak dan mengeras serta terasa sangat nyeri sejak 3 Desember 2011 jam 18.00 WIB 1.1.3. Riwayat Menstruasi Menarche Siklus menstruasi Lama menstruasi Banyaknya darah Konsistensi Dismenorea Fluor albus HPHT HPL : umur 13 tahun : 30 hari : 7 hari : hari 1-3x/hari ganti pembalut, hari 4-7 2x/hari ganti pembalut : cair, warna merah : tidak pernah : Ya, sebelum menstruasi, warna putih jernih, tidak gatal, tidak berbau : 15 Februari 2010 : 22 November 2011

1.1.4.

Status Perkawinan Menikah Lama :1x : 1 th


Tempat Usia Jenis Faktor Jenis Keadaan

1.1.5.

Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu


No Tgl/Tahun 1. 1-12-2011 Persalinan Kehamilan Kehamilan RS 39 mgg SC Penolong Dr. Obgin Penyulit Kehamilan anak HIS tdk 3000gr/ Hidup L adekuat 48cm sehat BB/PB

1.1.6.

Riwayat Persalinan Sekarang Persalinan melalui operasi Caesar, bayi lahir tanggal 1 Desember 2011, pukul 18.40 WIB. Jenis Kelamin laki-laki, BB:3600 gram, PB: 53 cm

1.1.7.

Riwayat Kesehatan Keluarga Keturunan kembar Penyakit menurun : Tidak ada : HT, DM, Asma tidak ada

Penyakit lain dalam keluarga : Typus, DM tidak ada 1.1.8. Riwayat Kesehatan Sekarang Penyakit menurun Penyakit menahun Penyakit menular 1.1.9. Latar Belakang Sosial Budaya - Pantangan sesudah melahirkan : ibu belum boleh makan dan minum, sebelum ibu buang angina - Kebiasaan keluarga yang menghambat setelah melahirkan : Tidak ada - Kebiasaan keluarga yang menunjang : mendampingi ibu dan ikut membantu ibu melakukan aktivitas - Dukungan dari suami : mendampingi ibu - Dukungan keluarga 1.1.10. Keadaan Psikososial - Taking in Ibu merasa lemah sehingga masih bergantung dengan orang lain - Taking Hold : mendampingi ibu dan membantu ibu : DM,Hipertensi tidak ada : paru,jantung, hati tidak ada : hipertensi, HIV/ Aids tidak ada

Ibu sudah mampu merawat dirinya, namun ibu belum percaya diri Merawat bayinya. - Letting Go __ - Post partum Blues __ 1.1.11. Pola Kebiasaan Sehari-hari a. Pola Nutrisi Selama hamil : makan 3 kali sehari, porsi cukup, menu seimbang, (nasi, sayur, lauk, dan buah ) minum 8 gelas/ hari Setelah melahirkan : makan 3x/ hari, porsi cukup, menu nasi, sayur, lauk (telur/ ikan )dan buah, minum air putih 6 gelas/ hari Masalah b. Pola Eliminasi Selama hamil Setelah melahirkan Masalah c. Pola Istirahat Tidur Sebelum hamil Setelah melahirkan d. Pola Aktivitas Sebelum hamil : Ibu tetap bekerja sebagai staf cargo Bandara hingga usia kehamilannya 8 bulan Setelah melahirkan : Ibu hanya berjalan-jalan sekitar ruang an, dan memberikan minum susu buatan pada bayinya e. Perilaku Kesehatan : Tidur malam 8 jam, siang jarang tidur, sejak sakit tidur, makan + 4 5 jam : Tidur malam 6 jam, siang tidak tidur, makan + 5-6 jam : BAB 1x/ hari (lembek, warna kuning tua ) BAK 5-6 x/ hari (warna kuning jernih) : belum BAB BAK 5-6 x/ hari (warna kuning jernih) : tidak ada : tidak ada

- Personal Hygiene

: mandi dan menggosok gigi :2x / hari Ganti pakaian :2x / hari Setelah melahirkan : ibu ganti pakaian Pakaian dalam dan pembalut setiap kali kencing

1.2 Data Obyektif 1.2.1 Riwayat Persalinan Sekarang Ibu melahirkan secara SC atas indikasi drip oksitosin gagal tanggal 1Desember 2011 jam 18.40. Operasi SC dilakukan dengan insisi medialis. Bayi lahir normal tanpa ada kelainan / tidak cacat, berjenis kelamin lakilaki, BBL:3600 gr PB: 53 cm A-S: 8-9, ketuban keruh 1.2.2 Pemeriksaan Umum Kesadaran : Composmentis TD Nadi a. Inspeksi Kepala : bersih, tidak berketombe, rambut hitam, tidak ada benjolan/tumor Muka Mata : tidak ada kelainan pada wajah : konjungtiva merah simetris kiri dan kanan sclera normal, tidak ada pembenkakan pada mata, fungsi penglihatan normal Mulut Telinga Leher Hidung Dada : merasa mulut tidak ada sariawan, keadaan bersih, gigi tidak ada caries : simetris, bersih, tidak ada peradangan, fungsi pendengaran normal : tidak ada kelainan pembesaran kelenjar dan vena jugularis : bersih, simetris tidak ada polip, funsi penciuman normal : simetris, tidak pembengkakan pada payudara kanan dan kiri, hyperpigmentasi areola, papilla mamae kotor mendatar, tidak ada benjolan, tumor, ASI sudah keluar, puting susu :120/ 70mmHg : 86 x/ menit Rr: 20 x / menit Sh : 37 0C

1.2.3 Pemeriksaan Khusus

Abdomen

: terdapat luka operasi insisi medialis yang masih tertutup kasar, terdapat linea nigra, striae gravidarum albican, tidak ada pembesaran lien

Ekstermitas Atas : tangan tidak ada oedema/pergerakannormal Ekstremitas Bawah : tidak ada oedema pada kaki tidak ada varices, reflek patella dan baik, pererakan normal tidak ada bekas luka, masih tampak cairan lochea rubra, kecocokan dan bau busuk, Genetalia a. Palpasi Leher Dada Perut : Tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid : Tidak ada benjolan, terdapat nyeri tekan, payudara teraba keras, ASI sudah keluar : TFU : 2 jari bawah pusat U.C : baik Kandung kemih : kosong Ekstremitas atas dan bawah : Tidak oedem, tidak ada kekauan sendi b. Auskultasi : Bunyi jantung lub dup normal c. Perkusi : Refleks patella +/+ : vulva vagina merah kehitaman tidak ada varices, tidak ada oedem, lochea rubra, tidak ada tumor

1.2.4 Pemeriksaan Lab HB Post Operasi: 11 gr %

II. INTERPRETASI DATA DASAR Diagnosa/Masalah/ Kebutuhan Diagnosa P1001 post SC hari ke-2 Data Subyektif Ibu mengatakan melahirkan anak keduanya secara SC tanggal 01-12-2011 jam 18.40 WIB jenis kelamin laki-laki, BB: 3200 gram, PB : 51 cm Data Obyektif KU ibu: baik TTV: TD: 110/70 mmHg Nd : 80 x/menit Rr : 20 x/menit Sh : 36,7C TFU : 2 jari bawah pusat Kandung kemih kosong U.C : baik Keluar lokea rubra Terdapat luka operasi meditalis yang masih ditutup kassa

Masalah: Bendungan ASI

Kebutuhan : Ibu mengatakan kedua Inspeksi Perawatan luka payudaranya bengkak Dada: pembengkakan seksio sesarea mulai dan keras pada payudara kanan/kiri hhari kedua post operasi Ibu mengatakan Palpasi Perawatan payudaranya terasa Dada: terdapat nyeri payudara nyeri tekan pada payudara. Bimbingan cara Payudara teraba kera menyusui yang benar III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL Potensial terjadinya mastitis DO : ibu mengatakan payudaranya bengkak dan terasa nyeri DS : Terdapat pembengkakan payudara kanan dan kiri Terdapat nyeri tekan IV. KEBUTUHAN SEGERA Perbaiki KU ibu Perawatan payudara Kolaboraasi dengan dokter dalam pemberian terapi Amoxicillin 500 mg 3x1 Asam mefenamat 500 mg 3x1

V. INTERVENSI Diagnosa/masalah Intervensi Dx: P post SC hari ke-2 1. Lakukan komunikasi Tujuan: setelah dilakukan terapeutik dengan klien asupan kebidanan 1x24 jam diharapkan ibu mampu melewati masa nifasnya dengan normal tanpa komplikasi. 2. Observasi TTV, TFU, Kriteria hasil: kontraksi uterus, kandung kemih, lokea KU ibu baik TTV dalam batas normal 3. Anjurkan ibu untuk mobilisasi dini TFU normal UC baik Tidak terjadi infeksi Rasional 1. Komunikasi terapeutik mampu menjalin hubungan baik antara ibu dengan nakes sehingga nakes dapat dengan mudah menggali masalah klien 2. Deteksi dini adanya komplikasi dan pencegahan dini 3. Mobilisasi dini dapaat memperlancar sirkulasi darah, mencegah flebitus dan mampu mempercepat proses involusi 4. Membantu proses regenerasi sel-sel yang telah rusak, sehingga mempercepat proses involusi

Masalah: Bendungan ASI

Kriteria Hasil: Payudara tidak bengkak dan tidak mengeras Payudara tidak terasa nyeri Bendungan ASI dapat teratasi

4. Anjurkan pada ibu makan makanan yang bergizi (4 sehat 5 sempurna) terutama makanan yang mengan dung protein 5. Lakukan perawaatan luka 5. Perawatan luka jahitan pada hari ke-3 merupakan salah satu caraa mencegah terjadinya infeksi 6. Kolaborasi dengan 6. Terapi yang tepat dapat dokter dalam pemberian mempercepat proses terapi penyembuhan 7. Jelaskan pada ibu tentang 7. Pemberiaan informasi dari keadaannya nakes dapat menenangkan ibu 8. Ajari ibu cara merawat 8. Dengan melakukan payudara. perawatan payudara, aliran darah pada payudara menjadi lancar sehingga ductus lactiferus tidak tersumbat dan proses laktasi berjalan lancar 9. Ajari ibu meneteki yang 9. Bayi mampu menyusu benar dengan baik, sehingga

10. Anjurkan untuk memberikan kompres hangat pada payudara sebelum meneteki

ASI tidak terbendung 10. Kompres hangat mampu memperlebar pembuluh darah sehingga proses sirkulasi berjalan lancar 11. Berikan kompres dingin dan nyeri hilang pada dada setelah 11. Mengurangi rasa nyeri menyusui dan mengurangi bengkak pada payudara VI. IMPLEMENTASI Tanggal/ Jam Tanggal 03-11-2011 Jam 08.00 WIB Implementasi 1. Melakukan komunikasi terapeutik dengan klien Menyapa klien Menanyakan keadaan klien Mendengarkan semua keluhan klien 2. Menganjurkan pada ibu untuk mobilisasi dini Berjalan-jalan di sekeliling ruangan Ke kamar mandi sendiri Belajar merawaat bayi sendiri (mengganti popok saat bayi kencing dan buang air besar) 3. Meganjurkan pada ibu makan makanan yang bergizi (4 sehat 5 sempurna) terutama makanan yang mengan dung protein misalnya telur, tahu, tempe, ikan, daging 4. Menjelaskan pada ibu bahwaa ibu mengalami bendungan ASI dan masalaah ini dapat diatasi dengan cara menyusui dengan baik 5. Menganjurkan ibu agar mengompres payudaranya dengan air hangat sebelum menyusui 6. Mengajari ibu cara meneteki dengan benar Telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus Perut bayi menghadap perut ibu Mulut bayi terbuka lebar menutupi sebagian besar daerah areola mammae Dagu bayi menempel pada payudara Menyusui bayi pada kedua payudara secara bergantian sampai payudara terasa kosong Olesi puting susu sebelum menyusui 7. Menganjurkan pada ibu agar mengompres payudaranya dengan air dingin setelah meneteki 8. Mengobservasi TTV, TFU, kontraksi uterus, kandung

Jam 08.10 WIB

Jam 08.20 WIB

Jam 08.30 WIB

Jam 08. 40 WIB

Jam 09.00 WIB Jam 09.05 WIB

Jam 09.25 WIB

Jam 09.40 WIB

kemih, dan lokea TD : 110/70 mmHg Nd : 80 x/menit Sh : 36,6 C Rr : 20 x/menit TFU: 2 jari bawah pusat UC : baik Kandung kemih : kosong Lokea : sanguiolenta 9. Mengajari ibu cara perawatan payudara Puting susu ditutup dengan kapas yang diberi baby oil/ minyak kelapa selama 2 menit Bersihkan puting susu dan perbaiki puting susu dengan menarik puting susu ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah Oleskan minyak ke payudara dengan jari-jari tangan dilakukan pengurutan mulai dari pangkal payudara ke arah puting susu secara menyeluruh Kedua telapak tangan diletakkan di tengah diantara kedua payudara ke arah puting susu secara menyeluruh Urut payudara dengan ujung-ujung ruas jari mulai dari pangkal ke arah puting susu Urut payudara dengan arah zigzag seperti huruf Z dari atas ke bawah Membilas dengan air hangat, kemudian dengan air dingin 10. Kolaboraasi dengan dokter dalam pemberian terapi Amoxicillin 500mg Asam Mefenamat 500mg Vitarma

VII. EVALUASI Tanggal : 04-11-2011 Jam: 07.00 WIB S : Ibu mengatakan masih terasa nyeri pada payudaranya Ibu mengatakan sudah mampu meneteki bayinya dengan baik Ibu mengatakan mengerti tentang nasehat yang telah diberikan TD : 110/70 menit Nd : 80 x/menit dan Kandung kemih : kosong Bengkak pada payudara kanan

Sh : 36,6 C Rr : 22 x/menit Lokea : sanguiolenta UC : baik P post SC hari ke-3

kiri berkurang namun masih terdapat nyeri tekan Ibu terlihat mampu meneteki bayi nya dengan baik

Masalah bendungan payudara terataasi sebagian Observasi TTV, TFU, Lokea, kontraksi uterus, kandung kemih dan proses laktasi Lakukan perawatan luka operasi Anjurkan untuk melakukan perawatan payudara Anjurkan pada ibu untuk tetap meneteki bayinya dengan benar Berikan kompres hangat sebelum meneteki dan kompres dingin sesudah meneteki Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan terapi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap wanita setelah melahirkan, akan melampaui masa yang dinamakan dengan masa nifas (puerperium) yang merupaakan masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan dan lamanya 6 minggu (42 hari). Selama masa ini sangat diperlukan pengawasan yang baik. Tidak sedikit kematian maternal terjadi pada masa post portum. Perhatian yang paling besar terutama pada masa nifas, karena ini akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak. Masalah yang paling sexing muncul pada ibu post portum pada minggu pertama post portum adalah terjadinya bendungan ASI. Hal ini disebabkan karena bayi menyusu kurang baik sedangkan produksi ASI semakin meningkat. Hal inilah yang melatar belakangi dalam menyusui Askeb ini.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum Dapat memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan baik 1.2.2 Tujuan Khusus

Mengetahui pengertian masa nifas Mengetahui involusi alat-alat kandungan Mengetahui klinik nifas Mengetahui Fase Adaptasi Post Portum Mengetahui tentang masalah bendungan ASI Mengetahui tentang Seksio sesarea 1.3 Ruang Lingkup
Dalam laporan in penulis mengambil kasus "Asuhan Kebidanan pada Ny. "R" P10001 post operasi hari ke-2".

1.4 Tempat
Rumkital Dr. Ramelan Suarabaya di ruangan E II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Nifas
2.1.1

Pengertian Masa nifas/ puerperium adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pm. hamil. Lama masa nifas ini adalah 6-8 minggu (Mochtar, 1998: 15). Nifas dibagi dalam 3 periode : a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu c. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi

2.1.2

Involusi Alat-alat Kandungan Yaitu perubahan-perubahan alat-alat kandungan atau genital dalam keseluruhannya.
2.1.2.1

Uterus Secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

Involusi Bayi lahir Uri lahir 1 minggu 2 minggu 6 minggu 8 minggu

TFU Setinggi pusat 2 jari bawah pusat Pertengahan pusat symfisis Tidak teraba diatas shimpysis Bertambah kecil Sebesar normal

Berat Uterus 1000 gram 750 gram 500 gram 350 gram 50 gram 30 gram

2.1.2.2

Bekas Implantasi Uri Merupakan luka kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri yang berdiameter 7,5 cm dan sering disangka sebagai bagian placenta yang tertinggal. Sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu telah mencapai 2,4 cm dan akhirnya pulih.

2.1.2.3

Luka-luka pada Jalan Lahir Seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer. Infeksi dapat timbul dan dapat menyebabkan selulitis dan bila berlanjut dapat menyebabkan sepsis, bila tidak disertai infeksi maka akan sembuh dalam 6-7 hari.

2.1.2.4

Rasa Sakit (After Pains) Mules-mules disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlang- sung 2-4 hari pasca persalinan.

2.1.2.5

Lochea Yaitu cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. 1. Lochea Rubra (cruenta) Berisi darah segar dan sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vemik kaseosa, lanugo dan mekonium, selama 2 hari pasca persalinan 2. Lochea Sanguinolenta Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, pada hari ke 3-7 pasca persalinan. 3. Lochea Serosa Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 714 pasca persalinan. 4. Lochea Alba Caftan putih setelah 2 minggu. 5. Lochea Purulenta Terjadi infeksi, keluar cairan bernanah dan berbau busuk. 6. Locheostasis Lochea tidak lancar keluar.

2.1.2.6 Serviks Setelah persalinan bentuk serviks menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensi lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan jalan Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 had hanya dapat dilalui 1 jari. 2.1.2.7 Ligamen - ligamen Ligament, diafragma pelivis, serta fasia yang memegang sewaktu hamil dan partus berangsur-angsur kembali seperti semula. Ligamentum rotundum dapat mengendor, sehingga pada hari ke-2 pasca persalinan harus dilakukan latihan senam. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan. 2.1.2.8 Endometrium Timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta.
2.1.3

Klinik Nifas Keadaan Umum Ibu a. Suhu Beberapa hari setelah persalinan suhu sedikit naik (37,2- 37,5 C) bila setelah 12 jam suhu antara 38 C atau lebih merupakan tanda-tanda infeksi. b. Nadi Setelah persalinan nadi menjadi lambat karena ibu istirahat penuh. c. Miksi Pembentukan air seni oleh ginjal meningkat. Meskipun demikian, ibu sering mengalami kesukaran saat buang air kecil, karena : Perasaan untuk BAK ibu berkurang, meskipun blast penuh. Uretra mungkin sedikit tersumbat karena pertukaran atau oedem dari dindingnya akibat tekanan oleh kepala bayi. Ibu tidak bisa BAK dengan berbaring. d. Defekasi

Ibu pada umumnya mengalami konstipasi atau sembelit pada hari-hari pertama setelah persalinan, karena kekurangan cairan, motilitas menurun dan tidak nyaman pada luka perineum. e. Kardiovaskuler Brodikardi : 50-70 x/menit dalam batas normal. Diaporesis pada malam hari tidak disertai demam (normal) Hemoglobin dan hemotokrit tetap, leukosit 15.000-30.000. f. Saluran kemih Diuresis pada 24 jam pertama karena oedem waktu persalinan: Hematuri karena trauma kandung kencing. Acetonuria karena dehidrasi pada partus lama Proteintuia karena proses pratabolik involusi uteri. g. Endokrin Estrogen progesteron menurun setelah plasenta lahir. Prolaktin meningkat karena hisapan bayi. ASI mulai keluar untuk menyusui. h. Mammae Keluar kolostrum pada minggu pertama. ASI pada hari ke-3 mengalami breast engorgement karena vaskularisasi i. Maskulus Tonus otot menurun Tromboflebilitis : menurunkan aktifitas, meningkatkan protrombin.
2.1.4

Fase Adaptasi Post Partum

a. Fase Taking in (menerima) Ibu sangat tergantung pada orang lath Berfokus pada diri sendiri dan bersikap vacum Hari 1-2 post partum b. Fase Taking Hold Terjadi perubahan dari tergantung menjadi mandiri Mandiri dalam merawat diri Terbuka untuk penyuluhan

Masih kurang percaya diri dalam merawat bayi Hari ke 3-10 post parttun c. Fase Letting Go Terjadi perpindahan dan pergerakkan mandiri Karakteristik : - ibu mampu menerima tanggung jawabnya
- ibu menyesuaikan dengan kehidupan bayinya

Hari ke-10
2.1.5

Perawatan Pasca Persalinan a. Mobilisasi Karena lelah setelah melahirkan, ibu istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan, dan hari ke-4 atau ke-5 sudah diperbolehkan pulang. b. Diet Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan. c. Miksi Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi. d. Defekasi Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit BAB dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan obat laksans peroral atau perectal. e. Perawatan payudara (mammae) Kedua mammae harus sudah dirawat selama kehamilan, areola mammae dan puting susu dicuci dengan sabun dan diberi minyak atau cream, agar tetap lemas, jangan sampai kelak mudah lecet dan pecah-pecah. Sebelum menyusui mammae harus lemas dengan melakukan massase menyeluruh. Setelah areola mammae dan puting dibersihkan, barulah bayi menyusui. f. Laktasi Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dan kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mammae, yaitu :

Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar alveoli dan jaringan lemak


bertambah

Keluaran cairan susu dari duktus lactiferus disebut kolostrum,


berwarna putih, kuning susu

Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana venavena berdilatasi sehingga tampak jelas

Setelah persalinan, pengaruh laktogenik (LH) atau prolaktin yang


akan merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oxytosin menyebabkan mioepitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasta. persalinan. Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis. Produksi ASI akan lebih banyak. Sebagai efek positif adalah involusi uteri akan lebih sempurna. Disamping ASI merupakan makanan untuk bayi yang tidak ada bandingannya, menyusukan bayi sangat baik untuk mewujudkan rasa kasih sayang antara ibu dan anak. 2.2 Bendungan Payudara 2.2.1 Keadaan Abnormal pada Payudara Payudara telah dipersiapkan sejak mulai datang sehingga pada waktunya dapat memberikan ASI dengan sempurna. Untuk dapat melancarkan pengeluaran ASI dilakukan persiapan sejak awal hamil dengan melakukan masase, menghilangkan kerak pada puting susu dengan duktusnya tidak tersumbat. Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi diantaranya bendungan ASI, mastitis, abses payudara. 2.2.2 Pengertian Bendungan ASI / Bendungan Payudara

Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan


duktus laktiferus atau oleh kelenjar-kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu.

Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara
dalam rangka mempersiapkan din untuk laktasi. 2.2.3 Etiologi Faktor-faktor penyebabnya adalah :

Karena sumbatan pada saluran ASI

Tidak dikosongkan seluruhnya Kelainan pada puting susu

2.2.4 Patofisiologi Kadar estrogen dan progestin menurun sesudah bayi lahir dan plasenta keluar

Hipotalamus menghalangi keluamya pituitary lactogenic hormone (prolaktin) waktu hamil tidak dikeluarkan lagi.

Sekresi prolaktm oleh hipofisis

Alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan ASI

Jika bayi tidak menyusu dengan baik / jika kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna

Terjadi bendungan ASI 2.2.5 Tanda dan Gejala Mammae ibu terasa panas Mammae bengkok dan keras Nyeri pada perabaan Suhu tubuh tidak naik Puting susu bisa mendatar sehingga dapat menyukarkan bayi untuk menyusu. Biasanya teijadi pada hari ke 3-5 nifas

Menyerang kedua payudara 2.2.6 Penatalaksanaan a. Pencegahan Dimulai selama hamil dengan pearawatan payudara b. Penanganan Jika ibu menyusui :

Jika ibu menyusui dan bayi tidak menetek, bantulah memerah air susu
dengan tangan dan pompa

Jika ibu menyusui dan bayi mampu menetek


Bantu ibu agar meneteki lebih sering pada kedua payudara flap kali meneteki Berikan penyuluhan cara meneteki yang baik Telinga dan lengan bayi berada dalam 1 garis lurus 4 Perut bayi menghadap perut ibu Mulut bayi terbuka lebar menutupi sebagian besar daerah sekitar puling susu 4 Dagu bayi menempel pada payudara 4 Berikan ASI dari kedua payudara secara bergantian sampai kosong Mengurangi nyeri sebelum meneteki Berikan kompres hangat pada dada sebelum meneteki atau mandi dengan air hangat Pijat punggung dan leher Memeras cara manual sebelum meneteki dan basahi puting susu agar bayi mudah menetek Mengurangi nyeri setelah meneteki Gunakan bebat atau bra Kompres dingin pada dada untuk mengurangi bengkak Terapi : paracetamol 500 mg peroral Tidak Menyusui

Jika ibu tidak meneteki


Berikan bebat dan bra yang ketat Kompres dingin pada dada untuk mengurangi bengkak dan nyeri Hindari pijat atau kompres hangat Berikan parasetamol 500 mg per oral

Evaluasi 3 hari Kalau perlu berikan stil bestrol / lynoral tablet 3x/hari selama 2-3 hari untuk
membendung sementara produksi ASI. 2.3 Seksio Sesarea
2.3.1

Pengertian Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina : atau seksio sesarea adalah suatu histeretomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

2.3.2

Macam-macam SC
2.3.2.1

SC primer (efektif) Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara SC tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit.

2.3.2.2

SC sekunder Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan), bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal barn dilakukan SC.

2.3.2.3

SC ulang Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami SC dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan SC ulang.

2.3.2.4

SC histerektomi Adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan SC, langsung dilakukan histerektomi oleh karena suatu indikasi.

2.3.2.5

Operasi Porro Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (janin mati) dan langsung dilakukan histerektomi

2.3.3

Indikasi 21 %

2.3.3.1

CPD

2.3.3.2 2.3.3.3 2.3.3.4 2.3.3.5 2.3.3.6 2.3.3.7

Gawat janin Placenta Previa Pernah SC Kelainan letak

14 % 11 % 11 % 10 %

Incoordinate Uteri Action 9 % Preeklampsi dan Hipertensi 7 % Jenis-jenis SC a. Sectio sesarea Transperitonoelis 1. Seksio sesarea klasik kolporal, Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada corpus uteri. Kelebihan :

2.3.4

2.3.4.1 Abdomen

Mengeluarkan janin lebih cepat Tidak menyebabkan kandung kemih tertarik Sayatan bisa diperpanjang proximal atau distal
Kekurangan :

Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada


reperitonealisasi yang baik.

Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri


spontan 2. Seksio Sesarea Profonda / Ismika dengan Insisi pada SBR Dilakukan dengan membuat sayatan melintangkonkaf pada SBR kira-kira 10 cm. Kelebihan :

Penjahitan luka lebih mudah Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik Perdarahan berkurang Dibanding dengan cara klasik kemungkinan rupture uteri spontan
kurang / lebih kecil Kekurangan :

Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan, dan bawah, sehingga


dapat menyebabkan arteri uterine putus sehingga

mengakibatkan perdarahan yang banyak

Keluhan pada kandung kemih post operative tinggi


3. Seksio Sesarea Ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum paritalis dengan demikian tidak membuka kavum abdominal. 2.3.4.2 Seksio Sesarea Vaginalis Menurut arah sayatan pada rahim, SC dapat dilakukan sebagai berikut :

Sayatan memanjang (longitudinal) Sayatan melintang (transversal) Sayatan huruf T (T-Incision)


2.3.5

Komplikasi 2.3.5.1 Infeksi puerperalis (nifas)

Ringan dengan kenaikkan suhu beberapa hari saja Sedang : dengan keadaan suhu yang lebih tinggi, disertai
dehidrasi dan pearl sedikit kembung

Berat

: dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik

Penanganannya adalah pemberian cairan yang telah terjadi. 2.3.5.2 Perdarahan, disebabkan karena :

Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka Atonia uteri Perdarahan pada placental bed
2.3.5.3 Luka kemih, emboli pare dan keluhan kandung kemih bila reperitonealisasi terlalu tinggi 2.3.5.4 Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan yang lalu.
2.3.6

Prognosis Nasib janin yang "ditolong secara SC sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Angka kematian periontal sekitar 4-7 %. Angka kematian ibu pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1.000.

2.3.7

Nasihat Pasca Operasi Dianjurkan jangan hamil selama lebih kurang satu tahun, dengan memakai konstrasepsi Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik

Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit besar Apakah persalinannya yang berikutnya harus dengan SC bergantung dart indikasinseksio sesarea dan keadaan pada kehamilan berikutnya Once a cesarean not always a cesarean kecuali pada CPD

DAFTAR PUSTAKA Mansjoer, Arief dkk (2002). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius. Mochtar, Rustam (1998). Sinopsis Obsteri Jilid 1. Jakarta : EGC. Mochtar, Rustam (1998). Sinopsis Obsteri Jilid 2. Jakarta : EGC. Manuaga, Ida Bagus Gede (1998). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC. Saifudin, Abdul Bari (2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Material dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP. Wiknjosastro, Hanifa (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta :YBP-SP.